Pertanian merupakan salah satu sektor utama yang menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat, terutama di pedesaan. Dalam menjalankan usaha tani, para petani sering kali menghadapi berbagai tantangan, seperti fluktuasi harga pasar, keterbatasan tenaga kerja, serta kebutuhan akan proses yang cepat dan efisien, terutama ketika hasil panen melimpah.
Salah satu solusi yang umum diterapkan oleh petani adalah sistem jual beli tebas, yaitu penjualan hasil panen secara menyeluruh kepada pemborong sebelum panen dilakukan. Sistem ini dinilai praktis karena petani tidak perlu melakukan proses pemanenan sendiri, sehingga menghemat waktu dan tenaga. Di sisi lain, pemborong mengambil alih tanggung jawab pemanenan, pengangkutan, dan distribusi hasil panen ke pasar.
Namun, dalam praktiknya, penerapan sistem tebas juga berdampak pada perhitungan zakat pertanian. Sesuai dengan syariat Islam, hasil panen yang mencapai nisab wajib dikeluarkan zakatnya dengan kadar 10% untuk pengairan alami atau 5% jika menggunakan pengairan buatan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan perhitungan zakat dilakukan dengan benar berdasarkan nilai jual hasil panen yang diperoleh melalui sistem tebas, agar hak-hak agama dan sosial terpenuhi secara optimal.
Pertanyaan:
Bagaimana fikih menyikapi hal diatas( menjual hasil panennya secara keseluruhan /secara tebas kepada pemborong)?
Jawaban: Jual beli dengan sistem tebas hukumnya sah, bila mengikuti pendapat yang memperbolehkan Bai’ al-Ghaib. Sedangkan menjual harta yang wajib dizakati hukumnya sah berpijak pada pendapat yang mengatakan bahwa ta’alluq zakat biddzimmah. Namun, zakat yang harus dibayar adalah 10%/5% dari hasil panen, bukan dari hasil penjualan.
“Dan hasil tanaman yang bijinya tidak terlihat pada tangkainya, seperti gandum, kacang adas, dan wijen, tidak boleh dijual jika hanya tangkainya saja tanpa bijinya. Jika dijual bersama tangkainya, terdapat dua pendapat:
Pendapat pertama (pendapat lama): Diperbolehkan, berdasarkan riwayat bahwa Nabi SAW melarang penjualan biji hingga mengeras. Maka, jika sudah mengeras, diperbolehkan.
Pendapat kedua (pendapat baru): Tidak diperbolehkan, karena benda yang menjadi tujuan utama (biji) masih tertutup dengan sesuatu yang tidak mengandung maslahat, seperti penjualan tanah tempat pengrajin emas, atau jerami yang telah diratakan tetapi belum dibersihkan.
Adapun padi, hukumnya seperti jelai. Ia boleh dijual dalam tangkainya karena tangkainya menjadi tempat penyimpanan. Hal ini juga dinyatakan oleh Ibnul Qash dan Abu Ali At-Thabari. Namun, sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya seperti gandum, yaitu tidak boleh dijual.
Selain itu, tidak diperbolehkan menjual wortel, bawang putih, dan bawang merah.”
“Cabang masalah: Jika suatu tumpukan berada di atas tanah yang bergelombang (tidak rata, ada bagian yang tinggi dan rendah), lalu dijual dalam keadaan seperti itu, atau jika seseorang menjual minyak samin atau semisalnya yang berada di dalam wadah yang tidak merata (ada bagian tipis dan tebal), maka terdapat tiga pendapat:
Pendapat pertama (yang paling shahih): Terdapat dua pendapat tentang sah atau tidaknya jual beli barang yang tidak terlihat seluruhnya. Ini karena tidak terjadi penglihatan yang sempurna sehingga tidak diketahui secara pasti.
Pendapat kedua: Dinyatakan sah secara mutlak.
Pendapat ketiga: Dinyatakan batal secara mutlak. Pendapat ini lemah. Imam Ar-Rafi’i juga menegaskan bahwa ini pendapat yang lemah, meskipun disandarkan kepada para ahli tahqiq.
Jika kita menyatakan sah, maka waktu pilihan (khiyar) adalah saat pembeli mengetahui jumlah atau memastikan isinya dengan melihat bagian yang tidak terlihat. Jika kita menyatakan batal, maka jika pembeli menyangka tumpukan berada di tanah yang rata, tetapi ternyata ada gundukan di bawahnya, apakah itu membuat jual beli menjadi batal? Dalam hal ini ada dua pendapat: Pendapat yang paling shahih: Tidak batal. Akan tetapi, pembeli memiliki hak khiyar sebagaimana dalam kasus cacat atau penipuan. Ini juga ditegaskan oleh penulis kitab Asy-Syamil dan lainnya. Pendapat kedua: Batal. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abu Muhammad, karena mengetahui jumlah barang secara pasti atau perkiraan adalah syarat yang harus terpenuhi, dan dalam kasus ini, syarat tersebut tidak terpenuhi.
3.(Peringatan): Apabila barang yang dijual tersembunyi di dalam tanah, seperti wortel, lobak, bawang merah, bawang putih, atau lobak setelah tumbuh, maka jika keberadaannya di bawah tanah telah diketahui, jual belinya diperbolehkan. Namun, jika tidak diketahui keberadaannya, maka tidak diperbolehkan.
“Bab tentang sifat kewajiban zakat: Yang wajib adalah sebagian dari hasil panen itu sendiri, karena zakatnya adalah sepersepuluh dari hasil panen tersebut, atau setengah sepersepuluhnya. Ini adalah bagian dari hasil panen itu. Namun, kewajibannya berasal dari status hasil panen tersebut sebagai harta, bukan sebagai bagian dari hasil panen itu sendiri.
Menurut kami (mazhab Hanafi), diperbolehkan membayar zakat dengan nilai (harga)nya. Tetapi menurut mazhab Syafi’i, yang wajib adalah bagian dari hasil panen itu sendiri, sehingga tidak boleh digantikan dengan yang lain. Masalah ini telah dibahas sebelumnya dalam persoalan pembayaran zakat dengan nilai (harga).”
5. At-Tahdzib (Jilid 3, Halaman 69)
“Jika seseorang menjual harta yang terkena kewajiban zakat setelah haul (waktu wajib zakat) tetapi sebelum membayar zakatnya, apakah jual belinya sah atau tidak?
Jika zakatnya bersifat tanggungan (dalam catatan kewajiban), maka jual beli sah. Namun, pembeli diberi pilihan antara membatalkan atau melanjutkan jual beli, karena petugas zakat mengambil zakat dari barang yang dijual tersebut. Jika penjual membayar zakat dari sumber lain, hak khiyar pembeli gugur. Tetapi jika zakat diambil dari barang itu sendiri, maka akad batal pada bagian yang diambil untuk zakat. Adapun untuk sisanya, terdapat dua pendapat:
1. Tidak batal, dan pembeli memiliki hak khiyar jika ia tidak mengetahui sebelumnya. Jika ia menyetujuinya, maka ia hanya diwajibkan membayar sesuai bagian harga yang tersisa.
2. Batal, jika zakatnya bersifat melekat pada barang itu sendiri, maka jual beli batal untuk bagian zakatnya. Adapun sisanya, ada dua pendapat berdasarkan hukum pemisahan akad.”
Deskripsi masalah. Ketika kami sholat berjamaah dicongkop atau dimoshollah sebagian santri setelah salam mengusap wajahnya dengan tangan kanannya ada yang meletakkan tangan kanannya dipundaknya,(bun embunan: red) dan mereka membaca sesuatu wiridan atau do’a.
Pertanyaannya Bagaimana hukumnya meletakkan tangan kanan dengan mengusap wajah ketika selesai sholat..? Lalu Dzikir atau do’a apa yang dibaca ketika meletakkan tangan sebagaimana deskripsi.
Waalaikum salam. Dalam kitab Tarjuman Karangan Syaikh Abdul Hamid bin Isbats hukumnya adalah sunnah disetiap selesai sholat lima waktu meletakkan tangan kanannya diatas kepalanya disertai membaca do’a.
بن فولى سنة سبان سبان اوى سلام داري صلاة ليماع وقت يابأ تناعة سى كانن دأ أتّاسه جيطكه سمبي ماجة
بسم الله الذي لا إله إلا هو الرحمن الرحيم اللهم اذهب عني الهم والحزن.
Referensi:
إعانة الطالبين .ج ١ ص.١٨٤ (فائدة)
قال النووي فى الأذكار روينا فى كتاب ابن السنى عن أنس رضي الله عنه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا قضى صلاته مسح وجهه بيده اليمنى ثم قال أشهد أن لاإله إلا هو الرحمن الرحيم اللهم اذهب عني الهم والحزن إنتهى.وفى رواية بسم الله الذي لاإله إلا هو الرحمن الرحيم اللهم أذهب عنى الهم والحزن
Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam setelah selesai dari shalat maka beliau mengusap kepala dengan tangan kanan dan berdoa: “Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Allah, maha Rahman dan Rahim. Ya Allah hilangkan susah dan sedih dariku”
Hadits Riwayat Thabrani dan Bazzar dengan beberapa sanad. Di dalamnya ada Zaid Al-Ammi, lebih dari 1 ulama menilai terpercaya dan kebanyakan ulama menilai dhaif. Perawi lain dari 2 sanad Thabrani adalah terpercaya, sebagiannya diperselisihkan. (Majma’ Az-Zawaid)
Jika Nabi selesai salat maka mengusap kening(dahi)nya dengan tangan kanan dan berdoa: “Dengan nama Allah, yang tiada Tuhan selain Allah, yang maha tahu alam gaib dan alam nyata. Maha pengasih dan penyayang. Ya Allah hilangkan susah dan sedih dariku”(Hadis riwayat Aslam Al-Wasithi dalam Tarikhnya).
Wanita terkadang tidaklah kalah saing kegiatannya dengan kaum lelaki , bukti nyata dimasyarat banyak kaum muslimat mengadakan perkumpulan Majlis Taklim muslimah, majlis dzikir dan sholawatan pun juga terkadang menghadiri pertemuan rapat-rapat dengan berpakaian rapi dan memakai wangi-wangian.
Pertanyaan: Bagaimana hukum para wanita yang keluar dari rumahnya dengan berpakaian rapi dan memakai wangi-wangian mendatangi rapat-rapat keagamaan yang tidak termasuk fardhu’ain?
Jawaban:
Hukumnya boleh selama tidak ada dugaan fitnah dan mendapat idzin dari suaminya . Akan tetapi apabila berkeyakinan mendapat fitnah walaupun seidzin suaminya dengan berpakaian rapi dan memakai wangi-wangian , maka hukumnya dosa besar. Akan tetapi kalau hanya menghawatikannya saja, maka hukumnya makruh.
Referensi:
الموسوعة الفقهية – 5060/31949
وصرح الشافعية بأن للمرأة أن تخرج من بيت الزوجية إن كانت تخاف على نفسها أو مالها من فاسق أو سارق، أو أخرجها معير المنزل، كما صرح الشافعية بأن لها الخروج والسفر بإذن الزوج مطلقا مع محرم (1) . وصرح الحنفية (2) والشافعية (3) أنه يجوز للمرأة الخروج من بيت الزوجية ولو بغير إذن الزوج، إن كانت في منزل أضحى كله أو بعضه يشرف على الانهدام، مع وجود قرينة على ذلك. ولها الخروج إلى مجلس العلم برضا الزوج، وليس لها ذلك بغير رضاه.
Dalam al-Zawajir Ibn hajar al-Haitami berkata: “Keluarnya wanita dari rumah dengan memakai parfum dan berhias meskipun seizin suami itu dosa besar. Dan agar sesuai dengan kaidah-kaidah madzhab Syafi’iyah mestinya hukum itu diarahkan pada kasus ketika nyata-nyata akan terjadi fitnah. Sedangkan bila hanya menghawatirkannya saja terhadap terjadinya fitnah, maka makruh dan bila disertai dugaan kuat akan terjadi fitnah maka haram (namun) bukan dosa besar sebagaimana keterangan yang cukup jelas.
2.Fath al-Wahhab dan Futuhat al-Wahhab(Hasyiyatul Jamal,juz 1, halaman 503).
Kaum wanita dimakruhkan mendatangi mesjid yang berisikan jamaah laki-laki jika wanita tersebut musytahah (sudah mengundang birahi laki- laki) karena khawatir timbulnya fitnah. (Fitnah adalah zina dan pendahuluan zina) (Ungkapan Syaikh Zakaria al-Anshari: “Kaum wanita dimakruhkan mendatangi.”) Maksudnya adalah makruh tahrim (haram) bila tanpa seizin suami. Begitu pendapat al-Halabi. … Dan baginya haram (keluar rumah) tanpa seizin wali, suami, sayyid(tuannya) atau suami dan sayyid bagi budak wanita yang bersuami dan disertai kekhawatiran akan timbut fitnah darinya atau menimpanya. (Ungkapan beliau lagi: “Kaum wanita makruh mendatangi mesjid.”), maksudnya adalah tempat jamaah, meski tidak bersama jamaah laki- laki. Maka penyebutan mesjid dan laki-laki tersebut karena umumnya (saja).
Ketika saya hadir pada acara walimatul hamli yang dikemas didalamnya dengan Khotmil Qur’an, saya membaca didekatnya para undangan semua sama-masa membaca namun ketika saya berhenti sebentar saya mendengar dari sebagian mereka membaca dengan cepat apa mungkin kerana agar lebih awal selesai atau memang cara bacanya biasa cepat hampir keberadaanya tidak tartil.
Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya membaca al-Quran dengan cara baca cepat, sehingga kedengarannya tidak dibaca Tartil ( Tidak ngikuti qoidah tajwid )?..
Mana yang lebih utama antra membaca Al-Qur’an dgn cara Tartil dan cara baca cepat ?..
Waalaikum salam. Jawaban.
Sebelumnya penting kami jelaskan pengertian “Tartil” Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Al-Qur’an;
ورتل القرآن ترتيلا
Artinya:” Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan Tartil .” Qs. Al-Muzammil ayat 4.
Adapun yang dimaksud membaca dengan tartil adalah membaca Al-Qur’an dengan bacaan berlahan-lahan, jelas dan tenang sebab bacaan yang tartil itu lebih banyak memberi bekas dan mempengaruhi jiwa serta lebih mendatangkan ketenangan dalam jiwa. Sedangkan hukumnya membaca Al-Qur’an dengan secara tartil adalah sunnah berdasarkan dalil sebagaimana ayat diatas. Dan jika seseorang terpaksa membaca dengan cepat tanpa bertahwid maka hukumnya berdosa. Oleh karenanya wajib bagi setiap muslim belajar ilmu tajwid walaupun belajarnya fardu kifayah akan tetapi pengaplikasian ilmu tajwid dalam membaca al-Quran itu hukumnya fardu Aian.( Artinya setiap perindividu/seorang ketika membaca Al-Qur’an bertajwid ia berpahala dan jika tidak bertajwid maka ia berdosa). Apa itu ilmu Tajwid ? Ilmu tajwid adalah ilmu yang dipergunakan untuk mengetahui keluarnya huruf (makhorijul huruf ), sifat-sifat huruf, dan bacaan- bacaannya. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Jazariy dalam syairnya;
والأخذ بالتجويد حتم لازم # من لم بجود القرآن آثم لأنه به الإله أنزل # وهاكذا منه إلينا وصلا
Artinya:” Adapun menggunakan ilmu tajwid adalah wajib hukumnya bagi setiap pembaca Al-Qur’an , maka barang siapa yang membaca Al-Qur’an tanpa tajwid adalah dosa,karena bahwa sanya Allah menurunkan Al-Qur’an dengan tajwid. Demikian yang sampai kepada kita.Adalah dari Allah ( dengan secaramutawatir).
Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda:
سمى قارئ القرآن بغير تجويد فاسقا
Artinya:” Beliau menyebut pembaca Al-Qur’an tanpa memakai tajwid itu adalah fasik.
Jawaban No.2
Lebih utama membaca tartil dari pada membaca cepat tanpa dengan tajwid. Dalilnya adalah sebagaimana ayat tersebut diatas. Karena tartil itu banyak mengandung arti bisa bacaan pelan-pelan dengan memelihara sifatnya huruf dengan bertajwid juga merenungkan makna yang tersiarat dalam ayat yang dibaca. Oleh karenanya penting dalam membaca itu harus memperhatikan adab-adabnya ( Tata Krama ) yang diantaranya membaca Tawwudh, Tartil, memikirkan makna, dll. Kenapa harus beradab..? karena yang dibaca itu adalah Kalamullah yang harus dijungjung tinggi dan dimulyakan . Para ulama ahli Al-Qur’an telah mengatur secara baik dan tertib tatak krama dalam menghormati dan mengagungkan Al-Qur’an. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin.
فالقارئ ينبغي أن يحضر فى قلبه عظمة المتكلم ويعلم أنما يقرءه ليس من كلام البشر.
Artinya:” Sudah sepantasnya pada diri orang yang membaca Al-Qur’an untuk menghadirkan dalam hatinya akan keagungan Allah. Dan mengetahui bahwa apa yang sedang dibacanya itu bukanlah dari perkataan manusia.
Allah berfirman dalam al-Qur’an.
أفلايتدبر القرآن أم على قلوب أقفالها.
Artinya:” Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an atau hati mereka yang terkunci. ( QS.Muhammad; 24)
(كتاب التمهيد في علم التجويد). للشيخ إبن الجزرى
وأما الترتيل فهو مصدر من رتل فلان كلامه، إذا أتبع بعضه بعضاً على مكث، والاسم منه الرتل، والعرب تقول: ثغر رتل، إذا كان مفرقاً لم يركب بعضه بعضاً، قال صاحب العين: رتلت الكلام تمهلت فيه. وقال الأصمعي: في الأسنان الرتل، وهو أن يكون بين الأسنان الفرج، لايركب بعضها بعضاً. وحده: ترتيب الحروف على حقها في تلاوتها، بتلبث فيها. الفصل الثاني في معنى قوله تعالى: ” ورتل القرآن ترتيلاً “ سئل علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – عن هذه الآية، فقال: الترتيل هو تجويد الحروف، ومعرفة الوقوف. وروى ابن جريج، عن مجاهد، أنه قال: أي ترسل فيه ترسلاً. وروى جبير عن الضحاك: أي أنبذه حرفاً حرفاً. وروى مقسم عن
ابن عباس: أي بينه تبيينا. وقال علماؤنا: أي تلبث في قراءته، وأفصل الحرف من الحرف الذي بعده، ولا تستعجل فتدخل بعض الحروف في بعض. ولم يقتصر – سبحانه وتعالى – على الأمر بالفعل حتى أكده بمصدره، تعظيما لشأنه، وترغيبا في ثوابه. وقال تعالى ﴿ورتلناه ترتيلاً﴾ أي أنزلناه على الترسل، وهو المكث، وهو ضد العجلة، وقال تعالى: ﴿وقرآناً فرقناه لتقرأه على الناس على مكث﴾ أي على ترسل. الفصل الثالث الفرق بين التحقيق والترتيل الترتيل يكون للتدبر والتفكر والاستنباط. والتحقيق يكون لرياضة الألسن، وترقيق الألفاظ الغليظة، وإقامة القراءة، وإعطاء كل حرف حقه، من المد والهمز والإشباع والتفكيك، ويؤمن معه تحريك ساكن واختلاس حركه. وتفكيك الحروف وفكها بيانها وإخراج بعضها من بعض بيسر وترسل، ومن ذلك فك الرقبة، وفك الأسير، لأنه إخراجهما من الرق والأسر، وكذا فك الرهن هو إخراجه من الارتهان، وفك الكتاب هو استخراج ما فيه، وفك الأعضاء هو إخراجها من مواضعها. قال الداني: الفرق بين الترتيل والتحقيق أن الترتيل يكون بالهمز وتركه والقصر لحرف المد والتخفيف والاختلاس، وليس ذلك في التحقيق. وكذا قال أبو بكر الشذائي.
Untuk lebih jelas nya kami rinci antara bacaan tartil dan cepat.
Ada empat macam tempo bacaan yang telah disepakati ahli tajwid, yaitu :
1.At-Tartil, yaitu membaca Al-Qur’an dengan tempo lambat/pelan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu tajwid, serta memperhatikan ma’nanya. Tempo bacaan inilah yang paling bagus, karena sesuai dengan perintah Allah dalam Surat Al-Muzammil.sebagaimana ayat tersebut diatas. 2.At-Tahqiq, yaitu membaca Al-Qur’an dengan tempo lebih lambat dari tartil, tempo bacaan ini lazim di gunakan dalam mengajarkan bacaan Al-Qur’an. 3.At-Tadwir, yaitu membaca Al-Qur’an dengan tempo pertengahan, yaitu tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lambat (antara Tartil dan Hadr). Ukuran bacaan yang digunakan dalam tadwir adalah ukuran pertengahan, yaitu jika ada pilihan memanjangkan bacaan boleh 2, 4, atau 6 maka tadwir memilih yang 4. 4.Al-Hadr, yaitu membaca Al-Qur’an dengan cepat, namun tetap memelihara hukum-hukum tajwid. Cepat disini biasanya menggunakan ukuran terpendek selagi di bolehkan, seperti membaca mad jaiz dengan 2 harokat.
Syekh Al-Ahwazi pernah ditanya tentang bacaan “Al-Hadr”, beliau menjawab : “Al-Hadr adalah bacaan yang murah, yang enak kata-katanya, namun tidak membuat orang yang membacanya keluar dari tabiat orang arab pedalaman dan pembicaraan orang-orang yang fashih setelah membaca dengan salah satu riwayat dari salah seorang imam dari beberapa imam qiro’ah berdasarkan ketentuan dalam hukum mad, hamzah, qoth’, washol, tasydid, takhfif, imalah, tafkhim, ikhtilas dan ishba’ . Jika kaedah-kaedah tersebut dilanggar maka ia dianggap orang yang bersalah”.
Imam Malik Rodhiyallohu ‘anhu juga pernah ditanya mengenai membaca dengan cara “al-hadr” ketika membaca al-qur’an, beliau menjawab : “Sebagian orang jika ia membaca dengan cepat itu lebih mudah baginya, sedangkan jika ia membaca dengan tartil malah salah, jadi semua tergantung dari bacaan mana yang dianggap mudah, dan ini adalah hal yang diluaskan (boleh memilih)”.
Al-Qodhi Abul Walid Ath-Thorthusyi menjelaskan bahwa yang dimaksud dari perkataan Imam Malik tersebut adalah dianjurkan bagi setiap orang untuk membaca al-qur’an sesuai dengan kebiasaannya dan yang dianggap mudah baginya,sebab bila seseorang disuruhuntuk membaca dengan cara lain yang sulit baginya itu malah akan membuatnya berhenti membaca al-qur’an atau berhenti memperbanyak dalam membaca al-qur’an.
Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa membaca al-qur’an dengan cepat, dalam istilah ilmu tajwid dinamakan “al-hadr”, dan bacaan seperti itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan jika memang seseoarang merasa lebih mudah membaca dengan cara tersebut, dengan ketentuan selama orang yang membaca dengan cara tersebut tetap menjaga agar bacaannya tidak menyalahi aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam ilmu tajwid.Akan tetapi jika sebaliknya membaca cepat tapi tidak ber tajwid maka hukumnya berdosa. Wallohu A’lam
Referensi :
Al-Amid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 11
Fiqhu Qiro’atil Qur’an, Hal : 48-49
At-Tamhid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 50
Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 15
Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 17 Ibarot : Al-Amid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 11
أما مراتب القراءة فأربع، وهىالتحقيق: وهو القراءة بتؤدة وطمأنينة، بقصد التعليم مع تدبر المعانى ومراعاة الأحكامالترتيل: وهو القراءة بتؤدة وطمأنينة، لا بقصد التعليم مع تدبر المعانى، ومراعاة الأحكامالتدوير: وهو القراءة بحالة متوسطة بين التؤدة والسرعة مع مراعاة الأحكام.الحدر: وهو القراءة بسرعة، مع مراعاة الأحكام. وهى فى الفضل والأولوية حسب هذا الترتيب
Fiqhu Qiro’atil Qur’an, Hal : 48-49
فائدة فى مراتب القراءة وللقراءة بحسب الصفة التى سبق الإشارة إليها ثلاث مراتب: الترتيل، التدوير، الحدرفالترتيل: هو قراءة القرآن بتؤدة، وطمأنينة مع تدبر المعانى، وتجويد الحروف، ومراعاة الوقوف، وهذه المرتبة هى أفضل المراتب الثلاث لقوله تعالى: وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًاوالتدوير: هو قراءة القرآن بحالة متوسطة بين الاطمئنان والسرعة مع مراعاة أحكام التجويد.
وهى تلى الترتيل فى الأفضليةأما الحدر: فهو قراءة القرآن بسرعة بشرط المحافظة على الأحكام أيضا.ذكر بعض العلماء مرتبة رابعة وهى مرتبة (التحقيق).وقالوا بأنها أكثر تؤدة وأشد اطمئنانا من مرتبة (الترتيل) وهى تستحسن فى مقام التعليم.وهذه المراتب كلها جائزة، لمن أراد أن يقرأ كتاب الله. والله أعلم
At-Tamhid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 50
الفصل الرابع: في كيفية التلاوةكتاب الله تعالى يقرأ بالترتيل والتحقيق، وبالحدر والتخفيف وبالهمز وتركه، وبالمد وقصره، وبالبيان والإدغام، وبالإمالة والتفخيم.وإنما يستعمل الحدر والهدرمة، وهما سرعة [القراءة] مع تقويم الألفاظ، وتمكين الحروف، لتكثر حسناته، إذ كان له بكل حرف عشر حسنات. وأن ينطق القارئ بالهمز من غير لكز، والمد من غير تمطيط، والتشديد من غير تمضيغ، والإشباع من غير تكلف هذه القراءة التي يقرأ بها كتاب الله تعالى
Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 15
وأما الحدر : فهو مصدر من حدر بالفتح يحدر بالضم اذا أسرع فهو من الحدور الذى هو الهبوط لأن الإسراع من لازمه. وهو عندهم عبارة عن إدراج القراءة وسرعتها مع مراعاة أحكام التجويد من إظهار وإذغام وقصر ومد ووقف ووصل وغير ذلك مع ملاحظة الجائز من الوقوف, إذ مراعاة الوقف والإبتداء وجوبا وامتناعا وحسنا وقبحا على ما يأتى بيانه من محاسن القراءة تزيدها رونقا وبهاءوسئل الأهوازى عن الحدر, فقال : الحدر هو القراءة السمحة العذبة الألفاظ التى لا تخرج القارئ عن طباع العرب العرباء وعما تكلمت به الفصحاء بعد أن يأتي بالرواية عن إمام من أئمة القراءة على ما نقل عنه من المد والهمز والقطع والوصل والتشديد والتخفيف والإمالة والتفخيم والإختلاس والإشباع, فإن خالف شيأ من ذلك كان مخطئا- الى أن قال- وهذاالنوع وهو الحدر مذهب من قصر المنفصل كابن كثير وقالون وأبى عمرو ويعقوب وأبى جعفر والاصبهانى عن ورش
Nihayatul Qoul Al-Mufid Fi Ilmit Tajwid, Hal : 17
وسئل مالك رضي الله عنه عن الحدر فى القران, فقال : من الناس من إذا حدر كان أخف عليه وإذا رتل أخطأ والناس فى ذلك على ما يخف وذلك واسعوقال القاضى أبو الوليد الطرطوشى : معنى هذا أنه يستحب لكل إنسان ما يوافق طبعه ويخف عليه فربما يكلف غير ذلك مما يخالف طبعه فيشق عليه ويقطعه ذلك عن القراءة أو الإكثار منها والله أعلمُ بالـصـواب
Assalamualaikum wr.wb Deskripsi masalah. Saya bekerja atau bisnis berlokasi dikota Bali ketika saya mengirim barang jualan (ayam) ke- Bali lalu pelanggan saya minta tolong/menyuruh saya agar membelikan sebagian peralatan sembahyang-Nya.
