logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

N071. HUKUM IJAB QABUL HANYA DENGAN LAFADZ “QOBILTU NIKAHAN”

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Lansung saya bertanya:
Sahkah dalam akad nikah, jika si Cantin (calon pengantin laki-laki) dalam qabul hanya mengatakan kalimat “قبلت نكاحا ”
Contoh :

Wali bilang :

انكحتك وزوجتك بنتي عاءشۃ بمهر منك خمسماءۃ الاف روبيۃ

saya nikahkan kamu dan saya kawinkan kamu kepada putriku yang bernama ‘Aisyah. dengan maskawin dari kamu 500 ribu rupiah.
Lalu calon mempelai laki-laki menjawab :

قبلت نكاحا

(saya terima nikah),
Apakah aqad nikahnya sah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Menurut QAUL AZHAR tidak sah. Namun ada yang mengatakan sah. Dalam kitab Raudhah, Imam Nawawi menjelaskan:

فرع  إذا قال : زوجتكها ، فليقل : قبلت نكاحها أو تزويجها ، أو قبلت هذا النكاح ، فإن اقتصر على قبلت ، لم ينعقد على الأظهر . وقيل : قطعا . وقيل : ينعقد قطعا

Imam Haramain dalam kitab Nihayah halaman 196 menerangkan :

فإن قال: “قبلت” واقتصر على ذلك، فقد اختلف أصحابنا في المسألة: فمنهم من قال: لا ينعقد النكاح؛ فإن المجيب لم يذكر لفظ النكاح في قبوله، ولم يضف القبول إلى المرأة أيضاًً، والنكاح يتطرق إليه الاعتناء باللفظ، كما سبق تقريره.  ومنهم من قال: يصح؛ فإن الجواب يترتب على الخطاب، حتى كأن الخطاب في حكم المعاد في الجواب.

Sementara Imam Syirbini dalam kitab Mughni menjelaskan bahwa ‘ALAL MADZHAB tidak sah. Dan dalam satu QAUL sah.

ولو قال ‘ الولي ‘ زوجتك ‘ الخ ‘ فقال ‘ الزوج ‘ قبلت ‘ واقتصر عليه ‘ لم ينعقد ‘ هذا النكاح ‘ على المذهب ‘ لأنه لم يوجد منه التصريح بواحد من لفظي النكاح والتزويج ونيته لا تفيد.

وفي قول ينعقد بذلك لأنه ينصرف إلى ما أوجبه الولي فإنه كالمعاد لفظا كما هو الأصح في نظيره من البيع وفرق الأول بأن القبول وإن انصرف إلى ما أوجل البائع إلا أنه من قبيل الكنايات والنكاح لا ينعقد بها بخلاف البيع.  وقيل بالمنع قطعا وقيل بالصحة قطعا.

Keterangan dari Fathul mu’in :

( وقبول متصل به ) أي بالإيجاب من الزوج وهو ( كتزوجتها أو نكحتها ) فلا بد من دال عليها من نحو اسم أو ضمير أو إشارة ( أو قبلت أو رضيت ) على الأصح خلافا للسبكي لا فعلت ( نكاحها ) أو تزويجها أو قبلت النكاح أو التزويج على المعتمد  لا قبلت ولاقبلتهامطلقا أي المنكوحة ولا قبلته أي النكاح والأولى في القبول قبلت نكاحها لأنه القبول الحقيقي  (3/275

Qobul yang sambung dengan ijab dari suami seperti ” zawwajtuha atau nakahtuha ” maka harus ada suatu yang menunjukkan calon istri seperti nama, dlomir atau isyaroh, berbeda dengan imam assubqi, bukan lafadzfa’aaltu nikahaha, atau tazwijaha, nikah, attazwij menurut yang mu’tamad, tidak sah qobiltu doang ( قبلت ). Juga tidak sah qobiltuha ( قبلتها ) scr mutlaq, jug qobiltuhu ( قبلته ) yang paling siiip dalam qobul yaitu qobiltu nikahaha (نكاحها ) karena ini qobul yang sebenarnya.

اعانة الطالبين  وقوله مطلقا انظر ما في معنى الاطلاق في كلامه ؟ وفي التحفة بعد قوله ولا قبلته زيادة في مسئلة المتوسط . فيكون المراد بالاطلاق في عبارة التحفة انه لا فرق بين مسئلة المتوسط وغيرها في قبلت وقبلتها  فيعلم منها تفسير الاطلاق في عبارتنا بما ذكر ونصها لاقبلتها مطلقا ولا قبلتها في مسئلة المتوسط علي ما في الروضة لكن ردوه ولايشترط فيها ايضا تخاطب

 

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 240 : CARA SUJUD BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 240 :

وَعَنْ اِبْنِ بُحَيْنَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Buhainah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sholat dan sujud merenggangkan kedua tangannya sehingga tampak putih kedua ketiaknya. Muttafaq Alaihi.

