
Silahkan klik link berikut ini :
Anggota IKABA Larangan, alumni tahun 1992

Silahkan klik link berikut ini :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
《JILID KE II (DUA)》
BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT
HADITS KE 1 :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا قَالَتْ: ( أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ , فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه
وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ )وَلِلْبُخَارِيِّ: ( ثُمَّ هَاجَرَ, فَفُرِضَتْ أَرْبَعًا, وَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ عَلَى الْأَوَّلِ)
‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Sholat itu awalnya diwajibkan dua rakaat, lalu ia ditetapkan sebagai sholat dalam perjalanan, dan sholat di tempat disempurnakan (ditambah). Muttafaq Alaihi.
Menurut riwayat Bukhari: Kemudian beliau hijrah, lalu diwajibkan sholat empat rakaat, dan sholat dalam perjalanan ditetapkan seperti semula.
MAKNA HADITS :
Oleh kerana bermusafir sering kali menyebabkan keletihan, maka syariat Islam mempersingkat sholat empat rakaat seperti sholat dzuhur, Asar, dan Isyak menjadi dua rakaat sebagai satu kemudahan bagi orang musafir sehinggalah dia kembali
pulang ke tempat tinggalnya.
Sholat Maghrib tidak boleh dipersingkat, karena ia merupakan witir bagi sholat siang hari, sedangkan witir disukai oleh Allah. Begitu pula sholat Subuh, tidak
boleh dipersingkat, karena dalam mengerjakan sholat Subuh bacaan al-Qur’an mesti dipanjang. Bacaan dalam sholat Subuh disaksikan oleh para malaikat dan usaha
mempercepat pelaksanaan sholat Subuh bertentangan dengan anjuran supaya bacaan al-Qur’an di dalamnya dipanjangkan.
Sholat qasar disunnatkan, karena ia adalah rukhsah. Sholat qasar lebih afdhal dari sholat secara sempurna. Allah suka apabila rukhsah-Nya dikerjakan, sebagaimana Dia suka apabila ‘azimah-Nya dilakukan.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa sholat qasar wajib hukumnya, karena ia merupakan hukum asal sholat, kemudian ditambah bilangan rakaat sholat fardu itu ketika sedang tidak dalam perjalanan sebagaimana yang diterangkan oleh hadis Aisyah (r.a). Dalam kaitan ini Imam Abu Hanifah tidak mengemukakan
pandangannya itu berlandaskan akal semata, sebaliknya semata-mata berlandaskan tawqif (ketentuan syariat). Jumhur ulama mengatakan bahwa hadis Aisyah itu berkedudukan mawquf, hanya sampai kepada Aisyah (r.a).
FIQH HADITS :
1. Mengqasar sholat ketika dalam perjalanan menurut mazhab Hanafi adalah wajib. Mereka mengemukakan dalil untuk mendukung pendapatnya
berlandaskan dalil hadis yang mengatakan: “فرضت) “Diwajibkan). Menurut jumhur ulama, sholat qasar merupakan rukhsah dan mengerjakannya dengan sempurna adalah lebih diutamakan. Mereka mengatakan bahwa makna “فرضت “ialah ditetapkan berdasarkan firman Allah (s.w.t):
فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ (١٠١)
“… Apabila kamu musafir di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasar sholatmu…” (Surah al-Nisa’: 101)
2. Sholat Maghrib dan sholat Subuh tidak boleh mengalami perubahan, baik ketika bermukim maupun ketika bermusafir.
3. Disyariatkan memperpanjang bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat Subuh.
Wallahu a’lam bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT
HADITS KE 346 :
وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ, فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ
Dari Ali Ibnu Abu Tholib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu datang untuk melakukan sholat sedang imam berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia mengerjakan sebagaimana yang tengah dikerjakan oleh imam.” Riwayat Tirmidzi dengan sanad yang lemah.
