logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUM JUAL BELI TELUR KROTO ( TELUR KALENG: RED.MADURA)

Assalamu alaikum. Singkat saja. Bagaimana hukum ternak semut rang rang( kroto) (madura=kaleng) dan menjuaal terlurx. Mohon solusix

Waalikum salam.
Memelihara kroto hukumnya boleh dan Ulama sepakat bahwa menjual hasyarat ( serangga) hukumnya tidak boleh dengan catatan serangga tersebut tidak ada manfaat sebagaimana tikus, ular kalajengking, kelelawar, dan semut, dan juga hal yang serupa karena kemanfaatannya (nilainya) tidak sebanding dengan harta . Akan tetapi jika serangga tersebut ada manfaatnya seperti halnya ulat sutra yang dapat menghasilkan kain sutra yang paling termahalnya pakaian dan lebah yang bisa menghasilkan madu maka hukumnya boleh.

Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hambali mengatakan bolehnya menjual lintah, karena orang butuh untuk pengobatan dengan menghisap darah…
Ulama Hambali menegaskan, boleh menjual ulat untuk umpan mancing ikan.
Terdapat kadiah umum yang disampaikan al-Hashkafi tentang jual beli hasyarat (hewan kecil),

Al-Hashkafi – ualam hanafiyah – membuat batasan untuk jual beli hasyarat. Dia menyatakan, “Boleh menjual hasyarat kembali pada adanya unsur manfaat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 17/280 – 281).

Bagaimana dengan Kroto?
Kroto termasuk benda yang fungsi utamanya untuk pakan burung, bukan untuk dikonsumsi. Sementara hukum mengikuti apa yang dominan. Sehingga orang yang budi daya kroto atau melakukan transaksi kroto, bisa kita pastikan tujuannya adalah untuk diberikan ke burung dan bukan untuk dikonsumsi manusia.
Dengan demikian, kroto termasuk benda yang manfaatnya halal.
Karena manfaatnya halal, hukum asalnya boleh diperjual belikan..

Referensi:

الموسوعة الفقهية – 10543/31949

ب – بَيْعُ الْحَشَرَاتِ:
4 – اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى عَدَمِ جَوَازِ بَيْعِ الْحَشَرَاتِ الَّتِي لاَ نَفْعَ فِيهَا، إِذْ يُشْتَرَطُ فِي الْمَبِيعِ أَنْ يَكُونَ مُنْتَفَعًا بِهِ، فَلاَ يَجُوزُ بَيْعُ الْفِئْرَانِ، وَالْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ، وَالْخَنَافِسِ، وَالنَّمْل وَنَحْوِهَا، إِذْ لاَ نَفْعَ فِيهَا يُقَابَل بِالْمَال، أَمَّا إِذَا وُجِدَ مِنَ الْحَشَرَاتِ مَا فِيهِ مَنْفَعَةٌ، فَإِِنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُهُ كَدُودِ الْقَزِّ، حَيْثُ يَخْرُجُ مِنْهُ الْحَرِيرُ الَّذِي هُوَ أَفْخَرُ الْمُلاَبِسِ، وَالنَّحْل حَيْثُ يُنْتِجُ الْعَسَل.
وَقَدْ نَصَّ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ عَلَى جَوَازِ بَيْعِ دُودِ الْعَلَقِ، لِحَاجَةِ النَّاسِ إِلَيْهِ لِلتَّدَاوِي بِمَصِّهِ الدَّمَ، وَزَادَ ابْنُ عَابِدِينَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ دُودَ الْقِرْمِزِ (1) . قَال: وَهُوَ أَوْلَى مِنْ دُودِ الْقَزِّ وَبَيْضِهِ فَإِِنَّهُ يُنْتَفَعُ بِهِ فِي الْحَال، وَدُودِ الْقَزِّ فِي الْمَآل.
كَمَا نَصَّ الشَّافِعِيَّةُ عَلَى جَوَازِ بَيْعِ الْيَرْبُوعِ وَالضَّبِّ وَنَحْوِهِ مِمَّا يُؤْكَل، وَقَال الْحَنَابِلَةُ: بِجَوَازِ بَيْعِ الدِّيدَانِ لِصَيْدِ السَّمَكِ.
وَقَدْ عَدَّى الْحَنَفِيَّةُ الْحُكْمَ إِِلَى هَوَامِّ الْبَحْرِأَيْضًا، كَالسَّرَطَانِ وَنَحْوِهِ، فَلاَ يَجُوزُ بَيْعُهَا عِنْدَهُمْ.
وَمَحَل عَدَمِ الْجَوَازِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ فِيمَا لاَ يُؤْكَل مِنْهَا، وَأَمَّا مَا يُؤْكَل مِنْهَا فَإِِنَّهُ يَجُوزُ بَيْعُهُ مُطْلَقًا حَتَّى لَوْ لَمْ يُعْتَدْ أَكْلُهُ كَبَنَاتِ عِرْسٍ.
وَقَدْ وَضَعَ الْحَصْكَفِيُّ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ ضَابِطًا لِبَيْعِ الْحَشَرَاتِ، فَقَال: إِنَّ جَوَازَ الْبَيْعِ يَدُورُ مَعَ حِل الاِنْتِفَاعِ
وقد نص الحنفية والشافعية والحنابلة على جواز بيع دود العلق، لحاجة الناس إليه للتداوي بمصه الدم … وقال الحنابلة: بجواز بيع الديدان لصيد السمك.

Referensi Kaidah:

كُلُّ مَا صَحَّ نَفْعُهُ صَحَّ بَيْعُهُ إِلَّا بِدَلِيلٍ


“Semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjual belikan, kecuali jika ada dalil”
Kaidah sekaligus menjadi penjelasan untuk hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

إنَّ اللهَ إذا حرَّمَ شيئاً ، حرَّمَ ثَمَنَهُ

Sesungguhnya ketika Allah mengharamkan sesuatu, Dia haramkan uang hasil penjualannya. (HR. Ibn Abi Syaibah 20754).
An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini berlaku untuk benda yang fungsinya hanya untuk dimakan. Tidak ada fungsi lain, selain untuk dikonsumsi. Dalam Syarh Shahih Muslim, beliau mengatakan,


أما الحديث..عن أبن عباس .. إن الله إذا حرم على قوم أكل شيء حرم عليهم ثمنه فمحمول على ما المقصود منه الأكل بخلاف ما المقصود منه غير ذلك كالعبد والبغل والحمار الأهلي فإن أكلها حرام وبيعها جائز بالاجماع.

Untuk hadis dari Ibn Abbas, bahwa “Allah ketika mengharamkan untuk makan sesuatu, Allah haram hasil penjualannya.” Hadis ini dipahami jika tujuan makanan itu dijual adalah untuk dimakan. Berbeda jika tujuan menjual benda itu bukan untuk dimakan, seperti jual beli budak, bighal, dan himar jinak. Hukum memakan ketiganya adalah haram, sementara menjualnya boleh dengan sepakat ulama. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 11/3).
Prinsip lain yang ditekankan ulama adalah barang yang nilai manfaatnya sangat tidak sebanding dengan harga jual, maka tidak boleh diperjual belikan.

“Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 1989), Jilid IV, 181-182.

وَلَمْ يَشْتَرِط الختَفِيَّةُ هَذَا الشَّرْطَ فَأَجَازُوا بَيْعَ النَّجَاسَاتِ كَشَعْرِ الْخِنْزِيرِ وَجِلْدِ الْمَيْتَةِ لِلانْتِفَاعِ بِهَا إِلَّا مَا وَرَدَ النَّهيُ عَنْ بَيْعِهِ مِنْهَا كَالْخَمْرِ وَالْخِنْزِيرِ وَالْمَيْتَةِ وَالدَّمِ كَمَا أَجَارُوْا بَيْعَ الحَيَوَانَاتِ الْمُتَوَحَشَةِ وَالْمُتَنَجِّس الَّذِي يُمْكِنُ الانْتِفَاعُ بِهِ فِي الْأَءكْلِ ، وَالضَّابِط عِنْدَهُمْ أَنَّ كُلَّ مَا فِيْهِ مَنْفَعَة تَحِلُّ شَرْعًا فَإِنَّ بَيْعَهُ يَجُوزُ لِأَنَّ الْأَءعيَانَ خُلِقَتْ لِمَنْفَعَةِ الْإِنْسَانِ

Dan ulama Hanafiyah tidak mensyaratkan syarat ini (barang yang dijualbelikan harus suci, bukan najis dan terkena najis). Maka mereka memperbolehkan jualbeli barang-barang najis, seperti bulu babi dan kulit bangkai karena bisa dimanfaatkan. Kecuali barang yang terdapat larangan memperjual-belikannya, seperti minuman keras, (daging) babi, bangkai dan darah, sebagaimana mereka juga memperbolehkan jualbeli binatang buas dan najis yang bisa dimanfaatkan untuk dimakan. Dan parameternya(ukurannya) menurut mereka (ulama Hanafiyah) adalah, semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.’, maka boleh menjual- belikannya. Sebab, semua makhluk yang ada itu memang diciptakan untuk kemanfaatan manusia.
……………………………….

Diatas dijelaskan bahwa menjual hewan melata, serangga tidak boleh seperti ular dan kalajingking namun jika dapat dimanfaatkan hukum menjualnya sah menurut Hanafiyah.

Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah,jilid 1 , halaman 382.

وَكَذلِكَ يَصِحُ بَيْعُ الحَشَرَاتِ وَالْهَوَامِ كَالحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبِ إِذَا كَانَ يُنْتَفَعُ بِهَا. وَالضَّابِط في ذلِكَ أَنَّ كُلَّ مَا فِيْهِ مَنْفَعَةٌ تَحِلُّ شَرْعًا فَإِنَّ بَيْعَهُ يَجُوزُ

Dan begitu pula sah jual beli serangga dan binatang melata, seperti ular dan kelajengking ketika bermanfaat. Dan parameternya (ukurannya) menurut mereka (ulama Hanafiyah) dalam hal itu adalah semua yang mengandung manfaat yang halal menurut syara.’, maka boleh menjualbelikannya. Sebab, semua benda itu diciptakan untuk kemanfaatan manusia.
…………

Referensi Lain:

a. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Juz IV, h. 446.

b. Al-Tajrid li Naf al-‘Abid, Juz II, h. 78
…….

