logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

ILUSTRASI PASUTRI YANG SEDANG KONFLIK DAN SOLUSINYA

Ilustrasi pasangan suami dan istri sedang konflik dan Solusinya.

Assalamualaikum War.Wab.

Deskripsi masalah

Menentukan tempat tinggal setelah  menikah  menjadi perkara yang memusingkan bagi sebagian orang. Pasalnya, terkadang suami menginginkan istrinya untuk tinggal bersama orang tuanya, dan sebaliknya ( istri menginginkan suaminya tinggal bersama orang tuanya).

Permintaan ini kerap tidak disetujui oleh istri ataupun suami Sebab, mereka merasa canggung dan tidak ingin menimbulkan masalah atau perselisihan dengan mertuanya.
Umumnya, permasalahan antara mertua  dengan menantu perempuan dan juga menantu laki-laki terjadi disebabkan karena didalam rumah tersebut masih ada saudara/ saudari ipar atau karena terjadi hal sepele. Misalnya ketika menantu perempuan/laki-laki bermalas-malasan di rumah, ia bisa saja menjadi bahan gunjingan ibu/bapak mertuanya.
permasalahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti menantu yang tidak sesuai dengan harapan, mertua merasa cemburu dengan menantu, dan lain-lain. Hal inilah yang memperbesar keinginan menantu untuk tinggal terpisah dari mertuanya.

Pertanyaan:

Bagaimana hukum istri menolak suami atau suami menolak istri tinggal dengan mertua karena tidak betah,sampai mau pisah begitu juga halnya suami tidak mau tinggal bersama mertua namun tidak ada ungkapan pisah ?

Lalu apa solusinya agar tidak sampai terjadi pisah?

Waalaikum Salam.
Jawaban

Dalam Islam, baik suami maupun istri memiliki hak atas tempat tinggal yang layak dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Berikut beberapa aspek hukumnya:

1. Hak Istri atas Tempat Tinggal Suami wajib menyediakan tempat tinggal yang layak bagi istrinya. Istri berhak meminta tempat tinggal terpisah jika tinggal bersama mertua menyebabkan ketidaknyamanan atau konflik.

2. Hak Suami dalam Menentukan Tempat Tinggal Suami memiliki hak dalam menentukan tempat tinggal, tetapi harus mempertimbangkan kenyamanan istri. Jika istri menolak tinggal dengan mertua karena alasan syar’i, suami perlu mempertimbangkan permintaannya.

3. Kewajiban Istri terhadap Suami Istri wajib mendahulukan hak suami atas hak keluarganya,artinya istri tidak boleh menolak perintah atau ajakan suami selama tidak melanggar syariat.

4. Kewajiban Suami terhadap Istri Suami tidak boleh memaksakan istri untuk tinggal dengan mertua jika hal itu menyebabkan mudarat.

Kesimpulan Suami wajib menyediakan tempat tinggal yang layak bagi istri, dan istri berhak meminta tempat terpisah jika diperlukan. Istri harus mendahulukan ketaatan kepada suami, tetapi suami juga harus mempertimbangkan kenyamanan istri.

Solusi terbaik adalah mencari tempat tinggal yang lebih nyaman bagi keduanya agar keharmonisan rumah tangga tetap terjaga, dengan tidak meninggalkan hak dan kewajiban anak kepada orang tua baik mertua maupun orang tua asli.

Referensi:  Is’ad ar-Rafiq, Faidl al-Qadir, Subul as-Salam, Fikih Al-Usrah, dll.


إسعاد الرفيق الجزء الأول صفحة ١٤٨-١٤٩ ما نصه: ويلزمها أن تقدم حقوقه على حقوق أقاربها بل وحقوق نفسها في بعض الصور. وورد أن امرأة سافر زوجها وقال لها لا تنزلي من العلو إلى السفل وكان أبوها في السفل مريضا فاستأذنته صلى الله عليه وسلم في النزول فقال لها أطيعي زوجك ثم مات أبوها فاستأذنته فقال لها أطيعي زوجك فبعد أن دفن أبوها أرسل إليها أن الله غفر لأبيك بطاعتك زوجك. وقال عليه الصلاة والسلام لو أمرت أحدا أن يسجد لأحد لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها لعظيم حقه عليها فعليها مسرته. اهـ

Is’ad ar-Rafiq Juz 1 Halaman 148-149: “Dan wajib bagi seorang istri untuk mendahulukan hak suaminya atas hak kerabatnya, bahkan atas hak dirinya sendiri dalam beberapa kondisi. Diriwayatkan bahwa seorang wanita ditinggal bepergian oleh suaminya dan suaminya berkata kepadanya, ‘Janganlah engkau turun dari lantai atas ke lantai bawah.’ Kemudian ayahnya yang berada di lantai bawah jatuh sakit, maka ia meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk turun. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Taatilah suamimu.’ Kemudian ayahnya meninggal, dan ia kembali meminta izin. Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Taatilah suamimu.’ Setelah ayahnya dimakamkan, Rasulullah ﷺ mengirimkan pesan kepadanya, ‘Sesungguhnya Allah telah mengampuni ayahmu karena ketaatanmu kepada suamimu.’ Rasulullah ﷺ juga bersabda, ‘Seandainya aku diperbolehkan memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami atas istrinya. Maka wajib baginya untuk menyenangkan suaminya.’” (Selesai

فيض القدير – (ج ٢ / ص (٧) أعظم الناس حقا على المرأة زوجها حتى لو كان به قرحة فلحستها ما قامت بحقه ، ولو أمر أحد أن يسجد لأحد لأمرت بالسجود له فيجب أن لا تخونه في نفسها ومالها ، وأن لا تمنعه نفسها وإن كانت على ظهر قتب ، وأن لا تخرج إلا بإذنه ولو لجنازة أبويها. وأعظم الناس حقا على الرجل يعني الإنسان ولو أنثى فذكر الرجل وصف طردي (أمه) فحقها في الأكدية فوق حق الأب لما قاسته من المتاعب والشدائد في الحمل والولادة والحضانة ولأنها أشفق وأرأف من الأب فهي بمزيد البر أحق

Faidl al-Qadir Juz 2 Halaman 7: “Manusia yang paling besar haknya atas seorang wanita adalah suaminya, bahkan jika suaminya memiliki luka yang harus dijilat oleh istrinya, maka ia belum menunaikan hak suaminya dengan sempurna. Seandainya seseorang diperbolehkan untuk bersujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya. Maka wajib bagi istri untuk tidak mengkhianati suaminya dalam hal dirinya dan hartanya, tidak menolak ajakan suaminya meskipun berada di atas pelana unta, dan tidak keluar rumah kecuali dengan izinnya, bahkan untuk menghadiri jenazah kedua orang tuanya sekalipun. Manusia yang paling besar haknya atas seorang pria, baik laki-laki maupun perempuan (secara umum), adalah ibunya. Hak ibu lebih diutamakan daripada hak ayah karena ibu telah menanggung berbagai kesulitan dan penderitaan saat mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ibu juga lebih penyayang dan penuh kasih sayang dibandingkan ayah, sehingga ia lebih berhak untuk mendapatkan bakti yang lebih besar.

سبل السلام – (ج ٤ / ص (١٦٥) وورد في تقديم الزوج ما أخرجه أحمد والنسائي وصححه الحاكم من حديث عائشة سألت النبي صلى الله عليه وسلم أي الناس أعظم حقا على المرأة قال “زوجها” قلت فعلى الرجل قال: “أمه” ولعل مثل هذا مخصوص بما إذا حصل التضرر للوالدين فإنه يقدم حقهما على حق الزوج جميعا بين الأحاديث.

Subul as-Salam Juz 4 Halaman 165: “Dalam hal mendahulukan hak suami, terdapat riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad dan an-Nasa’i, serta disahihkan oleh al-Hakim, dari hadis Aisyah r.a., bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ, ‘Siapakah manusia yang paling besar haknya atas seorang wanita?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Suaminya.’ Aisyah bertanya lagi, ‘Lalu siapa yang paling besar haknya atas seorang pria?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ibunya.

’ فقه الأسرة (ص: ١٩٦) علي طه ريان المبحث الثاني: حقوق الزوج حقوق الزوج المتولدة عن العقد كثيرة, لكننا نقتصر على ما هو الأهم من هذه الحقوق مراعاة لظروف منهج هذه المادة. ومن أهم هذه الحقوق: ١٠- تقديم طاعة الزوج على طاعة الوالدين, فإذا تعارضت طاعة الزوج مع طاعة والديها قدمت طاعة زوجها ولو أمرها والداها بفراق زوجها، فلا يلزمها إجابتهما

Fikih Al-Usrah (hlm. 196) Ali Thaha Rayan Pembahasan Kedua: Hak-Hak Suami Hak-hak suami yang lahir dari akad pernikahan sangat banyak, namun kita hanya akan membahas hak-hak yang paling penting sesuai dengan keterbatasan metode materi ini. Di antara hak-hak tersebut adalah: Mengutamakan Ketaatan kepada Suami daripada Orang Tua. Jika ketaatan kepada suami bertentangan dengan ketaatan kepada kedua orang tua, maka ketaatan kepada suami harus diutamakan, meskipun kedua orang tuanya memerintahkan untuk berpisah dengan suaminya, ia tidak wajib mematuhi perintah tersebut

تنقيح القول الحثيث ص ٤٨ دقال النبى صلى الله عليه وسلم رضا الرب في رضا الوالد اى الاصل وان علاد وسخط الله في سخط الوالدين الى ان قال وفي رواية رضا الرب في رضا الوالد اى الاصل وان علا وسخط الرب في سخط الوالد اى الذى لا يخالف الشرع رواه الترمذى والحاكم عن ابن عمر بن عاص والبزار عن ابن عمر بن الخطاب وهو حديث صحيح وهذا وعيد شديد يفيد ان العقوق كبيرة

Tanqih al-Qaul al-Hatsits (hlm. 48) Rasulullah ﷺ bersabda: “Ridha Allah terletak pada ridha orang tua (asal usulnya), meskipun setinggi apa pun kedudukannya. Dan murka Allah terletak pada murka orang tua.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Ridha Allah terletak pada ridha orang tua (asal usulnya), meskipun setinggi apa pun kedudukannya, dan murka Allah terletak pada murka orang tua yang tidak bertentangan dengan syariat.” Hadis ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim dari Ibnu Amr bin Ash, serta oleh al-Bazzar dari Ibnu Umar bin Khattab. Hadis ini shahih dan mengandung peringatan keras yang menunjukkan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar.

التيسير بشرح الجامع الصغير – للمناوى – (ج ٢ / ص (٦٦) ) رضا الرب في رضا الوالدين وسخطه في سخطهما ) أي غضبهما الذي لا يخالف الشرع ويظهر أنه أراد بهما الأصلين وأن عليا ( طب عن ابن عمرو ( بإسناد ضعيف لكن يقويه ما قبله

At-Taysīr bi Syarḥ al-Jāmi‘ aṣ-Ṣaghīr – Al-Munāwī – (Jilid 2 / Hal. 66) “Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka-Nya terletak pada murka keduanya.” Yakni, kemurkaan mereka yang tidak bertentangan dengan syariat. Tampaknya, yang dimaksud dengan “kedua orang tua” di sini adalah orang tua kandung. Dan ‘Ali (raḍiyallāhu ‘anhu) berkata: (Diriwayatkan oleh at-Ṭabarānī dari Ibnu ‘Amr dengan sanad yang lemah, tetapi dikuatkan oleh hadis yang sebelumnya

سؤال الإسلام (ج ٤ / ص ١٦٥) وورد في تقديم الزوج ما أخرجه أحمد والنسائي وصححه الحاكم من حديث عائشة سألت النبي صلى الله عليه وسلم أي الناس أعظم حقا على المرأة قال “زوجها ” قلت فعلى الرجل قال: “أمه” ولعل مثل هذا مخصوص بما إذا حصل التضرر للوالدين فإنه يقدم حقهما على حق الزوج جميعا بين الأحاديث

Soal al-Islām (Jilid 4 / Hal. 165)

Terdapat dalil yang menunjukkan bahwa hak suami lebih didahulukan, sebagaimana diriwayatkan oleh Aḥmad dan an-Nasā’ī serta dinyatakan ṣaḥīḥ oleh al-Ḥākim dari hadis ‘Āisyah (raḍiyallāhu ‘anhā), bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ: “Siapakah manusia yang paling besar haknya atas seorang wanita?” Beliau menjawab: “Suaminya.” Aku bertanya: “Lalu, siapa yang paling besar haknya atas seorang laki-laki?” Beliau menjawab: “Ibunya.” Namun, hadis seperti ini bisa dikatakan memiliki pengecualian dalam kondisi tertentu, seperti ketika orang tua mengalami kesulitan atau kemudaratan, maka hak mereka lebih didahulukan daripada hak suami. Ini adalah cara mengompromikan antara hadis-hadis yang ada

التيسير بشرح الجامع الصغير – للمناوى – (ج ٢ / ص (٦٦) ) رضا الرب في رضا الوالدين وسخطه في سخطهما ) أي غضبهما الذي لا يخالف الشرع ويظهر أنه أراد بهما الأصلين وأن عليا ( طب عن ابن عمرو ( بإسناد ضعيف لكن يقويه ما قبله.

at-Taysir bi Syarh al-Jami’ as-Shaghir (Jilid 2, hlm. 66)

“Ridha Allah terletak pada ridha orang tua dan murka-Nya terletak pada murka keduanya.” Yang dimaksud adalah kemarahan orang tua yang tidak bertentangan dengan syariat. Tampaknya, yang dimaksud dengan “orang tua” di sini adalah kedua orang tua kandung meskipun memiliki kedudukan yang tinggi. Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Ibnu Amr dengan sanad yang lemah, tetapi dikuatkan oleh riwayat sebelumnya. Dari ibarat keterangan diatas dapat dipahami bahwa antara suami istri sama-sama mempunyai hak dan tanggung jawab /kewajiban yang harus dipenuhi  begitu juga  hak dan kewajiban suami istri kepada orang tuanya, namun yang harus diutamakan kewajiban istri kepada suami dari pada kedua orang tuanya, ini diperkuat  dengan sebuah kaidah.

إذا تزامحت المصلحتان قدم الأعلى #وإذا تزامحت المفسدتان أخذ بالأخف 


Jika dihadapkan pada dua kemaslahatan ( kewajiban) maka dahulukan yang lebih utama ( ketaatan istri kepada suami) daripada Orang Tua.  Dan jika dihadapkan pada dua kerusakan maka ambillah yang lebih ringan.
Wallahu a’lam bish-shawab

 

Kategori
Uncategorized

HIDUP TERPISAH DENGAN PASANGAN APAKAH TERMASUK THALAK..?

HIDUP TERPISAH DENGAN PASANGAN APAKAH TERMASUK TALAK

Assalamualaikum.

Studi Kasus : Jika ada seorang suami terpisah merantau dari Indonesia ke Malaysia, Lalu suami tersebut dalam munajatnya selalu berdoa “jika sang istri main main di belakangku (selingkuh) maka pisahkan aku dengan cara halus”

Pertanyaanya:

Apakah kata pisah (doa) di atas termasuk talak.

Minta penjelasannya pak kyai.

Waalaikum salam

Tanggapan sekaligus jawaban.

Dunia modern sering menyebabkan sebagian berbeda dalam situasi dimana pekerjaan mereka memaksa harus berjalan berjauhan dengan pasangan. Mau tidak mau kondisi ini mengurangi intensitas pertemuan dan kedekatan pasangan .Mereka hanya bisa bertemu seminggu sekali,sebulan sekali, atau bahkan lebih.
Edialnya, pernikahan memang bisa menyatukan dua pasangan secara lahir batin . Setelah menikah suami istri tentu keduanya menghendaki tinggal bersama dengan tidak berjauhan apalagi sampai terpisah .Untuk apa menikah kalau tidak bisa bersama.Tetapi andai kondisi memaksa adanya perpisahan sementara, apa boleh buat. Tentu saja masing-masing harus bersikap dewasa. Artinya kedua belah pihak serta keluarga keduanya harus bisa menerima dari keadaan yang ada dengan legowo.Tanpa adanya pengertian dari kedua belah pihak, maka perpisahan sementara ini bisa mengancam keutuhan rumah tangga.
Setelah adanya kesepakatan bersama, selanjutnya pasangan juga perlu menyadari dan memperhatikan konsekuensi dan kemungkinan masalah-masalah yang akan timbul dari hubungan jarak jauh itu.Misalanya berkurangnya intensitas pertemuan terbatasnya pemenuhan nafkah batin, sampai adanya kemungkinan adanya pihak ketiga yang masuk dalam hubungan mereka. Kesadaran kesediaan diikuti dengan membangun komitmen bersama bersama dalam menghadapi resiko-resiko seperti;
Menjalin komunikasi
Hal ini penting untuk menjaga hubungan tetap dekat dan harmonis. Saling menyapa dapat membantu pasangan untuk merasakan kehadiran masing-masing dalam kehidupannya, apalagi dimasa sekarang sudah masuk masa millenial, yaitu sebuah generasi yang hidup di zaman yang sedang berubah dari konvensional menjadi modern, itu sudah menjamaah keseluruh lapisan masyarakat, Sehingga jarak yang memisahkan diantara mereka tidaklah berpengaruh pada perasaan hati yang selalu dekat dan bersama.
Menjaga komitmen
Saat janji pernikahan telah terucap, maka komitmen untuk setia sehidup semati haruslah sudah tertanam didalam hati pasangan, baik saat bersama maupun tidak. Ini penting untuk memberikan kesadaran kepada masing-masing bahwa saat pernikahan ditetapkan maka sudah tertutup pintu yang lain.Miski pasangan kita bukanlah yang sempurna, tetapi ini yang terbaik buat kita.Itu keyakinan yang harus ditanamkan dalam hati masing-masing. Sehingga kekurangan yang dimiliki pasangan tidak menjadi alasan mencarinya ditempat lain.Saat tidak bersama dibawah satu atap, komitmen semacam ini haruslah lebih dijaga. Karena tentu saja, kemungkinan godaan untuk tertarik pada yang lain sangat tinggi, dibanding ketika hidup tak terpisah jarak.
Saling percaya
Adanya komitmen harus disertai sikap saling percaya diri masing-masing Sehingga tidak ada atau terjadi kecurigaan yang dapat memicu pada konflik antara mereka berdua. Saling mengontrol adalah sebuah keharusan, tetapi tidak perlu saling menghianati. Dengan demikian masing-masing tidak merasa dibatasi dan takut dicurigai oleh pasangannya. Mereka merasa hidup bebas dan tanpa beban dibawah kontrol diri dan pasangannya.
Menjadwalkan pertemuan
Cinta yang terpisah tentu saja menyimpan rindu yang membara.Oleh karena itu, penting untuk menjadwalkan pertemuan bersama secara rutin untuk melepaskan kerinduan dan memberikan hak batin. Jika jadwal pertemuan ini sudah disetujui ( disepakati) maka usahakan pasangan tidak membatalkan ataupun mengulur-ngulur tanpa adanya alasan. Kenapa demikian..? Karena hal itu bisa merusak kepercayaan yang telah mereka jaga . Jika sekali atau dua kali barang kali pasangan bisa memakluminya. Tetapi jika terus menerus, maka akan menimbulkan tanda tanya dan kecurigaan yang dapat merusak hubungan.
Memberikan pengertian pada anak

Jika sudah ada anak , kehadiran ayah dan ibu bersama anak sangatlah penting bagi pembentukan karakternya. Karena anak membutuhkan profil ayah dan ibu sekaligus. Ketika salah satu dari mereka tidak ada, anakpun pasti akan mencarinya. Oleh karena itu, orang perlu menjelaskan kepada mereka saat orang tua tidak bisa hidup bersama dalam sementara waktu sehingga mereka bisa mengerti kondisi mereka.
Memperbanyak kegiatan positif
Ini untuk menghindari seseorang dari pengaruh negatif saat tidak ada pasangan disamping keluarga .Kesibukan dapat membantu seseorang dalam mengatasi rasa rindu kepada keluarga . Kegiatan-kegiatan yang positif apapun biasa seseorang ikuti untuk mengobati kejauhan dan kerinduan yang terpendam. Sehingga tidak ada kesempatan bagi seseorang untuk terlibat dalam hal negatif diluar.
Jika apa yang telah kami paparkan diatas telah dimiliki oleh kedua pihak terlebih kepada suami yang kemudian timbul atau ada rasa waswas yang telintas didalam hatinya bagaimana terkait do’a suami dikala berjauhan ada diperantauan dengan berdo’a pisahlah aku secara halus, apakah perkataan sebagaimana tersebut diatas, termasuk terjadi thalak? Maka dalam hal tersebut tidaklah jatuh thalak karena thalak itu harus shareh atau jelas. Dengan dememikian hidup terpisah dengan pasangan hanya karena perbedaan tempat ( rumah ) suami berada diperantauan sedangkan istrinya berada di Indonesia tidak termasuk thalak selama tidak ada ungkapan yang shoreh dalam bab thalak , Sebagaimana keterangan berikut;

الموسوعة الفقهية -١١٦٥//٣١٩٤٩
الفرقة بين الزوجين:
٥ – يرى المالكية والشافعي والحنابلة أن الفرقة لا تقع بين الزوجين لمجرد اختلافهما دارا. ويرى الحنفية أن اختلاف داري الزوجين حقيقة وحكما موجب للفرقة بينهما

الموسوعة الفقهية – ٣١٩٤٩/٢٠٣٤٩

ز – الفرقة بسبب اختلاف الدار:
١١ – ذهب جمهور الفقهاء إلى أن مجرد اختلاف الدار لا يعتبر سببا للفرقة بين الزوجين ما لم يحصل بينهما اختلاف في الدين.
وقال الحنفية: إن اختلاف داري الزوجين حقيقة وحكما موجب للفرقة بينهما، فلو دخل حربي دار الإسلام وعقد الذمة وترك زوجته في دار الحرب انفسخ نكاحهما، وكذا العكس.


Di dalam kitab Mughnil Muhtaj, yang di katakan talak yang shoreh ( yang jelas ) adalah jika suami berkata kepada istrinya:


طلقتك


(Artinya saya mentalak kepadamu) atau


انت طالق


(Artinya:kamu  adalah orang yang aku talak,wahai istriku).atau


انت مطلقة


( Artinya:kamu  adalah orang yang aku talak, wahai istriku ), atau


يا طالق


( Artinya:wahai perempuan yang di talak ).

