logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 169 : WAKTU PEMBAGIAN ZAKAT FITRAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT FITRAH

HADITS KE 169

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( فَرَضَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ اَلْفِطْرِ; طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اَللَّغْوِ, وَالرَّفَثِ, وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ, فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ, وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ اَلصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ اَلصَّدَقَاتِ. )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَابْنُ مَاجَهْ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم ُ 

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perkataan yang tidak berguna dan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Maka barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum sholat, ia menjadi zakat yang diterima dan barangsiapa mengeluarkannya setelah sholat, ia menjadi sedekah biasa. Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Hakim.

MAKNA HADIST

Rasulullah (s.a.w) menjelaskan kewajiban zakat fitrah kepada umatnya sebagaimana baginda turut menjelaskan hikmah syariat apabila dikaitkan dengan orang yang puasa dan orang yang menerimanya. Baginda menjelaskan waktu wajibnya dimana kewajiban zakat fitrah itu mempunyai batasan waktu tertentu

FIQH HADIST

  1. Wajib menunaikan zakat fitrah.
  2. Zakat fitrah adalah suatu kebaikan di antara sekian banyak amal kebaikan yang lain dan dapat menghapus kejahatan sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:
    ان الحسنات يذهبن السيئات.
    “… Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan yang buruk…” (Surah Hud: 114)
  3. Mengeluarkan zakat fitrah sebelum mengerjakan solat hari raya aidil fitri adalah lebih afdal. Hikmahnya ialah agar orang miskin tidak sibuk meminta-minta hingga meninggalkan solat hari raya.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 168 : KETENTUAN ZAKAT FITRAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT FITRAH

HADITS KE 168

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: ( كُنَّا نُعْطِيهَا فِي زَمَانِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم صَاعًا مِنْ طَعَامٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ. )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِوَفِي رِوَايَةٍ: ( أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ ) قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: أَمَّا أَنَا فَلَا أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ فِي زَمَنِ رَسُولِ اَللَّهِ وَلِأَبِي دَاوُدَ: ( لَا أُخْرِجُ أَبَدًا إِلَّا صَاعًا )

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kami selalu mengeluarkan zakat fitrah satu sho’ makanan, atau satu sho’ kurma, atau satu sho’ sya’ir, atau satu sho’ anggur kering. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat lain: Atau satu sho’ susu kering. Abu Said berkata: Adapun saya masih mengeluarkan zakat fitrah seperti yang aku keluarkan pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dalam riwayat Abu Dawud: Aku selamanya tidak mengeluarkan kecuali satu sho’.

MAKNA HADIST

Kifarat, nisab dan kadar zakat merupakan perkara yang bersifat ta’abbudi, tidak ada ruang bagi akal untuk berperanan dalam masalah ini. Jika syariat telah menentukan suatu kadar tertentu, maka tidak boleh dikurangi, karena pengurangan itu bererti tidak mematuhi apa yang telah ditetapkan oleh syariat Islam sebagaimana Tidak boleh pula menambahkannya karena itu berarti membangkang terhadap hukum syariat. Oleh itu, Abu Sa’id (r.a) memprotes pendapat Mu’awiyah yang mengeluarkan zakat fitrah hanya setengah sha’ samara’ sebagai pengganti kepada satu sha’ jenis yang lainnya, karena perbuatan tersebut bertentangan dengan kebiasaan yang pernah berlaku pada zaman Nabi (s.a.w)

FIQH HADIST

  1. Disyariatkan mengeluarkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ dari jenis-jenis
    yang telah disebutkan di dalam hadis tersebut karena nashnya sudah jelas.
  2. Zakat fitrah itu berupa makanan pokok kebanyakan penduduk negeri
    setempat. Pada zaman Nabi (s.a.w) makanan pokok kebanyakan adalah buah kurma, gandum, keju, anggur kering, dan oat. Seandainya pada suatu negeri tidak terdapat jenis-jenis makanan pokok tersebut, maka itu boleh diganti dengan makanan pokok lain yang biasa dijadikan sebagai makanan
    Pokok di negeri setempat, misalnya beras, jagung atau roti.
  3. Keteguhan Abu Sa’id dalam mengikuti jejak Nabi (s.a.w).
  4. Boleh berijtihad karena ia merupakan aktivitas yang terpuji. Tetapi apabila
    ada nash, maka ijtihad tidak dapat dijadikan sebagai pegangan.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 167 : ZAKAT FITRAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT FITRAH

HADITS KE 167

عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( فَرَضَ رَسُولُ اَلله صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ اَلْفِطْرِ, صَاعًا مِنْ تَمْرٍ, أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى اَلْعَبْدِ وَالْحُرِّ, وَالذَّكَرِ, وَالْأُنْثَى, وَالصَّغِيرِ, وَالْكَبِيرِ, مِنَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ اَلنَّاسِ إِلَى اَلصَّلَاةِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه

وَلِابْنِ عَدِيٍّ ] مِنْ وَجْهٍ آخَرَ [ وَاَلدَّارَقُطْنِيِّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ: ( اغْنُوهُمْ عَنِ اَلطَّوَافِ فِي هَذَا اَلْيَوْمِ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebesar satu sho’ kurma atau satu sho’ sya’ir atas seorang hamba, orang merdeka, laki-laki dan perempuan, besar kecil dari orang-orang islam; dan beliau memerintahkan agar dikeluarkan sebelum orang-orang keluar menunaikan sholat. Muttafaq Alaihi.
Menurut riwayat Ibnu Adiy dan Daruquthni dengan sanad yang lemah: “Cegahlah mereka agar tidak keliling (untuk minta-minta) pada hari ini.

