logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

Hukum Merebus Telur dengan Air Kencing

 

Deskripsi:

Di sebagian masyarakat, terdapat praktik merebus telur dengan air kencing untuk tujuan tertentu, baik karena kepercayaan tradisional maupun alasan lainnya, begitu juga dengan halnya biji-bijian yang berkulit . Dalam Islam, air kencing termasuk dalam kategori najis menurut kesepakatan ulama. Oleh karena itu, penggunaan benda najis dalam proses pengolahan makanan menjadi persoalan yang perlu dikaji dalam perspektif syariat Islam.

Salah satu kasus yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang katakanlah si Fulan merebus telur dengan menggunakan air kencing. Dalam Hal ini menimbulkan suatu pertanyaan sebagaimana berikut:

Bagaimana status telur dan biji-bijian yang direbus dengan air kencing dalam tinjauan syariat Islam ?

Jawaban:

Hukum merebus telur dengan air kencing atau memasak makanan yang terkena najis memiliki beberapa rincian sebagai berikut:

A. Jika Telur ataupun biji-bijian Masih Utuh dan Tidak Pecah

Najis Hanya pada Kulit Telur dan biji-bijian

Jika telur ataupun biji-bijian direbus dengan air kencing tetapi masih dalam keadaan utuh, maka bagian dalam telur maupun biji-bijian tetap suci. Namun, kulit telur ataupun yang terkena najis dihukumi sebagai mutanajjis (terkena najis). Oleh karena itu, sebelum dikonsumsi, telur dan biji-bijian harus dibersihkan terlebih dahulu agar kembali suci, kecuali terserap sampai kedalam maka najis

Dalil:

Dalam kitab Al-Iqna’ dan Hasyiah al-Bujairimi disebutkan:

وَلَوْ سُقِيَتْ سِكِّينٌ أَوْ طُبِخَ لَحْمٌ بِمَاءٍ نَجِسٍ كَفَى غَسْلُهُمَا

“Jika sebuah pisau terkena najis atau daging dimasak dengan air najis, maka cukup dengan mencucinya.” (Al-Iqna’ wa Hasyiyah al-Bujairimi, Juz 1, Hal. 112)

Dalam Bughyah al-Mustarsyidin juga disebutkan:

وَإِنْ بَقِيَ طَعْمُ الْبَوْلِ بِبَاطِنِهِ إِذْ تَشَرَّبَ مَا ذُكِرَ كَتَشَرُّبِ الْمَسَامِ، كَمَا فِي التُّحْفَةِ

“Jika rasa air kencing masih terserap dalam makanan, maka makanan tersebut tetap dihukumi najis.” (Bughyah al-Mustarsyidin, Juz 1, Hal. 34)

Dalam Al-Bujairimi ‘ala al-Minhaj disebutkan:

(فرع)

لو ابتل حب بماء نجس أو بول صار رطبا وغسل بماء طاهر حال الرطوبة طهر ظاهرا وباطنا

“Jika biji-bijian terkena air najis atau air kencing hingga menjadi basah, lalu dicuci dengan air suci dalam keadaan basah, maka ia menjadi suci baik bagian luar maupun dalamnya.” (Al-Bujairimi ‘ala al-Minhaj, Juz 1, Hal. 100)

B. Jika Telur Pecah dan Bercampur dengan Air Kencing

Apabila telur pecah saat direbus dan isinya bercampur dengan air kencing, maka telur tersebut dihukumi najis secara keseluruhan dan tidak dapat disucikan.

Dalil dari Bughyah al-Mustarsyidin:

وَإِنْ بَقِيَ طَعْمُ الْبَوْلِ بِبَاطِنِهِ إِذْ تَشَرَّبَ مَا ذُكِرَ كَتَشَرُّبِ الْمَسَامِ

“Jika rasa air kencing masih terserap ke dalam makanan, maka makanan tersebut tetap dihukumi najis.”

Kesimpulan:

Jika telur masih utuh dan hanya terkena air kencing pada kulitnya, maka cukup dicuci agar kembali suci dan dapat dikonsumsi. Jika telur pecah dan bercampur dengan air kencing, maka telur tersebut dihukumi najis dan tidak bisa disucikan. Hukum ini juga berlaku untuk biji-bijian dan makanan lain yang memiliki kulit keras, di mana najis hanya memengaruhi bagian luar dan bisa disucikan dengan cara mencuci.

Referensi:

Fathul Mu’in dan I’anah at-Thalibin, Juz 1, Hal. 104 Al-Iqna’ wa Hasyiyah al-Bujairimi, Juz 1, Hal. 112 Al-Bujairimi ‘ala al-Minhaj, Juz 1, Hal. 100 Bughyah al-Mustarsyidin, Juz 1, Hal. 34

Demikian penjelasan mengenai hukum merebus telur dengan air kencing menurut perspektif fiqih .Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

Hukum dan Tatacara Memandikan Mayit

 

Deskripsi Masalah:

Memandikan jenazah merupakan salah satu kewajiban kolektif (fardu kifayah) bagi umat Islam yang masih hidup. Tata cara pelaksanaannya telah diatur dalam syariat dengan ketentuan-ketentuan tertentu, termasuk meratakan air ke seluruh tubuh mayit serta membersihkan kotoran yang terdapat pada tubuhnya, seperti di hidung, telinga, dan bagian lainnya.
Dalam praktiknya, sebagian orang yang memandikan mayit mengangkat kepala dan dada mayit sedikit serta mengurut perutnya secara pelan untuk memastikan tidak ada kotoran yang keluar setelah jenazah disucikan.

Pertanyaan:

Apakah tindakan mengangkat kepala dan mengurut perut mayit saat memandikan memiliki dasar keterangan dalam syariat Islam? Kalau ada  bagaimana tatacara memandikan mayit?

Waalaikum salam.

Jawaban.

Tindakan mengangkat kepala dan mengurut perut mayit saat memandikan memang memiliki dasar dalam syariat Islam, yang diambil dari keterangan dalam beberapa kitab fiqih. Sebagai contoh, dalam Kitab al-Majmu’ (Juz 5, halaman 168), disebutkan:

“وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يُجْلِسَهُ إِجْلَاسًا رَفِيقًا وَيَمْسَحَ بَطْنَهُ مَسْحًا بَلِيغًا لِمَا رَوَى الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَغَسَلَهُ ابْنُ عُمَرَ فَنَفَضَهُ نَفْضًا شَدِيدًا وَعَصَرَهُ عَصْرًا شَدِيدًا ثُمَّ غَسَلَهُ.”

(Kitab al-Majmu’, Juz 5, halaman 168)

Artinya: “Dan disunnahkan untuk mendudukkannya (mayit) dengan cara yang lembut dan mengusap perutnya dengan usapan yang kuat, berdasarkan riwayat dari Qasim bin Muhammad yang berkata: Abdullah bin Abdurrahman meninggal dunia, lalu Abdullah bin Umar memandikannya, ia menggerakkannya dengan keras dan memerasnya dengan keras, kemudian membasuhnya kembali.”

Penjelasan:

“يُجْلِسَهُ إِجْلَاسًا رَفِيقًا”

(mendudukkannya dengan cara yang lembut):
Maksudnya adalah memindahkan jenazah ke posisi duduk dengan perlakuan yang hati-hati dan tidak kasar, agar tidak merusak tubuh jenazah.

“يَمْسَحَ بَطْنَهُ مَسْحًا بَلِيغًا”

(mengusap perutnya dengan usapan yang kuat):
Tujuan dari tindakan ini adalah untuk membantu mengeluarkan kotoran yang mungkin ada di dalam tubuh jenazah, seperti sisa-sisa makanan atau zat lainnya.

“نَفَضَهُ نَفْضًا شَدِيدًا”

(menggerakkannya dengan keras):
Hal ini dilakukan dengan hati-hati untuk menggerakkan tubuh jenazah agar dapat mengeluarkan kotoran yang ada pada tubuhnya.

Kategori
Uncategorized

Puasa Ramadan bagi Sopir Taksi yang selalu dalam Perjalanan

 

Deskripsi Masalah

Allah menciptakan manusia dengan beragam bentuk, warna, dan profesi yang berbeda-beda. Ada yang ditakdirkan menjadi guru, pedagang, sopir, dan berbagai profesi lainnya. Setiap manusia mampu menjalankan pekerjaannya sesuai dengan profesinya masing-masing.
Sebagaimana kita ketahui, seorang sopir taksi terkadang harus bepergian tanpa henti untuk mengantar penumpang ke berbagai tujuan, seperti dari Sumenep ke Jakarta, Bali, Banyuwangi, Banten, dan daerah lainnya.

Pertanyaan:

Bolehkah Orang yang jadi sopir angkot yang perjalanannya melebihi dua marhalah untuk tidak puasa di bulan Ramadhan?

Waalaikum salam

Jawaban:

Orang yang selalu dalam perjalanan seperti sopir angkot atau bus antar kota, memenuhi syarat sebagai musafir, begitu juga orang yang bukan sopir yang dalam kondisi pejalanan ( musafir). Dalam kondisi ini, mereka mendapat keringanan untuk tidak berpuasa berdasarkan pendapat yang kuat.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua ulama memperbolehkan hal ini. Oleh karena itu, sebaiknya supir angkot ataupun bukan sopir namun masuk dalam kategori musafir hendaknya harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan untuk tidak berpuasa:
✔️Jarak tempuh: Pastikan perjalanan benar-benar melebihi dua marhalah (sekitar 88 km).
✔️ Kondisi fisik: Jika kuat dan mampu, berpuasa tetap lebih utama.
✔️ Niat: Niatkan untuk mengganti puasa yang ditinggalkan di hari lain

Kesimpulan:

Sopir angkot yang memenuhi syarat sebagai musafir boleh tidak berpuasa,begitu juga halnya musafir yang bukan sopir, namun tetap disarankan untuk mempertimbangkan kondisi fisik dan mengganti puasa di lain hari.

Referensi

حواشي الشرواني والعبادي (٣/ ٤٣٠)

و يباح تركه لنحو حصاد أو بناء لنفسه أو لغيره تبرعا أو بأجرة وإن لم ينحصر الأمر فيه أخذا مما يأتي في المرضعة خاف على المال إن صام وتعذر العمل ليلا أو لم يغنه فيؤدي لتلفه أو نقصه نقصا لا يتغابن به هذا هو الظاهر من كلامهم وسيأتي في إنقاذ المحترم ما يؤيده خلافا لمن أطلق في نحو الحصاد المنع ولمن أطلق الجواز ولو توقف كسبه لنحو قوته المضطر إليه هو أو ممونه على فطره فظاهر أن له الفطر لكن بقدر الضرورة و للمسافر سفرا طويلا مباحا للكتاب والسنة والإجماع ويأتي هنا جميع ما مر في القصر فحيث جاز جاز الفطر وحيث لا فلا نعم سيعلم من كلامه أن شرط الفطر في أول أيام سفره أن يفارق ما تشترط مجاوزته للقصر قبل طلوع الفجر وإلا لم يفطر ذلك اليوم ومر أنه إن تضرر بالصوم فالفطر أفضل وإلا فالصوم أفضل ولا يباح الفطر حيث لم يخش مبيح تيمم لمن قصد بسفره محض الترخص كمن سلك الطريق الأبعد للقصر ولا ينافيه قولهم لو حلف ليطأن في نهار رمضان فطريقه أن يسافر؛ لأن السفر هنا ليس لمجرد الترخص بل للتخلص من الحنث ولا لمن صام قضاء لزمه الفور فيه قال السبكي بحثا ولا لمن لا يرجو زمنا يقضي فيه لإدامته السفر أبدا وفيه نظر ظاهر فالأوجه خلافه

الشرح:
قوله ولا لمن لا يرجو زمنا يقضي فيه ينبغي أن يكون في معنى الزمن المذكور أن يفطر رمضان بقصد القضاء بعد في السفر فيجوز م راه سم.

قوله وفيه نظر ظاهر تقدم عن ع ش بيانه (قوله فالأوجه خلافه وفاقا للمغني عبارته ولا فرق في ذلك بين من يديم السفر أو لا خلافا لبعض المتأخرين اهـ.

Hasyiyah Asy-Syirwani dan Al-‘Abbadi (3/430)
Dan diperbolehkan tidak berpuasa bagi orang yang bekerja seperti memanen atau membangun untuk dirinya sendiri atau orang lain, baik secara sukarela atau dengan upah, meskipun pekerjaan tersebut tidak terbatas pada hal itu. Hal ini diambil dari penjelasan tentang wanita menyusui yang khawatir terhadap harta jika berpuasa dan tidak dapat bekerja di malam hari atau tidak mencukupi kebutuhannya, yang dapat menyebabkan kerusakan atau kekurangan yang tidak dapat diabaikan. Ini adalah pendapat yang paling jelas dari perkataan mereka dan akan datang pada pembahasan menyelamatkan orang yang dihormati yang mendukung pendapat ini, berbeda dengan orang yang berpendapat mutlak melarang dalam hal memanen dan orang yang berpendapat mutlak memperbolehkan.
Jika pencaharian seseorang untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya atau orang yang menjadi tanggungannya bergantung pada tidak berpuasa, maka jelas bahwa ia boleh tidak berpuasa, tetapi sesuai dengan kadar kebutuhannya. Dan bagi musafir yang melakukan perjalanan jauh yang diperbolehkan, berdasarkan Al-Kitab, As-Sunnah, dan Ijma’. Dan akan datang di sini semua yang telah disebutkan dalam pembahasan qashar (meringkas shalat), maka di mana diperbolehkan qashar, diperbolehkan juga tidak berpuasa, dan di mana tidak diperbolehkan qashar, maka tidak diperbolehkan juga tidak berpuasa.
Ya, akan diketahui dari perkataannya bahwa syarat tidak berpuasa di hari pertama safarnya adalah ia harus meninggalkan tempat yang disyaratkan untuk melewatinya agar diperbolehkan qashar sebelum terbit fajar, jika tidak, maka ia tidak boleh tidak berpuasa pada hari itu. Dan telah disebutkan bahwa jika ia membahayakan dirinya dengan berpuasa, maka tidak berpuasa adalah lebih utama, jika tidak, maka berpuasa adalah lebih utama. Dan tidak diperbolehkan tidak berpuasa jika tidak dikhawatirkan adanya hal yang membolehkan tayamum bagi orang yang melakukan perjalanan dengan tujuan hanya untuk mencari keringanan, seperti orang yang menempuh jalan yang lebih jauh untuk qashar.
Dan tidak bertentangan dengan pendapat mereka bahwa jika seseorang bersumpah untuk berhubungan intim di siang hari Ramadhan, maka caranya adalah dengan melakukan perjalanan; karena perjalanan di sini bukan hanya untuk mencari keringanan, tetapi untuk menghindari pelanggaran sumpah. Dan juga tidak diperbolehkan bagi orang yang berpuasa qadha’ yang wajib baginya untuk segera melakukannya, kata As-Subki dalam penelitiannya. Dan juga tidak diperbolehkan bagi orang yang tidak berharap mendapatkan waktu untuk mengqadha’nya karena terus-menerus dalam perjalanan selamanya, dan dalam hal ini ada pandangan yang jelas berbeda, maka pendapat yang lebih kuat adalah kebalikannya.
Penjelasan
Perkataannya, “Dan tidak bagi orang yang tidak berharap mendapatkan waktu untuk mengqadha’nya,” hendaknya maknanya adalah bahwa ia berbuka Ramadhan dengan niat untuk mengqadha’nya setelah perjalanan, maka ini diperbolehkan.
Perkataannya, “Dan dalam hal ini ada pandangan yang jelas berbeda,” telah disebutkan penjelasannya oleh ‘A. Sy. (Perkataannya, “Maka pendapat yang lebih kuat adalah kebalikannya,” sesuai dengan pendapat Al-Mughni, yaitu tidak ada perbedaan dalam hal ini antara orang yang terus-menerus dalam perjalanan atau tidak, berbeda dengan sebagian ulama muta’akhirin).

Referensi :

حاشية قليوبي وعميرة (۲) (۸۲) و يباح تركه للمسافر سفرا طويلا ( مباحا فإن تضرر به فالفطر أفضل وإلا فالصوم أفضل كما تقدم في باب صلاة المسافر
الشرح
قوله: ( وللمسافر ) قال شيخنا الزيادي والرملي وإن أدام السفر وغلب على ظنه الموت قبل القضاء وسواء رمضان والكفارة والمنذور ولو معينا في نذر صوم ولو للدهر، أو نذر إتمامه بعد شروعه فيه أو القضاء ولو لما تعدى بفطره أو ضاق وقته، وخالف السبكي في مديم السفر وفي النذر المعين. وفي شرح شيخنا موافقته والمنقول عنه الأول وابن حجر في المضيق والمتعدي بفطره والطبلاوي في نذر صوم الدهر والعباب فيمن غلب

Hasyiyah Qalyubi dan ‘Umairah (2) (82)
Dan diperbolehkan tidak berpuasa bagi musafir yang melakukan perjalanan jauh yang diperbolehkan. Jika ia membahayakan dirinya dengan berpuasa, maka tidak berpuasa adalah lebih utama. Jika tidak, maka berpuasa adalah lebih utama, seperti yang telah dijelaskan dalam bab shalat musafir.
Penjelasan
Perkataannya, “(Dan bagi musafir),” guru kami Az-Zayadi dan Ar-Ramli berkata, “Meskipun ia terus-menerus dalam perjalanan dan ia sangat yakin akan kematian sebelum mengqadha’ (puasa yang tertinggal), baik itu (puasa) Ramadhan, kafarat, atau nadzar, meskipun nadzar tersebut ditentukan dalam nadzar puasa atau untuk sepanjang tahun, atau nadzar untuk menyempurnakannya setelah memulainya atau (nadzar) qadha’ meskipun ia melampaui batas dengan tidak berbuka atau waktunya sempit, dan As-Subki berbeda pendapat tentang orang yang terus-menerus dalam perjalanan dan dalam nadzar yang ditentukan. Dalam penjelasan guru kami, disebutkan persetujuannya dengan pendapat pertama dan yang diriwayatkan darinya adalah pendapat pertama. Ibnu Hajar (berpendapat) dalam (masalah) orang yang berada dalam kesulitan dan orang yang melampaui batas dengan tidak berbuka, dan Ath-Thablawi (berpendapat) dalam nadzar puasa sepanjang tahun, dan Al-‘Ubab (berpendapat) dalam masalah orang yang sangat yakin.”

كاشفا ة السجا صحـ :

وَالصَّوْمُ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ إِنْ لَمْ يَشُقَّ عَلَيْهِ ِلأَنَّ فِيْهِ بَرَاءَة َلذِّمَّةِ فَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ بِأَنْ لَحِقَهُ مِنْهُ نَحْوُ أَلَمٍ يَشُقُّ احْتِمَالُهُ عَادَةً فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ أَمَّا إذَا خَشِيَ مِنْهُ تَلَفَ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ فَيَجِبُ الْفِطْرُ فَإِنْ صَامَ عَصَى وَأَجْزَأَهُ وَمَحَلُّ جَوَازِ الْفِطْرِ لِلْمُسَافِرِ إِذَا رَجَا إِقَامَةً يَقْضِيْ فِيْهَا وَإِلاَّ بِأَنْ كَانَ مُدِيْمًا لَهُ وَلَمْ يُرْجَ ذَلِكَ فَلاَ يَجُوْزُ لَهُ الْفِطْرُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ِلأَدَائِهِ إِلَى إِسْقاَطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلِّيَّةِ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ بِالْجَوَازِ فَائِدَتُهُ فِيْمَا إِذَا أَفْطَرَ فِيْ أَيَّامِ الطَّوِيْلَةِ أَنْ يَّقْضِيَهُ فِيْ أَيَّامٍ أَقْصَرُ مِنْهَا إِنْتَهَى مِنَ الشَّرْقَاوِي وَالزِّيَادِي اهـ

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء ٢ صحـ : ٨٨ مكتبة دار إحياء الكتب العربية

كَذَا قَالَهُ شَيْخُنَا وَنَقَلَ الْعَلاَمَةُ ابْنُ قَاسِمٍ عَنْ شَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ أَنَّهُ يَكْفِي تَمَكُّنُهُ فِي الْعَامِ اْلأَوَّلِ وَبِهَذَا عُلِمَ أَنَّهُ لاَ فِدْيَةَ عَلَى نَحْوِ الْهَرَمِ بِتَأْخِيرِ الْفِدْيَةِ لِعَدَمِ الْقَضَاءِ فِيهِ وَلاَ عَلَى مُدِيمِ السَّفَرِ لاِسْتِمْرَارِ عُذْرِهِ كَمَا مَرَّ اهـ

إعانة الطالبين الجزء الثانى صحـ : ٢٦٧ مكتبة دار الفكر
وَيسْتَثْنَى مِنْ جَوَازِ الْفِطْرِ بِالسَّفَرِ مُدِيْمُ السَّفَرِ فَلاَ يُبَاحُ لَهُ الْفِطْرُ ِلأَنَّهُ يُؤَدِّيْ إِلَى إِسْقَاطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلَّيَّةِ إِلاَّ أَنْ يَقْصِدَ قَضَاءً فِيْ أَيَّامٍ أَخَرَ فِيْ سَفَرِهِ وَمِثْلُهُ مَنْ عَلِمَ مَوْتَهُ عَقِبَ الْعِيْدِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ الصَّوْمُ إِنْ كَانَ قَادِرًا فَجَوَازُ الْفِطْرِ لِلْمُسَافِرِ إِنَّمَا هُوَ فِيْمَنْ يَرْجُوْ إِقَامَةً يَقْضِيْ فِيْهَا وَهَذَا هُوَ مَا جَرَى عَلَيْهِ السُّبُكِيُّ وَاسْتَظْهَرَهُ فِي النِّهَايَةِ اهـ

الشرقاوي ١/٢٥٩
.و محل جواز الفطر للمسافر إذا رجا إقامة يقضي فيها و إلا بأن كان مديما له ولم يرج ذلك فلا يجوز له الفطر على المعتمد لأدائه إلى إسقاط الوجوب بالكلية وقال ابن حجر بالجواز و فائدته فيما إذا أفطر في الأيام الطويلة أن يقضيه في أيام
أقصر منها.

إعانة الطالبين ٢/٢٦٧
و يستثنى من جواز الفطر بالسفر مديم السفر فلا يباح له الفطر لأنه يؤدي إلى إسقاط الوجوب بالكلية إلا أن يقصد قضاء في أيام أخر في سفره.

Referensi Kasyifatussaja:

Puasa bagi Musafir Lebih Utama jika Tidak Memberatkan
Puasa bagi musafir lebih utama daripada berbuka jika tidak memberatkannya, karena dalam berpuasa terdapat pembebasan tanggungan. Namun, jika berpuasa memberatkannya, seperti menyebabkan rasa sakit yang sulit ditanggung secara umum, maka berbuka lebih utama. Jika puasa dikhawatirkan menyebabkan hilangnya fungsi anggota tubuh, maka berbuka menjadi wajib. Jika tetap berpuasa dalam kondisi ini, maka ia berdosa, tetapi puasanya tetap sah.
Ketentuan Bagi Musafir yang Berpuasa atau Berbuka
Diperbolehkannya berbuka bagi musafir berlaku jika ia mengharapkan adanya masa tinggal di mana ia bisa mengqadha puasanya. Jika tidak, seperti musafir yang terus-menerus dalam perjalanan tanpa ada harapan menetap, maka tidak diperbolehkan baginya berbuka menurut pendapat yang lebih kuat, karena hal itu akan menyebabkan gugurnya kewajiban puasa secara keseluruhan.
Ibn Hajar mengatakan bahwa kebolehan berbuka bagi musafir memiliki manfaat, yaitu jika ia berbuka pada hari-hari yang panjang, maka ia bisa mengqadha pada hari-hari yang lebih pendek. (Dikutip dari Al-Syarqawi dan Al-Ziyadi).
Hukuman Bagi Orang yang Tidak Bisa Mengqadha Puasa
Demikian juga, pendapat ini dikemukakan oleh guru kami dan dinukil oleh Al-‘Allamah Ibn Qasim dari guru kami, Al-Ramli, bahwa seseorang yang mampu mengqadha di tahun pertama sudah dianggap cukup (tidak perlu membayar fidyah). Oleh karena itu, orang yang sudah sangat tua (yang tidak bisa berpuasa) tidak wajib membayar fidyah akibat menunda pembayaran fidyahnya, karena ia memang tidak bisa mengqadha. Demikian pula, musafir yang terus-menerus dalam perjalanan tidak diwajibkan membayar fidyah karena uzurnya yang terus berlanjut.
Larangan Berbuka bagi Musafir yang Terus-Menerus Bepergian
Dikecualikan dari kebolehan berbuka karena safar adalah orang yang terus-menerus dalam perjalanan (mudîm al-safar), maka ia tidak diperbolehkan berbuka, karena hal itu akan menyebabkan gugurnya kewajiban puasa secara keseluruhan. Kecuali jika ia memang berniat untuk mengqadhanya di hari lain selama dalam safarnya.
Hal yang sama berlaku bagi seseorang yang mengetahui bahwa ia akan meninggal setelah Idulfitri, maka ia wajib berpuasa jika mampu. Oleh karena itu, kebolehan berbuka bagi musafir hanya berlaku bagi mereka yang mengharapkan adanya masa tinggal di mana ia bisa mengqadha puasanya. Pendapat ini dipegang oleh Al-Subki dan ditegaskan dalam kitab Al-Nihayah. Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGGAMBAR ILUSTRASI ANIME DIGITAL DAN STATUS PENGHASILANNYA DALAM ISLAM

Hukum Menggambar Ilustrasi Anime digital dan Status Penghasilannya dalam Islam

Assalamualaikum, Mas.