(مغني المحتاج)
(فَصَرِيحُهُ) جَزْمًا (الطَّلَاقُ) أَيْ مَا اُشْتُقَّ مِنْهُ كَمَا سَيَأْتِي لِاشْتِهَارِهِ فِيهِ لُغَةً وَعُرْفًا (وَكَذَا الْفِرَاقُ وَالسَّرَاحُ) بِفَتْحِ السِّينِ أَيْ مَا اُشْتُقَّ مِنْهُمَا (عَلَى الْمَشْهُورِ) فِيهِمَا لِوُرُودِهِمَا فِي الْقُرْآنِ بِمَعْنَاهُ وَالثَّانِي، أَنَّهُمَا كِنَايَتَانِ؛ لِأَنَّهُمَا لَمْ يَشْتَهِرَا اشْتِهَارَ الطَّلَاقِ وَيُسْتَعْمَلَانِ فِيهِ وَفِي غَيْرِهِ.
تَنْبِيهٌ: جُمْلَةُ قَوْلِهِ وَكَذَا. . إلَخْ مَعْطُوفٌ عَلَى الطَّلَاقِ لَا عَلَى صَرِيحِهِ وَإِلَّا يَلْزَمْ حَصْرُ صَرِيحٍ فِي الطَّلَاقِ مَعَ أَنَّ مِنْ صَرِيحِهِ مَا مَرَّ فِي بَابِ الْخُلْعِ مِنْ أَنَّ الْخُلْعَ صَرِيحٌ فِي الْأَصَحِّ إنْ ذُكِرَ الْمَالُ وَكَذَا الْمُفَادَاةُ، وَظَاهِرُ كَلَامِهِمْ أَنَّهُ لَا فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ الْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ، وَالظَّاهِرُ مَا قَالَهُ الْمَاوَرْدِيُّ فِي نِكَاحِ الْمُشْرِكِ أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ عِنْدَ الْمُشْرِكِينَ صَرِيحًا فِي الطَّلَاقِ أُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الصَّرِيحِ وَإِنْ كَانَ كِنَايَةً عِنْدَنَا، وَكُلُّ مَا كَانَ عِنْدَهُمْ كِنَايَةً أُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الْكِنَايَةِ وَإِنْ كَانَ صَرِيحًا عِنْدَنَا؛ لِأَنَّا نَعْتَبِرُ عُقُودَهُمْ فِي شِرْكِهِمْ، فَكَذَا طَلَاقُهُمْ، وَأَمْثِلَةُ الْمُشْتَقُّ مِنْ الطَّلَاقِ (كَطَلَّقْتُك وَأَنْتِ طَالِقٌ وَمُطَلَّقَةٌ) بِالتَّشْدِيدِ وَيَا مُطَلَّقَةُ (وَيَا طَالِقُ) إنْ لَمْ يَكُنْ اسْمُهَا ذَلِكَ وَإِلَّا فَكِنَايَةٌ كَمَا جَزَمَ بِهِ الْمُصَنِّفُ وَغَيْرُهُ، وَلَوْ حُذِفَ الْمَفْعُولُ كَأَنْ قَالَ: طَلَّقْت، أَوْ الْمُبْتَدَأَ وَحَرْفَ النِّدَاءِ كَأَنْ قَالَ: طَالِقٌ لَمْ يَقَعْ الطَّلَاقُ كَمَا هُوَ ظَاهِرُ كَلَامِهِمْ، وَصَرَّحَ بِهِ الْقَفَّالُ فِي الْأُولَى

Referensi


فصول الكتاب
ج: ص:
270

مسار الصفحة الحالية:
فهرس الكتاب [الركن الثاني فيما يقع به الطلاق] [الطرف الأول في لفظ الطلاق]

وَوُرُودِهَا فِي الْقُرْآنِ مَعَ تَكَرُّرِ بَعْضِهَا فِيهِ وَإِلْحَاقِ مَا لَمْ يَتَكَرَّرْ مِنْهَا بِمَا تَكَرَّرَ بِجَامِعِ اسْتِعْمَالِهِمَا فِيمَا ذُكِرَ (كَأَنْتِ طَالِقٌ وَمُطَلَّقٌ) بِالتَّشْدِيدِ (وَيَا طَالِقُ وَيَا مُطَلَّقَةُ) بِالتَّشْدِيدِ (أَمَّا مُطْلَقَةٌ بِالتَّخْفِيفِ فَكِنَايَةٌ) لِاحْتِمَالِهَا الطَّلَاقَ وَغَيْرَهُ (وَكَذَا أَنْتِ طَالِقٌ أَوْ الطَّلَاقُ أَوْ طَلِقَةٌ أَوْ نِصْفُ طَلِقَةٍ أَمَّا أَنْتِ كُلٌّ طَلِقَةٌ وَنِصْفُ طَالِقٍ فَصَرِيحٌ) لَيْسَ أَنْتِ كُلٌّ طَلِقَةٌ فِي نُسَخِ الرَّافِعِيِّ الْمُعْتَمَدَةِ بَلْ فِي السَّقِيمَةِ الَّتِي أَخَذَ مِنْهَا صَاحِبُ الرَّوْضَةِ وَتَبِعَهُ الْمُصَنِّفُ إذْ الْمَسْأَلَةُ مَنْقُولَةٌ عَنْ تَهْذِيبِ الْبَغَوِيّ وَاَلَّذِي فِيهِ كَمَا نَقَلَهُ الرَّافِعِيُّ فِي نُسَخِهِ الْمُعْتَمَدَةِ أَنَّ أَنْتِ لَك طَلِقَةٌ بِتَقْدِيمِ اللَّامِ عَلَى الْكَافِ صَرِيحٌ أَمَّا أَنْتِ كُلٌّ طَلِقَةٌ فَالْأَوْجَهُ مَا جَرَى عَلَيْهِ الْإِسْنَوِيُّ وَالزَّرْكَشِيُّ أَنَّهُ كِنَايَةٌ كَأَنْتِ طَلِقَةٌ


Fiilnya lafal


الطلاق


dan


السراح


itu dihukumi talak shoreh. Contohnya seperti suami berkata kekada istrinya:


فَارَقْتُك


(Aku bertalak denganmu) dan lafal


سَرَّحْتُك


( Aku bertalak denganmu ), maka dihukumi talak shoreh ( talak yang jelas )


(وَالْفِعْلُ مِنْ لَفْظَيْ الطَّلَاقِ وَالسَّرَاحِ صَرِيحٌ) كَفَارَقْتُك وَسَرَّحْتُك فَهُمَا كَطَلَّقْتُك


Adapun lafal yang diambil dari lafal


الطلاق


dan


الفراق


dan


السراح


seperti


انت مفارقة


( kamu,wahai istriku, adalah ditalak ) dan lafal


انت مسرحة


(Kamu, wahai istriku, adalah ditalak), maka dihukumi ditalak

(وَالْمُشْتَقُّ مِنْهُمَا) كَمُفَارَقَةٍ وَمُسَرَّحَةٍ (كَالْمُشْتَقِّ مِنْ الطَّلَاقِ) أَيْ كَمُطَلَّقَةٍ (وَ) قَوْلُهُ (أَنْتِ وَطَلِقَةٌ أَوْ وَأَنْتِ وَالطَّلَاقُ) أَيْ قَرَنْت بَيْنَكُمَا (كِنَايَةٌ) وَلَا مَعْنًى لِلْوَاوِ وَالثَّانِيَةُ فِي أَوْ وَأَنْتِ (وَقَوْلُهُ أَنْتِ طَالِقٌ مِنْ وَثَاقٍ أَوْ مِنْ الْعَمَلِ وَسَرَّحْتُك إلَى كَذَا وَفَارَقْتُك فِي الْمَنْزِلِ) أَيْ كُلٌّ مِنْهَا (كِنَايَةٌ إنْ قَارَنَهُ الْعَزْمُ عَلَى الزِّيَادَةِ) الَّتِي أَتَى بِهَا (أَوْ تَوَسَّطَ) هـ (لَا إنْ بَدَا لَهُ بَعْدُ فَقَالَ مِنْ وَثَاقٍ) أَوْ نَحْوَهُ فَلَا تَكُونُ كِنَايَةً بَلْ صَرِيحٌ فَتَأْثِيرُ النِّيَّةِ مَشْرُوطٌ بِالْإِتْيَانِ بِهَا قَبْلَ الْفَرَاغِ مِنْ لَفْظِ الطَّلَاقِ كَمَا فِي الِاسْتِثْنَاءِ وَهَذَا يُغْنِي عَنْهُ مَا يَأْتِي أَوَّلَ الْفَصْلِ الْآتِي.

(وَتَرْجَمَةُ) لَفْظِ (الطَّلَاقِ بِالْعَجَمِيَّةِ صَرِيحٌ) لِشُهْرَةِ اسْتِعْمَالِهَا فِي مَعْنَاهَا عِنْدَ أَهْلِهَا شُهْرَةَ اسْتِعْمَالِ الْعَرَبِيَّةِ عِنْدَ أَهْلِهَا وَيُفَرَّقُ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ عَدَمِ صَرَاحَةٍ نَحْوِ حَلَالُ اللَّهِ عَلَيَّ حَرَامٌ عِنْدَ النَّوَوِيِّ بِأَنَّهَا مَوْضُوعَةٌ لِلطَّلَاقِ بِخُصُوصِهِ بِخِلَافِ ذَاكَ وَإِنْ اشْتَهَرَ فِيهِ (وَ) تَرْجَمَةُ (صَاحِبَيْهِ) أَيْ الطَّلَاقُ وَهُمَا الْفِرَاقُ وَالسَّرَاحُ (كِنَايَةٌ) كَذَا صَحَّحَهُ فِي الرَّوْضَةِ وَهُوَ غَيْرُ مُطَابِقٍ لِقَوْلِ الرَّافِعِيِّ فِي تَرْجَمَتِهِمَا الْوَجْهَانِ فِي تَرْجَمَةِ الطَّلَاقِ لَكِنْ بِالتَّرْتِيبِ وَأَوْلَى بِعَدَمِ الصَّرَاحَةِ لِأَنَّ تَرْجَمَتَهُمَا بَعِيدَةٌ عَنْ الِاسْتِعْمَالِ فِي الطَّلَاقِ قَالَ الْإِمَامُ وَهُوَ أَظْهَرُ وَبِهِ أَجَابَ الرُّويَانِيُّ فِي الْحِلْيَةِ انْتَهَى وَعِبَارَةُ الْإِمَامِ هُنَا الظَّاهِرُ أَنَّهُ لَيْسَ بِصَرِيحٍ وَعِبَارَةُ الرُّويَانِيِّ فِي حِلْيَتِهِ لَا يَكُونُ صَرِيحًا عِنْدِي وَظَاهِرُهُ أَنَّ ذَلِكَ اخْتِيَارٌ لَهُمَا فَالْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ صَرِيحٌ وَبِهِ جَزَمَ الْجُوَيْنِيُّ وَالْغَزَالِيُّ وَغَيْرُهُمَا وَنَقَلَهُ الْإِمَامُ وَغَيْرُهُ فِي الْخُلْعِ عَنْ ظَاهِرِ الْمَذْهَبِ وَكَلَامُ الْمُحَرَّرِ يَقْتَضِيهِ وَقَدْ بَسَطَ الْأَذْرَعِيُّ الْكَلَامَ عَلَى ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ فَالْمَذْهَبُ مَا فِي الْمُحَرَّرِ لَا مَا فِي الرَّوْضَةِ (وَ) قَوْلُهُ (أَلْقَيْت عَلَيْك طَلْقَةً صَرِيحٌ وَفِي وَضَعْت عَلَيْك) طَلْقَةً (أَوْ لَك طَلْقَةٌ) (وَجْهَانِ) أَحَدُهُمَا أَنَّهُ صَرِيحٌ لِوُجُودِ لَفْظِ الطَّلَاقِ وَالثَّانِي أَنَّهُ كِنَايَةٌ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَضَمَّنْ إيقَاعًا.

وَقَوْلُ الْقَائِلِ لَك هَذَا الثَّوْبُ يَحْتَمِلُ الْإِخْبَارَ عَنْ الْمِلْكِ وَيَحْتَمِلُ الْهِبَةَ وَقِيَاسٌ صَرَاحَةً أَوْقَعْت عَلَيْك طَلَاقِي تَرْجِيحُ صَرَاحَةً وَضَعْت عَلَيْك طَلْقَةً وَكَلَامُ الرَّافِعِيِّ يَمِيلُ إلَى تَرْجِيحِ صَرَاحَةً لَك طَلْقَةٌ وَالْأَوْجَهُ أَنَّهَا كِنَايَةٌ.

ــ

[حاشية الرملي الكبير]

عِنْدَنَا صَرِيحًا أَمْ كِنَايَةً وَكُلُّ مَا كَانَ عِنْدَهُمْ كِنَايَةً أُجْرِيَ عَلَيْهِ حُكْمُ الْكِنَايَةِ وَإِنْ كَانَ صَرِيحًا عِنْدَنَا لِأَنَّا نَعْتَبِرُ عُقُودَهُمْ فِي شِرْكِهِمْ بِمُعْتَقِدِهِمْ فَكَذَا إطْلَاقُهُمْ. اهـ. وَلَمْ أَرَ لِغَيْرِهِ التَّصْرِيحَ بِخِلَافِهِ وَلَا رِفَاقِهِ وَالْمُتَبَادِرُ مِنْ كَلَامِ الْأَصْحَابِ أَنَّهُمْ لَوْ تَرَافَعُوا إلَيْنَا حَكَمْنَا فِي الصَّرِيحِ وَالْكِنَايَةِ بَيْنَهُمْ بِمَا نَحْكُمُ بِهِ بَيْنَنَا نَعَمْ لَا نَتَعَرَّضُ إلَيْهِمْ مِنْ غَيْرِ تَرَافُعٍ. اهـ. وَقَوْلُهُ وَنَحْوُهُ قَوْلُ الرُّويَانِيِّ إلَخْ أَشَارَ إلَى تَصْحِيحِهِ وَكَذَا قَوْلُهُ وَقَضِيَّةُ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ وَغَيْرِهِ إلَخْ وَكَذَا قَوْلُهُ حَكَمْنَا فِي الصَّرِيحِ وَالْكِنَايَةِ إلَخْ (قَوْلُهُ وَكَذَا أَنْتِ طَالِقٌ إلَخْ) أَيْ وَأَنْتِ سَرَاحٌ أَوْ السَّرَاحُ أَوْ أَنْتِ أَطْلَقُ مِنْ امْرَأَةٍ فُلَانٍ وَامْرَأَةُ فُلَانٍ مُطَلَّقَةٌ (قَوْلُهُ أَوْ نِصْفُ طَالِقٍ فَصَرِيحٌ) كَقَوْلِهِ نِصْفُك طَالِقٌ (قَوْلُهُ وَاَلَّذِي فِيهِ كَمَا نَقَلَهُ الرَّافِعِيُّ فِي نُسَخِهِ الْمُعْتَمَدَةِ إنْ أَنْتِ لَك طَلْقَةٌ بِتَقْدِيمِ اللَّامِ عَلَى الْكَافِ إلَخْ) سَتَأْتِي هَذِهِ فِي كَلَامِهِ قَرِيبًا (قَوْلُهُ فَالْأَوْجَهُ مَا جَرَى عَلَيْهِ الْإِسْنَوِيُّ وَالزَّرْكَشِيُّ) أَيْ وَغَيْرُهُمَا (فَرْعٌ) فِي الْوَدَائِعِ لِابْنِ سُرَيْجٍ لَوْ قَالَ أَنْت طَالِقٌ كُلَّ تَطْلِيقٍ طَلُقَتْ ثَلَاثًا مِنْ قِبَلِ أَنَّ لِلطَّلَاقِ غَايَةً وَهَذِهِ غَايَتُهُ (قَوْلُهُ أَوْ مِنْ الْعَمَلِ) شَمِلَ مَا إذَا كَانَتْ مِمَّنْ لَا يَعْمَلُ كَبَنَاتِ الْمُلُوكِ (قَوْلُهُ وَفَارَقْتُك فِي الْمَنْزِلِ كِنَايَةٌ) قَدْ ذَكَرُوا فِيمَا لَوْ أَسْلَمَ عَلَى أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعٍ فَقَالَ لِإِحْدَاهُنَّ فَارَقْتُك أَنَّهُ فَسْخٌ عَلَى الصَّحِيحِ وَلَيْسَ بِطَلَاقٍ (قَوْلُهُ إنْ قَارَنَهُ الْعَزْمُ عَلَى الزِّيَادَةِ الَّتِي أَتَى بِهَا) فَإِنْ لَمْ يَأْتِ بِالزِّيَادَةِ وَنَوَاهَا قَبْلَ فَرَاغِ لَفْظِ الطَّلَاقِ دُيِّنَ فَإِنْ كَانَتْ قَرِينَةٌ كَمَا لَوْ قَالَهُ وَهُوَ يُحِلُّهَا مِنْ وَثَاقٍ قُبِلَ ظَاهِرًا فِي الْأَصَحِّ.

(فَرْعٌ) قَالَ لِزَوْجَتِهِ مَا كِدْت أَنْ أُطَلِّقَك فَهُوَ إقْرَارٌ بِالطَّلَاقِ قَالَهُ الْبَغَوِيّ قَالَ الْغَزِّيِّ وَفِيهِ نَظَرٌ لِأَنَّ النَّفْيَ الدَّاخِلَ عَلَى كَادَ أَنْ لَا يُثْبِتَهُ عَلَى الْأَصَحِّ إلَّا أَنْ يُقَالَ وَأَخَذْنَاهُ بِهِ لِلْعُرْفِ.

(قَوْلُهُ وَتَرْجَمَةُ الطَّلَاقِ بِالْعَجَمِيَّةِ صَرِيحٌ) سُئِلْت عَنْ شَخْصٍ حَلَفَ وَهُوَ لَا يُفَرِّقُ هُوَ وَلَا قَوْمُهُ بَيْنَ الطَّاءِ وَالتَّاءِ فَيَنْطِقُونَ بِالتَّاءِ مَكَانَ الطَّاءِ فَقَالَ أَنْت تَالِقٌ أَوْ التَّلَاقُ لَازِمٌ لِي أَوْ وَاجِبٌ عَلَيَّ أَوْ نَحْوُ ذَلِكَ هَلْ يَكُونُ صَرِيحًا فِي الطَّلَاقِ كَمَا أَفْتَى بِهِ جَمَاعَةٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْهُمْ الشَّيْخُ عَلَمُ الدِّينِ الْبُلْقِينِيُّ وَالشَّرَفُ الْمُنَاوِيُّ وَالسِّرَاجُ الْعَبَّادِيُّ وَجَمَاعَةٌ مِنْ الْعَصْرِيِّينَ وَقَاسُوهُ عَلَى تَرْجَمَةِ الطَّلَاقِ وَهُوَ مُشْكِلٌ لِأَنَّ تَرْجَمَةَ الطَّلَاقِ مَوْضُوعَةٌ فِي لُغَةِ الْعَجَمِ لِلطَّلَاقِ فَلَمْ تَحْتَمِلْ غَيْرَهُ بِخِلَافِ التَّلَاقِ بِالتَّاءِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ لِغَيْرِ الطَّلَاقِ فَإِذَا اُشْتُهِرَ فِي مَعْنَى الطَّلَاقِ يَكُونُ كِنَايَةً فِيهِ كَحَلَالِ اللَّهِ عَلَيَّ حَرَامٌ وَنَحْوِهِ فَأَجَبْت بِأَنَّ الْأَلْفَاظَ الْمَذْكُورَةَ كِنَايَةٌ فِي الطَّلَاقِ فَلَا يَقَعُ الطَّلَاقُ بِهَا إلَّا بِنِيَّةٍ وَقَدْ شَمِلَهَا قَوْلُهُمْ إذَا اُشْتُهِرَ فِي الطَّلَاقِ سِوَى الْأَلْفَاظِ الثَّلَاثَةِ الصَّرِيحَةِ كَحَلَالِ اللَّهِ عَلَيَّ حَرَامٌ أَوْ أَنْتِ عَلَيَّ حَرَامٌ أَوْ الْحِلُّ عَلَيَّ حَرَامٌ فَفِي الْتِحَاقِهِ بِالصَّرِيحِ أَوْجُهٌ أَصَحُّهَا وَبِهِ قَطَعَ الْعِرَاقِيُّونَ وَالْمُتَقَدِّمُونَ أَنَّهُ كِنَايَةٌ مُطْلَقًا. اهـ.

وَيُؤَيِّدُ وُقُوعَ الطَّلَاقِ بِهَا عِنْدَ نِيَّتِهِ أَنَّ حَرْفَ التَّاءِ قَرِيبٌ مِنْ مَخْرَجِ الطَّاءِ وَيُبْدَلُ كُلٌّ مِنْهُمَا مِنْ الْآخَرِ فِي كَثِيرٍ مِنْ الْأَلْفَاظِ قَالَ شَيْخُنَا مَا ذَكَرَهُ الْوَالِدُ فِي ” لَازِمٌ لِي، وَوَاجِبٌ عَلَيَّ ” مَمْنُوعٌ. (قَوْلُهُ كَذَا صَحَّحَهُ فِي الرَّوْضَةِ) أَشَارَ إلَى تَصْحِيحِهِ وَكَتَبَ عَلَيْهِ وَكَلَامٌ الصَّغِيرُ يَفْهَمُهُ وَالْفَرْقُ اشْتِهَارُ لَفْظِ الطَّلَاقِ فِي كُلِّ لُغَةٍ بِخِلَافِ لَفْظِ الْفِرَاقِ وَالسَّرَاحِ (قَوْلُهُ أَحَدُهُمَا أَنَّهُ صَرِيحٌ) هُوَ الْأَصَحُّ.

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEMELIHARA BURUNG DAN MEMAKAN DAGINGNYA

HUKUMNYA MEMELIHARA BURUNG,DAN MEMAKAN DAGINGNYA

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah.
Manusia hidup dihiasi dengan bermacam kecintaan dan hobi yang berbeda-beda, ada yang senang dan hobi memelihara burung hewan ternak dan hiasan berupa emas dll. sebagaimana hal tersebut telah difirmankan oleh Allah.Yang artinya:” Dijadikan perasaan indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik ( QS.Al-Imran:14 ).Studi kasus ada orang yang punya hobi atau senag memelihara burung ternak labet dan burung merpati, ada juga memelihara burung elang dalam sangkar .

Pertanyaannya.

  1. Bagaimana hukumnya seorang punya kesenangan ( hobi) memelihara burung di dalam sangkar ?
  2. apakah boleh memakan daging burung elang ? mohon diterangkan ! syukron, wassalam. 

Waalaikum salam.

Jawaban No.1

Jika mampu merawatnya, maka hukumnya BOLEH, dan jika berkemungkinan tidak mampu merawatnya, maka hukumnya HARAM.

Referensi :

  • Hasyiyah as-Syarwani, 9/210 :

وسئل القفال عن حبس الطيور في أقفاص لسماع أصواتها وغير ذلك فأجاب بالجواز إذا تعهدها مالكُها بما تحتاج إليه لأنها  كالبهيمة تُربط


”imam al-Qaffal ditanya tentang hukum memelihara burung dalam sangkar, untuk didengarkan suaranya atau semacamnya. Beliau menjawab, itu dibolehkan selama pemiliknya memperhatikan kebutuhan burung itu, karena hukumnya sama dengan binatang ternak yang diikat.” (Hasyiyah as-Syarwani, 9/210).

  • Fathul Bari, 10/584 :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا، وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ – قَالَ: أَحْسِبُهُ – فَطِيمًا، وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ: «يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ» نُغَرٌ كَانَ يَلْعَبُ بِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Saya memiliki seorang adik lelaki, namanya Abu Umair. Usianya mendekati usia baru disapih. Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdatang, beliau memanggil, ‘Wahai Abu Umair, ada apa dengan Nughair?’ Nughair adalah burung yang digunakan mainan Abu Umair. (HR. Bukhari )
Al-Hafidz Ibnu Hajar menyimpulkan Hukum Dari hadist di atas :


جواز إمساك الطير في القفص ونحوه


“(Hadis ini dalil) bolehnya memelihara burung dalam sangkar atau semacamnya.” (Fathul Bari, 10/584).HR. Muslim, no. 1552 : Dan memberi makan binatang termasuk Sedekah berdasar hadist berikut : Dari shohabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :


دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أُمِّ مَعْبَدٍ حَائِطًا فَقَالَ يَا أُمَّ مَعْبَدٍ مَنْ غَرَسَ هَذَا النَّخْلَ أَ مُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ فَقَالَتْ بَلْ مُسْلِمٌ قَالَ فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasuki kebun Ummu Ma’bad, kemudian beliau bersabda, : “Wahai Ummu Ma’bad, siapakah yang menanam kurma ini, seorang muslim atau seorang kafir?”  Ummu Ma’bad berkata, “Seorang muslim.”  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu dimakan oleh manusia, hewan atau burung kecuali hal itu merupakan shadaqah untuknya sampai hari kiamat.”  (HR. Muslim, no. 1552).
Pada riwayat Muslim yang lain disebutkan :


مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ مِنْهُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ


“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman melainkan apa yang dimakan dari tanaman tersebut akan menjadi sedekah baginya. Apa yang dicuri dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Apa yang dimakan oleh seekor burung dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Tidaklah dikurangi atau diambil oleh seseorang dari tanaman tersebut kecuali merupakan sedekahnya.” (HR. Muslim, no. 1552).