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENISBATKAN NASAB ANAK KEPADA BAPAK ANGKAT

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah:

Sebagaimana yang kita maklumi bahwa anak adalah pemberian Allah, manusia hanya berusaha atau ikhtiyar untuk memperoleh anak melalui perkawinan yang sah, namun tidak sedikit kita jumpai manusia yang dalam menjalani hidup berkeluarga dengan menempuh waktu bertahun-tahun, tapi kenyataannya masih tetap tidak punya anak, nah itulah sebagai bukti bahwa tidak setiap orang yang berkeluarga itu punya keturunan manakala Allah tidak menghendakinnya. Akan tetapi sebaliknya manakala Allah menghendaki kepada seseorang sekali menikah dapat satu tahun dia dianugerahi nikmat anak. Maka salah satu solusi bagi sebagian seseorang yang tidak dikaruniai anak ia terkadang nyangkok: red, artinya mengambil anak orang lain, karena dengan mengambil anak seseorang itu terkadang menjadi wasilah mempunyai anak dengan seidzin Allah, yang menjadi pertanyaan adalah;

Bagaimana hukum nama anak angkat dinisbatkan kepada orang tua angkat.Misalnya Mahmud dan Hamida punya anak perempuan sejak kecil diberikan kepada Hamdi dan Sulaiha.Kemudian anak itu diberi nama Aisyah oleh Hamdi selanjudnya anak tersebut dipanggil Aisyah binti Hamdi ( padahal itu bapak angkat ).

Waalaikum salam

Jawaban.
Kalau sekedar menambah nama orang tua angkat hukumya boleh. Misalkan Aisyah putri angkat Hamdi . Akan tetapi jika sampai menisbatkan anak ke orang tua angkat sebagai orang tua asli sehingga menghilangkan nasab maka hukumnya adalah dosa besar ( haram).
Sebagaimana Islam mengharamkan ayah mengingkari nasabah anaknya tanpa adanya alasan yang benar , ia juga mengharamkan anak menisbatkan dirinya kepada yang bukan nasabnya, atau dipanggil dengan nama yang dinisbatkan kepada selain bapaknya sendiri. Nabi Muhammad menganggap perilaku ini kepada kemungkaran yang menyebabkan kutukan sang pencipta dan seluruh makhluknya.Dari atas mimbar, Ali meriwayatkan berdasarkan dokumen yang didalamnya Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda:


من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين


Barang siapa yang mengkalim ( mengaku ) sebagai ayah selain ayahnya atau menisbatkan diri kepada selain walinya, ia mendapatkan laknat Allah dan para Malaikat dan seluruh ummat manusia.
Dari Sa’ad bin Abi waqqash dari beliau Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam, bahwa beliau bwrsabda;


من ادعى إلى أب غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام


Barang siapa menisbatkan dirinya kepada selain bapaknya padahal ia tahu bahwa ia bukan bapaknya , maka surga diharamkan baginya.

Referensi: Lihat Halal dan haram dalam Islam Ta’lif Syaikh Yusuf Al-Qardhawi

الحلال والحرام في الإسلام ص : ٢١٨

التبني بمعنى التربية والرعاية ذلك هو التبني الذي هو أبطله الإسلام هو الذي يضم فيه الرجل طفلا إلى نفسه يعلم أنه ولد غيره ومع هذا يلحقه بنسبه وأسرته ويثبت له كل أحكام النبوة وأثارها من إباحة إحتلاط وحرمة زواج واستحقاق ميراث، وهناك نوع يظنه الناس تبنيا وليس هو بالتبني الذي حرمه الإسلام وذلك أن يضم الرجل إليه طفلا يتيما أو لقيطا ويجعله كابنه في الحنو عليه والعناية به والتربية له فيحضنه ويطعمه ويكسوه ويعلمه ويعامله كأنه إبنه من صلبه ومع هذا لم ينسبه لنفسه ولم يثبت له أحكام النبوة المذكورة فهذا أمر محمود في دين الله يستحق صاحبه عليه المثوبة في الجنة.


Pengangkatan anak dalam pengertian pendidikan dan pengasuhan adalah pengangkatan anak yang dibatalkan oleh Islam, yaitu pengangkatan anak yang dilakukan oleh seorang laki-laki yang mengetahui bahwa anak tersebut adalah anak orang lain, namun anak tersebut mengikuti garis keturunannya. dan keluarganya, dan membuktikan kepadanya semua ketentuan kenabian dan efeknya, seperti diperbolehkannya pekerjaan ( bercampur baur) dan diharamkannya pernikahan dan hak warisan. Ada jenis yang orang anggap adopsi, tetapi itu bukan adopsi. Yang dilarang oleh Islam, yaitu ketika seorang laki-laki memeluk anak yatim atau anak terlantar dan menjadikannya seperti anaknya sendiri dalam kelembutan, merawatnya, dan mengasuhnya, pahala di surga.

Referensi:

الموسوعة الفقهية – 21865/31949

من انتسب إلى غير أبيه:
12 – إن من الكبائر التي حذر منها الشارع لما يترتب عليها من المفاسد وتغيير ما شرع الله تعالى أن ينتسب المرء إلى غير أبيه، أو يدعي ابنا ليس ابنه وهو يعلم أنه كاذب فيما ادعاه، فعن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا ترغبوا عن آبائكم فمن رغب عن أبيه فهو كفر (1) ، والكفر المذكور في الحديث له تأويلان ذكرهما النووي:
أحدهما: أنه في حق المستحل، والثاني: أنه كفر النعمة والإحسان وحق الله تعالى وحق أبيه، وليس المراد الكفر الذي يخرج عن ملة الإسلام (2) .
وكذلك الحكم لمن ينفي نسب ابنه وهو يعلم كذبه لما روي عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: أيما امرأة أدخلت على قوم من ليس منهم فليست من الله في شيء ولن يدخلها الله جنته، وأيما رجل جحد ولده وهو ينظر إليه احتجب الله منه وفضحه على رءوس الأولين والآخرين يوم القيامة (3) .
وتفصيل ذلك في مصطلح (نسب، استلحاق ف 2) .

فتح الباري بشرح صحيح البخاري المؤلف: أحمد بن علي بن حجر العسقلاني (٧٧٣ – ٨٥٢ هـ) ج ٨ ص ٥١٨
[٤٧٨٢] قَوْلُهُ إِنَّ زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَا كُنَّا نَدْعُوهُ إِلَّا زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ حَتَّى نَزَلَ الْقُرْآنُ ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أقسط عِنْد الله فِي رِوَايَةِ الْقَاسِمِ بْنِ مَعْنٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ مَا كُنَّا نَدْعُو زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ الْكَلْبِيَّ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِلَّا زَيْدَ بْنَ مُحَمَّدٍ أَخْرَجَهُ الْإِسْمَاعِيلِيُّ وَفِي حَدِيثِ عَائِشَةَ الْآتِي فِي النِّكَاحِ فِي قِصَّةِ سَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَكَانَ مَنْ تَبَنَّى رَجُلًا فِي الْجَاهِلِيَّةِ دَعَاهُ النَّاسُ إِلَيْهِ وَوَرِثَ مِيرَاثَهُ حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ

الفتح الرباني لترتيب مسند الإمام أحمد بن حنبل الشيباني ومعه بلوغ الأماني من أسرار الفتح الرباني المؤلف: أحمد بن عبد الرحمن بن محمد البنا الساعاتي (ت ١٣٧٨ هـ) ج ٢٢ ص ٣٥٩

[ما جاء في المقداد بن الأسود الكندي (رضي لله عنه)]-
(باب ما جاء في المقداد بن الأسود الكندي ﵁) (عن بريدة الاسلمي ﵁) قال قال رسول الله ﷺ إن الله ﷿ يحب من أصحابي أربعة، أخبرني أنه يحبهم، وأمرني أن أحبهم، قالوا من هم يا رسول الله: قال إن عليا منهم، وأبو ذر الغفاري، وسلمان الفارسي، والمقداد بن الأسود الكندي


تقليقات
المقداد بن الأسود هو أبو الأسود وقيل أبو عمرو وقيل أبو معبد الصحابي المقداد بن عمرو بن ثعلبة بن مالك بن ربيعه البهراني الكندي، فهو ابن عمرو حقيقة، واشتر بالمقداد بن الأسود لأنه كان في حجر الأسود بن عبد يغوث بن وهب بن عبد مناف بن زهرة بن كلاب بن مرة بن كعب بن لؤي بن غالب الزهري، فتبناه فنسب إليه ، وهو قديم الإسلام والصحبة

Waalaikum A’lam bisshowab


Kategori
Uncategorized

PERSYARATAN ANAK ANGKAT DIAKUI MAHROM

Assalamualaikum.

Keturunan (Anak) adalah anugerah Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, bukti nyata dimasyarakat terkadang ada suami istri hidupnya dalam rumah tangga SAMAWA Namun keduanya bertahun-tahun belum juga punya anak padahal keduanya berusaha (Dukhol) dan keduanya sama-sama sehat kelaminnya dalam artian yang lelaki tidak impoten dan yang perempuan tidak mandul hal itu terbukti melalui tes kedokteran Spesialis, karena keduanya tidak punya anak terpaksa dia ngambil anak angkat ( jenis perempuan ).

Pertanyaanya.

Apa syarat sahnya anak angkat sehingga diakui sebagai mahrom.

Jawaban;

Adapun Syarat anak angkat agar jadi mahrom, adalah dengan menyusui lima susuan tanpa adanya persyaratan tersebut maka tidak sah sebagai mahrom.

