logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

WISUDA PERDANA AT-TANZIL DI PONDOK IKABA & IMABA MALAYSIA

https://youtu.be/Ky49W5NpX2s

Latar Belakang Program AT-Tanzil Malaysia

Metode Praktis Belajar Membaca Al-Qur’an “AT-TANZIL” sudah digunakan di Lima Negara, termasuk di negeri jiran Malaysia dan sedang proses pengenalan di negara-negara lainnya.

Kemahiran membaca Al-Qur’an adalah salah satu keperluan bagi anak-anak muslim. Namun isu anak-anak mulai tidak menyukai mempelajari Al-Qur’an adalah hal yang perlu menjadi perhatian serius. Hal ini disebabkan kurangnya dukungan orang tua, tidak ada nya lingkungan mengaji yang baik, kurang nya pengajar yang membantu serta perbagai metode dalam mengajar Al-Qur’an.

Maka IKABA & IMABA Malaysia Mengambil bagian untuk sama-sama hadir dalam menjalankan satu program akselarasi membaca al-quran menggunakan metode At-Tanzil yang di mulai pada tanggal 9 september 2018 yang bertempat di Surau An-Najah balakong dan di Pondok IMABA Damansara hingga tanggal 30 maret 2019.

Untuk menyempurnakan program tersebut kami telah mengadakan program graduasi atau Wisuda Perdana.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh :
– R.KH. AHMAD MAHFUDZ ABDUL QADIR. (Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bira Timur Sampang Madura Indonesia).
– R.KH. Mohammad Istbat Abdul Qadir (Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bira Timur Sampang Madura Indonesia).
– Bpk. Badrul Jamal (KBRI Malaysia)
– Para tokoh-tokoh Akademisi Seperti DATOK DR. YUSUF OTHMAN (UKM) dan DATIN JAWIYAH (UKM).
– Pengurus DPP IKABA & IMABA
– Para Undangan dan Wali santri.

Semoga acara ini bisa menambah semangat bagi para pencinta Al-Qur’an untuk mengembangkan anak didiknya dalam “Mencetak generasi Qur’ani, Menyongsong masa depan gemilang”.

رب هب لي من الصالحين. أمين.

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 160 : CARA MENGHITUNG ZAKAT ANGGUR DAN KURMA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 160

وَعَنْ عَتَّابِ بنِ أُسَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَنْ يُخْرَصَ اَلْعِنَبُ كَمَا يُخْرَصُ اَلنَّخْلُ, وَتُؤْخَذَ زَكَاتُهُ زَبِيبًا ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَفِيهِ اِنْقِطَاع ٌ

Attab Ibnu Asid Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan agar anggur ditaksir sebagaimana kurma, dan zakatnya diambil setelah dalam keadaan kering. Riwayat Imam Lima dan sanadnya terputus.

MAKNA HADIST

Kaum fakir miskin adalah kawan bagi orang yang memiliki harta termasuk buah-
buahan dalam kadar yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka dari zakat buah-buahan itu. Jika pemilik buah-buahan dilarang dari memanfaatkan buah-buahan mereka hingga masak, niscaya ini akan menyusahkan mereka. Jika dia memetiknya dengan sesuka hatinya, nescaya itu merugikan hak kaum fakir
miskin yang terdapat pada buah-buahan miliknya.
Oleh kepercayaan atau sifat amanah tidak dapat diwujudkan di kalangan setiap pemilik harta, demikian pula para pekerjanya, maka syariat menetapkan satu kaedah ini dengan membuat taksiran yang dilakukan oleh amil zakat.
Tujuannya supaya pemilik harta segera dapat memanfaatkan harta miliknya sekaligus memelihara hak kaum fakir miskin yang ada pada hartanya itu.

FIQH HADIST

1. Disyariatkan melakukan taksiran zakat terhadap buah kurma dan anggur
yang masih bergantung pada pohonnya.

2. Zakat buah kurma dan anggur diambil setelah keduanya benar-benar masak, yakni setelah menjadi tamar dan kismis.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S069. HUKUM MAKMUM MUWAFIQ DAN MAKMUM MASBUQ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PERTANYAAN :

Mohon penjelasan tentang Makmum masbuq.

Studi kasus :
Ketika shalat dilakukan secara berjamaah, kemudian ada beberapa makmum yang menemui imam dalam kondisi :

1- Imam berdiri membaca surat sebelum ruku’
2- Imam dalam kondisi ruku’.
3- Imam dalam kondisi sujud,atau tahyat
4- Imam cepat dalam bacaannya sehingga makmum tertinggal sampai tiga rukun, apa yang harus dilakukan makmum dalam kondisi tersebut diatas.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ulama berbeda pandang dalam mendefinisikan makmum masbuq walaupun demikian akan tetapi tujuanya adalah sama yang diantaranya.

إعانة الطالبين .الجزء الثانى
المأموم المسبوق هو من لم يدرك من قيام اﻹمام قدرا يسع الفاتحة بالنسبة إلى قراءة الفاتحة المعتدلة.(قوله وهو من لم يدرك من قيام اﻹمام الخ) أى سوآء كان قيام الركعة اﻷولى أوغيرها ويتصور كونه مسبوقا فى كل ركعات لنحو زحمة أو بطء حركة

Makmum masbuq adalah makmum yang tidak mendapati berdirinya imam dalam setandartnya ukuran membaca fatihah,baik berdirinya imam dirakaat pertama ataupun dilainnya rakaat pertama.

Sebagian mendefinisikan makmum masbuq sebgai berikut:

الموسوعة الفقهية.23401
المسبوق فى اللغة إسم مفعول من السبق أصله التقدم
وفى الإصطلاح قال الجرجنى هو الذى أدرك اﻹمام بعد ركعة أوأكثر ،وعرفه الشافعية أنه هو الذى لم يدرك مع اﻹمام محل قراءة الفاتحة المعتدلة

Artinya:Masbuq secara bahasa merupakan isim maf’ul dari kata “ASSABQU yang asalnya. “AT-TAQADDAMU”(terlewati)

Sedangkan secara istilah Masbuq menurut Al-Jurjaniy adalah orang yang mendapati imam setelah satu rakaat atau lebih.Dengan kata lain Syafi’iyah mendifinisikan masbuq adalah orang yang tidak mendapati imam dalam ukuran setandartnya membaca fatihah.
Sedangkan definisi muwafiq adalah sebaliknya masbuq(yaitu orang (makmum)yang mendapati imam dalam ukuran standartnya membaca fatihah)

إعانة الطالبين الجزء الثانى .ص 35
قوله وضد الموافق اى هو الذى يدرك قدرا يسع الفاتحة بالنسبة الى قراءة الفاتحة المعتدلة

Artinya” Muwafiq adalah makmum yang mendapati berdinya imam dalam ukuran strandartnya membaca fatihah.

