logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

T031. HUKUM MEMASAK TELUR DENGAN KULITNYA TANPA DICUCI TERLEBIH DAHULU

Pertanyaan :

Bagaimana hukum kulit telur apakah harus dicuci terlebih dahulu atau langsung boleh dimasak?

Jawaban :
Memasak telor sebelum mencucinya terlebih dahulu adalah sebagai berikut :

A. Apabila pada kulit telur tersebut tidak terdapat kotorannya / Najisnya maka boleh-boleh saja memasaknya langsung tanpa membasuhnya terlebih dahulu, dan air rebusannya juga dihukumi suci. [Kulit telurnya suci]

B. Apabila pada kulit telur tersebut terdapat kotoran/ Najis maka lebih baik membasuhnya terlebih dulu sebelum memasaknya. Maka apabila ia memasak/ merebus telur tersebut tanpa mencucinya terlebih maka air rebusannya dihukumi Najis dan dan isi telurnya adalah suci, serta kulit telurnya dihukumi Mutanajjis yang bisa suci setelah disucikan.

C. Apabila telur tersebut pecah dan tercampur dengan air mutanajjis maka dihukumi najis.

فتح المعين و إعانة الطالبين ج ١ ص ١٠٤
ولا يجب غسل ذكر المجامع والبيض والولد
قوله: وكذا بيض) معطوف على قوله وكذا بلغم. أي فهو طاهر مثل المني.

الإقناع وحاشية البجيرمي ج ١ ص ١١٢
وَلَوْ سُقِيَتْ سِكِّينٌ أَوْ طُبِخَ لَحْمٌ بِمَاءٍ نَجِسٍ كَفَى غَسْلُهُمَا
الحاشية : قَوْلُهُ: (كَفَى غَسْلُهُمَا) أَيْ وَلَا يَحْتَاجُ إلَى سَقْيِ السِّكِّينِ وَإِغْلَاءِ اللَّحْمِ بِالْمَاءِ أَيْ وَيَطْهُرَانِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 174-175 : SHALAT DENGAN MEMAKAI SANDAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 174 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ اَلْمَسْجِدَ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ أَذًى أَوْ قَذَرًا فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Abu Said Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu mendatangi masjid hendaklah ia memperhatikan jika ia melihat kotoran atau najis pada kedua sandalnya hendaklah ia membasuhnya dan sholat dengan mengenakannya. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

HADITS KE 175 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ اَلْأَذَى بِخُفَّيْهِ فَطَهُورُهُمَا اَلتُّرَابُ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu menginjak najis dengan sepatunya maka sebagai pencucinya ialah debu tanah. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Ketika Nabi (s.a.w) sedang berada di hadapan Allah dan bermunajat kepada-Nya dalam solat, tiba-tiba baginda menanggalkan kedua sandalnya. Melihat itu, para sahabat yang bermakmum di belakangnya turut menanggalkan sandal mereka masing-masing karena perbuatan Nabi (s.a.w). Ketika selesai mengerjakan solat, baginda bertanya kepada mereka mengenai sebab yang mendorong mereka turut menanggalkan sandal mereka. Mereka menjawab: “Kami melihat tuan menanggalkan kedua sandal.” Nabi (s.a.w) bersabda kepada mereka: “Jibril tadi datang kepadaku, lalu dia memberitahu bahwa pada kedua sandalku terdapat najis, maka aku segera melepaskannya.” Kemudian Nabi (s.a.w) memberitahukan kepada mereka: “Barang siapa yang datang ke masjid lalu melihat najis pada sandalnya, maka hendaklah dia menggosokkannya ke tanah, lalu dia boleh mengerjakan solat dengan memakainya.”

FIQH HADITS :

1. Sholat tidak batal kerana adanya najis yang baru dia ketahui, tetapi dengan syarat segera menghilangkannya dengan melakukan sedikit gerakan sesudah mengetahuinya. Jika itu dilakukan dengan banyak gerakan, maka solatnya menjadi batal. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan mazhab Hanbali.

Menurut pendapat Imam al-Syafi’i dalam qaul qadim dan qaul jadid, batal solatnya. Inilah pendapat yang masyhur di sisinya.

Mazhab Maliki mengatakan, batal solatnya apabila seseorang mengetahui adanya najis itu,
kecuali jika najis berada pada bagian bawah khuffnya maka dia mesti segera melepaskan kedua khuffnya itu.

2. Rasulullah (s.a.w) mengajarkan kepada umatnya apa yang mesti mereka lakukan terhadap najis yang mereka ketahui ada pada diri mereka ketika sedang solat.

