logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 101 : BOLEH TIDUR DALAM KEADAAN JUNUB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 101 :

وَلِلْأَرْبَعَةِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَنَامُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَمَسَّ مَاءً ) وَهُوَ مَعْلُول

Menurut Imam Empat dari ‘Aisyah r.a dia berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah tidur dalam keadaan junub tanpa menyentuh air. Hadits ini ma’lul.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) adalah penentu syari’at. Oleh sebab itu, adakalanya baginda berwuduk hanya sekali, kadang kala minum sambil berdiri, kadang kala membuang air kecil sambil berdiri dan tidur dalam keadaan junub tanpa berwuduk atau mandi terlebih dahulu. Semua itu merupakan penjelasan yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut diperbolehkan. Ia dilakukan sendiri oleh Rasulullah (s.a.w) kerana cara ini lebih berkesan dalam menjelaskan sesuatu permasalahan.

FIQH HADITS :

Orang yang junub boleh tidur tanpa berwuduk atau mandi terlebih dahulu,
tetapi apa yang lebih diutamakan adalah sebagaimana keterangan yang dimuatkan dalam hadis sebelum ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N039. BOLEHKAH MERALAT PERKATAAN THALAK MU’ALLAQ (THALAK BERSYARAT)?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi:

Seorang suami mengatakan kepada istrinya “kalau kamu besok pergi kerumah si A maka kamu aku thalaq, lalu setelah beberapa jam si suami meralatnya (mencabut perkataannya) dengan ucapan aku mencabut perkataanku tadi kamu tidak apa-apa pergi kerumahnya si A tidak aku thalak kamu walaupun kamu pergi kerumahnya si A

Pertanyaan:

Apakah thalak muallaq bisa diralat sebelum sampainya waktu atau pekerjaan yang menjadi taalluqan (seperti contoh dalam deskripsi)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Talaq mu’allaq Ada 2 :
1. Dengan sifat
2. Dengan syarat

ويصح تعليقه اي الطلاق بالصفة والشرط

Adapun yang dimaksud ta’liq Dengan sifat adalah Zaman/waktu Dan tempat, seperti :
kamu saya talaq dibulan ini.
Maka talaq pada Malam bulan pertama yang ditentukan.

(قوله:بالشرط)اي من زمان او مكان او غيرهما فتطلق نوجودهما. فإذا قال: أنت طالق في شهر كذا..الى ان قال.. وقع الطلاق بأول جزء من اللية الاولى منه.

Adapun ta’liq dengan syarat maka harus menggunakan Alat syarat, seperti:
kalau kamu masuk rumah maka kamu saya talaq. maka talaq terjadi jika sang istri masuk rumah.

(قوله: بالشرط) بالجر عطفا على الصفة اي ويصح تعليقه بالشرط كأن يعلق بأداة من أدوات الشرط كما اشار اليه الشارح بقوله كإن دخلت الدار فانت طالق

Dalam penggunaan Alat syarat oleh ulama’ diperinci :

a. Jika ucapan suami berbentuk kalimat Nafi, maka langsung terjadi talaq jika syarat dilanggar. Kecuali alat إن

b. Jika ucapan berbentuk Isbat maka tidak terjadi langsung, kecuali alat :
إن ,اذا،
yang disertai harta.
Atau kalimat :شئت yang diucapkan secara langsung,seperti :
jika kamu memberi uang seribu, maka kamu saya talaq. dengan memberi seribu maka otomatis istri ke talaq.

وأدوات التعليق تقتضي الفور في النفي الا إن فانها للتراخي.
ولاتقتضين فورا في الاثبات الا اذا وان مع المال أو شئت خطابا.