Adapun kriteria dari makmum muwafiq dan masbuq, dan yang harus dilakukan oleh makmum masbuq ketika mendapati imam dalam kondisi sebagaimana tersebut diatas adalah:

1- Makmum muwafiq ketika mendapati imam dalam kondisi berdiri sebelum ruku’,maka yang harus dia lakukan makmum adalah bertakbiratul ihrom dan wajib menyempurnakan membaca fatihah.

2- Ketika makmum mendapati imam dalam kondisi ruku’, maka yang harus dilakukan makmum adalah ada dua perkara:

a). Bertakbiratul-Ihrom
b). Takbir intiqol wajib mengikuti ruku’nya imam dan makmum tidak perlu membaca fatihah. Maka dalam kondisi yang sedemikian berarti makmum telah memperoleh (mendapati) satu rakaat .

3- Ketika makmum mendapati imam dalam kondisi turun ke sujud/ sujud atau tahiyyat maka yang harus dilakukan makmum masbuq adalah mengikuti imam turun kesujud, dan makmum tidak perlu ruku’ karena ruku’nya makmum tidak dihitung maka dalam kondisi yang sedemikian berarti makmum telah kehilangan rakaatnya,karena rakaat itu dihitung ketika makkmum medapati imam dalam kondisi ruku’ ,dan makmum wajib menyempurnakan rakaat yang tertinggal setelah salamnya imam,andaikan makmum terpaksa menyempurnakan fatihah tidak sujud besama imam maka shalatnya makmum tidak batal kecuali jika makmum sampai tertinggalan dua rukun maka hukum salatnya makmum itu batal.

الطالبين الجزء الثانى .ص. 33
وإن وجده فى القيام قبل أن يركع وقف معه فإن أدرك معه زمنا يسع الفاتحة فهو موافق. فيجب عليه إتمام الفاتحة ،وإن لم يدرك زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرء ماأمكنه من الفاتحة.

إعانة الطالبين الجزء الثانى .ص.15
(و)تدرك (ركعة)لمسبوق أدرك اﻹمام راكعا بأمرين (بتكبيرة )اﻹحرام ثم أخرى لهوى…الخ.(قوله وتدرك ركعة لمسبوق) وهو من لم يدرك زمنا يسع الفاتحة مع اﻹمام(قوله راكعا)حال من اﻹمام(قوله بأمرين)متعلق بتدرك أى تدرك الركعة من الصلاة قبل أن يقيم اﻹمام صلبه فقد أدركها.(قوله بتكبيرة اﻹحرام) بدل بعض من الجار والمجرور قبله وهذه التكبيرة واجبة فى القيام أو بدله.(قوله ثم أخرى لهوى ) أى ثم تكبيرة أخرى للهوى وهذه التكبيرة مندوبة ﻷن الركوع محسوب له التكبيرة فندب له التكبير.

فإن قرءه وأدرك اﻹمام فى الركوع فقد أدرك الركعة فان يدركه فيه فاتته الركعة ولايركع ،ﻷنه لا يحسب بل يتابعه فى هويه للسجود وإﻻ بطلت صلاته(قوله لغت ركعته )أى ﻷن شرط عدم إلغائها إدراكه فى الركوع.

وبل الغمام فى أحكام المأموم المسبوق واﻹمام.. ص.31
فإن ركع اﻹمام والمأموم المسبوق فى الفاتحة فإن كان لم يشتغل بشيء غير الفاتحة قطع القراءة وركع معه وتحمل عنه بقية الفاتحة كمايتحملها إذا ركع عقب إحرامه أوو جده راكعا،فإن لم يتابعه حتى فارق اﻹمام أقل من الركوع فاتته الركعة ولاتبطل صلاته إﻻ إن تخلف حتى شرع اﻹمام فى الهوى للسجود

نهاية الزين .
وماأدركه المسبوق مع اﻹمام ممايعتد له به فهو أول صلاته ،ومايأتى به بعد سلامه آخرها ،لقوله صلى الله عليه وسلم (وماأدركتم فصلوا ومافاتكم فأتموا )وإتمام الشيء إنمايكون بعد أوله فيعيد فى الباقى القنوت والتشهد وسجود السهو.

MAKMUM KETINGGALAN BEBERAPA RUKUN (3 RUKUN YANG PANJANG) DIKARENAKAN BACAAN IMAM (KONDISINYA IMAM) CEPAT.
DAN DALAM HAL INI MAKMUM DIMA’FU’ KARENA ADANYA BANYAK UDZUR.

Adapun udzur-udzurnya makmum yang menjadikan sebab ketinggalan bersama dengan imam yaitu ada 9 :

1- Makmum yang lirih (terlambat) dalam bacaan karena memang keadaannya (yakni bukan karena sengaja atau waswas).

2- Makmum yang ragu-ragu (apa dia baca patihah atau tidak).

3- Makmum lupa pada bacaan fatihah.

4- Makmum yang mencocoki imam sementara dia menyibukkan diri dengan amalan sunnah seperti do’a iftitah maka dalam kondisi yang sedemikian imam sampai ruku’

5- Makmum yang menunggu diamnya imam sehingga imam ruku’. Yakni makmum untuk baca fatihah masih menunggu berhenti/ diamnya imam, karena imam sunnah diam setelah baca fatihah, setelah itu melanjutkan baca surah.

6- Makmum yang ketiduran dikala tasyahhud.

7- Bercampur takbirnya makmum dengan imam (tidak nyambung) akibat buta (tidak melihat) atau kondisisi petang.

8- Makmum menyempurnakan bacaan tasyahhud sementara imam sudah berdiri dari ruku’.

9- Makmum yang lupa bahwa dirinya bermakmum dan tidak ingat baru setelah imam sujud ingat bahwa dirinya bermakmum.

Menurut Imam Romliy 4 kondisi yang terakhir ini termasuk udzur sampai tiga rukun yang panjang. Sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar Kondisinya makmum yang terdapat pada no 6,7,dan 8 hukumnya seperti orang masbuq, yang mengakibatkan pada gugurnya fatihahnya makmum. Dan kondisi yang no.8 termasuk udzur.

CATATAN :

Bentuk dari takhalluf (tertinggalnya) makmum dengan imam dikarenakan adanya salah satu udzur dari beberapa udzur seperti lambatnya bacaan, maka sehingga tertinggal tiga rukun. Yakni: 1-ruku, 2-sujud yang pertama dan 3- sujud yang kedua.

