logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 290 : FADHILAH SHALAT RAWATIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 290 :

وَعَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : سَمِعْت النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : ( مَنْ صَلَّى اِثْنَتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِيَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ . وَفِي رِوَايَةٍ ” تَطَوُّعًا”

وَلِلتِّرْمِذِيِّ نَحْوُهُ , وَزَادَ : ( أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ )

وَلِلْخَمْسَةِ عَنْهَا : ( مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى اَلنَّارِ )

Ummu Habibah Ummul Mu’minin Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan sholat dua belas rakaat dalam sehari semalam niscaya dibangunkan sebuah rumah baginya di surga.” Hadits riwayat Muslim. Dan dalam suatu riwayat: “Sholat sunat.”

Menurut riwayat Tirmidzi ada hadits yang serupa dengan tambahan: “Empat rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya dan dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah Isya’, dan dua rakaat sebelum Shubuh.”

Menurut riwayat Imam Lima darinya (Ummu Habibah r.a): “Barangsiapa memelihara empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat rakaat setelahnya niscaya Allah mengharamkan api neraka darinya.”

MAKNA HADITS :

Mengerjakan sholat sunat dengan istiqamah merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dengan cara itu, dia memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah karena seluruh anggota tubuhnya tidak bergerak
melainkan hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia pun akhirnya sampai kepada kedudukan wali dan kekasih Allah. Inilah yang diisyaratkan dalam hadis qudsi:

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ: كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ.

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan mengerjakan amalan-amalan sunat hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Akulah yang menjadi pendengarannya yang selalu dia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang selalu dia gunakan untuk melihat, tangannya yang selalu dia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang selalu dia gunakan untuk berjalan. Jika dia benar-benar meminta kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya dan jika dia benar-benar memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya.”

Dengan arti kata lain, seseorang itu senantiasa berada dalam suatu keadaan yang dikehendaki oleh Allah. Apapun yang diperintahkan-Nya pasti dia kerjakan, dan apapun yang dilarang-Nya pasti dia tinggalkan. Ini merupakan satu karunia yang besar karena dalam satu hadis dikisahkan tentang keutamaan sholat rawatib ini:
“Barang siapa yang mengerjakannya secara berterusan tanpa meninggalkannya, maka akan dibangunkan baginya sebuah gedung di dalam surga, dan Allah
mengharamkan tubuhnya ke atas neraka. Inilah karunia paling besar yang bakal diperoleh oleh orang yang tekun mengerjakan sholat sunat rawatib.

FIQH HADITS :

Ummahat al-Mu’minin dan sahabat yang lain memiliki semangat yang tinggi untuk senantiasa mengikuti semua amal perbuatan Nabi (s.a.w) disamping mereka turut mengutamakan sunat rawatib, karena mereka yakin bahwa barang siapa yang mengerjakannya secara terus menerus sholat sunat ini, maka ia dapat menyelamatkannya dari melakukan perbuatan yang menyebabkan dirinya memasuki neraka.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 289: PENTINGNYA DUA RAKAAT SHALAT FAJAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 289 :

وَعَنْهَا قَالَتْ : ( لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِمُسْلِمٍ : ( رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا )

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah memperhatikan sholat-sholat sunat melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar. Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Muslim: Dua rakaat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.

MAKNA HADITS :

Raghibah al-Fajr adalah sholat sunat dua rakaat ringkas yang dikerjakan sesudah azan sholat Subuh. Hikmah mengerjakannya secara ringkas (tidak terlalu lama) ialah memberikan waktu yang secukupnya bagi imam ketika mengerjakan sholat Subuh disamping berharap semoga hisab amal diringankan bagi mereka kelak di hari kiamat. Dalam hadis yang lain disebutkan bahwa seorang mukmin diringankan hisabnya karena dua rakaat sunat Subuh yang pernah dikerjakannya.

Rasulullah (s.a.w) tidak pernah meninggalkan keduanya, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir, malah baginda senantiasa mengerjakannya. Ini menunjukkan yang ia adalah sunat muakkad dan bukannya wajib karrna berlandaskan kepada hadis orang Arab badwi: “Apakah ada perkara lain yang diwajibkan selain sholat lima waktu?” Nabi (s.a.w) menjawab: “Tidak ada.” Disamping itu, Nabi (s.a.w) hanya menyebut pahala orang yang mengerjakannya tanpa menyebutkan siksaan bagi orang yang meninggalkannya.

Pahala melakukan dua rakaat raghibah al-Fajr lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. Ini berlandaskan pandangan yang dunia dan seluruh kesenangan yang ada di dalamnya pasti lenyap, sedangkan pahala di akhirat di sisi Allah kekal dan abadi. Setiap apa yang ada di sisi Allah pasti lebih baik dan lebih kekal.