Referensi:

كتاب أسنى المطالب في شرح روض الطالب

[زكريا الأنصاري]

الفقه الشافعي

(كِتَابُ الرَّضَاعِ)
بِفَتْحِ الرَّاءِ، وَكَسْرِهَا اسْمٌ لِمَصِّ الثَّدْيِ وَشُرْبِ لَبَنِهِ، وَقَائِلُهُ جَرَى عَلَى الْغَالِبِ الْمُوَافِقِ لِلُّغَةِ، وَإِلَّا فَهُوَ اسْمٌ لِحُصُولِ لَبَنِ امْرَأَةٍ أَوْ مَا حَصَلَ مِنْهُ فِي جَوْفِ طِفْلٍ كَمَا سَيَأْتِي تَحْقِيقُهُ وَالْأَصْلُ فِي تَحْرِيمِهِ قَبْلَ الْإِجْمَاعِ قَوْله تَعَالَى {وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ} [النساء: ٢٣] وَخَبَرُ الصَّحِيحَيْنِ «يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ» وَجُعِلَ سَبَبًا لِلتَّحْرِيمِ؛ لِأَنَّ جُزْءَ الْمُرْضِعَةِ، وَهُوَ اللَّبَنُ صَارَ جُزْءًا لِلرَّضِيعِ بِاغْتِذَائِهِ بِهِ فَأَشْبَهَ مَنِيَّهَا وَحَيْضَهَا فِي النَّسَبِ (وَتَأْثِيرُهُ تَحْرِيمُ النِّكَاحِ) ابْتِدَاءً وَدَوَامًا (وَجَوَازُ النَّظَرِ وَالْخَلْوَةِ) وَعَدَمُ نَقْضِ الطَّهَارَةِ بِاللَّمْسِ، وَإِيجَابُ الْغُرْمِ وَسُقُوطُ الْمَهْرِ كَمَا سَيَأْتِي (فَقَطْ) أَيْ دُونَ سَائِرِ أَحْكَامِ النَّسَبِ كَالْمِيرَاثِ وَالنَّفَقَةِ وَالْعِتْقِ بِالْمِلْكِ وَسُقُوطُ الْقِصَاصِ وَرَدُّ الشَّهَادَةِ (وَفِيهِ أَبْوَابٌ) أَرْبَعَةٌ (الْأَوَّلُ فِي أَرْكَانِهِ، وَهِيَ ثَلَاثَةٌ الْأَوَّلُ الْمُرْضِعُ فَيُشْتَرَطُ كَوْنُهَا امْرَأَةً حَيَّةً بَلَغَتْ سِنَّ الْحَيْضِ، وَإِنْ لَمْ تَلِدْ) وَلَمْ يُحْكَمْ بِبُلُوغِهَا سَوَاءٌ أَكَانَتْ مُزَوَّجَةً أَمْ بِكْرًا أَمْ غَيْرَهُمَا (فَلَا تَحْرِيمَ


الموسوعة الفقهية – 13629/31949

ثانيا: الأحكام التي تترتب على الرضاع:
7 – يترتب على الرضاع بعض أحكام النسب:
أ – تحريم النكاح سواء حصل الرضاع في زمن إسلام المرأة أو كفرها؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: يحرم من الرضاعة ما يحرم من النسب (1) . وسيأتي تفصيل ذلك.
ب – ثبوت المحرمية المفيدة لجواز النظر، والخلوة، وعدم نقض الطهارة باللمس عند من يرى ذلك من الفقهاء.
أما سائر أحكام النسب كالميراث، والنفقة، والعتق بالملك، وسقوط القصاص، وعدم القطع في سرقة المال، وعدم الحبس لدين الولد، والولاية على المال أو النفس فلا تثبت بالرضاع، وهذا محل اتفاق بين الفقهاء (2) .

الرضاع المحرم، ودليل التحريم:
–  للرضاع المحرم ثلاثة أركان:
1 – المرضع
2 – الرضيع
3 – اللبن.

الموسوعة الفقهية – 13630/31949

أولا: المرضع:
9 – يشترط في المرضع التي ينتشر بلبنها التحريم:
1 – أن تكون امرأة، فلا يثبت التحريم بلبن الرجل لندرته وعدم صلاحيته غذاء للطفل، ولا بلبن البهيمة، فلو ارتضع طفلان من بهيمة لم يصيرا أخوين؛ لأن تحريم الأخوة فرع على تحريم الأمومة، ولا يثبت تحريم الأمومة بهذا الرضاع فالأخوة أولى (1) .
2 – اشترط الحنفية والشافعية أن تكون محتملة للولادة بأن تبلغ سن الحيض وهو تسع سنين، فلو ظهر لبن الصغيرة دون تسع سنين فلا يحرم، بخلاف من بلغت هذه السن؛ لأنه وإن لم يتيقن بلوغها بالحيض فاحتمال البلوغ قائم، والرضاع تلو النسب فاكتفي فيه بالاحتمال، ولا يشترط المالكية ذلك فيحرم عندهم لبن الصغيرة التي لا تحتمل القاضي أن التحريم يثبت به أيضا لأن أجزاء اللبن حصلت في بطنه فأشبه ما لو كان لونه ظاهرا (1) .
13 – كما اختلفوا في ثبوت التحريم باللبن المخلوط بطعام والمتغيرة هيئته بأن يصير جبنا أو مخيضا، أو إقطا.
فذهب الجمهور إلى أن التحريم يثبت به لوصول عين اللبن إلى جوف الطفل، وحصول التغذية به. وقال الحنفية: لا تأثير للبن المخلوط بطعام ولا المتغير هيئته، ولا ما مسته النار لأن اسم الرضاع لا يقع عليه (2) .

اشتراط تعدد الرضعات:
14 – لا خلاف بين الفقهاء في أن خمس رضعات فصاعدا يحرمن. واختلفوا فيما دونها.
فذهب الجمهور (الحنفية والمالكية وأحمد في رواية عنه) وكثير من الصحابة والتابعين إلى أن قليل الرضاع وكثيره يحرم وإن كان مصة واحدة، فالشرط في التحريم أن يصل اللبن إلى جوف الطفل مهما كان قدره. واحتجوا بقوله تعالى: {وأمهاتكم اللاتي أرضعنكم (3) } .
وقالوا: إن الله سبحانه وتعالى علق التحريم .

وورد الحديث موافقا للآية: يحرم من الرضاعة ما يحرم من النسب (1) حيث أطلق الرضاع ولم يذكر عددا، ولحديث كيف بها وقد زعمت أنها قد أرضعتكما (2) ولم يستفصل عن عدد الرضعات (3) .
وذهب الشافعية والحنابلة في القول الصحيح عندهم إلى أن ما دون خمس رضعات لا يؤثر في التحريم. وروي هذا عن عائشة، وابن مسعود وابن الزبير رضي الله عنهم وبه قال عطاء وطاوس، واستدلوا بما ورد عن عائشة، قالت: كان فيما أنزل من القرآن (عشر رضعات معلومات يحرمن) ثم نسخن بخمس معلومات فتوفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وهن فيما يقرأ من القرآن (4) .
والمعنى والله أعلم: أن نسخ تلاوة ذلك تأخر جدا حتى إنه توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وبعض الناس لم يبلغه نسخ تلاوته، فلما بلغهم نسخ تلاوته تركوه وأجمعوا على أنه لا يتلى مع بقاء حكمه،(1) ثم تعود إلى الإرضاع، فكل ذلك رضعة واحدة (1) .

ثالثا: الرضيع:
أ – أن يصل اللبن إلى المعدة:
16 – يشترط أن يصل اللبن إلى المعدة بارتضاع أو إيجار أو إسعاط وإن كان الطفل نائما؛ لأن المؤثر في التحريم هو حصول الغذاء باللبن وإنبات اللحم وإنشاز العظم وسد المجاعة لتتحقق الجزئية، ولا يحصل ذلك إلا بما وصل إلى المعدة.
أما الإقطار في الأذن أو الإحليل، أو الحقنة في الدبر فلا يثبت به التحريم (2) .

ب – ألا يبلغ الرضيع حولين:
17 – لا خلاف بين الفقهاء في أن ارتضاع الطفل وهو دون الحولين يؤثر في التحريم.
فقال الشافعية والحنابلة وأبو يوسف ومحمد وهو الأصح المفتى به عند الحنفية: إن مدة الرضاع المؤثر في التحريم حولان، فلا يحرم بعد حولين. واستدلوا بقوله تعالى {والوالدات
يرضعن أولادهن حولين كاملين لمن أراد أن يتم الرضاعة (1) } ، وقالوا: جعل الله الحولين الكاملين تمام الرضاعة، وليس وراء تمام الرضاعة شيء. وقال عز من قائل: {وفصاله في عامين (2) } وقال: {وحمله وفصاله ثلاثون شهرا (3) } وأقل الحمل ستة أشهر فتبقى مدة الفصال حولين؛ ولحديث: لا رضاع إلا ما كان في الحولين (4) . ولحديث أم سلمة مرفوعا لا يحرم من الرضاعة إلا ما فتق الأمعاء في الثدي وكان قبل الفطام (5) .
قال ابن تيمية: وقد ذهب طائفة من السلف والخلف إلى أن إرضاع الكبير يحرم “. واحتجوا بما في صحيح مسلم وغيره عن زينب بنت أم سلمة أن أم سلمة قالت لعائشة: إنه يدخل عليك الغلام الأيفع الذي ما أحب أن يدخل علي. فقالت عائشة: أما لك في رسول الله أسوة حسنة؟ . قالت: إن امرأة أبي حذيفة قالت يا رسول الله: إن سالما يدخل عليوهو رجل، وفي نفس أبي حذيفة منه شيء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أرضعيه حتى يدخل عليك وفي رواية لمالك في الموطأ قال: أرضعيه خمس رضعات (1) فكان بمنزلة ولده من الرضاعة.
وهذا الحديث أخذت به عائشة، وأبى غيرها من أزواج النبي صلى الله عليه وسلم أن يأخذن به، مع أن عائشة روت عنه قال: الرضاعة من المجاعة (2) لكنها رأت الفرق بين أن يقصد رضاعة أو تغذية. فمتى كان المقصود الثاني لم يحرم إلا ما كان قبل الفطام،وهذا هو إرضاع عامة الناس. وأما الأول فيجوز إن احتيج إلى جعله ذا محرم.
وقد يجوز للحاجة ما لا يجوز لغيرها، وهذا قول متوجه.
وقال: رضاع الكبير تنتشر به الحرمة في حق الدخول والخلوة إذا كان قد تربى في البيت بحيث لا يحتشمون منه للحاجة، وهو مذهب عائشة وعطاء والليث (3) .

فتح الوهاب – (ج 2 / ص 195)
(ولو حلب منها) لبن (دفعة وأوجره خمسا) أي في خمس مرات (أو عكسه) أي حلب منها في خمس مرات وأوجره دفعة (فرضعة) نظرا إلى انفصاله في المسألة الاولى، وإيجاره في الثانية بخلاف ما لو حلب من خمس نسوة في طرف وأوجره ولو دفعة فإنه يحسب من كل واحدة رضعة

حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 13 / ص 415)

( وَلَوْ خُلِطَ بِمَائِعٍ حُرِّمَ إنْ غَلَبَ ) بِفَتْحِ الْغَيْنِ عَلَى الْمَائِعِ ، ( فَإِنْ غُلِبَ ) بِضَمِّ الْغَيْنِ بِأَنْ زَالَتْ أَوْصَافُهُ الطَّعْمُ وَاللَّوْنُ وَالرِّيحُ ، ( وَشَرِبَ الْكُلَّ قِيلَ أَوْ الْبَعْضَ حَرُمَ فِي الْأَظْهَرِ ) لِوُصُولِ اللَّبَنِ إلَى الْجَوْفِ وَالثَّانِي لَا يُحَرِّمُ لِأَنَّ الْمَغْلُوبَ الْمُسْتَهْلَكَ كَالْمَعْدُومِ وَالْأَصَحُّ أَنَّ شُرْبَ الْبَعْضِ لَا يُحَرِّمُ لِانْتِفَاءِ تَحَقُّقِ وُصُولِ اللَّبَنِ مِنْهُ إلَى الْجَوْفِ .