  • Hasyiyatan Qolyubi 4/95 :


حاشيتا قليوبي وعميرة4/95

فَرْعٌ: لَهُ حَبْسُ حَيَوَانٍ وَلَوْ لِسَمَاعِ صَوْتِهِ، أَوْ التَّفَرُّجِ عَلَيْهِ، أَوْ نَحْوَ كَلْبٍ لِلْحَاجَةِ إلَيْهِ مَعَ إطْعَامِهِ.

Bagi seseorang diperbolehkan menahan (memelihara) hewan walau untuk sekedar mendengar suaranya atau melihatnya, atau menahan anjing untuk kebutuhan, dengan syarat hewan-hewan itu diberi makan.

  • Faidhul Qodir 1/112 :

فيض القدير ١- ص ١١٢


١٠٢ – (اتخذوا) ندبا وارشادا (هذه الحمام) كسحاب ما عب وهدر أي شرب الماء بلا مص وصوت يقع على الذكر والأنثى ودخول الهاء لإفادة الوحدة لا للتأنيث قال ابن العماد: ويقع على الذي يألف البيوت واليمام والقماري وساق حر والفاختة والقطا والورشان والعصفور والفتح والحجل والدراج (المقاصيص) جمع مقصوصة أي مقطوعة ريش الأجنحة لئلا تطير. يقال: قصصت الشعر أي قطعته وقصصته بالتثقيل مبالغة (في بيوتكم) بضم الباء وتكسر أي أماكن سكنكم (فإنها تلهي) من لها يلهو لعب (الجن عن) عبثهم بنحو (صبيانكم) وأذاهم قيل وللأحمر في ذلك مزيد خصوصية [ص: ١١٢] ولعل وجهه أن الجن تحب من الألوان الحمرة كما ورد في خبر فإذا كان الحمام باللون المحبوب لهم كانوا أكثر إقبالا على اللهو به والإشتغال به عن العبث بالأطفال قال في القاموس: ومجاورتها أمان من الخدر والفالج والسكتة والجمود والثبات ومن فوائد اتخاذ الحمام أنه يطرد الوحشة فقد أخرج الخطيب في التاريخ عن ابن عباس قال: شكا رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم الوحشة فقال: اتخذ زوج حمام يؤنسك في الليل لكن فيه محمد بن زياد كذاب وأخرج ابن السني عن معاذ أن عليا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم الوحشة فأمره أن يتخذ زوج حمام ويذكر الله تعالى عند هديره وأشار المصطفى صلى الله عليه وسلم بقوله المقاصيص إلى عدم اتخاذ غيرها فإنه يجر إلى اللعب به بالتطير أو المسابقة وذلك مكروه بل ترد الشهادة بإدامته وفيه جواز حبس الطير في القفص مع القيام بمؤنته قال في شرح المقاصد: والجن أجسام لطيفة هوائية تتشكل بأشكال مختلفة ويظهر منها أحوال عجيبة والشياطين أجسام نارية شأنها إلقاء الناس في الفساد والغواية انتهى.


Disunahkan memelihara burung merpati yang dipotong bulu sayapnya di dalam rumah ( jika tanpa disangkar agar tidak terbang ), karena burung tersebut (lebih-lebih yang berwarna merah ) bisa melalaikan Jin dari bermain dengan anak-anak kecil penghuni rumah .
Menurut Imam Ibnu Imad : Begitu pula memelihara burung-burung yang biasa hinggap di rumah-rumah dari sejenis burung merpati / dara, burung kutilang, burung layang-layang (emprit), burung puyuh dan burung yang indah dipandang ( bentuknya seperti puyuh paruhnya pendek ) .

  • Riyadus Salihin :Dikutip dari Kitab Riyadus Salihin Karya Imam Nawawi Rahimahullah. Allah Subhanahu wa Ta’alla berfirman :

بسم الله وما من دآبة في الأرض ولا طئر يطير بجناحين إلآ أمم أمثل لكم.

” Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya melainkan umat juga seperti kamu.”(QS. Al-An’am: 38).


وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم في سفر ، فانطلق لحاجته ، فرأينا حمرة معها فرخان ، فأخذنا فرخيها، فجاءت الحمرة تعرش فجاء النبي صلى الله عليه وسلم فقال: من فجع هذه بولدها ؟ ردوا ولدها إليهاورأى قرية نمل قد حرقناها ، فقال : من حرق هذه ؟ قلنا: نحن. قال:إنه لا ينبغي أن يعذب بالنار إلا رب النار.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA. Ia berkata aku pernah bersama Rasulullah SAW di sebuah perjalanan ketika beliau sedang membuang hajatnya, kami melihat ada seekor burung yang mempunyai dua ekor anak. Lalu induknya datang dan terbang berputar-putar mencari anaknya.
Kemudian Nabi SAW datang dan bersabda:” Siapakah yang mempermainkan burung itu dengan mengambil anaknya? Kembalikanlah anak burung itu kepadanya.”Dan beliau juga melihat perkampungan semut yang telah kami bakar. Beliau bertanya:” Siapakah yang telah membakar perkampungan semut ini?”
Kami menjawab: ” Kami.” Beliau bersabda :” Siapapun tidak pantas menyiksa sesuatu dengan api kecuali Tuhan yang telah membuat api.” (HR. Abu Dawud: 2675).

وعن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:عذبت امرأة في هرة حبستها حتى ماتت ، فدخلت فيها النار ، لا هي أطعمتها وسقتها، إذ هي حبستها ولاهي تركتها تأكل من خشاش الأرض.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA . Bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda : ” Ada seorang wanita di siksa di dalam neraka, lantaran seekor kucing yang di kurung olehnya sampai mati. Di mana ia tidak memberi makan dan minum kepada kucingnya saat ia mengurungnya dan ia juga tidak membiarkan pergi untuk mencari serangga atau makanan di bumi.” (Muttafaq ‘alaih Bukhari: 2365 dan Muslim : 2242).
……………………………………….

Jawaban No.2
HARAM hukumnya memakan daging burung elang. Disebutkan dalam sebuah hadits :

حرم على أمتي كل ذي محلب من الطير وكل ذي ناب من السباء.


” Diharamkan bagi umatku (memakan) semua yang memiliki kuku cengkraman dari jenis burung dan semua yang bertaring dari binatang buas.” ( HR. Abu Dawud).

  • Al-Wasiit fil Madzhab 7/158 :

الكتاب: الوسيط في المذهبالمؤلف: أبو حامد محمد بن محمد الغزالي الطوسي (المتوفى: 505هـ)
فَجَمِيع مَا يُمكن أكله مُبَاح إِلَّا مَا يستثنيه عشرَة أصُولالأول مَا حرم بِنَصّ الْكتاب كَالْخمرِ وَالْخِنْزِير وَالدَّم والمنخنقة والموقوذة وَكَذَلِكَ مَا حرم بِالنَّصِّ عَلَيْهِ فِي السّنة كالحمر الْأَهْلِيَّةالأَصْل الثَّانِي مَا فِي معنى الْمَنْصُوص عَلَيْهِ كالنبيذ الَّذِي هُوَ فِي معنى الْخمر الْمَنْصُوص عَلَيْهِالأَصْل الثَّالِث كل ذِي نَاب من السبَاع وكل ذِي مخلب من الطير إِذْ نهى رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم عَنهُ وَيحرم الْفِيل لِأَنَّهُ ذُو نَاب مكاوح وَكَذَا الدب وَمن ذَوَات المخلب الْبَازِي والشاهين والصقر وَالْعِقَاب والنسر وَجَمِيع جوارح الطير
الْبَازِي = Elang

Wallohu a’lam.

Kategori
Uncategorized

REBOUNDING PERSPEKTIF (MENURUT SUDUT PANDANG ) FIKIH

REBOUNDING PERSPEKTIF (MENURUT SUDUT PANDANG ) FIKIH

Deskripsi Masalah :
Anak muda zaman sekarang memang sudah gila akan berbagai mode, mulai dari berpakaian sampai gaya rambut, untuk menambah kecantikan dengan segala pernak- perniknya. Ada banyak cara dilakukan supaya terlihat spesial, seperti merebounding rambut, mengeriting rambut, menata rambut dengan gaya punk, menggimbalkan rambut (rasta) dan memasang tato di sebagian anggota badan mereka.
Catatan
Rebounding adalah salah satu cara meluruskan rambut melalui proses kimiawi agar rambut terlihat lebih lurus dan indah. Rebounding cenderung variatif, ada yang mengubah seluruh ikatan protein rambut dengan cara memutus ikatan asam amino cystine yang menyebabkan rambut bergelombang atau mengurangi ikal dan volume saja. Daya tahannya pun bervariasi, ada yang hanya dua minggu, ada pula yang bisa bertahan hingga 10 bulan.
Tato permanent klasik (wasymu) adalah tato dengan cara menusukkan jarum yang mengandung nila (pewarna) ke dalam kulit sehingga bercampur dengan darah, dan biasanya tato ini  bersifat permanen. Sedangkan tato sementara adalah menggunakan pigmen atau pewarna yang menciptakan suatu pola atau tanda yang mirip dengan tato, namun akan breakdown dan lenyap tanpa meniggalkan jejak seperti tato yang terbuat dari henna (laowsonia intermis). Henna adalah sejenis tumbuhan (daun pacar) yang menghasilkan warna merah anggur atau cokelat ketika belum tercampur dengan bahan kimia dan nila.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukum melakukan rebounding, pengeritingan rambut, punk, rasta dan mentato badan?

Jawaban :

  1. Menurut fikih, hukum rebounding dan kriting rambut adalah haram, sebab termasuk dalam kategori taghyîrul-khalqi (mengubah ciptaan Allah, selain itu juga karena unsur taraffuh (bersenang-senang) yang berlebihan, menghamburkan uang, dan tasyabbuh bil-fussâq (menyerupai orang fasik/orang yang gemar berbuat dosa).
    Sedangkan hukum rambut punk dan rasta adalah haram karena tasyabbuh bil-kuffâr (menyerupai gaya orang kafir).
    Mentato badan juga dihukumi haram. Selain ada ketegasan dari Nabi juga ada unsur tasyabbuh bil-fussâq.
    Tato yang tidak permanen atau hanya menempel  pada badan serta hanya berbekas, semisal daun pacar, apabila yang ditato laki-laki maka hukumnya haram karena tasyabbuh bin-nisâ’ (serupa dengan wanita), kalau yang ditato seorang wanita dan model tato tersebut serupa dengan tatonya orang fasik, maka juga dihukumi haram.

Referensi :

(الفجر الساطع على الصحيح الجامع, 8/154)

قَالَ الطَّبَرِي: لاَ يَجُوْزُ لِلْمَرْأَةِ تَغْيِيْرُ شَيْءٍ مِنْ خَلْقِهَا بِزِيَادَةٍ فِيْهِ أَوْ نَقْصٍ مِنْهُ، قَصَدَتْ بِهِ التَّزَيُّنَ لِزَوْجٍ أَوْ غَيْرَهُ، مِنْ تَفْلِيْحِ أَسْنَانٍ أَوْ شَدِّهَا، أَوْقَلْعِ سِنٍّ زَائِدَةٍ، أَوْ تَقْصِيْرِ مَا طَالَ مِنْ أَسْنَانِهَا، أَوْ حَلْقِ لِحْيَةٍ أَوْ شَارِبٍ، أَوْ عَنْفَقَةٍ نَبَتَتْ لَهَا، لِأَنَّهَا فِي جَمِيْعِ ذَلِكَ مُغَيِّرَةُ خَلْقِ اللهِ، مُتَعَدِّيَةٌ عَلَى مَا نَهَى عَنْهُ.

(المفصل في احكام المرأة وبيت المسلم في الشريعة الاسلامية, 3/402)

المُبَالَغَةُ فِي تَزْيِيْنِ الشَّعْرِ وَيُلاَحِظُ الوَقْتُ الحَاضِرُ اَنَّ كَثِيْرًا مِنَ النِّسَاءِ يُبَالِغْنَ فِي تَزْيِيْنِ شُعُوْرِهِنَّ عَنْ طَرِيْقِ ارْتِيَادِ مَا يُسَمَّي بـ”صَالُوْنَات تَجْمِيْلِ الشَّعْرِ” وَفِي هَذِهِ الصَّالُوْنَاتْ تُسْتَعْمَلُ اَلاَتٌ مُتَنَوِّعَةٌ كَهَرْبَائِيَةٍ وَيَدْوِيَةٍ لِتَجْعِيْدِ الشَّعْرِ اَوْ لِجَعْلِهِ بِشَكْلٍ مُعَيَّنٍ وَهَيْئَةٍ مُعَيَّنَةٍ وَرُبَّمَا صَبَغَهُ اَيْضًا بِأَصْبَاغٍ مُتَنَوِّعَةٍ وَرُبَّمَا اُسْتُعْمِلَتْ مَوَادٌ كِيْمِيَاوِيَةٌ فِي هَذِهِ الصَالُوْنَاتِ لِصَبْغِ خَيُوْطٍ مِنَ الشَّعْرِ بِاَلْوَانٍ مُخْتَلِفَةٍ كَالأَبْيَضِ وَالأَصْغَرِ حَتَّي تَبْدُو المَرْأَةُ وَكَأَنَّ رَأْسَهَا قَدْ إِمْتَلَأَ شَيْبًا وَكُلُّ هَذِهِ المُبَالَغَةُ فِي تَزْيِيْنِ الشَّعْرِ وَصَرْفِ المَالِ مِنْ اَجْلِهَا وَإِضَاعَةِ الوَقْتِ بِسَبَبِهَا غَيْرُ مَرَغُوْبَةٍ شَرْعاً وَتَرْكُهَا مَطْلُوْبٌ لِاَنَّ الاِعْتِدَالَ فِي الزِّيْنَةِ مَطْلُوْبٌ كَمَا قَدَّمْنَا وَاعْتِيَادُ هَذَا النَّوْعِ مِنْ زِيْنَةِ شَعْرِ المَرْأَةِ لاَ يُمْكِنُ وَصْفُهُ بِالاِعْتِدَالِ وَاِنَّمَا يَدْخُلُ فِي مَفْهُوْمِ الاَرْفاَه المَنْهِيِّ عَنْهُ وَكَثِيْرِ المَنْهِيِّ عَنْهُ كَمَا جَاءَ فِي الحَدِيْثِ الَّذِي رَوَاهُ
اَبُوْ دَاوُدَ عَنْ فَضَالَة وَفِيْهِ “كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَنْهَانَا عَنْ كَثِيْرٍ مِنَ الاَرْفاَه” وَاِذَا كَانَ الإِكْثَارُ مِنْ تَشْمِيْطِ الشَّعْرِ وَتَرْجِيْلِهِ يَدْخُلُ فِي مَفْهُوْمِ الاِرْفَاه الكَثِيْرِ المَنْهِي عَتْهُ فَاِنَّ مَا تَفْعَلُهُ نِسَاءُ اليَوْمِ فِي شُعُوْرِهِنَّ مِنْ تَجْعِيْدٍ وَتَلْوِيْنِ بَعْضِهِ اَوْ بِتَلْوِيْنِ خَيُوْطٍ مِنْهُ اَوْ بِكيه لِجَعْلِهِ بِهَيْئَةٍ مُعَيَّنَةٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَهَذَا الَّذِي تَفْعَلُهُ كَمَا يَدْخُلُهُ فِي مَفْهُوْمِ الاِرْفاَه المَنْهِيِّ عَنْهُ بَلْ دُخُوْلُهُ فِي هَذَا المَنْهِيِّ عَنْهُ أَوْلَي مِنْ دُخُوْلِهِ التَّشْمِيْطَ وَالتَّدْهِيْنَ وَالتَّرْجِيْلَ فِي مَفْهُوْمِ الاِرْفَاه المَنْهِيِّ عَنْهُ, فَعَلَي المَرْأَةِ المُسْلِمَةِ فِي الوَقْتِ الحَاضِرِ اَنْ تَبْتَعِدَ عَنْ مِثْلِ هَذَا التَّزْيِيْنِ لِشَعْرِهَا وَلِتَكْتَفِي بِغَسْلِهِ وَتَشْمِيْطَتِهِ وَتَدْهِيْنِهِ بِالدِّهَانِ الَّذِي لاَ يُؤْذِيْهِ وَلاَ يَضُرُّهُ وَلاَ يُؤَثِّرُ فِيْهِ وَلاَ يُمِيْتُ جَذُوْرَهُ كَمَا تَفْعَلُ بَعْضُ مَوَادِ الزِّيْنَةِ اَوْ الآلاَتُ الكَهْرَبَائِيَّةِ المُسْتَعْمَلَةِ فِي تَزْيِيْنِ الشَّعْرِ وَهَذَا الاِبْتِعَادُ عَنْ هَذِهِ المَحَلاَّتِ وَالاِمْتِنَاعِ عَنْ هَذَا التَّزْيِيْنِ فَائِدَةٌ مُؤَكَّدَةٌ لَهَا مِنْ جِهَّةِ المَالِ وَالوَقْتِ وَفِيْهِ اِحْتِيَاطٌ مَشْرُوْعٌ مِنَ الوُقُوْعِ فِي الاِرْفَاه المَنْهِيِّ عَنْهُ.

(بغية المسترشدين, 1/604)

(مَسْأَلَةُ: ي) ضَابِطُ التَّشَبُّهِ المُحَرَّمِ مِنْ تَشَبُّهِ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَعَكْسِهِ مَا ذَكَرُوْهُ فِي الفَتْحِ وَالتُحْفَةِ وَالإِمْدَادِ وَشَنِّ الغَارَةِ، وَتَبِعَهُ الرَّمْلِي فِي النِّهَايَةِ هُوَ أَنْ يَتَزَّيَا أَحَدُهُمَا بِمَا يَخْتَصُّ بِالآخَرِ، أَوْ يَغْلِبُ اِخْتِصَاصُهُ بِهِ فِي ذَلِكَ المَحَلِّ الَّذِي هُمَا فِيْهِ.

(احكام اهل الذمة, 3/1294)

التَّشَبُّهُ بِالكُفَّارِ اَوِ الفُسَّاقِ وَهِيَ تَسْرِيْحَاتٌ كَثِيْرَةٌ يَدْخُلُ بَعْضُهَا فِي القَزْعِ كَتَسْرِيِحِهِ المَارَينز فَتَمْتَنِعُ لِسَبَبَيْنِ القَزَعِ وَالتَّشَبُّهِ بِالكُفَّارِ وَبَعْضُهَا لاَ قَزَعَ فِيْهِ غَيْرَ اَنَّهُ يَخْتَصُّ بِالكُفَّارِ كَنَصْبِ بَعْضِ الشَّعْرِ وَسَبْلِ الاَخَرِ اَوْ مَا شَابَهَ ذَلِكَ وَيَجْمَعَهَا كُلُّ تَسْرِيْحَةٍ تَخْتَصُّ بِالكُفَّارِ اَوِ الفُسَّاقِ فَاِنَّهُ لاَ يَجُوْزُ لِلْمُسْلِمِ التَّشَبُّهُ بِهِمْ فِيْهَا لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ (مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ) رواه ابو داود.

(الموسوعة الفقهية الكويتية, 43/158)

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ الْوَشْمَ حَرَامٌ لِلأْحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي لَعْنِ الْوَاشِمَةِ وَالْمُسْتَوْشِمَةِ، وَمِنْهَا حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَال: لَعَنَ رَسُول اللَّهِ  الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ. وَعَدَّهُ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ مِنَ الْكَبَائِرِ يُلْعَنُ فَاعِلُهُ. وَقَال بَعْضُ مُتَأَخِّرِي الْمَالِكِيَّةِ بِالْكَرَاهَةِ، قَال النَّفْرَاوِيُّ: وَيُمْكِنُ حَمْلُهَا عَلَى التَّحْرِيمِ. وَاسْتَثْنَى بَعْضُ الْفُقَهَاءِ مِنَ الْحُرْمَةِ حَالَتَيْنِ: الأْولَى الْوَشْمُ إِذَا تَعَيَّنَ طَرِيقًا لِلتَّدَاوِي مِنْ مَرَضٍ فَإِنَّهُ يَجُوزُ؛ لأِنَّ الضَّرُورَاتِ تُبِيحُ الْمَحْظُورَاتِ. الثَّانِيَةُ إِذَا كَانَ الْوَشْمُ طَرِيقًا تَتَزَيَّنُ بِهِ الْمَرْأَةُ لِزَوْجِهَا بِإِذْنِهِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَتَزَيَّنَ بِهِ لِزَوْجِهَا.

(حاشية الجمل, 2/430)

وَيَحْرُمُ أَيْضًا تَجْعِيْدُ شَعْرِهَا وَنَشْرُ أَسْنَانِهَا وَهُوَ تَحْدِيْدُهَا وَتَرْقِيْقُهَا وَالخِضَابُ بِالسَّوَادِ وَتَحْمِيْرُ الوَجْنَةِ بِالحِنَاءِ وَنَحْوِهِ وَتَطْرِيْفُ الأَصَابِعِ مَعَ السَّوَادِ وَالتَّنْمِيْصِ وَهُوَ الأَخْذُ مِنْ شَعْرِ الوَجْهِ وَالحَاجِبِ المُحْسِنِ.

(اتحاف السادة المتقين, 7/951-952)

العِلَّةُ الثَّالِثَةُ الاِجْتِمَاعُ عَلَيْهَا اِنْ صَارَمَ عَادَةَ اَهْلَ الفِسْقِ وَالفُجُوْرِ فَيَمْتَنِعُ مِنَ التَّشَبُّهِ بِهِمْ لِاَنَّ مَنْ يَشْبَهُ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ-الي ان قال-(وَبِهَذَا العِلَّةِ تَقُوْلُ بِتَرْكِ السُّنَّةِ مَهْمَا صَارَةْ شِعَارًا لِاَهْلِ البِدْعَةِ خَوْفًا مِنَ التَّشَبُّهِ بِهِمْ وَقَدْ نَقَلَ الرَّافِعِيُّ عَنْ بَعْضِ اَئِمَّةِ الشَّافِعِيَّةِ اَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ الاَوْلَي تَرْكُ رَفْعِ اليَدَيْنِ فِي الصَّلاَةِ فِي دِيَارِنَا
يَعْنِي دِيَارَ العُجْمِ
قَالَ لِاَنَّهُ صَارَ شِعَارًا لِلرَّافِضَةِ وَلَهُ اَمْثِلَةٌ كَثِيْرَةٌ لَكِنْ قَدْ يُقَالُ لَيْسَ كُلُّ شَيْئٍ يَفْعَلُهُ الفُسَّاقُ يَحْرُمُ فِعْلُهُ عَلَي غَيْرِهِمْ وَلَوْ كَانَ هَذَا مُعْتَبَرًا لَكَانَ الضَّرْبُ باِلفَوْف وَالشَّبَابَةِ حَرَامًا-الي ان قال-فَلَمَّا لَمْ يَحْرُمْ شَيْئٌ مِنْ ذَلِكَ عَلِمْنَا اَنَّ هَذَا العِلَّةَ غَيْرُ مُعْتَبَرَةٍ فَتَأَمَّلْ.

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

MADRASAH (PONDOK PESANTREN) DI ATAS TANAH MASJID

MADRASAH (PONDOK PESANTREN) Di ATAS TANAH MASJID

Deskripsi Masalah :
Ketika tanah di masjid masih luas, sementara kegiatan belajar membutuhkan lahan guna mendirikan gedung madrasah ( Pondok Pesantren ). Atas kesepakatan takmir masjid, maka dibangunlah madrasah (Pondok Pesantren)di atas lahan yang masih tersisa.
Namun layaknya di dunia, hal apa pun tak lepas dari masalah. Setelah madrasah(Pondok Pesantren ) maju dan memiliki profit ( keuntungan ) yang melimpah, timbullah kemelut dengan takmir masjid. Pihak masjid merasa dirugikan, karena selama ini tenaga pendidik dan murid selalu menggunakan fasilitas masjid, contohnya pemakaian fasilitas MCK ( Kamar mandi,WC ). Akan tetapi tidak memberikan konstribusi ( sumbangan ) pada masjid, baik finansial(keuangan)atau kegiatan keagamaan. Belum lagi pihak madrasah ( Pondok Pesantren ) yang seakan-akan tidak peduli pada kebersihan masjid dan fasilitasnya.