مأخوذ: الباحوري ج ٢ ص ١٤٧

====================
Adapun Perkataan suami: “aku mencabut Perkataanku Tadi kamu tidak apa apa pergi kerumah si A” tidak dibenarkan dalam Artian tetap terjadi tolaq jika istri pergi kerumah si A

(ويصح تعليقه بالصفة والشرط) الى ان قال..
وقيل ذكر الامثلة يعلم ان الطلق إذا علق على شرط لم يجز الرجوع في التعليق وسواء علقه بشرط معلوم الحصول او محتمله لايقع الطلاق بوجود الشرط

Jika suami menggantungkan talaq Dengan syarat, maka baginya tidak Boleh menggagalkannya, baik berupa syarat yang pasti dilakukan atau mungkin iya mungkin tidak dilakukan.dan talaq tetap terjadi Dengan adanya syarat.

مأخوذ: كفاية الاخيار في حل غاية الاختصار، ج ٢ ص ٩٢

Kesimpulan :

Ucapan suami tersebut tetap dikatakan talaq mu’allaq serta meralat ucapan tidak berpengaruh (tetap terjadi talaq jika istri pergi kerumah si A)

والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

T021. HUKUM WUDHU’ BAGI PEREMPUAN BER MAKE-UP

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi :
Sudah tidak asing bagi kita ketika wanita hendak bepergian segala macam make up yang dipakai Bahkan Terkadang Sampai 5 macam/lapis yang bahannya licin/berminyak.

pertanyaannya,
Apakah make-up menjadi penghalang ketika hendak wudhu’?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

TENTANG WUDHU’NYA WANITA BER MAKE-UP :

Ketahuilah saudariku, disini Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan agar seseorang yang berwudhu menyempurnakan wudhunya..

Jika seseorang mengabaikan kesempurnaan wudlu, misalnya meninggalkan sedikit anggota wudlu, kering tidak terbasuh air maka ia harus memperbaharui wudhu dan di haruskn untk mengulangi sholatnya.

Di sebutkan Dari Jabir radliyallahu anhu berkata :

Umar bin al-Khththab radliyallahu anhu pernah mengkhabarkan kepadaku bahwasanya ada seorang lelaki yang berwudlu lalu ia meninggalkan sebesar kuku pada kakinya.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melihatnya lalu bersabda :

“Kembalilah lalu perbaiki wudlumu lalu iapun kembali kemudian sholat”.

(HR Muslim: 243. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih)

Dan Dari Anas bin Malik radliyallahu anhu bahwasanya ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang lelaki tersebut telah berwudlu namun meninggalkan pada kakinya sebesar kuku..

Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

”kembalilah dan perbaiki wudhu’-mu!”.

(HR Abu Dawud: 173 dan Ibnu Khuzaimah: 164. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih)

Kemudian juga’ Telah diriwayatkan dari sebahagian shahabat Nabi bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat seorang lelaki sholat namun pada punggung kakinya ada kilatan sebesar mata uang dirham yang tidak tersentuh air (wudlu).

Lalu Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyuruhnya untuk mengulangi wudlu dan sholat.

(HR Abu Dawud: 175. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih)

Nah, Berdasarkan pada dalil-dalil di atas dapat ditarik sebuah faedah yang agung, yaitu apabila seorang wanita memakai make up yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit anggota wudhunya maka ia wajib menghilangkannya ketika hendak berwudhu karena hal itu dapat menyebabkan tidak sahnya wudhu dan shalatnya.

Oleh sebab itu, jika make up yang dipasang di anggota wudlu sampai berlapis-lapis yang mana seandainya digosok di kulit anggota wudlu dan menjadi nampak terpisah dari kulit atau tangan maka wudlu-nya TIDAK SAH, kecuali warna spidol atau tinya, sebab warna spidol yang berada dianggota wudhu (ditangan) bukanlah zat atau benda yang apabila digosok akan tanpak sesuatu yang terpisah dari tangan maka hal tersbut tidak apa2 (kalau spidol tersebut tidak menjadi penghalang masuknya air ke kulit).

