logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

SHALAT FARDHU BERMAKMUM KEPADA ORANG YANG MELAKUKAN SHALAT SUNNAH

SHALAT FARDHU BERMAKMUM KEPADA ORANG YANG MELAKUKAN SHALAT SUNNAH

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Sebagaimana yang kita maklumi dalam masyarakat secara wakiiyah bahwa ketika shalat tarawih ataupun lainnya terkadang ada jamaah yang terlambat melakukan sholat isya’ secara berjamaah dengan imam, itu di karenakan banyaknya faktor kesibukan atau lambatnya perjalanan menuju masjid atau mushollah sehingga imam sudah selesai melakukan sholat berjamaah dan memulainya sholat sunnah ba’dal isya’ atau sholat tarawih , maka dalam kondisi yang sedemikian orang yang terlambat sholat isya’ secara berjamaah akhirnya bermakmun kepada imam yang sedang sholat sunnah.

Pertanyaan

Apakah sah shalat berjamaah( shalat fardu bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah ) ?
🙏🙏🙏

Jawaban
Wa’alaikum salam wr.wb.

Menurut Mazhab Syafiiyah boleh shalat fardhu dengan bermakmum kepada orang yang shalat sunnah begitu juga halnya orang yang melakukan shalat fardhu lainnya seperti shalat dhuhur bemakmum kepada orang yang sholat fardu ashar .Namun demikian ada beberapa hal yang penting diperhatikan dalam shalat berjamaah agar dapat keutamaan yaitu

Pertama: Memantapkan diri bahwa shalat yang sedemikian adalah sah.

[القليوبي، حاشيتا قليوبي وعميرة، ٢٨٣/١]

وَتَصِحُّ قُدْوَةُ الْمُؤَدِّي بِالْقَاضِي وَالْمُفْتَرِضِ بِالْمُتَنَفِّلِ، وَفِي الظُّهْرِ بِالْعَصْرِ وَبِالْعُكُوسِ) أَيْ الْقَاضِي بِالْمُؤَدِّي وَالْمُتَنَفِّلِ بِالْمُفْتَرِضِ وَفِي الْعَصْرِ بِالظُّهْرِ، وَلَا يَضُرُّ اخْتِلَافُ نِيَّةِ الْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ (وَكَذَا الظُّهْرُ بِالصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ وَهُوَ) أَيْ الْمُقْتَدِي فِي ذَلِكَ. (كَالْمَسْبُوقِ) يُتِمُّ صَلَاتَهُ بَعْدَ سَلَامِ إمَامِهِ.
(وَلَا تَضُرُّ مُتَابَعَةُ الْإِمَامِ فِي الْقُنُوتِ) فِي الصُّبْحِ. (وَالْجُلُوسِ الْأَخِيرِ فِي الْمَغْرِبِ وَلَهُ فِرَاقُهُ إذَا اشْتَغَلَ بِهِمَا) بِالنِّيَّةِ وَاسْتِمْرَارُهُ أَفْضَلُ. ذَكَرَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ.
(وَتَجُوزُ الصُّبْحُ خَلْفَ الظُّهْرِ فِي الْأَظْهَرِ) وَقَطَعَ بِهِ كَعَكْسِهِ بِجَامِعِ أَنَّهُمَا صَلَاتَانِ مُتَّفِقَتَانِ فِي النَّظْمِ، وَالثَّانِي يَنْظُرُ إلَى فَرَاغِ صَلَاةِ الْمَأْمُومِ قَبْلَ الْإِمَامِ (فَإِذَا قَامَ) الْإِمَامُ (لِلثَّالِثَةِ فَإِنْ شَاءَ) الْمَأْمُومُ. (فَارَقَهُ) بِالنِّيَّةِ (وَسَلَّمَ وَإِنْ شَاءَ انْتَظَرَهُ لِيُسَلِّمَ مَعَهُ قُلْتُ انْتِظَارُهُ أَفْضَلُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ. وَإِنْ أَمْكَنَهُ الْقُنُوتُ فِي الثَّانِيَةِ) بِأَنْ وَقَفَ الْإِمَامُ يَسِيرًا. (قَنَتَ وَإِلَّا تَرَكَهُ) .

Berikut penjelasan orang yang melakukan shalat fardhu isya’ bermakmum pada orang yang melakukan shalat sunnah tarawih.


إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ فِي رَمَضَانَ لِصَلاَةِ الْعِشَاءِ وَلَمْ يَجِدْ جَمَاعَةً عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ فِي جَمَاعَةِ التَّرَاوِيْحِ بِنِيَةِ الْعِشَاءِ، فَاِذَا سَلَّمَ الْاِمَامُ قَامَ لِاِتْمَامِ مَا عَلَيْهِ، فَهَلْ هَذَا جَائِزٌ؟ الجواب: نَعَمْ إِنَّ هَذَا جَائِزٌ فِي مَذْهَبِنَا وَمَذْهَبِ أَحْمَدَ

Artinya, “Jika seseorang masuk ke dalam masjid di bulan Ramadhan untuk mengerjakan shalat Isya, namun di dalamnya tidak ada jamaah Isya, kemudian ia berjamaah dengan jamaah shalat Tarawih dengan dengan niat shalat Isya. Ketika imam salam, ia berdiri untuk menyempurnakan (rakaat) yang tersisa. Apakah praktik ini diperbolehkan? Sayyid Abdulah manjawab: ‘Iya, praktik ini diperbolehkan (sah) dalam mazhab Syafi’i dan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal’.” (Abdullah, Al-Wajiz fi Ahkamis Shiyam wa Ma’ahu Fatawa Ramadhan, [Daru Hadramaut: 2011], halaman 109).

المجموع شرح المهذب ج٤ص١٦٧

وَيَجُوْزُ أَنْ يَأْتَمَّ الْمُفْتَرِضُ بِالْمُتَنَفِّلِ، وَالْمُفْتَرِضُ بِمُفْتَرِضٍ فِيْ صَلَاةٍ أُخْرَى؛}  لِمَا رَوَى جَابِرُ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ مُعَاذًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يُصَلِّيْ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ اَلْعِشَاءَ الْأَخِرَةَ ثُمَّ يَأْتِيْ قَوْمَهُ فِيْ بَنِيْ سَلِمَةَ فَيُصَلِّيْ بِهِمْ هِيَ لَهُ تَطَوُّعٌ وَلَهُمْ فَرِيْضَةُ الْعِشَاءِ {وَلِأَنَّ اْلِاقْتِدَاءَ يَقَعُ فِي الْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ، وَذَلِكَ يَكُوْنُ مَعَ اخْتِلَافِ النِّيَّةِ…

Artinya, “Boleh seorang yang shalat fardhu bermakmum kepada orang yang shalat sunnah, dan orang yang shalat fardhu bermakmum kepada  orang yang shalat fardhu dalam shalat yang lain berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah RA bahwa Mu’adz RA melakukan shalat Isya’ di waktu akhir bersama Rasulullah SAW, kemudian ia mendatangi kaumnya di Bani Salimah lantas menjadi imam shalat bersama mereka, shalat itu baginya (hukumnya) merupakan shalat sunnah, sementara bagi mereka merupakan shalat Isya’ fardhu; di samping itu karena bermakmum tersebut terjadi dalam perbuatan-perbuatan yang zahir, padahal perkara itu berbeda niatnya…

مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق ٣٦

وخرج بالأفعال الإختلاف فى الصفات فلايضركالإقتداء المفترض بالمتنفل والمؤدى بالقاضى وفى طويلة بقصيرة ومع العكوس

” Dikecualikan dari berbeda dalam pekerjaan adalah berbeda pada beberapa sifat, maka tetap sah shalatnya. Seperti bermakmumnya orang yang shalat fardlu pada imam yang shalat sunnah . Bermakmumnya orang yang shalat Ada’ dengan Imam yang shalat qodlo’ , makmum shalat secara sempurna imamnya shalat qoshor atau sebaliknya

Kedua: Niat imamah, yakni niat menjadi imam dalam shalat ini agar mendapatkan fadhilah shalat jamaah. Niat imamah dalam shalat berjamaah hukumnya sunnah, kecuali :

1️⃣Sholat jum’at
2️⃣Shalat Muadah ( shalat yang diulang)
3️⃣Shalat yang dinadzarkan berjamaah
4️⃣Shalat shalat yang dilakukan secara jama’ taqdim karena hujan, yang 4 tersebut wajib hukumnya niat menjadi imam.

سفينة النجا ص ٨١

الذي يلزم فيه نية الإمامة أربع الجمعة والمعادة والمنذورة جماعة والمتقدمة في المطر

Artinya: “Ada 4 (empat) shalat yang mewajibkan berniat sebagai imam: shalat Jumat, shalat yang diulang, shalat jama’ah yang dinadzarkan, dan shalat jama’ taqdim karena hujan.”
Adapun detail nya dari ibaroh diatas sebagaima Syekh Muhammad Nawawi Banten menjelaskan dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ sebagai berikut:

Pertama, shalat Jumat.

Seorang yang menjadi imam shalat Jumat baginya wajib berniat untuk menjadi imam. Bila ia tidak berniat demikian pada saat takbiratul ihram maka tidak sah niatnya yang juga berarti tidak sah pula shalat Jumatnya. Ini dikarenakan shalat Jumat harus dilakukan secara berjamaah. Bila imam di dalam niatnya tidak menyebutkan kata imâman maka ia dianggap shalat sendirian, tidak berjamaah.

Kedua, shalat mu’âdah atau shalat yang diulang.

Shalat yang diulang adalah shalat wajib yang telah dilakukan atau shalat sunah yang disunahkan dilakukan secara berjamaah yang untuk kedua kalinya dilakukan kembali secara berjamaah pada waktunya karena berharap pahala.

Alasan seseorang mengulang shalatnya secara berjamaah adalah karena shalat yang kedua dianggap lebih utama dari pada shalat yang pertama. Seperti ketika seseorang yang mengulang shalat secara berjamaah karena sebelumnya ia telah melakukan shalat tersebut namun sendirian, tidak berjamaah. Atau pada saat shalat yang pertama ia telah melakukannya secara berjamaah namun mengulangnya kembali secara berjamaah karena melihat shalat jamaah yang kedua ini lebih utama dibanding shalat jamaah yang pertama yang telah ia lakukan. Ini bisa karena pada shalat jamaah yang kedua jumlah jamaahnya lebih banyak, imamnya lebih alim atau wara’, tempatnya lebih mulia dan alasan lainnya Bila pada shalat yang diulang ini yang pelaku/ berposisi sebagai imam maka ia wajib berniat imâman dalam niatnya bersamaan dengan pengucapan takbiratul ihram.

Ketiga, shalat yang dinadzarkan secara berjama’ah.

Seseorang bernadzar bahwa bila ia mendapatkan apa yang dicita-citakan maka ia akan shalat subuh berjamaah, misalnya. Ketika apa yang ia citakan tercapai dan kemudian ia shalat berjamaah subuh untuk memenuhi nadzarnya, bila dalam shalat berjamaah itu ia berposisi sebagai imam maka ia mesti menambahkan kata imâman di dalam niatnya bersamaan dengan pengucapan takbiratul ihram. Bila tidak demikian maka ia dianggap shalat sendirian, tidak berjamaah, dan karenanya dianggap melakukan perbuatan dosa karena tidak memenuhi nadzarnya.

Keempat, shalat yang dilakukan secara jama’ taqdim karena hujan.

Sebagaimana diketahui bahwa pada waktu hujan yang sangat deras diperbolehkan menjama’ shalat secara jama’ taqdim di mana shalat yang kedua dilakukan pada waktu shalat yang pertama; shalat isya dilakukan pada waktu shalat madghrib dan shalat ashar dilakukan pada waktu shalat dhuhur.

Shalat jama’ taqdim karena hujan deras ini diperbolehkan bagi orang yang shalat berjamaah di masjid dan cukup jauh jarak antara masjid dan rumahnya, sehingga akan mendatangkan mudarat bila ia mesti berjalan bolak-balik ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah. Bagi orang yang shalatnya tidak berjamaah, atau berjamaah namun tidak di masjid, atau berjamaah di masjid namun rumahnya tidak jauh tidak diperbolehkan melakukan jama’ taqdim ini

Contoh Sebagai gambaran, ketika sesorang sedang melakukan shalat madhrib berjamaah di masjid datang hujan yang sangat deras yang diduga kuat belum berhenti sampai dengan waktunya shalat isya. Karena rumah orang tersebut cukup jauh dari masjid maka akan sangat merepotkan bila setelah shalat maghrib seseorang itu pulang ke rumahnya lalu pergi lagi ke masjid untuk shalat isya berjamaah. Dalam kondisi sedemikian seorang yang telah shalat maghrib diperbolehkan melakukan shalat isya secara jama’ taqdim.

Dalam keadaan seperti ini bila sesorang berposisi sebagai imam maka wajib berniat imâman di dalam niat berbarengan dengan takbiratul ihram untuk shalat isya-nya. Bila tidak maka shalat isya tidaklah dianggap dalam artian tidak dianggap belum shalat isya, baik secara berjamaah maupun sendirian. Ini dikarenakan kebolehan menjama’ taqdim di waktu hujan lebat harus dengan berjamaah. Maka bila sang imam tidak berniat sebagai imam itu berarti ia tidak shalat secara berjamaah

المجموع شرح المهذب ج ٤ص٩٨

يَنْبَغِي لِلْإِمَامِ أَنْ يَنْوِيَ الْإِمَامَةَ فَإِنْ لَمْ يَنْوِهَا صَحَّتْ صَلَاتُهُ وَصَلَاةُ الْمَأْمُومِينَ وَالصَّوَابُ : أَنَّ نِيَّةَ الْإِمَامَةِ لَا تَجِبُ، وَلَا تُشْتَرَطُ لِصِحَّةِ الِاقْتِدَاءِ وَبِهِ قَطَعَ جَمَاهِيْرُ أَصْحَابِنَا، وَسَوَاءٌ اقْتَدَى بِهِ رِجَالٌ أَمْ نِسَاءٌ ، لَكِنْ يَحْصُلُ فَضِيلَةُ الْجَمَاعَةِ لِلْمَأْمُوْمَيْنِ، وَفِيْ حُصُوْلِهَا لِلْإِمَامِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ

Artinya, “Seyogianya imam niat menjadi imam, jika ia tidak niat menjadi imam, maka sah shalatnya dan shalatnya makmum. Yang benar adalah bahwa niat imamah tidaklah wajib, dan niat imamah tidaklah disyaratkan untuk keabsahan bermakmum, pendapat ini telah ditetapkan oleh Jumhur madzhab Syafiiyah, tidak disyaratkan niat imamah tersebut, baik makmumnya para pria, maupun makmumnya para wanita, meskipun demikian mereka tetap mendapatkan fadhilah berjamaah. Tetapi mengenai imam mendapatkan fadhilah jamaahnya atau tidak, ada tiga pendapat, (tidak mendapat fadhilah jamaah, mendapat fadhilah jamaah, mendapat fadhilah jamaah jika tahu dan lalu pasang niat imamah),

Ketiga : Memperhatikan bacaan shalatnya seperti ketentuan mengenai bacaan surat Al-Fatihah dan surat setelahnya dibaca jahar (keras, nyaring) atau sirr (tidak keras, tidak nyaring), sebagai berikut:

المجموع شرح المهذب ج٣ ص ٣٥٧

وَأَمَّا نَوَافِلُ النَّهَارِ فَيُسَنُّ فِيْهَا الْإِسْرَارُ بِلَا خِلَافٍ، وَأَمَّا نَوَافِلُ اللَّيْلِ غَيْرَ التَّرَاوِيْحِ فَقَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ: يُجْهَرُ فِيْهَا، وَقَالَ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ وَصَاحِبُ التَّهْذِيْبِ: يُتَوَسَّطُ بَيْنَ الْجَهْرِ وَالْإِسْرَارِ، وَأَمَّا السُّنَنُ الرَّاتِبَةُ مَعَ الْفَرَائِضِ : فَيُسَرُّ بِهَا كُلِّهَا بِاتِّفَاقِ أَصْحَابِنَا . وَنَقَلَ الْقَاضِيْ عِيَاضٌ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ عَنْ بَعْضِ السَّلَفِ الْجَهْرَ فِي سُنَّةِ الصُّبْحِ، وَعَنِ الْجُمْهُوْرِ الْإِسْرَارَ كَمَذْهَبِنَا

Artinya, “Adapun dalam shalat sunnah siang hari, maka disunnahkan dibaca sirr tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat). Adapun shalat sunnah malam hari selain shalat Tarawih, maka penulis kitab at-Tatimmah mengatakan: dibaca jahar (keras, nyaring); tetapi Al-Qadhi Husain dan penulis Kitab At-Tahdzib berkata bahwa bacaan dilakukan secara sedang antara jahar (keras, nyaring) dan sirr (tidak keras, tidak nyaring). Sementara shalat-shalat sunnah rawatib yang mengiringi shalat fardhu: maka dilakukan dengan bacaan sirr, berdasarkan kesepakatan para kolega kami (madzhab Syafiiyah). Al-Qadhi ‘Iyadh dalam Syarah Shahih Muslim mengutip pendapat sebagian ulama salaf mengenai menjaharkan bacaan dalam shalat sunnah rawatib subuh, dan pendapat mayoritas ulama bahwa bacaan dalam shalat sunnah subuh tetap sirr (tidak nyaring), sama seperti pendapat madzhab kami (Syafiiyah),”.

[ابن حجر الهيتمي، تحفة المحتاج في شرح المنهاج وحواشي الشرواني والعبادي، ٣٣٢/٢]

وَ) مِنْ شُرُوطِ الْقُدْوَةِ تَوَافُقُ نَظْمِ صَلَاتَيْهِمَا فِي الْأَفْعَالِ الظَّاهِرَةِ فَحِينَئِذٍ (تَصِحُّ قُدْوَةُ الْمُؤَدِّي بِالْقَاضِي، وَالْمُفْتَرِضِ بِالْمُنْتَفِلِ وَفِي الظُّهْرِ بِالْعَصْرِ وَبِالْعُكُوسِ) أَيْ بِعَكْسِ كُلٍّ مِمَّا ذُكِرَ نَظَرًا لِاتِّفَاقِ الْفِعْلِ فِي الصَّلَاتَيْنِ، وَإِنْ تَخَالَفَتْ النِّيَّةُ، والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA KAKAK IPAR MENGELUARKAN ZAKAT FITRA UNTUK ADIK IPARNYA


HUKUMNYA KAKAK IPAR MEGELUARKAN ZAKAT FITRA UNTUK ADIK IPARNYA

Diskripsi
Amin adalah manten baru yang hidup bersama mertuanya. Namun satu tahun kemudian, kedua mertuanya meninggal. Secara otomatis yang menggantikan posisi kedua mertuanya Amin adalah kakak iparnya Amin. Selama Amin hidup bersama kakak iparnya itu, dia tidak lagi berpenghasilan tetap. Lebih tepatnya, Amin lebih menggantungkan hidupnya kepada kakak iparnya karna berbagai faktor. Pernah di suatu kesempatan, sempat kakak iparnya amin yang membayarkan zakat fitrahnya amin dan istrinya amin.