HADITS KE 241 :

وَعَنْ اَلْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari al-Barra Ibnu ‘Azib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sujud letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua siku-sikumu.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Sujud merupakan salah satu rukun sholat dan seseorang mestilah menekan anggota-anggotanya ke atas lantai untuk memastikan sujud yang dilakukannya sempurna. Ini tidak dapat dilakukan dengan sempurna melainkan apabila seseorang merenggangkan kedua tangannya hingga tidak melekat pada kedua sisi lambungnya. Sedangkan wanita ketika sujud tidak dituntut untuk berbuat demikian karena dikawatiri kecantikannya terlihat.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menjarakkan kedua lengan dengan kedua sisi lambung ketika bersujud supaya setiap anggota sujud berada pada tempatnya dengan rapi.

2. Tidak boleh meletakkan kedua hasta (lengan) di atas tanah ketika sedang sujud, agar tidak seperti haiwan buas yang sedang mendekam.

3. Menjelaskan cara sujud yang disyariatkan dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas tanah dan mengangkat kedua siku dari tanah, tidak melekatkannya di atas tanah. Hikmahnya adalah cara ini lebih memantapkan lagi kening dan hidung melekat ke tanah di samping menonjolkan gaya tawadhu’ (rendah diri) dan menjauhi kebiasaan pemalas. Ini karena seseorang yang melekatkan kedua sikunya ke tanah mirip dengan hewan buas sekaligus memberikan satu pemahaman tentang keadaan orang yang gegabah dalam sholat dan tidak menghadap dengan sepenuh hatinya. Ketentuan ini hanya berlaku bagi lelaki, sedangkan wanita tidak perlu berbuat demikian kerana berlandaskan kepada hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah (s.a.w) pada suatu hari berjumpa dengan dua orang wanita yang sedang sholat lalu baginda bersabda kepada keduanya:

إذا سجدتما فضمَّا بعض اللحم إلى الأرض ؛ فإن المرأة ليست في ذلك كالرجل

“Jika kamu berdua sujud, maka rapatkan sebagian anggota tubuhmu ke tanah, karena sesungguhnya wanita dalam masalah ini tidak sama seperti laki-laki.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 239 : ANGGOTA SUJUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 239 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ : عَلَى اَلْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ اَلْقَدَمَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang pada dahi. Beliau menunjuk dengan tangannya pada hidungnya kedua tangan kedua lutut dan ujung-ujung jari kedua kaki.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Memandang tujuan sujud dengan kening adalah sebagai ungkapan kehinaan dan tunduk kepada Allah, sedangkan hidung tidak dapat menggantikan peranan kening untuk mengungkapkan hal tersebut, maka sujud mesti dilakukan pada kening. Oleh karena sukar membuktikan yang Nabi (s.a.w) sujud di atas keningnya, maka isyarat Rasulullah (s.a.w) yang ditujukan ke hidungnya jika memberikan pemahaman bahwa hidung mesti menyentuh lantai ketika sujud, maka itu tidak bererti hidung dan kening merupakan satu kesatuan di mana sujud sudah mencukupi dengan menyentuhkan salah satu darinya ke lantai.

FIQH HADITS :

1. Wajib sujud di atas tujuh anggota tersebut. Imam al-Syafi‟i dan Imam Ahmad berkata: “Wajib sujud di atas sebagian anggota yang tujuh itu.” Mazhab Maliki dan mazhab Hanafi mengatakan, wajib sujud di atas kening, dan sujud di atas anggota yang selainnya hanyalah sunat.

2. Disyariatkan sujud di atas kening dan hidung. Imam Ahmad mengatakan wajib menggabungkan di antara keduanya. Untuk itu, seandainya seseorang sujud hanya dengan salah satu darinya, maka tidak mencukupi. Imam Abu Hanifah berkata: “Jika seseorang sujud dengan salah satu di antara kedua sujudnya, maka itu dianggap mencukupi, tetapi makruh.” Imam Malik dan Imam al-Syafii berkata: “Apa yang diwajibkan ketika sujud ialah meletakkan kening,
sedangkan sujud di atas hidung hukumnya sunat.” Menurut Imam Malik lagi, seseorang hendak mengulangi sujud jika tidak sujud di atas hidungnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M084. HUKUM BERHIAS DENGAN TUJUAN PAMER (TABARRUJ)

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum ustadz..

Saya mau bertanya, bagaimana hukum seorang wanita yang oleh suaminya dituntut untuk selalu tampil cantik dengan make up dan selalu harum dengan parfum meskipun pada saat keluar rumah dikarenakan si suami selalu ingin istrinya selalu terlihat cantik didepan semua orang termasuk si suami dan teman-temannya. Karena si suami sebelum menikah pernah pacaran sama wanita cantik dan dia tidak mau istrinya terlihat jelek dimata teman-temannya, namun jika si istri melanggar, si suami mengancam untuk mentalak si istri?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Suami yang menyuruh istrinya berhias, selalu tampil cantik, memakai make up dan memakai parfum dihadapan laki-laki yang bukan mahramnya, itu diharamkan, jika istrinya itu termasuk melakukan “tabarruj” (تبرج)

Tabarruj ialah:

(1). Wanita memperlihatkan kepada laki-laki yang bukan mahramnya, terhadap sesuatu yang diwajibkan kepada wanita itu untuk menutupnya (yaitu perhiasan wanita dan kecantikan wanita).

(2). Wanita memperlihatkan kecantikan wajahnya dan godaan bentuk tubuhnya kepada laki-laki yang bukan mahramnya.

(3). Wanita memperlihatkan bagusnya pakaiannya (perhiasannya) kepada laki-laki yang bukan mahramnya.

