
HUKUM MEWAKILKAN ZAKAT MELALUI TELEPON
Assalamualaikum.
Diera modernisasi, kemajuan teknologi sekarang sudah sampai pada masa yang disebut dengan Generasi Milenial yaitu sebuah generasi yang hidup di zaman yang sedang berubah dari konvensional menjadi modern, itu sudah menjamaah keseluruh lapisan masyarakat, salah satunya adalah dalam persoalan zakat yang mulai bisa ditransefer dengan menggunakan ATM .Permasalahan ini terjadi ketika Ust Yongki misalkan seorang pengusaha Warung (toko) yang berdomisili dijawa katakan Banyuangi bertepatan Desa bengkak Kecamatan Wongsorjo.Asal madura cuman Ust Yongki sudah menetap didaerah tersebut . Pada suatu hari ia ingin mengeluarkan zakatnya (zakat dagangannya) kepada fakir miskin yang berada di Madura .Ust Yongki baru ingat bahwa ia punya teman dimadura yang bernama Ust. Umar al-Farug yang kebetulan Ustadz Umar itu menjadi Panitia zakat. Tanpa pikir panjang akhirnya Ust. Yongki memutuskan untuk mewakilkan zakatnya kepada Ust. Umar al-Farug melalui telepon. Dalam percakapannya, Ust. Yongki berkata: Kawanku Umar al-Farug..!! Aku akan transfer uang kepada rekening kamu sebagai zakatku disitu. Ust. Umar al-Farug menjawab Oh Ya akan aku laksanakan ( akan aku cairkan kepada Mustahik).
Pertanyaan.
- Apakah perkataan/ucapan perwakilan ( bentuk sighat)dalam zakat sebagaimana kasus diatas dapat dibenarkan ( sah)?
- Bagaimana hukum mengalokasikan zakat yang bukan daerahnya muzakki sebagaimana deskripsi
Wa alaikumussalam.
Jawaban No. 1
Hukum mewakilkan zakat boleh dan sah dengan pertimbangan sebagai berikut
- Apabila transaksi menggunakan bahasa ajami ( bahasa selain bahasa arab) maka yang dapat dipertimbangkan adalah subtansi ( isi tujuan) dari bahasa transaksi yang bisa dimengerti melalui urff ( kebiasaan ) bukan pelafalannya.
- Telepon sebagai media penyambung suara sehingga transaksi via telepon hukumnya bisa sah jika disertai dengan niat zakat ketika Yongki mengucapkan kalimat sighat taukil misalkan : Wakkaltuka zakatiy ( aku wakilkan kepadamu zakatku atau fawwadltuka zakatiy ( aku pasrahkan zakatku kepadamu)
Referensi:
فقه الزكاة للشيخ يوسف القرضاوي.
التوكيل في إخراج الزكاة
ولا يلزم المسلم أن يخرج زكاته بنفسه، بل أن يوكل عنه مسلمًا ثقة يخرجها نيابة عنه، والمراد بالثقة من يطمئن إلى أمانته في إخراجها إلى مستحقها؛ لأن غير الثقة لا يؤمن عليها، واشترط بعض الفقهاء أن يكون الوكيل مسلمًا؛ لأن الزكاة عبادة، وغير المسلم ليس من أهلها، وقال آخرون: يجوز توكيل الذمي في إخراج الزكاة إذا نوى الموكل، وكفت نيته (انظر: الشرح الكبير وحاشية الدسوقي عليه: ١/٤٩٨).
والذي أراه ألا يلجأ المسلم إلى توكيل غير المسلم؛ إلا لحاجة، بشرط أن يكون ثقة يطمئن إلى تنفيذه رغبة موكله.
وذهب بعض المالكية إلى أن استنابة المالك من يؤدى الزكاة منه أمر مستحب بعدًا عن الرياء، وخوفًا عليه من أنه إذا تولى تفرقتها بنفسه يقصد حمد الناس، وثناءهم عليه.
وقد تجب الاستنابة إن علم من نفسه ذلك، ولم يكن مجرد خوف، وكذلك إذا جهل من يستحق الزكاة، فعليه أن يوكل من يضعها في موضعها ويعطيها أهلها (المرجع السابق).
Mewakilkan untuk membayar zakat seorang muslim tidak mesti harus membayar zakatnya sendiri, melainkan boleh mewakilkan atau mempercayakan kepada seorang muslim yang dapat dipercaya atas namanya untuk membayarkannya, dan yang dimaksud dengan yang dapat dipercaya adalah orang yang yakin atas amanahnya membayarkannya kepada orang yang berhak, dengan syarat orang yang menjadi wakil harus muslim, namun ada sebagian pendapat mewakilkan zakat boleh kepada orang kafir dzimmi dengan syarat ada niat dari muwakkil.Menurut Malikiyah sunnah hukumnya mewakilkan zakat untuk menjauhkan diri dari sifat riya’.
أنه صلى الله عليه وسلم بعث السعادة لأخذ الزكاة
Artinya;” Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan/mengutus pada petugas penari k zakat untuk memungut zakat.
فقه الإسلامي وأدلته ج٣ص١٩٧٥
ثانيا ـ التوكيل في أداء الزكاة: اتفق الفقهاء (١) على أنه يجوز التوكيل في أداء الزكاة، بشرط النية من الموكل أو المؤدي، فلو نوى عند الأداء أو الدفع للوكيل عند الحنفية والشافعية، أو قبل الأداء بزمن يسير عند الحنابلة، أو عند العزل لدى المالكية والحنفية والشافعية، ثم أداها الوكيل إلى الفقير بلا نية جاز؛ لأن تفرقة الزكاة من حقوق المال، فجاز أن يوكل في أدائه كديون الآدميين. وللوكيل أن يوكل غيره بلا إذن ولو نوى الوكيل ولم ينو الموكل، لم يجز؛ لأن الفرض يتعلق به، والإجزاء يقع عنه، وإن دفعها إلى الإمام ناويا ولم ينو الإمام حال دفعها إلى الفقراء، جاز.