FIQH HADITS :

Sholat sunat dua rakaat fajar merupakan sunat mu’akkad. Bagi orang yang mengerjakannya pasti memperoleh pahala yang banyak di samping ketinggian darjat. Disebutkan bahwa antara Sunnah Nabi (s.a.w) adalah membaca Surah al-Kafirun dan Surah al-Ikhlas ketika mengerjakan sholat itu atau membaca dua ayat: “قولوا امنا بالله”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 288 : PENTINGNYA SHALAT SUNNAH SEBELUM DZHUR DAN SUBUH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 288 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- : أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ لَا يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak meninggalkan (sholat sunat) empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sebelum Shubuh. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Memandang sunat qabliyyah Dzuhur termasuk sholat sunat rawatib, maka ada kalanya Rasulullah (s.a.w) mengerjakan dua rakaat dan ada kalanya pula empat rakaat untuk menetapkan ia adalah sunat. Ini karena jika sholat tersebut fardu, niscaya ia tidak boleh ditambah apalagi dikurangkan.

Dari sini dapatlah dihimpun antara hadis-hadis yang berbeda ketika menyebut bilangan rakaatnya. Hadits yang menceritakan Rasulullah (s.a.w) selalu mengerjakan sunat raghibah fajar dan sunat Dzuhur merupakan dalil yang menunjukkan keduanya adalah sholat sunat mu’akkad.

FIQH HADITS :

Nabi (s.a.w) sangat mementingkan sholat sunat qabliyah Dzuhur dan qabliyah Subuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 287 : SHALAT SUNNAH RAWATIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 287 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( حَفِظْتُ مِن النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ رَكَعَاتٍ : رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ , وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا : ( وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمْعَةِ فِي بَيْتِهِ ).

وَلِمُسْلِمٍ : ( كَانَ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ لَا يُصَلِّي إِلَّا رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ )

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku menghapal dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam 10 rakaat yaitu: dua rakaat sebelum Dhuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib di rumahnya, dua rakaat setelah Isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: Dan dua rakaat setelah Jum’at di rumahnya.

Dalam suatu riwayat Muslim: Apabila fajar telah terbit beliau tidak sholat kecuali dua rakaat yang pendek.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana hati manusia cenderung menjauhi Allah dalam kebanyakan waktunya lantaran sibuk dengan urusan dunia, maka ketika mengerjakan sholat dia tidak dapat khusyuk dengan sepenuh hati, padahal sholat merupakan munajat kepada Allah. Di sinilah letak sholat sunat qabliyyah disyariatkan, supaya orang yang sholat sudah bersedia untuk hadir dengan sepenuh hati di hadapan Allah dan bermunajat dengan-Nya. Disyariatkan pula solat sunat ba’diyyah untuk menutup kekurangan yang dilakukan ketika mengerjakan sholat fardu. Diantara rahmat Allah adalah kelalaian yang dilakukan semasa mengerjakan sholat fardu dapat ditutupi dengan mengerjakan sholat sunat untuk menyempurnakan lagi kekurangan selama mengerjakan sholat fardu. Ini semata-mata merupakan rahmat Allah (s.w.t). Imam Ahmad meriwayatkan hadis berikut dari hadis Tamim al-Dari bahwa Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:

أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة صلاته فإن كان أتمها كتبت له تامة ، وإن لم يكن أتمها قال الله تعالى لملائكته : انظروا هل تجدون لعبدي من تطوع ; فيكمل بها فريضته ، ثم الزكاة كذلك ، ثم تؤخذ الأعمال على حسب ذلك

Permulaan pemeriksaan yang dilakukan atas seorang manusia pada hari kiamat kelak sholat yang telah dilakukannya. Jika dia telah melakukannya dengan sempurna, maka dipastikan baginya pahala yang sempurna dan jika dia
mengerjakannya dengan tidak sempurna, maka Allah berfirman kepada para malaikat-Nya: “Periksalah oleh kamu, apakah kamu mendapati amalan sunat pada catatan hamba-Ku yang dapat dijadikan sebagai pelengkap bagi amal fardunya?” Kemudian masalah zakat pun demikian pula. Setelah itu semua amal perbuatan diperlakukan dengan cara demikian.”

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengerjakan sebagian sholat sunat di dalam rumah.

2. Disunatkan meringkaskan pelaksanaan sholat sunat qabliyyah Subuh dan solat sunat Subuh hanya dilakukan sebanyak dua rakaat saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 286 : ANJURAN MEMPERBANYAK SUJUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 286 :

عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ -رِضَى اَللَّهُ عَنْهُ- قَالَ : ( قَالَ لِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم سَلْ . فَقُلْتُ : أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي اَلْجَنَّةِ . فَقَالَ : أَوَغَيْرَ ذَلِكَ ؟ ، قُلْتُ : هُوَ ذَاكَ ، قَالَ : ” فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ اَلسُّجُودِ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Rabiah Ibnu Malik al-Islamy Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda padaku: “Mintalah (padaku).” Aku menjawab: Aku memohon dapat menyertai baginda di surga. Beliau bertanya: “Apakah ada yang lain?” Aku menjawab: Hanya itu saja. Beliau bersabda: “Tolonglah aku untuk mendoakan dirimu dengan banyak sujud.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Orang mukmin yang sempurna pastinya memiliki cita-cita yang tinggi, tidak memiliki keinginan selain tujuan-tujuan mulia dan tidak ada yang dimintanya selain kedudukan paling tinggi di akhirat. Dia tidak terpedaya oleh gemerlap dunia dan perhiasannya. Oleh itu, dia tidak meminta kecuali sesuatu yang kekal abadi dan enggan meminta sesuatu yang fana. Demikian pula dengan seorang sahabat agung dari kalangan ahli shuffah. Dia senantiasa bersama Rasulullah (s.a.w) dan merasa bahagia dengan berkhidmat kepadanya. Dalam suatu kesempatan yang penuh dengan keberkahan, Rasulullah (s.a.w) menyuruhnya untuk meminta apa yang dikehendakinya. Dia pun memohon agar menjadi teman baginda di dalam surga al-Firdaus. Ini adalah suatu permintaan besar dan cita-cita yang tinggi. Ini tidak aneh, sebab Rasulullah (s.a.w) sendiri yang menawarkan kepadanya untuk meminta apa yang dicita-citakannya. Dia mengajukan suatu permintaan paling besar dan sudah menjadi haknya untuk berbuat demikian. Nabi (s.a.w) memberinya petunjuk agar dia tekun melakukan amalan paling afdhal. Ini menunjukkan kesempurnaan iman seorang sahabat sekaligus menunjukkan keutamaan surga, keutamaan berteman dengan orang sholeh, dan keutamaan ibadah sholat ke atas amal ibadah yang lainnya.

FIQH HADITS :

1. Anjuran bagi seorang pemimpin supaya memperhatikan urusan orang yang dipimpinnya dan menanyakan kepada mereka apa yang menjadi keperluannya.

2. Anjuran melawan hawa nafsu dan mengalahkannya dengan memperbanyak melakukan amal ibadah, karena kedudukan yang tinggi di akhirat hanya diperoleh dengan cara melawan hawa nafsu yang hina itu.

3. Boleh meminta derajat yang tinggi, karena diantara manusia ada orang yang dihimpun bersama para nabi kelak di surga.

4. Keutamaan sholat yang semakin bertambah. Banyak mengerjakan sholat akan menghantarkan seseorang memperoleh derajat yang tinggi dan menjadi teman Nabi (s.a.w) didalam rumah kemuliaan (surga) kelak.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 283 : ANJURAN SUJUD SYUKUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 283 :

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ خَرَّ سَاجِداً لِلَّهِ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ

Dari Abu Bakrah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila menerima kabar gembira beliau segera sujud kepada Allah Diriwayatkan oleh Imam Lima kecuali Nasa’i

HADITS KE 284 :

وَعَنْ عَبْدِ اَلرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَجَدَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَأَطَالَ اَلسُّجُودَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَقَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ آتَانِي فَبَشَّرَنِي فَسَجَدْت لِلَّهِ شُكْرًا ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Abdul Rahman Ibnu Auf Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah sujud beliau melamakan sujud itu setelah mengangkat kepala beliau bersabda: Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan membawa kabar gembira maka aku bersujud syukur kepada Allah Riwayat Ahmad dan dinilai shahih oleh Hakim

HADITS KE 285 :

وَعَنْ اَلْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بَعَثَ عَلِيًّا إِلَى اَلْيَمَنِ – فَذَكَرَ اَلْحَدِيثَ – قَالَ : فَكَتَبَ عَلِيٌّ رضي الله عنه بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَرَأَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْكِتَابَ خَرَّ سَاجِدًا ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ وَأَصْلُهُ فِي اَلْبُخَارِيِّ

Dari al-Barra’ Ibnu Azib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengutus Ali ke negeri Yaman Kemudian hadits itu menyebutkan: Ali lalu mengirim surat tentang ke-Islaman mereka Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat itu beliau langsung sujud syukur kepada Allah atas berita tersebut

MAKNA HADITS :

Disyariatkan melakukan sujud syukur ketika memperoleh nikmat atau dijauhkan dari malapetaka. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Malik tidak mau mengakui amalan ini karena ia tidak diamalkan oleh masyarakat
Madinah. Sedangkan pendapat yang bersumber daripada Imam Abu Hanifah masih ada perselisihan pendapat. Ada kemungkinan hadis ini belum sampai kepadanya.

Nabi (s.a.w) pernah melakukan sujud ketika membaca ayat di dalam Surah Shad, lalu baginda bersabda: “Sujud ini sebagai tanda syukur kami.” Ka’ab ibn Malik (r.a) salah seorang diantara tiga orang yang tidak turut serta berperang melakukan sujud syukur ketika Allah menurunkan ayat yang menerima taubatnya. Dalam melakukan sujud syukur disyariatkan apa yang disyaratkan ketika hendak melakukan sujud tilawah.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan melakukan sujud syukur. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Mazhab Hanafi mengatakan, tidak makruh melakukan sujud syukur dan tidak pula sunat, sedangkan Imam Malik tidak pernah mengatakannya.