MAKNA HADIST

Rasulullah (s.a.w) mewajibkan zakat fitrah setelah puasa bulan Ramadhan untuk membersihkan orang yang puasa dari perkataan yang tidak bermanfaat dan keji dimana adakalanya itu dilakukan ketika sedang berpuasa. Zakat fitrah dapat menutupi kekurangan yang terjadi selama berpuasa, sebagaimana sujud sahwi dapat menutupi kekurangan yang terjadi di dalam solat. Zakat fitrah pada hari itu berfungsi memberikan kecukupan kepada orang fakir hingga mereka tidak lagi meminta-minta di samping sebagai pemberitahuan kepada mereka tentang hari raya yang dipenuhi dengan suasana kegembiraan dan kebahagiaan serta keagungan Islam. Pada hari itu seluruh kaum muslimin berkumpul dengan penuh rasa kasih sayang dan kebahagiaan. Nabi (s.a.w) menjadikan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma atau gandum atau selainnya yang merupakan makanan pokok negeri setempat. Baginda menetapkan kewajipannya atas setiap orang merdeka, hamba sahaya, lelaki, perempuan, anak-anak atau orang dewasa dari kalangan kaum muslimin. Baginda menyuruh dengan perintah sunat agar zakat fitrah diberikan sebelum solat mengerjakan solat hari raya aidil fitri

FIQH HADIST

  1. Kewajiban zakat fitrah dan menjelaskan hukum wajib ini berlaku umum
    mencakup seluruh orang muslim, baik lelaki ataupun perempuan, anak-anak ataupun orang dewasa, orang merdeka ataupun hamba sahaya. Zakat fitrah anak yatim diambil dari hartanya sendiri apabila
    dia mempunyai harta, namun apabila tidak mempunyai harta, maka zakat fitrahnya ditanggung oleh penanggung jawab nafkahnya. Zakat fitrah hamba sahaya dibebankan kepada tuannya. Jumhur ulama mengatakan bahwa zakat fitrah isteri wajib dikeluarkan oleh suaminya karena dianggap
    sama dengan wajib nafkah. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa zakat
    fitrah isteri wajib atas dirinya sendiri karena berpegang kepada makna zahir sabda Nabi (s.a.w): “atau perempuan.”
  2. Menjelaskan kadar zakat fitrah, yaitu satu sha’ atau satu al-kaylah. Jumhur ulama mengatakan bahwa zakat fitrah itu dalam bentuk makanan pokok penduduk negeri setempat. Imam Abu Hanifah mengatakan
    bahwa zakat fitrah boleh dibayar dalam bentuk uang yang senilai dengan
    satu sha’ makanan, karena orang fakir dapat bebas menggunakannya untuk
    memenuhi keperluannya yang lebih penting.
  3. Menjelaskan waktu pembayaran zakat fitrah, yaitu sebelum mengerjakan solat hari raya idul fitri. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik mengatakan bahwa zakat fitrah diwajibkan saat fajar hari raya terbit, karena waktu itu
    adalah waktu berbuka yang hakiki, di samping zakat fitrah merupakan amal taqarrub yang berkaitan dengan hari raya, maka waktu wajib tidak boleh didahulukan ke atas hari raya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa zakat fitrah diwajibkan setelah matahari akhir
    Ramadhan tenggelam, karena berbuka dari puasa Ramadhan tidak lain kecuali setelah matahari tenggelam di akhir harinya. Adapun menyegerakan zakat fitrah, Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa itu dibolehkan sejak awal
    Ramadhan karena penyebab untuk berzakat fitrah telah wujud. Imam Malik
    dan Imam Ahmad mengatakan bahwa boleh mendahulukan zakat fitrah sehari atau dua hari saja sebelum hari raya. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa boleh mendahulukan zakat fitrah secara mutlak tanpa perlu
    merincikan waktunya menurut pendapat yang sahih di kalangan mereka
    sebab penyebab yang mewajibkannya telah ada, yaitu orang yang wajib diberi nafkah.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 166 : ZAKAT HARTA HASIL TAMBANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 166

وَعَنْ بِلَالِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَخَذَ مِنَ اَلْمَعَادِنِ اَلْقَبَلِيَّةِ اَلصَّدَقَةَ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُد َ

Dari Bilal Ibnu Harits Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengambil zakat dari barang-barang tambang di Qalibiyah. Riwayat Abu Dawud.

MAKNA HADIST

Pemimpin berhak memberikan tanah yang tidak ada pemiliknya kepada sesiapa yang dikehendakinya dari kalangan orang yang mau mengelolanya. Nabi (s.a.w) pernah memberikan tanah yang mengandung barang galian yang terletak di al-Qabaliyyah kepada Bilal al-Muzani. Al-Qabaliyyah adalah nama sebuah tempat
yang terletak lima hari perjalanan dari kota Madinah menuju ke arah al-Furu’.
Baginda mengenakan zakat terhadap hasil yang digali di lombong itu. Meskipun, makna sedekah di sini masih diperselisihkan oleh ulama. Menurut satu pendapat, Itu merupakan zakat, tetapi dengan syarat jumlahnya mencapai nisab dengan alasan bahwa barang galian bukanlah rikaz. Menurut pendapat lain, apa yang dimaksud dengan zakat ialah al-khumus atau seperlima dengan alasan bahwa barang galian itu sama dengan rikaz. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah.