Kedua – Perwakilan dalam Pembayaran Zakat:
Para ahli fikih sepakat bahwa diperbolehkan mewakilkan pembayaran zakat, dengan syarat adanya niat dari orang yang mewakilkan atau orang yang melaksanakan. Jika ia berniat saat pembayaran atau penyerahan kepada wakil menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, atau sebelum pembayaran dengan waktu yang singkat menurut mazhab Hanbali, atau saat pemisahan menurut mazhab Maliki, Hanafi, dan Syafi’i, kemudian wakil menyerahkannya kepada fakir miskin tanpa niat, maka hal itu diperbolehkan; karena pembagian zakat termasuk hak harta, maka diperbolehkan mewakilkan pelaksanaannya seperti utang sesama manusia. Wakil boleh mewakilkan kepada orang lain tanpa izin. Jika wakil berniat dan orang yang mewakilkan tidak berniat, maka tidak diperbolehkan; karena kewajiban tersebut berkaitan dengannya, dan pelaksanaan dianggap sah darinya. Jika ia menyerahkannya kepada imam dengan niat dan imam tidak berniat saat menyerahkannya kepada fakir miskin, maka hal itu diperbolehkan.
Para Fuqaha menjadikan salah satu pijakan rumusan untuk melegalkan transaksi wakalah ( perwakilan), khususnya dalam hal penarikan zakat, hadis diatas dapat dijadikan acuan untuk memperbolehkan umat Islam mewakilkan dalam hal pengalokasian zakat, sebagaimana persoalan dalam deskripsi diatas. Meskipun demikian masih ada beberapa poin yang perlu dikaji lebih lanjut dari persoalan diatas yang terkait dengan salah satu rukun dari WAKALAH yakni SIGHAT (Bentuk kalimat yang digunakan bertransaksi/ mewakilkan ).Poin-poin tersebut adalah.
- Sighat-Nya memakai bahasa ajami ( bukan bahasa Arab)
- Transaksi melalui via telepon
Adapun yang dipertimbangkan dalam penggunaan bahasa transaksi adalah subtansi ( tujuan/isi ) dari bahasa yang digunakan saat bertransaksi yang bisa dimengerti umum. Oleh karenanya, tidak ada keharusan dalam transaksi ( akad) Wakalah dengan menggunakan bahasa Arab, disamping yang ditekankan dalam sighat adalah sesuatu yang dapat mengartikan kehendak dari pihak yang bertransaksi .
Transaksi saksi Wakalah dengan menggunakan media penyambung suara, seperti telepon, diperbolehkan dengan pertimbangan bahwa Wakalah merupakan salah satu dari dari akad selain wasiat yang tidak mengharuskan al-ittibad al-Majlis .Dalam salah satu kitab dijelaskan bahwa yang dikehendaki dari al-ittibad al-Majlis adalah interaksi antara dua belah pihak untuk saling bertransaksi pada waktu yang sama dan tidak diharuskan berada dalam satu tempat atau ruang.Oleh karena itu transaksi dapat dihasilkan dengan semacam ini ( telepon) artinya apabila transaksi wakalah mengharuskan al-ittihab al-Majlis maka transaksi melalui telepon bisa diperbolehkan.
Referensi
الأشباه والنظائر : ص.٩٨
تَنْبِيهٌ:
إنَّمَا يَتَجَاذَبُ الْوَضْعُ وَالْعُرْفُ فِي الْعَرَبِيِّ، أَمَّا الْأَعْجَمِيُّ فَيُعْتَبَر عُرْفُهُ قَطْعًا ; إذْ لَا وَضْعَ يُحْمَل عَلَيْهِ. فَلَوْ حَلَفَ عَلَى الْبَيْتِ بِالْفَارِسِيَّةِ، لَمْ يَحْنَثْ بِبَيْتِ الشَّعْرِ، وَلَوْ أَوْصَى لِأَقَارِبِهِ لَمْ يَدْخُلْ قَرَابَةُ الْأُمِّ فِي وَصِيَّةِ الْعَرَبِ وَيَدْخُلُ فِي وَصِيَّةِ الْعَجَمِ.
وَلَوْ قَالَ: إنْ رَأَيْت الْهِلَالَ فَأَنْتِ طَالِقٌ، فَرَآهُ غَيْرُهَا، قَالَ الْقَفَّالُ: إنْ عَلَّقَ بِالْعَجَمِيَّةِ حُمِلَ عَلَى الْمُعَايَنَة. سَوَاء فِيهِ الْبَصِيرُ وَالْأَعْمَى.
قَالَ: وَالْعُرْفُ الشَّرْعِيُّ فِي حَمْلِ الرُّؤْيَةِ عَلَى الْعِلْمِ، لَمْ يَثْبُتْ إلَّا فِي اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَنَعَ الْإِمَامُ الْفَرْقَ بَيْنَ اللُّغَتَيْنِ
Peringatan:
Hanya dalam bahasa Arab, makna kata dapat dipengaruhi oleh penetapan awalnya (wadh‘) dan kebiasaan penggunaannya (‘urf). Adapun dalam bahasa non-Arab, makna kata ditentukan secara mutlak oleh kebiasaan penggunaannya, karena tidak ada penetapan awal yang bisa dijadikan rujukan.
Sebagai contoh:
- Jika seseorang bersumpah atas nama “البيت” (al-bayt) dalam bahasa Persia, maka ia tidak dianggap melanggar sumpahnya jika yang dimaksud adalah rumah dan bukan kemah atau tenda (بيت الشعر).
