logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

S062. HUKUM MENGUNCI PINTU MASJID DI LUAR WAKTU SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Dekkripsi masalah:
Di negara Indonesia terdapat para wali yang terkenal dengan nama wali sogo, sehingga tidak sedikit masyarakat muslim yang berantosias untuk berkunjung kepasarean/maqbarah mereka.
Setudi kasus ada serombongan musafir majlis ta’lim ingin berkunjung kemaqbarah para wali songo yang namanya musafir ketika berangkat serombongan tentu butuh istirahat ternyata setelah sampai ditengah perjalanan mereka ingin beristirahat dimasjid namun ketika sampai dimasjid ternyata pintu masjidnya ditutup padahal sebagaimana dimaklumi masjid itu dibangun untuk tempat ibadah entah dibukanya apa setiap adzan untuk shalat lima waktu atau setiap shalat jum’at.

Pertanyaannya:
Bagaimana pandangan hukum agama tentang menutup pintu masjid di luar shalat lima waktu?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Mengunci masjid di luar waktu shalat atau membuat larangan tidur dalam masjid untuk menjaga kebersihan dan keamanan masjid hukumnya boleh.

Menurut imam Ashshoimari dan selain imam Ashshoimari dari madhab syafii, “tidak apa apa mengunci pintunya masjid pada waktu selain waktunya sholat, dengan syarat jika tujuannya ialah kerena menjaga masjid, atau karena menjaga alat-alatnya masjid. Dan diperbolehkannya mengunci pintunya masjid dengan syarat jika dikhawatirkan penghinaan terhadap masjid, dan jika dikhawatirkan hilangnya benda-benda yang ada di masjid, dan tidak ada keperluan yang mendorong untuk membuka pintunya masjid.

Adapun jika tidak dikhawatirkan kerusakan di dalam membuka pintunya masjid, dan jika tidak dikhawatirkan melanggar kehormatan (kemulyaan) masjid, dan jika didalam membuka pintunya masjid itu terdapat suatu perbuatan yaitu memberi manfaat/menolong/ramah kepada orang orang, maka disunnatkan membuka pintunya masjid, sebagaimana tidak dikuncinya pintu masjidnya Rosululloh SAW pada zamannya Rosululloh SAW dan pada zaman sesudah Rosululloh SAW.”

Referensi :

(المجموع علی شرح المهذب,جز ٢,صحيفۃ ١٧٨)
(الثانيۃ والعشرون)قال الصيمري وغيره من اصحابنا:لا باءس باءغلاق المسجد في غير وقت الصلاۃ لصيانته او لحفظ الاته,هكذا قالوه,وهذا اذا خيف امتهانها وضياع ما فيها ولم يدع الی فتحها حاجۃ,فاءما اذا لم يخف من فتحها مفسدۃ ولا انتهاك حرمتها وكان في فتحها رفق بالناس فالسنۃ فتحها كما لم يغلق مسجد رسول الله صلی ﷲ عليه وسلم في زمنه ولا بعده

Menurut Badruddin az-Zarkasy, dalam sebagian kitab madzhab hanafi terdapat keterangan yang memakruhkan penguncian pintu masjid dengan dasarkan kepada firman Allah ta’ala:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya?”(Q.S. Al-Baqarah[2]: 114)

لَا بَأْسَ بِإِغْلَاقِ الْمَسْجِدِ فِى غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ صِيَانَةً وَحِفْظًا لِمَا فِيهِ خِلَافًا لِأَبِي حَنِيفَةَ فَإِنَّهُ مَنَعَ مِنْ غَلْقِهَا بِحَالٍ. قَالَهُ الصَّيْمِرِي فِى شَرْحِ الْكِفَايَةِ وَنَقَلَهُ فِى الرَّوْضَةِ عَنْهُ وَأَقَرَّهُ وَجَزَمَ بِهِ قَبْلَ بَابِ السَّجَدَاتِ، وَفِى بَعْضِ كُتُبِ الْحَنَفِيَّةِ يُكْرَهُ غَلْقُ بَابِ الْمَسْجِدِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا.

Tidak apa-apa menutup (mengunci pintu) masjid untuk menjaga barang-barang yang tedapat di dalam masjid, berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah yang melarang untuk menutup masjid. Hal ini sebagaimana dikemukakan Ash-Shaimiri dalam Syarah al-Kifayah. Sedangkan Muhyiddin Syaraf An-Nawawi menukil darinya dalam kitab Raudlatut Thalibin dan menetapkan pendapat tersebut sebelum bab sujud. Dalam sebagian kitab-kitab madzhab hanafi terdapat pendapat yang menyatakan makruh menutup pintu masjid karena firman Allah Ta’ala: ‘Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya?’ (QS Al-Baqarah[2]: 114),” (Lihat Badruddin az-Zarkasyi, I’lamus Sajid bi Ahkam al-Masjid, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1416 H/1995 M, h. 239).

Dalam pemahaman kami, maksud dari hukum makruh dalam konteks ini adalah makruh tahrim. Penalaran yang digunakan untuk menyimpulkan hukum tersebut adalah bahwa penguncian pintu masjid identik dengan pelarangan atau pencegahan shalat, sedang pelarang ini jelas diharamkan karena firman Allah di atas. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam kitab al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah.

وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يُكْرَهُ تَحْرِيمًا إِغْلاَقُ بَابِ الْمَسْجِدِ لِأَنَّهُ يُشْبِهُ الْمَنْعَ مِنَ الصَّلاَةِ وَالْمَنْعُ مِنَ الصَّلاَةِ حَرَامٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا

Madzhab hanafi berpendapat bahwa mengunci pintu masjid hukumnya adalah makruh tahrim sebab identik dengan menghalangi shalat. Sedangkan menghalangi shalat adalah diharamkan karena firman Allah ta’ala: ‘Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, dan berusaha merobohkannya?’ (QS Al-Baqarah[2]: 114),” (Lihat al-Mawsu’atul Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, Mesir, Darus Shafwah, juz XXXVII, halaman 288).

Namun, pandangan kelompok hanafi yang cendrung tidak memperbolehkan menutup atau mengunci pintu masjid dengan alasan yang dikemukakan di atas oleh Badruddin az-Zarkasyi sedikit dipersoalkan. Menurutnya, pendapat yang menyatakan ketidakbolehan untuk mengunci pintu masjid itu harus diletakkan dalam situasinya. Zaman dulu pendapat ini relevan, namun pada saat ini di mana banyak sekali terjadi kriminalitias berbeda. Karenanya mengunci pintu masjid diperbolehkan misalnya untuk menjaga barang-barang milik masjid.