MAKNA HADITS :
Sesungguhnya imam itu dilantik hanya untuk diikuti. Oleh itu, makmum dianjurkan bergabung dengan imam dalam bagian manapun dari sholatnya, baik dalam keadaan berdiri, rukuk, atau sujud, untuk merealisasikan pengertian al-iqtida’ (mengikuti) dan mengamalkan apa yang disebutkan di dalam Sunnah. Jumlah rakaat yang telah dilakukan oleh imam adalah perkara lain. Oleh itu, seorang makmum tidak dianggap telah mendapat satu rakaat kecuali apabila makmum sempat menjumpai imam dalam rakaat yang dimaksudkan sebelum imam mengangkat kepalanya dari rukuk.
FIQH HADITS :
Seseorang yang menjumpai imam diwajibkan bergabung dengannya dalam bagian manapun imam itu ketika mengerjakan sholatnya. Jika imam sedang berdiri atau rukuk, maka makmum hendaklah mendapat hitungan rakaat sesuai dengan bagian sholat yang didapatinya bersama imam. Jika dia sempat menjumpai imam sedang duduk atau sujud, maka dia hendaklah terus mengikutinya, namun tidak mendapat hitungan rakaat itu, sehingga dia harus menyempurnakan apa yang tertinggal sesudah imam salam.
Wallahu a’lam bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT
HADITS KE 345 :
وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( صَلُّوا عَلَى مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا الله, وَصَلُّوا خَلْفَ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا الله ) رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ
Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholatkanlah orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallah dan sholatlah di belakang orang yang telah mengucapkan laa ilaaha illallaah.” Riwayat Daruquthni dengan sanad lemah.
MAKNA HADITS :
Memandang tujuan utama sholat jenazah ialah mendo’akan mayat dan memohonkan ampunan baginya, maka setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimah syahadat termasuk kaum muslimin. Dengan kata lain, apabila mereka
mati, mereka berhak disholatkan jenazahnya sebagaimana lazimnya kaum muslimin, kecuali dalam keadaan tertentu seperti orang yang mati syahid di medan pertempuran.
Oleh karena sifat adil tidak termasuk syarat untuk membolehkan seseorang
imam sholat dan sahnya sholat, maka dibolehkan sholat sambil bermakmum di belakang orang yang pernah mengucapkan dua kalimah syahadat, sekalipun dia
adalah orang fasik.
FIQH HADITS :
1. Disyariatkan melakukan sholat jenazah bagi mayat kaum muslimin.
2. Barang siapa yang sah sholatnya, maka sah pula menjadi imam sholat.
Wallahu a’lam bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT
HADITS KE 344 :
وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُ; ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اِسْتَخْلَفَ اِبْنَ أُمِّ مَكْتُومٍ, يَؤُمُّ النَّاسَ, وَهُوَ أَعْمَى ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَأَبُو دَاوُد َ
وَنَحْوُهُ لِابْنِ حِبَّانَ: عَنْ عَائِشَة َ رَضِيَ الله عَنْهَا
Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam meminta Ibnu Ummu Maktum untuk menggantikan beliau mengimami orang-orang, padahal ia seorang buta. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.
Hadits serupa juga terdapat dalam riwayat Ibnu Hibban dari ‘Aisyah r.a.
MAKNA HADITS :
Orang buta boleh menjadi imam sholat dan tidak dimakruhkan selagi dia mampu menjaga dirinya dari najis dan memelihara etika serta faham hukum-hukum sholat Tetapi jika tidak mampu berbuat demikian, maka dia makruh menjadi imam
sholat.
Nabi (s.a.w) sering melantik Ibn Ummi Maktum menjadi penggantinya untuk mengurus kota Madinah sebanyak tiga belas kali. Ibn Ummi Maktum menjadi khalifah Nabi (s.a.w) dalam sholat dan dalam urusan-urusan yang lain.
FIQH HADITS :
Orang buta boleh menjadi imam sholat. Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara orang buta dengan orang sehat, karena masing-masing mereka memiliki keistimewaan tersendiri. Keutamaan orang buta
ialah tidak melihat perkara-perkara yang bisa membuat dirinya lalai sedangkan keutamaan orang sehat juga dapat menghindari diri dari terkena najis.