Pertanyaan:

  1. Sebagai kepala keluarga (suami dari istrinya) wajibkah amin memgeluarkan zakat fitrah sendiri?
  2. Benarkah tindakan iparnya amin secara hukum?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Amin tidak wajib mengeluarkan zakat walaupun sebagai kepala rumah tangga sedangkan Tindakan kakak iparnya Amin tidaklah dibenarkan dan zakatnya tidak sah kecuali dengan seindzinya, kenapa Amin tidak wajib zakat , dan tindakan kakaknya tidak dibenarkan karena Amin bukanlah orang yang wajib membayar zakat karena masuk orang yang tidak mampu ( miskin ),dan juga Amin bukanlah hak kewajiban kakak iparnya dalam menafkahi kebutuhan hidupnya, hal ini dikiyaskan dengan orang tua yang mengeluarkan zakat untuk anaknya dengan tanpa seidzinnya sedangkan anaknya sudah baligh dan sehat serta mampu berkasab. Sedangkan ketentuan kewajiban membayar zakat fitrah hanya bagi orang yang mampu menunaikan zakat fitrah. Mampu di sini ialah orang yang pada saat malam hari raya Id dan hari raya Id memiliki harta yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi. 

“Kebutuhan tersebut meliputi makanan pokok, pakaian, rumah, dan terbebas dari utang yang melilitnya. Jika harta yang ia miliki tidak mencukupi untuk memenuhi salah satu dari kebutuhan tersebut pada saat malam hari raya Id, maka menunaikan zakat fitrah baginya adalah hal yang tidak wajib,”  

Solusinya yang lebih pantas kakak Ipararnya harus mengeluarkan zakat dirinya lalu diberikan kepada Amin .Alasannya Amin termasuk orang yang fakir yang berhak menerima zakat sedangkan hasil dari pemungutan zakat dari kakak iparnya dikeluarkan oleh Amin.

Referensi

فتح الوهاب بشرح المنهاج الطلاب.ج١ص ٢٠٠

ـ (ولا فطرة على معسروهو من لم يفضل عن قوته وقوت ممونه يومه وليلته و) عن (ما يليق بهما من ملبس ومسكن وخادم يحتاجها ابتداءا وعن دينه ما يخرجه) في الفطرة، بخلاف من فضل عنه ذلك

Tidak wajib zakat fitrah bagi orang yang tidak mampu, yakni orang yang tidak memiliki harta yang lebih untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dirinya dan orang yang wajib ia nafkahi pada saat malam id dan hari raya id, dan untuk memiliki pakaian dan rumah yang layak untuknya serta pelayan yang ia butuhkan dan (melunasi) hutang yang ia miliki, (tidak memiliki harta yang lebih) untuk mengeluarkan zakat fitrah. Berbeda ketika orang tersebut memiliki harta yang lebih untuk zakat fitrah setelah tercukupi kebutuhan di atas (maka wajib baginya zakat fitrah)” 

فقه المنهاجى على مذهب الإمام الشافعى.ج.١ص ٢٢٩

فلا يجب أن يخرجها عن ولده البالغ القادر على الاكتساب، ولا عن قريبه الذي لا يكلف بالإنفاق عليه، بل لا يصح أن يخرجها عنه إلا بأذنه


Artinya:” Maka tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi anaknya yang telah baligh yang mampu bekerja, juga kerabatnya yang ia tanggung nafkahnya. Akan tetapi, tidak sah jika mengeluarkan zakat fitrah baginya tanpa izin darinya.

[تقي الدين الحصني، كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار، صفحة ١٨٧]

وَوُجُود الْفضل عَن قوته وقوت عِيَاله فِي ذَلِك الْيَوْم ويزكي عَن نَفسه وَعَمن تلْزمهُ نَفَقَته من السلمين)
هَذَا هُوَ السَّبَب الثَّالِث لوُجُوب زَكَاة الْفطر وَهُوَ الْيَسَار فالمعسر لَا زَكَاة عَلَيْهِ قَالَ ابْن الْمُنْذر بِالْإِجْمَاع وَلَا بُد من معرفَة الْمُعسر وَهُوَ كل من لم يفضل عَن قوته وقوت من تلْزمهُ نَفَقَته آدَمِيًّا كَانَ أَو غَيره لَيْلَة الْعِيد ويومه مَا يُخرجهُ فِي الْفطْرَة فَهُوَ مُعسر

[القليوبي، حاشيتا قليوبي وعميرة، ٤٢/٢]
(وَلَا) فِطْرَةَ عَلَى (مُعْسِرٍ) وَإِنْ أَيْسَرَ بَعْدَ وَقْتِ الْوُجُوبِ (فَمَنْ لَمْ يَفْضُلْ عَنْ قُوتِهِ وَقُوتِ مَنْ فِي نَفَقَتِهِ لَيْلَةَ الْعِيدِ وَيَوْمِهِ شَيْءٌ) يُخْرِجُهُ فِي الْفِطْرَةِ (فَمُعْسِرٌ) بِخِلَافِ مَنْ فَضَلَ عَنْهُ مَا يُخْرِجُهُ فِيهَا مِنْ أَيِّ جِنْسٍ كَانَ مِنْ الْمَالِ فَهُوَ مُوسِرٌ لَكِنْ بِالشَّرْطِ الْمَذْكُورِ بِقَوْلِهِ: (وَيُشْتَرَطُ كَوْنُهُ) أَيْ الْفَاضِلِ عَمَّا ذُكِرَ (فَاضِلًا عَنْ مَسْكَنٍ) يَحْتَاجُ إلَيْهِ (وَخَادِمٍ يَحْتَاجُ إلَيْهِ فِي الْأَصَحِّ) وَهَذَا فِي الِابْتِدَاءِ فَلَوْ ثَبَتَتْ الْفِطْرَةُ فِي ذِمَّةِ إنْسَانٍ بِعْنَا خَادِمَهُ وَمَسْكَنَهُ فِيهَا لِأَنَّهَا بَعْدَ الثُّبُوتِ

القرآن الكريم .تفسير الطبري سورة التوبة .آية .٦٠

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (60)


القول في تأويل قوله : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (60)
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: ما الصدقات إلا للفقراء والمساكين، (24) ومن سماهم الله جل ثناؤه.
* * *
ثم اختلف أهل التأويل في صفة ” الفقير ” و ” المسكين “.
فقال بعضهم: ” الفقير “، المحتاج المتعفف عن المسألة، و ” المسكين “، المحتاج السائل. (25)
* ذكر من قال ذلك:
16818- حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا جرير, عن أشعث, عن الحسن: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، قال: ” الفقير “، الجالس في بيته = ” والمسكين “، الذي يسعى.
16819- حدثني المثنى قال، حدثنا عبد الله قال، حدثنا معاوية, عن علي, عن ابن عباس قوله: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، = قال: ” المساكين “، الطوافون, و ” الفقراء “، فقراء المسلمين.
16820- حدثنا ابن وكيع قال، حدثنا أبو أسامة, عن جرير بن حازم قال، حدثني رجل, عن جابر بن زيد: أنه سئل عن ” الفقراء “, قال: ” الفقراء “، المتعففون, و ” المساكين “، الذين يسألون.
16821- حدثنا أحمد بن إسحاق قال، حدثنا أبو أحمد قال، حدثنا معقل بن عبيد الله الجزريّ قال: سألت الزهري عن قوله: (إنما الصدقات للفقراء)، قال: الذين في بيوتهم لا يسألون, و ” المساكين “، الذين يخرجون فيسألون. (26)
16822- حدثنا الحارث قال، حدثنا القاسم قال، حدثنا يحيى بن سعيد, عن عبد الوارث بن سعيد, عن ابن أبي نجيح, عن مجاهد قال: ” الفقير ” الذي لا يسأل, و ” المسكين “، الذي يسأل.
16823- حدثنا يونس قال، أخبرنا ابن وهب, قال، قال ابن زيد في قوله: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، قال: ” الفقراء “، الذين لا يسألون الناس، أهلُ حاجة (27) = و ” المساكين “، الذين يسألون الناس.
16824- حدثنا الحارث قال، حدثني عبد العزيز قال، حدثنا عبد الوارث, عن ابن أبي نجيح, عن مجاهد قال: ” الفقراء “، الذين لا يسألون, و ” المساكين ” الذين يسألون.
* * *
وقال آخرون: ” الفقير “، هو ذو الزمانة من أهل الحاجة، و ” المسكين “، هو الصحيح الجسم منهم. (28)
* ذكر من قال ذلك:
16825- حدثنا محمد بن عبد الأعلى قال، حدثنا محمد بن ثور, عن معمر, عن قتادة: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، قال: ” الفقير “، من به زَمانة = و ” المسكين “، الصحيح المحتاج.
16826- حدثنا بشر قال، حدثنا يزيد قال، حدثنا سعيد, عن قتادة قوله: (إنما الصدقات للفقراء والمساكين)، أما ” الفقير “، فالزَّمِن الذي به زَمانة, وأما ” المسكين “، فهو الذي ليست به زمانة.
* * *
وقال آخرون: ” الفقراء “، فقراء المهاجرين، و ” المساكين “، من لم يهاجر من المسلمين، وهو محتاج.
* ذكر من قال ذلك:
16827- حدثنا الحارث قال، حدثنا عبد العزيز قال، حدثنا جرير بن حازم, عن علي بن الحكم, عن الضحاك بن مزاحم: (إنما الصدقات للفقراء)، قال: فقراء المهاجرين = و ” المساكين “، الذين لم يهاجروا. (29)

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ORANG TUA MENGELUARKAN ZAKAT FITRA UNTUK ANAKNYA YANG SUDAH BALIGH ATAU TELAH MENIKAH

HUKUM ORANG TUA MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH UNTUK ANAKNYA YANG SUDAH BALIGH DAN MENIKAH

Assalamualaikum
Deskripsi masalah
Pasutri dikaruniai tiga anak yang pertama telah dewasa dan telah melangsungkan ikatan Nikah namun kondisi kasabnya dalam kehidupan-sehari-harinya pas-pasan hanya cukup untuk makan, Artinya untuk makan sehari harus bekerja dalam keseharian,baik untuk dirinya, istrinya anaknya, Namun demikian orang tuanya termasuk orang yang mampu karena sebelum menikahkan anaknya semua anaknya dipemondokkan dipondok pesantren termasuk anak yang kedua dan baligh masih dipondok sehingga belum bisa dikatakan mampu mencari penghasilan dengan alasan karena masih terikat dengan sekolah dipondoknya, sedangkan anak yang perempuan sudah dewasa dan baligh namun masih perawan tua karena belum pernah menikah .

Pertanyaannya.

Apakah orang tua berkewajiban membayarkan zakat fitrah terhadap anak-anaknya baik yang sudah berkeluarga atau tidak namun anak tersebut sudah baligh.

Waalaikum salam.

Jawaban ditafsil

🅰️Orang tua tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah kepada anaknya yang masuk dalam kategori sebagai berikut:

  1. Anak sudah Dewasa ( baligh )dan sehat serta mampu berkasab ( mencari pengasilan)
  2. Anak yang sudah baligh dan berkeluarga, dengan alasan karena orang tua telah lepas dari tanggung jawabnya kewajiban-kewajiban terhadap anaknya, jika terpaksa mengeluarkan zakat untuk anaknya yang sudah baligh dan berkeluarga serta sehat dan mampu untuk bekerja maka zakatnya tidak sah kecuali dengan seidzinnya.

🅱️ Wajib orang tua mengeluarkan zakat untuk anak-anaknya baik laki-laki dan perempuan yang masuk dalam kategori:

  1. Anak yang belum baligh, sampai kepada cucu-cucuni ( jika orang tua cucu tidak mampu)
  2. .Anak sudah baligh namun nafkah masih dalam tanggungannya dan belum punya penghasilan ( karena mencari ilmu /mondok ) baik anaknya laki-laki maupun perempuan yang masih belum menikah.Akan tetapi jika anak perempuannya sudah pernah menikah maka tidaklah wajib.

Disebutkan dalam kitab Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī, sebagai berikut:

يجب على من توفرت لديه هذه الشرائط الثلاثة، أن يخرج زكاة الفطر عن نفسه، وعمن تلزمه نفقتهم، كأصوله وفروعه، وزوجته. فلا يجب أن يخرجها عن ولده البالغ القادر على الاكتساب

Artinya:
Mereka yang memenuhi tiga syarat ini wajib membayar zakat fitrah untuk dirinya sendiri, orang-orang yang wajib ia nafkahi, seperti jalur keturunan ke atas maupun ke bawah, dan istrinya. Maka tidak wajib mengeluarkan zakat untuk anak laki-lakinya yang telah baligh yang telah mampu bekerja. [Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī Juz I (Damaskus: Dār al-Qalam, 1996), hlm. 229]

أن يكونوا كبارا أصحاء لا يعجزون عن منافع أنفسهم فمذهب الشافعي، أنه لا تجب على الوالد نفقاتهم ولا زكاة فطرهم


Artinya: ” Jika seorang anak itu sudah besar yang memiliki kondisi fisik sehat, namun belum mampu mencukupi dirinya sendiri (belum bekerja), maka dalam madzhab Syafi’i, walinya tidak wajib menafkahinya, begitu pula zakat fitrah-nya. [al-Ḥāwī al-Kabīr fī Fiqhi Mażhabi al-Imām asy-Syāfi’ī Juz III (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiah, 1999), hlm. 353]

Jika telah memenuhi syarat wajib zakat fitrah seperti: 1) Islam; 2) masih hidup hingga terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadan; dan 3) memiliki kecukupan bahan makanan bagi dirinya sendiri dan keluarga dalam waktu 24 jam terhitung sejak hari pertama bulan Syawal, maka diwajibkan baginya membayar zakat untuk dirinya sendiri, dan orang-orang yang berada dalam tanggungan nafkahnya seperti uṣūl, furū’, dan istrinya. Dalam mazhab Syafi’i, istilah uṣūl merupakan jalur keturunan ke atas, seperti: bapak, ibu, kakek, nenek, dan seterusnya. Sementara furū’ merupakan jalur keturunan ke bawah, seperti: anak, cucu, dan seterusnya.

Berikut batasan orang tua wajib menafkahi anak atau keturunannya sekaligus mengeluarkan zakat fitrahnya dengan Mengutip ungkapan Abu Hanifah dalam kitab Ḥilyah al-Ulamā’fī Ma’rifati Mażāhib al-Fuqahā’ beikut.

وقال أبو حنيفة: نفقة الأنثى لا تسقط حتى تتزوج

Artinya: Abu Hanifah berkata: Nafkah bagi anak perempuan tidak berhenti sampai ia menikah.

Begitu pula Husain bin Muhammad al-La’iy dalam kitabnya, Badru at-Tamām Syaraḥ Bulughul Marām Juz 8 halaman 323, mengungkapkan hal yang sama sebagai berikut.

وذهب الجمهور إلى أن الواجب أن ينفق عليهم حتَّى يبلغ الذكر أو تتزوج الأنثى

Artinya:
Mayoritas ulama berpendapat bahwa wajib menafkahi anak laki-laki hingga menginjak baligh, atau hingga menikah bagi anak perempuan

Meskipun anak laki-laki sudah tergolong tidak wajib dinafkahi, sehingga pengeluaran zakat tentunya juga sudah tidak wajib dibayarkan oleh bapak atau wali, seperti memiliki kemampuan fisik untuk bekerja dan telah baligh, bukan berarti jika masih tetap dibayar zakatnya oleh bapaknya itu tidak sah. Namun, dapat menjadi tidak sah jika wali atau bapak membayarkan zakatnya tanpa seizinnya.

فلا يجب أن يخرجها عن ولده البالغ القادر على الاكتساب، ولا عن قريبه الذي لا يكلف بالإنفاق عليه، بل لا يصح أن يخرجها عنه إلا بأذنه

Artinya:
Maka tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah bagi anaknya yang telah baligh yang mampu bekerja, juga kerabatnya yang ia tanggung nafkahnya. Akan tetapi, tidak sah jika mengeluarkan zakat fitrah baginya tanpa izin darinya. [Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī Juz I (Damaskus: Dār al-Qalam, 1996), hlm. 229]

Selain pengecualian bagi anak telah baligh yang tidak memiliki fisik yang sehat, juga berlaku bagi anak telah baligh yang sedang menuntut ilmu.

فإن عاقه عن الاكتساب اشتغال بالعلم مثلاُ، فإنه ينظر فإن كان العلم متعلقاً بواجباته الشخصية: كأمور العقيدة، والعبادة، فذلك يُعدّ عجزاً عن الكسب، وتجب نفقته على أبيه

Artinya:
Jika dia (الولد صحيحاً بالغاً) terhalang bekerja karena disibukkan dengan (mencari) ilmu, atau semisalnya, maka hendaknya dia mempertimbangkan: Bahwa jika ilmu itu terkait dengan kewajiban yang dibutuhkan untuk dirinya sendiri, seperti ilmu aqidah dan ibadah, maka kondisi ini dianggap sebagai ketidakmampuan mencari nafkah. Wajib bagi ayahnya untuk menafkahi dirinya. [Fiqhi Manhaji ‘ala Mażhabi al-Imāmi asy-Syāfi’ī Juz IV (Damaskus: Dār al-Qalam, 1996), hlm. 124]

Dengan demikian, anak dengan kategori masih dalam tanggungan wajib nafkah seorang wali, maka pengeluaran zakat fitrah pun juga demikian. Anak laki-laki yang telah mencapai usia baligh dan telah mampu bekerja, tidak wajib bagi wali untuk membayar zakat fitrahnya, namun tetap sah jika wali membayarkannya asal atas seizin anak tersebut. Namun kategori ini dapat dikatakan masih wajib dinafkahi dan dibayarkan zakat fitrahnya jika masih menuntut ilmu (ilmu ḥāl).