Wallahu a’lam..

Referensi:

تكرير الشديدة. ص :300-301

*أعذار تخلف المأموم عن اﻹمام*
يعذر المأموم فى التخلف عن إمامه بثلاثة أركان طويلة(1) فى تسع حالات، فلا بد ان يركع قبل ارتفاع اﻹمام من سجوده الثانى للتشهد او للقيام (2)فإذا لم يركع فيجب عليه أن ينوى المفارقة او يتابع اﻹمام فيماهو فيه ،ويفوته الركعة ويأتى بها بعد سلام اﻹمام،فإذا لم ينو المفارقة ولم يتابعه بطلت صلاته،وهذه الحالات مجموعة فى قول بعضهم .
إن شئت صبطا للذى شرفا عذر# حتى له ثلاث أركان اغتفر
من فى قراءة لعجزه بطئ # او شك (هل قرأ ..؟) ومن لها نسي
وضف موافقا لسنة عدل# ومن لسكتة انتظاره حصل
من نام فى تشهد أو اختلط# عليه تكبير اﻹمام ماانضبط
كذا الذى يكمل التشهدا # بعد إمام قام عنه قاصدا
والخلف فى أواخر المسائل# محقق فلا تكن بذاهل
شرح اﻷبيات أى :يعذر المأموم فى التخلف عن اﻹمام بثلاثة أركان طويلة فى تسع حالات وهى:
1) – من فى قراءة لعجزه بطئ.أى إذا كان المأموم بطئ القراءة لعجز خلقي.
2) – أو شك ” هل قرأ: أى إذا شك : هل قرأ الفاتحة أم لا..؟
3) – ومن لها نسي :أى إذا نسي قراءة الفاتحة .
4) -وضف موافقا لسنة عدل :أى إذا كان موافقا لﻹمام واشتغل بسنة كدعاء اﻹفتتاح فركع اﻹمام .
5) -ومن لسكتة انتظاره حصل :أى إذا انتظر سكتة اﻹمام ليقرأ سورة الفاتحة،فركع اﻹمام ولم يتمكن المأموم من قراءة الفاتحة كلها او بعضها.
ففى هذه الحالات الخمسة التقدمة يعذر فيها المأموم الى ثلاثة أركان طويلة باﻹتفاق،وهى أربع حالات:
6) – من نام فى تشهد :أى إذا نام المأموم فى التشهد اﻷول .
7) – او اختلط عليه تكبير اﻹمام ماانضبط: أى إذا اختلط عليه تكبيرة اﻹحرام :كأعمى أو كان فى ظلمة .
8) – كذا الذى يكمل التشهدا بعد امام قام عنه قاصدا: إذا جلس فى التشهد يكمل بعد أن قام اﻹمام عنه.
9) – من نسي القدوة ولم يتذكر إلا واﻹمام ساجد.
وهذه الحالات اﻷربع اﻷخير يعذر فيها عند الرملى إلى ثلاثة أركان طويلة.وأما عند ابن حجر فحكم الحالة رقم 6 ،7, 8.كحكم المسبوق، فتسقط عنه الفاتحة.وأماالحالة رقم 8 فلايعذر.

(1)-صوتها:بتأخير المأموم لعذر من اﻷعذار، كبطئ القراءة فيعذر لثلاثة أركان طويلة،وهى الركوع والسجود اﻷول والسجود الثانى
(2)-وهو الركن الرابع.

Dalam keterang yang lain dijelaskan bahwa bacaan surat Fatihah di dalam shalat hukumnya wajib dan termasuk rukun shalat, berarti bagi yang tidak membaca surat Fatihah ketika shalat maka dipastikan shalatnya tidak sah.

Namun bagi makmum yang lambat dalam bacaannya maka mendapat kemudahan dengan tetap dihukumi sah shalatnya baik makmum muwafiq maupun makmum masbuq. Kalau makmum tidak sempat menyempurnakan membaca Fatihah, maka imam yang mananggung kekurangan bacaan makmum tersebut.

Dalam kondisi bacaan fatihah imam cepat maka makmum tetap harus mengikuti gerakan imam, artinya makmum tidak perlu menyelesaikan bacaan Fatihahnya kemudian menyusul imamnya, bahkan ketika imamnya ruku’ maka makmum juga mengikutinya ruku’ meskipun dia belum selesai dari bacaan Fatihahnya, karena dalam kondisi demikian imam menanggung sisa bacaan yang tidak sempat dia lanjutkan, dan shalat jamaahnya tetap dihukumi sah.

إعانة الطالبين الجزء الثانى .ص34
إعلم أن حاصل مسئلة المسبوق إنه إذا ركع اﻹمام وهو فى الفاتحة فإن لم يكن إشتغل بإفتتاح أو تعوذ وجب عليه أن يركع معه فإن ركع معه أدرك الركعة وإن فاته ركوع اﻹمام فاتته الركعة ولاتبطل صلاته إﻻإذا تخلف بركنين من غير عذر ،وأماإذااشتغل بإفتتاح أوتعوذ فيجب عليه إذا ركع اﻹمام أن يتخلف ويقرأ بقدر ما فوته فإن خالف وركع معه عمدا بطلت صلاته وإن لم يركع معه بل تخلف فإن أتى بما يجب عليه وأدرك اﻹمام فى الركوع أدرك الركعة فإن رفع اﻹمام من الركوع قبل ركوعه فاتته الركعة فإن هوى اﻹمام للسجود وكمل مافوته وافقه فيه وإلا فارقه وجوبا.

إعانة الطالبين.الجزء الثانى .ص 33
وإن وجده فيما بعد الركوع وافقه فيماهو فيه وتدارك بعد السلام اﻹمام مافاته .

نهاية الزين
وماأدركه المسبوق مع اﻹمام ممايعتد له به فهو أول صلاته، ومايأتى به بعد سلامه آخرها ،لقوله صلى الله عليه وسلم ( وماأدركتم فصلوا ومافاتكم فأتموا) وإتمام الشيء إنمايكون بعد أوله فيعيد فى الباقى القنوت والتشهد وسجود السهو.