2. Keutamaan membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w).

3. Disyariatkan mengirimkan pasukan sariyyah.

4. Taat kepada pemimpin dalam setiap keadaan yang diperintahkannya.

5. Mengajak umat manusia untuk beribadah kepada Allah dengan cara yang lemah lembut dan baik.

6. Boleh meringkaskan hadis dan hanya menyebutkan bagian yang penting saja untuk dijadikan sebagai syahid dan dalil.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 282 : MEMBACA TAKBIR SEBELUM SUJUD TILAWAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 282 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ عَلَيْنَا اَلْقُرْآنَ فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ وَسَجَدْنَا مَعَهُ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ فِيهِ لِيِنٌ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam selalu membacakan Al-Qur’an pada kami maka apabila melewati bacaan ayat sajadah beliau bertakbir dan sujud lalu kami sujud bersama beliau Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang lemah

MAKNA HADITS :

Al-Qur’an mengandung berkah dan rahmat. Orang yang membacanya diberi ganjaran pahala dan orang yang mendengarkannya mendapat limpahan rahmat, kerana dia turut meresapi maknanya dan turut serta dalam amal kebaikan. Disini syariat mensunahkan pendengar untuk turut melakukan sujud tilawah jika pembaca melakukan, sebab pembaca memiliki kedudukan yang sama dengan imam dalam solat.

Sujud tilawah terdiri dari takbir iftitah. Ini telah disepakati oleh ulama. Ia turut mengandung takbir intiqal yang masih diperselisihi oleh ulama dan takbir mengangkat tubuh. Tetapi apakah seseorang itu mesti membaca tasyahhud dan salam karena diqiyaskan dengan tahlil dan tahrim seperti selesai mengerjakan solat, masalah ini masih diperselisihkan.

FIQH HADITS :

1. Melakukan takbir iftitah untuk sujud tilawah.

2. Pendengar ayat sajadah hendaknya turut melakukan sujud ketika pembaca melakukan sujud.

3. Disyariatkan duduk diantara himpunan para rekan apabila mengajarkan kepada mereka hukum-hukum yang bersumber dari al-Qur’an dan kisah umat-umat terdahulu.

Perhatian :

Di dalam Sunnah telah disebutkan doa yang dibaca ketika melakukan sujud
tilawah. Di dalam hadis Ibn Abbas (r.a) telah disebutkan bahawa Nabi (s.a.w)
dalam sujud tilawah membaca doa berikut:

اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا، وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا، وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا، وَتَقَبَّلْهَا مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ

Ya Allah, catatlah sujud ini sebagai pahala buatku di sisi-Mu dan jadikan ini sebagai simpananku di sisi-Mu, dan ampuni dosaku karenanya serta terimalah sujudku ini dariku sebagaimana Engkau telah menerimanya dari hamba-Mu Nabi Dawud.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 281 : HUKUM SUJUD TILAWAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 281 :

وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ : ( يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَفِيهِ : ( إِنَّ اَللَّهَ] تَعَالَى [ لَمْ يَفْرِضْ اَلسُّجُودَ إِلَّا أَنْ نَشَاءَ ) وَهُوَ فِي اَلْمُوَطَّأِ

Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wahai orang-orang kita melewati bacaan ayat-ayat sujud maka barangsiapa sujud ia telah mendapat (pahala) dan barangsiapa tidak sujud tidak mendapat dosa Diriwayatkan oleh Bukhari Dalam hadits itu disebutkan: Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki Hadits itu termuat dalam al-Muwaththa’

MAKNA HADITS :

Hukum sujud tilawah sunat, bukan wajib. Dalilnya adalah Nabi (s.a.w) dalam setengah keadaan meninggalkan sujud ini. Begitu pula yang dilakukan oleh para sahabat dimana mereka seringkali membaca ayat sajadah, namun mereka tidak melakukan sujud.
Umar al-Faruq (r.a) menetapkan bahwa tidak ada dosa bagi orang yang meninggalkan sujud ini, malah beliau turut menetapkan bahwa sujud ini bukannya fardu. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud ini kepada kita, melainkan apabila kita menghendakinya.”

FIQH HADITS :

1. Sujud tilawah bukan fardu.

2. Diwajibkan menyempurnakan sujud tilawah bagi orang yang telah melakukannya menurut pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Ini karena perkara sunat akan menjadi wajib apabila telah dimulai melaksanakannya dan ini menjadikannya wajib segera disempurnakan. Dari sini istitsna’
(pengecualian) didalam sabda Rasulullah (s.a.w): “اِلَّا اَنْ نَشَاءَ” adalah istitsna’ muttasil. Dengan kata lain, kalimat sebelum illa dan yang sesudahnya saling berkaitan antara satu sama lain. Menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad pula, sujud tilawah tidak wajib hanya karena alasan ia telah dimulai. Ini karena berlandaskan kepada kaidah yang mengatakan bahwa perkara sunat tidak menjadi wajib hanya karena alasan ia telah dimulai. Dari sini istitsna’ yang terdapat di dalam sabda baginda: “اِلَّا اَنْ نَشَاءَ” adalah istitsna munqati’. Dengan demikian, maknanya adalah “tetapi sujud tilawah diserahkan sepenuhnya kepada kehendak kita”.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M093. HUKUM MEMANFAATKAN BARANG GADAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:

Di kampung kami terdapat seseorang pengusaha namun pada suatu saat usahanya bangkrut maka dalam upaya menggembangkan usahanya seperti semula maka ia menggadaikan sawahnya dengan tempo 2 Tahun, sementara lahan sawah yang digadaikan diambil manfaatnya oleh si pegambil gadai dengan ditanami padi atau yang lainnya.
Pertanyaannya:

Bagaimana hukumnya Si penerima gadai mengambil manfaat dari barang gadai? sementara pada awal taransaksi tidak ber syarat. (tidak ada ungkapan dimanfaatkan).

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Pada dasarnya hukum memanfaatkan barang gadaian tidak diperbolehkan. Akan tetapi jika syarat pemanfaatan tidak disebutkan dalam transaksi atau akad maka terjadi khilaf:

Dalam permasalahan semacam ini terdapat tiga pendapat dari para ulama Fiqh :

1. Haram : sebab termasuk hutang yang dipungut manfaatnya.

2. Halal : Bila tidak terdapat syarat pada waktu akad sebab menurut pendapat ulama fiqh yang masyhur adat yang berlaku di masyarakat tidak termasuk syarat.

3. Syubhat : (Tidak jelas halal haramnya) karena terjadi perselisihan pendapat dalam permasalahan ini.

Referensi :

الاشباه والنظائر ج ١ ص ١٩٢

و منها : لو عم في الناس اعتياد إباحة منافع الرهن للمرتهن فهل ينزل منزلة شرطه حتى يفسد الرهن قال الجمهور : لا و قال القفال : نعم

Jika sudah umum dikalangan masyarakat kebiasaan kebolehan memanfaatkan barang gadaian oleh pemilik gadai apakah kebiasaan tersebut sama dengan pemberlakuan syarat (kebolehan pemanfaatan) sampai barang yang digadaikan tersebut rusak ? Mayoritas Ulama menyatakan tidak sama sedang Imam ql-Qaffal menyatakan sama. [ Asybah wa an-Nazhooir I/192 ].

( و ) جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض…. وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

( قوله ففاسد ) قال ع ش ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد

Diperbolehkan bagi sipemberi pinjaman untuk memanfaatkan (sesuatu kelebihan) yang diperoleh dari si peminjam seperti pengembalian yang lebih baik ukuran ataupun sifat dan lebih baik pada pinjaman yang jelek asalkan tidak tersebutkan pada waktu akad sebagai persyaratan bahkan hal yang demikian bagi peminjam disunahkan (mengembalikan yang lebih baik dibandingkan barang yang dipinjamnya)

Adapun peminjaman dengan syarat boleh mengambil manfaat oleh peminjam maka hukumnya rusak/haram sesuai dengan hadits “semua peminjaman yang menarik sesuatu (terhadap yang dipinjamkanny maka termasuk riba”

حاشية إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 65)
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا وجبر ضعفه مجيء معناه عن جمع من الصحابة ومنه القرض لمن يستأجر ملكه أي مثلا بأكثر من قيمته لأجل القرض إن وقع ذلك شرطا إذ هو حينئذ حرام إجماعا وإلا كره عندنا وحرام عند كثير من العلماء قاله السبكي (قوله: ففاسد) قال ع ش: ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد.أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد، فلا فساد.اه.والحكمة في الفساد أن موضوع القرض: الارفاق، فإذا شرط فيه لنفسه حقا: خرج عن موضوعه فمنع صحته.(قوله: جر منفعة) أي شرط فيه جر منفعة. (قوله: فهو ربا) أي ربا القرض، وهو حرام (قوله: وجبر ضعفه) أي أن هذا الخبر ضعيف، ولكن جبر ضعفه.- أي قوى ضعفه – مجئ معناه – أي الخبر – وهو أن شرط جر النفع للمقرض مفسد للقرض.وعبارة النهاية: وروي – أي هذا الخبر – مرفوعا بسند ضعيف، لكن صحح الامام والغزالي رفعه، وروي البيهقي معناه عن جمع من الصحابة.اه.(قوله: ومنه القرض إلخ)أي ومن ربا القرض: القرض لمن يستأجر ملكه. (وقوله: أي مثلا) راجع للاستئجار – يعني أن الاستئجار ليس قيدا، بل مثالا.ومثله القرض، لمن يشتري ملكه بأكثر من قيمته.(وقوله: لاجل القرض) علة للاستئجار بأكثر من قيمته.

بغية المسترشدين – ( ص 221)
القرض الفاسد المحرم هو القرض المشروط فيه النفع للمقرض ، هذا إن وقع في صلب العقد ، فإت تواطآ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لغير غرض شرعي.