مراقاة صعود التصديق في شرح سلم التوفيق ص,٢٤

{وعدم المانع من وصول الماء الى المغسول } اى أو الممسوح كشمع وعين حبر وحناء مجرد لونهمابحيث لا يتحلل بالحت مثلا شيءٌ

“{Termasuk dari sahnya wudlu adalah tidak adanya sesuatu yang menghalangi air sampai pada anggota yang dibasuh} Atau perkara yang diusap seperti lilin, zatnya tinta dan pacar. Berbeda halnya warna keduanya yang seandainya digosok tidak ada zat atau benda yang terpisah.

BARANG YANG BISA MENGHALANGI SAMPAINYA AIR (SEPERTI LIPSTIK, OLI DAN PELUMAS) DIPERINCI SEBAGAIMANA BERIKUT :

1. Apabila terdapat bekas pelumas pada anggota wudhu`, maka hukum wudhu`nya sah karena ia tidak termasuk ha`il (penghalang).

2. Pelumas yang ada bentuknya / padat (misal vaslin) itu termasuk ha`il (penghalang).

Berikut penjelasan uraian rincinya :
Kalau yang cair tak masalah, yang mani’ itu yang padat kayak stempel itu.

(كنورة) ودهن لَهُ حرم يمْنَع وُصُول المَاء للبشرة

Fathul mu’in :

-ورابعها: أن لا يكون على العضو حائل بين الماء والمغسول كنورة وشمع ودهن جامد وعين حبر وحناء بخلاف دهن جار أي مائع وإن لم يثبت الماء عليه وأثر حبر وحناء

Yang ke 4 syarat wudhu. Tidak ada di anggota wudlu sesuatu yang menghalangi antara air dengan yang dibasuh seperti gamping, lilin, minyak padat, tinta, pacar, beda kalau minyak cair walaupun air tidak bisa diam juga bekas pacar dan tinta.

ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ – ﺍﻟﺒﻜﺮﻱ ﺍﻟﺪﻣﻴﺎﻃﻲ – ﺝ ١ – ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٤٥ – ٤٦

ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ: ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺣﺎﺋﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﻐﺴﻮﻝ، ﻛﻨﻮﺭﺓ ﻭﺷﻤﻊ ﻭﺩﻫﻦ ﺟﺎﻣﺪ ﻭﻋﻴﻦ ﺣﺒﺮ ﻭﺣﻨﺎﺀ، ﺑﺨﻼﻑ ﺩﻫﻦ ﺟﺎﺭ ﺃﻱ ﻣﺎﺋﻊ – ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻴﻪ – ﻭﺃﺛﺮ ﺣﺒﺮ ﻭﺣﻨﺎﺀ.

ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺭﺍﺑﻌﻬﺎ ﺃﻱ ﺭﺍﺑﻊ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ .ﻗﻮﻟﻪ: ﺣﺎﺋﻞ ﺃﻱ ﺟﺮﻡ ﻛﺜﻴﻒ ﻳﻤﻨﻊ ﻭﺻﻮﻝ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﻠﺒﺸﺮﺓ .ﻗﻮﻟﻪ: ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻤﻐﺴﻮﻝ ﻣﺜﻠﻪ ﺍﻟﻤﻤﺴﻮﺡ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ. ﻗﻮﻟﻪ: ﻛﻨﻮﺭﺓ ﺇﻟﺦ ﺗﻤﺜﻴﻞ ﻟﻠﺤﺎﺋﻞ. ﻗﻮﻟﻪ: ﺑﺨﻼﻑ ﺩﻫﻦ ﺟﺎﺭ ﺃﻱ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﺩﻫﻦ ﺟﺎﺭ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻌﺪ ﺣﺎﺋﻼ ﻓﻴﺼﺢ ﺍﻟﻮﺿﻮﺀ ﻣﻌﻪ، ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻀﻮ ﻻﻥ ﺛﺒﻮﺕ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﻟﻴﺲ ﺑﺸﺮﻁ .ﻗﻮﻟﻪ: ﻭﺃﺛﺮ ﺣﺒﺮ ﻭﺣﻨﺎﺀ ﺃﻱ ﻭﺑﺨﻼﻑ ﺃﺛﺮ ﺣﺒﺮ ﻭﺣﻨﺎﺀ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﻀﺮ. ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻷﺛﺮ ﻣﺠﺮﺩ ﺍﻟﻠﻮﻥ ﺑﺤﻴﺚ ﻻ ﻳﺘﺤﺼﻞ ﺑﺎﻟﺤﺖ ﻣﺜﻼ ﻣﻨﻪ ﺷﺊ.