Pertanyaannya. Bagaimana hukumnya membatu membelikan peralatan sembahyangan-Nya orang Bali,?
Jawaban: Hukumnya membelikan peralatan sembahyang-Nya orang Bali itu adalah maksiat /haram. Alasannya ialah karena hal itu termasuk membantu kepada perbuatan maksiat ( dosa ).
Referensi:
من اعان على معصية ولو بشطر كلمة كان شريكا له فيها
Artinya:” Barangsiapa yang membantu terhadap perbuatan maksiat,walaupun dengan separuh kalimat,maka orang itu bersekutu didalam perbuatan maksiat itu. al-Hadits au kama qaal
Dan karena termasuk kepada maksiatnya anggota badan.
اسعاد الرفيق جزء 2 ص 127 ومنها أي من معاصى البدن الاعانة على المعصية أي على معصية من معاصى الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كبيرة كانت الاعانة عليها كذالك كما في الزواجر قال فيها وذكري لهذين أي الرضا بها والاعانة عليها باي نوع كان ظاهر معلوم مما سيأتـي في الامر بالمعروف والنهي عن المنكر
_ “ Di antara maksiat tubuh adalah ikut menolong (terlibat) peristiwa maksiat-maksiat yang dimurkai Allah, baik berupa ucapan, perbuatan dan lain-lain. Jika maksiat tadi tergolong dalam dosa besar, maka dosa yang didapat dari keterlibatannya pun juga besar, seperti dijelaskan dalam kitab Zawajir.
Dan juga karena dikiaskan (disamakan) dengan: menjual nasi kepada Non Muslim dibulan Ramadhon, dan tolong menolong dalam meminum khamar.
Referensi:
مراد صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق.ص ٤٩
وكحرمة بيع الطعام لكافر مكلف إذا علم أو ظن أنه يأكله نهار رمضان لأن ذلك إعانة على المعصية.
Artinya:” Sebagaimana juga diharamkan menjual makanan kepada Orang kafir yang sudah mukallaf ( balik dan berakal ) , Jika diketahui pasti ada diduga akan dimakan disiang hari dibulan Ramadhon . Keharaman tersebut karena termasuk menolong kepada kemaksiatan.
Artinya: “Allah melaknat khamar, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya, dan orang yang meminta diantarkan.” (Hadits Riwayat Abu Daud, no. 3674 dan Ibnu Majah no. 3380. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan). Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menegaskan haramnya menjadi pencatat bagi dua orang yang bertransaksi riba dan menjadi saksi dalam transaksi tersebut. Hadits ini juga menunjukkan haramnya tolong menolong dalam kebatilan(perbuatan dosa).” (Syarh Shahih Muslim, 11:23)
Apa yang di namakan air musta’mal menurut 4 madzhab?
Berapakah ukuran air dua qollah menurut 4 madzhab?
Terima kasih banyak
Wassalamu alaikum wr wb.
Waalaikum salam.
Jawaban No.1 Yang dinamakan air musta’mal menurut madzhab yang empat sebagai mana keterangan dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah dan fiqih madzahibul arba’ah adalah sebagai berikut:
الموسوعة الفقهية – 18221/31949
وصرح المالكية بأن الماء إذا استعمل في رفع حدث أو في إزالة حكم خبث فإنه يكره استعماله بعد ذلك في طهارة حدث كوضوء أو اغتسال مندوب لا في إزالة حكم خبث، والكراهة مقيدة بأمرين: أن يكون ذلك الماء المستعمل قليلا كآنية الوضوء والغسل، وأن يوجد غيره، وإلا فلا كراهة، كما يكره عندهم الماء اليسير – وهو ما كان قدر آنية الوضوء أو الغسل فما دونها – إذا حلت فيه نجاسة قليلة كالقطرة ولم تغيره، قال الدسوقي: الكراهة مقيدة بقيود سبعة: أن يكون الماء الذي حلت فيه النجاسة يسيرا، وأن تكون النجاسة التي حلت فيه قطرة فما فوقها، وأن لا تغيره، وأن يوجد غيره، وأن لا يكون له مادة كبئر، وأن لا يكون جاريا، وأن يراد استعماله فيما يتوقف على طهور، كرفع حدث حكم خبث ووضوء أو غسل مندوب، فإن انتفى قيد منها فلا كراهة. ومن المكروه أيضا: الماء اليسير الذي ولغ فيه كلب ولو تحققت سلامة فيه من النجاسة، وسؤر شارب الخمر. وعند الشافعية الماء المكروه ثمانية: المشمس، وشديد الحرارة، وشديد البرودة، وماء ديار ثمود إلا بئر الناقة، وماء ديار قوم لوط، وماء بئر برهوت، وماء أرض بابل، وماء بئر ذروان. والمكروه عند الحنابلة: الماء المتغير بغير ممازج، كدهن وقطران وقطع كافور، أو ماء سخن بمغصوب أو بنجاسة، أو الماء الذي اشتد حره أو برده، والكراهة مقيدة بعدم الاحتياج إليه، فإن احتيج إليه تعين وزالت الكراهة. وكذا يكره استعمال ماء البئر الذي في المقبرة، وماء في بئر في موضع غصب، وما ظن تنجسه، كما نصوا على كراهة استعمال ماء زمزم في إزالة النجاسة دون طهارة الحدث تشريفا له (1) .
ج – ماء طاهر في نفسه غير مطهر، وهو عند الحنفية الماء المستعمل، وعرفوه بأنه: ما أزيل به حدث أو استعمل في البدن على وجه القربة، ولا يجوز استعماله في طهارة الأحداث، بخلاف الخبث، ويصير مستعملا عندهم بمجرد انفصاله عن الجسد ولو لم يستقر بمحل (1) . وعند جمهور الفقهاء – المالكية والشافعية والحنابلة – هو: الماء المغير طعمه أو لونه أو ريحه بما خالطه من الأعيان الطاهرة تغيرا يمنع إطلاق اسم الماء عليه، وهو كذلك عند الشافعية: الماء المستعمل في فرض الطهارة ونفلها على الجديد. وصرح جمهور الفقهاء – المالكية والشافعية والحنابلة – بأن هذا النوع لا يرفع حكم الخبث أيضا، وعند الحنفية يرفع حكم الخبث
Menurut ulama Hanafiyah: Air musta’mal adalah air yang membasahi tubuh saja dan bukan air yang tersisa di dalam wadah. Misalnya, air yang menetes dari tubuh sebagai sisa wudhu atau mandi ke dalam wadah. Menurut madzhab ini, air musta’mal hukumnya suci tapi tidak bisa digunakan lagi untuk wudhu atau mandi hadas karena sifatnya tidak menyucikan.
Menurut ulama Malikiyah: Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk mengangkat ( menghilangkan) hadas baik wudhu atau mandi. Ulama madzhab ini berpendapat serupa dengan madzhab Hanafiyah, bahwa air musta’mal adalah air yang menetes dari tubuh.
Menurut ulama Syafi’iyyah: Air musta’mal adalah air sedikit yang telah digunakan untuk mengangkat (menghilangkan) hadats didalam kewajiban bersuci dari hadats. Menurut golongan ini, air menjadi musta’mal apabila jumlahnya sedikit dan bekas digunakan untuk berwudhu atau mandi hadats.
Air Mustakmal Menurut Madzhab Syafi’i rinciannya sebagai berikut dalam kitab:
الفقه علي المذاهب الأربعة للجزير (41/334)
11 – الماء المستعمل عند الشافعية : هو الماء القليل المستعمل في فرض الطهارة عن حدث كالغسلة الأولى فيه , أو في إزالة نجس عن البدن أو الثوب , أما نفل الطهارة كالغسلة الثانية , والثالثة فالأصح في الجديد أنه طهور .
ويفرق الشافعية بين القليل الذي لا يبلغ قلتين , وبين الكثير الذي يبلغ قلتين فأكثر . فيرون في المذهب الجديد : أن القليل من الماء المستعمل طاهر غير طهور , فلا يرفع حدثا ولا يزيل نجسا لأن السلف الصالح كانوا لا يحترزون عنه ولا عما يتقاطر عليهم منه ولأن السلف الصالح – مع قلة مياههم – لم يجمعوا الماء المستعمل للاستعمال ثانيا بل انتقلوا إلى التيمم , كما لم يجمعوه للشرب لأنه مستقذر . فإن جمع الماء المستعمل فبلغ قلتين فطهور على الأصح .
واختلف في علة منع استعمال الماء المستعمل , قال الشربيني : وهو الأصح : لأنه غير مطلق كما صححه النووي وغيره .
فإن جمع المستعمل على الجديد فبلغ قلتين فطهور في الأصح لأن النجاسة أشد من الاستعمال , والماء المتنجس لو جمع حتى بلغ قلتين أي ولا تغير به صار طهورا قطعا , فالمستعمل أولى , ومقابل الأصح لا يعود طهورا لأن قوته صارت مستوفاة بالاستعمال فالتحق بماء الورد ونحوه وهو اختيار ابن سريج .
ويقول الشيرازي : الماء المستعمل ضربان : مستعمل في طهارة الحدث , ومستعمل في طهارة النجس .
فأما المستعمل في طهارة الحدث فينظر فيه : فإن أستعمل في رفع حدث فهو طاهر , لأنه ماء طاهر لاقى محلا طاهرا , فكان طاهرا , كما لو غسل به ثوب طاهر .
ثم قال : وأما المستعمل في النجس فينظر فيه : فإن انفصل من المحل وتغير فهو نجس لقوله صلى الله عليه وسلم : « إن الماء لا ينجسه شيء إلا ما غلب على ريحه وطعمه ولونه » .
وإن كان غير متغير ففيه ثلاثة أوجه : أحدها : أنه طاهر , وهو قول أبي العباس وأبي إسحاق لأنه ماء لا يمكن حفظه من النجاسة فلم ينجس من غير تغير كالماء الكثير إذا وقعت فيه نجاسة .
والثاني : أنه ينجس , وهو قول أبي القاسم الأنماطي لأنه ماء قليل لاقى نجاسة , فأشبه ما وقعت فيه نجاسة .
والثالث : أنه إن انفصل والمحل طاهر فهو طاهر , وإن انفصل والمحل نجس , فهو نجس . وهو قول أبي العباس بن القاص لأن المنفصل من جملة الباقي في المحل : فكان حكمه في النجاسة والطهارة حكمه .
Air Mustakmal Menurut Madzhab Syafi’i
Fikih pada empat doktrin Al-Jazir (41/334)
11 – Air musta’mal ( air yang digunakan ) menurut Syafi’i: adalah air yang sedikit yang digunakan dalam melaksanakan kewajiban bersuci dari hadats seperti basuhan yang pertama di dalam bersuci dari hadats, atau digunakan dalam menghilangkan kenajisan dari tubuh atau pakaian. Adapun kesunnahan thoharah (bersuci) adalah seperti basuhan yang kedua, dan basuhan yang ketiga maka yang paling shohih didalam qoul jadi ia adalah suci (maksudnya air yang kedua dan yang ketiga itu suci).
Syafi’i membedakan antara air yang sedikit yang tidak mencapai dua qalla , dan air yang banyak yang mencapai dua qalla atau lebih dari qalla. Mereka melihat dalam pendapatnya Syafi’i yang baru: bahwa air yang sedikit dari air yang digunakan adalah suci namun tidak mensucikan, sehingga tidak dapat menghilangkan hadats dan tidak pula menghilangkan najis, karena ulama salaf (pendahulu) yang saleh tidak berhati-hati/ memelihara tentang air yang sedikit dan karena tidak adanya air yang menetes darinya. Dan dikarenakan ulama salaf itu sedikit dalam menggunakan banyak air mereka tidak mengumpulkan air yang musta’mal untuk dipergunakan yang kedua kali bahkan mereka berbalik/pindah kepada bertayammum, sebagaimana mereka tidak mengumpulkan air untuk minum dikarenakan air musta’mal itu menjijikan.