Jumhur ulama mengatakan bahwa orang yang melihat lebih diutamakan menjadi imam sholat, karena dia lebih mampu menghadap ke arah kiblat dengan cara berijtihad di samping mampu menjauhi dirinya daripada najis.
Wallahu a’lamu bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..

PERTANYAAN :
Assalamu’alaikum Ustadz.
1. setelah selesai sholat saya mendapati pada pakaian saya ada bangkai semut(nyamuk,lalat, kupu-kupu), sahkah sholat saya?
2. apakah semut, nyamuk, lalat, kupu-kupu dan serangga-serangga kecil termasuk kategori hewan yang darahnya tidak beredar/mengalir?
3. apakah ada ulama dari madzhab syafi’i yang berpendapat bahwa bangkai hewan yang tidak berdarah beredar/mengalir itu tidak najis?
4. diantara najis yang dima’fu adalah darah yang sedikit, darah yang sedikit itu berapa kadar ukurannya?
JAWABAN :
Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..
SHALAT MEMBAWA BANGKAI SEMUT, NYAMUT, LALAT SAAT SHALAT
Menurut pendapat yang menyatakan bahwa bangkai semut / lalat / nyamuk , kupu-kupu itu najis tapi dimakfu, maka shalatnya adalah sah asal tidak disengaja. Tapi menurut Al-Qoffal yang menganggap bangkai semut / lalat / nyamuk, kupu-kupu itu suci, maka shalatnya sah secara mutlak.
SHALATNYA SAH ASAL TIDAK DISENGAJA MEMBAWA BANGKAI SEMUT, LALAT,NYAMUK, KUPU-KUPU.
1. Sah karena bangkai semut(nyamuk,lalat, kupu-kupu) termasuk dalam kategori najis yang dimakfu asal tidak sengaja. Ini berdasarkan pendapat Ibnu Hajar Al-Asqalani seperti dikutip Al-Bakri dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 1/108
وأفتى الحافظ ابن حجر العسقلاني بصحة الصلاة إذا حمل المصلي ميتة ذباب إن كان في محل يشق الاحتراز عنه
Artinya: Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berfatwa sah shalatnya orang yang membawa bangkai lalat apabila berada di tempat yang susah menghindarinya.
Fatwa Ibnu Hajar diatas secara tersirat mensyaratkan apabila adanya bangkai semut(nyamuk,lalat, kupu-kupu) di baju kita saat shalat itu tidak sengaja. Kalau sengaja, maka shalatnya batal. Dalam konteks ini, Ba Alwi dalam Bughiyah Al-Mustarsyidin, hlm. 106 menyatakan:
واعلم أن النجاسة أربعة أقسام : قسم لا يعفى عنه مطلقاً وهو معروف ، وقسم عكسه وهو ما لا يدركه الطرف ، وقسم يعفى عنه في الثوب دون الماء وهو قليل الدم لسهولة صون الماء عنه ، ومنه أثر الاستنجاء فيعفى عنه في البدن ، والثوب المحاذي لمحله خلافاً لابن حجر ، وقسم عفي عنه في الماء دون الثوب وهو الميتة التي لا دم لها سائل حتى لو حملها في الصلاة بطلت ، ومنه منفذ الطير
Artinya: Najis itu ada empat bagian: (a) najis yang tidak dimaaafkan (dimakfu) secara mutlak dan itu sudah maklum; (b) najis yang dimakfu yaitu najis yang tidak terlihat mata; (c) najis yang dimakfu di baju tidak di air yaitu darah yang sedikit karena mudahnya menjaga air darinya, termasuk juga bekas istinjak maka dimaafkan di badan, dan pakaian yang lurus dengan tempatnya najis berbeda dengan pendapat Ibnu Hajar; (d) najis yang dimaafkan di air tidak di pakaian yaitu bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir sehingga kalau membawanya dalam shalat maka batal shalatnya, termasuk kotoran burung.
