logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

M092. KENAPA HARUS BERMADZHAB?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya taqlid (mengikuti) kepada salah satu dari imam madhab yang empat (yaitu imam Malik, imam Syafii, imam Ahmad bin Hanbal, imam Abu Hanifah)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya wajib karena kita belum mancapai tingkatan mujtahid.

KETERANGAN TENTANG WAJIBNYA BERMADZHAB (TAQLID) KEPADA SALAH SATU MADZHAB EMPAT

Dalam kitab Hidayatus Saary Ila Dirosatil Bukhori – Muqaddimah Syarah Shohih Bukhori karya Al-Muhaddits Imdadul Haq As-Silhaty Al-Bangladisyi disebutkan :

وقال الشيخ ابن الهمام فى آخر التحرير؛ ولما اندرست المذاهب الحقة إلا هذه الأربعة ، كان إتباعها إتباعا للسواد الأعظم والخروخ عنها خروجا عن السواد الأعظم ، وأيضا قال فيه لأن الناس لم يزالوا من زمان الصحابة الى أن ظهرت المذاهب الأربعة يقلدون من اتفق من العلماء من غير نكير من أحد يعتبر إنكاره ، ولو كان باطلا لا نكروه

Berkata Asy-Syaikh Ibnul Himam di akhir kitab karangannya : ketika madzhab mazhab yang haq (pada jaman dulu) telah habis dan menyisakan madzhab empat, maka mengikuti mereka (madzhab empat) ini seperti mengikuti As-Sawaadul A’dhom (golongan mayoritas yang selamat), dan keluar darinya berarti keluar dari As-Sawaadul A’dhom.
Beliau melanjutkan karena umat islam sejak zaman shahabat sampai lahirnya madzhab empat merka senantiasa TAQLID (mengikuti) kepada ulama yang telah disepakati keilmuannya dengan tanpa ingkar dari seseorang yang disebut sebut keingkarannya, walaupun perkara tersebut bathil mereka tidak mengingkarinya (karena keterbatasan ilmu mereka).

وأيضا قال فيه إعلم أن في الأخذ بهذه المذاهب الأربعة مصلحة عظيمة ، وفى الإعراض عنها كلها مفسدة كبيرة ، وقال الشيخ ابن الهمام فى فتح القادر؛ انعقد الإجماع على عدم العمل بالمذاهب المخالفة للأئمة الأربعة ، وقال ابن حجر المكى فى فتح المبين ؛ أما فى زماننا فقال أئمتنا لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة الشافعى ومالك وأبى حنيفة وأحمد بن حنبل ، وقال الطحاوى من كان خارجا عن هذه الأربعة فهو من أهل البدعة والنار

Asy-Syaikh Ibnul Himam melanjutkan : ketahuilah sesungguhnya mengikuti madzhab empat ini terdapat mashlahah (kebaikan) yang agung, dan menentangnya adalah kerusakan yang besar.

Berkata Asy-Syaikh Ibnul Himam dalam kitab Fathul Qodir : telah sah kesepakatan ulama dalam masalah TIDAK BOLEH mengikuti madzhab yang menyelisihi (berbeda) terhadap madzhabnya imam yang empat.

Berkata Asy-Syaikh Ibnu Hajar Al-Maky dalam kitab Fathil Mubin Adapun di zaman kita berkata para imam (guru) kita : TIDAK BOLEH taqlid kepada SELAIN madzhab empat , Imam Asy-Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad Bin Hambal.

Ath-Thohawi berkata : Barangsiapa yang keluar dari madzhab empat ini maka termasuk ahli bid’ah dan ahli naar.

Selama seseorang belum mencapai darajat Mujtahid baik ia orang alim atau awam tetap wajib taqlid.
Apa itu taqlid?

Muhammad Said Ramadhan al-Buthi mendifinisikan sebagai berikut.

والتقليد هو اتباع قول انسان دون معرفة الحجة على صحة ذلك القول وان توافرت معرفة الحجة على صحة التقليد نفسه. ( اللامذهبية اخطر بدعة تهدد الشريعة الاسلامية، ص: ٦٩)

Taqlid hukumnya tidak boleh bagi seorang yang berderajat mujtahid dan wajib bagi kalangan awam sebagaimana disampaikan oleh Imam al- Suyuthi.

ثم الناس مجتهد وغيره فغير المجتهد يلزمه التقليد مطلقا عاميا كان اوعالما لقوله تعالى ” فاسألوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون ( الكوكب الساطع في نظم جمع الجوامع جز الثاني ص ٤٩٣)

Sehubungan dengan ketidak bolehan taqlid seorang mujtahid kepada lainnya Imam Ahmad pernah berkata kepada Imam abu Dawud pengarang Sunan Abu Dawud

قال لي احمد لا تقلدني ولا مالكا ولا الشافعي ولا الاوزعي ولا الثوري وخذ من حيث اخذوا. ( القول المفيد للامام محمد بن علي الشوكاني ص ٦١)

Dalam redaksi ibarat menunjukkan ketidak bolehan Abu Dawud Taqlid pada orang lain kerena menurut Imam Ahmad beliau sudah mencapai darajat mujtahid beliau telah memuat hadis sebanyak lima ribu dua ratus delapan puluh empat Hadis lengkap dengan sanadnya dengan kata lain Imam Abu Dawud telah memiliki kemampuan untuk berijtihad. Selanjutnya hal yang sama juga diungkapkan oleh Syekh Waliullah al-Dahlawi ketika mengumentari pendapat Ibn Hazm:

فما ذهب اليه ابن حزم حيث قال التقليد حرام…… الى ان … انما يتم في من له ضرب من الاجتهاد ولو في مساءلة واحدة). ( حجة الله البالغة جز الاول .ص. ٤٤٣- ٤٤٤)

Artinya :

pedapat Ibn Hazm yang mengatakan bahwa taqlid itu haram………. Berlaku bagi orang yang mempunyai kemampuan Ijtihad Walau hanya satu masalah (Hujjatullah al-Balighah, juz 1, hal 443-444).

ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﻭﻳﺠﺐ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﻣﻦ ﻗﻠﺪ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﻋﻬﺪﺓ ﺍﻟﺘﻜﻠﻴﻒ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻘﻠﺪ ﺃﺭﺟﺤﻴﺔ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﺃﻭ ﻣﺴﺎﻭﺍﺗﻪ ﻭﻻﻳﺠﻮﺯ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻓﻰ ﺇﻓﺘﺎﺀ ﺃﻭ ﻗﻀﺎﺀ . ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻭﻻﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﻀﻌﻴﻒ ﺑﺎﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻳﻤﺘﻨﻊ ﺍﻟﺘﻠﻔﻴﻖ ﻓﻰ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻛﺄﻥ ﻗﻠﺪ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﻓﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻓﻰ ﻣﺴﺢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺮﺃﺱ ـ ﺍﻫـ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٧

“Setiap imam yang empat itu berjalan di jalan yang benar maka wajiblah bagi umat islam untuk bertaqlid kepada salah satu diantara yang empat tadi sebab orang yang sudah bertaqlid kepada salah satu imam yang empat tersebut maka ia telah terlepas dari tanggungan dalam keagamaan dan orang yang bertaqlid haruslah yakin bahwa madzhab yang ia ikuti itu benar dan sama benarnya dengan yang lain serta tidak boleh bertaqlid kepada madzhab lain selain madzhab yang ia ikuti, seperti apa yang dikatakan oleh ibnu hajar alhaitami: tidak boleh seseorang yang menganut suatu madzhab berbuat talfiq (mencampur adukkan madzhab untuk mencari yang ringan-ringan) misalnya mengikuti imam malik yang mensucikan anjing dan juga mengikuti imam syafi’ie dalam membasuh sebagian kepala dalam berwudu”. I’anatut Tholibin I/17.

ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﻠﺪ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻧﺎ ﺍﻋﻤﻞ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺪﻋﻴﺎ ﻓﻬﻢ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻓﻼ ﻳﺴﻠﻢ ﻟﻪ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﺨﻄﺊ ﺿﺎﻝ ﻣﻀﻞ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺍﻟﺬﻯ ﻋﻢ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻔﺴﻖ ﻭﻛﺜﺮﺕ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ ﺍﻟﺒﺎﻃﻠﺔ ﻷﻧﻪ ﺍﺳﺘﻈﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﺍﻟﻌﺪﺍﻟﺔ ﻭﺍﻻﻃﻼﻉ

“Dan barangsiapa yang tidak mengikuti salah satu dari mereka (Imam madzhab) dan berkata “saya beramal berdasarkan alQuran dan hadits”, dan mengaku telah memahami hukum-hukum alquran dan hadits maka orang tersebut tidak dapat diterima, bahkan termasuk orang yang bersalah, sesat dan menyesatkan terutama pada masa sekarang ini dimana kefasikan merajalela dan banyak tersebar dakwah-dakwah yang salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, keadilan dan analisa”. Tanwiir Al-Quluub 74-75

Ketetapan wajib bertaqlid bagi orang yang belum sampai derajat mujtahid adalah berdasar:

1. Dalil Al-Qur’an Q.S. an-Nahl: 43:

فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kalian semua kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Dan sudah menjadi ijma’ ulama bahwa ayat tersebut memerintahkan bagi orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya untuk ittiba’ (mengikuti) orang yang tahu. Dan mayoritas ulama ushul fiqh berpendapat bahwa ayat tersebut adalah dalil pokok pertama tentang kewajiban orang awam (orang yang belum mempunyai kapasitas istinbath [menggali hukum]) untuk mengikuti orang alim yang mujtahid.

senada dengan ayat diatas didalam Qur`an surat At-Taubah ayat 122;

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.( 122)

2. Ijma’

Maksudnya, sudah menjadi kesepakatan dan tanpa ada khilaf, bahwa shahabat-shahabat Rasulallah berbeda-beda taraf tingkatan keilmuannya, dan tidak semua adalah ahli fatwa (mujtahid) seperti yang disampaikan Ibnu Khaldun. Dan sudah nyata bahwa agama diambil dari semua sahabat, tapi mereka ada yang memiliki kapasitas ijtihad dan itu relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah semua sahabat. Di antaranya juga ada mustafti atau muqallid (sahabat yang tidak mempunyai kapasitas ijtihad atau istinbath) dan shahabat golongan ini jumlahnya sangat banyak.

Setiap shahabat yang ahli ijtihad seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Ustman, Ali, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar dan lain-lain saat memberi fatwa pasti menyampaikan dalil fatwanya.

3. Dalil akal

Orang yang bukan ahli ijtihad apabila menemui suatu masalah fiqhiyyah, pilihannya hanya ada dua, yaitu: antara berfikir dan berijtihad sendiri sembari mencari dalil yang dapat menjawabnya atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid.