Adapun anak yang memiliki keterbatasan fisik, meskipun telah mencapai usia baligh, maka wajib bagi wali untuk menafkahinya dan pembayaran zakat fitrah wajib dibayarkan oleh wali. Selain itu, kewajiban menafkahi anak perempuan ialah hingga ia menikah. Sehingga kewajiban wali membayar zakat fitrah-nya ialah juga sampai ia menikah. Wallahu A’lam.

Kategori
Uncategorized

CARA MELAFADHKAN NIAT SHALAT WITIR

CARA MELAFADHKAN NIAT SHALAT WITIR YANG DISAMBUNG 3 RAKAAT MENJADI SATU SALAM DAN DIPISAH 3 RAKAAT DIJADIKAN DUA SALAM

Shalat witir bisa dikerjakan dalam jumlah rakaat ganjil, maksimal 11 rakaat baik dilakukan Setiap malam setelah shalat isya’ atau setelah shalat tahajjud ataupun setelah shalat tarawih dibulan Ramadan, banyak umat muslim mengerjakan shalat witir sebanyak tiga rakaat, terutama yang berjemaah di masjid atau musholla dibulan Ramadhan. Namun, ada juga yang mengerjakan shalat witir secara sendirian.
Pernah saya menjumpai orang shalat witir 3 Rakaat disambung menjadi satu salam dan ada yang dipisahkan menjadi dua salam. Dengan kata lain.
Pertama, shalat witir tiga rakaat dikerjakan dengan dua kali salam.
Kedua, salat witir dikerjakan 3 rakaat tersambung sekaligus dengan satu salam.

Pertanyaannya.
Bagaimana cara melafadh kan niat dari keduanya ( antara yang disambung 3 rakaat menjadi satu salam dan yang dipisah menjadi dua salam) ?

Waalaikum salam.

Jawaban.
Jika shalat sunnah witir 3 raat disambung menjadi satu salam maka cara melafadhkan niatnya jika baik dilakukan secara sendirian atau berjamaah sebagaimana berikut:

JIKA DILAKUKAN MUNFARID/SENDIRIAN👇

أصلى سنة الوتر ثلاث ركعات ادآء مستقبل القبلة لله تعالى

JIKA DILAKUKAN SECARA BERJAMAAH 👇

أصلى سنة الوتر ثلاث ركعات ادآء مستقبل القبلة مأموما لله تعالى

Adapun jika shalat witir 3 rakaat dilakukan dengan cara dipisah menjadi dua salam. Maka jika dilakukan dua rakaat yang pertama tidak berlu menyertakan huruf من yang berarti Tab’idiyah yang berati sebagian seperti contoh

أصلى سنة ركعتين من الوتر / أصلى ركعتين من الوتر سنة لله تعالى

Artinya cukup melafadhkan sebagaimana berikut:

JIKA DILAKUKAN SECARA MUNFARID👇

أصلى سنة الوتر ركعتين ادآء مستقبل القبلة لله تعالى

JIKA DILAKUKAN SECARA BERJAMAAH 👇

أصلى سنة الوتر ركعتين ادآء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى

المجموع شرح المهذب

(الرَّابِعُ)

حَدِيثُ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْصِلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ بِتَسْلِيمَةٍ يُسْمِعُنَاهَا رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي مُسْنَدِهِ بِهَذَا اللفظ (الخامس) قيل فان كَانَ يَعْلَمُ حَدِيثَ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لا يسلم في ركعتي الوتر رواه النسائي بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ وَرَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي السُّنَنِ الْكَبِيرَةِ

Dalam kitab majmu’ dijelaskan Hadits dari Umar ra. dia berkata bahwa Nabi Muhammd SAW pernah memisahkan antara shalat yang “Asyyaf’i Genap ( dua rakaat sebagian dari witir) dan satu witir ( artinya witir tiga rakaat )namun dipisah, berarti dua rakaat ( assaf’i/Genap ) adalah bagian dari witir .Maka kalau mengikuti ibaroh dalam kitab majmu’ cara melafadhkan niat dua rakaat sebagian dari witir adalah sebagai berikut:

أصلى سنةً ركعتى الوتر أداءً مستقبلة القبلة لله تعالى.أى ركعتين من الوتر


Atau

أصلى سنة الوتر ركعتين أى من الوتر ركعتين أداءً مستقبل القبلة مأموما لله تعالى

artinya:”Saya niat shalat sunnah sebagian dari witir dua rakaat menghadap kiblat seraya menjadi makmum karena Allah Ta’ala

Penjelasan
Kedua contoh diatas adalah Susunan idhofah yang menyimpan Huruf jar contoh idhofah سنة الوتر أى من الوتر

Maka andaikan dinampakkan huruf jarnya lafadhnya menjadi:

أصلي سنة من الوتر ركعتين أداء مستقبل القبلة مأموما لله تعالى

artinya:”Saya niat shalat sunnah sebagian dari witir dua rakaat menghadap kiblat seraya menjadi makmum karena Allah Ta’a

Sebagaimana penjelasan Ibnu Malik dalam kitabnya Alfiyah berikut:

وَالثَانِى اجْرُرْ وَانوِ أَوْفِى إذَا # لَمْ يَصْلُحْ إِلاَّ ذاكَ وَاللاَّمَ خُدَا

لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ وَاخْصُصْ اَوَّلاَ # اَو أَعْطِه التَّعْرِيْفَ بالَّذِى تَلاَ

Bacalah jar pada isim yang kedua ( mudhof ilaih ), dan kira-kirakanlah maknanya من  atau  فى apabila tidak pantas kecuali dengan maknanya huruf tersebut, dan kira-kirakanlah maknanya lam.

 Untuk selainnya yang pantas menyimpan maknanyaفى  atau من  dan takhsislah isim yang awal (mudhof) atau ma’rifatkanlah dengan isim yang kedua ( mudhof ilaih ).

بعض وبين وابتدء فى الأمكنة # بمن وقد تأتي لبدء الأزمنة

Jadi lafadh niat yang benar adalah:


أصلى سنة الوتر ركعتين أداء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى


Kenapa tidak perlu mengucapkan من الوتر

( أصلي سنة من الوتر ركعتين)

Susunan idhafah sudah mentaqdir huruf من. Oleh karenanya dlm kitab Bughiyah disebutkan tidak perlu mengungkap kan من ” للتبعيضية

Tidak harus menyebutkan من۔ yang berarti sebagian dalam niat witir

. (بغية المسترشدين : ص ٤٠)

(مسألة: ي)

لا يلزم الناوي لركعتين من نحو التراويح والوتر استحضار من التبعيضية عند ابن حجر و ع ش، ورجح في شرح المنهج والنهاية وغيرهما لزومها

Artinya;” Tidalah wajib bagi orang berniat dua rakaat misalnya dalam shalat tarawih atau shalat witir menghadirkan من yang berarti sebagian dari…..Menurut Ibnu Hajar yang diperkuat dalam kitab Syarah minhaj dan Nihayah dan yang lainnya.

Artinya merujuk pada referensi diatas sebenarnya melafadhkan niat yang biasa sudah benar yakni

( أصلى سنة الوتر ركعتين آداء مستقبل القبلة ماءموما/إماما لله تعالى).

atau

أصلى سنةً ركعتى الوتر أداءً مستقبلة القبلة لله تعالى.أى ركعتين من الوتر

Kenapa tidak perlu menyertakan من yang berarti sebagian ? Karena dalam lafadh سنة الوتر menurut ilmu tata bahasa disebut Susunan ” Idhofah” yang didalamnya menyimpan/mentaqdir Huruf jar berupa من yakni سنة الوتر أى سنة من الوتر

Sedang bilamana dilakukan satu rakaat maka cara melafadhkannya adalah

أصلى سنة الوتر ركعة ادآء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى

Atau

أصلى سنةً ركعةَ الوتر ادآء مستقبل القبلة مأموما/إماما لله تعالى /

التقريرات السديدة ص ٢٨١-٢٨٢

شرح بعض النوافل :
الأولى : صلاة الوتر، وهي واجبة عند أبي حنيفة
فضلها : ورد فيها الكثيرُ منَ الأحاديث، منها: «إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ
الوتر (۱)، «أوتروا يا أهل القرآن» (۲) ، «مَنْ لم يُوتِرُ فليس منا » (۳) ، «إِنَّ الله قد
أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ هِيَ خيرٌ لَكُمْ مِن حُمْرِ النَّعَم » (٤) .

وقتها : من فعل العِشاء إلى طلوع الفجر، والأفضل تأخيرها إلى آخر
الليل إذا كانَ يغلِبُ على ظنّهِ الاستيقاظ قبل الفجر، وإلا فالأفضل تقديمها
بعد العشاء .
عدد ركعاتها :
أقلها : ركعة، وتكره المداومة عليها لغير عُذر .

(١) أخرجه أحمد (۲: ۱۰۹) .
(٢) أخرجه أحمد ( ١ : ١٤٨ ) .
(۳) أخرجه أحمد (٤٤٣:٢ ) .
(٤) أخرجه أبو داود (١٤١٨) ، وابن ماجه (١١٦٨)، والترمذي (٤٥٢) .

وأدنى الكمال : ثلاث ركعات .
وأكمل الكمال : إحدى عشرة ركعة (١) .
كيفيتها : لها كيفيتان : وَصْلٌ وفَضْل :
(١) الوصل : أن يصل الركعة الأخيرة بما قبلها، كما في صلاة المغرب .
ويجوز فيه الاقتصار على تشهد في الأخيرة، أو تشهدين في الأخيرة وما
قَبْلَها (٢) .
(٢) الفصل : أن يفْصِلَ الرَّكعة الأخيرة عما قبلها، وهي أفضل، لما ورد من كراهية تشبيه صلاة الوتر بصلاة المغرب .
ويُسَنُ أن يقرأ – في الثلاثِ الرَّكْعاتِ الأخيرة : في الأولى: سورة الأعلى، وفي الثانية : الكافرون، وفي الثالثة الإخلاص والمعوذتين (۳) ..

(١) ولو نوى الوتر وأطلق حمل على ما يريد عند ابن حجر، وعلى الثلاث عند الرملي، ولو نذر الوتر لزمه الثلاث بالاتفاق.
(۲) فلا يجوز فيه أكثر من تشهدين أو أن يتشهد في غير الأخيرتين لأنها وصل، وأما إذا صلاها فَضْلاً : بأن فصل الركعة الأخيرة عما قبلها فيجوز أن يصلي الست بإحرام أو
أكثر وبتشهد أو أكثر .
(۳) ويأتي بعده بالدعاء المأثور وهو : سبحانَ الملك القدوس ثلاثاً، سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رب الملائكة والروح، جلّلت السماوات والأرض بالعظمة والجبروت، وتعززت بالقدرة، وقهرت العباد بالموت. اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك، وبمعافاتك من عقوبتك، وبك منك، لا تحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك . أعود بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم : ﴿ وَذَا النُّونِ إِذ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ يا حي يا قيوم لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين (أربعين مرة) ، تمامها : ﴿ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَيْنَهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُجِى الْمُؤْمِنِينَ ) .

Penjelasan Beberapa Salat Sunnah

Pertama: Salat Witir
Salat witir adalah salat yang wajib menurut Abu Hanifah.

Keutamaannya

Banyak hadis yang menyebutkan keutamaan salat witir, di antaranya:

“Sesungguhnya Allah itu witir (Maha Esa) dan menyukai witir.” (HR. Ahmad, 2:109) “Lakukanlah witir, wahai para ahli Al-Qur’an.” (HR. Ahmad, 1:148) “Barang siapa yang tidak melaksanakan witir, maka dia bukan bagian dari kami.” (HR. Ahmad, 2:443) “Sesungguhnya Allah telah memberi kalian salat yang lebih baik dari unta merah (harta yang paling berharga).” (HR. Abu Dawud, 1418; Ibnu Majah, 1168; Tirmidzi, 452) Waktu Pelaksanaan

Salat witir dapat dilakukan sejak selesai salat Isya hingga terbitnya fajar. Yang lebih utama adalah menundanya hingga akhir malam jika seseorang yakin bisa bangun sebelum fajar. Namun, jika tidak yakin bisa bangun, maka lebih baik dikerjakan langsung setelah salat Isya.

Jumlah Rakaatnya Minimal: 1 rakaat, tetapi dimakruhkan terus-menerus hanya melakukannya 1 rakaat tanpa uzur. Tingkat kesempurnaan yang paling rendah: 3 rakaat. Tingkat kesempurnaan yang paling utama: 11 rakaat. Tata Cara Pelaksanaan

Salat witir dapat dilakukan dengan dua cara:

Shalat Witir dengan “Sambungan” (Waṣl)
Yaitu menyambung rakaat terakhir dengan rakaat sebelumnya, seperti salat Magrib. Dalam cara ini, seseorang boleh memilih antara:

Hanya satu tasyahhud di rakaat terakhir, atau Dua tasyahhud, satu di rakaat terakhir dan satu lagi di rakaat sebelumnya.

Shalat Witir dengan “Pemisahan” (Faṣl)
Yaitu memisahkan satu rakaat terakhir dari rakaat sebelumnya. Cara ini lebih utama, karena ada riwayat yang menyebutkan larangan menyerupakan salat witir dengan salat Magrib.

Bacaan dalam Salat Witir Rakaat pertama: Surah Al-A’la. Rakaat kedua: Surah Al-Kafirun. Rakaat ketiga: Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Doa Setelah Witir

Setelah salat witir, disunnahkan membaca doa berikut:

“Subḥāna al-malik al-quddūs” (tiga kali). “Subbūḥun quddūs, rabbul-malāikati war-rūḥ. Jallaaltas-samāwāti wal-arḍa bil-‘aẓamati wal-jabarūt, wa ta’azzazta bil-qudrah, wa qaharta al-‘ibāda bil-mawt.” “Allāhumma innī a’ūdzu biridāka min sakhatika, wa bimu’āfātika min ‘uqūbatika, wa bika minka. Lā uḥṣī tsanā’an ‘alayka, anta kamā atsnayta ‘alā nafsik.” Membaca ayat: “Wa dzan-nūni idz dzahaba mughaḍiban faẓanna an lan naqdir ‘alayhi, fanādā fiẓ-ẓulumāti an lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.” Mengulang: “Yā Ḥayyu yā Qayyūm, lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn” sebanyak 40 kali. Menutup dengan ayat: “Fastajabnā lahu wa najjaynāhu minal-ghammi, wa kadzālika nunjil-mu’minīn.”

Kategori
Uncategorized

WAFAT DIBULAN PUASA RAMADHAN APAKAH WAJIB ZAKAT

Assalamualaikum
Deskripsi masalah
Kematian merupakan sunnatullah yang mana pasti terjadi kepada setiap makhluk tak terkecuali manusia, dan jika Allah telah menetapkan ketentuan ajal berupa kematian maka ketika telah datang tidaklah akan maju dan mundur satu saat maka pasti akan mati sesuai dengan apa Yang Allah tentukan. Dalam waqiiyah seorang bernama Moh.Fadl lan ( bapak tikno) tepat pada Awal bulan puasa begitu juga seorang bernama Eko meningga diakhir bulan puasa dan Fatimahpun melahirkan anaknya dibulan puasa.

Pertanyaannya.

Apakah orang yang wafat/meninggal dan Fatimah yang melahirkan anaknya dibulan puasa wajib mengeluarkan zakat fitrah ?

Waalaikum salam.
Jawaban.
Orang yang meninggal dibulan ramadhan ataupun lahir dibulan ramadhan dan masih masuk 1 syawal maka wajib membayar zakat fitrah karena zakat tidaklah gugur karena sebab kematian begitu halnya dengan zakat mal, jika sudah sampai satu nisab.’

فقه المنهجى على مذهب الإمام الشافعى .ص١٥٠
الثاني- غروب شمس آخر يوم من رمضان: فمن مات بعد غروب ذلك اليوم، وجبت زكاة الفطر عنه، سواء مات بعد أن تمكن من إخراجها، أم مات قبله، بخلاف من ولد بعده. ومن مات قبل غروب شمسه لم تجب في حقه، بخلاف من ولد قبله

“Syarat kedua adalah terbenamnya matahari di akhir hari dari Ramadhan. Maka orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari pada hari tersebut, maka wajib zakat fitrah atas dirinya. Baik ia meninggal setelah mampu untuk mengeluarkan zakat atau sebelum mampu. Berbeda hukumnya bagi bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari. Sedangkan orang yang meninggal sebelum terbenamnya matahari (di hari akhir Ramadhan) maka tidak wajib zakat bagi dirinya, berbeda hukumnya bagi bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari”

نهاية الزين .ص١٧٤

الثاني: أن يدرك وقت وجوبها الذي هو آخر جزء من رمضان وأوّل جزء من شوال، فتخرج عمن مات بعد الغروب وعمن ولد قبله ولو بلحظة دون من مات قبله ودون من ولد بعده

“Syarat kedua, menemukan waktu wajibnya zakat fitrah, yakni akhir bagian dari Ramadhan dan awal bagian dari Syawal. Maka wajib dikeluarkan zakat atas orang yang meninggal setelah terbenamnya matahari (di hari akhir Ramadhan) dan atas bayi yang lahir sebelum terbenamnya matahari, meskipun dengan jarak yang sebentar. Tidak dikeluarkan zakat bagi orang yang mati sebelum terbenamnya matahari (di hari akhir Ramadhan) dan bayi yang lahir setelah terbenamnya matahari”
Maka bagi orang yang tidak menemui salah satu dari dua masa tersebut, misalnya seperti orang yang meninggal di bulan Ramadhan, atau bayi yang lahir pada malam takbir (malam Idul Fitri) maka tidak wajib bagi mereka zakat fitrah.