- Jika seseorang berwasiat untuk “kerabatnya” (aqāribuh), maka dalam kebiasaan Arab, kerabat dari pihak ibu tidak termasuk, sedangkan dalam kebiasaan non-Arab, mereka termasuk dalam wasiat.
Jika seseorang berkata kepada istrinya:
“Jika engkau melihat hilal, maka engkau tertalak,”
lalu orang lain yang melihatnya, bagaimana hukumnya?
Menurut Imam al-Qaffāl:
- Jika pernyataan itu diucapkan dalam bahasa non-Arab, maka yang dimaksud adalah melihat dengan mata langsung, baik bagi orang yang memiliki penglihatan maupun yang buta.
- Sedangkan dalam syariat Islam, kebiasaan yang berlaku dalam bahasa Arab adalah bahwa melihat dapat bermakna memperoleh pengetahuan (seperti dalam konsep rukyat hilal). Namun, makna ini hanya berlaku dalam bahasa Arab.
Imam (asy-Syafi‘i) menolak perbedaan hukum antara dua bahasa ini.
:
إنَّمَا يَتَجَاذَبُ الْوَضْعُ وَالْعُرْفُ فِي الْعَرَبِيِّ، أَمَّا الْأَعْجَمِيُّ فَيُعْتَبَر عُرْفُهُ قَطْعًا إذْ لَا وَضْعَ يُحْمَل عَلَيْهِ.
Artinya, “Tarik ulur antara makna asli dengan ‘urf hanya ada dalam bahasa Arab. Sedangkan dalam bahasa non-Arab, yang dipertimbangkan adalah ‘urf menurut kesepakatan ulama, karena tidak ada makna asli yang menjadi tolak ukur.” (Lihat: al-Imam as-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazhair, hal.95).
الفقه الإسلامي وأدلته – (ج ٤ / ص ٤٦٣)
كيفية إبرام التعاقد بالهاتف واللاسلكي ونحوهما من وسائل الاتصال الحديثة : ليس المراد من اتحاد المجلس المطلوب في كل عقد كما بينا كون المتعاقدين في مكان واحد، لأنه قد يكون مكان أحدهما غير مكان الآخر، إذا وجد بينهما واسطة اتصال، كالتعاقد بالهاتف أو اللاسلكي أو بالمراسلة (الكتابة) وإنما المراد باتحاد المجلس: اتحاد الزمن أو الوقت الذي يكون المتعاقدان مشتغلين فيه بالتعاقد ، فمجلس العقد: هو الحال التي يكون فيها المتعاقدان مقبلين على التفاوض في العقد (2) ، وعن هذا قال الفقهاء «إن المجلس يجمع المتفرقات» وعلى هذا يكون مجلس العقد في المكالمة الهاتفية أو اللاسلكية: هو زمن الاتصال ما دام الكلام في شأن العقد، فإن انتقل المتحدثان إلى حديث آخر انتهى المجلس -الى أن قال- ومجلس التعاقد بين غائبين: هو محل وصول الكتاب أو تبليغ الرسالة، أو المحادثة الهاتفية. اهـ لكن للمرسل أو للكاتب أن يرجع عن إيجابه أمام شهود، بشرط أن يكون قبل قبول الآخر ووصول الرسالة أو الخطاب ونحوه من الإبراق والتلكس والفاكس. ويرى جمهور المالكية أنه ليس للموجب الرجوع قبل أن يترك فرصة للقابل يقرر العرف مداها، كما تقدم. هذا وإن بقية شروط الإيجاب والقبول عدا اتحاد المجلس لا بد من توافرها في وسائط الاتصال الحديثة.زمن إتمام العقد في التعاقد بين غائبين : أجمع الفقهاء على أن العقد ينعقد بين الغائبين كما في آلات الاتصال الحديثة بمجرد إعلان القبول، ولا يشترط العلم بالقبول بالنسبة للطرف الموجب الذي وجه الإيجاب .فلو كان المتعاقدان يتحدثان بالهاتف أو بالاسلكي، وقال أحدهما للآخر: بعتك الدار أو السيارة الفلانية، وقال الآخر: قبلت، انعقد العقد، بمجرد إعلان القبول، ولو لم يعلم الموجب بالقبول، بأن انقطع الاتصال بينهما. ولو وجهّ أحد العاقدين خطاباً أو برقية إلى آخر أو تلكساً أو فاكساً، وفيها إيجاب ببيع شيء، أو بإبرام عقد زواج، انعقد العقد بعد وصول البرقية أو الخطاب ونحوهما، وإعلان الآخر قبوله، دون حاجة إلى علم الموجب أو سماعه بالقبول لكن إبعاداً لكل لبس أو غموض، وتمكيناً من إثبات العقد، وتأكيداً لإبرامه اهـ الفوائد المختارة لسالك طريق الأخرة المستفادة من كلام العلامة الحبيب زين بن إبراهيم بن سميط جمع و تقديم علي بن حسن باهارون ص : ٢٤٦ التلفون كناية في العقود كالبيع والسلم والإجارة , فيصح ذلك بواسطة التلفون , أما النكاح فلا يصح بالتلفون لأنه يشترط فيه لفظ صريح , والتلفون كناية وأن ينظر الشاهد إلى العاقدين وفقد ذلك إذا كان بالتلفون أو ما هذا معناه اهـ
Bagaimana Cara Melakukan Akad Melalui Telepon, Radio, dan Sarana Komunikasi Modern Lainnya
Bukanlah syarat dalam kesatuan majelis (ittihad al-majlis) yang diperlukan dalam setiap akad, sebagaimana yang telah dijelaskan, bahwa kedua belah pihak harus berada di tempat yang sama. Hal ini karena bisa saja salah satu pihak berada di tempat yang berbeda dengan pihak lainnya, asalkan terdapat perantara komunikasi antara mereka, seperti akad yang dilakukan melalui telepon, radio, atau melalui surat-menyurat (tulisan).