Semut(nyamuk, kupu-kupu) sama dengan lalat termasuk hewan yang tidak mengalir darahnya. Hukumnya darah dan bangkainya najis tapi dimakfu (dimaafkan). Al-Romli dalam Nihayatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, hlm. 1/81, menyatakan:
( ويستثنى ) من النجس ( ميتة لا دم لها سائل ) عن موضع جرحها إما بأن لا يكون لها دم أصلا أو لها دم لا يجري كالوزغ والزنبور والخنفساء والذباب … وقيس بالذباب ما في معناه من كل ميتة لا يسيل دمها
Artinya: Dikecualikan dari najis adalah bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya dari tempat lukanya baik karena tidak ada darah sama sekali atau ada darah tapi tidak mengalir seperti tokek, tawon, kumbang, lalat… dianalogikan dengan lalat yaitu semua hewan / serangga yang tidak mengalir darahnya.
SHALATNYA SAH SECARA MUTLAK KARENA SUCINYA BANGKAI SEMUT LALAT NYAMUK
Menurut Al-Qoffal, bangkai hewan yang tidak mengalir darahnya seperti semut, nyamuk, lalat, dll adalah suci. Al-Bakri dalam Ianah At-Tolibin, hlm. 1/108, mengutip pendapat Al-Qaffal:
(وكميتة) ولو نحو ذباب مما لا نفس له سائلة، خلافا للقفال ومن تبعه في قوله بطهارته لعدم الدم المتعفن، كمالك وأبي حنيفة.
Artinya: Bangkai (itu najis) walaupun dari hewan yang tidak mengalir darahnya seperti lalat. Ini berbeda dengan pendapat Al-Qaffal dan ulama yang sepakat dengannya yang menyatakan sucinya bangkai lalat dan semacamnya karena tidak adanya darah yang berbau sebagaimana pendapat Imam Malik dan Abu Hanifah.
Apabila mengikuti pendapat Al-Qaffal ini, maka shalatnya orang yang membawa bangkai saat shalat adalah sah secara mutlak baik sengaja atau tidak.
SERANGGA DAN HEWAN YANG TIDAK MENGALIR DARAHNYA
2. Iya. semut, nyamuk, lalat, kupu-kupu dan serangga-serangga kecil termasuk kategori hewan yang darahnya tidak beredar/mengalir. Diryah Al-Ithah dalam Fiqhul Ibadat ala Madzhab Al-Syafi’i, hlm. 1/54, menyatakan:
ميتة لا دم لها سائل (كالذباب والنحل والنمل والبق والخنفساء والبعوض والصراصير) إن سقطت في الماء من نفسها، أو بسبب الريح، أو كانت ناشئة فيه (كالدود الناشئ في الماء، ويقاس على ذلك دود الفاكهة والخل والجبن، فيعفى عنه)
Artinya: Bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir seperti lalat, tawon, semut, kumbang, nyamuk, kecoa … maka dimakfu (dimaafkan najisnya).
3. Semua ulama madzhab Syafi’i berpendapat bangkai hewan yang darahnya tidak mengalir itu najis tapi dimakfu. Dimakfu maksudnya secara hukum sama dengan suci.
4. Pendapat utama dalam madzhab Syafi’i adalah darah itu hukumnya najis baik sedikit atau banyak. Namun, ada sebagian pendapat dalam madzhab Syafi’i yang menyatakan bahwa kalau darah yang sedikit dimakfu (dimaafkan).
Menurut pendapat kedua ini, darah sedikit adalah yang tidak mengalir. Tidak ada ukuran yang pasti. Ukurannya adalah menurut kebiasaan (uruf) sama dengan kencing yang dimakfu. Wahbah Zuhaili menjelaskan najis yang dimakfu itu yang tidak terlihat mata. Dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, hl. 1/173, ia menyatakan:
مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ : لاَ يُعْفىَ عَن شَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ إِلاَّ مَا يَأْتِي : مَا لاَ يُدْرِكُهُ الْبَصَرُ الْمُعْتَدِلُ كَالدَّمِ الْيَسِيْرِ وَالْبَوْلِ الْمُتَرَشِّشِ .
Artinya: Dalam madzhab Syafi’i najis tidak dimaafkan kecuali yang tidak terlihat oleh pandangan mata yang normal seperti darah yang sedikit dan air kencing yang memercik.