Penalaran : Benda cair adalah sesuatu yang tidak terbilang sebagai ha`il, akan tetapi para ulama membatasinya dengan benda cair yang tidak ada bentuknya / jirmahnya yang melekat pada anggota yang akan dibasuh. Lantas, andai terdapat dzat pelumas pada anggota wudhu` maka hendaknya dibersihkan terlebih dahulu kemudian mulailah berwudhu`, dan kenyataan air yang tidak menempel pada kulit sebab terdapat bekas pelumas tersebut, itu tidak menjadi masalah karena tetapnya air pada anggota wudhu` tidak termasuk syarat sahnya wudhu`.

NB : Hal-hal yang dimaksud ha`il (penghalang) dalam bab wudhu` ialah sesuatu yang bisa menghalangi sampainya air pada anggota yang dibasuh ataupun diusap sekira sesuatu tersebut dikerik akan menghasilkan bendanya.

Wallahu A’lam bisShawab.

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 100 : ANJURAN BERWUDHU’ APABILA INGIN MENGULANGI JIMAK DENGAN ISTRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 100 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا ) رَوَاهُ مُسْلِم

زَادَ اَلْحَاكِمُ: ( فَإِنَّهُ أَنْشَطُ لِلْعَوْدِ )

Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mendatangi istrinya (bersetubuh) kemudian ingin mengulanginya lagi maka hendaklah ia berwudlu antara keduanya.” Hadits riwayat Muslim.

Hakim menambahkan: “Karena wudhu itu memberikan semangat untuk mengulanginya lagi.”

MAKNA HADITS :

Seseorang yang junub dikawatirkan selalu terkena gangguan syaitan kerana malaikat yang mulia menjauhinya. Oleh sebab itu, syari’at menganjurkan untuk
berwuduk karana adanya hikmah-hikmah yang sangat luar biasa, antara lain ialah:

Pertama, apabila seseorang hendak mengulangi persetubuhan dengan isterinya, maka itu mampu memberinya semangat dan mengembalikan lagi kekuatannya.

Kedua, kerana wuduk dalam kategori bersuci kecil yang dapat dijadikan sebagai benteng bagi dirinya secara keseluruhan.

Ketiga, kerana wuduk itu adakalanya
mendorongnya untuk terus mandi junub dan inilah yang diharapkan.

FIQH HADITS :

1. Orang yang hendak menggauli isterinya untuk yang kedua kalinya
disyariatkan berwuduk.

2. Dibolehkan beribat untuk menambah semangat untuk berjimak dengan isteri.

3. Mandi di antara dua persetubuhan tidak wajib.

4. Disyari’atkan meringankan junub dengan berwuduk kerana wuduk merupakan bersuci kecil supaya orang berkenaan tidak terhalang dari berkah ditemani oleh malaikat.

Di dalam hadis yang lain disebutkan:

ِثلاثة لا تقربهم الملائكة ؛ الجنب والسكران والمتمضخ بالخلوق

“Ada tiga orang yang para malaikat tidak mau mendekatinya, yaitu orang yang junub, orang mabuk dan orang yang berbau tidak enak.”

5. Etika mengungkapkan sesuatu dengan menggunakan kata-kata sindiran untuk menceritakan perkara-perkara yang aib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

New Fatwa Edisi 11 Kembali Hadir dengan Gaya yang Lebih Elegan

Bata-Bata – Majalah Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba), New Fatwa terbit kembali, Selasa (20/3/2018). Pada edisi 11 kali ini, Redaksi New Fatwa mengambil tema “Peran Pesantren Dalam Mengembangkan Perekonomian Masyarakat Madura”.