وَخُولِفَ فِى ذَلِكَ فَقِيلَ كَانَ هَذَا فى زَمَانِ السَّلَفِ فَأَمَّا زَمَنُنَا وَقَدْ كَثُرَتِ الْجِنَايَاتِ فَلَا بَأْسَ بِإِغْلَاقِهِ اِحْتِيَاطًا عَلَى مَتَاعِ الْمَسْجِدِ

“(Tetapi) pandangan yang memakrukan penutupan pintu masjid disangkal. Maka dikatakan, bahwa hal ini berlaku pada masa lampau. Adapun zaman sekarang di mana banyak sekali tindakan kriminal maka tidak apa-apa mengunci pintu masjid untuk menjaga barang-barang masjid dan menjaga masjid dari jalan rumah sekitarnya…,” (Lihat Badruddin az-Zarkasyi, I’lamus Sajid bi Ahkamil Masjid, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet ke-1, 1416 H/1995 M, halaman 239).

Berangkat dari pemaparan di atas, setidaknya ada dua pandangan mengenai hukum menutup pintu masjid. Ada yang mengatakan boleh dan ada yang mengatakan tidak. Hemat kami, kedua pandangan ini tidak perlu dipertentangkan. Keduanya bisa kita ambil sesuai dengan kondisi dan situasi di mana masjid itu berada.

Jika memang daerah sekitar masjid rawan kriminalitas seperti pencurian, pandangan yang memperbolehkan untuk mengunci pintu masjid selain waktu shalat bisa kita pakai. Tetapi jika lingkungan sekitar masjid aman dan kecil kemungkinan adanya kriminalitas, pendapat yang menyatakan tidak boleh mengunci masjid di luar waktu shalat bisa kita rujuk.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

J035. HUKUM MENGGALI KUBURAN DI ATAS KUBURAN LAMA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Latar belakang masalah :
Ada seorang tokoh masyarakat mengubur mayat di dalam liang kubur yang sudah ada mayyitnya, mayat tersebut baru dikubur ± 1 tahun, tapi mayyit kedua dikubur di atas tempat kuburannya mayyit pertama, hal tersebut dilakukan karena tidak mampu membayar sewa tanah dan juga melaksanakan wasiat.

Soal : Bagaimanakah hukumnya ? Apabila haram tindakan apa yang harus dilakukan ? Sebab sudah terlanjur

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh

Referensi:
– Rohmatul ummah Hahmisy mizanul kubro juz 1 hal 89 :

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺩُﻓِﻦَ ﻣَﻴِّﺖٌ ﻟَﻢْ ﻳَﺠُﺰْ ﺣَﻔْﺮُ ﻗَﺒْﺮِﻩِ ﻟِﺪَﻓْﻦِ ﺁﺧَﺮٍ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ
ﻳَﻤْﻀَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍْﻟﻤَﻴِّﺖِ ﺯَﻣَﺎﻥٌ ﻳَﺒْﻠَﻰ ﻓِﻰ ﻣِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻳَﺼِﻴْﺮُ ﺭَﻣِﻴْﻤًﺎ ﻓَﻴَﺠُﻮْﺯُ ﺣَﻔْﺮُﻩُ ﻟِﺈﺗِّﻔَﺎﻕٍ . ﻭَﻋَﻦْ ﻋُﻤَﺮِ ﺍِﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍْﻟﻌَﺰِﻳْﺰِ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﻀَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻴِّﺖِ ﺣَﻮْﻝٌ ﻓَﺎﺯْﺭَﻋُﻮْﺍ ﺍﻟْﻤَﻮْﺿِﻊَ .

Apabila ada mayit yang dikuburkan maka tidak diperbolehkan menggali kuburannya guna untuk mengkuburkan mayit yang lain, kecuali apabila telah berlalu atas mayit yang pertama suatu masa yang diperkirakan ia dan semisalnya telah rusak dan menjadi usang, maka diperbolehkan menggalinya karena kesepakatan ulama’. Diriwayatkan dari Umar bin Abdil ‘Aziz bahwasanya dia berkata: Apabila telah berlalu atas mayit masa satu tahun, maka olahlah tempat-tempat (pemakaman).

– Hamisy ianatu tholibin juz 2 hal 116 :

ﻭَﺩَﻓْﻨُﻪُ ﻓِﻰ ﺣَﻔْﺮَﺓٍ ﺗَﻤْﻨَﻌُﻪُ ﺑَﻌْﺪَ ﻃَﻤِّﻬَﺎ ﺭَﺍﺋِﺤَﺔً ﺃَﻯْ ﻇُﻬُﻮْﺭُﻫَﺎ
ﻭَﺳَﺒُﻌًﺎ ﺃَﻯْ ﻧَﺒْﺴَﻪُ ﻟَﻬَﺎ ﻓَﻴَﺄْﻛُﻞُ ﺍْﻟﻤَﻴِّﺖَ

Dan mengkuburkan mayit dalam suatu lubang yang bisa mencegah bau dan binatang buas yang memangsa mayat setelah ditanam
Tambahan Keterangan
Haram hukumnya menggali kuburan sebelum mayit di dalamnya telah rusak dan menjadi debu untuk dimasuki mayit baru, jadi selama mayit yang awal telah rusak dan menjadi debu maka boleh menggali kuburannya untuk ditempati mayit lainnya. Kecuali kuburannya orang alim yang terkenal atau waliyulloh yang terkenal maka secara mutlak tidak boleh digali menurut imam romli.

Jika dalam proses penggalian tersebut ditemukan adanya tulang, maka tanah galian wajib di kembalikan dan mayit yang kedua tidak boleh di kuburkan di situ. Tapi jika tulang tersebut di temukan setelah selesainya penggalian maka mayit yang kedua boleh di kuburkan di sampingnya karena adanya kesulitan untuk memulai penggalian baru. Keharaman memasukkan mayyit kedua tersebut jika tidak dhorurot, jika ada dhorurot maka boleh sebagaimana bolehnya mengubur dua jenazah sekaligus di permulaan ketika adanya dhorurot.

– Al Majmu’ (5/273) :

ﻭَﻳﺠﻮﺯ ﻧﺒﺶ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺇﺫﺍ ﺑﻠﻲ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﺎﺭ ﺗﺮﺍﺑﺎ، ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﻓﻴﻪ

– Hasiyah Ibnu Qosim ala Tuhfah (3/173) :

ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﺩﺧﺎﻝ ﻣﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﺁﺧﺮ ﻭﺇﻥ ﺍﺗﺤﺪﺍ ﻗﺒﻞ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﺃﻱ ﺇﻻ ﻋﺠﺐ ﺍﻟﺬﻧﺐ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺒﻠﻰ ﻛﻤﺎ ﻣﺮ

‏( ﻗﻮﻟﻪ ﻗﺒﻞ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ‏) ﺃﻓﻬﻢ ﺟﻮﺍﺯ ﺍﻟﻨﺒﺶ ﺑﻌﺪ ﺑﻠﻰ ﺟﻤﻴﻌﻪ ﻭﻳﺴﺘﺜﻨﻰ ﻗﺒﺮ ﻋﺎﻟﻢ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺃﻭ ﻭﻟﻲ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﻓﻴﻤﺘﻨﻊ ﻧﺒﺸﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ

– Fatawa Fiqhiyah Kubro (2/14) :

ﺣﻴﺚ ﺣﻔﺮ ﻗﺒﺮ ﺇﻣﺎ ﺗﻌﺪﻳﺎ ﻭﺇﻣﺎ ﻣﻊ ﻇﻦ ﺃﻧﻪ ﺑﻠﻲ ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻖ ﻓﻴﻪ ﻋﻈﻢ ﻓﻮﺟﺪ ﻓﻴﻪ ﻋﻈﻢ ، ﺭﺩ ﺍﻟﺘﺮﺍﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺟﻮﺑﺎ ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﺪﻓﻦ ﻓﻴﻪ ﻗﺒﻞ ﺍﻟﺒﻠﻰ .