3. Solat dengan memakai sandal adalah disyariatkan selagi keduanya dalam keadaan suci.

4. Menggosokkan sandal ke tanah dapat menyucikan najis yang ada pada bagian bawahnya, sekalipun najis itu basah. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Abu Yusuf berlandaskan kepada makna zahir hadis di atas. Imam Malik dan Imam al-Syafi’i mengatakan, apabila najis yang ada pada selipar itu basah, maka ia tidak menjadi suci hanya dengan menggosokkannya ke tanah, sebaliknya ia wajib dibasuh. Kedua ulama ini mentafsirkan hadis ini bahwa najis yang diinjak tersebut dalam keadaan kering, lalu sebagian kecil darinya melekat pada bagian bawah sandal, tetapi dapat dihilangkan dengan cara menggosokkannya ke tanah. Imam Abu Hanifah berpendapat, apa
yang dimaksudkan dengan najis di sini ialah najis yang nampak bendanya dan ia kering, karena najis yang basah mencemari tanah dan akan menyebar ke setiap tempat.

5. Bergerak dengan sedikit gerakan dalam solat tidak membatalkan solat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 171-172-173 : TEMPAT-TEMPAT YANG DILARANG UNTUK SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 171 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( اَلْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا اَلْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَلَهُ عِلَّةٌ

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Bumi itu seluruhnya masjid kecuali kuburan dan kamar mandi. Riwayat Tirmidzi tetapi ada cacatnya.

HADITS KE 172 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-]قَالَ] : ( نَهَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يُصَلَّى فِي سَبْعِ مَوَاطِنَ : اَلْمَزْبَلَةِ وَالْمَجْزَرَةِ وَالْمَقْبَرَةِ وَقَارِعَةِ اَلطَّرِيقِ وَالْحَمَّامِ وَمَعَاطِنِ اَلْإِبِلِ وَفَوْقَ ظَهْرِ بَيْتِ اَللَّهِ ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang untuk sholat di tujuh tempat: tempat sampah tempat penyembelihan hewan pekuburan tengah jalan kamar mandi/WC kandang unta dan di atas Ka’bah. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dinilai lemah olehnya.

HADITS KE 173 :

وَعَنْ أَبِي مَرْثَدٍ اَلْغَنَوِيِّ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتَ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( لَا تُصَلُّوا إِلَى اَلْقُبُورِ وَلَا تَجْلِسُوا عَلَيْهَا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Murtsad Al-Ghonawy berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah engkau sholat menghadap kuburan dan jangan pula engkau duduk di atasnya. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Solat merupakan kewajipan yang telah difardukan oleh Allah (s.w.t) atas hamba-Nya yang beriman dan mensyaratkan tempat untuk menunaikan solat mestilah suci. Oleh sebab itu, orang yang hendak solat wajib memilih tempat yang suci dan bukannya tempat umum seperti di tengah jalan, bukan pula tempat najis seperti kuburan, tempat penyembelihan, dan tempat pembuangan sampah, bukan pula tempat yang pada umumnya tidak bebas dari najis, seperti kamar mandi, bukan pula tempat yang menjadi tempat bersemayamnya syaitan-syaitan seperti tempat peternakan unta, dan bukan pula di atas Baitullah, kerana ketiadaan kiblat untuk menghadap ke arahnya jika dia solat di atasnya.

FIQH HADITS :

Bumi secara keseluruhannya adalah sah untuk dijadikan sebagai tempat solat kecuali tempat-tempat berikut:

1. Kuburan. Imam Ahmad dan murid-muridnya berpendapat haram mengerjakan solat di perkuburan dan solatnya tidak sah berlandaskan kepada larangan yang terdapat di dalam hadis ini yang bersifat umum ini. Imam Abu Hanifah berpendapat makruh mengerjakan solat di kuburan. Beliau tidak membedakan antara kuburan yang telah dibongkar lagi dan kuburan yang selain itu. Mazhab Maliki berpendapat bahwa mengerjakan solat di kuburan diperbolehkan dan tidak dimakruhkan selagi tidak diketahui bahwa ia adalah najis. Imam al-Syafi’i membedakan antara kuburan yang telah digali lagi dan perkuburan yang selain itu. Dalam kaitan ini, beliau berkata: “Jika kuburan itu telah dibongkar hingga tanahnya bercampur dengan daging dan nanah mayat serta semua kotoran yang keluar darinya, maka tidak boleh mengerjakan solat di kuburan itu kerana adanya najis. Tetapi jika seseorang mengerjakan solat di tempat yang suci di kawasan kuburan itu, maka solatnya tetap sah. Jika kuburan itu tidak dibongkar, maka diperbolehkan solat di kawasan sekitarnya, tetapi itu makruh. Jika dia ragu baik kuburan itu telah dibongkar ataupun tidak, maka ada dua pendapat dalam masalah ini.”

2. Tempat mandi air hangat. Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah berpendapat sah solat di tempat mandi air hangat selagi tempat tersebut selamat dari barang najis, namun hukumnya makruh. Jika tidak selamat dari najis, maka solatnya tidak sah. Inilah tafsiran hadis di atas menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Abu Hanifah. Imam Malik mengatakan boleh mengerjakan solat di tempat mandi air hangat dan tidak dimakruhkan. Sedangkan Imam Ahmad mengatakan tidak sah, kerana merujuk kepada larangan yang bersifat umum di dalam hadis ini.