Wallahu a’lamu bisshowab..

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT
HADITS KE 343 :
وَعَنْ أُمِّ وَرَقَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا, ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ
Dari Ummu Waraqah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk mengimami anggota keluarganya. Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah.
MAKNA HADITS :
Imam sholat memiliki kedudukan yang tinggi dan ia tidak patut dipegang kecuali kaum lelaki. Oleh itu, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah secara mutlak melarang wanita menjadi imam sholat. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad membolehkan wanita menjadi imam sholat, tetapi hanya untuk kaum wanita saja, tidak boleh menjadi imam sholat bagi kaum lelaki.
Adapun, Abu Tsaur dan al-Tabari membolehkan wanita menjadi imam sholat bagi kalangan keluarganya sendiri, meskipun diantara mereka terdapat lelaki karena berpegang kepada hadis Ummu Waraqah ini.
FIQH HADITS :
1. Duduk (tinggal) di rumah bagi wanita lebih utama daripada keluar berjihad.
2. Disyariatkan melakukan akad tadbir.
3. Salah satu mukjizat Rasulullah (s.a.w) adalah baginda dapat memberitakan peristiwa sebelum kejadiannya. Baginda memberitakan bahwa kelak Ummu Waraqah akan mati syahid.
4. Sah apabila wanita mengimami sholat bagi anggota keluarganya.
Wallahu a’lam bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..

PERTANYAAN :
Assalamualaikum Ustadz..
Sering kita temukan saat ini para pengikut ulama Saudi Arabia menfatwakan haramnya mencukur jenggot dan wajibnya merawat jenggot hingga panjang secara alami. Mereka pada umumnya secara keras mengatakan haram, benarkah?
JAWABAN :
Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..
Masalah ini termasuk dalam ranah khilaf para ulama sejak dahulu. Berikut ini kita tampilkan hadis dan atsar dalam masalah ini:
جَزُّوْا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوْا اللُّحَى خَالِفُوْا الْمَجُوْسَ (أخرجه مسلم رقم 260 عن أبى هريرة)
“Cukurlah kumis kalian dan biarkan jenggot kalian. Berbedalah dengan Majusi” (HR Muslim No 26o dari Abu Hurairah)
أَعْفُوْا اللُّحَى وَجَزُّوْا الشَّوَارِبَ وَغَيِّرُوْا شَيْبَكُمْ وَلاَ تَشَبَّهُوْا بِالْيَهُوْدِ وَالنَّصَارَى (أخرجه أحمد رقم 8657 والبيهقى رقم 673 عن أبى هريرة ، قال المناوى : بإسناد جيد)
“Biarkan jenggot kalian, potong kumis kalian, rubahlah uban kalian dan janganlah kalian menyamai dengan Yahudi dan Nashrani” (HR Ahmad No 8657 dan Baihaqi No 673 dari Abu Hurairah, sanadnya jayid)
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ (رواه البخاري رقم 5892 ومسلم رقم 259)
“Berbedalah kalian semua dengan Musyrikin. rawatlah jenggot kalian dan cukurlah kumis kalian” (HR Bukhari No 5892 dan Muslim No 259 dari Ibnu Umar)
Dalam riwayat ini perawi hadisnya adalah Abdullah bin Umar. Dalam riwayat Bukhari terdapat redaksi kelanjutan hadis diatas:
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا حَجَّ أَوِ اعْتَمَرَ قَبَضَ عَلَى لِحْيَتِهِ، فَمَا فَضَلَ أَخَذَهُ (رواه البخاري رقم 5892)
“Ibnu Umar ketika haji atau umrah memegang jenggotnya, maka apa yang melebihi (genggamannya) ia memotongnya” (HR Bukhari No 8592)
Al-Hafidz Ibnu Hajar menyampaikan riwayat yang lain:
وَقَدْ أَخْرَجَهُ مَالِك فِي الْمُوَطَّأ ” عَنْ نَافِع بِلَفْظِ كَانَ اِبْن عُمَر إِذَا حَلَقَ رَأْسه فِي حَجّ أَوْ عَمْرَة أَخَذَ مِنْ لِحْيَته وَشَارِبه ” (فتح الباري لابن حجر – ج 16 / ص 483)
“Dan telah diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwatha’ dari Nafi’ dengan redaksi: Ibnu Umar jika mencukur rambutnya saat haji atau umrah, ia juga memotong jenggot dan kumisnya” (Fath al-Baarii 16/483).
