logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 257 : DO’A DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 257 :

وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ اَلصِّدِّيقِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي . قَالَ قُلْ : ” اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Ajarkanlah padaku doa yang aku baca dalam sholatku. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) dianugerahkan jawami’ al-kalim dan ilmu mengenai perkara-perkara yang belum diketahui. Tiada satu kebaikan pun dari kebaikan dunia dan akhirat melainkan baginda menunjukkannya kepada kita, dan tiada satu keburukan pun dari keburukan dunia dan akhirat melainkan baginda mengingatkan kita supaya berwaspada terhadapnya. Dari sini Abu Bakar al-Shiddiq meminta kepada Rasulullah (s.a.w) agar mengajarkan kepadanya suatu doa yang seharusnya beliau baca ketika dalam sholat. Nabi (s.a.w) kemudian mengajarkan kepadanya do’a ini yang di dalamnya mengandungi permohonan ampun. Tidak diragukan lagi bahwa permohonan ampun merupakan permintaan yang paling tinggi dan paling besar untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

FIQH HADITS :

1. Meminta pengajaran dari orang alim lebih-lebih lagi berkaitan do’a yang disebutkan di dalam hadits yang di dalamnya terkandung jawami’ al-kalim.

2. Bertawassul, yakni memohon kepada Allah dengan menyebut asma-Nya yang sesuai dengan kedudukan ketika meminta hajat dan berdo’a supaya diselamatkan dari hal-hal yang tidak disukai, seperti menyebut lafaz “ْالغفور رحيم “ ketika memohon ampunan atau menyebut lafaz: “ وارزقنا وأنت خير الرازقين ” ketika memohon supaya dianugerahkan rezeki. Betapa banyak kalimat seperti ini di dalam al-Qur’an dan do’a-do’a yang pernah dibaca oleh Rasulullah (s.a.w).

3. Disyariatkan berdo’a ketika dalam sholat secara mutlak tanpa perlu ditentukan tempat dimana mesti berdo’a. Dalam hadis sebelum ini disebutkan bahwa do’a ketika dalam sholat dilakukan sesudah tasyahhud, membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) dan isti’adzah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 256 : DO’A MOHON PERLINDUNGAN DALAM TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 256 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ اَلدَّجَّالِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : ( إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ اَلتَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan pada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: (Artinya = Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan pada-Mu dari siksa neraka jahannam siksa kubur cobaan hidup dan mati dan dari fitnah dajjal).” Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim disebutkan: “Jika seseorang antara kamu telah selesai dari tasyahhud akhir.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) senantiasa berbelas kasih dan amat memperhatikan umatnya supaya mereka tidak melakukan perbuatan maksiat dan setiap perkara yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam lembah dosa. Untuk itu, baginda memberikan mereka cara membahagiakan mereka di dunia dan akhirat melalui do’a yang baginda ajarkan. Do’a itu merupakan jami’ al-kalim yang di dalamnya mengandung perlindungan daripada siksa neraka Jahannam dan dari segala
fitnah yang melanda manusia sepanjang masa hidup dan ketika menjelang mati.

Hidup manusia senantiasa terdedah kepada bahaya dan kejahatan apabila tidak mendapat perlindungan dari Allah Yang Maha Pernurah lagi Maha
Penyayang. Pada akhir do’a tersebut disebutkan permohonan perlindungan kepada Allah
dari fitnah yang paling besar, paling merbahaya, dan paling luas mudharat (bahaya)nya. Umat ini pada akhir zaman kelak akan mendapat cobaan fitnah tersebut, yaitu kemunculan al-masih al-Dajjal yang menyeru manusia kepada kebatilan dan perbuatan dosa. Kebenaran pun menjadi pudar bagi mereka dan segala urusan umat manusia menjadi kacau balau. Pada zaman itu mereka hampir tidak dapat membedakan lagi antara mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat, mana yang baik dan mana yang buruk. Semoga Allah melindungi kita dari fitnah ini dan menunjukkan kita ke arah jalan yang lurus.

FIQH HADITS :

1. Azab kubur itu memang ada.

2. Al-Dajjal itu ada dan fitnahnya pasti terjadi ketika dia telah muncul di akhir zaman nanti.

3. Disyariatkan memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah, kejahatan, dan memohon agar semua tersebut ditolak-Nya.

4. Disunatkan berdo’a sesudah selesai membaca tasyahhud sebelum melakukan salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 255 : BACAAN SHOLAWAT DALAM TAHIYAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 255 :

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَمَرَنَا اَللَّهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ ? فَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ : ” قُولُوا : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي اَلْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ . وَالسَّلَامُ كَمَا عَلَّمْتُكُمْ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ : (فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلَاتِنَا)

Dari Abu Mas’ud bahwa Basyir Ibnu Sa’ad bertanya: Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bersholawat padamu bagaimanakah cara kami bersholawat padamu? beliau diam kemudian bersabda: “Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim. Di seluruh alam ini Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung) kemudian salam sebagaimana yang telah kamu ketahui.” Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan: “Bagaimanakah cara kami bersholawat padamu jika kami bersholawat padamu pada waktu sholat.”

MAKNA HADITS :

Wajib membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) ketika dalam tasyahhud akhir, menurut pendapat Imam al-Syafi’i, sebagai membalas sebagian jasa perjuangan baginda kepada kita. Oleh itu, sahabat bertanya kepada Nabi (s.a.w) tentang cara
membaca sholawat tersebut, kemudian Rasulullah (s.a.w) mengajarkan kepadanya
cara yang disyariatkan. Sholawat ini juga mengandung permohonan sholawat untuk keluarga baginda, yaitu ahli baitnya yang suci, sebagaimana terkandung pula di
dalamnya keutamaan Nabi Ibrahim, bapak sekalian para nabi.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang diperintahkan melakukan sesuatu, sedangkan dia masih belum faham cara untuk melakukannya, maka hendaklah dia bertanya kepada ahli al-dzikir.

