logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA ABORSI

Assalamu’alaikum

Deskripsi masalah

Terkadang ada seorang perempuan nikat berhubungan intim dengan lelaki diluar nikah sehingga hamil maka dalam rangka untuk menutupi aibnya dia Aborsi, sedangkan kehamilannya sudah mencapai 4 bulan yang masyhur dimasyarat jika kandungan sampai 4 bulan adalah masa ditiupkannya ruh kedalam rahim,

Studi kasus yang hampir sama

Ada pasangan suami istri terjadi talak dalam masa iddah ternyata dia hamil 4 bulan maka dia melakukan aborsi dalam rangka untuk bisa menikah lagi.

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya menggugurkan anak ( aborsi) dalam masa indah dengan tujuan untuk bisa menikah.

Mohon pencerahan nya kiyai.

Waalaikum
Jawaban .

Aborsi adalah menggugurkan anak dalam kandungan .

Jika Islam memperbolehkan seseorang muslim mencegah kehamilan karena alasan-alasan yang mengharuskannya, namun ia tidak memperbolehkannya menganiaya kandungan itu, jika benar-benar telah terjadi. Para ahli fiqih sepakat bahwa menggugurkan kandungan setelah ditiupkannya ruh kedalamnya hukumnya adalah haram dan termasuk dosa. Seorang muslim tidak boleh melakukannya karena termasuk tindakan kriminal terhadap manusia yang telah sempurna dan jelas-jelas hidup .
Mereka mengatakan bahwa karena itu, pengguguran kandungan berkewajiban membayar diyat, jika terlahir dalam keadaan hidup kemudian mati.Jika terlahir dalam keadaan telah mati, dikenakan hukuman harta yang lebih ringan. Akan tetapi mereka juga mengatakan ” Bilamana dengan cara yang terpercaya dinyatakan bahwa keberadaan kandungan yang jelas-jelas hidup itu menyebabkan kematian ibunya tanpa bisa dihindari , syariat dengan kaidah-kaidah umumnya memerintahkan untuk melakukan tindakan yang risikonya lebih ringan.

Bila keberadaannya menyebabkan kematian dan tidak ada cara lain untuk menyelamatkan ibunya kecuali dengan menggugurkannya dalam hal ini menjadi wajib . Tidak boleh mengorbankan ibu untuk menyelamatkan jiwa si janin .Karena dialah pangkalnya, dan kehidupan telah berada dalam jiwanya. Ia memiliki hak hidup secara mandiri, Memiliki hak dan kewajiban , lebih dari itu adalah pilar keluarga .Karenanya tidak logis kalau demi membela janin yang belum tentu jelas kehidupan nya harus mengorbankan sang ibu , padahal janin itu belum mempunyai hak kewajiban sedikitpun.
Imam Ghazali membedakan antara mencegah kehamilan dan menggugurkannya .Hal ini ( mencegah kehamilan ) bukanlah aborsi dan bukan pula penguburan anak hidup-hidup . Karena penguguran hakikatnya adalah merupakan kejahatan terhadap makhluk yang telah benar-benar hidup .Keberadaan makhluk hidup memiliki beberapa tingkatan . Tingkatan pertama adalah ketika seperma ketika masuk kedalam rahim dan tercampur dengan ovum dan siap untuk hidup.Merusaknya adalah kejahatan . Kalau seperma sudah menjadi segumpal darah , tingkat kriminalnya lebih keji, Apalagi telah ditiupin ruh kedalamnya dan menjadi makhluk yang sempurna, nilai kriminalnya jauh lebih keji lagi. Dan yang paling keji kadar kriminalnya adalah jika pembunuhan dilakukan setelah terpisah ( lahir )sebagai makhluk hidup.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan dari beberapa pendapat ulama ; Bahwa hukum Aborsi Haram Jika sudah mencapai 4 bulan dan sudah ditiupkan ruh kedalam rahim , begitu juga haram Jika belum ada ruhnya yakni berbentuk segumpal darah atau segumpal daging tapi menurut imam Romli boleh. Menurut ulama’ lain boleh dengan syarat dapat persetujuan dari suami-istri serta tidak akan terjadi bahaya terhadap ibunya (perempuan yang hamil) pendapat ulama’ lain.: sedangkan menurut Imam Ghozali : haram secara mutlak , menurut sebagian ulama boleh secara mutlak (baik setelah ada ruh atau tidak) ketika sudah tidak ada cara lain untuk menyelamatkan ibunya.

Referensi:

كتاب الحلال والحرام للشيخ دكتور يوسف القرضاوي .ص ٢٣٢-٣٣٣

● تسقاط الحمل :
وإذا كان الإسلام قد أباح للمسلم أن يمنع الحمل لضرورات تقتضي
ذلك ، فلم يُبح له أن يجني على هذا الحمل ، بعد أن يُوجد فعلا . ولو جاء هذا الحمل من طريق حرام ، فإن النبي * لم يقبل أن يقيم الحدَّ على امرأة حملت من زِنى حتى تض جنينها ، وتتم رضاعته ؛ إذ لا ذنب له
.واتفق الفقهاء على أن إسقاطه ، بعد نفخ الروح فيه حرام وجريمة ،
لا يحل للمسلم أن يفعله ؛ لأنه جناية على حيّ ، متكامل الخَلْق ، ظاهرالحياة ، قالوا : ولذلك وجبت في إسقاطه الدية إن نزل حيًّا ثم مات ، وعقوبة مالية أقل منها إن نزل ميتا .ولكنهم قالوا : إذا ثبت من طريق موثوق به أن بقاءه ـ بعد تحقق
حياته هكذا ـ يؤدي لا محالةَإلى موت الأم ، فإن الشريعة بقواعدها العامة ، تأمر بارتكاب أخف الضررين ، فإذا كان في بقائه موت الأم ، وكان لا منقذ لها سوى إسقاطه ، كان إسقاطه في تلك الحالة متعينًا ، ولايضحَّى بها في سبيل إنقاذه ؛ لأنها أصله ، وقد استقرت حياتها ، ولهاحظ مستقل في الحياة ، ولها حقوق وعليها حقوق ، وهي بعد هذا وذاك
عماد الأسرة . وليس من المعقول أن نضحي بها في سبيل الحياة لجنين لم تستقل حياته ، ولم يحصل على شيء من الحقوق والواجبات.ذلك إذا ثبت لنا بطريقة علمية مؤكدة ، أن الجنين سينزل مشوَّهًا ويعيش حياته في الأم وتعاسة ، له ولمن حوله ، فقواعد الشريعة لا تمنع من إسقاطه ، وحصر ذلك في المدة الأولى من الحمل ، أي قبل نهاية أربعة أشهر ـ قال الإمام الغزالي يفرق بين منع الحمل وإسقاطه ،( وليس هذا ) أى منع الحمل كالإجهاض والوأد ؛ لأن ذلك جناية على موجود حاصل ـ أي من الحمل وأول مراتب الوجود أن تقع النطفة في الرحم ، وتختلط بماء المرأة. وتستعد لقبول الحياة صارت نطفة فعلقة د له مراتب والوجو . وإفساد ذلك جناية ، فإن . وتستعد لقبول الحياة وإفساد ذلك جناية فإنوصارت نطفة فعلقة ، كانت الجناية أفحش ، وإن نفخ فيه الروح واستوت الخِلقة ، ازدادت الجناية تفاحشا ، ومنتهى التفاحش في الجناية ، بعد الانفصال حيا

ﺑﻐﻴﺔ اﻟﻤﺴﺘﺮﺷﺪﻳﻦ – (ص ٢٤٦)
(ﻣﺴﺄﻟﺔ ك) ﻳﺤﺮﻡ اﻟﺘﺴﺒﺐ ﻓﻲ ﺇﺳﻘﺎﻁ اﻟﺠﻨﻴﻦ ﺑﻌﺪ اﺳﺘﻘﺮاﺭﻩ ﻓﻲ اﻟﺮﺣﻢ، ﺑﺄﻥ ﺻﺎﺭ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﻭﻟﻮ ﻗﺒﻞ ﻧﻔﺦ اﻟﺮﻭﺡ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ اﻟﺘﺤﻔﺔ، ﻭﻗﺎﻝ (ﻣ ﺭ) : ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﺇﻻ ﺑﻌﺪ اﻟﻨﻔﺦ، ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻨﻘﻞ ﻋﻦ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻓﻲ اﻟﺠﻮاﺯ ﻣﻄﻠﻘﺎ ﻭﻓﻲ ﻋﺪﻣﻪ ﺑﻌﺪ ﻧﻔﺦ اﻟﺮﻭﺡ، ﻭﻫﻞ ﻫﻮ ﻛﺒﻴﺮﺓ ؟ اﻷﺣﻮﻁ ﺃﻥ ﻳﻘﺎﻝ : ﺇﻥ ﻋﻠﻢ اﻟﺠﺎﻧﻲ ﺑﻮﺟﻮﺩ اﻟﺤﻤﻞ ﺑﻘﺮاﺋﻦ اﻷﺣﻮاﻝ ﻭﺗﻌﻤﺪ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﻳﺠﻬﺾ ﻏﺎﻟﺒﺎ ﻭﻗﺪ ﻧﻔﺦ ﻓﻴﻪ اﻟﺮﻭﺡ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻠﺪ اﻟﻘﺎﺋﻞ ﺑﺎﻟﺤﻞ ﻓﻜﺒﻴﺮﺓ ﻭﺇﻻ ﻓﻼ.

اعانة الطالبين ج٤ ص١٤٧
فرع: اختلفوا في التسبب لاسقاط ما لم يصل لحد نفخ الروح فيه وهو مائة وعشرون يوما، والذي يتجه وفاقا لابن العماد وغيره الحرمة، ولا يشكل عليه جواز العزل لوضوح الفرق بينهما بأن المني حال نزوله محض جماد لم يتهيأ للحياة بوجه بخلافه بعد استقراره في الرحم وأخذه في مبادئ التخلق ويعرف ذلك بالامارات، وفي حديث مسلم أنه يكون بعد اثنتين وأربعين ليلة: أي ابتداؤه كما مر في الرجعة، ويحرم استعمال ما يقطع الحبل من أصله، كما صرح به كثيرون، وهو وظاهر. والذي رجحه م ر أنه بعد نفخ الروح يحرم مطلقا ويجوز قبله ونص عبارته في باب أمهات الاولاد بعد كلام. قال الدميري: لا يخفى أن المرأة قد تفعل ذلك بحمل زنا وغيره، ثم هي إما أمة فعلت ذلك بإذن مولاها الواطئ لها وهي مسألة الفراتي أو بإذنه وليس هو الواطئ وهو صورة لا تخفى، والنقل فيها عزيز، وفي مذهب أبي حنيفة شهير، ففي فتاوى قاضيخان وغيره أن ذلك يجوز، وقد تكلم الغزالي عليها في الاحياء بكلام متين غير أنه لم يصرح بالتحريم. والراجح تحريمه بعد نفخ الروح مطلقا وجوازه قبله.

الفقه الإسلامي ج٤ ص٢٦٤٨
٣ – مذهب الشافعية: يباح الإجهاض مع الكراهة إذا تم في فترة الأربعين يوماً (٤٠ أو ٤٢ أو ٤٥ يوماً) من بدء الحمل، بشرط كونه برضا الزوجين، وألا يترتب على ذلك ضرر بالحامل. وبعد فترة الأربعين يحرم الإسقاط مطلقاً.
ورجح الرملي جواز الإجهاض قبل نفخ الروح والتحريم بعد نفخ الروح مطلقاً، فيكون رأيه كالحنفية.
وحرم الغزالي الإجهاض مطلقاً، لأنه جناية على موجود حاصل.

ﺗﻮﺿﻴﺢ اﻷﺣﻜﺎﻡ اﻟﺠﺰء اﻟﺨﺎﻣﺲ ﺻ: ١٨٨-١٨٩
ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﺳﻘﺎﻁ اﻟﺤﻤﻞ ﻓﻰ ﻣﺨﺘﻠﻒ ﻣﺮاﺣﻠﻪ ﺇﻻ ﻟﻤﺒﺮﺭ ﺷﺮﻋﻰ ﻭﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ ﺿﻴﻘﺔ ﺟﺪا. ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﺤﻤﻞ ﻓﻰ اﻟﻄﻮﺭ اﻷﻭﻝ ﻭﻫﻰ ﻣﺪﺓ اﻷﺭﺑﻌﻴﻦ ﻭﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﺷﺮﻋﻴﺔ اﻭ ﺩﻓﻊ ﺿﺮﺭ ﻣﺘﻮﻗﻊ ﺟﺎﺯ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﺃﻣﺎ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﻓﻰ ﻫﺬﻩ اﻟﻤﺪﺓ ﺧﺸﻴﺔ اﻟﻤﺸﻘﺔ ﻓﻰ ﺗﺮﺑﻴﺔ اﻷﻭﻻﺩ ﺃﻭ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﻌﺠﺰ ﻋﻦ ﺗﻜﺎﻟﻴﻒ ﻣﻌﻴﺸﺘﻬﻢ ﻭﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﺃﻭ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﻣﺴﺘﻘﺒﻠﻬﻢ ﺃﻭ ﺇﻛﺘﻔﺎء ﺑﻤﺎ ﻟﺬﻯ اﻟﺰﻭﺟﻴﻦ ﻣﻦ اﻷﻭﻻﺩ ﻓﻐﻴﺮ ﺟﺎﺋﺰ. ﻻ ﻳﺠﻮﺯ اﺳﻘﺎﻁ اﻟﺤﻤﻞ ﺇﺫا ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻘﺔ ﺃﻭ ﻣﻀﻐﺔ ﺣﺘﻰ ﺗﻜﺮﺭ ﻟﺠﻨﺔ ﻃﺒﻴﺔ ﻣﻮﺛﻮﻗﺔ ﺇﻥ اﺳﺘﻤﺮاﺭﻩ ﺧﻄﺮ ﻋﻠﻰ ﺳﻼﻣﺔ ﺃﻣﻪ ﺑﺄﻥ ﻳﺨﺸﻰ ﻋﻠﻴﻬﺎ اﻟﻬﻼﻙ ﻣﻦ اﺳﺘﻤﺮاﺭﻩ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﺇﺳﻘﺎﻃﻪ ﺑﻌﺪ اﺳﺘﻨﻔﺎﺩ ﻛﺎﻓﺔ اﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﻟﺘﻼﻗﻰ ﺗﻠﻚ اﻷﺧﻄﺎﺭ. ﺑﻌﺪ اﻟﻄﻮﺭ اﻟﺜﺎﻟﺚ ﻭﺑﻌﺪ ﺇﻛﻤﺎﻝ ﺃﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻟﻠﺤﻤﻞ ﻻ ﻳﺤﻞ اﺳﻘﺎﻃﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﺮﺭ ﺟﻤﻊ ﻣﻦ اﻷﻃﺒﺎء اﻟﻤﺨﺘﺼﻴﻦ اﻟﻤﻮﺛﻮﻗﻴﻦ ﺃﻥ ﺑﻘﺎء اﻟﺠﻨﻴﻦ ﻓﻰ ﺑﻄﻦ ﺃﻣﻪ ﻳﺴﺒﺐ ﻣﻮﺗﻬﺎ ﻭﺑﺬﻟﻚ ﺑﻌﺪ اﺳﺘﻨﻔﺎﺩ اﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﻻﻧﻘﺎﺫ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺭﺧﺺ اﻹﻗﺪاﻡ ﻋﻠﻰ اﺳﻘﺎﻃﻪ ﺑﻬﺬﻩ اﻟﺸﺮﻭﻁ ﺩﻓﻌﺎ ﻷﻋﻈﻢ اﻟﻀﺮﺭﻳﻦ ﻭﺟﻠﺒﺎ ﻟﻌﻈﻤﻰ اﻟﻤﺼﻠﺤﻴﻦ. ﻗﺒﻞ ﻣﺮﻭﺭ ﻣﺎﺋﺔ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺤﻤﻞ ﺇﺫا ﺛﺒﺖ ﻭﺗﺄﻛﺪ ﺑﺘﻘﺮﻳﺮ ﻟﺠﻨﺔ ﻃﺒﻴﺔ ﻣﻦ اﻷﻃﺒﺎء اﻟﻤﺨﺘﺼﻴﻦ اﻟﺜﻘﺎﺕ ﻭﺑﻨﺎء ﻋﻠﻰ اﻟﻔﺤﻮﺹ اﻟﻔﻨﻴﺔ ﺑﺎﻷﺟﻬﺰﺓ ﻭاﻟﻮﺳﺎﺋﻞ اﻟﻤﻤﻜﻨﺔ ﺃﻥ اﻟﺠﻨﻴﻦ ﻣﺸﻮﻩ ﺗﺸﻮﻳﻬﺎ ﺧﻄﻴﺮا ﻏﻴﺮ ﻗﺒﻴﻞ ﻟﻠﻌﻼﺝ ﻭﺇﻧﻪ ﺇﺫا ﺑﻘﻰ ﻭﻭﻟﺪ ﻓﻰ ﻣﻮﻋﺪﻩ ﺳﺘﻜﻮﻥ ﺣﻴﺎﺗﻪ ﺳﻴﺌﺔ ﻭﺃﻻﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺃﻫﻠﻪ ﻓﻌﻨﺪﺋﺬ ﻳﺠﻮﺯ اﺳﻘﺎﻃﻪ ﺑﻨﺎء ﻋﻠﻰ ﻃﻼﺏ اﻟﻮاﻟﺪﻳﻦ ﻭاﻟﻤﺠﻠﺲ ﺇﺫ ﻳﻘﺮﺭ ﺫﻟﻚ ﻳﺴﻰء اﻷﻃﺒﺎء ﻭاﻟﻮاﻟﺪﻳﻦ ﺑﺘﻘﻮﻯ اﻟﻠﻪ ﻭاﻟﺘﺜﺒﺖ ﻓﻰ ﻫﺬا اﻷﻣﺮ

 

Kitab Al-Halal wal-Haram
Syekh Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Halaman 232–233

Tentang Pengguguran Janin:
Jika Islam memperbolehkan seorang Muslim untuk mencegah kehamilan karena alasan-alasan tertentu yang mendesak, maka Islam tidak memperbolehkan seseorang untuk menghilangkan janin setelah ia benar-benar ada. Bahkan jika janin itu berasal dari hubungan haram, Nabi Muhammad ﷺ tidak menjatuhkan hukuman hudud kepada seorang wanita yang hamil karena zina sampai ia melahirkan anaknya dan selesai menyusui, karena anak tersebut tidak bersalah.

Para ulama sepakat bahwa menggugurkan janin setelah ruh ditiupkan adalah haram dan merupakan tindakan kriminal. Tidak diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk melakukannya karena itu adalah kejahatan terhadap makhluk hidup yang sempurna bentuknya dan memiliki kehidupan yang nyata. Para ulama mengatakan bahwa jika janin dilahirkan dalam keadaan hidup lalu meninggal, maka diwajibkan membayar diyat (tebusan), sedangkan jika lahir dalam keadaan mati, maka diyatnya lebih ringan.

Namun, mereka juga menyatakan bahwa jika terbukti secara medis bahwa keberadaan janin setelah ruh ditiupkan akan menyebabkan kematian ibu tanpa keraguan, maka syariat berdasarkan kaidahnya memerintahkan untuk memilih kerugian yang lebih ringan. Jika keberadaan janin dapat menyebabkan kematian ibu, dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan ibu adalah dengan menggugurkan janin tersebut, maka tindakan tersebut menjadi wajib. Nyawa ibu tidak boleh dikorbankan untuk menyelamatkan janin karena ibu adalah asal dari janin tersebut.

Kehidupan ibu telah mapan, ia memiliki hak dan kewajiban serta merupakan pilar utama keluarga. Tidaklah masuk akal untuk mengorbankannya demi janin yang belum memiliki kehidupan yang mandiri dan belum mendapatkan hak-hak penuh.

Jika terbukti secara ilmiah bahwa janin akan lahir cacat dan menjalani kehidupan yang penuh penderitaan bagi dirinya dan orang di sekitarnya, maka kaidah syariat tidak melarang menggugurkannya. Namun, tindakan ini hanya diperbolehkan pada tahap awal kehamilan, yaitu sebelum 120 hari. Imam Al-Ghazali membedakan antara mencegah kehamilan dan menggugurkan janin. Ia mengatakan bahwa mencegah kehamilan tidak sama dengan aborsi atau membunuh bayi, karena aborsi adalah kejahatan terhadap makhluk yang telah ada.