FIQH HADIST

  1. Barang siapa yang memperoleh barang galian, maka pada saat itu juga
    dia diwajibkan membayar zakatnya sebanyak dua puluh persen. Jumhur ulama mengatakan bahwa zakat barang tambang adalah dua puluh persen dibayar seketika dan tunai. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa barang tambang dikenakan khumus atau seperlimanya karena kedudukannya
    sama dengan rikaz.
  2. Wajib mengeluarkan zakat emas dan perak, sedangkan perhiasan selain itu tidak wajib dizakati, karena emas dan perak dapat dikembangkan dan dengan itu segala sesuatu dapat terbeli.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 165 : UKURAN ZAKAT HARTA RIKAZ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 165

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ -فِي كَنْزٍ وَجَدَهُ رَجُلٌ فِي خَرِبَةٍ-: إِنْ وَجَدْتَهُ فِي قَرْيَةٍ مَسْكُونَةٍ, فَعَرِّفْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَهُ فِي قَرْيَةٍ غَيْرِ مَسْكُونَةٍ, فَفِيهِ وَفِي اَلرِّكَازِ: اَلْخُمُسُ  )  أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَن ٍ

Dari Amar Ibnu Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tentang harta simpanan yang ditemukan seseorang di suatu tempat yang tidak berpenghuni. Jika engkau menemukannya pada kampung yang dihuni orang, maka umumkan. Jika engkau menemukannya pada kampung yang tidak dihuni orang, maka zakatnya sebagai rikaz itu seperlima.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.

MAKNA HADIST

Harta yang ditemukan di atas permukaan tanah tanpa dipendam atau ditemukan di kawasan tanah yang bertuan, yakni tanah milik seseorang atau ditemukan dalam keadaan terpendam di tengah jalan, di dalam masjid, atau di tempat pos kawalan, tidaklah disebut harta rikaz, sebaliknya barang temuan dan berlaku ke atasnya hukum barang temuan. Harta rikaz yang menurut syariat wajib dikeluarkan seperlimanya mestilah memenuhi dua kriteria. ~Pertama,~ hendaklah dalam keadaan terpendam sebagai peninggalan zaman dahulu. Kedua hendaklah barang tersebut berada di dalam tanah yang tidak bertuan. Dengan demikian, jelaslah perbedaan antara barang temuan dengan harta rikaz. Hadis ini menetapkan pengertian tersebut dengan jelas.

FIQH HADIST

  1. Boleh mengambil barang temuan tetapi dengan syarat harus mengumumkannya terlebih dahulu.
  2. Zakat harta karun yang ditemukan di dalam kampung yang telah ditinggalkan oleh penduduknya adalah satu perlima, yakni dua puluh peratus, kerana diqiaskan kepada rikaz.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 164 : ZAKAT HARTA RIKAZ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 164

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “وَفِي اَلرِّكَازِ: اَلْخُمُسُ” ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Zakat rikaz (harta peninggalan purbakala) adalah seperlima.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADIST

Setelah Ibn Hajar selesai menyebutkan hadis-hadis mengenai zakat barang
perniagaan, beliau menyebutkan hukum zakat harta rikaz. beliau mengemukakan hadis Abu Hurairah (r.a) yang menunjukkan bahwa zakat harta rikaz itu adalah satu perlima.
Ulama berselisih pendapat mengenai makna rikaz. Pendapat mereka dibagikan menjadi dua kumpulan.

Pertama : pendapat jumhur ulama, yaitu Imam Malik, Imam al-Syafi’i, dan Imam Ahmad di mana mereka mengatakan bahwa harta rikaz adalah harta terpendam di dalam tanah yang merupakan peninggalan harta berharga pada zaman Jahiliah. Rikaz berbeda dengan harta galian kerana berdasarkan dalil hadis:

الهجماء جبار، والمعدن جبار وفى الركاز الخمس

“Luka kerana haiwan adalah sia-sia, barang galian adalah sia-sia, dan di dalam harta rikaz terdapat zakat satu perlima.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Meng-‘athaf-kan lafaz al-rikaz kepada lafaz al-ma’adin menunjukkan bahwa keduanya barang yang berlainan.

Kedua : adalah menurut pendapat Imam Abu Hanifah dimana beliau mengatakan bahwa rikaz sama dengan al-ma’adin (barang galian). Beliau menetapkan zakat satu perlima ke atas, baik yang berjumlah sedikit ataupun banyak tanpa ada ikatan nisab.

Imam al-Syafi’i mensyaratkan nisab pada rikaz berdasarkan hadis:

ليس فيما دون خمس اوسوق صدقة

“Emas yang jumlahnya kurang daripada lima auqiyah tidak dikenakan kewajipan
mengeluarkan zakat.”

Barang galian, menurut jumhur ulama, wajib dikeluarkan zakatnya apabila
jumlahnya mencapai nisab.