Yang dimaksud dengan kesatuan majelis adalah kesatuan waktu atau masa ketika kedua belah pihak sedang sibuk dengan akad tersebut. Oleh karena itu, majelis akad adalah kondisi di mana kedua belah pihak sedang terlibat dalam negosiasi terkait akad. Mengenai hal ini, para ulama berkata: “Majelis itu mengumpulkan yang terpisah-pisah.”
Dengan demikian, majelis akad dalam percakapan telepon atau radio adalah selama masa percakapan yang membahas akad berlangsung. Jika pembicaraan beralih ke topik lain, maka majelis akad dianggap telah berakhir.
Adapun majelis akad bagi pihak yang tidak hadir secara langsung, maka itu adalah saat surat atau pesan diterima, atau saat percakapan telepon terjadi. Namun, pengirim atau penulis surat berhak untuk menarik kembali ijabnya di hadapan saksi, asalkan dilakukan sebelum pihak lain menyatakan penerimaannya atau sebelum surat atau pesan tersebut sampai.
Menurut mayoritas ulama Malikiyah, pihak yang menyampaikan ijab tidak berhak menarik kembali ijabnya sebelum memberikan kesempatan kepada pihak penerima untuk mempertimbangkan, di mana jangka waktu ini ditentukan oleh adat yang berlaku.
Meskipun kesatuan majelis tidak berlaku dalam media komunikasi modern, syarat-syarat lain dalam ijab dan qabul tetap harus dipenuhi.
Waktu Terjadinya Akad dalam Akad Jarak Jauh
Para ulama sepakat bahwa akad antara dua pihak yang tidak hadir secara langsung, seperti melalui alat komunikasi modern, terjadi begitu qabul diumumkan. Tidak disyaratkan bahwa pihak yang mengajukan ijab harus mengetahui bahwa qabul telah diberikan.
Sebagai contoh, jika dua orang sedang berbicara melalui telepon atau radio, lalu salah satu berkata: “Saya menjual rumah atau mobil ini kepadamu,” lalu yang lain menjawab: “Saya terima,” maka akad dianggap telah terjadi seketika setelah qabul diucapkan, meskipun pihak yang melakukan ijab tidak mengetahui hal itu karena sambungan terputus.
Demikian pula, jika salah satu pihak mengirim surat, telegram, telex, atau faks yang berisi penawaran jual beli atau pernikahan, maka akad terjadi setelah surat atau pesan itu sampai dan pihak lain mengumumkan penerimaannya, tanpa perlu pihak yang mengajukan ijab mengetahui atau mendengar qabul tersebut.
Namun, untuk menghindari kesalahpahaman, memastikan kejelasan akad, dan mempermudah pembuktian akad, perlu dilakukan konfirmasi lebih lanjut terhadap akad yang telah terjadi.
Hukum Akad Melalui Telepon dalam Beberapa Transaksi
Dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah li-Salik Tariq al-Akhirah karya al-‘Allamah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smiṭ, yang disusun oleh Ali bin Hasan Ba Harun (hal. 246), disebutkan bahwa:
Telepon dapat digunakan sebagai media akad dalam transaksi seperti jual beli, salam (jual beli dengan pembayaran di muka), dan ijarah (sewa menyewa), sehingga akad melalui telepon sah dalam kasus-kasus tersebut. Namun, dalam akad nikah, telepon tidak dapat dijadikan sebagai sarana sah untuk akad. Sebab, dalam akad nikah disyaratkan lafaz yang sharih (tegas), sedangkan telepon termasuk dalam kategori kinayah (kiasan). Selain itu, saksi dalam akad nikah harus melihat kedua calon pengantin secara langsung, sedangkan hal ini tidak dapat terpenuhi jika akad dilakukan melalui telepon atau sarana komunikasi serupa.
Wallahu a’lam.
.بغية المسترشدين صـ ١٨٦
( مسئلة ب )
مذهب الشافعى أن مجرد الكتابة فى سائر العقود والإخبارات والإنشاءات ليس بحجة شرعية , فقد ذكر الأئمة أن الكتابة كناية فتنعقد بها نحو الوصية مع النية ولو من ناطق. اهـ
Hukum Akad melalui Tulisan dan Sarana Komunikasi Modern dalam Mazhab Syafi’i 1. Pandangan Mazhab Syafi’i tentang Akad melalui Tulisan
Dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin (hal. 186) disebutkan:
Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa sekadar tulisan dalam berbagai akad, pemberitahuan, dan pernyataan hukum tidak dianggap sebagai hujjah syar’iyyah (dalil yang sah secara syariat). Para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa tulisan hanya termasuk dalam kategori kinayah (kiasan), sehingga akad yang dilakukan melalui tulisan seperti wasiat sah jika disertai dengan niat, meskipun dilakukan oleh seseorang yang mampu berbicara.
الفقه على مذاهب الأربعة الجزء : ٣ صـ :١٠٠ الشافعية : وإذا وقع العاقدان على عقد مكتوب كالمتعارف فى زماننا فإنه يصح ويقوم التوقيع على المكتوب مقام التلفظ بالصيغة ويكون من باب الكناية. ومثل ذلك كل عقد مكتوب فالكتابة تقوم مقام الصيغة اللفظية على أنها من باب الكناية . اهـ
Dalam kitab al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (jilid 3, hal. 100), disebutkan:
Menurut mazhab Syafi’i, jika kedua belah pihak menandatangani akad tertulis sebagaimana yang lazim di zaman ini, maka akad tersebut sah. Dalam hal ini, tanda tangan pada akad tertulis dianggap menggantikan pelafalan akad, dan termasuk dalam kategori kinayah. Hal yang sama berlaku untuk setiap akad yang ditulis, di mana tulisan berfungsi menggantikan shighah lafdziyyah (ucapan akad), tetapi tetap dikategorikan sebagai kinayah.