Pengangkatan tema tersebut sangat relevan dengan keadaan masyarakat pada saat ini. Sebab salah satu roda penggerak perekonomian, lebih-lebih di Madura adalah pondok pesantren. Hal tersebut dikarenakan pondok pesantren masih memiliki kepercayaan yang kental di masyarakat.

Pimred New Fatwa, Ahmad Khusairi menyampaikan, dengan terbitnya majalah yang mengangkat tema, “Peran Pesantren Dalam Perkembangan Perekonomian Masyarakat Madura” ini, dapat menyadarkan pesantren yang masih kaku dalam bidang perekonomian untuk lebih berpartisipasi dalam bangkitnya perekonomian masyarakat, lebih-lebih di Madura. “Pesantren Harus berperan aktif dalam hal itu (Perekonomian masyarakat, red),” katanya.

Pada penerbitan yang sekrang, New Fatwa juga tampil dengan mode penyususnan yang berbeda dengan penerbitan-penerbitan sebelumnya. Sekrang, New Fatwa tampil lebih elegan dan tentunya tampil lebih sempurna dari pada sebalumnya.

Sumber : bata-bata.net

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 99 : DIHARAMKAN MEMBACA AL QU’AN BAGI ORANG JUNUB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 99 :

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُقْرِئُنَا اَلْقُرْآنَ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَهَذَا لَفْظُ اَلتِّرْمِذِيِّ وَحَسَّنَةُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان

Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu membaca Al-Qur’an pada kami selama beliau tidak junub. Riwayat Imam Tujuh dan lafadznya dari Tirmidzi. Hadits ini shahih menurut Tirmidzi dan hasan menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Al-Qur’an adalah kalamullah yang qadim, diturunkan melalui Malaikat Jibril yang terpercaya dengan bahasa Arab yang jelas. Membaca al-Qur’an sangat bermanfaat bagi pembacanya dan dapat menyingkirkan segala bentuk kesusahan dan dukacita dari dalam dirinya dengan meresapi perjalanan perilaku umat terdahulu di masa lampau. Jangan anda sesekali membacanya dalam keadaan berhadas besar. Ini hendaklah dijadikan sebagai pengajaran dan peringatan demi menjaga keutamaan al-Qur’an dan mengagungkan firman Allah (s.w.t).

FIQH HADITS :

Orang yang junub diharamkan membaca al-Qur’an. Abu Ya’la menyebut satu hadits dari ‘Ali (r.a):

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم توضئ ثم قرأ شيئا من القرأن ثم قال : هكذا لمن ليس بجنب فأما الجنب فلا ولو جنبا

“Saya pernah melihat Rasulullah (s.a.w) berwuduk, kemudian membaca ayat al-
Qur’an lalu baginda bersabda: “Keadaan sebegini dibolehkan bagi orang yang tidak berjunub. Adapun orang yang junub sama sekali tidak diperbolehkan,
sekalipun hanya satu ayat.”

Kesemua hadits tsiqah dan hadis ini dengan jelas mengharamkan orang junub membaca al-Qur’an kerana mengandung makna larangan. Hadits ini lebih tegas lagi dari hadits di atas kerana hadits di atas mengisahkan tentang perbuatan Nabi (s.a.w).

Namun mazhab Maliki mengecualikan apabila ayat yang dibacanya itu sedikit
dan bertujuan melindungi diri dari gangguan syaitan seperti Ayat al-Kursi,
Surat al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain.

Imam Ahmad mengatakan bahawa diberi keringanan bagi orang yang berjunub membaca satu ayat atau yang semisal dengannya.

Sedangkan Imam Abu Hanifah hanya memperbolehkan membaca sebahagian dari satu ayat.