[النووي، المجموع شرح المهذب، ٢٣١/٦]
وَمَنْ وَجَبَتْ عليه الزكاة وتمكن من ادائها فلم يفعل حتي مات وجب قضاء ذلك من تركته لانه حق مال لزمه في حال الحياة فلم يسقط بالموت كدين الآدمى فان اجتمع الزكاة ودين الآدمى ولم يتسع المال للجميع ففيه ثلاثة أقوال (احدها) يقدم دين الآدمى لان مبناه علي التشديد والتأكيد وحق الله تعالى مبني علي التخفيف ولهذا لو وجب عليه قتل قصاص وقتل ردة قدم قتل القصاص
(والثانى)
تقدم الزكاة لقوله صلي الله عليه وسلم في الحج ” فدين الله احق ان يقضي ” (والثالث) يقسم بينهما لانهما تساويا في الوجوب فتساويا في القضاء}

فقه الزكاة للشيخ الدكتور يوسف القرضاوي. الجزء الثاني

هل تسقط الزكاة بالموت؟
ذهب جمهور الفقهاء إلى أن الزكاة لا تسقط بموت رب المال، بل تخرج من تركته، وإن لم يوص بها. هذا قول عطاء والحسن والزهري وقتادة ومالك (في كتب المالكية: أن الزكاة: تارة تخرج من رأس المال، وتارة تخرج من الثلث، أي من تركة الميت، فإن أوصى بها فمن الثلث، وإن اعترف بحلولها وأوصى بإخراجها فمن رأس المال. (حاشية الدسوقي: 1/502)، وفي شرح الرسالة لزروق: 2/172 في زكاة عامة يموت قبل التمكن من إخراجها فإنها من رأس ماله لتعينها، وانظر بداية المجتهد: 1/241- طبع الاستقامة)، والشافعي (قال النووي: إذا وجبت الزكاة وتمكن من أدائها ثم مات لم تسقط بموته عندنا، بل يجب إخراجها من ماله عندنا. انظر المجموع: 5/335).
وأحمد وإسحاق وأبي ثور وابن المنذر (المغني: 2/683-684)، وهو مذهب الزيدية (الأزهار وشرحه: 1/463، والبحر: 2/144).
وقال الأوزاعي والليث: تؤخذ من الثلث مقدمة على الوصايا، ولا يجاوز الثلث.
وقال ابن سيرين والشعبي والنخغي وحماد بن سليمان والثوري وغيرهم: لا تخرج إلا أن يكون أوصى بها، وكذلك قال أبو حنيفة وأصحابه: أنها تسقط بموت المكلف، إلا أن يوصي بها، وتخرج من الثلث، ويزاحم بها أصحاب الوصايا، وإذا لم يوص بها سقطت، ولا يلزم الورثة إخراجها، وإن أخرجوها فصدقة تطوع؛ لأنها عبادة من شرطها النية، فسقطت بموت من هي عليه كالصلاة والصوم (هذا قول أبي حنيفة في زكاة الذهب والفضة. أما الزرع والماشية فقد اختلفت عنه الرواية فيهما: أتسقط أم تؤخذ بعد موته؟ انظر المحلي: 6/88-89، والمجموع: 5/335-336).
ومعنى هذا: أن الحنفية يقولون: مات آثمًا بترك هذه الفريضة، ولا سبيل إلى إسقاطها عنه بعد موته كتارك الصلاة والصيام، ولهذا قال بعض الحنفية: إذا أخَّر الزكاة حتى مرض يؤدي سرًا من الورثة (ذكره في رد المحتار: ٢/١٤ نقلاً عن الفتح )
والصحيح هو القول الأول، فإن الزكاة -كما قال ابن قدامة- حق واجب تصح الوصية به، فلم تسقط بالموت كدين الآدمي، ولأنها حق مالي واجب، فلم يسقط بموت من هو عليه كالدين، وتفارق الصوم والصلاة، فإنهما عبادتان بدنيتان، لا تصح الوصية بهما، ولا النيابة فيهما (المغني لابن قدامة: 2/683-684، والمجموع: 5/336).
على أنه قد ورد في الصحيح: (من مات وعليه صيام صام عنه وليه) مع أن الصيام عبادة بدنية شخصية، وجازت فيه النيابة بعد الموت، فضلاً من الله ورحمة، فأولى بذلك الزكاة، وهي حق مالي كما قدمنا.
منزلة دين الزكاة من سائر الديون
قال صاحب “المهذب” من الشافعية (المجموع: 6/231)، ومن وجبت عليه الزكاة، وتمكن من أدائها فلم يفعل حتى مات، وجب قضاء ذلك من تركته؛ لأنه حق مالي لزمه في حال الحياة، فلم يسقط بالموت كدين الآدمي، فإن اجتمعت الزكاة ودين الآدمي ولم يتسع المال للجميع، ففيه ثلاثة أقوال:
أحدهما: يُقدم دين الآدمي؛ لأن مبناه على التشديد والتأكيد، وحق الله تعالى مبني على التخفيف.
والثاني: تُقدم الزكاة؛ لقوله -صلى الله عليه وسلم- في الحج: (فدين الله أحق أن يُقضى) (الحديث في الصحيحين من رواية ابن عباس -رضي الله عنهما- في الصوم. المصدر السابق).
الثالث: يقسم بينهما؛ لأنهما تساويا في الوجوب فتساويا في القضاء.
والقول بتقديم الزكاة على غيرها من ديون العباد هو قول الظاهرية، وقد نصره أبو محمد ابن حزم، وعضده بالأدلة من الكتاب والسنة الصحيحة، قال: فلو مات الذي وجبت عليه الزكاة سنة أو سنتين، فإنها من رأس ماله، أقرّبها، أو قامت عليه بينة، ورثه ولده أو كلالة (الكلالة: من ورثه غير ولده ووالده). لا حق للغرماء ولا للوصية ولا للورثة، حتى تستوفي (يعني الزكاة) كلها سواء في ذلك: العين والماشية والزرع..
وناقش ابن حزم الحنفية وغيرهم ممن أسقطوا الزكاة بموت رب المال، ونسب إليهم غاية الخطأ؛ لأنهم أسقطوا – بموت المرء – دينًا لله تعالى وجب عليه في حياته، بلا برهان أكثر من أن قالوا: لو كان ذلك لما شاء إنسان أن لا يورث ورثته شيئًا إلا أمكنه.قال: فما تقولون في إنسان أكثر من إتلاف أموال الناس ليكون ذلك دينًا عليه ولا يرث ورثته شيئًا، ولو أنها ديون يهودي أو نصراني في خمور أهرقها لهم؟ فمن قولهم: أنها كلها من رأس ماله سواء ورث ورثته أم لم يرثوا، فنقضوا علتهم بأوحش نقض، وأسقطوا حق الله -تعالى- الذي جعله للفقراء والمساكين من المسلمين والغارمين منهم، وفي الرقاب منهم، وفي سبيله تعالى، وابن السبيل فريضة من الله تعالى – وأوجبوا ديون الآدميين، وأطعموا الورثة الحرام.والعجب كله من إيجابهم الصلاة بعد خروج وقتها على العامد لتركها، وإسقاطهم الزكاة -ووقتها قائم- عن المتعمد لتركها !!
قال أبو محمد: ويبين صحة قولنا وبطلان قول المخالفين قول الله -عزَّ وجلَّ- في المواريث: (من بعدِ وصيَّةٍ يُوصى بها أو دين) (النساء: 11)، فعم -عز وجل- الديون كلها، والزكاة دين قائم لله -تعالى-، وللمساكين والفقراء والغارمين، وسائر من فرضها تعالى لهم في نص القرآن.
ثم روى ابن حزم بإسناده الحديث الذي أخرجه مسلم في صحيحه ورواه سعيد بن جبير ومجاهد وعطاء عن ابن عباس قال: جاء رجل إلى النبي -صلى الله عليه وسلم- فقال: إن أمي ماتت وعليها صوم شهر، أفأقضيه عنها؟ فقال: (لو كان على أمك دين، أكنت قاضيه عنها)؟ قال: نعم. قال: (فدين الله أحق أن يُقضى).
وفي رواية عن ابن عباس – من طريق ابن جبير – أنه -عليه السلام- قال: (فاقضوا الله فهو أحق بالوفاء).
قال: فهؤلاء عطاء وسعيد بن جبير ومجاهد يروونه عن ابن عباس، فقال هؤلاء بآرائهم: بل دين الله -تعالى- ساقط، ودين الناس أحق أن يُقضى! والناس أحق بالوفاء”!! اهـ (المحلي: 6/89-91).وإذا غضضنا الطرف عن عنف ابن حزم في الهجوم، وأسلوبه في مناقشة الخصوم (بعض الناس يرى إسقاط الاستفادة من ابن حزم نهائيًا من أجل عنفه وطريقته في مهاجمة المذاهب وأتباعها، ونحن – وإن كنا ننكر ذلك على ابن حزم – نرى الانتفاع بما يورده من أفكار واعتبارات، فلنا فقهه، وعليه عنفه، ولكل امرئ ما نوى، وحسابه على الله، وكل واحد يؤخذ من كلامه ويُترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم)، والتفتنا فقط إلى ما استدل به من القرآن والحديث، فالذي يتأكد لنا أن الزكاة حق أصيل ثابت، لا يسقطه تقادم ولا موت، وأنها تؤخذ من التركة وتُقدَّم على كل حق وكل دين سواها، وبذلك يكون الإسلام قد سبق التشريعات المالية الحديثة التي قررت للحكومة حق امتياز على أموال المدينين بالضريبة، تسبق به غيرها من دائني الممول المتأخر عن السداد (مبادئ النظرية العامة للضريبة للدكتور عبد الحكيم الرفاعي، وحسين خلاف ص143).

Apakah zakat gugur karena sebab kematian?
Mayoritas ulama fiqh berpendapat bahwa zakat tidak gugur dengan sebab kematian pemilik hartanya, melainkan harus dkeluarkan dari hartanya, meskipun tidak ada wasiat . Inilah perkataan Ataa, al-Hasan, al-Zuhri, Qatadah dan Malik (dalam kitab-kitab Maliki: bahwa zakat: terkadang dikeluarkan dari Ra’sul maal,( mudal harta) dan terkadang dikeluarkan sepertiga, yaitu dari harta òrang yang mati. 1/502), Dan jika diketahui dengan kehalalannya dan berwasiat dengan mengeluarkannya maka dari modalnya harta .( Hasyiah ad-Dasuki : 2/172)
Dan disebutkan dalam kitab Syarah ar-Risalah LiZaruuq Dalam zakat umum, dia meninggal sebelum mampu /memungkinkan untuk membayarnya, yang berasal dari modalnya karena menentukantunya, dan lihat kitab ( Bidayatul mujtahid: 1 /241 – pencetakan istiqoomah), dan Al-Shafi’i (Menurut Al-Nawawi dia berkata: Jika seseorang memungkinkan untuk mengeluarkan zakat kemudian meninggal maka zakat wajib baginya dan menurut kami zakat tidaklah gugur dengan sebab kematian( meninggal) bahkan wajib dikeluarkan dari harta peninggalannya ( Al-Majmu’: 5/335).
Dan Ahmad, Ishaq, Abu Thawr, dan Ibn Al-Mundhir (Al-Mughni: 2/683-684), yang merupakan mazhab Zaidi (Al-Azhar dan penjelasannya: 1/463, Al-Bahr: 2/ 144).
Al-Awza’i dan Al-Layth berkata: Harta yang wajib dikeluarkan Itu diambil dari sepertiga dari wasiat, dan tidak melebihi sepertiga.
Ibnu Sirin, Al-Sha’bi, Al-Nakhghi, Hammad bin Sulaiman, Al-Thawri dan lain-lain berkata: Jangan dikeluarkan kecuali dia mewasiatkannya, dan demikian pula Abu Hanifah dan para sahabatnya berkata: zakat itu gugur dengan kematian, kecuali berwasiat dan dikeluarkan dari se⅓, dan sedangkan pemilik wasiat bersaing dengannya, dan jika tidak ada wasiat, maka gugurlah zakat dan ahli warisnya tidak wajib mengeluarkannya/membayarnya, dan jika mereka terpaksa mengeluarkan zakat (memberikannya) maka itu adalah sedekah sunnat. Karena itu adalah ibadah yang disyaratkannya adanya niat, dan gugur dengan sebab kematian orang yang mewajibkannya ( menqodho’nya),adalah seperti shalat dan puasa (inilah yang dikatakan Abu Hanifah tentang zakat emas dan perak. Adapun tanaman dan ternak, riwayatnya berbeda diantara keduanya: Apakah itu gugur atau diambil setelah kematiannya? Lihat al-Mahalliy: 6/88-89, dan al-Majmu’: 5 /335-336).Adapun pengertian ini adalah Bahwa madzhab Hanafiyah berkata: Dia mati sebagai orang berdosa karena meninggalkan kewajiban ini, dan tidak ada cara untuk meninggalkannya setelah kematiannya seperti orang yang meninggalkan shalat dan puasa, dan karena itu sebagian Hanafi berkata: Jika dia menunda zakat sampai dia sakit, dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi dari ahli waris (disebutkan olehnya dalam Radd Al-Muhtar: 2/14, mengutip Al-Fath)
Adapun pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, karena zakat – sebagaimana dikatakan oleh Ibn Qudamah –bahwa zakat adalah hak yang wajib dengannya wasiat itu sah, dan tidaklah gugur zakat dengan sebab kematian sebagaimana hutangnya anak Cucu Adam, alasannya karena itu adalah hak yang bersifat harta yang wajib maka tidaklah gugur dengan kematian orang yang wajib membayar hutangnya, berbeda dengan puasa dan shalat sesungguhnya keduanya adalah ibadah badaniyah oleh karenanya tidak sah wasiat dengan keduanya (Al-Mughni oleh Ibn Qudamah: 2/683-684, dan al-Majmu’: 5/336).
Namun, telah disebutkan dalam hadits Sahih: Barangsiapa meninggal dan berutang puasa,maka wajib atas walinya menqodho’nya (berpuasa atas namanya), meskipun puasa adalah ibadah yang bangsa tubuh pribadi, dan diperbolehkan mengambil bagian di dalamnya setelah kematian,karena semata pemberian dari Allah dan rahmat, maka adapun yang utama dia harus membayar zakat atasnya, dan itu adalah hak harta seperti yang telah kami sajikan.
Status hutang zakat dari semua hutang lainnya
Penulis “Al-Muhadhd” dari Syafi’i mengatakan (Al-Majmu’: 6/231), dan barang siapa yang wajib membayar zakat, dan dia mampu untuk membayarnya sementara dia tidak melakukannya sampai dia meninggal, maka ia harus dikeluarkan dari harta miliknya; Karena itu adalah hak finansial yang wajib dalam keadaan hidup, dan tidak gugur dengan sebab kematian, seperti hutang kepada manusia .
Adapun jika zakat dan hutang kepada manusia berkumpul sementara hartanya tidak meluas/mencukupi untuk semuanya, maka dalam hal ini ada tiga pendapat:
1️⃣ Wajib didahulukan hutang kepada manusia alasannya Karena hal itu didasarkan pada kekuatan dan penekanan sedangkan hak Allah adalah didasarkan pada keringanan.
2️⃣: Zakat harus didahulukan berdasarkan hadits sabdanya – ﷺ shallallahu alaihi wasallam didalam haji: (Hutang Allah lebih berhak untuk dilunasi) (hadits dalam dua Shahihaini dari riwayat Ibnu Abbas -ra – tentang puasa .Sumber sebelumnya).
3️⃣: membagi di antara keduanya; Karena keduanya sama -sama wajib di adili/diputuskan.

Adapun satu pendapat bahwa zakat harus didahulukan daripada hutang hamba ini adalah perkataan yang nyata, dan Abu Muhammad bin Hazm mendukungnya, dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang shahih dia berkata: barang siapa yang meninggal sementara dia punya kewajiban zakat untuk dibayarnya maka haruslah dikeluarkan dari modal hartanya atau yang lebih dekat menegakkan adalah putranya dan ayahnya). Tidak ada hak bagi yang berhutang, memiliki wasiat, atau bagi ahli waris, sampai mereka membayar (maksudnya zakat) semuanya sama saja dalam hal itu berupa zakat ain, ternak, dan tanaman.
Ibn Hazm membahas mazhab Hanafi dan lainnya dari sebagian orang yang mengugurkan zakat dengan sebab kematian pemilik harta dan menghubungkan mereka dengan kesalahan yang paling besar; Karena mereka gugur – dengan kematian seseorang yang punya- hutang kepada Allah Yang Maha Tinggi yang wajib atas dirinya selama hidupnya, dengan tidak ada bukti lebih dari mereka berkata: Jika itu terjadi, seseorang tidak ingin ahli warisnya tidak mewariskan sesuatu kepada ahli warisnya kecuali ia mampu.
Dia berkata: Jadi apa yang kamu katakan tentang seseorang lebih dari membuang-buang harta orang sehingga menjadi hutang padanya dan ahli warisnya tidak mewarisi apa-apa, bahkan jika itu adalah hutang seorang Yahudi atau Nasrani dalam anggur yang dia tumpahkan untuknya mereka? Dari perkataan mereka: Itu semua dari modalnya, baik ahli warisnya mewarisi atau tidak, maka mereka mencabut perjuangan mereka dengan pembalikan yang paling ditakutkan dan mereka menggunakan hak Allah Yang Maha Tinggi yang kemudian menjadikannya untuk fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Kaum Muslimin dan orang-orang yang berhutang di antara mereka, dan di budak mereka, dan demi mereka, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan adalah kewajiban dari Allah SWT – Dan mereka mewajibkan hutang kepada manusia, dan mereka memberi makan ahli waris yang terlarang.
Adapun yang aneh adalah semuanya dari kewajiban mereka sebagaimana shalat wajib pada mereka setelah waktunya berakhir bagi orang yang berniat meninggalkannya, atas unsur kesengajaan dan mereka mengugurkan zakat – sedangka waktunya zakat untuk dilaksanakan sedang dia meninggalkannya dengan sengaja.

Abu Muhammad berkata: menjelaskan kebenaran ucapan kami dan ketidakabsahan ucapan para pembeda, firman Allah – Yang Maha Agung – tentang warisan: “Setelah wasiat atau hutang” (An-Nisa’: 11) , maka semua hutang, dan zakat adalah hutang yang ditegakkan karena Allah SWT. Dan untuk orang-orang yang fakir miskin, debitur, dan selebihnya yang telah diwajibkan oleh Allah Yang Maha Tinggi atas mereka dalam teks Al-Qur’an.
Kemudian Ibn Hazm meriwayatkan dengan rantai transmisinya hadits yang diriwayatkan Muslim termasuk dalam Sahihnya dan diriwayatkan oleh Said bin Jubayr, Mujahid dan Ataa dari Ibn Abbas, dia berkata: Seorang pria datang kepada Nabi ﷺ shallallahu alaihi wasallam – dan berkata: Ibuku meninggal dan dia berutang satu bulan, jadi haruskah saya menggantinya atas namanya? Dia berkata: (Jika ibumu berutang, apakah kamu akan menghakiminya atas namanya)? Dia berkata: Ya. Dia berkata: (Hutang Allah lebih layak dilunasi).
Dan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas – melalui Ibnu Jubayr – bahwa dia -Rasulullah ﷺ shallallahu alaihi wasallam sersabda : (Maka Penuhilah hak kepada Allah, karena Dia lebih berhak untuk dipenuhi).
Dia berkata: Ini adalah Ataa, Said bin Jubayr dan Mujahid yang meriwayatkan dari Ibn Abbas, sehingga mereka berkata dengan pendapat mereka: Sebaliknya, Hutang Allah Yang Maha Tinggi telah menjadi gugur, sedangkan hutang kepada manusia lebih banyak dan layak untuk diselesaikan/ dilunasi! Karena manusia lebih berhak untuk dipenuhi!!” (Al-Mahali: 6/89-91).