2. Disyariatkan membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) dengan shighat (kalimat) yang tersebut di atas.

3. Menerangkan kemuliaan para sahabat dan sejauh mana perhatian mereka yang sangat dalam meneliti hukum-hukum agama.

4. Menerangkan kemuliaan Nabi Ibrahim yang senantiasa bertambah dengan membaca sholawat ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 254 : DISYARI’ATKAN MEMBACA HAMDALAH DAN SHALAWAT DALAM BERDO’A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 254 :

وَعَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَمِعَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رِجْلاً يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اَللَّهَ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ” عَجِلَ هَذَا ” ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ. رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Fadlolah Ibnu Ubaidah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang berdo’a dalam sholatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca sholawat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam maka bersabdalah beliau: “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu sholat maka hendaknya ia memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjung-Nya kemudian membaca sholawat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu berdoa dengan do’a yang dikehendakinya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam Tiga. Hadits shahih menurut Tirmidzi Ibnu Hibban dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Do’a mempunyai etika tersendiri yang mesti ditaati apabila ingin doanya dimakbulkan, antara lain adalah memulainya dengan membaca hamdalah dan memanjatkan sanjungan kepada-Nya serta bersholawat ke atas Nabi (s.a.w), karena baginda merupakan wasilah al-‘uzhma (perantara yang paling agung) dalam memperoleh hidayah dan bimbingan. Sesudah itu barulah seseorang berdoa memohon apa yang dikehendakinya.

Rasulullah (s.a.w) pernah mendengar seorang lelaki yang tidak tahu bagaimana cara berdoa yang betul, kerana tidak mengindahkan etika tersebut dalam do’anya. Melihat itu, Nabi (s.a.w) menyebutnya sebagai orang yang terburu-buru dalam berdo’a dan tidak ada jaminan yang dia tidak akan melakukan kesalahan. Baginda bersabda: “Lelaki ini terlampau tergesa-gesa.” Kemudian baginda memanggil lelaki itu dan mengajarkan kepadanya etika yang mesti ditaati ketika berdo’a.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca hamdalah dan salawat ke atas Nabi (s.a.w) ketika bertasyahhud.

2. Do’a dibaca sesudah tasyahhud dan sebelum salam. Dalam kaitan ini dianjurkan hanya sebatas menurut apa yang disebutkan di dalam hadis.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 253 : KALIMAT TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 253 :

ولمسلم عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ “التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ…….. الى أخره.

Menurut riwayat Muslim dari Ibn Abbas (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) dahulu mengajarkan kami tasyahhud, yaitu: التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ
(Semua penghormatan, keberkatan, sholat lima waktu dan kebaikan hanyalah milik Allah….) hingga akhir hadis.

MAKNA HADITS :

Tasyahhud yang diajarkan oleh Nabi (s.a.w) kepada para sahabatnya menunjukkan betapa besar perhatian baginda terhadap tasyahhud ini. Banyak riwayat yang menceritakan Nabi (s.a.w) mengajarkan para sahabatnya bacaan tasyahhud dalam bentuk lafaz yang beragam, hingga hadis mengenai tasyahhud ini telah diriwayatkan dengan lafaz yang berbeda-beda antara satu sama lain oleh dua puluh empat orang sahabat. Walaupun, membaca salah satu lafaz tasyahhud ini sudah dianggap mencukupi, meskipun apa yang terdapat di dalam hadis Ibn Abbas ini paling kuat.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca tasyahhud dengan kalimat yang telah disebutkan di dalam hadis ini. Ini menjadi pilihan Imam al-Syafii memandang di dalamnya ada tambahan lafaz “المباركات ,“ karena kalimat ini sesuai dengan apa yang disebut di dalam firman-Nya:

تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ

“…salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik…” (Surah al-Nuur: 61)

Al-Baihaqi turut mengutamakan hadis ini dan berkata: “Rasulullah (s.a.w) pernah mengajarkannya kepada Ibn Abbas dan rekan-rekan yang sebaya dengannya dari kalangan sahabat yang masih berusia muda. Dengan demikian, hadis ini adalah hadis terakhir dalam masalah tasyahhud dan lebih baru dibandingkan dengan tasyahhud yang disebutkan dalam hadis Ibn Mas’ud dan lainnya. Tetapi Imam Malik memilih tasyahhud Umar r.a yang lafaznya ialah seperti berikut:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالزاكيات لله، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semua penghormatan adalah milik Allah, semua sesuatu yang suci adalah milik Allah, semua sholat dan sesuatu yang baik adalah milik Allah. Semoga kesejateraan berlimpah kepadamu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan keberkatannya…” hingga akhir tasyahhud.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 252 : BACAAN KETIKA TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 252 :

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : ( اِلْتَفَتَ إِلَيْنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةَ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ اَلدُّعَاءِ أَعْجَبُهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ )

وللنسائي : كنا نقول قبل أن يفرض علينا التشهد. وَلِأَحْمَدَ : ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَهُ اَلتَّشَهُّد وَأَمَرَهُ أَنْ يُعَلِّمَهُ اَلنَّاسَ )

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berpaling pada kami kemudian bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaknya ia membaca: (Artinya = Segala penghormatan sholawat dan kebaikan itu hanya bagi Allah semata. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya) kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia sukai lalu berdoa dengan doa itu.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Menurut riwayat Nasa’i: Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud itu diwajibkan atas kami. Menurut riwayat Ahmad: bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajarinya tasyahhud dan beliau memerintahkan agar mengajarkannya kepada manusia.