فَإِنْ تَحَقَّقَ كَأَنْ بَقِيَ مِنْ الْمَخْلُوطِ أَقَلُّ مِنْ قَدْرِ اللَّبَنِ حَرَّمَ جَزْمًا عَلَى الْأَظْهَر كِتَابُ الرَّضَاعِ بِفَتْحِ الرَّاءِ أَفْصَحُ مِنْ كَسْرِهَا ، وَيَجُوزُ إلْحَاقُهُ تَاءَ تَأْنِيثٍ فَيُقَالُ الرَّضَاعَةُ .

وَيَجُوزُ إبْدَالُ ضَادِهِ بِمُثَنَّاةٍ فَوْقِيَّةٍ أَيْضًا ، وَهُوَ لُغَةً اسْمٌ لِمَصِّ الثَّدْيِ وَشُرْبِ لَبَنِهِ ، وَشَرْعًا حُصُولُ لَبَنِ امْرَأَةٍ أَوْ مَا حَصَلَ مِنْهُ فِي مَعِدَةِ طِفْلٍ أَوْ دِمَاغِهِ فَأَرْكَانُهُ ثَلَاثَةٌ : رَضِيعٌ وَلَبَنٌ وَمُرْضِعٌ ، وَلَهُ شُرُوطٌ تَأْتِي قَالَ بَعْضُهُمْ : وَعُلِمَ مِمَّا ذُكِرَ أَنَّ الْمَعْنَى اللُّغَوِيَّ أَخَصُّ مِنْ الشَّرْعِيِّ عَلَى خِلَافِ الْغَالِبِ فِيهِمَا فَلْيُرَاجَعْ

نهاية الزين (ص: 303)

( فرع ) لا يثبت التحريم بالرضاع إلا بكون اللبن لآدمية بلغت تسعا من السنين الهلالية تقريبا وبوصول اللبن أو وصول ما حصل منه للجوف من معدة أو دماغ بواسطة منفتح غير الفرج وبكون الرضيع لم يبلغ حولين تحديدا بالأهلة في ابتداء الخامسة يقينا وبكون الرضاع أو الحلاب في حياتها حياة مستقرة وبكونه خمس رضعات يقينا عرفا ولو كانت الرضعات الخمس غير مشبعات والرضيع إن قطع الرضاع إعراضا عن الثدي أو قطعته عليه المرضعة كذلك تعدد مطلقا أو قطعته لشغل أو قطعه هو للهو أو تنفس أو نوم أو تحول من ثدي إلى آخر فإن طال الزمن تعدد وإلا فلا ويثبت الرضاع برجلين وبرجل وامرأتين وبأربع نسوة ويثبت الإقرار به بشهادة رجلين وتقبل شهادة مرضعة لم يسبق لها طلب أجرة مع ثلاث نسوة غيرها أو مع رجل وامرأة.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

WAKIL WALI NIKAH TIDAK MENYEBUTKAN IDENTITAS CANTIN WANITA KETIKA AKAD

Assalamualaikum.

Deskripsi Masalah:
Indonesia adalah negara yang kaya dengan keberagaman suku dan budaya. Setiap suku dan daerah memiliki adat istiadat yang berbeda, termasuk dalam cara berkomunikasi dan kebiasaan lainnya. Salah satu fenomena yang terjadi di masyarakat adalah perubahan identitas, khususnya dalam akad nikah, di mana nama calon pengantin dan nama orang tuanya diubah karena dianggap memiliki makna kurang baik menurut keyakinan tertentu setelah dilakukan perhitungan tertentu (dirubu’).

Studi Kasus:
Seorang perempuan bernama Lilik Surya Ningsih mengalami perubahan identitas saat akad nikah, baik nama dirinya maupun nama orang tuanya. Dalam proses akad, wali nikah tidak menyebutkan nama yang telah diubah, melainkan hanya memberikan isyarah saat akad dengan ungkapan, “Saya nikahkan kamu dengan perempuan ini.”

Pertanyaan:
Apakah akad nikah tersebut sah mengingat identitas calon pengantin perempuan telah diubah, namun wali nikah hanya memberikan isyarah tanpa menyebutkan nama yang telah diubah dalam akad?

Jawaban:

Wa’alaikumussalaam Warahmatullah Wabarakaatuh.

Hukumnya sah, mengubah nama sewaktu menikah, walau nama yang dirubah tidak disebutkan oleh wali , sedangkan wali menentukan/ isyaroh atau diniati bahwa kamu saya nikahkan dengan wanita ini.

بغية المسترشدين  ص  ٢٠٠
(مسألة: ش): غيرت اسمها ونسبها عند استئذانها في النكاح فزوّجها القاضي بذلك الاسم، ثم ظهر أن اسمها ونسبها غير ما ذكرته، فإن أشار إليها حال العقد بأن قال: زوّجتك هذه أو نوياها به صح النكاح سواء كان تغيير الاسم عمداً أو سهواً منه أو منها، إذ المدار على قصد الولي ولو قاضياً والزوج كما لو قال: زوّجتك هنداً ونويا دعداً عملا بنيتهما

Masalah :Ada seorang wanita dirubah namanya dan nasabnya dengan seizin wanita tersebut ketika menikah, lalu qodhi(hakim) menikahkan dia dengan nama itu, kemudian ketahuan bahwa nama dan nasabnya lain.
Jawab : Jika qodhi(hakim)memberi isyarah (dengan menunjuk, dsb) ketika aqad nikah, seperti : “Aku nikahkan kamu dengan wanita ini” , atau jika calon suami dan qodhi (hakim)melaksanakan akad nikah dengan diniati kepada wanita tersebut maka sah nikahnya, baik itu dengan sengaja ataupun tidak dalam merubah nama. Karena yang dihitung mempengaruhi sah ataupun tidaknya nikah adalah maksud dari zauj(calon mempelai laki-laki) dan wali (walaupun itu qodhi/hakim), seperti halnya seorang wali / qodhi(hakim) berkata : “Aku nikahkan kamu dengan Hindun” namun wali berniat Da’dun maka yang sah adalah pernikahannya dengan Da’dun karena sesuai dengan niatnya wali dan zauj. [Bughyatul Mustarsyidin halaman 200]. Wallaahu A’lam.

اعانة الطالبين ج ٣ ص ٢٨٠ – ٢٨١
قوله: وتعيين) بالرفع عطف على خلو، أي وشرط تعيين للزوجة بما يذكره حاصل من وليها (قوله: فزوجتك إحدى بناتي باطل) أي ما لم ينويا معينة، وإلا فلا يبطل، لما تقدم أن الكناية في المعقود عليه تصح (قوله: ولو مع الاشارة) أي للبنات اللاتي المزوجة إحداهن، بأن قال زوجتك إحدى بناتي هؤلاء أو إحدى هؤلاء البنات فإنه باطل للجهل يعين المزوجة، لا للمزوجة التي هي إحدى البنات، وإلا لنافى قوله بعد ويكفي التعيين بوصف أو إشارة. تأمل (قوله: ويكفي التعيين بوصف) ليس المراد به الوصف الاصطلاحي، وهو ما دل على معنى وذات: كقائم وضارب، بل المراد به المعنى القائم بغيره، سواء دل على ذات قائم بها ذلك المعنى أم لا، فهو أعم من الاصطلاحي (قوله: كزوجتك بنتي) تمثيل للتعيين بالوصف، ومثله الذي بعده (قوله: وليس له غيرها) قيد لا بد منه، فلو كان له بنت غيرها لا يكون قوله بنتي تعيينا فيكون باطلا (قوله: أو التي في الدار) أي أو قال زوجتك التي في الدار. وقوله وليس فيه، أي في الدار غيرها أي غير بنته، وهو قيد أيضا. فلو كان في الدار بنت أخرى غير بنته وقال زوجتك التي في الدار لا يكون تعيينا فيكون باطلا للابهام (قوله: أو هذه) أي أو قال زوجتك هذه وهي حاضرة (قوله: وإن سماها) أي المعينة بما ذكر، وهو غاية للاكتفاء بالتعيين بما ذكر: أي يكفي التعيين بما ذكر وإن سماها بغير اسمها، كأن قال زوجتك بنتي مريم والحال أن اسمها خديجة، أو قال زوجتك عائشة التي في الدار والحال أن اسمها فاطمة، أو قال زوجتك فاطمة هذه والحال أن اسمها زينب مثلا.

وإنما اكتفى بالتعيين بما ذكر مع تغيير الاسم لان كلا من البنتية والكينونة في الدار في المثالين الاولين وصف مميز، فاعتبر ولغا الاسم، ولان العبرة بالاشارة في الثالث، لا بالاسم، فكان كالعدم (قوله: بخلاف زوجتك فاطمة) أي بخلاف التعيين بالاسم فقط: كزوجتك فاطمة من غير أن تقول بنتي، فلا يكفي لكثرة الفواطم، وإن كان هذا الاسم هو اسمها في الواقع. وقوله إلا إن نوياها، أي نوى العاقدان بفاطمة بنته فيكفي عملا بما نوياه.