(4). Wanita memperlihatkan tubuhnya dengan jalannya yang melenggak-lenggok dan yang bermegah-megah kepada laki-laki yang bukan mahramnya.

تعريف التبرج

التبرج:

هو أن تُظهر المرأة للرجال الأجانب – الذين ليسوا من محارمها – ما يوجب عليها الشرع أن تستره من زينتها ومحاسنها.

قال الشيخ أبو الأعلى المودودي:

أما التبرج فمعناه لغةً: الظهور والبروز والارتفاع، ولذا تستعمل كلمة “برج” لكل شيء ظاهر مرتفع، ومن هنا يقال للبرج برج لارتفاعه وظهوره، ويقال للسفينة الشراعية بارجة لبروز شراعها من بعيد، وكلمة التبرج إذا استُعْمِلت للمرأة كان لها ثلاث معان:

1- أن تبدي للأجانب جمال وجهها ومفاتن جسدها.

2- أن تبدي لهم محاسن ملابسها وحُليِّها.

3- أن تبدي لهم نفسها بمشيتها وتمايلها وترفلها وتبخترها.

وهذا عين ما شرح به هذه الكلمة أكابر علماء اللغة والتفسير، يقول مجاهد، وقتادة، وابن أبي نجيح: “التبرج هو المشي بتبختر، وتكسر، وتغنج”، ويقول مقاتل: “هو أن تُلقي المرأة خمارها على رأسها ولا تشده فيواري قلائدها، وقرطها، وعنقها”، ويفسره المبرد بقوله: “أن تُبدي من محاسنها ما يجب عليها ستره”، ويفسره أبو عبيدة بقوله: “أن تُخرج من محاسنها ما تستدعي به شهوة الرجال “ا.ه[1].

والتبرج أعم من السفور، فالسفور خاص بكشف الغطاء عن الوجه، والتبرج: كشف المرأة وإظهارها شيئًا من بدنها أو زينتها المكتسبة أمام الرجال الأجانب عليها [2].

وما تفعله أكثر نساء هذا الزمان من التهتك والتبرج وإظهار الزينة والذهب ما هو إلا مجاهرة بالعصيان، وتشبه بالنساء الكافرات، وإثارة للفتنة، وذلك أن خروج المرأة وقد كشفت رأسها أو عنقها أو نحرها أو ذراعيها أو ساقيها من أعظم المنكرات المخالفة للشرع المطهر.

وكذلك خروجها بالثياب المظهرة للمفاتن أو الشفافة التي لا تستر ما تحتها، فهذا ونحوه كله من التبرج الذي حَرَّمه الله ورسوله صلى الله عليه وسلم [3].

[1] تفسير آيات الحجاب (ص:19).

[2] حراسة الفضيلة (ص:70).

[3]الإرشاد إلى طريق النجاة (ص:79-80
تعالى : ( ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى ) قال مجاهد : كانت المرأة تخرج تمشي بين يدي الرجال ، فذلك تبرج الجاهلية
وقال قتادة : ( ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى ) يقول : إذا خرجتن من بيوتكن – وكانت لهن مشية وتكسر وتغنج – فنهى الله عن ذلك
وقال مقاتل بن حيان : ( ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى ) والتبرج : أنها تلقي الخمار على رأسها ، ولا تشده فيواري قلائدها وقرطها وعنقها ، ويبدو ذلك كله منها ، وذلك التبرج ، ثم عمت نساء المؤمنين في التبرج وقال ابن جرير : حدثني ابن زهير ، حدثنا موسى بن إسماعيل ، حدثنا داود – يعني ابن أبي الفرات – حدثنا علي بن أحمر ، عن عكرمة عن ابن عباس قال : تلا هذه الآية : ( ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى ) قال : كانت فيما بين نوح وإدريس ، وكانت ألف سنة ، وإن بطنين من ولد آدم كان أحدهما يسكن السهل ، والآخر يسكن الجبل وكان رجال الجبل صباحا وفي النساء دمامة وكان نساء السهل صباحا وفي الرجال دمامة ، وإن إبليس أتى رجلا من أهل السهل في صورة غلام ، فآجر نفسه منه ، فكان يخدمه واتخذ إبليس شيئا مثل الذي يزمر فيه الرعاء ، فجاء فيه بصوت لم يسمع الناس مثله ، فبلغ ذلك من حوله ، فانتابوهم يسمعون إليه ، واتخذوا عيدا يجتمعون إليه في السنة ، فيتبرج النساء للرجال قال : ويتزين الرجال لهن ، وإن رجلا من أهل الجبل هجم عليهم في عيدهم ذلك ، فرأى النساء وصباحتهن ، فأتى أصحابه فأخبرهم بذلك ، فتحولوا إليهن ، فنزلوا معهن وظهرت الفاحشة فيهن ، فهو قوله تعالى : ( ولا تبرجن تبرج الجاهلية الأولى(تفسير الطبري)