Ketika sperma bertemu dengan sel telur dalam rahim dan siap untuk menerima kehidupan, maka merusaknya dianggap sebagai kejahatan. Jika sudah berubah menjadi segumpal darah atau daging, kejahatannya semakin besar. Ketika ruh telah ditiupkan dan bentuknya sempurna, kejahatan tersebut menjadi lebih berat, dan tingkat kejahatan tertinggi adalah membunuh makhluk hidup setelah ia lahir dalam keadaan hidup.

Referensi dari Kitab Lain

Bughyatul Mustarsyidin (Halaman 246):
Dalam Bughyatul Mustarsyidin disebutkan bahwa haram hukumnya menyebabkan gugurnya janin setelah ia menetap di dalam rahim, baik dalam bentuk segumpal darah (ʿalaqah) atau segumpal daging (muḍghah), bahkan sebelum ruh ditiupkan, sebagaimana tercantum dalam kitab “At-Tuhfah.”

Namun, ada pendapat (dalam madzhab Syafi’i) yang menyatakan bahwa pengguguran tidak haram kecuali setelah ruh ditiupkan. Pendapat dalam madzhab Hanafi berbeda; sebagian membolehkan menggugurkan janin pada tahap awal, sementara sebagian lain mengharamkannya setelah ruh ditiupkan.

I’aanatuth Thalibin (Jilid 4, Halaman 147):
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menggugurkan janin sebelum ruh ditiupkan (120 hari). Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hukumnya haram karena setelah janin menetap di rahim dan mulai terbentuk, statusnya berbeda dengan sperma yang masih berupa zat mati.

Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh (Jilid 4, Halaman 2648):
Dalam madzhab Syafi’i, menggugurkan kandungan diperbolehkan dengan catatan makruh jika dilakukan dalam 40 hari pertama kehamilan, asalkan atas persetujuan suami-istri dan tidak membahayakan kesehatan ibu. Setelah 40 hari, pengguguran janin menjadi haram.

Tawdihul Ahkam (Jilid 5, Halaman 188–189):
Menggugurkan kandungan di berbagai tahap kehamilan tidak diperbolehkan kecuali ada alasan syar’i yang mendesak, dan itu pun dalam batasan yang sangat sempit.

Jika janin berusia kurang dari 40 hari dan ada alasan syar’i atau untuk menghindari bahaya tertentu, maka pengguguran diperbolehkan. Namun, alasan seperti khawatir tidak mampu mendidik anak, ketakutan terhadap biaya hidup, atau kecukupan jumlah anak tidak dapat dijadikan alasan syar’i untuk melakukan pengguguran.

Setelah janin mencapai usia 120 hari dan jika terbukti secara medis bahwa keberadaannya akan menyebabkan kematian ibu, maka pengguguran diperbolehkan dengan syarat telah dilakukan segala upaya untuk menyelamatkan nyawa janin.

 

Kategori
Uncategorized

MANFAAT DZIKIR DAN DO’A SETELAH SHALAT JUM’AT

DZIKIR DAN DO’A SETELAH SHALAT JUM’AT DAN FAIDAHNYA

Assalamualaikum.
Mohon maaf sebelumnya mau nanya
Deskripsi masalah.
Sebagaimana yang kita maklumi dimasyarakat Islam bahwa ketika selesai shalat jum’at dianjurkan membaca fatihah 7x al-Ikhlas 7x al-Falaq 7x an-Nas 7x dan diakhiri do’a dengan bentuk sya’ir ada yang membaca 3× dan ada yang membaca 5×

إلهى لست للفردوس أهلا # ولاأقوى على نار الجحيم # فهب لي توبة واغفر ذنوبي # فإنك غافر الذنب العظيم


Kalau dilihat dari segi makna bahwa seseorang yang membaca berseru kepada Allah bahwa dirinya tidak pantas memiliki surga firdaus dan dia tidak mampu menempati Neraka jahannam.

Pertanyaannya.

1.Bagaimana maksud dari ungkapan tidak pantas memasuki surga dan tidak kuat atas api neraka sebagaimana do’a tersebut
2. Apa hasiat/atau manfaatnya membaca amalan tersebut diatas dan dibaca berapa kali menurut hadits atau keterangan dalam kitab turos ?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Kalau ditinjau dari segi makna seakan merepotkan dan membingungkan, karena dalam maknanya memasuki surga tidak pantas memasuki neraka tidak kuat .Menurut al-Fakir ar-Roji ila rahmatillah bahwa maksud dari pengakuan ungkapan dalam do’a” Saya tidak pantas memiliki/memasuki surga firdaus adalah dikarenakan amal saya masih belum pantas, sebagai jaminan untuk memiliki surga firdaus karena amal saya masih sedikit dan masih banyak dosa.
Sedangkan maksud dari ungkapan saya tidak kuat atas siksa api neraka Ya Allah seakan dia berkata dalam hatinya bagaimana saya akan dimasukkan keneraka sementara saya berbuat baik/ amal shaleh, walaupun saya pernah berbuat dosa, oleh karenanya terimalah taubat saya.

Jadi kesimpulan dari do’a tersebut permohonan taubat dan ampunan yang selanjudnya tawakkal dan dipasarahkan kepada Allah antara dimasukkan kesurga ataupun keneraka, yang terpenting tentunya dengan cara ikhtiyar/usaha terlebih dahulu selama hidupnya dengan ibadah dan bertakwa kepada Allah dan terus beramal sholeh, serta bertaubat atas maksiat yang pernah dilakukan dan tidak akan bermaksiat lagi.Itulah sebabnya seorang penyair dan ulama ternama Abu Nuwas tidak meminta surga karena diri merasa tak pantas ke surga dengan amal-amalnya. Ia hanya meminta ampunan Allah swt.

Adapun hasiatnya/manfaatnya dzikir dan do’a tersebut diantaranya dijaga dirinya dan keluarganya pun juga agamanya dari keburukan mulai hari jum’at sampai jum’at yang akan datang juga akan dicukupkan dalam kehidupannya serta dengan membaca do’a tersebut akan meninggal dengan membawa agama Islam tanpa diragukan dengan syarat tidak berubah tempat duduknya atau beralih dan bacaan surat-surat tersebut 7× persurat sedangkan do’a sya’irnya adalah 5× bukan 3x

Referensi

كاشفة السجا على شرح سفينة النجا. فى فصل صلاة الجمعة…الخ

[فائدة]

ورد في الخبر أن من قرأ عقب سلامه من الجمعة قبل أن يثني رجله الفاتحةوالإخلاص والمعوذتين سبعاً سبعاً غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر وأعطي من الأجربعدد من آمن باﷲ ورسوله وفي رواية لابن السني بإسقاط الفاتحة وزيادة وأن ذلك بعد من السوء إلى الجمعة الأخرى وفي رواية بزيادة وقبل أن يتكلم حفظ له دينه ودنياه وأهله وولده وذكر ذلك ابن حجر

[SATU FAEDAH]

Disebutkan di dalam hadis bahwa barang siapa membaca Surat al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas sebanyak tujuh kali-tujuh kali setelah salam sholat Jumat dan sebelum memindah kaki (dari posisi tasyahud) maka dosanya yang lalu dan yang mendatang diampuni dan ia diberi pahala sebanyak makhluk yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Riwayat Ibnu Sina tidak menyebutkan Surat al-Fatihah dan ditambahi pernyataan, “… dan ia dijauhkan dari keburukan sampai hari Jumat berikutnya.”
Dalam riwayat lain ditambahkan pernyataan, “… dan sebelum ia berbicara maka ia dijaga agamanya, dunianya, keluarganya, dan anaknya.” Demikian ini disebutkan oleh Ibnu Hajar.

ونقل عن الزيادي أن كيفية ذلك أن يبدأ بالفاتحة ثم قل هو اﷲ أحد ثم قل أعوذ بربالفلق ثم قل أعوذ برب الناس ونقل القليوبي عن شيخه أن ما ورد فيه أمر مخصوص يفوت بمخالفته فيفوت يثني رجله ولو بجعل يمينه للقوم

Dan dikutip dari Ziyadi bahwa cara melakukan bunyi hadis di atas adalah musholli mengawali membaca al-Fatihah, kemudian alIkhlas, kemudian al-Falaq, kemudian an-Naas.
Dikutip oleh Qulyubi dari gurunya bahwa hadits di atas mengandung perintah tertentu sehingga janji-janji yang dinyatakan dalam hadits tersebut tidak akan diperoleh sebab tidak melakukan aturan sesuai perintah yang ada. Oleh karena itu, apabila musholli telah memindah kaki kanannya menghadap ke orang lain maka ia telah kehilangan janji-janji yang disebutkan dalam hadis tersebut

وقوله قبل أن يثني رجله أي قبل أن يصرف رجله عن حالته التي هو عليها في التشهد وقوله ما تقدم من ذنبه وما تأخر أي من الصغائر إذا اجتمعت الكبائر نقله المناوي عن أبي الأسعد القشيري “قبل أن يثني رجله”

Bunyi hadits berarti sebelum musholli memindah kakinya dari posisi tasyahud. Bunyi hadis “ما تقدم من ذنبه وما تأخر” berarti bahwa dosa-dosa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil yang telah terkumpul hingga menjadi dosa-dosa besar, seperti yang seperti yang dikutip oleh al-Manawi dari Abu As’ad Qusyairi.
Kemudian setelah itu musholli bacalah do’a ini sebanyak 4 kali:

ثم يقول يَا غنِيُّ يا حَميْدُ يا مُبْدِئُ يَامُعِيْدُ يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ اَ غنِنِي بِحلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَبِطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَّتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ أربع مرات

Artinya:” Ya Allah dzat yang maha kaya, dzat yang maha terpuji, dzat yang maha memulai, dzat yang maha mengembalikan kehidupan, dzat yang maha penyayang, dan dzat yang maha mengasihi, kayakanlah aku dengan harta halalmu yang jauh dari harta haram, dengan taat kepadamu yang jauh dari ma’siat, anugerah darimu bukan selain engkau.

وروي أن من واظب عليه أغناه اﷲ ورزقه من حيث لا يحتسب ونقل الشرقاوي عن شيخنا الشيخ الحفني أن الدعاء المذكور وارد في حديث صحيح عن النبي صلى اﷲ عليه وسلّم

Dan diriwayatkan bahwa barang siapa senantiasa membaca doa tersebut maka Allah akan memberinya kecukupan dan rizki dari arah-arah yang ia tidak sangka-sangka.
Syarqowi mengutip dari Syaikhuna Syeh al-Hafani bahwa doa di atas disebutkan dalam hadis shohih yang diriwayatkan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.

[فائدة]

عن القطب عبد الوهاب الشعراني نفعنا اﷲ به إن من واظب على قراءة هذين البيتين في كل يوم جمعة توفاه اﷲ تعالى على الإسلام من غير شك وهما

[SATU FAEDAH]

Diriwayatkan dari seorang wali qutub, Abdul Wahab Syakroni, semoga Allah memberi manfaat kepada kita dengan perantaranya, bahwa barang siapa senantiasa membaca dua bait berikut di setiap hari Jumat maka Allah pasti mencabut nyawanya dengan menetapi keislaman. Dua bait tersebut adalah:

إ لَهي لَسْتُ لِلْفِرْدَ وْسِ أَ هْلاً # وَلا أَقْوَى عَلَى نَارِالْجَحِيْمِ
فَـهَبْ لي تَوْبةً وَّاغْفِرْ ذُ نـُوْبي # فإنَّكَ غَافِرُالذَّنْبِ الْعَظِيْمِ .

ونقل عن بعضهم أما يقرآن خمس مرات بعد صلاة الجمعة

Artinya :”Wahai Tuhanku.!!Aku bukanlah orang pantas memiliki Surga firdaus Dan Aku tidak kuat diatas api Neraka Maka terimalah Taubatku dan ampunilah dosa-dosa Maka sesungguhnya kamu Dzat yang maha Pengampun.

Dan dikutip dari sebagian ulama bahwa dua bait tersebut dibaca sebanyak 5 (lima) kali setelah sholat Jumat.

إعانة الطالبين .ص ٤١٢

(قوله: الفاتحة إلخ)

مفعول يقرأ. (قوله: سبعا سبعا) حال من القراءة المأخوذة من يقرأ، أو نائب عن المفعول المطلق.
أي يقرأ ذلك حال كون قراءة كل واحدة من السور المذكورة مكررة سبعا سبعا، أو يقرأ ذلك قراءة سبعا سبعا. (قوله: لما ورد أن من قرأها) أي الفاتحة وما بعدها. وورد أيضا أن من قرأها حفظ الله له دينه ودنياه وأهله وولده. وورد أيضا (1) عن عائشة – رضي الله عنها – قالت: قال رسول الله (ص): من قرأ بعد صلاة الجمعة * (قل هو الله أحد) * و * (قل أعوذ برب الفلق) * و * (قل أعوذ برب الناس) * سبع مرات أعاذه الله بها من السوء إلى الجمعة الأخرى. وقال ابن مسعود – رضي الله عنه -: من قال بعد قراءة ما تقدم: اللهم يا غني يا حميد، يا مبدئ يا معيد، يا رحيم يا ودود، أغنني بفضلك عمن سواك، وبحلالك عن حرامك. أغناه الله، ورزقه من حيث لا يحتسب. وقال أنس – رضي الله عنه -: من قال يوم الجمعة سبعين مرة: اللهم أغنني بفضلك عمن سواك، وبحلالك عن حرامك. لم يمر عليه جمعتان حتى يغنيه الله تعالى.
(فوائد) الأولى: عن ابن عباس – رضي الله عنهما – عن النبي (ص) أنه قال: من قال بعدما تقضى الجمعة سبحان الله العظيم وبحمده. مائة مرة، غفر الله له مائة ألف ذنب، ولوالديه أربعة وعشرين ألف ذنب.
الثانية: عن سيدي عبد الوهاب الشعراني – نفعنا الله به – أن من واظب على قراءة هذين البيتين في كل يوم جمعة، توفاه الله على الاسلام من غير شك، وهما:
إلهي لست للفردوس أهلا * ولا أقوى على نار الجحيم فهب لي توبة، واغفر ذنوبي * فإنك غافر الذنب العظيم ونقل عن بعضهم أنها تقرأ خمس مرات بعد الجمعة.
. الثالثة: عن عراك بن مالك، أنه كان إذا صلى الجمعة انصرف فوقف على باب المسجد، وقال: اللهم أجبت دعوتك، وصليت فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فارزقني من فضلك وأنت خير الرازقين، وقد قلت وقولك الحق * (يا أيها الذين آمنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع، ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون.
فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله، واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون) *.

Kategori
Uncategorized

USAHA PETERNAK AYAM PETELUR KORELASINYA DENGAN ZAKAT

USAHA PETERNAK AYAM PETELUR KORELASINYA DENGAN ZAKAT.

Dalam upanya meningkatkan pendapatan usaha dalam rumah tangga. Mahfudh yang sehari-harinya bekerja sebagai guru Madrasah Diniyah dia mencoba mencari keberuntungan untuk menambah usaha baru yang menurutnya akan membawa pengaruh positif yang menguntungkan karena didairahnya sama sekali belum ada orang yang mencoba usaha ternak ayam petelur sehingga Hafidh memutuskan akan berternak ayam pedagang dan petelur. Dia ( Hafidh) melakukan pembelian ayam tidak tanggung-tanggung melainkan dengan jumlah banyak dan besar . Ternyata dalam realita apa yang dia usahakan tidaklah sia-sia . Berternak ayam yang merupakan usaha barunya yang dia rintis tersebut mendapatkan hasil yang cukup memuaskan, karena belum sampai satu tahun dalam mengelola peternakan Hafidh sudah mampu mendapatkan laba bersih sebesar 50 ini awal tahun perintisan namun setelah tahun ke3/4 karena laris ada saingannya sehingga rugi namun modal tetap diatas minimal satu nisab misalkan mudalnya 100 juta ketika dikelola mendapatkan kerugian yang mana jika ditaksir dengan uang menjadi 90 juta

Pertanyaannya.

  1. Apakah ternak ayam dalam jumlah yang besar sebagaimana deskripsi wajib zakat?
  2. Andaikan wajib zakat usaha peternak ayam, lalu bagaimana caranya untuk menghitung pengeluaran zakatnya.Kemudian timbul pertanyaan baru lagi yaitu:
  3. Jika awal modal melebihi batas minimal nisob kewajiban zakat tijaroh, lalu bagaimana jika rugi namun modal masih satu nisob( diatas batas minim) kewajiban zakat?

Waalaikum salam.
Jawaban.No.1
Pada dasarnya ayam yang diternakkan tidak termasuk pada kategori hewan yang wajib zakat dalam arti bukan zakat ain, akan tetapi jika pada awal membuka usaha peternak ayam diniatkan untuk ” Tijarah ” perdagangan maka Hafidh wajib mengeluarkan zakat atas nama zakat tijarah.

Jawaban No.2
Adapun cara untuk menghitung zakatnya adalah sebagai berikut:
1️⃣ Semua dagangan ( ayam yang diperdagangkan) ditaksir nilainya dengan harga tertinggi ( nilai uang) pada akhir tahun.
2️⃣Mahfudh harus mengetahui harganya emas sebesar 85 Gr ( batas minimal nisab zakat dagangan) karena zakat dagangan dikiyaskan dengan nisabnya emas, yang wajib dikeluarkan 2,5%
3️⃣ Hafidh harus membandingkan antara nilai hasil dari kalkulasi uang dari penjualan ayam dengan nilai harga satu nisab emas.
4️⃣ Jika pengkalkulasian uang dari penjual ayam ternak telah setara atau bahkan lebih besar dari nilai harga emas satu nisab maka wajib zakat, akan tetapi sebaliknya jika pengkalkulasian uang dari hasil penjualan ayam tersebut dibawah nilai harga emas maka hafidh tidak wajib mengeluarkan zakat.

Jawaban No 3
Jika modal awal yang diniati ” tijaroh ” melebihi nisab dagangan dengan jumlah 100 juta namun kemudian pada akhir tahun mengalami kerugian misalkan ayamnya terkena penyakit andaikan ditaksir jumlah uangnya barang dagangannya ( ayamnya) menjadi 90 juta,, dan masih mencukupi minimalnya nisab ,maka dalam hal ini tetap wajib dikeluarkan zakatnya.Alasannya ialah karena menurut syafiiyyah,barang dagangan yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah:
(1)Barang dagangan itu dimiliki dengan cara diperjual belikan
(2)Orang itu harus meniatkan barang dagangannya untuk tijaroh(diperjual belikan).
(3)Hendaklah orang itu tidak meniatkan terhadap barangnya untuk disimpan untuk dirinya.
(4)Harus sampai satu tahun mulai dari membeli barang dagangan itu.
(5)Hendaklah orang itu tidak menjadikan semua barang dagangannya,menjadi uang.
(6)Hendaklah harganya barang dagangannya itu mencapai nishob pada akhir tahun dan seterusnya……………

Referensi:

حواشى المدينة (ج١ص٩٥)
وقد قررنا أن مالازكاة فى عينه يجب في زكاة التجارة من الجذوع والتبن والأرض إذ ليس فى هذه المذكرات زكاة عين ومالا ومالازكاة فى عينه يجب فيه زكاة التجارة.