I‘ânatuth Thâlibîn jilid 3, halaman 280-281:

(Kata beliau: “dan harus ada penentuan”)Kata ini dalam bentuk rafa‘ (diangkat) sebagai ‘athaf (penghubung) dari kata khuluw (tidak ada sesuatu), yaitu bahwa di antara syarat sahnya akad nikah adalah adanya penentuan istri yang dilakukan oleh wali dengan sesuatu yang disebutkan.(Kata beliau: “Maka jika seseorang berkata, ‘Aku menikahkanmu dengan salah satu dari anak perempuanku’, maka hukumnya batal”)Maksudnya, jika ia tidak menentukan anak perempuan yang dimaksud, maka akadnya batal. Namun, jika keduanya (wali dan suami) telah meniatkan perempuan tertentu, maka tidak batal. Sebab, telah dijelaskan sebelumnya bahwa kiasan dalam objek akad itu sah.(Kata beliau: “Meskipun disertai dengan isyarat”)Yakni terhadap anak-anak perempuan yang salah satunya dinikahkan, misalnya ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan salah satu dari anak-anak perempuanku ini” atau “salah satu dari anak-anak perempuan ini”. Maka akadnya tetap batal karena tidak ada penentuan siapa yang dinikahkan. Namun, bukan batal karena objek akadnya adalah “salah satu dari anak-anak perempuan”, sebab hal itu akan bertentangan dengan pernyataan beliau setelahnya: “Cukup dengan penentuan melalui sifat atau isyarat.” Pahami ini dengan baik.(Kata beliau: “Dan cukup dengan penentuan melalui sifat”)Yang dimaksud dengan “sifat” di sini bukanlah sifat dalam istilah ushul fiqh, yaitu sesuatu yang menunjukkan makna sekaligus zat, seperti kata “berdiri” atau “memukul”. Akan tetapi, yang dimaksud di sini adalah makna yang melekat pada sesuatu yang lain, baik menunjukkan zat yang memiliki makna tersebut atau tidak. Jadi, sifat di sini lebih umum dari definisi sifat dalam ilmu ushul fiqh.(Kata beliau: “Seperti perkataan ‘Aku menikahkanmu dengan anak perempuanku'”)Ini adalah contoh dari penentuan melalui sifat. Contoh lainnya adalah yang disebutkan setelahnya.(Kata beliau: “Dan ia tidak memiliki anak perempuan selainnya”)Ini adalah syarat yang harus ada. Jika ia memiliki anak perempuan lain, maka perkataan “anakku” tidak bisa menjadi bentuk penentuan, sehingga akad menjadi batal.(Kata beliau: “Atau yang berada di rumah”)Maksudnya, jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan yang berada di rumah.”(Kata beliau: “Dan tidak ada selainnya di dalamnya”)Maksudnya, tidak ada perempuan lain di rumah selain anak perempuannya. Ini juga merupakan syarat. Jika di dalam rumah terdapat anak perempuan lain selain anaknya, lalu ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan yang berada di rumah,” maka itu tidak bisa menjadi penentuan dan akadnya batal karena tidak jelasnya siapa yang dimaksud.(Kata beliau: “Atau ‘yang ini'”)Yakni jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan yang ini,” sementara ia hadir di hadapannya.(Kata beliau: “Meskipun ia menyebutkan namanya”)Yakni meskipun ia menyebutkan nama yang berbeda dari nama sebenarnya. Ini menunjukkan bahwa penentuan dengan cara-cara di atas tetap sah meskipun nama yang disebutkan berbeda dari nama aslinya. Misalnya, jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan anak perempuanku Maryam,” padahal namanya Khadijah. Atau ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan Aisyah yang berada di rumah,” padahal namanya Fatimah. Atau ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan Fatimah ini,” padahal namanya Zainab, misalnya.(Kata beliau: “Dan tetap sah meskipun terjadi perubahan nama”)Sebab, dalam dua contoh pertama, baik status sebagai “anak perempuan” maupun “keberadaannya di rumah” adalah sifat yang membedakan, sehingga nama dianggap tidak berpengaruh. Sedangkan dalam contoh ketiga, yang menjadi acuan adalah isyarat (menunjuk langsung), bukan nama, sehingga kesalahan penyebutan nama tidak berpengaruh.(Kata beliau: “Berbeda halnya dengan perkataan ‘Aku menikahkanmu dengan Fatimah'”)Yakni berbeda dengan penentuan yang hanya berdasarkan nama saja, seperti jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan Fatimah,” tanpa menyebut “anakku”. Ini tidak cukup karena banyaknya orang bernama Fatimah, meskipun perempuan yang dimaksud memang bernama Fatimah dalam kenyataannya.(Kata beliau: “Kecuali jika keduanya meniatkannya”)Yakni jika kedua pihak (wali dan suami) meniatkan bahwa yang dimaksud dengan “Fatimah” adalah anak perempuannya, maka itu cukup. Dalam hal ini, niat keduanya menjadi acuan.

Berikut terjemahan teks dari I‘ânatuth Thâlibîn jilid 3, halaman 280-281:

(Kata beliau: “dan harus ada penentuan”)
Kata ini dalam bentuk rafa‘ (diangkat) sebagai ‘athaf (penghubung) dari kata khuluw (tidak ada sesuatu), yaitu bahwa di antara syarat sahnya akad nikah adalah adanya penentuan istri yang dilakukan oleh wali dengan sesuatu yang disebutkan.

(Kata beliau: “Maka jika seseorang berkata, ‘Aku menikahkanmu dengan salah satu dari anak perempuanku’, maka hukumnya batal”)
Maksudnya, jika ia tidak menentukan anak perempuan yang dimaksud, maka akadnya batal. Namun, jika keduanya (wali dan suami) telah meniatkan perempuan tertentu, maka tidak batal. Sebab, telah dijelaskan sebelumnya bahwa kiasan dalam objek akad itu sah.

(Kata beliau: “Meskipun disertai dengan isyarat”)
Yakni terhadap anak-anak perempuan yang salah satunya dinikahkan, misalnya ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan salah satu dari anak-anak perempuanku ini” atau “salah satu dari anak-anak perempuan ini”. Maka akadnya tetap batal karena tidak ada penentuan siapa yang dinikahkan. Namun, bukan batal karena objek akadnya adalah “salah satu dari anak-anak perempuan”, sebab hal itu akan bertentangan dengan pernyataan beliau setelahnya: “Cukup dengan penentuan melalui sifat atau isyarat.” Pahami ini dengan baik.

(Kata beliau: “Dan cukup dengan penentuan melalui sifat”)
Yang dimaksud dengan “sifat” di sini bukanlah sifat dalam istilah ushul fiqh, yaitu sesuatu yang menunjukkan makna sekaligus zat, seperti kata “berdiri” atau “memukul”. Akan tetapi, yang dimaksud di sini adalah makna yang melekat pada sesuatu yang lain, baik menunjukkan zat yang memiliki makna tersebut atau tidak. Jadi, sifat di sini lebih umum dari definisi sifat dalam ilmu ushul fiqh.

(Kata beliau: “Seperti perkataan ‘Aku menikahkanmu dengan anak perempuanku'”)
Ini adalah contoh dari penentuan melalui sifat. Contoh lainnya adalah yang disebutkan setelahnya.

(Kata beliau: “Dan ia tidak memiliki anak perempuan selainnya”)
Ini adalah syarat yang harus ada. Jika ia memiliki anak perempuan lain, maka perkataan “anakku” tidak bisa menjadi bentuk penentuan, sehingga akad menjadi batal.

(Kata beliau: “Atau yang berada di rumah”)
Maksudnya, jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan yang berada di rumah.”

(Kata beliau: “Dan tidak ada selainnya di dalamnya”)
Maksudnya, tidak ada perempuan lain di rumah selain anak perempuannya. Ini juga merupakan syarat. Jika di dalam rumah terdapat anak perempuan lain selain anaknya, lalu ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan yang berada di rumah,” maka itu tidak bisa menjadi penentuan dan akadnya batal karena tidak jelasnya siapa yang dimaksud.

(Kata beliau: “Atau ‘yang ini'”)
Yakni jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan yang ini,” sementara ia hadir di hadapannya.

(Kata beliau: “Meskipun ia menyebutkan namanya”)
Yakni meskipun ia menyebutkan nama yang berbeda dari nama sebenarnya. Ini menunjukkan bahwa penentuan dengan cara-cara di atas tetap sah meskipun nama yang disebutkan berbeda dari nama aslinya. Misalnya, jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan anak perempuanku Maryam,” padahal namanya Khadijah. Atau ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan Aisyah yang berada di rumah,” padahal namanya Fatimah. Atau ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan Fatimah ini,” padahal namanya Zainab, misalnya.

(Kata beliau: “Dan tetap sah meskipun terjadi perubahan nama”)
Sebab, dalam dua contoh pertama, baik status sebagai “anak perempuan” maupun “keberadaannya di rumah” adalah sifat yang membedakan, sehingga nama dianggap tidak berpengaruh. Sedangkan dalam contoh ketiga, yang menjadi acuan adalah isyarat (menunjuk langsung), bukan nama, sehingga kesalahan penyebutan nama tidak berpengaruh.

(Kata beliau: “Berbeda halnya dengan perkataan ‘Aku menikahkanmu dengan Fatimah'”)
Yakni berbeda dengan penentuan yang hanya berdasarkan nama saja, seperti jika ia berkata, “Aku menikahkanmu dengan Fatimah,” tanpa menyebut “anakku”. Ini tidak cukup karena banyaknya orang bernama Fatimah, meskipun perempuan yang dimaksud memang bernama Fatimah dalam kenyataannya.

(Kata beliau: “Kecuali jika keduanya meniatkannya”)
Yakni jika kedua pihak (wali dan suami) meniatkan bahwa yang dimaksud dengan “Fatimah” adalah anak perempuannya, maka itu cukup. Dalam hal ini, niat keduanya menjadi acuan.

Kategori
Uncategorized

HUKUM BARANG TEMUAN ( ANAK AYAM MENGHILANG NYASAR KERUMAH ORANG)

Ada seekor anak ayam (petek) nyasar ke rumah saya dan tidak balik2 sampai sekarang dalam rentan waktu yang lama berbulan / bertahun tahun (sampai besar).

Pertanyaannya;

Bagaimana status anak ayam tersebut apakah boleh disembelih atau diambil telurnya jika harus dikembalilan mau di kembalikan kemana?