Jika memilih yang awal, maka itu sangat tidak mungkin karena dia harus menggunakan semua waktunya untuk mencari, berfikir dan berijtihad dengan dalil yang ada untuk menjawab masalahnya dan mempelajari perangkat-perangkat ijtihad yang akan memakan waktu lama sehingga pekerjaan dan profesi ma’isyah pastinya akan terbengkalai. Klimaksnya dunia ini rusak. Maka tidak salah kalau Dr. al-Buthi memberi judul salah satu kitabnya dengan “Tidak bermadzhab adalah bid’ah yang paling berbahaya yang dapat menghancurkan agama”.

Dan pilihan terakhirlah yang harus ditempuh, yaitu taqlid. (Allamadzhabiyah hlm. 70-73, Takhrij Ahadits al-Luma’ hlm. 348. )

Kesimpulannya dalam hal taqlid ini adalah:

1. Wajib bagi orang yang tidak mampu ber-istinbath dari Al-Qur’an dan Hadits.

2. Haram bagi orang yang mampu dan syaratnya tentu sangat ketat, sehingga mulai sekitar tahun 300 hijriah sudah tidak ada ulama yang memenuhi kriteria atau syarat mujtahid. Mereka adalah Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri dan lain-lain.

Lalu menjawab perkataan empat imam madzhab yang melarang orang lain bertaqlid kepada mereka adalah sebagaimana yang diterangkan ulama-ulama, bahwa larangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mampu berijtihad dari Al-Qur’an dan Hadits, dan bukan bagi yang tidak mampu, karena bagi mereka wajib bertaqlid agar tidak tersesat dalam menjalankan agama. (Al-Mizan al-Kubra 1/62. )

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 280 : KEUTAMAAN SURAH AL HAJJ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 280 :

وعن خَالِد بن مَعْدَان رضي الله عَنْه قال: (فُضِّلَتْ سُوْرَةُ الْحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ) رواه أبو داود في المرَاسِيْل.
ورواه أحمد والتُّرمذي موصُولاً من حديث عُقبَة بن عَامِر، وزاد: “فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا فَلَا يَقْرَأْهَا” وسندُه ضعيفٌ

Dari Khalid ibn Ma’dan (r.a), beliau berkata: “Surah al-Hajj mempunyai keistimewaan karena di dalamnya memuatkan dua kali sujud tilawah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab al-Marasil)
Imam Ahmad dan al-Tirmizi meriwayatkan hadis ini secara mawsul dari ‘Uqbah ibn ‘Amir (r.a) yang di dalamnya ditambahkan: “Barang siapa yang tidak mau melakukan sujud pada keduanya, maka dia tidak perlu membacanya.” (Sanad hadis ini dha’if)

MAKNA HADITS :

Sebagian surah al-Qur’an mempunyai keistimewaan khusus yang membuatnya menjadi lebih afdhal dibanding yang lain, antara lain ialah Surah al-Hajj. Didalam Surah al-Hajj terdapat dua ayat sajdah; pertama, pada permulaan surah dan ini telah disepakati oleh ulama; kedua, di akhir surah tetapi ini masih dipersilisihkan oleh ulama, sebagaimana yang telah diterangkan sebelum ini.

Bahkan, syariat telah mengukuhkan bahwa disyariatkan melakukan sujud pada kedua ayat dalam Surah al-Hajj tersebut hingga mengatakan: “Barang
siapa yang tidak mau sujud, maka tidak perlu membaca kedua ayat tersebut.”

FIQH HADITS :

1. Keutamaan Surah Al-Hajj karena di dalamnya terdapat dua ayat sajadah.

2. Mengukuhkan bahwa disyariatkan melakukan sujud dalam dua ayat Surah al-Hajj.

3. Tidak perlu membaca dua ayat sajadah al-Hajj bagi orang yang tidak mau melakukan sujud tilawah pada keduanya.

4. Adanya ketetapan bahwa sebagian al-Qur’an mempunyai keutamaan ke atas sebagian yang lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 278-279 : ADANYA SUJUD DALAM SURAH MUFASSHAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 278 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَجَدَ بِالنَّجْمِ رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sujud sewaktu membaca surat Al-Najm Riwayat Bukhari

HADITS KE 279 :

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ : ( قَرَأْتُ عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَلنَّجْمَ فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Zaid Ibnu Tsabit Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah membaca surat Al-Najm di hadapan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam namun beliau tidak sujud waktu itu Muttafaq Alaihi

MAKNA HADITS :

Disyariatkan melakukan sujud tilawah dalam surah mufassal adalah berlandaskan pendapat jumhur ulama, lain halnya dengan Imam Malik yang mengemukakan
pendapat yang berbeda dalam masalah ini. Sehubungan dengan itu, Imam Malik berkata:
“Tidak ada sujud di dalam surah mufassal.” Beliau berlandaskan pendapatnya dengan berdalil kepada amal perbuatan masyarakat Madinah antara lain Zaid ibn Tsabit (r.a) sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam hadisnya.

Sedangkan jumhur ulama berpegang dengan perkataan Ibn Abbas (r.a) karena perkataannya itu bersifat mengukuhkan dan oleh karenanya, ia mesti diutamakan ke atas yang menafikannya.