Kategori
Uncategorized

MINIMAL DAN MAKSIMALNYA ( SEMPURNANYA ) RAKAAT SHALAT TARAWIH

Assalamu’alaikum

Mohon bertanya ustadz atau kiyai🙏🙏🙏

Deskripsi Masalah :
Ada seorang santri sebut saja nama nya Abdulloh. Ketika dibulan ramadhan,dia bertamassya atau melakukan perjalanan diluar kota kemudian berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan shalat tarawih. setelah salam ke empat, lantas imam tarawih langsung doa, kemudian lanjut shalat witir. dia pun bingung, kenapa imam tersebut hanya mengerjakan shalat tarawih 4 salam, padahal yang biasa saya lakukan tidak seperti itu yakni 20 rakaat

Pertanyaan :

Manakah shalat tarawih yang benar menurut fiqih Antara 20 rokaat apa 8 rokaat? atau 4 rokaat? adakah batasan minimalnya?

Waalaikum salam

jawaban:

Benar semua,bahkan dua rokaatpun juga sah dan mendapatkan fadhilah tarowih.Adapun yang tidak benar itu adalah orang yang tidak melakukan sholat tarowih..:),yang 20 rokaat jangan menyalahkan terhadap yang 8 rokaat ,sebaliknya yang 8 rokaat jangan menyalahkan terhadap yang 20 rokaat dst.dan memang tidak ada dalil khos(yang khusus) yang menyebutkan tentang berapa jumlah rokaat tarowih itu, karena memang masalah ini masalah yang masih diperselisihkan ulama’ ,Oleh sebab itu tasamuh(toleransi) itu lebih indah jangan saling menyalahkan.

Dalam qoidah disebut

لاَ يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Tidak diingkari orang yang mengikuti salah satu pendapat para mujtahid dalam masalah yang memang diperselisihkan hukumnya (mukhtalaf fih) di kalangan mereka, melainkan yang diingkari adalah orang yang menyalahi para ulama’ mujtahid dalam masalah yang mereka sepakati hukumnya (mujma’ alayhi)
………..


شرح الياقوت النفيس   :


Al Yaaquutun Nafiis:
Paling sedikitnya tarawih adalah 2 rokaat.Dan paling sempurnanya tarawih adalah 20 rokaat. Imam Malik berkata:Sholat tarawih itu 36 rokaat.Dan hal itu adalah amalnya ahli madinah.


واقل التراويح ركعتان واكملها عشرون وقال مالك ستة وثلاثون وهو عمل اهل المدينة


……….
pendukung

Busyo alkarim:
Jika seseorang (Ahmad) mencukupkan atas sebagian dari 20 rokaat (misalnya Ahmad melakukan sholat tarawih 2 rokaat , atau 8 rokaat)maka sholat tarawihnya Ahmad itu sah.Dan Ahmad diberikan pahalanya sholat tarawih.


ولو إقتصر علي بعض العشرين صح واثيب عليه ثواب التراويح
………….

Al Fiqhul islami wa Adillatuhuu:
Sholat sunnat tarawih itu tidak ditetapkan berapa rokaatnya. Alasannya ialah karena nabi Muhammad itu tidak menentukan terhadap berapa rokaatnya sholat tarawih.


ﻻ ﻳﺘﻮﻗﺖ ﻓﻲ ﻗﻴﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻋﺪﺩ، ﻓﺈﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻢ ﻳﻮﻗﺖ ﻓﻴﻬﺎ ﻋﺪﺩا، ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺗﻜﺜﻴﺮ اﻟﺮﻛﻌﺎﺕ ﻭﺗﻘﻠﻴﻠﻬﺎ، ﺑﺤﺴﺐ ﻃﻮﻝ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻭﻗﺼﺮﻩ (¬1)، ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺸﻮﻛﺎﻧﻲ: ﺩﻟﺖ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻋﻠﻰ ﻣﺸﺮﻭﻋﻴﺔ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻪ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﻓﺮاﺩﻯ، ﻓﻘﺼﺮ اﻟﺼﻼﺓ اﻟﻤﺴﻤﺎﺓ ﺑﺎﻟﺘﺮاﻭﻳﺢ ﻋﻠﻰ ﻋﺪﺩ ﻣﻌﻴﻦ، ﻭﺗﺨﺼﻴﺼﻬﺎ ﺑﻘﺮاءﺓ ﻣﺨﺼﻮﺻﺔ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﺑﻪ ﺳﻨﺔ (¬2).  اﻟﻘﺮاءﺓ ﻓﻲ اﻟﺘﺮاﻭﻳﺢ: ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ ﺭﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ: ﻳﻘﺮﺃ اﻹﻣﺎﻡ ﺑﺎﻟﻘﻮﻡ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺨﻒ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻻ ﻳﺸﻖ ﻋﻠﻴﻬﻢ، ﻭﻻ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ اﻟﻠﻴﺎﻟﻲ اﻟﻘﺼﺎﺭ، ﻭاﻷﻣﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﺤﺘﻤﻠﻪ اﻟﻨﺎﺱ.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MUSAFIR IFTHOR DENGAN JIMA’ DISIANG HARI BULAN RAMADHAN WAJIBKAH KAFFARAT?

MUSAFIR IFTHOR DENGAN JIMA’ DI SIANG HARI BULAN ROMADHON WAJIBKAH KAFFARAT?

Deskripsi Masalah

Sepasang suami istri sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Suaminya, Moh. Fauzan al-Ghifari, berencana melakukan perjalanan jauh (musafir) dengan jarak yang mencapai masafatul qashr. Saat hendak berangkat, istrinya, Yonya Naila, mengantarkannya ke pelabuhan kapal. Namun, keberangkatan kapal tertunda karena masih menunggu penuhnya jumlah penumpang.

Selama menunggu, Moh. Fauzan turun dari kapal dan beristirahat di sebuah kamar. Di tempat tersebut, ia melakukan jima’ dengan istrinya, dengan keyakinan bahwa sebagai musafir ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Pertanyaan
Apakah Moh. Fauzan dan istrinya wajib membayar kaffarat karena melakukan jima’ di bulan Ramadan?

Jawaban

Seorang musafir yang berbuka puasa karena mengambil rukhsah (keringanan) diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Jika ia melakukan jima’ dalam keadaan tidak berpuasa, maka menurut pendapat yang lebih shahih (ashoh), tidak ada kewajiban membayar kaffarat. Bahkan, meskipun jima’ dilakukan tanpa tujuan mengambil rukhsah, tetap tidak dikenakan kaffarat. Namun, wajib bagi keduanya mengganti (qadha) puasa yang ditinggalkan tersebut.

روضة الطالبين وعمدة المفتين ص ٧٧٤

الثَّالِثَةُ: إِذَا كَانَ مُسَافِرًا وَالزَّوْجَةُ حَاضِرَةٌ، فَإِنْ أَفْطَرَ بِالْجِمَاعِ بِنِيَّةِ التَّرَخُّصِ، فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ. وَكَذَا إِنْ لَمْ يَقْصِدِ التَّرَخُّصَ عَلَى الْأَصَحِّ.
وَكَذَا حُكْمُ الْمَرِيضِ الَّذِي يُبَاحُ لَهُ الْفِطْرُ إِذَا أَصْبَحَ صَائِمًا ثُمَّ جَامَعَ.
وَكَذَا الصَّحِيحُ، إِذَا مَرِضَ فِي أَثْنَاءِ النَّهَارِ ثُمَّ جَامَعَ، فَحَيْثُ قُلْنَا بِوُجُوبِ الْكَفَّارَةِ، فَهُوَ كَغَيْرِهِ. وَحُكْمُ التَّحَمُّلِ، كَمَا سَبَقَ. وَحَيْثُ قُلْنَا: لَا كَفَّارَةَ، فَهُوَ كَالْمَجْنُونِ.
وَذَكَرَ أَصْحَابُنَا الْعِرَاقِيُّونَ: فِيمَا لَوْ قَدِمَ الْمُسَافِرُ مُفْطِرًا، فَأَخْبَرَتْهُ بِفِطْرِهَا وَكَانَتْ صَائِمَةً، أَنَّ الْكَفَّارَةَ عَلَيْهَا، إِذَا قُلْنَا: الْوُجُوبُ يُلَاقِيهَا، لِأَنَّهَا غَرَّتْهُ، وَهُوَ مَعْذُورٌ، وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ هَذَا تَفْرِيعًا عَلَى قَوْلِنَا: لَا يَتَحَمَّلُ الْمَجْنُونُ، وَإِلَّا، فَلَيْسَ الْعُذْرُ هُنَا أَوْضَحَ مِنْهُ فِي الْمَجْنُونِ.

CATATAN

Ada 11 syarat seseorang melakukan jima’ di di siang bulan Romadon sehingga di wajibkan bayar kafarot

  1. Kewajiban kafarah ‘uzhma dijatuhkan kepada orang yang sengaja menyenggama melalui kemaluan atau anus. Sedangkan kepada orang yang disenggama tidak dijatuhkan, baik laki-laki maupun perempuan.
  2. Kafarat ini tidak dijatuhkan kecuali kepada orang yang merusak puasanya dengan senggama, dilakukannya secara sengaja, menyadari sedang berpuasa, tahu keharamannya, kendati dirinya tidak tahu kewajiban kafarat itu. Sehingga, jika ia merusak puasanya terlebih dahulu dengan yang lain, seperti makanan, kemudian bersenggama, maka tidak ada kafarat baginya.
  3. Yang dirusak adalah ibadah puasa. Selain ibadah puasa, seperti ibadah shalat atau itikaf, tidak ada kewajiban kafarat.
  4. Yang dirusak adalah puasa diri sendiri. Berbeda halnya jika yang dirusak adalah puasa orang lain, seperti seorang musafir atau orang sakit merusak puasa istrinya. ​​​​​

5.Senggama dilakukan di bulan Ramadhan, walaupun masuknya bulan Ramadhan karena hasil pengamatan diri sendiri terhadap hilal atau karena informasi orang yang dipercaya.

  1. Kafarat dijatuhkan karena aktivitas senggama meskipun aktivitasnya berupa anal seks, baik dengan manusia, dengan mayat, maupun dengan hewan, walaupun tak sampai keluar sperma. Berbeda halnya dengan aktivitas seksual yang lain, seperti onani, masturbasi, dan oral seks walaupun hingga keluar sperma. Maka beberapa aktivitas seksual terakhir ini tidak mewajibkan kafarat. Tetapi jika sampai keluar sperma, puasanya batal dan wajib qadha. ​​​​​​​
  2. Sang pelaku berdosa karena membatalkan puasanya dengan senggama. Berbeda halnya jika sang pelaku masih anak-anak (belum taklif), atau orang yang musafir dan orang sakit, lalu keduanya bersenggama karena merasa memiliki keringanan (rukhshah). ​​​​​​​​​​​​​​
  3. Dosa senggama pelaku hanya karena puasa.
  4. Yang dirusak haruslah puasa sehari penuh dan pelakunya dikategorikan sebagai orang yang wajib berpuasa dalam sisa hari setelah senggamanya. Sehingga, orang yang pada suatu hari bersenggama tanpa ada alasan kemudian mengalami tunagrahita atau meninggal dunia pada sisa hari tersebut, berarti ia tidak dianggap merusak sehari penuh. ​​​​​​​​​​​
  5. Waktu yang dipakai pelaku bersenggama tidak samar dan tidak diragukan. Berbeda halnya jika ia mengira waktu masih malam, waktu sudah masuk malam, atau meragukan salah satunya, namun ternyata waktu sudah siang atau masih siang. Begitu pula karena lupa, lantas mengira puasanya sudah batal, lalu bersenggama secara sengaja. Maka tidak ada kafarat.​​​​​​​
  6. Senggama yakin dilakukan di bulan Ramadhan. Berbeda halnya jika pelaku tidak yakin dirinya sudah memasuki bulan Ramadhan, kemudian ia berpuasa dengan hasil ijtihadnya dan membatalkan puasanya dengan senggama, namun ijtihadnya ternyata salah, maka tidak ada kewajiban kafarat baginya.

[الأنصاري، زكريا، أسنى المطالب في شرح روض الطالب، ٤٢٥/١]

(فَمَنْ أَفْسَدَهُ بِغَيْرِ الْجِمَاعِ) كَأَكْلٍ وَاسْتِمْنَاءٍ (لَمْ تَلْزَمْهُ الْكَفَّارَةُ) لِوُرُودِ النَّصِّ فِي الْجِمَاعِ وَهُوَ أَغْلَظُ مِنْ غَيْرِهِ وَهَذَا يُغْنِي عَنْهُ قَوْلُهُ فِيمَا يَأْتِي وَقَوْلُنَا بِجِمَاعٍ إلَى آخِرِهِ (وَلَا تَلْزَمُ مَنْ جَامَعَ نَاسِيًا) أَوْ جَاهِلًا أَوْ مُكْرَهًا (أَوْ) جِمَاعًا (ثَانِيًا إذْ لَا إفْسَادَ) تَقَدَّمَ إنَّهَا تَلْزَمُ فِيمَا لَوْ طَلَعَ الْفَجْرُ وَهُوَ مَجَامِعٌ فَاسْتَدَامَ مَعَ أَنَّهُ لَا إفْسَادَ لِأَنَّهُ فَرْعُ الِانْعِقَادِ وَلَمْ يَنْعَقِدْ كَمَا مَرَّ مَعَ تَوْجِيهِهِ (أَوْ) جَامَعَ (مُسَافِرًا إذْ لَا إثْمَ) هَذَا مَعَ إيهَامِهِ الْقُصُورَ عَلَى الْمُسَافِرِ يُغْنِي عَنْهُ قَوْلُهُ فِيمَا يَأْتِي وَقَوْلُنَا أَثِمَ بِهِ إلَى آخِرِهِ (وَقَوْلُنَا صَوْمُهُ احْتِرَازًا مِنْ مُسَافِرٍ) أَوْ مَرِيضٍ (أَفْسَدَ صَوْمَ امْرَأَةٍ) فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ لِأَنَّهَا لَا تَلْزَمُ بِإِفْسَادِهَا صَوْمِهَا بِالْجِمَاعِ كَمَا سَيَأْتِي فَبِالْأَوْلَى إفْسَادُ غَيْرِهَا لَهُ (وَقَوْلُنَا فِي يَوْمٍ يَدُلُّ) عَلَى (أَنَّهَا تَجِبُ لِكُلِّ يَوْمٍ) وَإِنْ لَمْ يُكَفِّرْ عَنْ الْأَوَّلِ إذْ كُلُّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ بِرَأْسِهَا وَقَدْ تَكَرَّرَ الْإِفْسَادُ فَأَشْبَهَ مَا لَوْ تَكَرَّرَ فِي حَجَّتَيْنِ.
(وَقَوْلُنَا مِنْ رَمَضَانَ احْتِرَازًا مِنْ الْقَضَاءِ وَالنَّذْرِ وَغَيْرِهِ) فَلَا كَفَّارَةَ فِي إفْسَادِهَا لِوُرُودِ النَّصِّ فِي رَمَضَانَ وَهُوَ مُخْتَصٌّ بِفَضَائِلَ لَا يُشْرِكُهُ فِيهَا غَيْرُهُ (وَقَوْلُنَا بِجِمَاعٍ احْتِرَازًا مِمَّنْ أَفْطَرَ أَوَّلًا بِغَيْرِهِ ثُمَّ جَامَعَ فَإِنَّهُ لَا كَفَّارَةَ فِي ذَلِكَ) كَمَا مَرَّ بَيَانُهُ (وَقَوْلُنَا تَامٌّ احْتِرَازًا مِنْ الْمَرْأَةِ فَإِنَّهَا تُفْطِرُ بِدُخُولِ شَيْءٍ) مِنْ الذَّكَرِ فَرْجَهَا وَلَوْ دُونَ الْحَشَفَةِ وَهَذَا الْقَيْدُ تَبِعَ فِيهِ الْمُصَنِّفَ كَأَصْلِهِ الْغَزَالِيُّ وَزَيَّفُوهُ بِخُرُوجِ ذَلِكَ بِالْجِمَاعِ إذْ الْفَسَادُ فِيهِ بِغَيْرِهِ وَبِأَنَّهُ يُتَصَوَّرُ فَسَادُ صَوْمِهَا بِالْجِمَاعِ بِأَنْ يُولِجَ فِيهَا نَائِمَةً أَوْ نَاسِيَةً أَوْ مُكْرَهَةً ثُمَّ تَسْتَيْقِظَ أَوْ تَتَذَكَّرَ أَوْ تَقْدِرَ عَلَى الدَّفْعِ وَتَسْتَدِيمَ فَفَسَادُهُ فِيهَا بِالْجِمَاعِ لِأَنَّ اسْتِدَامَةَ الْجِمَاعِ جِمَاعٌ مَعَ أَنَّهُ لَا كَفَّارَةَ عَلَيْهَا لِأَنَّهُ لَمْ يُؤْمَرْ بِهَا فِي الْخَبَرِ إلَّا الرَّجُلُ الْمَوَاقِعُ مَعَ الْحَاجَةِ إلَى الْبَيَانِ وَلِنُقْصَانِ صَوْمِهَا بِتَعَرُّضِهِ لِلْبُطْلَانِ بِعُرُوضِ الْحَيْضِ أَوْ نَحْوِهِ فَلَمْ تَكْمُلْ حُرْمَتُهُ حَتَّى تَتَعَلَّقَ بِهِ الْكَفَّارَةُ وَلِأَنَّهَا غُرْمٌ مَالِيٌّ يَتَعَلَّقُ بِالْجِمَاعِ فَيَخْتَصُّ بِالرَّجُلِ الْوَاطِئِ كَالْمَهْرِ فَلَا يَجِبُ عَلَى الْمَوْطُوءَةِ وَلَا عَلَى الرَّجُلِ الْمَوْطُوءِ كَمَا نَقَلَهُ ابْنُ الرِّفْعَةِ.
(وَ) الْجِمَاعُ (التَّامُّ) يَحْصُلُ (بِالْتِقَاءِ الْخِتَانَيْنِ فَإِذَا مَكَّنَتْهُ) مِنْهُ (فَالْكَفَّارَةُ عَلَيْهِ دُونَهَا) لِذَلِكَ وَالتَّصْرِيحُ بِأَنَّ التَّامَّ بِالْتِقَاءِ الْخِتَانَيْنِ مِنْ زِيَادَتِهِ (قَوْلُنَا أَثِمَ بِهِ احْتِرَازًا مِمَّنْ ظَنَّ غَالِطًا بَقَاءَ اللَّيْلِ) أَوْ دُخُولَهُ عَلَى مَا يَأْتِي (فَجَامَعَ) وَمِنْ جِمَاعِ الصَّبِيِّ وَجِمَاعِ الْمُسَافِرِ وَالْمَرِيضِ بِنِيَّةِ التَّرَخُّصِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِمْ لِعَدَمِ إثْمِهِمْ (وَمُقْتَضَى الضَّابِطِ) الْمَذْكُورِ (وُجُوبُهَا عَلَى مَنْ شَكَّ فِي دُخُولِ اللَّيْلِ) فَجَامَعَ ثُمَّ تَبَيَّنَ أَنَّهُ جَامَعَ نَهَارًا وَهَذَا مِنْ زِيَادَتِهِ وَيُؤَيِّدُهُ قَوْلُ الْأَصْلِ فِي مَسْأَلَةِ ظَنِّ الدُّخُولِ السَّابِقَةِ بَعْدَ نَقْلِهَا عَنْ التَّهْذِيبِ وَغَيْرِهِ وَهَذَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ مُفَرَّعًا عَلَى تَجْوِيزِ الْإِفْطَارِ بِالظَّنِّ وَإِلَّا فَتَجِبُ الْكَفَّارَةُ وَفَاءً بِالضَّابِطِ لَكِنْ صَرَّحَ الْقَاضِي بِعَدَمِ وُجُوبِهَا وَإِنْ قُلْنَا لَا يَجُوزُ الْإِفْطَارُ بِالظَّنِّ بَلْ صَرَّحَ الْبَغَوِيّ بِخِلَافِ الْمُقْتَضَى الْمَذْكُورِ فِي مَسْأَلَةِ الشَّكِّ وَبِالتَّسْوِيَةِ بَيْنَ شَكِّهِ فِي دُخُولِ اللَّيْلِ وَخُرُوجِهِ وَعَلَّلَ عَدَمَ وُجُوبِ الْكَفَّارَةِ بِإِنَّهَا تَسْقُطُ بِالشُّبْهَةِ وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يُصَرِّحْ فِي التَّهْذِيبِ بِمَسْأَلَةِ الظَّنِّ لَكِنَّهَا مَفْهُومَةٌ بِالْأَوْلَى مِنْ مَسْأَلَةِ الشَّكِّ (وَلَوْ أَكَلَ نَاسِيًا وَظَنَّ أَنَّهُ أَفْطَرَ) بِالْأَكْلِ (فَجَامَعَ أَفْطَرَ) كَمَا لَوْ جَامَعَ ظَانًّا بَقَاءَ اللَّيْلِ فَبَانَ خِلَافُهُ (وَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ) لِأَنَّهُ جَامَعَ مُعْتَقِدًا أَنَّهُ غَيْرُ صَائِمٍ وَهَذَا خَارِجٌ بِقَوْلِهِ لِأَجْلِ الصَّوْمِ إنْ عَلِمَ وُجُوبَ الْإِمْسَاكِ عَنْ الْجِمَاعِ وَإِلَّا فَبِقَوْلِهِ أَثِمَ بِهِ (وَقَوْلُنَا لِأَجْلِ الصَّوْمِ احْتِرَازًا مِنْ مُسَافِرٍ) أَوْ مَرِيضٍ (زَنَى) أَوْ جَامَعَ حَلِيلَتَهُ بِغَيْرِ نِيَّةِ التَّرَخُّصِ فَلَا كَفَّارَةَ عَلَيْهِ (فَإِنَّهُ أَثِمَ لِأَجْلِ الزِّنَا) أَوْ لِأَجْلِ الصَّوْمِ مَعَ عَدَمِ نِيَّةِ التَّرَخُّصِ (لَا لِأَجْلِ الصَّوْمِ) وَلِأَنَّ الْإِفْطَارَ مُبَاحٌ فَيَصِيرُ شُبْهَةً فِي دَرْءِ الْكَفَّارَةِ وَحَذَفَ مِنْ أَصْلِهِ قَوْلَهُ بَعْدَ زِنًى مُتَرَخِّصًا لِإِيهَامِهِ أَنَّهُ إذَا لَمْ يَنْوِ التَّرَخُّصَ تَجِبُ الْكَفَّارَةُ وَلَيْسَ كَذَلِكَ (وَلِلِّوَاطِ وَإِتْيَانِ الْبَهِيمَةِ حُكْمُ الْجِمَاعِ هُنَا) فِيمَا ذُكِرَ مِنْ وُجُوبِ كَفَّارَةِ الصَّوْمِ بِالْإِفْسَادِ لِأَنَّ الْجَمِيعَ وَطْءٌ