Perlu diketahui bahwa akad rahn (gadai), awal mulanya disyariatkan adalah untuk maksud menjaga kepercayaan dari orang yang memberi utang orang lain, bahwa utang tersebut akan dilunasinya tepat waktu.

لأن الرهن إيفاء الدين والإرتهان استيفاؤه

Artinya: “Karena sesungguhnya gadai berhubungan dengan pemenuhan utang, sementara menerima gadai berhubungan dengan cara meminta dipenuhinya utang.” (al-Kasâny, Badâi’ u al-Shanâi’ fi Tartîb al-Syarâi’, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, tt., 6/135)
Berhubung utang tersebut nilainya besar sehingga sulit untuk melepaskannya/memberikannya kepada pihak pengutang bila tanpa disertai adanya jaminan, maka disyariatkanlah sistem gadai tersebut dengan ciri utama adanya barang gadai (marhûn) sebagai jaminan kepercayaan (li al-tautsiq). Berangkat dari sini, maka lalu muncul dua kondisi:
1. Bilamana utang dengan jaminan tersebut bisa ditunaikan/dilunasi tepat waktu
2. Bilamana utang dengan jaminan tersebut tidak bisa dilunasi dengan tepat waktu (molor)
Berangkat dari dua kondisi ini, lalu muncul tradisi yang berlaku (adat mutharid) akan boleh tidaknya pemanfaatan barang gadai.

Pertama, menurut ulama yang membolehkan dan alasan dasarnya (illat)

Ulama yang membolehkan pemanfaatan barang gadai ini juga dibagi dua, yaitu:

1. Boleh melalui jalan jual beli dengan janji bahwa barang akan dibeli kembali oleh orang yang menjual (pihak pengutang). Akad ini dinamakan akad sende. Para fuqaha’ menamainya dengan istilah bai’u-l ‘uhdah (transaksi jual beli dengan tempo) .

وَصُوْرَتُهُ اَنْ يَتَّفَقَ الْمُتَبَايِعَانِ عَلَى اَنَّ اْلبَائِعَ مَتَى اَرَادَ رُجُوْعَ الْمَبِيْعَ اِلَيْهِ اَتَى بِمِثْلِ الثَّمَنِ الْمَعْقُوْدِ عَلَيْهِ وَلَهُ اَنْ يُقَيَّدَ الرُّجُوْعَ بِمُدَّةٍ فَلَيْسَ لَهُ اْلفَكُّ اِلاَّبَعْدَ مُضِيِّهَا ثُمَّ بَعْدَ الْمُوَاطَأَةِ يُعْقِدَانِ عَقْدًا صَحِيْحًا بَلاَشَرْطٍ

Artinya: “Gambaran dari [akad bai’ul ‘uhdah] ini adalah kedua pihak penjual dan pembeli telah bersepakat apabila penjual sewaktu-waktu ingin menarik kembali barang yang telah dijual maka ia harus menyerahkan harga umumnya (tsaman mitsil-nya) ia boleh membatasi untuk penarikan kembali barang yang sudah dijual itu dengan suatu masa tertentu sehingga ia tidak boleh lepas kecuali telah melewati masa itu, kemudian setelah terjadi serah terima kedua penjual dan pembeli itu melakukan transaksi dengan transaksi yang sah tanpa ada satu syarat.” (Abdullah Ba’alawy, Bughyatu al-Mustarsyidin, Surabaya: Al-Hidayah, tt., 133).
2. Boleh dengan syarat adanya izin atau diduga pasti diizinkan oleh pihak yang menggadaikan (râhin). Untuk pendapat yang kedua ini berlaku syarat bahwa kebolehan pemanfaatan tersebut tidak disyaratkan sebelumnya oleh penerima gadai (al-murtahin) saat terjadinya akad (fi shulbi al-‘aqdi). Apabila berlaku pemanfaatan tersebut disyaratkan saat aqad ditetapkan, maka tidak syak lagi bahwa pemanfaatan tersebut adalah masuk unsur riba. Namun, bila tidak disyaratkan saat berlangsungnya akad, maka hal tersebut tidak disebut sebagai riba. (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 258)

بغية المسترشدين – ( ص 221)
القرض الفاسد المحرم هو القرض المشروط فيه النفع للمقرض ، هذا إن وقع في صلب العقد ، فإت تواطآ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لغير غرض شرعي.

Kedua, menurut ulama yang tidak membolehkan

Ulama yang tidak membolehkan pemanfaatan barang yang digadaikan ini pada dasarnya beralasan bahwa mengambil manfaat terhadap barang jaminan, adalah sama dengan mengambil manfaat terhadap utang. Dan ini masuk lingkup bahasan yang kedua sebagaimana di atas. Jadi, letak illatnya adalah pada keberadaan syarat pemanfaatan. Jika disyaratkan saat akad, maka hukumnya tidak boleh, dan bila tidak ada syarat sebelumnya serta diduga ada izin sebelumnya dari pihak penggadai, maka hukumnya menjadi boleh. (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 258)

Inti utama kewajiban dari pemberi utang/penerima gadai adalah menjaga agar barang yang dijadikan jaminan untuk gadai tidak mengalami rusak akibat disia-siakan. Misalnya, yang digadaikan adalah berupa hewan ternak perah. Bila tidak diperah susu hewan tersebut, justru akan berakibat pada kesehatan hewan. Maka dalam hal ini, memerah susu hewan gadai hukumnya menjadi wajib bagi murtahin (penerima gadai) karena apabila dibiarkan justru bisa berakibat pada itlâf (kerusakan) serta tadlyî’u al-amwâl (menyia-nyiakan harta).