Deskripsi masalah

Salah satu teman saya bekerja sebagai digital illustrator. Gambar yang dibuatnya berupa ilustrasi bergaya anime. Teman saya sebenarnya bertugas di bagian finishing, seperti pewarnaan dan penyempurnaan gambar lainnya.

Dalam ilustrasi tersebut, ada karakter wanita, tetapi aurat yang terlihat hanya bagian rambut saja, sedangkan bagian tubuh lainnya tertutup dengan pakaian yang sopan.

Pertanyaannya:
a).Bagaimana hukum membuat gambar seperti itu?

b). Dan bagaimana status penghasilannya sebagai digital illustrator?

Terima kasih banyak, Mas. 🙏

Waalaikum salam

Jawaban. sub A

Hukum menggambar Ilustrasi Digital Anime

Dalam Islam, hukum menggambar makhluk hidup, termasuk ilustrasi digital bergaya anime, memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama:

1. Pendapat yang Mengharamkan Secara Mutlak:

Sebagian ulama berpendapat bahwa menggambar makhluk bernyawa secara utuh adalah haram, berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِندَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya di hari kiamat adalah para pembuat gambar.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Pendapat yang Membolehkan dengan Syarat:

Pendapat lainnya membolehkan menggambar makhluk bernyawa dengan bentuk yang tidak sempurna jika:

Tidak dimaksudkan untuk disembah atau diagungkan.

Tidak menggambarkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat, seperti aurat yang terbuka, pose sensual, atau hal yang mendorong maksiat.
Digunakan untuk tujuan positif, seperti pendidikan, hiburan yang bermanfaat, atau media dakwah.

Hukum Ilustrasi Digital Temanmu

Jika karakter yang digambar oleh temanmu utuh seluruh badan baik gambar berbentuk manusia walalupun yang ditampilkan hanya rambut sedangkan tubuhnya yang lain ditutup dengan rapi dan sopan maka tetap haram apalagi mengandung syahwat . Akan tetapi jika gambar  hanya bagian tubuh yang tidak sempurna dan hanya menampilkan bagian rambutnya atau lainnya serta tidak dimaksudkan untuk tujuan yang diharamkan, maka hukumnya cenderung diperbolehkan ( tidak diharmakan/halal).

Jawaban.Sub .b

Status Penghasilan sebagai Digital Illustrator

Selama pekerjaan tersebut dilakukan dalam koridor syariat, tidak melibatkan hal yang diharamkan, dan penghasilannya berasal dari pekerjaan yang halal, maka pendapat yang kuat menyatakan bahwa penghasilan tersebut halal.Akan tetapi sebaliknya. Jika pekerjaan tersebut melanggar hukum syariat seperti gambar yang utuh maka hasil pekerjaan juga haram. Alasannya gambar yang diharamkan sebagai wasilah untuk mendapatkan penghasilan
Jadi penghasilan mengikuti hukum asal gambar. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah kaidah.

الوسائل حكم المقاصد

Namun, akan lebih baik jika pekerjaan tersebut dijadikan sarana untuk menyebarkan nilai-nilai positif dan tidak mendekati hal yang meragukan (syubhat).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi

الحلال والحرام فى الإسلام للشيخ الدكتور يوسف القرضاوى ص:١٢٦-١٤١

صور الجوارح والحيوان والأشجار (أي الصور المجسمة):
ذلك هو موقف الإسلام من الصور المجسمة التي نطلق عليها عرفًا (التماثيل).
ولكن ما الحكم في الصور واللوحات الفنية، التي ترسم على المسطحات، كـ الورق والثياب، والستور والجدران، والبسط والنقود ونحوها؟
والجواب: إن حكمها لا يتبين إلا إذا نظرنا في الصورة نفسها، لأي شيء هي؟ وفي وضعها، أين توضع؟ وكيف تستعمل؟ وفي قصد مصورها، ماذا قصد من تصويرها؟
فإن كانت الصورة الفنية لما يُعبد من دون الله – كالمسيح عند النصارى، والبقرة عند الهندوس – وما شابه ذلك، فإن من صورها لهذا الغرض وبهذا القصد لا يكون إلا كافرًا، ناشرًا للكفر والضلال.
وفي مثله جاء الوعيد الشديد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن أشد الناس عذابًا يوم القيامة المصورون (١).
قال الطبري: إن المراد هنا من يصور ما يُعبد من دون الله، وهو عارف بذلك، قاصد له؛ فإنه يكفر بذلك، وأما من لا يقصد ذلك، فإنه يكون عاصيًا بتصويره فقط (٢).
” ومثل ذلك من صور ما لا يعبد، قاصدا بتصويره مضاهاة خلق الله، أي مدعيا أنه يخلق ويبدع كما يخلق الله جل وعلا، فهو بهذا القصد يخرج من دين التوحيد، وفي مثل هذا جاء الحديث: إن أشد الناس عذابا الذين يضاهون بخلق الله (٣). وهذا أمر يتعلق بنية المصور وحده.
ولعل مما يؤيد هذا: الحديث عن الله تعالى: ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي، فليخلقوا حبة أو ذرة (٤). فالتعبير بقوله: ذهب يخلق كخلقي يدل على القصد إلى المضاهاة، ومنازعة الألوهية خصائصها من الخلق والإبداع، وتحدي الله تعالى لهم أن يخلقوا حبة أو ذرة – أي غلة – يشير إلى أنهم في فعلهم قصدوا هذا المعنى.
ولهذا يجزيهم على رؤوس الأشهاد يوم القيامة حين يقال لهم: أحيوا ما خلقتم. وتكليف المصور منهم أن ينفخ الروح في صورته، وليس بنافخ فيها أبدا.
ومما يحرم تصويره واقتناؤه: الصور التي يُقدس أصحابها تقديسا دينيا، أو يعظمون تعظيما دنيويا، فالأولى كصور الأنبياء والملائكة والصالحين، مثل إبراهيم وإسحاق، وموسى ومريم وجبريل وغيرهم، وهذه تروج عند النصارى، وقد قلدهم بعض المبتدعة من المسلمين، فصوروا عليا وفاطمة وغيرهما.
والثانية كصور الملوك والزعماء والفنانين في عصرنا، وهذه أقل إثماً من تلك، ولكن يتأكد الإثم فيها إذا كان أصحابها من الكفرة أو الظلمة أو الفساق، كالحكام الذين يحكمون بغير ما أنزل الله، والزعماء الذين يدعون إلى غير رسالة الله، والفنانين الذين يمجدون الباطل، ويشيعون الفاحشة والميوعة في الأمة.
ويبدو أن كثيراً من الصور في عصر النبوة وما بعده كانت من النوع الذي يُقدَّس ويُعظَّم، إذ كانت في الغالب من صنع الروم والفرس -أي النصارى والمجوس- فلم تكن تخلو من تأثير عقيدتهم وتقديسهم لرؤساء دينهم أو دولتهم.
وقد روى مسلم عن أبي الضحى قال: كنت مع مسروق في بيت فيه تماثيل، فقال لي مسروق: هذه تماثيل كسرى؟ فقلت: لا، هذه تماثيل مريم. وكان مسروقاً ظن أن التصوير من مجوسي، وكانوا يصورون صور ملوكهم حتى في الأواني، فظهر أن التصوير كان من نصراني.
وفي هذه القصة قال مسروق: سمعت عبد الله -يعني ابن مسعود- يقول: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: إن أشد الناس عذاباً عند الله المصورون. ٥
وأما ما عدا ذلك من الصور واللوحات، فإن كانت لغير ذي روح، كصور النبات والشجر، والبحار والسفن والجبال، والشمس والقمر والكواكب، ونحوها من المناظر الطبيعية -لنبات أو جماد- فلا جناح على من صورها أو اقتناها، وهذا لا جدال فيه.
“وإن كانت الصورة لذي روح، وليس فيها ما تقدم من المحظورات: أي لم تكن مما يقدس ويعظم، ولم يقصد فيها مضاهاة خلق الله، فالذي أراه، أنها لا تحرم أيضاً. وفي ذلك جاءت جملة الأحاديث الصحيحة.
ففي الصحيحين، عن بسر بن سعيد، عن زيد بن خالد، عن أبي طلحة صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إن الملائكة لا تدخل بيتاً فيه صورة”، قال بسر: “ثم اشتكى زيد بعد، فعدناه، فإذا على بابه ستر فيه صورة، قال: فقلت لعبيد الله الخولاني – ربيب ميمونة زوج النبي صلى الله عليه وسلم – وكان معه: ألم يخبرنا زيد عن الصور يوم الأول؟ فقال عبيد الله: ألم تسمعه حين قال: “إلا رقماً في ثوب”؟ (٦)
وروى الترمذي بسنده عن عتبة، أنه دخل على أبي طلحة الأنصاري يعوده، فوجد عنده سهل بن حنيف صحابياً آخر، قال: فدعا أبو طلحة إنساناً ينزع نمطاً (٧) تحته، فقال له سهل: لم تنزعه؟ قال: لأن فيه صور، وقال فيه النبي صلى الله عليه وسلم ما قد علمت، قال سهل: أو لم يقل: “إلا ما كان رقماً في ثوب”؟ فقال أبو طلحة: بلى، ولكنه أطيب لنفسي (٨).
ألا يدل هذان الحديثان على أن الصور المحرمة إنما هي المجسمة، التي نطلق عليها (التماثيل)؟!”
“أما الصور التي ترسم في لوحات، أو تنقش على الثياب والبسط والجدران ونحوها، فليس هناك نص صحيح صريح، سليم من المعارضة يدل على حرمتها.
نعم هناك أحاديث صحيحة، أظهر فيها النبي ﷺ كراهيته فقط لهذا النوع من التصاوير؛ لما فيه من مشابهة المترفين وعشاق المتاع الأدنى.
روى مسلم، عن زيد بن خالد الجهني، عن أبي طلحة الأنصاري قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول: لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا تماثيل. قال: فأتيت عائشة فقلت: إن هذا يخبرني أن النبي ﷺ قال: لا تدخل الملائكة بيتا فيه كلب ولا تماثيل. فهل سمعت رسول الله ﷺ ذكر ذلك؟ فقالت: لا ولكن سأحدثكم ما رأيته فعل، رأيته خرج في غزاته، فأخذت نمطا فسترته على الباب، فلما قدم فرأى النمط عرفت الكراهية في وجهه، فجذبه [النمط] حتى هتكه – أو قطعه – وقال: إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين. قالت: فقطعنا منه وسادتين، وحشوتهما ليفا، فلم يعب ذلك علي (٩).
ولا يؤخذ من الحديث أكثر من الكراهة التنزيهية لكسوة الحيطان ونحوها بالستائر ذات التصاوير.
قال النووي: وليس في الحديث ما يقتضي التحريم؛ لأن حقيقة اللفظ: إن الله لم يأمرنا بذلك. وهذا يقتضي أنه ليس بواجب ولا مندوب، ولا يقتضي التحريم ١٠
“مثل هذا ما رواه مسلم أيضا عن عائشة ، قالت : كان لنا ستر فيه تمثال طائر ، وكان الداخل إذا دخل استقبله ، فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : حولي هذا ، فإني كلما دخلت فرأيته ذكرت الدنيا (١١).
فلم يأمرها عليه الصلاة والسلام بقطعه ، وإنما أمرها بتحويله من مكانه في مواجهة الداخل إلى البيت ، وذلك كراهية منه صلى الله عليه وسلم أن يرى في مواجهته هذه الأشياء ، التي تذكره عادة بالدنيا وزخارفها . ولا سيما أنه كان يصلي السنن والنوافل كلها في البيت ، ومثل هذه الأنماط والأستار ذات التصاوير والتماثيل ، من شأنها أن تشغل القلب عن التزام الخشوع ، والإقبال الكامل على مناجاة الله سبحانه.
وقد روى البخاري عن أنس قال : كان قرام ستر] لعائشة ، سترت تصاويره تعرض لي في صلاتي + (١٢). به جانب بيتها ، فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم : أميطيه عني ، فإنه لا تزال وبهذا يتبين أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، أقر في بيته وجود ستر فيه تمثال طائر ، ووجود قرام فيه تصاوير.
ومن أجل هذه الأحاديث وأمثالها قال بعض السلف : = إنما ينهى عما كان له ظل أي المجسم) ولا بأس بالصور التي ليس لها ظل (١٣).

ومما يؤيد هذا الرأي ما جاء في الحديث عن الله تعالى: “ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي، فليخلقوا ذرة فليخلقوا شعيرة”. فإن خلق الله تعالى -كما هو مشاهد- ليس رسماً على سطح، بل هو خلق صور مجسمة ذات جرم، كما قال تعالى: “هو الذي يُصوركم في الأرحام كيف يشاء” (آل عمران: ٦).
ولا يعكر على هذا المذهب إلا حديث عائشة في إحدى روايات الشيخين أنها اشترت نمروقة وسادة فيها تصاوير، فلما رآها رسول الله صلى الله عليه وسلم قام على الباب، فلم يدخل، فعرفت في وجهه الكراهية، فقالت: يا رسول الله، أتوب إلى الله وإلى رسوله، ماذا أذنبت؟ فقال: ما بال هذه النمرقة؟ فقالت: اشتريتها لك: تقعد عليها وتتوسدها، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن أصحاب هذه الصور يعذبون، ويقال لهم: أحيوا ما خلقتم”. ثم قال: “إن البيت الذي فيه الصور لا تدخله الملائكة”. وزاد مسلم في رواية، عن عائشة قالت: فأخذته، فجعلته مرفقتين، فكان يرتفق بهما في البيت -تعني أنها شقت النمرقة فجعلتها مرفقتين-.
ولكن هذا الحديث يعارضه جملة أمور:
شكل الحيوان لا يوجد صورة الحيوان بل إنما يرسم شكله وصورته، والصورة التي على هذا الوجه قد فقدت أعضاء كثيرة لا تعيش بدونها بل هي فاقدة للجرم، فليست هي صورة الحيوان التي يكلف مصورها يوم القيامة نفخ الروح فيها، وليس بنافخ؛ لأن الظاهر أن الصورة التي يقال فيها ما ذكر، هي الصورة المجسمة، ذات الظل، التي لم تفقد عضوا لا تعيش بدونه، حتى تكون قابلة بذاتها لنفخ الروح فيها، فيكون عجز المصور عن النفخ راجعا إليه، لا لعدم قابلية الصورة للحياة.

١- أنه قد روي بروايات مختلفة ظاهرة التعارض، بعضها يدل على أنه استعمل الستر الذي فيه الصورة، بعد أن قطع، وعملت منه الوسادة، وبعضها يدل على أنه لم يستعمله أصلاً.
٢- أن بعض رواياته يدل على الكراهة فقط، وأن الكراهة إنما هي لستر الجدران بالصور، وذلك نوع ترف لا يرضاه. ولهذا قال في رواية مسلم التي ذكرناها من قبل: “إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين”.
٣- حديث مسلم عن عائشة نفسها، في الستر الذي فيه تمثال طائر وقول النبي ﷺ لها: حولي هذا، فإني كلما رأيته ذكرت الدنيا لا يدل على الحرمة مطلقاً.
٤- أنه معارض بحديث القرام، الذي كان في بيت عائشة أيضاً، وأمر الرسول ﷺ بإماطته عنه؛ لأن تصاويره تعرض له في صلاته، قال الحافظ: وقد استشكل الجمع بين هذا الحديث وبين حديث عائشة في النمرقة، فهذا يدل على أنه أقره وصلى وهو منصوب، إلى أن أمر بنزعه، من أجل ما ذكر من رؤيته لصورته حالة الصلاة، ولم يتعرض الخصوص كونها صورة.
وجمع الحافظ بينهما بأن الأول كانت تصاويره من ذات الأرواح، وهذا كانت تصاويره من غير الحيوان (١٤). ولكن يعكر على هذا الجمع حديث القرام الذي كان فيه تمثال طائر.
٥- أنه معارض بحديث أبي طلحة الأنصاري الذي استثنى ما كان رقماً في ثوب، وقد قال القرطبي: يجمع بينها بأن يحمل حديث عائشة
على الكراهة، وحديث أبي طلحة على مطلق الجواز، وهو لا ينافي الكراهة (١٥). واستحسنه الحافظ ابن حجر (١٦).
٦- أن راوي حديث النمرقة عن عائشة – وهو ابن أخيها: القاسم بن محمد ابن أبي بكر – كان يجيز اتخاذ الصور التي لا ظل لها.
فعن ابن عون قال: دخلت على القاسم وهو بأعلى مكة في بيته، فرأيت في بيته حجلة فيها تصاوير القندس والعنقاء ١٧).
قال الحافظ: يحتمل أنه تمسك بعموم قوله: إلا رقماً في ثوب، وكأنه جعل إنكار النبي ﷺ على عائشة تعليق الستر المذكور، مركباً من كونه مصوراً، ومن كونه ساتراً للجدار. ويؤيده رواية: إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين.
والقاسم بن محمد أحد الفقهاء السبعة بالمدينة، وكان من أفضل أهل زمانه، وهو راوي حديث النمرقة، فلولا أنه فهم الرخصة في مثل الحجلة ما استجاز استعمالها ١٨).
ولكن هناك احتمال، قد يبدو من هذه الأحاديث الواردة في شأن الصور والمصورين، هو أن الرسول ﷺ شدد في أمرها أول الأمر، لقرب عهدهم بالشرك وعبادة الأوثان، وتقديس الصور والتماثيل، فلما استقرت عقيدة التوحيد في النفوس، ورسخت جذورها في القلوب والعقول، رخص في الصور التي لا جسم لها، وإنما هي نقوش ورسوم، وإلا لم يرض بوجود ستر أو قرام في بيته فيه صورة أو تمثال. ولم يستثن التصاوير التي تُرقم وتنقش في الثياب، ومثل الثياب الورق والجدران وغيرها.
قال الطحاوي من أئمة الحنفية: إنما نهى الشارع أولا عن الصور كلها، وإن كانت رقما؛ لأنهم كانوا حديثي عهد بعبادة الصور، فنهى عن ذلك جملة، ثم لما تقرر نهيه عن ذلك، أباح ما كان رقما في ثوب، للضرورة إلى اتخاذ الثياب، وأباح ما يمتهن؛ لأنه يأمن على الجاهل تعظيم ما يمتهن، وبقي النهي فيما لا يمتهن ١٩).

*امتهان الصورة يجعلها حلالا* :
هذا، وكل تغيير في الصورة، يجعلها أبعد عن التعظيم وأدنى إلى الامتهان، ينقلها من دائرة الكراهة إلى دائرة الإباحة. وقد جاء في الحديث أن جبريل عليه السلام استأذن على النبي ﷺ فقال: ادخل، فقال: كيف أدخل وفي بيتك ستر فيه تصاوير؟ فإن كنت لابد فاعلا، فاقطع رأسها أو اقطعها وسائد أو اجعلها بسطا ٢٠).
ولهذا حين رأت عائشة في وجه النبي ﷺ الكراهة للنمرقة ذات التصاوير جعلتها مرفقتين، لما في ذلك من امتهانهما، والبعد بهما عن أدنى شبهة لتعظيم الصورة.
وقد جاء عن السلف استعمال الصورة الممتهنة، ولم يروا فيها حرجا، فعن عروة: أنه كان يتكئ على المرفق فيها التماثيل: الطير والرجال (٢١).
وقال عكرمة: كانوا يكرهون ما نصب من التماثيل نصبا، ولا يرون بأسا بما وطئته الأقدام (٢٢)، وكانوا يقولون: في التصاوير في البسط والوسادة التي توطأ ذل لها (٢٣).
الصور الفوتوغرافية:
ومما لا خفاء فيه أن كل ما ورد في التصوير والصور، إنما يعني الصور التي تنحت، أو تُرسم على حسب ما ذكرنا.
أما الصور الشمسية (الفوتوغرافية) – التي تُؤخذ بآلة الفوتوغرافيا – فهي شيء مستحدث، لم يكن في عصر الرسول، ولا سلف المسلمين، فهل ينطبق عليه ما ورد في التصوير والمصورين؟
أما الذين يقصرون التحريم على التماثيل المجسمة فلا يرون شيئا في هذه الصور، وخصوصا إذا لم تكن كاملة.
وأما على رأي الآخرين فهل تقاس هذه الصور الشمسية على تلك التي تبدعها ريشة الرسام؟ أم أن العلة التي نصت عليها بعض الأحاديث في عذاب المصورين – وهي أنهم يضاهون خلق الله – لا تتحقق هنا في الصور الفوتوغرافية؟ وحيث عدمت العلة عدم المعلول، كما يقول الأصوليون.
إن الواضح هنا، ما أفتى به المغفور له الشيخ محمد بخيت – مفتي مصر – أن أخذ الصورة بالفوتوغرافيا – الذي هو عبارة عن حبس الظل
بالوسائط المعلومة لأرباب هذه الصناعة – ليس من التصوير المنهي عنه في شيء؛ لأن التصوير المنهي عنه هو إيجاد صورة، وصنع صورة لم تكن موجودة ولا مصنوعة من قبل، يضاهي بها حيوانًا خلقه الله تعالى، وليس هذا المعنى موجودًا في أخذ الصورة بتلك الآلة ٢٤).
هذا وإن كان هناك من يجنح إلى التشدد في الصور كلها، وكراهيتها بكل أنواعها، حتى الفوتوغرافية منها، فلا شك أنه يرخص فيما توجبه الضرورة أو تقتضيه الحاجة والمصلحة منها، كصور البطاقات الشخصية، وجوازات السفر، وصور المشبوهين، والصور التي تتخذ وسيلة للإيضاح ونحوها، مما لا تتحقق فيه شبهة القصد إلى التعظيم، أو الخوف على العقيدة. فإن الحاجة إلى اتخاذ هذه الصور أشد وأهم، من الحاجة إلى اتخاذ (النقش) في الثياب الذي استثناه النبي ﷺ.
*موضوع الصورة* :
هذا، ومن المقرر أن لموضوع الصورة أثرًا في الحكم بالحرمة أو غيرها. ولا يخالف مسلم في تحريم الصورة، إذا كان موضوعها مخالفا لعقائد الإسلام، أو شرائعه وآدابه، فتصوير النساء عاريات، أو شبه عاريات، وإبراز مواضع الأنوثة والفتنة منهن، ورسمهن أو تصويرهن في أوضاع مثيرة للشهوات، موقظة للغرائز الدنيا، كما نرى ذلك واضحا في بعض المجلات والصحف، ودور (السينما) كل ذلك مما لا شك في حرمته وحرمة تصويره، وحرمة نشره على الناس، وحرمة اقتنائه واتخاذه في البيوت أو المكاتب والمحلات، وتعليقه على الجدران، وحرمة القصد إلى رؤيته ومشاهدته.
ومثل هذا صور الكفار والظلمة والفساق، الذين يجب على المسلم أن يعاديهم الله ويبغضهم في الله، فلا يحل لمسلم أن يصور أو يقتني صورة لزعيم ملحد، ينكر وجود الله، أو وثني يشرك مع الله البقر أو النار أو غيرها أو يهودي أو نصراني يجحد بقوة محمد صلى الله عليه وسلم أو مدعي الإسلام وهو يحكم بغير ما أنزل الله أو يشيع الفاحشة والفساد فى المجتمع كالممثلين والممثلات والمطربين والمطربات

ومثل هذا، الصور التي تعبر عن الوثنية أو شعائر بعض الأديان التي لا يرضاها الإسلام، كالأصنام والصلبان وما شابهها. ولعل كثيرا من البسط والستور والنمارق، التي كانت في عصر النبي ﷺ، كانت مشتملة على هذا النوع من التصاوير والتهاويل. وقد روى البخاري، أن النبي ﷺ لم يكن يترك في بيته شيئا فيه تصاليب إلا نقضه (٢٥).
والصلبان: صور الصليب.
وروى ابن عباس أن الرسول ﷺ في عام الفتح، لما رأى الصور التي في البيت الحرام، لم يدخل حتى أمر بها فمحيت (٢٦). ولا شك أنها كانت صورا تعبر عن وثنية مشركي مكة، وضلالهم القديم.
وكان الأمر النبوي بطمس هذه التماثيل كما جاء عن أبي الهياج: قال لي علي: ألا أبعثك على ما بعثني عليه رسول الله: ألا تدع تمثالا إلا طمسته، ولا قبرا مشرفا إلا سويته (٢٧).
فماذا عسى أن تكون هذه الصورة التي أمر الرسول بتلطيخها وطمسها إلا أن تكون مظهرا من مظاهر الوثنية الجاهلية، التي حرص الرسول على تنظيف المدينة من آثارها. ولهذا جعل العودة إلى شيء منها كفرا بما أنزل الله!!
خلاصة لأحكام الصور والمصورين:
ونستطيع أن نجمل أحكام الصور والمصورين في الخلاصة التالية:

(ز) أما صور غير ذي الروح، من الشجر والنخيل، والبحار والسفن، والجبال ونحوها من المناظر الطبيعية، فلا جناح على من صورها أو اقتناها، ما لم تشغل عن طاعة، أو تؤدّ إلى ترف أو سرف، فتكره، أو تحرم.
(ح) وأما الصور الشمسية (الفوتوغرافية) فالأصل فيها الإباحة، ما لم يشتمل موضوع الصورة على محرم، كتقديس صاحبها تقديسا دينيا، أو تعظيمه تعظيما دنيويا، وخاصة إذا كان المعظم من أهل الكفر والفسوق، كالوثنيين والشيوعيين، والفنانين المنحرفين
(ط) وأخيرا، إن التماثيل والصور المحرمة إذا شوهت أو امتهنت، انتقلت من دائرة الحرمة إلى دائرة الحل، كصور البسط التي تدوسها الأقدام والنعال ونحوها.
(أ) أشد أنواع الصور في الحرمة والإثم صور ما يعبد من دون الله – كالمسيح عند النصارى – فهذه تؤدي بمصورها إلى الكفر، إن كان عارفًا بذلك، قاصدًا له.
(ب) ويليه في الإثم من صور ما لا يعبد، ولكنه قصد مضاهاة خلق الله، أي: ادعى أنه يبدع ويخلق كما يخلق الله، فهو بهذا يقارب الكفر. وهذا أمر يتعلق بنية المصور وحده.
(ج) ودون ذلك الصور المجسمة لما لا يعبد، ولكنها مما يُعظم، كصور الملوك والقادة والزعماء وغيرهم، ممن يزعمون تخليدهم بإقامة التماثيل لهم، ونصبها في الميادين ونحوها. ويستوي في ذلك أن يكون التمثال كاملاً أو نصفياً.
(د) ودونها الصور المجسمة لكل ذي روح، مما لا يُقدَّس ولا يُعظم، فإنه متفق على حرمته، يستثنى من ذلك ما يمتهن، كلعب الأطفال، ومثلها ما يؤكل من تماثيل الحلوى.
(هـ) وبعدها الصور غير المجسمة – اللوحات الفنية – التي يُعظم أصحابها، كصور الحكام والزعماء وغيرهم، وخاصة إذا نصبت وعُلقت. وتتأكد الحرمة إذا كان هؤلاء من الظلمة والفسقة والملحدين، فإن تعظيمهم هدم للإسلام.
(و) ودون ذلك أن تكون الصورة غير المجسمة لذي روح لا يُعظم، ولكن تعد من مظاهر الترف والتنعم، كان تُستر بها الجدران ونحوها، فهذا من المكروهات فحسب.
(ز) أما صور غير ذي الروح، من الشجر والنخيل، والبحار والسفن، والجبال ونحوها من المناظر الطبيعية، فلا جناح على من صورها أو اقتناها، ما لم تشغل عن طاعة، أو تؤدّ إلى ترف أو سرف، فتكره، أو تحرم.
(ح) وأما الصور الشمسية (الفوتوغرافية) فالأصل فيها الإباحة، ما لم يشتمل موضوع الصورة على محرم، كتقديس صاحبها تقديسا دينيا، أو تعظيمه تعظيما دنيويا، وخاصة إذا كان المعظم من أهل الكفر والفسوق، كالوثنيين والشيوعيين، والفنانين المنحرفين
(ط) وأخيرا، إن التماثيل والصور المحرمة إذا شوهت أو امتهنت، انتقلت من دائرة الحرمة إلى دائرة الحل، كصور البسط التي تدوسها الأقدام والنعال ونحوها. والله أعلم بالصواب
———
(١) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٠)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٩)، عن ابن مسعود.
(٢) فتح الباري (٣٨٣/١٠).
(٣) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٤)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٧)، عن عائشة.
(٤) متفق عليه: رواه البخاري في التوحيد (٧٥٥٩)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١١١)، عن أبي هريرة.”
(٥) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٠)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٩). ص ١٢٩
(٦) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٨)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٦)
(٧) النمط: ثوب أو بساط فيه نقوش وصور
(٨) رواه الترمذي في اللباس (١٧٥٠) قال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح. والنسائي في الزينة (٥٣٤٩)، وصححه الألباني في غاية المرام (١٣٤)
(٩) رواه مسلم في اللباس والزينة (٣١٠٧)
( ١٠) شرح النووي على مسلم(٨٦،٨٧/١٤)
(١١) رواه مسلم في اللباس والزينة (٢١٠٧).
(١٢) رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٩).
(١٣) ذكره النووي في شرح مسلم (٨٢/١٤) ، ورد عليه وقال : إنه مذهب باطل وتعقبه الحافظ في الفتح بأنه مروي بسند صحيح ، عن القاسم بن محمد : أحد فقهاء المدينة ، ومن أفضل أهل زمانه . (٣٨٨/١٠) ونقل الشيخ بخيت عن الخطابي قوله : الذي يصور أشكال الحيوان ، والنقاش الذي ينقش أشكال الشجر ونحوها ، فإني أرجو ألا يدخلا في ذلك الوعيد ، وإنما كان جملة هذا الباب مكروها ، وداخلا فيما يشغل القلب بما لا يغني . كما في عمدة القاري (٧٤/٢٢) وقد علق الشيخ بخيت على هذا بقوله : وما ذلك إلا لأن مصور”
(١٤) متفق عليه: رواه البخاري في التوحيد (٧٥٥٩)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١١١)، عن أبي هريرة.
(١٥) متفق عليه: رواه البخاري في التوحيد (٧٥٥٩)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١١١)، عن أبي هريرة.
١٦١) فتح الباري (٣٩١/١٠)
١٧١) فتح الباري (٣٩٢/١٠)
(١٨) المصدر السابق
(١٩) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٨١٠). والحجلة: مثل القبة. وحجلة العروس معروفة، وهي بيت يزين بالثياب والأسرة والستور. لسان العرب مادة: (حجل)
(٢٠) راجع في موضوع الصور والمصورين فتح الباري شرح باب التصاوير وما بعده من صحيح البخاري، كتاب اللباس (١٢) ٥٠٣-٥١٨) من الفتح طبعة مصطفى الحلبي.
(٢١) عمدة القاري (٧٤/٢٢)
(٢٢) رواه النسائي في الزينة (٥٣٦٥)، وابن حبان في الحظر والإباحة (٥٨٥٣)، وقال شعيب الأرناؤوط: حديث صحيح، وصححه الألباني في غاية المرام (١٤١)، عن أبي هريرة
(٢٣) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٧٩٧)
(٢٤) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٨٠٠) ، والبيهقي في الكبرى (١٤٩٧٥)
(٢٥) رواه ابن أبي شيبة في المصنف (٢٥٧٩٩)
(١) رسالة الجواب الكافي في إباحة التصوير الفوتوغرافي ص (٢٣)
(٢٦) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٠)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٩)
(٢٧) متفق عليه: رواه البخاري في اللباس (٥٩٥٨)، ومسلم في اللباس والزينة (٢١٠٧)
(٢٨) النمط: ثوب أو بساط فيه نقوش وصور
(٢٩) رواه الترمذي في اللباس (١٧٥٠) قال الترمذي: هذا حديث حسن صحيح. والنسائي في الزينة (٥٣٤٩)، وصححه الألباني في غاية المرام (١٣٤).

Referensi:
Kitab Halal dan Haram dalam Islam oleh Dr. Yusuf al-Qaradawi, halaman 126-141

Gambar Makhluk Hidup, Hewan, dan Pohon (yaitu gambar tiga dimensi):

Inilah posisi Islam terhadap gambar tiga dimensi yang dikenal dalam istilah umum sebagai “patung”.

Namun, bagaimana dengan gambar dan lukisan artistik yang digambar pada permukaan seperti kertas, kain, tirai, dinding, karpet, uang, dan sebagainya?

Jawabannya: Hukum gambar tersebut tidak bisa dipahami kecuali jika kita melihat gambar itu sendiri, untuk apa gambar itu? Di mana gambar tersebut ditempatkan? Bagaimana gambar itu digunakan? Dan apa tujuan dari pembuat gambar itu, apa niatnya dalam menggambar?

Jika gambar artistik tersebut menggambarkan sesuatu yang disembah selain Allah, seperti gambar Yesus bagi umat Nasrani, sapi bagi umat Hindu, dan yang serupa dengannya, maka orang yang menggambarnya dengan tujuan tersebut tidak lebih dari seorang kafir, penyebar kekufuran dan kesesatan.

Terkait hal ini, Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan ancaman keras: “Orang yang paling berat siksanya pada Hari Kiamat adalah para pembuat gambar”

Menurut Al-Tabari, yang dimaksud dengan ini adalah orang yang menggambar sesuatu yang disembah selain Allah, dengan niat yang sadar dan dengan tujuan tersebut; karena ia telah kafir dengan perbuatannya. Namun, bagi mereka yang tidak memiliki tujuan itu, maka ia hanya berdosa karena menggambar itu saja

أن أشد الناس عذابا يوم القيامة اللمصورون

“Sesungguhnya oran paling berat adzapelukis.”
Imam Thabari mengatakan, “Yakni, orang yang melukis sesuatu yang disembah selain Allah, sementara ia sendiri mengetahui dan menyengaja, dikafirkan dengan perbuatan itu. Sedangkan yang melukisnya bukan dengan maksud tersebut, ia berbuat maksiat. Demikian pula orang yang memasang lukisan tersebut dalam rangka mengkultuskannya. Yang demikian itu tidak mungkin dilakukan seorang muslim, kecuali bila ia telah mencampakkan Islam dari pundaknya.”

<span;>> Mendekati hukum ini adalah orang yang melukis sesuatu yang tidak disembah, akan tetapi dimaksudkan untuk menandingi ciptaan Allah swt. Artinya, ia mengaku bahwa dirinya mencipta sebagaimana Allah menciptakan sesuatu yang tadinya tidak ada. Dengan maksud itu, ia telah keluar dari agama tauhid. Terhadap orang semacam ini, Rasulullah saw. juga mengancam.

Hadits:

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Sesungguhnya siksaan yang paling berat adalah siksaan orang-orang yang menandingi ciptaan Allah.” Hadits ini menunjukkan sebuah peringatan keras terkait kesombongan manusia yang berani menyaingi karya Sang Pencipta.
Hadits qudsi yang terkait erat dengan pernyataan di atas berbunyi,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ ذَرَّةً

“Dan siapakah yang lebih zalim dibanding dengan orang yang sengaja menciptakan seperti ciptaanku? Karena itu hendaklah ia menciptakan biji atau atom.” Kalimat “sengaja menciptakan seperti ciptaanku” menunjukkan kesengajaan untuk menandingi sifat ketuhanan, yaitu menciptakan. Allah SWT menantang mereka untuk menciptakan biji atau atom. Ini menunjukkan bahwa mereka memang bermaksud seperti itu.
Karena itulah, Allah SWT menghinakan mereka di hadapan para saksi di hari kiamat dengan perintah, “Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan.” Pelukis semacam itu dibebani tanggung jawab meniupkan ruh ke dalam lukisannya, padahal ia tidak akan pernah bisa melakukannya.
Di antara lukisan yang membuat dan memilikinya diharamkan adalah lukisan yang dikultuskan secara agama oleh para pemiliknya, atau diagungkan secara duniawi. Jenis yang pertama seperti lukisan nabi-nabi, malaikat, dan orang-orang saleh. Misalnya Nabi Ibrahim, Ishaq, Musa, Maryam, Jibril, dan sebagainya. Lukisan semacam itu banyak dijumpai di kalangan Nasrani. Sebagian ahli bid’ah di kalangan kaum muslimin juga mengikuti cara-cara mereka itu. Mereka melukis Ali, Fatimah, dan lain-lain.
*Jenis kedua* seperti lukisan para raja, tokoh, dan artis di zaman sekarang ini. Jenis kedua ini lebih ringan dosanya dibanding yang pertama. Akan tetapi, dosanya lebih serius jika pemiliknya adalah orang-orang kafir, zalim, atau fasik. Misalnya para birokrat yang berhukum dengan selain hukum Allah, para pemimpin yang menyeru kepada selain risalah Allah, dan para artis yang menayangkan keangkuhan kebatilan, menyebarkan kekejian dan pornografi di tengah masyarakat.
Tampaknya, kebanyakan lukisan di masa Nabi dan masa-masa sesudahnya adalah jenis yang disucikan dan diagungkan. Karena kebanyakan dipengaruhi oleh aqidah dan kultus mereka kepada para pemimpin agama dan negara mereka. Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Ad-Dhuha, ia berkata, “Sekali waktu saya bersama Masruq dalam sebuah rumah yang banyak patungnya. Berkatalah Masruq kepada saya, ‘Ini patung-patung Kisra (Raja Persia).’ Saya menjawab, ‘Bukan. Ini adalah patung Maryam.'”
Mereka menyangka bahwa lukisan itu dari majusi. Mereka melukis raja-raja mereka di bejana-bejana. Ternyata lukisan itu dari kalangan Nasrani. Dalam kisah ini, Masruq berkata: Saya mendengar Abdullah (bin Mas’ud) berkata: “Saya mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya di sisi Allah adalah para pelukis.'”
Adapun lukisan selain itu, yakni lukisan benda-benda tak bernyawa semisal pohon, pemandangan laut, perahu, matahari, bulan, bintang, dan sejenisnya, baik berupa benda mati maupun tumbuhan, tidak ada masalah bagi yang melukis maupun yang memilikinya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.
Kalau gambar atau lukisan itu berupa benda bernyawa tetapi tidak mengandung hal-hal seperti di atas, yaitu tidak dikultuskan atau diagungkan, dan tidak dimaksudkan untuk menandingi ciptaan Allah, menurut pendapat saya, juga tidak diharamkan. Berkenaan dengan itu ada beberapa hadits.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Thalhah, sahabat Rasulullah saw., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya malaikat tidak masuk ke rumah yang ada patungnya.”
Bisir berkata, “Setelah itu Zaid sakit. Kami pun menjenguknya. Ternyata di pintu rumahnya ada gorden yang bergambar.” Kata Bisir selanjutnya, “Maka saya bertanya kepada Ubaidillah Al-Khaulani, anak asuh Maimunah istri Nabi saw. yang hidup bersama beliau, ‘Bukankah Zaid telah memberitahu kita tentang lukisan pada hari pertama?’ Ubaidillah menjawab, ‘Tidakkah kau dengar ketika beliau saw. berkata, Kecuali cap di pakaian?'”
Imam Turmudzi meriwayatkan dengan sanadnya dari Utbah, bahwa ia menemui Abu Thalhah Al-Anshari untuk menjenguknya. Didapatinya di sana Sahl bin Hanif (sahabat yang lain). Ia (Utbah) berkata, “Abu Thalhah memanggil seseorang yang menarik kain bergambar di bawahnya.” Sahl bertanya, “Mengapa kau tarik?” “Karena banyak gambarnya, padahal Nabi saw. telah mengatakan hal yang telah kamu ketahui,” jawab orang itu. Sahl berkata, “Bukankah beliau bersabda, ‘Kecuali cap di pakaian?'” Abu Thalhah berkata, “Ya, akan tetapi ia lebih baik bagi diriku.” Imam Turmudzi mengatakan, “Ini adalah hadits hasan lagi shahih.”
Tidakkah kedua hadits ini menunjukkan bahwa gambar-gambar yang diharamkan tidak lain adalah gambar-gambar yang kita kenal sebagai patung? Akan halnya gambar-gambar yang dilukiskan di atas papan, kain, karpet, tembok, dan sejenisnya, maka tidak ada nash yang shahih (benar) dan sharih (jelas) yang benar-benar menunjukkan keharamannya.
Bekas ketidaksukaannya saja kepada jenis lukisan ini. Karena ia menyerupai cara hidup orang-orang mewah dan melalaikan orang dengan perhiasan yang rendah nilainya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani dari Abu Thalhah Al-Anshari yang berkata, “Saya mendengar Nabi saw. bersabda, ‘Malaikat tidak masuk rumah yang ada anjing dan atau patung-patung’.” Zaid berkata, “Saya datangi Aisyah dan bertanya kepadanya, ‘Orang ini (Abu Thalhah) menceritakan bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak dimasuki malaikat rumah yang ada anjing dan patung-patung.” Apakah kamu mendengar bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidak dimasuki malaikat rumah yang ada patung saja, akan dikatakan demikian?” Aisyah menjawab, “Tidak. Rasulullah saw. mengatakan kepada kalian apa yang saya lihat beliau lakukan. Saya melihat beliau keluar menemui tentaranya, lalu saya mengambil kain bergambar dan saya tutupkan di pintu. Ketika beliau datang dan melihat kain itu, saya lihat di wajahnya ada ketidaksukaan. Beliau menariknya dengan keras hingga sobek, seraya bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk membusai batu dan tanah’. Selanjutnya Aisyah mengatakan, ‘Maka kami potong kain itu untuk dua bantal dan saya isi dengan sabut. Beliau tidak mencelaku tentang hal itu’.”
Dari hadits ini, hukum tidak diambil lebih dari sekedar makruh dengan-karahah tanziihiyah (tidak patut), menutupi tembok dan sejenisnya dengan kain-kain gorden yang bergambar. Imam Nawawi mengatakan, “Dalam hadits tersebut tidak ada sesuatu yang disimpulkan haram. Karena hakikat kata itu mengatakan bahwa Allah swt. tidak memerintahkan kita untuk berbuat itu. Ini menunjukkan bahwa ia bukanlah wajib, bukan mandub (dianjurkan), dan tidak pula haram.” Hadits semacam itu juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah ra. Beliau mengatakan,
“Dahulu, kami memiliki gorden bergambar burung. Setiap orang yang masuk akan memandangnya. Maka Rasulullah saw. mengatakan kepadaku,

حَوْلِي هَذَا ، فَإِنِّي كُلَّمَا دَخَلْتُ فَرَأَيْتُهُ ذَكَرْتُ الدُّنْيَا

“Pindahkanlah ini, karena setiap saya masuk dan melihatnya, saya jadi ingat dunia.”
Beliau saw. tidak memerintahkan agar kain itu dipotong. Beliau hanya memerintahkan agar memindahkannya dari tempat yang menghadap kepada setiap orang yang masuk. Beliau tidak suka bila setiap kali berhadapan dan melihatnya, ada hal-hal yang biasanya mengingatkan kepada dunia dan perhiasan-perhiasannya. Terlebih lagi karena beliau saw. melakukan semua shalat sunnah di rumah. Kain dan gorden-gorden bergambar semacam ini sering menggoda hati, sehingga yang shalat tidak bisa khusyu’ dan menghadap dengan sempurna, saat bermunajat kepada Allah swt. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas, ia berkata, Dahulu, kain Aisyah digunakannya untuk menutup samping rumahnya. Maka Nabi saw. mengatakan kepadanya,
Hadits:

 “أَمِيطِيْهِ عَنِّي فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيْرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلَاتِي .”

Jauhkanlah itu dariku, karena gambar-gambarnya selalu melintas di depanku ketika shalat.
Syekh Bakhit mengajukan pertanyaan menarik: “Orang yang menggambar berbagai rupa binatang dan pemahat yang mengukir bentuk pohon dan sejenisnya, saya beranggapan tidak termasuk dalam ancaman ini, meskipun hal ini pada umumnya makruh dan tercela.” Syekh Bakhit memberi catatan kaki atas masalah ini dengan menyatakan, “Yang demikian itu karena ketika sesuatu yang tidak bernyawa melukis bentuk yang demikian itu bentuk pelukis gambar hanyalah menirukan, dan tidak mewujudkan bentuk binatang. Gambar binatang sebenarnya tidak memiliki jiwa. Gambar semacam ini telah kehilangan banyak bagian yang tanpa sekali-kali dibayangkan dapat hidup, bahkan tidak berujud sama sekali. Karenanya, ia tidak termasuk gambar binatang yang pada hari kiamat nanti, sedangkan memasuki ruh ke dalamnya yang perlu dijelaskan di sini untuk dimaksud adalah melukisnya. Secara tekstual, gambar yang tidak mampu melahirkan tiga dimensi, yang tidak kehilangan bagian anggota tubuh yang menjadikan ruh ke dalamnya jadi, kembalinya kepada sang pelukis menunjukan ruhyanya. Jadi, ketidakmampuan menunjuk ditujukan ke dalam dirinya, dapat menerima kehidupan, kepada ketidakmampuan gambar tersebut menerima kehidupan.”
Di antara dalil yang menguatkan pendapat ini adalah hadits qudsi, “Dan siapakah yang lebih zhalim dibanding orang yang dengan sengaja menciptakan seperti ciptaan-Ku? Karena itu hendaklah mereka menciptakan atom, hendaklah mereka menciptakan sehelai rambut.”
Karena ciptaan Allah swt. seperti yang kita saksikan bukanlah gambar di atas hamparan tipis seperti kertas dan sejenisnya. Dia menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi yang mempunyai ujud fisik, sebagaimana Allah swt. Ayat Al-Qur’an:

“هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ” ( العمران :٦)

“Dia-lah yang telah membentuk kalian di dalam rahim sebagaimana yang Ia kehendaki.” (Ali Imran: 6)
Dalil: HR. Bukhari dan Muslim dan lainnya.
Penjelasan Singkat:
Syekh Bakhit berpendapat bahwa menggambar binatang dan memahat pohon tidak termasuk dalam ancaman karena gambar tersebut hanya tiruan dan tidak memiliki jiwa. Dalil hadits qudsi menunjukkan kezaliman menciptakan sesuatu yang menyerupai ciptaan Allah. Ciptaan Allah memiliki bentuk tiga dimensi dan jiwa, sedangkan gambar tidak.
Tidak ada yang melemahkan madzhab ini kecuali hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwa suatu ketika Rasulullah saw. melihat bantal bergambar. Ketika di depan pintu beliau membeli sebuah bantal, beliau hanya berdiri dan tidak mau masuk rumah. Aisyah menangkap ketidakridhaan beliau saw. dan bertanya, “Wahai Rasulullah, saya bertaubat kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah dosa saya?” Beliau balik bertanya, “Mengapa ada bantal di sini?” “Saya membelinya untukmu. Engkau dapat menggunakannya untuk duduk atau tidur,” jawab Aisyah hati-hati. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذِّبُونَ وَيُقَالُ لَهُمْ : أَحْبُوا مَا خَلَقْتُمْ ! وَقَالَ : إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لَا تَدْخُلُهُ الْمَلَائِكَةُ ، وَزَادَ مُسْلِمٌ فِي رِوَايتِهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : فَأَخَذْتُهُ فَجَعَلْتُهُ مِرْفَقَتَيْنِ بِهِمَا فِي الْبَيْتِ . تَعْنِي أَنَّهَا شَقَّتْ النَّمْرَقَة فَجَعَلْتْهَا مِرْفَقَتَيْنِ

.
“Sungguh, pelukis gambar-gambar ini bakal disiksa dan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar tidak dimasuki malaikat.'”
Imam Muslim menambahkan dalam riwayat Aisyah bahwa beliau saw. bersandar dengan bantal itu pun di rumahnya.
Hanya saja, hadits ini bertentangan dengan sejumlah hal:

*Pertama* , ia diriwayatkan dengan banyak riwayat yang kontradiktif. Sebagian menunjukkan bahwa beliau saw. menggunakan tirai bergambar setelah dipotong dan dijadikan sebagai bantal, sementara riwayat lain menyebutkan bahwa beliau tidak menggunakannya sama sekali.
*Kedua* , sebagian riwayat hanya menunjukkan karahah (kebencian) saja. Dan kebencian itu hanya dalam penggunaan tirai tembok dengan gambar, karena ia adalah bentuk kemewahan yang tidak diridhai. Karena itulah, dalam riwayat Muslim di atas, beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian kepada batu dan tanah.”
*Ketiga* , hadits Muslim dari Aisyah sendiri yang memuat tentang tirai bergambar burung berikut sabda Nabi saw. kepadanya, “Pindahkan ini, karena setiap kali saya melihatnya, saya jadi ingat dunia,” dan hadits ini tidak menunjukkan kepada keharamannya secara mutlak.
*Keempat* , ia bertentangan dengan hadits qiram (kain tipis) yang ada di rumah Aisyah ra. dan perintah Nabi saw. untuk menyingkirkannya, karena gambar-gambarnya melintas saat shalat. Imam Al-Hafizh mengatakan, “Sulit mengkompromikan antara hadits ini dengan hadits Aisyah tentang bantal. Hadits pertama menunjukkan bahwa beliau saw. mengakuinya dan melakukan shalat, sementara tirai itu terpasang hingga memerintahkan untuk mencabutnya karena gambarnya terlintas di dalam shalat. Beliau saw. tidak menyinggung secara khusus keberadaannya sebagai gambar. Imam Al-Hafizh mengkompromikan keduanya, bahwa gambar-gambar pada hadits pertama adalah gambar benda-benda bernyawa, sedangkan hadits kedua adalah gambar benda tidak bernyawa. Akan tetapi kompromi antara dua hadits ini dimentahkan oleh hadits qiram yang memuat tentang gambar burung.”
*Kelima* , ia bertentangan dengan hadits Abu Thalhah Al-Anshari yang mengecualikan cap pada kain. Imam Qurtubi mengatakan, “Hadits-hadits ini bisa dipertemukan karena hadits Aisyah menunjukkan kepada hukum makruh, hadits Abu Thalhah menunjukkan kepada hukum boleh, yang sudah tentu tidak bertentangan secara diametral dengan makruh. Pendapat ini dianggap baik oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar.”
*Keenam* , Rawi hadits bantal dari Aisyah, yakni keponakannya: Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, yakni kemenakan Aisyah sendiri membolehkan memakaikan gambar dua dimensi. Dari Ibnu Aun, ia berkata, “Saya menemui Al-Qasim di atas Makkah, di rumahnya. Saya melihat di rumahnya ada hajlah¹⁵¹ bergambar berang-berang dan binatang khayalan bertubuh singa, kepala, dan sayap elang.
Imam Al-Hafizh mengatakan, “Kemungkinan beliau berpegang pada keumuman sabdanya, ‘Kecuali cap di kain’, seakan-akan beliau menjumukan tidak setujunya Nabi saw. terhadap pemasangan tirai tersebut mengandung dua hal, yaitu karena bergambar dan karena menutup tembok. Pernyataan ini didukung riwayat yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk mengenakan pakaian kepada batu dan tanah’.”
Al-Qasim bin Muhammad adalah satu di antara tujuh ahli fiqih Madinah, dan termasuk yang paling dikenal di masanya. Beliau yang meriwayatkan hadits bantal. Kalau sekiranya beliau tidak memahaminya sebagai rukhsah (dispensasi) dalam masalah hajlah dan sejenisnya, tentu tidak membolehkan penggunaannya.
Akan tetapi ada kemungkinan lain yang muncul dari hadits-hadits terkait dengan masalah gambar dan pelukis. Yakni bahwa pada awalnya Rasulullah saw. bersikap sangat keras tentang masalah itu. Yang demikian itu karena mereka masih dekat dengan zaman kemusyrikan dan penyembahan berhala, serta pengkultusan terhadap gambar dan patung-patung. Ketika kemudian aqidah tauhid sudah tertanam kuat di dalam hati dan akal, beliau memberikan keringanan hukum pada gambar dua dimensi (bukan patung). Karena ia hanyalah gambar. Kalau tidak demikian, tentu beliau tidak rela dengan adanya tirai atau kain tipis bergambar di rumahnya, tidak mengecualikan gambar-gambar yang dicap atau dilukis di kain. Yang semisal dengan kain adalah kertas, tembok, dan lain-lain.
Imam Thahawi dari kalangan Hanafiyah (madzhab Hanafi) mengatakan, “As-Syari’ (Allah dan Rasul-Nya -pen.) pada awalnya melarang gambar secara keseluruhan, termasuk cap, karena umat manusia belum lama meninggalkan masa peribadatan gambar dan patung-patung. Karena itu, dilaranglah hal itu secara keseluruhan. Setelah larangan itu mapan, dibolehkanlah yang berupa cap di kain karena kebutuhan untuk pakaian. Dibolehkan pula patung yang mudah rusak (seperti mainan), karena pengagungan terhadap sesuatu yang mudah rusak tidak terjadi pada orang jahil sekalipun. Sedangkan larangannya tetap berlaku pada patung yang tidak mudah rusak (permanen untuk dipajang).”
Rusaknya Gambar, Menjadikanny Halal
Demikianlah, setiap perubahan yang terjadi pada gambar atau patung, menjadikannya semakin jauh dari kemungkinan diagungkan, dan semakin dekat kepada kerusakan. Secara hukum juga berarti memindahkannya dari hukum makruh kepada mubah (boleh). Diriwayatkan dalam hadits bahwa Jibril alaihis salam minta izin masuk kepada Nabi saw. Beliau saw. mengatakan,

“ادْخُلْ ! قَالَ : كَيْفَ أَدْخُلُ وَفِي بَيْتِكَ سِتْرٌ فِيْهِ تَصَاوِيْرُ ؟ فَإِنْ كُنْتَ لَا بُدَّ فَاعِلاً فَاقْطَعْ رَأْسَهَا أَوِ اقْطَعْهَا وَسَائِدَ أَوِ اجْعَلْهَا بَسْطاً .

“Masuklah!” Jibril menjawab, “Bagaimana mungkin saya masuk, sementara di rumahmu ada tirai bergambar? Kalau tidak mungkin membuangnya, maka potonglah kepalanya, atau potong dan jadikan dia sebagai bantal, atau potong sebagai tikar.”
Karena itulah, ketika Aisyah ra. melihat di wajah Nabi saw. ada ketidaksukaan kepada bantal bergambar, dijadikannyalah sandaran, karena dengan begitu akan mudah rusak dan menjauhkannya dari kemungkinan diagungkan.
Diriwayatkan bahwa sebagian salafus shalih menggunakan gambar yang mudah rusak dan usang, dan mereka tidak keberatan. Diriwayatkan dari Urwah bahwa beliau bertelekan di atas sandaran yang bergambar burung dan manusia. Ikrimah mengatakan, “Mereka dahulu menganggap makruh gambar-gambar yang dipasang berdiri, akan tetapi mereka memandang tidak mengapa pada gambar yang diinjak kaki. Berkaitan dengan gambar yang diinjak pada alas berupa tikar atau bantal, mereka menganggap sebagai penghinaan kepada gambar tersebut.”
Gambar Fotografi
Tidak diragukan lagi bahwa berbagai riwayat yang berkaitan dengan gambar dan lukisan, sebagaimana disebut di muka, maka yang dimaksud adalah gambar yang dilukis atau dipahat. Adapun gambar dari hasil alat fotografi, adalah sesuatu yang baru, tidak ada di zaman Rasul saw. dan tidak ada pula di zaman salafus shalih. Apatah lagi riwayat dan hukum yang berkaitan dengan lukisan dan patung relevan untuk menentukan hukum gambar fotografi ini?
Mereka yang membatasi bahwa yang haram hanyalah gambar tiga dimensi (patung) saja, berarti tidak ada masalah dengan fotografi ini, terlebih lagi jika tidak utuh.
Lalu atas dasar pendapat ulama yang lain, apakah foto ini dapat dianalogikan kepada gambar yang diciptakan para pelukis? Atau apakah alasan yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang adzab para pelukis, yaitu karena mereka menandingi ciptaan Allah, tidak ada pada gambar fotografi? Tiadanya alasan (illat) menjadikan tidak adanya akibat (ma’lul). Demikian dikatakan oleh para ahli ushul.
Di sini kita mendapatkan kejelasan pada apa yang difatwakan oleh Syaikh Bakhit,seorang ahli fatwa Mesir, bahwa pengambilan gambar dengan fotografi, yang pada hakikatnya adalah proses menangkap bayangan dengan suatu alat tertentu, sama sekali bukan termasuk kegiatan menggambar yang dilarang. Karena pembuatan gambar yang dilarang adalah menciptakan gambar.
Yang belum ada dan belum dicipta sebelumnya. Dengan begitu, dia menandingi ciptaan Allah SWT. Hal semacam ini tidak terjadi pada pengambilan gambar dengan menggunakan alat fotografi.
Begitulah adanya, meskipun ada pula ulama yang dengan keras melarang gambar dalam semua jenisnya, termasuk juga fotografi. Hanya saja tentu tidak diragukan lagi bahwa ada rukhsah (dispensasi) dalam hal-hal darurat atau untuk suatu mashlahat, misalnya membuat foto KTP, paspor, foto orang bermasalah, dan gambar yang dipakai untuk media penjelasan dan sebagainya. Semua ini tidak memungkinkan adanya niat pengagungan atau sikap lain yang membahayakan aqidah. Kebutuhan memakai gambar-gambar tersebut lebih besar dan lebih penting artinya dibanding pemakaian lukisan dalam kain yang dikecualikan Nabi SAW..
*Objek Gambar*
Adalah sama-sama disepakati bahwa objek gambar mempengaruhi hukumnya, haram atau tidak. Tak seorang muslim pun yang tidak sependapat akan haramnya gambar yang objeknya tidak sesuai dengan aqidah, syariat, dan adab Islam. Misalnya gambar wanita telanjang, setengah telanjang, menonjolkan bagian-bagian yang membangkitkan nafsu, melukis atau memfoto mereka dalam berbagai pose yang merangsang birahi dan membangkitkan gairah nafsu. Sebagaimana yang kita saksikan dengan jelas pada sebagian majalah, koran, juga bioskop-bioskop. Semua itu tidak diragukan lagi akan keharamannya; haram menggambarnya, mempublikasikannya di masyarakat, memilikinya, memasangnya di rumah-rumah, kantor, tembok-tembok, dan tempat-tempat lainnya, haram juga melihat atau menontonnya dengan sengaja.
Termasuk di antaranya adalah gambar orang-orang kafir, zhalim, dan fasiq, yang harus dimusuhi dan dibenci karena Allah SWT. Karenanya, tidak halal bagi seorang muslim menggambar atau memiliki gambar tokoh atheis yang mengingkari adanya Allah, atau penyembah berhala yang menyekutukan Allah dengan sapi, api, dan sebagainya, atau Yahudi, Nasrani yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW, atau orang yang mengaku Islam tapi penyembahannya berhala yang menyekutukan Allah dengan Allah, api, dan sebagainya, atau Yahudi, Nasrani yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW, atau orang yang mengaku Islam tetapi tidak orang yang menyekutukan Allah, atau orang-orang yang menyebarkan kekejian, pornografis, dan menebarkan kerusakan di tengah masyarakat, seperti artis-artis dan biduanita-biduanita.
Demikian pula hukumnya gambar-gambar yang mengekspresikan paganisme dan simbol-simbol agama yang tidak diridhai Islam. Misalnya patung, salib, dan sejenisnya. Barangkali kebanyakan karpet, tirai, gorden, dan bantal-bantal yang ada di masa Nabi saw. bergambar lukisan dan ukiran semacam itu. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi saw. tidak pernah membiarkan gambar-gambar salib di rumahnya, kecuali pasti dirusaknya.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa saat Fathu Makkah, beliau tidak mau masuk hingga memerintahkan untuk dihilangkan patung-patung di Ka’bah. Beliau tidak diragukan lagi bahwa patung-patung itu adalah ekspresi paganisme dan kesesatan kaum musyrikin Makkah.

Dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في جنازة فقال: أيُّكم ينطلق إلى المدينة فلا يَدَعْ بِها وَتَنَا إِلَّا كَسَرَهُ وَلَا قَبْرًا إِلَّا سَوَّاهُ وَلَا صُورَةً إِلَّا لَطْحَهَا؟ فقال رجل: أنا يا رسول الله. قال: فهَابَ أَهْلُ المدينة. فانطلق الرجل فرجع فقال: يا رسول الله لم أَدَعْ بِها وَتَنَا إِلَّا كَسَرْتُهُ وَلَا قَبْرًا إِلَّا سَوَّيْتُهُ وَلَا صُورَةً إِلَّا لَطَّحْتُهَا. ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من عاد لِصَنْعَةِ شيءٍ من هذا فقد كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم.

Dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata,
“Waktu itu Rasulullah saw. tengah mengurus jenazah. Beliau bersabda, ‘Siapakah di antara kalian yang pergi ke Madinah lalu tidak
“Membiarkan, patung kecuali dipatahkannya, tidak pula kuburan kecuali diratakannya, dan tidak pula gambar kecuali dihapuskannya?” Seorang menjawab, “Saya berangkat ke sana, lalu kembali dan mengabarkan, ‘Wahai Rasul, saya tidak menemukan patung kecuali kupatahkan, tidak ada kuburan kecuali kuratakan, dan tidak pula lukisan kecuali kucoreng-corenk’.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa kembali kepada sesuatu di antara itu semua, berarti ia kafir terhadap apa yang telah Allah turunkan kepada Muhammad.” [159]
Gambar-gambar itu diperintahkan Rasulullah saw. untuk dinodai dan dihapuskan karena ia merupakan simbol dan fenomena keberhalaan jahiliyah. Rasulullah saw. sangat serius dalam usaha membersihkan Madinah dari pengaruh jahiliyah ini. Karena itulah, beliau saw. menjadikan sikap kembali kepada salah satu di antaranya sebagai perilaku kufur kepada apa yang telah Allah swt. turunkan.
Kesimpulan Hukum Gambar dan Pembuatnya
Secara global, kita bisa menyimpulkan hukum gambar dan pembuatnya sebagai berikut:
a. Jenis gambar yang paling berat hukum haramnya adalah gambar sesuatu yang disembah selain Allah. Misalnya Yesus di kalangan umat Kristiani. Ini membuat pelukisnya dihukumi kafir jika ia tahu dan sengaja melakukannya. Terlebih lagi jika gambar Yesus itu dalam bentuk tiga dimensi (patung). Semua yang menyebarkan atau mengagungkannya dengan cara apa pun ikut berdosa sesuai tingkat partisipasinya.
b. Dosa yang lebih ringan adalah mereka yang melukis sesuatu yang tidak disembah, akan tetapi ia bermaksud menandingi ciptaan Allah. Ia bermaksud mengadakan dan menciptakan sebagaimana ia mengadakan dan menciptakan sebagaimana Allah.
HR. Ahmad. Al-Mundziri mengatakan, “Sanadnya baik insya Allah.” Muslim meriwayatkan dari Hayyan bin Husein, bahwa ia mengatakan, “Ali ra. mengatakan kepadanya, ‘Maukah kau kuutus dengan sesuatu yang Rasulullah saw. mengutusku dengannya; yakni agar kau tidak membiarkan gambar kecuali kau hapus, dan tidak ada kuburan yang dimuliakan kecuali kauratakan’.”
Allah mencipta. Dengan itu ia dikafirkan. Hukum ini terkait dengan niat pelukis itu sendiri.

 c. Di bawahnya lagi adalah gambar-gambar tiga dimensi yang tidak disembah, akan tetapi termasuk yang diagungkan. Misalnya patung raja-raja, tokoh, dan siapa saja yang menurut anggapan mereka perlu diabadikan dengan mendirikan patung mereka di lapangan atau tempat sejenisnya. Sama saja, apakah patung itu utuh ataupun setengah badan.

 d. Di bawahnya lagi adalah gambar tiga dimensi benda bernyawa yang tidak disucikan ataupun diagungkan. Telah disepakati para ulama bahwa ia adalah haram, kecuali yang mudah rusak, seperti mainan anak-anak. Demikian pula yang dimakan misalnya patung-patung kue.

 e. Setelah itu adalah gambar dua dimensi di kanvas yang dihormati (diagungkan). Misalnya gambar penguasa, pemimpin, dan sejenisnya. Terlebih lagi jika dipajang atau digantung. Lebih haram lagi jika mereka adalah orang-orang zalim, fasik, dan atheis, karena pengagungan kepada mereka berarti merobohkan Islam.

 f. Lebih rendah lagi adalah gambar dua dimensi benda bernyawa yang tidak diagungkan, tetapi termasuk simbol kemewahan dan kesenangan. Misalnya lukisan untuk penutup tembok dan sejenisnya. Yang seperti ini termasuk makruh.

 g. Sedangkan gambar benda-benda tak bernyawa berupa pohon, laut, perahu, gunung, dan sejenis pemandangan alam lainnya, tidak mengapa bagi yang melukis atau memilikinya. Dengan catatan tidak menyibukkannya dari taat kepada Allah swt. dan tidak pula menjadikannya bermewah-mewahan dengannya. Kalau sampai demikian maka makruh pula hukumnya.

 h. Sedangkan gambar fotografi, asalnya adalah mubah (boleh) selama objeknya bukan yang diharamkan. Misalnya objek yang dikultuskan secara agama atau diagungkan secara materi. Terutama sekali jika ia adalah orang yang diagungkan di kalangan orang kafir dan fasiq. Misalnya penyembah berhala, tokoh komunis, sosialis, dan artis-artis yang tidak bermoral.

i. Terakhir, patung dan gambar-gambar yang lalu dirusak atau dikaburkan bentuknya. Maka hukumnya berganti dari haram menjadi halal. Misalnya gambar-gambar pada karpet yang diinjak-injak kaki, sandal, dan sejenisnya.” Wallahu a‘lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

Hukum Membayar Makanan Setelah Dikonsumsi dalam Perspektif Islam

Hukum Membayar Makanan Setelah Dikonsumsi dalam Perspektif Islam

Latar Belakang:

Dalam transaksi jual beli, salah satu prinsip dasar yang diatur dalam Islam adalah akad (kesepakatan) yang jelas antara penjual dan pembeli. Akad ini mencakup serah terima barang dan pembayaran yang dilakukan sesuai dengan kesepakatan yang tidak menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak. Dalam beberapa kondisi, seperti membeli makanan di warung atau pedagang kaki lima, ada kebiasaan yang berkembang di masyarakat, yaitu pembeli mengonsumsi makanan terlebih dahulu, kemudian baru membayarnya setelah selesai.

Kondisi ini dapat menimbulkan pertanyaan dari sudut pandang fiqih, yaitu:

1. Apakah cara ini sesuai dengan prinsip syariat Islam, mengingat pembayaran dilakukan setelah barang (makanan) dikonsumsi?

Catatan :Pertanyaan ini penting untuk dijelaskan agar umat Muslim dapat menjalankan transaksi yang sesuai dengan aturan syariat dan terhindar dari keraguan (syubhat).

Jawaban:

Ditafsil

1. Dalam Islam, prinsip utama dalam jual beli adalah terpenuhinya akad (ijab qabul) secara sah dan saling ridha antara penjual dan pembeli. . Hal ini karena dalam akad jual beli, salah satu syarat sahnya adalah adanya keridhaan kedua belah pihak (رِضَا الطَّرَفَيْنِ).

Jika penjual mengizinkan pembeli untuk mengonsumsi barangnya terlebih dahulu, maka akad tersebut sah, sebab izin dari penjual tersebut menunjukkan kerelaannya. Hal ini sesuai dengan kaidah dalam fiqih:

“الأمر بالتصرف إذنٌ فيه.”

Artinya: “Perintah untuk melakukan suatu tindakan menunjukkan adanya izin di dalamnya.” Semisal ada Maklumat   bacaan menu makanan dengan harga ”  makan wajib bayar “

2.Jika sipenjual tidak ada kerelaan barang jualannya dimakan terlebih dahulu dengan tanpa izin makan dalam hal ini hukumnya haram dan tidak termasuk akad jual beli yang sah, walaupun demikian ia wajib membayar ganti rugi apa yang telah dimakan( dirusak).

Dalil yang mendasari hal ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

(QS. An-Nisa: 29)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling ridha di antara kamu.”

Dalam kitab “Al-Majmu'” karya Imam An-Nawawi, disebutkan:

وَالشُّرُوطُ فِي الْبَيْعِ أَنْ يَكُونَ عَنْ تَرَاضٍ وَأَنْ يَكُونَ الْمَبِيعُ مَمْلُوكًا لِلْبَائِعِ وَمَعْلُومًا لِلْمُشْتَرِي.

Artinya: “Di antara syarat sah jual beli adalah harus terjadi dengan keridhaan (antara penjual dan pembeli), barang yang dijual adalah milik penjual, dan diketahui oleh pembeli.”

Dalam kasus ini, jika penjual rela dengan konsumsi terlebih dahulu dan pembayaran dilakukan setelah itu, maka transaksi tersebut sah, dan tidak ada larangan dalam syariat.

Kesimpulan

Dalam kasus pembeli memakan makanan terlebih dahulu sebelum membayar, hukumnya adalah boleh, selama memenuhi syarat berikut:

1. Adanya keridhaan kedua belah pihak

Jika penjual mengizinkan pembeli memakan makanan terlebih dahulu dan pembeli berkomitmen untuk membayar setelah selesai, maka transaksi tersebut sah. Dalam hal ini, ridha dari penjual menjadi syarat utama.

2. Tidak ada unsur penipuan atau gharar

Pembeli harus jujur dalam niat untuk membayar setelah selesai makan, dan tidak ada keraguan dari pihak penjual terkait pembayaran. Jika pembayaran dilakukan dengan sengaja ditunda atau ada kemungkinan tidak dibayar, maka ini bisa menjadi haram karena mengandung unsur gharar.

3. Tidak melanggar kesepakatan

Apabila penjual menetapkan aturan bahwa pembayaran dilakukan sebelum makanan dimakan, tetapi pembeli tetap makan tanpa izin, maka hal ini tidak diperbolehkan karena melanggar akad awal.

Kesimpulan Akhir

Makan makanan ( barang jualan) terlebih dahulu lalu membayar setelah selesai hukumnya boleh, dengan syarat:

1. Penjual ridha dan mengizinkan.

2. Pembeli berniat jujur dan tidak menunda pembayaran tanpa alasan.

3. Tidak ada kesepakatan sebelumnya yang dilanggar.

Transaksi ini termasuk dalam kategori jual beli dengan kepercayaan, yang umum terjadi di masyarakat. Selama semua pihak saling ridha dan tidak ada unsur yang melanggar syariat, hal ini diperbolehkan. Tetapi sebaliknya jika tanpa adanya kerelaan dari penjual dan tanpa izin maka termasuk ghasab yang diharamkan dan wajib membayar ganti rugi. Wallahu a’lam.

Tambahan Referensi

المجموع شرح المهذب. ج٩ص١٦٤

`فَأَمَّا إذَا أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا وَلَمْ يُعْطِهِ شَيْئًا وَلَمْ يَتَلَفَّظَا بِبَيْعٍ بَلْ نَوَيَا أَخْذَهُ بِثَمَنِهِ الْمُعْتَادِ كَمَا يَفْعَلُهُ كَثِيرٌ مِنْ الناس فَهَذَا بَاطِلٌ بِلَا خِلَافٍ` لِأَنَّهُ لَيْسَ بِبَيْعٍ لَفْظِيٍّ وَلَا مُعَاطَاةٍ وَلَا يُعَدُّ بَيْعًا فَهُوَ بَاطِلٌ وَلْنَعْلَمْ هَذَا وَلْنَحْتَرِزْ مِنْهُ وَلَا نَغْتَرُّ بِكَثْرَةِ مَنْ يَفْعَلُهُ فَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَأْخُذُ الْحَوَائِجَ مِنْ الْبَيَّاعِ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ مِنْ غَيْرِ مُبَايَعَةٍ وَلَا مُعَاطَاةٍ ثُمَّ بَعْدَ مُدَّةٍ يُحَاسِبُهُ وَيُعْطِيهِ الْعِوَضَ وَهَذَا بَاطِلٌ بِلَا خِلَافٍ لِمَا ذَكَرْنَاهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab oleh Imam An-Nawawi, Juz 9 Halaman 164:

“Adapun jika seseorang mengambil sesuatu dari penjual tanpa memberikan sesuatu kepadanya (sebagai ganti), tanpa adanya ucapan jual-beli, tetapi hanya berniat untuk mengambil barang tersebut dengan harga yang biasa berlaku sebagaimana yang dilakukan banyak orang, maka hal ini batil tanpa ada khilaf. Sebab, hal tersebut bukan termasuk akad jual-beli yang sah secara lafadz maupun mu’athah (serah-terima). Hal ini tidak dianggap sebagai jual-beli, sehingga hukumnya batil. Maka, ketahuilah hal ini dan berhati-hatilah darinya. Jangan sampai terpedaya oleh banyaknya orang yang melakukannya. Sesungguhnya banyak orang mengambil barang-barang dari penjual berulang kali tanpa adanya akad jual-beli maupun serah-terima, kemudian setelah beberapa waktu mereka melakukan perhitungan dan memberikan harga sebagai pengganti. Hal ini hukumnya batil tanpa ada khilaf, sebagaimana yang telah dijelaskan.

[الجمل، حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب، ٤٨١/٣]

(وَيُضْمَنُ مُتَقَوِّمٌ أُتْلِفَ بِلَا غَصْبٍ بِقِيمَتِهِ وَقْتَ تَلَفٍ)

 لِأَنَّهُ بَعْدَهُ مَعْدُومٌ وَضَمَانُ الزَّائِدِ فِي الْمَغْصُوبِ إنَّمَا كَانَ بِالْغَصْبِ، وَلَمْ يُوجَدْ هُنَا وَلَوْ أَتْلَفَ عَبْدًا مُغَنِّيًا لَزِمَهُ تَمَامُ قِيمَتِهِ أَوْ أَمَةً مُغَنِّيَةً لَمْ يَلْزَمْهُ مَا زَادَ عَلَى قِيمَتِهَا بِسَبَبِ الْغِنَاءِ عَلَى النَّصِّ الْمُخْتَارِ فِي الرَّوْضَةِ؛ لِأَنَّ اسْتِمَاعَهُ مِنْهَا مُحَرَّمٌ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ وَقَضِيَّتُهُ أَنَّ الْعَبْدَ الْأَمْرَدَ كَذَلِكَ (فَإِنْ تَلِفَ بِسِرَايَةِ جِنَايَةٍ فَبِالْأَقْصَى) مِنْ الْجِنَايَةِ إلَى التَّلَفِ يَضْمَنُ لِأَنَّا إذَا اعْتَبَرْنَا الْأَقْصَى فِي الْغَصْبِ فَفِي نَفْسِ الْإِتْلَافِ أَوْلَى

[Referensi: Al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj (Futuhat al-Wahhab bi-Tawdih Syarh Minhaj at-Thullab), jilid 3, halaman 481.]