Ada pula kemungkinan Nabi (s.a.w) adakalanya melakukan sujud pada suatu waktu tertentu dan meninggalkannya pada suatu waktu yang lain yang tujuannya
untuk menjelaskan bahwa perkara itu adalah sunat sekaligus menolak sangkaan yang mengatakan itu adalah fardu. Adakalanya pula karena ada halangan yang datang secara mengejut hingga baginda tidak dapat melakukan sujud sebagaimana baginda berada dalam keadaan tidak berwudu’.

FIQH HADITS :

Adanya ketetapan melakukan sujud dalam surah mufasshal. Inilah tuntutan yang terdapat di dalam hadis Ibn Abbas (r.a) yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama.

Tidak ada sujud dalam surah mufasshal sebagaimana tuntutan yang terdapat di dalam hadis Zaid ibn Tsabit (r.a). Ini dijadikan pegangan oleh Imam Malik.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 277 : SUJUD TILAWAH DALAM SURAT SODL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 277 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( ( ص ) لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ اَلسُّجُودِ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْجُدُ فِيهَا ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Surat Shod bukanlah termasuk surat yang disunatkan sujud tapi aku pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sujud ketika membacanya Riwayat Bukhari

MAKNA HADITS :

Sebagian di antara sujud tilawah memiliki hukum sunat yang lebih dikukuhkan ke atas sebagian yang lain. Setiap ayat yang di dalamnya disebutkan perintah sujud atau anjuran untuk sujud, maka hukumnya lebih kuat daripada yang lain. Inilah yang dinamakan ‘aza’im al-sujud. Manakala ayat-ayat yang di dalamnya tidak terdapat perintah sujud dan tidak pula wujud anjuran melakukannya sebagaimana ayat sujud dalam Surah Shad, maka itu sekadar memberitakan tentang sujud taubat Nabi Dawud dan kita hendaklah turut melaksanakan sujud sebagai tanda syukur.

FIQH HADITS :

Melakukan sujud dalam Surah Shad tidak termasuk sujud muakkad menurut Imam al-Syafi’i rahimahullah. Sedangkan menurut jumhur ulama, ayat ini termasuk kedalam sujud tilawah yang dikukuhkan oleh Nabi (s.a.w), sebagaimana yang telah diberitakan oleh orang yang pernah melihat baginda berbuat demikian.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 276 : SUJUD TILAWAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 276 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي : ( إِذَا اَلسَّمَاءُ اِنْشَقَّتْ ) و : ( اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ ) ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami sujud bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sewaktu membawa (idzas samaaun syaqqot) dan (iqra’ bismi rabbikalladzii kholaq) Diriwayatkan oleh Muslim

MAKNA HADITS :

Dari hadis ini hukum yang berkaitan dengab sujud tilawah mulai diperbincangkan. Hadis ini
dimasukkan kedalam pembahasan bab sujud sahwi ini kerana pada bahagian judul turut disebutkan sujud sahwi dan lain-lain.

Sujud tilawah (bacaan al-Qur’an) disyariatkan bagi orang yang membaca dan yang mendengarkannya. Hukumnya sunat menurut pendapat jumhur ulama sedangkan menurut mazhab Hanafi wajib, tetapi bukan fardu. Untuk melakukan sujud tilawah disyaratkan sebagaimana syarat ketika hendak mengerjakan solat, yaitu dilakukan dalam keadaan suci dan menutup aurat. Inilah pendapat jumhur ulama. Pendapat janggal selain itu tidak perlu diambil. Masalah sujud ini dalam surah mufassal yang memuatkan anjuran sujud masih diperselisihkan perinciannya dan kami akan segera menyebutnya dalam pembahasan berikut.

FIQH HADITS :

Adanya ketetapan melakukan sujud tilawah dalam surah mufassal bagi orang yang membaca dan yang mendengarkannya di luar ataupun di dalam solat sujud tilawah ini menurut jumhur ulama hukumnya sunat, sedangkan menurut Imam
Abu Hanifah wajib. Sujud ini menurut jumhur ulama sunat hukumnya bagi orang yang membaca dan yang mendengarkannya. Dengan arti kata lain, apabila pembaca sujud, maka pendengar pula dikehendaki turut melakukan sujud bersamanya. Jika pembaca tidak sujud, maka pendengar pun tidak perlu
melakukan sujud tilawah.

Imam Ahmad mengatakan bahwa tempat untuk sujud tilawah ada lima belas ayat seperti berikut ini:

1. Dalam Surah al-A’raf ayat 206.
2. Dalam Surah al-Ra’d ayat 15.
3. Dalam Surah al-Nahl ayat 49 dan ayat berikutnya.
4. Dalam Surah al-Isra’ ayat 107 hingga ayat 109.
5. Dalam Surah Maryam ayat 58.
6. Dalam Surah al-Hajj ayat 18:
7. Dalam Surah al-Hajj ayat 77.
8. Dalam Surah al-Furqan ayat 60.
9. Dalam Surah al-Naml ayat 25-26.
10. Dalam Kesepuluh, dalam Surah al-Sajdah ayat 15.
11. Dalam Surah Shad ayat 24.
12. Dalam Surah Fussilat ayat 37.
13. Dalam Surah al-Najm ayat 62.
14. Dalam Surah al-Insyiqaq ayat 21.
15. Dalam Surah al-‘Alaq ayat 19.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa tempat-tempat untuk melakukan sujud tilawah ada empat belas. Mereka menggugurkan ayat yang kedua dari Surah al-Hajj ayat 77. Sehubungan dengan ayat tersebut mereka mengatakan bahwa
ayat itu ‘azimah, yakni mengandung makna solat, bukan sujud sunat.

Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa jumlah ayat sujud tilawah ada empat belas, yaitu dengan menggugurkan sujud dalam Surah Shad. Beliau mengatakan bahwa ayat ini mengandung maksud sujud syukur, bukan sujud tilawah.

Imam Malik mengatakan, tempat-tempat untuk sujud tilawah ada sebelas, tiada satu ayat pun dari surah mufasshal yang mengandung makna sujud tilawah, sedangkan ayat yang kedua dari Surah al-Hajj ayat 77 telah digugurkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T038. HUKUM MENULIS AL-QUR’AN BAGI WANITA HAID DAN ORANG JUNUB

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum menulis Al Qur’an bagi wanita haid dan orang junub, misalnya untuk menulis jawaban ketika ujian?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh asalkan tidak menyentuhnya.

Referensi :

Asnal Matholib Juz 1 Hlm. 61

اسنى المطالب ج ١ ص ٦١
(وَلَا) يَحْرُمُ (كَتْبُهُ) أَيْ الْقُرْآنَ (بِلَا مَسٍّ وَ) حَمْلٍ لَا (قَلْبِ وَرَقِهِ بِعُودِ) لِأَنَّهُ لَيْسَ بِحَمْلٍ وَلَا مَسٍّ

Boleh menulis al qur’an selagi tdk menyentuh atau memegang tulisanya(al maktub).

شرح البهجة الوردية الجزء 1 صحـ : 146 مكتبة المطبعة الميمنية:
وَلَا يَمْنَعُ الْحَدَثُ كَتْبَ الْقُرْآنِ إذَا خَلَا الْمَكْتُوبُ عَنْ مَسٍّ وَحَمْلٍ اهـ

Menulis al qur’an dlm keadaan punya hadats (muhdits) atau junub d bolehkan jika saat menulisya tidak menyentuh dan memegang tulisanya(al maktub).

Menulis pada waktu hadas atau junub ada 3 pendapat:

– Jika pada waktu menulis mushaf memegang dan menyentuh tulisan maka d haramkan menulisya, tp jika tdk menyentuh dan memegang tulisan maka menurut qoul shohih hukumya boleh menulisya.

– Menurut qoul masyhur hukumya haram secara mutlaq.

– Menurut imam mawardi, hukumya haram bagi org yang junub dan boleh bagi orang yang punya hadats (muhdits).

Menyentuh tulisanya tidak di haramkan jika niatya tidak krn al qur’an, tp jika menyentuhya krena niat al qur’an maka d haramkan.

al majmu’ syarah muhadzab 2/70

hasyiyah jamal 3/19

Referensi :

التبيان للنواوي ص 181
إذا كتب المحدث أو الجنب مصحفا إذا كان يحمل الورقة أو يمسها حال الكتابة فهو حرام, وان لم يحملها ولم يمسها, ففيه ثلاثة أوجوه: الصحيح جوازه, والثاني تحريمه, والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الجنب.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 275 : BOLEHKAH SUJUD SAHWI BERULANG-ULANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 275 :

وَعَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ

Dari Tsauban dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: Setiap kali lupa itu diganti dengan dua sujud setelah salam Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad lemah

MAKNA HADITS :

Melihat tujuan utama dibalik syariat sujud sahwi ini adalah untuk membuat syaitan merasa kesal dan menzahirkan ketaatan seorang hamba kepada Allah Yang Maha Pemurah, maka cukuplah dua kali sujud dilakukan untuk menutupi semua jenis kealpaan itu. Sujud sahwi tidak berulang2, meskipun hal-hal yang menyebabkan untuk melakukan sujud sahwi itu bilang, sebab Nabi (s.a.w) pernah salam dan berbicara serta berjalan karena lupa, tetapi baginda tidak sujud kecuali hanya dua kali saja, sebagaimana apa yang telah disebutkan dalam hadis Dzu al-Yadain. Inilah pendapat jumhur ulama, sebab mereka berlandaskan kepada amalan Nabi (s.a.w) dalam hadis tersebut. Adapun hadis Tsauban ini, maka ia tidak boleh dijadikan alasan untuk menyangkal pendapat jumhur ulama melihat kedudukan hadis ini yang dha’if.

FIQH HADITS :

Makna zahir hadis ini menunjukkan bahwa sujud sahwi dilakukan secara berulang kali dengan adanya kealpaan yang dilakukan secara berulang dalam solat, karena satu kealpaan dengan yang lain tidak dapat dimasukkan kepada yang lain menjadi satu. Sedangkan menurut jumhur ulama, sujud sahwi tidak dilakukan secara berulang meskipun kealpaan itu berulang, melainkan satu sama lain dapat digabungkan menjadi satu kali sujud sahwi meskipun kealpaan itu lebih daripada satu kali, apalagi jika kealpaan itu hanya satu kali.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 274 : KEWAJIBAN MAKMUN MENGIKUTI IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 274 :

وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لَيْسَ عَلَى مَنْ خَلَفَ اَلْإِمَامَ سَهْوٌ فَإِنْ سَهَا اَلْإِمَامُ فَعَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ خَلْفَهُ ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ وَالْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ

Dari Umar Radliyallaahu ‘anhu dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: Bagi makmum itu tidak ada lupa maka jika imam lupa wajiblah sujud sahwi atas imam dan makmum Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Baihaqi dengan sanad yang lemah

MAKNA HADITS :

Imam dalam solat ibarat juru syafaat bagi para makmum dan pemimpin mereka ketika menjalankan ibadah yang paling mulia ini. Makmum wajib mengikuti imam dan haram mendahuluinya. Imam adalah orang yang bertanggung jawab di atas
segala tindakan yang dilakukannya. Dalam hadis yang lain disebutkan:

اَلْمُؤَذِّنُ أَمِيْنٌ وَالْاِمَامُ ضَمِيْنٌ

“Juru azan merupakan orang yang bersifat amanah dan imam merupakan penjamin (bagi makmumnya).”

