logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 166 : HUKUM SHOLAT TANPA PENUTUP BAHU (TANPA BAJU)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 166 :

وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( لَا يُصَلِّي أَحَدُكُمْ فِي اَلثَّوْبِ اَلْوَاحِدِ لَيْسَ عَلَى عَاتِقِهِ مِنْهُ شَيْءٌ )

Menurut riwayat Bukhari-Muslim dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu beliau bersabda: Janganlah seseorang di antara kamu sholat dengan memakai selembar kain yang sebagian dari kain itu tidak dapat ditaruh di atas bahunya.

MAKNA HADITS :

Menutup bagian atas tubuh dalam sholat, sekalipun tidak termasuk aurat, merupakan salah satu sikap untuk mengagungkan dan memuliakan Allah. Barang siapa mengerjakan sholat dengan bagian atas tubuh dibiarkan terbuka, maka sholatnya tetap sah, walaupun dimakruhkan. Inilah pendapat jumhur ulama. Dalam kaitan ini, Imam Ahmad memiliki dua pendapat. Riwayat paling kuat adalah pendapat yang mengatakan sah dan larangan ini menunjukkan hukum makruh, bukan hukum haram.

FIQH HADITS :

Dilarang sholat memakai kain sekiranya pada bagian bahu seseorang itu tidak ada yang menutupi.

Imam al-Syafi’i, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan, larangan ini menunjukkan hukum makruh. Mereka mengemukakan
dalil untuk memperkuat pendapatnya dengan hadis Jabir no. 165 di atas. Jika seseorang mengerjakan sholat dengan hanya memakai kain yang menutup auratnya saja tanpa mengenakan sehelai kain pun pada bahunya, maka sholatnya tetap sah, tetapi itu makruh, baik dia mampu memakaikan kain pada bahunya ataupun tidak.

Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tidak sah jika dia mampu memakaikan sehelai kain pada bahunya, kerana berlandaskan kepada makna dzahir hadis di atas. Sedangkan riwayat lain menurut Imam Ahmad mengatakan, sholat seseorang itu tetap sah, tetapi dia berdosa karena enggan memakai kain
pada bagian bahunya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 165 : KESEMPURNAAN MENUTUP AURAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 165 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَهُ ( إِنْ كَانَ اَلثَّوْبُ وَاسِعًا فَالْتَحِفْ بِهِ ) – يَعْنِي فِي الصَّلَاةِ – وَلِمُسْلِمٍ ( فَخَالِفْ بَيْنَ طَرَفَيْهِ – وَإِنْ كَانَ ضَيِّقًا فَاتَّزِرْ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: Apabila kain itu lebar maka berkerudunglah dengannya -yakni dalam sholat.- Menurut riwayat Muslim: Maka selempangkanlah di antara dua ujungnya dan apabila sempit maka bersarunglah dengannya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Hukum menutup aurat di dalam sholat adalah wajib. Diperbolehkan sholat dengan memakai sehelai kain dan seseorang tidak disyaratkan memakai dua helai kain (pakaian) ketika mengerjakan sholat. Ini merupakan salah satu kemudahan dalam Islam. Namun apabila kain yang dipakai itu sempit (tidak lebar), maka hendaklah seseorang yang memakainya menjadikannya sebagai kain sarung untuk menutup auratnya dan aurat lelaki itu ialah antara pusat hingga kedua lutut. Jika kain itu lebar, maka hendaklah dia melipat kedua tepinya secara bersilang untuk menutup bagian atas tubuh.

FIQH HADITS :

Boleh mengerjakan sholat dengan memakai sehelai kain. Jika kain tersebut lebar, maka selebihnya hendaklah dilipat ke atas bagian tubuh secara bersilang pada
kedua ujungnya sesudah bersarung dengannya. Apabila kain itu sempit (tidak lebar), maka cukuplah dipakai untuk bersarung agar menutupi auratnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 164 : BATASAN AURAT WANITA DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 164 :

وَعَنْ عَائِشَةَ عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَا يَقْبَلُ اَللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Allah tidak akan menerima sholat seorang perempuan yang telah haid (telah baligh kecuali dengan memakai kerudung. Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menjelaskan seorang wanita mengerjakan sholat mestilah menutup kepala, leher dan seluruh tubuhnya, kerana semua itu merupakan aurat baginya. Jika dia mengerjakan sholat dalam keadaan tubuh terbuka, maka sholatnya batal (tidak sah). Inilah yang dimaksudkan dengan sabda Rasulullah (s.a.w): “Allah tidak akan menerima solatnya” dalam hadis di atas.

Maksud haid di sini bukanlah makna yang sebenarnya, sebab wanita yang sedang haid jelas tidak dibolehkan sholat. Maksudnya ialah ungkapan al-mubalaghah, kerana haid merupakan salah satu bukti seorang wanita itu telah berusia baligh.

FIQH HADITS :

1. Wanita ketika mengerjakan sholat wajib menutup kepala, leher dan seluruh anggota tubuhnya yang lain sejauh yang terjangkau oleh kerudung.