Maka jika air musta’mal itu dikumpulkan kemudian sampai dua qalla maka hukumnya suci Menurut qaul Ashoh. Dan Ulama berbeda pendapat tentang alasan larangan/ tercegahnya menggunakan air musta’mal Assyarbiniy berkata : ia adalah yang paling shohih karena air musta’mal itu bukanlah air mutlak, sebagaimana Imam Nawawi dan yang lainnya telah membenarkannya..
Jika air yang telah dipakai dikumpulkan pada yang baru dan mencapai dua qallah, maka suci menurut pandangan yang lebih benar, karena najisnya lebih parah dari penggunaan, dan air yang najis jika dikumpulkan hingga mencapai dua qalla, yaitu dengan tidak adanya perubahan, maka ia menjadi suci secara mutlak , maka adapun air musta’mal adalah lebih utama, dan sebagai ganti yang lebih benar dianggap tidak suci karena kekuatannya telah terpenuhi oleh pemakaian, maka ditambahkan air mawar dan sejenisnya, yang merupakan pilihan Ibnu Surayj.
Al-Shirazi mengatakan: Air yang digunakan ada dua jenis: digunakan untuk mensucikan hadats, dan digunakan untuk mensucikan najis.
Adapun air musta’mal (apa yang digunakan) dalam bersuci dari najis, maka harus diperhatikan: jika digunakan untuk menghilangkan najis, maka suci, karena air yang murni/suci yang memenuhi tempat yang suci, maka itu suci, sebagamana seseorang itu menyirami air pada pakaian yang suci.
Kemudian dia berkata: Adapun air musta’mal (apa yang digunakan) dalam hal yang najis, harus dipertimbangkan: Jika terpisah / lepas dari tempatnya sementara berubah, maka air itu najis karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada yang menjadikan air najis kecuali yang mengalahkan bau, rasa, dan warnanya.”
Jika tidak berubah, maka ada tiga aspek padanya: Salah satunya adalah murni ( suci ) yang merupakan pandangan Abu al-Abbas dan Abu Ishaq, karena itu adalah air yang tidak dapat dilestarikan dari najis, dan tidak menjadi najis tanpa perubahan, seperti air yang melimpah jika kenajisan jatuh ke dalamnya.
Dan yang kedua: menjadi najis, sebagaimana sabda Abu al-Qasim al-Anmati, karena sedikit air yang terkena najis, maka seperti najis yang jatuh ke dalamnya.
Dan yang ketiga: Jika dipisahkan dan objeknya bersih, maka itu suci, dan jika dipisahkan dan objeknya tidak suci, maka airnya tidak suci. Dan itu adalah perkataan Abi Al-Abbas bin Al-Qas, karena yang terpisah adalah dari sisa tempat di tempat itu: jadi aturannya dalam hal kenajisan dan kesucian air itu adalah aturannya.Artinya aturanya air itu mengikuti terhadap opjeknya.
Menurut ulama Hanabilah: Air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci dari hadas (kecil dan besar) atau menghilangkan najis.
Hukum Menggunakan Air Musta’mal:
Secara umum, hukum menggunakan air musta’mal terbagi menjadi dua, antara lain:
Pertama: Dijelaskan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad dalam kitab yang berjudul Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah, menurut ulama Hanafiyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah air musta’mal suci, namun tidak bisa menyucikan. Sedangkan menurut ulama Malikiyyah, air musta’mal tetap bisa mensucikan, namun makruh hukumnya jika di dalamnya terdapat air lain yang bukan musta’mal.
Kedua: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di juga menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Irsyad Ulil Bashair li Nailil Fiqhi, air musta’mal yang bisa dipakai untuk menghilangkan najis harus dilihat pada perubahan sifat airnya (warna, bau, dan rasa). Jika salah satu sifatnya berubah oleh najis, ia dihukumi sebagai najis. Namun jika tidak demikian, maka statusnya suci.
Dalil yang Menyucikan Air Musta’mal
Merujuk kitab yang berjudul Mausu’ah Fiqhiyyah Muyassarah karya Syaikh Husain Al ‘Awaisyah, berikut ini adalah dalil-dalil yang menyebutkan bahwa air musta’mal statusnya suci dan bukan najis. Pertama: Para sahabat ber-tabarruk dengan air bekas wudhu Nabi Muhammad SAW. Jika air musta’mal najis, tentu tidak akan diperebutkan oleh para sahabat dan pasti dilarang oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Dari Al Miswar radhiallahu’anhu, ia berkata:
Artinya: “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, mereka (para sahabat) hampir-hampir saling membunuh (karena memperebutkan) bekas wudhu beliau.” (HR. Bukhori). Kedua: Jika bangkai anjing, kain pembalut wanita, dan kotoran tidak menajiskan keseluruhan air (tidak ada perubahan warna, rasa dan baunya), maka air tersebut bukanlah najis. Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, ia berkata:
عن أبي سعيد الخدري –رضي الله عنه– قال: سمعتُ رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وهو يُقال له: إِنَّه يُستقى لك مِن بئر بُضاعة –وهي بئر يُلقى فيها لحوم الكلاب والمحايض وعُذَر النَّاس– فقال رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: “إِنَّ الماء طهور، لا ينجِّسه شيء“
Artinya: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ditanya mengenai air yang diambil dari sumur bidha’ah, yaitu sumur yang biasa dibuang bangkai anjing, kain pembalut dan kotoran. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “air itu suci, tidak bisa dinajiskan dengan apapun.” (HR. Tirmidzi). Ketiga: Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
وعن أبي هريرة –رضي الله عنه– قال: لقيني رسول الله – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وأنا جُنُب، فأخذ بيدي، فمشيتُ معه حتى قعد، فانْسَلَلْتُ فأتيتُ الرحل فاغتسلتُ، ثمَّ جئت وهو قاعد، فقال: “أين كنتَ يا أبا هرّ؟ “. فقلتُ له ، فقال: “سبحان الله يا أبا هرّ! إِنَّ المؤمن لا ينجُس“.
Artinya: “Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menemuiku saat aku sedang dalam keadaan junub. Lalu beliau memegang tanganku dan berjalan bersamaku hingga sampai di suatu tempat, kami duduk. Lalu aku menyelinap pergi, aku pulang dan mandi. Kemudian aku datangi beliau, saat itu beliau masih sedang duduk. Beliau bertanya, “kemana engkau wahai Aba Hirr?”. Lalu aku pun menyampaikan alasanku tersebut. Seketika beliau bersabda: “Subhaanallah! Wahai Aba Hirr, sesungguhnya sesama Mukmin itu tidak saling menajisi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jawaban No. 2 Sebelumnya perlu diketahui bahwa air itu dibagi dua: 1- Air sedikit yaitu air yang tidak sampai dua qulla 2- Air banyak yaitu air yang sampai ukuran dua qullah. Nah berapakah ukuran air dua qullah mari kita lihat keterangan ibarah berikut dlm kitab Kasyifatus Saja:
(فصل)
في الماء الذي لا يدفع النجاسة والذي يدفعها قال (الماء) في قانون الشرع قسمان (قليل وكثير، القليل ما دون القلتين) بأن نقص منهما أكثر من رطلين (والكثير قلتان فأكثر) من محض الماء يقيناً ولو مستعملاً ، وقدرهما بالوزن خمسمائة رطل بالبغدادي التي هي أربعة وستون ألف درهم ومائتانوخمسة وثمانون درهماً وخمسة أسباع درهم إذ كل رطل بغدادي مائة وثمانية وعشرون درهماً وأربعة أسباع درهم
Adapun Fasal ini adalah menjelaskan tentang air yang tidak dapat menolak kenajisan dan yang dapat menolaknya. Syeh Salim bin Sumair al-Khadromi berkata bahwa [air] menurut kaidah syariat dibagi menjadi dua, yaitu : 1.Air yang sedikit 2.Air yang banyak. Air sedikit adalah air yang kurang dari dua kulah sekiranya kurangnya dari dua kulah tersebut adalah lebih banyak dari dua kathi. Sedangkan air banyak adalah air dua kulah atau lebih, dengan catatan air tersebut adalah air murni secara yakin meskipun berupa air musta’mal Ukuran timbangan air dua kulah adalah 500 Rithl Baghdad yang sama dengan 64. 285 dirham lebih 5/7 dirham karena per Rithl Baghdad adalah 128 dirham lebih 4/7dirham.
وبالمكي أربعمائة رطل واثنا عشر رطلاً وثلاثة عشر درهماً وخمسة أسباع درهم على أن الرطل مائة وستة وخمسون درهماً أفاد ذلك العلامة محمد صالح الرئيس.وبالطائفيِّ مائة وستة وتسعون درهم نبّه على ذلك عبد اﷲ المَرْغَنِي فى مفتاح فلاحِ المبتدئِ. وبالمصري أربعمائة رطل وستة وأربعون رطلاً وثلاثة أسباع رطل. وبالدمشقي مائة وسبعة أرطال وسبع رطل
Adapun dengan ukuran Rithl Mekah, maka dua kulah adalah 412 rithl lebih 13 dirham lebih 5/7 dirham dengan alasan karena per rithl adalah 156 dirham. Demikian ini disebutkan oleh Muhammad Sholih ar-Rois. Adapun dengan ukuran rithl Thoif, maka dua kulah adalah 327 rithl lebih 2/3 rithl, karena setiap rithl Thoif adalah 196 dirham, seperti yang ditanbihkan oleh Abdullah al-Murghini di dalam kitab Miftah Fallah al-Mubtadi. Adapun dengan rithl Mesir, dua kulah adalah 446 rithl lebih 3/7rithl. Adapun dengan rithl Damaskus, maka dua kulah adalah 107 rithl lebih 1/7rithl.33
33 Satu Dirham menurut Imam Tsalatsah: 0,715 Gr Air dua kulah: Menurut an-Nawawi : 55,9 cm3 =174,580 Ltr Menurut ar-Rofi’i: 56,1 Cm3 = 176,245 Ltr Menurut Ahli Iraq : 63,4 Cm3 = 245,325 Ltr Menurut Aktsarinnas : 60 Cm3 =187,385 Ltr
وقدرهما بالمساحة في المربع ذراع وربع طولاً وعرضاً وعمقاً بذراع الآدمي وهو شبران تقريباً وفي المدور ذراعان عمقاً بذراع الحديد وذراع عرضاً بذراع الآدمي فكان ذلك بذراع اليدذراعاً عرضاً وذراعين ونصفاً عمقاً لأن ذراع الحديد بذراع الآدمي ذراع وربع وفي المثلث وهو ماله ثلاثة أبعاد متساوية ذراع ونصف طولاً وعرضاً وذراعان عمقاً بذراع الآدمي فالعرض هو ما كان بين الركنين والطول هو الركنان الآخران
Ukuran dua kulah menurut ukuran ruang kubus adalah dengan panjang, lebar, dan tinggi 1 ¼ dzirok dengan ukuran dzirok anak Adam, yaitu kurang lebih dua jengkal. Dua kulah menurut ukuran ruang lingkaran adalah dengan tinggi 2 dzirok tukang besi, dan diameter 1 dzirok anak Adam. Dengan demikian, dengan ukuran dzirok tangan anak Adam, maka dua kulah adalah dengan diameter 1 dzirok dan tinggi 2 ½ dzirok karena dzirok tukang besi dengan dzirok anak Adam selisih 1 ¼ dzirok. Ukuran dua kulah dalam ruang segi tiga sama sisi adalah dengan panjang dan lebar 1 ½ dzirok dan tinggi 2 dzirok dengan ukuran dzirok anak Adam. Lebar adalah bagian antara dua sisi sedangkan panjang adalah bagian 2 sisi yang lain.³⁴ Sedangkan menurut Kitab at-Tadzhib Fi Adillati Matni Abi Syujak, Dr. Mushtofa Daib al-Bagho menuliskan bahwa ukuran dua kulah adalah kurang lebih 190 Ltr. 34 Satu Dzirok al-Mu’tadil: Menurut Aktsarinnas : 48 cm Menurut al-Makmun : 41, 666625 cm Menurut an-Nawawi : 44,720 cm Menurut ar-Rofii : 44,820 cm
(القليل) حكمه (يتنجس بوقوع النجاسة) المُنَجِّسَةِ يقيناً (فيه وإن لم يتغير) لمفهوم قوله صلى اﷲ عليه وسلّم إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل خبثاً وفي رواية نجساً إذ مفهومُه أن مادونهما يحمل الخبث
Hukum air sedikit. Adapun air sedikit, Artinya hukumnya air sedikit dapat menjadi najis karena kejatuhan najis yang menajiskan secara yakin didalamnya ,walaupun tidak berubah, karena pemahaman sabda Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama: “Ketika air mencapai dua kulah maka tidak mengandung kotoran,”dan dalam riwayat lain, kata kotoran diganti dengan kata najis. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa air yang kurang dua kulah dapat mengandung najis.
