logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 9 : JARAK MENGQASHAR SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 9 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم : ( لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِي أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرُدٍ; مِنْ مَكَّةَ إِلَى عُسْفَانَ ) رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ، كَذَا أَخْرَجَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jangan mengqashar sholat kurang dari empat burd, yakni dari Mekkah ke Usfan.” Diriwayatkan oleh Daruquthni dengan sanad lemah. Menurut pendapat yang benar hadits ini mauquf sebagaimana yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Di dalam Sunnah tidak terdapat hadis marfu’ yang sahih mengenai batasan jarak qasar ketika dalam musafir. Jadi masalah ini terbuka luas bagi ijtihad untuk memainkan peranannya. Menurut jumhur ulama, sholat boleh diqasar ketika dalam perjalanan yang menempuh jarak dua marhalah yang diperkirakan sama dengan empat burud. Menurut Imam Abu Hanifah, sholat boleh diqasar dalam jarak
tiga marhalah. Menurut sebagian ulama lain, sholat boleh diqasar dalam setiap perjalanan, tetapi pendapat ini dinilai tidak berlandaskan kepada kajian yang
mencukupi, karena hadis dalam bab ini meskipun sanadnya dhaif tetapi dikuatkan oleh hadis mawquf Ibn Khuzaimah yang sanadnya shahih.

FIQH HADITS :

Batasan minimum jarak perjalanan yang membolehkan seseorang melakukan sholat qasar sejauh empat burud atau 48 mil.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 8 : JAMAK TAKKHIR DAN JAMAK TAQDIM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 8 :

وَعَنْ مُعَاذٍ رضي الله عنه قَالَ: ( خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ، فَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Muadz Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami pernah pergi bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam perang Tabuk. Beliau Sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak serta Maghrib dan Isya’ dengan jamak. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam telah menetapkan waktu-waktu tertentu untuk mengerjakan sholat. Setiap sholat pada dasarnya mestilah dikerjakan dalam waktu-waktu yang telah
ditetapkan itu. Mengingat musafir merupakan salah satu faktor yang bisa mmenyebabkan kesusahan, maka syariat Islam memberi keringanan atau rukhsah
untuk menjamak dua sholat yang waktunya saling berdekatan berdekatan antara satu sama lain; sholat dzuhur r dengan sholat Asar disatukan, baik jamak taqdim
ataupun jamak ta’khir, demikian pula sholat Maghrib dengan sholat Isyak disatukan, baik jamak taqdim atau jamak ta’khir.

Jika perjalanan telah dimulai pada waktu sholat yang pertama, maka jamak yang dilakukan adalah jamak ta’khir. Jika perjalanan telah dimulai pada waktu sholat yang kedua, maka jamak yang dilakukan adalah jamak taqdim. Faktor yang membolehkan berbuat demikian adalah kesulitan dan hukumnya mubah, sedangkan hikmahnya adalah memberikan keringanan kepada orang yang sedang bermusafir. Melakukan sholat jamak di tempat tinggal hukumnya dilarang. Hadis-hadis yang menyebutkan hal ini mestilah ditafsirkan sebagai jamak formalitas saja, tetapi pada hakikatnya setiap sholat mesti dikerjakan pada waktunya, dimana sholat pertama dikerjakan pada akhir waktunya dan sholat yang kedua dikerjakan pada permulaan waktunya.

Imam Abu Hanifah tetap berpegang kepada kaidah asal dimana beliau mewajibkan setiap sholat dikerjakan pada waktunya yang telah ditetapkan, kecuali jamak taqdim di Arafah dan jamak ta’khir di Muzdalifah, karena adanya nash yang menerangkan hal tersebut. Beliau menjadikan jamak ini sebagai salah satu dari kesempurnaan manasik haji dan inilah yang menjadi faktor yang membolehkan jamak. Beliau mentafsirkan keadaan-keadaan yang disebutkan di dalam Sunnah berkaitan disyariatkan sholat jamak, bahwa jamak yang dimaksud itu adalah jamak formalitas saja.

FIQH HADITS :

Seseorang yang bermusafir disyariatkan menjamak dua sholat yang waktunya saling berdekatan antara satu sama lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 7 : SHALAT YANG BISA DIJAMAK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 7 :

وَعَنْ أَنَسٍ: ( كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ, ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا, فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ, ثُمَّ رَكِبَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةِ الْحَاكِمِ فِي “الْأَرْبَعِينَ” بِإِسْنَادِ اَلصَّحِيحِ: ( صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ, ثُمَّ رَكِبَ )وَلِأَبِي نُعَيْمٍ فِي “مُسْتَخْرَجِ مُسْلِمٍ”: ( كَانَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ, فَزَالَتْ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا, ثُمَّ اِرْتَحَلَ )

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Biasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila berangkat dalam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan sholat Dhuhur hingga waktu Ashar. Kemudian beliau turun dan menjamak kedua sholat itu. Bila matahari telah tergelincir sebelum beliau pergi, beliau sholat Dhuhur dahulu kemudian naik kendaraan. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu hadits riwayat Hakim dalam kitab al-Arba’in dengan sanad shahih: Beliau sholat Dhuhur dan Ashar kemudian naik kendaraan. Dalam riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Mustakhroj Muslim: Bila beliau dalam perjalanan dan matahari telah tergelincir, beliau sholat Dhuhur dan Ashar dengan jamak, kemudian berangkat.