تحفة المحتاج فى شرح النهاج حواشى شروانى .ج٣ ص ٢٩٥

ـ قَوْلُ الْمَتْنِ (إذَا اقْتَرَنَتْ نِيَّتُهَا إلَخْ) أَيْ نِيَّةُ التِّجَارَةِ بِهَذَا الْعَرْضِ بِكَسْبِ ذَلِكَ الْعَرْضِ وَتَمَلُّكِهِ بِمُعَاوَضَةٍ وَتَقَدَّمَ أَيْضًا أَنَّ التِّجَارَةَ تَقْلِيبُ الْمَالِ بِالتَّصَرُّفِ فِيهِ بِنَحْوِ الْبَيْعِ لِطَلَبِ النَّمَاءِ فَتَبَيَّنَ بِذَلِكَ أَنَّ الْبَزْرَ الْمُشْتَرَى بِنِيَّةِ أَنْ يُزْرَعَ ثُمَّ يُتَّجَرَ بِمَا يَنْبُتُ وَيَحْصُلُ مِنْهُ كَبَزْرِ الْبَقَّمِ لَا يَكُونُ عَرْضَ تِجَارَةٍ لَا هُوَ وَلَا مَا نَبَتَ مِنْهُ أَمَّا الْأَوَّلُ فَلِأَنَّ شِرَاءَهُ لَمْ يَقْتَرِنْ بِنِيَّةِ التِّجَارَةِ بِهِ نَفْسِهِ بَلْ بِمَا يَنْبُتُ مِنْهُ.
وَأَمَّا الثَّانِي فَلِأَنَّهُ لَمْ يُمْلَكْ بِمُعَاوَضَةٍ بَلْ بِزِرَاعَةِ بَزْرِ الْقِنْيَةِ وَلَا يُقَاسُ الْبَذْرُ الْمَذْكُورُ عَلَى نَحْوِ صِبْغٍ اُشْتُرِيَ لِيُصْبَغَ بِهِ لِلنَّاسِ بِعِوَضٍ؛ لِأَنَّ التِّجَارَةَ هُنَاكَ بِعَيْنِ الصِّبْغِ الْمُشْرَى لَا بِمَا يَنْشَأُ مِنْهُ بِخِلَافِ الْبَذْرِ الْمَذْكُورِ فَإِنَّهُ بِعَكْسِ ذَلِكَ وَلَا عَلَى نَحْوِ سِمْسِمٍ اُشْتُرِيَ لِيُعْصَرَ وَيُتَّجَرَ بِدُهْنِهِ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ الدُّهْنَ مَوْجُودٌ فِيهِ بِالْفِعْلِ حِسًّا وَجُزْءٌ مِنْهُ حَقِيقَةً لَا نَاشِئٌ مِنْهُ فَالتِّجَارَةُ هُنَاكَ بِعَيْنِ الْمُشْرَى أَيْضًا وَلَا عَلَى نَحْوِ عَصِيرِ عِنَبٍ اُشْتُرِيَ لِيُتَّخَذَ خَلًّا وَيُتَّجَرَ بِهِ؛ لِأَنَّ الْعَصِيرَ لَا يَخْرُجُ بِصَيْرُورَتِهِ خَلًّا عَنْ حَقِيقَةٍ إلَى أُخْرَى بَلْ هُوَ بَاقٍ عَلَى حَقِيقَتِهِ الْأَصْلِيَّةِ وَإِنَّمَا الْمُتَغَيِّرُ صِفَتُهُ فَقَطْ فَالتِّجَارَةُ هُنَاكَ أَيْضًا بِعَيْنِ الْمُشْترَى لَا بِمَا هُوَ نَاشِئٌ مِنْهُ بِخِلَافِ الْبَذْرِ الْمَذْكُورِ فَإِنَّهُ بِعَكْسِ ذَلِكَ وَمَا يُتَوَهَّمُ مِنْ أَنَّ تَعْلِيلَهُمْ عَدَمَ صَيْرُورَةِ مِلْحٍ اُشْتُرِيَ لِيُعْجَنَ بِهِ لِلنَّاسِ بِعِوَضِ مَالِ تِجَارَةٍ بِاسْتِهْلَاكِ ذَلِكَ الْمِلْحِ وَعَدَمِ وُقُوعِهِ مُسْلَمًا لَهُمْ يُفِيدُ أَنَّ الْبَذْرَ الْمَذْكُورَ يَصِيرُ مَالَ تِجَارَةٍ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يُسْتَهْلَكْ بِالزِّرَاعَةِ بَلْ انْبَثَّتْ أَجْزَاؤُهُ فِي نَبَاتِهِ كَسَرَيَانِ أَجْزَاءِ الدِّبَاغِ فِي الْجِلْدِ فَقَدْ تَقَدَّمَ مَا يَرُدُّهُ مِنْ الْفَرْقِ بَيْنَهُمَا وَلَوْ سُلِّمَ فَتَعْلِيلُهُمْ الْمَذْكُورُ مِنْ الِاسْتِدْلَالِ بِانْتِفَاءِ الشَّرْطِ عَلَى انْتِفَاءِ مَشْرُوطِهِ وَمَعْلُومٌ أَنَّ وُجُودَ الشَّرْطِ لَا يَسْتَلْزِمُ وُجُودَ الْمَشْرُوطِ ثُمَّ مَا ذُكِرَ كُلُّهُ فِيمَا إذَا كَانَتْ الْأَرْضُ الَّتِي زُرِعَ فِيهَا الْبَذْرُ الْمَذْكُورُ عَرْضَ تِجَارَةٍ وَإِلَّا فَسَيَأْتِي عَنْ الْعُبَابِ وَغَيْرِهِ مَا يُفِيدُ أَنَّ النَّابِتَ فِي أَرْضِ الْقِنْيَةِ لَا يَكُونُ مَالَ تِجَارَةٍ مُطْلَقًا.
نَعَمْ لَوْ كَانَ مِنْ الْبَذْرِ وَالْأَرْضِ الَّتِي زَرَعَ هُوَ فِيهَا عَرْضَ تِجَارَةٍ كَأَنْ اُشْتُرِيَ كُلٌّ مِنْهُمَا بِمَتَاعِ التِّجَارَةِ أَوْ بِنِيَّةِ التِّجَارَةِ فِي عَيْنِهِ كَانَ النَّابِتُ مِنْهُ مَالَ تِجَارَةٍ تَجِبُ فِيهِ الزَّكَاةُ بِشَرْطِهَا كَمَا يَأْتِي عَنْ الْعُبَابِ وَغَيْرِهِ لَكِنْ لِعَامِ إخْرَاجِ الْبَقَّمِ مِنْ تَحْتِ الْأَرْضِ كَالسَّنَةِ الرَّابِعَةِ مِنْ الزَّرْعِ لَا لِلْأَعْوَامِ الْمَاضِيَةِ إلَّا لِمَا عَلِمَ بُلُوغَهُ فِيهِ نِصَابًا بِأَنْ شَاهَدَهُ لِانْكِشَافِهِ بِنَحْوِ سَيْلٍ وَلَا يَكْفِي الظَّنُّ وَالتَّخْمِينُ أَخْذًا مِمَّا تَقَدَّمَ عَنْ سم وَالْبَصْرِيِّ فِي زَكَاةِ الْمَعْدِنِ وَأَمَّا إذَا كَانَ أَحَدُهُمَا لِلْقِنْيَةِ فَلَا يَكُونُ النَّابِتُ حِينَئِذٍ مَالَ تِجَارَةٍ لِقَوْلِ الْعُبَابِ مَعَ شَرْحِهِ وَالرَّوْضِ وَالْبَهْجَةِ مَعَ شُرُوحِهِمَا وَاللَّفْظُ لِلْأَوَّلِ وَإِنْ كَانَ الْمَمْلُوكُ بِمُعَاوَضَةٍ لِلتِّجَارَةِ نَخْلًا مُثْمِرَةً أَوْ غَيْرَ مُثْمِرَةٍ فَأَثْمَرَتْ أَوْ أَرْضًا مَزْرُوعَةً أَوْ غَيْرَ مَزْرُوعَةٍ فَزَرَعَهَا بِبَذْرِ التِّجَارَةِ وَبَلَغَ الْحَاصِلُ نِصَابًا وَجَبَتْ زَكَاةُ الْعَيْنِ لِقُوتِهَا فَفِي التَّمْرِ أَوْ الْحَبِّ الْعُشْرُ أَوْ نِصْفُهُ ثُمَّ بَعْدَ وُجُوبِ ذَلِكَ فِيهِمَا هُمَا مَالُ تِجَارَةٍ فَلَا تَسْقُطُ عَنْهُمَا زَكَاةٌ اهـ فَتَقْيِيدُهُمْ بِكَوْنِ كُلٍّ مِنْ الْبَذْرِ وَالْأَرْضِ لِلتِّجَارَةِ يُفِيدُ أَنَّهُ مَتَى كَانَ أَحَدُهُمَا لِلْقِنْيَةِ لَا يَكُونُ الْحَاصِلُ مَالَ
ــ
[حاشية ابن قاسم العبادي]
قَوْلُهُ وَالظَّاهِرُ أَنَّ مُرَادَهُ بِأَصَرَّ صَمَّمَ) قَدْ يُقَالُ لَا حَاجَةَ لِذَلِكَ بَلْ وَلَا لِزِيَادَةِ قَيْدِ الْإِصْرَارِ بَلْ الْعَزْمُ بِمَعْنَاهُ الْمُرَادِ لَهُمْ مَحَلُّ الْخِلَافِ وَمُوجِبٌ لِلْإِثْمِ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ قَالَ الْكَمَالُ الْمَقْدِسِيَّ فِي حَاشِيَةِ جَمْعِ الْجَوَامِعِ وَشَيْخُهُ شَيْخُ الْإِسْلَامِ.
وَالْخَامِسَةُ أَنَّ مِنْ مَرَاتِبِ مَا يَجْرِي فِي النَّفْسِ الْعَزْمُ أَيْ الْجَزْمُ بِقَصْدِ الْفِعْلِ وَهُوَ مُؤَاخَذٌ بِهِ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ اهـ

حشية قلي قليوبى وعميرة ج٢ص٣٤
. وَإِنْ اعْتَبَرْنَا النِّصَابَ فِي جَمِيعِ الْحَوْلِ أَوْ فِي طَرَفَيْهِ فَابْتِدَاءُ حَوْلِ الْجَمِيعِ مِنْ حِينِ بَاعَ وَنَضَّ فَإِذَا تَمَّ زَكَّى الْمِائَتَيْنِ (وَالْأَصَحُّ أَنَّ وَلَدَ الْعَرْضِ) مِنْ الْحَيَوَانِ غَيْرِ السَّائِمَةِ كَالْخَيْلِ وَالْجَوَارِي وَالْمَعْلُوفَةِ (وَثَمَرَهُ) مِنْ الْأَشْجَارِ (مَالُ تِجَارَةٍ) وَالثَّانِي يَقُولُ لَمْ يُحَصَّلَا بِالتِّجَارَةِ (وَ) الْأَصَحُّ عَلَى الْأَوَّلِ (أَنَّ حَوْلَهُ حَوْلُ الْأَصْلِ) وَالثَّانِي لَا بَلْ يُفْرَدُ بِحَوْلٍ مِنْ انْفِصَالِ الْوَلَدِ وَظُهُورِ الثَّمَرِ. وَإِذَا قُلْنَا: الْوَلَدُ لَيْسَ مَالَ تِجَارَةٍ وَنَقَصَتْ الْأُمُّ بِالْوِلَادَةِ جُبِرَ نَقْصُهَا مِنْ قِيمَتِهِ فَفِيمَا إذَا كَانَتْ قِيمَتُهَا أَلْفًا وَصَارَتْ بِالْوِلَادَةِ تِسْعَمِائَةٍ وَقِيمَةُ الْوَلَدِ مِائَتَيْنِ يُزَكِّي الْأَلْفَ وَسَيَأْتِي الْكَلَامُ فِي الْعَرْضِ السَّائِمَةِ

(وَوَاجِبُهَا) أَيْ التِّجَارَةِ (رُبْعُ عُشْرِ الْقِيمَةِ) وَهَذِهِ الْعِبَارَةُ أَخْصَرُ وَأَوْضَحُ مِنْ قَوْلِ الْمُحَرَّرِ. وَالْمُخْرِجُ لِلزَّكَاةِ مِنْ مَالِ التِّجَارَةِ الْقِيمَةَ أَيْ النَّقْدَ الَّذِي تُقَوَّمُ بِهِ وَتَقَدَّمَ أَنَّ وَاجِبَ النَّقْدِ رُبْعُ الْعُشْرِ، وَعِبَارَةُ الْوَجِيزِ: وَأَمَّا الْمُخْرَجُ فَهُوَ رُبْعُ عُشْرِ الْقِيمَةِ (فَإِنْ مَلَكَ) الْعَرْضَ (بِنَقْدٍ قُوِّمَ بِهِ إنْ مَلَكَ نِصَابَ) دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ وَإِنْ كَانَ غَيْرَ نَقْدِ الْبَلَدِ الْغَالِبِ (وَكَذَا دُونَهُ) أَيْ دُونَ النِّصَابِ (فِي الْأَصَحِّ) وَالثَّانِي يُقَوَّمُ بِغَالِبِ نَقْدِ الْبَلَدِ إنْ لَمْ يَكُنْ مَالِكًا لِبَقِيَّةِ النِّصَابِ مِنْ ذَلِكَ النَّقْدِ فَإِنْ كَانَ قُوِّمَ بِهِ لِبِنَاءِ حَوْلِ التِّجَارَةِ عَلَى حَوْلِهِ كَمَا فِي الْأَوَّلِ كَأَنْ اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَهُوَ يَمْلِكُ مِائَةً أُخْرَى (أَوْ) مَلَكَ (بِعَرْضٍ) لِلْقِنْيَةِ (فَبِغَالِبِ نَقْدِ الْبَلَدِ) مِنْ الدَّرَاهِمِ أَوْ الدَّنَانِيرِ يُقَوَّمُ. وَكَذَا لَوْ مَلَكَ بِنِكَاحٍ أَوْ خُلْعٍ (فَإِنْ غَلَبَ نَقْدَانِ) عَلَى التَّسَاوِي (وَبَلَغَ بِأَحَدِهِمَا) دُونَ الْآخَرِ (نِصَابًا قُوِّمَ بِهِ فَإِنْ بَلَغَ) نِصَابًا (بِهِمَا قُوِّمَ بِالْأَنْفَعِ لِلْفُقَرَاءِ وَقِيلَ يَتَخَيَّرُ الْمَالِكُ) فَيُقَوَّمُ بِمَا شَاءَ مِنْهُمَا.
ــ
[حاشية قليوبي]
صَارَ الْكُلُّ نَاضًّا) فَلَوْ نَضَّ بَعْضُهُ فَلِكُلٍّ حُكْمُهُ. قَوْلُهُ: (إنْ ضَمَمْنَا) أَيْ عَلَى الْمَرْجُوحِ. قَوْلُهُ: (وَإِلَّا) بِأَنْ لَمْ نَضُمَّ عَلَى الرَّاجِحِ زَكَّى مِائَةَ الرِّبْحِ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ، وَزَكَّى مِائَةَ الْأَصْلِ قَبْلَهَا عِنْدَ تَمَامِ حَوْلِ التِّجَارَةِ لِأَنَّ النَّضُوضَ لَا يَقْطَعُهُ لِكَوْنِهِ نِصَابًا كَمَا فِي شَرْحِ الرَّوْضِ وَغَيْرِهِ، وَلَوْ تَمَّ الْحَوْلُ وَقِيمَتُهُ دُونَ نِصَابٍ اُبْتُدِئَ حَوْلٌ مِنْ آخِرِهِ نَعَمْ إنْ كَانَ فِي مِلْكِهِ مِنْ أَوَّلِ الْحَوْلِ مَا يَتِمَّ بِهِ النِّصَابُ زَكَّاهُمَا آخِرَهُ. قَوْلُهُ: (أَنَّ وَلَدَ الْعَرْضِ مِنْ الْحَيَوَانِ مَالُ تِجَارَةٍ) سَوَاءٌ كَانَ مِنْ نَعَمٍ أَوْ خَيْلٍ أَوْ إمَاءٍ أَوْ غَيْرِهَا، وَيَظْهَرُ أَنَّ مِثْلَهُ فَرْخُ بَيْضٍ لِلتِّجَارَةِ، وَيُلْحَقُ بِوَلَدِهِ صُوفُهُ وَرِيشُهُ وَوَبَرُهُ وَشَعْرُهُ وَلَبَنُهُ وَسَمْنُهُ وَنَحْوُهَا، فَكُلُّهَا مَالُ تِجَارَةٍ. وَقَوْلُهُ: (وَثَمَرَهُ) أَيْ عَرْضَ التِّجَارَةِ مِنْ نَخْلٍ وَعِنَبٍ وَغَيْرِهِمَا مَالُ تِجَارَةٍ وَكَذَا تِبْنُهُ وَأَغْصَانُهُ وَأَوْرَاقُهُ وَيَظْهَرُ أَنَّ مِثْلَهُ نَبَاتُ بَذْرِهِ وَسَنَابِلُهُ.
تَنْبِيهٌ: يَظْهَرُ أَنَّهُ لَا يُمْنَعُ الْمَالِكُ مِنْ اسْتِعْمَالِ عُرُوضِ التِّجَارَةِ كَرُكُوبِ حَيَوَانِهَا وَسُكْنَى عَقَارِهَا وَلَا مِنْ الْأَكْلِ مِنْ حَيَوَانِهَا أَوْ ثِمَارِهَا أَوْ لَبَنِهَا وَلَا مِنْ اللُّبْسِ مِنْ نَحْوِ صُوفِهَا وَلَا مِنْ وَطْءِ إمَائِهَا، وَلَا مِنْ هِبَةِ شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ، وَلَا مِنْ التَّصَدُّقِ بِهِ عَلَى مَا يَأْتِي، وَلَا مِنْ إعَارَتِهِ، وَلَا إجَارَتِهِ، وَإِنَّ كُلَّ مَا خَرَجَ عَنْ مِلْكِهِ بِنَحْوِ الصَّدَقَةِ أَوْ اُسْتُهْلِكَ بِنَحْوِ الْأَكْلِ بَطَلَتْ فِيهِ التِّجَارَةُ وَلَا يَلْزَمُهُ بَدَلُهُ لَهَا لِأَنَّ ذَلِكَ كَنِيَّةِ الْقِنْيَةِ أَوْ أَقْوَى، وَأَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ أُجْرَةٌ فِي الِاسْتِعْمَالِ وَأَنَّ أُجْرَةَ مَا أَجَّرَهُ تَكُونُ لَهُ لَا مَالُ تِجَارَةٍ وَإِنْ كَسَبَ رَقِيقَ التِّجَارَةِ وَمَهْرَ إمَائِهَا لَيْسَ مَالَ تِجَارَةٍ أَيْضًا لِذَلِكَ، وَأَنَّهُ لَوْ وَلَدَتْ مِنْهُ الْأَمَةُ خَرَجَتْ كَوَلَدِهَا عَنْ مَالِ التِّجَارَةِ بِالْأَوْلَى مِمَّا مَرَّ لِامْتِنَاعِ بَيْعِهَا، وَإِنَّ مَا تَلِفَ مِنْ أَمْوَالِهَا بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ أَوْ بِغَيْرِهِ خَرَجَ عَنْ مَالِ التِّجَارَةِ أَيْضًا إلَّا إنْ أَتْلَفَهُ أَجْنَبِيٌّ ضَامِنٌ فَبَدَّلَهُ مَالُ التِّجَارَةِ كَمَا مَرَّ. هَذَا مَا ظَهَرَ فَلْيُرَاجَعْ مِنْ مَحَلِّهِ وَيَعْمَلُ بِمَا وَافَقَ مِنْهُ الْمَنْقُولَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

حاشية إعانة الطالبين ج٢ص٣٨
(واعلم) أن لزكاة التجارة شروطا ستة – زيادة على ما مر في زكاة النقدين -.
أحدهما: أن يكون ملك ذلك المال بمعاوضة ولو غير محضة، وذلك لأن المعاوضة قسمان: محضة، وهي ما تفسد بفساد مقابلها، كالبيع والشراء.
وغير محضة، وهي ما لا تفسد بفساد مقابلها كالنكاح.
ثانيها: أن تقترن نية التجارة بحال المعاوضة في صلب العقد أو في مجلسه، وذلك لأن المملوك بالمعاوضة قد يقصد به التجارة، وقد يقصد به غيرها، فلا بد من نية مميزة، إن لم يجددها في كل تصرف بعد الشراء بجميع رأس المال.
ثالثها: أن لا يقصد بالمال القنية، وهي الإمساك للانتفاع.
رابعها: مضي حول من الملك.
خامسها: أن لا ينض جميعه، أي مال التجارة من الجنس، ناقصا عن النصاب في أثناء الحول، فإن نض كذلك ثم اشترى به سلعة للتجارة، فابتداء الحول يكون من الشراء.
سادسها: أن تبلغ قيمته آخر الحول نصابا، وكذا إن بلغته دون نصاب ومعه ما يكمل به، كما لو كان معه مائة درهم فابتاع بخمسين منها وبلغ مال التجارة آخر الحول مائة وخمسين – فيضم لما عنده، وتجب زكاة الجميع.
اه.
ملخصا من البجيرمي.
(وقوله: قيمة العرض) – بفتح العين، وسكون الراء – اسم لكل ما قابل النقدين من صنوف الأموال.
ويطلق أيضا على ما قابل الطول.
وبضم العين ما قابل النصل في السهام.
وبكسرها: محل الذم والمدح من الإنسان.
وبفتح العين والراء معا.
ما قابل الجوهر.
واحترز بقوله قيمة: عن نفس العرض، فلا يجوز إخراج زكاته منه.
(واعلم) أن مال التجارة يقوم آخر الحول بما ملك به إن ملك بنقد ولو في ذمته، فإن ملك بغير نقد – كعرض،
ونكاح، وخلع – فبغالب نقد البلد.
(وقوله: في مال تجارة) متعلق بيجب. ولا يخفى ما في عبارته من الركاكة. إذ العرض الذي يجب ربع عشر قيمته هو مال التجارة.
ولو حذف لفظ العرض ولفظة: في – لكان أولى وأخصر.
والتجارة: هي تقليب المال المملوك بالمعاوضة بالنية – كشراء – سواء كان بعرض أم نقد أم دين – حال، أم مؤجل -.وخرج بذلك ما ملك بغير معاوضة كإرث، فإذا ترك لورثته عروض تجارة لم تجب عليهم زكاتها، وكهبة بلا ثواب.