شرح الياقوت النفيس صـ ٣٥٦ للشيخ محمد بن أحمد بن عمر الشاطري
وأما البيع والشراء بالمكاتبات والتوقع عليهما وبواسطة وسائل الاتصال الحديثية كالتلفون والتلسكي وغيرهما فإن هذه الأجهزة أصبح جريان التعامل بواسطتها يتم البيع والشراء والتعامل داخل كل الدول وقد أوضح الفقهاء الطرق المتعددة والمختلفة للتعبير عن إرادة كل من طرفي العقد بالقول الملفوظ والمكتوب وانعقاده بالإشارة والعبرة ففي العقود لمعانيها لا لصور الألفاظ – الى أن قال- والكتابة مع النية والتوضع عليها معتمدة ولايعتمد ولايقبل قول القائل إنني لم أتلفظ ولم أنو فهذا يعد من التلاعب بحقوق الناس والاساءة الى الاسلام ؟ وعن البيع والشراء بواسطة التلفون والتلسكي والبرقيات كل هذه الوسائل وأمثالها معتمدة اليوم وعليها العمل والقرضاوي ذكر في كتابه فقه الزكاة كلاما جميلا حول العقود في باب زكاة الأوراق المالية نقلا عن الفقه على المذاهب الأربعة ونقلا عن الشافعية ان كل ما يتعارف عليه في العقد يعد صيغة ويعد كاللفظ وأحكام الرشيعة تقتفي ذلك ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ” لاضرر ولاضرار” اهـ
Dalam kitab Syarh al-Yaqut an-Nafis (hal. 356) oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri, dijelaskan:
Jual beli yang dilakukan melalui surat-menyurat, penandatanganan kontrak, atau melalui sarana komunikasi modern seperti telepon dan radio telah menjadi kebiasaan umum dalam transaksi di berbagai negara. Para ulama fiqih telah menjelaskan berbagai cara untuk mengekspresikan kehendak dalam akad, baik melalui ucapan, tulisan, maupun isyarat, karena dalam akad yang menjadi perhatian adalah substansi makna, bukan bentuk lafalnya.
Tulisan yang disertai dengan niat dan tanda tangan dianggap sah dalam akad. Tidak dapat diterima pernyataan seseorang yang mengatakan: “Saya tidak melafalkan atau tidak berniat,” karena hal itu dianggap sebagai bentuk main-main terhadap hak orang lain dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Oleh karena itu, transaksi yang dilakukan melalui telepon, radio, telegram, dan sejenisnya telah diterima dan digunakan secara luas dalam praktik jual beli saat ini. Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam kitabnya Fiqh az-Zakah juga mengutip pendapat dari al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah dan mazhab Syafi’i bahwa segala bentuk yang telah menjadi kebiasaan dalam transaksi dianggap sebagai shighah akad dan diperlakukan seperti ucapan akad. Hal ini sejalan dengan prinsip syariat yang menghindari mudarat, sebagaimana dalam hadis Rasulullah ﷺ:”Tidak boleh ada bahaya (yang ditimbulkan) dan tidak boleh membahayakan (orang lain).”
Hukum Akad melalui Tulisan dan Sarana Komunikasi Modern dalam Mazhab Syafi’i 1. Pandangan Mazhab Syafi’i tentang Akad melalui Tulisan
Hukum Wakalah (Perwakilan) dalam Akad melalui Tulisan penjelasannya sebagaimana berikut dalam Hasyiah Bujairamiy
حاشية البجيرمي على شرح الخطيب – (ج ٣ / ص ١٣٦
ويشترط أن يقبل نيابة فيصح التوكيل في كل عقد كبيع وهبة وكل فسخ كإقالة ورد بعيب وقبض وإقباض وخصومة من دعوى وجواب وتملك مباح كإحياء واصطياد واستيفاء عقوبة –الى أن قال- وشرط في الصيغة من موكل ولو بنائبه ما يشعر برضاه كوكلتك في كذا أو بع كذا كسائر العقود والأول إيجاب والثاني قائم مقامه أما الوكيل فلا يشترط قبوله لفظا أو نحوه إلحاقا للتوكيل بالإباحة أما قبوله معنى وهو عدم رد الوكالة فلا بد منه فلو رد فقال لا أقبل أو لا أفعل بطلت ولا يشترط في القبول هنا الفور ولا المجلس قوله : ( كوكلتك في كذا ) أو فوّضت إليك كذا ، سواء كان مشافهة له أو كتابة أو مراسلة . ولا يشترط العلم بها ، فلو وكله وهو لا يعلم صحت حتى لو تصرف قبل علمه صح كبيع مال أبيه يظنّ حياته ، اه م د على التحرير . قوله : ( الأوّل ) وهو وكلتك في كذا إيجاب ، والثاني وهو بع كذا . قوله : ( فلا يشترط قبوله لفظاً ) قضيته اشتراط الإيجاب . وليس مراداً ، فالأولى ويشترط اللفظ من أحد الطرفين والفعل من الآخر كما في العارية ، شوبري وق ل على التحرير . وعبارة المدابغي عليه : لكن لايشترط أي في وكالة بغير جعل القبول لفظاً ، بل الشرط أن لايرد ، فالشرط اللفظ من أحد الجانبين والفعل من الآخر ، وقد يشترط القبول لفظاً كما لو كان له عين مؤجرة أو معارة أو مغصوبة فوهبها لآخر وأذن له في قبضها فوكل الموهوب له من هي بيده من المستأجر أو المستعير أو الغاصب في قبضها له لا بد من قبوله لفظاً لتزول يده عنها به ، ولا يكتفي بالفعل وهو الإمساك لأنه استدامة لما سبق فلا دلالة فيه على الرضا بقبضه ؛ اه شرح م ر اه . قوله : ( أو نحوه ) من إشارة الأخرس والكتابة ، ويشترط القبول لفظاً فيما إذا كانت الوكالة بجعل إن كان الإيجاب بصيغة العقد لا الأمر كقوله : بع هذا ولك درهم ، فلا يشترط القبول وكان عمل الوكيل مضبوطاً لأنها إجارة اهـ س ل اهـ
Dalam Hasyiyatul Bajirami ‘ala Syarh al-Khatib (jilid 3, hal. 136) dijelaskan:
Diperbolehkan melakukan akad melalui wakil, baik dalam transaksi jual beli, hibah, atau pembatalan akad seperti iqalah (pembatalan jual beli) dan khiyar ‘aib (pembatalan karena cacat). Perwakilan juga berlaku dalam urusan hukum seperti pengaduan dan jawaban dalam persidangan, serta kepemilikan seperti perburuan dan eksploitasi sumber daya.