(“Dan sesuatu yang bernilai yang dirusakkan tanpa melalui tindakan perampasan, maka wajib diganti berdasarkan nilainya pada waktu kerusakan terjadi.”) Hal ini karena setelah rusak, barang tersebut dianggap tidak ada, dan kewajiban mengganti lebih pada barang yang dirampas hanya disebabkan oleh tindakan perampasan, yang dalam kasus ini tidak terjadi. Jika seseorang merusakkan seorang budak laki-laki yang bisa bernyanyi, maka wajib baginya mengganti nilai penuhnya. Namun, jika yang dirusakkan adalah seorang budak perempuan yang bisa bernyanyi, maka tidak wajib baginya mengganti nilai lebih yang disebabkan oleh kemampuan bernyanyinya, sesuai teks yang dipilih dalam kitab ar-Raudhah. Sebab, mendengar nyanyian darinya hukumnya haram jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Konsekuensinya adalah budak laki-laki yang berwajah tampan juga diperlakukan sama.

(“Jika barang tersebut rusak akibat menyebarnya dampak suatu tindak pidana, maka wajib diganti berdasarkan nilai tertinggi dari awal terjadinya tindak pidana hingga kerusakan terjadi.”) Hal ini karena jika kita menetapkan nilai tertinggi dalam kasus perampasan, maka lebih utama lagi untuk menetapkannya dalam kasus perusakan langsung.

Wallahu A’lam Bisshawab

Kategori
Uncategorized

HUKUM PELAKSANAAN WASIAT TERKAIT TEMPAT PENGUBURAN

Hukum Pelaksanaan Wasiat Terkait Tempat Penguburan

Assalamualaikum

Latar Belakang

Wasiat tentang Tempat Penguburan
Wasiat adalah pesan yang disampaikan seseorang sebelum meninggal dunia agar dilaksanakan oleh ahli waris atau orang yang diberi amanah. Dalam Islam, wasiat memiliki kedudukan penting, terutama jika berkaitan dengan ibadah atau kepentingan duniawi yang sesuai syariat. Salah satu bentuk wasiat yang sering terjadi adalah permintaan terkait tempat penguburan.

Namun, pelaksanaan wasiat tersebut sering kali menghadapi kendala, seperti ketidaktersediaan lokasi pemakaman yang dimaksud, perubahan situasi setelah wasiat disampaikan, atau adanya faktor lain yang menghalangi pelaksanaan wasiat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui batasan syar’i terkait kewajiban ahli waris dalam melaksanakan wasiat tersebut.

Pertanyaan

Wajibkah ahli waris melaksanakan wasiat tentang tempat penguburan tersebut?

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jawaban

1. Hukum Wasiat tentang Tempat Penguburan:

Wasiat untuk dikuburkan di tempat tertentu termasuk wasiat duniawi. Pelaksanaan wasiat ini bersifat wajib selama:

Tidak bertentangan dengan syariat, tidak menyebabkan kesulitan atau mudarat bagi ahli waris, daTempat yang diminta memungkinkan untuk penguburan.

2. Kondisi Tidak Ada Kuburan di Lokasi yang Dimaksud:

Jika lokasi yang dimaksud tidak memiliki tempat pemakaman atau tidak memungkinkan untuk dikuburkan, maka ahli waris tidak wajib melaksanakan wasiat tersebut karena adanya uzur syar’i (halangan). Dalam hal ini, jenazah harus dikuburkan di tempat yang memungkinkan dan sesuai dengan adab syar’i, termasuk dikuburkan ditempat penguburan orang-orang Islam dan sunnah dikuburkan ditempat kuburan orang-orang soleh.

Dalil:

المكتبة الشاملة

كتاب شرح زاد المستقنع – الشنقيطي [محمد بن محمد المختار الشنقيطي] الفقه الحنبلي
ص:   ٨٨
الكتاب  الأسئلة  حكم الوصية فيما لا يملك

[حكم الوصية فيما لا يملك]
السؤال
لقد توفي في بلدنا رجل وأوصى قبل موته بأن يدفن في الأرض التي ورثها هو وإخوانه من أبيه، وتصبح تلك الأرض مقبرة للمسلمين دون موافقة إخوانه؛ لأنهم لم يكونوا معه، فما حكم تلك الوصية أثابكم الله؟
الجواب
إن كانت هذه الأرض ملكاً له فإنه يجوز أن يُدفن فيها، وإذا امتنع الورثة نظر إلى قدر ما يدفن فيه من الثلث، فإن كان قد أوصى بثلثه فإنه تكون وصيته بعد الموت قد خرجت عن حد الثلث راجعةً إلى رضا الورثة، فمن برهم له أن يرضوا، وإن شاءوا صرفوه إلى المقابر العامة، فهذا من حقهم؛ لكنه يفوتهم البر.
وأما إذا أوصى بأرضٍ هي ملكٌ لغيره فإن وصيته موقوفةٌ على حكم الغير؛ لأن عمر بن الخطاب رضي الله عنه لم يستبح مكانه من حجرة أم المؤمنين رضي الله عنها إلا بعد أن استأذنها، وخشي أن تكون أذنت له في حياته حياءً وخجلاً منه رضي الله عنه وأرضاه، فأمر ابنه عبد الله أن يستأذن بعد موته، وبعد أن يصلى عليه يقف على الباب ويستأذنها حتى يزول ما يكون في حال حياته من هيبته وخشيته، فقال: إن أذنت لك فادفني مع صاحبي، وإن لم تأذن فاصرفني إلى البقيع.
فدّل هذا على أن من أوصى أن يُدفن في أرضٍ هي ملكٌ للغير استأذن الغير؛ فإن أذن له فبها ونعمت، وإن لم يأذن له فإنه يصرف إلى مقابر المسلمين والله تعالى أعلم.

Hukum Wasiat atas Sesuatu yang Tidak Dimiliki

Pertanyaan
Seorang lelaki telah wafat di negeri kami, dan sebelum wafat dia berwasiat agar dirinya dikuburkan di tanah yang diwarisi bersama saudara-saudaranya dari ayah mereka, serta agar tanah tersebut dijadikan sebagai pemakaman kaum muslimin tanpa persetujuan saudara-saudaranya, karena mereka tidak bersamanya. Apa hukum wasiat ini? Semoga Allah memberikan pahala kepada Anda.

Jawaban
Jika tanah tersebut adalah miliknya, maka dia boleh dikuburkan di sana. Jika para ahli waris menolak, maka dilihat berapa bagian tanah yang akan digunakan untuk penguburan, apakah masih dalam batas sepertiga. Jika dia berwasiat menggunakan sepertiganya, maka wasiatnya setelah wafat telah keluar dari batas sepertiga, sehingga bergantung pada keridhaan para ahli waris. Sebagai bentuk bakti kepada almarhum, mereka dapat merelakannya. Namun, jika mereka menghendaki, tanah tersebut dapat dialihkan ke pemakaman umum. Itu adalah hak mereka, meskipun mereka akan kehilangan kesempatan untuk berbakti kepada almarhum.

Adapun jika dia berwasiat untuk menggunakan tanah yang bukan miliknya, maka wasiatnya bergantung pada persetujuan pemilik tanah. Sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tidak menggunakan tempatnya di kamar Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha kecuali setelah meminta izin darinya. Umar bahkan khawatir Ummul Mukminin memberikan izin kepadanya semasa hidupnya karena rasa segan dan malu. Oleh karena itu, Umar memerintahkan putranya, Abdullah, untuk meminta izin lagi setelah wafatnya. Setelah Umar dishalatkan, Abdullah diminta berdiri di depan pintu kamar dan meminta izin kepada Aisyah, sehingga rasa segan yang mungkin ada semasa hidup Umar dapat hilang. Umar berpesan: “Jika dia mengizinkanmu, maka kuburkanlah aku bersama dua sahabatku. Jika tidak mengizinkanmu, maka kuburkanlah aku di Baqi’.”

Kisah ini menunjukkan bahwa seseorang yang berwasiat agar dikuburkan di tanah milik orang lain harus meminta izin dari pemiliknya. Jika pemilik tanah memberikan izin, maka wasiat tersebut dapat dilaksanakan. Namun, jika pemilik tanah tidak mengizinkan, jenazahnya dipindahkan ke pemakaman umum kaum muslimin. Allah Ta’ala lebih mengetahui.
Dengan demikian dapat fahami  dari ibarat tersebut jika tanah milih pribadi maka hukumnya boleh namun yang utama dikuburkan ditempat penguburan kaum muslimin terlebih dikuburkan didekat kuburan orang-orang yang soleh.
Dengan demikian hukum Wasiat untuk dikuburkan ditanahnya sendiri wajib selama tidak bertentangan dengan syariat dan tidak memudharatkan baik bagi dirinya maupun orang lain, namun yang utama bahkan sunnah diletakkan ditempat kuburan orang-orang muslim yang soleh.

Nabi SAW bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh ada mudarat dan tidak boleh memudaratkan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

3. Pendapat Ulama:

Imam Nawawi menjelaskan
Memakamkan jenazah di tanah pribadi pun juga diperbolehkan yang sunnah memakamkan jenazah di pemakaman umum bersama kaum muslimin lainnya. Imam Nawawi berkata : Dalam Majmu’ Syarah Muhadzdzab : 5/245).

المجموع شرح المهذب. ج٥ص٢٤٥

يجوز الدفن في البيت وفي المقبرة ، والمقبرة أفضل بالاتفاق

“Boleh hukumnya memakamkan jenazah di rumah boleh juga di kuburan akan tetapi memakamkan jenazah di kuburan lebih utama dengan kesepakatan para ulama.”

Begitu juga syaikh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan dalam kitab Fiqhul Islam Waadillatuhu boleh menguburkan jenazah dirumah dan tidak haram namun makruh karena menguburkan jenazah dirumah hanya khusus bagi Nabi Muhammad SAW berikut: ibaratnya:

فقه الإسلامي وأدلته للزحيلي ج.٢ ص١٥٤٨
الدفن في البيوت: يجوز ولا يحرم الدفن في البيت؛ لأن النبي صلّى الله عليه وسلم دفن في حجرة عائشة رضي الله عنها (١).
لكن الدفن في البيوت لغير النبي ولو للسقط مكروه، لاختصاصه بالأنبياء عليهم الصلاة والسلام.
ويكره الدفن في القباب ونحوها من البيوت المعقودة لجماعة، لمخالفته السنة.
الدفن في البقاع الشريفة: يستحب الدفن في أفضل مقبرة: وهي التي يكثر فيها الصالحون والشهداء لتناله بركتهم، وكذلك في البقاع الشريفة، روى البخاري ومسلم أن موسى عليه السلام لما حضره الموت، سأل الله تعالى أن يدنيه إلى الأرض المقدسة رمية بحجر، قال النبي صلّى الله عليه وسلم: «لو كنتم ثَمَّ لأريتكم قبره عند الكثيب الأحمر»، ولأن عمر رضي الله عنه استأذن عائشة رضي الله عنها أن يدفن مع صاحبيه (٢): أي النبي صلّى الله عليه وسلم وأبي بكر.
جمع الأقارب في موضع واحد: يستحب أن يجمع الأقارب في موضع واحد، لأن النبي صلّى الله عليه وسلم «ترك عند رأس عثمان بن مظعون صخرة، وقال: أتعلم بها قبر أخي، وأدفن إليه من مات من أهلي» (٣)، ولأن ذلك أسهل لزيارتهم، وأكثر للترحم عليهم.

Hukum Penguburan dalam Rumah
Diperbolehkan dan tidak haram mengubur jenazah di dalam rumah, karena Nabi Muhammad ﷺ dimakamkan di kamar Aisyah radhiyallahu ‘anha (1). Namun, penguburan di dalam rumah untuk selain Nabi, bahkan untuk janin yang gugur sekalipun, hukumnya makruh, karena penguburan di rumah adalah keistimewaan khusus bagi para nabi.

Penguburan di dalam bangunan seperti kubah atau sejenisnya
Makruh hukumnya mengubur jenazah di dalam bangunan seperti kubah atau rumah yang dibangun untuk kelompok tertentu, karena hal ini bertentangan dengan sunnah.

Penguburan di tempat-tempat yang mulia
Dianjurkan mengubur jenazah di pemakaman terbaik, yaitu pemakaman yang banyak terdapat orang-orang saleh dan syuhada, agar keberkahan mereka meliputi jenazah tersebut. Demikian juga dianjurkan mengubur di tempat-tempat yang mulia. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa ketika Nabi Musa ‘alaihis salam menghadapi ajalnya, ia memohon kepada Allah agar mendekatkan dirinya ke tanah suci sejauh lemparan batu. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Jika kalian berada di sana, aku akan tunjukkan kepada kalian makamnya di dekat bukit pasir merah.” Selain itu, Umar radhiyallahu ‘anhu meminta izin kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha untuk dimakamkan bersama dua sahabatnya (2), yakni Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar.

Mengumpulkan keluarga di satu tempat pemakaman
Dianjurkan mengumpulkan jenazah keluarga di satu tempat pemakaman, karena Nabi Muhammad ﷺ meninggalkan tanda berupa batu di kepala makam Utsman bin Mazh’un dan bersabda, “Aku meletakkan tanda ini untuk mengenal makam saudaraku, dan aku akan mengubur di sini siapa saja dari keluargaku yang meninggal.” (3). Hal ini juga memudahkan ziarah kubur dan memperbanyak doa untuk mereka.

Syekh Muhammad al-Ramli menyebutkan:

نهاية المحتاج .ج٣ص٣٨
قال الزركشي وغيره: “ولا ينبغي التخصيص بالثلاثة، لو كان بقرب مقابر أهل الصلاح والخير فالحكم كذلك، لأن الشخص يقصد الجار الحسن”

(Nihayah al-Muhtaj, juz 3, hal. 38)

“Al-Imam al-Zarkasyi dan lainnya mengatakan, tidak seharusnya hanya dikhususkan pada tiga tempat (Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis). Jika lokasi pemakaman dipindahkan ke dekat makam orang-orang saleh, maka hukumnya tetap sunnah karena seseorang menghendaki tetangga yang baik.”

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين للشيخ البكري
الدمياطي ج ٣ص٢٥٥

ويشترط في الموصى فيه كونه تصرفا ماليا
مباحا، فلا يصح الإيصاء في تزويج نحو بنته أو ابنه، لأن هذا لا يسمى تصرفا ماليا، وأيضا غير الأب والجد لا يزوح الصغيرة والصغير، ولا في معصية، كبناء كنيسة للتعبد، لكون الإيصاء قربة، وهو تنافي المعصية

[Al-Bakri Ad-Dimyathi, I’anatuth Thalibin ‘ala Hilli Alfaz Fathil Mu’in, jilid 3, halaman 255].

“Disyaratkan dalam hal yang diwasiatkan (agar sah wasiat tersebut) adalah sesuatu yang termasuk dalam kategori tindakan finansial yang diperbolehkan. Maka tidak sah wasiat untuk menikahkan, misalnya, putrinya atau putranya, karena hal ini tidak disebut sebagai tindakan finansial. Selain itu, selain ayah dan kakek tidak boleh menikahkan anak kecil perempuan atau laki-laki. (Wasiat juga tidak sah) untuk perkara maksiat, seperti membangun gereja untuk beribadah, karena wasiat itu merupakan ibadah (yang mendekatkan diri kepada Allah), sehingga tidak sesuai dengan maksiat.”

الكتاب  كتاب أذكار المرض والموت وما يتعلق بهما  باب ما ينفع الميت من قول غيره

ثم أقيموا حول قبري قدر ما تنحر جزور، ويقسم لحمها أستأنس بكم، وأنظر ماذا أراجع به رسل ربي.

قلت: قوله: شنوا، روي بالسين المهملة وبالمعجمة، ومعناه: صبّوه قليلاً قليلاً.

وروينا في هذا المعنى حديث حذيفة المتقدم في ” باب إعلام أصحاب الميت بموته “، وغير ذلك من الأحاديث، وفيما ذكرناه كفاية وبالله التوفيق.

قلت: وينبغي أن لا يقلد الميتُ ويتابع في كلّ ما وصَّى به، بل يُعرض ذلك على أهل العلم، فما أباحوه فعل، وما لا فلا.

وأنا أذكر من ذلك أمثلة، فإذا أوصى بأن يدفن في موضع من مقابر بلدته، وذلك الموضع معدن الأخيار، فينبغي أن يُحافظ على وصيته، وإذا أوصى بأن يُصلِّي عليه أجنبي، فهل يُقَدَّم في الصلاة على أقارب الميت؟ فيه خلاف للعلماء، والصحيح في مذهبنا: أن القريب أولى، لكن إن كان الموصَى له ممّن يُنسب إلى الصلاح أو البراعة في العلم مع الصيانة والذكر الحسن، استحبّ للقريب الذي ليس هو في مثل حاله إيثار رعاية لحقّ الميت، وإذا أوصى بأن يُدفن في تابوت، لم تنفذ

وصيته إلا أن تكون الأرض رخوة أو نديّة يحتاج فيها إليه، فتُنفذ وصيّته فيه، ويكون من رأس المال كالكفن.

وإذا أوصى بأن يُنقل إلى بلد آخر، لا تنفّذ وصيّته، فإن النقلّ حرامٌ على المذهب الصحيح المختار الذي قاله الأكثرون، وصرّح به المحققون، وقيل: مكروه.

قال الشافعي رحمه الله: إلا أن يكون بقرب مكة، أو المدينة، أو بيت المقدس، فيُنقل إليها لبركتها.

وإذا أوصى بأن يُدفَن تحته مِضربة، أو مخدة تحتَ رأسه، أو نحو ذلك، لم تُنفذ وصيّته.

وكذا إذا أوصى بأن يُكفَّن في حرير، فإن تكفينَ الرجال في الحرير حرام، وتكفينُ النساء فيه مكروهٌ، وليس بحرام، والخنثى في هذا كالرجل.

ولو أوصى بأن يُكَفَّن فيما زاد على عدد الكفن المشروع، أو في ثوب لا يَستر البدن لا تنفذ وصيّته.

ولو أوصى بأن يُقرأ عند قبره، أو يُتصدّق عنه، وغير ذلك من أنواع القرب، نفذت وصية إلا أن يقترن بها ما يمنع الشرع منها بسببه.

ولو أوصى بأن تُؤَخَّرَ جنازته زائداً على المشروع، لم تنفذ.

ولو أوصى بأن يُبنى عليه في مقبرة مسبَّلة للمسلمين، لم تنفّذ وصيته، بل ذلك حرام.

Kitab Adzkar al-Maradh wa al-Maut wa Ma Yata‘allaqu Bihima – Bab: Apa yang Bermanfaat bagi Mayit dari Ucapan Orang Lain

Kemudian, berdirilah di sekitar kuburku selama waktu yang diperlukan untuk menyembelih seekor unta dan membagi dagingnya. Aku merasa terhibur dengan keberadaan kalian dan akan melihat apa yang dapat aku persiapkan untuk menghadapi utusan Tuhanku.

Aku berkata: Ucapannya “shanwu” diriwayatkan dengan sin muhmalah dan sin mu‘jamah (huruf sin tanpa titik dan huruf shin bertitik). Maknanya adalah menuangkan sedikit demi sedikit.

Kami juga meriwayatkan dalam makna ini hadis Hudzaifah yang disebutkan sebelumnya dalam “Bab: Mengabarkan Kematian kepada Kerabat Si Mayit,” dan hadis-hadis lainnya. Dalam apa yang telah kami sebutkan terdapat kecukupan. Hanya kepada Allah kami memohon taufik.

Aku berkata: Seharusnya tidak semua wasiat mayit ditaati dan diikuti begitu saja. Sebaliknya, wasiat tersebut harus ditinjau oleh para ulama. Apa yang mereka perbolehkan, maka dilaksanakan, dan apa yang tidak, maka tidak dilaksanakan.

Aku akan menyebutkan beberapa contohnya: Jika seseorang berwasiat untuk dikuburkan di suatu tempat di pemakaman desanya, dan tempat tersebut adalah kawasan orang-orang saleh, maka wasiat tersebut sebaiknya dipertahankan. Jika ia berwasiat agar dishalati oleh orang asing, apakah ia lebih diutamakan daripada kerabat si mayit? Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang sahih menurut mazhab kami adalah bahwa kerabat lebih berhak. Namun, jika orang yang diwasiati adalah seorang yang dikenal saleh, ahli ilmu dengan sifat yang terjaga, dan memiliki reputasi baik, maka disunnahkan bagi kerabat yang tidak memiliki kualitas serupa untuk mengutamakan hak si mayit dengan melaksanakan wasiatnya.

Jika ia berwasiat untuk dikubur dalam peti, wasiatnya tidak dilaksanakan kecuali tanah tersebut lunak atau lembap sehingga memerlukannya. Maka, wasiatnya dilaksanakan dan biayanya diambil dari harta mayit sebagaimana kain kafan.

Jika ia berwasiat agar dipindahkan ke negeri lain, wasiatnya tidak dilaksanakan. Pemindahan jenazah adalah haram menurut pendapat sahih yang dipilih oleh mayoritas ulama dan dinyatakan tegas oleh para peneliti. Sebagian mengatakan makruh.

Imam Syafi‘i rahimahullah berkata: Kecuali jika berada di dekat Makkah, Madinah, atau Baitul Maqdis, maka jenazah dipindahkan ke tempat tersebut karena keberkahannya.

Jika ia berwasiat untuk dikubur dengan alas atau bantal di bawah kepalanya, atau sejenisnya, wasiatnya tidak dilaksanakan.

Demikian pula, jika ia berwasiat untuk dikafani dengan kain sutra, maka wasiatnya tidak dilaksanakan. Mengafani laki-laki dengan sutra adalah haram, sedangkan bagi wanita hukumnya makruh, tetapi tidak haram. Untuk khuntsa (berjenis kelamin ambigu), hukumnya seperti laki-laki.

Jika ia berwasiat untuk dikafani dengan kain yang melebihi jumlah kafan yang disyariatkan, atau dengan kain yang tidak dapat menutupi tubuh, wasiatnya tidak dilaksanakan.

Jika ia berwasiat agar dibacakan Al-Qur’an di kuburnya, disedekahkan atas namanya, atau amalan lain dari jenis ibadah, maka wasiatnya dilaksanakan kecuali jika ada hal yang menyebabkan syariat melarangnya.

Jika ia berwasiat agar pemakamannya ditunda lebih lama dari waktu yang disyariatkan, wasiatnya tidak dilaksanakan.

Jika ia berwasiat agar dibangun sesuatu di atas kuburnya di pekuburan umum milik kaum muslimin, wasiatnya tidak dilaksanakan. Bahkan, hal itu haram.

كتاب المذهب في فقه الإمام الشافعي الشيرازي ص٢٥٣
فصل: دفن الميت فرض على الكفاية لأن في تركه على وجه الأرض هتكاً لحرمته ويتأذى الناس برائحته والدفن في المقبرة أفضل لأن النبي صلى الله عليه وسلم كان يدفن الموتى بالبقيع ولأنه يكثر الدعاء له ممن يزوره ويجوز الدفن في البيت لأن النبي صلى الله عليه وسلم دفن في حجرة عائشة رضي الله عنها فإن قال بعض الورثة يدفن في المقبرة وقال بعضهم يدفن في البيت دفن في المقبرة لأن له حقاً في البيت فلا يجوز إسقاطه ويستحب أن يدفن في أفضل مقبرة لأن عمر رضي الله عنه استأذن عائشة رضي الله عنها أن يدفن مع صاحبيه ويستحب أن تجمع الأقارب في موضع واحد لما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم ترك عند رأس عثمان بن مظعون صخرة وقال أعلم بها على قبر أخي لأدفن إليه من مات وإن تشاح اثنان في مقبرة مسبلة قدم السابق منهما لقوله صلى الله عليه وسلم: “مني مناخ من سبق”

Fasal:

Menguburkan jenazah adalah fardhu kifayah, karena membiarkannya di atas permukaan bumi dapat merusak kehormatannya, dan orang-orang akan terganggu oleh baunya.

Mengubur di pemakaman umum lebih utama karena Nabi ﷺ menguburkan para jenazah di Baqi’. Selain itu, banyak orang yang berziarah ke pemakaman umum, sehingga lebih banyak doa yang dipanjatkan untuknya.

Namun, diperbolehkan menguburkan jenazah di dalam rumah, karena Nabi ﷺ sendiri dimakamkan di kamar Aisyah رضي الله عنها. Jika sebagian ahli waris menghendaki jenazah dimakamkan di pemakaman umum, sedangkan sebagian lainnya ingin jenazah dimakamkan di rumah, maka jenazah dimakamkan di pemakaman umum. Hal ini karena rumah adalah hak bersama ahli waris, sehingga tidak boleh mengabaikan hak mereka.

Disunnahkan untuk menguburkan jenazah di pemakaman terbaik, seperti saat Umar رضي الله عنه meminta izin kepada Aisyah رضي الله عنها agar dapat dimakamkan bersama kedua sahabatnya (Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه).

Disunnahkan juga mengumpulkan jenazah keluarga di tempat yang sama, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ meletakkan sebuah batu di dekat kepala Utsman bin Mazh’un رضي الله عنه, seraya bersabda: “Tandailah dengan ini kubur saudaraku, agar aku dapat menguburkan di dekatnya orang yang wafat setelahnya.”

Jika dua orang berselisih mengenai tempat di pemakaman umum yang diwakafkan, maka yang berhak adalah yang lebih dahulu tiba, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Siapa yang lebih dahulu tiba, maka tempat itu menjadi miliknya.”