حاشية قليوبى ج ٢ص ٣٦-٣٧
(وَإِذَا مَلَكَهُ) أَيْ عَرْضَ التِّجَارَةِ (بِنَقْدِ نِصَابٍ) كَأَنْ اشْتَرَاهُ بِعِشْرِينَ دِينَارًا أَوْ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ أَيْ بِعَيْنِ ذَلِكَ (فَحَوْلُهُ مِنْ حِينِ مَلَكَ) ذَلِكَ (النَّقْدَ) بِخِلَافِ مَا إذَا اشْتَرَاهُ بِنِصَابٍ فِي الذِّمَّةِ ثُمَّ نَقَدَهُ يَنْقَطِعُ حَوْلُ النَّقْدِ وَيُبْتَدَأُ حَوْلُ التِّجَارَةِ مِنْ حِينِ الشِّرَاءِ. وَفَرَّقَ بَيْنَ الْمَسْأَلَتَيْنِ بِأَنَّ النَّقْدَ لَمْ يَتَعَيَّنْ صَرْفُهُ لِلشِّرَاءِ فِي الثَّانِيَةِ بِخِلَافِ الْأُولَى (أَوْ دُونَهُ) أَيْ النِّصَابِ (أَوْ بِعَرْضِ قِنْيَةٍ) كَالْعَبِيدِ وَالْمَاشِيَةِ (فَمِنْ الشِّرَاءِ) حَوْلُهُ (وَقِيلَ إنْ مَلَكَهُ بِنِصَابِ سَائِمَةٍ بُنِيَ عَلَى حَوْلِهَا) كَمَا لَوْ مَلَكَهُ بِنِصَابِ نَقْدٍ، وَفَرَّقَ الْأَوَّلَ بِأَنَّ الْوَاجِبَ فِي الْمَقِيسِ مُخْتَلَفٌ عَلَى خِلَافِهِ فِي الْمَقِيسِ عَلَيْهِ (وَيُضَمُّ الرِّبْحُ إلَى الْأَصْلِ فِي الْحَوْلِ إنْ لَمْ يَنِضَّ) فَلَوْ اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ فَصَارَتْ قِيمَتُهُ فِي الْحَوْلِ وَلَوْ قَبْلَ آخِرِهِ بِلَحْظَةٍ ثَلَاثَمِائَةٍ زَكَّاهَا آخِرَهُ (لَا إنْ نَضَّ) أَيْ صَارَ الْكُلُّ نَاضًّا دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ مِنْ جِنْسِ رَأْسِ الْمَالِ الَّذِي هُوَ نِصَابٌ وَأَمْسَكَهُ إلَى آخِرِ الْحَوْلِ أَوْ اشْتَرَى بِهِ عَرْضًا قَبْلَ تَمَامِهِ فَيُفْرِدُ الرِّبْحَ بِحَوْلِهِ (فِي الْأَظْهَرِ) قَالَ فِي الْمُحَرَّرِ: فَإِذَا اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ وَبَاعَهُ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بِثَلَاثِمِائَةٍ وَأَمْسَكَهَا إلَى تَمَامِ الْحَوْلِ أَوْ اشْتَرَى بِهَا عَرْضًا وَهُوَ يُسَاوِي ثَلَاثَمِائَةٍ فِي آخِرِ الْحَوْلِ فَيُخْرِجُ الزَّكَاةَ عَنْ مِائَتَيْنِ، فَإِذَا مَضَتْ سِتَّةُ أَشْهُرٍ أَخْرَجَ عَنْ الْمِائَةِ. وَالثَّانِي يُزَكِّي الرِّبْحَ بِحَوْلِ الْأَصْلِ، وَلَوْ كَانَ النَّاضُّ الْمَبِيعُ بِهِ مِنْ غَيْرِ جِنْسِ رَأْسِ الْمَالِ فَهُوَ كَبَيْعِ عَرْضٍ بِعَرْضٍ فَيُضَمُّ الرِّبْحُ إلَى الْأَصْلِ. وَقِيلَ: عَلَى الْخِلَافِ فِيمَا هُوَ مِنْ الْجِنْسِ، وَلَوْ كَانَ رَأْسُ الْمَالِ دُونَ نِصَابٍ كَأَنْ اشْتَرَى عَرْضًا بِمِائَةِ دِرْهَمٍ وَبَاعَهُ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ بِمِائَتَيْ دِرْهَمٍ وَأَمْسَكَهُمَا
ــ
[حاشية قليوبي]
فِي كَلَامِ السُّبْكِيّ لَا يَدُلُّ لَهُ كَمَا يُعْلَمُ بِمُرَاجَعَتِهِ.

قَوْلُهُ: (أَيْ بِعَيْنِ ذَلِكَ) فِي الْعَقْدِ لَا الْمَجْلِسِ وَفِيهِ مَا مَرَّ عَنْ شَيْخِنَا. قَوْلُهُ: (عَلَى خِلَافِهِ فِي الْمَقِيسِ عَلَيْهِ) أَيْ لِأَنَّ وَاجِبَ السَّائِمَةِ فِي عَيْنِهَا وَوَاجِبَ مَا اشْتَرَاهَا بِهِ فِي قِيمَتِهِ، وَهِيَ مِنْ النَّقْدِ وَوَاجِبَ الْمَقِيسِ عَلَيْهِ مِنْ النَّقْدِ فِيهِمَا. قَوْلُهُ: (زَكَّاهَا) أَيْ قِيمَتَهُ وَهِيَ الثَّلَاثُمِائَةِ، وَإِنْ بَاعَهُ بِدُونِهَا فَإِنْ بَاعَهُ بِأَكْثَرَ زَكَّى الْجَمِيعَ. قَوْلُهُ: (لَا إنْ نَضَّ) وَلَوْ بِقِيمَتِهِ فِي إتْلَافِ أَجْنَبِيٍّ قَالَ الْإِسْنَوِيُّ وَلَوْ تَأَخَّرَ دَفْعُ الْقِيمَةِ أَوْ بَاعَهُ بِزِيَادَةٍ إلَى أَجَلٍ فَالْقِيَاسُ عَدَمُ الضَّمِّ أَيْضًا. قَوْلُهُ:
ــ
[حاشية عميرة]
قَوْلُ الْمَتْنِ: (بِنَقْدِ نِصَابٍ) لَوْ كَانَ النَّقْدُ دَيْنًا لِلْمُشْتَرِي فِي ذِمَّةِ الْبَائِعِ، فَالْحُكْمُ كَذَلِكَ قَالَهُ فِي الْكِفَايَةِ. قَوْلُهُ: (أَيْ بِعَيْنِ ذَلِكَ) قَالَ فِي شَرْحِ الْإِرْشَادِ أَوْ فِي الذِّمَّةِ، وَعُيِّنَ فِي الْمَجْلِسِ فِي قَدْرِ الْوَاجِبِ، وَجِنْسُهُ وَالْمُرَادُ الذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ، وَلَوْ غَيْرَ مَضْرُوبٍ وَعُلِّلَ أَيْضًا النَّمَاءُ، بِأَنَّ الزَّكَاةَ إنَّمَا وَجَبَتْ فِي النَّقْدِ، لِأَنَّهُ مَرْصَدٌ لِلنَّمَاءِ وَالنَّمَاءُ يَحْصُلُ بِالتِّجَارَةِ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يَكُونَ السَّبَبُ فِي الْوُجُوبِ سَبَبًا فِي الْإِسْقَاطِ. قَوْلُهُ: (بِخِلَافِ مَا إذَا اشْتَرَاهُ بِنِصَابٍ فِي الذِّمَّةِ ثُمَّ نَقَدَهُ) الْمُرَادُ نَقَدَهُ بَعْدَ الْمَجْلِسِ، وَمِثْلُ هَذَا فِيمَا يَظْهَرُ مَا لَوْ اشْتَرَاهُ بِمَالِ التِّجَارَةِ فِي ذِمَّتِهِ، ثُمَّ نَقَدَهُ لَهُ بَعْدَ الْمَجْلِسِ مِنْ مَالِ التِّجَارَةِ، فَإِنَّ الْحَوْلَ يُبْتَدَأُ مِنْ الشِّرَاءِ، وَلَا يَنْبَنِي عَلَى عُرُوضِ التِّجَارَةِ الَّتِي عِنْدَهُ، لِأَنَّهُ مَلَكَهُ بِمَا فِي الذِّمَّةِ، وَلَا حَوْلَ لَهُ وَمَا نَقَدَهُ فِيهِ لَمْ يَتَعَيَّنْ صَرْفُهُ لَهُ، وَلَوْ نَوَاهُ حِينَ الشِّرَاءِ، وَقَوْلُ الْمِنْهَاجِ أَوْ دُونَهُ لَوْ كَانَ هَذَا الدُّونُ مِنْ مَالِ التِّجَارَةِ الَّذِي لَمْ يَنْقَطِعْ حَوْلُهُ، فَلَا إشْكَالَ فِي بَقَاءِ الْحَوْلِ كَمَا أَشَارَ إلَيْهِ بِقَوْلِهِ أَوْ بِعَرْضِ قِنْيَةٍ.
فَائِدَةٌ: قَالَ السُّبْكِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ -: الثَّمَنُ الَّذِي مَلَكَ بِهِ الْعَرْضَ هُوَ الْمُعَيَّنُ فِي الْعَقْدِ، أَوْ الْمَجْلِسِ، أَمَّا الَّذِي نَقَدَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فَلَا، وَاَلَّذِي مَلَكَهُ بِهِ هُوَ مَا فِي الذِّمَّةِ، وَلَا حَوْلَ لَهُ انْتَهَى، وَمِنْهُ تُعْلَمُ صِحَّةُ مَا قُلْنَاهُ أَوَّلًا، وَقَوْلُهُ: عَيَّنَ فِي الْمَجْلِسِ ظَاهِرَهُ، وَإِنْ لَمْ يُقْبَضْ وَهُوَ ظَاهِرٌ. قَوْلُهُ: (بِأَنَّ النَّقْدَ لَمْ يَتَعَيَّنْ صَرْفُهُ) الْمُرَادُ النَّقْدُ الَّذِي دَفَعَهُ بَعْدَ الْمَجْلِسِ. قَوْلُهُ: (عَلَى خِلَافِهِ) مُتَعَلِّقٌ مُخْتَلِفٌ. قَوْلُ الْمَتْنِ: (وَيُضَمُّ الرِّبْحُ إلَخْ) أَيْ قِيَاسًا عَلَى النِّتَاجِ بِالْأَوْلَى لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْقَيِّمِ ارْتِفَاعًا وَانْخِفَاضًا. قَوْلُ الْمَتْنِ: (لَا إنْ نَضَّ) أَيْ لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا زَكَاةَ فِي مَالٍ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ» ، وَالْفَرْقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النِّتَاجِ أَنَّ النِّتَاجَ مِنْ عَيْنِ الْأُمَّهَاتِ وَالرِّبْحُ، إنَّمَا هُوَ مُكْتَسَبٌ بِحُسْنِ التَّصَرُّفِ، وَلِهَذَا يَرُدُّ الْغَاصِبُ النِّتَاجَ دُونَ الرِّبْحِ، وَلَوْ صَارَ نَاضًّا بِإِتْلَافِ الْأَجْنَبِيِّ، فَكَمَا لَوْ نَضَّ بِالتِّجَارَةِ. قَالَ الْإِسْنَوِيُّ: وَلَوْ تَأَخَّرَ دَفْعُ الْقِيمَةِ، أَوْ بَاعَهُ بِزِيَادَةٍ إلَى أَجَلٍ فَالْقِيَاسُ عَدَمُ الضَّمِّ أَيْضًا، وَلَوْ نَضَّ الرِّبْحُ بَعْدَ الْحَوْلِ، بِأَنْ كَانَ ظَاهِرًا قَبْلَ الْحَوْلِ ضُمَّ وَإِلَّا فَلَا. وَقَوْلُ الشَّارِحِ: أَيْ صَارَ الْكُلُّ نَاضًّا احْتَرَزَ بِهِ عَمَّا لَوْ نَضَّ الْبَعْضُ، وَلَوْ كَانَ نَاقِصًا وَمِنْ جِنْسِ مَا يُقَوَّمُ بِهِ، فَالْحَوْلُ وَالضَّمُّ بَاقٍ فِي الْجَمِيعِ، وَإِنْ قَلَّ الْعِوَضُ، بَلْ قَضِيَّةُ إطْلَاقِهِ أَنَّهُ لَوْ كَانَ رَأْسُ الْمَالِ نِصَابًا ثُمَّ نَضَّ، وَنَضَّ مَعَهُ رِبْحٌ لَا يُفْرَدُ
إلَى تَمَامِ حَوْلِ الشِّرَاءِ وَاعْتَبَرْنَا النِّصَابَ آخِرَ الْحَوْلِ فَقَطْ زَكَّاهُمَا إنْ ضَمَمْنَا الرِّبْحَ إلَى الْأَصْلِ وَإِلَّا زَكَّى مِائَةَ الرِّبْحِ بَعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ أُخْرَى. وَإِنْ اعْتَبَرْنَا النِّصَابَ فِي جَمِيعِ الْحَوْلِ أَوْ فِي طَرَفَيْهِ فَابْتِدَاءُ حَوْلِ الْجَمِيعِ مِنْ حِينِ بَاعَ وَنَضَّ فَإِذَا تَمَّ زَكَّى الْمِائَتَيْنِ (وَالْأَصَحُّ أَنَّ وَلَدَ الْعَرْضِ) مِنْ الْحَيَوَانِ غَيْرِ السَّائِمَةِ كَالْخَيْلِ وَالْجَوَارِي وَالْمَعْلُوفَةِ (وَثَمَرَهُ) مِنْ الْأَشْجَارِ (مَالُ تِجَارَةٍ) وَالثَّانِي يَقُولُ لَمْ يُحَصَّلَا بِالتِّجَارَةِ (وَ) الْأَصَحُّ عَلَى الْأَوَّلِ (أَنَّ حَوْلَهُ حَوْلُ الْأَصْلِ) وَالثَّانِي لَا بَلْ يُفْرَدُ بِحَوْلٍ مِنْ انْفِصَالِ الْوَلَدِ وَظُهُورِ الثَّمَرِ. وَإِذَا قُلْنَا: الْوَلَدُ لَيْسَ مَالَ تِجَارَةٍ وَنَقَصَتْ الْأُمُّ بِالْوِلَادَةِ جُبِرَ نَقْصُهَا مِنْ قِيمَتِهِ فَفِيمَا إذَا كَانَتْ قِيمَتُهَا أَلْفًا وَصَارَتْ بِالْوِلَادَةِ تِسْعَمِائَةٍ وَقِيمَةُ الْوَلَدِ مِائَتَيْنِ يُزَكِّي الْأَلْفَ وَسَيَأْتِي الْكَلَامُ فِي الْعَرْضِ السَّائِمَةِ

غاية التلخيص ص١١٣
(مسئلة) أفتى البلقني بجواز إخراج الفلوس الجدد المسماة بالمناقير فى زكاة النقد والتجارة وقال إنه الذي أعتقده وبه أعمل وإن كان مخالفا لمذهب الشافعى والفلوس أنفع للمستحقين وأسهل وليس فيها عش كما فى الفضة المغشوشة ويتضرر المستحق إذا وردت عليه ولايجد بدلا. إنتهى. ويسع المقلد تقليده لأنه من أهل التخريج والترجيح لاسيما إذا راجت الفلوس وكثر رغبة الناس فيها وقد سلف البلقني فى ذلك البخاري وهو معدود من الشافعية فإنه قال فى صحيحه باب العروض فى الزكاة وقال طاووس قال معاذ لأهل اليمن ائتوني بعِرض ثياب خميص أو لبيس فى الصدقة مكان الشعير والذرة أهون عليكم وخيّر لأصحاب النبي صَلَّى الله عليه وسلم بالمدينة .إنتهى . قال شارحه ابن حجر باب العِرض أى جواز أخذ العرض بسكون الراء ماعدا النقدين ووافق البخاري فى هذه المسئلة الحنفية مع كثرة مخالفته لهم لكن ساقه إلى ذلك الدليل .إنتهى .ولاشك أن الفلوس إذا راجت رواج النقدين فهى أولى بالجواز من العرض لأنها أقرب إلى النقود فهى مترقيةعن العرض بل قضية كلام الشيخين وصريح كلام المحلى أنها من النقد وحينئذ فسبيل من أراد إخراجها تقليد من قال بجوازه ويسعه ذلك فيما بينه وبين الله تعالى ويبرأ عن والواجب وقد أرشد العلماء إلى التقليد عند الحاجة.

فقه الإسلامى وأدلته ص ١٣١
ملاحظة:
إن التقدير الذي اعتمدته هنا على الأصح: هو أن الدينار (٢٥،٤غم) والدرهم (٩٧٥،٢ غم) ونصاب الفضة في الزكاة (٥٩٥غم) ونصاب الذهب (٨٥غم) .

فقه الإسلامى وأدلته ص ١٨٠٠

وأما المحتكر أو غير المدير: فهو الذي يشتري السلع، وينتظر بها الغلاء. فلا زكاة عليه فيها حتى يبيعها، فإن باعها بعد حول أو أحوال، زكى الثمن لسنة واحدة.
والخلاصة: إن الجمهور غير المالكية قالوا: المدير وغير المدير لهما حكم واحد، وأن من اشترى عرضاً للتجارة فحال عليه الحول، قومه وزكاه، فلا يجب على المدير شيء عند الجمهور؛ لأن الحول إنما يشترط في عين المال، لا في نوعه. وأما مالك فأوجب على المدير الزكاة، وإن لم يحل الحول على عين المال، ويكفي حولانه على نوع المال، لئلا تسقط الزكاة رأساً عن المدير، وهذا أخذ بمبدأ المصالح المرسلة التي لا يشترط فيها عند مالك استنادها إلى أصول منصوص عليها.

٢ً – حولان الحول: أن يحول على الأموال (أي القيمة) الحول من وقت ملك العروض، لا على السلعة نفسها. والمعتبر في ذلك عند الحنفية، والمالكية (في غير المدير): طرفا الحول لا وسطه، أما في الابتداء فلتحقق الغنى، وأما في الانتهاء فللوجوب، فمن ملك في أول الحول نصاباً، ثم نقص في أثنائه، ثم كمل في آخره، وجبت فيه الزكاة، أما لو نقص في أوله أو في آخره فلا تجب فيه الزكاة.
والمعتبر عند الشافعية: بلوغ النصاب آخر الحول من البدء بالمتاجرة؛ لأنه وقت الوجوب، لا بطرفيه معاً أي أوله وآخره، وبناء عليه إذا كان مع تاجر في أول الحول ما يكمل به النصاب كمئة درهم اشترى بخمسين منها عرضاً للتجارة، فبلغت قيمته في آخر الحول مئة وخمسين، فإنه تلزمه زكاة الجميع آخر الحول.
والمعتبر عند الحنابلة: بلوغ النصاب في جميع الحول، ولا يضر النقص اليسير في أثنائه كنصف يوم مثلاً، أي أنه لا زكاة قبل اكتمال النصاب في البدء والأثناء والانتهاء.

٣ً – نية التجارة حال الشراء: أن ينوي المالك بالعروض التجارة حالة شرائها، أما إذا كانت النية بعد الملك، فلا بد من اقتران عمل التجارة بنية، ويشترط أيضاً عند الحنفية أن يكون الشيء المتجر فيه صالحاً لنية التجارة، فلو اشترى أرضاً خراجية للتجارة، ففيها الخراج لا الزكاة، ولو اشترى أرضاً عشرىة وزرعها، وجب في الزرع الناتج العشر، دون الزكاة.
واشترط الشافعية أن ينوي بالعروض التجارة حال المعاوضة في صلب العقد أو في مجلسه، فإن لم ينو على هذا الوجه فلا زكاة فيها. ويشترط تجديد نية التجارة عند كل معاوضة حتى يفرغ رأس المال.