وخرج بالنجاسة المنجسة النجس المعفو عنه كميتة لا دم لها سائل ونجس لا يدركهطرف معتدل حيث لم يحصل بفعله ولو من مغلظ كما إذا عف الذباب على نجسرطب ثم وقع في ماء قليل أو مائع فإنه لا ينجس مع أنه علق في رجله نجاسة لا يدركهاالطرف وما على منفذ حيوان طاهر غير آدمي وروث سمك لم يغير الماء ولم يضعه فيهعبثاً وما يماسه العسل من الكوارة التي تجعل من روث نحو البقر وجرة البعير وألحق به فمما يجتر من ولد البقر والضأن إذا التقم أخلاف أمه وفم صبي تنجس ثم غاب واحتملطهارته كفم الهرة فإنه لا ينجس الماء القليل وذرق الطيور في الماء وإن لم يكن منطيوره وبعر فأرة عم الابتلاء به وبعر شاة وقع في اللبن حال الحلب وما يبقى في نحوالكرش مما يشق تنقيته والقليل من دخان النجاسة ولو من مغلظ وهو المتصاعد منهابواسطة نار واليسير من الشعر المنفصل من غير مأكول غير مغلظ والكثير منه منمركوب والقصاص والدم الباقي على اللحم والعظم الذي لم يختلط بشيء كما لو ذبحتشاة وقطع لحمها وبقي عليه أثر الدم بخلاف ما لو اختلط بغيره كما يفعل في البقر التيتذبح في المحل المعد لذبحها الآن من صب الماء عليها لإزالة الدم عنها فإن الباقي منالدم على اللحم بعد صب الماء لا يعفى عنه وإن قل لاختلاطه بأجنبي فليتنبه له
Najis-najis yang dima’fu’ Mengecualikan dengan pernyataan najis yang menajiskan adalah najis ma’fu atau najis yang dimaafkan (pada air), seperti; bangkai yang tidak mengalirkan darah (sekiranya ketika disobek jasadnya, seperti; lalat, kecoa, dan lain-lain) najis yang tidak dapat dilihat oleh pandangan mata biasa, sekiranya najis tersebut tidak terlihat setelah berusaha melihatnya, meskipun najis tersebut adalah najis mugholadzoh, misalnya; ada lalat hinggap di atas najis yang basah, kemudian lalat itu jatuh ke dalam air sedikit atau benda cair, maka air sedikit atau benda cair tersebut tidak najis meskipun pada kaki lalat itu ada najis yang tidak dapat terlihat oleh mata. Najis yang berada di alat kelamin hewan yang suci selain milik anak Adam. Kotoran ikan yang tidak sampai merubah sifat-sifat air (rasa, bau, dan warna) dengan tidak dijatuhkan secara sengaja. Bahan sarang lebah madu yang berasal dari kotoran sapi dan muntahan unta. Disamakan dengan sarang lebah ini adalah mulut binatang, seperti anak sapi dan kambing, ketika disuapi oleh induknya. Mulut anak laki-laki kecil (shobi) yang terkena najis, kemudian ia pergi dan dimungkinkan sudah suci, seperti mulut kucing, maka tidak menajiskan air sedikit. Kotoran burung yang berada di air meskipun itu bukanlah termasuk burung-burung air dan kotoran tikus dimana keduanya biasa mengenai air sedikit (‘Amaa al-Ibtilak Bihi) Kotoran kambing yang jatuh ke dalam susu ketika diperah. Kajis yang masih tetap berada di perut kecil binatang memamah biah, yaitu najis yang sulit dibersihkan najis sedikit yang berasal dari asap najis meskipun najis mugholadzoh, maksudnya asap yang naik dari najis akibat bakaran api, rambut atau bulu sedikit yang terlepas dari binatang yang tidak halal dimakan selain biatang mugholadzoh, dan bulu banyak yang berasal dari binatang tunggangan dan tukang potong bulu kambing, dan darah yang masih ada pada daging dan tulang yang darah tersebut tidak bercampur dengan yang lain, seperti; ada kambing disembelih, kemudian dagingnya di potongpotong, kemudian masih ada sisa-sisa darah pada daging, berbeda apabila darah sudah bercampur dengan yang lain maka tidak dima’fu, seperti yang dilakukan pada sapi yang disembelih di tempat penjagalan yang biasa digunakan sebagai tempat menyembelih, kemudian daging sapi itu dituangi air guna menghilangkan darahnya, maka darah yang tersisa pada daging dihukumi tidak ma’fu meskipun darah yang tersisa adalah sedikit karena sudah tercampur dengan yang lainnya, yaitu air. Ingatlah ini!
والضابط في جميع ذلك أن العفو منوط بما يشق الاحتراز عنه غالباً المعتمد أنه لا يعفى عن دم البراغيث والقمل ونحوه بالنسبة للمائع والماء القليل وإن قلالدم دون الماء الكثير ولو قتل قملاً أو براغيث بين أصابعه فإن كان الدم الحاصل كثيرً الم يعف عنه أو قليلاً عفي عنه على الأصح هذا وخرج بدخان النجاسة بخارها وهو المتصاعد منها لا بواسطة نار فهو طاهر ومنهالريح الخارج من الكنف أو من الدبر فهو طاهر فلو ملأ منه قربة وحملها على ظهرهوصلى ا صحت صلاته
Dan adapun patokan (palanggeren:red) atau kaidah dalam najis-najis ma’fu ( pada airsedikit) di atas adalah bahwa hukum ma’fu didasarkan pada kesulitanmenghindari najis pada umumnya.
Menurut pendapat mu’tamad disebutkan bahwa tidaklah dima’fu darah nyamuk, kutu, dan lainnya jika terjatuh ke benda cair atau air sedikit, meskipun darah itu sedikit. Berbeda apabila darah binatang tersebut jatuh ke air yang banyak. Apabila ada seseorang membunuh kutu atau nyamuk dengan jari-jarinya, maka apabila darah yang keluar itu banyak maka darah tersebut tidak dima’fu, dan apabila darah tersebut sedikit maka dihukumi ma’fu menurut pendapat Ashoh.
Mengecualikan dengan najis ma’fu yang berupa asap najis yang keluar dari bakaran api adalah asap najis yang keluar bukan karena bakaran api, maka asap ini dihukumi suci. Dan angin (bau) yang keluar dari jamban atau dubur dihukumi suci. Apabila ada geriba dipenuhi dengan angin tersebut, kemudian seseorang memanggulnya, kemudian ia sholat dengan membawa geriba tersebut, maka sholatnya sah.
(والماء الكثير لا يتنجس) بملاقاته النجاسة (إلا إذا تغير طعمه) وحده (أو لونه) وحده(أو ريحه) وحده أي عقب ملاقاته النجاسة فلو تغير بعد مدة لم يحكم بنجاسته ما لم يُعلَم بقول أهل الخُبْرَةِ نسبةُ تغيرِه إليها وخرج بالملاقاة ما لو تغير بريح النجاسة التي على الشطِّ لقُربِها منه فإنه لا ينجُس لعدم الاتصال بل لمجرَّدِ استِرْوَاحٍ
Hukum Air Banyak
Dan adapun air yang banyak adalah air yang tidak menjadi najis sebab terkena najis [kecuali rasanya] saja [telah berubah atau warnanya] saja [atau baunya] saja dimana perubahan tersebut terjadi setelah air banyak itu terkena najis. Apabila air banyak (terkena najis), beberapa waktu kemudian, air tersebut baru berubah, maka tidak dihukumi najis selama tidak diketahui dengan perkataannya orang yang ahli mengerti menisbatkan berubah nya air disebabkan oleh najis. Dan keluar dengan pernyataan sebab terkena najis adalah apabila ada najis di dekat air banyak, karena saking dekatnya, bau najis tersebut menyebabkan air banyak menjadi berubah, maka air banyak yang telah berubah tersebut tidak dihukumi najis karena tidak ada unsur pertemuan antara keduanya, tetapi hanya sebatas membaui.
والمراد بالمتغير كل الماء أما إذا غيرت النجاسة بعضه دون باقيه وكان هذا الباقي قلتين فإنه لا ينجس بل النجس هو المتغير فقط ولا يجب التباعد فيه عن النجاسة بقدر قلتين بل يجوز الاغتراف من جانبها
Dan adapun yang dimaksud dengan air mutanajis yang berubah adalah setiap air, sekiranya air . Apabila najis hanya merubah sebagian air dan tidak merubah sebagian air yang lain maka apabila sebagian air yang lain yang tidak berubah adalah dua kulah maka tidak dihukumi mutanajis. Sedangkan sebagian air yang berubah dihukumi mutanajis. Tidak wajib menjauhkan didalam sisa air yang tidak najis dengan ukuran dua kulah bahkan boleh mencibuk air dari sisi najisnya.
ولا فرق في التغير بالنجس بين الكثير واليسير ولا بين كونه بالمخالط أو المُجاور ولا بين المستغنى عنه وغيرِه ولا بين الميتة التي لا يسيل دمها وغيرها لغلظ أمر النجاسة ولو كان التغير تقديرياً بأن وقع في الماء نجس يوافقه في صفاته كالبول المنقطع الرائحة واللون والطعم فيقدر مخالفاً أشد الطعم طعم الخل واللون لون الحبر والريح ريح المسك فلو كانالواقع قدر رطل من البول المذكور فنقول لو كان الواقع قدر رطل من الخل هل يغيرطعم الماء أو لا؟ فإن قال أهل الخبرة يغيره حكمنا بنجاسته وإن قالوا لا يغيره نقول لوكان الواقع قدر رطل من الحبر هل يغير لون الماء أم لا؟ فإن قالوا يغيره حكمنا بنجاسته وإن قالوا لا يغيره نقول لو كان الواقع قدر رطل من المسك هل يغير ريحه أولا؟ فإن قالوا يغيره حكمنا بنجاسته وإن قالوا لا يغيره حكمنا بطهارته هذا إذا كان الواقع فقدت فيه الأوصاف الثلاثة فإن فقد بعضها حال وقوعه ولم يغيِّر فيُفرَضُ المفقودُ فقط لأن الموجود إذا لم يغيِّر فلا معنى لفرضه.
Dan tidak ada perbedaan dalam perubahan sebab najis antara air yang banyak dan air yang sedikit, dan begitu juga tidak ada perbedaan perubahan tersebut sebab najis yang mencampuri (larut) atau hanya berdampingan (tidak larut), dan tidak ada perbedaan air itu biasa terhindar dari najis atau tidak, dan tidak ada perbedaan baik najis tersebut berupa bangkai yang tidak mengalirkan darahnya ataupun tidak, karena beratnya masalah najis, dan meskipun perubahan tersebut bersifat taqdiri atau mengira-ngirakan, seperti; air kejatuhan sebuah najis yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan air, seperti air kencing yang sudah hilang bau, warna, dan rasa, maka dikira-kirakan air tersebut berubah dengan rasa cuka, warna tinta, dan bau misik, kemudian, apabila air kencing yang mengenai air sebanyak satu kati, maka kita mengatakan, “Apabila cuka sebanyak satu kati menjatuhi air tersebut, maka apakah air tersebut berubah rasanya atau tidak? Apabila ahli khibroh mengatakan, ‘Berubah,’ maka kita menghukumi air tersebut najis. Kemudian apabila mereka mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka kita bertanya, ‘Apabila tinta sebanyak satu kati menjatuhi air tersebut maka apakah warna air berubah atau tidak?’ Apabila mereka berkata, ‘Berubah,’ maka kita menghukumi air tersebut najis, dan apabila mereka mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka kita bertanya lagi, ‘Apabila misik satu kati menjatuhi air tersebut maka apakah bau air tersebut berubah atau tidak?’ Apabila mereka berkata, ‘Berubah,’ maka kita menghukumi air tersebut najis, dan apabila mereka berkata, ‘Tidak berubah,’ maka kita baru menghukumi air tersebut suci.” Perkiraan di atas adalah apabila najis yang mengenai air tidak diketahui sifat-sifatnya yang berjumlah tiga (bau, rasa, dan warna). Apabila sebagian sifat tidak diketahui ketika mengenai air, maka hanya dikira-kirakan sifat yang tidak diketahui tersebut karena tidak ada berarti ( fungsi ) bagi kefaduannya (menentukannya).
وأما المتغير كثيرً ا يقيناً بشيء مخالط بأن لم يمكن فصله أو لم يتميز في رأي العين طاهرمستغنى عنه بأن سهل صونه عنه وليس تراباً وملح ماء طرحا فيه تغيرًاً يمنع إطلاق اسم الماء عليه فهو غير مطهر ولو كان الماء قلتين ما لم يكن الخليط ماء مستعملاً
Dan adapun air yang berubah banyak secara yakin sebab benda yang mencampurinya, sekiranya tidak memungkinkan dapat memisahkan perubahan tersebut dari air atau air tidak dapat dibedakan menurut pandangan mata ( sederhananya kita mengatakan perubahan tersebut larut dalam air ), dimana benda tersebut adalah suci dan dapat dihindarkan dari air sekiranya mudah ( bagi kita) menjaga air dari benda tersebut, dan benda tersebut bukanlah debu atau garam air yang sengaja dibuang ke dalamnya, dimana perubahannya adalah perubahan yang dapat mencegah kemutlakan air, maka air yang berubah ini tidak mensucikan meskipun dua kulah selama benda yang mencampuri air bukanlah air mustakmal. Sedangkan apabila benda yang mencampurinya adalah air mustakmal maka air yang dikenainya serta air mustakmalnya adalah suci mensucikan apabila campuran keduanya mencapai dua kulah.