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 238 : BACAAN DI WAKTU I’TIDAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 238 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ اَلرُّكُوعِ قَالَ : ” اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ اَلْحَمْدُ مِلْءَ اَلسَّمَوَاتِ وَمِلْءَ اَلْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ أَهْلَ اَلثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ أَحَقُّ مَا قَالَ اَلْعَبْدُ – وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ – اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا اَلْجَدِّ مِنْكَ اَلْجَدُّ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam jika telah mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau berdo’a “(artinya = Ya Allah Tuhan kami segala puji bagi-Mu sepenuh langit dan bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemilik puji dan kemuliaan segala yang diucapkan oleh hamba. Kami semua menghambakan diri pada-Mu. Ya Allah tidak ada yang kuasa menolak apa yang Engkau cegah dan tidak bermanfaat keagungan bagi yang memiliki keagungan karena keagungan itu dari Engkau juga).” Hadits riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) telah dianugerahkan Jawami’ al-Kalim dan oleh kerananya, do’a yang baginda baca adalah do’a yang paling sempurna. Rasulullah (s.a.w) sentiasa berdo’a ketika dalam sholat; ketika sujud, ketika tasyahhud terakhir sebelum salam, dan ketika mengangkat tubuh dari rukuk. Hadis ini mengandung salah satu do’a ma’tsur. Do’a ini dibaca sesudah mengangkat tulang belakang dari rukuk yang di dalamnya memuatkan pujian, sanjungan, pengakuan, dan memohon belas kasih serta rahmat dari Allah Yang Maha Agung lagi Maha Mulia.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca zikir yang diajarkan oleh Nabi (s.a.w) ketika i’tidal sewaktu rukuk.

2. Diwajibkan i’tidal dan tuma’ninah di dalam rukuk.

3. Setiap orang yang sholat disunatkan menggabungkan antara mendengarkan bacaan dan bacaan tahmid ketika i’tidal setelah rukuk, baik sebagai imam, makmum atau pun ketika sholat sendirian.

4. Menyerahkan semua urusan kepada Allah (s.w.t), tunduk kepada-Nya, mengakui keesaan-Nya dan menjelaskan bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah, dan kebaikan serta keburukan semuanya datang dari-Nya.

5. Dianjurkan meninggalkan urusan duniawi yang tidak membawa manfaat untuk akhirat dan berzuhud terhadapnya, karena dunia merupakan rumah yang fana (tidak kekal).

6. Anjuran memperbanyak amal sholeh ketika menghadap kepada Allah dalam sholat, karena amal sholeh dapat memberikan manfaat bagi orang yang melakukannya kelak pada hari kiamat di hadapan Allah (s.w.t).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D036. AMALAN DI HARI ‘ASYURA BULAN MUHARRAM (KITAB TARJUMAN)

KITAB TARJUMAN KARYA SYEKH ABDUL HAMID BIN ITSBAT BANYUANYAR.

HAL-HAL YANG DIANJURKAN DI HARI TANGGAL 10 BULAN MUHARRAM.

Yang sunnah dilakukan pada tanggal 10 bulan muharram ada 12 perkara :

1. Puasa.
2. Sholat.
3. Shilaturraheim.
4. Bershodaqah.
5. Adus.
6. Bercelak.
7. Ziarah kepada orang alim.
8. Menjenguk orang sakit.
9. Membasuh kepala anak yatim.
10. Mempernikmat makanan terhadap keluarga.
11. Memotong kuku.
12. Membaca Suroh Ikhlas 1000x.

TASU’A DAN ‘ASYURA

• Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan ‘Asyura (10 Muharram)

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالْعَاشِرَ وَلَا تُشَبِّهُوْا بِاْليَهُوْدِيِّ

Rasulullah SAW bersabda: “Berpuasalah kalian pada tanggal 9 dan 10 Muharram dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi.” (H.R. Bayhaqi)

• Fadlilah Puasa ‘Asyura (10 Muharram)

عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ: سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشًوْرَآءَ فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Dari Abu Qatadah; Rasulullah SAW pernah ditanya perihal puasa tanggal 10 Muharram, maka beliau menjawab: “Puasa tanggal 10 Muharram itu dapat menghapus dosa satu tahun yang telah lewat.” (H.R. Muslim)

عَنْ جَابِرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُوْرَآءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ سَائِرَ السَّنَةِ

Dari Jabir dari Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melapangkan rizki atas dirinya dan keluarganya pada hari Asyura’ (10 Muharram) maka Allah akan melapangkan rizki baginya seluruh tahunnya.” (H.R. Muslim)

Niat puasa Tasu’a :

نويت صوم غد من يوم تاسعاء سنة لله تعالى

Niat saya berpuasa besok di hari tanggal 9 bulan muharram sunnah karena Allah Ta’ala.

Niat puasa ‘asyuro’ :

نويت صوم غذ من يوم عاشراء سنة لله تعالى

Niat saya berpuasa besok di hari tanggal 10 bulan Muharrah sunnah karena Allah Ta’ala.