٤ً – ملك العروض بمعاوضة: اشترط الجمهور غير الحنفية أن تملك العروض بمعاوضة كشراء وإجارة ومهر، فإن ملكت بغير معاوضة كإرث أو خلع أو هبة أو وصية أو صدقة مثلاً، كأن ترك شخص لورثته عروض تجارة، فلا زكاة فيها حتى يتصرفوا فيها بنية التجارة. وزاد المالكية أن يكون ثمن العروض ممتلكاً بمعاوضة مالية أيضاً، لا بنحو هبة أو إرث، ومن كان يبيع العروض بالعرض ولا ينض (يتحول نقداً) له من ثمن ذلك نقد، فلا زكاة عليه عند المالكية إلا أن يفعل ذلك فراراً من الزكاة فلا تسقط، وعليه الزكاة عند المذاهب الأخرى.
٥ ً – ألا يقصد بالمال القِنْية (أي إمساكه للانتفاع به وعدم الاتجار به): هذا شرط ذكره الشافعية والحنابلة والمالكية، فإن قصد ذلك انقطع الحول، وإذا أراد التجارة بعدئذ، احتاج لتجديد نية التجارة.
٦ ً – ألا يصير جميع مال التجارة في أثناء الحول نقداً وهو أقل من النصاب: هذا شرط آخر عند الشافعية، فإن صار جميع المال نقداً مع كونه أقل من نصاب، انقطع الحول. ولم يشترط غير الشافعية هذا الشرط.
٧ً – ألا تتعلق الزكاة بعين العرض: هذا شرط عند المالكية، فإن تعلقت الزكاة بعينه كحلي الذهب أو الفضة، وكالماشية (الإبل والبقر والغنم) والحرث (الزرع والثمر) وجبت زكاته إن بلغ نصاباً مثل زكاة النقدين والأنعام والحرث، فإن لم تتعلق الزكاة بعين المال كالثياب والكتب وجبت زكاة التجارة.
والخلاصة: إن الحنابلة اشترطوا لوجوب الزكاة في عروض التجارة شرطين (١):
الأول ـ أن يملكها بفعله كالشراء، وهو الشرط الرابع لدينا.
الثاني ـ أن ينوي التجارة حال التملك، وهو الشرط الثالث السابق.
والحنفية اشترطوا أربعة شروط:
الأول ـ بلوغ النصاب.والثاني ـ حولان الحول.
والثالث ـ نية التجارة مصحوبة بعمل التجارة فعلاً؛ لأن مجرد النية لا يكفي.
والرابع ـ أن تكون الأموال صالحة لنية التجارة.
والمالكية اشترطوا خمسة شروط:
الأول ـ ألا تتعلق الزكاة في عينه كالثياب والكتب.
الثاني ـ أن يملك العرض بمعاوضة أو مبادلة كشراء، لا بإرث وهبة ونحوهما.
الثالث ـ أن ينوي بالعرض التجارة حال شرائه.
الرابع ـ أن يكون ثمن الشراء الذي اشترى به العرض مملوكاً بمعاوضة مالية أي بشراء، لا بنحو إرث أو هبة مثلاً.
الخامس ـ أن يبيع المحتكر من ذلك العرض نصاباً فأكثر، أو بأي شيء ولو درهماً إذا كان مديراً.
والشافعية اشترطوا ستة شروط:
الأول ـ أن تملك العروض بمعاوضة كشراء، لا بإرث مثلاً.
الثاني ـ أن ينوي بالعروض التجارة في صلب عقد المعاوضة أو في مجلسه، وإلا احتاج لتجديد نية التجارة.
الثالث ـ ألا يقصد بالمال القنية.
الرابع ـ مضي الحول من وقت ملك العروض أي من الشراء.
الخامس ـ ألا يصير جميع مال التجارة نقوداً وكان أقل من نصاب، وعبر عنهالشافعية بقولهم: ألا ينضّ المال في الأظهر أي يصير الكل نقداً من نقود البلد ببيع أو إتلاف من شخص معتد.
السادس ـ أن تبلغ قيمة العروض آخر الحول نصاباً.

ثالثاً ـ تقويم العروض ومقدار الواجب في هذه الزكاة وطريقة التقويم: يقوِّم التاجر العروض أو البضائع التجارية في آخر كل عام بحسب سعرها في وقت إخراج الزكاة، لا بحسب سعر شرائها، ويخرج الزكاة المطلوبة، وتضم السلع التجارية بعضها إلى بعض عند التقويم ولو اختلفت أجناسها، كثياب وجلود ومواد تموينية، وتجب الزكاة بلا خلاف في قيمة العروض، لا في عينها؛ لأن النصاب معتبر بالقيمة، فكانت الزكاة منها، وواجب التجارة هو ربع عشر القيمة كالنقد باتفاق العلماء، قال ابن المنذر: أجمع أهل العلم على أن في العروض التي يراد بها التجارة: الزكاة إذا حال عليها الحول (١).
وأدلة وجوب زكاة التجارة ما يأتي (٢):
١ً – قوله تعالى: {يا أيها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم} [البقرة:٢٦٧/ ٢] قال مجاهد: نزلت في التجارة.
٢ً – وقوله صلّى الله عليه وسلم: «في الإبل صدقتها، وفي البقر صدقتها، وفي الغنم صدقتها، وفي البَزّ (٣) صدقته» (٤) وقال سمرة بن جندب: «كان رسول الله صلّى الله عليه وسلميأمرنا
أن نخرج الزكاة مما نعده للبيع» (١) وعن أبي عمرو بن حماس عن أبيه قال: «أمرني عمر، فقال: أدّ زكاة مالك، فقلت: ما لي مال إلا جعاب وأدم، فقال: قوّمها، ثم أدّ زكاتها» (٢) قال ابن قدامة صاحب المغني: وهذه قصة يشتهر مثلها، ولم تنكر، فيكون إجماعاً.
وأما ما حكي عن مالك وداود أنه لا زكاة في التجارة لحديث: «عفوت لكم عن صدقة الخيل والرقيق» فالمراد به زكاة العين فلا زكاة في عين الخيل، لازكاة القيمة، بدليل الأخبار التي ذكرتها، ثم إن هذا الخبر عام، والأخبار المذكورة خاصة، فيجب تقديمها. والمقرر عند المالكية هو وجوب زكاة التجارة.
وطريقة تقويم العروض (٣): هي عند الجمهور غير الشافعية أن تقوم السلع إذا حال الحول بالأحظ للمساكين من ذهب أو فضة احتياطاً لحق الفقراء، ولا تقوم بما اشتريت به. فإذا حال الحول على العروض، وقيمتها بالفضة نصاب، ولا تبلغ نصاباً بالذهب، قومناها بالفضة ليحصل للفقراء منها حظ، ولو كانت قيمتها بالفضة دون النصاب، وبالذهب تبلغ نصاباً قومناها بالذهب لتجب الزكاة فيها، ولا فرق بين أن يكون اشتراؤها بذهب أو فضة أو عروض.
وقال الشافعية: تقوم العروض بما اشتراها التاجر به من ذهب أو فضة؛ لأن نصاب العروض مبني على ما اشتراه به، فيجب أن تجب الزكاة فيه، وتعتبر به، كما لو لم يشتر به شيئاً. وعلى هذا إن ملك العرض بنقد قوِّم به إن ملك بنصاب أو دونه في الأصح، سواء أكان ذلك النقد هو الغالب أم لا، والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MINYAK GORENG YANG DIJATUHI BARANG NAJIS DAN CARA MENCUCIKANNYA

Assalamualaikum

Studi kasus:

Ada sebuah warung yg setiap harinya jualan gorengan dg menggunakan minyak goreng yg lebih dari 1 kg. Suatu hari minyaknya diceburi kakinya ayam yg najis. Dan Eman minyaknya itu dan bagus

Pertanyaan

1. Bagaimana hukum dan cara mensucikannya ?

Assalamualaikum

Jawaban
Ulama berbeda pandang terkait hukum minyak yang dijatuhi barang najis ada yang berpendapat  ( pendapat pertama) minyak ikut menjadi najis dan tidak bisa disucikan sedangkan menurut ( pendapat  kedua )  bisa suci dengan cara dibasuh.

Adapun pertimbangan sebagai solusi terbaik tanpa harus membuang minyak agar bisa suci   adalah mengikuti pendapat yang kedua yaitu  menuangkan air pada minyak itu, (menambahkannya), kemudian diaduk-aduk dengan kayu atau semisalnya, hingga sampai pada dugaan bahwa air itu sudah bercampur menjadi satu dengan minyak, kemudian didiamkan sesaat hingga air bergerak ke atas (dan minyak mengendap di bawah). Setelah itu, wadah tempat membasuh tadi dilubangi bagian bawahnya (sehingga minyak mengalir keluar). Begitu air yang semula di atas kemudian akan keluar dari lubang, maka lubang itu dibuntu”

Sebagaimana dalam  beberapa kitab berikut:

[الخطيب الشربيني، مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج، ٢٤٣/١]
وَلَوْ نَجُسَ مَائِعٌ) غَيْرُ الْمَاءِ وَلَوْ دُهْنًا (تَعَذَّرَ تَطْهِيرُهُ) إذْ لَا يَأْتِي الْمَاءُ عَلَى كُلِّهِ؛ لِأَنَّهُ بِطَبْعِهِ يَمْنَعُ إصَابَةَ الْمَاءِ (وَقِيلَ يَطْهُرُ الدُّهْنُ بِغَسْلِهِ) قِيَاسًا عَلَى الثَّوْبِ النَّجِسِ. وَكَيْفِيَّةُ تَطْهِيرِهِ كَمَا ذَكَرَهُ فِي الْمَجْمُوعِ أَنْ يَصُبَّ الْمَاءَ عَلَيْهِ وَيُكَاثِرَهُ ثُمَّ يُحَرِّكَهُ بِخَشَبَةٍ وَنَحْوِهَا بِحَيْثُ يَظُنُّ وُصُولَهُ لِجَمِيعِهِ ثُمَّ يُتْرَكَ لِيَعْلُوَ ثُمَّ يَثْقُبُ أَسْفَلَهُ، فَإِذَا خَرَجَ الْمَاءُ سُدَّ.

Referensi

الطَّبَرِيُّ قَالَ صَاحِبُ الحاوى وهو
[النووي، المجموع شرح المهذب، ٢٣٦/٩]

(الرَّابِعَةُ)

الدُّهْنُ النَّجِسُ ضَرْبَانِ ضَرْبٌ نَجِسُ الْعَيْنِ كَوَدَكِ الْمَيْتَةِ فَلَا يَجُوزُ بَيْعُهُ بِلَا خِلَافٍ وَلَا يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ (والضرب الثاني) متنجس بالمجاورة كالزيت والسيرج وَالسَّمْنِ وَدُهْنِ الْحَيَوَانِ وَغَيْرِهِ فَهَذَا كُلُّهُ هَلْ يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ فِيهِ وَجْهَانِ مَشْهُورَانِ
(أَحَدُهُمَا)
يَطْهُرُ كُلُّهُ (وَالثَّانِي) لَا يَطْهُرُ وَدَلِيلُهُمَا
فِي الْكِتَابِ وَفِي الْمَسْأَلَةِ وَجْهٌ ثَالِثٌ أَنَّهُ يَطْهُرُ الزَّيْتُ وَنَحْوُهُ وَلَا يَطْهُرُ السَّمْنُ وَمِمَّنْ ذَكَرَ هَذَا الْوَجْهَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ وَالرُّويَانِيُّ وَهُوَ شَاذٌّ والصحيح عند الاصحاب أنه لا يطهر شئ مِنْ الْأَدْهَانِ بِالْغَسْلِ وَهُوَ ظَاهِرُ نَصِّ الشَّافِعِيِّ وَبِهِ قَالَ أَبُو عَلِيّ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ وَجُمْهُورِ أَصْحَابِهِ (وَالْوَجْهُ الثَّانِي) يَطْهُرُ الْجَمِيعُ بِالْغَسْلِ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سُرَيْجٍ وَأَبِي اسحق الْمَرْوَزِيِّ وَاخْتَارَهُ الرُّويَانِيُّ

* قَالَ أَصْحَابُنَا (فَإِنْ قُلْنَا) لَا يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ لَمْ يَجُزْ بَيْعُهُ وَجْهًا وَاحِدًا (وَإِنْ قُلْنَا) يَطْهُرُ بِالْغَسْلِ فَفِي صِحَّةِ بَيْعِهِ وَجْهَانِ (أَصَحُّهُمَا) بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ لَا يَجُوزُ بيعه وبه قال أبو إسحق الْمَرْوَزِيُّ وَمِمَّنْ صَحَّحَهُ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِ وَالْمَاوَرْدِيُّ وَالْمُتَوَلِّي وَقَطَعَ بِهِ الْبَغَوِيّ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي مُخْتَصَرِ الْمُزَنِيِّ فِي أَوَّلِ الْبَابِ الثَّالِثِ مِنْ كِتَابِ الْأَطْعِمَةِ (وَالْوَجْهُ الثَّانِي) يَجُوزُ بَيْعُهُ وَهَذَا الْوَجْهُ خَرَّجَهُ ابْنُ سُرَيْجٍ مِنْ بَيْعِ الثَّوْبِ النَّجِسِ

* قَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي تَعْلِيقِهِ هَذَا تَخْرِيجٌ بَاطِلٌ وَمُخَالِفٌ لِنَصِّ الشَّافِعِيِّ وَإِمَامِ الْحَرَمَيْنِ فِي النِّهَايَةِ (إنْ قُلْنَا) يطهر الدهن بالغسل جَازَ بَيْعُهُ قَبْلَ الْغَسْلِ وَجْهًا وَاحِدًا كَالثَّوْبِ (وَإِنْ قُلْنَا) لَا يُطَهِّرُ فَوَجْهَانِ وَهَذَا التَّرْتِيبُ غَلَطٌ عِنْدَ الْأَصْحَابِ وَمُخَالِفٌ لِلدَّلِيلِ وَلِنَصِّ الشَّافِعِيِّ ولم اتَّفَقَ عَلَيْهِ الْأَصْحَابُ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْغَزَالِيُّ مُنْفَرِدَانِ به فلا يعتد به ولا يغترن بالله وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ

مغنى المحتاج إلى معرفةالفاظ المنهاج. ج.١ص٨٦

(وقيل يطهرالدهن بغسله) قياسا على الثوب النجس وكيفية تطهيره كما ذكره في المجموع أن يصب الماء عليه ويكاثره ثم يحركه بخشبة ونحوها بحيث يظن وصوله لجميعه ثم يترك ليعلو ثم يثقب أسفله فإذا خرج الماء سد إهـ   “

Kategori
Uncategorized

PERBEDAAN WALI HAKIM DAN WALI MUHAKKAN

PERBEDAAN ANTARA WALI HAKIM DAN WALI MUHAKKAN /TAHKIM

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Ada seorang janda yang sudah punya anak beralamatkan /Edintitasnya Jogjakarta dia telah lama ditinggal suaminya karena wafat , sementara ada seorang lelaki duda pun juga punya anak ber alamatkan di Pamekasan Mandura keduanya ingin menikah yang pada awalnya orang tuanya silelaki setuju,  Namun ketika pernihan akan dilangsungkan orang tuanya si laki-laki tidak setuju sedang siperempuan tidak punya wali kerena orang tuanya meninggal begitu juga kakeknya wal hasil dia tidak punya wali baik wali akrab ataupun wali ab’ad. Karena sudah terlanjur ada hubungan ikatan janji dengan kedau tersebut maka dia terpaksa lari kerumahnya silelaki yang berada dimaduara dan dia  ingin menikah dengan sirri dengan cara mengangkat wali muhakkam didaerah lain (Madura)  sementara menurut hukum kalau wali hakim tidak boleh mengakad nikah kecuali diwilayah sendiri.

Adapun latar belakang akan menikah dengan cara sirri mengangkat  muhakkam berawal karena orang tuanya yang laki-laki setuju namun setelah akan menikah ibunya silelaki tidak setuju, maka karena sudah terlanjur dipinang akhirnya nikah sirri sebagai alternatif  untuk menghalalkan keduanya yang selanjutnya tetap akan diperbaharui kembali melalui proses hakim secara rismi

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya mengangkat wali hakim atau Muhakkam yang bukan dari daerah se wanita? Karena jelas si wanita tidak memiliki wali, yang tidak setuju keluarga si laki-laki.

Waalaikum salam.
Jawaban.

Jika wanita tidak punya wali maka alternatif untuk bisa menikahkan satu-satunya adalah wali Hakim. Karena wali hakim diangkat oleh pemerintah secara rismi yang diberi mandat atau wewenang untuk menikahkan wanita yang tidak punya wali nikah, namun dengan syarat wali hakim harus berada diwilahnya tempat dia bertugas, bukan didaerah lain.Artinya jika wanita dari jakarta kemudian kemadura daerah guluk maka wali hakimnya didaerah kecamatan Guluk- guluk bukan daerah lain ( Jakarta) maka tidak boleh.

Sesuai dengan hadits:

فَإِنَّ السُّلْطَانَ وَلِيُّ مَنْ لَا وَلِيَّ لَهُ

Artinya, “Sungguh penguasa adalah wali bagi perempuan yang tidak memiliki wali,” (HR. Ahmad).

Namun jika Wali hakim diwilayah setempat meminta bayaran untuk menikahkan maka boleh kedua pempelai mengangkat Wali muhakkam walaupun bukan diwilayahnya perempuan yang akan menikah.

Dengan demikian berbeda antara wali hakim dan walimuhakkan perbedaannya adalah:

Wali Hakim adalah orang yang diangkat oleh pemerintah secara rismi yang punya wewenang untuk menikahkan orang perempuan yang tidak punya wali dengan syarat harus menikahkan didaerahnya sendiri. Sehingga perempuan yang dinikahkan oleh wali hakim sah secara agama maupun pemerintah.

Sedangkan Muhakkam adalah orang  yang diangkat oleh kedua pempelai laki-laki dan perempuan dengan syarat harus mujtahid atau walaupun tidak mujtahid yang penting adil walaupun bukan didaerahnya perempuan.( berada diderah lain/tidak terikat dengan wilayah ).

Artinya jika wali hakim harus diwilayah setempat ( tempat bertugas ) yang bisa menikahkan. Sedangkan Wali muhakkam  boleh walaupun bukan diwilayahnya perempuan dan hukum  akad nikahnya  sah menurut agama namun tidak sah menurut pemerintah.

Referensi:

بغية المسترشدين ص ٢٠٧ – ٢٠٨

(مسألة: ب ش):

الحال في مسألة التحكيم أن تحكيم المجتهد في غير نحو عقوبة لله تعالى جائز مطلقاً، أي ولو مع وجود القاضي المجتهد، كتحكيم الفقيه غير المجتهد مع فقد القاضي المجتهد، وتحكيم العدل مع قد القاضي أصلاً أو طلبه مالاً وإن قل، لا مع وجوده ولو غير أهل بمسافة العدوى، وكذا فوقها إن شملت ولايته بلد المرأة، بناء على وجوب إحضار الخصم من ذلك الذي رجح الإمام الغزالي والمنهاج وأصله عدمه، ولا بد من لفظ من المحكمين كالزوجين في التحكيم كقول كل: حكمتك لتعقد لي أو في تزويجي، أو أذنت لك فيه، أو زوجني من فلانة أو فلان، وكذا وكلتك على الأصح في نظيره من الإذن للولي، بل يكفي سكوت البكر بعد قوله لها: حكميني أو حكمت فلاناً في تزويجك، ويشترط رضا الخصمين بالمحكم إلى صاحب الحكم لا فقد الولي الخاص، بل يجوز مع غيبته على المعتمد كما اختاره الأذرعي، *ولا كون المحكم من أهل بلد المرأة* *، فلو حكمت امرأة باليمن رجلاً بمكة فزوّجها هناك من خاطبها صح وإن لم تنتقل إليه* ، *نعم هو أولى لأن ولايته عليها ليست مقيدة بمحل، وبه فارق القاضي فإنه لا يزوج إلا من محل ولايته فقط* ، بل لو قالت: حكَّمتك تزوجني من فلان بمحل كذا لم يتعين إلا إن قالت: ولا تزوِّج في غيره

:(مسألة: ي)

غاب وليها مرحلتين ولم يكن ثم قاض صحيح الولاية بأن يكون عدلاً فقيهاً، أو ولاه ذو شوكة مع علمه بحاله بمسافة القصر حكَّمت هي والزوج عدلاً يقول كل منهما: حكمتك تزوجني من فلانة أو فلان، ولا بد من قبول المحكم على المعتمد ثم تأذن له في تزويجها، ويجوز تحكيم الفقيه العدل ولو مع وجود القاضي كغير الفقيه مع عدمه بمحل المرأة ولو مع وجود فقيه

Referensi:

الفتوى الشرعية.ص ١٨٣
عقد الزواج اذا ستوفى أركانه وشروطه تحل به المعاشرة بين الزوجين ، وليس من شرائطه الشرعية اثباته كتابة فى وثيقة رسمية ولاغير رسمية، وإنما التوثيق لدى المأذون أو الموظف المختص نظام اجابته اللواح والقوانين الخاصة بالمحاكم الشرعية خشية الجحود وحفظا للحقوق وحذرت من مخالفته لما له من النتائج الخطيرة عند الجحود. والله أعلم بالصواب

Wallohu A’lamu Bisshowabi.