Tidaklah heran apabila imam menanggung para makmum yang di belakangnya di atas apa yang mereka tinggalkan, sebab imam yang menjadi pemimpin mereka. Ini berlaku bagi sunat mu’akkad yang dapat ditanggung oleh imam. Namun jika itu berupa rukun solat, maka imam tidak dapat menanggungnya. Jika imam lupa kerana meninggalkan sesuatu yang dapat ditutupi dengan sujud sahwi, maka orang yang bermakmum di belakangnya wajib mengikutinya, sebab tujuan menjadikan imam adalah supaya dia diikuti.

FIQH HADITS :

1. Makmum wajib mengikuti imam.

2. Makmum hendaklah turut melakukan sujud sahwi karena kealpaan imam dan dia tidak boleh melakukan sujud untuk dirinya sendiri ketika dia masih mengikuti imam. Inilah pendapat jumhur ulama. Jika makmum berkedudukan sebagai makmum masbuq, maka menurut mazhab al-Syafi’i dia mesti melakukan sujud bersama imam meskipun dia tahu yang imam lupa ataupun tidak dan pada akhir solatnya dia mesti melakukan sujud sahwi secara sendirian.

Mazhab Hanbali mengatakan, makmum hendaklah turut melakukan sujud sahwi bersama imam baik imam melakukan sujud sebelum salam ataupun sesudahnya, namun makmum yang (masbuq) tidak dibebani melakukan sujud sendirian di akhir solatnya.

Mazhab Maliki mengatakan, jika imam melakukan sujud sahwi sebelum salam, maka makmum masbuq turut melakukan sujud sahwi bersamanya dan jika makmum tidak turut serta melakukan sujud bersama imam, maka dia dapat melakukan sujud tersebut secara sendirian di akhir solatnya sesudah dia mengucapkan salam.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa makmum masbuq mesti melakukan sujud bersama imam, tetapi dia tidak boleh melakukan sujud sahwi secara sendirian di akhir solatnya, kecuali jika dia turut melakukan kealpaan di dalam solatnya yang dilakukan secara sendirian. Sedangkan makmum lahiq hendaklah melakukan sujud di akhir solatnya secara sendirian, tetapi tidak perlu melakukan sujud bersama imam. Makmum lahiq ialah orang yang menjumpai imam sejak dari rakaat pertama, lalu pada rakaat lain dia tertinggal kerana ada uzur yang menimpanya seperti hadas. Sedangkan makmum masbuq ialah makmum yang ketinggalan satu rakaat dari imam atau lebih dari satu rakaat. Jika imam meninggalkan sujud sahwi, maka makmum melakukannya di akhir solatnya dan inilah pendapat jumhur ulama.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa makmum tidak perlu melakukan sujud sahwi jika imam meninggalkannya. Pendapat ini menurut satu riwayat dari Imam Ahmad. Jika makmum masbuq lupa ketika dia sedang menunaikan rakaatnya, maka dia hendaklah sujud dua kali di akhir solatnya. Kedua sujudnya itu dapat menutupi kealpaan dirinya sendiri dan juga bertujuan menutupi kealpaan yang dilakukan oleh imamnya ketika dia masih bermakmum dengannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 273 : MENINGGALKAN TASYAHHUD AWAL SUNNAH SUJUD SAHWI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 273 :

وَعَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ( إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فَقَامَ فِي اَلرَّكْعَتَيْنِ فَاسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلْيَمْضِ وَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَإِنْ لَمْ يَسْتَتِمْ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ وَلَا سَهْوَ عَلَيْهِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ وَاللَّفْظُ لَهُ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ

Dari al-Mughirah Ibnu Syu’bah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu ragu ia berdiri dalam rakaat kedua dan ia sudah tegak berdiri maka hendaklah ia teruskan dan tidak usah kembali lagi dan hendaknya ia sujud dua kali Apabila ia belum berdiri tegak maka hendaknya ia duduk kembali dan tidak usah sujud sahwi Riwayat Abu Dawud Ibnu Majah dan Daruquthni Lafadznya menurut Daruquthni dengan sanad yang lemah

MAKNA HADITS :

Tidak sempat melakukan tasyahhud pertama disebabkan seseorang terus berdiri untuk mengerjakan rakaat ketiga. Jadi, seseorang itu tidak boleh kembali duduk untuk melakukan tasyahhud pertama, meskipun dia telah diingatkan oleh makmum menerusi bacaan tasbih, karena tempat untuk bertasyahhud telah terlepas dan itu mesti ditutupi dengan sujud sahwi sebagai gantinya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi (s.a.w).