AMALAN DO’A ‘ASYURA

• Membaca Do’a ‘Asyura

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. اَللّهُمَّ يَا مُفَرِّجَ ذِي النُّوْنِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا جَامِعَ شَمْلِ يَعْقُوْبَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا غَافِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَيَا سَامِعَ دَعْوَةِ مُوْسَى وَهَارُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَيَا خَالِقَ رُوْحِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَيَا رَحْمٰنَ الدُّنْيَا وَاْلاَخِرَةِ أَطِلْ عُمْرِي فِي طَاعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضَاكَ وَأَحْيِنِي حَيَاةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِي عَلَى اْلإِسْلاَمِ وَاْلإِيْمَانِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

• Membaca Do’a Tawakkal 70 kali

حَسْبُناَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ ×70

• Membaca bacaan Tasbih berikut sebanyak 7 kali

سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ اْلعَرْشِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ اْلعَرْشِ وَاللهُ أَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ اْلعَرْشِ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَأَ مِنَ اللهِ إِلاَّ إِلَيْهِ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا واللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا أَسْأَلُكَ السَّلاَمَةَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَهُوَ حَسْبِيْ وَنِعْمَ

Demikian amalan-amalan yang mungkin untuk dilakukan berdasar Al Qur’an, Hadits dan keterangan dari para ulama terpercaya.

TATA CARA SHOLAT DI TANGGAL 10 BULAN MUHARRAM.

Niat sholat :

اصلي سنة لعشراء اربع ركعات سنة لله تعالى

Niat saya sholat karena tanggal 10 bulan muharram empat rakaat sunnah karena Allah Ta’ala.

Setelah fatihah baca suroh ikhlas 11 kali di setiap rakaatnya.
Tidak usah tahiyat awal langsung tahiyat akhir.
Setelah itu langsung salam.
Dan bacalah do’a2 yang tertulis di kitab tarjuman.

#Tarjuman_hal : 85-86

Tambahan :

Keutamaan menyantuni Anak Yatim

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلاَّ لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ حَسَنَاتٌ وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمَةٍ أَوْ يَتِيمٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِى الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ. وَفَرَّقَ بَيْنَ أُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى.

Dari Abu Umamah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa mengusap kepala anak yatim karena Allah, adalah baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu terdapat banyak kebaikan dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh adalah aku bersama dia di surga seperti ini. Dan beliau mensejajarkan jari telunjuk dan jari tengahnya.”

Semoga bermanfaat.. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M083. HUKUM MENDOWNLOAD PDF DI INTERNET

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum mendownload PDF di internet?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya mendownload PDF kitab (buku) ditafsil :

1- Halal, jika ada indikasi (tanda) bahwa pengarang/penerbit PDF kitab (buku) itu ridho.

2- Haram, jika ada indikasi (tanda) bahwa pengarang/penerbit PDF kitab (buku) itu tidak ridho.

(فتاوی الشبكۃ الاءسلاميۃ,جز ٤,صحيفۃ ٤۰۰-٤۰١)
الفتوی الحمد لله والصلاۃ والسلام علی رسول الله وعلی اله وصحبه,اما بعد, فإن الكتب التي احتفظ اصحابها لأنفسهم بحقوق الطبع لا يجوز تصويرها او طبعها الا بإذن من اصحابها كما قرر ذلك المحققون من اهل العلم المعاصرين, فقد قرر مجمع الفقه الإسلامي ان حقوق التأليف والإختراع والإبتكار مصونۃ شرعا, ولأصحابها حق المتصرف فيها, ولا يجوز الإعتداء عليها, هذا اذا كان الشخص يريد تصوير الكتاب كاملا, اما ان كان يريد تصوير موضوع معين او فقرات منه للإستفادۃ منها او للإستشهاد بها فالظاهر ان ذلك ليس بممنوع, لانه لا تأثير له علی الحقوق المادية والمعنوية للمؤلف.

(Fataawaa Asysyabakatil Islaamiyyati, juz 4, halaman:400-401)
Al Fatwa. Bahwa sesungguhnya kitab-kitab yang mana pengarang kitab-kitab itu mempunyai hak cipta untuk mencetak kitab-kitab tersebut, maka kitab-kitab itu tidak boleh di foto copy dan tidak boleh dicetak kecuali dengan idzin pengarang kitab, Sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama’ kontemporer ahli tahqiq. Dan Lembaga Fiqih Islam telah menetapkan: Bahwa hak untuk menerbitkan kitab dan hak untuk mencetak kitab dan hak untuk menyewakan kitab dilindungi oleh syara’. Para pengarang kitab itu mempunyai hak untuk bertindak didalam kitab tersebut. Sehingga dilarang menerbitkan dan memfoto copy kitab itu tanpa idzin dari pengarang kitab. Hal yang diatas ini jika seseorang ingin memfoto copy kitab secara keseluruhan. Adapun jika seseorang itu ingin memfoto copy suatu topic (judul) tertentu atau satu bab dari kitab itu, untuk mengambil faidah dari kitab itu, atau untuk menjadikan rujukan (foot note) dengan kitab itu, maka menurut pendapat yang jelas, bahwa memfoto copynya tidak dilarang. Alasannya ialah: Karena tidak ada pengaruh dari orang itu bagi hak materi dan hak maknawi milik pengarang kitab tersebut.