Kategori
Uncategorized

BATASAN PANJANGNYA LAFDHUL JALALAH KETIKA DIBACA DALAM TAKBIRATUL IHRAM

Assalamualaikum
Deskripsi masalah.
Ketika saya shalat berjamaah terkadang imamnya was-was mengucapkan takbir lafdhul jalalahnya berulang-ulang bahkan terkadang saya dengar kalimat Lafdhul Jalalahnya الله أكبر dibaca satu Alif dan terkadang sedang bahkan terkadang melebihi satu Alif .

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya membaca lafdhul jalalah pada kalimat takbiratul ihram dalam sholat melebihi batas satu Alif dua harkat kaitannya dengan sahnya sebagaimana dalam kasus diatas.

Walaikum salam.
Jawaban kalau dalam kaidah ilmu tajwid hukumnya dibaca mad yang panjangnya adalah satu Alif dua harkat, maka ketika menambah panjangnya Alif dapat memodloratkan namun demikian jika menambah panjangnya satu Alif yang ada diantaranya huruf lam dan ha’ sampai melebihi batas tidak ada satupun para ulama’ ahli Qurro’ yang mengatakan. Akan tetapi Ali Syiramalisy: ( ع ش)14 Nûr ad-Dîn Abû Dliyâ’‘Ali bin ‘Ali ( 997 – 1087 .H. Memberikan batasan perkiraan puncak panjangnya yang mengutip dari ulama’ sebagai mana Ibnu Hajar telah menukil yaitu 7 Alif dan dikira-kira setiap satu Alif adalah dua harokat taqriban. Artinya jika mengikuti apa yang dikutip oleh ibnu Hajar boleh membaca satu Alif dua harokat sampai batas tujuh alif.Akan tetapi jika sampai melebihi batas 7 tujuh alif dengan unsur kesengajaan maka shalatnya batal ( lihat keterangan berikut dalam kitab Kasyifatussaja)

[البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ,١/١٥٦]

(قوله: وكذا زيادة مد الخ)

أي وكذا يضر زيادة مد الألف الكائنة بين اللام والهاء إلى حد لا يقول به أحد من القراء.
قال ع ش: وغاية مقدار ما نقل عنهم – على ما نقله ابن حجر – سبع ألفات، وتقدر كل ألف بحركتين، وهو على التقريب. اه

كاشفة السجا على شرح سفينة النجا فى فصل شروط التحرم

( فرع )

قال الباجوري ويسن أن لا يقصر التكبير بحيث لا يفهم ولا يمططه بأن يبالغ في] مده بل يتوسط
وقال الشبراملسي ويستحب أن يمد التكبير ويشترط أن لا يمد فوق سبع ألفات وإلابطلت إن علم وتعمد وتقدر كل ألف بحركتين وهو على التقريب ويعتبر ذلك بتحريك الأصابع متوالية مقارنة للنطق بالمد

[SATU CABANG]
Al-Bajuri mengatakan, “Disunahkan tidak terlalu membaca qoshor (pendek) takbiratul ihram sekiranya sampai tidak bisa dipahami, dan tidak terlalu membaca mad (panjang). Melainkan sebaiknya dibaca sedang.”

Syibromalisi berkata, “Disunahkan membaca mad (panjang ) pada takbiratul ihram. Disyaratkan panjang mad dalam takbiratul ihram tidak melebihi dari 7 alif. Jika sampai melebihinya maka sholatnya batal jika memang musholli tahu dan sengaja. Satu alif dikira-kirakan sepanjang dua harakat. Sedangkan dua harokat ini dikira-kirakan sepanjang menggerakkan dua jari-jari secara berturut-turut disertai dengan mengucapkan .

Kesimpulannya bahwa batasan minimalnya panjangnya membaca lafdhul jalalah ketika membuka sholat dengan takbiratul ihrom adalah satu Alif dua harakat taqriban sedangkan maksimalnya adalah tujuh alif menurut Syiromulisy.Akan tetapi jika sampai melebihi 7 Alif maka shalatnya batal. Oleh karenanya sunnah sedang-sedang saja karena sebaik-baik perkara adalah tengah-tengah antara 1 Alif dan 7 Alif

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA DAGING YANG LANGSUNG DIGILING TANPA DISUCIKAN TERLEBIH DAHULU

Assalamualaikum pak kyai.

Deskripsi masalah.

Saya dengan Dwi di Banten dan saya dapat nomer dari YouTube sebelum saya mau memberi tau kalo saya juga pengidap was was

Kornologinya begini, saya seorang pedagang bakso dan menggiling bakso di tempat penggilingan umum, sementara daging yang saya giling tidak di sucikan terlebih dahulu, sedangkan daging tersebut terkadang kena air es dikarenakan daging itu terkadang di taro di frezer trus mencair sehingga mencairnya sampai warna airnya jadi merah itu mungkin dikarenakan adanya darah yg masih nempel di daging atau ditulang, dan saya yakin 100% bahwa ditempat penggilingan yg biasa saya giling tidak ada daging yg haram seperti babi.
Adapun Yg saya was was kan adalah takut najis bakso saya.
Dan juga kadang tukang gilingnya ngawur kadang potongan daging jatuh ke lantai langsung di ambil gak di cuci tapi lantainya sepertinya gak ada najis juga sih pak

Pertanyaannya.

Bagaimana hukum daging yang saya giling najiskah atau cuci ? karena daging tersebut tidak di cucikan terlebih dahulu langsung di giling dan kadang daging kena air es karena di taro di frezer trus mencair sehingga cairannya merah atau mungkin ada darah yg masih nempel di daging sebagaimana deskripsi

Tolong beri saya jawaban pak kalo ini najis dan haram bila ada pendapat lain dari ulama yg bisa memudahkan saya biar halal mohon solusinya ustad

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

JAWABAN :

Selama daging hewan yang disembelih setelah dipecah-pesah bersama tulangnya belum menyentuh air maka hukumnya najis yang dima’fu dan halal boleh memakannya karena darah yg melekat di daging dan tulang di ma’fu akan tetapi jika sudah terkena air ataupun es maka hukumnya najis Artinya sudah tidak dimakfu lagi .
Adapun solusinya harus disucikan dengan air sebagaimana biasanya atau mengikuti pendapat Imam Nawawi dan as-Subki yang menyatakan suci.

كاشفة السجا على سفينة النجا..ص..٤٣
أَنَّهُ يُعْفٰى عَنِ الدَّمِ الَّذِى عَلَى اللَّحْمِ إِذَا لَمْ يَخْتَلِطْ بِمَاءٍ وَإِلاَّ فَلاَ يُعْفٰى عَنْه وإلا فلا يعفى..اى وإذا كان اللحم يختلط بماء فلا يعفى

Kalau kenyataannya daging tidak bercampur dengan air maka menurut pemahaman ibarat diatas hukumnya najis yang dima’fu . Akan tetapi sebaliknya jika kenyataannya daging yang ada darahnya tersebut telah bercampur air maka dihukumi najis yang tidak di ma’fu (tidak diampuni), namun dikatakan dalam sebagian ulama yaitu menurut Imam an-Nawaawi serta as-Subky dihukumi SUCI.

وأما الدم الباقي على اللحم وعظامه وعروقه من المذكاة فنجس معفو عنه وذلك إذا لم يختلط بشيء كما لو ذبحت شاة وقطع لحمها فبقي عليه أثر من الدم وإن تلون المرق بلونه بخلاف ما لو اختلط بغيره كالماء كما يفعل في البقر الذي تذبح في المحل المعد لذبحها من صب الماء عليها لإزالة الدم عنها فإن الباقي من الدم على اللحم بعد صب الماء عليه لا يعفى عنه وإن قل لاختلاطه بأجنبي ولو شك في الاختلاط وعدمه لم يضر لأن الأصل الطهارة


Sedang darah yang terdapat pada daging, tulang, urat dari hewan yang disembelih maka hukumnya najis yang dima’fu bila tidak tercampuri sesuatu, seperti bila seekor kambing disembelih, dagingnya dipotong-potong dan ternyata masih tersisa bekas darahnya meskipun air kuah masih berwarna merah karenanya. Oleh karenanya berbeda saat tercampuri perkara lainnya seperti air seperti seekor sapi yang disembelih ditempat yang telah dipersiapkan yang disirami air agar menghilangkan darahnya, maka bila masih tersisa darah pada daging setelah penyiraman air tersebut darahnya tidak dima’fu (harus dicucikan sebelum memasaknya) meskipun hanya sedikit karena telah bercampur dengan hal lain. Adapun bila diragukan tercampur dengan hal lain dan tidaknya maka tidak bahaya karena kaidah asalnya adalah suci. [ Nihaayah az-Zain I/40 ].


( قوله حتى ما بقي على نحو عظم ) أي حتى الدم الباقي على نحو عظم فإنه نجس وقيل إنه طاهر وهو قضية كلام النووي في المجموع وجرى عليه السبكي


(Hingga darah yang tersisa pada semacam tulang) artinya darah yang tersisa pada semacam tulang hewan yang disembelih dihukumi najis, namun dikatakan menurut pendapat ulama “sesungguhnya ia suci” dan inilah keputusan pernyataan an-Nawawy dalam kitab al-Majmu’ dan yang dijalani oleh as-Subky. [ I’aanah at-Thoolibiin I/83 ].
Pertanyaannya, apa alasannya darah tadi kok di-ma’fu ?? dan istinbatnya apa ? Jawabnya baca ibaroh berikut :


ويدل له من السنة قول عائشة رضي الله عنها كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تعلوها الصفرة من الدم فيأكل ولا ينكره والمعتمد الأول لأنه دم مسفوح ولا ينافيه ما تقدم من السنة لأنه محمول على العفو عنه ومعلوم أن العفو لا ينافي النجاسة.

Kesimpulan Daging hewan yang halal dimakan setelah disembelih dan dipecah-pecah selama dagingnya tidak menyentuh air atau pun air es ataupun ragu apakah daging itu telah bercampur air ataupun tidak maka hukumnya najis namun dima’fu boleh dimakan dan halal selama tempat yang ditempati daging suci atau tidak nampak bahwa tempat tersebut ada najisnya tetapi jika Tempat tersebut nampak ada najis maka dagingpun menjadi najis, karena barang yang najis yang disentuh dalam keadaan basah maka barang yang suci akan ikut najis kecuali sama- sana kering maka suci.

Akan tetapi menurut Nawawi dan as-Subki Hukumnya suci walaupun telah bercampur dengan air selama ditempat tersebut suci namun jika yang ditempati nampanya ada najis maka dagingpun menjadi najis disebabkan menyentuh barang yang najis, berbeda jika Tempat tersebut kotor karena antara kotor dan najis sedikit berbeda , jika Tempat itu najis pasti kotor tetapi jika hanya kotor belum tentu najis seperti halnya pakaian dan lantai yang terkena debu, itu bisa dikatakan kotor tetapi hukumnya suci manakala tidak nampak barang yang najis

كتاب التخبير شرح التحرير المكتبة الشامة ص٣٧٩١

  نحن نحكم بالظواهر والله يتولى السرائر 

 “Kami menghukumi dengan sesuatu yang dhahir (lahiriah), dan Allah yang menangani seluruh yang tersembunyi (samar).”

Najis yang didapat baik dengan sengaja maupun tidak, pada akhirnya tetap harus dihilangkan. Najis adalah suatu hal yang sangat harus dihindari. Setidaknya karena dua alasan: makanan dan shalat. Makanan yang terkena najis menjadi haram dikonsumsi, dan shalat tidak sah jika terdapat najis pada badan, pakaian, atau tempat shalat.     Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menjelaskan hukum menghindari najis, beliau menyampaikan:

  ولا يجب اجتناب النجس في غير الصلاة، ومحله في غير التضمخ به في بدن أو ثوب فهو حرام بلا حاجة

  Artinya, “Tidak wajib menghindari najis pada selain shalat. Kecuali sengaja menyentuhkan badan atau pakaian dengan najis, maka haram jika dilakukan tanpa ada tujuan yang dilegalkan syariat” (Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’in, [Beirut: Dar Ibn Hazm], halaman 79). Namun najis yang didapat baik dengan sengaja maupun tidak sengaja pada akhirnya tetap harus dihilangkan. Karena itulah seorang muslim lebih memilih menghindarinya. Sesuatu yang terkena najis statusnya dalam fiqih disebut mutanajjis, atau barang yang terdampak najis—secara umum di masyarakat tetap dise​but dengan istilah najis saja​​​​​​—. Misalnya pakaian yang terkena darah, pakaian tersebut menjadi mutanajjis sebab dihinggapi najis berupa darah.    Namun, tidak semua persentuhan dengan najis dapat mengakibatkan sesuatu menjadi mutanajjis. Imam As-Suyuthi dalam Al-Asybah wan Nazha’ir mengutip kaidah dari Imam al-Qamuli sebagai berikut:

    النجس إذا لاقى شيئا طاهرا وهما جافان لا ينجسه  


  Artinya, “Ketika najis bertemu dengan sesuatu yang suci dalam keadaan keduanya kering, maka najis tersebut tidak memberi dampak pada sesuatu yang terkena olehnya.” (As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha’ir, [Beirut Darul kutub Al-‘Ilmiyyah: 1990], 432).

Berdasarkan kaidah di atas dapat diketahui bahwa jika najis dan sesuatu yang bersentuhan dengannya sama-sama dalam keadaan kering, maka sesuatu tersebut tidak menjadi mutanajjis, akan tetapi sebaliknya jika salah satu diantara keduanya basah maka akan menjadi najis.Oleh karena jika daging yang menyentuh lantai yang diyakini najis maka dagingngpun ikut najis kecuali tidak diyakini najis maka hukumnya suci sebagaimana Kaidah tersebut diatas. Wallahu A’lam bisshowab .

Kategori
Uncategorized

MENJAMAK SHALAT KARENA ADA HAJAT ( KEPERLUAN)

MENJAMAK SHALAT KARENA ADA HAJAT(KEPERLUAN)

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh…

Izin bertanya:
Deskripsi masalah:

Ditempat saya sekarang sudah musim padi mulai tumbuh atau nampak (bahasa Kalsel: meuray) buahnya. Karena sudah nampak buahnya -padahal belum matang/siap dipanen- maka burung Manyar (mirip Pipit) siap memakan padinya, terpaksa ditunggu dan dipasang alat untuk memburu atau menjaga padinya.

Dan karena sibuk mengurus itu lalu terlewatkan waktu sholat pun bisa terlewati, karena bila lengah sedikit saja sudah habis padinya, belum matang saja sudah di makannya, jangan harap memanennya kalau tidak dirawat dan di jaga.

Kalau hari Jum’at yang agak susah, terpaksa tenaga isteri atau perempuan yang membantu menjaga nya juga untuk bergantian. Tapi tidak semua sehat para isteri untuk membantu, bahkan ada yg hidup sendiri misalnya, terpaksa mungkin bisa ketinggalan Jum’at.

Yang jam istirahat burungnya cuma malam saja, bahkan subuh sudah ada burungnya.

Lalu yang jadi pertanyaan:

1. Boleh kah shalat yang lima waktu  keculi subuh di jamak baik takdim atau ta’khir…?

2. Apakah boleh diganti sholat Jum’at dgn Zuhur dan jamak dengan ashar…?

Note: yang mengganti Jumat dgn Zuhur untuk para petani maksudnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakaatuh

Waalaikum salam.

Jawaban.No.1
Shalat adalah kewajiban bagi setiap orang muslim, kapanpun dan dimanapun. Artinya kewajiban shalat tidak tergoyahkan oleh ruang dan waktu. Namun, dalam realita kehidupan manusia, seringkali keadaan berbicara lain.

Bisa saja kondisi tidak mengizinkan seseorang menjalankan shalat secara sempurna, misalkan karena orang tersebut di dalam perjalanan, atau di atas perahu atau di ruang angkasa berjam-jam.

Oleh karena itulah dalam fiqih mengajarkan jamak shalat. Yaitu melaksanakan dua macam shalat yang berbeda dalam satu waktu, karena adanya satu alasan tertentu. Meski demikian para ulama fiqih berbeda pendapat mengenai alasan diperbolehkannya jamak shalat.

Sebagian ulama fiqih hanya membolehkan jamak shalat ketika seseorang dalam keadaan bepergian jauh (musafir).

Namun sebagian ulama yang lain seperti Ibnu Sirrin, al-Qaffal dan Abu Ishaq al-Marwazy membolehkan menjamak shalat walaupun ada di rumah dikarenakan keadaan yang amat sangat sibuknya dan jamak ini tidak menjadi kebiasaan. Artinya tidak di lakukan terus menerus, hanya sesekali saja
Misalnya jamak shalat bagi pengantin baru yang sedang  menjalani walimatul arusy dan selalu menerima tamu. Begitu diterangkan dalam Syarah Muslim lin Nawawi.

[النووي، شرح النووي على مسلم، ٢١٩/٥]

وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ إِلَى جَوَازِ الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لا يتخذه عادة وهو قول بن سِيرِينَ وَأَشْهَبَ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ عَنِ الْقَفَّالِ وَالشَّاشِيُّ الْكَبِيرُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِيِّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أصحاب الحديث واختاره بن المنذر

حاشية الشربيني على الغرر البهية

وذهب جماعة من الأئمة إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة، وهو قول ابن سيرين وأشهب من أصحاب مالك وحكاه الخطابي عن القفال والشاشي الكبير من أصحاب الشافعي عن أبي إسحاق المروزي عن جماعة من أصحاب الحديث، واختاره ابن المنذر ويؤيده قول ابن عباس حين سئل أراد أن لا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره اهـ. وسواء في هذا الجمع التقديم والتأخير كما هو ظاهر الإطلاق فليحرر.

Sejumlah imam berpendapat tentang diperbolehkannya menjamak shalat di rumah karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Ini pendapat Ibnu Sirrin, Asyhab pengikut Imam Malik, al-Qaffal. As-Syasyi al-Kabir dari kalangan as-Syafi’I dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan ahlul hadits. Sebagaimana dipilih oleh Ibnu Mundzir.

Menurut Madzhab Syafii, Hanafi, Maliki dan Hambali serta Jumhur (mayoritas) Ulama’ menyatakan bahwa menjama’ sholat karena ada hajat (keperluan ) tidak diperbolehkan.

Sedengkan menurut riwayat Imam Ibnu Mundzir, Imam Ibnu Sirin dan Imam Abu Ishaq Al-Marwazi memperbolehkan menjama’ sholat (baik jama’ taqdim atau ta’khir) karena ada hajat (keperluan) dengan catatan selagi hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan.

Referensi :

( بغية المستر شدين ص.٧٧
فائدة) لنا قول بجواز الجمع فى السفر القصير اختاره البندنيجى وظاهر الحديث جوازه ولو فى الحضر كما فى شرح مسلم وقال الخطابى عن ابى اسحق جوازه فى الحضر للحاجة وان لم يكن خوف ولا مطر ولامرض وبه قال ابن منذر.

(النفحات ص.١٢ )
قال فى الفوائد وكذا يجوز الاخذ والعمل لنفسه بالاقوال والطرق والوجوه الضعيفة الا بمقابل الصحيح فان الغالب فيه انه فاسد ويجوز الافتاء به للغير بمعنى الارشاد به.