– Asnal Matholib (4/358) :

‏( ﻓﺈﻥ ﺣﻔﺮ ﻓﻮﺟﺪ ﻋﻈﺎﻡ ﻣﻴﺖ ‏)
ﺃﻱ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻨﻬﺎ ﻗﺒﻞ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺤﻔﺮ ‏( ﻭﺟﺐ ﺭﺩ ﺗﺮﺍﺑﻪ ﻋﻠﻴﻪ .
ﻭﺇﻥ ﻭﺟﺪﻫﺎ ﺑﻌﺪ ﺗﻤﺎﻡ ﺍﻟﺤﻔﺮ ﺟﻌﻠﻬﺎ ﻓﻲ ﺟﺎﻧﺐ ‏) ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺒﺮ ‏( ﻭﺟﺎﺯ ‏) ﻟﻤﺸﻘﺔ ﺍﺳﺘﺌﻨﺎﻑ ﻗﺒﺮ ‏( ﺩﻓﻨﻪ ‏) ﺃﻱ ﺍﻵﺧﺮ ‏( ﻣﻌﻪ ‏) ﻭﻧﻘﻠﻮﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﺺ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻭﺿﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ

– Hasiyah Syarwani ala Tuhfah (3/174) :

‏( ﻗﻮﻟﻪ ﺇﺩﺧﺎﻝ ﻣﻴﺖ ﻋﻠﻰ ﺁﺧﺮ ﺇﻟﺦ ‏)
ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺰﻳﺎﺩﻱ ﻭﻣﺤﻞ ﺗﺤﺮﻳﻤﻪ ﻋﻨﺪ ﻋﺪﻡ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ﻭﺃﻣﺎ ﻋﻨﺪﻫﺎ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﻛﻤﺎ في ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﺀ ﺭﻣﻠﻲ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺍ ﻫـ ﻉ ﺵ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 250 : CARA SUJUD DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 250 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ اَلْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ ) أَخْرَجَهُ اَلثَّلَاثَةُ. وَهُوَ أَقْوَى مِنْ حَدِيثِ وَائِلٍ

( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ. فَإِنْ لِلْأَوَّلِ شَاهِدًا مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ رضي الله عنه صَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَذَكَرَهُ اَلْبُخَارِيُّ مُعَلَّقًا مَوْقُوفًا

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sujud maka janganlah ia duduk seperti duduknya onta (tetapi) hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya. (Dikeluarkan oleh TIGA) , Dan dia lebih kuat (sanadnya) dari hadits Wa`il bin Hujr

Aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dikeluarkan oleh Imam Empat. Hadits pertama mempunyai seorang saksi dari hadits Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu yang dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah. Bukhari menyebutnya dalam keadaan mu’allaq mauquf.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menyuruh kita berbeda dengan semua jenis hewan ketika hendak melakukan sujud dan rukuk. Baginda menerangkan kepada kita tentang gambaran sujud yang disyariatkan dan melarang kita melakukan sujud sebagaimana unta sedang mendekam.

FIQH HADITS :

1. Dilarang menyerupai hewan dalam melakukan gerakan sholat.

2. Disyariatkan mendahulukan kedua lutut ke atas kedua tangan ketika hendak bersujud, yakni meletakkan kedua lutut lebih dahulu dibanding kedua tangan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

H019. HUKUM MENJUAL KAMBING AQIQAH YANG SUDAH DITA’YIN (DINIATKAN)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi Masalah :
Ada orang mau àqìqah kpd famili/lembaga/masjid yg ada di madura, sedangkan orang yg mempunyai hajat (yang mau aqiqoh) ada di jawa.

Pertanyaanya :

1. Bolehkan kambing yg ada di jawa di tukar dgn dengan kambing yg ada di madura (dgn cara dijual dulu lalu uangnya ditransfer, lalu dibelikan kambing madura). Sedangkan kambingnya sudah di niatkan?

2. Apakah boleh uang hasil dari penjualan aqiqoh itu di jadikan alat untuk pembangunan masjid dll (yg berbentuk amal jariah)?

3. Apakah hikmah aqiqah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban No.1:

Kalau sdh diniatkan/ada takyin tdk boleh dijual lagi.

Referensi :

الياقوت النفيسة ص ٨٢٤

والأضحية كما ذكرنا سنة وتجب بالنذر ويجب التصدق بلحم المنذورة كلها لأنها خرجت بالنذر من ملكه إلى ملك الفقراء

Jika dalam perkataan pemilik hewan, dia bermaksud untuk memberi kabar (ikhbar, insyak), maka hukum hewannya tetap menjadi qurban sunnah, ini berarti hewannya boleh dijual maupun diganti yang lain. Namun jika dalam perkataannya pemilik bermaksud untuk kurban wajib (nadzar, iqror), maka hukum kurbannya juga menjadi wajib, hewan tersebut tidak boleh dijual maupun diganti dengan hewan lain, bila mati maka wajib mengganti.

المجموع شرح المهذب ج ٨ ص ٢٦٩

ـ ( الشرح ) قال أصحابنا : إذا لزم ذمته أضحية بالنذر أو هدي بالنذر أو دم تمتع أو قران ، أو لبس أو غير ذلك مما يوجب شاة في ذمته . فقال : لله علي أن أذبح هذه الشاة عما في ذمتي لزمه ذبحها بعينها لما ذكره المصنف ، ويزول ملكه عنها فلا يجوز له بيعها ولا إبدالها ، هذا هو المذهب ، وبه قطع المصنف والجمهور

Menurut pendapat mayoritas ulama’ dari kalangan Madzhab Hanafi, Syafi’ dan Hanafi Bulu hewan yang telah diniatkan (dita’yin) aqiqoh tidak boleh dijual. Karena adanya hadits: Dari Ibnu Abbas” Bahwa Rasulullah melarang menjual Harga dari aqiqoh bahkan bulunya bahkan susu yang masih ada dikampornya.red.) sehingga ia dimakan (dihidangkan).

Referensi :

موسوعة الفقهية.ص:
– ذهب الجمهور (الحنفية والشافعية والحنابلة) إلى عدم جواز بيع الصوف على ظهر الغنم، لحديث ابن عباس – رضي الله عنهما -: نهي أن تباع ثمرة حتى تطعم ولا صوف على ظهر ولا لبن في ضرع (٣) .