FIQH HADIST

Harta rikaz wajib dikeluarkan zakatnya. Jumhur ulama mengatakan bahwa baik sedikit ataupun banyak, adalah sama dimana ia wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak satu perlima.
Imam al-Syafi’i dalam qaul jadid mensyaratkan jumlahnya mencapai nisab. Oleh karna itu, harta rikaz yang jumlahnya masih di bawah nisab tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali apabila di dalam milik seseorang itu terdapat harta lain yang sama jenisnya dengan harta rikaz yang dijumpainya hingga jumlahnya genap mencapai nisab. Imam al-Syafi’i menambahkan bahwa syarat wajib zakat pada harta rikaz apabila berupa dua mata uang atau dalam bentuk lain, tetapi masih tetap dianggap sebagai mata uang, kerana berlandaskan kepada makna dahir hadis.
Hal yang sama turut dikemukakan pula oleh mazhab Hanafi, namun mereka mewajibkan satu perlima dan menjadikannya sebagai harta fai’.
Imam Ahmad mewajibkan satu perempat daripada sepersepuluh, yakni dua setengah peratus dan beliau menjadikannya sebagai zakat. Menurut Imam Malik, ada dua riwayat seperti mana dua pendapat yang di atas; masing-masing riwayat ini diceritakan oleh Ibn al-Qasim.

Penjelasan mengenai kadar zakat harta rikaz zaman dahulu, yaitu satu perlima, karena harta tersebut dikeluarkan tanpa bersusah payah. Lain halnya dengan barang galian, karena barang galian dikeluarkan dengan kerja berat dan bersusah payah.

Penjelasan yang mengatakan bahwa orang yang menemukan harta rikaz sesudah dia mengeluarkan satu perlimanya bererti dia memiliki sisanya sebanyak empat perlimanya atau delapan puluh perseratus.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 161-162 : ZAKAT PERHIASAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 161-162

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ; ( أَنَّ اِمْرَأَةً أَتَتِ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَمَعَهَا اِبْنَةٌ لَهَا, وَفِي يَدِ اِبْنَتِهَا مِسْكَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ, فَقَالَ لَهَا: “أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا?” قَالَتْ: لَا. قَالَ: “أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اَللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ?”. فَأَلْقَتْهُمَا. )  رَوَاهُ اَلثَّلَاثَةُ, وَإِسْنَادُهُ قَوِيّ ٌ. وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَة

Dari Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas ditangannya. Lalu beliau bertanya: “Apakah engkau mengeluarkan zakat gelang ini?” Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: “Apakah engkau senang pada hari kiamat nanti Allah akan menggelangi kamu dengan dua gelang api neraka?” Lalu perempuan itu melepaskan kedua gelang tersebut. Riwayat Imam Tiga dengan sanad yang kuat. Hadits shahih menurut Hakim dari hadits ‘Aisyah.

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; ( أَنَّهَا كَانَتْ تَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَكَنْزٌ هُوَ? ] فَـ [ قَالَ: إِذَا أَدَّيْتِ زَكَاتَهُ, فَلَيْسَ بِكَنْزٍ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia mengenakan perhiasan dari emas, lalu dia bertanya: Ya Rasulullah, apakah ia termasuk harta simpanan? Beliau menjawab: “Jika engkau mengeluarkan zakatnya, maka ia tidak termasuh harta simpanan.” Riwayat Abu Dawud dan Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim.

MAKNA HADIST


Nabi (s.a.w) membolehkan kaum wanita memakai perhiasan emas dan perak,
sebagai mana yang telah disebutkan di dalam hadis lain yang mengatakan bahawa Rasulullah (s.a.w) mengambil kain sutera, lalu dipegang di tangan kanannya, danemas yang baginda pegang di tangan kirinya, kemudian bersabda:


ان هذين حرام على ذكور امتي حل لإناثها

Sesungguhnya kedua barangan ini haram bagi kaum lelaki umatku, namun halal bagi
kaum wanita

Hadis ini menunjukkan bahwa perhiasan kaum wanita tidak dikenakan wajib zakat. Inilah yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama dan dikuatkan oleh fatwa ulama salaf serta kebiasaan yang berlaku yang tidak mengenakan wajibzakat terhadap perhiasan kaum wanita.
Imam Abu Hanifah mengatakan bahawa perhiasan wajib dikenakan zakat,apabila jumlahnya telah mencapai nisab kerana disamakan dengan makna umum wajib zakat atas emas dan perak, di samping itu berdasarkan hadis-hadis yang mengancam dan mengingatkan orang yang tidak menunaikan zakatnya. Akan tetapi, menurut jumhur ulama kesahihan hadis-hadis yang mengandung ancaman masih belum dapat dibuktikan

FIQH HADIST


Perhiasan wajib dikeluarkan zakatnya menurut Imam Abu Hanifah yang melandaskan pendapatnya dengan berdalilkan hadis Ummu Salamah.
Jumhur ulama mengatakan bahawa barang perhiasan yang dibuat untuk dipakai tidak dikenakan kewajipan membayar zakat. Segolongan ulama ada yang mengatakan bahawa zakat barang perhiasan itu ialah meminjamkannya.
Segolongan ulama yang lain mengatakan bahawa perhiasan itu wajib dikeluarkan zakat satu kali selama hidupnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S070. SHALAT MEMEJAMKAN MATA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh..