Pertanyaan :

  1. Bagaimana hukum membangun gedung madrasah (Pondok Pesantren)di atas tanah wakaf untuk masjid atau milik masjid, dalam pandangan lintas madzhab?
  2. Perjanjian bentuk apa yang seharusnya dilakukan antara pihak masjid dan madrasah (Pondok Pesantren)agar tidak melanggar hukum syar’i sesudah pendirian bangunan?

Jawaban :

  1. Diperbolehkan menurut sebagian ulama Hanâbilah dan sebagian ulama Syafiiyah. Sedangkan menurut mayoritas ulama tidak diperbolehkan.
  2. Perjanjian atau kesepakatan yang bisa membawa kemaslahatan bagi masjid, seperti:
     Pihak madrasah(Pondok Pesantren)memberi uang sewa bagi masjid ketika madrasah (Pondok Pesantren)merupakan lembaga luar naungan masjid.
     Aturan bagi siswa madrasah (Pondok Pesantren)untuk menjaga hak-hak masjid dan ikut menghidupi kegiatan-kegiatan masjid.

Referensi :

الإنصاف – (ج 7 / ص 45)

( فوائد: الأولى: يتعين مصرف الوقف إلى الجهة المعينة له على الصحيح من المذهب ونقله الجماعة قدمه في الفروع وغيره وقطع به أكثرهم وعليه الأصحاب. وقال الشيخ تقي الدين رحمه الله يجوز تغيير شرط الواقف إلى ما هو أصلح. منه وإن اختلف ذلك باختلاف الأزمان حتى لو وقف على الفقهاء والصوفية واحتاج الناس إلى الجهاد صرف إلى الجند. وقيل إن سبل ماء للشرب جاز الوضوء منه.قال في الفروع فشرب ماء موقوف للوضوء يتوجه عليه وأولى

(مجموع فتاوى و رسائل للإمام السيد علوى الملكي الحسنى, ص 147)

(بناء مدارس على أرض موقوفة على مساجد) ـــ إلـــــى أن قــــــال ـــ اطلعنا على السؤال المرفوع إلينا من جهة الخلاف الذى نشأ بين علماء آشي فى بناء المدارس و الزوايا فى أرض موقوفة على مصالح المسجدحيث قال بعضهم يجوز ذالك و احتج بنص بغية المسترشدين لما قال و قال البعض الآخر بمنع ذالك و احتج بنص تحفة المحتاج و نهاية المحتاج و إعانة الطالبين و بغية المسترشدين ـــ إلــــــى أن قـــــــال ــــ أن التحقيق عندنا يرجع إلى ما سيذكره فيما يلى: 1ــ إننا نرجع إلى جانب المنع فلا يجوز بناء المدارس و الزوايا فى الأرض الموقوفة على مصالح المسجدلأنه استعمال للموقوف فى غيرما وضع له و فيه مخالف لشرط الواقف هو كنص الشارع سياما و إن هواء الموقوف موقوف ويمنع إحداث كل ما يغير الوقف با لكلية عن اسمه الذى كان عليه حال الوقف لأنه تبديل له. 2 ـــ إن بناء هذه المدارس و الزوايا فى الأرض الموقوفة على مصالح المسجد مخالف لأن مقصود الواقف الإنتفاع بهذه الأرض مع بقاء عينها بدون تغيير لأن التغيير ببناء المدارس و الزوايا وسيلة لتملك الأرض المذكورة تبعا للبناء المذكور فيؤدى إلى إبطال ة وقفية الأرض وفوات المقصود منها

بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 132

(مسألة : ب) :

يجوز للمقيم شراء عبد للمسجد ينتفع به لنحو نزح إن تعينت المصلحة في ذلك ، إذ المدار كله من سائر الأولياء عليها ، نعم لا نرى للقيم وجهاً في تزويج العبد المذكور كولي اليتيم إلا أن يبيعه بالمصلحة فيزوجه مشتريه ثم يرد للمسجد بنحو بيع مراعياً في ذلك المصلحة ، ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد في المسجد من قهوة ودخون وغيرهما مما يرغب نحو المصلين ، وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته

وَظِيفَةُ الْمُتَوَلِّي 8 – وَظَائِفُ الْمُتَوَلِّي غَيْرُ مَحْصُورَةٍ عِنْدَ التَّوْلِيَةِ الْمُطْلَقَةِ ، فَلَهُ أَنْ يَعْمَل كُل مَا يَرَاهُ مَصْلَحَةً لِلْوَقْفِ وَذَكَرَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ فِي ذَلِكَ ضَابِطًا فَقَالُوا : يَتَحَرَّى فِي تَصَرُّفَاتِهِ النَّظَرَ لِلْوَقْفِ وَالْغِبْطَةِ ، لأَِنَّ الْوِلاَيَةَ مُقَيَّدَةٌ بِهِ (2) .وَذَكَرَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ أَمْثِلَةً لِهَذِهِ الْوَظَائِفِ ، قَال الشِّرْبِينِيُّ الْخَطِيبُ : وَظِيفَتُهُ عِنْدَ الإِْطْلاَقِ أَوْ تَفْوِيضِ جَمِيعِ الأُْمُورِ : الْعِمَارَةُ وَالإِْجَارَةُ وَتَحْصِيل الْغَلَّةِ وَقِسْمَتُهَا عَلَى مُسْتَحِقِّيهَا ، وَحِفْظُ الأُْصُول وَالْغَلاَّت
ِ عَلَى الاِحْتِيَاطِ ، لأَِنَّهُ الْمَعْهُودُ فِي مِثْلِهِ ، فَإِنْ فُوِّضَ لَهُ بَعْضُ هَذِهِ الأُْمُورِ لَمْ يَتَعَدَّهُ اتِّبَاعًا لِلشَّرْطِ كَالْوَكِيل (3) .وَمِثْلُهُ مَا ذَكَرَهُ الْحَنَابِلَةُ ، وَأَضَافُوا عَلَيْهَا وَظَائِفَ أُخْرَى ، قَال الْحِجَّاوِيُّ : وَظِيفَةُ النَّاظِرِ حِفْظُ الْوَقْفِ وَعِمَارَتُهُ وَإِيجَارُهُ وَزَرْعُهُ وَمُخَاصَمَةٌ فِيهِ ، وَتَحْصِيل رِيعِهِ مِنْ أُجْرَةٍ أَوْ زَرْعٍ أَوْ ثَمَرٍ ، وَالاِجْتِهَادُ فِي تَنْمِيَتِهِ ، وَصَرْفُهُ فِي جِهَاتِهِ مِنْ عِمَارَةٍ وَإِصْلاَحٍ وَإِعْطَاءِ مُسْتَحِقٍّ وَنَحْوِهِ ، وَلَهُ وَضْعُ يَدِهِ عَلَيْهِ ، وَالتَّقْرِيرُ فِي وَظَائِفِهِ ، وَنَاظِرُ الْوَقْفِ يَنْصِبُ مَنْ يَقُومُ بِوَظَائِفِهِ مِنْ إِمَامٍ وَمُؤَذِّنٍ وَقَيِّمٍ وَغَيْرِهِمْ ، كَمَا أَنَّ لِلنَّاظِرِ الْمَوْقُوفِ عَلَيْهِ نَصْبَ مَنْ يَقُومُ بِمَصْلَحَتِهِ

(مطالب أولي النهى في شرح غاية المنتهى – (ج 12 / ص 473)

تَنْبِيهٌ : سُئِلَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ فِيمَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ ، وَأَرَادَ غَيْرُهُ أَنْ يَبْنِيَ فَوْقَهُ بَيْتًا وَقْفًا لَهُ ، إمَّا لِيَنْتَفِعَ بِأُجْرَتِهِ فِي الْمَسْجِدِ ، أَوْ لِيُسْكِنَهُ لِإِمَامِهِ ، وَيَرَوْنَ ذَلِكَ مَصْلَحَةً لِلْإِمَامِ أَوْ لِلْمَسْجِدِ ، فَهَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ أَمْ لَا ؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ إذَا كَانَ ذَلِكَ مَصْلَحَةً لِلْمَسْجِدِ بِحَيْثُ يَكُونُ ذَلِكَ أَعْوَنَ عَلَى مَا شَرَعَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فِيهِ مِنْ الْإِمَامَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا شُرِعَ فِي الْمَسَاجِدِ ؛ فَإِنَّهُ يَنْبَغِي فِعْلُهُ كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ وَنَحْوِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ ، حَتَّى سُئِلَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ مَسْجِدٍ لَاصِقٍ بِالْأَرْضِ فَأَرَادُوا أَنْ يَرْفَعُوهُ ، وَيَبْنُوا تَحْتَهُ سِقَايَةً ، وَهُنَاكَ شُيُوخٌ فَقَالُوا : نَحْنُ لَا نَسْتَطِيعُ الصُّعُودَ إلَيْهِ ، فَقَالَ أَحْمَدُ : يُنْظَرُ مَا أَجْمَعَ عَلَيْهِ أَكْثَرُهُمْ ، وَلَعَلَّ ذَلِكَ أَنَّ تَغْيِيرَ صُورَةِ الْمَسْجِدِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْوَقْفِ لِمَصْلَحَةٍ رَاجِحَةٍ ؛ جَائِزٌ ؛ إذْ لَيْسَ فِي الْمَسَاجِدِ مَا هُوَ مُعَيَّنٌ بِذَاتِهِ إلَّا الْبَيْتَ الْمَعْمُورَ ، وَإِلَّا الْمَسَاجِدَ الثَّلَاثَةَ الَّتِي تُشَدُّ إلَيْهَا الرِّحَالُ ؛ إذْ هِيَ مِنْ بِنَاءِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمْ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ، فَكَانَتْ كَالْمَنْصُوصِ عَلَيْهِ ، بِخِلَافِ الْمَسَاجِدِ الَّتِي بَنَاهَا غَيْرُهُ ؛ فَإِنَّ الْأَمْرَ فِيهَا يَتْبَعُ الْمَصْلَحَةَ ، وَلَكِنَّ الْمَصْلَحَةَ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَعْصَارِ وَالْأَمْصَارِ

الموسوعة الفقهية – 23388/31949

الأحكام المتعلقة بالمدرس:
وظيفة المدرس:
3 – وظيفة المدرس وهي التعليم، من آكد فروض الكفايات وأعظم العبادات، وأمور الدين.
وتفصيل ذلك في (مصطلح: تعلم وتعليم ف 5 وما بعدها) .

استحقاق المدرس غلة الوقف:
4 – قال الحنابلة: إذا وقف واقف شيئا على المشتغلين بالعلم استحق من اشتغل به فإن ترك الاشتغال زال استحقاقه؛ فإن عاد إلى الاشتغال عاد استحقاقه؛ لأن الحكم يدور مع علته وجودا وعدما، وإن شرط الواقف في الصرف نصب الناظر للمستحق كالمدرس والمعيد والمتفقهة أي الطلبة بالمدرسة

مثلا فلا إشكال في توقف الاستحقاق على نصب الناظر للمدرس ونحوه عملا بالشرط، وإن لم يشترط الواقف نصب الناظر للمستحق بل قال: ويصرف الناظر إلى مدرس أو معيد أو متفقهة بالمدرسة لم يتوقف الاستحقاق على نصب الناظر ولا الإمام، بل لو انتصب مدرس أو معيد بالمدرسة وأذعن له الطلبة بالاستفادة وتأهل لذلك استحق ولم يجز منازعته لوجود الوصف المشروط أي التدريس والإعادة، وكذا لو قام طالب بالمدرسة متفقها – ولو لم ينصبه ناصب – استحق لوجود التفقه (1) .
وصرح الحنفية بأن المدرس في المدرسة من الشعائر كالإمام في المسجد، والشعائر عندهم (هي: ما لا تنتظم مصلحة الوقف بدونه) كعمارة الوقف، والإمام في المسجد والمدرس في المدرسة، فيقدم في صرف الغلة عمارة الوقف، ثم ما هو أقرب إلى العمارة وأعم للمصلحة كالإمام في المسجد والمدرس في المدرسة، فيصرف إليهما بقدر كفايتهم.
وقال صاحب البحر الرائق: وظاهره تقديم الإمام والمدرس على جميع المستحقين بلا شرط، والتسوية بالعمارة يقتضي تقديمهما عند شرط الواقف: أنه إذا ضاق ريع الوقف
قسم عليهم الريع بالحصة، وإن هذا الشرط لا يعتبر.
وتقديم المدرس على سائر المستحقين إنما يكون بشرط ملازمته للمدرسة للتدريس الأيام المشروطة في كل أسبوع، لهذا قال: للمدرسة، لأنه إذا غاب المدرس تعطلت المدرسة من الشعائر، بخلاف مدرس المسجد فإن المسجد لا يتعطل بغيبة المدرس (1) .

Kategori
Uncategorized

ANAK ANGKAT ( ADOPSI ANAK)DALAM PERSPEKTIF ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL

ANAK ANGKAT( ADOPSI ANAK) DALAM PERSPEKTIF ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL

Assalamualaikum
Deskripsi masalah

Diera pemerintahan presiden JOKOWI banyak bantuan-bantuan yang diberikan kepada kaum Dhuafa’ seperti Lansea orang yang lanjut usia juga PKH bantuan untuk anak sekolah ,dll. namun hal bantuan tersebut bisa diperoleh dengan syarat harus ada KK+ KTP .Studi Kasus PASUTRI tidak punya anak asli cuman ia punya anak angkat, nah untuk mendapatkan bantuan tersebut ia dianjurkan oleh pemerintah setempat membuat KK dan KTP namun dia bingung karena Menurut Hukum syariat menisbat kan nama anak angkat kepada bapak tiri hukumnya haram begitu juga sebalinya.

Pertanyaannya.
Bagaimana cara yang benar ketika ingin membuat KK /KTP bagi anak atau orang tua angkat yang benar menurut syariat dan pemerintah? Mohon Untuk dijawab.

Waalaikum salam.
Jawaban.

Kondisi anak bisa jadi berbeda-beda. Ada yang lahir dengan orang tua lengkap, hal ini dihasilkan melalui pernikahan yang sah menurut negara, dan agama, ada pula yang hanya sah secara agama atau kepercayaan ( yang disebut nikah sirri ) hal ini telah kami bahas pada edisi sebelumnya Yaitu tentang Nikah sirri dan hukumnya serta manfaat dan mafsadatnya . Terkadang kita temuai sebagian anak lahir tanpa diketahui keberadaan orang tuanya.
Setiap Anak Harus Punya Akta Kelahiran.
Akta kelahiran sebagai bentuk perlindungan dan pengakuan negara terhadap keberadaan dan status hukum atas identitas si anak. Jadi, setiap anak punya hak yang sama dan harus memiliki akta kelahiran sejak ia dilahirkan.
Kemudian bagaimana terkait pembuatan KK /KTP. Sebagaimana deskripsi maka terlebih dahulu kami akan jelaskan hubungan orang tua dan anak.

A- HUBUNGAN ANTARA ORANG TUA DAN ANAK DALAM ISLAM

– ISLAM MENJAGA NASAB

Anak adalah rahasia orang tua pembawa karakternya. Anak adalah penyejuk hati orang tua dikala hidup, dan perpanjangan hidupnya dikala mati, Anak mewarisi watak dan kepribadian, karakter dan kelebihan-kelebihannya, baik karakter yang baik (bagus) maupun yang tidak baik (buruk). Anak adalah termasuk bagian dari jantung hatinya. Oleh karena itulah Allah mengharamkan zina dan memerintahkan perkawinan, dengan maksud dan tujuan agar nasab dan keturunannya dapat terpelihara, ” air ” tidak bercampur aduk, anakpun dapat diketahui siapa ayahnya dan orang tuapun dapat dikenal, siapa putra-putrinya. Dengan perkawinan, seorang perempuan hanya khusus untuk suaminya. Ia tidak boleh menghianati atas menyirami ladangnya dengan ” air ” lelaki lain .Dengan itu siapa saja yang terlahir dari rahimnya dalam mahligai rumah tangga, ia adalah anak-anak suaminya juga, tanpa memerlukan pengakuan atau pengumuman dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Karena itulah anak milik tempat tidur, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw.

B- AYAH TIDAK BOLEH MENGINGKARI NASAB ANAKNYA

Disinilah seorang suami tidak boleh nasab anak sementara anak itu dilahirkan oleh istrinya.Pada masa perkawinan yang sah diantara keduanya masih tertegak. Itu karena pengingkarannya akan menimbulkan bahaya yang sangat besar, serta mencoreng nama baik istri dan anaknya.Karena ia tidak boleh buru-buru mengingkarinya hanya adanya keragu-raguan yang melintas, atau karena desas-desus atau kabar angin yang bisa dipertanggung jawabkan. Lain halnya manaka ia yakin bahwa istrinya telah menghianatinya berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan petunjuk-petunjuk yang tidak mungkin mengingkari. Dalam hal ini syariatpun tidak rela membiarkannya memelihara anak yang berdasarkan keyakinannya bukan anaknya, atau mewarisinya , atau minimal menjadikannya ragu sepanjang hidupnya.

Syariat menyiapkan solusi ( jalan keluar ) bagi masalah ini dengan apa yang disebut ” LI’AN “. Barang siapa yang yakin atau menduga kuat bahwa istrinya menilai tempat tidurnya dengan air mani lelaki lain, lalu melahirkan anak yang bukan anaknya, akan tetapi tidak cukup bukti baginya, maka ia berhak mengangkat masalah ini kepangadilan ( hakim ) yang nantinya akan melakukan mula’anah ( saling melaknat ) diantara mereka berdua sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat An-Nur ayat ; 6-9

وَٱلَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَٰجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمْ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَٰدَٰتٍۭ بِٱللَّهِ ۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.

وَٱلْخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.

وَيَدْرَؤُا۟ عَنْهَا ٱلْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَٰدَٰتٍۭ بِٱللَّهِ ۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.

وَٱلْخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيْهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.

C- ADOPSI ADALAH HARAM DALAM ISLAM

Jika seorang suami tidak boleh mengingri nasab anak yang terlahir dari istrinya, maka ia tidak boleh mengadopsi anak yang tidak berasal dari air maninya, sebagaimana bangsa lain didunia bangsa Arab Jahiliyah menisbatkan siapa saja yang dikehendaki kepada keluarga dan keturunan mereka dengan cara adopsi seorang laki-laki pada waktu itu boleh menambahkan kepada anak -anak siapapun anak yang pemuda yang dipilihnya dengan menyampaikan maklumat diahadapan khalayak jadilah ia seorang anak dan anggota keluarga yang lain dan iapun juga menyandang nama keluarga yang mengadopsinya sebagai salah satu haknya . Adopsi ini sering dapat berlangsung meskipun anak tadi memiliki bapak nasab yang dikenal juga.

Islam datang mendapati praktek adopsi meraja lela dimasyarakat Arab bahkan Nabi Muhammad saw sendiri dimasa jahiliyah mengadopsi Zaid bin Haritsah, ia adalah pemuda Arab yang tertawan diwaktu kecilnya dalam sebuah serangan yang terjadi di Arab. Ia dibeli oleh Hakim bin Azam untuk Khatijah Bibinya .Setelah Khatijah menikah dengan Nabi Muhammad saw Zaid dihadiahkan kepadanya. Ketika ayah Zaid dan pamannya mengetahui tempat tinggal, mereka meminta kembali dari Nabi Muhammad shollallah alaihi wasallam. Menyikapi permintaan itu, Nabi menyuruh Zaid untuk memilih . Ternyata Zaid memilih Nabi Shallallahu alaihi wasallam . Lalu diangkatlah ia sebagai anak dengan dipersaksikan dihadapan mereka berdua . Dari sinilah yang kemudian diperbolehkan secara hukum agama mengambil anak angkat dalam arti “memelihara, mendidik dan mengasuh tanpa disertai pemindahan nasab” , bahkan hal yang seperti ini sangatlah dianjurkan dalam islam dengan syarat sebagai berikut:

  1. Orang yang merawat dapat dipercaya
  2. Seagama ( al-Diniyah)
  3. Baik budi permintaan ( Husnul khuluq )
  4. Ada sebuah kemaslahatan pada anak terhadao anak yang dirawat.
  5. Anak tersebut tidak boleh dirawat oleh seseorang yang bisa berpotensi menghancurkan keyakinan dan agamanya.

Jadi dalam hukum islam pada prinsipnya mengambil anak angkat itu tidak dilarang sepanjang hal itu menyangkut memelihara, mendidik dan mengasuhnya akan tetapi anak angkat itu tidak dikenal bila dihubungkan atau dikaitkan dengan kedudukan hukumnya dalam hal ini apabila menjadi ahli waris atau memperoleh kewarisan

Referensi:

الحلال والحرام للشيخ يوسف القرضاوي رحمه الله .ص٢٥٤-٢٥٦

٦-بين الوالدين والأولاد

الإسلام يحفم الأنساج :
الولدسِرّأبيه،وحامل خصائصه،وهوفيحياته قرةعينه،وهو
بعد مماته امتداد لوجوده ، ومظهر لخلوده . يرث منه الملامح والسمات ،والخصائص والمميزات،يرث الحَسَنَ منهاوالقبيح ، والجيد والرديء
. وهو بضعة من قلبه ، وفلذة من كبده .
لهذاحرّم االزِنَى،وفرض الزواج،حتى يصون الأنساب،ولا
تختلط المياه،ويعرف الولدُمَن أبوه،ويعرف الوالدُمَن بناتُه وبنوه؟
فبالزواج تختص المرأة برجلها ، ويحرم عليها أن تخونه ، أو تسقي زرعه بماء غيره . وبذلك يكون كل من تلدهم في فراش الزوجية أولاد
زوجها . بدون أن يحتاج ذلك إلى اعتراف أو إعلان من الأب أو دعوى من الأم ، فالولد للفراش)1(. كما قال رسول الإسلام *.
لايمو للأجن ينكر نسج ابن :
ومن هنالايحل للزوج أن ينكرنسب ولدولدته زوجُه في فِراشه،
أي : في حالة قيام زوجية صحيحة بينهما . فإن إنكاره هذا يلحق أكبر
الضرر،وأقبح العاربالزوجةوالولد،فلايُباح لهالإقدام عليه لشك
عارض ، أو وهم طارئ ، أو إشاعة خبيثة . أما إذا جزم بأن امرأته خانته بأدلة تجمعت لديه ، وقرائن لا يستطي أن يدفعها عن نفسه ، فإن شريعة الإسلام لم ترضَ أن تدعه يُربِي من يعتقدأنه ليس بابن له،ويورث من لا يرثه في رأيه ، أو على الأقل يكون فريسة للشك طول حياته وقد جعلت الشريعة له مخرجا من ذلك بما عرف في الفقه باسم

)اللِعان( فمن تأكد،أوظن ظنّا راجحًا أن زوجته قدلوث تفراشه بماء غيره ، وجاءت بولد منه ، وليس له بينة على ذلك ، فله أن يرف ذلك إلى القاضي،ويجري القاضي بينهماالملاعنةالتي فَصّلها القرآن الريم فى سورة النور

وَٱلَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَٰجَهُمْ وَلَمْ يَكُن لَّهُمْ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمْ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَٰدَٰتٍۭ بِٱللَّهِ ۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

وَٱلْخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعْنَتَ ٱللَّهِ عَلَيْهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

وَيَدْرَؤُا۟ عَنْهَا ٱلْعَذَابَ أَن تَشْهَدَ أَرْبَعَ شَهَٰدَٰتٍۭ بِٱللَّهِ ۙ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ

وَٱلْخَٰمِسَةَ أَنَّ غَضَبَ ٱللَّهِ عَلَيْهَآ إِن كَانَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ

ثم يفرق بينهما إلى الأبد ، ويلحق الولد بأمه
التبني حرام في الإسلام :
وإذا كان الأب لا يجوز له أن ينكر نسب من وُلِد في فراشه ، فإنه لايحل له كذلك أن يتبنى من ليس بابن له من صلبه . وقد كان العرب في
الجاهلية ـ كغيرهم من األمم في التاريخ ـ يلحقون بأنسابهم وأسرهم من
شاؤوا عن طريق التبني ، فاللرجل أن يضيف إلى بنوته من يختاره من
الفتيان ، ويعلن ذلك ، فيصبح واحدا من أبنائه وأسرته ، له ما لهم ،
وعليه ما عليهم ، ويحمل بذلك اسم الأسرة ، ويكون له حقوقها . ولم
يكن يمن هذا التبني ، أن يكون للفتى المتبنَّى أب معلوم ونسبٌ معروف.
النبي * نفسه كان قد تبنى زيد بن حارثة في الجاهلية ، وهو فتى عربيٌّ جاء الإسلا م فوجد هذا التبني منتشرا في المجتم العربي ، حتى إن
، سُبيَ صغيرًا في غارة من غارات العرب في الجاهلية ، فاشتراه حكيم
بن حزام لعمته خديجة ، ثم وهبته للنبي * بعد أن تزوجته .
ولما عرف أبوه وعمه مكانَه ، وطلباه من النبي * ، خيَّره النبي * ،
فما كان منه إلا أن اختار رسولَ الله * على أبيه وعمه ، فأعتقه النبي *
وتبناه ، وأشهد على ذلك القوم . وعرف منذ ذلك الحين باسم )زيد بن
محمد ( وكان أول من آمن به من الموالي .
ماذا كان ر ي الإسلام في هذ النظام الجاهلي ؟
لقد رأى الإسلام ـ بحق ـ أن التبني تزوير على الطبيعة والواق . .
تزوير يجعل شخصًا غريبا عن أسرة فردا منها ، يخلو بنسائها على أنهن محارمه ، وهن عنه غريبات ، فال زوجةُالرجل المتبني أمَّه ، ولا
ابنتُه أختَه ، ولا أختُه عمتَه . . إنما هو أجنبي عن الجميع .
ويرث هذا الإبن المدَّعى من الرجل أو المرأة على أنه ابنهما ،
ويحجب ذوي القُربى الأصلاء المستحقين . وما أكثر ما يحقد الاقارب …………………………………………الخ


الحلال والحرام في الإسلام ص : ٢١٨

التبني بمعنى التربية والرعاية ذلك هو التبني الذي هو أبطله الإسلام هو الذي يضم فيه الرجل طفلا إلى نفسه يعلم أنه ولد غيره ومع هذا يلحقه بنسبه وأسرته ويثبت له كل أحكام النبوة وأثارها من إباحة إحتلاط وحرمة زواج واستحقاق ميراث، وهناك نوع يظنه الناس تبنيا وليس هو بالتبني الذي حرمه الإسلام وذلك أن يضم الرجل إليه طفلا يتيما أو لقيطا ويجعله كابنه في الحنو عليه والعناية به والتربية له فيحضنه ويطعمه ويكسوه ويعلمه ويعامله كأنه إبنه من صلبه ومع هذا لم ينسبه لنفسه ولم يثبت له أحكام النبوة المذكورة فهذا أمر محمود في دين الله يستحق صاحبه عليه المثوبة في الجنة.