(٣) حديث: ” نهي أن تباع ثمرة حتى تطعم “. أخرجه الدارقطني (٣ / ١٤ – ط دار المحاسن) والبيهقي (٤ / ٣٤٠ – ط دائرة المعارف العثمانية) وقال البيهقي: تفرد برفعه عمر

Jawaban No. 2 :
Karena tidak boleh dijual bagaimana bisa dijadikan uang sedangkan aqiqoh harus disembelih dan dihidangkan. maka kesimpulannya tidak boleh.

Jawaban No.3 :
Adapun hikmah dan manfaatnya aqiqoh adalah:

– Untuk menanpakkan bagi manusia (adanya anak yang lahir)

– Menampakkan adanya nikmat(mensyukuri nikmat)

– Tersebarnya nasab (adanya nasab)

Segaimana ibarah berikut:

موسوعة الفقهية

حكمة مشروعية العقيقة:
٥ – شرعت العقيقة لما فيها من إظهار للبشر والنعمة ونشر النسب.

العقيقة عن الميت:
٦- قال الشافعية: لو مات المولود قبل السابع استحبت العقيقة عنه كما تستحب عن الحي.
وقال الحسن البصري ومالك: لا تستحب العقيقة عنه (١) .

العقيقة عن الأنثى:
٧ – ذهب الجمهور إلى أن الأنثى تشرع العقيقة عنها كما تشرع عن الذكر لحديث أم كرز الخزاعية رضي الله عنها أنها قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول في العقيقة: عن الغلام شاتان مكافئتان، وعن الجارية شاة (٢)

من تطلب منه العقيقة:
٨- ذهب الشافعية إلى أن العقيقة تطلب من الأصل الذي تلزمه نفقة المولود بتقدير فقره، فيؤديها من مال نفسه لا من مال المولود،
(١) المجموع للنووي ٧ /٤٤٨
(٢) حديث أم كرز ” عن الغلام شاتان. . . “. أخرجه الترمذي (٤ / ٩٧) وقال: حديث حسن صحيح.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 249 : BACAAN QUNUT DALAM SHALAT SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 248 :

وَعَنْ اَلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ; قَالَ : ( عَلَّمَنِي رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ اَلْوِتْرِ : ” اَللَّهُمَّ اِهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ إِنَّهُ لَا يَزِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ زَادَ النَّسَائِيُّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ فِي آخِرِهِ : ( وَصَلَّى اَللَّهُ عَلَى اَلنَّبِيِّ )

وَلِلْبَيْهَقِيِّ عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُعَلِّمُنَا دُعَاءً نَدْعُو بِهِ فِي اَلْقُنُوتِ مِنْ صَلَاةِ اَلصُّبْحِ ) وَفِي سَنَدِهِ ضَعْفٌ

Hasan Ibnu Ali Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajariku kata-kata untuk dibaca dalam qunut witir yaitu (artinya = Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau berti petunjuk berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang telah Engkau beri kesehatan pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin berilah aku berkah atas segala hal yang Engkau berikan selamatkanlah aku dari kejahatan yang telah Engkau tetapkan karena hanya Engkaulah yang menghukum dan tidak ada hukuman atas-Mu sesungguhnya tidak akan hina orang yang telah Engkau tolong Maha Berkah Engkau Tuhan kami dan Maha Tinggi). Riwayat Imam Lima. Thabrani dan Baihaqi menambahkan: (artinya = Tidak akan mulia orang yang telah Engkau murkai). Hadits riwayat Nasa’i dari jalan lain menambahkan pada akhirnya: (artinya = Semoga sholawat Allah Ta’ala selalu terlimpah atas Nabi).

Menurut riwayat Baihaqi bahwa Ibnu Abbas berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajari kami doa untuk dibaca dalam qunut pada sholat Shubuh. Dalam sanadnya ada kelemahan.

MAKNA HADITS :

Seperti diketahui bahwa do’a yang paling afdhal adalah do’a yang mencakupi permohonan kebaikan dunia dan akhirat. Tidak ada do’a yang lebih afdhal daripada do’a Rasullullah (s.a.w). Dalam kaitan ini, Rasulullah (s.a.w) mengajarkan do’a qunut kepada al-Hasan bin Ali. Do’a tersebut merupakan salah satu do’a qunut, di samping banyak lagi lafaz do’a qunut yang lain sebagaimana ditetapkan menerusi jalur lain yang sebagian ulama telah meriwayatkannya.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca do’a qunut ketika mengerjakan solat Subuh. Inilah yang dijadikan pegangan oleh Imam al-Syafii dan ia dilakukan setelah melakukan rukuk pada rakaat kedua. Imam Malik turut menganggap sunat membaca qunut dalam sholat Subuh, tetapi dilakukan sebelum melakukan rukuk pada rakaat kedua.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

H018. HUKUM HEWAN AQIQAH YANG MATI SEBELUM DISEMBELIH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi masalah :
Ada seseorang yg menyerahkan aqiqoh kepada bapak saya ustadz, rencananya mau di sembelih ktika ada orang kerja di masjid, tapi tau2 kemaren kambing itu mati ustadz, yang mau saya tanyakan apakah bapak saya harus ganti aqiqohnya orang tersebut atau gimana?

mohon jawabanx ustadz

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Menurut Imam Syafii, jika seseorang membeli hewan kurban, baik kurban wajib atau sunah, kemudian mati sebelum disembelih, maka dia tidak perlu mengganti hewan kurban tersebut. Dalam kitab Alumm, beliau mengatakan;

واذا اشترى الرجل الضحية فأوجبها او لم يوجبها فماتت او ضلت اوسرقت فلا بدل عليه

Apabila seseorang membeli hewan kurban baik itu wajib atau bukan, kemudian mati, menghilang atau dicuri, maka dia tidak perlu mengganti.

Hal ini sebagaimana fatwa Ibnu Abbas ketika didatangi orang yang kehilangan kambing yang sudah diniatkan untuk dijadikan kurban, kemudian Ibnu Abbas mengatakan bahwa hal tersebut tidak masalah sehingga tidak harus diganti.

Fatwa tersebut disebutkan oleh Imam Albaihaqi dalam kitabnya Sunan Albaihaqi dari Tamim bin Huwaish, dia berkata;

اشتريت شاة بمنى اضحية فضلت فسألت ابن عباس رضي الله عنهما فقال لايضرك

Saya membeli hewan kambing di Mina untuk dijadikan kurban, lalu kambing tersebut hilang. Kemudian saya bertanya kepada Ibn ‘Abbas, maka dia menjawab; Hal tersebut tidak memudaratkanmu.”

Adapun menurut ulama Hanafiyah, jika hewan kurban yang mati tersebut milik orang mampu, maka dia wajib mengganti dengan hewan yang lain. Hal ini karena berkurban pada hari Idul Adha hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Sehingga apabila hewan kurban tersebut mati sebelum disembelih, maka agar bisa melakukan kurban, dia wajib mengganti dengan hewan lain.

Dalam kitab Almufshshal fi Ahkamil Udhiyah disebutkan;

ويرى الحنفية بأن الموسر اذا اشترى اضحية فضلت او ماتت او سرقت انه يجب عليه بشاة اخرى

Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa apabila orang yang berkecukupan harta membeli hewan kurban, lalu mati, hilang atau dicuri, maka dia wajib mengganti dengan binatang yang lain.”