حاشية إعانة الطالبين – (٣ /٢٥٥)
(تتمة) تعرض للوصية ولم يتعرض للايصاء وقد ترجم له الفقهاء بفصل مستقل ولا بد من التعرض له تكميلاً للفائدة – فأقول حاصل الكلام عليه أن الإيصاء لغة الإيصال كالوصية وشرعاً إثبات تصرف مضاف لما بعد الموت ولو تقديراً وإن لم يكن فيه تبرع كالايصاء بالقيام على أمر أطفاله ورد ودائعه وقضاء ديونه فإنه لا تبرع في شيء من ذلك بخلاف الوصية فإنه لا بد فيها من التبرع وأركانه أربعة موصي ووصي وموصى فيه وصيغة وشرط في الموصي بقضاء الحقوق التي عليه وتنفيذ الوصايا ورد الودائع ونحوها ما تقدم في الموصي بمال من كونه مالكا بالغاً عاقلاً حراً مختاراً. وشرط في الموصي بنحو أمر طفل ومجنون ومحجور عليه بسفه مع ما مر من الشروط أن يكون له ولاية عليه ابتداء من الشرع لا بتفويض فلا يصح الإيصاء من صبي ومجنون ورقيق ومكره ولا من أم وعم لعدم الولاية عليهما ولا من الوصي لأن ولايته ليست شرعية ابتداء بل جعلية بتفويض الأب أو الجد إليه إلا إن أذن له فيه كأن قال أوص عني فأوصى عن الولي لا عن نفسه ولا يصح الإيصاء من أب على ولده والجد بصفة الولاية لأن ولايته ثابتة شرعاً ابتداء بخلاف الوصي كما علمت وشرط في الوصي الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والعدالة والاهتداء إلى التصرف وعدم عداوة منه للمولى عليه وعدم جهالة فلا يصح الإيصاء إلى من فقد شيئاً من ذلك كصبي ومجنون وفاسق ومن به رق أو عداوة وكافر على مسلم ومن لا يكفي في التصرف لهرم أو سفه. وتعتبر الشروط المذكورة عند الموت، لا عند الإيصاء ولا بينهما لأنه وقت التسلط على القبول حتى لو أوصى لمن خلا عن الشروط أو بعضها كصبي ورقيق ثم استكملها عند الموت صح ولا يضر عمى لأن الأعمى متمكن من التوكيل فيما لا يتمكن منه ولا أنوثة لما في سنن أبي داود أن عمر رضي الله عنه أوصى إلى حفصة رضي الله عنها وإذا جمعت أم الطفل الشروط المذكورة فهي أولى من غيرها، لوفور شفقتها واستجماعها للشروط معتبر عند الإيصاء. قال في التحفة وقول غير واحد عند الموت عجيب لأن الأولوية إنما تخاطب بها الموصي، وهو لا علم بما عند الموت. اهـ.
ويشترط في الموصى فيه كونه تصرفاً مالياً مباحاً، فلا يصح الإيصاء في تزويج نحو بنته أو ابنه لأن هذا لا يسمى تصرفاً مالياً وأيضاً غير الأب والجد لا يزوج الصغيرة والصغير ولا في معصية كبناء كنيسة للعبادة لكون الإيصاء قربة وهو تنافي المعصية

(Hasyiah I’anah al-Talibin – Jilid 3, halaman 255)
(Lanjutan) Telah dibahas tentang wasiat, namun belum dibahas tentang wasiat khusus (iṣā’). Para ulama telah membahasnya dalam bab tersendiri, dan perlu kita bahas juga untuk melengkapi pembahasan.
Intinya, wasiat secara bahasa berarti menyampaikan sesuatu, sama seperti wasiat. Secara syariat, wasiat adalah penetapan suatu tindakan yang berlaku setelah kematian, meskipun tidak ada unsur pemberian (hibah). Contohnya, wasiat untuk mengurus anak-anak, mengembalikan titipan, atau melunasi utang, tidak mengandung unsur pemberian. Berbeda dengan wasiat, yang harus mengandung unsur pemberian. Rukun wasiat ada empat: orang yang berwasiat, orang yang diwasiati, objek wasiat, dan kalimat wasiat. Syarat bagi orang yang berwasiat adalah telah melunasi semua hak orang lain, melaksanakan wasiat sebelumnya, dan mengembalikan titipan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya untuk orang yang berwasiat dengan harta. Syarat bagi orang yang diwasiati untuk urusan seperti mengurus anak atau orang gila adalah memiliki wewenang secara syariat sejak awal, bukan karena pemberian wewenang. Oleh karena itu, wasiat tidak sah dari anak kecil, orang gila, budak, orang yang dipaksa, ibu, paman, atau dari wali karena wewenang wali bukan dari syariat sejak awal, melainkan karena pemberian wewenang dari ayah atau kakek, kecuali jika diizinkan oleh mereka. Wasiat dari ayah kepada anak dan kakek dengan status sebagai wali juga tidak sah karena wewenangnya sudah ada sejak awal secara syariat, berbeda dengan wali. Syarat bagi orang yang diwasiati adalah seorang muslim, baligh, berakal sehat, merdeka, adil, mampu bertindak, tidak bermusuhan dengan orang yang diwasiati, dan tidak bodoh. Oleh karena itu, wasiat tidak sah kepada orang yang tidak memenuhi salah satu syarat tersebut, seperti anak kecil, orang gila, fasik, budak, orang yang bermusuhan, kafir terhadap seorang muslim, atau orang yang tidak mampu bertindak karena tua atau bodoh. Syarat-syarat tersebut berlaku pada saat kematian, bukan pada saat membuat wasiat atau di antaranya, karena saat kematian adalah saat seseorang memiliki kekuasaan penuh untuk menerima atau menolak. Bahkan jika seseorang berwasiat kepada orang yang tidak memenuhi syarat atau sebagian syarat, kemudian orang tersebut memenuhi syarat saat kematian, maka wasiatnya tetap sah. Kebutaan tidak menjadi masalah karena orang buta bisa menunjuk wakil untuk melakukan apa yang tidak bisa dia lakukan sendiri. Begitu pula dengan perempuan, karena dalam Sunan Abi Dawud disebutkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berwasiat kepada Hafsah radhiyallahu ‘anha. Jika seorang ibu memenuhi semua syarat yang disebutkan, maka dia lebih berhak daripada orang lain karena kasih sayangnya dan karena dia telah memenuhi semua syarat yang diperlukan untuk menjadi seorang wasi. Dalam kitab at-Tahfīh disebutkan, “Aneh jika ada yang mengatakan bahwa syarat berlaku pada saat kematian.” Hal ini karena syarat utama ditujukan kepada orang yang berwasiat, dan dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi saat kematian.
Syarat-syarat objek wasiat:
Objek wasiat haruslah sesuatu yang bersifat materi dan halal. Oleh karena itu, wasiat untuk menikahkan anak perempuan atau anak laki-laki tidak sah karena bukan termasuk tindakan materi, dan juga tidak sah bagi selain ayah atau kakek untuk menikahkan anak perempuan atau anak laki-laki yang masih kecil. Demikian pula, wasiat untuk melakukan perbuatan maksiat seperti membangun gereja juga tidak sah karena wasiat adalah ibadah dan bertentangan dengan perbuatan maksiat.

Wallahu a‘lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

SALAM DALAM ISAM DAN PERSPEKTIF TERHADAP SALAM NON MUSLIM

Salam dalam Islam dan Perspektif terhadap Salam Non Muslim

Latar Belakang

Salam adalah salah satu bentuk ibadah yang diajarkan dalam Islam dan menjadi identitas umat Muslim. Salam Islami, yaitu:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

adalah ucapan yang mengandung doa keselamatan, keberkahan, dan rahmat dari Allah SWT. Salam ini merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW dan menjadi syiar yang membedakan umat Islam dari yang lain.

Namun, dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, penggunaan salam dari tradisi agama lain seperti Om Swastiastu (Hindu) atau Namo Buddhaya (Buddha) sering kali muncul, khususnya dalam acara resmi yang melibatkan berbagai kelompok agama. Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan umat Islam mengenai hukum menggunakan salam non-Islam, terutama terkait menjaga identitas keislaman tanpa mengurangi penghormatan terhadap keberagaman.

Pertanyaan

Bagaimana hukum mengucapkan salam dengan selain yang diajarkan dalam Islam?

Waalaikum salam

Jawaban

1. Hukum Salam Islami

Salam Islami yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Salam ini dianjurkan ( disunnatkan ) dalam konteks syariat sebagai bentuk penghormatan dan do’a serta identitas umat Islam dan pembeda dari ucapan agama lain. Nabi Muhammad SAW bersabda:

أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Salam Islami menjadi doa keselamatan, keberkahan, dan rahmat dari Allah SWT kepada sesama Muslim, sekaligus simbol syiar Islam yang wajib dijaga.

2. Hukum Menggunakan Salam Non-Islam

a. Dalam Konteks Formal untuk Menghormati Audiens Lintas Agama
Jika salam seperti Om Swastiastu, Namo Buddhaya, atau Rahayu digunakan dalam acara resmi untuk menghormati audiens lintas agama tidak termasuk salam karena tidak memenuhi syarat salam yaitu harus berharkat tanwin atau memakai awalan huruf al :

نووي الجاوي ,نهاية الزين , ٣٦١]

وصيغته الَّتِي يجب فِيهَا الرَّد السَّلَام عَلَيْكُم أَو سَلام عَلَيْكُم بتنوين سَلام وَيكرهُ عَلَيْكُم السَّلَام وَعَلَيْكُم سَلام وَإِن وَجب الرَّد فيهمَا وَلَا يَكْفِي سَلام عَلَيْكُم بترك التَّنْوِين وأل وَكَذَا لَو قَالَ وَعَلَيْكُم السَّلَام بِالْوَاو أَو اقْترن بالصيغة مَا هُوَ من تَحِيَّة الْجَاهِلِيَّة كَأَن قَالَ السَّلَام عَلَيْكُم صبحكم بِالْخَيرِ أَو صبحكم بِالْخَيرِ السَّلَام عَلَيْكُم فَلَا يجب الرَّد فِي ذَلِك وَلَو قَالَ السَّلَام عَلَيْكُم وَرَحْمَة الله وَبَرَكَاته وَجب الرَّد وَلَكِن الأولى التقليل عَن ذَلِك ليبقى للراد شَيْء يزِيد بِهِ على المبتدىء بِالسَّلَامِ كَمَا هُوَ الْأَكْمَل لَهُ والقارىء كَغَيْرِهِ فِي اسْتِحْبَاب ابْتِدَاء السَّلَام عَلَيْهِ وَوُجُوب الرَّد بِاللَّفْظِ على الْمُعْتَمد.

Kitab Nihayah al-Zain karya Nawawi al-Jawi

Dan lafaz salam yang wajib dijawab adalah: “Assalamu ‘alaikum” atau “Salamun ‘alaikum” dengan tanwin pada kata salam.
Adapun jika seseorang mengatakan, ‘Alaikum assalam atau ‘Alaikum salam, hukumnya makruh, meskipun wajib dijawab dalam kedua bentuk tersebut. Tidak cukup dengan hanya mengatakan Salamun ‘alaikum tanpa tanwin dan alif-lam (pada kata salam).

Demikian pula, jika seseorang mengatakan Wa ‘alaikum assalam dengan menggunakan huruf wawu (dan), maka itu tidak mencukupi.
Selain itu, apabila salam digabungkan dengan ungkapan dari tradisi Jahiliyah, seperti seseorang mengatakan:
“Assalamu ‘alaikum subhukum bilkhair” (Salam sejahtera atas kalian, semoga pagi kalian diberkahi dengan kebaikan)
atau “Subhukum bilkhair assalamu ‘alaikum” (Semoga pagi kalian diberkahi dengan kebaikan, salam sejahtera atas kalian), maka dalam kasus seperti ini tidak wajib menjawab salam tersebut.

Namun, jika seseorang mengatakan: “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” maka wajib menjawab salam tersebut. Akan tetapi, lebih utama untuk mengurangi tambahan dari salam tersebut agar bagi orang yang menjawab tetap memiliki sesuatu yang bisa ditambahkan dari salam yang diberikan oleh orang yang memulai, sebagaimana ini adalah bentuk yang paling sempurna baginya.

Adapun orang yang membaca (Al-Qur’an) juga dianjurkan memulai salam atasnya, dan wajib menjawab salamnya dengan lafaz yang diucapkan menurut pendapat yang kuat.

Adapun hukumnya adalah Makruh jika tidak diniatkan sebagai bentuk pengakuan terhadap ajaran agama lain.

Haram jika ada niat menyerupai, mengakui, atau meridhai ajaran agama lain.

b. Dalam Konteks Sapaan Umum
Jika salam tersebut digunakan sebagai sapaan umum tanpa niat religius, hukumnya tetap lebih baik dihindari. Hal ini karena salam tersebut tidak mengandung doa keselamatan sebagaimana salam Islami.

3. Alternatif Salam dalam Acara Formal

Dalam acara yang melibatkan audiens dari berbagai latar belakang, seorang Muslim dapat menggunakan format seperti:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، وَسَلَامًا لِمَنْ تَبِعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah kepada kita semua, serta kepada mereka yang mengikuti petunjuk.”

Format ini tetap menunjukkan identitas keislaman sambil menghormati keberagaman.

4. Dalil Pendukung

1. Firman Allah:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya.” (QS. Ali Imran: 85)

2. Sabda Nabi Muhammad SAW:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

5. Penjelasan Makna Salam Non-Islam

a. Om Swastiastu

Berasal dari: Bahasa Sanskerta (tradisi Hindu).

Makna:

“Om” adalah panggilan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Swasti” berarti keselamatan atau kebaikan.

“Astu” berarti semoga.
Jadi, Om Swastiastu berarti:
“Semoga keselamatan, kebahagiaan, dan kebaikan selalu menyertai Anda.”

b. Namo Buddhaya

Berasal dari: Bahasa Pali (tradisi Buddha).

Makna:

“Namo” berarti penghormatan.

“Buddhaya” berarti kepada Buddha.
Jadi, Namo Buddhaya berarti:
“Penghormatan kepada Buddha.”

6. Kesimpulan

1. Salam Islami wajib dijaga sebagai identitas Muslim dan sarana syiar Islam.

2. Menggunakan salam non-Islam seperti Om Swastiastu atau Namo Buddhaya hukumnya:

Haram jika ada niat meridhai atau menyerupai tradisi agama lain.

Makruh jika digunakan tanpa niat religius, namun tetap lebih baik dihindari.

3. Sebagai Muslim, disarankan menggunakan salam Islami seperti:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

(“Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah kepada kalian.”)

Tambahkan Referensi:

{شرح النووي على مسلم، ج ١٤ ص ١٤٥}
ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﺭﺩ اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ اﻟﻜﻔﺎﺭ ﻭاﺑﺘﺪاﺋﻬﻢ ﺑﻪ

Artinya : Para Ulama’ berbeda pendapat dalam hukum menjawab salam dari orang-orang kafir, dan hukum orang-orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita.

ﻓﻤﺬﻫﺒﻨﺎ ﺗﺤﺮﻳﻢ اﺑﺘﺪاﺋﻬﻢ ﺑﻪ ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺭﺩه ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺑﺄﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻭﻋﻠﻴﻜﻢ ﺃﻭ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻓﻘﻂ٠ ﻭﺩﻟﻴﻠﻨﺎ ﻓﻲ اﻻﺑﺘﺪاء ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻻﺗﺒﺪﺃﻭا اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﻻاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺑاﻟﺴﻼﻡ٠ ﻭﻓﻲ الرد ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﻮﻟﻮا ﻭﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺑﻬﺬا اﻟﺬﻱ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻋﻦ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﻗﺎﻝ ﺃﻛﺜﺮ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻭﻋﺎﻣﺔ اﻟﺴﻠﻒ

Adapun madzhab kami (Syafi’iyah) berpendapat bahwa haram hukumnya orang-orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita, dan kita wajib menjawab salam orang-orang kafir dengan ucapan : “wa alaikum” atau “alaikum” saja. Adapun dalil kami dalam hal mengawali ucapan salam kepada orang-orang kafir adalah sabda Rosululloh : “Janganlah kalian mengawali mengucap salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani”.
Adapun dalil menjawab salam orang kafir adalah Sabda Rosululloh SAW: ” (jika orang-orang kafir mengucapkan salam kepada kalian) maka ucapkanlah wa alaikum”. Dan pendapat madzhab kami ini merupakan pendapat kebanyakan Ulama’ serta pendapat umum Ulama’ salaf.

ﻭﺫﻫﺒﺖ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﺇﻟﻰ ﺟﻮاﺯ اﺑﺘﺪاﺋﻨﺎ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ ﺭﻭﻱ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻭﺃﺑﻲ ﺃﻣﺎﻣﺔ ﻭ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ ﻣﺤﻴﺮﻳﺰ ﻭﻫﻮ ﻭﺟﻪ ﻟﺒﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺣﻜﺎﻩ اﻟﻤﺎﻭﺭﺩﻯ ﻟﻜﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﻳﻘﻮﻝ اﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻚ ﻭﻻﻳﻘﻮﻝ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﺠﻤﻊ ﻭاﺣﺘﺞ ﻫﺆﻻء ﺑﻌﻤﻮﻡ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻭﺑﺈﻓﺸﺎء اﻟﺴﻼﻡ
ﻭﻫﻲ ﺣﺠﺔ ﺑﺎﻃﻠﺔ ﻷﻧﻪ ﻋﺎﻡ ﻣﺨﺼﻮﺹ ﺑﺤﺪﻳﺚ ﻻﺗﺒﺪﺃﻭ اﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﻻاﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ

Segolongan Ulama’ berpendapat kita boleh mengawali salam kepada orang-orang kafir. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abu Umamah, Ibnu Abi Muhairiz, itu juga salah satu pendapat sebagian madzhab kami, hal ini diceritakan oleh Imam Mawardi, tetapi orang yang mengawali mengucapkan salam tersebut cukup mengucap “assalamualaika” dan tidak boleh mengucapkan “assalamualaikum” dengan sighot(bentuk lafal) jama’.
Berhujjah dengan dalil tersebut adalah salah, karena hadist tersebut bersifat umum yang kemudian ditakhshis(di khususkan) dengan hadist : “Janganlah kalian mengawali mengucap salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani”.

ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻳﻜﺮﻩ اﺑﺘﺪاﺅﻫﻢ ﺑﺎﻟﺴﻼﻡ ﻭﻻﻳﺤﺮﻡ ﻭﻫﺬا ﺿﻌﻴﻒ ﺃﻳﻀﺎ ﻷﻥ اﻟﻨﻬﻲ ﻟﻠﺘﺤﺮﻳﻢ ﻓﺎﻟﺼﻮاﺏ ﺗﺤﺮﻳﻢ اﺑﺘﺪاﺋﻬﻢ
ﻭﺣﻜﻰ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﻦ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻧﻪ ﻳﺠﻮﺯ اﺑﺘﺪاﺅﻫﻢ ﺑﻪ ﻟﻠﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭاﻟﺤﺎﺟﺔ ﺃﻭ ﺳﺒﺐ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻋﻠﻘﻤﺔ ﻭاﻟﻨﺨﻌﻲ

Sebagian pengikut Madzhab Syafi’iyah berpendapat : “Orang-orang kafir mengawali mengucapkan salam kepada kita hukumnya makruh, tidak haram. Pendapat ini juga dloif karena fungsi nahi dalam hadist tersebut adalah untuk pengharaman, jadi yang benar adalah hukum orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita adalah haram.
Qodli Husain menceritakan pendapat dari segolongan Ulama’, bahwa boleh orang -orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita karena dlorurot, adanya hajat (keperluan)atau karena satu sebab tertentu, ini merupakan pendapat Al-Qomah dan An-Nakho’i.

Wallahu a’lam.

Kategori
Uncategorized

ZAKAT EMAS: PERHITUNGAN DAN KETENTUAN

Zakat Emas: Perhitungan dan Ketentuan

Assalaamualaikum

Latar Belakang
Seseorang memiliki emas sebanyak 100 gram dan telah mencapai haul (1 tahun). Emas tersebut telah mencapai nisab, yaitu 85 gram.

Pertanyaan

1. Apakah kelebihan emas dari 85 gram wajib dizakati?

2. Berapa besar zakat yang harus dikeluarkan?

Wa’alaikumussalam.

Jawaban

Ya, kelebihan emas dari 85 gram wajib dizakati.

Perhitungan Zakat Emas

1. Jumlah emas: 100 gram

2. Nisab: 85 gram

3. Kelebihan: 15 gram

4. Zakat: 2,5% dari jumlah emas (100 gram)

Perhitungan Zakat

1. Zakat dalam gram: 2,5% x 100 = 2,5 gram

2. Zakat dalam rupiah: 2,5% x Rp60.000.000 = Rp1.500.000

Perhitungan Zakat Kelebihan

1. Zakat dari 15 gram: 2,5% x Rp9.000.000 = Rp225.000

2. Jumlah zakat total: Rp1.500.000 + Rp225.000 = Rp1.725.000

Rp1.725.000 ÷ Rp600.000/gram = 2,875 gram

Jadi, zakat emas yang harus dibayarkan setara dengan 2,875 gram emas.

Sumber

1. Fathul Qarib

2. Kitab Fiqh Sunnah oleh Sayyid Sabiq

3. Fatwa-fatwa ulama kontemporer

4. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

Ketentuan Nisab Emas
Menurut Fathul Qarib Al-Mujib (hal. 127):

Nisab emas: 20 mitsqal (sekitar 85 gram)

 Zakat dikenakan atas kelebihan dari 20 mitsqal.

Perhitungan zakat: 2,5% dari jumlah emas.

Catatan

 1 mitsqal ≈ 4,25 gram

 Nisab emas ≈ 85 gram

 Zakat emas 2,5% dari jumlah emas yang dimiliki.

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب، صفحة ١٢٧
{فصل} `(ونصاب الذهب عشرون مثقالا)` تحديدا بوزن مكة، والمثقال درهم وثلاثة أسباع درهم، `(وفيه) أي نصاب الذهب (ربع العشر،` وهو نصف مثقال، `وفيما زاد) على عشرين مثقالا (بحسابه) وإن قل الزائد.`والله أعلم بالصواب

“Fathul Qarib Al-Mujib” halaman 127, disebutkan:

“Bagian: Nisab Emas

Nisab emas adalah 20 mitsqal, ditentukan berdasarkan berat Makkah, dimana 1 mitsqal sama dengan 1 dirham dan 3/4 dirham. Dalam hal ini, nisab emas adalah 1/4 dari 10 mitsqal, yaitu setengah mitsqal. Zakat dikenakan atas kelebihan dari 20 mitsqal, berdasarkan perhitungan yang sama, meskipun kelebihannya .sedikit.”

Kategori
Uncategorized

TINJAUAN FIQIH TERHADAP AKAD KERJASAMA DALAM MEKANISME UPAH DAN LABA DITOKO SEMBAKO: STUDI KASUS ANTARA MAHMUDI, MAHMUDAH DAN MAHMUD

Tinjauan Fiqh terhadap Akad Kerja Sama dalam Mekanisme Upah dan Laba di Toko Sembako: Studi Kasus Mahmudi, Mahmudah, dan Mahmud

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Mahmudi dan Mahmudah adalah pasangan suami istri yang merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah toko sembako milik Mahmud. Mereka sepakat dengan pemilik toko mengenai mekanisme upah dan pembagian keuntungan sebagai berikut:

1. Kesepakatan Upah Harian:

Setiap hasil penjualan harian diambil 10%-nya untuk dijadikan simpanan.

Simpanan tersebut akan dibagi dua antara pemilik toko dan Mahmudi serta Mahmudah di akhir bulan.

Contoh Perhitungan:

Jika hasil penjualan sehari sebesar Rp3 juta, maka 10%-nya (Rp300 ribu) dijadikan simpanan.

Jika hasil penjualan sehari sebesar Rp2,5 juta, maka 10%-nya (Rp250 ribu) dijadikan simpanan.

Pada akhir bulan, jumlah simpanan ini dibagi dua secara merata.

2. Kesepakatan Pembagian Laba Barang Toko:

Jika Mahmudi dan Mahmudah berhenti bekerja, nilai barang di toko akan dievaluasi, dan selisih nilai barang saat mulai dan berhenti bekerja akan dianggap sebagai laba atau kerugian.

Jika nilai barang meningkat, selisihnya dianggap laba dan dibagi dua antara pemilik toko dan Mahmudi-Mahmudah.

Contoh:

Jika nilai barang awal sebesar Rp100 juta, lalu saat berhenti menjadi Rp120 juta, maka laba Rp20 juta dibagi dua sehingga Mahmudi dan Mahmudah mendapatkan Rp10 juta.

Jika nilai barang menurun, Mahmudi dan Mahmudah wajib mengganti kerugian sepenuhnya.

Contoh:

Jika nilai barang awal sebesar Rp100 juta, lalu saat berhenti menjadi Rp60 juta, maka pasangan Mahmudi-Mahmudah harus mengganti selisih kerugian sebesar Rp40 juta.