Pengangkatan anak dalam pengertian pendidikan dan pengasuhan adalah pengangkatan anak yang dibatalkan oleh Islam, yaitu pengangkatan anak yang dilakukan oleh seorang laki-laki yang mengetahui bahwa anak tersebut adalah anak orang lain, namun anak tersebut mengikuti garis keturunannya. dan keluarganya, dan membuktikan kepadanya semua ketentuan kenabian dan efeknya, seperti diperbolehkannya pekerjaan ( bercampur baur) dan diharamkannya pernikahan dan hak warisan. Ada jenis yang orang anggap adopsi, tetapi itu bukan adopsi yang dilarang oleh Islam, yaitu ketika seorang laki-laki memeluk anak yatim atau anak terlantar dan menjadikannya seperti anaknya sendiri dalam kelembutan, merawatnya, dan mengasuhnya, pahala di surga

Referensi:

فتوى الإسلام سؤال جواب.ح١ص٨

التبني قسمان ممنوع ومشروع إذا طلب شخص تبنى طفلامن دار الحضانة فهل يجوز للمسؤولين إعطائه مايريد ؟

الجواب: الحمد لله التبني للأطفال على قسمين ممنوع وغير ممنوع .وأماالممنوع فهو تبنى الطفل باعتبار أنه ولد للمتبنى له أحكام الولد فهذا لايجوز وقد أبطله الله فى القرآن فى قوله تعالى وماجعل أدعياءكم أبنائكم . الأحزاب/٤ وقسم مباح وقديكون مستحبا وهو الإحسانإلى الطفل وتربية الدينية الصالحة وتوجيه السليم وتعليمهم ماينفعه فى دينه ودنياه ولكن لايجوز أن يسلم الالمن عرف بالأمانة والديانة وحسن السلوك وتحققت مصلحته الطفل عنده وأن يكون من أهل البلاد بحيث لاتذهب به إلى بلدقديكون وجوده فيهاسببا لفساد دينه فى المستقبل فعليه إذا تمت فى حق كل واحد منهما هذه الشروط المذكورة فلابأس بدفع اللقيط المجهول النسب إليه والله يحفظكم

Dengan demikian maka anak tersebut termasuk bagian dari amanah dari Allah melalui jalan Adopsi yang harus dijaga dan dipelihara, karena bagaimanapun dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak- hak yang harus dijungjung tinggi, walaupun dia tidak punya hak warisan. Dalam masalah pewarisan, Islam tidak menjadikan untuk mereka yang diluar ikatan darah , perkawinan dan kerabatan hakiki, sebagai patokan dan konsiders perwarisan

. وألوالأرحام بعضهم أولى ببعض فى كتاب الله

Artinya :” orang-orang yang mempunyai hubungan kekerabatan itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya ( dari pada yang bukan kerabat ) dalam kitab Allah ( QS.al-Anfal: 75).

Dalam masalah perkawinan Allah mengumumkan bahwa diantara perempuan yang haram dinikahi adalah istri anak hakiki bukan anak angkat

. وحلائل أبنائكم الذين من اصلابكم

Dan istri-istri anak-anak kandung kalian (QS.An- isa’:23)

Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam UUD 1945, dimana setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi. Namun pada kenyataannya pemenuhan hak-hak anak  seringkali terabaikan karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan. Salah satu upaya agar semua anak Indonesia memperoleh pemenuhan hak anak adalah dengan memberi kesempatan kepada orang tua  yang mampu untuk melaksanakan pengangkatan atau adopsi anak.
Banyak alasan yang mendasari pasangan suami isteri melakukan adopsi anak, diantaranya  karena tidak memiliki keturunan, rasa belas kasihan kepada seorang anak disebabkan orang tua si anak tidak dapat menafkahi secara layak atau karena si anak yatim piatu, bahkan ada juga yang dikarenakan unsur kepercayaan bahwa bagi pasangan yang telah lama menikah namun belum dikarunia keturunan maka dengan mengangkat anak dapat dijadikan pemancing untuk memperoleh anak kandung.


D- PENGANGKATAN ANAK MENURUT UU


Peraturan Pemerintah  Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, menyebutkan bahwa pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggungjawab atas perawatan, pendidikan, membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat. Dengan demikian tujuan dari pengangkatan atau adopsi anak adalah untuk  memenuhi segala kebutuhan jasmani, rohani, dan sosial agar anak tersebut dapat berkembang dan tumbuh secara baik, sehingga apa yang diperoleh dapat mereka gunakan untuk masa depan mereka.
Secara legal, adopsi atau pengangkatan anak dikuatkan berdasarkan Keputusan Pengadilan, sedangkan adopsi ilegal adalah adopsi yang dilakukan hanya berdasarkan kesepakatan antar pihak orang tua angkat dengan orang tua kandung anak.


E-MEKANISME PENCATATAN PENGANGKATAN ANAK


Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri  Nomor  19 Tahun 2010 yang salah satunya mengatur tentang Tata Cara Pengisian Formulir Biodata Penduduk, maka seorang anak dapat didaftarkan menjadi anggota keluarga orang tua angkatnya dengan status hubungan dengan kepala keluarga adalah “lainnya”, dan nama ayah ibu kandungnya tetap tercantum dalam kolom nama ayah dan ibu.  Apabila anak sudah terdaftar dalam Kartu Keluarga dan memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK), selanjutnya dapat dibuatkan akta kelahiran dengan nama orang tua kandung tetap tercantum dalam akta tersebut. Hal ini untuk menjaga agar hubungan si anak tidak terputus sama sekali dengan orang tua biologisnya. Orang tua angkat kemudian dapat mengajukan permohonan pengangkatan anak sesuai mekanisme yang diatur dalam  Peraturan Pemerintah  Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak.
Apabila telah terbit penetapan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap mengenai adopsi anak tersebut, maka wajib dilaporkan kepada instansi pelaksana dalam hal ini Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Berdasarkan laporan tersebut pejabat pencatat sipil selanjutnya membuat catatan pinggir pada kutipan akta kelahiran dan register akta kelahiran. Catatan pinggir yang dimaksud merupakan keterangan tambahan bahwa anak yang namanya tercantum dalam akta kelahiran telah diadopsi oleh orang tua angkatnya. Selanjutnya pengangkatan anak yang telah melalui proses pencatatan pengangkatan anak sebagaimana diatur dalam Pasal 87 Peraturan Presiden Nomor 25 tahun 2008, maka dalam Kartu Keluarga hubungan Kepala Keluarga dengan anak angkat adalah sebagai “anak”, dengan nama orang tua kandung tetap tercantum dalam kolom ayah dan ibu. 


F- PERMASALAHAN DALAM PENGANGKATAN ANAK


Pengangkatan anak berdasarkan Peraturan Pemerintah  Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak harus dilakukan melalui penetapan pengadilan, dan dinyatakan pula bahwa pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak yang diangkat dengan orang tua kandungnya. Bahkan, pada pasal 6 peraturan dimaksud disebutkan bahwa orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya.
Di masyarakat kita lazim terjadi pengangkatan anak tanpa melalui mekanisme penetapan pengadilan. Dengan motif pengangkatan anak seperti yang disebutkan di atas, orang tua angkat langsung memelihara, merawat, dan mengambil alih tanggung jawab sebagai orang tua tanpa melalui prosedur sebagaimana diatur dalam ketentuan perundangan. Bahkan ada yang mendaftarkan anak angkatnya dalam Kartu Keluarga sebagai “anak” dengan nama ayah dan ibu angkat tercantum dalam kolom nama ayah dan ibu, dan selanjutnya si anak angkat dibuatkan akta kelahiran sebagai anak kandung orang tua angkatnya. Dengan demikian telah terjadi manipulasi data penduduk yang tentu saja bertentangan dengan Undang-undang No 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, khususnya pasal  94 yang menyebutkan bahwa bagi siapa saja yang melakukan manipulasi elemen data penduduk diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling banyak Rp. 75.000.000,-.
Banyak pihak yang mungkin berkontribusi dalam terbitnya Kartu Keluarga dan Akta Kelahiran dengan data yang tidak sesuai tersebut. Berdasar ketentuan yang ada, untuk penambahan anggota keluarga akibat peristiwa kelahiran pada Kartu Keluarga tentulah didasari oleh Surat Keterangan Lahir yang dibuat oleh pihak penolong kelahiran baik medis maupun non medis. Dalam hal ini diharapkan penerbit  Surat Keterangan Lahir mencantumkan data yang sebenar-benarnya, khususnya nama orang tua si bayi. Jangan sampai tercantum nama  orang tua angkat sebagai orang tua biologis si bayi.
Untuk penerbitan Akta Kelahiran anak, saat ini telah dilakukan penyederhanaan prosedur melalui Permendagri Nomor 9 Tahun 2016, dimana pemohon tidak perlu melampirkan pengantar RT dan Surat Keterangan Lahir dari Lurah dalam pengurusan akta kelahiran. Bahkan Permendagri tersebut juga mengatur apabila persyaratan surat Keterangan Lahir dari penolong kelahiran tidak ada, maka pemohon dapat mengisi Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak ( SPTJM ) Data kelahiran yang diisi dan ditandatangani oleh orang tua/wali/penanggung jawab anak dengan diketahui oleh 2 (dua) orang saksi. Data pokok yang termuat dalam SPTJM antara lain : nama dan NIK, tempat dan tanggal lahir anak, urutan kelahiran anak, dan nama ibu kandung. Kebenaran data dalam SPTJM sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembuat pernyataan. Namun kemudahan dengan adanya SPTJM tersebut  terkadang disalahgunakan oleh oknum dengan mengisi data yang tidak benar, khususnya pada kolom nama ibu kandung. Hal seperti inilah yang memungkinkan terjadi manipulasi data sehingga adopsi  ilegalpun terlaksana.
Adalah tugas kita bersama untuk saling mengawasi, mengingatkan, dan melaporkan apabila terjadi praktek adopsi ilegal di masyarakat, karena yang paling dikhawatirkan adalah akibat dari adopsi ilegal tersebut, seperti praktek perdagangan anak, penelantaran anak, hingga kekerasan terhadap anak.

Adapun anak yang tidak ada orang tua atau tidak diketahui asal usulnya, pengurusan akta kelahiran bisa dilakukan dengan persyaratan berupa berita acara dari kepolisian. Jika tidak ada, bisa diganti dengan mengisi Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) kebenaran data kelahiran. Selain itu, perlu sertakan dua orang saksi.
Hal ini sesuai ketentuan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
Dalam akta kelahiran, lanjutnya, tidak dicantumkan nama orang tua si anak karena tidak diketahui identitasnya. Selanjutnya, nama anak dapat masuk dalam Kartu Keluarga (KK) pengurus panti asuhan atau orang lain yang bersedia menjadikannya sebagai anggota keluarga.
Inovasi Layanan Terintegrasi
Saat ini, penerbitan akta kelahiran di Dinas Dukcapil kabupaten/kota telah menerapkan inovasi layanan terintegrasi. Inovasi ini memungkinkan anak mendapatkan beberapa dokumen kependudukan sekaligus hanya dalam satu kali permohonan. Hal ini sejalan dengan komitmen Kementerian Dalam Negeri untuk memberikan pelayanan yang mudah, cepat dan gartis.
Selain akta kelahiran, anak juga akan mendapatkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), Kartu Identitas Anak (KIA), dan masuk dalam Kartu Keluarga (KK). Sejumlah daerah bahkan sudah kerja sama dengan BPJS Kesehatan agar anak sekaligus mendapatkan Kartu BPJS Kesehatan. Inovasi ini biasa dikenal layanan terintegrasi dokumen kependudukan. Dukcapil.

Dalil larangan memutus silaturahim. Sebagian di antaraya adalah:

وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ،  إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS an-Nisâ’: 1)

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ

Artinya: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka. (QS Muhammad: 22-23)

Dalam hadits riwayat Abu Syekh disebutkan, suatu hari Durrah binti Abi Lahab bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapa manusia terbaik itu?” Nabi menjawab, “Mereka yang paling takwa kepada Rabb (Allah), yang paling banyak menyambung silaturahim, dan yang paling banyak amar ma’ruf nahi munkar.”

Silaturahim terdiri dari dua kata, yakni shilah (sambung) dan rahim (kandungan). Istilah ini merupakan kiasan dari hubungan nasab atau keturunan. Dengan demikian, silaturahim atau silaturahmi yang berarti tali persahabatan, dalam bahasa Arab bermakna khusus untuk konteks hubungan darah atau keluarga (kinship).
Penamaan rahim dalam Islam juga bukan tanpa maksud. Ia mencerminkan kedudukannya yang sangat istimewa karena seakar kata dengan salah satu asmâul husnâ (nama-nama Allah yang indah), ar-Rahîm (Yang Mahapenyayang). Ia menjadi penanda bahwa sesungguhnya manusia lahir dari rahim kasih sayang dan semestinya menebar kasih sayang itu selama hidup di dunia.

Hadits qudsi tentang keterkaitan silaturahim dengan silatullâh (hubungan dengan Allah) sebagia berikut: 

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا الرَّحْمَنُ ، خَلَقْتُ الرَّحِمَ ، وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنَ اسْمِي ، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ ، وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ

Allah ‘azza wajalla berfirman, “Akulah Sang Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku pula yang mengambilkannya dari nama-Ku.  Barangsiapa menyambung rahim (tali kekeluargaan) maka Aku tersambung dengannya, dan barangsiapa memutusnya Aku pun terputus darinya. (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud).

Dari paparan diatas dapat ditarik kesimpulan Bahwa anak secara nasap kepada orang tua asli tetap tidak putus .

Wallahu a’lam Bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MEWAKILKAN ZAKAT MELALUI TELEPON

HUKUM MEWAKILKAN ZAKAT MELALUI TELEPON

Assalamualaikum.
Diera modernisasi, kemajuan teknologi sekarang sudah sampai pada masa yang disebut dengan Generasi Milenial yaitu sebuah generasi yang hidup di zaman yang sedang berubah dari konvensional menjadi modern, itu sudah menjamaah keseluruh lapisan masyarakat, salah satunya adalah dalam persoalan zakat yang mulai bisa ditransefer dengan menggunakan ATM .Permasalahan ini terjadi ketika Ust Yongki misalkan seorang pengusaha Warung (toko) yang berdomisili dijawa katakan Banyuangi bertepatan Desa bengkak Kecamatan Wongsorjo.Asal madura cuman Ust Yongki sudah menetap didaerah tersebut . Pada suatu hari ia ingin mengeluarkan zakatnya (zakat dagangannya) kepada fakir miskin yang berada di Madura .Ust Yongki baru ingat bahwa ia punya teman dimadura yang bernama Ust. Umar al-Farug yang kebetulan Ustadz Umar itu menjadi Panitia zakat. Tanpa pikir panjang akhirnya Ust. Yongki memutuskan untuk mewakilkan zakatnya kepada Ust. Umar al-Farug melalui telepon. Dalam percakapannya, Ust. Yongki berkata: Kawanku Umar al-Farug..!! Aku akan transfer uang kepada rekening kamu sebagai zakatku disitu. Ust. Umar al-Farug menjawab Oh Ya akan aku laksanakan ( akan aku cairkan kepada Mustahik).

Pertanyaan.

  1. Apakah perkataan/ucapan perwakilan ( bentuk sighat)dalam zakat sebagaimana kasus diatas dapat dibenarkan ( sah)?
  2. Bagaimana hukum mengalokasikan zakat yang bukan daerahnya muzakki sebagaimana deskripsi

Wa alaikumussalam.

Jawaban No. 1

Hukum mewakilkan zakat boleh dan sah dengan pertimbangan sebagai berikut

  1. Apabila transaksi menggunakan bahasa ajami ( bahasa selain bahasa arab) maka yang dapat dipertimbangkan adalah subtansi ( isi tujuan) dari bahasa transaksi yang bisa dimengerti melalui urff ( kebiasaan ) bukan pelafalannya.
  2. Telepon sebagai media penyambung suara sehingga transaksi via telepon hukumnya bisa sah jika disertai dengan niat zakat ketika Yongki mengucapkan kalimat sighat taukil misalkan : Wakkaltuka zakatiy ( aku wakilkan kepadamu zakatku atau fawwadltuka zakatiy ( aku pasrahkan zakatku kepadamu)

Referensi:

فقه الزكاة للشيخ يوسف القرضاوي.

التوكيل في إخراج الزكاة
ولا يلزم المسلم أن يخرج زكاته بنفسه، بل أن يوكل عنه مسلمًا ثقة يخرجها نيابة عنه، والمراد بالثقة من يطمئن إلى أمانته في إخراجها إلى مستحقها؛ لأن غير الثقة لا يؤمن عليها، واشترط بعض الفقهاء أن يكون الوكيل مسلمًا؛ لأن الزكاة عبادة، وغير المسلم ليس من أهلها، وقال آخرون: يجوز توكيل الذمي في إخراج الزكاة إذا نوى الموكل، وكفت نيته (انظر: الشرح الكبير وحاشية الدسوقي عليه: ١/٤٩٨).
والذي أراه ألا يلجأ المسلم إلى توكيل غير المسلم؛ إلا لحاجة، بشرط أن يكون ثقة يطمئن إلى تنفيذه رغبة موكله.
وذهب بعض المالكية إلى أن استنابة المالك من يؤدى الزكاة منه أمر مستحب بعدًا عن الرياء، وخوفًا عليه من أنه إذا تولى تفرقتها بنفسه يقصد حمد الناس، وثناءهم عليه.
وقد تجب الاستنابة إن علم من نفسه ذلك، ولم يكن مجرد خوف، وكذلك إذا جهل من يستحق الزكاة، فعليه أن يوكل من يضعها في موضعها ويعطيها أهلها (المرجع السابق).

Mewakilkan untuk membayar zakat seorang muslim tidak mesti harus membayar zakatnya sendiri, melainkan boleh mewakilkan atau mempercayakan kepada seorang muslim yang dapat dipercaya atas namanya untuk membayarkannya, dan yang dimaksud dengan yang dapat dipercaya adalah orang yang yakin atas amanahnya membayarkannya kepada orang yang berhak, dengan syarat orang yang menjadi wakil harus muslim, namun ada sebagian pendapat mewakilkan zakat boleh kepada orang kafir dzimmi dengan syarat ada niat dari muwakkil.Menurut Malikiyah sunnah hukumnya mewakilkan zakat untuk menjauhkan diri dari sifat riya’.


أنه صلى الله عليه وسلم بعث السعادة لأخذ الزكاة


Artinya;” Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan/mengutus pada petugas penari k zakat untuk memungut zakat.

فقه الإسلامي وأدلته ج٣ص١٩٧٥

ثانيا ـ التوكيل في أداء الزكاة: اتفق الفقهاء (١) على أنه يجوز التوكيل في أداء الزكاة، بشرط النية من الموكل أو المؤدي، فلو نوى عند الأداء أو الدفع للوكيل عند الحنفية والشافعية، أو قبل الأداء بزمن يسير عند الحنابلة، أو عند العزل لدى المالكية والحنفية والشافعية، ثم أداها الوكيل إلى الفقير بلا نية جاز؛ لأن تفرقة الزكاة من حقوق المال، فجاز أن يوكل في أدائه كديون الآدميين. وللوكيل أن يوكل غيره بلا إذن ولو نوى الوكيل ولم ينو الموكل، لم يجز؛ لأن الفرض يتعلق به، والإجزاء يقع عنه، وإن دفعها إلى الإمام ناويا ولم ينو الإمام حال دفعها إلى الفقراء، جاز.

Kedua – Perwakilan dalam Pembayaran Zakat:
Para ahli fikih sepakat bahwa diperbolehkan mewakilkan pembayaran zakat, dengan syarat adanya niat dari orang yang mewakilkan atau orang yang melaksanakan. Jika ia berniat saat pembayaran atau penyerahan kepada wakil menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, atau sebelum pembayaran dengan waktu yang singkat menurut mazhab Hanbali, atau saat pemisahan menurut mazhab Maliki, Hanafi, dan Syafi’i, kemudian wakil menyerahkannya kepada fakir miskin tanpa niat, maka hal itu diperbolehkan; karena pembagian zakat termasuk hak harta, maka diperbolehkan mewakilkan pelaksanaannya seperti utang sesama manusia. Wakil boleh mewakilkan kepada orang lain tanpa izin. Jika wakil berniat dan orang yang mewakilkan tidak berniat, maka tidak diperbolehkan; karena kewajiban tersebut berkaitan dengannya, dan pelaksanaan dianggap sah darinya. Jika ia menyerahkannya kepada imam dengan niat dan imam tidak berniat saat menyerahkannya kepada fakir miskin, maka hal itu diperbolehkan.