Dengan demikian, jika hewan kurban mati sebelum disembelih, maka sebaiknya diganti apabila masih memiliki harta yang cukup. Namun jika tidak mampu, maka tidak harus memaksa untuk mengganti dengan hewan dan insya Allah akan mendapat pahala di sisi Allah dengan niat dan usaha yang sudah dilakukan.

– kitab tuhfah (9/356) :

( فإن تلفت )

أو ضلت أو سرقت أو تعيبت بعيب يمنع الإجزاء ( قبله ) أي وقت الأضحية بغير تفريط أو فيه قبل تمكنه من ذبحها وبغير تفريط أيضا ( فلا شيء عليه ) فلا يلزمه بدلها لزوال ملكه عنها

Jika hewan kurban (nadzar) mati atau hilang atau dicuri atau menjadi cacat yang mencegah cukupnya kurban, hal itu terjadi sebelum waktu kurban dan kejadian tersebut tanpa adanya kecerobohan, atau hal itu terjadi dalam waktu kurban namun sebelum disembelih dan kejadian tersebut tanpa adanya kecerobohan, maka tidak ada kewajiban sama sekali atasnya, maksudnya tidak wajib menggantinya karena miliknya sudah hilang darinya.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M087. HUKUM MEMAKAI SANDAL YANG TERTUKAR

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bolehkah memakai sandal yang tertukar dengan milik orang lain?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak boleh dipakai meski yang tertukar itu lebih jelek. Dan hukumnya sama dengan barang temuan. Bisa dimiliki setelah diumumkan dan pemiliknya tidak ada yang mengaku.

Jika diketahui itu sengaja ditukar, maka tetap tidak boleh dipakai, namun boleh dijual. Ketika sandal laku dengan harga yang lebih mahal, maka lebihnya dikembalikan pada pemilik.

Atau jika pemilik sudah memberikan sandal itu maka boleh dipakai tanpa harus dijual.

(نهايۃ المحتاج,جز ٥,صحيفۃ ٤٤٤)
(فصل)في تملكها اي اللقطۃ وغرمها وما يتبعها,
(اذا عرف اللقطۃ)بعد قصده تملكها(سنۃ)او دونها في الحقير جاز له تملكها ولو هاشميا او فقيرا الا في صور مرت كاءن اخذ للخيانۃ او اعرض عنه او كانت امۃ تحل له,
(,لم يملكها حتی يختاره بلفظ)من ناطق صريح فيه(كتملكت)او كنايۃ مع النيۃ كما هو قياس ساءر الاءبواب(ونحوه)كاءخذته او اشارۃ اخرس مفهمۃ كما قاله الزركشي,

Hukumnya memakai sandal yang tertukar adalah tidak halal kecuali :

– Dengan cara diumumkan selama satu tahun dengan alasan karena sandal yang tertukar termasuk bagian dari luqothoh.

– Jika si pemilik sandal yang tertinggal sengaja mengambil sandal orang lain maka boleh mengambilnya dan menjualnya. Dan ulama sepakat atas kebolehan mengambilnya didalam jumlah karena adanya beberapa hadits dalam luqothoh.

Referensi :

– بغية المشترشدين ص١٧٨
{ فائدة } من اللقطة أن تبدل نعله بغيرهافيأخذها فلا يحل له إستعماله إلا بعد تعريفها بشرطه أو تحقق إعراض المالك عنها، فإن علم أن صاحبها تعمد أخذ نعله جاز له بيعها ظفرا بشرطه، وأجمعوا على جواز أخذ اللقطة فى الجملة لأحاديث فيها.

البجيرمى على الخطيب ٣/١٤١
فرع من ضل نعله فى مسجد ووجد غيره لم يجز له لبسه و ان كان لمن اخذ نعله، وله فى هذه الحالة بيعه و اخذ قدر قيمة نعله من ثمنه ان علم انه لمن اخذ نعله، و الا فهو لقطة

Barang siapa yang tertukar sandalnya di masjid dan ia menemukan sandal lain, maka ia tidak boleh memakainya walaupun sandal itu milik orang yang mengambilnya.
jika ia tahu dan yakin sandal tsb, adalah sandal dari org yg mengambil sandalnya, maka ia boleh mengambil dan menjualnya, dan jika tidak mengetahuinya maka sandal tsb dihukumi barang temuan.

بغية المسترشدين ٢٢١
فا ئدة من اللقطة ان يبدل نعله بغيرها فياخذها فلا يحل له استعملها الا بعد تعرضها بشرطه او تحقق اعراص المالك عنها فان علم ان صاحبها تعمد اخذ نعله جاز له بيعها ظفرا بشرطه

Termasuk barang temuan adalah tertukar sandalnya dgn sandal orang lain, maka mengambil dan memakainya tidak dihalalkan, kecuali setelah diumumkan sesuai dgn persyaratan, atau sudah yakin bahwa si pemiliknya memang telah meninggalkannya. jika diketahui pemiliknya memang sengaja meninggalkan sandalnya, maka ia boleh menjual sandal tsbt sesuai dgn persyaratan.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M086. HUKUM MEMBOBOL WIFI TANPA IDZIN

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمةالله وبركة

Saya mau bertanya ustad..

1- Bagaimana hukumnya membobol Wifi kantor atau toko tampa sepangatahuan pemiliknya?

2- Bolehkah duit 100 ribu yang nemmu di pasar itu di taroh ke kotak amal masjid/ kotak anak yatim atau duafa’?
Mohon penjelasanya ustad..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

1-Tidak boleh merusak/menbobol Wifi kantor atau toko milik orang lain dengan tanpa alasan/idzin si pemiliknya kerna termasuk merusk hak milik orang lain dan wajib menggantinya.

Referensi :

}ﻣﺴﺌﻠﺔ{ ﺣﻜﻢ ﻣﺎﻝ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻭﺍﻟﺬﻣﻲ ﻭﺍﻟﻤﺴﺘﺄﻣﻦ ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺣﺮﻣﺔ ﺍﻻﺳﺘﻴﻼﺀ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﻖ ﺑﺨﻼﻑ ﺣﺮﺑﻲ ﻟﻢ ﻳﺪﺧﻞ ﺑﺄﻣﺎﻥ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﺤﺎﻟﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﻣﺒﺎﺡ ﻟﻤﻦ ﻇﻔﺮ ﺑﻪ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﻣﺴﻠﻢ ﺑﻼﺩﻫﻢ ﺑﻐﻴﺮ ﺃﻣﺎﻥ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻠﻪ ﺍﻏﺘﻴﺎﻟﻬﻢ

لا يجب للإنسان أن يسرق، ولا يأخذ مالا إلا مِن مال الكافر الحَرْبِيّ، مال الكافر الحربي اللي بيننا وبينه حرب، وبيننا وبينه السلاح، هذا حلال الدم والمال.أما الكافر الذِّمِّيّ الذي له عهد، بيننا ويبنه عهد أو صلح، أو دخل إلى البلاد بذمة أو عهد وما أشبه ذلك، فهؤلاء لا يجوز قتلهم، ولا أخذ أموالهم، بل إن ذلك فيه الوعيد الشديد، قال -عليه الصلاة والسلام-: من قتل معاهدًا لم يَرُحْ رائحة الجنة (1) فمن كبائر الذنوب، فليس كل كافر يحل دمه وماله إنما هذا الكافر الحربي اللي بيننا وبينه حرب، وبيننا وبينه سلاح، هذا حلال دمه وماله.