3. Tempat penyembelihan dan tempat pembuangan sampah, sebab kedua tempat tersebut adalah mutanajjis.

4. Jalan umum. Sebab dilarang mengerjakan solat di jalan umum karena orang lain turut mempunyai hak untuk lewat di kawasan itu di samping solat yang dikerjakannya tidak terganggu oleh orang yang lalu lalang di sekitarnya.

5. Tempat istirahat. dilarang mengerjakan solat di tempat istirahat ternakan unta kerana tempat itu merupakan tempat syaitan dan dikawatirkan unta-unta akan lari hingga mengakibatkan rusaknya solat orang yang bersangkutan.

6. Mengerjakan solat di atas Baitullah dilarang karena tidak ada lagi arah kemana dia mesti menghadap yang dalam hal ini adalah menghadap ke arah kiblat.

7. Dilarang duduk di atas kuburan. Larangan ini bermaksud makruh. Adapun duduk di atas atau di tepi kuburan dengan tujuan membuang air kecil atau air besar, maka hukumnya haram.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N053. HUKUM MEWAKILKAN TALAK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz

Abdinah atanyaah, ada orang laki-laki mentalak istrinya yang di suruh menyampaikan orang lain/lewat perantara nikahnya putus atau tidak? Mator Sakalangkong..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jika seseorang mewakilkan dengan jarak jauh untuk mentalaq istrinya maka terjadila talaq (sah talaqnya) sebagimana seseorang mewakilkan jual beli.

Sebagaimana seorang laki-laki memiliki hak thalaq pada dirinya sendiri, maka ia juga memiliki hak untuk mewakilkan thalaq kepada orang lain. Thalaq tetap dianggap jatuh meskipun tidak dijatuhkan suami (secara langsung), akan tetapi dijatuhkan oleh orang lain dengan izin suami, apakah dengan cara diwakilkan kepada orang lain, pelimpahan kuasa atau dengan surat. Makna mewakilkan adalah: suami mewakilkan kepada orang lain untuk menceraikan istrinya, misalnya ia mengatakan kepada orang lain: “Saya wakilkan kepada engkau dalam hal menceraikan istri saya”. Jika si wakil menerimanya, kemudian mengatakan kepada istri orang yang mewakilkan: “Engkau telah diceraikan”. Maka talaqnya jatuh. Semua orang yang sah thalaqnya, maka sah pula jika ia mewakilkan kepada orang lain. Orang yang menjadi wakil dalam masalah thalaq terikat dengan pendapat orang yang mewakilkan. Jika orang yang menjadi wakil itu melampaui batas, maka perbuatannya tidak sah, kecuali dengan izin orang yang mewakilkan. Orang yang mewakilkan dapat menggugurkan hak wakil kapan saja ia berkehendak. Jika seorang suami mewakilkan kepada istrinya untuk menceraikan dirinya sendiri, maka perwakilan itu sah dan thalaqnya juga sah. Karena sah hukumnya jika suami mewakilkan kepada istrinya untuk menceraikan orang lain, maka sah pula hukumnya untuk menceraikan dirinya sendiri.

حكم التوكيل في الطلاق:
الرجل كما يملك الطلاق بنفسه يملك إنابة غيره فيه، ويقع الطلاق من غير الزوج بإذنه إما بالتوكيل، أو التفويض، أو الرسالة. فالتوكيل: إنابة الزوج غيره في طلاق زوجته كأن يقول لغيره: وكّلتك في طلاق زوجتي، فإذا قَبِل الوكيل الوكالة، ثم قال لزوجة موكِّله: أنت طالق، فقد وقع الطلاق، وكل من صح طلاقه صح توكيله، والوكيل في الطلاق مقيد بالعمل برأي الموكِّل، فإذا تجاوزه لم ينفذ تصرفه إلا بإجازة الموكِّل، وللموكِّل أن يعزل الوكيل متى شاء.وإذا وكل الزوج زوجته في طلاق نفسها صح توكيلها، وطلاقها لنفسها؛ لأنه يصح توكيلها في طلاق غيرها، فكذا في طلاق نفسها.

Kusyaful Qonaa’ ‘ala matnil iqna :