Para Fuqaha menjadikan salah satu pijakan rumusan untuk melegalkan transaksi wakalah ( perwakilan), khususnya dalam hal penarikan zakat, hadis diatas dapat dijadikan acuan untuk memperbolehkan umat Islam mewakilkan dalam hal pengalokasian zakat, sebagaimana persoalan dalam deskripsi diatas. Meskipun demikian masih ada beberapa poin yang perlu dikaji lebih lanjut dari persoalan diatas yang terkait dengan salah satu rukun dari WAKALAH yakni SIGHAT (Bentuk kalimat yang digunakan bertransaksi/ mewakilkan ).Poin-poin tersebut adalah.

  1. Sighat-Nya memakai bahasa ajami ( bukan bahasa Arab)
  2. Transaksi melalui via telepon

Adapun yang dipertimbangkan dalam penggunaan bahasa transaksi adalah subtansi ( tujuan/isi ) dari bahasa yang digunakan saat bertransaksi yang bisa dimengerti umum. Oleh karenanya, tidak ada keharusan dalam transaksi ( akad) Wakalah dengan menggunakan bahasa Arab, disamping yang ditekankan dalam sighat adalah sesuatu yang dapat mengartikan kehendak dari pihak yang bertransaksi .
Transaksi saksi Wakalah dengan menggunakan media penyambung suara, seperti telepon, diperbolehkan dengan pertimbangan bahwa Wakalah merupakan salah satu dari dari akad selain wasiat yang tidak mengharuskan al-ittibad al-Majlis .Dalam salah satu kitab dijelaskan bahwa yang dikehendaki dari al-ittibad al-Majlis adalah interaksi antara dua belah pihak untuk saling bertransaksi pada waktu yang sama dan tidak diharuskan berada dalam satu tempat atau ruang.Oleh karena itu transaksi dapat dihasilkan dengan semacam ini ( telepon) artinya apabila transaksi wakalah mengharuskan al-ittihab al-Majlis maka transaksi melalui telepon bisa diperbolehkan.

Referensi


الأشباه والنظائر : ص.٩٨


تَنْبِيهٌ:
إنَّمَا يَتَجَاذَبُ الْوَضْعُ وَالْعُرْفُ فِي الْعَرَبِيِّ، أَمَّا الْأَعْجَمِيُّ فَيُعْتَبَر عُرْفُهُ قَطْعًا ; إذْ لَا وَضْعَ يُحْمَل عَلَيْهِ. فَلَوْ حَلَفَ عَلَى الْبَيْتِ بِالْفَارِسِيَّةِ، لَمْ يَحْنَثْ بِبَيْتِ الشَّعْرِ، وَلَوْ أَوْصَى لِأَقَارِبِهِ لَمْ يَدْخُلْ قَرَابَةُ الْأُمِّ فِي وَصِيَّةِ الْعَرَبِ وَيَدْخُلُ فِي وَصِيَّةِ الْعَجَمِ.
وَلَوْ قَالَ: إنْ رَأَيْت الْهِلَالَ فَأَنْتِ طَالِقٌ، فَرَآهُ غَيْرُهَا، قَالَ الْقَفَّالُ: إنْ عَلَّقَ بِالْعَجَمِيَّةِ حُمِلَ عَلَى الْمُعَايَنَة. سَوَاء فِيهِ الْبَصِيرُ وَالْأَعْمَى.
قَالَ: وَالْعُرْفُ الشَّرْعِيُّ فِي حَمْلِ الرُّؤْيَةِ عَلَى الْعِلْمِ، لَمْ يَثْبُتْ إلَّا فِي اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَنَعَ الْإِمَامُ الْفَرْقَ بَيْنَ اللُّغَتَيْنِ

Peringatan:
Hanya dalam bahasa Arab, makna kata dapat dipengaruhi oleh penetapan awalnya (wadh‘) dan kebiasaan penggunaannya (‘urf). Adapun dalam bahasa non-Arab, makna kata ditentukan secara mutlak oleh kebiasaan penggunaannya, karena tidak ada penetapan awal yang bisa dijadikan rujukan.

Sebagai contoh:

  • Jika seseorang bersumpah atas nama “البيت” (al-bayt) dalam bahasa Persia, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya jika yang dimaksud adalah rumah dan bukan kemah atau tenda (بيت الشعر).
  • Jika seseorang berwasiat untuk “kerabatnya” (aqāribuh), maka dalam kebiasaan Arab, kerabat dari pihak ibu tidak termasuk, sedangkan dalam kebiasaan non-Arab, mereka termasuk dalam wasiat.

Jika seseorang berkata kepada istrinya:
“Jika engkau melihat hilal, maka engkau tertalak,”
lalu orang lain yang melihatnya, bagaimana hukumnya?

Menurut Imam al-Qaffāl:

  • Jika pernyataan itu diucapkan dalam bahasa non-Arab, maka yang dimaksud adalah melihat dengan mata langsung, baik bagi orang yang memiliki penglihatan maupun yang buta.
  • Sedangkan dalam syariat Islam, kebiasaan yang berlaku dalam bahasa Arab adalah bahwa melihat dapat bermakna memperoleh pengetahuan (seperti dalam konsep rukyat hilal). Namun, makna ini hanya berlaku dalam bahasa Arab.

Imam (asy-Syafi‘i) menolak perbedaan hukum antara dua bahasa ini.

:
 
إنَّمَا يَتَجَاذَبُ الْوَضْعُ وَالْعُرْفُ فِي الْعَرَبِيِّ، أَمَّا الْأَعْجَمِيُّ فَيُعْتَبَر عُرْفُهُ قَطْعًا إذْ لَا وَضْعَ يُحْمَل عَلَيْهِ.


 
Artinya, “Tarik ulur antara makna asli dengan ‘urf hanya ada dalam bahasa Arab. Sedangkan dalam bahasa non-Arab, yang dipertimbangkan adalah ‘urf menurut kesepakatan ulama, karena tidak ada makna asli yang menjadi tolak ukur.” (Lihat: al-Imam as-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazhair, hal.95).

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج ٤ / ص ٤٦٣)

كيفية إبرام التعاقد بالهاتف واللاسلكي ونحوهما من وسائل الاتصال الحديثة : ليس المراد من اتحاد المجلس المطلوب في كل عقد كما بينا كون المتعاقدين في مكان واحد، لأنه قد يكون مكان أحدهما غير مكان الآخر، إذا وجد بينهما واسطة اتصال، كالتعاقد بالهاتف أو اللاسلكي أو بالمراسلة (الكتابة) وإنما المراد باتحاد المجلس: اتحاد الزمن أو الوقت الذي يكون المتعاقدان مشتغلين فيه بالتعاقد ، فمجلس العقد: هو الحال التي يكون فيها المتعاقدان مقبلين على التفاوض في العقد (2) ، وعن هذا قال الفقهاء «إن المجلس يجمع المتفرقات» وعلى هذا يكون مجلس العقد في المكالمة الهاتفية أو اللاسلكية: هو زمن الاتصال ما دام الكلام في شأن العقد، فإن انتقل المتحدثان إلى حديث آخر انتهى المجلس -الى أن قال- ومجلس التعاقد بين غائبين: هو محل وصول الكتاب أو تبليغ الرسالة، أو المحادثة الهاتفية. اهـ لكن للمرسل أو للكاتب أن يرجع عن إيجابه أمام شهود، بشرط أن يكون قبل قبول الآخر ووصول الرسالة أو الخطاب ونحوه من الإبراق والتلكس والفاكس. ويرى جمهور المالكية أنه ليس للموجب الرجوع قبل أن يترك فرصة للقابل يقرر العرف مداها، كما تقدم. هذا وإن بقية شروط الإيجاب والقبول عدا اتحاد المجلس لا بد من توافرها في وسائط الاتصال الحديثة.زمن إتمام العقد في التعاقد بين غائبين : أجمع الفقهاء على أن العقد ينعقد بين الغائبين كما في آلات الاتصال الحديثة بمجرد إعلان القبول، ولا يشترط العلم بالقبول بالنسبة للطرف الموجب الذي وجه الإيجاب .فلو كان المتعاقدان يتحدثان بالهاتف أو بالاسلكي، وقال أحدهما للآخر: بعتك الدار أو السيارة الفلانية، وقال الآخر: قبلت، انعقد العقد، بمجرد إعلان القبول، ولو لم يعلم الموجب بالقبول، بأن انقطع الاتصال بينهما. ولو وجهّ أحد العاقدين خطاباً أو برقية إلى آخر أو تلكساً أو فاكساً، وفيها إيجاب ببيع شيء، أو بإبرام عقد زواج، انعقد العقد بعد وصول البرقية أو الخطاب ونحوهما، وإعلان الآخر قبوله، دون حاجة إلى علم الموجب أو سماعه بالقبول لكن إبعاداً لكل لبس أو غموض، وتمكيناً من إثبات العقد، وتأكيداً لإبرامه اهـ الفوائد المختارة لسالك طريق الأخرة المستفادة من كلام العلامة الحبيب زين بن إبراهيم بن سميط جمع و تقديم علي بن حسن باهارون ص : ٢٤٦ التلفون كناية في العقود كالبيع والسلم والإجارة , فيصح ذلك بواسطة التلفون , أما النكاح فلا يصح بالتلفون لأنه يشترط فيه لفظ صريح , والتلفون كناية وأن ينظر الشاهد إلى العاقدين وفقد ذلك إذا كان بالتلفون أو ما هذا معناه اهـ

Bagaimana Cara Melakukan Akad Melalui Telepon, Radio, dan Sarana Komunikasi Modern Lainnya

Bukanlah syarat dalam kesatuan majelis (ittihad al-majlis) yang diperlukan dalam setiap akad, sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa kedua belah pihak harus berada di tempat yang sama. Hal ini karena bisa saja salah satu pihak berada di tempat yang berbeda dengan pihak lainnya, asalkan terdapat perantara komunikasi antara mereka, seperti akad yang dilakukan melalui telepon, radio, atau melalui surat-menyurat (tulisan).

Yang dimaksud dengan kesatuan majelis adalah kesatuan waktu atau masa ketika kedua belah pihak sedang sibuk dengan akad tersebut. Oleh karena itu, majelis akad adalah kondisi di mana kedua belah pihak sedang terlibat dalam negosiasi terkait akad. Mengenai hal ini, para ulama berkata: “Majelis itu mengumpulkan yang terpisah-pisah.”

Dengan demikian, majelis akad dalam percakapan telepon atau radio adalah selama masa percakapan yang membahas akad berlangsung. Jika pembicaraan beralih ke topik lain, maka majelis akad dianggap telah berakhir.

Adapun majelis akad bagi pihak yang tidak hadir secara langsung, maka itu adalah saat surat atau pesan diterima, atau saat percakapan telepon terjadi. Namun, pengirim atau penulis surat berhak untuk menarik kembali ijabnya di hadapan saksi, asalkan dilakukan sebelum pihak lain menyatakan penerimaannya atau sebelum surat atau pesan tersebut sampai.

Menurut mayoritas ulama Malikiyah, pihak yang menyampaikan ijab tidak berhak menarik kembali ijabnya sebelum memberikan kesempatan kepada pihak penerima untuk mempertimbangkan, di mana jangka waktu ini ditentukan oleh adat yang berlaku.

Meskipun kesatuan majelis tidak berlaku dalam media komunikasi modern, syarat-syarat lain dalam ijab dan qabul tetap harus dipenuhi.

Waktu Terjadinya Akad dalam Akad Jarak Jauh

Para ulama sepakat bahwa akad antara dua pihak yang tidak hadir secara langsung, seperti melalui alat komunikasi modern, terjadi begitu qabul diumumkan. Tidak disyaratkan bahwa pihak yang mengajukan ijab harus mengetahui bahwa qabul telah diberikan.

Sebagai contoh, jika dua orang sedang berbicara melalui telepon atau radio, lalu salah satu berkata: “Saya menjual rumah atau mobil ini kepadamu,” lalu yang lain menjawab: “Saya terima,” maka akad dianggap telah terjadi seketika setelah qabul diucapkan, meskipun pihak yang melakukan ijab tidak mengetahui hal itu karena sambungan terputus.

Demikian pula, jika salah satu pihak mengirim surat, telegram, telex, atau faks yang berisi penawaran jual beli atau pernikahan, maka akad terjadi setelah surat atau pesan itu sampai dan pihak lain mengumumkan penerimaannya, tanpa perlu pihak yang mengajukan ijab mengetahui atau mendengar qabul tersebut.

Namun, untuk menghindari kesalahpahaman, memastikan kejelasan akad, dan mempermudah pembuktian akad, perlu dilakukan konfirmasi lebih lanjut terhadap akad yang telah terjadi.

Hukum Akad Melalui Telepon dalam Beberapa Transaksi

Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah li-Salik Tariq al-Akhirah karya al-‘Allamah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smiṭ, yang disusun oleh Ali bin Hasan Ba Harun (hal. 246), disebutkan bahwa:

Telepon dapat digunakan sebagai media akad dalam transaksi seperti jual beli, salam (jual beli dengan pembayaran di muka), dan ijarah (sewa menyewa), sehingga akad melalui telepon sah dalam kasus-kasus tersebut. Namun, dalam akad nikah, telepon tidak dapat dijadikan sebagai sarana sah untuk akad. Sebab, dalam akad nikah disyaratkan lafaz yang sharih (tegas), sedangkan telepon termasuk dalam kategori kinayah (kiasan). Selain itu, saksi dalam akad nikah harus melihat kedua calon pengantin secara langsung, sedangkan hal ini tidak dapat terpenuhi jika akad dilakukan melalui telepon atau sarana komunikasi serupa.

Wallahu a’lam.

.بغية المسترشدين صـ ١٨٦

( مسئلة ب )

مذهب الشافعى أن مجرد الكتابة فى سائر العقود والإخبارات والإنشاءات ليس بحجة شرعية , فقد ذكر الأئمة أن الكتابة كناية فتنعقد بها نحو الوصية مع النية ولو من ناطق. اهـ

Hukum Akad melalui Tulisan dan Sarana Komunikasi Modern dalam Mazhab Syafi’i 1. Pandangan Mazhab Syafi’i tentang Akad melalui Tulisan

Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin (hal. 186) disebutkan:

Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa sekadar tulisan dalam berbagai akad, pemberitahuan, dan pernyataan hukum tidak dianggap sebagai hujjah syar’iyyah (dalil yang sah secara syariat). Para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa tulisan hanya termasuk dalam kategori kinayah (kiasan), sehingga akad yang dilakukan melalui tulisan seperti wasiat sah jika disertai dengan niat, meskipun dilakukan oleh seseorang yang mampu berbicara.

الفقه على مذاهب الأربعة الجزء : ٣ صـ :١٠٠ الشافعية : وإذا وقع العاقدان على عقد مكتوب كالمتعارف فى زماننا فإنه يصح ويقوم التوقيع على المكتوب مقام التلفظ بالصيغة ويكون من باب الكناية. ومثل ذلك كل عقد مكتوب فالكتابة تقوم مقام الصيغة اللفظية على أنها من باب الكناية . اهـ

Dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (jilid 3, hal. 100), disebutkan:

Menurut mazhab Syafi’i, jika kedua belah pihak menandatangani akad tertulis sebagaimana yang lazim di zaman ini, maka akad tersebut sah. Dalam hal ini, tanda tangan pada akad tertulis dianggap menggantikan pelafalan akad, dan termasuk dalam kategori kinayah. Hal yang sama berlaku untuk setiap akad yang ditulis, di mana tulisan berfungsi menggantikan shighah lafdziyyah (ucapan akad), tetapi tetap dikategorikan sebagai kinayah.

شرح الياقوت النفيس صـ ٣٥٦ للشيخ محمد بن أحمد بن عمر الشاطري

وأما البيع والشراء بالمكاتبات والتوقع عليهما وبواسطة وسائل الاتصال الحديثية كالتلفون والتلسكي وغيرهما فإن هذه الأجهزة أصبح جريان التعامل بواسطتها يتم البيع والشراء والتعامل داخل كل الدول وقد أوضح الفقهاء الطرق المتعددة والمختلفة للتعبير عن إرادة كل من طرفي العقد بالقول الملفوظ والمكتوب وانعقاده بالإشارة والعبرة ففي العقود لمعانيها لا لصور الألفاظ – الى أن قال- والكتابة مع النية والتوضع عليها معتمدة ولايعتمد ولايقبل قول القائل إنني لم أتلفظ ولم أنو فهذا يعد من التلاعب بحقوق الناس والاساءة الى الاسلام ؟ وعن البيع والشراء بواسطة التلفون والتلسكي والبرقيات كل هذه الوسائل وأمثالها معتمدة اليوم وعليها العمل والقرضاوي ذكر في كتابه فقه الزكاة كلاما جميلا حول العقود في باب زكاة الأوراق المالية نقلا عن الفقه على المذاهب الأربعة ونقلا عن الشافعية ان كل ما يتعارف عليه في العقد يعد صيغة ويعد كاللفظ وأحكام الرشيعة تقتفي ذلك ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” لاضرر ولاضرار” اهـ

Dalam kitab Syarh al-Yaqut an-Nafis (hal. 356) oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri, dijelaskan:

Jual beli yang dilakukan melalui surat-menyurat, penandatanganan kontrak, atau melalui sarana komunikasi modern seperti telepon dan radio telah menjadi kebiasaan umum dalam transaksi di berbagai negara. Para ulama fiqih telah menjelaskan berbagai cara untuk mengekspresikan kehendak dalam akad, baik melalui ucapan, tulisan, maupun isyarat, karena dalam akad yang menjadi perhatian adalah substansi makna, bukan bentuk lafalnya.

Tulisan yang disertai dengan niat dan tanda tangan dianggap sah dalam akad. Tidak dapat diterima pernyataan seseorang yang mengatakan: “Saya tidak melafalkan atau tidak berniat,” karena hal itu dianggap sebagai bentuk main-main terhadap hak orang lain dan bertentangan dengan ajaran Islam.

Oleh karena itu, transaksi yang dilakukan melalui telepon, radio, telegram, dan sejenisnya telah diterima dan digunakan secara luas dalam praktik jual beli saat ini. Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam kitabnya Fiqh az-Zakah juga mengutip pendapat dari al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah dan mazhab Syafi’i bahwa segala bentuk yang telah menjadi kebiasaan dalam transaksi dianggap sebagai shighah akad dan diperlakukan seperti ucapan akad. Hal ini sejalan dengan prinsip syariat yang menghindari mudarat, sebagaimana dalam hadis Rasulullah ﷺ:”Tidak boleh ada bahaya (yang ditimbulkan) dan tidak boleh membahayakan (orang lain).”

Hukum Akad melalui Tulisan dan Sarana Komunikasi Modern dalam Mazhab Syafi’i 1. Pandangan Mazhab Syafi’i tentang Akad melalui Tulisan

Hukum Wakalah (Perwakilan) dalam Akad melalui Tulisan penjelasannya sebagaimana berikut dalam Hasyiah Bujairamiy

حاشية البجيرمي على شرح الخطيب – (ج ٣ / ص ١٣٦

ويشترط أن يقبل نيابة فيصح التوكيل في كل عقد كبيع وهبة وكل فسخ كإقالة ورد بعيب وقبض وإقباض وخصومة من دعوى وجواب وتملك مباح كإحياء واصطياد واستيفاء عقوبة –الى أن قال- وشرط في الصيغة من موكل ولو بنائبه ما يشعر برضاه كوكلتك في كذا أو بع كذا كسائر العقود والأول إيجاب والثاني قائم مقامه أما الوكيل فلا يشترط قبوله لفظا أو نحوه إلحاقا للتوكيل بالإباحة أما قبوله معنى وهو عدم رد الوكالة فلا بد منه فلو رد فقال لا أقبل أو لا أفعل بطلت ولا يشترط في القبول هنا الفور ولا المجلس قوله : ( كوكلتك في كذا ) أو فوّضت إليك كذا ، سواء كان مشافهة له أو كتابة أو مراسلة . ولا يشترط العلم بها ، فلو وكله وهو لا يعلم صحت حتى لو تصرف قبل علمه صح كبيع مال أبيه يظنّ حياته ، اه م د على التحرير . قوله : ( الأوّل ) وهو وكلتك في كذا إيجاب ، والثاني وهو بع كذا . قوله : ( فلا يشترط قبوله لفظاً ) قضيته اشتراط الإيجاب . وليس مراداً ، فالأولى ويشترط اللفظ من أحد الطرفين والفعل من الآخر كما في العارية ، شوبري وق ل على التحرير . وعبارة المدابغي عليه : لكن لايشترط أي في وكالة بغير جعل القبول لفظاً ، بل الشرط أن لايرد ، فالشرط اللفظ من أحد الجانبين والفعل من الآخر ، وقد يشترط القبول لفظاً كما لو كان له عين مؤجرة أو معارة أو مغصوبة فوهبها لآخر وأذن له في قبضها فوكل الموهوب له من هي بيده من المستأجر أو المستعير أو الغاصب في قبضها له لا بد من قبوله لفظاً لتزول يده عنها به ، ولا يكتفي بالفعل وهو الإمساك لأنه استدامة لما سبق فلا دلالة فيه على الرضا بقبضه ؛ اه شرح م ر اه . قوله : ( أو نحوه ) من إشارة الأخرس والكتابة ، ويشترط القبول لفظاً فيما إذا كانت الوكالة بجعل إن كان الإيجاب بصيغة العقد لا الأمر كقوله : بع هذا ولك درهم ، فلا يشترط القبول وكان عمل الوكيل مضبوطاً لأنها إجارة اهـ س ل اهـ

Dalam Hasyiyatul Bajirami ‘ala Syarh al-Khatib (jilid 3, hal. 136) dijelaskan:

Diperbolehkan melakukan akad melalui wakil, baik dalam transaksi jual beli, hibah, atau pembatalan akad seperti iqalah (pembatalan jual beli) dan khiyar ‘aib (pembatalan karena cacat). Perwakilan juga berlaku dalam urusan hukum seperti pengaduan dan jawaban dalam persidangan, serta kepemilikan seperti perburuan dan eksploitasi sumber daya.

Dalam akad wakalah, disyaratkan adanya pernyataan dari pemberi kuasa yang menunjukkan kerelaannya, misalnya dengan mengatakan:”Saya mengangkatmu sebagai wakil dalam urusan ini.” “Jualkan barang ini untuk saya.”

Pernyataan tersebut bisa dilakukan secara langsung, melalui tulisan, atau melalui surat-menyurat. Tidak disyaratkan penerima kuasa (wakil) harus menyatakan penerimaan secara eksplisit, tetapi jika ia menolak secara terang-terangan, maka akad wakalah batal. Selain itu, penerimaan wakalah tidak harus dilakukan dalam satu majelis dan tidak harus segera dijawab. Jika pemberian kuasa dilakukan melalui tulisan atau isyarat bagi orang yang bisu, maka hal itu sah. Namun, jika akad wakalah terkait dengan transaksi yang melibatkan ganti rugi, seperti sewa atau pengalihan barang, maka dalam kondisi tertentu penerimaan wakil harus dilakukan secara eksplisit.