Dalam riwayat berbeda dinyatakan:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نُعْفِي السِّبَالَ إِلاَّ فِى حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ (ابو داود . إسناده حسن اهـ فتح الباري 350/10)
Dari Jabir bin Abdillah “Kami (Para Sahabat) memanjangkan jenggot kami kecuali saat haji dan umrah” (HR Abu Dawud, dinilai hasan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar)
Ahli hadis Abdul Haq al-‘Adzim berkata:
وَفِي الْحَدِيث أَنَّ الصَّحَابَة j كَانُوا يُقَصِّرُونَ مِنْ اللِّحْيَة فِي النُّسُكِ (عون المعبود ج 9 / ص 246)
“Di dalam riwayat tersebut para sahabat memotong dari jenggot mereka saat ibadah haji atau umrah” (Aun al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud 9/246)
Dari dua atsar ini menunjukkan bahwa mencukur jenggot tidak haram, karena Abdullah bin Umar dan Sahabat yang lain mencukurnya saat ibadah haji atau umrah. Kalaulah mencukur jenggot haram, maka tidak akan dilakukan oleh para sahabat, terlebih Abdullah bin Umar adalah sahabat yang dikenal paling tekun dalam meneladani Rasulullah Saw hingga ke tempat-tempat dimana Rasulullah pernah melakukan salat.
Imam an-Nawawi berkata:
(وَفِّرُوا اللِّحَى) فَحَصَلَ خَمْس رِوَايَات أَعْفُوا وَأَوْفُوا وَأَرْخُوا وَأَرْجُوا وَوَفِّرُوا وَمَعْنَاهَا كُلّهَا: تَرْكُهَا عَلَى حَالهَا. هَذَا هُوَ الظَّاهِر مِنْ الْحَدِيث الَّذِي تَقْتَضِيه أَلْفَاظه وَهُوَ الَّذِي قَالَهُ جَمَاعَة مِنْ أَصْحَابنَا وَغَيْرهمْ مِنْ الْعُلَمَاء. وَقَالَ الْقَاضِي عِيَاض رَحِمَهُ الله تَعَالَى يُكْرَه حَلْقهَا وَقَصّهَا وَتَحْرِيقهَا وَأَمَّا الْأَخْذ مِنْ طُولهَا وَعَرْضهَا فَحَسَن (شرح النووي على مسلم – ج 1 / ص 418)
“Dari 5 redaksi riwayat, makna kesemuanya adalah membiarkan jenggot tumbuh sesuai keadaannya. Ini berdasarkan teks hadisnya. Inilah pendapat sekelompok ulama Syafiiyah dan lainnya. Qadli Iyadl berkata: Makruh untuk memotong dan mencukur jenggot. Adapun memotong jenggot dari arah panjang dan lebarnya, maka bagus” (Syarah Muslim 1/418)
Dengan demikian, dapat disimpulkan:
«حَلْقُ اللِّحْيَةِ» ذَهَبَ جُمْهُوْرُ الْفُقَهَاءِ: الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِلَى أَنَّهُ يَحْرُمُ حَلْقُ اللِّحْيَةِ لأَنَّهُ مُنَاقِضٌ لِلأَمْرِ النَّبَوِيِّ بِإِعْفَائِهَا وَتَوْفِيْرِهَا … وَاْلأَصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ: أَنَّ حَلْقَ اللِّحْيَةِ مَكْرُوْهٌ (الموسوعة الفقهية ج 2 / ص 12894)
“Bab tentang mencukur jenggot. Mayoritas ulama fikih, yaitu Hanafiyyah, Malikiyah, Hanabilah dan satu pendapat dalam madzhab Syafiiyah menyatakan bahwa mencukur jenggot hukumnya haram, karena bertentangan dengan perintah Nabi untuk membiarkan jenggot hingga sempurna. Dan pendapat yang lebih unggul dalam madzhab Syafiiyah bahwa mencukur jenggot adalah makruh(Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah,2/12894)
Wallahu a’lamu bisshowab..