Jawaban:

(مغني المحتاج)
[فَصْلٌ فِيمَا تُمْلَكُ بِهِ اللُّقَطَةُ]


Jika Ahmad menemukan anak ayam,dan Ahmad sudah mengumumkan barang temuan(anak ayam)itu selama satu tahun,maka Ahmad tidak boleh memiliki anak ayam itu sampai Ahmad itu memilih untuk memiliki anak ayam itu,dengan lafal dari Ahmad, yang mana lafal dari Ahmad itu menunjukkan bahwa Ahmad itu ingin memiliki anak ayam itu.Seperti jika Ahmad berkata:Aku menjadi pemilik anak ayam yang aku temukan ini

.
ُ (إذَا عَرَّفَ) مُلْتَقِطُهَا لِلتَّمَلُّكِ (سَنَةً) عَلَى الْعَادَةِ أَوْ دُونَهَا عَلَى مَا مَرَّ جَازَ لَهُ التَّمَلُّكُ، وَ (لَمْ يَمْلِكْهَا) بِذَلِكَ (حَتَّى يَخْتَارَهُ) أَيْ التَّمَلُّكَ (بِلَفْظٍ) مِنْ نَاطِقٍ يَدُلُّ عَلَى التَّمَلُّكِ (كَتَمَلَّكْت) مَا الْتَقَطْتُهُ؛ لِأَنَّهُ تَمْلِيكُ مَالٍ بِبَدَلٍ فَافْتَقَرَ إلَى ذَلِكَ كَالشَّفِيعِ وَيَمْلِكُهُ بِذَلِكَ، وَلَوْ لَمْ يَتَصَرَّفْ فِيهِ كَالْقَرْضِ، وَهَذَا فِيمَا يُمَلَّكُ. وَأَمَّا غَيْرُهُ كَالْكَلْبِ وَالْخَمْرِ، فَلَا بُدَّ فِيهِ مِنْ اخْتِيَارِ نَقْلِ الِاخْتِصَاصِ الَّذِي كَانَ لِغَيْرِهِ لِنَفْسِهِ كَمَا قَالَهُ ابْنُ الرِّفْعَةِ. أَمَّا الْأَخْرَسُ فَتَكْفِي إشَارَتُهُ الْمُفْهِمَةُ كَسَائِرِ عُقُودِهِ كَمَا قَالَهُ الزَّرْكَشِيُّ، وَكَذَا الْكِنَايَةُ مَعَ النِّيَّةِ، وَالظَّاهِرُ كَمَا قَالَ شَيْخُنَا أَنَّ وَلَدَ اللُّقَطَةِ كَاللُّقَطَةِ إنْ كَانَتْ حَامِلًا عِنْدَ الْتِقَاطِهَا، وَانْفَصَلَ مِنْهَا قَبْلَ تَمَلُّكِهَا، وَإِلَّا مَلَكَهُ تَبَعًا لِأُمِّهِ، وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ قَوْلُ مَنْ قَالَ: إنَّهُ


Tapi ada pendapat lain yang menyatakan,bahwa mencukupi-sesudah Ahmad mengumumkan anak ayam itu selama satu tahun-Ahmad berniat(artinya Ahmad memperbarui niat memiliki anak ayam itu dengan tanpa lafal).Alasannya ialah karena tidak adanya iijaab.


يُمْلَكُ بَعْدَ التَّعْرِيفِ لِأُمِّهِ: أَيْ وَتَمَلُّكِهَا (وَقِيلَ: تَكْفِي) بَعْدَ التَّعْرِيفِ (النِّيَّةُ) أَيْ تَجْدِيدُ قَصْدِ التَّمَلُّكِ مِنْ غَيْرِ لَفْظٍ لِفَقْدِ الْإِيجَابِ


Dan menurut pendapatnya imam Adzro’i dan dzohirnya nash(keterangan jelasnya)kitab Al Um dan kitab Al Mukhtashor,Ahmad itu memiliki terhadap anak ayam yang ditemukan itu dengan berlalunya waktu satu tahun.


(وَقِيلَ) قَالَ الْأَذْرَعِيُّ: وَهُوَ ظَاهِرُ نَصِّ الْأُمِّ وَالْمُخْتَصَرِ (يَمْلِكُ) اللُّقَطَةَ (بِمُضِيِّ السَّنَةِ) بَعْدَ التَّعْرِيفِ اكْتِفَاءً بِقَصْدِهِ عِنْدَ الْأَخْذِ لِلتَّمَلُّكِ بَعْدَ التَّعْرِيفِ.
تَنْبِيهٌ لَا فَرْقَ عِنْدَنَا فِي جَوَازِ تَمَلُّكِ اللُّقَطَةِ بَيْنَ الْهَاشِمِيِّ وَغَيْرِهِ، وَلَا بَيْنَ الْفَقِيرِ وَغَيْرِهِ. وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لَا يَجُوزُ تَمَلُّكُهَا لِمَنْ لَا تَحِلُّ لَهُ الصَّدَقَةُ. وَقَالَ مَالِكٌ: لَا يَجُوزُ
تَمَلُّكُهَا لِلْفَقِيرِ خَشْيَةَ ضَيَاعِهَا عِنْدَ طَلَبِهَا، وَيُسْتَثْنَى مِنْ التَّمَلُّكِ مَسَائِلُ لَا يَتَأَتَّى فِيهَا التَّمَلُّكُ. مِنْهَا الْجَارِيَةُ الَّتِي تَحِلُّ لِلْمُلْتَقِطِ، فَإِنَّهُ لَا يَتَمَلَّكُهَا بِنَاءً عَلَى أَنَّهُ لَا يَصِحُّ الْتِقَاطُهَا لِلتَّمَلُّكِ كَمَا مَرَّ؛ لِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لَهُ اسْتِقْرَاضُهَا عَلَى الرَّاجِحِ، فَعَلَى هَذَا تُلْتَقَطُ لِلْحِفْظِ فَقَطْ، وَفِي تَعْرِيفِهَا الْخِلَافُ السَّابِقُ. فَإِنْ قِيلَ: يَنْبَغِي أَنْ تُعَرَّفَ، وَبَعْدَ الْحَوْلِ تُبَاعُ وَيَتَمَلَّكُ ثَمَنَهَا كَمَا لَوْ الْتَقَطَ مَا يَتَسَارَعُ إلَيْهِ الْفَسَادُ، فَإِنَّهُ يَبِيعُهُ وَيَتَمَلَّكُ ثَمَنَهُ بَعْدَ الْمُدَّةِ. .
أُجِيبَ بِأَنَّهُ إنَّمَا يَتْبَعُ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةَ الْمَالِكِ، وَقَدْ لَا يَكُونُ لَهُ مَصْلَحَةٌ فِي بَيْعِ الْأَمَةِ. وَمِنْهَا مَا لَوْ دَفَعَهَا إلَى الْحَاكِمِ وَتَرَكَ التَّعْرِيفَ وَالتَّمَلُّكَ ثُمَّ نَدِمَ، وَأَرَادَ أَنْ يُعَرِّفَ وَيَتَمَلَّكَ فَإِنَّهُ لَا يُمْكِنُ؛ لِأَنَّهُ أَسْقَطَ حَقَّهُ قَالَهُ فِي زِيَادَةِ الرَّوْضَةِ. وَمِنْهَا مَا لَوْ أُخِذَ لِلْخِيَانَةِ كَمَا مَرَّ. وَمِنْهَا لُقَطَةُ الْحَرَمِ كَمَا سَيَأْتِي

.
Jika Ahmad telah memiliki terhadap anak ayam yang ditemukan,lalu pemilik anak ayam itu datang kepada Ahmad.Dan pemilik anak ayam itu meminta anak ayam itu.Sedangkan anak ayam itu tetap didalam keadaannya anak syam.Dan tidak ada hak yang tetap yang bergantung kepada anak ayam itu, yang mana hak itu mencegah untuk menjual anak ayam itu,seperti jika anak ayam itu dihutangkan.Dan Ahmad dan pemilik anak ayam(yaitu Umar)itu sepakat untuk mengembalikan barangnya anak ayam atau mengembalikan terhadap gantinya anak ayam itu.Maka hendaklah Ahmad memberikan anak ayam itu(gantinya
anak ayam itu) kepada Umar.


(فَإِنْ تَمَلَّكَ) الْمُلْتَقِطُ اللُّقَطَةَ (فَظَهَرَ الْمَالِكُ) لَهَا، وَهِيَ بَاقِيَةٌ بِحَالِهَا، وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا حَقٌّ لَازِمٌ يَمْنَعُ بَيْعَهَا كَمَا فِي الْقَرْضِ (وَاتَّفَقَا عَلَى رَدِّ عَيْنِهَا) أَوْ بَدَلَهَا (فَذَاكَ) ظَاهِرٌ، إذْ الْحَقُّ لَا يَعْدُوهُمَا. وَيَجِبُ عَلَى الْمُلْتَقِطِ رَدُّهَا إلَى مَالِكِهَا إذَا عَلِمَهُ، وَلَمْ يَتَعَلَّقْ بِهَا حَقٌّ لَازِمٌ قَبْلَ طَلَبِهِ فِي الْأَصَحِّ كَمَا قَالَهُ الرَّافِعِيُّ فِي بَابِ الْوَدِيعَةِ، وَمُؤْنَةُ الرَّدِّ عَلَى الْمُلْتَقِطِ؛ لِأَنَّهُ قَبَضَ الْعَيْنَ لِغَرَضِ نَفْسِهِ. أَمَّا إذَا حَصَلَ الرَّدُّ قَبْلَ تَمَلُّكِهَا فَمُؤْنَةُ الرَّدِّ عَلَى مَالِكِهَا كَمَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ


Jika pemilik anak ayam(Umar)itu menginginkan anak ayam itu.Dan penemu(Ahmad)itu ingin memberikan kepada Umar terhadap gantinya anak ayam itu.Maka yang dilaksanakan adalah keinginan pemilik snak ayam(Umar)(yaitu hendaklah Ahmad mengembalikan anak ayam itu kepada Umar).


(وَإِنْ أَرَادَهَا الْمَالِكُ وَأَرَادَ الْمُلْتَقِطُ الْعُدُولَ إلَى بَدَلِهَا.
أُجِيبَ الْمَالِكُ فِي الْأَصَحِّ) كَالْقَرْضِ بَلْ أَوْلَى، وَلِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ «فَإِنْ جَاءَ صَاحِبُهَا يَوْمًا مِنْ الدَّهْرِ فَأَدِّهَا إلَيْهِ» . وَالثَّانِي: يُجَابُ الْمُلْتَقِطُ، لِأَنَّهُ مَلَكَهَا كَمَا قِيلَ بِهِ فِي الْقَرْضِ.
تَنْبِيهٌ لَوْ جَاءَ الْمَالِكُ، وَقَدْ بِيعَتْ اللُّقَطَةُ بِشَرْطِ الْخِيَارِ أَوْ كَانَ خِيَارُ الْمَجْلِسِ بَاقِيًا كَانَ لَهُ الْفَسْخُ، وَأَخَذَهَا إنْ لَمْ يَكُنْ الْخِيَارُ لِلْمُشْتَرِي فَقَطْ كَمَا جَزَمَ بِهِ ابْنُ الْمُقْرِي لِاسْتِحْقَاقِهِ الرُّجُوعَ لَعَيْنِ مَالِهِ مَعَ بَقَائِهِ. أَمَّا إذَا كَانَ الْخِيَارُ لِلْمُشْتَرِي فَقَطْ فَلَا رُجُوعَ لَهُ كَالْبَائِعِ، وَكَذَا لَوْ تَعَلَّقَ بِهَا حَقُّ رَهْنٍ أَوْ كِتَابَةٍ، وَإِذَا رَدَّهَا الْمُلْتَقِطُ سَلِيمَةً أَوْ مَعِيبَةً مَعَ الْأَرْشِ لَزِمَ الْمَالِكَ الْقَبُولُ، وَيَتَعَيَّنُ رَدُّهَا بِالزَّوَائِدِ الْمُتَّصِلَةِ، وَإِنْ حَدَثَتْ بَعْدَ التَّمَلُّكِ تَبَعًا لِلْأَصْلِ، بَلْ لَوْ حَدَثَتْ قَبْلَهُ ثُمَّ انْفَصَلَتْ رَدَّهَا كَنَظِيرِهِ مِنْ الرَّدِّ بِالْعَيْبِ وَغَيْرِهِ، فَلَوْ الْتَقَطَ حَائِلًا فَحَمَلَتْ قَبْلَ تَمَلُّكِهَا ثُمَّ وَلَدَتْ رَدَّ الْوَلَدَ مَعَ الْأُمِّ. أَمَّا الزَّوَائِدُ الْمُنْفَصِلَةُ الْحَادِثَةُ بَعْدَ التَّمَلُّكِ، فَهِيَ لِلْمُلْتَقِطِ لِحُدُوثِهَا عَلَى مِلْكِهِ، وَمُقْتَضَى هَذَا أَنَّ الْأَمَةَ لَوْ وَلَدَتْ عِنْدَهُ رَقِيقًا أَنَّهُ يَجُوزُ التَّفْرِيقُ. قَالَ الزَّرْكَشِيُّ: وَفِيهِ نَظَرٌ اهـ.
وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ نَظِيرُ مَا فِي التَّفْرِيقِ بِالْفَسْخِ، وَتَقَدَّمَ فِيهِ خِلَافٌ، وَتَقَدَّمَ فِي
الرَّدِّ بِالْعَيْبِ أَنَّ الْحَمْلَ الْحَادِثَ بَعْدَ الشِّرَاءِ كَالْمُنْفَصِلِ، فَيَكُونُ الْحَادِثُ هُنَا بَعْدَ التَّمَلُّكِ لِلْمُلْتَقِطِ