2. Antara wanita merdeka dengan wanita sahaya wujud persamaan dimana mereka sama-sama diwajibkan menutup aurat ketika dalam sholat berdasarkan
perkataan haid yang bersifat umum di dalam hadis itu.

3. Jumhur ulama membedakan antara aurat wanita merdeka dengan wanita sahaya dimana aurat wanita sahaya adalah dari pusat hingga kedua lutut dan ini berlaku di luar sholat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin

Kategori
Uncategorized

S056. HUKUM MEMUTUS FATIHAH DENGAN KALIMAT “AMIIN” KARENA MANJAWAB AMIN-NYA IMAM

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah :
Jika seseorang berjamaah (Jadi makmum) ketika imam baca fatihah dan belum selesai dari fatihnya, lalu makmum menyusul baca juga fatihah (bersamaan dengan imam) tetapi sebelum selesai fatihahnya sang imam sudah duluan selesai baca fatihah dan imam baca آمين.

Pertanyaannya:
Bolehkah makmum berhenti baca fatihah dengan tujuan untuk membaca آمين bersamaan dengan آمين-Nya imam dan apakah tidak termasuk memutus fatihah?

JAWABAN :

وعلكيم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh dan tidak membatalkan fatihah.

منهاج القويم ص : ٤٠

فتنقطع الفاتحة بالسكوت الطويل ان تعمده أو ان طان يسيرا وقصد به قطع القرأة وبالذكر إن كان ناسيا والا إذا سن في الصلاة كالتأمين والتعوذ وسؤال الرحمة وسجود اتلاوة لقراءة امامه والرد عليه والتعوذ من العذاب وسؤال الرحمة عند قرائة آياتهما منه أو من امامه

Maka bacaan fatihah itu terputus dengan diam yang lama apabila dia melakukannya dengan sengaja atau sebentar, akan tetapi dia berniat memutus bacaan dan juga terputus dengan dzikir kecuali apabila dia lupa. Apabila tidak, maka tidak apa2 selagi dzikir tersebut termasuk dzikir yang disunnahkan didalam sholat seperti membaca امين، ta’awwud, meminta rahmat, sujud tilawah karena bacaan imam dan menjawabnya.

Membaca “Aamiin” setelah selesai membaca surahal-Fatihah, baik ketika dalam shalat ataupun di luar shalat, baik sedang menjadi imam, makmum, ataupun sahalat sendirian, merupakan hal yang dianjurkan (sunnah) dalam syari’at Islam. Dan pembacaan amin ini sangatlah dianjurkan ketika dalam keadaan shalat, terlebih ketika sedang menunaikan shalat dengan berjamaah maka pembacaan amin ini lebih utama dibaca oleh makmum bersamaan dengan aminnya sang imam shalat dengan tujuan agar mencocoki aminnya para malaikat sebagaimana dalam sebuah riwayat disebutkan :

إذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوافَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَاتَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya : “Apabila imam membaca amin maka aminlah kaliansemua, karena sesungguhnya barangsiapa yang aminnya mencocoki aminnya paramalaikat maka dosa yang telah lalu baginya akan diampuni”. (HR. BukhariMuslim)

Ya benar demikian, akan tetapi membaca amin ketika dirinya sedang tidak membaca surah al-Fatihah, atau mendengar bacaan dari selain imamnya danatau orang lain, baik dalam keadaan shalat ataupun di luar shalat, hal ini terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Menurut kalangan Hanafiyyah yang merupakan sebagian dari pandangan kalangan Malikiyyah dan pendapat lemah bagiminoritas Syafi’iyyah, adalah sunnah membaca amin. Sedangkan pendapat yangmu’tamad bagi mayoritas Syafi’iyyah yang juga merupakan sebagian dari pandangan kalangan Malikiyyah, adalah tidak dianjurkan (tidak sunnah) membaca amin, sebagaimana pendapat Aliy al-Syibramulsiy yang dikutip oleh al-Bujairamiy, bahwa tidak disunnahkan membaca amin bagi selain bacaan dirinya sendiri atauimamnya, baik di dalam shalat ataupun di luar shalat.

Selanjutnya, apabila berangkat dari pendapat yang menganjurkan membaca amin; bilamana amin tersebut dibaca ketika mushalliy (orang yang shalat) sedang membaca surah al-Fatihah atau di tengah-tengah bacaan fatihahnya, maka demikian tidak dianggap memutus kesinambungan pembacaan surahal-Fatihah. Dan sebaliknya, apabila berangkat dari pendapat ulama yang tidak merekomendasikan hukum sunnah dalam hal ini maka demikian dianggap memutus kesinambungan pembacaan surah al-Fatihah, dan wajib baginya untuk mengulangi membaca surahal-Fatihah dari awal. Dan akan tetapi mengenai amin tersebut (bacaan aminkarena mendengar bacaan surah al-Fatihah dari selain imamnya, atau orang lain), ketika mushalliy tidak sedang membaca surah al-Fatihah meskipun berangkat dari ulama yang tidak menganjurkannya, membacanya tidak membatalkan shalat karena “Aamiin” itu merupakan lafazd yang bermakna doa (menurut qaul ashah), sedangkan shalat itu tidak batal sebab sebuah do’a meskipun do’a tersebutmanfaatnya tidak kembali kepada orang yang berdoa, melainkan untuk orang lain.