MAKNA HADITS :

Kalimat tasyahhud memiliki banyak bentuk lafaz yang kesemuanya disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh dua puluh empat orang sahabat.

Jumhur ulama memilih salah satu diantaranya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Ibn Mas’ud (r.a). Dengan membaca salah satu lafaz tasyahhud, maka itu sudah dianggap mencukupi. Nabi (s.a.w) amat mementingkan tasyahhud dan mengajarkannya kepada para sahabatnya di samping mereka berkewajiban mengajarkannya kepada orang lain.

FIQH HADITS :

1. Seseorang dilarang mengucapkan “السلام على الله”

2. Disyariatkan membaca tasyahhud menurut kalimat yang pernah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w). Ini menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.

3. Disunatkan memulai do’a terlebih dahulu untuk diri sendiri, lalu berdo’a untuk orang lain secara umum.

4. Disyariatkan membaca do’a sesudah tasyahhud dan sebelum salam, yaitu mana yang berkaitan dengan kebaikan dunia dan akhirat, namun do’a itu tidak boleh memuatkan dosa. Inilah pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak boleh membaca do’a kecuali lafaz do’a yang terdapat di dalam al-Qur’an atau Sunnah atau lafadz do’a yang serupa dengan lafaz al-Qur’an,
namun tidak boleh membaca lafadz do’a yang mempunyai kesamaan dengan percakapan manusia.”

5. Wajib membaca tasyahhud pada tempatnya di dalam sholat. Tasyahhud merupakan rukun sholat dalam rakaat terakhir dan sunat dalam rakaat kedua.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

J036. CARA MERAWAT MAYAT KORBAN GEMPA DAN SUNAMI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:

Di zaman sekarang ini tidak sedikit kita bertemu dan melihat seorang laki2 yang membiarkan rambutnya panjang sehingga sama dengan rambutnya wanita yang tidak berjilbab, begitu juga sebaliknya terkadang tanpa disengaja kita bertemu dengan wanita yang rambutnya pendek menyerupai orang laki-laki, bahkan bukan cuma itu pakainpun merip dengan orang laki-laki.

Akibat terjadinya gempa stunami yang terjadi di sulawesi tengah, maka banyak yang menjadi korban meninggal kurang lebih 386 dan masih banyak yang luka-luka ringan dan berat yang sekarang ini dirawat dirumah sakit. Yang meninggal mudah-mudahan diampuni oleh Allah dan yang luka-luka mudah-mudahan tertolong dan sembuh.

Studi kasus, setelah kurang lebih dari seminggu polisi dan mayarakat menemukan mayat yang sudah rusak akibat tsunami tersebut, sehingga sulit untuk diketahui jenisnya.

Pertanyaannya:

Bagaimana tatacara menyelesaikan kewajiban (tajhizulmayit) mulai dari memandikan menshalatinya sampai mengkuburkannya (mentalqiniya) menurut hukum agama, sementara ia tidak diketahui jenis kelaminnya?
Mohon dengan hormat atas jawabannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

CARA MEMANDIKAN :

Apabila mayatnya hancur/remuk karena gempa sehingga tidak diketahui jenis kelaminnya maka kewajiban kita masih tetap sama dengan janazah lainnya, mengkafani, mensholati dan menguburkannya hanya dalam masalah memandikan diganti dengan tayammum.

Referensi :

Al Bajuri 1/ 242 – 243 :

(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)… الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .

Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya.

– Asna alMathoolib I/305 :

وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

“Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”.

CARA MEN-SHALATKAN :

Tidak disyaratkan dalam shalat jenazah harus mengetahui jenis kelamin mayit yang dishalati. Sebagaimana pula tidak dipersyaratkan harus mengetahui nama mayit.

An-Nawawi mengatakan,

ولا يفتقر إلى تعيين الميت، وأنه زيد أو عمرو أو امرأة أو رجل ، بل يكفيه نية الصلاة على هذا الميت وإن كان مأموما ونوى الصلاة على من يصلي عليه الإمام كفاه ، صرح به البغوي وغيره

Shalat jenazah tidak harus diniatkan untuk mayit tertentu. Seperti diniatkan untuk mayit bernama Zaid, atau Amr, atau seorang wanita atau seorang lelaki. Namun cukup dengan niat menshalatkan jenazah yang bersangkutan. Dan jika dia sebagai makmum shalat jenazah, lalu dia berniat shalat sebagaimana yang diniatkan imam, itu sah. Demikian yang ditegaskan al-Baghawi dan yang lainnya. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 5/230).

Keterangan yang lain juga disebutkan dalam kitab Kifayatul Akhyar,

ولا يشترط تعين الميت بل لو نوى الصلاة على من صلى عليه الإمام كفى

Tidak disyaratkan harus meniatkan shalat jenazah untuk mayit tertentu. Bahwa jika berniat shalat jenazah sebagaimana niatnya imam, itu sudah cukup. (Kifayatul Akhyar, hlm. 162).

Karena inti dari shalat jenazah adalah mendoakan mayit yang bersangkutan. Sekalipun kita tidak tahu jenis kelaminnya, tidak tahu namanya, selama dia muslim, maka doa kita bisa bermanfaat baginya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan” (HR. Bukhari & Muslim)

Bagaimana dengan Kata Ganti dalam Doanya?