Jika seseorang masih belum berada dalam posisi yang lebih mendekati berdiri, maka hendaklah dia kembali duduk untuk melakukan tasyahhud pertama dan tidak ada sujud sahwi lagi baginya. Imam Ahmad mengatakan bahwa seseorang itu tetap diharuskan melakukan sujud sahwi.

FIQH HADITS :

1. Jika seseorang meninggalkan tasyahhud pertama dan duduk untuk bertasyahhud, maka dia hendaklah kembali untuk bertasyahhud selagi belum mendekat keadaan berdiri. Jika lebih mendekati keadaan berdiri, maka dia tidak boleh kembali duduk untuk bertasyahhud, namun kemudian di akhir solat dia dikehendaki melakukan dua kali sujud sahwi. Inilah pendapat jumhur ulama. Jika kembali untuk bertasyahhud, padahal dia lebih mendekati keadaan berdiri maka batallah solatnya, menurut mazhab al-Syafi’i dan pendapat yang sahih dari mazhab Hanafi.

Mazhab Hanbali mengatakan, jika seseorang itu telah berdiri dan masih belum membaca al-Fatihah, maka lebih utama baginya untuk tidak kembali untuk tasyahhud. Dia dibolehkan untuk kembali duduk bertasyahhud hanya karena dia masih belum melakukan rukun yang dimaksudkan ketika berdiri, iaitu membaca al-Fatihah. Dalam dua keadaan tersebut seseorang tetap dikehendaki melakukan sujud sahwi.

Mazhab Maliki mengatakan, seseorang itu tetap dibolehkan kembali duduk untuk bertasyahhud selagi kedua tangan dan kedua lututnya masih belum berpisah
dengan tanah dan tidak ada sujud sahwi baginya. Tetapi jika keduanya telah berpisah dari tanah, maka dia tidak boleh kembali untuk melakukan tasyahhud pertama. Jika tetap kembali, maka ulama berselisih pendapat baik solatnya batal ataupun tidak. Apapun, menurut pendapat yang kuat, solatnya tidak batal meskipun dia kembali duduk untuk bertasyahhud sesudah berdiri, bahkan sudah memasuki bacaan al-Fatihah. Jika dia kembali duduk untuk bertasyahhud sesudah selesai membaca al-Fatihah, maka batallah solatnya. Ketentuan ini berlaku bagi imam dan orang yang solat sendirian. Sedangkan bagi makmum, seandainya dia meninggalkan tasyahhud pertama karena lupa, sementara imamnya duduk untuk bertasyahhud, maka dia wajib kembali duduk untuk bertasyahhud secara mutlak karena dia wajib mengikuti imam. Inilah pendapat jumhur ulama dan pendapat inilah yang paling kuat di kalangan mazhab al-Syafi’i.

2. Jika seseorang masih belum lagi berdiri secara tegak, maka dia boleh kembali duduk untuk tasyahhud. Ada dua pendapat meskipun dia mesti sujud sahwi atau sebaliknya. Pendapat yang paling sahih diantara kedua pendapat itu menurut jumhur ulama adalah orang itu tidak perlu lagi sujud. Sedangkan al-Qaffal mengatakan, jika dia lebih mendekati kepada keadaan berdiri, lalu dia kembali duduk, maka dia boleh sujud sahwi. Jika dia lebih mendekati kepada duduk atau dalam posisi pertengahan diantara keduanya, maka dia tidak perlu sujud sahwi lagi.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 272 : MEMBERI TAU IMAM KETIKA LUPA DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 272 :

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ أَحَدَثَ فِي اَلصَّلَاةِ شَيْءٌ ؟ قَالَ : وَمَا ذَلِكَ ؟ قَالُوا : صَلَّيْتَ كَذَا قَالَ : فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ اَلْقِبْلَةَ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ : إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي اَلصَّلَاةِ شَيْءٌ أَنْبَأْتُكُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ اَلصَّوَابَ فلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ : ( فَلْيُتِمَّ ثُمَّ يُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدْ )

وَلِمُسْلِمٍ : ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَجَدَ سَجْدَتَيْ اَلسَّهْوِ بَعْدَ اَلسَّلَامِ وَالْكَلَامِ )

وَلِأَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِيِّ ; مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ بْنِ جَعْفَرٍ مَرْفُوعاً : ( مَنْ شَكَّ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ ) وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat Ketika beliau salam dikatakan kepadanya: Ya Rasulullah apakah telah terjadi sesuatu dalam sholat؟ Beliau bersabda: Apa itu? Mereka berkata: Baginda sholat begini begitu Abu Mas’ud berkata: Lalu mereka merapikah kedua kakinya dan menghadap kiblat lalu sujud dua kali kemudian salam Beliau kemudian menghadap orang-orang dan bersabda: Sesungguhnya jika terjadi sesuatu dalam sholat aku beritahukan padamu tapi aku hanyalah manusia biasa seperti kamu sekalian yang dapat lupa seperti kalian Maka apabila aku lupa ingatkanlah aku dan apabila seseorang di antara kamu ragu dalam sholatnya hendaknya ia meneliti benar kemudian menyempurnakannya lalu sujud dua kali. (Muttafaq Alaihi)

Dalam suatu hadits riwayat Bukhari: “Hendaknya ia menyempurnakan lalu salam kemudian sujud.

Dalam riwayat Muslim: “Bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah sujud sahwi dua kali setelah salam dan bercakap-cakap”.