حاشية الجمل ج 1 ص 355-356 | موقعالإسلام

(وَ) سُنَّ (فِي جَهْرِيَّةٍ جَهَرَبِهَا) لِلْمُصَلِّي حَتَّى لِلْمَأْمُومِ لِقِرَاءَةِ إمَامِهِ تَبَعًا لَهُ(وَأَنْ يُؤَمِّنَ) الْمَأْمُومُ (مَعَ تَأْمِينِ إمَامِهِ) لِخَبَرِالشَّيْخَيْنِ [إذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَتَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ]وَلِأَنَّ الْمَأْمُومَ لَا يُؤَمِّنُ لِتَأْمِينِ إمَامِهِ بَلْ لِقِرَاءَتِهِالْفَاتِحَةَ وَقَدْ فَرَغَتْ فَالْمُرَادُ بِقَوْلِهِ إذَا أَمَّنَ الْإِمَامُإذَا أَرَادَ التَّأْمِينَ وَيُوضِحُهُ خَبَرُ الشَّيْخَيْنِ [إذَا قَالَالْإِمَامُ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} فَقُولُواآمِينَ] فَإِنْ لَمْ يَتَّفِقْ لَهُ مُوَافَقَتُهُ أَمَّنَ عَقِبَ تَأْمِينِهِوَإِنْ تَأَخَّرَ إمَامُهُ عَنْ الزَّمَنِ الْمَسْنُونِ فِيهِ التَّأْمِينُأَمَّنَ الْمَأْمُومُ وَخَرَجَ بِزِيَادَتِي فِي جَهْرِيَّةٍ السِّرِّيَّةُ فَلَاجَهْرَ بِالتَّأْمِينِ فِيهَا وَلَا مَعِيَّةَ بَلْ يُؤَمِّنُ الْإِمَامُ وَغَيْرُهُسِرًّا مُطْلَقًا. إهـ

(قَوْلُهُ مَعَ تَأْمِينِ إمَامِهِ)أَيْ: لَا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ وَشَمِلَ ذَلِكَ مَا لَوْ وَصَلَ التَّأْمِينَبِالْفَاتِحَةِ بِلَا فَصْلٍ وَهُوَ كَذَلِكَ وَلَيْسَ فِي الصَّلَاةِ مَا تُسَنُّفِيهِ الْمُقَارَنَةُ غَيْرُهُ ا هـ شَرْحُ م ر. (قَوْلُهُ أَيْضًا مَعَ تَأْمِينِإمَامِهِ) يَخْرُجُ مَا لَوْ كَانَ خَارِجَ الصَّلَاةِ فَسَمِعَ قِرَاءَةَغَيْرِهِ مِنْ إمَامٍ أَوْ مَأْمُومٍ فَلَا يُسَنُّ لَهُ التَّأْمِينُ ا هـ ع شعَلَى م ر. (قَوْلُهُ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَالْمَلَائِكَةِ إلَخْ) أَيْ وَمَعْلُومٌ مِنْ حَدِيثٍ آخَرَ [أَنَّ الْمَلَائِكَةَتُؤَمِّنُ مَعَ تَأْمِينِ الْإِمَامِ] فَيَكُونُ الدَّلِيلُ مُنْتِجًالِلْمُدَّعَى. اهـ

الموسوعة الفقهية الكويتية ج 1 ص 112| موقع الإسلام

ارتباط التأمين بالسماع

اتفقت المذاهب الأربعة على أنه يسنالتأمين عند سماع قراءة الإمام، أما إن سمع المأموم التأمين من مقتد آخر فللفقهاءفي ذلك رأيان الأول: ندب التأمين، وإليه ذهب الحنفية، وهو قول للمالكية وقول مضعفللشافعية الثاني: لا يطلب التأمين، وهو المعتمد عند الشافعية والقول الآخرللمالكية، ولم نقف على نص للحنابلة في هذا. إهـ

فتح المعين بشرح قرة العين و إعانةالطالبين على حل ألفاظ فتح المعين ج 1 ص 141-142 | دار إحياء الكتب العربية