المجموع شرح المهذب الجزء الرابع ص: ٢٢٨

(فرع)

في مذاهب العلماء ذكرنا أن مذهبنا أنه إذا فارق بنيان البلد قصر ولا يقصر قبل مفارقتها وإن فارق منزله وبهذا قال مالك وأبو حنيفة وأحمد وجماهير العلماء وحكى ابن المنذر عن الحارث بن أبي ربيعة أنه أراد سفرا فصلى بهم ركعتين في منزله وفيه الأسود بن يزيد وغير واحد من أصحاب ابن مسعود قال وروينا معناه عن عطاء وسليمان بن موسى قال وقال مجاهد لا يقصر المسافر نهارا حتى يدخل الليل قال ابن المنذر لا نعلم أحدا وافقه.

المجموع ج ٤ ص ٣٨٢
( فرع )

فى مذاهبهم فى الجمع فى الحضر بلا خوف ولا سفر ولا مطر ولا مرض : مذهبنا ومذهب ابو حنيفة ومالك وأحمد والجمهور أنه لا يجوز وحكى ابن المنذر عن طائفة جوازه بلا سبب قال وجوزه ابن سيرين لحاجة أو مالم يتخذه عادة إهـ


-كفاية الأخيار.ج١ص١٤٥
قال الاسنائي وما اختاره النووي نص عليه الشافعي في مختصر المزني ويؤيده المعنى ايضا فان المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع اولى بل ذهب جماعة من العلماء الى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال ابو اسحاق المروزي.

ترشح المستفدين ص١٣٤-١٣٥
قال السيد يوسف البطاخ في تشنيف السمع: ومن الشافعية وغيرهم من ذهب الى جواز الجمع تقديما مطلقا لغير سفر ولا مرض ولا غيرهما من الاعذار

Lalu bagaimana dgn solat jum’at

Jawaban .No.2

Jumat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi kriteria wajib Jumat. Tidak ada toleransi, bagi siapa pun yang meninggalkannya tanpa ada uzur, ia mendapat ancaman dosa yang berat berdasarkan petunjuk hadits Nabi.

Namun Islam adalah agama yang mudah. Tidak membebani pemeluknya di luar batas kemampuannya. Tidak pula memberikan beban yang berat kepada umatnya.

Al imam nawawi menjelaskan dalam kitabnya

[النووي، روضة الطالبين وعمدة المفتين، ٣٤٥/١]

وَمِنْهَا: أَنْ يَخَافَ عَلَى نَفْسِهِ، أَوْ مَالِهِ، أَوْ عَلَى مَنْ يَلْزَمُهُ الذَّبُّ عَنْهُ مِنْ سُلْطَانٍ، أَوْ غَيْرِهِ، مِمَّنْ يَظْلِمُهُ

“Di antara uzur-uzur (Jumat dan shalat jamaah) adalah adanya kekhawatiran atas nyawa atau harta, baik bagi dirinya sendiri atau pihak-pihak yang wajib dilindungi nyawanya baik dari pemerintah atau lainnya, dari orang zalim.” (al-Imam al-Nawawi, Raudlatut Thalibin, juz.1, halaman 345)

Dalam perspektif mazhab Hanbali ditegaskan, termasuk uzur Jumat adalah kekhawatiran adanya kerugian dalam pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghidupi keluarga atau dirampasnya harta yang ia disewa untuk menjaganya.

Syekh Abu al-Hasan Ali bin Sulaiman al-Mardawi mengatakan:


ومما يعذر به في ترك الجمعة والجماعة خوف الضرر في معيشة يحتاجها أو مال استؤجر على حفظه


“Termasuk uzur dalam meninggalkan Jumat dan jamaah shalat adalah kekhawatiran kerugian dalam pekerjaan yang ia butuhkan, atau harta yang ia disewa untuk menjaganya.” (Syekh Abu al-Hasan Ali bin Sulaiman al-Mardawi, al-Inshaf, juz 2, halaman 212).

Hanya saja, apabila memiliki kesempatan waktu melaksanakan Jumat, maka ia tetap berkewajiban menjalankan Jumat,

Kondisi tersebut juga berlaku untuk profesi lain yang berkenaan dengan tugas keamanan seperti polisi atau tentara, selama kekhawatiran akan bahaya nyawa dan harta muncul ketika ia melaksanakan shalat Jumat atau jamaah.

Kesimpulan; Boleh bagi seseorang menjamak shalat dalam kondisi ada keperluan seperti dalam kondisi musafir bahkan boleh dilakukan ditempat dalam kondisi sangat sibuk atau karena adanya hujan yang sangat lebat , namun demikian sebagian ulama berbeda pandang shalat ditempat (dirumah) dengan catatan tidak dilakukan secara terus menerus atau dijadikan sebagai kebiasaan. Berbeda dengan udzurnya shalat jum’at karena sibuk demi menjaga jiwa dan harta maka boleh meninggalkan shalat juma’at diganti dengan shalat dhuhur lalu bolehkah shalat dhur tersebut dijamak maka jawabannya boleh dengan catatan tidak dilakukan secara terus-menerus Artinya dilakukan sewaktu-waktu akan tetapi jika dilakukan secara terus menerus atau dijakan sebagai kebiasaan maka menurut sebagian ulama tidak boleh. sedangkam shalat yang lima waktu boleh dijama’ dan diqoshor selain subuh dan boleh dilakukan secara sendiri atau berjamaah. Sedangkan bagi musafir tidak diwajibkan shalat jum’at melainkan boleh shalat dhuhur baik dengan cara dijama’ atau diqoshor dengan syarat niat ketika ingin bebergian sebelum masuk waktu fajar. Oleh karenanya solusi bagi pekerja berat seperti petani sebagaimana dalam kasus diatas bisa membuat pos ditempat bercocok tanam untuk bisa melakukan shalat baik dengan cara dijamak atau dilakukan shalat yang biasa (sempurna) hal tersebut sebagai solusi untuk tidak terbiasa melakukan shalat jama’ secara terbiasa walaupun dapat dilakukan dipos tersebut. Wallahu a’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

MEWAKILKAN WALI NIKAH SEBELUM MENINGGAL KAITANNYA DENGAN HUKUM PELAKSANAANYA WAKIL

MEWAKILKAN WALI NIKAH SEBELUM MENINGGAL KAITANNYA DENGAN HUKUM PELAKSANAANYA WAKIL WALI

Assalamualaikum

Deskripsi masalah

Ada seorang bapak punya anak perempuan ( Fatimah ) yang akan dinikahkan  dengan lelaki bernama Ahmad menjelang akad nikah akan dilangsungkan sekitar 3 bulan lagi  bapaknya Fatimah sakit parah kehawatiran telah ada sehingga bapak Fatimah mewakilkan kewaliannya  kepada saudaranya ( seayah seibu)selang antara 2 /7 hari bapaknya Fatimah meninggal .

Pertanyaannya.
Bolehkah saudara bapak yang menerima pemasrahan menjadi wakil wali menikahkan  fatimah setelah  Muwakkil  meninggal sebagaimana deskripsi..?

Waalaikum salam.
Jawaban.
Wali nikah ( Bapak Fatimah) mewakilkan kewaliannya (wali nikah ) kepada siapapun yang penting memenuhi syarat hukumnya boleh, dengan waktu yang telah ditentukan yaitu berlaku wakil nikah/ mulai pelaksanaan dan berakhir apabila:

  1. Sempurnanya pekerjaan yang dilakukannya
  2. Mewakilkan pelaksanaan pekerjaannya kepada orang lain
  3. Meninggalnya salah satu diantara muwakkil dan wakil . Artinya jika muwakkil meninggal sebelum wakil melaksanakan apa yang menjadi tugas pekerjaannya maka disitulah berakhirnya wakil
  4. Mengundurkan diri menjadi wakil atau dipecat maka disininah berakhirnya wakil.

Dengan demikian maka jika Muwakkil meninggal sebelum wakil melaksanakan tugas pekerkajaanya ( mengakad nikahnya Fatimah ) dengan waktu yang telah ditentukan maka hukum akad wakalahnya batal/rusak dan dianggap berakhir dengan sendirinya walaupun tanpa dibatalkan oleh salah salah satu diantara keduanya .Artinya saudaranya bapak fatimah tidak sah menikahkan fatimah sebagai wakil wali nikah dikarenakan muwakkil meninggal dunia yang mana akad perwakilannya rusak secara hukum ( rusak dengan sendirinya ) ini menurut mayoritas ulama’ .Akan tetapi menurut Malikiyah tidak batal /tidak rusak selama orang yang mewakilkan betul-betul meninggal dan diketahui dengan secara kasat mata.

Solusinya maka Fatimah harus dinikahkan oleh kakeknya sebagai wali nikah setelah meninggalnya bapaknya Fatimah  .

Adapun jika kakeknya tidak memenuhi syarat kerena adanya udzur  semisal sakit  atau pikun hilang akal atau bisu atau struke dan tidak bisa untuk menikahkan sendiri maka boleh mewakilkan kewaliannya kepada orang lain walau dengan cara tulisan atapun dengam isyarah yang bisa dimengerti, Kecuali tidak bisa mewakilkan karena  tidak bisa memberikan  tulisan atau tidak bisa memberikan isyarah yang dapat dimengerti ,maka kewalian pindah kepada  Wali ab’ad yaitu saudaranya fatimah ( saudara laki-laki seayah seibu ) bukan mengatasnamakan wakil wali tetapi  memang hak wali untuk menikahkan kerena wali aqrob telah tiada atau ada namun tidak memenuhi syarat . Dengan catatan saudaranya Fatimah sudah baligh, dan boleh saudaranya fatimah jika ada udzur untuk menikahkan sendiri mewakilkan kepada orang lain sebagaimana keterangan diatas, namun jika  saudaranya sudah tidak ada atau ada namun tidak bisa untuk menikahkan karena sebab udzur semisal sakit setroke dan tidak bisa memberikan tulisan untuk mewakilkan atau isyarah  sebagaimana kasus kakek diatas, maka kewaliannya pindah kepada pamannya ( saudara bapaknya Fatimah yang seayah seibu ).

Catatan

Paman dari saudara ayah yang seayah seibu tidak boleh menikahkan Fatimah selama masih ada saudaranya fatimah yang baligh kecuali  ada idzin maka boleh dengan mengatas namakan wakil wali dari saudaranya Fatimah, kecuali saudaranya fatimah tidak baligh maka boleh pamannya Fatimah menjadi wali nikah, bukan sebagai wakil wali melainkan memang haknya untuk menjadi wali.

Referensi :

الموسوعة الفقهية – ٥٨٦/٣١٩٤٩

أضاف عقد الوكالة إلى زمن مستقبل، وقد صرح جمهور الفقهاء بصحة ذلك (١) .
ومثال الثاني: ما جاء في السلم، من إضافة العين المسلم فيها إلى زمن معلوم لقوله صلى الله عليه وسلم: من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم أو وزن معلوم إلى أجل معلوم(٢)
وَمِثَال الثَّالِثِ: مَا إِذَا بَاعَ بِثَمَنٍ مُؤَجَّلٍ فَإِنَّهُ يَصِحُّ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ} . (٣))
*التَّوْقِيتِ* :
– وَهِيَ الْمُدَّةُ الْمُسْتَقْبَلَةُ الَّتِي يَسْتَمِرُّ فِيهَا تَنْفِيذُ الاِلْتِزَامِ حَتَّى انْقِضَائِهَا، وَذَلِكَ كَمَا فِي الْعُقُودِ الْمُؤَقَّتَةِ، كَمَا فِي الإِْجَارَةِ، فَإِنَّهَا لاَ تَصِحُّ إِلاَّ عَلَى مُدَّةٍ مَعْلُومَةٍ، أَوْ عَلَى عَمَلٍ مُعَيَّنٍ يَتِمُّ فِي زَمَنٍ، وَبِانْتِهَائِهَا يَنْتَهِي عَقْدُ الإِْجَارَةِ (4) وَمُدَّةُ عَقْدِ الإِْجَارَةِ تُعْتَبَرُ أَجَلاً. مِصْدَاقَ ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى {قَال إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ قَال ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيُّمَا الأَْجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلاَ عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُول وَكِيلٌ} كَمَا أَنَّ اللُّغَةَ الْعَرَبِيَّةَ تَجْعَل ” التَّأْجِيل تَحْدِيدَ الْوَقْتِ ” ” وَالتَّوْقِيتَ تَحْدِيدَ الأَْوْقَاتِ، يُقَال: وَقَّتَهُ لِيَوْمِ كَذَا تَوْقِيتًا مِثْل أَجَّل “. (١)

Referensi:

فقه الإسلامى وأدلته.ص١٢٧

انتهاء الوكالة:
تنتهي الوكالة بأحد الأمور التالية (١):
١ – انتهاء الغرض من الوكالة: بأن يتم تنفيذ التصرف الذي وكل فيه الوكيل، إذ يصبح العقد غير ذي موضوع.
٢ – قيام الموكل بالعمل الذي وكل فيه غيره: كأن يبرم البيع الذي وكل فيه غيره.
٣ – خروج الموكل أو الوكيل عن الأهلية: بموت، أو جنون استمر شهراً، أوحجر لسفه؛ لأن الوكالة تتطلب استمرار الأهلية للتصرفات، فإذا زالت الأهلية بطلت الوكالة. والوكيل يستمد ولايته من الموكل.
ولا يشترط عند الحنفية والشافعية والحنابلة أن يعلم العاقد بخروج الطرف الآخرعن الأهلية بهذه العوارض. وقال المالكية: الأرجح أن الوكيل لا ينعزل بموت الموكل حتى يعلم به.
٤ – استقالة الوكيل: إذا تنازل الوكيل عن الوكالة أو استقال، أو رفض الاستمرار في العمل، انتهت الوكالة؛ لأن الوكالة بغير أجر كما تقدم عقد غير لازم، يجوز للوكيل أن يتنازل عنها في أي وقت. لكن يشترط عند الحنفية في هذه الحالة أن يعلم الموكل بهذا التنازل، حتى لا يتضرر بما فعل الوكيل، ولم يشترط الشافعي علم الموكل بعزل الوكيل نفسه.


(١) انظر عند الحنفية: البدائع: ٣٧/ ٦ ومابعدها، تكملة فتح القدير: ١٢٣/ ٦ ومابعدها، الدر المختار: ٤٣٤/ ٤، تبيين الحقائق: ٢٨٦/ ٤ ومابعدها، وعند المالكية: بداية المجتهد: ٢٩٨/ ٢، الشرح الكبير: ٣٩٦/ ٣، وعند الشافعية: مغني المحتاج: ٢٣٢/ ٢، المهذب: ١/ ٣٥٧، وعند الحنابلة: المغني: ١١٣/ ٥، غاية المنتهى: ١٥٤/ ٢ ومابعدها.

Referensi:

(الإقناع فِي حل أَلْفَاظ أبي شُجَاع)
القَوْل فِي الْوكَالَة عقد جَائِز
القَوْل فِي الْوكَالَة عقد جَائِز (و) الْوكَالَة وَلَو بِجعْل غير لَازِمَة من جَانب الْمُوكل وَالْوَكِيل فَيجوز (لكل وَاحِد مِنْهُمَا فَسخهَا مَتى شَاءَ) وَلَو بعد التَّصَرُّف سَوَاء تعلق بهَا حق ثَالِث كَبيع الْمَرْهُون أم لَا (وتنفسخ) حكما (بِمَوْت أَحدهمَا) وبجنونه وبإغمائه وَشرعا بعزل أَحدهمَا بِأَن يعْزل الْوَكِيل نَفسه أَو يعزله الْمُوكل سَوَاء أَكَانَ بِلَفْظ الْعَزْل أم لَا كفسخت الْوكَالَة أَو أبطلتها أَو رفعتها وبتعمده إنكارها بِلَا غَرَض لَهُ فِيهِ بِخِلَاف إِنْكَاره لَهَا نِسْيَانا أَو لغَرَض كإخفائها من ظَالِم وبطرو رق وَحجر كحجر سفه أَو فلس عَمَّا لَا ينفذ مِمَّن اتّصف بهَا وبفسقه فِيمَا فِيهِ الْعَدَالَة شَرط كوكالة النِّكَاح والوصايا وبزوال ملك مُوكل عَن مَحل التَّصَرُّف أَو منفعَته كَبيع ووقف لزوَال الْولَايَة وإيجار مَا وكل فِي بَيْعه وَمثله تَزْوِيجه وَرَهنه مَعَ قبض لإشعارها بالندم عَن التَّصَرُّف بِخِلَاف نَحْو الْعرض على البيع

Referensi

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٤
{تنبيه} 

مماتركه المصنف من شروط الولى أن لايكون مختل النظر بهرم أو خبل وأن لايكون محجورا عليه بسفه متى كان الأقرب ببعض هذه الصفات المانعة للولاية فالولاية للأبعد

“(Satu peringatan)” Diantara perkara yang ditinggalkan oleh Kyai Mushonnif adalah diantara beberapa syarat menjadi wali diantaranya adalah:
1.Harus memiliki fikiran atau akal yang sempurna artinya tidak cukup syarat bilamana fikirannya dan akalnya rusak karena disebabkan pikun.
2.Tidak menjadi “Mahhjur alaih” dengan sebab kebodohannya.
Kapan wali nikah yang “aqrab”(lebih dekat) tidak memenuhi syarat yang ada diantara sebagian sifat tersebut yang mencegah ( adanya maani’) atas kewalian maka wali nikah nya adalah beralih kepada wali ab-ad  ( lebih jauh) yakni Saudar-Nya yang seayah seibu dan seterusnya.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٥
{فرع}

الأحرس إن كان وليا وله إشارة يفهمها كل واحد عقد بها وإن فهمها الفطن أوكان له كتابة وأمكن التوكيل بهما وكل وإلا زوج الآبعد، وأما إن كان زوجا فإن كانت إشارته صريحة عقدبها وإن كانت كناية أوكانت له كتابة فإن أمكنه التوكيل وكل وإلا عقد للضرورة وتعرف نيته بإشارة أخرى أو كتابة وقيل يكون كالمجنون فزوج الحاكم عند فقد الأب والجد.

(“Satu cabang”) Orang yang bisu (tidak bisa bicara) manakala dia bersetatus wali nikah sedangkan dia bisa memberikan isyarah dan bisa difahami oleh setiap seorang dan atau bisa difahami oleh orang yang cerdas maka dia boleh mengakadnya atau sibisu bisa menulis dan memungkinkan mewakilkan maka wakilkan. Akan tetapi jika hal tersebut tidak memungkinkan mengakad dan mewakilkan, maka yang menikahkannya (menjadi wali nikah) adalah wali ab’ad (lebih jauh) yakni misalkan Yusuf saudaranya Sitti Maisarah dan serusnya.
Dan adapun jika si bisu punya istri dan sedangkan isyarah sharikh (jelas) baik dalam bentuk kinayah atau tulisan maka dia mengakadnya dan jika bisa mewakilkan dengan tulisan maka wakilkan dengan tulisan jika tidak bisa maka akadlah (wali ab’ad) dengan kondisi dlorurah. Dan niatnya dapat dikenal/diketahui disisi yang lain.
Dikatakan oleh sebagian ulama, dia diibaratkan orang gila maka hakim yang menikahkan (menjadi wali) diwaktu tidak adanya ayah dan kakek.

Urutan wali nikah : ayah, kakek (dari sisi ayah), saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman (saudara ayah sekandung), paman (saudara ayah seayah), anak laki-laki paman sekandung lalu anak laki-laki paman seayah.Kamudian pamannya kakek.Kemudian anak laki-laki nya pamannya kakek.Terus kebawah.Kemudian pamannya bapaknya kakek.Kemudian anak laki-laki nya pamannya bapaknya kakek.Terus kebawah.Kemudian wali hakim(Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan).

[1] المفتاح في النكاح /16-

(الولي في النكاح واحق الأولياء بالتزويج)اولى اللأولياء واحقهم بالتزويج الأب ثم الجد ابو الأب وان علا ثم الأخ الشقيق ثم ثم الأخ لأب ثم ابن الأخ الشقيق ثم ابن الأخ لأب وان سفل ثم العم الشقيق ثم العم لأب ثم ابن العم الشقيق ثم ابن العم لأب وان سفل ثم عم الأب ثم ابنه وان سفل ثم عم الجد ثم ابنه وان سفل ثم عم ابي الجد ثم ابنه وان سفلوهكذا على هذه الترتيب في سائر العصبات، ويقد الشقيق منهم على من كان لأب، فاذا لم يوجد احد من عصبات النسب فالمعتق فعصبته ثم معتق المعتق ثم عصبته ثم الحاكم او نائبه

Kategori
Uncategorized

TAKDIR ALLAH KORELASINYA DENGAN KERIDHO’AN KEDUA ORANG TUA

TAKDIR ALLAH KORELASINYA DENGAN RIDHONYA KEDUA ORANG TUA

Assalamualaikum ustad
Deskripsi masalah

Ada sepasang dua insan yang telah lama menjalin hubungan yaitu Fulanah dan Fulan hingga keduanya mau menikah, namun sangat disayangkan karena orang tuanya Fulan tidak merestuinya, jika garis takdir Fulanah adalah Fulan meski orang tuanya Fulan tidak merestuinya namun antara Fulanah dan Fulan tetap melangsungkan pernikahan walaupun dengan cara kawin lari sehingga keduanya menyatu dikarenakan jodohnya sudah ada nama yang tertera dilauhil Mahfudz.