Kata ganti orang ketiga dalam bahasa arab dibedakan untuk lelaki (mudzakkar) dan perempuan (muannats). Dalam posisinya sebagai objek, kata “dia lelaki” digunakan [هُـ]. Sementara kata “dia perempuan” digunakan [هَا].

Dalam bahasa arab, kata benda juga terbagi menjadi mudzakar dan muannats. Salah satu diantara cirinya adalah adalah kata muannats bertandakan huruf ta’ melingkar (marbuthah) ditulis [ة]. Sementara kata benda mudzakkar, umumnya tidak menggunakan ta’ marbuthah.

Sebagai contoh:

Kata mayit [المَيِّتُ] adalah kata mudzakkar, diantara cirinya tidak ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf hu [هُـ].

Kata jenazah [الجَنَازَةُ] adalah kata muannats, diantara cirinya ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf haa [هَا].

Sementara dalam shalat jenazah, kita bisa mendoakan dengan redaksi: “Ya Allah, ampunilah mayit ini…”, atau bisa juga dengan redaksi, “Ya Allah, ampunilah jenazah ini…”

Oleh karena itu, sekalipun kita tidak tahu jenis kelamin jenazah, menggunakan dhamir (kata) ganti apapun, tetap benar.

Misalnya, anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

/Allahummagh-fir laHU war hamHU wa ‘aafiiHI wa’fu’anHU /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘hu’ dengan niat ditujukan kepada mayit. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah mayit [المَيِّت], yang merupakan kata mudzakkar. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Atau misalnya,

anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

/Allahummagh-fir laHA war hamHA wa ‘aafiiHA wa’fu’anHA /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘ha’ dengan niat ditujukan kepada jenazah. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah jenazah [الجَنَازَةُ], yang merupakan kata muannats. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Do’a dan bacaan saat menyolati mayyit yang tidak kita ketahui baik jenis kelamin, jumlah, dan balligh atau belumnya, adalah dengan dimudzakkarkan dhomirnya, karena sebetulnya tidak disyaratkan ta’yin mayyit yang hadir dicukupkan dengan ta’yin solat jenazah atau ta’yin fardhu / fardhu kifayah.

قوله ويكبر ) الي ان قال وأركانها سبعة أحدها النية ويجب فيها القصد والتعيين كصلاة الجنازة ونية الفرضية وإن لم يعترض للكفاية وغيرها ولا يشترط تعيين الميت الحاضر

Adapun rukun dari solat jenazah ialah 7 salah satunya niat dan diwajibkan untuk menyegaja niat dan ta’yin niat contoh solat jenazah dan niat fardhu walaupun tidak menyinggung/mengucapkan kifayah atau selainnya dan tidak disyaratkan menta’yin mayyit yang hadir.

Referensi :

– khasiyah albajuri juz 1 hal 249

فإن عينه كزيد أو رجل ولم يشر اليه ,أخطأ في تعيينه كأن بان عمر أو إمرأة لم تصح صلاته فأن أشار اليه كأن ٌقال نويت الصلاة علي زيد هذا فبان عمرا صحت صلاته تغليبا للإشارة ويلغو التعيين

Seandainya seorang yang menyolati jenazah menta’yin contoh mayyat bernama zaid atau mayyat laki-laki dan tidak menisyarohi/memakai lafad hadza maka demikian apabila salah pada ta’yinnya dalam contoh kenyataannya mayyatnya umar atau kenyataannya mayyatnya perempuan maka tidak sah solatnya berbeda seandainya orang yang solat jenazah tersebut mengisyarohi /melafdkan hadza seperti niat nawaitu as solata ala zaidin hadza ,maka apabila kenyaataannya salah maka sah solatnya karena yang dimenangkan adalah isyarohnya dan tidak dianggap ta’yinnya. [ referensi khasiyah al bajuri juz 1 hal 249 ].

– Syarh Al Bahjah al-Wardiyyah VI/97 ].

ويؤنث الضمائر ويجوز تذكيرها بقصد الشخص

Dan dhomir dijadikan ta’nits (dalam mayat wanita) dan boleh juga memudzakkarkannya.

– I’aanah at-Thoolibiin II/128

ويؤنث الضمائر في الأنثى ويجوز تذكيرها بإرادة الميت أو الشخص( قوله ويؤنث الضمائر في الأنثى ) كأن يقول اللهم اغفر لها وارحمها إلخ اللهم اجعلها فرطا لأبويها إلخ ( قوله ويجوز تذكيرها ) أي الضمائر في الأنثى ( وقوله بإرادة الميت أو الشخص ) يعني أنه إذا ذكر الضمير وكان الميت أنثى جاز ذلك بتأويلها بالشخص أو بالميت أي اللهم اغفر له أي هذا الميت أو الشخص أي أو الحاضر

CARA MENGUBURKAN :

Hukum menguburkan mayat secara massal adalah sebagai berikut:

a. Tidak boleh, apabila masih bisa menguburkannya secara normal (satu lubang kuburan untuk satu mayat)

b. Boleh, apabila dalam keadaan darurat (tidak memungkinkan untuk menguburkan mayat dengan normal). Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Muhadzdzab berikut ini:

وَلاَ يُدْفَنُ مَيِّتٌ فِيْ مَوْضِعٍ فِيْهِ مَيِّتٌ إِلاَّ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ بَلِيَ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ شَيْءٌ وَيُرْجَعُ فِيْهِ إِلَى أَهْلِ الْخُبْرَةِ بِتِلْكَ اْلأَرْضِ وَلاَ يُدْفَنُ فِيْ قَبْرٍ وَاحِدٍ اِثْناَنِ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَدْفَنْ فِي كُلِّ قَبْرٍ إِلاَّ وَاحِدًا فَإِنْ دَعَتْ إِلَى ذلِكَ ضَرُوْرَةٌ جَازَ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم كاَنَ يَجْمَعُ اْلاِثْنَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ…. (المهذب في فقه الإمام الشافعي، ج 1 ص 253)

Dan mayit tidak boleh dikuburkan pada suatu tempat yang sudah ada mayatnya, kecuali mayat (yang sudah dikubur) telah rusak, dan tidak ada sesuatu di dalamnya, dan hal ini diserahkan pada ahlinya. Dan tidak dikuburkan dalam satu kuburan dua mayat, karena Nabi tidak mengubur dalam satu lubang kubur kecuali satu mayat, namun apabila dalam keadaan darurat maka diperbolehkan, karena sesungguhnya Nabi pernah mengumpul-kan dua mayat dalam satu kuburan pada saat perang uhud. (al-Muhadzdzab fii Fiqh al-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 253)

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M088. HUKUM DEMONTRASI DALAM ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah :
Pada tahun yang silam telah terjadi “Demontrasi” Yang dikenal dengan pasukan sakera yang dipinpin oleh Sakera Tunngul manik.
Terjadinya aksi demo tersebut karena Pememerintahannya disaat itu tidak adil bahkan membohongi rakyat (tidak sesuai dengan komitmennya) dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, rakyat sengsara harga sembakau tambah meningkat. Akhirnya terjadi aksi para Demo sakera dan pihak keamanan bahkan rayat menjadi korban sebagian kantor dibakar bahkan foto presidennya dibakar.

Pertanyaanya:
1)- Sejauh mana dalam tijauan Islam demontrasi bisa dibenarkan?

2)- Bolehkah aksi Demontrasi tersebut dalam melakukan demo sampai membakar kantor dan foto pejabat (preseden)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban No.1:

Demonstrasi dan unjuk rasa yang bermuatan amar ma’ruf nahi munkar untuk mencari kebenaran dan demi tegaknya keadilan itu boleh selama:

– Tidak menimbulkan mafsadah yang lebih besar.

– Sudah tidak ada jalan lain seperti menempuh musywarah dan lobi.

– Apabila ditujukan pada penguasa pemerintah, hanya boleh dilakukan dengan cara ta’rif (menyampaikan penjelasan) dan al-wa’zhu (pemberian nasihat).

Keterangan, dari kitab:

1. Ihya ‘Ulum al-Din, Jilid 2, h. 337

قد ذكرنا درجات الأمر بالمعروف وأن أوله التعريف وثانيه والوعظ وثالثه التخشين في القول ورابعه المنع بالقهر في الحمل على الحق بالضرب والعقوبة. والجائز من جملة ذلك مع السلاطين الرتبتان الأوليان وهما التعريف والوعظ. وأما المنع بالقهر فليس ذلك لآحاد الرعية مع السلطان فإن ذلك يحرك الفتنة ويهيج الشر ويكون ما يتولد منه من المحذور أكثر وأما التخشين في القول كقوله يا ظالم يا من لا يخاف الله وما يجري مجراه فذلك إن كان يحرك فتنة يتعدى شرها إلى غيره لم يجز وإن كان لا يخاف إلا على نفسه فهو جائز بل مندوب إليه. فلقد كان من عادة السلف التعرض للأخطار والتصريح بالإنكار من غير مبالاة بهلاك المهجة والتعرض لأنواع العذاب لعلمهم بأن ذلك شهادة

2. Al-Zawajir ‘an Iqtiraf al-Kabair, Juz 2, h. 156

والنسائي من رأى منكم منكرا فغيره بيده فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بيده فغيره بلسانه فقد برئ، ومن لم يستطع أن يغيره بلسانه فغيره بقلبه – أي أنكره – فقد برئ وذلك أضعف الإيمان

3. Al-jami’ al-Shaghir min Hadits al-Basyir al-Nadzir, Juz 2, h. 327

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان. (حم م ٤) عن أبي سعيد (صح

Unjuk rasa ( upaya melahirkan rasa kekecewaan serta tuntutan hak ) apabila hak tersebut dibenarkan syara’, dan dengan cara yang juga dibenarkan syara’, hukumnya boleh dan bahkan bisa wajib.

Referensi :

1. إسعاد الرفيق ج:2 ص:139 الهداية { ومنها الوصال} ولو نفلا للنهى عنه وفسره فى المجموع بأن يصوم يومين فأكثر من غير تناول مطعوم عمدا والتعبير بمطعوم للغالب فالجماع يمنعه وليست العلة الضعف فقط وإلا لم تزل الحرمة بتناول قطرة ماء ليلا بل مع مراعاة أن ذلك من خصوصياته عليه الصلاة والسلام ففطن الناس عنه ولذا لو ترك غير الصائم الأكل يومين لم يحرم

2. المجالس السنية ص :99 طه فوترا ولنذكر جملة من أنواع الظلم والضرر ليكون الشخص منها على حذر من ذلك المكس وأكل مال اليتيم والمماطلة بحق عليه مع قدرته على وفائه الى أن قال …. ومن الظلم والضرر أيضا عدم إيفاء الأجير حقه اهـ

3. التفسير لابن كثير ج :1 ص :229 شركة النور آسيا{وأنفقوا فى سيبل الله ولا تلقوا بأيديكم الى التهلكة} وذلك أن رجالا كانوا يخرجون فى بعوث يبعثها رسول الله صلى الله عليه وسلم بغير نفقة فإما أن يقطع بهم وإما كانوا عيالا فأمرهم الله أن يستنفقوا مما رزقهم الله ولا يلقوا بأيديهم الى التهلكة والتهلكة أن يهلك الرجال من الجوع والعطش او من المشى اهـ

Jawaban No.2:

Tidak boleh bertindak /atau sampai melakukan kerusakan dengan prinsip pesan pesan Rasulullah Kapada tiga ribu tentara yang utus untuk menyerang mu’tah sebagai berikut;

A. Sesampainya disana kalian akan menemukan beberapa laki laki yang sedang nyepi ditempat ibatnya maka janganlah ganggu mereka.