.فَصْلٌ: الوكالة في الطلاق:(وَمَنْ صَحَّ طَلَاقُهُ صَحَّ تَوْكِيلُهُ فِيهِ وَ) صَحَّ (تَوَكُّلُهُ فِيهِ) لِأَنَّ مَنْ صَحَّ تَصَرُّفُهُ فِي شَيْءٍ لِنَفْسِهِ مِمَّا تَجُوزُ الْوَكَالَةُ فِيهِ صَحَّ تَوْكِيلُهُ وَتَوَكُّلُهُ فِيهِ وَلِأَنَّ الطَّلَاقَ إزَالَةُ مِلْكٍ فَجَازَ التَّوْكِيلُ وَالتَّوَكُّلُ فِيهِ كَالْعِتْقِ (فَإِنْ وَكَّلَ) الزَّوْجُ الْمَرْأَةَ (فِيهِ) أَيْ الطَّلَاقِ (صَحَّ) تَوْكِيلُهَا وَطَلَاقُهَا لِنَفْسِهَا لِأَنَّهُ يَصِحُّ تَوْكِيلُهَا فِي طَلَاقِ غَيْرِهَا فَكَذَا فِي طَلَاقِ نَفْسِهَا (وَلِلْوَكِيلِ أَنْ يُطَلِّقَ مَتَى شَاءَ)؛ لِأَنَّ لَفْظَ التَّوْكِيلِ يَقْتَضِي ذَلِكَ لِكَوْنِهِ تَوْكِيلًا مُطْلَقًا أَشْبَهَ التَّوْكِيلَ فِي الْبَيْعِ (إلَّا أَنْ يَحُدَّ لَهُ) الْمُوَكِّلُ أَيْ لِلْوَكِيلِ (حَدًّا) كَأَنْ يَقُول طَلِّقْهَا الْيَوْمَ أَوْ نَحْوَهُ فَلَا يَمْلِكُهُ فِي غَيْرِهِ لِأَنَّهُ إنَّمَا تَثْبُت لَهُ الْوَكَالَةُ عَلَى حَسْبِ مَا يَقْتَضِيهِ لَفْظُ الْمُوَكِّلِ أَوْ يَفْسَخُ الْمُوَكِّلُ الْوَكَالَةَ (أَوْ يَطَأُ) الْمُوَكِّلُ الَّتِي وَكَّلَ فِي طَلَاقِهَا فَتَنْفَسِخُ الْوَكَالَةُ لِدَلَالَةِ الْحَالِ عَلَى ذَلِكَ.(وَلَا يُطَلِّقُ) الْوَكِيلُ الْمُطَلِّقُ (أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدَةٍ) لِأَنَّ الْأَمْرَ الْمُطْلَقَ يَتَنَاوَلُ أَقَلَّ مَا يَقَعُ عَلَيْهِ الِاسْمُ (إلَّا أَنْ يَجْعَلَ) الْمُوَكِّلَ إلَيْهِ أَنْ يُطَلِّقَ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدَةٍ (بِلَفْظِهِ أَوْ نِيَّتِهِ) لِأَنَّهُ نَوَى بِكَلَامِهِ مَا يَحْتَمِلهُ وَيُقْبَلُ قَوْلُهُ فِي نِيَّتِهِ لِأَنَّهُ أَعْلَمُ بِهَا (فَلَوْ وَكَّلَهُ فِي ثَلَاثَةِ فَطَلَّقَ وَاحِدَةً) وَقَعَتْ لِدُخُولِهَا فِي ضِمْنِ الْمَأْذُونِ فِيهِ (أَوْ وَكَّلَهُ فِي) طَلْقَةٍ (وَاحِدَةٍ فَطَلَّقَ ثَلَاثَةً طَلُقَتْ وَاحِدَةً نَصًّا) لِأَنَّهَا الْمَأْذُونُ فِيهَا دُونَ مَا زَادَ عَلَيْهَا وَهِيَ فِي ضِمْنِ الثَّلَاثِ فَتَقَعُ.(وَإِنْ خَيَّرَهُ) أَيْ خَيَّرَ الْمُوَكِّلَ الْوَكِيلُ بِأَنْ قَالَ لَهُ طَلِّقْ مَا شِئْتَ (مِنْ ثَلَاثٍ مَلَكَ اثْنَتَيْنِ فَأَقَلَّ) لِأَنَّ لَفْظَهُ يَقْتَضِي ذَلِكَ لِأَنَّ مِنْ لِلتَّبْعِيضِ وَكَذَا لَوْ خَيَّرَ زَوْجَتَهُ.(وَلَا يَمْلِكُ) الْوَكِيلُ (الطَّلَاقَ) أَيْ مَعَ إطْلَاقِ الْوَكَالَةِ (تَعْلِيقًا) لِلطَّلَاقِ عَلَى شَرْطٍ لِأَنَّهُ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فِيهِ لَفْظًا وَلَا عُرْفًا.(وَإِنْ وَكَّلَ) الزَّوْجُ (اثْنَيْنِ فِيهِ) أَيْ الطَّلَاقَ (فَلَيْسَ لِأَحَدِهِمَا الِانْفِرَادُ فِيهِ) لِأَنَّ الْمُوَكِّلَ إنَّمَا رَضِيَ بِتَصَرُّفِهِمَا جَمِيعًا (إلَّا بِإِذْنِ الْمُوَكِّلِ) لِأَحَدِهِمَا أَوْ لِكُلٍّ مِنْهُمَا بِالِانْفِرَادِ لِأَنَّ الْحَقَّ لِلْمُوَكِّلِ فِي ذَلِكَ (وَإِنْ وَكَّلَهُمَا فِي ثَلَاثٍ فَطَلَّقَ أَحَدُهُمَا) أَيْ أَحَدَ الْوَكِيلِينَ (أَكْثَرَ مِنْ الْآخَرِ وَقَعَ مَا اجْتَمَعَا عَلَيْهِ) لِأَنَّهُ مَأْذُونٌ لَهُمَا فِيهِ (فَلَوْ طَلَّقَ أَحَدُهُمَا وَاحِدَةً وَالْآخَرُ أَكْثَرَ) كَثَلَاثٍ أَوْ ثِنْتَيْنِ (فَوَاحِدَةٌ) أَوْ طَلَّقَ أَحَدُهُمَا ثِنْتَيْنِ وَالْآخَرُ ثَلَاثًا وَقَعَ ثِنْتَانِ.(وَيَحْرُم عَلَى الْوَكِيلِ الطَّلَاقُ وَقْتَ بِدْعَةٍ) كَالْمُوَكِّلِ (فَإِنْ فَعَلَ) أَيْ طَلَّقَ الْوَكِيل زَمَنَ بِدْعَةٍ (وَقَعَ) الطَّلَاقُ (كَالْمُوَكِّلِ) إذَا طَلَّقَ زَمَن بِدْعَة.