شرح رسالة كتاب الايمان. 1\307
& الفقه الإسلامي وأدلته تأليف الدكتور وهبة الزحيلي، ج: 6 ص: 556
عرف الشافعية والحنابلة الغصب بأنه: الاستيلاء على حق الغير (من مال أو اختصاص) عدواناً، أي على وجه التعدي أو القهر بغير حق. وهذا التعريف يشمل أخذ الأموال المتقومة والمنافع وسائر الاختصاصات كحق التحجر (أي إحياء الأرض الموات بوضع الأحجار على حدودها)، والأموال غير المتقومة كخمر الذمي، وما ليس بمال، كالكلب والسرجين وجلد الميتة.

& إسعاد الرفيق للشيخ محمد بن سالم بن سعيد بابصيل الشافعي
(و) كذا أكل (كل مأخوذ بمعاملة حرمها الشرع) مما مر بيانه وإنه من أكل أموال الناس بالباطل، وقد ورد في الحديث” إن دم المسلم وعرضه وماله حرام” وإن من استحل ما يأخذه كبعض الجهلة الطعام كفر وخرج عن دائرة الإسلام والعياذ بالله سبحانه وتعالى عن ذلك، فليجتنب العاقل كل ذلك وغيره من المحرمات، ولعظم خطر ارتكاب المنهيات. قال عليه الصلاة والسلام” إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم وإذا نهيتكم عنه فاجتنبوه” أي حيث قال في الثاني فاجتنبوه ولم يقل فاجتنبوا منه ما استطعتم، ولا يحصل الاجتناب عنها إلا بالتقوى كما قال عليه الصلاة والسلام: لا تحاسدوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا. المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يحقره ولا يخدعه ولا يكذبه: التقوى ههنا (ويشير إلى صدره ثلاث مرات). أي إن خشية الله التي يجتنب بها العبد المنهيات، ويطلب بها الرضا في القلب الذي هو محل الإيمان. واعلم أن بعض الجهلة قد يظن إن الحرام والظلم إنما يتصور بنور العصب وقطع الطريق والسرقة مع أن المأخوذ بنحو الغش والخداع أشد ظلما وأقبح تعديا والله أعلم.

2- Tidak boleh niat sedekah barang subhat (haram) melaikan ia harus mengumumkannya terlebih dahulu.

Referensi :

– Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/263-264) :

وأما الصدقة بالمال الحرام ، فغير مقبولة كما في ” صحيح مسلم ” عن ابن عمر ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا يقبل الله صلاة بغير طهور ، ولا صدقة من غلول

وفي ” الصحيحين ” عن أبي هريرة ، عن النبي صلى الله عليه وسلم : قال ما تصدق عبد بصدقة من كسب طيب – ولا يقبل الله إلا الطيب – إلا أخذها الرحمن بيمينه وذكر الحديث . وفي ” مسند ” الإمام أحمد عن ابن مسعود ، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لا يكتسب عبد مالا من حرام ، فينفق منه ، فيبارك فيه ، ولا يتصدق به ، فيتقبل منه ، ولا يتركه خلف ظهره إلا كان زاده إلى النار ، إن الله لا يمحو السيئ بالسيئ ، ولكن يمحو السيئ بالحسن ، إن الخبيث لا يمحو الخبيث .

ويروى من حديث دراج عن ابن حجيرة ، عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : من كسب مالا حراما ، فتصدق به ، لم يكن له فيه أجر ، وكان إصره عليه .

خرجه ابن حبان في ” صحيحه ” ورواه بعضهم موقوفا على أبي هريرة .

وفي مراسيل القاسم بن مخيمرة ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” من أصاب مالا من مأثم ، فوصل به رحمه ، وتصدق به ، أو أنفقه في سبيل الله ، جمع ذلك جميعا ، ثم قذف به في نار جهنم “

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T036. CARA MENSUCIKAN KASUR TANPA MENCUCINYA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana cara menyucikan kasur (tebal) yang kenak najis, masalahnya agak kesulitan dalam menyucikannya.

Apakah ada pendapat yang lebih ringan dalam hal itu?

Mohon pencerahannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kita mungkin pernah mendapati ada kotoran binatang, air kencing, atau barang najis lain melekat di tengah-tengah karpet atau kasur. Untuk menyucikannya, sebagian orang mengangkat karpet atau kasur tersebut, lalu mencucinya: menyiram langsung air ke area najis atau keseluruhan permukaan kasur atau karpet hingga barang najis itu benar-benar hilang.

Meski sah dalam menyucikan, cara tersebut tergolong merepotkan, apalagi untuk jenis karpet berbulu atau kasur berbusa, dan berukuran besar, karena akan memperlukan tenaga ekstra dan waktu pengeringan yang lebih lama. Sebenarnya ada cara yang lebih efisien dan efektif dari sekadar mencuci karpet atau kasur itu dengan cara-cara yang melelahkan.

Dalam fiqih, hal pokok yang menjadi perhatian dalam persoalan najis adalah warna, bau, dan rasa. Karena itu, fiqih Syafi’iyah membedakan antara najis ‘ainiyah dan najis hukmiyah. Yang pertama adalah najis berwujud (terdapat warna, bau, atau rasa); sedangkan yang kedua adalah najis tak berwujud (tak ada warna, bau, atau rasa) tapi tetap secara hukum berstatus najis. Air kencing yang merupakan najis ‘ainiyah dianggap berubah menjadi najis hukmiyah ketika air kencing tersebut mengering hingga tak tampak lagi warna, bau, bahkan rasanya.
Cara menyucikan kedua najis itu juga berbeda. Syekh Ahmad Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu’în bi Syarhi Qurratil ‘Ain bi Muhimmâtid Dîn menjelaskan bahwa najis ‘ainiyah disucikan dengan cara membasuhnya hingga hilang warna, bau, dan rasanya. Sementara najis hukmiyah disucikan dengan cara cukup menuangkan air sekali di area najis.

Kembali pada kasus karpet atau kasur terkena najis di atas, bagaimana cara mudah dalam menyucikannya?

Pertama, membuat najis ‘ainiyah di karpet atau kasur berubah menjadi najis hukmiyah. Secara teknis, seorang harus membuang/membersihkan najis itu hingga tak tampak warna, bau, dan rasanya (cukup dengan perkiraan, bukan menjilatnya). Di tahap ini mungkin ia perlu menggunakan sedikit air, menggosok, mengelap, atau cara lain yang lebih mudah. Selanjutnya, biarkan mengering, dan tandai area bekas najis itu karena secara hukum tetap berstatus najis.