B. Janganlah melakukan pembunuhan disana terhadap anak anak para wanita dan orang orang tua.

C. Dan janganlah kalian merobohkan pepohanan dan janganlah menghancurkan bangunan bangunan yang ada disana.
(kholashoh Nurul yaqin juz 4 hal; 27)

Dengan dasar ini sekalipun mendemo sudah dijamin oleh konstitusi maka tidak boleh sampai melakukan pengrusakan dll. Islam mengajarkan kepada kita untuk taat kapada pemerintah sekalipun mereka berbuat dzalim.

Referensi :

التشريع الجنائى الإسلامى الجزء الثانى ص: 675-682 662 –

يشترط لوجود جريمة البغى الخروج على الإمام, والخروج المقصود هو مخالفة الإمام والعمل لخلعه, أو الامتناع عما وجب على الخارجين من حقوق. ويستوى أن تكون هذه الحقوق لله أى مقررة لمصلحة الجماعة, أو للأشخاص أى مقررة لمصلحة الأفراد. فيدخل تحتها كل حق تفرضه الشريعة للحاكم على المحكوم, وكل حق للجماعة على الأفراد, وكل حق للفرد على الفرد, فمن امتنع عن أداء الزكاة فقد امتنع عن حق وجب عليهم ومن امتنع عن تنفيذ حكم متعلق بحق الله كحد الزنا, أو متعلق بحق الأفراد كالقصاص فقد امتنع عن حق وجب عليه ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذى وجب عليه وهكذا. ولكن من المتفق عليه أن الامتناع عن الطاعة فى معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا فى معروف ولا تجوز فى معصية فإذا أمر الإمام بما يخالف الشريعة فليس لأحد أن يطيعه فيما أمر إذ الطاعة لا تجب إلا فيما تجيز ه الشريعة. والخروج قد يكون على الإمام وهو رئيس الدولة الأعلى وقد يكون على من ينوب عنه فمن امتنع عن طاعة الإمام فى معصية فليس بغيا لأن حق الأمر واجب الطاعة كلاهما مقيد غير مطلق فليس لآمر أن يأمر بما يخالف الشريعة وليس لمأمور أن يطيعه فيما يخالف الشريعة وذلك ظاهر من قوله تعالى: ( فإن تنازعتم فى شئ فردوه إلى الله والرسول ) ومن قول الرسول صلى الله عليه وسلم ( لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق ) وقوله ( من أمركم من الولاة بغير طاعة الله فلا تطيعوا ) وقوله ( لا طاعة فى معصية الله إنما الطاعة فى المعروف ) وقد احتاط الفقهاء لهذا فى تعريف البغاة. والإمام هو رئيس الدولة الإسلامى الأعلى أو من ينوب عنه من سلطان أو وزير أو حاكم أو غير ذلك من المصطلحات ويعبر بعض الفقهاء عن رئيس الدولة الإسلامية الأعلى بالإمام الذى ليس فوقه إمام, وعمن دونه بالإمام مطلقا إذا كان مستقلا بجزء من الدولة الإسلامية وبنائب الإمام إذا كان ينوب عن الإمام الأعظم. – إلى أن قال – ومع أن العدالة شرط من شروط الإمامة إلا أن الرأى الراجحة فى المذهب الأربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الإمام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر. لأن الخروج على الإمام يؤدى عادة إلى ما هو أنكر مما فيه وبهذا يمتنع النهى عن المنكر لأن من شرطه أن لا يؤدى الإنكار إلى ما هو أنكر من ذلك, إلى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد وإضلال العباد وتوهين الأمن وهدم النظام. وإذا كانت القاعدة أن للأمة خلع الإمام وعزله بسبب يوجبه كالفسق إلا أنهم يرون أن لا يعزل إذا استلزم العزل فتنة. وأما الرأى المرجوح فيرى أصحابه أن للأمة خلع وعزل الإمام بسبب يوجبه وأنه ينعزل بالفسق والظلم وتعطيل الحقوق فإذا وجد من الإمام ما يوجب اختلال أموال المسلمين وانتكاس أمور الدين كان للأمة خلعه كما كان لهم تنصيبه لانتظام شؤون الأمة وإعلائها ويرى بعض هذا الفريق أنه إذا أدى الخلع لفتنة احتمل أدنى الضررين.

وعبارة المنهج مخالفو إمام قال في شرحه ولو جائرا ومثله الشيخ الخطيب فتجب طاعة الإمام ولوجائرا فيما لا يخالف الشرع من أمر أو نهي بخلاف ما يخالف الشرع لأنه لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق كما في الحديث وفي شرح مسلم يحرم الخروج على الإمام الجائر إجماعا.