Asna al-Matalib fi Syarh Raudh al-Talib oleh Zakariya al-Anshari:

“Barang siapa yang membatalkan puasanya selain dengan jima’”—seperti makan atau onani—”maka ia tidak wajib membayar kaffarat”, karena dalil yang menetapkan kewajiban kaffarat hanya berlaku untuk jima’, dan jima’ lebih berat hukumnya dibandingkan pembatal lainnya. Hal ini dikuatkan oleh perkataan dalam bagian berikutnya, “dan pendapat kami dalam masalah jima’”, hingga akhir pembahasan.

“Tidak wajib kaffarat bagi orang yang berjima’ karena lupa, tidak tahu hukumnya, atau dipaksa”, sebagaimana juga tidak wajib bagi orang yang berjima’ untuk kedua kalinya dalam satu hari setelah sebelumnya membatalkan puasanya, karena hal itu tidak lagi merusak puasa (karena puasanya sudah batal terlebih dahulu).

Jika seseorang berjima’ dalam keadaan fajar telah terbit sementara ia masih bersetubuh dan meneruskannya, maka tidak dianggap sebagai perusakan puasa karena status puasa belum sempurna sejak awal.

“Tidak wajib kaffarat bagi musafir yang berjima’”, karena tidak ada dosa baginya dalam hal ini. Meskipun kalimat ini tampaknya hanya membatasi hukum bagi musafir, namun hal itu dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikutnya.

“Jika seorang musafir atau orang sakit berjima’ dengan wanita yang sedang berpuasa, maka ia tidak wajib membayar kaffarat”, karena wanita tersebut pun tidak wajib kaffarat ketika membatalkan puasanya dengan jima’, maka lebih utama lagi jika orang lain yang merusak puasanya tidak wajib kaffarat.

“Kaffarat hanya diwajibkan bagi jima’ yang dilakukan pada hari Ramadan”, bukan pada puasa qadha, puasa nazar, atau lainnya, karena dalil yang menetapkan kaffarat hanya berlaku untuk jima’ dalam puasa Ramadan, yang memiliki keutamaan khusus yang tidak dimiliki oleh jenis puasa lainnya.

“Kaffarat hanya diwajibkan jika pembatalan puasa langsung disebabkan oleh jima’”, sehingga jika seseorang terlebih dahulu berbuka dengan cara lain—misalnya makan atau minum—lalu kemudian berjima’, maka tidak ada kewajiban kaffarat baginya.

“Jima’ yang sempurna” dianggap terjadi jika telah terjadi “pertemuan dua khitan” (penetrasi meskipun tanpa ejakulasi). Jika seorang istri membiarkan suaminya melakukan jima’, maka “kewajiban kaffarat hanya berlaku bagi suami, bukan istri”, karena dalam hadis Nabi hanya laki-laki yang diperintahkan untuk membayar kaffarat, meskipun ada kebutuhan untuk menjelaskan hal ini lebih lanjut.

Demikian pula, wanita memiliki kekurangan dalam kesempurnaan puasanya, karena puasanya bisa batal dengan datangnya haid atau keadaan lain. Oleh karena itu, kesucian puasanya tidak sempurna sehingga tidak sampai mewajibkan kaffarat baginya. Kaffarat juga merupakan hukuman materi yang terkait dengan jima’, sehingga khusus berlaku bagi laki-laki yang melakukan penetrasi, sebagaimana kewajiban mahar dalam pernikahan yang hanya berlaku bagi laki-laki yang menggauli istrinya. Oleh karena itu, kaffarat tidak wajib bagi wanita yang digauli atau bagi laki-laki yang dighauli (dalam hubungan homoseksual).

Jima’ yang sempurna terjadi “dengan bertemunya dua khitan”, sehingga jika seorang istri mengizinkan suaminya melakukan jima’, maka kaffarat hanya berlaku atas suami, bukan istri.

Jika seseorang berjima’ dengan keyakinan bahwa masih malam—padahal ternyata sudah siang—atau seorang anak kecil yang belum baligh berjima’, atau seorang musafir atau orang sakit yang berjima’ dengan niat mengambil rukhsah (keringanan), maka mereka “tidak wajib membayar kaffarat karena mereka tidak berdosa dalam perbuatannya”.

Namun, seseorang yang ragu apakah waktu malam sudah masuk atau belum, lalu berjima’, kemudian ternyata sudah siang, maka menurut aturan dasar yang telah disebutkan, “ia wajib membayar kaffarat”, karena ia tidak memiliki dasar yang kuat untuk berjima’.

Jika seseorang makan karena lupa, lalu mengira bahwa puasanya telah batal dan kemudian berjima’, maka puasanya batal seperti halnya orang yang berjima’ dengan keyakinan bahwa masih malam, padahal sudah siang. Namun, “ia tidak wajib membayar kaffarat”, karena ia melakukan jima’ dengan anggapan bahwa dirinya tidak sedang berpuasa.

Jika seorang musafir atau orang sakit melakukan zina atau berjima’ dengan istrinya tanpa niat mengambil rukhsah, maka ia tidak wajib membayar kaffarat, karena ia berdosa karena zinanya atau karena membatalkan puasanya tanpa niat rukhsah, bukan karena puasanya sendiri.

Dalam hal ini, zina tetap haram meskipun ia musafir, tetapi karena berbuka puasa itu sendiri diperbolehkan bagi musafir, maka ada unsur syubhat (keraguan) yang menghalangi kewajiban kaffarat.

“Hubungan homoseksual (liwath) dan hubungan dengan hewan memiliki hukum yang sama dengan jima’”, dalam hal merusak puasa dan mewajibkan kaffarat, karena keduanya merupakan bentuk hubungan seksual. Wallahu a’lam bish-shawab

Kategori
Uncategorized

DAFTAR HAJI DENGAN BIAYA HUTANG DULUAN DAN CICILAN

DAFTAR HAJI DENGAN BIAYA HUTANG DULUAN ATAU DENGAN BIAYA CICILAN

Assalamualaikum.

Deskripsi Masalah

Mendengar berita diTV dan dari banyak orang yang telah mendaftar haji, bahwa jumlah orang yang ingin melaksanakan ibadah haji tiap tahun terus meningkat. Tak ayal, hal ini memunculkan problema tersendiri bagi Pemerintah baik Arab Saudi maupun Indonesia.
Sebagai solusi, Pemerintah Arab Saudi menetapkan kuota jemaah haji bagi tiap negara. Pemerintah Indonesia pun juga menetapkan kuota bagi tiap-tiap daerah naungannya. Hal ini menyebabkan banyak sekali calon jemaah haji yang masuk waiting list (daftar tunggu). Bahkan di beberapa daerah bila seseorang mendaftar pada tahun ini , secara umum masa tunggu haji reguler di Indonesia adalah 11 tahun hingga paling lama 32 tahun. Artinya, jika seseorang mendaftar haji reguler pada tahun 2024, maka ia harus menunggu 11-32 tahun untuk berangkat. Maka dalam rangka untuk menunaikan ibadah haji sebagai rukun islam kelima dan lamanya antrian sebagaimana wakiiyah katakan nama samarannya Moh. FAUZAN seorang pemuda yang baru lulus sebagai guru PNS dan gajinya perbulan 5000000 dan Ahmad Ainul Yaqin PNS punya gaji 3500, 000 perbulan keduanya ingin mendaftar haji, namun uangnya belum mencukupi untuk daftar bersama istrinya maka solusinya dari masing-masing keduanya agar bisa daftar dan mendapatkan no.Porsi haji dia mengampra dibank yang menjadi jaminannya adalah gajinya diambil 10 bulan ( diambil duluan) walau yang sebenarnya gaji tersebut perbulan bisa cair.Namun karena untuk memenuhi uang pendaftaran maka dia mengampra duluan sehingga sampai pada nominal uang pendaftaran haji sebanyak 52 juta suami istri ( Fauzan dan Itrinya) untuk selanjutnya dia mencicilnya, sehingga setelah tepat pada waktu panggilan berangkat beserta pelunasannya Fauzan dan istrinya cukup biaya untuk berangkat. Sedangkan Ahmad Ainul Yaqin masih punya hutang Namun dia tetap berangkat.

Pertanyaan

  1. Terhitung mulai kapankah istitho’ah seseorang ditinjau dari pendaftaran, jadwal pemberangkatan, dan pelaksanaan haji terkait deskripsi di atas ?
  2. Apakah wajib mendaftar bagi orang yang memiliki biaya haji namun masih dengan cara hutang ketika mendaftar tapi terbayarkan (baik reguler atau plus), mengingat pemberangkatan masih menunggu beberapa tahun sebagaimana deskripsi ?
  3. Lalu bagaimana jika misalkan dikemudian hari ( pada hari pemberangkatan) ternyata dia punya hutang apakah hajinya sah..?

Jawaban ditafsil

🅰️Isthitho’ah ( berkemampuan) untuk melakukan ibadah haji menurut imam ibn sholah adalah terhitung mulai semenjak orang yang menghendaki haji memiliki biaya haji,( mendaftar )

🅱️ Istithoah menurut pendapat mu’tamad/yang kuat (rofi’i & nawawi) adalah terhitung mulai dari pemberangkatan haji (إمكان السير) dan sudah memiliki biaya haji.
Jadi kalau mengikuti pendapatnya Imam Rafi’i dan Nawawi Moh. FAUZAN DAN ISTRINYA termasuk Istithoah walaupun dengan cara hutang duluan asalkan ketika pas berangkat dia mampu biaya pelunasan dan tidak punya hutang, sebagaimana hal ini telah difatwakan oleh MUI IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Salah satu fatwa yang dihasilkan pada Munas MUI pekan lalu adalah pembayaran setoran awal haji dengan utang dan pembiayaan. Juru Bicara Sidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh dalam keterangan tertulisnya menjelaskan soal fatwa itu.
Menurutnya, ketentuan hukumnya yaitu pembayaran setoran awal haji dengan uang hasil utang hukumnya boleh (mubah) dengan syarat yaitu bukan utang ribawi dan orang yang berutang mempunyai kemampuan untuk melunasi utang, antara lain dibuktikan dengan kepemilikan aset yang cukup.
 
Pembayaran setoran awal haji dengan uang hasil pembiayaan dari lembaga keuangan, hukumnya boleh dengan syarat, menggunakan akad syariah, tidak dilakukan di Lembaga Keuangan Konvensional dan nasabah mampu untuk melunasi, antara lain dibuktikan dengan kepemilikan aset yang cukup.

Sedangkan Ahmad Ainul Yaqin tidak termasuk Istithoah karena masih punya hutang, walaupun demikian haji nya sah tapi makruh, kerena dia masuk dalam kategori tidak wajib haji disebabkan masih punya hutang

REFERENSI


المجموع شرح المهذب ج ٧ ص ٨٨
(الشرح) قال اصحابنا امكان السير بحيث يدرك الحج شرط لوجوبه فإذا وجد الزاد والراحلة وغيرهما من الشروط المعتبرة وتكاملت وبقي بعد تكاملها زمن يمكن فيه الحج وجب فان اخره عن تلك السنة جاز لانه على التراخي لكنه يستقر في ذمته فان لم يبق بعد استكمال الشرائط من يمكن فيه الحج لم يجب عليه ولا يستقر عليه هكذا قاله الاصحاب قالوا والمراد ان يبقى زمن يمكن فيه الحج إذا سار السير المعهود فإذا احتاج إلى ان يقطع في يوم أو بعض الايام كثر من مرحلة لم يجب الحج ولم يذكر الغزالي هذا الشرط وهو إمكان السير وانكر عليه الرافعي ذلك وقال هذا الامكان شرطه الائمة لوجوب الحج وأهمله الغزالي فانكر الشيخ أبو عمرو بن الصلاح على الرافعى اعتراضه هذا علي الغزالي وجعله امكان السير ركنا لوجوب الحج وانما هو شرط استقرار الحج ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج وليس شرطا لاصل وجوب الحج بل متى وجدت الاستطاعة من مسلم مكلف حر لزمه الحج في الحال كالصلاة تجب بأول الوقت قبل مضي زمن يسعها ثم استقرارها في الذمة يتوقف علي مضي زمن التمكن من فعلها هذا اعتراضه والصواب ما قاله الرافعى وقد نص عليه المصنف والاصحاب كما نقل (وأما) انكار الشيخ ففاسد لان الله تعالى قال (ولله علي الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا) وهذا غير مستطيع فلا حج عليه وكيف يكون مستطيعا وهو عاجز حسا (وأما) الصلاة فأنها تجب باول الوقت لامكان تتميمها والله أعلم . هذا مذهبنا وحكى أصحابنا عن أحمد أن امكان السير وأمن الطريق ليسا بشرط في وجوب الحج * دليلنا أنه لا يكون مستطيعا بدونهما والله اعلم


Referensi:


حاشية البجيرمي على الخطيب ج ٧ ص ٩٧
(و) السابع (إمكان المسير) إلى مكة بأن يكون قد بقي من الوقت ما يتمكن فيه من السير المعتاد لأداء النسك . وهذا هو المعتمد كما نقله الرافعي عن الأئمة وإن اعترضه ابن الصلاح بأنه يشترط لاستقراره لا لوجوبه ، فقد صوب النووي ما قاله الرافعي.