Bagaimana hukumnya sholat sambil memejamkan mata karna untuk menambah ke khusuan dalam sholat

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohamatullahi Wabarokatuh..

Hukumnya sholat sambil memejamkan mata itu MAKRUH, terkecuali ada kepentingan dalam memejamkan matanya seperti agar dapat lebih khusyu’, tidak terganggu dengan pandangan matanya, khawatir melihat hal-hal yang haram maka tidak lagi makruh bahkan lebih baik ketimbang matanya terbuka.

89 – ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ – الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَبَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ – إِلَى كَرَاهَةِ تَغْمِيضِ الْعَيْنَيْنِ فِي الصَّلاَةِ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يُغْمِضُ عَيْنَيْهِ (4) .

وَاحْتَجَّ لَهُ – أَيْضًا – بِأَنَّهُ فِعْل الْيَهُودِ ، وَمَظِنَّةُ النَّوْمِ . وَعَلَّل فِي الْبَدَائِعِ : بِأَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَرْمِيَ بِبَصَرِهِ إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ وَفِي التَّغْمِيضِ تَرْكُهَا . وَالْكَرَاهَةُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ تَنْزِيهِيَّةٌ .

وَاسْتَثْنَوْا مِنْ ذَلِكَ التَّغْمِيضَ لِكَمَال الْخُشُوعِ ، بِأَنْ خَافَ فَوْتَ الْخُشُوعِ بِسَبَبِ رُؤْيَةِ مَا يُفَرِّقُ الْخَاطِرَ فَلاَ يُكْرَهُ حِينَئِذٍ ، بَل قَال بَعْضُهُمْ : إِنَّهُ الأَْوْلَى . قَال ابْنُ عَابِدِينَ : وَلَيْسَ بِبَعِيدٍ .

قَال الْمَالِكِيَّةُ : وَمَحَل كَرَاهَةِ التَّغْمِيضِ مَا لَمْ يَخَفِ النَّظَرَ لِمُحَرَّمٍ ، أَوْ يَكُونُ فَتْحُ بَصَرِهِ يُشَوِّشُهُ ، وَإِلاَّ فَلاَ يُكْرَهُ التَّغْمِيضُ حِينَئِذٍ .

وَاخْتَارَ النَّوَوِيُّ : أَنَّهُ لاَ يُكْرَهُ – أَيْ تَغْمِيضُ الْعَيْنَيْنِ – إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْهُ ضَرَرًا عَلَى نَفْسِهِ ، أَوْ غَيْرِهِ فَإِنْ خَافَ مِنْهُ ضَرَرًا كُرِهَ (1)

(1) حاشية ابن عابدين 1 / 434 ، حاشية الدسوقي 1 / 254 ، مغني المحتاج 1 / 181 ، شرح روض الطالب 1 / 169 ، كشاف القناع 1 / 370 .

(4) حديث : ” إذا قام أحدكم في الصلاة فلا يغمض عينيه ” . أخرجه الطبراني في المعجم الكبير ( 11 / 34 – ط وزارة الأوقاف العراقية ) من حديث ابن عباس ، وأورده الهيثمي في ( مجمع الزوائد 2 / 83 – ط . اقدسي ) وقال : فيه ليث بن أبي سليم وهو مدلس وقد عنعنه .

Mayoritas Ulama Fiqh (Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan sebagian Syafi’iiyyah) menilai makruhnya shalat dengan memejamkan kedua mata berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam “Bila salah seorang diantara kalian berdiri menjalankan shalat, maka janganlah memejamkan kedua matanya”. (HR. at-Thabrany dalam Mu’jam al-Kabiir XI/34).

Alasan kemakruhan diatas karena disinyalir memejamkan mata saat ibadah merupakan perbuatan orang-orang Yahudi, dapat kebablasan ketiduran dan disebutkan dalam al-Badaa-I’ (juga kebanyakan kitab fiqih lainnya) bahwa yang sunah adalah mengarahkan pandangan pada tempat sujudnya dan dengan terpejam berarti meninggalkannya.

Kemakruhannya menurut kalangan Hanafiyyah tergolong MAKRUH TANZIIH

Dikecualikan dari ketentuan diatas memejamkan mata untuk menggapai sempurnanya kekhusyuan, dalam arti mengkhawatirkan hilangnya kekhusyuan saat matanya terbuka sebab melihat hal-hal yang dapat mencerai beraikan konsentrasi maka yang demikian tidak lagi makruh hukumnya bahkan sebagian ulama fiqh mengisyaratkan memejamkan mata dalam kondisi semacam ini justru lebih baik, Ibn ‘Abidiin berkata “Hal demikian tidaklah jauh (dari kebenaran)”

Kalangan Malikiyyah berpendapat : Kemakruhan memejamkan mata tersebut bila tidak dikhawatirkan saat matanya terbuka akan melihat hal-hal yang haram atau mengacaukan kekhusyuannya bila demikian maka memejamkan mata baginya tidak lagi dimakruhkan.

Imam an-Nawaawy cenderung memilih “Memejamkan mata saat shalat tidaklah makruh bila tidak dikhawatirkan berdampak dharar (bahaya0 dalam dirinya atau orang lainnya, bila dikhawatirkan maka makruh. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 27/105 ].