Ulama mazhab al-Syafi’i juga berkata: “Diperbolehkan membaca ayat-ayat al-
Qur’an dengan tujuan untuk berzikir dan bukan berniat membaca al-Qur’an.”
Apapun, memegang mushaf adalah diharamkan bagi orang yang junub,
sekalipun memakai penghalang atau menggunakan dengan kayu. Inilah pendapat mayoritas ulama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

J017. HUKUM TANAH GEPENG/LUBELLUH (BHS. MADURA) KETIKA MAYAT DIKUBURKAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bagaimana hukum yang benar tentang Tanah Gepeng/ lubelluh (Bhs. Madura) (Segenggam tanah yg diletakkan di belakang mayat di liang lahad)? Kalau sunnah bagaimana tata caranya ust? Mohon penjelasan rinci. Terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tanah yang ditempelkan di pipi itu tanahnya gepeng asal nempel saja walau masih menggantung, atau tanahnya agak besar seperti bantal, kedua-dunya boleh (sunah), sebagaimana dalam kitab yang sama.

– Mughnil Muhtaj 4/278 :

( وَ ) يُسْنَدُ ( ظَهْرُهُ بِلَبِنَةٍ وَنَحْوِهَا ) كَطِينٍ لِيَمْنَعَهُ مِنْ الِاسْتِلْقَاءِ عَلَى قَفَاهُ ، وَيُجْعَلُ تَحْتَ رَأْسِهِ لَبِنَةٌ أَوْ حَجَرٌ وَيُفْضِي بِخَدِّهِ الْأَيْمَنِ إلَيْهِ ، أَوْ إلَى التُّرَابِ .

Disunahkan agar punggung mayit di sandarkan dengan bata atau seumpamanya seperti tanah agar mencegah si mayit kembali celentang ke punduknya, dan dijadikan di bawah kepalanya bata atau batu kemudian menyandarkan pipi kanan ke padanya atau ketanah.

– Nihayatuzzain :

و ان يسند وجهه و رجلاه الى جدار القبر و ظهره بنحو لبنة كحجر حتى لا ينكب و لا يستلقى نهابة الزين ١٥٤

Dan hendaknya menyandarkax wajah, ke-2 kaki serta punggung jenazah ke dinding kuburan dengan sejenis batubata misal batu sehingga jenazah tidak berpaling dan menelentang.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 97-98 : ANJURAN ADUS DI HARI JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 97 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( غُسْلُ اَلْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ ) أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَة ُ

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Mandi hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh.” Riwayat Imam Tujuh.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan mandi pada hari Jum’at dengan sunat mu’akkad. Pada permulaan Islam, mandi pada hari Jum’at adalah wajib kerana kehidupan para sahabat ketika itu amat sukar dan mereka selalu memakai baju yang terbuat dari bulu kambing yang apabila melekat pada tubuh dalam waktu yang lama akan menyebabkan bau kurang enak.

Akan tetapi setelah Allah melimpahkan banyak kenikmatan dan keluasan

rezeki kepada mereka melalui harta ghanimah yang mereka peroleh, maka hukum wajib ini di-mansukh. Hukumnya yang mulanya wajib beralih menjadi menjadi sunat mu’akkad.

FIQH HADITS :

Wajib mandi pada hari Jum’at berdasarkan keterangan yang telah disebutkan diatas, kemudian hukum wajib ini di-mansukh oleh hadis berikut ini.

HADITS KE 97 :

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اِغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Dari Samurah Ibnu Jundab Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudlu pada hari Jum’at berarti telah menjalankan sunnah dan sudah baik dan barangsiapa yang mandi maka itu lebih utama.” Riwayat Imam Tujuh dan dinilai hasan oleh Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana hari Jum’at adalah hari raya dimana pada hari itu kaum muslimin berkumpul di rumah-rumah Allah (masjid-masjid) untuk mengerjakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah dan turut hadir bersama para malaikat, maka syariat menganjurkan agar memakai wewangian dan berpakaian paling baik serta tubuh yang bersih dengan cara mandi. Ini disyari’atkan bagi orang yang mampu melakukannya dan ia lebih utama dan lebih sempurna baginya. Tetapi jika tidak mampu mandi, maka cukuplah baginya berwuduk dan orang yang mampu berwudukpun sudah dianggap mengikuti amalan Sunnah.