(و) مَعَ رِعايَةِ (مُوالاةٍ) فيهابأن يأتي بِكلِماتِها على الوَلاءِ بأن لا يَفْصُلَ بينَ شيءٍ منها وما بَعْدَهُ بأكثَر من سَكْتَةِ التَّنَفُّسِ أوِ العَيّ، (فَيُعِيدُ) قِراءَةُ الفاتِحَةِ،(بِتَخَلُّلِ ذِكْرٍ أَجْنَبِيّ) لا يَتَعَلَّقُ بالصَّلاةِ فيها، وإن قَلَّ، كَبَعْضِآيَةٍ من غَيْرِها، وكَحَمْدِ عاطِسٍ ـ وإن سُنَّ فيها كخارِجِها ـ لإِشعارِهِ بالإِعراضِ. (لا) يعيدُ الفاتِحَةَ (بـ) ــــتَخَلُّل ما له تَعَلُّقٌ بالصَّلاةِ، كـ (ـتأمِينٍ وسُجودٍ) لتلاوَةِ إمامِهِ معه، (ودُعاءٍ) من سُؤالِ رَحْمَةٍ،واستعاذَةٍ من عَذابٍ، وقولُ: بَلَى وأنا على ذلِكَ من الشَّاهِدينَ (لِقِراءَةِإمامِهِ) الفاتِحَةَ أو آيَةَ السَّجدَةِ، أو الآيةَ التي يُسَنّ فيها ما ذُكِرَلِكُلَ مِن القارِىءِ والسَّامِع، مَأموماً أو غيرَه، في صَلاةٍ وخارِجِها. فلوقَرأَ المُصَلِّي ـ آيةً ـ أو سَمِعَ آيةً ـ فيها اسمُ مُحَمَّدٍ لم تُنْدَبالصَّلاةُ عليه، كما أفتى به النووي. إهـ

Bacaan fatihah yang bersaamaan dengan imam hukumnya makruh, sedangkan bacaan آمين yang bersaamaan dengan imam adalah sangat dianjurkan bahkan hukumnya sunnah. Dengan alasan karena jika makmum bersamaam Aamin-nya dengan Imam dan malaikatpun juga baca Aamiin maka dosanya diampuni oleh Allah swt. Sebagaimana dijelas dalam hadits yang dhahih.

Referensi :

فقه السنة ص ١٤٣

ويستحب للمأموم أن يوافق الامام، فلا يسبقه في التأمين ولا يتأخر عنه فعن أبي هريرة: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إذا قال الامام: غير المغضوب عليهم ولا الضالين، فقولوا: آمين، فإن من وافق قوله قول الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه) رواه البخاري.
وعنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا قال الامام (غير المغضوب عليهم ولا الضالين) فقولوا آمين (1) فإن الملائكة يقولون: آمين وإن الامام يقول: آمين، فمن وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه) رواه أحمد وأبو داود والنسائي.

وعنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (إذا أمن الامام فأمنوا فإن من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه) رواه الجماعة.
وبيان هذا في الحديث الاخر (أن الامام يقول آمين) إلى آخر الحديث.
(1) قال الخطابي: معنى قوله صلى الله عليه وسلم: (إذا قال الامام ولا الضالين) فقولوا (آمين) : أي مع الامام، حتى يقع تأمينكم وتأمينه معا.
وأما قوله: (إذا أمن أمنوا) فانه لا يخالفه ولا يدل على أنهم يؤخرونه عن وقت تأمينه، وإنما هو كقول القائل: إذا رحل الامير فارحلوا: يعني إذا أخذ الامير في الرحيل فتهيأوا للارتحال، لتكون رحلتكم مع رحلته.

Dalam ibarah yang lain disebutkan sebagai berikut :

مرقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق

…………………(إلا التأمين) فإن المقارنة فيه مندوبة

“Dan dimakruhkan bersamaan bacaan dengan imam kecuali bacaan Aamiin maka sunnah (bersamaan dengan imam).

ومن شروط الفاتحة الأول الترتيب الثانى الموالاة بأن لا يأتي بفاصل فإن تخلل ذكر أجنبي غير متعلق بالصلاة ولو قليلا كحمد عاطس وإن سن خارجها وكإحابة المؤذن قطع الموالاة فيعيد القراءة ولاتبطل الصلاته ومثل ذلك الصلاة على النبي وقول لا إله إلا الله

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 163 : KELUAR ANGIN DARI DUBUR TERMASUK BATALNYA SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 163 :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ طَلْقٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا فَسَا أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَلْيَنْصَرِفْ وَلْيَتَوَضَّأْ وَلْيُعِدْ اَلصَّلَاةَ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu kentut dalam sholat maka hendaknya ia membatalkan sholat berwudlu dan mengulangi sholatnya. Riwayat Imam Lima. Shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

sesuatu yang keluar dari salah satu dua kemaluan adalah membatalkan wuduk. Ini merupakan ijmak ulama. Oleh karena itu, sholat pun menjadi batal karenanya.

FIQH HADITS :

1. Keluar angin dari dubur membatalkan wuduk dan kemudian diqiaskan kepadanya segala yang keluar dari dua jalan (qubul dan dubur).

2. Sholat batal disebabkan keluarnya angin (hadas) dan wajib mengulangi lagi sholatnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

P009. PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL

Puasa Syawal berjumlah enam hari.