Dalam akad wakalah, disyaratkan adanya pernyataan dari pemberi kuasa yang menunjukkan kerelaannya, misalnya dengan mengatakan:”Saya mengangkatmu sebagai wakil dalam urusan ini.” “Jualkan barang ini untuk saya.”
Pernyataan tersebut bisa dilakukan secara langsung, melalui tulisan, atau melalui surat-menyurat. Tidak disyaratkan penerima kuasa (wakil) harus menyatakan penerimaan secara eksplisit, tetapi jika ia menolak secara terang-terangan, maka akad wakalah batal. Selain itu, penerimaan wakalah tidak harus dilakukan dalam satu majelis dan tidak harus segera dijawab. Jika pemberian kuasa dilakukan melalui tulisan atau isyarat bagi orang yang bisu, maka hal itu sah. Namun, jika akad wakalah terkait dengan transaksi yang melibatkan ganti rugi, seperti sewa atau pengalihan barang, maka dalam kondisi tertentu penerimaan wakil harus dilakukan secara eksplisit.
Akad Nikah melalui Tulisan dan Sarana Komunikasi Modern disebutkan dalam hasyiah Jamal berikut:
حاشية الجمل على المنهج لشيخ الإسلام زكريا الأنصاري – (ج ٤ / ص ١٥٩)
وليقل وكيل ولي لزوج زوجتك بنت فلان فيقبل و ليقل ولي لوكيل زوج زوجت بنتي فلانا فيقول وكيله قبلت نكاحها له فإن ترك لفظة له لم يصح النكاح وإن نوى موكله لأن الشهود لا اطلاع لهم على النية ومحل الاكتفاء بما ذكر في الأولى إذا علم الشهود والزوج الوكالة وفي الثانية إذا علمها الشهود والولي وإلا فيحتاج الوكيل إلى التصريح فيهما بها (قوله وليقل وكيل ولي) ولو كانا وكيلين قال وكيل الولي زوجت بنت فلان من فلان وقال وكيل الزوج ما ذكر اهـ شرح م ر قوله فيقول قبلت نكاحها له المراد به هنا الإنكاح وهو التزويج لأنه هو الذي يقبله الزوج لأن النكاح المركب من الإيجاب والقبول يستحيل قبوله كما تقدم عن شرح م ر قوله إذا علم الشهود أي ولو بإخبار الوكيل في هذه والتي بعدها انتهى شيخنا قوله إذا علم الشهود والزوج الوكالة أي ولو بإخبار الوكيل كما يعلم من كلامه وإنما لم يكتف بإخبار الرقيق أن سيده أذن له في التجارة لأنه متهم بإثبات الولاية لنفسه لا يقال هذا بعينه جار في التوكيل لأنا نقول الوكيل لم تثبت وكالته بقوله بل هي ثابتة بغير قوله بخلاف الرقيق اهـ ح ل ومثله في شرح م ر وكتب عليه الرشيدي قوله لأن الوكيل لم تثبت وكالته بقوله إلخ أي لأنه لم يقع منه إلا العقد المذكور ومضمونه ما ذكر ولم يقع منه أنه قال قبل ذلك أنا وكيل فلان كما قال الرقيق قد أذن لي سيدي قوله وإلا فيحتاج الوكيل إلخ أي لجواز المباشرة وإلا فيصح العقد مع الجهل بالوكالة ويحرم وقوله فيهما أي الصورتين اهـ س ل وعبارة حج تنبيه ظاهر كلامهم أن التصريح بالوكالة فيما ذكر شرط لصحة العقد وفيه نظر واضح لقولهم العبرة في العقود حتى في النكاح بما في نفس الأمر فالذي يتجه أنه شرط لحل التصرف لا غير ا هـ .
Dalam Hasyiyatul Jamal ‘ala al-Minhaj oleh Syaikh Zainuddin al-Malibari (jilid 4, hal. 159), dijelaskan:
Jika seorang wali atau wakil wali mengatakan: “Saya menikahkan putriku dengan Fulan,” maka wakil dari pihak suami harus menjawab: “Saya terima pernikahan ini untuknya.” Jika wakil dari pihak suami hanya berkata: “Saya terima pernikahan ini,” tanpa menyebutkan “untuknya,” maka akad tidak sah, meskipun ia meniatkan untuk majikannya (suami yang diwakilinya). Hal ini karena para saksi tidak dapat mengetahui niat tersebut.
Dalam kasus pernikahan yang dilakukan melalui wakil, disyaratkan agar para saksi dan pihak yang terlibat mengetahui bahwa akad dilakukan oleh seorang wakil.
Jika para saksi tidak mengetahui hal ini, maka wakil harus menyatakan secara eksplisit bahwa ia bertindak sebagai wakil dalam akad tersebut.Sebagian ulama berpendapat bahwa akad nikah melalui tulisan atau sarana komunikasi modern tidak sah, karena dalam akad nikah harus ada lafaz yang sharih (jelas) dan saksi harus dapat melihat kedua belah pihak yang berakad.