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT
HADITS KE 342 :
وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( صَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ, وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ, وَمَا كَانَ أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى الله عَزَّ وَجَلَّ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالنَّسَائِيُّ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان
Dari Ubay Ibnu Ka’ab Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat seorang bersama seorang lebih baik daripada sholatnya sendirian, sholat seorang bersama dua orang lebih baik daripada sholatnya bersama seorang, dan jika lebih banyak lebih disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.
MAKNA HADITS :
Sholat merupakan komunikasi antara seorang hamba dengan Allah. Jika sholat dilakukan dengan etika yang sempurna dan khusyuk, maka sholat itu lebih banyak pahalanya dan kemungkinan diterima di sisi-Nya adalah lebih besar. Rahmat Allah (s.w.t) telah menetapkan untuk tetap menerima sholat orang yang berlaku
sembrono ke dalam golongan orang yang sempurna sholatnya. Allah menerima juga sholat orang yang berbuat buruk terhadap sholatnya karena menghormati orang yang baik sholatnya dalam jamaah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) menganjurkan sholat berjamaah dan memperbanyak melakukan, sebab sholat berjamaah diterima oleh Allah (s.w.t).
FIQH HADITS :
1. Jumlah paling sedikit bagi sholat berjamaah adalah terdiri dari seorang makmum dan imam.
2. Keutamaan sholat berjamaah berbeda-beda antara satu sama lain tergantung kepada jumlah orang yang mengikutinya; semakin banyak jumlah jamaah yang turut mengikutinya, maka semakin afdhal sholat mereka itu.
Wallahu a’lam bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم
KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
BAB SHALAT BERJAMAAH DAN IMAM SHALAT
HADITS KE 341 :
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ, وَعَلَيْكُمْ السَّكِينَةُ وَالْوَقَارُ, وَلَا تُسْرِعُوا, فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا, وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau telah mendengar qomat, maka berjalanlah menuju sholat dengan tenang dan sabar, dan jangan terburu-buru. Apa yang engkau dapatkan (bersama imam) kerjakan dan apa yang tertinggal darimu sempurnakan.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.
MAKNA HADITS :
Orang yang hendak pergi ke masjid untuk mengerjakan sholat diperintahkan agar berjalan dengan langkah yang tenang dan berwibawa serta tidak boleh terburu-buru dan menengok ke sana ke mari, karena secara hukum dia telah berada dalam sholat. Untuk itu, dia mesti mengamalkan etika sebagaimana etika orang yang sedang sholat supaya langkahnya bertambah banyak. Setiap langkah yang diayunkannya itu terdapat pahala satu derajat. Lain halnya seandainya berjalan dengan terburu-buru, maka tidaklah dia sampai ke dalam shaf, melainkan dalam keadaan sudah lelah, hingga akhirnya dia tidak mampu merenungi makna bacaan
sholat dengan khusyuk.
FIQH HADITS :
1. Dilarang berjalan terburu-buru menuju ke masjid untuk mengerjakan sholat.
2. Dianjurkan tenang dan berjalan berwibawa ketika datang menuju ke tempat sholat.
3. Memperoleh keutamaan berjamaah dengan mendapati bagian manapun dari sholat imam itu.
4. Makmum disyariatkan bergabung dengan imam dalam keadaan apapun dia mendapati imam sholatnya.
5. Apa yang didapati oleh makmum dari sholat imamnya, maka itulah permulaan sholat baginya.
6. Menyempurnakan bagian sholat yang terlewatkan oleh makmum sesudah imam menyelesaikan sholatnya agar sholatnya sempurna.
Wallahu a’lam bisshowab..
Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.
Semoga bermanfaat. Aamiin..