Pertanyaan:

1. Apakah kesepakatan ini sah menurut perspektif fiqh?

2. Akad apa yang sesuai dengan ilustrasi di atas?

Waalaikum salam

Jawaban

Kalau dilihat  deskripsi masalah maka terdapat dua akad , yaitu mudharabah dan ijarah, tetapi untuk memperjelas, mari kita lihat kembali kesepakatan yang ada dalam deskripsi:

1. Kesepakatan Upah Harian (10% dari Penjualan):

Ini lebih mengarah pada akad ijarah karena Mahmudi dan Mahmudah bekerja di toko sebagai karyawan dan menerima upah berdasarkan hasil penjualan. Dalam akad ijarah, seorang pekerja (ma’ajir) bekerja dengan imbalan upah yang telah disepakati sebelumnya. Upah tersebut bisa berupa uang, dan selama pekerjaan mereka sesuai dengan tugas yang diberikan, tidak ada bagian dari kerugian yang dibebankan pada mereka.

Dalam hal ini, meskipun sistemnya 10% dari hasil penjualan, karena upahnya sudah ditetapkan sebelumnya dan tidak ada pembagian laba/kerugian dari bisnis secara keseluruhan, ini lebih tepat disebut ijarah.

Dalam hal ini, mekanisme pembayaran upah harian menggunakan sistem simpanan yang dibagikan di akhir bulan. Selama transparansi terjaga dan tidak menimbulkan sengketa, akad ini dapat dianggap sah.

2. Kesepakatan Pembagian Laba Barang Toko:

Kesepakatan ini lebih mirip dengan akad mudharabah, di mana Mahmudi dan Mahmudah bekerja sebagai pengelola usaha dengan sistem bagi hasil. Pada akad mudharabah, pihak pemilik modal (dalam hal ini pemilik toko) memberikan modal berupa barang, sementara Mahmudi dan Mahmudah mengelola dan berusaha untuk meningkatkan nilai barang tersebut. Laba yang diperoleh kemudian dibagi antara pemilik modal dan pengelola sesuai dengan nisbah yang disepakati.

Namun, ada ketidaksesuaian di sini karena kerugian dalam mudharabah seharusnya ditanggung oleh pemilik modal, kecuali jika terjadi kelalaian dari pengelola. Dalam kesepakatan ini, jika nilai barang menurun, Mahmudi dan Mahmudah diwajibkan mengganti kerugian, yang tidak sesuai dengan prinsip dasar mudharabah. Jadi, jika kesepakatan ini dimaksudkan sebagai mudharabah, mekanismenya harus diperbaiki, terutama mengenai pembebanan kerugian.

Kesimpulan:

Kesepakatan Upah Harian: Ini adalah akad ijarah, karena merupakan perjanjian kerja dengan imbalan upah dan akadnya sah

Kesepakatan Pembagian Laba Barang Toko: Ini mengandung unsur mudharabah, tetapi harus diperbaiki, terutama terkait pembebanan kerugian, yang seharusnya ditanggung oleh pemilik modal (bukan pengelola).Tetapi jika ada kelalaian pengelola maka ia wajib menggantinya

Jadi, Ijara untuk kesepakatan upah harian,

Mudharabah untuk pembagian laba usaha, tetapi dengan perbaikan terkait kerugian ( jika ada kerugian).

Referensi

المجموع شرح المهذب جزء ١٦ص٢٦٥-٢٦٦

فإن قيل : مورد عقد الإجارة إنما هو المنافع لا الأعيان ولهذا لا يصح استئجار الطعام ليأكله والماء ليشربه وأما إجارة الظئر فعلى المنفعة وهي وضع الطفل في حجرها وإلقامه ثديها واللبن يدخل ضمنا وتبعا فهو كنقع البئر في إجارة الدار ويغتفر فيما دخل ضمنا وتبعا ما لا يغتفر في الأصول والمتبوعات
قيل : الجواب عن هذا من وجوه
أحدها : منع كون عقد الإجارة لا يرد إلا على منفعة فإن هذا ليس ثابتا بالكتاب ولا بالسنة ولا بالإجماع وغايته قياس محل النزاع على إجارة الخبز للأكل والماء للشرب وهذا من أفسدالأقيسة فإن الخبز تذهب عينه ولايستخلف مثله بخلاف اللبن فإنه لما كان يستخلف ويحدث شيأ فشيأ كان بمنزلة المنافع ثانيها أن الثمرة يجري مجرى المنافع والفوائد الوقف والعارية ونحوها وهذا تبرع بنماء المال وفائدته فمن دفع عقاره إلى من يسكنه فهو بمنزلة من دفع دابته إلى من يركبها أو
شجرة إلى من يستثمرها وبمنزلة من دفع أرضه إلى من يزرعها وبمنزلة من دفع شاته إلى من يشرب لبنها فهذه الفوائد
تدخل في عقود التبرع وكذلك تدخل في عقد الإجارة

Jika dikatakan: “Objek dalam akad ijarah adalah manfaat, bukan barang, sehingga tidak sah menyewa makanan untuk dimakan atau air untuk diminum. Sedangkan dalam akad menyusui (ijarah zhoir), objek akad adalah manfaat, yaitu meletakkan anak di pangkuan ibu susu dan menyusuinya, sedangkan susu (ASI) menjadi bagian secara tidak langsung dan ikutannya. Hal ini seperti menyewa rumah, di mana air sumur menjadi bagian yang diikutsertakan. Maka, sesuatu yang termasuk secara tidak langsung atau sebagai bagian tambahan dapat ditoleransi, berbeda dengan sesuatu yang menjadi pokok objek akad.”

Maka dijawab:
Terdapat beberapa tanggapan terhadap hal ini:

1. Mengingkari bahwa akad ijarah hanya berlaku pada manfaat (manfa’ah). Pendapat ini tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an, Sunnah, atau ijma’. Paling jauh, ini hanya merupakan qiyas yang membandingkan kasus ini dengan akad menyewa makanan untuk dimakan atau air untuk diminum, yang merupakan qiyas yang lemah. Sebab, makanan habis tak tersisa dan tidak dapat digantikan oleh yang serupa, berbeda dengan susu yang terus diproduksi secara berulang-ulang, sehingga ia menyerupai manfaat.

2. Buah hasil usaha setara dengan manfaat. Ini termasuk dalam keuntungan harta yang berkembang melalui akad tabarru’ (hibah atau kebaikan). Sebagai contoh:

Jika seseorang menyerahkan properti kepada orang lain untuk ditempati, itu sama seperti menyerahkan hewan tunggangan untuk digunakan, pohon untuk diambil buahnya, tanah untuk ditanami, atau kambing untuk diambil susunya. Keuntungan-keuntungan ini dapat masuk dalam akad tabarru’ dan juga sah dalam akad ijarah.

Referensi

بغية المسترشدين ص ٢٠٤

( مسألة ي)
استأجر بستانا لأخذ ثمره لم يصح لورود الإجارة على غير مقصود إذ الأعيان لاتملك قصدا بعقد الإجارة فحينئذ يكون الثمر مِضمونا على صاحبه بأقصى القيم وأسهل الطرق إلى تصحيح هذه المعاملة أن بأجره أرض البستان بأجره معلومة وينذر له بالثمر تلك المدة إذ يصح النذر بالمجهول والمعلوم ولايتوقف على قبض إه

(Masalah Y)
Seseorang menyewa kebun untuk mengambil buahnya, maka akad sewa tersebut tidak sah, karena akad sewa tersebut tertuju pada sesuatu yang bukan menjadi tujuan utama (yaitu buah). Sebab, barang-barang (benda) tidak dapat dimiliki secara langsung dengan akad sewa. Maka, dalam hal ini buah menjadi tanggungan pemiliknya dengan nilai tertinggi. Cara paling mudah untuk memperbaiki transaksi ini adalah dengan menyewakan tanah kebun tersebut dengan upah yang diketahui, lalu ia menghadiahkan buahnya selama masa tersebut. Karena nazar (memberikan sesuatu) itu sah, baik terhadap sesuatu yang belum diketahui maupun yang sudah diketahui, dan nazar tidak bergantung pada penerimaan (dari pihak penerima).

Referensi

حاشية قليوبي وعميرة ج٣ص٧٣

قَوْلُهُ: (أَوْ تَكُونَ مَعْرُوفَةً) وَأَنْ يَقُولَ أَجَرْتُكَهَا لِلسُّكْنَى سَنَةً أَوْ لِتَسْكُنَهَا سَنَةً فَإِنْ قَالَ عَلَى أَنْ تَسْكُنَهَا أَوْ بِشَرْطِ أَنْ تَسْكُنَهَا أَوْ لِتَسْكُنَهَا وَحْدَك لَمْ تَصِحَّ. قَالَ شَيْخُنَا هَذَا إنْ كَانَ مِنْ الْمُؤَجِّرِ، فَإِنْ كَانَ مِنْ الْمُسْتَأْجِرِ صَحَّتْ. كَمَا قَالَ الصَّيْمَرِيُّ إنَّهُ لَوْ قَالَ اسْتَأْجَرْتهَا لِأَسْكُنَهَا وَحْدِي صَحَّ عَلَى الْأَصَحِّ وَلَيْسَ لَهُ سُكْنَى زَوْجَتِهِ مَعَهُ وَإِنْ حَدَثَتْ بَعْدَ الْعَقْدِ وَتَقَدَّمَ أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ ذِكْرِ الْأُجْرَةِ، فَلَوْ قَالَ آجَرْتُكهَا كُلَّ شَهْرٍ بِدِينَارٍ لَمْ تَصِحَّ إلَّا فِي اكْتِرَاءِ الْإِمَامِ لِلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، وَلَوْ قَالَ آجَرْتُكهَا هَذَا الشَّهْرَ بِدِينَارٍ وَمَا بَعْدُ بِحِسَابِهِ أَوْ آجَرْتُكهَا شَهْرًا بِدِينَارٍ فَإِذَا مَضَى فَقَدْ آجَرْتُك شَهْرًا آخَرَ بِحِسَابِهِ صَحَّتْ فِي الشَّهْرِ الْأَوَّلِ فَقَطْ، وَلَوْ قَالَ آجَرْتُكَهَا شَهْرًا ثَلَاثِينَ يَوْمًا كُلَّ يَوْمٍ بِدِرْهَمٍ فَبَانَ تِسْعَةً وَعِشْرِينَ بَانَ بُطْلَانُهَا لِتَعَذُّرِ الْجَمْعِ، كَذَا قِيلَ وَالْوَجْهُ حَمْلُ الشَّهْرِ عَلَى الْعَدَدِيِّ لَا الْهِلَالِيِّ، إلَّا إنْ صَرَّحَ بِاسْمِهِ كَشَهْرِ كَذَا، وَلَوْ قَالَ آجَرْتُكهَا سَنَةً كُلَّ شَهْرٍ بِدِرْهَمٍ صَحَّ وَيَكْفِي فِي تَقْدِيرِ الْمَنْفَعَةِ فِي السُّكْنَى تَقْدِيرُ زَمَنٍ يُقَابَلُ بِأُجْرَةٍ، وَلَوْ دُونَ يَوْمٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ وَاعْلَمْ أَنَّ مَنَافِعَ الْعَقَارِ وَالثِّيَابِ وَالْأَوَانِي وَنَحْوِهَا، لَا تُقَدَّرُ بِالزَّمَنِ؛ لِأَنَّهُ لَا عَمَلَ فِيهَا وَكَذَا الْإِرْضَاعُ وَالِاكْتِحَالُ وَالْمُدَاوَاةُ وَالتَّجْصِيصُ وَالتَّطْيِينُ وَنَحْوُهَا لِاخْتِلَافِ أَقْدَارِهَا.

(Perkataan penulis: “atau harus diketahui”)
Dan juga bahwa seseorang mengatakan, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu untuk dihuni selama satu tahun” atau “agar kamu menempati rumah ini selama satu tahun.” Maka, jika ia mengatakan, “dengan syarat kamu menempatinya” atau “agar kamu menempatinya sendirian,” akad sewa tidak sah. Guru kami mengatakan, hal ini berlaku jika syarat itu datang dari pemilik (yang menyewakan). Namun, jika syarat itu datang dari penyewa, maka akadnya sah. Sebagaimana disebutkan oleh Ash-Shimari bahwa apabila seseorang mengatakan, “Aku menyewa rumah ini untuk aku tinggali sendirian,” maka menurut pendapat yang paling sahih, akad itu sah, dan ia tidak berhak membiarkan istrinya tinggal bersamanya, meskipun istrinya datang setelah akad dibuat.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa menyebutkan upah (sewa) itu wajib. Maka, apabila seseorang berkata, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu setiap bulan dengan satu dinar,” akad tersebut tidak sah kecuali dalam penyewaan oleh imam untuk azan dan iqamah. Jika seseorang berkata, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu bulan ini dengan satu dinar, dan setelahnya dengan perhitungan yang sama,” atau “Aku menyewakan rumah ini kepadamu selama satu bulan dengan satu dinar, dan setelah berlalu, maka aku menyewakan untuk satu bulan lainnya dengan perhitungan yang sama,” maka akad tersebut sah hanya untuk bulan pertama.

Jika seseorang mengatakan, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu selama satu bulan, yaitu tiga puluh hari, setiap hari dengan satu dirham,” tetapi kemudian diketahui bahwa bulan tersebut hanya terdiri dari dua puluh sembilan hari, maka akad itu batal karena ketidakmungkinan menyatukan kesepakatan. Begitu juga dengan pendapat yang mengatakan bahwa bulan harus dihitung berdasarkan jumlah hari, bukan bulan hijriyah, kecuali jika disebutkan secara eksplisit seperti “bulan tertentu.”

Apabila seseorang berkata, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu selama satu tahun, setiap bulan dengan satu dirham,” maka akad tersebut sah. Cukup dalam menentukan manfaat tempat tinggal untuk memperkirakan waktu tertentu yang memiliki nilai sewa, bahkan jika waktu itu kurang dari satu hari, menurut pendapat yang diandalkan.

Ketahuilah bahwa manfaat properti, pakaian, wadah, dan semacamnya tidak diukur dengan waktu, karena tidak ada pekerjaan yang dilakukan padanya. Demikian pula dalam hal menyusui, memakai celak, pengobatan, pengapuran, dan sebagainya, karena perbedaan takarannya.

Referensi

تحفة المحتاج مع حواشى الشروانى ج ٦ ص١٤٣
فإن لم تعلم كآجرتكما كل شهر بدينار لم يصح
(قَوْلُهُ فَإِنْ لَمْ تُعْلَمْ) أَيْ الْمَنْفَعَةُ كَأَجَّرْتُكَهَا كُلَّ شَهْرٍ بِدِينَارٍ إلَى قَوْلِهِ فَإِنْ قَالَ هَذَا الشَّهْرَ وَكُلَّ شَهْرٍ إلَخْ قَالَ فِي الرَّوْضِ فَرْعٌ آجَرَ شَهْرًا وَأَطْلَقَ صَحَّ وَجَعَلَ مِنْ حِينَئِذٍ لَا شَهْرًا مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ وَفِيهَا غَيْرُهُ وَآجَرْتُك مِنْ هَذِهِ السَّنَةِ كُلَّ شَهْرٍ بِدِرْهَمٍ فَاسِدٍ وَكَذَا لَوْ قَالَ كُلَّ شَهْرٍ مِنْهَا لَا هَذِهِ السَّنَةِ كُلَّ شَهْرٍ بِدِرْهَمٍ انْتَهَى قَالَ فِي شَرْحِهِ وَلَوْ قَالَ أَجَرْتُك هَذَا الشَّهْرَ بِدِينَارٍ وَمَا زَادَ فَبِحِسَابِهِ صَحَّ فِي الشَّهْرِ الْأَوَّلِ قَالَهُ الْبَغَوِيّ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ فِي بَيْعِ الْغَرَرِ اجْمَعُوا عَلَى جَوَازِ الْإِجَارَةِ شَهْرًا مَعَ أَنَّهُ قَدْ يَكُونُ ثَلَاثِينَ يَوْمًا وَقَدْ يَكُونُ تِسْعَةً وَعِشْرِينَ بَطَلَ، كَمَا لَوْ بَاعَ الصُّبْرَةَ بِمِائَةِ دِرْهَمٍ كُلَّ صَاعٍ بِدِرْهَمٍ فَخَرَجَتْ تِسْعِينَ مَثَلًا انْتَهَى أَيْ فَيَسْقُطُ الْمُسَمَّى وَتَجِبُ أُجْرَةُ الْمِثْلِ (قَوْلُهُ أَيْ بِمَحَلِّهِ)

(Perkataan penulis: “Jika tidak diketahui”)
Yaitu manfaatnya, seperti mengatakan, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu setiap bulan dengan satu dinar,” hingga perkataannya, “Jika ia mengatakan, bulan ini dan setiap bulan,” maka dalam Ar-Rawdah dikatakan bahwa jika seseorang menyewa untuk satu bulan tanpa menyebutkan bulan tertentu, maka akadnya sah. Dan jika seseorang mengatakan, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu dari tahun ini setiap bulan dengan satu dirham,” maka akad tersebut batal. Begitu juga jika seseorang mengatakan, “Setiap bulan dari tahun ini dengan satu dirham,” maka akadnya batal.

Dalam Syuruh dikatakan, jika seseorang mengatakan, “Aku menyewakan rumah ini kepadamu bulan ini dengan satu dinar, dan setelahnya dengan perhitungan,” maka akad tersebut sah hanya untuk bulan pertama. Hal ini dijelaskan oleh Al-Baghawi, yang mengatakan dalam Al-Majmu’ bahwa dalam transaksi jual beli yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar), para ulama sepakat bahwa sewa untuk satu bulan itu sah meskipun bulan tersebut bisa terdiri dari tiga puluh hari atau dua puluh sembilan hari, dan jika terjadi ketidakcocokan, maka akad sewa dianggap batal. Sebagai contoh, jika seseorang menjual satu takaran dari barang dengan harga satu dirham per sha’, dan jika setelah ditimbang hasilnya berbeda, maka akad tersebut batal, dan sewa atau harga harus dihitung sesuai dengan barang yang sebenarnya (nilai yang sesuai).

Referensi

المجموع شرح المهذب جزء ١٥ ص ٣٨٨

ولو أهدى له شيئا على أن يقضى له حاجة فلم يفعل لزمه رده ان بقى والا فبدله كما قاله الاصطخرى، فإن كان فعلها حل، أي وإن تعين عليه تخليصه بناء على الاصح أنه يجوز أخذ العوض على الواجب إذا كان فيه كلفة، خلافا لما يوهمه كلام الاذرعى وغيره هنا

Dan jika seseorang memberikan hadiah kepadanya dengan syarat agar ia memenuhi suatu kebutuhan, namun ia tidak melakukannya, maka ia wajib mengembalikannya jika barang tersebut masih ada, atau menggantinya jika sudah hilang, seperti yang dikatakan oleh Al-Istakhri. Jika ia melaksanakan kewajiban tersebut, maka itu sah, yaitu jika memang kewajiban untuk menunaikan tugas tersebut sudah jelas baginya, berdasarkan pendapat yang lebih kuat bahwa diperbolehkan menerima imbalan untuk sesuatu yang wajib jika ada kesulitan dalam pelaksanaannya, bertentangan dengan apa yang bisa ditafsirkan dari perkataan Al-Adzra’i dan lainnya.

Referensi

كشاف القناع الجزء الثالث ص : ٥٦٣ الحنابلة
قال ابن عقيل: يجوز إستئجار البئر ليستقى منه أياما معلومة أو يستقى منها دلاء معلومة -إلى أن قال- لأنه إنما يملك بالحيازة كما تقدم قال فى المغنى: وهذا التعليل يقتضى أنه يجوز أن يستأجر منه بركته ليصطاد منها السمك مدة معلومة إنتهى وهو واضع إذا لم تعمل للسمك لأهواء البركة وعمقها فيه نوع انتفاع بمرور آلة الصيد والسمك يؤخذ على الإباحة وأما إذا علمت للسمك فإنه يملك بحصوله فيها كما يأتى فى الصيد فلاتصح الإجارة لأخذه لكن إن أجّرها قبل حصول السمك بها لمن يصطاده منها مدة معلومة صح فإذا حصل فيها فله صيده

Ibnu Aqil berkata: Diperbolehkan untuk menyewa sumur agar dapat mengambil air darinya untuk beberapa hari tertentu atau mengambil beberapa ember air darinya, karena hak kepemilikan diperoleh melalui penguasaan, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam Al-Mughnī, dikatakan bahwa penjelasan ini menunjukkan bahwa diperbolehkan untuk menyewa kolam untuk memancing ikan darinya selama waktu tertentu. Hal ini jelas sah jika tidak ada pengaruh pada ikan, seperti kedalaman kolam atau jenis kolam tersebut. Ada manfaat yang dapat diambil dari alat pancing dan ikan dianggap diperoleh berdasarkan izin. Namun, jika kolam itu khusus untuk ikan, maka ikan tersebut menjadi milik dengan adanya ikan di dalamnya, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan tentang berburu. Oleh karena itu, sewa untuk mengambil ikan tersebut tidak sah. Tetapi, jika kolam disewa sebelum adanya ikan untuk seseorang yang akan memancing ikan darinya selama waktu tertentu, maka sewa tersebut sah. Setelah ikan ada di dalamnya, maka ia berhak untuk memancingnya.

Referensi

شرح الكبير لابن قدامة ج٦ص٢٢ الحنابلة
– مسألة: (وإن أكْراه دابَّةً عَشَرَةَ أيام بعَشَرَةِ دَراهِمَ، فما زادَ فله بكلِّ يوم دِرْهَمٌ، فقال أحمدُ) في رِوايةِ أبي الحارِثِ (هو جائِزٌ)
ونَقَل ابنُ منصورٍ عنه في مَن اكْتَرَى دابَّةً مِن مَكةَ إلى جُدَّةَ بكذا، فإن ذَهَب إلى عَرَفاتٍ بكذا. فلا بَأسَ. ونَقَل عبدُ اللهِ عنه، لو قال: أكْرَيتُكَها (١) بعَشَرَةٍ. فما حَبَسَها فعليه في كلِّ يوم عَشَرَة، أنَّه يَجُوزُ. وهذه الرِّواياتُ تَدُلُّ على أن مَذْهَبَه، أنَّه متى قَدَّرَ لكلِّ عَمَل مَعْلُوم أجْرًا مَعْلُومًا، صَح. وتَأوَّلَ القاضِي هذا كُلَّه، على أنه يَصِح في الأوَّلِ ويَفْسُدُ في الثانِي؛ لأنَّ مُدَّتَه غيرُ مَعْلُومةٍ، فلم يَصِحَّ العَقْدُ فيه، كما لو قال: اسْتَأجَرْتُكَ لتَحْمِلَ لي هذه الصُّبْرَةَ، وهي عَشَرَةُ أقْفِزَةٍ بدِرْهَم، وما زادَ فبِحِسابِ ذلك. قال شيخُنا (٢): والظّاهِرُ عن أحمدَ خِلافُ هذا، فإنَّ قَوْلَه: فهو جائِزٌ. عادَ إلى جَمِيعِ ما ذَكَرَ (٣) قبلَه، وكذلك قولُه: لا بَأسَ. ولأنَّ لكلِّ عَمَلٍ عِوَضًا مَعْلُومًا، فَصَحَّ، كما لو اسْتَقَى له كل دَلْو بتَمْرَةٍ، وقد ثَبَت الأصْلُ بالخَبَرِ الوارِدِ فيه [على ما نَذْكُرُه] (٤). ومَسائِلُ الصُّبْرَةِ لا نَصَّ فيها عن الإمامِ، وقِياسُ نُصُوصِه صِحَّةُ الإجارَةِ، وإن سُلِّمَ فَسادُها؛ فلأنَّ القُفْزانَ التي شَرَطَ حَمْلَها (٥) غيرُ مَعْلُومةٍ بتَعْيِينٍ ولا صِفَةٍ، وهي مُخْتَلِفةٌ، فلم يَصِحَّ الْعَقْدُ؛ لجَهالتِها، بخِلافِ الأيامِ، فإنَّها مَعْلُومة.- إلى ان قال –
– مسألة: (وإن سَمَّى لكل يوم شَيئًا مَعْلُومًا، فجائِزٌ) وقال الشافعي: لا يَصِحُّ؛ لأنَّ مُدَّةَ الإجارَةِ مَجْهُولةٌ. ولنا، أن عَلِيًّا، رَضِيَ الله عنه، أجَر نَفْسَه كُلَّ دَلْو بتَمْرةٍ، وكذلك الأنْصارِيُّ، فلم يُنْكِرْه النبي – صلى الله عليه وسلم – (١). ولأنَّ كلَّ يَوْم مَعْلُومٌ مُدَّتُه وأجْرُه، فصَحَّ، كما لو أجَرَه شَهْرًا كُلَّ يَوْمٍ بدِرْهم، أو اسْتَأجَرَه لنَقْلِ صُبْرَةٍ مَعْلُومَةٍ كُلَّ قَفِيز بدِرْهَمٍ إذا ثَبَت هذا، فلا بُدَّ مِن تَعْيِينِ ما يَسْتَأجرُ له، مِن رُكُوبٍ، أو حَمْلٍ مَعْلُوم (٢). ويَسْتَحِقُّ الأجْرَ المُسَمَّى لكلِّ يوم، سواء أقامَتْ أو سارَتْ؛ لأنَّ المنافِعَ ذَهَبت في مُدَّتِه، أشبَهَ ما لو اكْتَرَى دارًا وغَلَقها ولم يَسْكُنها

Masalah:
“Jika ia menyewakan seekor hewan untuk sepuluh hari dengan sepuluh dirham, maka jika lebih, ia berhak mendapatkan satu dirham untuk setiap harinya.” Ahmad berkata dalam riwayat Abu Al-Harith: “Ini sah.” Ibn Mansur meriwayatkan darinya, jika seseorang menyewa hewan dari Mekkah ke Jeddah dengan jumlah tertentu, dan jika ia pergi ke Arafah dengan jumlah yang lain, maka tidak ada masalah. Abdullah juga meriwayatkan darinya, jika ia mengatakan, “Aku menyewakan hewan ini kepadamu dengan sepuluh dirham,” dan jika ia menahan hewan tersebut, maka ia wajib membayar sepuluh dirham untuk setiap harinya. Ini diperbolehkan. Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa menurut pendapat Ahmad, jika untuk setiap pekerjaan yang sudah ditentukan diberikan bayaran yang jelas, maka itu sah. Namun, Qadhi menafsirkan hal ini dengan mengatakan bahwa hal ini sah dalam kasus pertama tetapi batal dalam kasus kedua, karena durasinya tidak diketahui, sehingga akadnya tidak sah, seperti ketika seseorang mengatakan, “Aku menyewakan kepadamu untuk mengangkut barang ini yang beratnya sepuluh kuintal dengan harga satu dirham, dan jika lebih, maka dihitung sesuai dengan itu.” Syekh kami berkata: Pendapat yang benar menurut Ahmad berbeda, yaitu bahwa perkataan “sah” itu berlaku untuk semua yang telah disebutkan sebelumnya. Juga dikatakan bahwa “tidak ada masalah.” Karena setiap pekerjaan memiliki imbalan yang jelas, maka akad ini sah, seperti jika seseorang menyewa untuk mengambil air dengan satu ember sebagai imbalan.