Oleh karena itu, akad nikah tidak dapat dilakukan melalui telepon atau surat-menyurat, karena dalam akad nikah niat saja tidak cukup tanpa adanya kejelasan dalam lafal akad.Kesimpulan Jual beli dan transaksi umum dapat dilakukan melalui tulisan, telepon, atau sarana komunikasi modern lainnya, karena akad dalam muamalah didasarkan pada makna, bukan bentuk lafal.
Akad wakalah (perwakilan) dapat dilakukan melalui tulisan atau surat-menyurat, selama terdapat pernyataan yang menunjukkan persetujuan. Akad nikah tidak sah jika dilakukan melalui tulisan, telepon, atau sarana komunikasi modern, karena dalam akad nikah disyaratkan adanya lafaz yang jelas dan saksi harus dapat melihat kedua pihak yang berakad.Wallahu a’lam.
JAWABAN :No.2
Hukum zakatnya Ust. Yongki dengan mentransferkan Uangnya Ke Ust.Umar untuk diberikan kefakir miskin yang berada dimadura Sumenep, maka dalam hal ini yang perlu dipertimbangkan dan dikaji adalah tentang Naql al-Zakat ( Hukum memindahkan zakat) maka ulama terdapat perbedaan pendapat sebagaimana berikut;
- Menurut pendapat yang adzhar tidak diperbolehkan memindahkan zakat dari Jawa Banyuangi ke Madura Sumenep ( Menurut mayoritas ulama madzhab Syafiiyah tidak memperbolehkan), pendapat ini berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرآئهم Artinya:” :” Zakat itu diambilkan dari orang-orang yang kaya kemudian dikembalikan ( diberikan ) kepada orang-orang fakir dari mereka
- Diperbolehkan (sah) menurut Ibnu sholah , Ibnu Farkah, dan Ibnu Ujail al-Yamani dari kalangan Ulama Syafiiyah
Referensi
حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء ٣ صحيفة :٢٠٤ مكتبة دار إحياء الكتب العربية
( وَالْأَظْهَرُ مَنْعُ نَقْلِ الزَّكَاةِ ) مِنْ بَلَدِ الْوُجُوبِ مَعَ وُجُودِ الْمُسْتَحِقِّينَ فِيهِ إلَى بَلَدٍ آخَرَ فِيهِ الْمُسْتَحِقُّونَ ، بِأَنْ تُصْرَفَ إلَيْهِمْ أَيْ يَحْرُمُ ، وَلَا يُجْزِئُ لِمَا فِي حَدِيثِ الشَّيْخَيْنِ { صَدَقَةٌ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ ، فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ } ، وَالثَّانِي : يَجُوزُ النَّقْلُ وَيُجْزِئُ لِلْإِطْلَاقِ فِي الْآيَةِ ، ( وَلَوْ عُدِمَ الْأَصْنَافُ فِي الْبَلَدِ وَوَجَبَ النَّقْلُ ) إلَى أَقْرَبِ الْبِلَادِ إلَيْهِ – إلى أن قال – قَوْلُهُ : ( وَالثَّانِي يَجُوزُ النَّقْلُ وَتُجْزِئُ ) وَاخْتَارَهُ جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ كَابْنِ الصَّلَاحِ وَابْنِ الْفِرْكَاحِ وَغَيْرِهِمْ ، قَالَ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ : وَيَجُوزُ لِلشَّخْصِ الْعَمَلُ بِهِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ ، وَكَذَا يَجُوزُ الْعَمَلُ فِي جَمِيعِ الْأَحْكَامِ بِقَوْلِ مَنْ يَثِقُ بِهِ مِنْ الْأَئِمَّةِ ، كَالْأَذْرَعِيِّ وَالسُّبْكِيِّ وَالْإِسْنَوِيِّ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .
Menurut qoul adzhar tidak boleh memindah zakat dari tempat diwajibkannya mengeluarkan zakat seraya wujudnya orang-orang yang berhak menerima zakat, dipindah ke daerah lain yang juga ada orang-orang yang berhak menerimanya. Semisal, zakat tersebut diberikan kepada mereka (mustahiq zakat yang berada didaerah lain), maka hukumnya diharamkan dan tidak mencukupi, karena berdasarkan hadits Bukhorî dan Muslim. “Shodaqoh (Zakat) itu diambilkan dari orang-orang yang kaya, kemudian zakat tersebut dikembalikan (diberikan) kepada orang-orang faqir dari golongan mereka”.
Sedangkan menurut pendapat yang kedua “Boleh memindah zakat dan sudah dianggap mencukupi karena berdasarkan kemutlakan firman Allah”. Dan apabila disebuah daerah tidak ditemukan ashnâf yang menerima zakat, maka zakat wajib pindah kedaerah yang paling terdekat.
Pendapat yang ke-dua ini telah dipilih oleh segolongan ulama’ dari ashâb imam Syafi’I, seperti Ibnu Sholah, Ibnu Al-Farkâh dan ulama’ yang lainnya. Syaikhunâ (Zakaria Al-Anshôrî) berkata dengan mengikuti terhadap pendapat guru kami imam Ar-Romlî, diperbolehkan bagi seseorang mengamalkan pendapat tersebut untuk dirinya sendiri, begitu pula mengamalkan semua hukum-hukum dengan berpijak terhadap pendapat ulama’ yang dapat dipercaya dari beberapa ulama’. Seperti imam Al-Adzrô’I, Al-Subukî dan imam Al-Isnâwî menurut qoul mu’tamad “.