Sama posisinya dalam hal ini adalah tanah. Bilamana tanah itu adalah berupa tanah persawahan atau tanah ladang, membiarkannya tidak dikelola, justru dapat berakibat pada rusaknya struktur tanah dan bahkan bisa berubah fungsi. Yang asalnya merupakan tanah ladang, karena tidak dikelola dapat berubah menjadi tanah liar dipenuhi semak belukar.

Kondisi perubahan fungsi ini bisa dipahami sebagai itlâf atau tadlyi’u al-amwal. Hukumnya justru haram membiarkannya bahkan wajib mengelolanya sehingga tetap terjaga fungsinya. Sekali lagi kunci utamanya adalah pemanfaatan tersebut tidak disyaratkan di awal dan ada izin atau diduga pasti diizinkan oleh orang yang menggadaikan.
Bilamana tidak ada izin atau tidak ada tanda-tanda diizinkan oleh penggadai, maka tugas murtahin adalah menjaga tetapnya fungsi dan sekaligus kondisi barangnya. Di saat pihak penerima gadai melakukan perawatan atau penjagaan fungsi dari barang yang digadaikan, maka ia berhak menerima upah (ujrah) perawatan. Hal ini sama dengan bilamana barang yang digadaikan adalah berupa hewan. Merawat dan mencarikan rumput bagi hewan tersebut merupakan illat bisanya murtahin menerima upah atau keuntungan.
Apa yang barusan kita jelaskan di muka, ketentuannya juga bisa berlaku pada kendaraan. Namun, ada dua hal yang penting dan harus diperhatikan adalah bahwa:

1. Bilamana terjadi kerusakan pada barang yang digadaikan akibat dibiarkan itlaf (rusak) sebab tidak dirawat maka pihak murtahin harus memberikan ganti rugi (dlamman).

2. Demikian pula rusaknya barang gadai yang disebabkan karena pemanfaatan di luar ketentuan menjaga fungsinya agar tetap normal, maka pihak murtahin juga harus memberikan ganti rugi.

Kerusakan pada barang gadai – di luar dua ketentuan ini – sepenuhnya adalah tanggung jawab râhin (pihak penggadai). (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 259)

Menyewakan Sawah yang Digadaikan

Setiap barang adalah sah disewakan manakala barang tersebut sah untuk dijual. Semua barang yang sah dijual adalah harus berupa barang ‘milik’ atau ‘mendapatkan amanah’ untuk menjualkan dari pemilik asli barang. Sementara itu, dalam gadai, barang yang digadaikan (al-marhun) adalah masih tetap milik penggadai (râhin). Jadi, dalam hal ini tidak ada perpindahan status kepemilikan dari râhin kepada murtahin. Walhasil, barang yang digadaikan tidak sah disewakan, apalagi dijual dan ini adalah hukum asalnya.

Masalahnya kemudian adalah bahwa penerima gadai (murtahin) ‘wajib’ menjaga fungsi dari barang yang digadaikan. Dan ini kita sepakati.

Lantas, bagaimana bila murtahin tidak bisa sendiri dalam menjaga fungsi barang tersebut. Bolehkah ia menyuruh orang yang diupah? Sudah pasti dalam hal ini adalah boleh dengan besar ongkos pertanggungan upahnya (ujrah) adalah dibebankan kepada râhin (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 259).

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي

ج: ٦ ص:  ٤٢٨٧

أولاً ـ انتفاع الراهن بالرهن: هناك في انتفاع الراهن بالرهن

رأيان: رأي الجمهور غير الشافعية بعدم جواز الانتفاع. ورأي الشافعية بجوازه ما لم يضر بالمرتهن (1).وتفصيل الأقوال فيما يأتي:

1 – قال الحنفية (2): ليس للراهن أن ينتفع بالمرهون استخداماً أو ركوباً أو لبساً أو سكنى وغيرها، إلا بإذن المرتهن، كما أنه ليس للمرتهن الانتفاع بالرهن إلا بإذن الراهن، ودليلهم على الحالة الأولى: أن حق الحبس ثابت للمرتهن على سبيل الدوام، وهذا يمنع الاسترداد. فإن انتفع الراهن من غير إذن المرتهن، فشرب لبن البقرة المرهونة، أو أكل ثمر الشجر المرهون، ونحوهما، ضمن قيمة ما انتفع به؛ لأنه تعدى بفعله على حق المرتهن، وتدخل القيمة التي هي بدل الاستهلاك في حبس المرتهن للرهن، ويتعلق بها الدين.