الباجوري٢/٢٥٢i

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 251 : POSISI KEDUA TANGAN KETIKA TAHIYAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 251 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَعَدَ لِلتَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ اَلْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ اَلْيُسْرَى وَالْيُمْنَى عَلَى اَلْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلَاثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ اَلسَّبَّابَةِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ : ( وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِاَلَّتِي تَلِي اَلْإِبْهَامَ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila duduk untuk tasyahhud meletakkan tangannya yang kiri di atas lututnya yang kiri dan tangannya yang kanan di atas lututnya yang kanan beliau membuat genggaman lima puluh tiga dan beliau menunjuk dengan jari telunjuknya. Riwayat Muslim. Dalam suatu riwayat Muslim yang lain: Beliau menggenggam seluruh jari-jarinya dan menunjuk dengan jari yang ada di sebelah ibu jari.

MAKNA HADITS :

Duduk dengan cara apapun yang dilakukan oleh seseorang yang sedang sholat untuk bertasyahhud sudah dianggap mencukupi, tetapi cara yang lebih sempurna adalah sebagaimana yang diterangkan oleh hadis ini, yaitu jika hendak duduk untuk tasyahhud, baginda meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan tangan kanan di atas lutut kanan seraya menggenggam bilangan tiga dan lima puluh. Bilangan tiga dengan menggenggam jari manis, kelingking, dan jari tengah,
sedangkan bilangan lima puluh diisyaratkan dengan jemari tangan kiri yang tidak digenggam. Ini merupakan cara menghitung yang berlaku di kalangan masyarakat
Arab.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan meletakkan kedua telapak tangan di atas kedua lutut ketika duduk untuk tasyahhud.

2. Disunatkan menggenggam jari tangan kanan dan berisyarat dengan jari telunjuk.

Ulama berselisih pendapat mengenai cara memberi isyarat dengan jari telunjuk ini :

– Imam Malik mengatakan bahwa orang yang sholat hendaklah berisyarat dengan jari telunjuk dan menggerak-gerikannya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri. Hikmah gerakan ini ialah untuk mengingatkan orang yang sedang sholat kepada keadaan sholat yang sedang dikerjakannya, karena urat-urat jari telunjuk berhubungan secara terus dengan hati. Jika jari telunjuk bergerak, maka hati pun turut tergugah hingga orang tersebut ingat bahwa dia sedang sholat. Di dalam satu riwayat yang disebut oleh Imam Ahmad daripada Ibn Umar (r.a) bahwa gerakan ini amat menyiksa syaitan.

– Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa seseorang hendaklah berisyarat dengan jari telunjuk ketika mengucapkan kalima “الا الله” tetapi dia tidak boleh menggerak-gerikannya dan hendaklah dia tetap mengangkatnya hingga bangkit dari tasyahhud pertama atau hingga mengucapkan salam dalam tasyahhud akhir. Hendaklah dia berniat mengisyaratkan kepada tauhid ketika mengangkat jari
telunjuknya itu.

– Mazhab Hanafi mengatakan, hendaklah seseorang menegakkan jari telunjuknya ketika mengucapkan kalimat “لا اله” dan
menurunkannya ketika mengucapkan lafaz “الا الله” dengan tujuan ketika mengangkatnya menunjukkan kepada pengertian nafi (penafian) dan ketika
menurunkannya menunjukkan kepada pengertian itsbat (penetapan).

– Mazhab Hanbali mengatakan bahwa seseorang hendaklah mengisyaratkan dengan jari telunjuknya ketika membaca lafaz al-Jalalah untuk mengingatkan kepada tauhid dan tidak menggerak-gerikannya.

Mereka turut berbeda pendapat
mengenai waktu menggenggam jemari. Jumhur ulama mengatakan, hendaklah seseorang menggenggam jemarinya ketika duduk untuk tasyahhud. Mazhab
Hanafi mengikut pendapat yang terpilih di kalangan mereka mengatakan bahwa seseorang hendaklah membuka kedua telapak tangan di atas kedua pahanya, kemudian menggenggam jari tangan yang sebelah kanan ketika
mengisyaratkan dengan jari telunjuk, yakni ketika mengucapkan kalimah syahadat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N078. HUKUM MELAMAR PEREMPUAN SAAT IDDAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:
Dalam menempuh kehidupan berkeluarga (suami istri ) tidak menutup kemungkian ada cobaan, rintangan baik persoalan usaha, penghasilan ekonomi dll. Studi kasus ada seorang suami mengatakan kepada istriya aku thalak kamu, secara hukum agama telah jatuh thalak namun dalam kepemerintahan belum rismi mengingat masih banyak tuntutan tengtang gonu gini semasa keduanya belum thalak secara otomatis si perenpuan sudah dalam masa iddah, tanpa diduga ada orang laki-laki lain mau meminangnya.

Pertanyaanya:
Bagaimana hukum agama jika seorang perempuan menerima pinangan orang laki-laki lain sementara masih dalam masa iddah.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jika yang dimaksud adalah prosesi lamaran seperti adat kebiasaan di daerah kita yang biasa dilakukan secara terang-terangan, maka hukumnya haram. Namun jika hanya mengatakan pada si wanita secara kinayah / tersirat yang mengarah ke maksud mengajak untuk menikah, maka boleh.