ولو كان التغير تقديرياً بأن اختلط بالماء ما يوافقه في صفاته كماء الورد المنقطع الرائحة والطعم واللون فيقدر مخالفاً وسطاً بين أعلى الصفات وأدناها الطعم طعم الرمان واللون لون العصير والريح ريح اللاذن بفتح الذال المعجمة وهو اللِّبَّان الذكر كما هو المشهوروقيل هي رطوبة تعلو شَعَرَ المعز وقِشْرَها أي إِنَّا نَعْرِضُ عليه مغيِّرَ اللون مثلاً فإن حكم أهل الخُبْرَة بتغيره سَلَبْنَا الطهوريّة وإلا عرضنا مغيرَ الطعم ثم مغيرَ الريح كذلك، فلايُعرض عليه الثاني إلا إذا لم يحكم بالتغيير بالأول ولا الثالث إلا إذا لم يحكم بالتغير بالثاني
Dan apabila perubahan pada air mutaghoyyir adalah perubahan yang taqdiri (secara perkiraan), misal; air tercampuri benda yang memiliki kesamaan sifat dengan air itu sendiri, seperti air mawar yang hilang bau, rasa, dan warna, maka kita mengira-ngirakannya dengan perkiraan yang perbedaan yang sedang antara sifat-sifat yang tinggi dan rendah. Kita mengira-ngirakan sifat rasa dengan rasa delima, sifat warna dengan warna anggur, dan sifat bau dengan bau libban(minnyan arab). Maksudnya kita mengira-ngirakan dengan mengatakan, “[1] Apabila air tersebut terjatuhi anggur maka apakah warna air tersebut berubah? Apabila ahli khibroh mengatakan, ‘Berubah,’ maka air tersebut tidak mensucikan. Apabila mereka mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka [2] apakah rasa air tersebut berubah bila terjatuhi delima? Apabila mereka mengatakan, ‘Berubah’ maka air tersebut tidak mensucikan. Apabila mereka mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka [3] apakah air tersebut berubah bau ketika terjatuhi libban(minnyan arab)? Apabila mereka mengatakan, ‘Berubah’ maka air tersebut tidak mensucikan. Apabila mereka mengatakan, ‘Tidak berubah,’ maka air tersebut dihukumi (suci) yang mensucikan. Dengan demikian, perkiraan nomer [2] tidaklah ditanyakan kecuali ketika perkiraan [1] tidak merubah air, dan perkiraan nomer [3] tidaklah ditanyakan ketika perkiraan [2] tidak merubah air
وخرج مما ذكر التغيرُ اليسير والشك في كثرة التغير والتغير باالمجاور وهو ما يتميز في رأي العين أو ما يمكن فصله كدهن وعود ولو مطيِّبَيْنِ أو بغير مستغنًى عنه سواء كان خِلْقِياًّ في الأرض كطين وإن مَنَعَ الاسمَ أو مصنوعاً فيها كذلك بحيث يشبه الخِلقيَّ كالفساقي المعمولة بالجِيْر وكالقرَب المدبوغة بالقَطِرَانِ ولو مخالطاً ولو كثيرًاً لأنه وضعلإصلاحها فإن الماء في هذه الصور كلها مطهروالقطران بفتح القاف مع كسر الطاء وسكوا وبكسرها مع سكون الطاء دهن شجريطلى به الإبل للجرب ويسرج به بخلاف مالو وضع لإصلاح الماء فإنه غير مطهرلاستغناء الماء عنه، ومما لا يستغني الماء عنه غير الممرية والمقرية ما يقع من الأوساخ المنفصلة من أرجل الناس من غسلها في الفساقي والمنفصلة من بدن المنغمس فإا لا تسلب الطهورية نبه على ذلك السويفي
Dan keluar dari barang yang telah disebutkan apa perubahan air yang sedikit, perubahan air yang berubah banyak tetapi perubahannya tersebut masih diragukan ,berubahnya air sebab benda yang menyandinginya (tidak larut), yaitu perubahan yang dapat dibedakan oleh pandangan mata, atau perubahan yang masih dapat dipisahkan dari air, seperti; air terkena minyak dan kayu yang meskipun keduanya memiliki bau wangi, dan perubahan sebab benda yang air tidak dapat terhindarkan darinya, baik asli muncul dari tanah, seperti lumpur, meskipun perubahan tersebut mencegah kemutlakan air, atau benda tersebut buatan (bukan asli) dari tanah, meskipun perubahannya juga mencegah kemutlakan air, sekiranya yang buatan ini menyerupai yang asli, seperti saluran air mancur yang terbuat dari kapur, dan seperti geriba yang terbuat dari ter, meskipun mencampuri air dan merubahnya dengan perubahan banyak karena air yang dialirkan pada saluran dan geriba ini adalah untuk mengawetkannya. Dengan demikian, air-air dalam contoh di atas semuanya adalah suci mensucikan. Lafadz ‘القطران’ dengan fathahnya huruf /ق/, kasroh atau sukun pada huruf /ط/, atau kasroh pada huruf /ق/ dan sukun pada huruf /ط/ berarti minyak pohon yang dioleskan pada unta untuk mengobati sakit kudis dan untuk mempercantiknya, berbeda dengan benda yang dimasukkan ke dalam air agar mengawetkan air, bukan air yang mengawetkan benda itu, maka hukum airnya adalah suci tidak mensucikan karena air dapat dihindarkan darinya. Termasuk benda yang air tidak dapat dihindarkan darinya, selain benda yang ada di tempat mengalir air dan tempat salurannya, adalah kotoran-kotoran yang berasal dari kaki orang-orang yang dibasuh dalam suatu saluran tertentu, dan kotoran yang terpisah dari tubuh orang yang menyelam ( berenang ), maka kotoran-kotoran ini tidak dapat menghilangkan sifat mensucikannya air, demikan ini disebutkan oleh Suwaifip.
وخرج أيضاً التغير بتراب وملح ماء طرحا فيه ولو كان التغيرما كثيرًاً وبمكثه لأنه لميخالطه شيء فإن الماء في هذا مطهر، وكذا لو تغير بانضمام ماء مستعمل إليه فبلغ به قلتين فيصير مطهر اً وإن أثر في الماء بفرضه مخالفاً وسطاً ، واعلم أن التقدير المذكور مندوب لا واجب، فلو هجم شخص واستعمل الماء أجزأذلك إذ غاية الأمر أنه شاك في التغير المضر والأصل عدمه
Dan keluar juga ( dikecualikan juga),”Apa perubahan” maksudnya air yang berubah dihukumi suci mensucikan, yaitu air yang berubah dengan perubahan yang disebabkan oleh debu atau garam air yang sengaja dibuang ke dalamnya, meskipun perubahan tersebut banyak, dan perubahan yang disebabkan oleh lamanya diam karena tidak tercampur oleh apapun sehingga air yang berubah semacam ini adalah suci mensucikan. Begitu juga, air yang berubah sebab air mustakmal yang dicampurkan dengannya, kemudian campuran tersebut mencapai dua kulah, maka air campuran ini adalah suci mensucikan meskipun jika diperkirakan dengan perkiraan sedang, air mustakmal tersebut merubah air yang dicampurinya
Ketahuilah! Sesungguhnya mengira-ngirakan yang disebutkan di atas adalah hukumnya sunah, tidak wajib. Apabila seseorang dengan langsung menggunakan air yang tercampur oleh air mustakmal tersebut maka sudah mencukupi baginya karena hakikatnya adalah bahwa ia ragu tentang perubahan yang membahayakan air sedangkan asalnya adalah tidak adanya perubahan tersebut.
(اعلم) أن الماء الجاري كالراكد فيما مر لكن العبرة في الجاري بالجِرْيَة نفسِها لا مجموعِ الماء فإن الجريات متفاصلة حكماً وإن اتصلت في الحس لأن كل جرية طالبة لما قبلهاهاربة عما بعدها
( Ketahuilah! ) Sesungguhnya hukum-hukum air yang mengalir adalah seperti hukum-hukum air yang diam tenang seperti yang telah disebutkan. Akan tetapi, adapun yang dihitung dalam air yang mengalir adalah aliran air itu sendiri, bukan seluruh air, karena aliran-aliran air itu saling terpisah secara hukum meskipun secara kasat mata terlihat saling sambung menyambung. Alasan mengapa-aliran-aliran air saling terpisah secara hukum adalah karena masing-masing aliran mengalir maju hendak mengenai bagian depannya dan menjauh dari bagian belakangnya.
فإن كانت الجِرْيَة ُوهي الدفعة التي بين حافتي النهر في العرض دون القلتين تنجس بملاقاة النجاسة سواء تغير أم لا ويكون محل تلك الجرية من النهر نجساً ويطهر بالجرية بعدها ويكون في حكم غسالة النجاسة حتى لو كانت مغلظة فلا بد من سبع جريات عليها ومن الترتيب أيضاً في غير الأرض الترابيّة، هذا في نجاسة تجري في الماء، فإن كانت جامدة واقفة فذلك المحل نجس وكل جرية تمربها نَجِسَةٌ إلى أن يجتمع قلتان منه في موضع كَفَسْقِيَةٍ مثلاً فحينئذ هو طهور إذا لم يتغيربها ويلغز به فيقال لنا ماء ألف قُلَّةٍ غيرُ متغير وهو نَجِسٌ أي لأنه ما دام لم يَجتمِع فهو نجس وإن طال محل جَرْيِ الماءِ والفرض أن كل جرية أقل من قلتين، وأما الذي لم يمر عليها وهو الذي فوقها فهو باق على طهوريته
Maka apabila sealiran air yang mengalir yang berada di antara dua sisi sungai kurang dari dua kulah maka dapat menjadi najis karena mengenai najis, baik berubah atau tidak, dan tempat atau medan aliran tersebut juga najis. Kemudian medan aliran tersebut dapat suci dengan terbasuh oleh aliran setelah aliran yang pertama tadi. (Suci tidaknya) tempat atau medan aliran tersebut disesuaikan dalam hukum basuhan najis sehingga apabila najisnya adalah najis mugholadzoh maka harus adanya tujuh aliran yang membasuh najis tersebut dan wajib adanya unsur tercampur debu apabila tempat atau medan aliran air bukanlah medan yang berdebu. Hukum medan aliran air pertama yang suci dengan basuhan aliran air setelahnya ini adalah apabila najisnya ikut hanyut terbawa arus aliran air. Sedangkan apabila najis yang mengenai adalah najis keras yang diam di dalam air maka medan aliran air menjadi najis dan setiap aliran yang melewatinya pun dihukumi najis hingga apabila air terkumpul dalam satu muara dan mencapai dua kulah, seperti tampungan air mancur, maka air tersebut baru dihukumi suci mensucikan ketika tidak mengalami perubahan sebab najis yang mengenainya tadi. Dari rincian hukum di atas, kami para ulama Fiqih memiliki pernyataan teka-teki (bek-tebbeken), “Kami memiliki air sebanyak 1000 kulah yang tidak berubah karena dikenai najis, tetapi hukum air sebanyak itu adalah najis,” maksudnya, air yang mengaliri najis yang diam selama air tersebut belum terkumpul dalam satu muara maka tetap dihukumi najis meskipun medan aliran sangatlah panjang, dan perkiraannya adalah bahwa setiap aliran air (yang melewati najis tersebut) adalah lebih sedikit dari dua kulah. Adapun aliran air yang tidak mengalir mengenai najis, yaitu aliran air yang berada di atas najis, maka dihukumi tetap sebagai air suci yang mensucikan.
)مسألة) لنا جماعة يلزمهم تحصيل بولهم لطهرهم وذلك فيما لو كان عندهم ماء قلتان) فأكثر ولا يكفيهم لطهرهم ولو كمل ببول وقدر مخالفاً أشد لم يغيره فيلزمهم خلطهواستعمال جميعه وإنما احتيج للتقدير مع عدم تغيره حساً لإمكان تغيره تقديرًاً وهو مضرأيضاً
[SATU PERSOALAN] Ada sebuah jamaah yang wajib atas mereka untuk buang air kencing dan mengumpulkannya untuk digunakan bersuci, maksudnya, pernyataan ini terjadi dalam kasus apabila mereka mendapati air dua kulah atau lebih, tetapi air tersebut tidak cukup bagi mereka untuk bersuci, maka apabila air tersebut dicampurkan dengan air kencing mereka, kemudian dikira-kirakan dengan perkiraan yang paling berat dan ternyata air kencing itu tidak sampai merubah air, maka wajib bagi mereka mencampurkan air kencing ke dalam air banyak itu dan wajib menggunakannya untuk bersuci. Adapun dalam kasus ini dibutuhkan adanya mengira-ngirakan padahal air kencing tersebut secara kasat mata tidak merubah air, karena masih adanya kemungkinan perubahan secara kira-kira juga. Dan perubahan secara kira-kira ini juga berbahaya, dalam artian dapat menajiskan air.
الموسوعة الفقهية – 82/31949
المذهب، على أن الكثير ما بلغ قلتين فأكثر، (1) لحديث إذا بلغ الماء قلتين لم ينجسه شيء وفي رواية: لم يحمل الخبث (2) . وإن نقص عن القلتين برطل أو رطلين فهو في حكم القلتين. (3)
7 – إذا اختلط بماء البئر طاهر، مائعا كان أو جامدا، وكانت البئر مما يعتبر ماؤها قليلا، تجري عليه أحكام الماء القليل المختلط بطاهر، ويرجع في تحديد الكثرة والقلة إلى تفصيلات المذاهب في مصطلح (مياه) .