Pelaksanaannya boleh dilakukan sekaligus atau enam hari berturut-turut, boleh juga tidak berturut-turut atau dicicil, yang penting hingga akhir Syawal jumlahnya enam hari.

Sedangkan tata cara dan niat serta hukum berpuasa Syawal adalah seperti ini.

Untuk niat puasa Syawal, ulama berbeda pendapat perihal ta‘yin.

Sebagian ulama menyatakan bahwa seseorang harus mengingat ‘puasa sunah Syawwal’ saat niat di dalam batinnya. Sedangkan sebagian ulama lain menyatakan bahwa tidak
wajibta’yin. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitamisebagai berikut.

( ﻭْﻟُﻪُ ﻧَﻌَﻢْ ﺑَﺤَﺚَ ﺇﻟَﺦْ ‏) ﻋِﺒَﺎﺭَﺓُ ﺍﻟْﻤُﻐْﻨِﻲ ﻭَﺍﻟﻨِّﻬَﺎﻳَﺔِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺳْﻨَﻰ ﻓَﺈِﻥْ ﻗِﻴﻞَ ﻗَﺎﻝَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺠْﻤُﻮﻉِ
ﻫَﻜَﺬَﺍ ﺃَﻃْﻠَﻘَﻪُ ﺍﻟْﺄَﺻْﺤَﺎﺏُ ﻭَﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺍﺷْﺘِﺮَﺍﻁُ ﺍﻟﺘَّﻌْﻴِﻴﻦِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡِ ﺍﻟﺮَّﺍﺗِﺐِ ﻛَﻌَﺮَﻓَﺔَ
ﻭَﻋَﺎﺷُﻮﺭَﺍﺀَ ﻭَﺃَﻳَّﺎﻡِ ﺍﻟْﺒِﻴﺾِ ﻭَﺳِﺘَّﺔٍ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺮَﻭَﺍﺗِﺐِ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﺃُﺟِﻴﺐُ ﺑِﺄَﻥَّ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡَ ﻓِﻲ
ﺍﻟْﺄَﻳَّﺎﻡِ ﺍﻟْﻤَﺬْﻛُﻮﺭَﺓِ ﻣُﻨْﺼَﺮِﻑٌ ﺇﻟَﻴْﻬَﺎ ﺑَﻞْ ﻟَﻮْ ﻧَﻮَﻯ ﺑِﻪِ ﻏَﻴْﺮَﻫَﺎ ﺣَﺼَﻞَ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻛَﺘَﺤِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ؛
ﻟِﺄَﻥَّ ﺍﻟْﻤَﻘْﺼُﻮﺩَ ﻭُﺟُﻮﺩُ ﺻَﻮْﻡٍ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺍ ﻫـ ﺯَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺨُﻨَﺎ ﻭَﺑِﻬَﺬَﺍ ﻓَﺎﺭَﻗَﺖْ ﺭَﻭَﺍﺗِﺐَ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﺍ ﻩ

Artinya, “Perkataan ‘Tetapi mencari…’ merupakan ungkapan yang digunakan di Mughni, Nihayah, danAsna. Bila ditanya, Imam An-Nawawi berkata di Al-Majmu‘, ‘Ini yang disebutkan secara mutlak oleh ulama Syafi’iyyah.

Semestinya disyaratkan ta’yin (penyebutan nama puasa di niat) dalam puasa rawatib
seperti puasa ‘Arafah, puasa Asyura, puasa bidh (13,14, 15 setiap bulan Hijriyah), dan puasa enam hari Syawwal seperti ta’yin dalam shalat rawatib’.

Jawabnya, puasa pada hari-hari tersebut sudah diatur berdasarkan waktunya.
Tetapi kalau seseorang berniat puasa lain di waktu-waktu tersebut, maka ia telah mendapat keutamaan sunah puasa rawatib tersebut.

Hal ini serupa dengan sembahyang tahiyyatul masjid. Karena tujuan dari perintah puasa rawatib itu adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri terlepas apapun niat puasanya. Guru kami menambahkan, di sinilah bedanya puasa rawatib dan sembahyang rawatib,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al- Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj)

Untuk memantapkan hati, ulama menganjurkan seseorang untuk melafalkan niatnya.

Berikut ini lafal niat puasa Syawal.

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﻮَّﺍﻝِ ﻟِﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhita‘âlâ. Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal esok hari karena Allah SWT.”

Adapun orang yang mendadak di pagi hari ingin mengamalkan sunnah puasa Syawal, diperbolehkan baginya berniat sejak ia berkehendak puasa sunnah.

Karena kewajiban niat di malam hari hanya berlaku untuk puasa wajib. Untuk puasa sunah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,

من ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa
enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun
penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, ”Para ulama madzhab
Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan
puasa syawal secara berturut-turut sehari setelah shalat ’Idul
Fitri.

Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir
Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa
syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.
Karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari
Syawal setelah Ramadhan.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 51)

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Kebanyakan ulama tidak memakruhkan puasa pada tanggal 2 Syawal yaitu sehari setelah Idul Fitri.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 385).