I’anah ath Thaalibiin juz 2 hal. 40

واعلم) أن الأعذار التي توجب التخلف كثيرة: منها أن يكون المأموم بطئ القراءة لعجز خلقي لا لوسوسة، والإمام معتدلها، وأن يعلم أو يشك قبل ركوعه وبعد ركوع إمامه أنه ترك الفاتحة، وأن يكون المأموم لم يقرأها منتظرا

سكتة إمامه عقبها فركع الإمام عقب قراءته الفاتحة، وأن يكون المأموم موافقا واشتغل بسنه كدعاء الافتتاح والتعوذ، وأن يطول السجدة الأخيرة عمدا أو سهوا، وأن يتخلف لإكمال التشهد الأول أو يكون قد نام فيه متمكنا، وأن يشك هل هو مسبوق أو موافق؟ فيعطى حكم الموافق المعذور ويتخلف لقراءة الفاتحة، وأن يكون نسي أنه في الصلاة ولم يتذكر إلا والإمام راكع أو قريب منه، أو يكون سمع تكبيرة الإمام بعد الركعة الثانية فظنها تكبيرة التشهد فإذا هي تكبيرة قيام فجلس وتشهد، ثم قام فرأى الإمام راكعا .

وقد ذكر الشارح بعضها.

ومما ينسب للشيخ العزيزي: إن رمت ضبطا للذي شرعا عذر حتى له ثلاث أركان غفر: من في قراءة لعجزه بطئ أو شك إن قرا ومن لها نسي وصف موافقا لسنة عدل ومن لسكتة انتظاره حصل من نام في تشهد أو اختلط عليه تكبير الإمام ما انضبط كذا الذي يكمل التشهدا بعد إمام قام منه قاصدا والخلف في أواخر المسائل محقق فلا تكن بغافل وقوله: والخلف في أواخر المسائل، وهي ثلاثة: من نام في تشهده الأول ممكنا مقعده بمقره فما انتبه من نومه إلا وإمامه راكع، ومن سمع تكبير إمامه للقيام فظنه لجلوس التشهد فجلس له وكبر إمامه للركوع فظنه للقيام من التشهد الأول ثم على أنه للركوع.

ففي هاتين المسألتين جرى الخلاف بين العلامتين ابن حجر، والشمس الرملي، فقال الأول: هو مسبوق، فيلزمه أن يقرأ من الفاتحة ما تمكن منها.

وقال الثاني: هو موافق، يغتفر له ثلاثة أركان طويلة.

والمسألة الثالثة: من مكث بعد قيام إمامه لإكمال التشهد الأول، فلا انتصب وجد إمامه راكعا أو قارب أن يركع.

فقال الرملي: هو موافق، يغتفر له ما مر من الأركان.

وقال حجر: هو كالموافق المتخلف لغير عذر، فإن أتم فاتحته قبل هوى

سجدته إلا والإمام راكع أو قارب أن يركع، فقال الرملي: هو كموافق..

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 159 : MENTAKSIR ZAKAT BUAH-BUAHAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 159

وَعَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: أَمَرَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا خَرَصْتُمْ, فَخُذُوا, وَدَعُوا اَلثُّلُثَ, فَإِنْ لَمْ تَدَعُوا اَلثُّلُثَ, فَدَعُوا اَلرُّبُعَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا اِبْنَ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِم ُ

Sahal Ibnu Abu Hatsmah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kami apabila kamu menaksir, maka kerjakanlah, tetapi bebaskan sepertiga. Apabila kamu enggan membebaskan sepertiga, maka bebaskan seperempat. Riwayat Imam Lima kecuali Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim.

MAKNA HADIAT

Nabi (s.a.w) menyuruh amil zakat yang bertugas mentaksir hasil buah-buahan hendaklah memberikan keringanan kepada pemiliknya dengan menyisakan seperempat atau sepertiga daripada sepersepuluhnya. Ini merupakan salah satu kebaikan syariat dan satu rahmat bagi pemilik buah-buahan sebagai gantian kepada kekurangan dan kerosakan yang mungkin berlaku. Demikianlah menurut tafsiran sebagian ulama terhadap hadis ini.

Menurut ulama yang lain pula, zakat merupakan hukum syarak dan telah ditentukan bagiannya di mana perkiraan dan nisabnya tidak mungkin diubah.

Jadi maksud ini adalah hendaklah orang yang betugas mentaksir zakat buah-buahan membiarkan sepertiga atau seperempat daripada sepersepuluhnya untuk pemiliknya agar dia membagikannya sendiri kepada para jiran tetangganya dan kaum kerabatnya serta orang yang biasa dia beri hadiah. Pengertian ini mengandung rasa belas kasihan terhadap pemilik buah-buahan dan para pengikutnya.

Menurut pendapat lain, makna hadis ini ialah membiarkan sejumlah apa yang biasa dimakan oleh pemiliknya dan keluarganya menurut tradisi yang berlaku, lalu jumlah itu tidak boleh dimasukkan ke dalam taksiran.

Tetapi mengikut pendapat yang lebih kuat ialah mentafsirkan hadis menurut makna yang pertama di atas, kerana itu telah pun diperkuat oleh riwayat Jabir (r.a) yang kesimpulannya memberikan keringanan dalam menentukan taksiran.

FIQH HADIST

Disyariatkan melakukan taksiran untuk memelihara hak kaum fakir miskin. Akan
tetapi, hukum dan jenis yang dapat ditaksir masih diperselisihkan. Imam Malik
mengatakan bahwa taksiran wajib dilakukan ke atas buah anggur dan buah kurma yang masih belum masak. Imam Malik melandaskan pendapatnya dengan berdalil hadis ‘Arab yang akan disebutkan setelah hadis ini.

Imam Ahmad dan Imam al-Syafii mengatakan bahwa melakukan taksiran hanya disunatkan pada pohon kurma dan pohon anggur sahaja. Mereka melandaskan pendapatnya dengan berdalilkan hadis ‘Arab.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahawa tidak boleh melakukan taksiran, kerana ia hanya sekadar dugaan dan perkiraan yang tidak dipastikan. Beliau melandaskan pendapatnya dengan berdalilkan hadis Jabir (r.a) yang mengatakan Rasulullah (s.a.w) melarang melakukan taksiran, lalu baginda bersabda:

ارايتم ان هلك التمر ايحب احدكم ان يأخذ مال اخيه بالباطل

Bagaimana menurut kamu apabila buah kurma itu rusak, apakah seseorang di antara kamu gemar apabila mengambil harta saudaranya dengan cara yang batil?