(عمدۃ المفتي والمستفتي,جز ٢,صحيفۃ ١٥٢)
مسائلۃ,لا يجوز اخذ كتاب الغير لينتقل منه الا مسئلۃ الا باءذن من مالكه,فان اخذه بغير اذنه ضمنه ان تلف,فاما اذا لم يأخذه ونقل منه المسئلۃ من غير الإستيلاء فهو جائز, وان لم يرض صاحبها كاقتباس النار, والحديث الوارد في النهي عن النظر عن كتاب الغير بغير اذنه محمول علی كتاب مشتمل علی ما لا يرضی صاحبها بالإطلاع عليه كالرسائل المتضمنة لخبر لا يرضی صاحبه بالعلم بما فيه كتب العلم بلا خلاف

(Umdatul Muftii Wal Mustaftii,juz 2,halaman 152)
Masalah. Tidak boleh mengambil kitab orang lain, untuk mengutip tulisan dari kitabnya, kecuali dengan idzin pemilik kitab tersebut. Jika seseorang mengambil kitab orang lain tanpa idzin dari pemilik kitab maka orang yang mengambil kitab itu wajib mengganti kitab itu jika kitab itu rusak. Adapun jika seseorang itu tidak mengambil kitab milik orang lain, dan seseorang itu hanya mengutip satu masalah dengan tanpa berniat menguasai kitab itu maka hal itu diperbolehkan, walaupun pemilik kitab itu tidak ridho. Dan hal ini adalah diqiaskan (disamakan) dengan mengambil sedikit api. Adapun haditsnya nabi Muhammad yang melarang kepada kita untuk melihat kitab orang lain dengan tanpa idzin pemilik kitab, kemungkinan mengenai kitab yang mengandung tulisan yang mana pemilik kitab itu tidak ridho jika kita melihat tulisannya. Perumpamaannya adalah seperti jika kita melihat surat milik orang lain, yang mana surat itu mengandung suatu berita, yang mana pemilik surat itu tidak ridho jika kita mengetahui berita yang ada di surat tersebut. Terutama jika surat itu mengandung tulisan tentang ilmu tertentu.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

D035. HUKUM MENULIS BASMALAH PADA KARTU UNDANGAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum menulis Basmalah di kartu undangan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Makruh menulis basmalah di kartu undangan karena dikhawatirkan nantinya akan terinjak kaki

الموسوعة الفقهية الكويتية
ذهب الشافعية وبعض الحنفية إلى كراهة نقش الحيطان بالقرآن مخافة السقوط تحت أقدام الناس ، ويرى المالكية حرمة نقش القرآن واسم الله تعالى على الحيطان لتأديته إلى الامتهان . وذهب بعض الحنفية إلى جواز ذلك .

2. Tidak boleh membuang sembarangan undangan bertuliskan basmalah, bahkan bisa murtad bila bertujuan meremehkan / istihza’

{ حاشية قليوبي وعميرة الجزء الرابع ص : 177 }

قوله (والفعل المكفر ما تعمده استهزاء صريحا) خرج بالعمد والسهو والغفلة ونحو النوم وبالاستهزاء نحو إكراه أو خوف كسجود أسير لصنم بحضرة كافر وإلقاء نحو مصحف بقاذورة خوفا من وقوعه في يد كافر قاله شيخنا الرملي وفيه نظر إذا لم يظن إهانته له وبالصريح ما كان معه قرينة تصرفه عنه كالبصاق على اللوح لأجل مسح ما فيه من القرآن. قوله (كإلقاء مصحف بقاذورة) بالفعل أو بالعزم والتردد فيه ومسه بها كإلقائه فيها وألحق بعضهم به وضع رجله عليه ونوزع فيه والمراد بالمصحف ما فيه قرآن ومثله الحديث وكل علم شرعي أو ما عليه اسم معظم قال شيخنا الرملي ولا بد في غير القرآن من قرينة تدل على الإهانة وإلا فلا وشملت القاذورة الطاهرة كبصاق ومخاط ومني .

{ المجموع شرح المهذب }

وأجمعوا على أن من استخف بالقرآن أو بشيء منه أو بالمصحف أو ألقاه في قاذورة أو كذب بشيء مما جاء به من حكم أو خبر ، أو نفى ما أثبته أو أثبت ما نفاه أو شك في شيء من ذلك وهو عالم به كفر

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 237 : BACAAN TAKBIR DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 237 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ إِلَى اَلصَّلَاةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ ثُمَّ يَقُولُ : “سَمِعَ اَللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ” حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنْ اَلرُّكُوعِ ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ : “رَبَّنَا وَلَكَ اَلْحَمْدُ” ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَسْجُدُ ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْفَعُ ثُمَّ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي اَلصَّلَاةِ كُلِّهَا وَيُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ مِنْ اِثْنَتَيْنِ بَعْدَ اَلْجُلُوسِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sholat beliau bertakbir ketika berdiri kemudian bertakbir ketika ruku’ lalu membaca “sami’allaahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) ketika beliau mengangkat tulang punggungnya dari ruku’. Saat berdiri beliau membaca “rabbanaa walakal hamdu” (Ya Tuhan kami hanya bagi-Mu segala puji) kemudian beliau melakukan demikian seluruhnya dalam sholat dan bertakbir ketika bangkit dari dua rakaat setelah duduk tahiyyat.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Ketika Nabi (s.a.w) menyuruh sahabatnya untuk mengetahui cara-cara sholat yang disyariatkan meneruskan perbuatannya, baginda bersabda: “Sholatlah kamu sekalian sebagaimana kamu melihatku sholat.” Dari sini para sahabat meneliti sholat dan setiap perbuatannya serta menukil semua yang dibacanya, karena didorong oleh keinginan mereka yang kuat untuk mengetahui tatacara sholat yang disyariatkan.