Wallahu A’lambisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUM ZAKATNYA PEDAGANG EMAS

Assalamualaikum.
Pertayaan titipan.

Assalamualaikum.
Pertayaan titipan.

Deskripsi masalah.
Dalam menjalani kehidupan, manusia itu tidak akan terlepas dari berbagai kebutuhan, baik adanya kebutuhan itu bersifat material maupun sepritual, baik kebutuhan berupa sandang ataupun pangan, maka dalam rangka untuk mencapai hal sebagai tersebut dibutuhkan adanya komunikasi antara yang satu dengan yang lainnya tak terkecuali adanya transaksi jual beli yakni butuh adanya penjual dan juga butuh pembeli.
Disebuah kota ” PAMEKASAN ada seorang pedagang emas bernama Supriyadi.

Pertanyaannya.
Apakah orang yang dagang emas itu wajib membayar zakat kedua- duanya..? ( Zakat dagangan dan zakat emas , kalau kedua- duanya wajib mana yang harus didahulukan?.

Walaikum salam.
Jawaban.

Keduanya tidak wajib zakat .Alasannya karena barang dagangan yang wajib zakat itu adalah selain emas dan perak sedang emas yang wajib zakat itu harus disimpan, bukan hiasan yang mubah. Yakni hiasan yang digunakan baik dengan disewakan atau dipinjam…

Referensi:


كفاية الأخيار. ج ١ ص:١٧٧


وأما عروض التجارة فتجب الزكاة بالشرائط المذكورة فى الأثمان العروض ماعدا النقدين فكل عرض أعد للتجارة بشروطها وجبت فيه الزكاة واحتاج بوجوب الزكاة بقوله تعالى[ أنفقوا من طيبات ماكسبتم ] قالت مجاهد نزلت فى التجارة.


Artinya:” Adapun barang-barang dagangan itu adalah wajib zakat sebagaimana yang telah disebutkan didalam zakat harga- harga barang dagangan selain emas dan perak, maka setiap barang yang disediakan untuk perniagaan ( selain emas dan perak) itu wajib dizakati dengan syarat- syarat zakat perniagaan/ dagangan. Dengan berdasarkan dalil firman Allah :” Artinya Infakkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik .

شروط وجوب زكاة النقد ان لا يكون حليا مباحا و الحلى المباح هو ما اعد للاستعمال المباح و لو باجرة او اعارة فخرج به ثلاثة الحلى غير المستعمل كالكنز والحلي المكروه كضبة كبيرة للحاجة و الحلى المحرم كالذى يلبسه الرجل…… التقرير السديدة ٤١٠

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

TAYAMMUM DIPESAWAT

TAYAMMUM DI PESAWAT

Deskripsi masalah.
Berangkat haji dengan menggunakan pesawat terbang, ternyata masih menyisakan sedikit masalah yang perlu kita sikapi. Sebut saja H. Ari dia pernah bercerita pada kami tentang perjalanan hajinya. Yang intinya, pihak maskapai pesawat mewajibkan semua jamaah haji untuk melaksanakan shalat dengan cara tayammum. Namun, prakteknya para jamaah haji diperintah memukulkan kedua telapak tangannya ke kursi pesawat dan mengusapkannya ke wajah serta kedua tangan.

Pertanyaan:
Sudah cukupkah tayamum di pesawat sebagaimana dalam deskripsi?

Jawaban:
Tidak sah .Alasannya ialah karena kursi yang ada di pesawat itu tidak berdebu.

Referensi:

(المجموع شرح المهذب الجزء الثالث ص ١٦٢ طبعة دار الكتب العلمية)

أَمَّا حُكْمُ الْمَسْأَلَةِ فَمَذْهَبُنَا أَنَّهُ لَا يَصِحُ التَّيَمُّمُ إِلَّا بِتُرَابٍ هَذَا هُوَ الْمَعْرُوفُ فِي الْمَذْهَبِ وَبِهِ قَطَعَ الْأَءصْحَابُ وَتَظَاهَرَتْ عَلَيْهِ نُصوصُ الشَّافِعِي وَحَكَى الرَّافِعِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْخَنَّاطِيَ بِالْحَاءِ الْمُهْمَلَةِ وَالنُّونِ أَنَّهُ حَكَى فِي جَوَازِ التَّيَمُّمِ بِالدَّرِيرَةِ وَالنورةِ وَالزِرنِيخ وَالْأَحْجَارِ الْمَدْقُوقَةِ وَالقَوَارِيرِ الْمَسْحُوقَةِ وَأَشْبَاهِهَا قَوْلَيْنِ لِلشَّافِعِيَ وَهَذَا نَقُلُّ غَرِيبٌ ضَعِيفٌ شَاذ مَرْدُودُ إِنَّمَا أَذْكُرُهُ لِلتَّنْبِيهِ عَلَيْهِ لِئَلَّا يَغْتَرَ بِهِ ، وَالصَّحِيحُ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ إِلَّا بِتُرَابٍ وَبِهِ قَالَ أَحْمَدُ وَابْنُ الْمُنْذِرِ وَدَاوُدُ ، قَالَ الْأَزهرى وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ هُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ ، وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَمَالِكُ يَجُوزُ بِكُلِ أَجْزَاءِ الْأَرْضِ حَتَّى بِصَخرَةٍ مَغْسُولَةٍ ، وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِ مَالِكِ يَجُوزُ بِكُلِّ مَا اتَّصَلَ بِالْأَرْضَ كَالْخَشَبِ وَالثَّلْجِ وَغَيْرِهِمَا وَفِي الْمِلْحِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ لِأَصْحَابِ مَالِكٍ أَحَدُهَا: يَجُوز . والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

MENYOGOK PADA MUSIM PEMILU

MENYOGOK PADA MUSIM PEMILU.

Deskripsi Masalah:
Pada musim pemilu, kerap kali kita menemukan praktek sogok menyogok di tengah-tengah masyarakat baik orang biasa, tokoh masyarakat, hingga ulama’. Dengan berbagai motif dan tujuan dari pelakunya. Namun, kebanyakan mereka memberikan uang tersebut agar bisa dipilih pada saat pemilu.

Pertanyaannya:
Apakah hukum memberikan uang tersebut diperbolehkan dalam agama Islam?

Jawaban:
Ditafshil, bila diberikan agar dipilih ketika pemilu maka diharamkan ,dan bila diberikan tanpa ada tujuan agar dipilih ketika pemilu , maka diperbolehkan.

Referensi :


فرع قد ذكرنا أن الرشوة حرام مطلقا والهدية جائزة في بعض فيطلب الفرق بين حقيقتيهما مع أن الباذل راض فيهما والفرق من وجهين أحدهما ذكره ابن كج أن الرشوة هي التي يشرط على قابلها الحكم بغير الحق أو الامتناع عن الحكم بحق والهدية هي العطية المطلقة والثاني قال الغزالي في الإحياء المال إما يبذل لغرض آجل فهو قربة وصدقة وإما لعاجل وهو إما مال فهو هبة بشرط ثواب أو لتوقع ثواب وإما عمل فإن كان عملا محرما أو واجبا متعينا فهو رشوة وإن كان مباحا فإجارة أو جعالة وإما للتقرب والتودد إلى المبذول له فإن كان بمجرد نفسه فهدية وإن كان ليتوسل بجاهه إلى أغراض ومقاصد فإن كان جاهه بالعلم أو النسب فهو هدية وإن كان بالقضاء والعمل فهو رشوة

فتاوى قطاع الإفتاء بالكويت الجزء الثاني صـ 173

بيع وشراء الأصوات في الانتخابات. (634) عرض على اللجنة السؤال المقدم من السيد عبد الله ، ونصه ما يأتي: هل يجوز للمرشح نفسه للمجلس النيابي أن يشتري أصوات الناخبين بقصد الفوز فى الإنتخابات على منافسيه فى المنطقة الإنتخابية؟ وهل يجوز بيع هذه الأصوات من قبل الناخبين إلى المرشحين بمبلغ معين لأجل الإدلاء بأصواتهم إلى المرشحين؟

أجابت اللجنة بما يلي: لايجوز للناخب أخذ مبلغ من المال أوهدية مقابل الإدلاء بصوته لأي مرشح ، لأن التصويت أمانة ، بمقتضاها يختار الأكفاء ليقوم بما أسند إليه خير قيام ، وقد ورد فى الحديث الصحيح أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة ، فقيل وما تضييعها ؟ قال: إذا وسد الأمر إلى غير أهله فانتظر الساعة. لذلك فعلى الناخب أن يختار من يعتقد أنه أقوى من غيره، وأكثره أمانة، ولايجوز له شرعا أن يختار الأضعف أو الأقل أمانة لمجرد قرابته أولمصلحة خاصة يحصل عليها منه، وإن المرشح الذي يقدم هذه الهدايا هو راش وغير أمين، ويعتبر هذا كافيا لعدم انتخابه. والله أعلم.