Imam Abu Hanifah menjawab hadis ‘Itab dengan mengatakan bahwa itu terjadi sebelum adanya larangan riba, kemudian ia dimansukh. Akan tetapi, ulama yang lain menyanggahnya. Jika anda ingin mengetahui pembahasan ini lebih mendalam, silahkan rujuk kitab-kitab fiqh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 158 : ZAKAT UNTUK BUAH-BUAHAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 158

وَعَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ; وَمُعَاذٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُمَا: ( لَا تَأْخُذَا فِي اَلصَّدَقَةِ إِلَّا مِنْ هَذِهِ اَلْأَصْنَافِ اَلْأَرْبَعَةِ: اَلشَّعِيرِ, وَالْحِنْطَةِ, وَالزَّبِيبِ, وَالتَّمْرِ ) رَوَاهُ اَلطَّبَرَانِيُّ, وَالْحَاكِم ُ

وَلِلدَّارَقُطْنِيِّ, عَنْ مُعَاذٍ: ( فَأَمَّا اَلْقِثَّاءُ, وَالْبِطِّيخُ, وَالرُّمَّانُ, وَالْقَصَبُ, فَقَدْ عَفَا عَنْهُ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ) وَإِسْنَادُهُ ضَعِيف ٌ

Dari Abu Musa al-Asy’ary dan Mu’adz Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada keduanya: “Jangan mengambil zakat kecuali dari keempat jenis ini, yakni: sya’ir, gandum, anggur kering, dan kurma.” Riwayat Thabrani dan Hakim.

Menurut Daruquthni bahwa Mu’adz Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adapun mengenai ketimun, semangka, delima dan tebu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah membebaskan (zakat)-nya. Sanadnya lemah.

MAKNA HADIST

Mengutus tenaga pengajar ke berbagai kabilah dan daerah merupakan kebiasaan
yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w). Dahulu baginda selalunya mengutus sahabat
pilihan untuk menyiarkan dakwah Islam dan mengajarkan hukum-hakam agama.

Baginda mengutus Abu Musa dan Mu’adz ke negeri Yaman sebagai da’i dan
Mengeluarkan zakat. Kemudian baginda membekalkan mereka berdua dengan nasihat
Uang antara lain berkaitan dengan masalah zakat menerusi sabdanya: “Janganlah
kamu mengeluarkan zakat kecuali daripada keempat jenis ini.” Barangkali jenis tanaman lain tidak dijumpai di tempat itu. Dengan demikian, batasan ini bersifat nisbi atau berdasarkan penilaian keadaan pada masa itu. Ulama memasukkan buah-buahan selainnya ke dalam kategori keempat jenis tadi apabila itu boleh dijadikan sebagai makanan asas. Ini termasuk qiyas jali sebagaimana pula ada ulama yang
memandang keumuman makna wajib zakat pada setiap hasil yang ditumbuhkan
oleh bumi hingga termasuk pula sayur-sayuran dengan berlandaskan kepada keumuman makna zahir hadis yang mengatakan: “Tanaman yang diairi oleh hujan maka zakatnya sepersepuluh.”

FIQH HADIST

1. Gandum, barli, anggur kering, dan buah kurma wajib dikeluarkan zakatnya.

2. Tembikai, jambu, delima dan tebu tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Imam Ahmad berkata: “Zakat diwajibkan ke atas sesuatu yang ditakar, mampu bertahan lama dan dapat dikeringkan yang termasuk jenis tanaman yang biasa ditanam oleh manusia berupa biji-bijian dan buah-buahan yang mana ia dapat dijadikan sebagai makanan dasar seperti gandum, barli, jagung, padi dan gandum atau tidak dapat dijadikan sebagai makanan asas seperti
kacang, dal, hish, kamun, turmus, simsim dan jenis biji-bijian serta buah-buahan yang lain misalnya misymisy, tin, luz, fistuq dan bunduq. Jenis buah-buahan yang tidak dapat dikeringkan tidak dikenakan kewajipan zakat ke atasnya seperti khukh, epal dan jambu. Demikian pula sayur-sayuran seperti labu, timun, tembikai, terong, lobak, dan wortel. Imam al-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa zakat diwajibkan atas segala sesuatu yang ditumbuhkan oleh bumi apabila jumlahnya telah mencapai nisab dan dapat dijadikan sebagai makanan asas dan termasuk jenis
tanaman yang biasa ditanam oleh manusia, seperti gandum, barli, jagung,
padi, dal, humush, kacang hijau, dan lain-lain. Jenis yang tidak dapat dijadikan sebagai makanan dasar seperti kammun, kurrawiyah, kuzbarah, sayur-sayuran, halabah, kacang sudan, turmus dan simsim. Semua itu tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Ini mengikut mazhab al-Syafi’i, tetapi menurut mazhab Imam Malik justeru sebaliknya. Imam Abu Hanifah
mengatakan bahwa segala sesuatu yang ditumbuhkan oleh bumi wajib dikeluarkan zakatnya tanpa memerlukan syarat nisab dan perbedaan jenis tanaman sama ada sayur-sayuran ataupun selainnya. Tetapi Imam Abu Hanifah mengikatnya dengan syarat penanamannya sengaja dilakukan
untuk memanfaatkan lahan kosong mengikuti tradisi. Oleh itu, menurut mereka tanaman jenis kayu-kayuan, rumput lalang, rumput makanan
ternakan, daun kurma, dan biji tembikai tidak dikeluarkan zakatnya, kerana penanamannya tidak dilakukan untuk memanfaatkan tanah dan mengembangkannya menurut kebiasaan. Lain halnya apabila seseorang memanfaatkan tanah, lalu ditanaminya dengan pohon, tebu atau rumput ilalang, maka hasil yang diperolehinya wajib dikeluarkan zakatnya, karena
ini dilakukan dengan tujuan memanfaatkan lahan kosong. Imam Abu Hanifah melandaskan pendapatnya ini dengan berdalilkan kepada firman Allah (s.w.t):

ياايها الذين امنوا انفقوا من طيبات ما كسبتم ومما اخرجنالكم من الاض

Wahai orang yang beriman, nafahkanlah (di jalan Allah) sebahagian daripada
hasil usahamu yang baik-baik dan sebahagian dari apa yang Kami keluarkan dari
bumi untuk kamu…” (Surah al-Baqarah: 267)

Demikian pula firman Allah (s.w.t):

واتوا حقه يوم حصاده

“… Dan tunaikanlah zakatnya pada saat memetik hasilnya…” (Surah al-An’am: 141)