فقه السنة ص ١٠٣٨

وإذا قال لرجل: طلق امرأتي، فله أن يطلقها في المجلس وبعده.
ولو قال لرجل طلقها إن شئت، فله أن يطلقها في المجلس خاصة.
التوكيل:
إذا جعل أمر امرأته بيد غيره صح.
وحكمه حكم ما لو جعله بيدها، في أنه بيده في المجلس وبعده.
ووافق الشافعي على هذا في حق غيرها لانه توكيل، وسواء قال: أمر امرأتي بيدك، أو قال: جعلت لك الخيار في طلاق امرأتي، أو قال طلق امرأتي.
وقال أصحاب أبي حنيفة: ذلك مقصور على المجلس لانه نوع تخيير أشبه ما لو قال اختاري.
قال صاحب المغني: ولنا أنه توكيل مطلق: فكان على التراخي: كالتوكيل في البيع، وإذا ثبت هذا فإن له أن يطلقها ما لم يفسخ أو يطأها، وله أن يطلق واحدة وثلاثا، كالمرأة، وليس له أن يجعل الامر إلا بيد من يجوز توكيله وهو العاقل.
فأما الطفل والمجنون، فلا يصح أن يجعل الامر بأيديهم فإن فعل فطلق واحد منهم لم يقع طلاقه.
وقال أصحاب الرأي: يصح (٢) .
(١) المغني ص٢٨٨ ج ٨.
(٢) المغني: ص ٢٩٢

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M055. HUKUM TIDUR DI DALAM MASJID

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya orang tidur di dalam masjid, yang sudah biasa terjadi di tempat2 ramai seperti di masjid istiqlal dll.?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Terdapat perbedaan pendapat antara Ulama mengenai hukum tidur dalam masjid, Imam Syafi’i dan para pengikutnya membolehkannya

(الرابعة) يجوز النوم في المسجد ولا كراهة فيه عندنا، نص عليه الشافعي رحمه الله في الأم واتفق عليه الأصحاب، وقال إبن المنذر في الأشراف: رخص في النوم في المسجد ابن المسيب وعطاء والحسن والشافعي . وقال ابن عباس : لاتتخذوه مرقدا: وروي عنه إن كنت تنام للصلاة فلابأس . وقال الأوزاعي يكره النوم في المسجد. وقال مالك : لابأس بذلك للغرباء ولاأرى ذالك للحاضر. وقال أحمد وإسحاق : إن كان مسافرا اوشبهه فلابأس ، وإن اتخذه مقيلا فلا. وقال البيهقي في السنن الكبير: روينا عن ابن مسعود وابن عباس ومجاهد وسعيد بن جبير ما يدل على كراهيتهم النوم في المسجد. اهـ

4. Boleh tidur dalam masjid dan tidak makruh menurut kami (syafi’iyyah) seperti yang diterangkan oleh Imam Syafi’i dikitab al-Umm dan disepakati oleh para pengikutnya, Ibn Mundzir berkata dalam kitab al-Asyraaf “Ibn al-Musayyib, ‘Athaa’, al-Hasan dan as-Syafi’i memberi hukum ringan tentang tidur dalam masjid”.

Ibn Abbas berkata “Tidak mengapa yang demikian bagi orang yang tengah berkelana tapi tidak bagi yang mukim”Ahmad dan Ishaq berkata “Bila ia tengah bepergian atau sejenisnya tidak masalah namun bila dijadikan semacam tempat penginapan, jangan.. !!”.

Al-Baehaqi dalam as-Sunan al-Kabiir “Kami meriwayatkan dari Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Mujaahid dan sa’id Bin Jabir hukum kemakruhan tidur dalam masjid”.

Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab II/173

Wallahu A’lam Bishowaab..

Kategori
Uncategorized

M054. HUKUM SUJUD MENCIUM KAKI ORANG TUA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz.

Apa hukumya kita sebagai anak mencium kaki orang tua kita dengan posisi orang tua berdiri sedangkan sang anak seperti orang sujud? Mohon penjelasanya ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat.

ﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮْﺩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻴَﺪِ ﻛَﻮْﻧُﻪُ ﻳَﺴْﺠُﺪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻴَﺪِ ﻳَﻀَﻊُ ﺟَﺒْﻬَﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻴَﺪِ ﻫٰﺬَﺍ ﺷَﻲْﺀٌ ﻣُﺤَﺮَّﻡٌ، ﻭَﻳُﺴَﻤِّﻴْﻪِ ﺑَﻌْﺾُ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ: ﺍﻟﺴَّﺠْﺪَﺓُ ﺍﻟﺼُّﻐْﺮَﻯ

“Adapun sujud di atas tangan yang keberadaannya adalah sujud di atas tangan, dia meletakan dahinya di atas tangan maka ini adalah sesuatu yang haram dan sebagian orang-orang berilmu menamainya dengan sujud yang kecil”.

Adapun kalau hanya sekedar mencium kaki ibu maka ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama, ada yang membolehkan dengan berdalil bahwa para shahabat pernah mencium tangan dan kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhariy di dalam “Al-Adabul Mufrad” dan Abu Dawud dari hadits Zari’ dan beliau pernah menjadi delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata:

ﻟَﻤَّﺎ ﻗَﺪِﻣْﻨَﺎ ﺍﻟْﻤَﺪِﻳْﻨَﺔَ ﻓَﺠَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻧَﺘَﺒَﺎﺩَﺭُ ﻣِﻦْ ﺭَﻭَﺍﺣِﻠِﻨَﺎ ﻓَﻨُﻘَﺒِّﻞُ ﻳَﺪَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺭِﺟْﻠَﻪُ

“Tatkala kami sampai di Madinah maka kami bersegera turun dari kendaraan kami, lalu kami mengecup tangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaki beliau”.

Ada beberapa hadits yang menjelaskan bahwa di antara para shahabat ada yang mencium tangan dan kaki Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari beberapa hadits tersebut ada yang shahih dan ada pula yang dha’if.

Dengan berdalil hadits seperti itu, mazhab Asy-Syafi’iyyah membolehkan mencium kaki dan bahkan menganggapnya sunnah, berkata Al-Imam Abu Zakariya Yahya An-Nawawiy Rahimahullah:

ﻳُﺴْﺘَﺤَﺐُّ ﺗَﻘْﺒِﻴْﻞُ ﻳَﺪِ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺢِ ﻭَﺍﻟﺰَّﺍﻫِﺪِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ، ﻭَﻧَﺤْﻮِﻩِ

“Disunnahkan mencium tangan orang shalih, orang zuhud, orang ‘alim dan yang semisalnya”.
Setelah itu beliau menyebutkan lagi:

ﻭَﺗَﻘْﺒِﻴْﻞُ ﺭَﺃْﺳِﻪِ ﻭَﺭِﺟْﻠِﻪِ ﻛَﻴَﺪِﻩِ

“Mencium kepalanya dan kakinya seperti mencium tangannya”.

Dan Al-Imam Ibnu Muflih Rahimahullah mengatakan:

ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻴَّﺔِ ﺗَﻘْﺒِﻴْﻞُ ﺭِﺟْﻠِﻪِ

“Dan demikian pula menurut mazhab Asy-Syafi’iyyah mencium kakinya”.

Untuk masalah mencium tangan atau kepala orang tua, orang berilmu dan yang semisalnya ini termasuk perkara yang biasa dilakukan oleh kebanyakan umat Islam namun untuk mencium kaki orang tua ini yang menjadi permasalahan, dan yang sebaiknya mencium kaki ini tidak perlu dilakukan, karena beberapa alasan:

Pertama:
Akan memunculkan anggapan bahwa seseorang sujud kepada orang lain.

Kedua:
Sebagian salaf tidak meridhai bila mencium kaki ini dilakukan, Al-Imam Ibnu Muflih Rahimahullah menyebutkan bahwa Abu ‘Ubaidah memegang tangan Umar lalu menciumnya maka Umar membiarkan namun ketika Abu Ubaidah mau mencium kaki Umar maka Umar berkata:

ﻣَﺎ ﺭَﺿِﻴْﺖُ ﻣِﻨْﻚَ ﺑِﺘِﻠْﻚَ

“Aku tidak ridha padamu dengan melakukan itu”.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 170 : SHALAT SUNNAH DI ATAS KENDARAAN TANPA MENGHADAP QIBLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 170 :

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ زَادَ اَلْبُخَارِيُّ ( يُومِئُ بِرَأْسِهِ وَلَمْ يَكُنْ يَصْنَعُهُ فِي اَلْمَكْتُوبَةِ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ : مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ : ( كَانَ إِذَا سَافَرَ فَأَرَادَ أَنْ يَتَطَوَّعَ اِسْتَقْبَلَ بِنَاقَتِهِ اَلْقِبْلَةِ فَكَبَّرَ ثُمَّ صَلَّى حَيْثُ كَانَ وَجْهَ رِكَابِهِ ) وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ

Amir Ibnu Rabi’ah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat di atas kendaraannya ke arah mana saja kendaraan itu menghadap. Muttafaq Alaihi. Bukhari menambahkan: Beliau memberi isyarat dengan kepalanya namun beliau tidak melakukannya untuk sholat wajib.