Akad Nikah melalui Tulisan dan Sarana Komunikasi Modern disebutkan dalam hasyiah Jamal berikut:

حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري – (ج ٤ / ص ١٥٩)

وليقل وكيل ولي لزوج زوجتك بنت فلان فيقبل و ليقل ولي لوكيل زوج زوجت بنتي فلانا فيقول وكيله قبلت نكاحها له فإن ترك لفظة له لم يصح النكاح وإن نوى موكله لأن الشهود لا اطلاع لهم على النية ومحل الاكتفاء بما ذكر في الأولى إذا علم الشهود والزوج الوكالة وفي الثانية إذا علمها الشهود والولي وإلا فيحتاج الوكيل إلى التصريح فيهما بها (قوله وليقل وكيل ولي) ولو كانا وكيلين قال وكيل الولي زوجت بنت فلان من فلان وقال وكيل الزوج ما ذكر اهـ شرح م ر قوله فيقول قبلت نكاحها له المراد به هنا الإنكاح وهو التزويج لأنه هو الذي يقبله الزوج لأن النكاح المركب من الإيجاب والقبول يستحيل قبوله كما تقدم عن شرح م ر قوله إذا علم الشهود أي ولو بإخبار الوكيل في هذه والتي بعدها انتهى شيخنا قوله إذا علم الشهود والزوج الوكالة أي ولو بإخبار الوكيل كما يعلم من كلامه وإنما لم يكتف بإخبار الرقيق أن سيده أذن له في التجارة لأنه متهم بإثبات الولاية لنفسه لا يقال هذا بعينه جار في التوكيل لأنا نقول الوكيل لم تثبت وكالته بقوله بل هي ثابتة بغير قوله بخلاف الرقيق اهـ ح ل ومثله في شرح م ر وكتب عليه الرشيدي قوله لأن الوكيل لم تثبت وكالته بقوله إلخ أي لأنه لم يقع منه إلا العقد المذكور ومضمونه ما ذكر ولم يقع منه أنه قال قبل ذلك أنا وكيل فلان كما قال الرقيق قد أذن لي سيدي قوله وإلا فيحتاج الوكيل إلخ أي لجواز المباشرة وإلا فيصح العقد مع الجهل بالوكالة ويحرم وقوله فيهما أي الصورتين اهـ س ل وعبارة حج تنبيه ظاهر كلامهم أن التصريح بالوكالة فيما ذكر شرط لصحة العقد وفيه نظر واضح لقولهم العبرة في العقود حتى في النكاح بما في نفس الأمر فالذي يتجه أنه شرط لحل التصرف لا غير ا هـ .

Dalam Hasyiyatul Jamal ‘ala al-Minhaj oleh Syaikh Zainuddin al-Malibari (jilid 4, hal. 159), dijelaskan:

Jika seorang wali atau wakil wali mengatakan: “Saya menikahkan putriku dengan Fulan,” maka wakil dari pihak suami harus menjawab: “Saya terima pernikahan ini untuknya.” Jika wakil dari pihak suami hanya berkata: “Saya terima pernikahan ini,” tanpa menyebutkan “untuknya,” maka akad tidak sah, meskipun ia meniatkan untuk majikannya (suami yang diwakilinya). Hal ini karena para saksi tidak dapat mengetahui niat tersebut.

Dalam kasus pernikahan yang dilakukan melalui wakil, disyaratkan agar para saksi dan pihak yang terlibat mengetahui bahwa akad dilakukan oleh seorang wakil.

Jika para saksi tidak mengetahui hal ini, maka wakil harus menyatakan secara eksplisit bahwa ia bertindak sebagai wakil dalam akad tersebut.Sebagian ulama berpendapat bahwa akad nikah melalui tulisan atau sarana komunikasi modern tidak sah, karena dalam akad nikah harus ada lafaz yang sharih (jelas) dan saksi harus dapat melihat kedua belah pihak yang berakad.

Oleh karena itu, akad nikah tidak dapat dilakukan melalui telepon atau surat-menyurat, karena dalam akad nikah niat saja tidak cukup tanpa adanya kejelasan dalam lafal akad.Kesimpulan Jual beli dan transaksi umum dapat dilakukan melalui tulisan, telepon, atau sarana komunikasi modern lainnya, karena akad dalam muamalah didasarkan pada makna, bukan bentuk lafal.

Akad wakalah (perwakilan) dapat dilakukan melalui tulisan atau surat-menyurat, selama terdapat pernyataan yang menunjukkan persetujuan. Akad nikah tidak sah jika dilakukan melalui tulisan, telepon, atau sarana komunikasi modern, karena dalam akad nikah disyaratkan adanya lafaz yang jelas dan saksi harus dapat melihat kedua pihak yang berakad.Wallahu a’lam.

JAWABAN :No.2

Hukum zakatnya Ust. Yongki dengan mentransferkan Uangnya Ke Ust.Umar untuk diberikan kefakir miskin yang berada dimadura Sumenep, maka dalam hal ini yang perlu dipertimbangkan dan dikaji adalah tentang Naql al-Zakat ( Hukum memindahkan zakat) maka ulama terdapat perbedaan pendapat sebagaimana berikut;

  1. Menurut pendapat yang adzhar tidak diperbolehkan memindahkan zakat dari Jawa Banyuangi ke Madura Sumenep ( Menurut mayoritas ulama madzhab Syafiiyah tidak memperbolehkan), pendapat ini berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرآئهم Artinya:” :” Zakat itu diambilkan dari orang-orang yang kaya kemudian dikembalikan ( diberikan ) kepada orang-orang fakir dari mereka
  2. Diperbolehkan (sah) menurut Ibnu sholah , Ibnu Farkah, dan Ibnu Ujail al-Yamani dari kalangan Ulama Syafiiyah

Referensi

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء ٣ صحيفة :٢٠٤ مكتبة دار إحياء الكتب العربية

( وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ ) مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ ، بِأَنْ تُصْرَفَ إلَيْهِمْ أَيْ يَحْرُمُ ، وَلَا يُجْزِئُ لِمَا فِي حَدِيثِ الشَّيْخَيْنِ { صَدَقَةٌ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ ، فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ } ، وَالثَّانِي : يَجُوزُ النَّقْلُ وَيُجْزِئُ لِلْإِطْلَاقِ فِي الْآيَةِ ، ( وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ ) إلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِ – إلى أن قال – قَوْلُهُ : ( وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ ) وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفِرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ ، قَالَ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ : وَيَجُوزُ لِلشَّخْصِ الْعَمَلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ ، وَكَذَا يَجُوزُ الْعَمَلُ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ بِقَوْلِ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ ، كَالْأَذْرَعِيِّ وَالسُّبْكِيِّ وَالْإِسْنَوِيِّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .

Menurut qoul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat seraya wujudnya orang-orang yang berhak menerima zakat, dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya. Semisal, zakat tersebut diberikan kepada mereka (mustahiq zakat yang berada didaerah lain), maka hukumnya diharamkan dan tidak mencukupi, karena berdasarkan hadits Bukhorî dan Muslim. “Shodaqoh (Zakat) itu diambilkan dari orang-orang yang kaya, kemudian zakat tersebut dikembalikan (diberikan) kepada orang-orang faqir dari golongan mereka”.
Sedangkan menurut pendapat yang kedua “Boleh memindah zakat dan sudah dianggap mencukupi karena berdasarkan kemutlakan firman Allah”. Dan apabila disebuah daerah tidak ditemukan ashnâf yang menerima zakat, maka zakat wajib pindah kedaerah yang paling terdekat.

Pendapat yang ke-dua ini telah dipilih oleh segolongan ulama’ dari ashâb imam Syafi’I, seperti Ibnu Sholah, Ibnu Al-Farkâh dan ulama’ yang lainnya. Syaikhunâ (Zakaria Al-Anshôrî) berkata dengan mengikuti terhadap pendapat guru kami imam Ar-Romlî, diperbolehkan bagi seseorang mengamalkan pendapat tersebut untuk dirinya sendiri, begitu pula mengamalkan semua hukum-hukum dengan berpijak terhadap pendapat ulama’ yang dapat dipercaya dari beberapa ulama’. Seperti imam Al-Adzrô’I, Al-Subukî dan imam Al-Isnâwî menurut qoul mu’tamad “.


حاشية إعانة الطالبين الجزء ٢ صحيفة : ٢١٢ مكتبة دار الفكر
(إِعْلَمْ) رَحِمَكَ اللهُ إِنَّ مَسْأَلَةَ نَقْلِ الزَّكَاةِ فِيْهَا اخْتِلاَفٌ كَثِيْرٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، وَالْمَشْهُوْرُ فِيْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ امْتِنَاعُ نَقْلِهَا إِذَا وُجِدَ الْمُسْتَحِقُّوْنَ لَهَا فِيْ بَلَدِهَا. وَمُقَابِلُ الْمَشْهُوْرُ جَوَازُ النَّقْلِ، وَهُوَ مَذْهَبَ الْاِمَامِ أَبِىْ حَنِيْفَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ وَكَثِيْرٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِيْنَ، مِنْهُمُ اْلاِمَامُ الْبُخَارِيُّ – إِلَى أَنْ قَالَ – قَالَ شَارِحُهُ الْقَسْطَلاَنِىُّ: ظَاهِرُهُ أَنَّ الْمُؤَلِّفُ يَخْتَارُ جَوَازَ نَقْلِ الزَّكَاةِ مِنْ بَلَدِ الْمَالِ. وَهُوَ أَيْضًا مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ وَالْاَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ عَدَمُ الْجَوَازِ: اِنْتَهَى.اهــ

Ketahuilah, Semoga Allah memberkatimu “Sesungguhnya masalah memindah zakat terdapat khilafiyah diantara ulama’. Menurut Pendapat yang masyhûr dalam madzhab syâfi’i adalah melarang memindah zakat pada daerah lain, apabila pada daerah tersebut ditemukan orang-orang yang berhak menerima zakat. Sedangkan menurut muqôbil masyhûr yang memperbolehkan memindah zakat, itu adalah madzhab imam Abu Hanifah ra, dan segolongan ulama’ dari para mujtahid, diantara mereka adalah imam Al-Bukhôrî.
Menurut pengarang syârih (Al-Qostholânî), menurut dzohirnya ibarat diatas, bahwa pengarang “Î’anah Al-tholibîn” memilih memperbolehkan memindah zakat dari daerah harta zakat, itu adalah juga pendapat madzhab Hanifiah. Sedangkan menurut pendapat yang ashoh madzhab Syâfi’î dan Malikiyyah tidak memperbolehkannya”.

بغية المسترشدين ١٠٥-

١٠٦ في باب الزكات مكتبة دار الفكر
اَلرَّاجِحُ فِى الْمَذْهَبِ عَدَمُ جَوَازِ نَقْلِ الزَّكاَتِ وَاخْتَارَ جَمْعُ الْجَوَازَ كَابْنِ عُجَيْلٍ وَابْنِ الصَّلاَحِ وَغَيْرِ هِمَا قَالَ أَبُو مَخْرَمَةَ وَهُوَ الْمُخْتاَرُ إِذاَ كاَنَ لِنَحْوِ قَرِيْبٍ وَاخْتَارَهُ الرَّوْياَنِى وَنَقَلَهُ الْخَطَّابِى عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَماَءِ وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَتِيْق فَيَجُوْزُ تَقْلِيْدُ هَؤُلاَءِ (مَسْأَلَةٌ ي ك) لاَيَجُوْزُ نَقْلُ الزَّكاَتِ وَالْفِطْرَةِ عَلىَ اْلأَظْهَرِ مِنْ أَقْوَالِ الشَّافِعِى نَعَمْ أُسْتُثْنِيَ فِى التُّحْفَةِ وَالنِّهَاَيَةِ مَا يَقْرُبُ مِنَ الْمَوْضِعِ وَيُعَدُّ مَعَهُ وَاحِدًا وَإِنْ خَرَجَ عَنِ السُّوْرِ. زَادَ ك وح. قَالَ فَالْمَوْضِعُ الَّذِى حَالَ الْحَوْلِ وَالْمَالُ فِيْهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ زَكاَتِهِ هَذَا إِنْ كَانَ قَارًّا بِبَلَدٍ وَإِنْ كَانَ سَائِرًا وَلَمْ يَكُنْ نَحْوُ الْمَالِكِ مَعَهُ جَازَ تَأْخِيْرُهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَيْهِ وَالْمَوْضِعُ الَّذِى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَالشَّخْصُ بِهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ فِطْرِهِ. اهــ

Pendapat madzhab (syafi’i) yang paling unggul tidak memperbolehkan pemindahan zakat ke (daerah lain). Sekelompok ulama memilih di perbolehkan pemindahan zakat, seperti pendapat Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah. Yang lebih baik menurut Ibnu Makhromah adalah (kebolehan memindah zakat) untuk daerah yang dekat. Pendapat ini juga di anut oleh Imam Al-Rauyani, Al-khathabi, Ibnu ‘Atiq dan sebagian besar ulama, maka boleh mengikuti mereka itu.

Menurut salah satu pendapat Imam Syafi’i yang lebih shahih, tidak diperkenankan memindahkan zakat (maal) dan (fitrah). Dalam karya Tuhfah dan Nihayah terdapat pengecualian untuk tempat yang berdekatan dan masih dianggap satu walaupun berada di luar perbatasan.
Daerah tempat perputaran harta merupakan tempat pengeluaran zakatnya. Hal ini jika menempati di suatu tempat, sedangkan kalau bepergian, maka boleh mengakhirkan zakat sehingga sampai ke tempat yang dituju. Dan daerah tempat terbenamnya matahari dan orang yang berada di sana merupakan tempat pengeluaran zakat fitrahnya “. Wallohu a’lam.

Kategori
Uncategorized

HUKUM OPRASI PLASTIK

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.

Allah sebagai Khaliq الله خالق كل شيء pencipta segala sesuatu Ia menciptakan sesuatu sesuai kehendaknya termasuk ia ciptakan manusia dengan sebaik baik bentuk dan berbeda- beda diantara yang satu dengan lainnya. Misalkan Allah mencitakan manusia dalam keadaan buta, buntung atau bisu dll , itu sebagai bukti tanda atas kuasanya, agar manusia dapat berfikir, bahwa mungkin dengan yang sedemikian merupakan jalan terbaik baginya. Namun sebagian manusia terlintas dalam hatinya hususnya bagi yang tuna nitra ingin merubah bentuknya menjadi orang yang sempurna padahal tidak ada orang yang sempurna selain Nabi dan Utusannya yang terpilih Sebagaimana Nabi Muhammad , Shollallahu Alai wasallam , sehingga bagi mereka yang sedikit berbeda ( Tuna nerta ) ia menggunakan bermacam cara untuk merubah bentuk yang diantaranya melalui Oprasi plastik dll.

Pertanyaanya.
Bagaimana hukumnya seorang yang beroperasi sebagaimana deskripsi dan gambar tersebut .

Waalaikum salam.
Jawaban
Hukumnya operasi yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki kulit muka yang rusak atau mempercantik muka yang jelek. caranya seperti yang kita ketahui yaitu, kulit muka diambil dengan sebuah alat medis, kemudian diganti dengan plastik yang tebal yang kira-kira 3 cm. dan plastik itu menyerupai kulit asli dalam bentuk dan sifatnya yang mana didalamnya terdapat lubang-lubang  kecil yang menyerupai pori-pori kulit asli, hanya saja kulit tersebut akan mengelupas bila terkena panas dengan suhu 50 derajat celcius. Lalu bagaimana hukum wudhu’ dan mandinya? Jawaban:  menutupi kulit wajah dengan hal diatas (operasi plastik), hukumnya haram dikarenakan adanya beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Termasuk merubah ciptaan Allah, sedangkan merubah ciptaannya, hukumnya haram.,
  2. Membahayakan diri sendiri dengan adanya luka yang akan ditimbulkan sebab pengambilan kulit asli.
  3. Orang yang melakukan operasi plastik terkadang kerena tidak rela terhadap sesuatu yang telah diciptakan Allah.

Referensi:

.(قرة العين بفتاوى إسماعيل الزين ص ٢٢٨/٢٢٧)

ماقولكم  شيخنا العلامة شيخ الاسلام وعمدة الأنام سيدي أبى البركات والسعادات فضيلة الشيخ اسماعيل عثمان زين اليمني المكي نفعناالله والمسلمين بعلومكم ومتعنا بحياتكم آمين . في عملية بلاستيك لغرض التحسين وهي العملية فى الوجه الذي كان جلده متغير الصورة اوكان قبيح الصورة والمنظر . وكيفية ذلك كماعرف ان يكشط الجلد اولا بآلة المعروفة عندهم ثم يبدل بالبلاستيك الغليظ الذي يكون قدر سمكه ” 3, سينتيميترا ” وهو يعادل الجلد شكلا وصفة بحيث يكون فيه شقوق صغار تخرج منهاالعرق كمسام الجلد الأصلى الا انه قد ينفصل عن الوجه اذا اصيب بحرارة تقارب نحو خمسين درجة اوبنحو ذلك . نسألكم يا سيدي عن حكم العملية المذكورة وأيضا كيف الحال فى وضوء من عمل به ذلك واغتساله أفيدونا بالنقل الصريح فإن المسئلة واقعة حال جزيتم الجنة ونعيم البال .المسئلة مترجمة باللغة العربية عن اللغة الإندونيسية .  الجوب : إلى ان قال – فاعلم ايها السائل الكريم ان ما ذكرتم فى السؤال من عملية البلاستيك المذكورة التي تغطى بها بشرة الوجه بحيث تكون كأنها بشرة الوجه تماما , فإن حكم فعل تلك العملية المذكورة غير جائز فهي حرام قطعا لأمور : منها : ان ذلك تغيير لخلق الله عز وجل وتغيير خلق الله حرام فهي أشد حرمة من التنميص الذى جاء الحديث بلعن فاعله . ومنها : إضرار الإنسان بجسمه حيث يتعاطى جراحاة الجلدة وجهه بالكشط كما ذكر فى السؤال . ومنها : ان فاعل ذلك ربما يكون فعل ذلك لكونه لم يرض بما جبله الله عليه والله سبحانه وتعالى قد خلق الإنسان فى أحسن تقويم وخلقه وسواه فعادله فخلق جميل الوجه وخلق دميم الوجه وخلق الأبيض وخلق الأسود وعلى كل فقد قضي , وقدر سبحانه وتعالى خلق الأشياء على مراده وأبرزها فى الوجود على طبق مراده فلا يجوز للإنسان ان يتعاطي بتغير ذلك لا من نفسه ولا من غيره وكل ذلك مقرور فى كتب الفقه لم يستثنوا منه شيئا الا ما كان مشوها للخلقة كسلعة زائدة أونحو ذلك فأباحوا تعاطى إزالته بشروط مقررة فى كتب الفقه وأما قول السائل “وأيضا كيف الحال فى وضوء من عمل ذلك واغتساله ؟ فاعلم أنه إذا كانت البلاستيك كما ذكر فى السؤال وكان فى نزعها مشقة فإن لها حكم الوجه فيكفى غسل ظاهرها فى الوضوء والغسل وينتقض الوضوء بمسها من أجنبي قال فى نهاية الزين فى الكلام على شروط الوضوء والغسل عند قول المتن (وحائل كنورة) واذا تراكم الوسخ على العضو وصار جزءا من البدن يتعسر فصله عنه بحيث يخشى من فصله محذور تيمم فلا يمنع صحة الوضوء وينتقض الوضوء بلمسه إهـ نعم لو انفصل عن الوجه بحرارة الشمس أونحوها فيرجع حينئذ الى الأصل لأنه فى حكم المنفك عن البشرة الأصلية . هذا ما ظهرلنا فى الجواب والله الموفق للصواب واليه المرجع والمآب وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمدلله رب العالمين

Adapun tentang wudhu’ dan madinya (adus)nya hukumnya sah jika memang sulit untuk dicabut dan menyentuhnya dapat membatalkan wudhu’. Namun ketika kulit tersebut mengelupas sebab terkena sengatan sinar matahari atau semacamnya, maka yang dihitung adalah kulit asal, karena dihukumi terlepas dari kulit asal.

Merubah alat kelamin haram
Tafsir At-Thobari juz 2 halam121

(تفسيرالقطبى ج ٢ ص ١٩٦٣ )

قال ابوجعفر الطبرى حديث ابى مسعود دليل انه لايجوز تغير شئ الذى خلق الله عليه بزيادة اونقصان الى ان قال عياض ويأتى على ماذكره ان من خلق بأصبع زائدة اوعضوزائد لا يجوز قطعه ولانزعه لانه من تغييرخلق الله الاان تكون هذه الزوائد مؤلمة فلا بأس بنزعها عند ابى جعفروغيره .

Imam Abu Ja’far At-Thobari berkata: hadist ibnu mas’ud menunjukkan bahwa merubah ciptaan allah baik dengan menambah atau mengurangi hukumnya tidak boleh. Iyadh berkata: orang yang diciptakan dengan jari-jari yang lebih atau dengan anggota yang lebih tidak boleh dipotong atau dibuang karena hal itu termasuk merubah ciptaan allah, kecuali jari atau anggota yang lebih itu menyakitkan maka hukumnya boleh.

Referensi:

(تفسير المنير ج١ ص ١٧٤)

وقال الشيطان عند ذلك (لأتخدن من عبادك نصيبا مفروضا)اى لآجعلن لى من عيادك نصيبا مفروضا حظا مقدرا معينا وهم الذين يتبعون خطوات إبليس ويقبلون وساوسه الى ان قال ولأمرنهم بالتغيير فليغيرن خلق الله صورة اوصفة كإخصباء العبيدوفق العيوب وقطع الأذن والوسم والوشر ووصل الشعر فإن المرأة تتوصل بهده الافعال الى الزنا

Dan syitan berkata ketika itu”saya benar-benar akan menjadikan dari hamba-hambamu sebagai bagian yang telah ditetukan untuknya”. Mereka itu adalah orang-orang yang mengikuti langkah-langkah iblis ….. dan saya pasti akan menyuruh mereka untuk melakukan perubahan, maka merekapun pasti akan mengubah ciptaan Allah tersebut, baik bentuk, ataupun sifat, seperti mengebiri hamba sahaya, mencungkil mata, memotong telinga, membuat tatu dan memakai wieg rambut. Sesunggunya wanita dengan melakukan hal itu berarti telah mendekatka diri pada perzinahan.

Referensi:

(تفسير بيضاوى ج٢ص -١١٨/١١٧)

 (ولآمرنهم فليغيرن خلق الله)عن وجهه وصورته اوصفته ويندج فيه ماقيل من وفق الحامى وخضاءالعبيد والوشم واللواط والسحق ونحوذالك وعبارةالشمي والقمر وتغير فطرةالله تعال هي الاسلام واستجمال الجوارح والقوى فيمالايعدعلى نفس كمالا

Referensi

تفسيرالصاوى:٩-٢١٤

قوله فليغيرن خلق الله اى نخلقه ….. الى أن قال ……. ومن ذالك تغيرالجسم بالوشم وتغييرالشعربالوصل لما فى الحديث لعن الله الواشمة والموشومة والواصلة والموصلة

Referensi:

مسعود .(تفسير الخازن ج١ ص ٤٠٥)

وقوله ولآمرنهم فليغيرن خلق الله قال ابن عباس يعنى دين الله وتغييردين الله وتحليل الحراو وتحريم الحلال  الى ان قال يحميل ان يحمل هذاالتعيير على تغييراحوال تتعلق بظاهرالخلق مثل الوشم ووصل الشعر ويدل عليه قوله صلى الله عليه وسلم لعن الله الواشمة والمتوشمات والمتنمسات والمتفلجات لحسن المغيرات خلق الله اخرجه من رواية ابى

Firman Allah, syaitan berkata: “dan aku suruh mereka merubah ciptaan Allah” mulai dari bentuk wajahnya, potongan tubuhnya atau sifatnya hukumnya haram, karena termasuk merubah ciptaan Allah. Dan orang yang merubah ciptaanNya termasuk dari sebagian orang-orang yang dilaknat

Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MENGUBURKAN MAYAT DENGAN MEMAKAI PAPAN/ BALOK COR

 Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.

Dengan kemajuan ilmu dan teknologi dimasa sekarang ini sedikit berbeda dengan masa-masa terdahulu .Di antara waqiiyah yang terjadi dimasyarakat pada masa lalu sudah terbiasa ketika seseorang meninggal di kuburkan atap kuburannya memakai kayu sedangkan sekarang hampir mayoritas masyarakat memakai atap kuburannya dengan memakai cor ( bata yang dicor dengan alat semin ) entah tujuan agar kuburan itu tidak mudah ambruk atau karena lebih praktis dan tahan lama.

Pertanyaan

Bagaimana hukumnya papan kuburan memakai cor tidak memakai kayu ?