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عُمَرَ نَوَوِي الْجَاوِيُ: وَأَخْذُ الرِّشْوَةِ بِكَسْرِ الرَّاءِ وَهُوَ مَا يُعْطِيْهِ الشَّخْصُ لِحَاكِمٍ أَوْ غَيْرِهِ لِيَحْكُمَ لَهُ أَوْ يَحْمِلَهُ عَلىَ مَا يُرِيْدُ كَذَا فِي الْمِصْبَاحِ وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْرِيْفَاتِ وَهُوَ مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ اهـ مرقاة صعود التصديق ص 74.
والله اعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

MENGIRIM KARANGAN BUNGA SEBAGAI WUJUD BELA SUNGGAWA

MENGIRIM KARANGAN BUNGA SEBAGAI WUJUD BELA SUNGGAWA

Deskripsi masalah.
Sering kali kita temui ketika ada orang yang meninggal dunia terutama jika yang meninggal adalah orang yang terhormat maka orang akan berbondong-bondong mengirimkan karangan bunga sebagai wujud bela sungkawa.

Pertanyaan:
Apakah sudah cukup takziah(melayat) hanya dengan mengirim karangan bunga saja?

Jawaban: Sudah cukup takziah hanya dengan mengirim karangan bunga saja, baik yang dikirimkan berupa bunga asli atau buatan , dengan catatan mengirimkannya bunga tersebut bertujuan menjadikannya sebagai bentuk takziah.

Adapun Kesunnahan lain yaitu bisa didapatkan untuk jenis bunga asli yang dikirimkan dengan maksud untuk diletakkan di dekat makam.

Referensi:

(تحفة المحتاج وحواشي الشرواني والعبادي الجزء الثالث ص: ۱۹۳ طبعة دار الفكر)

وَهِيَ الْأَمْرُ بِالصَّبْرِ وَالْحَمْلِ عَلَيْهِ بِوَعْدِ الْأَجْرِ وَالتَّحْذِيرِ مِنْ الْوِزْرِ بِالْجَزَعِ وَالدُّعَاءِ لِلْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ بِالْمَغْفِرَةِ وَلِلْمُصَابِ بِجَبْرِ الْمُصِيبَةِ
قَوْلُهُ: (وَهِيَ أَي التَّعْزِيَّةُ اصْطِلاحًا نِهَايَة قَوْلُهُ: (الْأَمْرُ بِالصَّبْرِ الخ) ظَاهِرُهُ أَنَّ التَّعْزِيَّةَ إِنَّمَا تَحَقَّقَ بِمَجْمُوع مَا يَأْءتِي ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ غَيْرُ مُرَادٍ فَلْيُرَاجِعُ رشيدي.

…………….

(حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء الأول ص: ٣٤٣)

وَتَحْصُلُ التَّعْزِيَّةُ بِكِتَابٍ أَوْ رِسَالَةٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ
……………..

(تحفة المحتاج وحواشي الشرواني والعبادي الجزء الثالث ص: ۲۱۳ طبعة دار الفكر)

(فَرْعُ) يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلاءتبَاعِ وَسَنَدُهُ صَحِيحٌ وَلِأَنَّهُ يُخَفُف عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيحِهَا إِذْ هُوَ أَكْمَلُ مِنْ تَسْبِيحِ الْيَابِسَةِ لِمَا فِي تِلْكَ مِنْ نَوعِ حَيَاةٍ ، وَقِيسَ بِهَا مَا اعْتِيدَ مِنْ طَرْحِ الرَّيْحَانِ وَنَحوِهِ ، وَيَحْرمُ أَخُذُ ذلِكَ كَمَا بَحَثَ لِمَا فِيهِ مِنْ تَفْوِيتِ حَقَّ الْمَيِّتِ ، وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا حُرْمَةَ فِي أَخْذِ يَابِسٍ أَعْرَضَ عَنْهُ لِفَوَاتِ حَق الْمَيِّتِ بِيُبْسِهِ ، وَلِدًا قَيْدَ نَدْبُ الْوَضْعُ بِالخُضْرَةِ وَأَعْرَضُوا عَنِ الْيَابِسِ بِالكُليَّةِ نَظَرًا لتقييده صلى الله عليه وسلم التخفِيفَ بِالْأَخْضَرِ بِمَا لَمْ يَبْبَس قَوْلُهُ:( يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيدَة الخ) وَيَنْبَغِي أَنَّهُ لَوْ نَبَتَ عَلَيْهِ حَشِيشُ اكْتُفِي بِهِ عَنْ وَضعِ الجريدِ قِيَاسًا عَلَى نُزُولِ الْمَطرِ الآءتي ، وَيُحْتَمَلُ خِلافُهُ ، وَيُفْرَقُ بِأَنَّ زِيَادَةَ الْمَاءِ بَعْدَ نُزُولِ الْمَظر الْكَافِي لَا مَعْنَى لَهَا لِحُصُولِ الْمَقْصُودِ مِنْ تَمْهِيدِ التُّرَابِ ، بِخِلَافِ وَضْعِ الْجَرِيدِ زِيَادَةً عَلَى الْحَشِيشِ ، فَإِنَّهُ يَحْصُلُ بِهِ زِيَادَةُ رَحْمَةٍ لِلْمَيِّتِ بِتَسْبِيج الجريدِ ع ش. قَوْلُهُ: (وَلِأَنَّهُ يُخَفَّفُ الخ) مِنْ عَطفِ الحِكْمَةِ عَلَى الدلِيلِ قَوْلُهُ: (وَنَحْوِهِ) أَيْ مِنَ الْأَشْيَاءِ الرَّطْبَةِ وَقَوْلُهُ: (وَيَحْرُمُ أَخْذُ ذَلِكَ) أَيْ عَلَى غَيْرِ مَالِكِهِ نهاية ومغني ـ ع ش قَوْلُهُ م ر مِنَ الْأَشْيَاءِ الرَّطْبَةِ يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ الْبِرْسِيمُ وَنَحْوُهُ مِنْ جَمِيعِ النَّبَاتَاتِ الرَّطْبَةِ

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM TALAK DALAM KONDISI HAMIL

*Pertanyaan*

As’salamu alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.

Deskripsi masalah.

Diantara tujuan pernikahan secara umum adalah untuk memenuhi hajat manusia (pria terhadap wanita atau sebaliknya) dalam upanyà mewujudkan rumah tangga yang bahagia, sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama. Ada sepasang suami istri yang baru menikah  kelihatannya mulai dari awal mereka rukun dan bahagia dan ketika mencapai 5 bulan dari pernikahannya  istrinya hamil, namun sayangnya kebahagian itu tidaklah  begitu  lama karena diantara suami istri selingkuh sehingga mengakibatkan pertengkaran diantara keduanya samapai ada ungkapan cerai dalam kondisi Istrinya hamil.

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya suami mentalak istrinya dalam kondisi hamil..?

JAWABAN :
Terjadi khilaf dalam masalah menceraikan wanita hamil, mayoritas ulama berpendapat boleh menthalaq wanita hamil yang sudah jelas kehamilannya. Sebagian ulama menyatakan menthalaq wanita hamil adalah haram dan ada juga yang berpendapat menthalaq wanita hamil hukumnya makruh.

Referensi:

– Tuhfatul Muhtaaj & Nihayatul Muhtaaj :


( و ) يحل ( طلاق من ظهر حملها )


Ada riwayat dari ibnu umar bahwasannya dia mencerai istrinya yang lagi haid, lalu umar bercerita pada nabi,lalu nabi bersabda : kembalilah padanya dan cerailah saat dia dalam keadaan suci atau keadaan hamil.


أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنِى مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ أَبِى الأَحْوَصِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ ح وَأَخْبَرَنَا عَلِىُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا الْحَضْرَمِىُّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ قَالاَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى أَبِى طَلْحَةَ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِىَ حَائِضٌ فَذَكَرَ ذَلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ :« مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لِيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أَوْ حَامِلاً ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِى الصَّحِيحِ عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ أَبِى شَيْبَةَ  السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي (7/ 325


Imam Muslim meriwayatkan hadits dalam kitab Shahihnya (4/181, maktabah syamilah) :


وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ – وَاللَّفْظُ لأَبِى بَكْرٍ – قَالُوا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَوْلَى آلِ طَلْحَةَ عَنْ سَالِمٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهْىَ حَائِضٌ فَذَكَرَ ذَلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لْيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أَوْ حَامِلاً ».


Dan telah menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Syaibah, dan Zuhair bin Harb, dan Ibnu Numair, lafazhnya kepunyaan Abu Bakar, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Waki’ dan Sufyan, dari Muhammad bin Abdurrahman Maula Alu Thalhah, dari Salim, dari Ibnu Umar, Sesungguhnya dia (Ibnu Umar) menthalaq isterinya dalam keadaan haid, maka Umar menuturkan hal itu kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasalllam. Maka beliau bersabda: “Perintahlah dia untuk merujuk isterinya, kemudian hendaklah dia menthalaqnya dalam keadaan suci atau hamil.”
Penjelasan hadits ini ada dalam syarah Imam Nawawi (10/65, maktabah syamilah 

:
قوله صلى الله عليه و سلم ( ثم ليطلقها طاهرا أو حاملا ) فيه دلالة لجواز طلاق الحامل التي تبين حملها وهو مذهب الشافعي قال بن المنذر وبه قال أكثر العلماء منهم طاوس والحسن وبن سيرين وربيعة وحماد بن أبي سليمان ومالك وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد قال بن المنذر وبه أقول وبه قال بعض المالكية وقال بعضهم هو حرام وحكى بن المنذر رواية أخرى عن الحسن أنه قال طلاق الحامل مكروه

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam TSUMMAL YUTHALLIQHAA THAAHIRAN AU HAAMILAN. “Kemudian hendaklah dia menthalaqnya dalam keadaan suci atau hamil”. Dalam sabda tersebut menunjukkan bolehnya menthalaq wanita hamil yang sudah jelas kehamilannya, Dan itu adalah madzhab Syafi’i. Ibnu Mundzir berkata: Dengan pendapat ini, berkata mayoritas ulama’, diantaranya Imam Thawus, al Hasan, Ibnu Sirin, Rabii’ah, Hammaad bin Abu Sulaiman, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Ibnul Mundzir berkata: Aku berpendapat dengan pendapat tersebut, dan dengan pendapat itu berkata sebagian ulama’ malikiyyah. Sebagian ulama mengatakan: menthalaq wanita hamil adalah haram. Ibnul Mundzir meriwayatkan riwayat yang lain dari al Hasan, bahwasanya dia berkata: Menthalaq wanita hamil hukumnya makruh.