FIQH HADITS :

Keutamaan mandi pada hari Jum’at. Hadits ini memansukh hukum wajib yang terkandung pada hadits sebelum ini. Inilah rahasia menyebutkan hadits ini sesudahnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 96 : DISYARI’ATKAN ADUS BAGI MUALLAF (ORANG YANG BARU MASUK ISLAM)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 96 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( -فِي قِصَّةِ ثُمَامَةَ بْنِ أُثَالٍ عِنْدَمَا أَسْلَم- وَأَمَرَهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَغْتَسِلَ ) رَوَاهُ عَبْدُ اَلرَّزَّاق ِ وَأَصْلُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah tsamamah Ibnu Utsal ketika masuk Islam Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruhnya mandi. Riwayat Abdur Rozaq dan asalnya Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Jika orang kafir masuk Islam, maka batinnya menjadi suci dari ‘akidah yang bathil. Oleh sebab itu, syari’at memerintahkan mandi supaya dzahirnya turut menjadi suci dari kekufuran dan sisa-sisa junub yang dilakukan ketika masih kafir. Tujuannya ialah supaya dia bersiap sedia melakukan ibadah dengan dzahir dan batin yang suci serta keyakinan dan amal yang suci pula.

FIQH HADITS :

Disyari’atkan mandi bagi orang yang baru masuk Islam. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Imam Ahmad mewajibkan mandi berlandaskan kepada dzahir hadits. Imam Malik dan Imam al-Syafi’i mewajibkannya pula bagi orang yang pernah berjunub ketika kafir, baik dia telah mandi ataupun belum, sedangkan bagi yang tidak pernah berjunub ketika kafir, hukum mandi itu hanyalah sunat. Imam Abu Hanifah mewajibkan mandi bagi orang yang berjunub ketika kafir sedangkan dia tidak pernah mandi junub dan mandi tidak wajib baginya apabila dia pernah mandi semasa dia kafir.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S039. HUKUM MENJAMAK SHALAT KARENA TERJEBAK MACET DI JALAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya penduduk kota yg rawan macet. suatu ketika saya nyetir mobil dlm perjalanan menuju tempat kerja yg tak begitu jauh dari rumah saya namun kena macet sehingga masuk waktu sholat, sehingga :
– Tidak bisa turun dari mobil
– Tidak bisa ambil wudhu

Pertanyaannya :

1-Bagaimana caranya agar bisa sholat?

2-Bolehkah sy niat menjamak sholat (kalau sholat yg bisa dijamak) padahal sy bukan musafir.

Mohon penjelasannya berikut dalilnya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Jawaban untuk pertanyaan yang pertama.

Orang yg tidak bisa turun dari mobil, dan orang itu tidak punya wuduk, dan jalannya macet, dan didalam mobil tidak ada debu yang bisa digunakan untuk bertayammum, maka hal tersebut disebut faaqiduththohuuroini (فاقد الطهورين), sama halnya dengan orang yang dipenjara dalam ruangan yang tidak ada air untuk wuduk dan tidak ada debu untuk tayammum, dia tetap wajib shalat dalam keadaan tersebut seadanya dengan sholat lihurmatil waqti:
Umpama niat shalat Dzuhur

(اصلي فرض الظهر لحرمۃ الوقت )

Namun ketika sudah menemukan air atau debu baik masih dalam perjalanan atau dirumah, maka orang itu harus mengqodho’ (mengganti) sholat duhurnya dengan cara berwuduk memakai air atau dengan cara bertayammum memakai debu (jika tidak ada air).