حاشية إعانة الطالبين الجزء ٢ صحيفة : ٢١٢ مكتبة دار الفكر
(إِعْلَمْ) رَحِمَكَ اللهُ إِنَّ مَسْأَلَةَ نَقْلِ الزَّكَاةِ فِيْهَا اخْتِلاَفٌ كَثِيْرٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، وَالْمَشْهُوْرُ فِيْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ امْتِنَاعُ نَقْلِهَا إِذَا وُجِدَ الْمُسْتَحِقُّوْنَ لَهَا فِيْ بَلَدِهَا. وَمُقَابِلُ الْمَشْهُوْرُ جَوَازُ النَّقْلِ، وَهُوَ مَذْهَبَ الْاِمَامِ أَبِىْ حَنِيْفَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ وَكَثِيْرٌ مِنَ الْمُجْتَهِدِيْنَ، مِنْهُمُ اْلاِمَامُ الْبُخَارِيُّ – إِلَى أَنْ قَالَ – قَالَ شَارِحُهُ الْقَسْطَلاَنِىُّ: ظَاهِرُهُ أَنَّ الْمُؤَلِّفُ يَخْتَارُ جَوَازَ نَقْلِ الزَّكَاةِ مِنْ بَلَدِ الْمَالِ. وَهُوَ أَيْضًا مَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ وَالْاَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ عَدَمُ الْجَوَازِ: اِنْتَهَى.اهــ
Ketahuilah, Semoga Allah memberkatimu “Sesungguhnya masalah memindah zakat terdapat khilafiyah diantara ulama’. Menurut Pendapat yang masyhûr dalam madzhab syâfi’i adalah melarang memindah zakat pada daerah lain, apabila pada daerah tersebut ditemukan orang-orang yang berhak menerima zakat. Sedangkan menurut muqôbil masyhûr yang memperbolehkan memindah zakat, itu adalah madzhab imam Abu Hanifah ra, dan segolongan ulama’ dari para mujtahid, diantara mereka adalah imam Al-Bukhôrî.
Menurut pengarang syârih (Al-Qostholânî), menurut dzohirnya ibarat diatas, bahwa pengarang “Î’anah Al-tholibîn” memilih memperbolehkan memindah zakat dari daerah harta zakat, itu adalah juga pendapat madzhab Hanifiah. Sedangkan menurut pendapat yang ashoh madzhab Syâfi’î dan Malikiyyah tidak memperbolehkannya”.
بغية المسترشدين ١٠٥-
١٠٦ في باب الزكات مكتبة دار الفكر
اَلرَّاجِحُ فِى الْمَذْهَبِ عَدَمُ جَوَازِ نَقْلِ الزَّكاَتِ وَاخْتَارَ جَمْعُ الْجَوَازَ كَابْنِ عُجَيْلٍ وَابْنِ الصَّلاَحِ وَغَيْرِ هِمَا قَالَ أَبُو مَخْرَمَةَ وَهُوَ الْمُخْتاَرُ إِذاَ كاَنَ لِنَحْوِ قَرِيْبٍ وَاخْتَارَهُ الرَّوْياَنِى وَنَقَلَهُ الْخَطَّابِى عَنْ أَكْثَرِ الْعُلَماَءِ وَبِهِ قَالَ ابْنُ عَتِيْق فَيَجُوْزُ تَقْلِيْدُ هَؤُلاَءِ (مَسْأَلَةٌ ي ك) لاَيَجُوْزُ نَقْلُ الزَّكاَتِ وَالْفِطْرَةِ عَلىَ اْلأَظْهَرِ مِنْ أَقْوَالِ الشَّافِعِى نَعَمْ أُسْتُثْنِيَ فِى التُّحْفَةِ وَالنِّهَاَيَةِ مَا يَقْرُبُ مِنَ الْمَوْضِعِ وَيُعَدُّ مَعَهُ وَاحِدًا وَإِنْ خَرَجَ عَنِ السُّوْرِ. زَادَ ك وح. قَالَ فَالْمَوْضِعُ الَّذِى حَالَ الْحَوْلِ وَالْمَالُ فِيْهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ زَكاَتِهِ هَذَا إِنْ كَانَ قَارًّا بِبَلَدٍ وَإِنْ كَانَ سَائِرًا وَلَمْ يَكُنْ نَحْوُ الْمَالِكِ مَعَهُ جَازَ تَأْخِيْرُهَا حَتَّى يَصِلَ إِلَيْهِ وَالْمَوْضِعُ الَّذِى غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَالشَّخْصُ بِهِ هُوَ مَحَلُّ إِخْرَاجِ فِطْرِهِ. اهــ
Pendapat madzhab (syafi’i) yang paling unggul tidak memperbolehkan pemindahan zakat ke (daerah lain). Sekelompok ulama memilih di perbolehkan pemindahan zakat, seperti pendapat Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah. Yang lebih baik menurut Ibnu Makhromah adalah (kebolehan memindah zakat) untuk daerah yang dekat. Pendapat ini juga di anut oleh Imam Al-Rauyani, Al-khathabi, Ibnu ‘Atiq dan sebagian besar ulama, maka boleh mengikuti mereka itu.
Menurut salah satu pendapat Imam Syafi’i yang lebih shahih, tidak diperkenankan memindahkan zakat (maal) dan (fitrah). Dalam karya Tuhfah dan Nihayah terdapat pengecualian untuk tempat yang berdekatan dan masih dianggap satu walaupun berada di luar perbatasan.
Daerah tempat perputaran harta merupakan tempat pengeluaran zakatnya. Hal ini jika menempati di suatu tempat, sedangkan kalau bepergian, maka boleh mengakhirkan zakat sehingga sampai ke tempat yang dituju. Dan daerah tempat terbenamnya matahari dan orang yang berada di sana merupakan tempat pengeluaran zakat fitrahnya “. Wallohu a’lam.