Dalam riwayat Abu Dawud dari hadits Anas Radliyallaahu ‘anhu : Apabila beliau bepergian kemudian ingin sholat sunat maka beliau menghadapkan unta kendaraannya ke arah kiblat. Beliau takbir kemudian sholat menghadap ke arah mana saja kendaraannya menghadap. Sanadnya hasan.

MAKNA HADITS :

Menghadap ke arah kiblat merupakan salah satu syarat bagi sahnya sholat. Namun Allah (s.w.t) memberikan rukhsah dalam sholat sunat ketika dalam perjalanan, baik bagi mereka yang berjalan kaki maupun yang berkenderaan. Orang yang berkenderaan diperbolehkan sholat menghadap ke arah mana kenderaan itu mengarah atau menghadap dengan syarat tertentu yang telah disebutkan di dalam kitab fiqh secara terperinci. Dalam kaitan ini turunlah firman Allah (s.w.t):

….فأينما تولوا فثم وجه الله….

“… Ke arah mana pun kalian, menghadap, maka di situlah wajah Allah…” (Surah al-Baqarah: 115)

Nabi (s.a.w) pernah mengerjakan sholat sunat di atas kenderaannya ketika baginda kembali dari Mekah menuju Madinah setelah mengerjakan haji wada‟.
Sedangkan syarat sholat fardu adalah menghadap ke arah kiblat.

FIQH HADITS :

1. Sah mengerjakan sholat sunat di atas kendaraan, sekalipun tidak menghadap ke arah kiblat, karena arah di dalam perjalanan sudah dianggap sebagai kiblat baginya dan ini merupakan rukhsah (kemurahan) dari Allah (s.w.t).

2. Sholat fardu tidak boleh dikerjakan di atas kendaraan karena menghadap kiblat tidak dapat dilakukan dengan sempurna.

3. Seorang yang musafir boleh mengerjakan sholat sunat di atas kendaraan dan disyariatkan menghadap kiblat ketika melakukan takbiratul ihram saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 169 : KEKHUSUSAN ARAH KIBLAT DI DAERAH MADINAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 169 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ ) رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَقَوَّاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Ruang antara Timur dan Barat adalah Kiblat. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dikuatkan oleh Bukhari.

MAKNA HADITS :

Setelah Nabi (s.a.w) tinggal di Madinah, baginda ingin menjelaskan kepada masyarakat Madinah tentang arah kiblat mereka yang terletak di antara arah timur dan arah barat. Untuk itu, baginda bersabda:

مَا بَيْنَ اَلْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

“Di antara arah timur dan arah barat terdapat arah kiblat.”
Hadis ini tidak bersifat umum yang berlaku bagi setiap daerah, kerana
adakalanya arah kiblat bagi suatu daerah ke arah timur atau malah ke arah barat.
Hal ini sebagaimana yang telah baginda sabdakan mengenai keadaan ahli Madinah berkenaan dengan menghadap dan membelakangi kiblat bagi orang yang menunaikan hajat:

ولكن شرقوا وغربوا

“Tetapi menghadaplah kamu ke arah timur atau ke arah barat!”“`

FIQH HADITS :

1. Arah kiblat bagi penduduk Madinah dan sekitarnya terletak di tengah-tengah antara arah timur dan arah barat.

2. Orang yang melihat secara langsung kiblat wajib menghadap ke arah kiblat, karena dia mampu berbuat demikian. Bagi orang yang tinggal berjauhan dengan Ka’bah juga wajib menghadap ke arahnya, kerana sukar bagi mereka untuk dapat menghadap ke arah ‘ain kiblat secara tepat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 168 : IJTIHAD ARAH QIBLAT SEBELUM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 168 :

وَعَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كُنَّا مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي لَيْلَةٍ مَظْلَمَةٍ فَأَشْكَلَتْ عَلَيْنَا اَلْقِبْلَةُ فَصَلَّيْنَا . فَلَمَّا طَلَعَتِ اَلشَّمْسُ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا إِلَى غَيْرِ اَلْقِبْلَةِ فَنَزَلَتْ : (فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اَللَّهِ ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ

Amir Ibnu Rabi’ah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam suatu malam yang gelap maka kami kesulitan menentukan arah kiblat lalu kami sholat. Ketika matahari terbit ternyata kami telah sholat ke arah yang bukan kiblat maka turunlah ayat (Kemana saja kamu menghadap maka disanalah wajah Allah). Riwayat Tirmidzi. Hadits lemah menurutnya.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menyuruh hamba-hamba-Nya menghadap kiblat ketika mengerjakannya di tempat bermukim. Untuk itu Allah (s.w.t) berfirman:

فول وجهك شطر المسجد الحرام

“…Hadapkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram….” (Surah al-Baqarah: 144).