انغماس الآدمي في ماء البئر: 8 – اتفق فقهاء المذاهب على أن الآدمي إذا انغمس في البئر، وكان طاهرا من الحدث والخبث، وكان الماء كثيرا، فإن الماء لا يعتبر مستعملا، (1) والقلتان خمسمائة رطل بغدادي تقريبا. والرطل البغدادي 128 درهما وأربعة أسباع الدرهم في الأصح كما في نهاية المحتاج 3 / 72. ومساحة القلتين ذراع وربع طولا وعرضا وعمقا في الموضع المربع المستوى الأبعاد الثلاثة بذراع الآدمي وهو شبران، والشبر كما في معجم متن اللغة 1 / 88 يساوي 24 سم. ومساحة القلتين في المدور ذراع عرضا، وذراعان عمقا بذراع النجار في العمق، وذراع الآدمي في العرض. وذراع النجار ذراع وربع بذراع الآدمي كما في فتح المعين بحاشية إعانة الطالبين 1 / 31 ط مصطفى الحلبي. وقدر الحنابلة القلتين بأربع قرب، وفي ظاهر المذهب أنها خمس قرب كل قربة مائة رطل عراقي، فتكون القلتان خمسمائة رطل (معجم الفقه الحنبلي 2 / 906،871 ط الكويت.) (2) حديث: ” إذا بلغ الماء. . . ” رواه بالأولى ابن ماجه عن ابن عمر، وبالثانية أحمد وغيره عنه (الفتح الكبير 1 / 91 ط مصطفى الحلبي) وفيه كلام طويل كما في (تلخيص الحبير 1 / 16 – 20 ط الفنية) وقد صححه ابن خزيمة وابن حبان وغيرهما. انظر (فيض القدير 1 / 313) (3) فتح المعين بحاشية إعانة الطالبين 1 / 31، وشرح الإقناع 1 / 30 ط أنصار السنة.
Diskripsi masalah. Hidup sering kali berjalan pada arah yang tidak disangka-sangka. Sebagaimana yang dialami pak Mahmud, Setelah sekian lama menjalani kehidupan yang penuh kegetiran, tak disangka jika pada akhirnya ia bisa menjadi seorang konglomerat. Suatu hari, pak Mahmud teringat dengan kedua orang tuanya yang telah meninggal. Merasa ingin berbakti pada mereka, pak Mahmud berinisiatif untuk menghajikan kedua orang tuanya.
Pertanyaan: Bagaimana hukum menghajikan orang yang telah meninggal, baik meninggal sebelum mampu berhaji , atau setelah mampu berhaji?
Jawaban: Diperinci sebagai berikut:
-Jika ia meninggal setelah mampu berhaji (istitho’ah) dan meninggalkan harta (tirkah) yang cukup digunakan haji atau digunakan untuk menyewa orang untuk haji dengan upah standar, maka hukum menghajikannya adalah wajib.
-Jika ia meninggal setelah mampu berhaji (istitho’ah), namun tidak meninggalkan harta yang cukup, atau ia meninggal sebelum istitho’ah(sebelum mampu melakukan haji) maka hukum menghajikannya adalah sunnah.
-Jika haji yang digantikan adalah haji sunnah, seperti haji kedua kalinya yang tidak dinadzari, maka tidak sah menggantikan hajinya kecuali jika ada wasiat sebelum meninggal dunia.
Referensi:
(تحفة المحتاج وحواشي الشرواني والعبادي الجزء الرابع ص: ۳۱ طبعة دار الفكر)
Assalamualaikum. Menunaikan ibadah Haji kebaitullah merupakan rukun Islam yang ke lima, dimana setiap muslim/muslimah yang berakal sehat serta mampu biaya mulai berangkat hingga kembali pulang berkewajiban untuk menunaikannya.Sebagaimana yang kita maklumi dimasyarat bahwa ketika seseorang ingin berangkat haji mereka mengadakan walimah/selamatan bahkan tidak hanya ketika berangkat melainkan juga setelah pulang pun mereka mengadakan walimah, karena tujuan saling memohon do’a biddo’a baik do’a dari undangan sebelum berangkat maupun do’a dari orang yang haji setelah pulang/datang dari makkah karena doanya orang haji dimaqbul.
Pertanyaannya. 1-Apa hukumnya mengadakan walimah..? 2- Berapa lama (hari) doanya orang yang haji itu dimaqbul….? Mohon Penjelesannya Kiyai..? Waalaikum salam
Jawaban .No.1 Mengadakan walimah/selamatan pemberangkatan Haji dan setelah kedatangannya hukumnya adalah sunnah,begitu juga walimatul Ursy, Hitan, Aqiqoh . Berikut do’a untuk orang yang haji
Imam al-Hakim meriwayatkan sebuah hadis dari Sahabat Abi Hurairah yang beliau nilai sahih, bahwa Nabi Muhammad pernah berdoa: « اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ » Ya Allah, ampunilah jamaah haji dan orang yang jamaah haji meminta ampunan untuknya (HR. al-Hakim dan al-Baihaqi). Imam al-Munawi menyatakan, hadis ini menunjukkan kemuliaan orang yang telah melaksanakan haji. Selain itu, dari hadis ini dapat diambil pemahaman bahwa dianjurkan meminta doa kepada orang yang telah berhaji, agar diberi ampunan oleh Allah dari berbagai macam dosa (Faidul Qadir/2/129).
Jawaban No.2. Batas waktu terijabahnya /maqbulnya do’a orang yang haji oleh Allah Subhanahu wataala mulai datang adalah 40.hari .
Referensi:
المجموع شرح المهذب – 7989/9792
قال المصنف رحمه الله تعالى:
باب الوليمة والنثر
الطعام الذى يدعى إليه الناس ستة: الوليمة للعرس، والخرس للولادة، والاعذار للختان، والوكيرة للبناء، والنقيعة لقدوم المسافر، والمأدبة لغير سبب ويستحب ما سوى الوليمة لما فيها من إظهار نعم الله والشكر عليها، واكتساب الاجر والمحبة، ولا تجب، لان الايجاب بالشرع ولم يرد الشرع بإيجابه. وأما وليمة العرس فقد اختلف أصحابنا فيها فمنهم من قال: هي واجبة وهو المنصوص لما روى أنس رضي الله عنه قال (تزوج عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: أولم ولو بشاة) ومنهم من قال: هي مستحبة لانه طعام لحادث سرور، فلم تجب كسائر الولائم، ويكره النثر لان التقاطه دناءة وسخف، ولانه يأخذه قوم دون قوم ويأخده من غيره أحب. (الشرح) حديث أنس رضي الله عنه رواه أحمد والبخاري ومسلم وأصحاب السنن الاربعة والدارقطني ونصه (أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى على عبد الرحمن بن عوف أثر صفرة فقال ما هذا؟ قال: تزوجت إمرأة على وزن نواة من ذهب قال: بارك الله لك أولم ولو بشاة) ولم يقل أبو داود (بارك الله لك) وقد روى أحمد والشيخان من حديث أنس قال (ما أولم النبي صلى الله عليه وسلم على شئ من نسائه ما أولم على زينب. أولم بشاة) وعن أنس (أن النبي صلى الله عليه وسلم أولم على صفية بتمر وسويق) اخرجه اصحاب السنن إلا النسائي، واخرجه ابن حبان، واخرج البخاري مرسلا عن صفية بنت شيبة (أولم النبي صلى الله عليه وسلم على بعض نسائه بمدين من شعير) وعن أنس في قصة صفية أن النبي صلى الله عليه وسلم (جعل وليمتها التمر والاقط والسمن) أخرجه الشيخان، وفى رواية عندهما ومسند أحمد (أقام بين خيبر والمدينة ثلاث ليال يبنى بصفيه فيدعون المسلمين إلى وليمته ما كان فيها خبزولا لحم وما كان فيها إلا أن أمر بالانطاع فبسطت فألقى عليها التمر والاقط والسمن، فقال المسلمون: إحدى أمهات المؤمنين أو ما ملكت يمينه؟ فقالوا: إن حجبها فهى إحدى أمهات المؤمنين وإن لم يحجبها فهى مما ملكت يمينه، فلما ارتحل وطأ لها خلفه ومد الحجاب. أما اللغات: فإن الوليمة مشتقة من الولم وهو الجمع، لان الزوجين يجتمعان هكذا قال الازهرى، وقال ابن الاعرابي: اصلها تمام الشئ واجتماعه وتقع على كل طعام يتخذ لسرور وتستعمل في وليمة الاعراس بلا تقييد وفى غيرها مع التقييد فيقال مثلا وليمة مأدبة هكذا قال بعض الفقهاء وحكاه في الفتح عن الشافعي وأصحابه وحكى المصنف وابن عبد البر عن أهل اللغة وهو المنقول عن الخليل وثعلب، وبه جزم الجوهرى وابن الاثير أن الوليمة هي الطعام في العرس خاصة، قال ابن رسلان: وقول أهل اللغة أقوى، لانهم أهل اللسان، وهم أعرف بموضوعات اللغة وأعرف بلسان العرب والخرس وزان قفل طعام يصنع للولادة، والعذر والاعذار لغة فيه يقال عذرت الغلام والجارية من باب ضرب أي ختنته وقد يكون الاعذار خاص بالطعام في الختان وعذرة الجارية بكارتها، والوكيرة مأخوذة من وكر الطائر وهو عشه ووكر الطائر يكر من باب وعد اتخذ وكرا، ووكر صنع الوكيرة والنقيعة طعام يتخذ للقادم من السفر، وقد أطلقت النقيعة على ما يصنع عند الاملاك وهو التزويج. وقال ابن بطال: النقيعة مأخوذة من النقع وهو النحر يقال نقع الجزور إذا نحرها، ونقع حبيبه شقه قال المرار: نقعن جيوبهن على حيا
الخرس والاعذار والنقيعه وقال آخر: إنا لنضرب بالسيوف رؤوسهموأعددن المراثى والعويلا وفى خبر تزويج خديجة بالنبي صلى الله عليه وسلم قال أبو خديجة وقد ذبحوا بقرة عند ذلك، ما هذه النقيعه، وقد جمع الشاعر هذه الاطعمه المذكورة حيث قال.كل الطعام تشتهى ربيع
ضرب القدار نقيعة القدام والقدار الجزار والطعام الذى يتخذ يوم سابع الولادة يسمى العقيق ويسمى الطعام الذى يتخذ لسبب ومن غير سبب مأدبة بضم الدال، وبفتحها التأديب، وفى الاثر الجوع مأدبة الله في أرضة، إذا ثبت هذا فقد أخذ بالوجوب المالكيه نقله القرطبى عن مذهبه ثم قال، ومشهور المذهب أنها مندوبه، وروى ابن التين الوجوب عن مذهب أحمد لكن الذى في المغنى أنها سنه، وكذلك حكى الوجوب الرويانى في البحر عن أحد قولى الشافعي وحكاه ابن حزم عن أهل الظاهر، وقال سليم الرازي إنه نص الام. وحكى المصنف الوجوب عن نص الام، وحكاه في فتح الباري عن بعض الشافعية، وبهذا يظهر ثبوت الخلاف في الوجوب، وقد قال ابن بطال لا أعلم أحدا أو جبها وليس هذا صحيحا، وكذا قال ابن قدامه، ومن جملة أدلة من أوجبها ما أخرجه الطبراني من حديث وحشى بن حرب مرفوعا (الوليمة حق وسنه فمن دعى إليها فلم يجب فقد عصى) وأخرج أحمد من حديث بريدة قال (لما خطب على فاطمة قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إنه لا بد للعروس من وليمه) قال الحافظ وسنده لا بأس به، وفى صحيح مسلم (شر الطعام طعام الوليمة ثم قال وهو حق) قال في الفتح، وقد اختلف السلف في وقتها هل هو عند العقد أو عقبه، أو عند الدخول أو عقبه، وسيأتى بيان ذلك. وحكى الشيخ أبو حامد في التعليق في الوليمة قولين وأكثر أصحابنا حكاهما وجهين، أحدهما واجبه لحديث (أولم ولو بشاة) وروي أن النبي صلى الله عليه وسلم أولم على صفيه بسويق وتمر. ولانه لما كانت الاجابة إليه واجبه كان فعلها واجبا. والثانى أنها تستحب ولا تجب لقوله صلى الله عليه وسلم (ليس في المال حق سوى الزكاة) ولانه طعام عند حادث سرور فلم يكن واجبا كسائر الاطعمه وأما فعل النبي صلى الله عليه وسلم فمحمول على الاستحباب، وأما ما ذكره من الاجابة فيبطل بالسلام فانه لا يجب، وإجابته واجبه، وقد حكى الصيمري وجها ثالثا أن الوليمة فرض على الكفايه، فإذا فعلها واحد أو اثنان في الناحية والقبيلة وشاع في الناس وظهر سقط الفرض عن الباقين، وظاهر النص هو الاول، واقل المستحب في الوليمة للمتمكن شاة لحديث (أولم ولو بشاة) فان نقص عن ذلك جاز لوليمة صفيه والسويق والتمر أقل من شاه في العادة.
Referensi:
حاشية قليوبي وعميرة .ج ٢ ص ١٥١ (خاتمة) يندب أن يحج الرجل بأهله وأن يحمل هدية معه وأن يأتي إذا عاد من سفر ولو قصيرا بهدية بأهله وأن يرسل لهم من يخبرهم بقدومه إن لم يعلموا به وإن لايطرقهم ليلا وأن يقصد أقرب مسجد فيصلى فيه ركعتين سنة القدوم وأن يصنع أهله وليمة تسمى النقيعة وأن يتلقوه كغيرهم وأن يقال له إن كان حاجا أو معتمر تقبل الله لك حجك أو عمرتك وغفر ذنبك وأخلف عليك نفقتك ، أو غازيا الحمد لله الذي نصرك وأكرمك وأعزك .ويندب للحاج الدعاء لغيره بالمغفرة وإن لم يسأله ولغير سؤال الدعاء منه بها، وذكروا أن ذلك يمتدّ أربعين يوما من قدومه فراجعه. والله أعلم بالصواب. Demikian jawaban untuk Ust.Abd.Hamid Aceh.
Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh Nyabis pamator ka’ dintoh “akadhih ponaph hukumah oreng melaksanakan nadzarnya yg berupa makanan dan orang yang bernadzar tersebut memakan sebagian dr pada nadzarnya ( makanan yg telah dinadzarkan) Contoh. “Kalau saya mendapatkan uang biasiswa (2jt) maka seratus ribu akan aku buat bakar bakar”(sedekah).
Pertanyaannya
Apakah saya (yang bernadzar) boleh memakan dari uang yang seratus..buat bakar-bakar ?
Waalaikum salam.
Jawaban. Kalau melihat dari contoh sebagaimana deskripsi adalah Nadzarnya berbentuk muallaq atau dzimmah , maka ketika harapannya seseorang itu tercapai, seharusnya dia wajib mengeluarkan uangnya sebesar 100 ribu untuk dibelikan bahan yang akan dimasak dan yang bersangkutan tidak boleh makan ( artinya yang bernadzar haram memakannya) .Alasannya karena uang yang seratus ( barang yang dinadzarkan itu sudah bukan haknya, begitu juga halnya makanan , الوسائل حكم المقاصد dan karena yang namanya nadzar adalah melepaskan hak kepemilikan.
المجموع شرح المهذب – 4426/9792
(باب النذر)
قال المصنف رحمه الله
(يصح النذر من كل مسلم بالغ عاقل (فأما) الكافر فلا يصح نذره ومن أصحابنا من قال يصح نذره لما روي أن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم (إني نذرت أن أعتكف ليلة في الجاهلية فقال صلى الله عليه وسلم أوف بنذرك) والمذهب الاول لانه سبب وضع لايجاب القربة فلم يصح من الكافر كالاحرام (وأما) الصبي والمجنون فلا يصح نذرهما لقوله صلى الله عليه وسلم (رفع القلم عن ثلاثة عن الصبي حتى يبلغ وعن النائم حتى يستيقظ وعن المجنون حتى يفيق) ولانه ايجاب حق بالقول فلم يصح من الصبي كضمان المال)
(الشرح) حديث عمر رضي الله عنه رواه البخاري ومسلم (وأما) حديث (رفع القلم) فصحيح سبق بيانه في أول كتاب الصلاة وأول كتاب الصوم
ويقال نذر وينذر – بكسر الذال وضمها – (أما) الأحكام فقال أصحابنا يصح النذر من كل بالغ عاقل مختار نافذ التصرف فيما نذره ويرد على المصنف إهماله المختار ونافذ التصرف ولا بد منهما (فأما) الصبي والمجنون والمغمى عليه ونحوه ممن اختل عقله فلا يصح نذره لما ذكره المصنف (وأما) السكران ففي صحة نذره خلاف مبني على صحة تصرفه والصحيح صحته وموضع إيضاحه كتاب الطلاق (وأما) الكافر ففي نذره وجهان (الصحيح) أنه لا ينعقد (والثاني) ينعقد ودليلهما في الكتاب وإذا أسلم إن قلنا نذره منعقد لزمه الوفاء به وإلا فلا يجب الوفاء به لكن يستحب وتأولوا حديث عمر على الاستحباب (وأما) المكره فلا يصح نذره للحديث الصحيح (رفع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه) وقياسا على العتق وغيره (وأما) المحجور عليه بسفه فيصح منه نذر القرب البدنية (وأما) المال فإن التزم شيئا في ذمته من غير تعيين لما في يده صح نذره ويؤديه بعد فك الحجر عنه فإن نذر مالا معينا مما يملكه قال المتولي وغيره بني على ما لو أعتق أو وهب هل توقف صحة تصرفه أم يكون باطلا وفيه خلاف مشهور (الصحيح) بطلانه فيكون النذر باطلا وإن توقفنا في النذر أيضا
وينكر على المصنف قوله روي في حديث عمر مع أنه صحيح (قوله) سبب وضع لإيجاب القربة احتراز من شراء الكافر طعاما للكفارة (قوله) ولأنه إيجاب حق بالقول احترز بقوله إيجاب عن وصية الصبي وتدبيره وإذنه في دخول الدار إذا صححنا كل ذلك (وبقوله) بالقول من غرامة المتلفات
قال ولو نذر عتق المرهون انعقد نذره إن نفذنا عتقه في الحال أو عند أداء المال وإن ألغينا عتقه فهو كمن نذر عتق عبد لا يملكه وفي صحته تفصيل سنذكره إن شاء الله تعالى
(فرع) يكره ابتداء النذر فإن نذر وجب الوفاء به ودليل الكراهة حديث ابن عمر رضي الله عنهما قال (نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن النذر وقال إنه لا يرد شيئا إنما يستخرج به من البخيل) رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما بهذا اللفظ
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لا تنذروا فإن النذر لا يغني من القدر شيئا وإنما يستخرج به من البخيل) رواه الترمذي والنسائي بإسناد صحيح
قال الترمذي والعمل على هذا عند بعض أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وغيرهم كرهوا النذر قال ابن المبارك الكراهة في النذر في الطاعة والمعصية قال فإن نذر طاعة ووفى به فله أجر الوفاء ويكره له النذر هذا كلام الترمذي
Berikut referensi.bahwa nadzar/barang yang telah dinadzarkan sdh bukan hak miliknya.
الياقوت النفيسة ص ٨٢٤
ويجب التصدق بلحم المنذورة كلها لأنها خرجت بالنذر من ملكه إلى ملك الفقراء
sighat (ucapan yang menunjukkan nadzar)’ Dalam masalah sighat, adalah adanya lafal (ucapan) yang menunjukkan adanya penetapan dan dalam pengertian penetapan (mewajibkan) ini adalah keterangan bab dlaman (tanggungan). Yaitu seperti kata ‘Demi Allah wajib atasku perkara seperti ini atau wajib atasku perkara seperti ini. Maka sighat tidak sah hanya sekedar niat (tanpa diucapkan), sebagaimana juga tidak sah semua aqad hanya dengan niat. Juga tidak sah sighat yang tidak menunjukkan penetapan (mewajibkan) seperti ucapan: ‘Saya melakukan seperti ini’. Kitab Tadzhib halaman 254: … وَشَرْعًا الوَعْدُ بِالخَيْرِ خَاصَّةُ أو اِلْتِزَامُ قُرْبَةً لَمْ تَتَعَيَّنْ بِأصْلِ الشَّرْعِ… وَالثَّانِى أنْ يَكُونَ غَيْرَ مُعَلَّقٍ كَأنْ يَقُولَ للهِ عَلَيَّ صَوْمٌ أو حَجٌّ أو غَيْرُ ذَلِكَ.ٌ و َجٌّ و َيْرُ َلِكَ.. ‘Pengertian nadzar secara syara’ berarti janji melakukan kebaikan tertentu atau menetapkan (mewajibkan dirinya) melakukan perkara yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang perkara tersebut pada hukum asalnya tidak wajib’ Yang kedua: adanya nadzar tersebut tidak diambangkan/digantungkan pada sesuatu seperti ucapan: ‘Demi Allah, wajib bagiku puasa atau haji atau yang lainnya.
Referensi Al-Bajuri Ala Ibuni Qosim.Halaman: 300-301
قوله ولايؤكل ) أى لايجوز له الأكل فإن أكلها شيأ غرمه وقوله المضحى وكذا من تلزمه نفقته وقوله من الأضحية المنذورة أى معينة عما فى الذمة أو حكما كما لوا قال هذه أضحية فهذه واجبة بالجعل لكنها فى حكم المنذورة كما مر فاندفع إعتراض المحشي بقوله لو قال الواجبة لكان أولى والهدى المنذور ودم الجبران كالأضحية المنذورة فلايجوز الأكل من ذلك كذلك العقيقة المنذورة والطبخة المنذورة
Assalamualaikum wr.wb Kyai ini masalah haji. saya udah lama daftar tunggunya kemudian saya minta tolong sama teman yang mengurus haji, kemudian saya dapat panggilan berangkat, tapi keberangkatan saya itu orang lain yang di alihkan ke saya Kyai
Pertanyaan.
Boleh apa tidak menempati sebagai mana deskripsi ? bagaimana hukum hajinya. padahal saya berangkatnya masih tahun berikutnya?
Jawaban: Jika Ahmad mengambil hak giliran hajinya Umar,tanpa udzur(tanpa alasan,misalnya karena alasan Umar itu sakit keras),dan tanpa idzin dari Umar.Maka hal ini termasuk ghoshob yang diharamkan.
Referensi:
Rosulullah bersabda: Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara dholim(secara menganiaya, tanpa idzin dari orang yang mempunyai tanah,misalnya tanah itu dibuat untuk tempat kandang kambing),maka Allah akan mengalungkan sejengkal tanah kepada orang itu pada hari kiamat.
ومنها قوله صلى الله عليه وسلم: “من أخذ شبراً من الأرض ظلماً فإنه يُطَوَّقُه يوم القيامة من سبع أرضين”. (البخاري: بدء الخلق، باب: ما جاء في سبع ارضين، رقم: 3026. ومسلم: المساقاة، باب: تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها، رقم: 1610). ……….
Ghoshob adalah menguasai(mengambil) terhadap haknya orang lain dengan tanpa idzin dari orang yang mempunyai hak. Yang dimaksud dengan haknya orang lain adalah: -Ada yang berwujud benda seperti rumah dan yang sama dengan rumah. -Ada yang berwujud manfaat, seperti menempati rumah orang lain dengan tanpa ridhonya pemilik rumah. -Ada yang berupa ikhtishooshon(yang tertentu milik seseorang),seperti anjing untuk berburu dan yang sama dengan anjing untuk berburu. -Dan seperti hak untuk minum dan seumpamanya.
-Barang yang di ghoshob itu wajib dikembalikan kepada pemilik barang itu. -Atau bisa juga,orang yang meng ghoshob itu membayar uang(seharga barang yang di ghoshob) terhadap pemilik barang yang di ghoshob.
Referensi:
كتاب الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي
[مجموعة من المؤلفين]
الغَصَب
تعريفه:
الغصب – في اللغة – أخذ الشئ ظلماً.
وشرعاً: هو الإستيلاء على حق غيره عُدْواناً.
والمراد بحق غيره: ما كان عيناً كدار ونحوها، أو منفعة كسكنى الدار بغير رضاه، أو اختصاصاً ككلب صيد ونحوه، وكحق الشرب ونحوه.
وقولنا: (عدواناً) أي على جهة التعدّي والظلم، أي بغير رضاً من صاحب الحق، بل قهراً عنه.
فلو أكل طعام غيره بغير إباحة منه ولا عقد فهو غصب.
ولو سكن دار غيره بغير رضاه، فهو غاصب، ولو أعطاه أُجرة.
ولو جلس على فراشه بغير إذن منه فهو غاصب أيضاً، وهكذا.
وهنا ننبّه إلى ما يفعله الكثير من الناس في هذا الزمن من سكنى دور غيرهم، أو استخدام حوانيتهم، بأُجور لا يرضَوْن بها، فإن هؤلاء غاصبون، وتنطبق عليهم جميع أحكام الغصب الدنيوية والأُخروية، وإن كانوا يظنون أنهم يحسنون صنعاً حين يدّعون أنهم مستأجرون وأنهم يدفعون أُجوراً حسب الاتفاق القديم، فلا تنطبق عليهم أحكام الإجارة، لأنهم في الحقيقة غاصبون وليسوا بمستأجرين.
تحريمه:
الغصب حرام شرعاً، وهو من الكبائر، لما ورد من زجر عن التعدِّي على الأموال، ووعيد على أخذها بغير حق، ومن ذلك آيات في القرآن وأحاديث من السنة.
……………………………………………………….
أما آيات القرآن:
فمنها قوله تعالى: “ولا تأكلوا اموالَكم بينكم بالباطل وتُدْلوا بها إلى الحكام لتأكلوا فريقاً من أموال الناس بالإثم وأنتم تعلمون” (البقرة: 188).
? ومنها قوله تعالى: “إنَّ الذين يأكلون أموال اليتامى ظلماً إنما يأكلون في بطونهم ناراً وسيَصْلَوْن سعيرا” (النساء: 10)
? وأما الأحاديث:
? فمنها قوله صلى الله عليه وسلم: “إن دمائكم وأموالكم وأعراضكم بينكم حرام .. ” (اخرجه البخاري في العلم، باب: قول النبي صلى الله عليه وسلم: رب مبلغ اوعى من سامع، رقم: 67. ومسلم: القسامة، باب: تغليظ تحريم الدماء والأعراض والأموال، رقم: 1679).
? ومنها قوله صلى الله عليه وسلم: “لا يحلّ مال امرئ مسلم إلا بطيب نفسه” (اخرجه الدارقطني في البيوع، الحديث: 91، ج3، صفحة 26).
? ومنها قوله صلى الله عليه وسلم: “من أخذ شبراً من الأرض ظلماً فإنه يُطَوَّقُه يوم القيامة من سبع أرضين”. (البخاري: بدء الخلق، باب: ما جاء في سبع ارضين، رقم: 3026. ومسلم: المساقاة، باب: تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها، رقم: 1610).
وقد أجمع المسلمون على تحريم الغصب – بكل أشكاله وألوانه – في كل العصور، من لدن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى يومنا هذا.