Syaikh Muhammad bin Rosyid Al Ghofiliy berkata, “Yang lebih utamaadalah memulai puasa Syawal sehari setelah Idul Fithri.

Ini demi kesempurnaan dan menggapai keutamaan. Hal ini supaya mendapatkan keutamaan puasa segera mungkin sebagaimana disebutkan dalam dalil sebelumnya.

Namun, sah-sah saja puasa Syawal tidak dilakukan di awal-awal bulan Syawal karena menimbang mashalat yang lebih besar. Allah Ta’ala pun berfirman,

ﻟَﺎ ﻳُﻜَﻠِّﻒُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286).” (Ahkam Maa Ba’da
Ash Shiyam, hal. 167).

Semoga Allah memudahkan kita menjalankan ibadah puasa
enam hari di bulan Syawal sehingga bisa meraih keutamaan
puasa setahun.

Aamiin Ya Robbal’alamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 162 : KEUTAMAAN DO’A SETELAH ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 162 :

وَعَنْ جَابِرٍ- رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ- أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ اَلنِّدَاءَ : اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ اَلدَّعْوَةِ اَلتَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ اَلْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا اَلْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا اَلَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ.

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengar adzan berdoa: Allaahumma robba haadzihi da’watit taammati was sholaatil qooimati aati Muhammadanil washiliilata wal fadliilata wab ‘atshu maqooman mahmuudal ladzi wa’adtahu (artinya: Ya Allah Tuhan panggilan yang sempurna dan sholat yang ditegakkan berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangunkanlah beliau dalam tempat yang terpuji seperti yang telah Engkau janjikan) maka dia akan memperoleh syafaat dariku pada hari Kiamat.” Dikeluarkan oleh Imam Empat.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) memberitahukan tentang do’a yang boleh mendatangkan kebaikan berlimpah bagi orang yang senantiasa membacanya sesudah azan. Waktu sesudah azan merupakan antara waktu dimana do’a dimakbulkan dan rahmat turun dari langit kepada hamba-hamba Allah (s.w.t).

Memandangkan Nabi (s.a.w) adalah pembimbing agung kita yang seandainya tanpanya niscaya kita tidak tahu bagaimana kita mengerjakan sholat, maka baginda berhak memiliki keutamaan terbesar di atas jasanya ini. Oleh sebab itu, kita wajar mendo’akan baginda secara khusus berupa memohon wasilah, keutamaan, derajat yang tinggi, dan kedudukan yang terpuji untuk menunaikan hak kita ke atas tanggung jawab yang baginda lakukan ke atas kita.

Dengan demikian, makin
bertambahlah kesempurnaan baginda di atas kesempurnaan.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan berdo’a setelah azan dikumandangkan dengan kalimat-kalimat yang telah disebutkan dalam hadis tersebut. Membaca do’a itu boleh membawa kepada kebaikan yang besar dan kelak orang yang membacanya akan beroleh syafaat.

2. Berita gembira dengan husnul khatimah bagi orang yang gemar membaca do’a ma’tsur (yang dianjurkan oleh Nabi (s.a.w).

3. Disyari’atkan mendo’akan orang yang lebih utama agar orang yang
mendo’akannya turut memperoleh manfaat yang besar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 161 : ANTARA ADZAN DAN IQAMAH ADALAH WAKTU ISTIJABAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 161 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Doa antara adzan dan iqomah itu tidak akan ditolak.” Riwayat Nasa’i dan dianggap lemah oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Doa mempunyai tempat dan waktu-waktu tertentu yang menjadi salah satu kunci do’a itu dikabulkan. Rasulullah (s.a.w) menekankan bahwa keadaan itu mesti diperhatikan untuk memastikan do’a dikabulkan.

Diantaranya adalah waktu antara
azan dengan iqamah yang merupakan waktu kerberkahan. Pada waktu itu semua pintu langit dibuka dan do’a dikabulkan serta rahmat Allah turun kepada hamba-hamba-Nya. Namun ketentuan do’a dikabulkan ini masih terikat, yaitu selagi seseorang tidak berdo’a untuk perbuatan dosa atau bertujuan memutuskan ikatan silaturrahim. Jika berdo’a untuk melakukan perbuatan dosa atau untuk memutuskan hubungan silaturrahim, maka do’anya tidak dikabulkan. Didalam Sunnah telah disebutkan hadis-hadis yang menunjukkan do’a-do’a yang mesti dibaca antara azan dan iqamah yang antara lain ialah:

“رضيت بالله ربا وبالاسلام دينا وبمحمد رسولا. قال النبي صلى الله عليه وسلم : إن من قال ذلك غفر له ذنبه”

Aku redha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai Rasulku. Rusulullah (s.a.w) bersabda: “Barang siapa yang membaca do’a tersebut, niscaya dosanya diampuni.”

Doa yang lain ialah bershalawat kepada Nabi (s.a.w) sesudah selesai menjawab azan.