Masalah:
“Jika seseorang menyebutkan bayaran tertentu untuk setiap hari, maka itu sah.” Al-Syafi’i berkata, “Tidak sah,” karena durasi sewa tidak diketahui. Kami berpendapat, bahwa Ali r.a. menyewakan dirinya untuk mengambil satu ember air dengan satu tamr, dan demikian pula dengan orang Ansar, dan Nabi ﷺ tidak mengingkarinya. Selain itu, setiap hari memiliki durasi dan bayaran yang jelas, maka itu sah, seperti jika seseorang menyewa untuk satu bulan dengan bayaran satu dirham untuk setiap hari, atau jika seseorang disewa untuk mengangkut satu beban yang beratnya jelas dengan bayaran satu dirham untuk setiap beban. Jika hal ini sudah jelas, maka harus ditentukan apa yang disewa, seperti jenis kendaraan atau barang yang akan diangkut. Ia berhak atas bayaran yang telah ditentukan setiap harinya, apakah ia tinggal atau bergerak, karena manfaat telah diberikan selama durasi tersebut, seperti jika seseorang menyewa sebuah rumah dan menutupnya, tetapi tidak menghuninya.

MUDHOROBAH

Referensi

[وهبة الزحيلي، الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي، ٣٩٢٣/٥]
المضاربة أو القراض أو المعاملة من أنواع الشركات. وهي في لغة أهل العراق تسمى مضاربة وفي لغة أهل الحجاز تسمى قراضاً، وهو مشتق من القرض وهو القطع؛ لأن المالك يقطع للعامل قطعة من ماله يتصرف فيها ويعطيه قطعة من الربح، أو مشتق من المقارضة: وهي المساواة لتساويهما في استحقاق الربح، أو لأن المال من المالك والعمل من العامل، وهي لهذا تشبه الإجارة؛ لأن العامل فيها يستحق حصته من الربح جزاء عمله في المال.
وأهل العراق يسمون القراض مضاربة؛ لأن كلاً من العاقدين يضرب بسهم في الربح، ولأن العامل يحتاج إلى السفر، والسفر يسمى ضرباً في الأرض .

[Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, 5/3923]
Mudharabah atau qiradh atau mu’amalah termasuk salah satu jenis syirkah (kerjasama). Dalam bahasa penduduk Irak, ia disebut mudharabah, sedangkan dalam bahasa penduduk Hijaz, ia disebut qiradh. Istilah qiradh berasal dari kata qardh, yang berarti “memotong,” karena pemilik modal memberikan sebagian hartanya kepada pekerja untuk dikelola dan memberikan sebagian dari keuntungannya. Atau, istilah ini berasal dari kata muqaaradhah, yang berarti “kesetaraan,” karena keduanya memiliki hak yang sama atas keuntungan, atau karena modal berasal dari pemilik modal, sedangkan kerja berasal dari pekerja. Oleh karena itu, qiradh menyerupai ijarah (sewa), karena pekerja berhak mendapatkan bagian dari keuntungan sebagai imbalan atas pekerjaannya dalam mengelola modal.

Penduduk Irak menyebut qiradh dengan istilah mudharabah karena masing-masing pihak dalam akad tersebut memiliki bagian dalam keuntungan, dan karena pekerja sering kali perlu melakukan perjalanan, sementara perjalanan disebut “memukul bumi” (dharb fil ardhi).

Referensi:

الفقه على مذهب الأربعة للشيخ عبد الرحمن الجزآئرى
ومناسبة المضاربة للمساقاة والمزارعة ظاهرة لأنك قد عرفت أنهما عقدان بين اثنين من جانب أحدهما الأرض أو الشجر، ومن جانب الآخر العمل، ولكل منهما نصيب في الخارج من الثمر، وكذلك المضاربة فإنها عقد يتضمن أن يكون المال منة جانب والعمل من جانب آخر ولكل من الجانبين نصيب في الربح

Artinya: “Korelasi antara mudharabah dengan akad musâqah dan muzâra’ah tampak jelas. Sebagaimana anda ketahui bahwa kedua akad terakhir ini terbentuk oleh dua pihak yang menjalin relasi, satu pihak menyerahkan tanah atau pohon, sementara pihak lainnya menyerahkan tenaga. Tiap-tiap dari keduanya ada hak berupa bagian dari hasil panenan berupa buah. Demikian pula dengan akad mudharabah, ia terbentuk dari sebuah jalinan akad yang memuat di dalamnya berupa penyerahan harta dari satu sisi, dan kerja dari sisi yang lain sehingga masing-masing berhak atas bagian keuntungan yang diperoleh.” (Abdurrahman al-Jazîry, al-Fiqhu ‘ala al-Madzâhibi al-Arba’ati, Beirut: Dâr al-Fikr, 2019: 3/29)
Dengan memperhatikan unsur kesamaan di atas, maka rukun dari akad mudharabah,  musâqah, dan mukhâbarah, pada dasarnya mengikuti rukun yang terdapat dalam akad mudharabah. Para ulama berbeda pendapat terkait dengan rukun mudharabah ini.
Menurut kalangan Hanafiyah, rukun mudharabah ada dua yaitu, adanya lafadh ijab dan qabul yang menunjukkan terhadap maksud dilakukannya akad. Menurut pandangan mayoritas ulama, rukun mudharabah ada 3, yaitu:

Adanya ‘aqidain (dua orang yang berakad), yakni terdiri atas pemilik modal (mâlik) dan pengelola (‘amil)

Adanya ma’qùd ‘alaih, yaitu objek yang masuk dalam unsur akad, terdiri dari: (a) jenis pekerjaan (‘amal); (b) laba (ribhu); dan (c) modal (ra’sul mâl)

Shighat akad, terdiri dari shighat ijab (menyerahkan) dan shighat qabul (menerima)

Ulama kalangan Syafiiyah, memerinci akad ini menjadi 5, yaitu: harta (mâl), usaha (‘amal), laba (ribhu), shighat (lafadh ijab dan qabul) dan ‘aqidain (dua orang yang berakad). Dengan begitu, pandangan Syafiiyah ini sebenarnya sama dengan pandangan ulama jumhur (mayoritas). Bagaimana dengan pandangan Hanafiyah? Mengapa hanya ada dua syarat saja, yaitu keberadaan lafadh ijab dan kabul saja?
Untuk mengetahui ceruk dari kalangan Hanafiyah dalam memandang akad mudharabah ini, kita bisa lihat pada definisi ijab dan qabul dari kalangan tersebut. Dalam al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, juz 4, dijelaskan bahwa, yang dimaksud dengan lafadh ijab oleh Hanafiyah adalah:

فألفاظ الإيجاب: هي لفظ المضاربة والمقارضة والمعاملة، وما يؤدي معاني هذه الألفاظ بأن يقول رب المال: (خذ هذا المال مضاربة على أن ما رزق الله عز وجل من ربح فهو بيننا على كذا من نصف أو ربع أو ثلث أو غير ذلك من الأجزاء المعلومة).

Artinya: “Yang dimaksud dengan lafadh ijab adalah lafadh yang menunjukkan makna mudharabah, muqâradlah, atau mu’amalah, atau segala bentuk pernyataan yang bisa mendatangkan pengertian pada akad, misalnya seperti pernyataan pemodal: ‘Ambil harta ini sebagai modal usaha dengan bagi hasil keuntungan yang direzekikan oleh Allah ﷻ kepada usaha kita dalam menjalankan modal ini, dengan rasio pembagian separuh (untuk aku atau kamu), seperempat (untuk aku atau kamu), atau sepertiga (untuk aku atau kamu) atau menurut nisbah tertentu lainnya yang kita ketahui bersama” (al-Kasâni, Badâi’u al-Shanâi’ fi Tartîbi al-Syarâi’, Damaskus: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1971: 8/5-6). Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

NIKAH VIA VIDEO CALL DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN NEGARA

Nikah via Video Call dalam Perspektif Hukum Islam dan Negara”

Deskripsi Masalah:
Di era digitalisasi, kemajuan teknologi memungkinkan berbagai aktivitas dilakukan secara daring, termasuk dalam pelaksanaan akad nikah. Pernikahan melalui video call menjadi topik yang ramai diperbincangkan, terutama ketika situasi tertentu membuat salah satu atau kedua mempelai tidak dapat hadir secara fisik di lokasi akad. Media komunikasi digital seperti video call pun digunakan sebagai solusi.

Namun, praktik ini menghadirkan sejumlah persoalan yang memicu diskusi di kalangan masyarakat, baik dari sudut pandang hukum agama maupun hukum negara. Beberapa pertanyaan yang sering muncul di antaranya:

1. Apakah akad nikah yang dilakukan melalui video call sah secara syar’i?

2. Bagaimana pandangan hukum positif di Indonesia terhadap model pernikahan semacam ini?

Waalaikum salam :

Dalam menanggapi fenomena nikah via video call, diperlukan analisis dari perspektif hukum syar’i dan hukum negara. Berikut penjelasannya:

A.   Analisis Hukum Syari’ah

1. Rukun dan Syarat Nikah:

Dalam Islam, nikah dianggap sah jika memenuhi rukun dan syaratnya, yaitu:

Rukun nikah: Calon mempelai, wali, dua saksi adil, dan ijab qabul.

Syarat sah nikah: Kehadiran fisik pihak-pihak terkait untuk memastikan kejelasan dan keabsahan ijab qabul.

Menurut Tuhfatul Muhtaj (jilid 7, hal. 228) dan Kifayah al-Akhyar (jilid 2, hal. 51), saksi dalam akad nikah harus menyaksikan langsung ijab dan qabul. Mengandalkan suara atau komunikasi tidak cukup karena:

Ijab qabul harus jelas dan meyakinkan tanpa kemungkinan manipulasi.

Fungsi saksi adalah untuk menguatkan keabsahan akad jika terjadi perselisihan, yang tidak dapat dipenuhi tanpa kehadiran fisik.

2. Pandangan Mazhab dan Ulama:

Mazhab Syafi’i: Ijab qabul harus dilakukan secara langsung di hadapan saksi. Kehadiran fisik diperlukan untuk menghindari kesalahan atau keraguan terkait identitas pelaku akad.

Hasyiyah al-Syarwani wa al-‘Abbadi menyatakan bahwa alat komunikasi seperti telepon atau video hanya sah untuk akad yang tidak memerlukan lafaz dan kehadiran fisik, seperti jual beli. Namun, nikah tidak memenuhi kriteria ini.

Pendapat ini didukung oleh Majelis Majma’ al-Fiqh al-Islami (1990), yang menyatakan bahwa akad melalui alat komunikasi modern sah untuk transaksi tertentu, tetapi tidak berlaku untuk nikah karena membutuhkan kehadiran saksi secara fisik.

3. Kesimpulan Hukum Syari’ah:

Nikah via video call tidak sah karena tidak memenuhi rukun nikah yang disyaratkan, terutama kehadiran fisik saksi, wali, dan mempelai.

Solusi: Dalam kondisi tertentu, Islam memperbolehkan akad melalui wakil sebagaimana dijelaskan dalam Fathul Mu’in (Hasyiyah I’anatuth Thalibin, jilid 3, hal. 320–324).

B. Analisis Hukum Negara (Indonesia)

1. Dasar Hukum:

Berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 19, akad nikah harus dilakukan di hadapan penghulu, dengan kehadiran fisik wali dan saksi.

Kehadiran fisik diperlukan untuk memastikan legalitas dan keabsahan administratif, seperti pencatatan nikah di KUA.

2. Implikasi Administrasi:

Akad nikah tanpa kehadiran fisik rawan manipulasi data, misalnya penyalahgunaan identitas atau pemalsuan dokumen.

Jika tidak sesuai prosedur, pernikahan tidak diakui negara sehingga berimplikasi pada status hukum dan hak-hak pasangan.

3. Kesimpulan Hukum Negara:

Nikah via video call tidak sah karena tidak sesuai dengan ketentuan hukum positif.

Solusi: Jika kehadiran fisik tidak memungkinkan, wakil dapat digunakan untuk memenuhi prosedur sesuai dengan syarat hukum.

Kesimpulan Akhir

1. Kesimpulan Umum:

Baik dari sudut pandang hukum Islam maupun negara, akad nikah via video call tidak sah karena kehadiran fisik merupakan syarat mutlak dalam pelaksanaan akad nikah.

Kehadiran fisik memastikan keabsahan rukun dan syarat nikah, serta mencegah potensi penyimpangan hukum.

2. Rekomendasi:

Gunakan perwakilan (wakil) jika salah satu pihak tidak dapat hadir secara fisik.

Konsultasikan dengan otoritas agama (KUA) untuk memastikan pelaksanaan akad sesuai syariat dan hukum negara.

Referensi:

Berikut beberapa referensi utama yang digunakan:

1. Hasyiyah al-Syarwani wa al-‘Abbadi, jilid 4, hal. 222.

2. Kifayah al-Akhyar, jilid 2, hal. 51.

3. Tuhfatul Muhtaj, jilid 7, hal. 228.

4. Kompilasi Hukum Islam, Pasal 19.

5. Fathul Mu’in (Hasyiyah I’anatuth Thalibin), jilid 3, hal. 320–324.

6. Majma’ al-Fiqh al-Islami (1990).

_______________

Referensi :

حواشي الشرواني والعبادي؛ ج ٤، ص ٢٢٢
قوله: (والكتابة الخ) ومثلها خبر السلك المحدث في هذه الازمنة فالعقد به كناية فيما يظهر قوله: (والكتابة كناية) ظاهره ولو في حق الاخرس اهـ.سم قوله: (لا على مائع أو هواء) أي أما عليهما فلغو اهـ.ع ش عبارة المغني والكتابة بالبيع ونحوه على نحو لوح أو ورق أو أرض كناية فينعقد بها مع النية بخلاف الكتابة على المائع ونحوه كالهواء فإنه لا يكون كناية لانها لا تثبت اهـ.

الفوائد المختارة لسالك طريق الأخرة المستفادة من كلام العلامة الحبيب زين بن إبراهم بن سميط. جمع وتقديم: علي بن حسن باهارون؛ ص ٢٤٦

التلفون كناية في العقود كالبيع والسلم والإِجارة، فيصح ذلك بواسطة التلفون. أما النكاح فلا يصح بالتلفون لأنه يشترط فيه لفظ صريح والتلفون كناية، وأن ينظر الشاهد إلى العاقدين. وفقد ذلك إذا كان بالتلفون، أو ما هذا معناه.

الفقه الإسلامي وأدلته؛ج ٩ص ٥٧٣
جراء العقود بآلات الاتصال الحديثة إن مجلس مجمع الفقه الإسلامي المنعقد في دورة مؤتمره السادس بجدة في المملكة العربية السعودية من ١٧- ٢٣ شعبان ١٤١٠ هـ الموافق ١٤-٢٠ آذار (مارس) ١٩٩٠ م. بعد اطلاعه على البحوث الواردة إلى المجمع بخصوص موضوع: إجراء العقود بآلات الاتصال الحديثة، ونظراً إلى التطور الكبير الذي حصل في وسائل الاتصال وجريان العمل بها في إبرام العقود لسرعة إنجاز المعاملات المالية والتصرفات. وباستحضار ما تعرض له الفقهاء بشأن إبرام العقود بالخطاب وبالكتابة وبالإشارة وبالرسول، وما تقرر من أن التعاقد بين الحاضرين يشترط له اتحاد المجلس (عدا الوصية والإيصاء والوكالة) وتطابق الإيجاب والقبول، وعدم صدور ما يدل على إعراض أحد العاقدين عن التعاقد، والموالاة بين الإيجاب والقبول بحسب العرف: قرر :…إلى أن قال ….٤ – أن القواعد السابقة لا تشمل النكاح لاشتراط الإشهاد فيه، ولا الصرف لاشتراط التقابض، ولا السلم لاشتراط تعجيل رأس المال

كفاية الأخيار؛ ج ٢، ص ٥١
( فرع )

يشترط في صحة عقد النكاح حضور أربعة ولي وزوج وشاهدي عدل.

[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٢٢٨/٧]

(قوله: ومثله من بظلمة إلخ)

أي لعدم علمهما بالموجب والقابل والاعتماد على الصوت لا نظر له فلو سمعا الإيجاب والقبول من غير رؤية للموجب والقابل ولكنهما جزما في أنفسهما بأن الموجب فلان والقابل فلان لم يكف للعلة المذكورة ولعل الفرق بين ما هنا وما تقدم في البيع من صحته، وإن كان العاقدان بظلمة شديدة حال العقد بحيث لا يرى أحدهما الآخر أن المقصود من شاهدي النكاح إثبات العقد بهما عند التنازع، وهو منتف مع الظلمة اهـ ع ش

فتح المعين بهامش حاشية اعانة الطالبين؛ ج ٣ ص ٣٢٠-٣٢٤

( و )

يجوز ( لمجبر ) وهو الأب والجد في البكر ( توكيل ) معين صح تزوجه في تزويج موليته بغير إذنها وإن لم يعين المجبر الزوج في توكيله ( وعلى وكيل ) إن لم يعين الولي الزوج ( رعاية حظ ) واحتياط في أمرها فإن زوجها بغير كفء أو بكفء وقد خطبها أكفأ منه لم يصح التزويج لمخالفته الإحتياط الواجب عليه … إلى أن قال …( و ) يجوز ( لزوج توكيل في قبوله ) أي النكاح فيقول وكيل الولي للزوج زوجتك فلانة بنت فلان ابن فلان ثم يقول موكلي أو وكالة عنه إن جهل الزوج أو الشاهدان وكالته وإلا لم يشترط ذلك وإن حصل العلم بأخبار الوكيل.

[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٢٢١/٧]

(قوله: وتعذر توكيله) مفهومه أنه لو أمكنه التوكيل بالكتابة، أو الإشارة التي يختص بفهمها الفطن تعين لصحة نكاحه توكيله، وهو قريب؛ لأن ذلك، وإن كان كناية أيضا لكنه في التوكيل، وهو ينعقد بالكناية بخلاف النكاح اهـ ع ش وسنذكر منه ما يتعلق بالمقام.

حاشية الشرقاوي؛ ج ٢، ص ١٠٥
(قوله وصيغة الخ)

كوكلتك في كذا او فوضت إليك كذا سواء كان مشافهة أو كتابة أو مراسلة ويشترط عدم ردها كما يأتي ولا يشترط العلم بها فلو وكله وهو لا يعلم صحت حتى لو تصرف قبل علمه صح كبيع مال أبيه يظن حياته

1. Hasyiyah al-Syarwani wa al-‘Abbadi, jilid 4, halaman 222

Terkait pernyataan: “(wal-kitābah, dst.)”, dan semisalnya berita tentang tali yang diperbarui di zaman sekarang, maka akad dengan itu merupakan kinayah (kiasan) menurut yang tampak. Pernyataan: “(wal-kitābah kināyah)”, menunjukkan bahwa itu termasuk kinayah meskipun untuk orang bisu. Penjelasan: (la ‘ala mā’i‘ aw hawā’) artinya tidak sah akad pada cairan atau udara karena itu dianggap sia-sia. Dalam ‘Umdatul-Mughnī disebutkan bahwa akad dengan tulisan, jual beli, dan semisalnya di atas papan, kertas, atau tanah merupakan kinayah yang sah dengan adanya niat. Namun, tulisan pada cairan atau udara tidak dianggap kinayah karena tidak dapat menetap.

2. Al-Fawā’id al-Mukhtārah li-Sālik Ṭarīq al-Ākhirah, halaman 246

Telepon dianggap sebagai kinayah dalam akad seperti jual beli, salam, dan sewa-menyewa, sehingga akad-akad tersebut sah dilakukan melalui telepon. Namun, nikah tidak sah melalui telepon karena disyaratkan adanya lafaz sharih (jelas) dalam nikah, sedangkan telepon hanya dianggap kinayah. Selain itu, saksi juga harus menyaksikan kedua pihak yang melakukan akad, yang tidak terpenuhi jika dilakukan melalui telepon.

3. Al-Fiqh al-Islāmi wa Adillatuh, jilid 9, halaman 573

Pelaksanaan akad dengan alat komunikasi modern: Sidang Majma’ al-Fiqh al-Islami dalam konferensi keenamnya di Jeddah, Arab Saudi, pada 17-23 Sya’ban 1410 H (14-20 Maret 1990 M), setelah menelaah penelitian terkait pelaksanaan akad dengan alat komunikasi modern, dan mengingat perkembangan besar dalam sarana komunikasi, serta melihat pembahasan para ulama tentang akad dengan percakapan langsung, tulisan, isyarat, atau melalui perantara, dan ketentuan bahwa:

Untuk akad langsung, disyaratkan adanya ittihad al-majlis (kesatuan tempat akad), kecocokan ijab dan qabul, tidak adanya indikasi penolakan dari salah satu pihak, serta kesinambungan antara ijab dan qabul berdasarkan adat.
Diputuskan bahwa aturan ini tidak berlaku pada nikah karena memerlukan saksi, tidak juga pada sharf (pertukaran uang) karena disyaratkan serah terima, atau pada salam karena disyaratkan pembayaran modal di muka.

4. Kifāyah al-Akhyār, jilid 2, halaman 51

Dalam akad nikah, disyaratkan kehadiran empat pihak: wali, mempelai pria, dan dua saksi adil.

5. Tuhfatul Muhtāj, jilid 7, halaman 228

Pernyataan: “wa mitsluhu man bidhulmāti, dst.” artinya akad dalam kegelapan tidak sah karena saksi tidak mengetahui siapa yang memberikan ijab dan qabul. Mengandalkan suara saja tidak cukup. Misalnya, jika saksi mendengar ijab dan qabul tanpa melihat kedua pihak, tetapi meyakini bahwa pihak-pihak tersebut adalah orang tertentu, itu tidak cukup. Hal ini berbeda dengan jual beli yang sah walaupun dilakukan dalam kegelapan total, karena fungsi saksi dalam nikah adalah untuk memastikan keabsahan akad ketika terjadi sengketa, yang tidak dapat dipenuhi dalam kondisi gelap.

6. Fathul Mu’īn (Hasyiyah I‘ānatuth Thālibīn), jilid 3, halaman 320-324

Diperbolehkan bagi wali mujbir (ayah atau kakek) untuk mewakilkan akad nikah putrinya tanpa izin darinya, bahkan jika wali tidak menyebutkan calon mempelai pria dalam wakilnya. Wakil harus menjaga maslahat mempelai wanita. Jika wakil menikahkannya dengan pria yang tidak sekufu atau jika ada pria lain yang lebih sekufu telah melamar, maka akad tidak sah karena melanggar prinsip kehati-hatian. Suami juga boleh diwakilkan dalam menerima akad, misalnya wakil wali mengatakan, “Aku menikahkanmu dengan Fulanah binti Fulan bin Fulan,” lalu wakil suami menjawab, “Aku menerimanya.”

7. Tuhfatul Muhtāj, jilid 7, halaman 221

Jika memungkinkan, akad nikah dengan tulisan atau isyarat yang hanya dipahami oleh orang cerdas dapat dilakukan, meskipun hal ini juga dianggap kinayah. Namun, ini terkait dengan akad wakil yang sah dilakukan dengan kinayah, berbeda dengan nikah yang memerlukan lafaz jelas.

8. Hasyiyah al-Syarqāwi, jilid 2, halaman 105

Pernyataan: “Waṣīghah (lafaz akad), dst.” seperti, “Aku mewakilkanmu dalam hal ini” atau “Aku menyerahkan kepadamu” baik secara lisan, tulisan, atau surat-menyurat, dengan syarat tidak ada penolakan. Bahkan jika wakil belum mengetahui, akad tetap sah, seperti penjualan harta ayahnya dengan asumsi ayahnya masih hidup.Wallahu A’lam bisshowab