Demikian pula semasa dalam perjalanan. Hal ini dijelaskan melalui firman-Nya:

فولوا وجوهكم شطره

“… Dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya….” (Surah
al-Baqarah: 144)

Namun, barang siapa yang merasa kebingungan dalam menentukan arah kiblat karena gelap, mendung atau faktor lain, maka dia wajib memperhatikan tanda-tanda yang ada di sekelilingnya dan menelitinya, kemudian solatlah dengan menghadap ke arah yang dia yakini sebagai arah kiblat. Jika kesalahan tersebut diketahui ketika masih dalam waktu solat, maka dia wajib mengulang lagi solatnya. Tetapi jika waktu solat telah lewat, maka tidak wajib baginya mengulang solat itu. Jika seseorang solat tanpa berusaha mengenal pasti terlebih dahulu arah kiblat dan ternyata dia salah dalam menentukannya, maka secara mutlak solatnya wajib diulang, baik waktu solat masih ada ataupun sebaliknya. Hadis ini berstatus dha’if; tidak dapat dijadikan sebagai hujah.

FIQH HADITS :

Sah sholat seseorang yang tidak menghadap ke arah kiblat karena gelapnya malam atau mendung yang menjadikan cuaca gelap setelah dia berusaha karena untuk mengenal pasti mengenainya. Jika setelah itu diketahui seseorang itu solat dalam keadaan tidak menghadap arah kiblat melainkan ke arah yang lain, maka solatnya tetap sah. Inilah pendapat Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berlandaskan kepada hadis ini.

Namun Imam Malik mengatakan, orang itu disunatkan mengulangi sholatnya selagi waktunya masih ada jika ternyata dia telah membelakangi kiblat atau menghadap ke arah timur atau ke arah barat, meskipun dia telah berusaha keras untuk mengenal pasti arah kiblat itu.

Imam Malik mengemukakan alasan untuk mendukung pendapatnya bahwa disunatkan mengulangi sholat bagi seorang yang mengerjakannya secara sendirian, kerana setelah itu dia menjumpai orang lain yang mengerjakannya dalam keadaan berjemaah dan sholat itu dikerjakan dalam waktunya. Jadi, dalam keadaan ini dia disunatkan mengulangi sholatnya berjamaah bersama mereka. Imam Malik berkata: “Jika seseorang itu miring sedikit ke kiri arah kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka dia tidak perlu mengulangi sholatnya lagi, baik waktu sholat masih ada atau sebaliknya.”

Imam al-Syafi’i berkata: “Jika seseorang yang miring ke arah kiri kiblat atau sedikit miring ke arah kanan kiblat, maka sholat itu tidak sah baginya, kerana kiblat
merupakan salah satu syarat sahnya sholat.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 167 : AURAT WANITA DIDALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SYARAT-SYARAT SHOLAT

HADITS KE 167 :

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ – رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- ; أَنَّهَا سَأَلَتْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ( أَتُصَلِّي اَلْمَرْأَةُ فِي دِرْعٍ وَخِمَارٍ بِغَيْرِ إِزَارٍ ؟ قَالَ : إِذَا كَانَ اَلدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّي ظُهُورَ قَدَمَيْهَا ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَهُ

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Bolehkah seorang perempuan sholat dengan memakai baju panjang dan kerudung tanpa sarung؟ Beliau bersabda: Boleh apabila baju panjang itu lebar menutupi punggung atas kedua kakinya. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Para Imam Hadits menilainya mauquf.

MAKNA HADITS :

Aurat perempuan dalam sholat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Adapun dalam masalah ini ulama masih berselisih pendapat sebagaimana yang akan dibahas secara terperinci dalam fiqh hadis berikut ini.

FIQH HADITS :

Wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya hinggga bagian luar telapak kakinya. Inilah pendapat mazhab al-Syafi’i dan mazhab Hanbali dan dalilnya adalah hadis di atas. Jika seorang wanita solat dengan telapak kaki dalam keadaan terbuka atau ada sebagian anggota tubuhnya yang terlihat selain wajah dan kedua telapak tangan, maka dia wajib mengulangi semula sholatnya.

Mazhab Maliki berpendapat, wanita wajib menutup seluruh anggota tubuhnya selain bagian dalam telapak tangan dan kaki serta jari-jemari kedua tangan dan kedua telapak kaki. Oleh sebab itu, tidak disyariatkan menutup keduanya itu. Dengan demikian, sholatnya sah, meskipun itu makruh.

Imam Abu Hanifah dan Imam Muhammad mengatakan, wajib menutup seluruh anggota tubuh kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki. Kedua imam ini mengatakan, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari satu perempat betis, rambut, paha dan perut.

Sedangkan menurut Abu Yusuf, dimaafkan terbuka anggota tubuh yang kurang dari separuh dan dalam masalah anggota tubuh yang terbuka separuh ini ada dua riwayat yang bersumber
darinya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..