Abu Yusuf dan Imam Muhammad murid Imam Abu Hanifah mengatakan bahawa zakat diwajibkan pada jenis buah-buahan yang mampu
bertahan disimpan selama satu tahun tanpa memerlukan kepada bahasan pengawet, baik jenis yang dapat ditakar seperti kurma ataupun jenis yang tidak dapat ditakar seperti kapas. Jika barang tersebut termasuk jenis yang
ditakar, maka jumlahnya harus mencapai lima wasaq. Jika tidak termasuk jenis yang ditakar, maka menurut Abu Yusuf tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali apabila harganya mencapai nisab mengikut hitungan
minimum barang yang ditakar. Kapas tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali apabila harganya mencapai lima wasaq gandum. Menurut Imam
Muhammad, barang yang tidak ditakar tidak dikenakan zakat, kecuali apabila jumlahnya mencapai lima kali ganda jenis yang paling unggul. Dan kapas tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali apabila jumlahnya
mencapai lima qintarah. Dari sini dapat diambil satu kesimpulan bahwa buah-buahan dan sayur-sayuran tidak dikenakan zakat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 157 : ZAKAT PERTANIAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 157

وَعَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( فِيمَا سَقَتِ اَلسَّمَاءُ وَالْعُيُونُ, أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا: اَلْعُشْرُ, وَفِيمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ: نِصْفُ اَلْعُشْرِ. ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. وَلِأَبِي دَاوُدَ: ( أَوْ كَانَ بَعْلًا: اَلْعُشْرُ, وَفِيمَا سُقِيَ بِالسَّوَانِي أَوِ اَلنَّضْحِ: نِصْفُ اَلْعُشْرِ )

Dari Salim Ibnu Abdullah, dari ayahnya r.a, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanaman yang disiram dengan air hujan atau dengan sumber air atau dengan pengisapan air dari tanah, zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia, zakatnya seperduapuluh.” Riwayat Bukhari. Menurut riwayat Abu Dawud: “Bila tanaman ba’al (tanaman yang menyerap air dari tanah), zakatnya sepersepuluh, dan tanaman yang disiram dengan tenaga manusia atau binatang, zakatnya setengah dari sepersepuluh (1/20).”

MAKNA HADIST

Sebab penyiraman tanaman menggunakan alat penyiraman memerlukan jerih payah dan usaha tambahan, maka syariat Islam mengurangi sebahagian zakat yang wajib ditunaikan sebagai rahmat kepada hamba Allah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) menetapkan zakatnya hanya setengah daripada sepersepuluh.

Penyiraman tanaman melalui air hujan dan air sungai dilakukan tanpa susah payah seperti mana keadaan pertama, maka syariat Islam menetapkan zakatnya Adalah sepersepuluh.

Dengan demikian, hadis yang mengatakan bahawa “yang jumlahnya kurang
daripada lima wasaq tidak wajib dikeluarkan zakatnya” men-takhshish hadis ini
memandangkan maknanya yang bersifat umum.
Sabda Nabi (s.a.w) yang mengatakan bahawa tanaman yang diairi oleh hujan
maka zakatnya adalah sepersepuluh. Maksudnya ialah apabila hasilnya mencapai
Lima wasaq. Ini kerana sebahagian Sunnah boleh men-takhshish sebahagian yang
lain. Hadis yang menerangkan ukuran wasaq berkedudukan sahih menjelaskan
kadar yang harus dikeluarkan zakatnya, sehingga hadis tersebut wajib diamalkan
Untuk membatasi pengertian umum yang terdapat pada hadis yang lain dalam
masalah yang sama.

FIQH HADIST

1. Hasil tanaman wajib dikeluarkan zakatnya.

2. Wajib mengeluarkan sepersepuluh dari hasil tanaman yang pengairannya tidak menggunakan alat penyiraman untuk memberikan keluasan bagi orang fakir.

3. Wajib mengeluarkan setengah dari sepersepuluh hasil tanaman yang pengairannya dilakukan dengan menggunakan alat penyiraman yang memerlukan tenaga dan biaya untuk meringankan pemilik harta.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 156 : BATASAN WAJIBNYA ZAKAT PADA PERAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 156

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رضي الله عنه عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوَاقٍ مِنَ اَلْوَرِقِ صَدَقَةٌ, وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسٍ ذَوْدٍ مِنَ اَلْإِبِلِ صَدَقَةٌ, وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ مِنَ اَلتَّمْرِ صَدَقَةٌ ) رَوَاهُ مُسْلِم ٌ

وَلَهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ: ( لَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوْسَاقٍ مِنْ تَمْرٍ وَلَا حَبٍّ صَدَقَةٌ ). وَأَصْلُ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tak ada zakat pada perak yang kurang dari 5 auqiyah (600 gram), unta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor, dan kurma yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter).” Riwayat Muslim.

Menurut riwayatnya dari hadits Abu Said r.a: “Tidak ada zakat pada kurma dan biji-bijian yang kurang dari 5 ausaq (1050 liter).” Asal hadits dari Abu Said itu Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADIST

Harta benda tidak dikenakan wajib zakat kecuali apabila jumlahnya telah mencapai nisab. Oleh kerana Itu untuk mengetahui masalah nisab ini bergantung kepada dalil naqli kerana ia termasuk perkara ta’abbudiyyah, maka tidak ada ruang bagi akal untuk ikut campur di dalamnya. Nabi (s.a.w) sendiri yang menjelaskan nisab masing-masing jenis dan batasan bilangan harta itu. Baginda memutuskan bahawa
sesuatu yang jumlahnya masih di bawah nisab tidak wajib dikeluarkan zakatnya
sebagai bentuk kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya sekali gus untuk memberi
keringanan kepada mereka.

FIQH HADIST

1. Perak dan hewan ternak wajib dikeluarkan zakatnya. Hadis ini menjelaskan tentang nisab masing-masing jenis harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

2. Orang yang memiliki buah kurma dan biji-bijian yang jumlah takarannya
lima wasaq atau lebih, maka diwajibkan mengeluarkan zakat, menurut
pendapat jumhur ulama. Tetapi Imam Abu Hanifah tidak mensyaratkan
nisab. Beliau mengatakan bahawa zakat buah-buahan dan biji-bijian
diwajibkan mengeluarkan zakat, baik jumlah takarannya sedikit mahupun banyak, berlandaskan kepada keumuman makna yang terdapat di dalam firman-Nya:

وآتوا حقه يوم حصاده

“… Dan tunaikanlah hak (zakat)nya pada saat memetik hasilnya…” (Surah al-An’Am: 141)

3. Kewajipan membayar zakat gugur pada harta perak yang jumlahnya kurang
dari lima auqiyah, ternakan unta yang jumlahnya kurang dari lima ekor, dan buah kurma serta biji-bijian yang jumlah takarannya kurang daripada lima wasaq.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 155 : MENDAHULUKAN ZAKAT SEBELUM WAKTUNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 155

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه أَنَّ اَلْعَبَّاسَ رضي الله عنه ( سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ, فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَالْحَاكِم

Dari Ali bahwa Abbas bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam penyegerakan pengeluaran zakat sebelum waktunya, lalu beliau mengizinkannya. Riwayat Tirmidzi dan Hakim.