وقال السبكي : إن نص الشافعي أيضا يشهد له ولا بد من وجود رفقة يخرج معهم في الوقت الذي جرت عادة أهل بلده بالخروج فيه، وأن يسيروا السير المعتاد ، فإن خرجوا قبله أو أخروا الخروج بحيث لا يصلون مكة إلا بأكثر من مرحلة في كل يوم ، أو كانوا يسيرون فوق العادة لم يلزمه الخروج هذا إن احتيج إلى الرفقة لدفع الخوف ، فإن أمن الطريق بحيث لا يخاف الواحد فيها لزمه ، ولا حاجة للرفقة ولا نظر إلى الوحشة بخلافها فيما مر في التيمم لأنه لا بد لما هنا بخلافه ثم .
قوله : (وإن اعترضه ابن الصلاح بأنه ) أي إمكان المسير يشترط لاستقراره ، أي الحج في ذمته ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج لا لوجوبه أي الحج ، أي ليس شرطا لأصل الوجوب . قال سم : وظاهر كلام ابن الصلاح أنه لا فرق في الوجوب إذا لم يبق زمن يمكن فيه السفر بين أن يقطع بعدم الوصول فيه أو لا ؛ لكن قال السبكي : وأوهمت عبارة ابن الصلاح أن من استطاع الحج قبل عرفة بيوم بينه وبين مكة شهر ومات تلك السنة وجب عليه الحج ثم سقط ، ولا يقوله أحد . ورد بأن السرخسي والسنجي قالاه .
قوله : ( لاستقراره ) فإن لم يبق زمن يسع السير بعد وجود الاستطاعة بأن لم يستطع إلا بعد ذهاب الحاج فابن الصلاح يقول في هذه الحالة : إنه وجب عليه ، لكن لم يستقر وجوبه عليه ؛ بمعنى أنه إذا مات في هذه السنة لا يجب قضاؤه من تركته وإن كان يوصف بالإيجاب ويجوز الاستئجار عنه قطعا كما قال ح ل . وعلى كلام غير ابن الصلاح لم يجب الحج من أصله في هذه الحالة ، وعليه فلا يوصف بالوجوب ويجوز الاستئجار عنه على الأصح ؛ لأنه نفل أي والنفل في جواز الاستئجار عنه خلاف الأصح الجواز


Referensi


شرح الوجيز ج ٣ ص ٢٩٤
قال (ومهما تمت الاستطاعة وجب الحج على التراخي (م ح ز) وله أن يتخلف عن أول قافلة فان مات قبل حج الناس تبين عدم الاستطاعة وإن مات بعد الحح فلا وإن هلك ماله بعد الحج وقبل إياب الناس تبين ان لا استطاعة لان نفقة الاياب شرط في الحج فان دامت الاستطاعة إلى اياب الناس ثم مات أو طرا العضب لقى الله عاصيا على الاظهر وتضيق عليه الاستنابة إذا طرأ العضب بعد الوجوب فان امتنع ففي اجبار القاضي اياه على الاستنابة وجهان) ذكر في الوسيط أن المسائل المذكور إلى هذا الموضع كلام في أركان الاستطاعة ومن ههنا إلى رأس النوع الثاني كلام في أحكامها ولك أن تقول الاستطاعة احدى شرائط وجوب الحج كما مر وقد توجد الاستطاعة مسبوقة بسائر الشروط وقد يوجد غيرها مسبوقا بها


Referensi


البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص : ٤٢٥ دار الفكر
وقوله ” الاستطاعة ” ويعتبر فيها وجود شروطها فى حق كل إنسان من وقت خروج أهل حج بلده إلى عودهم إليه فمتى أعسر فى جزء من ذلك فلا استطاعة ق ل وهذا فى الحى أما من مات بعد الاستطاعة وبعد مضى أعمال الحج وإن لم يعش إلى عودهم إلى البلد فإنه يحج من تركته. وعبارة م ر : فمن مات غير مرتد وفى ذمته حج واجب مستقر ولو بنحو نذر بأن تمكن بعد قدرته على فعله بنفسه أو غيره وذلك بعد انتصاف ليلة النحر ومضى إمكان الرمى والطواف والسعى إن دخل الحاج بعد الوقوف ثم مات أثم ولو شابا وإن لم ترجع القافلة ووجب الإحجاج عنه من تركته اهـ


Referensi


فتاوى ابن حجر الهيثمى ج ١ ص ١٢٣


(وسئل)

رضي الله عنه عن قولهم وأهمل بعضهم شرطا خامسا للحج وهو سعة الوقت لتمكنه من السير ما المراد بهذا الوقت هل هو مدة السنة بأن يبقى منها قدر ما يصل به إلى مكة المشرفة فيشكل على من بينه وبين مكة فوق سنة أو فوق السنة فالوقت واسع بينوا لنا حقيقة ذلك وقال بعضهم أن يبقى م ن الزمان عند وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير بأن لا يحتاج أن يقطع في كل يوم أكثر من مرحلة ما المراد بهذا الزمان ولا يخفى الإشكال السابق أفتونا مأجورين؟ (فأجاب) بقوله المراد من هذا الشرط أنه يعتبر في لزوم الحج له لا في استقراره عليه أن يتمكن بأن يجد الزاد والراحلة وقد بقي زمن يسع الوصول فيه إلى مكة بالسير المعتاد غالبا بحيث لا يقطع في يوم أكثر من مرحلة . فلو كان بين بلده ومكة سنة مثلا اشترط أن يقدر على نحو الزاد والراحلة تلك السنة جميعها فمتى مضت له سنة بأن يمضي ما يمكن ذهاب الحجاج فيه ورجوعهم إلى بلده وهو قادر على ما مر بأن لزوم الحج له فإذا مات أو افتقر بعد ذلك فالحج باق في ذمته لأنه استطاعه وتركه ومتى مرض أو افتقر قبل وصولهم لمكة أو بعد وصولهم وقبل الحج بان أنه لم يلزمه حج وكذا لو افتقر بعد حجهم وقبل وصولهم لبلده فعلمنا أنه لا بد أن يمضي عليه وهو قادر مدة يمكن فيها الذهاب إلى مكة بالسير المعتاد وإدراك الحج فيها ووصوله إلى بلده بالنسبة للفقر دون الموت ; لأنه بان به أنه كان مستغنيا عن الرجوع فإذا مات بعد إمكان حج الناس وقبل رجوعهم بان أنه مات وهو مستطيع ومع هذا التقدير فلا إشكال فيما ذكروه فإنا لا نعتبر سنة ولا دونها ولا أكثر منها دائما وإنما المعتبر المدة التي يمكنه الوصول فيها إلى مكة والرجوع منها بالسير المعتاد على ما تقرر حتى لو كان بينه وبين مكة

أربعة أيام مثلا اعتبرت قدرته تلك الأربعة مع العود أيضا في غير الموت أو سنتان اعتبرت قدرته مدتهما مع العود كما ذكر . ولا بد أن يوجد نحو الزاد والراحلة في الوقت فمن بينه وبين مكة شهران مثلا لو استطاع شعبان ورمضان لم يؤثر ذلك في الوجوب عليه بل لا بد من استطاعته في أشهر الحج حتى لو استطاع الشهر من قبل أشهره ثم افتقر قبل أشهره لم يعتد بتلك الاستطاعة والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

.
Jawaban.No.2
Wajib mendaftar ibadah haji, Jika seseorang mempunyai biaya yang cukup baik untuk kebutuhan dirinya dan juga kebutuhan keluarganya yang wajib ia nafkahi, selama ia berangkat kemakkah hingga kembali ke tanah air.


REFERENSI


فتاوى ابن حجر الهيثمى ج ١ ص ١٢٣
(وسئل) رضي الله عنه عن قولهم وأهمل بعضهم شرطا خامسا للحج وهو سعة الوقت لتمكنه من السير ما المراد بهذا الوقت هل هو مدة السنة بأن يبقى منها قدر ما يصل به إلى مكة المشرفة فيشكل على من بينه وبين مكة فوق سنة أو فوق السنة فالوقت واسع بينوا لنا حقيقة ذلك وقال بعضهم أن يبقى م ن الزمان عند وجود الزاد والراحلة ما يمكن فيه السير بأن لا يحتاج أن يقطع في كل يوم أكثر من مرحلة ما المراد بهذا الزمان ولا يخفى الإشكال السابق أفتونا مأجورين؟ (فأجاب) بقوله المراد من هذا الشرط أنه يعتبر في لزوم الحج له لا في استقراره عليه أن يتمكن بأن يجد الزاد والراحلة وقد بقي زمن يسع الوصول فيه إلى مكة بالسير المعتاد غالبا بحيث لا يقطع في يوم أكثر من مرحلة . فلو كان بين بلده ومكة سنة مثلا اشترط أن يقدر على نحو الزاد والراحلة تلك السنة جميعها فمتى مضت له سنة بأن يمضي ما يمكن ذهاب الحجاج فيه ورجوعهم إلى بلده وهو قادر على ما مر بأن لزوم الحج له فإذا مات أو افتقر بعد ذلك فالحج باق في ذمته لأنه استطاعه وتركه ومتى مرض أو افتقر قبل وصولهم لمكة أو بعد وصولهم وقبل الحج بان أنه لم يلزمه حج وكذا لو افتقر بعد حجهم وقبل وصولهم لبلده فعلمنا أنه لا بد أن يمضي عليه وهو قادر مدة يمكن فيها الذهاب إلى مكة بالسير المعتاد وإدراك الحج فيها ووصوله إلى بلده بالنسبة للفقر دون الموت ; لأنه بان به أنه كان مستغنيا عن الرجوع فإذا مات بعد إمكان حج الناس وقبل رجوعهم بان أنه مات وهو مستطيع ومع هذا التقدير فلا إشكال فيما ذكروه فإنا لا نعتبر سنة ولا دونها ولا أكثر منها دائما وإنما المعتبر المدة التي يمكنه الوصول فيها إلى مكة والرجوع منها بالسير المعتاد على ما تقرر حتى لو كان بينه وبين مكة أربعة أيام مثلا اعتبرت قدرته تلك الأربعة مع العود أيضا في غير الموت أو سنتان اعتبرت قدرته مدتهما مع العود كما ذكر . ولا بد أن يوجد نحو الزاد والراحلة في الوقت فمن بينه وبين مكة شهران مثلا لو استطاع شعبان ورمضان لم يؤثر ذلك في الوجوب عليه بل لا بد من استطاعته في أشهر الحج حتى لو استطاع الشهر من قبل أشهره ثم افتقر قبل أشهره لم يعتد بتلك الاستطاعة والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب

Referensi;


البجيرمى على الخطيب الجزء الثانى ص : ٤٢٥ دار الفكر
وقوله ” الاستطاعة ” ويعتبر فيها وجود شروطها فى حق كل إنسان من وقت خروج أهل حج بلده إلى عودهم إليه فمتى أعسر فى جزء من ذلك فلا استطاعة ق ل وهذا فى الحى أما من مات بعد الاستطاعة وبعد مضى أعمال الحج وإن لم يعش إلى عودهم إلى البلد فإنه يحج من تركته. وعبارة م ر : فمن مات غير مرتد وفى ذمته حج واجب مستقر ولو بنحو نذر بأن تمكن بعد قدرته على فعله بنفسه أو غيره وذلك بعد انتصاف ليلة النحر ومضى إمكان الرمى والطواف والسعى إن دخل الحاج بعد الوقوف ثم مات أثم ولو شابا وإن لم ترجع القافلة ووجب الإحجاج عنه من تركته اهـ


Referensi:


الأنوار الأردبيلى الجزء الأول ص : ١٧٥ – ١٧٦ المكتبة التجارية الكبرى
ومتى حصلت الاستطاعة واجتمعت الشرائط فالحج على التراخى عندنا إلا أن يخشى العضب أو هلاك المال فيتضيق ويعصى بالتأخير وإذا تخلف المستطيع ومات قبل حج الناس أو هلك ماله قبل إيابهم أو إمكانه تبين عدم الوجوب وإن مات بعد حجهم أو إمكانه بأن مات بعد انتصاف ليلة النحر وإمكان المسير إلى منى والرمى بها والرجوع إلى مكة والطواف بها استقر الوجوب ولزم القضاء من التركة وإن لم يوص لأنه دين تعلق بها ويجوز للوارث والأجنبى قضاء الحج للميت ( قوله وإمكان المسير إلى منى والرمى بها ) واعلم أن المعتمد المنقول عن الأسنوى هو أن المضى إلى منى والرمى بها غلط إذ المشروط فى استقرار الفرض إنما هو مضى زمن يمكن فعل الأركان دون ما عداها من الواجبات كما لا يخفى.


Referensi:


غاية البيان شرح زبد ابن رسلان – (ج ١ / ص ١٦٥)

( ومن مركوب لاق به ) بأن يصلح لمثله ويثبت عليه ويكون شراؤه بثمن مثله أو استئجاره بأجرة مثله هذا إن كان بينه وبين مكة مرحلتان أو دونهما وضعف عن المشي وسواء أقدر الأول على المشي أم لا وركوبه أفضل من مشيه لكن يندب له الركوب على القتب والرحل دون المحمل والهودج فإن لحقه بالركوب مشقة شديدة اشترط وجود محمل وشريك يجلس في الشق الآخر فإن فقد الشريك لم يلزمه الحج وإن وجد مؤنة المحمل بتمامه ولو لحقه مشقة عظيمة في ركوب المحمل اعتبر في حقه الكنيسة أما المرأة فيعتبر في حقها المحمل مطلقا لأنه أستر لها وأما من بينه وبين مكة دون مرحلتين وهو قوي على المشي فيلزمه الحج ولا يعتبر في حقه وجود المركوب ولا بد فيما مر من كونه فاضلا عن دينه ومؤنة ممونه مدة ذهابه وإيابه وسواء أكان الدين حالا أم مؤجلا إذ وفاء الأول ناجز والحج على التراخي وأما الثاني فلأنه إذا صرف ما معه للحج فقد لا يجد ما يقتضيه منه بعد حلوله وقد تخترمه المنية فتبقى ذمته مرتهنة ولو كان ماله في ذمة إنسان فإن أمكنه تحصيله في الحال فكالحاصل وإلا فكالمعدو

Referensi:

. حاشية ابن حجر على الإيضاح ص : ١٠٧ – ١٠٨ دار حراء
وأما إمكان السير فأن يجد هذه الأمور وتبقى زمنا يمكنه الذهاب فيه إلى الحج على السير المعتاد ( قوله السير المعتاد ) ظاهره أنه لو احتيج لقطع أكثر من مرحلتين واعتيد ذلك لزمه وفيه نظر لأن قولهم بعد أن اشترطوا السير المعتاد فلو احتيج لقطع أكثر من مرحلة ولو فى بعض الأيام فلا وجوب وهو يشمل ما إذا اعتيد ذلك وهو قريب وأفهم كلامه كغيره أن هذا شرط للوجوب لا للاستقرار فى الذمة حتى يجب قضاؤه من التركة وهو كذلك على المعتمد الذى صرح به الأئمة كما قاله الرافعى وصوبه المصنف فى مجموعه وحاصل عبارته إن وجد جميع ما مر وقد بقى زمن يمكنه فيه الحج وجب وله تأخيره

عن تلك السنة لكنه يستقر فى ذمته وإن لم يبق زمن كذلك لم يلزمه الحج ولا يستقر عليه وهكذا قاله الأصحاب ولم يذكر فيه الغزالى هذا الشرط وأنكر عليه الرافعى وقال هذا الإمكان شرطه الأئمة لوجوب الحج ورد عليه ابن الصلاح انتصارا للغزالى بأن هذا الإمكان إنما هو شرط استقرار الحج ليجب قضاؤه من تركته لو مات قبل الحج وليس شرطا لأصل وجوب الحج بل متى وجدت الاستطاعة من مسلم مكلف حر لزمه الحج فى الحال كالصلاة تجب بأول الوقت قبل مضى زمان يسعها ثم استقرارها فى الذمة يتوقف على مضى التمكن من فعلها والصواب ما قاله الرافعى وقد نص عليه صاحب المهذب والأصحاب وإنكار ابن الصلاح فاسد لقوله تعالى ( من استطاع إليه سبيلا ) وهذا غير مستطيع فلا حج عليه وكيف يكون مستطيعا وهو عاجز حسا وأماالصلاة فإنما تجب أول الوقت لإمكان تتميمها اهـ

Jawaban No.3

Kalau melihat dari deskripsi masalah, maka orang yang melakukan haji ( Ahmad Ainul Yaqin) itu sebenarnya masih belum memenuhi syarat wajibnya haji, Karena syarat- syarat wajibnya haji yang harus dipersiapkan dan disempurnakan oleh seseorang yang hendak melakukan ibadah haji menurut kesepakatan ulama’ yaitu ada lima:

1- Islam.
2- Berakal.

  1. Baligh.
  2. Merdeka.
  3. Mampu, baik mampu biaya, mampu badan/sehat dan Amannya diperhalanan.
    Adapun seseorang yang terpaksa berangkat haji/ umroh sementara sebagian biaya uangnya diperoleh dengan cara berhutang. Maka dalam hal ini, hukum hajinya tetap sah , namun makruh, dan jika berhaji dengan uang subhad atau harta Ghasab, maka hukum hajinya juga sah, namun maksiat dan jika berangkat haji dengan biaya harta haram, juga hajinya sah, namun haram dan tidak masuk haji yang maqbul dan mabrur.