FIQH HADITS :

1. Keistimewaan waktu antara adzan dan iqamah.

2. Dianjurkan berdo’a di antara azan dan iqamah kerana do’a pada waktu tersebut dikabulkan oleh Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 160 : BEDA TUGAS MUADZIN DAN IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 160 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ ) رَوَاهُ اِبْنُ عَدِيٍّ وَضَعَّفَهُ

وَلِلْبَيْهَقِيِّ نَحْوُهُ : عَنْ عَلِيٍّ مِنْ قَوْلِهِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Muadzin itu lebih berhak untuk adzan dan imam itu lebih berhak untuk qomat.” Diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Ibnu Adiy.

Menurut riwayat Baihaqi ada hadits semisal dari Ali Radliyallaahu ‘anhu dari perkataannya sendiri.

MAKNA HADITS :

Antara keistimewaan Islam ialah segala sesuatu mesti diserahkan kepada orang
yang bertugas supaya ia dapat dilakukan dengan tepat dan terarah. Allah (s.w.t) berfirman:

….قد علم كل اناس مشربهم

“Sungguh setiap orang telah mengetahui tempat minumnya (masing masing).” (Surah al-Baqarah: 60)

Muazzin diberi kepercayaan memberitahukan masuknya waktu solat dan tugas ini sepenuhnya telah diserahkan kepadanya. Oleh sebab itu, Rasulullah (s.a.w)
menjadikannya lebih berkuasa terhadap azan. Iqamah juga memiliki kaitan erat dengan solat dan jamaah di mana solat berjamaah tidak dapat dilakukan tanpa kewujudan imam. Jadi, imam lebih menguasai iqamah. Seseorang tidak boleh beriqamah melainkan setelah mendapat isyarat dari imam. Di sinilah nampak kebijaksanaan syariat Islam dimana setiap tugas diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya dan memberikan tanggung jawab kepada mereka yang bersangkutan. Muazzin adalah orang yang diberi kepercayaan untuk memberikan masuknya waktu solat sedangkan imam adalah orang yang bertanggung jawab mengimami sholat.

FIQH HADITS :

1. Muazzin dipercaya untuk menjaga waktu solat dan oleh kerana itu, tugas untuk mengawasi waktu solat diserahkan kepadanya.

2. Solat tidak didirikan kecuali setelah mendapat isyarat dari imam atau dengan kehadirannya, tetapi tidak bergantung kepada izinnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S055. TATACARA SHALAT TASBIH

SHALAT TASBIH

Shalat tasbih Empat rakaat dan Setiap rakaat membaca 75 kali ”subhaanallah walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar”, dengan perincian: 15 kali sesudah membaca fatihah, 10 kali pada setiap ruku’, i’tidal, sujud dua kali dan duduk di antara dua sujud sehingga -jumlah semuanya 50 kali tasbih , yang dibaca sesudah masing2 dzikir yang berlaku dalam masing2 rukun tersebut.. dan 10 kali pada duduk istirahah.

Untuk duduk istirahah ini caranya, setelah selesai sujud kedua, lalu mulai duduk, terlebih dahulu takbir, dan ketika berdiri tidak usah takbir. Untuk raka’at yang tak ada duduk istirahahnya, maka pembacaan tasbih 10 kali ini diletakkan setelah duduk tasyahud sebelum membca tasyahud. Untuk lebih jelasnya lihat di fathul mu’in

ومنه صلاة التسابيح

وهي أربع ركعات بتسليمة واحدة وهو الأحسن نهارا أو بتسليمتين وهو الأحسن ليلا لحديث صلاة الليل مثنى مثنى وصفتها أن تحرم بها وتقرأ دعاء الافتتاح والفاتحة وشيئا من القرآن إن أردت والأولى في ذلك أوائل سورة الحديد والحشر والصف والتغابن للمناسبة في ذلك فإن لم يكن فسورة الزلزلة والعاديات وألهاكم والإخلاص ثم تقول بعد ذلك وقبل الركوع سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم خمس عشرة مرة وفي الركوع عشرا وفي الاعتدال عشرا وفي السجود الأول عشرا وفي الجلوس بين السجدتين عشرا وفي السجود الثاني عشرا وفي جلسة الاستراحة أو بعد التشهد عشرا فتلك خمسة وسبعون في كل ركعة منها فأربعة في خمسة وسبعين بثلاثمائة ويأتي قبل هذه التسبيحات بالذكر الوارد في هذه الأركان وهذه رواية ابن عباس وهي أرجح من رواية ابن مسعود وهي بعد التحرم وقبل القراءة خمس عشرة مرة وبعد القراءة وقبل الركوع عشرا وفي الركوع عشرا وفي الاعتدال عشرا وفي السجود الأول عشرا وفي الجلوس بين السجدتين عشرا وفي السجود الثاني عشرا ولا شيء في جلوس الاستراحة ولا بعد التشهد وفيما عدا الركعة الأولى يقول الخمسة عشر بعد القيام وقبل القراءة فإن استطعت أن تصليها في كل يوم فافعل فإن لم تستطع ففي كل شهر مرة فإن لم تستطع ففي كل سنة مرة فإن لم تستطع ففي عمرك مرة فإن لم يفعلها أصلا دل ذلك على تكاسله في الدين