Kedua, tuangkan air suci-menyucikan cukup di area najis yang ditandai itu, maka sucilah kasur atau karpet tersebut, meskipun air dalam kondisi menggenang di atasnya atau meresap ke dalamnya. Cara yang sama juga bisa kita lakukan pada najis yang mengenai lantai ubin, sofa, bantal, permukaan tanah, dan lain-lain.

Syekh Ahmad Zainuddin al-Malibari menerangkan:

لَوْ أَصَابَ الأَرْضَ نَحْوُ بَوْلٍ وَجَفَّ، فَصُبَّ عَلى مَوْضِعِهِ مَاءٌ فغَمره طهُرَ ولو لمْ يَنْصُبْ، أي: يغُورُ، سواء كانت الأرضُ صُلبةً أم رَخْوَةً

Artinya: “Seandainya ada tanah yang terkena najis semisal air kencing lalu mengering, lalu air dituangkan di atasnya hingga menggenang, maka sucilah tanah tersebut walaupun tak terserap ke dalamnya, baik tanah itu keras ataupun gembur.” (Syekh Ahmad Zainuddin al-Malibari, Fathul Mu’în bi Syarhi Qurratil ‘Ain bi Muhimmâtid Dîn [Beirut: Dar Ibnu Hazam, 2004], halaman 78)

Keterangan tersebut berlaku untuk najis level sedang (mutawasithah) seperti ompol bayi usia lebih dari dua tahun, kotoran binatang, darah, muntahan, air liur dari perut, feses, atau sejenisnya.

Sementara air kencing bayi laki-laki kurang dua tahun yang belum mengonsumsi apa pun kecuali ASI (masuk kategori najis level ringan atau mukhaffafah) dapat disucikan dengan hanya memercikkan air ke tempat yang terkena najis. Tidak disyaratkan air harus mengalir, hanya saja percikan mesti kuat dan volume air harus lebih banyak dari air kencing bayi tersebut. Namun, bila air kecing itu mengering, kucuran sekali air sudah cukup menyucikannya.

Dengan demikian, bila najis itu memang didapati cuma sedikit, kita tak perlu repot-repot mencuci seluruh permukaan kasur/karpet, mengepel semua permukaan lantai, atau mengguyur seluruh permukaan bantal, dan seterusnya. Cukup dua langkah saja: menghilangkan sifat-sifat najis itu lalu menuangkan air suci-menyucikan di atas area bekas najis. Wallahu a’lamu..

KASUR YANG SUDAH DI JEMUR

Cara mensucikan kasur yang sudah dijemur masih harus diperinci :

– Jika setelah dijemur, kasur tersebut masih mengandung salah satu dari warna, bau dan rasa pipis maka najis di kasur tersebut dihukumi najis ‘ainiyyah. Sehingga cara mensucikannya harus disiram air sampai hilang sifat najisnya (warna, rasa, bau).

– Jika setelah dijemur, kasur tersebut sudah tidak mengandung seluruh sifat najis, maka najis tersebut dihukumi najis hukmiyyah, sehingga cukup dialiri air satu kali saja.

Namun demikian menurut kalangan Hanafiyah, bila sifat-sifat suatu najis sudah dapat hilang dengan dijemur pada sinar matahari maka kasur tersebut sudah dihukumi suci, karena dalam madzhab Hanafi, api dan sinar matahari bisa untuk menghilangkan najis.

REFERENSI :

– Kifayah Al Akhyar, juz 1, hal.66

– Roudloh Al Tholibin Wa ‘Umdah Al Muftiyyin, juz 1, hal.100

– Al Um, juz 1, hal.74

كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار – (ج 1 / ص 66)(وغسل جميع الأبوال والأرواث واجب إلا بول الصبي الذي لم يأكل الطعام فإنه يطهر برش الماء عليه). حجة الوجوب حديث الأعرابي وغيره، وأما كيفية الغسل فالنجاسة تارة تكون عينية أي تشاهد بالعين وتارة تكون حكمية أي حكمنا على المحل بنجاسته من غير أن ترى عين النجاسة فإن كانت النجاسة عينية فلا بد مع إزالة العين من محاولة إزالة ما وجد منها من طعم ولون وريح فإن بقي طعم النجاسة لم يطهر المحل المتنجس لأن بقاء الطعم يدل على بقاء النجاسة وصورته فيما إذا تنجس فمه وإن بقي الأثر مع الرائحة لم يطهر أيضاً وإن بقي لون النجاسة وحده وهو غير عسر الإزالة لم يطهر إلى أن قال وأما النجاسة الحكمية فيشترط فيها الغسل أيضاً. والحاصل أن الواجب في إزالة النجاسة غسلها المعتاد بحيث ينزل الماء بعد الحت والتحامل صافياً إلا في بول الصبي الذي لم يطعم ولم يشرب سوى اللبن

روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 100)أما إذا طرأ مناقض لا باختياره ولا بتقصيرة فإن أزاله في الحال كمن انكشفت عورته فسترها في الحال أو وقعت عليه نجاسة يابسة فنفضها في الحال أو ألقى الثوب الذي وقعت عليه في الحال فصلاته صحيحة

الأم – (ج 1 / ص 74)(قال الشافعي) رضى الله عنه إلى أن قال فإذا أصابتهما نجاسة يابسة لا رطوبة فيها فحكهما حتى نظفا وزالت النجاسة عنهما صلى فيهما

– Kitab Rahmatul Ummah / Hamisy Mizan Kuibra 1/5 :

ليس للنار والشمس في إزالة النجاسة تأثير إلا عند أبي حنيفة حتى إن جلد الميتة إذا جف في الشمس طهر عنده بلا دبغ وكذلك إذا كان على الأرض نجاسة فجفت في الشمس طهر موضعها وجازت الصلاة عليه لا التيمم به وكذلك النار تزيل النجاسة عنده

– Al-Majmuu’ ala Syarh al-Muhadzdzab II/596 :