Antara petunjuk Nabi (s.a.w) dalam sholat ialah baginda sentiasa membaca takbiratul ihram ketika berdiri, lalu membaca takbir lagi ketika rukuk, lalu membaca ” سمع الله لمن حمده ” ketika bangkit daru rukuk. Jika telah berdiri dalam i’tidal, baginda membaca “ربنا ولك الحمد”. Baginda mengucapkan takbir ketika mengangkat tubuhnya dan ketika berdiri dari duduk sesudah rakaat kedua. Inilah yang baginda lakukan dalam setiap sholat.

FIQH HADITS :

1. Wajib bertakbiratul ihram.

2. Wajib takbir ketika berpindah dari satu rukun ke rukun yang lain menurut Imam Ahmad, sedangkan menurut jumhur ulama, hukumnya sunat.

3. I’tidal merupakan rukun sholat, sama ada i’tidal berdiri setelah bangkit dari rukuk mahupun i’tidal duduk setelah bangkit dari sujud.

4. Disunatkan menggabungkan antara memperdengarkan bacaan dan tahmid bagi imam, dan orang yang sholat sendirian.

5. Makmum hanya dibolehkan membaca tahmid.

6. Menjelaskan bilangan takbir dalam sholat fardu lima waktu, termasuk takbiratul ihram. Jumlah keseluruhannya sebanyak sembilan puluh empat takbir yang
perinciannya adalah sebagai berikut: Setiap sholat yang terdiri daripada empat rakaat terdapat dua puluh dua takbir, sedangkan jumlah sholat yang terdiri dari empat rakaat itu ada tiga. Jadi, jumlah keseluruhannya menjadi 66 takbir. Dalam solat yang terdiri dari tiga rakaat terdapat tujuh belas takbir, dan dalam sholat dua rakaat terdapat sebelas takbir. Jadi jumlah keseluruhan takbir dalam solat fardu lima waktu ialah 94 takbir.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

H017. HUKUM MAKAN DAGING MENTAH

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Bagaimana hukum memakan daging hewan dalam keadaan mentah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Penyembelihan adalah syarat bagi halalnya daging hewan untuk dikonsumsi serta bagi pemanfaatan bagian tubuh hewan yang lainnya. Dengan kata lain, daging hewan dan bagian tubuh lainnya haram untuk dimakan/dimanfaatkan bila tidak melalui penyembelihan terlebih dahulu. Hal ini telah tegas difirmankan Allah dalam Al Qur’an:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya”. (QS. Al An’am : 121).

Menurut pandangan secara umum dari madzhab Syafi’i bahwa bila binatang yang halal bila telah melewati proses penyembelihan secara syar’i maka dagingnya halal dimakan, baik daging itu mentah ataupun telah dimasak. Di dalam madzhab ini tidak diterangkan secara khusus tentang masalah daging mentah.

Ulama dari kalangan Madzahab Hanbali seperti Imam Ibnu Muflih mengatakan: Tidak masalah makan daging mentah, sebagaimana riwayat yang dinukil dari Muhana (murid Imam Ahmad). Juga dibolehkan makan daging yang sudah bau, sebagaimana riwayat yang dinukil dari Abul Harits. Sementara sekelompok ulama Hanbali mengatakan tentang daging mentah dan daging yang sudah bau hukumnya makruh.

Hal ini juga yang menjadi pendapat ulama Malikiyah, sebagaimana keterangan Imam al Kharsyi: Keterangan penulis ‘sampai daging mentah’ maksudnya adalah mubah memakannya. Yang dimaksud mubah adalah yang tidak haram dan tidak makruh.

Dalam madzhab Syafi’i tidak ditemukan penjelasan secara khusus mengenai hukum mengkonsumsi daging mentah, para ulama’ madzhab Syafi’i hanya menjelaskan asalkan hewan telah disembelih dengan sembelihan yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan maka dagingnya halal dimakan, dari kemutlakan tersebut dapat dipahami bahwa daging hewan yang telah disembelih boleh dimakan meskipun masih mentah.

Sedangkan para ulama’ dari kalangan madzahab madzhab Hanbali berbeda pendapat mengenai masalah ini, menurut sebagian ulama’ hukumnya makruh, dan menurut sebagian ulama’ lainnya hukumnya boleh dan tidak makruh, pendapat yang kedua ini dinukil oleh Muhana (murid Imam Ahmad) dan pendapat ini merupakan pendapat ashoh (lebih shahih) menurut penjelasan dalam Syarah Al-Muntaha.

Syekh al-Khorsyi, seorang ulama’ madzhab Maliki dalam Syarah Mukhtashor Kholil juga menyatakan bahwa memakan daging mentah hukumnya diperbolehkan dan tidak makruh. Ada juga sebagian ulamak yang memakruhkan apabila memakannya terus menerus.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa menurut mayoritas ulama’ mengkonsumsi daging mentah hukumnya boleh, namun tentu saja hal ini dengan batasan asalkan hal tersebut tidak membahayakan kesehatan.