MAKNA HADIST

Pada asalnya kewajiban berzakat itu dibayar apabila telah berlalu masa satu tahun bagi harta benda tersebut, sementara menyegerakan pembayaran zakat sebelum jatuh tempoh haul pada asalnya tidak dibolehkan, namun Nabi (s.a.w) memberikan keringanan dalam masalah ini bagi pemilik harta, sehingga si pemilik
harta dibolehkan menunaikannya sebelum waktunya.

Adapun, orang yang diwasiatkan atau yang menjadi wali harta tidak mempunyai hak baginya untuk menyegerakan pembayaran zakat sebelum jatuh waktu haulnya.

FIQH HADIST

Dibolehkan menyegerakan pembayaran zakat sebelum tiba masa waktunya dan ini mengikut pendapat jumhur ulama. Tetapi mereka mensyaratkan beberapaperkara berikut:

PERTAMA, hendaklah pengeluaran zakat dilakukan setelah mencapai nisab;

KEDUA, hendaklah jumlah yang telah mencapai nisab tersebut tidak terputus di tengah-tengah haul;

KETIGA, hendaklah dilakukan di akhir haul;

KEEMPAT, menyegerakan pembayaran zakat hanya boleh dilakukan oleh si pemilik
harta. Oleh itu, tidak sah apabila dilakukan oleh pengelola harta secara wasiat atau
perwalian. Mazhab Maliki mengatakan bahwa mendahulukan zakat boleh dilakukan
dalam jarak waktu satu bulan sebelum tiba masa haul, tetapi makruh menurut
pendapat yang muktamad.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 152 : ZAKAT UNTUK SAPI YANG DIPEKERJAKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 152

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( لَيْسَ فِي اَلْبَقَرِ اَلْعَوَامِلِ صَدَقَةٌ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ أَيْضًا.

Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Tidak ada zakat atas sapi yang dipekerjakan. Riwayat Abu Dawud dan Daruquthni. Hadits mauquf menurut pendapat yang lebih menang.

MAKNA HADITS :

Ternakan sapi dikenakan wajib zakat apabila mencapai nisab yang diwajibkan,
iaitu pada setiap tiga puluh ekor sapi zakatnya adalah seekor anak sapi yang
berusia satu tahun, sama ada jenis jantan ataupun betina. Dan pada setiap empat
puluh ekor zakatnya adalah sapi musinnah, tanpa ada perbedaan sapi itu digembalakan dengan bebas atau dipelihara di dalam kandang. Demikian menurut mazhab Imam Maliki.
Jumhur ulama mengatakan bahwa zakat sapi dikenakan hanya pada ternakan sapi yang digembalakan dengan bebas, bukan sapi yang diternakkan di dalam kandangnya. Ini kerana diqiyaskan kepada ternakan unta dan ternakan
kambing yang syarat utamanya ialah digembalakan dengan bebas. Ternakan
yang dipekerjakan tidak dikenakan wajib zakat. Tidak ada hujah dalam hadis ini
mengingat ia berstatus mawquf lagi dha’if.

FIQH HADITS :

Seseorang yang memiliki ternakan sapi yang khusus untuk dipekerjakan tidak
dikenakan wajib zakat. Ini maksud hadis ini, tetapi maknanya bertentangan dengan
pendapat jumhur ulama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T048. CARA MENCUCI DENGAN MESIN CUCI

AIR YANG TERKENA NAJIS

Ketentuan yang masyhur dalam mazhab Syafi’i tentang air yang terkena najis adalah:

Jika volume air sudah sampai dua qullah (216 liter atau kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 60 cm) maka air tidak dihukumi najis kecuali warna air berubah (taghayyur); sedangkan jika volume air tidak sampai dua qullah maka seluruh air secara langsung menjadi najis ketika bersentuhan dengan benda yang najis. Namun menurut pendapat lain—seperti dalam mazhab Maliki misalnya—air tidak dihukumi najis kecuali dengan berubahnya warna air, baik volume air sampai dua qullah ataupun kurang dari dua qullah.

Sedangkan cara menyucikan benda yang terkena najis (mutanajjis) dengan air yang kurang dari dua qullah adalah dengan cara menghilangkan wujud najis yang ada dalam benda tersebut terlebih dahulu, lalu mengalirkan air (warid) pada benda yang terkena najis yang telah dihilangkan najisnya. Mengalirkan air pada benda yang terkena najis merupakan syarat agar suatu benda dapat menjadi suci, sebab jika air tidak dialirkan, tapi benda yang terkena najis ditaruh pada air yang kurang dari dua qullah, maka air tersebut justru akan ikut menjadi najis. Pendapat demikian merupakan pendapat mayoritas ulama Syaf’iyyah. Kewajiban mengalirkan air itu dikarenakan mengalirkan air adalah cara yang paling kuat dalam menyucikan benda yang terkena najis. Namun dalam hal ini, Imam al-Ghazali berbeda pandangan. Beliau berpendapat bahwa mengalirkan air bukanlah syarat dalam menyucikan benda yang terkena najis. Sebab, menurut beliau, tidak ada bedanya antara mengalirkan air pada benda yang terkena najis (warid) dan menaruh benda tersebut pada air (maurud). Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Suraij. Ketika ketentuan-ketentuan di atas kita terapkan dalam konteks menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci, maka cara yang paling baik dan disepakati oleh para ulama adalah dengan cara menghilangkan wujud najis (‘ain an-najasah) terlebih dahulu sebelum memasukkan pakaian ke dalam mesin.