قال المصنف رحمه الله [إذا أصاب الارض نجاسة ذائبة في موضع ضاح فطلعت عليه الشمس وهبت عليه الريح فذهب اثرها ففيه قولان قال في القديم والاملاء يطهر لانه لم يبق شئ من النجاسة فهو كما لو غسل بالماء وقال في الام لا يطهر وهو الاصح لانه محل نجس فلا يطهر بالشمس كالثوب النجس]* [الشَّرْحُ] هَذَانِ الْقَوْلَانِ مَشْهُورَانِ وَأَصَحُّهُمَا عِنْدَ الْأَصْحَابِ لَا يَطْهُرُ كَمَا صَحَّحَهُ الْمُصَنِّفُ وَنَقَلَهُ الْبَنْدَنِيجِيُّ عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ فِي عَامَّةِ كُتُبِهِ وَحَكَى فِي الْمَسْأَلَةِ طَرِيقَيْنِ أَحَدُهُمَا فِيهِ الْقَوْلَانِ وَالثَّانِي القطع بأنها لا تطهر وتأويل نصفه عَلَى أَرْضٍ مَضَتْ عَلَيْهِ سُنُونَ وَأَصَابَهَا الْمَطَرُ ثُمَّ الْقَوْلَانِ فِيمَا إذَا لَمْ يَبْقَ مِنْ النجاسة طعم ولا لون ولا رائحة ومن قَالَ بِأَنَّهَا لَا تَطْهُرُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَزُفَرُ وَدَاوُد وَمِمَّنْ قَالَ بِالطَّهَارَةِ أَبُو حَنِيفَةَ وَصَاحِبَاهُ ثُمَّ قَالَ الْعِرَاقِيُّونَ هُمَا إذَا زَالَتْ النَّجَاسَةُ بِالشَّمْسِ أَوْ الرِّيحِ فَلَوْ ذَهَبَ أَثَرُهَا بِالظِّلِّ لَمْ تَطْهُرْ عِنْدَهُمْ قَطْعًا وَقَالَ الْخُرَاسَانِيُّونَ فِيهِ خِلَافٌ مُرَتَّبٌ وَأَمَّا الثَّوْبُ النَّجِسُ بِبَوْلٍ وَنَحْوِهِ إذَا زَالَ أَثَرُ النَّجَاسَةِ مِنْهُ بِالشَّمْسِ فَالْمَذْهَبُ القطع بأنه لا يطهر وبه قطع العرقيون وَنَقَلَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ عَنْ الْأَصْحَابِ أَنَّهُمْ طَرَدُوا فِيهِ الْقَوْلَيْنِ كَالْأَرْضِ قَالَ وَذَكَرَ بَعْضُ الْمُصَنِّفِينَ يَعْنِي الْفُورَانِيَّ أَنَّا إذَا قُلْنَا يَطْهُرُ الثَّوْبُ بِالشَّمْسِ فَهَلْ يَطْهُرُ بِالْجَفَافِ فِي الظِّلِّ فِيهِ وَجْهَانِ وَهَذَا ضَعِيفٌ قَالَ الْإِمَامُ وَلَا شَكَّ أَنَّ الْجَفَافَ لَا يَكْفِي فِي هَذِهِ الصُّورَةِ فَإِنَّ الْأَرْضَ تَجِفُّ بِالشَّمْسِ عَلَى قُرْبٍ وَلَمْ يَنْقَلِعْبَعْدُ آثَارُ النَّجَاسَةِ فَالْمُعْتَبَرُ انْقِلَاعُ الْآثَارِ عَلَى طُولِ الزَّمَانِ بِلَا خِلَافٍ وَكَذَا الْقَوْلُ فِي الثِّيَابِ وَقَوْلُ الْمُصَنِّفِ (مَوْضِعٌ ضَاحٍ) هُوَ بِالضَّادِ الْمُعْجَمَةِ قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ هُوَ الْبَارِزُ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S062. HUKUM BERJAMAAH DALAM SHALAT DHUHA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bagaimana hukumnya sholat Dhuha berjamaah? karena hal tersebut banyak dilakukan di sekolah-sekolah pagi sebagai bentuk pembiasaan terhadap murid²nya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Sholat dhuha lebih baik dikerjakan sendirian, namun boleh dikerjakan secara berjama’ah apalagi jika bertujuan mengajarkan tata caranya atau memberikan semangat, asalalkan tidak menimbulkan keharaman. Wallahu a’lam.

Referensi :

1. Al-Majmu’, juz 4 hal. 55

وأما باقي النوافل كالسنن الراتبة مع الفرائض والضحى والنوافل المطلقة فلا تشرع فيها الجماعة أي لا تستحب لكن لو صلاها جماعة جاز ولا يقال إنه مكروه وقد نص الشافعي رحمه الله في مختصري البويطي والربيع على أنه لا بأس بالجماعة في النافلة ودليل جوازها جماعة أحاديث كثيرة في الصحيح

2. Shahih Muslim, juz 1 hal. 497

وحدثنا محمد بن المثنى، وابن بشار، قالا: حدثنا محمد بن جعفر، حدثنا شعبة، عن عمرو بن مرة، عن عبد الرحمن بن أبي ليلى، قال: ما أخبرني أحد أنه رأى النبي صلى الله عليه وسلم يصلي الضحى إلا أم هانئ، فإنها حدثت «أن النبي صلى الله عليه وسلم دخل بيتها يوم فتح مكة، فصلى ثماني ركعات، ما رأيته صلى صلاة قط أخف منها، غير أنه كان يتم الركوع والسجود» . ولم يذكر ابن بشار في حديثه قوله قط

3. I’anatut Tholibin, juz 1 hal. 284

وصلاة النفل قسمان: قسم لا تسن له جماعة

قوله: قسم لا تسن له جماعة) أي دائما وأبدا بأن لم تسن له أصلا، أو تسن في بعض الأوقات كالوتر في رمضان. قال في النهاية: ولو صلى جماعة لم يكره. اه. ونقل ع ش عن سم أنه يثاب عليها. وقال ح ل: لا يثاب عليها. قال البجيرمي: واعتمد شيخنا ح ف كلام ح ل. اه

4. Nihayatuz Zain, hal. 99

وأفراد النوافل لا تنحصر أما المؤقت فهو قسمان قسم تسن فيه الجماعة وسيأتي

وقسم لا تسن فيه الجماعة فهي فيه خلاف الأولى وإن حصل ثوابها على المعتمد كما نقله الونائي عن ابن قاسم

5. Bughyatul Mustarsyidin, hal. 136

مسألة : ب ك : تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب ، نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب ، وأي ثواب بالنية الحسنة ، فكما يباح الجهر في موضع الإسرار الذي هو مكروه للتعليم فأولى ما أصله الإباحة ، وكما يثاب في المباحات إذا قصد بها القربة كالتقوّي بالأكل على الطاعة ، هذا إذا لم يقترن بذلك محذور ، كنحو إيذاء أو اعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم ويمنع منها

6. Syarah Shahih Muslim li an-Nawawi, juz 5 hal. 162

حدثنا يحيى بن يحيى، قال: قرأت على مالك، عن إسحاق بن عبد الله بن أبي طلحة، عن أنس بن مالك، أن جدته مليكة، دعت رسول الله صلى الله عليه وسلم لطعام صنعته، فأكل منه، ثم قال: «قوموا فأصلي لكم» ، قال أنس بن مالك فقمت إلى حصير لنا قد اسود من طول ما لبس، فنضحته بماء، فقام عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وصففت أنا، واليتيم وراءه، والعجوز من ورائنا، فصلى لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ركعتين، ثم انصرف

قوله صلى الله عليه وسلم قوموا فلأصلي لكم فيه جواز النافلة جماعة وتبريك الرجل الصالح والعالم أهل المنزل بصلاته في منزلهم فقال بعضهم ولعل النبي صلى الله عليه وسلم أراد تعليمهم أفعال الصلاة مشاهدة مع تبريكهم فإن المرأة قلما تشاهد أفعاله صلى الله عليه وسلم في المسجد فأراد أن تشاهدها وتتعلمها وتعلمها غيرها

Wallahu a’lamu bisshowab..