Menurut riwayat Ahmad Abu Dawud dan Nasa’i dari hadits Abdullah Ibnu Ja’far yang diterima secara marfu’: “Barangsiapa ragu dalam sholatnya hendaknya ia bersujud dua kali sesudah salam Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) tidak pernah lupa karena baginda dipelihara dari dipedaya syaitan, tetapi adakalanya baginda mengalaminya sebagai satu syariat kepada umatnya dan memberi pengajaran kepada orang yang lupa apa yang mesti dilakukannya apabila dia lupa ketika mengerjakan ibadah. Didalam hadis yang lain disebutkan:

إني لا أَنْسَى ولكن أُنَسَّى لأُشَرِّع

“Sesungguhnya aku tidak lupa, melainkan aku dilupakan untuk menetapkan syariat.”

Lupa merupakan salah satu ciri khas manusia apabila dibandingkan dengan kedudukan Allah Yang Maha Tinggi. Oleh itu, Allah Maha Suci dari sifat lupa. Allah (s.w.t) berfirman:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا (64)

“Dan tidaklah Tuhanmu lupa…” (Surah Maryam: 64)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى (52)

“… Di dalam sebuah kitab, Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Surah Taha: 52)

Demikianlah rahsia sabda Nabi (s.a.w) yang mengatakan:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu. Aku bisa lupa sebagaimana kamu juga lupa.”

Namun, ada perbedaan antara lupa baginda dengan lupa mereka. Lupa baginda memuatkan ketentuan hukum dan syariat buat umatnya. Ini terjadi atas kehendak dan rahmat Allah (s.w.t). Allah (s.w.t) berfirman:

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰ (6) إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ

“Kami akan membacakan (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Maka kamu tidak akan lupa kecuali kalau Allah menghendaki…” (Surah al-A‟la: 6-7)

Adapun lupa yang dialami oleh selain baginda, itu bersumber dari kelalaian dan godaan syaitan.

FIQH HADITS :

1. Makmum mesti mengikuti imam, dan solat makmum batal apabila dia meyakini yang imam solat telah melakukan kesalahan dan dia tetap bermakmum kepadanya. Rasulullah (s.a.w) tidak menyuruh para sahabat untuk mengulangi solat, padahal mereka telah meyakini adanya tambahan rakaat. Ini karena pada zaman Rasulullah (s.a.w) ada kemungkinan terjadi perubahan dan nasakh hukum. Oleh itu, mereka bertanya: “Apakah telah terjadi suatu perubahan dalam solat?”

2. Pengikut hendaklah mengingatkan orang yang diikutinya mengenai perkara-perkara yang telah dilakukannya. Ini tidak boleh dihambat oleh kebesaran orang yang dianutinya itu.

3. Dianjurkan berpegang teguh kepada apa yang diyakininya dalam solat dan membuang keraguan.

4. Menjelaskan bahwa apa yang diperlukan tidak boleh terlambat dari waktu yang diperlukan, karena Nabi (s.a.w) bersabda: “Seandainya terjadi suatu perubahan dalam masalah solat, niscaya aku akan memberitahukannya kepada kamu,” yakni sebelum datangnya waktu yang diperlukan.

5. Ada kalanya Nabi (s.a.w) mengalami lupa dalam sesetengah pekerjaan dengan tujuan menetapkan hukum syariat buat umatnya.

6. Percakapan orang yang lupa dan salamnya tidak membatalkan solat.

7. Percakapan yang disengajakan untuk kepentingan solat tidak membatalkan solat. Buktinya, Nabi (s.a.w) tidak menyuruh mereka mengulangi solatnya.

8. Disyariatkan melakukan sujud sahwi sesudah salam. Hukum sujud sahwi masih diperselisihkan di kalangan ulama.

Imam Ahmad mengatakan bahwa sujud sahwi wajib kerana berlandaskan kepada perintah yang terdapat di dalam sabda Nabi (s.a.w): “Hendaklah dia melakukan sujud dua kali.” Oleh karena makna asal perintah menunjukkan makna wajib, maka jika seseorang meninggalkannya dengan sengaja, maka solat yang telah dikerjakannya menjadi batal apabila dia sebelum mengucapkan salam, tetapi tidak batal apabila dia telah salam. Sebab dia telah berada di luar solat dan sujud itu hanya berfungsi untuk menutupi kekurangan yang ada padanya. Jika meninggalkan sujud ini karena lupa sebelum salam atau sesudahnya, maka dia mesti mengerjakannya selagi jarak pemisahnya tidak terlalu lama menurut ukuran kebiasaan, sekalipun dia telah berpaling dari arah kiblat atau telah berbincang-bincang. Jika jarak pemisah terlalu lama atau dia telah keluar meninggalkan masjid atau telah hadas, maka tidak perlu lagi melakukan sujud sahwi dan solatnya tetap dianggap sah.

Imam Abu Hanifah dan begitu pula murid-muridnya mengatakan bahwa sujud sahwi itu wajib dan berdosa bagi orang yang meninggalkannya, tetapi solatnya tidak batal. Dia mesti
mengulangi lagi solatnya untuk membebaskan dirinya dari dosa.

Mazhab al-Syafi’i mengatakan bahwa sujud sahwi hukumnya sunat. Inilah pendapat yang masyhur di kalangan mereka.

Mazhab Maliki mengatakan, tidak
ada bedanya antara sujud yang dilakukan oleh orang yang belum salam dengan yang sudah salam. Sebahagian mereka mengatakan wajib melakukan sujud sahwi bagi orang yang belum salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..