Menghilangkan najis ini bisa dengan cara menggosok-gosok pakaian agar wujud najis hilang, atau langsung dengan cara menyiram pakaian (baik itu secara manual, atau langsung dengan cara dimasukkan pada mesin cuci) ketika memang diyakini najis yang melekat akan hilang dengan siraman air tersebut. Sehingga ketika wujud najis telah hilang, maka status pakaian menjadi najis hukmiyyah (najis secara hukum, meski wujud tak terlihat) yang dapat suci cukup dengan disiram air. Berbeda halnya pada pakaian yang tidak terdapat bekas najis, atau tidak tampak warna, bau dan ciri khas lain dari najis, maka tidak perlu dilakukan hal di atas, sebab pakaian tersebut sudah dapat suci cukup dengan disiram.

ketika wujud najis sudah hilang dalam pakaian, maka pakaian sudah dapat dimasukkan dalam mesin cuci untuk disiram. Dalam hal ini, mesin cuci terdapat dua jenis. Pertama, mesin cuci otomatis, yaitu mesin cuci yang mengalirkan air dari atas dan air tersebut langsung dialirkan keluar, setelah itu dialirkan kembali air baru dan dialirkan keluar, demikian secara terus-menerus sesuai kehendak pemakai mesin cuci. Maka dalam jenis mesin cuci demikian, ulama sepakat bahwa pakaian yang dicuci dengan mesin cuci jenis ini dapat dihukumi suci. Sedangkan jenis kedua, yaitu mesin cuci biasa (‘adi). Mesin cuci jenis ini adalah yang umum terlaku dan digunakan masyarakat. Yaitu mesin cuci yang mengalirkan air ke dalam tempat penampungan pakaian, namun air tidak langsung dikeluarkan, tapi dibiarkan ke dalam tempat penampungan pakaian, yang di dalamnya bercampur pakaian suci dan najis. Setelah jeda waktu cukup lama, air tersebut dikeluarkan dan diganti dengan air baru yang juga mengalami proses yang sama dengan cara kerja air yang awal. Maka dalam mesin cuci jenis kedua ini, pakaian yang terkena najis tidak dapat dihukumi suci menurut pandangan mayoritas ulama, bahkan pakaian yang suci ikut menjadi najis, jika memang masih terdapat wujud najis pada salah satu pakaian yang ada dalam mesin cuci tersebut. Sedangkan bila mengikuti pandangan dari Al-Ghazali, Ibnu Suraij, serta pendapat mazhab Maliki di atas, maka air yang dicuci dengan mesin cuci jenis kedua (apalagi jenis pertama) dapat dihukumi suci. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Syarah al-Yaqut an-Nafis:

والغسالات نوعان: نوع يسمونه أوتوماتيكي يرد إليها الماء ثم ينصرف فيرد ماء جديد ثم يتكرر إيراد الماء عدة مرات فهذا لاخلاف فيه في طهارة الملابس. والنوع الثاني من الغسالات عادي وتلك يوضع الماء فيها وهو دون القلتين وتغسل به الملابس الطاهرة والنجسة ثم يصرفونه فيبقى شيء منه في الغسالة والثياب مبللة منه فيصبّون عليه ماء آخر فوق الباقي المتنجس ثم يكتفون بالغسلتين

“Mesin cuci terbagi menjadi dua. Pertama, mesin cuci yang otomatis, yaitu air dialirkan pada mesin cuci lalu di alirkan keluar dari mesin cuci, setelah itu dialirkan kembali air baru dan dialirkan keluar, begitu juga seterusnya. Maka dalam mesin cuci jenis demikian tidak ada perbedaan pendapat antar ulama dalam sucinya pakaian yang di cuci pada mesin cuci jenis ini. Kedua, mesin cuci biasa, yaitu air yang kurang dari dua qullah ditaruh di dalam mesin cuci, yang nantinya air tersebut digunakan untuk membasuh pakaian yang suci dan najis, lalu air tersebut dialirkan keluar, meski masih terdapat sebagian air yang menetap pada mesin cuci, sedangkan pakaian yang terdapat dalam cucian berada dalam keadaan basah, kemudian dialirkan air lain di atas sisa air yang terkena najis (di pakaian) tadi dan basuhan air dalam mesin cuci ini dicukupkan dengan dua kali basuhan oleh sebagian ulama.”

فهؤلاء يحملهم قول الذين لايشترطون ورودالماء مع القول في مذهب مالك. وهناك قول آخر نقله ابن حجر في التحفة يحملهم وإن قرر على أن الماء القليل ينجس بمجرد وقوع النجاسة فيه لكن نقل القول الآخر وهو أنه لاينجس إلا بالتغير وهو مذهب مالك وعندنا أنه ينجس بملاقته النجاسة والقول الذي يقول لاينجس الماء إلا بالتغير “

Para ulama ini mengarahkan kasus demikian pada pendapat para ulama yang tidak mensyaratkan mengalirnya air pada pakaian serta berpijak pada pendapat mazhab imam malik. Sebab dalam permasalahan membasuh benda yang terkena najis ini terdapat pendapat lain yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj, meskipun Imam Ibnu Hajar menetapkan bahwa air yang sedikit (kurang dari dua qullah) akan menjadi najis dengan hanya jatuhnya najis pada air tersebut, tetapi ia menukil pendapat lain yaitu Air tidak menjadi najis kecuali dengan berubahnya (warna) air.” (Muhammad bin Ahmad Asy-Syatiri, Syarah al-Yaqut an-Nafis, Hal. 98-99)

Namun patut dipahami bahwa ketentuan yang dijelaskan tentang menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci, seperti yang dijelaskan di muka, adalah ketika pakaian yang dimasukkan dalam mesin cuci belum dicampuri dengan detergen. Sedangkan ketika pakaian sudah dicampuri dengan detergen sebelum dialiri air dalam mesin cuci, maka air yang bercampur dengan detergen ini tidak dapat menyucikan pakaian yang terkena najis secara mutlak, sebab air ini tergolong air yang mukhalith (bercampur dengan sesuatu lain) yang tidak dapat menyucikan benda yang terkena najis, sebab hanya air murni (ma’ al-muthlaq) yang dapat menyucikan sesuatu yang terkena najis. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci biasa (‘adi) adalah hal yang dapat dilakukan menurut para ulama yang berpandangan bahwa air yang kurang dari dua qullah dapat menyucikan benda yang najis tanpa perlu dialiri air dari atas (warid). Namun dengan batasan selama pakaian dalam mesin cuci tidak terlebih dahulu dicampur dengan detergen. Barulah setelah pakaian dialiri air maka tempat penampungan pakaian dalam mesin cuci diganti air yang baru dan diberi detergen. Meski cara yang umum dilakukan masyarakat dapat dibenarkan dengan cara di atas, namun alangkah baiknya dalam rangka mengambil jalan kehati-hatian dalam mengamalkan syariat, seseorang hendaknya membasuh secara manual terlebih dahulu pada pakaian yang terkena najis dengan air murni, lalu setelah itu pakaian yang telah dibasuh dicuci dalam mesin cuci, sebab cara demikianlah yang dibenarkan oleh mayoritas ulama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Kunjungi chanel youtube IKABA NET :

https://youtu.be/EIC6zyVfnqg