11ً – تغميض العينين إلا لخوف وقوع بصره على ما يشغله عن صلاته، روى ابن عدي في حديث بسند ضعيف: «إذا قام أحدكم في الصلاة فلا يغمض عينيه» لأن السنة النظر إلى موضع سجوده وفي التغميض تركها، والكراهة تنزيهية بالاتفاق.

No. 11. Dari kemakruhan-kemakruhan saat shalat. Memejamkan mata kecuali saat dikhawatirkan mengarahnya pandangan pada hal yang dapat membuatnya terlena dari shalatnya. Diriwayatkan dari Ibn ‘Ady dalam hadits dengan sanad dho’if “Bila salah seorang diantara kalian berdiri menjalankan shalat, maka janganlah memejamkan kedua matanya” karena sunahnya memandang tempat sujud dan memejamkan mata berarti meninggalkan kesunahannya, kemakruhannya tergolong makruh tanzih dengan kesepakatan ulama. [ Al-Fiqh al-Islaam II/135 ].

وَيُكْرَهُ أَيْضًا فِي الصَّلاَةِ تَغْمِيضُ الْعَيْنَيْنِ إِلاَّ لِحَاجَةٍ ، وَلاَ يُعْلَمُ فِي ذَلِكَ خِلاَفٌ

Kalangan Malikiyyah berpendapat “Dimakruhkan juga memejamkan kedua mata saat shalat kecuali ada kepentingan, dan tidak diketahui dalam hal tersebut terjadi perbedaan pendapat”. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah VIII/99 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

D055. PERBEDAAN MUSIBAH DAN BALA’

PERTANYAAN:

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh..

Perbedaan antara ujian dan hukuman dari Alloh itu apa, ya kiyai??

JAWABAN:

Wa’alaikum Salam Warohamatullahi Wabarokatuh..

Bala’ atau musibah itu ada tiga macam tujuannya : Yaitu bala’ (musibah)sebagai hukuman, bala’ sebagai penghapus dosa dan bala’ sebagai pengangkat derajat.

Hal ini berdasarkan keadaan atau reaksi orang yang terkena bala’ tersebut, sebagaimana keterangan dari Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani dalam kitab At Tabaqotul Kubro karya Syeikh Abdul Wahhab As-Sya’roni. Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani berkata :

علامة الابتلاء على وجه العقوبة، والمقابلة عدم الصبر عند وجود البلاء والجزع، والشكوى إلى الخلق، وعلامة الابتلاء تكفيراً، وتمحيصاً للخطيئات، وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر، ولا ثقل في أداء الأوامر، والطاعات، وعلامة الابتلاء لارتفاع الدرجات، وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس والسكون للأقدار حتى تنكشف

” Tandanya bala’/ musibah sebagai hukuman dan pembalasan adalah orang yang menerima bala’ tersebut tidak bersabar, malah bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tandanya bala’/musibah sebagai penebus dan penghapus kesalahan-kesalahan adalah kesabaran yang bagus tanpa adanya mengeluh , tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melakukan ketaatan – kataatan. Sedangkan tandanya bala’/ musibah sebagai pengangkat derajat adalah adanya ridho, merasa cocok dan tenangnya jiwa serta tunduk patuh terhadap ketetapan ketetapan Allah hingga hilangnya bala’ tersebut “.

Ujian dan cobaan dalam kehidupan sejatinya bukan untuk mengukur kekuatan dirimu tetapi untuk mengukur kekuatan kepasrahan, tawakkal dan kesungguhanmu memohon pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash beliau berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulallah, siapa manusia yang paling berat cobaannya ?”. Rasulullah menjawab : “Para Nabi, lalu orang-orang shalih, lalu orang-orang yang semisal dengan mereka, lalu yang semisal dengan mereka. Seseungguhnya seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas Dien (agama) nya, semakin kuat ia berpegang teguh dengan Dien nya, semakin berat cobaan dan ujian yang diterimanya. Sedangkan yang Dien nya biasa-biasa saja, maka ia diuji sebatas kualitas(mutu) Dien nya itu. Dan ujian itu akan terus menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di atas bumi tanpa dosa”. (HR Tirmidzi dengan derajat Hasan Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban).

الابتلاء ليس احتبارا عن قوتك الذاتية ولكن احتبار عن قوة استعانتك بالله

عَنْ سعد بن أبي وقاص قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Tuhfatul Ahwadzi :

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻗﺘﻴﺒﺔ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﻋﻦ ﻋﺎﺻﻢ ﺑﻦ ﺑﻬﺪﻟﺔ ﻋﻦ ﻣﺼﻌﺐ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ ﻓﻴﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﺻﻠﺒﺎ ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻼﺅﻩ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺭﻗﺔ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﻤﺎ ﻳﺒﺮﺡ ﺍﻟﺒﻼﺀ ﺑﺎﻟﻌﺒﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﺖﺭﻛﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻄﻴﺌﺔ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﻴﺴﻰ ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﺃﺧﺖ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﻤﺎﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺌﻞ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ

Syarah Hadits :