Referensi:

Nihayah al Muhtaj juz 8 hal. 112-113

والذبائح) جمع ذبيحة وجمعها لأنها تكون بالسكين وبالسهم وبالجوارح، والأصل فيه قوله تعالى {أحل لكم صيد البحر} [المائدة: 96] وقوله {إلا ما ذكيتم} [المائدة: 3] وقوله {وإذا حللتم فاصطادوا} [المائدة: 2] ومن السنة ما سنذكره، والرافعي ذكر هنا الصيد والذبائح والأطعمة والنذر فتبعه المصنف هنا وفاقا للمزني وأكثر الأصحاب، وخالفه في الروضة فذكرها في آخر ربع العبادات لأن طلب الحلال فرض عين. وأركان الذبح بالمعنى الحاصل بالمصدر أربعة ذبح وذابح وذبيح وآلة (ذكاة الحيوان المأكول) البري المطلوبة شرعا لحل أكله تحصل (بذبحه في حلق) وهو أعلى العنق (أو لبة) بفتح اللام وهي أسفله (إن قدر عليه) بالإجماع، وروى الدارقطني والبيهقي عن أبي هريرة «أن النبي – صلى الله عليه وسلم – بعث بديلا يصيح في فجاج منى: ألا إن الذكاة في الحلق واللبة» فلا يحل شيء من الحيوان المأكول من غير ذكاة

Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab juz 8 hal. 412

عن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ذبيحة المسلم حلال ذكر اسم الله أو لم يذكر) فهذا حديث مرسل ذكره أبو داود في المراسيل والبيهقي (وأجاب) أصحابنا عن الآية التي احتج بها الأولون أن المراد ما ذبح للأصنام كما قال تعالى في الآية الأخرى (وما ذبح على النصب وما أهل به لغير الله) ولهذا قال تعالى (ولا تأكلوا مما لم يذكر اسم الله عليه وانه لفسق) وقد أجمعت الأمة على أن من أكل متروك التسمية ليس بفاسق فوجب حملها على ما ذكرناه ويجمع بينها وبين الآيات السابقات مع حديث عائشة (وأجاب) بعض أصحابنا بجواب آخر وهو حمل النهي على كراهة التنزيه جمعا بين الأدلة (والجواب) عن حديثي علي وأبي ثعلبة أن ذكر التسمية للندب

Al Furu’ juz 10 hal. 379

ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻣﺪﺍﻭﻣﺔ ﺃﻛﻞ ﻟﺤﻢ ) ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻷﺻﺤﺎﺑﻘﻠﺖ ﻭﻣﺪﺍﻭﻣﺔ ﺗﺮﻙ ﺃﻛﻠﻪ ﻷﻥ ﻛﻼ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻳﻮﺭﺙ ﻗﺴﻮﺓ ﺍﻟﻘﻠﺐ ( ﻭ ) ﻳﻜﺮﻩ (ﺃﻛﻞ ﻟﺤﻢ ﻣﻨﺘﻦ ﻭﻧﻲﺀ ) ﺫﻛﺮﻩ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻭﺟﺰﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺘﻬﻰ ﺑﻌﺪﻡ ﺍﻟﻜﺮﺍﻫﺔ ﻭﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺷﺮﺣﻪ : ﻓﻼ ﻳﻜﺮﻩ ﺃﻛﻠﻬﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ ﻗﺎﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﻭﻉ : ﻭﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻠﺤﻢ ﻧﻲﺀ ﻧﻘﻠﻬﻤﻬﻨﺎ، ﻭﻟﺤﻢ ﻣﻨﺘﻦ ﻧﻘﻠﻬﺄﺑﻮ ﺍﻟﺤﺎﺭﺙ ﻭﺫﻛﺮ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﻳﻜﺮﻩ ﻭﺟﻌﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻻﻧﺘﺼﺎﺭ ﻓﻲ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ ﺍﺗﻔﺎﻗﺎ

Syarh Muntaha al Iradat juz 3 hal. 412

و) يكره (مداومة أكل لحم) لأنه يورث قسوة (و) يكره (ماء بئر بين قبور وبقلها وشوكها) قال ابن عقيل كماء سمد بنجس والجلالة و (لا) يكره (لحم نيء ومنتن) نصا

Syarh Mukhtashar Khalil juz 3 hal. 26

قوله تناوله في حالة الاختيار) ويأتي ما يباح تناوله للضرورة وظاهره أن الميتة للمضطر ليست بطاهرة وسيأتي ما فيه (قوله ولا عكس) أي وليس كل طاهر مباحا كالسم أي والجراد الميت فالعكس باعتبار الصفة (قوله حتى اللحم النيء) أي لقوله في توضيحه أي يجوز أكله والمراد بالمباح ما ليس محرما ولا مكروه

Kasysyaf al-Qina’, juz 6 hal. 195

(ويكره مداومة أكل لحم) قاله الأصحاب قلت ومداومة ترك أكله لأن كلا منهما يورث قسوة القلب (و) يكره (أكل لحم منتن ونيء) ذكره جماعة وجزم في المنتهى بعدم الكراهة وقال في شرحه: فلا يكره أكلهما على الأصح قال في الفروع: ولا بأس بلحم نيء نقله مهنا، ولحم منتن نقله أبو الحارث وذكر جماعة فيهما يكره وجعله في الانتصار في الثانية اتفاقا.

Wallahu a’lamu bisshowab..