ويدعو بعد التشهد الأخير بهذا الدعاء اللهم إني أسألك توفيق أهل الهدى وأعمال أهل اليقين ومناصحة أهل التوبة وعزم أهل الصبر ووجل أهل الخشية وطلب أهل الرغبة وتعبد أهل الورع وعرفان أهل العلم حتى أخافك اللهم إني أسألك مخافة تحجزني عن معاصيك حق أعمل بطاعتك عملا أستحق به رضاك وحتى أناصحك في التوبة وخوفا منك حتى أخلص لك النصيحة وحتى أتوكل عليك في الأمور كلها وحتى أكون حسن الظن بك سبحان خالق النور

Artinya : Diantara sholat yang disunahkan adalah sholat TASBIH. Sholat TASBIH berjumlah 4 rokaat yang baik dengan sekali salam bila dilakukan di siang hari dan dengan dua kali salam bila di lakukan di malam hari berdasarkan hadits nabi “sholat malam dua rokaat, dua rokaat”.

Tata cara sholat Tasbih :

1. Takbiratul Ihram (bersamaan niat)

2. Membaca doa iftitah

3. membaca Surat Alfaatihah

4. membaca surat-surat dari alquran bisa memakai surat permulaan surat alhadiid, surat alhasyri, surat shoff dan surat attaghoobun karena keempat surat ini memiliki kecocokan dengan sholat tasbih bila tidak boleh memakai surat azzalzalah, al’aadiyaat, attakaatsur dan al-ikhlas

5. membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 15 kali (sebelum ruku)

6. Ruku dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

7. I’tidal dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

8. sujud dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

9. Duduk diantara dua sujud dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

10. Sujud yang kedua dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

11. Duduk istirohah (sebelum bangun untuk berdiri) dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

12. Tasyahud dan membaca :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Sebanyak 10 kali

Maka hitungan bacaan tasbih :

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

“Subhaanallah wal hamdulillah wa laailaaha illa alloohu wallaahu akbar wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘azhiimi”

Dalam setiap rokaat menjadi 75 kali. Hitungan jumlah tasbih dan penempatannya seperti ini paling kuatnya pendapat diantara hadits riwayat Ibnu mas’ud ra. :

”Setelah takbiratul ihram 15 kali, setelah membaca fatihah sebelum membaca surat 10 kali, dalam rukuk, I’tidal sujud awal dan ke dua serta duduk dianta dua sujud masing-masing 10 kali dengan tidak membaca tasbih pada duduk istirohat dan setelah tasyahhud, kemudian setelah berdiri membaca tasbih 15 kali begitu juga setelah selesai membaca fatihah sebelum membaca surat 15 kali”.

Bila engkau mampu melakukan sholat tasbih tiap hari maka lakukan, bila tidak mampu boleh sebulan sekali, setahun sekali bahkan seumur hidup sekali, bila tidak berarti anda termasuk orang malas dalam menjalani agama, Dan berdo’alah setelah usai tasyahhud akhir *sebelum salam) dengan memakai doa :

DOA SOLAT TASBIH :

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ الهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ اليَقِيْنِ وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَوَجَلَ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتَّى نَخَافَـكَ اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ مَخَافَةَ تُحْجِزُنَا عَنْ مَعَاصِيْكَ حَتَّى نَعْمَلَ بِطَاعَتِـكَ سُبْحَانَ خَالِقَ النُّوْرُ. والصَلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ والحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

” Ya Allah aku meminta padaMu pertolongan (melakukan kebaikan) sebagaimana yang Engkau berikan kepada orang-orang yang mendapatkan petunjuk, amal-amal yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai keyakinan tinggi, nasihat-nasihat orang yang ahli bertaubat, kemauan kuat yang dimiliki orang-orang yang ahli bersabar, kesungguhan orang-orang yang selalu takut (padaMu), permintaan orang-orang yang selalu cinta (padaMu), beribadahnya orang-orang yang ahli menjaga diri dari perkara subhat, pengetahuan orang-orang yang ahli dalam ilmu (agama) sehingga akupun dapat takut kepada Mu. Ya Allah sesungguhnya aku meminta padaMu rasa takut yang menjagaku dari melakukan kemaksiatan padaMu, sehingga dengan taat padaMu akupun bisa melakukan amal, yang dengannya bisa kuraih ridloMu dan dengan taubat aku dapat mengambil rasa takut kepada Engkau, dan kumurnikan padaMu nasehat karena malu pada Engkau. Dan aku pasrahkan segala urusan padaMu karena wujudnya prasangka baik kepadaMu. Maha Suci Allah Sang Pencipta Cahaya”. [ Nihaayah Azzain I/115 ].