ﻗﻮﻟﻪ : ) ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ( ﺃﻱ ﺃﻛﺜﺮ ﻭﺃﺻﻌﺐ ) ﺑﻼﺀ ( ﺃﻱ ﻣﺤﻨﺔ ﻭﻣﺼﻴﺒﺔ ) ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ( ﺃﻱ ﻫﻢ ﺃﺷﺪ ﻓﻲ ﺍﻻﺑﺘﻼﺀ ﻷﻧﻬﻢ ﻳﺘﻠﺬﺫﻭﻥ ﺑﺎﻟﺒﻼﺀ ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻠﺬﺫ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺑﺎﻟﻨﻌﻤﺎﺀ ، ﻭﻷﻧﻬﻢ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺒﺘﻠﻮﺍ ﻝﺗﻮﻫﻢ ﻓﻴﻬﻢ ﺍﻷﻟﻮﻫﻴﺔ ، ﻭﻟﻴﺘﻮﻫﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺼﺒﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻠﻴﺔ . ﻭﻷﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺗﻀﺮﻉﺍ ﻭﺍﻟﺘﺠﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ) ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ( ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ : ﺍﻷﻣﺜﻞ ﺃﻓﻌﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺜﺎﻟﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺃﻣﺎﺛﻞ ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻔﻀﻼﺀ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ : ﺃﻱ ﺍﻷﺷﺮﻑ ﻓﺎﻷﺷﺮﻑ ﻭﺍﻷﻋﻠﻰ ﻓﺎﻷﻋﻠﻰ ﺭﺗﺒﺔ ﻭﻣﻨﺰﻟﺔ . ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﻫﻮ ] ﺹ: 67 [ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻼﺅﻩ ﺃﺷﺪ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ” ﺛﻢ ” ﻓﻴﻪ ﻟﻠﺘﺮﺍﺧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺗﺒﺔ ﻭﺍﻟﻔﺎﺀ ﻟﻠﺘﻌﺎﻗﺐ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺘﻮﺍﻟﻲ ﺗﻨﺰﻻ ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺳﻔﻞ ﻭﺍﻟﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻷﻥﺑﻴﺎ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T049. HUKUM BANGKAI LARON (JEDJELENG) DIBAWA SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh..

Diskripsi masalah :
Di musim hujan ini biasanya banyak laron (jedjeleng) yang bertebaran di dalam tempat yang ada lampunya sehingga banyak yang mati di tempat tersebu

Pertanyaannya :

1. Bagaimana hukumnya bangkai laron (jedjeleng) tersebut?

2. Bagaimana hukum sholatnya orang di Tempat yang banyak bangkai laronnya?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sebelumnya patut dipahami terlebih dahulu bahwa najis secara umum terbagi menjadi empat kategori. Pembagian najis ini, secara lugas dijelaskan dalam kitab Hasyiyah asy-Syarqawi berikut ini:

واعلم أن النجاسة أربعة أقسام: قسم لا يعفى عنه مطلقاً وهو معروف، وقسم عكسه وهو ما لا يدركه الطرف، وقسم يعفى عنه في الثوب دون الماء وهو قليل الدم لسهولة صون الماء عنه، ومنه أثر الاستنجاء فيعفى عنه في البدن، والثوب المحاذي لمحله خلافاً لابن حجر، وقسم عفي عنه في الماء دون الثوب وهو الميتة التي لا دم لها سائل حتى لو حملها في الصلاة بطلت

“Ketahuilah bahwa najis terbagi menjadi empat macam. Pertama, najis yang tidak ditoleansi (ma’fu) secara mutlak. Najis ini sudah dapat diketahui secara umum. Kedua, najis yang ditoleransi secara mutlak. Najis ini adalah najis yang tidak dapat dijangkau pandangan mata. Ketiga, najis yang ditoleransi ketika terdapat di badan, tapi tidak ketika terdapat di air. Najis ini misalnya seperti darah yang sedikit, sebab mudahnya menjaga air dari najis tersebut. Dan juga bekas istinja’, maka najis tersebut ditoleransi ketika terdapat di badan dan pakaian yang sejajar dengan tempat keluarnya najis. Namun, Ibnu Hajar berpandangan, najis tersebut tidak ditoleransi. Keempat, najis yang ditoleransi di air, tapi tidak di pakaian. Najis ini berupa bangkai yang tidak terdapat darah yang mengalir (ketika dipotong bagian tubuhnya), sehingga ketika seseorang membawa bangkai ini saat shalat, maka shalatnya menjadi batal” (Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim al-Azhari, Hasyiyah asy-Syarqawi, juz 1, hal. 277)

Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan Berpijak pada referensi di atas, dapat dipahami bahwa bangkai laron serta bangkai hewan serangga yang lain termasuk dalam cakupan najis yang keempat, yakni najis yang ditolerir (dimaafkan) di air, tapi tidak di tolerir (tidak di maafkan) ketika berada di tubuh dan pakaian yang digunakan seseorang. Sehingga ketika seseorang sebelum shalat mengetahui adanya bangkai serangga yang hinggap di pakaian atau tubuhnya, maka wajib baginya untuk menghilangkan bangkai tersebut serta menyucikan pakaian dan tubuhnya yang terkena serangga dengan air, agar dapat kembali dihukumi suci. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka shalat yang dilakukan menjadi tidak sah. Berbeda halnya ketika seseorang tidak mengetahui atau lupa terhadap wujudnya bangkai serangga yang mengenai pakaiannya, lalu pakaian tersebut ia gunakan untuk shalat, setelah shalat selesai, ia baru mengetahui akan keberadaan bangkai serangga yang hinggap di pakaiannya.