Referensi :

المهذب، ج ٢، ص : ٥٤ :
فصل، في التعريض في الخطبة بالمعتدة :
ويجوز التعريض بالخطبة المعتدة الوفاة والطلاق الثلاث – الى أن قال – ويحرم التصريح بالخطبة

Yang haram itu melamar karena dinamakan tashriih, kalo hanya rasan-rasan lewat kerabatnya atau tetangganya maka dibolehkan karena itu dinamakan ta’riidl, sedang ta’riidl adalah bentuk kinayah seperti ucapan: ada laki-laki yang menyukaimu smg saja dia kebaikan padamu, contoh shorih (haram): jika iddahmu tlah tuntas, maka aku akan mengawinimu. Alhashil, tashriih adalah mengajak nikah dengan bahasa kawin/nikah beda dengan ta’riidl yang hanya sebatas kinayah atau majaz atau tidak menggunakan bahasa kawin/nikah.

Sebenarnya di kitab abu syuja’ masalah tashrih dan ta’ridl sudah dijelaskan secara gamblang. Mushonif menjelaskan bahwa tidak boleh bagi orang yang melamar wanita yang dalam iddah karena wafat, ditalaq 3 atau roj’i mengkhitbah dengan mengatakan dengan tashrih (lafal/shighot yang menunjukan keinginan untuk menikah/shorih) seperti : “aku ingin menikahimu”, namun boleh melamar wanita yang tidak dalam iddah karena tholaq roj’i dengan ta’ridl (lafal yang tidak menunjukkan keinginan untuk menikah namun memuat maksud untuk menikah/kinayah) dan akan menikahinya setelah iddahnya selesai, seperti : suka dengan mu.

Tashrrih : lafal yang menunjukan keinginan untuk menikah atau shorih.

Ta’ridl : lafal yang tidak menunjukan keinginan untuk menikah namun maksudnya untuk menikahinya atau kinayah.

– kitab I’anatut Tholibin :

.فروع : يحرم التصريح بخطبة المعتدة من غيره رجعية كانت أو بائنا بطلاق أو فسخ أو موت و يجوز التعريض بها في عدة غير رجعية وهو كأنت جميلة و رب راغب فيك. إعانة الطالبين ٣/٢٦٧-٢٦٨

– kitab Albajuri :

ولا يجوز أن يصرح بخطبة معتدة عن وفاة أو طلاق بائن أو رجعي والتصريح ما يقطع بالرغبة في النكاح كقوله للمعتدة أريد نكاحك و يجوز إن لم تكن المعتدة عن طلاق رجعي أن يعرض لها بالخطبة وينكحها بعد انقضاء عدتها والتعريض ما لا يقطع بالرغبة في النكاح بل يحتملها كقول الخاطب للمرأة رب راغب فيك. قوله ولا يجوز أن يصرح بخطبة معتدة أى فيحرم التصريح بخطبتها ولا يصح العقد المرتب عليها إن وقع قبل انقضاء العدة فإن وقع بعد انقضاء العدة فهو صحيح. الباجوري ٢/١٠٧

Ulama sepakat bahwa hukumnya menerima tunangan atau melamar seorang wanita yang telah dithalak oleh suaminya dan masih dalam masa iddah (masa penangguhan) dengan pekataan yang jelas (Tasrih) adalah haram. Seperti contoh ungkapan orang yang akan meming (orang yang akan mengawininya kepada wanita yang punya iddah : “Saya ingin mengawinimu jika waktu penangguhanmu telah habis”

Referensi :

موسوعة الفقهية

التَّصْرِيحُ بِالْخِطْبة

٨- هُوَ مَا يَقْطَعُ بِالرَّغْبَةِ فِي النِّكَاحِ وَلاَ يَحْتَمِل غَيْرَهُ، كَقَوْل الْخَاطِبِ لِلْمُعْتَدَّةِ: أُرِيدُ أَنْ أَتَزَوَّجَكِ، أَوْ: إِذَا انْقَضَتْ عِدَّتُكِ تَزَوَّجْتُكِ.
وَقَدِ اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ التَّصْرِيحَ بِخِطْبَةِ مُعْتَدَّةِ الْغَيْرِ حَرَامٌ سَوَاءٌ أَكَانَ مِنْ طَلاَقٍ رَجْعِيٍّ أَمْ بَائِنٍ، أَمْ وَفَاةٍ، أَمْ فَسْخٍ، أَمْ غَيْرِ ذَلِكَ لِمَفْهُومِ قَوْل اللَّهِ تَعَالَى: {وَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لاَ تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلاَّ أَنْ تَقُولُوا قَوْلاً مَعْرُوفًا وَلاَ تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ} (١) وَلأَِنَّ الْخَاطِبَ إِذَا صَرَّحَ بِالْخِطْبَةِ تَحَقَّقَتْ رَغْبَتُهُ فِيهَا فَرُبَّمَا تَكْذِبُ فِي انْقِضَاءِ الْعِدَّةِ. (٢) وَحَكَى ابْنُ عَطِيَّةَ وَغَيْرُهُ الإِْجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ. (٣)

التَّعْرِيضُ بِالْخِطْبَةِ:
٩ – قَال الْمَالِكِيَّةُ: التَّعْرِيضُ أَنْ يُضَمِّنَ كَلاَمَهُ
(١) سورة البقرة / ٢٣٥
(٢) الدر المختار ٢/ ٦١٩ جواهر الإكليل ١/ ٢٧٦ روضة الطالبين ٧/ ٣٠ نهاية المحتاج ٦/ ١٩٩، أسنى المطالب ٣ / ١١٥، كشاف القناع ٥ / ١٨
(٣) مغني المحتاج ٣ / ١٣٥، الإقناع ٢/ ٧٦، أسنى المطالب ٣ / ١١٥، شرح المنهج ٤ / ١٢٨ وحاشية الجمل، كشاف القناع ٥/ ١٨
والله أعلم بالصواب

Wallahu a’lamu bisshowab..