Referensi:

فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء

Faqidut Thahuurain adalah Orang yang tidak mendapati sarana untuk bersuci baik berupa air atau debu seperti saat ia dipenjara dan tidak mendapati salah satu dari keduanya, atau ditempat najis yang tidak ia dapatkan debu untuk bersuci sementara air yang ada dibutuhkan untuk dahaganya orang yang bersamanya, orang yang sedang disalib atau berada diperahu yang tidak dapat meraih air dan seperti orang sakit yang tidak mampu menjalani wudhu atau tayammum sebab sakit atau semacamnya, maka mayoritas ulama mewajibkan hukum shalat baginya sekedar penghormatan terhadap waktu, hukum kewajiban shalat tidak semata-mata gugur baginya namun baginya wajib mengulangi shalat yang ia kerjakan dalam kondisi demikian menurut kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, sedang menurut kalangan hanabilah tidak wajib mengulangi shalatnya. Menurut pendapat yang mu’tamad (dapat dijadikan pegangan) dikalangan Malikiyyah seseorang yang dalam kondisi diatas shalatnya gugur dan dalam pendapat lainnya wajib menjalani dan mengqadhainya. [ Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 14/273 ].

Referensi lain:

(المجموع شرح المهذب,جز ٢,صحيفۃ ٣۰٣-٣۰٤) واما حكم المسئلۃ: فإذا لم يجد المكلف ماء ولا ترابا بأن حبس في موضع نجس او كان في ارض ذات وحل ولم يجد ماء يجففه به او ما اشبه ذلك ففيه اربعۃ اقوال حكاها اصحابنا الخراسانيون. (احدها) يجب عليه ان يصلي في الحال علی حسب حاله ويجب عليه الاءعادۃ اذا وجد ماء او ترابا في موضع يسقط الفرض فيه بالتيمم. وهذا قول هو الصحيح الذي قطع به كثيرون من الاءصحاب او اكثرهم وصصحه الباقون وهو المنصوص في الكتب الجديدۃ. (والثاني )لا تجب الصلاۃ بل تستحب ويجب القضاء,سواء صلی ام لم يصل حكوه عن القديم,وحكاه الشيخ ابو حامد وغيره من العراقيين (والثالث),يحرم عليه الصلاۃ ويجب القضاء حكاه الاءمام الحرمين وجماعۃ من الخراسنيين عن القديم. (والرابع)تجب الصلاۃ في الحال علی حسب حاله ولا تجب الاءعادۃ,حكاه عن القديم ايضا,وستاءتي ادلۃ هذه الاءقوال في فرع مذاهب العلماء ان شاء ﷲ تعالی ,انتهی,

2. Jawaban untuk pertanyaan yang kedua

Ketika seseorang dalam situasi seperti dalam deskripsi diatas maka yang diterapkan tetap penjelasan dalam jawaban yang pertama yaitu tidak boleh jamak, dia wajib sholat lihurmatil wakti setiap masuk waktu shalat dan wajib qadla apabila menemukan air atau debu sebagaimana penjelasan diatas.

Namun terlepas dari deskripsi penanya, ketika seseorang dalam keadaan suci dari najis dan hadats serta memungkinkan mengerjakan shalat, maka dalam situasi tertentu boleh menjamak shalat walaupun tidak dalam perjalanan jauh, sebagaimana uraian berikut;

Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal. 77 disebutkan :

(فائدة) لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي. وظاهر الحديث جوازه في حضر كما في شرح مسلم. وحكى الخطابي عن ابي اسحاق جوازه في الحضر للحاجة وإن لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض. وبه قال ابن المنذر ا.هـ

(Faidah)
Kami berpendapat boleh menjamak shalat bagi orang yang menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. Sebuah hadits dengan jelas memperbolehkan melakukan shalat jamak bagi orang yang bukan musafir sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim. Alkhatthabi menceritakan dari Abu Ishak tentang bolehnya menjamak shalat dalam perjalanan singkat karena suatu keperluan/hajat meskipun tidak dalam kondisi keamanan terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnul Munzir juga memegang pendapat ini,”

والله اعلم بالصواب.