Dalam konteks ini, tentang apakah shalat wajib diulang atau tidak, para ulama berbeda pendapat. Perbedaan pendapat ini seperti yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab berikut ini:

(فرع) في مذاهب العلماء فيمن صلى بنجاسة نسيها أو جهلها . ذكرنا أن الأصح في مذهبنا وجوب الإعادة وبه قال أبو قلابة وأحمد وقال جمهور العلماء : لا إعادة عليه , حكاه ابن المنذر عن ابن عمر وابن المسيب وطاوس وعطاء وسالم بن عبد الله ومجاهد والشعبي والنخعي والزهري ويحيى الأنصاري والأوزاعي وإسحاق وأبي ثور قال ابن المنذر وبه أقول , وهو مذهب ربيعة ومالك وهو قوي في الدليل وهو المختار .

“Cabang pembahasan yang menjelaskan beberapa pendapat ulama tentang orang yang shalat dengan membawa najis yang ia lupakan atau tidak diketahuinya. Kami menyebutkan bahwa sesungguhnya qaul ashah (pendapat yang cenderung lebih benar) dalam mazhab kita (mazhab Syafi’i) wajib mengulangi shalatnya. Pendapat demikian diikuti oleh Abu Qalabah dan Imam Ahmad. Mayoritas ulama berpendapat tidak wajib mengulangi shalatnya, pendapat demikian diungkapkan oleh Imam Ibnu Mundzir dari riwayat Sahabat Ibnu ‘Umar, Ibnu al-Musayyab Thawus, Atha’, Salim bin ‘Abdullah, Mujahid, Sya’bi, Nukho’i, Zuhri,Yahya al-Anshari, Auza’I, Ishaq, dan Imam Abi Tsur,. Imam Ibnu Mundzir begitu juga aku (Imam Nawawi) berkata: ”Pendapat tidak wajibnya mengulangi shalat adalah pendapat Imam Malik. Pendapat ini kuat dari segi dalilnya dan merupakan pendapat yang terpilih” (Syarafuddin Yahya an-Nawawi, Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 4, hal. 163)

Kedua pendapat yang ditampilkan dalam referensi di atas sama-sama kuat secara dalil, sehingga dapat dijadikan pijakan serta diamalkan.

Sedangkan ketika bangkai serangga terdapat di bawah sajadah yang digunakan untuk shalat, maka bangkai tersebut tidak mempengaruhi terhadap keabsahan shalat, sebab dalam keadaan demikian seseorang tidak dianggap membawa ataupun bersentuhan dengan najis. Lebih lengkapnya, silahkan simak dalam artikel “Ada najis di Bawah Sajadah, Apakah Shalat Tetap Sah?” Jika ternyata ketentuan hukum di atas, menurut sebagian orang dirasa cukup berat, maka sebagai solusi terakhir, kita dapat berpijak pada pandangan Imam Qaffal yang berpandangan bahwa bangkai serangga dan hewan-hewan lain yang tidak mengalirkan darah dihukumi suci.

Berikut penjelasannya:

وقال القفال إن ميتة ما لا يسيل دمه طاهرة كالقمل والبراغيث والذباب اهـ فيجوز للإنسان أن يقلده في حق نفسه اهـ

“Imam Qaffal berkata: ‘Sesungguhnya bangkai hewan yang tidak mengalirkan darah itu suci, seperti kutu, nyamuk, lalat. Maka boleh bagi seseorang mengikuti pendapat tersebut untuk pengamalan dirinya sendiri” (Ahmad al-Maihi as-Syaibini, Hasyiyah al-Maihi as-Syaibini ala Syarh as-Sittin Mas’alah li a-Ramli, hal. 106)

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan di atas adalah bahwa bangkai laron dan serangga yang lain tidak dihukumi najis yang ma’fu (ditoleransi) secara mutlak, tapi hanya ma’fu ketika mengenai air saja. Sehingga, ketika bangkai tersebut mengenai pakaian ataupun tubuh seseorang, ia harus menyucikannya terlebih dahulu agar shalat yang dilakukan dapat dihukumi sah. Sedangkan ketika bangkai serangga diketahui keberadaannya setelah selesai melakukan shalat, maka dalam menyikapi wajib tidaknya mengulang shalat terdapat dua perbedaan pendapat di antara para ulama.

Perincian hukum di atas, selain berlaku pada bangkai serangga, juga berlaku pada potongan tubuh serangga yang mengenai pakaian atau tubuh seseorang, misalnya seperti sayap, kepala dan bagian tubuh serangga yang lain. Hal ini berdasarkan hadits:

مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ

“Sesuatu yang terpisah dari hewan yang hidup, maka statusnya seperti halnya dalam keadaan (menjadi) bangkai” (HR. Hakim).

Maka sebaiknya bagi kita lebih hati-hati sebelum hendak melaksanakan shalat, alangkah lebih baik jika sebelum shalat kita memperhatikan pakaian dan tubuh kita, apakah sudah bersih dari najis atau masih terselip najis yang menempel pada pakaian dan tubuh kita tanpa kita sadari. Sehingga shalat yang kita lakukan dapat benar-benar suci dari najis serta dapat dilaksanakan secara sempurna.

Wallahu a’lamu Bisshowab..