Pertanyaannya.

Bagaimana cara menyikapi hubungan antara takdir Allah dan ridhoNya kedua orang tua karena menurut keterangan hadits keridho’an Allah bergantung kepada keridho’an kedua orang tua Kalau memang ridlo Allah bergantung kepada ridlonya orang tua, lalu kenapa kok Allah men takdir jadi pasangan hidup (suami istri) pada kasus diatas. Mohon penjelasanya Wahai Kiyai?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Pada dasarnya tidak satu pun manusia yang dapat mengetahui takdir Allah, karena takdir adalah rahasia Allah yang hanya bisa diketahui setelah terjadi, oleh karenanya kita sebagai makhluk Allah dalam menjalani hidup dan kehidupan tidak terlepas dari ketentuan Allah artinya kita hidup hanya menjalani takdir bahkan tidak hanya manusia melaikan setiap sesuatu akan dapat berjalan sesuai dengan qodho’ dan Qodarnya “كل شيئ يجرى بقضائه وقدره”

Dalam agama Islam, takdir ini akan berhubungan dengan takdir muallaq dan takdir mubram, dimana seseorang tidak akan dapat mengetahui takdir sesebagaiman tersebut, kecuali setelah mengalami dan berjuang mengubah hidup sebagaimana takdir mullaq yang bisa jadi berubah dengan usaha dan do’a, karena Allah SWT berfirman Al-Qur’an

 
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
 
Ayat ini sebagai dasar untuk digunakan sebagai ayat motivasi bahwa Allah tidak akan mengubah nasib seseorang menjadi lebih baik kecuali dengan usaha dan jerih payahnya sendiri.

Tafsiran seperti ini bertentangan dengan realitas lapangan. Berapa banyak orang yang berusaha mengubah nasib mereka dengan membanting tulang, kaki di kepala dan kepala di kaki, demi ingin mengubah nasibnya menjadi lebih baik, tapi berapa persen dari mereka yang berhasil?

Ayat Al-Qur’an merupakan sebuah kepastian. Jika diartikan bahwa perubahan nasib menjadi lebih baik di tangan seseorang, tentu tidak akan ada orang gagal dari usahanya. Buktinya tidak demikian. Selain itu, keyakinan bahwa semua kesuksesan dikembalikan kepada pribadi seseorang—baru Allah mengikutinya—merupakan bagian dari doktrin Mu’tazilah. Dalam paham ini, perilaku hamba menentukan segalanya. Tapi berbeda dengan faham kita sebagai penganut Ahli sunnah waljamaah, yang berkewajiban untuk usaha, sedangkan yang mentukan hasil dan tidak itu dilembalikan kepada zat yang mengatur segala sesuatu yaitu Allah. Oleh sebab itu Syaikh Prof. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah beliau menafsiarkan ; Bahwa  bagi setiap manusia itu ada malaikat-malaikat yang mengikutinya untuk menjaga dan memeliharanya. Mereka adalah para malaikat penjaga yang menjaga manusia dengan perintah dan pertolongan Allah, bukan untuk menolak perintahNya. Dan jika terjadi suatu takdir, maka mereka akan lepas darinya. Mereka menghitung amal perbuatannya yang baik dan buruk. Sesungguhnya Allah tidak mengubah kenikmatan atau kesehatan suatu umat, sampai mereka mengubah ketaatan dan kebaikannya sendiri menjadi kemaksiatan dan keburukan. Jika Allah menghendaki suatu azab dan kehancuran bagi suatu umat, maka itu tidak akan bisa ditolak. Dan tidak ada bagi mereka selain Allah seorang penolong yang membantu urusan mereka, yang membimbing mereka menuju kebaikan dan melindungi mereka dari keburukan. Karena itu kita wajib memantapkan keimanan kita terhadap ;Takdir Baik dan Takdir Buruk, bahwa semua yang terjadi itu adalah adalah takdir.

Adapun yang menjadi pertanyaan Mengapa Allah menakdirkan keburukan?

Karena bisa Jadi yang Jelek itu Baik untuk kita

Allah Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Allah yang lebih mengetahui akibat terbaik setiap perkara. Allah yang Mahatahu yang paling maslahat untuk urusan dunia dan akhirat kita. Sedangkan kita sendiri tidak mengetahui yang terbaik dan yang jelek untuk kita. (Tafsir Az-Zahrawain, hlm. 348-349).

Anjurkan untuk berdo’a Agar Semua Takdir Kita itu Baik karena tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali dengan do’a berikut firman Allah dalam Al-Quran. QS. Al Mu’min (40) ayat 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ۝

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.

شرح تعليم المتعلم :ص :٣ ٤ .

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لايرد القدر ) وهو تحديد كل مخلوق بحده الذي يوجد من الحسن والقبيح والنفع والضرر ومايحويه من زمان ومكان ومايترتب عليه من ثواب وعقاب إلى غير ذلك ( إلا الدعاءولايزيد فى العمر إلا بالبر ) أى الإحسان فإن قيل الآجل والأرزاق مقدرة لا تزيد ولاتنقض بالنصوص الدالة عليها فماوجه الحديث أجيب بأن الأشياء قد تكتب فى اللوح المحفوظ متوفقة على الشروط كما إن أحسن فلان فعمره ثلاثون سنة وإلا فخمسون وهو المعنى من قوله تعالى يمحو الله مايشاء ويثبت لكن هذا بالنسبة إلى مايظهر للملائكة فى اللوح المحفوظ لابالنسبة إلى علم الله الأزلى إذ لامحو فيه (فإن الرجل ليُحرم الرزق بالذنب يصيه. ) أى بسب ذنب يرتكبه

Rasulullah SAW. Bersabda: Tidak ada yang dapat mencegah takdir kecuali dengan do’a dan tidak ada yang dapat menambah umur kecuali dengan kebaikan, maka seseorang disempitkan rizkinya disebabkan perbuatan dosa yang menimpanya.

شرح تعليم المتعلم .

فينبغى للإنسان أن لايغفل عن نفسه وما ينفعها ومايضرها فى اولاها وأخراها .فيستجلب مايضرها كيلا يكون عقله وعلمه حجة عليه فيزداد عقوبة نعوذ بالله من سخطه وعقابه وقد ورد فى مناقب العلم وفضائله آيات وأخبار صحيحة مشهورة لم نستغل بذكرها كيلا يطول الكتاب

Artinya;” Maka setiap manusia janganlah sampai lupa dan lengah memikirkan dirinya , mana yang baik dan yang bermanfaat serta yang tidak baik dan mencelakakan bagi dirinya selama hidup didunia, apalagi sampai melupakan kehidupan diakhirat nanti. Untuk itu pandai-pandailah mencari sesuatu yang dapat berguna serta dapat menyelamatkan mu .Cepat-cepalah menghindar dan menjauhi dari sesuatu yang dapat mencelakakan dan merusak dirimu .Agar akal dan ilmunya itu tidak menjadi pedoman yang merusak bagi kepentingan dirinya.Sebab semua itu akan menambah siksa.Semoga kita terjaga dari murka dan siksa Allah SWT.

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَولٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مَنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا

Artinya: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan maupun yang ditunda, apa yang aku ketahui maupun tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang disegerakan maupun yang ditunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu dari kebaikan apa yang diminta oleh hamba dan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang diminta perlindungan oleh hamba dan nabi-Mu. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kepadanya baik berupa ucapan atau perbuatan. Dan aku memohon kepada-Mu semua takdir yang Engkau tentukan baik untukku. (HR. Ibnu Majah, no. 3846 dan Ahmad, 6:133. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Dzikir dan do’a Rasulullah Hadits Nasai Nomor 1325

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْمُسَيَّبِ أَبِي الْعَلَاءِ عَنْ وَرَّادٍ قَالَ كَتَبَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ دُبُرَ الصَّلَاةِ إِذَا سَلَّمَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ

[Nasai]

Dalam riwayat lain

اللَّهُمَّ لأَمَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَى ی الجدّمِنْكَ الجّد

Artinya: “Ya Allah tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang bisa memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak ada yang bisa menolak ketetapan Mu. Tidak berguna kekayaan dan kemulian itu bagi pemiliknya. Hanya dari-Mu kekayaan dan kemulian

Hadits Jibril yang membicarakan tentang rukun iman yaitu Takdir Baik dan Takdir Buruk menyebutkan,

وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim, no. 8).

Menurut sebagian ulama menginterpretasikan bahwa “Takdir itu tidak ada yang buruk. Yang buruk hanya pada yang ditakdirkan (al–maqdur, artinya manusia atau makhluk yang merasakan jelek). Takdir jika dilihat dari perbuatan Allah, semua takdir itu baik. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.’ Jadi, takdir Allah itu selamanya tidak ada yang jelek. Karena ketetapan takdir itu ada karena rahmat dan hikmah. Kejelekan murni itu hanya muncul dari pelaku kejelekan. Sedangkan Allah itu hanya berbuat baik saja selama-lamanya.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 88).

Dalam salah satu doa iftitah yang terdapat dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ.

“Kebaikan itu seluruhnya pada kedua tangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu.” (HR. Muslim, no. 771).

Adapun yang menjadi Musykil bagi penanya Bagaimana cara menyikapi hubungan antara takdir Allah dan ridhoNya kedua orang tua karena menurut keterangan hadits keridho’an Allah bergantung kepada keridho’an kedua orang tua.( Kalau memang ridlo Allah bergantung kepada ridlo orang tua, lalu kenapa kok Allah men takdirkan kepada seseorang jadi pasangan hidup (suami istri) ..?

Saya coba jawab dari sudut pandang saya bahwa ada beberapa hal yang bisa kita tentukan sendiri dan ada juga berapa hal yang tidak bisa kita tentukan, yang biasa kita sebut sebagai takdir. seperti kita lahir sebagai pria atau wanita atau si Fulan lahir dari keluarga yang bukan keturunan Kiyai ataupun sultan, dll. Walaupun dia ( Fulan) tidak menginginkan menjadi kiyai atau nyai sedangkan orang tuanya tidak menyetujui untuk menjadi kiyai atupun Nyai tetapi Allah mentakdirkan menjadi kiyai ataupun ibu nyai tentu hal itu pasti terjadi itulah yang disebut dengan Nasib atau bagian dari takdir yang tentunya masing-masing dari individu tidak sama kecuali apa yang telah ditakdirkan oleh Allah. Begitu juga halnya Allah mentakdirkan kepada seseorang menjadi pasangan hidup (suami istri) walaupun orang tuanya tidak meridhoinya itupun pasti terjadi kok bisa ? Katanya keridha’an Allah berada pada keridho’an kedua orang tua, saya jawab Karena sesungguhnya sesuatu yang tertulis berada dilauh mahfudh terkadang ditangguhkan menunggu adanya beberapa syarat, misalkan kehendak orang tuanya bisa tercapai ( tidak meridhoinya) dengan syarat bilamana bersamaan dengan kehendak Allah atau do’a atau dengan syarat lainnya yang tidak kita ketahui, dan sebaliknya jika tidak ridho’nya orang tua bersamaan dengan tidak adanya ridho nya Allah maka pernikahan itu tidak akan terjadi . Begitu juga halnya seseorang yang punya cita-cita ingin memeluk gunung apa daya tangan tak sampai maka itupun tidaklah mungkin bisa tercapai , oleh karena itu Hadapilah masalah dengan kepala dingin, jangan takut, jangan gelisah, jangan pula bersedih karena masalah itu terjadi atas rencana dan takdir Allah. Sebagaimana Orang bijak mengatakan :

أنت تريد وأنا أريد ولكن الله فعال لمايريد

Kau punya rencana dan akupun punya rencana namun Allah merealisasikan rencana-Nya.

Yakinlah bahwa rencana Allah adalah yang terbaik untuk kita karena Allah yang Maha mengetahui hakikat dari kejadian yang menimpa kita yang sudah tertera dan nampak bagi malaikat didalam Lauh mahfudh inilah makna dari firman Allah

.وهو المعنى من قوله تعالى يمحو الله مايشاء ويثبت لكن هذا بالنسبة إلى مايظهر للملائكة فى اللوح المحفوظ لابالنسبة إلى علم الله الأزلى إذ لامحو فيه

Artinya:” Inilah makna firman Allah Yang Maha Kuasa: Allah menghapuskan dan menetapkan apa saja yang dikehendaki-Nya, tetapi ini dengan dinisbatkan berkaitan dengan apa yang tampak pada para malaikat dalam Lauh Mahfudh bukan Yang dinisbarkan atau yang berkaitan dengan ilmu Allah yang Azali/abadi , karena tidak terhapus di dalamnya

Akan tetapi jika Allah menghedaki takdirnya kepada pasangan suami istri pasti pernikahan itu terjadi walaupun orang tuanya tidak menyetujuinya ini jika dinisbatkan kepada ilmu Allah dizaman Azali yang tidak bisa dirubah atau dihapus. Karena ketidak setujuannya orang tua itu juga bagian takdir begitu juga terjadinya akad nikah juga bagian dari takdir. Karena bagaimapun juga setiap sesuatu itu berjalan bersamaan dengan qodho’ dan qodarnya Allah.( Lihat syarah Taklimul mutaallim : 34 )

Dengan kata lain kehendak orang tua bisa tercapai bila mana bersamaan dengan kehendak Allah. Dalam arti tidaklah akan tercapai kehendak orang tua kecuali dengan kehendak Allah

Bukti tidaklah sedikit orang menikah tidak disetujui oleh orang tua akan tetapi jika Allah sudah mentakdir pasti itu terjadi begitu juga orang tua meridhoinya untuk menikahkan seseorang anaknya tapi bukan jodohnya maka pasti berpisah itu adalah takdir ( kehendak Allah yang ditakdirkan bagi seseorang untuk berpisah atau Allah mentakdirkan kepada seseorang menjadi jodoh) oleh karenanya jika Allah berkehendak pasti ada tetapi jika tidak berkehendak pastilah tidak akan ada hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. sebagaimana ibaroh yang ditebalkan.

التفسير المنير للزحيلى ص ٤٤٤٦
{وَقَضى رَبُّكَ أَلاّ تَعْبُدُوا إِلاّ إِيّاهُ} إلى هنا، كان سيئه أي قبيحه مكروها عند ربك، أي مبغوضا عنده، ومنهيا عنه، ومعاقبا عليه، وإن كان مرادا له تعالى بالإرادة التكوينية التي لا تستدعي الرضا منه سبحانه، كما
قال صلّى الله عليه وآله وسلّم : «ما شاء الله كان، وما لم يشأ لم يكن».
وكلمة {ذلِكَ} تصلح للواحد والجمع والمؤنث

Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Takwir

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29)

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.

التفسير ابن كثير

( وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين ) أي ليست المشيئة موكولة إليكم فمن شاء اهتدى ومن شاء ضل بل ذلك كله تابع لمشيئة الله عز وجل رب العالمين
قال سفيان الثوري عن سعيد بن عبد العزيز عن سليمان بن موسى لما نزلت هذه الآية ( لمن شاء منكم أن يستقيم ) قال أبو جهل الأمر إلينا إن شئنا استقمنا وإن شئنا لم نستقم فأنزل الله ( وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين ) .
آخر تفسير سورة التكوير ولله الحمد

تفسير المنير للزحيلي١١٠٢

وإن أصاب المسلمين شر كجدب أو تغلب الأعداء عليهم-لحكمة إلهية في ذلك كما جرى يوم أحد-فرح المنافقون بذلك. ويلاحظ‍ فرق التعبير البلاغي في القرآن بين جملتي: مس الحسنة وإصابة السيئة، فهم يستاءون عند أدنى مس للحسنة، ولا يفرحون حتى تتمكن الإصابة بالسيئة.
ولكن الله تعالى ذكر للمؤمنين العلاج الناجع، وأرشدهم إلى السلامة من شر الأشرار، وكيد الفجار، وهو استعمال الصبر، والتقوى، والتوكل على الله الذي هو محيط‍ بأعدائهم، فلا حول ولا قوة لهم إلا به، وهو الذي ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن، ولا يقع في الوجود شيء إلا بتقديره ومشيئته، ومن توكل عليه كفاه.

تفسير المنير للزحيلي٥٥٨٩-٥٥٩٠

٤ – {وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً} أي أوجد كل شيء مما سواه، وأحدثه إحداثا راعى فيه التقدير بقدر معين والتسوية بشكل محدد، وهيأه لما يصلح له من الخصائص والأفعال اللائقة به، فالإنسان مثلا خلقه الله بشكل مقدر مسوّى في أحسن تقويم، وأوجد فيه من الحواس والطاقات والإمكانات للإدراك والفهم، والنظر والتدبير، واستنباط‍ الصنائع، ومزاولة الأعمال المختلفة، وكذلك الحيوان والجماد جاء به على خلقة مستوية مقدرة، مطابقة لما يراه من الحكمة والمصلحة والتدبير، ولما قدر له غير منافر أو متجاف عنه. والخلاصة: أنه قدر كل شيء مما خلق بحكمته على ما أراد.
وفسّر ابن كثير الجملة الأخيرة بأن كل شيء مخلوق مربوب لله، والله هو خالق كل شيء وربه ومليكه وإلهه، وكل شيء تحت قهره وتدبيره وتسخيره وتقديره.
وبعد أن وصف الله تعالى نفسه بصفات الجلال والعزة والعلو، أردف ذلك بتزييف مزاعم عبدة الأوثان فقال:
{وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً.}. إلى قوله: {وَلا نُشُوراً} والمعنى أن تلك الآلهة المزعومة لا تستحق الألوهية لنقصانها من وجوه أربعة هي.

أ-أنها لا تخلق شيئا، والإله يجب أن يكون قادرا على الخلق والإيجاد.
ب-أنها مخلوقة، والمخلوق محتاج، والإله يجب أن يكون غنيا عن غيره.
ولما اعتقد المشركون في أصنامهم أنها تضرّ وتنفع عبّر عنها بقوله: {وَهُمْ يُخْلَقُونَ} كما يعبر عن العقلاء.
ج‍ -أنها لا تملك لأنفسها ضرا ولا نفعا، أي لا دفع ضرر ولا جلب نفع، فلا تملك ذلك لغيرها، ومن لا يملك لنفسه ولا لغيره النفع ودفع الضرر لا فائدة في عبادته.
د-أنها لا تملك موتا ولا حياة ولا نشورا، أي لا تقدر على الإماتة والإحياء المبتدأ والمعاد في زماني التكليف والجزاء، ومن كان كذلك كيف يسمى إلها؟ بل ذلك كله مرجعه إلى الله عزّ وجلّ الذي هو يحيي ويميت، وهو الذي يعيد الخلائق يوم القيامة، كما قال سبحانه: {ما خَلْقُكُمْ وَلا بَعْثُكُمْ إِلاّ كَنَفْسٍ واحِدَةٍ} [لقمان ٢٨/ ٣١].
والخلاصة: أن الله هو الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفوا أحد، لا إله غيره، ولا ربّ سواه، ولا تنبغي العبادة إلا له، لأنه ما شاء كان، وما لم يشأ لم يكن. وأما عبدة الأصنام والمشركون فقد عبدوا غير الخالق، الذي لا يملك لنفسه ولا لغيره ضرا ولا نفعا، ولا يقبل بهذا عاقل متزن، أو عالم متأمل.

Dari keterangan diatas yaitu tentang takdir dapat disimpulkan baik melalui hadits maupun Ayat-ayat Al-Quran bahwa semua takdir itu baik karena didalamnya ada hikmah di balik itu. Hanya Yang merasakan jelek adalah kita. Sedangkan Allah itu sama sekali tidak berbuat jelek karena takdir Allah tidak kejam, bukti bahwa takdir Allah itu baik sebagaimana hadits berikut:
 
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَقْضِي لِلْمُؤْمِنِ قَضَاءً إِلَّا كَانَ خَيْرًا لَهُ.

Artinya: “Aku begitu takjub pada seorang mukmin. Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melainkan pasti itulah yang terbaik untuknya.” (HR. Ahmad, 3:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini sahih).Wallahu A’lam bisshowab