وإذا استعاد الراهن الرهن لاستعماله بدون إذن المرتهن، فركب الدابة المرهونة، أو لبس الثوب المرهون، أو سكن الدار المرهونة أو زرع الأرض، ارتفع ضمان المرتهن للرهن، وكان غاصباً للرهن، فيرد إلى المرتهن جبراً عنه. وإذا هلك في يده هلك عليه. فإن لم يترتب على انتفاع الراهن بالرهن رفع يد المرتهن، فله الانتفاع به، كإيجار آلة يشغلها المرتهن، مثل آلة طحن ونحوه، فأجر ما تطحنه حينئذ للراهن؛ لأن نماء الرهن وزوائده للراهن (3)، وإذا أخذه المرتهن احتسب من دينه. وهذا المذهب مبني على أن الرهن يلحق الزيادة المتولدة من الرهن متصلة أو منفصلة عنه.


(1) الإفصاح: 238/ 1.
(2) البدائع: 146/ 6، الدر المختار: 342/ 5 ومابعدها.
(3) الدر المختار: 370/ 5.

Sampai di sini, bilamana perawatan fungsi sawah tersebut harus menyuruh orang lain yang diupah, dan sebagai wasilah perawatannya adalah tanah tersebut harus ditanami, maka milik siapakah hasil tanaman tersebut? Dalam hal ini, kita mengambil qiyas dengan hasil perahan susu hewan yang digadaikan. Bilamana susu tersebut dijual, maka hasil susu tersebut milik siapa? Karena hewan yang diperah adalah milik penggadai (râhin), maka susu hasil perahan tersebut adalah milik râhin, dan bisa digunakan untuk menggaji orang yang memerah dan sekaligus membayar biaya perawatan, yang pengelolaannya diserahkan kalkulasinya kepada murtahin.

Kondisi yang sama bisa berlaku pada sawah. Bilamana penjagaan fungsi sawah harus dengan jalan menanami, maka hasil tanaman sawah hakikatnya adalah milik râhin dan bisa diambil oleh murtahin untuk menggaji orang yang merawat fungsinya melalui mekanisme pemberian ujrah. Dan bila yang merawat adalah murtahin sendiri, maka murtahin bisa memungut tagihan ke rahin atau mengambil upah dari hasil perawatan dengan seizin râhin.
Wah, jika demikian berlakunya, bukankah itu sama saja dengan boleh disewakan? Sekali lagi, tugas murtahin adalah menjaga fungsi barang yang digadaikan agar tidak rusak. Meskipun, dalam menjaga fungsi tersebut memang ada mekanisme yang hampir sama dengan sewa menyewa.
Yang jelas, boleh bagi murtahin untuk mengongkosi orang guna menjaga fungsinya. Hasil perawatan adalah milik penggadai (râhin), dikelola oleh penerima gadai (murtahin). Perawatnya berhak menerima akumulasi upah (ujrah). Syarat ujrah itu harus maklum dan tidak boleh memakai taksiran berupa hasil tanaman menjadi milikmu semua. Seperti ini adalah tidak boleh.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S063. IMAM DAN MAKMUM TERHALANG KACA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya sholat di luar masjid dengan ada nya satir tapi dengan kaca bening

JAWABAN :

Waalaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokaatuh.

Orang shalat di luar masjid dengan adanya satir (tirai, penutup) dengan kaca bening itu ditafshil:

(1). Sah, jika satir yang berupa kaca bening tersebut tidak mencegah kepada makmum untuk melewati menuju imam. Misalnya masih ada pintu menuju imam (baik pintu itu dibuka ataupun ditutup, asalkan pintu itu tidak dikunci). Dan dengan syarat makmum itu mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukun shalat menuju rukun shalat lainnya (mengetahui) dengan melihat kepada imam melalui kaca yang bening itu, atau (mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukun shalat menuju rukun shalat lainnya) melalui mendengar suara muballigh.

(2). Tidak sah, jika satir yang berupa kaca bening tersebut mencegah kepada makmum untuk melewati menuju imam. Misalnya ada pintu yang dikunci (yang mana pintu itu menuju imam). Walaupun makmum itu mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukunnya shalat kepada rukun shalat lainnya (mengetahui) melalui kaca yang bening.

 (التقريرات السديدۃ في المسائل المفيدۃ,في قسم العبادات,صحيفۃ ٢٩٥)

شروط صحۃ الجماعۃ :
الثاني:ان يعلم الماموم انتقالات الامام برؤيۃ او سماع مبلغ.

 (التقريرات السديدۃ في المسائل المفيدۃ,في قسم العبادات,صحيفۃ ٢٩٩)

مسائل من شروط الجماعۃ :
١-الباب المغلق في المسجد لا يضر, وامٌَا الۡمُسَمٌَرُ فَيَضُرٌُ.

٢-اذا كان بينهما حائل يمنع المرور-كزجاج في المسجد-فيضر وان علم المأموم انتقالات امامه

Wallahu a’lamu bisshowab..