الموسوعة الفقهية – 10036/31949
شروط فرضية الحج:

– شروط الحج صفات يجب توفرها في الإنسان لكي يكون مطالبا بأداء الحج، مفروضا عليه، فمن فقد أحد هذه الشروط لا يجب عليه الحج ولا يكون مطالبا به، وهذه الشروط خمسة هي: الإسلام، والعقل، والبلوغ، والحرية، والاستطاعة، وهي متفق عليها بين العلماء، قال الإمام ابن قدامة في المغني: لا نعلم في هذا كله اختلافا ”


Referensi:


.
(المهذب)
وإن لم يكن له صنعة ويحتاج إلى مسألة الناس كره له أن يحج لأن المسألة مكروهة ولأن في المسألة تحمل مشقة شديدة فكره


……………
Jika seseorang hendak melaksanakan haji, sementara ia tidak punya pekerjaan ( uang untuk transportasi melaksanakan haji) dan ia masih membutukan untuk berutang kepada orang , maka dimakruhkan baginya melaksanakan ibadah haji. Alasannya , karena meminta utangan kepada orang , hukumnya dimakruhkan dan karena dalam berhutang itulah ia menanggung kesulitan yang sangat . Oleh karena itu hukum hajinya dimakruhkan .Dengan kata lain, jika seseorang berangkat haji namun biaya transportasinya diperoleh dengan cara meminta pinjaman (meminjam kepada orang ) maka ibadah hajinya hukumnya sah namun makruh , Kenapa makruh..? karena disebabkan uang ongkasnya meminjam yang mengakibatkan ia menanggung kesulitan yang sangat

.
المكتبة الشاملة
كتاب المهذب في فقه الإمام الشافعي – الشيرازي
[أبو إسحاق الشيرازي]
الرئيسية
فصول الكتاب
<<  <  ج: ١  ص:   >  >>
مسار الصفحة الحالية:
فهرس الكتاب  كتاب الحج  مدخل
 
حتى يجد عمارية أو هودجاً وإن بذل له رجل راحلة من غير عرض لم يلزمه قبولها لأن عليه في قبول ذلك منة وفي تحمل المنة مشقة فلا يلزمه وإن وجد بأكثر من ثمن المثل ولو بأكثر من أجرة المثل لم يلزمه لما ذكرناه في الزاد وإن وجد الزاد والراحلة لذهابه ولم يجد لرجوعه نظرت فإن كان له أهل في بلده لم يلزمه وإن لم يكن له أهل ففيه وجهان: أحدهما يلزمه لأن البلاد كلها في حقه واحدة والثاني لا يلزمه لأنه يستوحش بالانقطاع عن الوطن والمقام في الغربة لم يلزمه وإن وجد ما يشتري به الزاد والراحلة وهو محتاج إليه لدين عليه لم يلزمه حالاً كان الدين أو مؤجلاً لأن الدين الحال على الفور والحج على التراخي فقدم عليه والمؤجل يحل عليه فإذا صرف ما معه في الحج لم يجد ما يقضي به الدين وإن كان محتاجاً إليه لنفقة من تلزمه نفقة لم يلزمه الحج لأن النفقة على الفور والحج على التراخي وإن احتاج إليه لمسكن لا بد له من مثله أو خادم يحتاج إلى خدمته لم يلزمه وإن احتاج إلى النكاح وهو يخاف العنت قدم النكاح لأن الحاجة إلى ذلك الفور والحج ليس على الفور وإن احتاج إليه في بضاعة يتجر فيهل ليحصل منها على ما يحتاج إليه للنفقة ففيه وجهان: قال أبو العباس بن سريج لا يلزمه الحج أنه محتاج إليه فهو كالمسكن والخادم ومن أصحابنا من قال يلزمه لأنه واجد للزاد والراحلة وإن لم يجد الزاد والراحلة وهو قادر على المشي وله صنعة يكتسب بها ما يكفيه لنفقته استحب له أن يحج لأنه يقدر على إسقاط الفرض بمشقة لا يكره تحملها فاستحب له إسقاط الفرض كالمسافر إذا قدر على الصوم في السفر

وإن لم يكن له صنعة ويحتاج إلى مسألة الناس كره له أن يحج لأن المسألة مكروهة ولأن في المسألة تحمل مشقة شديدة فكره
……………

وإن كان الطريق غير آمن لم يلزمه لحديث أبي أمامة ولأن في إيجاب الحج مع الخوف تغريراً بالنفس والمال وإن كان الطريق آمناً إلا أنه يحتاج فيه إلى خفارة لم يلزمه لأن ما يؤخذ في الخفارة بمنزلة ما زاد على ثمن المثل وأجرة المثل

Referensi:

الايضاح للنووى .ص ١٦
هـ – لِيَحْرِصَ أَنْ تَكُونَ نَفَقَتُهُ كَثِيرَةً وَحَلاَلاً خَالِصَةً مِنَ الشُّبْهَةِ، فَإِنْ خَالَفَ وَحَجَّ بِمَالٍ فِيهِ شُبْهَةٌ أَوْ بِمَالٍ مَغْصُوبٍ صَحَّ حَجُّهُ فِي ظَاهِرِ الْحُكْمِ، لَكِنَّهُ عَاصٍ وَلَيْسَ حَجًّا مَبْرُورًا، وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ، وَأَبِي حَنِيفَةَ رَحِمَهُمُ اللَّهُ وَجَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ مِنْ السَّلَفِ وَالْخَلْفِ، وَقَال أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: لاَ يُجْزِيهِ الْحَجُّ بِمَالٍ حَرَامٍ . وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى يَصِحُّ مَعَ الْحُرْمَةِ.

وَفِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ: أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَكَرَ الرَّجُل يُطِيل السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمُشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ،فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

و الْحِرْصُ عَلَى صُحْبَةِ رَفِيقٍ مُوَافِقٍ صَالِحٍ يَعْرِفُ الْحَجَّ، وَإِنْ أَمْكَنَ أَنْ يَصْحَبَ أَحَدَ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِينَ فَلْيَتَمَسَّكْ بِهِ، فَإِنَّهُ يُعِينُهُ عَلَى مَبَارِّ الْحَجِّ وَمَكَارِمِ الأَْخْلاَقِ


Wallohu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

PENGGUNAAN OBAT TETES MATA KORELASINYA DENGAN PUASA DIBULAN RAMADHAN

PENGGUNAAN OBAT TETES MATA KORELASINYA DENGAN PUASA DIBULAN RAMADHAN

Assalamualaikum

Diskripsi masalah

Kelilipan atau mata merah adalah hal yang wajar dialami oleh sebagian orang. Sehingga solusinya biasanya dengan cara memberikan obat tetes agar mata kembali segar dan tidak merah lagi. Namun, apa jadinya jika sakit mata itu menyerang saat puasa, sebagaimana Kerap terjadi disuatu daerah katakanlah Daerah Sidodadi pada bulan puasa yang lalu terkena penyakit mata maka dalam upaya kesembuhan masyarakat tersebut memakai obat tetes mata ada sebagian suntik ada sebagian minum obat dimalam hari

Pertanyaannya

Apakah puasa seseorang yang memakai tetes mata disiang hari membatalkan puasa ?

Wsalaikum salam.
Jawaban

Memasukkan obat tetes mata tidaklah membatalkan puasa, Karena lubang mata itu lubang yang tidak terbuka ( tertutup). sehingga menggunakan obat tetes mata atau celak di siang hari adalah tidak membatalkan puasa.
Tetapi jika Memasukan obat tetes ke dalam telinga hukumnya membatalkan puasa. Keterangan tetes mata yang tidak membatalkan berikut kalimat yang ditebalkan;

فقه العبادة على مذهب الإمام الشافعى. ص.٥٣٢

رابعا – الإمساك عن وصول عين إلى ما يسمى جوفا هن منفذ مفتوح:
فأما العين: فيدخل فيها دخان اللفائف (١) والتنباك (٢) ، فيفطران الصائم لأن لهما أثرا يشاهد في باطن العود، وكذلك ابتلاع ما لا يؤكل في العادة، كقطع النقد، والتراب، والحصاة، والحشيش، والحديد، والخيط.
ويستثنى من العين المفطرة الريح والطعم، ولو وجد ذاك الطعم في الفم.
كما يستثنى وصول ذباب أو بعوض أو غبار طريق، أو غربلة دقيق إلى الجوف لعسر التحرز منه، وكدا لو خرجت مقعدة المبسور فأعادها فلا يضر لعذره، وكذا لو بقي طعام بين أسنانه فجرى به ريقه حتى دخل جوفه من غير قصد لم يضر إن عجز عن تمييزه ومجه، أما النخامة فإذا خرجت إلى مخرج الخاء ثم ابتلعها فإنه يفطر. وكذا لا يضر وصول الريق الخالص الطاهر من معدنه (٣) إلى جوفه، بخلاف غير الخالص وغير الطاهر، كالمختلط بدم فإنه يفطر، إلا أنه يعفى عنه بحق من ابتلي بنزف اللثة، وبخلاف الخارج من غير معدنه، كما لو جمعه على شفتيه ثم بلعه، فهذا يضر، أما إذا خرج على لسانه ثم ابتلعه فلا يفطر. وكذا لو سبق ماء المضمضة أو الاستنشاق شريطة عدم المبالغة فيهما، أو سبق ماء غسل مطلوب – ولو مندوبا كغسل الجمعة – إلى الجوف فلا يضر لتولده من مأمور به، أما إذا سبق الماء إلى الجوف نتيجة المبالغة فإنه يفطر لأن المبالغة منهي عنها في الصوم، لما روى لقيط بن صبرة رضي الله عنه قال: “قلت يا رسول الله أخبرني عن الوضوء قال: (أسبغ الوضوء، وخلل بين الأصابع، وبالغ في الاستنشاق إلا أن تكون صائما) ” (٤) . وكذا ماء الغسلة الرابعة في الوضوء، وإن لم يبالغ فإنه مفطر إن سبق إلى الجوف، أما إذا سبق الماء إلى الجوف نتيجة المبالغة في غسل النجاسة (٥) فلا يفطر لأن إزالة النجاسة واجبة، وأما ماء الغسل غير المطلوب كغسل التبرد والنظافة فسبقه إلى الجوف مفطر، وأما الماء الذي يضعه الصائم على فمه للتبرد أو لدفع عطش فلا يضر سبقه لشدة الحاجة إليه، وكذا الأكل والشرب ناسيا للصوم لا يفطر لحديث أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من نسي وهو صائم فأكل أو شرب فليتم صومه، فإنما أطعمه الله وسقاه) (٦) .
ولا يضر الأكل والشرب مكرها، بل يبقى الصيام صحيحا، بخلاف ما لو فعل ذلك جاهلا كونه مفطرا فإنه يفطر، إلا إذا كان الجاهل معذورا، لما روى ابن عباس رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم (إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه) (٧) .
وإن تبين للصائم يقينا طلوع الفجر وهو لم يزل يأكل وجب عليه إعادة صوم ذاك اليوم، ولو طلع الفجر وفي فمه طعام فليلفظه، فإن فعل صح صومه، وإن ابتلعه أفطر، فلو لفظه في الحال فسبق منه شيء إلى جوفه بغير اختياره فلا يفطر.
وأما الجوف: فيشمل جوف الإنسان كله؛ فلو أدخلت المرأة إصبعها في فرجها أثناء الاستنجاء أو الغسل، ولو بقصد النظافة، ولو بمقدار رأس الإصبع فإنها تفطر. ومثله حك الأذن من داخلها بشيء صلب، أما بالإصبع فلا يفطر ما لم تصل إلى الصماخ. والقطرة في الأذن والأنف تفطر، أما في العين فلا، ولو وجد طعمها في حلقه، لأن العين ليس بمنفذ مفتوح. وكذا الحقنة والتحميلة فإنهما تفطران سواء كانتا في قبل أو دبر. أما لو أدخلت في الفرج قطعة قطن عليها دواء، أثناء الإفطار، بحيث تتجاوز ما يظهر أثناء قضاء الحاجة، فإذا بقيت إلى ما بعد الفجر فلا تفطر، ومثله موانع الحمل الآلية، لا تضر بالصوم ما وضعت في الإفطار.
وأما المنفذ المفتوح: فإما أن يكون مفتوحا أصالة مثل الأذن والفم والأنف والشرج، أو مفتوحاً بواسطة جرح مثل المأمومة (٨) ، لذا لا يضر وصول الكحل من العين، أو الدهن أو ماء الغسل من تشرب مسام البشرة، وكذا الحقن العضلية والوريدية لا تفطر بكل أنواعها، ولو كانت للتغذية.

Referensi :

الفقه المنهجى على مذهب الإمام الشافعى ص ٨٤

٢ـ وصول عين إلى الجوف من منفذ مفتوح:
والمقصود بالعين: أي شيء تراه العين. والجوف: هو الدماغ أو ما وراء الحلق إلى المعدة والأمعاء.
والمنفذ المفتوح: هو الفم والأذن والقبل والدبر من الذكر والأنثى.
فالقطرة من الأذن مفطرة، لأنها منفذ مفتوح.
والقطرة في العين غير مفطرة
، لأنه منفذ غير مفتوح.
والحقنة الشرجية مفطرة، لأن الشرج منفذ مفتوح.
والحقنة الوردية لا تفطر، لأن الوريد غير مفتوح. وهكذا.
وهذا كله أيضا بشرط التعمد، فإن فعل شيئاً من ذلك ناسياً لم يضر قياساً على الطعام والشراب.
ولو وصل جوفه ذباب أو بعوضة، أو غبار الطريق لم يفطر أيضاً، لما في الاحتراز عن ذلك من المشقة الشديدة

Maka tetesan ke dalam lubang dari telinga adalah membatalkan puasa, karena telinga itu adalah lubang yang terbuka. Dan tetesan ke dalam mata itu tidak membatalkan puasa, karena mata itu lubang yang tidak terbuka.

Referensi:

الشرقاوى على التحرير .ج.ص ٤٣٢

(فلا يضر الاكتحال ( اي لا يكره في نهار رمضان لأنه لم يرد فيه نهي نعم هو خلاف الاولى فالأولى تركه خروجا من خلاف مالك فإنه مفطر عنده) وان وجد به طعم الكحل في الحلق  (خرج ما لو وجد عينه كأن ظهرت في نحو نخامة فإن ابتلعها ضر والا فلا.


(Maka tidaklah membahayakan bercelak) yakni tidak makruh di siang Ramadan karena ia tidak dilarang, iya tetapi khilaful aula, yakni yang lebih baik ditinggalkan, karena untuk keluar dari bertentangan dengan Imam Malik yang baginya hal itu membatalkan puasa).
(Meskipun terdapat rasa celak itu di dalam tenggorokan) kecuali jika sesuatu yang terasa di dalam tenggorokan itu berupa benda yang jelas semisal lendir dahak, maka jika ia menelannya dapat membahayakan puasa, tetapi jika tidak ditelan, maka tidak membahayakan puasa.
Hal ini juga telah difatwakan oleh KH. Ali Mustafa Ya’qub di dalam buku Ramadhan bersama Ali Mustafa Ya’qub (hal. 37, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2011) ketika ditanya seputar obat tetes mata di siang hari saat berpuasa. Beliau menjawab bahwa obat tetes mata tidak sampai ke rongga perut. Cairan itu hanya sampai di kelopak mata saja. Jadi, orang yang memakai obat tetes tersebut tidak dikategorikan minum obat tetes mata. Sehingga puasanya tidak batal.
Hukum tidak batalnya puasa orang yang memakai tetes mata juga telah difatwakan oleh Syekh Yusuf al Qaradhawi di dalam Fatawa al Mu’ashirah (juz 1, Kuwait: Darul Qalam, 2000, hal. 325-328). Pendapatnya ini juga mengikuti pendapatnya Imam Ibnu Taimiyah di dalam Maj’mu’ Fatawa-nya.
Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA IMAM MENGKHUSUSKAN DO’A UNTUK DIRINYA KETIKA BERJAMAAH

HUKUMNYA IMAM MENGKHUSUSKAN DO’A UNTUK DIRINYA KETIKA BERJAMAAH

Assalamualaikum warohmatullah
Deskripsi masalah

Saya ( Moh .Amin ) pernah bermakmum shalat subuh disalah satu musholla kemudian ketika sampai pada do’a Qunut , maka do’a nya imam untuk dirinya sendiri ( اللهم اهدني) bukan ( اللهم اهدنا)

Setudi kasus yang serupa.

Ada seorang memimpin do’a disuatu majlis ( perkumpulan ) berdo’a untuk dirinya saja ( Memakai dhomir mutakallim saja )

MEMAKAI DHOMIR ; أنا

( أللهم إني أسئلك الهدى )

TIDAK MEMAKAI DHOMIR: نحن

( اللهم إنانسئلك الهدى )

_________________

( اللهم اجعلني )


BUKAN


( اللهم اجعلنا )

Pertanyaannya
Bagaimana hukumnya mengkhususkan do’a untuk dirinya sendiri ketika menjadi Imam..?

Waalaikum salam.

Jawaban.

Hukum mengkhususkan do’a untuk dirinya ketika menjadi imam adalah makruh baik didalam do’a Qunut shalat subuh atau diluar sholat. Dengan demikian maka seyogyanya seorang Imam jika memimpin do’a maka harus mencakup diri dan pada makmumnya/kaumnya.

Referensi :


فتح المعين ص ١١٤
وكره لإمام تحصيص نفسه بدعاء أو دعاء القنوت للنهى عن تخصيص نفسه بالدعاء فيقول الإمام :إهدنا وما عطف عليه بلفظ الجمع وقضيته أن سائر الدعاء كذلك

Referensi

[نهاية الزين ص٦٨]
(وَكره لإِمَام تَخْصِيص نَفسه بِدُعَاء) وَإِنَّمَا يسن لَهُ أَن يَأْتِي بضمير الْمُتَكَلّم وَمَعَهُ غَيره بِأَن يَقُول اللَّهُمَّ اهدنا إِلَى آخِره لِأَنَّهُ يَقُول عَن نَفسه وَعَن الْمَأْمُومين فَلَو خص الإِمَام نَفسه بِالْقُنُوتِ بِأَن لَا يَأْتِي بِلَفْظ الْجمع سنّ للْمَأْمُوم التَّأْمِين لِأَنَّهُ الْوَارِد لَا الْقُنُوت كَمَا قَالَه الشبراملسي


الدعاء الذي يشترك فيه الإمام والمأمومون في صلاة الجماعة؛ يعني: أن الإمام يدعو، ويؤمن المأمومون، هو الذي يكره فيه للإمام أن يخص نفسه بالدعاء دون المأمومين،


Rosulullah bersabda: Ada tiga perkara yang tidak boleh dilakukan oleh seseorang:
(1)Tidak boleh seseorang mengimami terhadap kaum,lalu imam itu mengkhususkan bagi dirinya didalam berdoa.Dan imam itu tidak mendoakan untuk kaumnya.
(2) Seseorang itu tidak boleh melihat kepada bagian dalamnya rumah orang lain, sampai minta idzin terlebih dahulu.
(3)Dan seseorang tidak boleh sholat,dalam keadaan orang itu menahan kencingnya(orang itu mau kencing tapi tidak kencing) dan menahan buang air besarnya(orang itu mau buang air besar tapi tidak buang air besar).(Hadits Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi).


 وذلك لما جاء عَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه قال: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (ثَلَاثٌ لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَفْعَلَهُنَّ: لَا يَؤُمُّ رَجُلٌ قَوْمًا فَيَخُصُّ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ دُونَهُمْ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ خَانَهُمْ. وَلَا يَنْظُرُ فِي قَعْرِ بَيْتٍ قَبْلَ أَنْ يَسْتَأْذِنَ، فَإِنْ فَعَلَ فَقَدْ دَخَلَ. وَلَا يُصَلِّي وَهُوَ حَقِنٌ حَتَّى يَتَخَفَّفَ) .
رواه أبو داود (رقم/٩٠) والترمذي (٣٥٧) وقال حديث ثوبان حديث حسن.