Waalaukum salam

Setelah mayat selesai dimandikan dan dibungkus serta dishalati maka kewajiban yang harus dilakukan adalah menguburkan dan sebagaimana biasanya setelah mayat dimasukkan keliang Lahat lalu tali ikatannya dibuka juga sunnah dipinggir punggungnya diberi lubellu ( batu kecil) agar mayat tidak terbentang karena posisi mayat harus dimiringkan dan dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu dibuatkan papan sebagai penahan tanah di dalam kuburan agar tanah tidak langsung mengenai tubuh jenazah. Biasanya papan penahan itu terbuat dari kayu dan LABIN BUKAN LABAN , Labin adah batu bata, namun di sebagian daerah ada yang terbuat dari balok yang dicor dengan menggunakan semin dan ada sebagian dalam cor tersebut terdapat besi dan ada memakai bambu sebagai penguat atap buatan tersebut. Sebenarnya, bagaimana hukum membuat papan penahan tanah kuburan dengan balok yang dicor ini dengan semen dan besi atau bambu, apakah boleh sebagaimana yang telahbdilakun oleh masyarakat ?
Menurut para ulama fiqh, membuat lubang untuk mayat itu adalah sunnah dengan memakai bata ( artinya kuburan itu ditutup dengan bata sebelum diratakan dengan tanah ) sehingga didalam kubur ada ruang atau diistilahkan dibuat papan atau atap sebagai penahan tanah di kuburan dan sejenisnya yang berfungsi untuk menghalangi jenazah agar tidak tertimbun tanah secara langsung hukumnya sunnah , hal itu agar tidak seperti halnya kita mengubur binatang,
Papan yang dibuat bertujuan sebagai penyanggah tanah di kuburan ini dianjurkan agar menggunakan kayu ataupun lainnya yang tidak pernah tersentuh oleh api. Misalnya, batu bata yang tidak pernah dibakar api, kayu, bambu, dan lainnya. Adapun jika papan penahan terbuat dan tersentuh api, misalnya besi, semen dan lainnya, maka hukumnya makruh dijadikan papan penyanggah tanah di kuburan.
Oleh sebab itu, balok yang terbuat dari coran semen dan besi hukumnya makruh dijadikan papan penyanggah tanah di kuburan. Jika masih ada bahan lain yang tidak tersentuh api, maka sebaiknya balok yang dicor menggunakan semen dan besi tidak dijadikan papan penyanggah tanah di kuburan. Ini karena semen dan besi pernah dibakar oleh api.
Ini sebagaimana disebutkan dalam Darul Ifta’ Al-Mishriyah berikut;

وأما إذا كانت الأرض رخوة استحب أن يكون القبر شقاً، وهو أن يحفر شقاً في وسط القبر يوضع فيه الميت ثم ينصب عليه اللبن. والأولى عدم استعمال أي مادة مسّتها النار في مكونات القبر، كالإسمنت والحديد، واستعمال الحجارة والطين ونحوها من المواد.


Adapun jika tanah kuburan gembur, maka disunnahkan kuburan digali bagian tengahnya untuk dijadikan tempat mayit. Kemudian diletakkan batu bata di atasnya. Yang lebih utama tidak menggunakan bahan yang pernah tersentuh api di dalam kuburan, seperti semen, besi, dan juga batu dan tanah (yang sudah dibakar dengan api, Akan terapi jika tanahnya memang lembur atau mudah gusur maka tidak apa- memakai atap bahan dari cor .

المفتي
عبد اللطيف حمزة.
جمادى الأولى ١٤٠٥ هجرية – ٢٧ يناير ١٩٨٥ م
المبادئ
١ – الدفن فى اللحد أفضل من الشق إلا أن تكون الأرض رخوة.
٢ – يكره دفن الميت ولو صغيرا فى المنزل لأن هذا خاص بالأنبياء والأفضل دفن الأموات فى المقابر المعدة لذلك
السؤال
من السيد / سيد بطلبه المقيد برقم ٢٦١ لسنة ١٩٨٤ م المتضمن بيان الحكم الشرعى فيمن يدفنون موتاهم فى ساحتهم الملاصقة لدورهم التى يسكنون فيها من جميع النواحى ليتبارك الناس بموتاهم
الجواب
قال تعالى {قتل الإنسان ما أكفره.
من أى شىء خلقه. من نطفة خلقه فقدره.
ثم السبيل يسره. ثم أماته فأقبره} عبس ١٧ – ٢١، من مفهوم هذه الآيات الكريمة يتبين أن أقبر الانسان أى دفنه فى القبر من تكريم الله له ومن نعم الله عليه، وأقل القبر حفرة توارى الميت وتمنع بعد ردمها ظهور رائحة منه تؤذى الأحياء ولا يتمكن من نبشها سبع ونحوه وأكمل القبر اللحد وهو حفرة فى جانب القبر جهة القبلة يوضع فيها الميت وتجعل كالبيت المسقف ينصب اللبن عليه (البن هو الطوب النئ) والدفن فى اللحد مستحب بالاجماع لقول عائشة رضى الله علينها (لما مات النبى صلى الله عليه وسلم اختلفوا فى اللحد والق حتى تكلموا فى ذلك وارتفعت أصواتهم فقال عمر لا تصخبوا عند النبى صلى الله عليه وسلم حيا ولا ميتا فأرسلوا إلى الشقاق واللاحق جميعا فجاء اللاحد فلحد لرسول الله صلى الله عليه وسلم ثم دفن) أخرجه ابن ماجه بسند صحيح ورجاله ثقات وأحاديث أخرى دلت على أن الدفن فى اللحد أفضل من الشق إلا أن تكون الأرض رخوة لينة يخاف منها انهيار اللحد فيصار إلى الشق وهو حفرة مستطيلة فى وسط القبر وتبنى جوانبها باللبن أو غيره يوضع فيها الميت ويسقف عليه باللبن والخشب أو غيرهما ويرفع السقف قليلا بحيث لا يمس الميت، أما اذا كانت الأرض صلبة فالدفن فى الشق مكروه.

الموسوعة الفقهية – 3631/31949


إلحاد الميت:
– إلحاد الميت في القبر سنة عند الحنفية والحنابلة لقوله عليه الصلاةوالسلام: اللحد لنا والشق لغيرنا (1) ولما رواه مسلم من حديث سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه أنه قال في مرضه الذي مات فيه: ” الحدوا لي لحدا، وانصبوا علي اللبن، كما صنع برسول الله ” صلى الله عليه وسلم (2) .وذهب المالكية والشافعية إلى أنه مستحب، لما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للحافر: أوسع من قبل رأسه، وأوسع من قبل رجله. (3) ولقول الرسول صلى الله عليه وسلم يوم أحد: احفروا، وأوسعوا، وعمقوا (4) ولما روى ابن ماجه عن أنس لما توفي النبي صلى الله عليه وسلم وكان بالمدينة رجل يلحد وآخر يضرح، فقالوا: نستخير ربنا ونبعث إليهما، فأيهما سبق تركناه، فأرسل إليهما، فسبق صاحب اللحد، فلحدوا النبي صلى الله عليه وسلم (5) وهذا عند الجميع إذا كانت الأرض صلبة، أما إذا كانت رخوة فإنه يصار إلى الشق بدون خلاف ويكون أفضل، ويكون اللحد إلى جهة القبلة بقدر الميت. (1) .

Kemudian bagaimana halnya tikar atau sejenisnya yang diletakkan diatasnnya papan tersebut . Dalam hal tikar atau senisnya jika tidak dibutuhkan diletakkan diatasnya papan jika tujuan agar kuburan tidak dijatuhi tanah yang halus maka boleh- boleh saja asalkan sudah layu berbeda dengan tikar atau karpet yang diletakkan dibawahnya mayat maka hukumnya makruh .Alasannya karena mayat /manusia harus menyentuh tanah dan harus tidak ada penghalang antara mayat dengan tanah , hal itu karena asalnya manusia dibuat dari tanah dan kembali kepada tanah. Sedang meletakkan tikar yang sudah layu diatasnya papan itu boleh, tetapi kalau tikar atau karpet itu masih baru dan masih dibutuhkan maka hukumnya melakukan hal yang sedemikian termasuk mubadzzir ( menghambur-hamburkan harta). Maka makhruh hukumnya membuat penghalang antara mayat dan tanah. DR. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan:


وَيُكْرَهُ اَنْ يُجْعَلَ تَحْتَهُ فُرْشٌ أَوْمِضْرَبَةٌ أَوْ مِخَدَّةٌ اَوْثَوْبٌ أَوْحَصِيْرٌلِمَارُوِيَ عَنْ عُمَرَرضي الله عنه اَنَّهُ قَالَ”اِذَا اَنْزَلْتُمُوْ نِي فِي اللَّحْدِ فَافْضُوْابِخَدِّي إِلَي الْاَرْضِ”. وَعَنْ أَبِي مُوْسَي ر ضي الله عنه” لاَ تَجْعَلُوْابَيْنِيْ وَبَيْنَ الْاَرْضِ شَيْأً. (الفقه الاسلامي

وادلته،ج٢ص٥٣٣)


”Dimakhruhkan hukumnya meletakkan dibawah mayit sebuah alas,selimut tebal, bantal, baju atau pembatas (antara mayit dan tanah). Karena ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Umar RA bahwa beliau berkata, “Jika kamu sekalian menurunkan aku ke liang lahat, maka sentuhkanlah pipiku ke tanah”. Dan juga ada hadist yang diriwayatkan dari Abi Musa RA “Janganlah  kamu jadikan antara aku dan tanah sebuah penghalang.” (Al-Fiqh al_Islami wa Adillatuh, juz II hal 533)
Maka demikian juga dengan penggunaan peti mayat. Hal itu makhruh karena mayat tidak dapat disentuhkan secara langsung ke tanah.

Di samping itu, hal tersebut merupakan perbuatan mubadzir, membuang-buang harta untuk sesuatu yang tidak perlu. Imam Nawawi al-Bantani menyebutkan dalam kitabnya Nihayah  al-Zain:


وَيُكْرَهُ أَنْ يُجْعَلَ لَهُ فُرْشٌ وَمِخَدَّةٌ وَصُنْدُوْقٌ لَمْ يُحْتَجْ إِلَيْهِ لِأَنْ فِيذَلِكَ إِضَاعَةَ مَالٍ،وَمَحَلُّ الْكَرَاهَةِ مَالَمْ يَكُنْ مِنْ مَالِ مَحْجُوْرٍعَلَيْهِ وَإِلاَّحَرُمَ. وَمِنْ حُصُوْصِ الْاَنْبِيَاءِ جَوَازُالْفُرْشِ لَهُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ بِلاَ كَرَاهَةٍ لِاَنَّهُمْ اَحْيَاءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ. أَمَّاإِذَاا حْتِيْجَ إِلَى صُنْدُوْقٍ لِنَدَاوَةٍ أَوْنَحْوِهَا فَلاَيُكْرَهُ.( هايةالزين،١٥٤)

“Dimakhruhkan membuat alas, bantal, atau peti yang tidak dibutuhkan di dalam kuburan karena perbuatan itu termasuk membuang-buang harta secara percuma. Hukum makhruh ini berlaku jika barang-barang tersebut tidak dibelanjakan dari harta mahjur alayh (harta orang-orang yang ada dibawah pengawasan seseorang). Jika digunakan dari harta orang itu, hukumnya menjadi haram. Diantara keistimewaan para Nabi adalah, tidak dimakhruhkan untuk memberikan alas pada kubur mereka, karena mereka selalu hidup dalam kuburnya. Namun, jika peti sangat dibutuhkan untuk proses penguburan, misalnya karena tanahnya terlalu gembur atau semacamnya, maka tidak makhruh menggunakan peti mati.”(Nihayah al-Zain, 154).

Dari beberapa penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa menggunakan Papan yang terbuat dari balok cor dan juga lama’ atau tikar yang menyebabkan terhalangnya mayat tersentu dengan tanah hukumnya makruh , sedangkan meletakkan tikar diatasnya papan agar menjadi penghalangnya buburnya tanah agar tidak jatuh kepada mayyit hukumnya boleh dengan catatan tikarnya sudah tidak bisa digunakan lagi (dibutuhkan), tetapi jika masih dapat dipakai maka hukumnya tidak boleh karena termasuk mubadzzir .Demikian Wallahu A’lam

Kategori
Uncategorized

HUKUM SHALATNYA IMAM DAN MAKMUN KETIKA DIKETAHUI SETELAH SHALAT IMAM INGAT HADATSNYA

HUKUM SHALATNYA IMAM DAN MAKMUM KETIKA DIKETAHUI  SETELAH SHALAT IMAM INGAT HADATSNYA 

Assalamualaikum.

Deskripsi masalah.

Ketika suara adzan mulai dikumandankan dimasjid atau dimusholla sang Imam rawawatib mulai berangkat menuju Masjid /musholla setelah sampai dimasjid mulailah seorang Muadzzin dengan  beriqomah, semua makmum sudah berbaris dengan merapatkan shofnya dan sholat berjamaah dimulai oleh imam dengan takbir dan semua rukun-rukunnya sholat pun selesai diakhiri dengan salam. Sang Imam biasa melakukan wiridan ( dzikir) selesai dzikir  ditutup dengan do’a.Kemudian sang Imam pulang begitu  sampai dirumahnya ia  ingat beneran bahwa dirinya tidak punya wudhu (  aku  sholat tidak punya wudhu karena saya tadinya hadats keluar angin atau  saya dalam kondisi junub).

Pertanyaannya.
Apa yang harus sang Imam hendak lakukan terhadap dirinya dan juga terhadap orang yang bermakmum ? ( sahkah sholatnya makmum )

Waalaikum salam.

Jawaban
Yang harus dilakukan seorang ( imam ) adalah mengulangi sholatnya, alasannya karena shalatnya dilakukan dalam kondisi hadats ( tidak sah ) . Sedangkan shalatnya makmum  termasuk ma’dzur dihukumi sah karena mereka tidak mengetahui  ( artinya shalatnya Imam batal/ tidak sah sedangkan shalatnya makmum sah ), ini menurut pendapat ulama yang  kuat, sebagaimana  dijelaskan dalam  sebuah hadits dan juga  oleh Ibnu Qudamah  dan Al-Imam Nawawi rahimahullah , dalam kitabnya sebagai berikut   “Kalau Imam shalat berjamaah dalam kondisi berhadas atau junub sementara dia tidak mengetahui hadatsnya, dia dan para makmumnya tidak mengetahui sampai selesai dari shalanya, maka shalat mereka sah dan shalat imam batal. Hal itu diriwayatkan dari Umar, Utsman, Ali dan Ibnu Umar radhiallahu anhum dan ini pendapat Malik dan Syafi’i.
Diriwayatkan Ibnu Umar radhiallahu anhu beliau shalat subuh bersama orang-orang, kemudian didapati di bajunya bekas bermimpi, maka beliau mengulangi dan (para makmum) tidak mengulangi. Utsman radhiallahu nahu shalat subuh dengan orang-orang, ketika pagi hari dan mulai siang, ternyata ada bekas janabat, maka beliau mengulangi shalat dan tidak memerintahkan mereka mengulanginya.
Dari Ali radhiallahu anhu beliau berkata, “Kalau orang junub shalat dengan kaum, kemudian telah sempurna shalatnya. Diperintahkan dia untuk mandi dan mengulangi (shalat). Dan tidak memerintahkan mereka untuk mengulanginya.
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwa beliau shalat zuhur dengan mereka, kemudian beliau teringat shalat tanpa berwudu. Maka beliau mengulangi dan mereka tidak mengulangi (shalat). Diriwayatkan oleh Atsram (Al-Mughni dengan disingkat, 1/419).
Lajnah Daimah Llil Ifta’ ditanya tentang seseorang shalat menjadi imam shalat zuhur dan asar sementara dalam kondisi junub, dimana dia tidak mengetahui junubnya. Maka dijawab, “ Kamu harus mengulangi shalat zuhur dan asar setelah mandi janabat. Dan kamu harus bersegera akan hal itu. Sementara orang yang shalat di belakangmu dari beberapa shalat, mereka tidak diharuskan mengulanginya. Karena Umar radhiallahu anhu mengimami shalat dengan orang shalat fajar dalam kondisi junub karena lupa. Maka beliau mengulangi shalat fajar dan tidak menyuruh orang yang shalat di belakangnya untuk mengulanginya. Karena mereka ada uzur tidak mengetahui hadats anda.” selesai (Fatawa Lajanah Daimah, (6/266).
Wallahu a’lam.

Referensi: Hadits

لا يقبَلُ اللهُ صلاةَ أحدِكم إذا أَحْدثَ حتى يتوضَّأَ


Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats, sampai dia berwudhu. (HR. Bukhari 6954).


Hadis tersebut diatas menjelaskan, bahwa wudhu merupakan salah satu syarat sah shalat.
Kemudian para ulama sepakat, orang yang shalat tanpa wudhu karena lupa, shalatnya batal dan wajib diulangi. Berikut beberapa keterangan mereka,
Imam An-Nawawi mengatakan,


أجمع المسلمون على تحريم الصلاة على المحدث وأجمعوا على أنها لا تصح منه سواء إن كان عالما بحدثه أو جاهلا أو ناسيا لكنه إن صلى جاهلا أو ناسيا فلا إثم عليه وإن كان عالما بالحدث وتحريم الصلاة مع الحدث فقد ارتكب معصية عظيمة ولا يكفر عندنا بذلك إلا أن يستحله , وقال أبو حنيفة : يكفر لاستهزائه


Kaum muslimin sepakat keharamannya shalat bagi orang yang berhadats. Mereka juga sepakat bahwa tidak shalat shalat tanpa wudhu, baik dia tahu hadatsnya atau tidak tahu, atau lupa. Hanya saja, jika dia shalat karena tidak tahu sedang hadats atau lupa berwudhu, maka tidak ada dosa untuknya.
Sebaliknya, jika dia tahu sedang hadats dan tahu terlarangnya shalat dalam keadaan hadats, berarti dia telah melakukan dosa besar, yang tidak sampai kafir menurut madzhab kami (syafiiyah), kecuali jika dia menganggap hal itu diperbolehkan. Sementara Abu Hanifah mengatakan, ‘Dia kufur karena mempermainkan agama.’
(al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 2/67).
Keterangan yang sama juga disampaikan Ibnu Rusyd,


واتفقوا على أنّ من صلى بغير طهارة أنّه يجب عليه الإعادة عمداً أو نسياناَ وكذلك من صلى لغير القبلة عمداَ كان ذلك أو نسيانا


Ulama sepakat bahwa orang yang shalat tanpa bersuci, dia wajib mengulang shalatnya. Baik sengaja maupun lupa. Demikian pula orang yang shalat tanpa menghadap kiblat, baik sengaja maupun lupa. (Bidayah al-Mujtahid, 1/151)

Referensi.

المغني لابن قدامة الحنبلي: ص.

أن الإمام إذا صلى بالجماعة محدثا, أو جنبا, غير عالم بحدثه , فلم يعلم هو ولا المأمومون , حتى فرغوا من الصلاة , فصلاتهم صحيحة , وصلاة الإمام باطلة. روي ذلك عن عمر , وعثمان , وعلي , وابن عمر رضي الله عنهم , وبه قال الحسن , وسعيد بن جبير , ومالك , والأوزاعي , والشافعي , وسليمان بن حرب , وأبو ثور.
وعن علي أنه يعيد ويعيدون . وبه قال ابن سيرين والشعبي وأبو حنيفة , وأصحابه ; لأنه صلى بهم محدثا , أشبه ما لو علم.
ولنا , إجماع الصحابة رضي الله عنهم , روي أن عمر رضي الله عنه صلى بالناس الصبح , ثم خرج إلى الجرف , فأهرق الماء , فوجد في ثوبه احتلاما , فأعاد ولم يعيدوا وعن محمد بن عمرو بن المصطلق الخزاعي , أن عثمان صلى بالناس صلاة الفجر , فلما أصبح وارتفع النهار فإذا هو بأثر الجنابة . فقال : كبرت والله , كبرت والله , فأعاد الصلاة , ولم يأمرهم أن يعيدوا .
وعن علي , أنه قال : إذا صلى الجنب بالقوم فأتم بهم الصلاة آمره أن يغتسل ويعيد , ولا آمرهم أن يعيدوا . وعن ابن عمر , أنه صلى بهم الغداة , ثم ذكر أنه صلى بغير وضوء , فأعاد ولم يعيدوا . رواه كله الأثرم . وهذا في محل الشهرة , ولم ينقل خلافه , فكان إجماعا.
ولم يثبت ما نقل عن علي في خلافه , وعن البراء بن عازب أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : { إذا صلى الجنب بالقوم , أعاد صلاته , وتمت للقوم صلاتهم } . أخرجه أبو سليمان محمد بن الحسن الحراني , في ” جزء ” . ولأن الحدث مما يخفى , ولا سبيل للمأموم إلى معرفته من الإمام , فكان معذورا في الاقتداء به , ويفارق ما إذا كان على الإمام حدث نفسه ; لأنه يكون مستهزئا بالصلاة فاعلا لما لا يحل . وكذلك إن علم المأموم , فإنه لا عذر له في الاقتداء

Referensi

[المجموع شرح المهذب ٢٥٦/٤]

وَلَا تَجُوزُ الصَّلَاةُ خَلْفَ الْمُحْدِثِ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ فَإِنْ صَلَّى خَلْفَهُ غَيْرَ الْجُمُعَةِ وَلَمْ يَعْلَمْ ثُمَّ عَلِمَ فَإِنْ كَانَ ذَلِكَ فِي أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ نَوَى مُفَارَقَتَهُ وَأَتَمَّ *وَإِنْ كَانَ بَعْدَ الْفَرَاغِ لَمْ تَلْزَمْهُ الْإِعَادَةُ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَلَى حَدَثِهِ أَمَارَةٌ فَعُذِرَ فِي صَلَاتِهِ خَلْفَهُ*

الموسوعة الفقهية – 3684/31949

ح – السَّلاَمَةُ مِنْ فَقْدِ شَرْطٍ مِنْ شُرُوطِ الصَّلاَةِ:
12 – يُشْتَرَطُ فِي الإِْمَامِ السَّلاَمَةُ مِنْ فَقْدِ شَرْطٍ مِنْ شُرُوطِ صِحَّةِ الصَّلاَةِ كَالطَّهَارَةِ مِنْ حَدَثٍ أَوْ خَبَثٍ، فَلاَ تَصِحُّ إِمَامَةُ مُحْدِثٍ وَلاَ مُتَنَجِّسٍ إِذَا كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ، لأَِنَّهُ أَخَل بِشَرْطٍ مِنْ شُرُوطِ الصَّلاَةِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الإِْتْيَانِ بِهِ، وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ الْحَدَثِ الأَْكْبَرِ وَالأَْصْغَرِ، وَلاَ بَيْنَ نَجَاسَةِ الثَّوْبِ وَالْبَدَنِ وَالْمَكَانِ.
وَصَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ أَنَّ عِلْمَ الْمُقْتَدِي بِحَدَثِ الإِْمَامِ بَعْدَ الصَّلاَةِ مُغْتَفَرٌ، وَقَال الْحَنَفِيَّةُ: مَنِ اقْتَدَى بِإِمَامٍ ثُمَّ عَلِمَ أَنَّ إِمَامَهُ مُحْدِثٌ أَعَادَ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَمَّ قَوْمًا ثُمَّ ظَهَرَ أَنَّهُ كَانَ مُحْدِثًا أَوْ جُنُبًا أَعَادَ صَلاَتَهُ. (1)
وَفَصَّل الْحَنَابِلَةُ فَقَالُوا: لَوْ جَهِلَهُ الْمَأْمُومُ وَحْدَهُ وَعَلِمَهُ الإِْمَامُ يُعِيدُونَ كُلُّهُمْ، أَمَّا إِذَا جَهِلَهُ الإِْمَامُ وَالْمَأْمُومُونَ كُلُّهُمْ حَتَّى قَضَوُا الصَّلاَةَ صَحَّتْ صَلاَةُ الْمَأْمُومِ وَحْدَهُ (2) ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا صَلَّى الْجُنُبُ
بِالْقَوْمِ أَعَادَ صَلاَتَهُ وَتَمَّتْ لِلْقَوْمِ صَلاَتُهُمْ. (1) وَتَفْصِيلُهُ فِي مُصْطَلَحِ: (طَهَارَة) .

Wallahu A’lam bisshowab