MAKNA HADITS :

Mengingat musafir merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kesusahan, maka Islam memberikan keringanan kepada musafir untuk menjamak di antara dua sholat yang waktunya saling berdekatan seperti sholat dzuhur dengan sholat Asar dan sholat Maghrib dengan sholat Isyak, baik jamak ta’khir ataupun jamak taqdim. Ini merupakan salah satu dari rahmat kepada orang yang sedang musafir. Inilah pendapat jumhur ulama. Dari hadis ini mereka berkesimpulan bahwa boleh melakukan jamak ta’khir dan dari hadis ini pula kemudian disimpulkan boleh melakukan jamak taqdim.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh melakukan jamak di antara kedua sholat, baik jamak taqdim maupun jamak ta’khir. Beliau mentakwil hadis-hadis yang menyebut masalah jamak ini dengan mengatakan bahwa jamak yang disebutkan oleh hadis-hadis tersebut hanyalah dalam bentuk formalitas saja. Dengan kata lain mengerjakan sholat pertama di akhir waktunya dan sholat yang kedua pada permulaan waktunya. Barang siapa yang memandang kepada dzahir hadis ini, dia pasti meyakini bahwa kedua sholat itu dilakukan secara jamak; dan barang siapa yang memandang hakikat hadis ini, maka dia yakin bahwa kedua sholat tersebut dikerjakan pada waktunya masing-masing.

FIQH HADITS :

Seorang yang bepergian diperbolehkan melakukan jamak taqdim dan jamak ta’khir diantara dua sholat yang waktu saling berdekatan antara satu sama lain. Inilah pendapat Imam Malik, Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i. Menurut suatu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad, musafir hanya dibolehkan melakukan jamak ta’khir.

Menurut Imam Abu Hanifah, orang yang musafir tidak dibolehkan
melakukan sholat jamak, baik jamak taqdim ataupun jamak ta’khir. Beliau mentafsirkan hadis yang menerangkan bahwa Nabi (s.a.w) melakukan sholat jamak dalam bentuk formalitas saja, yakni melakukan sholat Dzuhur di akhir waktunya dan mengerjakan sholat Asar pada permulaan waktu. Begitu pula dengan sholat Maghrib dan sholat Isyak. Boleh melakukan jamak taqdim di ‘Arafah untuk menjamak sholat Dzuhur dengan sholat Asar, dan jamak ta’khir untuk menjamak sholat Maghrib dengan sholat Isyak di Muzdalifah. Hal ini merupakan satu bentuk kesempurnaan untuk manasik haji.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 6 : MASA MENGQASHAR SHALAT BAGI MUSAFIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 6 :

عَن ابن عباس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم أَقَامَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْماً يَقْصُرُ . وفي اللفظ الآخر: أَقَامَ بِـمَكَّةَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَوْمًا. رواه البخاري. وفي رواية لأبي دود : سَبْعَ عَشَرَةَ. وفي أخرى خَمْسَ عَشَرَةَ. وَلَهُ عن عِمران ابن حُصِيْن : ثَمَانِي عَشَرَة. وَلَهُ عَنْ جَابِرٍ : أَقَامَ بِتَبُوك عِشْرِيْنَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ. وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ، إلَّا أنَّهُ أُخْتُلِفَ فِيْ وَصْلِهِ.

Dari Ibnu Abbas (r.a), beliau berkata: “Nabi (s.a.w) bermukim (tinggal) selama sembilan belas hari dalam keadaan tetap mengqasar sholat.” Menurut lafaz lain disebutkan: “Di Mekah selama sembilan belas hari.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari) Menurut riwayat Abu Dawud: “Tujuh belas hari.” Menurut riwayat yang lain: “Lima belas hari.” Abu Dawud melalui Imran ibn Hushain menyebutkan: “delapan belas hari.” Menurut riwayat Abu Dawud dari Jabir (r.a) disebutkan: “Nabi
(s.a.w) tinggal di Tabuk selama dua puluh hari dalam keadaan tetap mengqasar sholat.” (Periwayat hadis ini tsiqah. Namun ulama berselisih dalam masalah maushul ataupun tidak).

MAKNA HADITS :

Hadis-hadis yang menerangkan Nabi (s.a.w) tinggal di Mekah pada tahun pembebasan kota Mekah sangat banyak dan berbeda-beda antara satu sama lain. Ada yang mengatakan lima belas hari, tujuh belas hari, delapan belas hari, sembilan belas hari, dan dua puluh hari.

Al-Baihaqi berkata: “Riwayat paling sahih ialah mengatakan sembilan belas hari.” Al-Haramain dan al-Baihaqi menggabungkan kesemua riwayat tersebut dimana ulama yang mengatakan sembilan belas hari itu karena menghitung hari kedatangan dan hari kepulangan. Ulama yang mengatakan tujuh belas hari
karena membuang hari-hari kedatangan dan kepulangan, sedangkan ulama yang mengatakan delapan belas hari itu karena membuang salah satu dari kedua hari tersebut. Ulama yang mengatakan lima belas hari meyakini bahwa asal mukim selama tujuh belas hari, kemudian hari kedatangan dan hari kepulangan tidak dikira.

Riwayat yang mengatakan dua puluh hari, meskipun sanadnya sahih namun ia syadz (menyalahi pendapat orang lain kebanyakan) karena bertentangan dengan
riwayat jamaah. Riwayat yang mengatakan sembilan belas hari lebih kuat, sebab periwayatnya lebih banyak.

Nabi (s.a.w) mengqasar sholat selama baginda tinggal di Mekah, karena setiap hari baginda ragu antara ingin menetap untuk sementara waktu di Mekah dan berangkat pulang menuju Madinah. Nabi (s.a.w) terus mengqashar sholat, karena pada prinsipnya baginda masih berada dalam keadaan musafir yang tidak menentu melainkan setelah betul-betul berniat untuk tinggal di daerah itu.

Ulama berbeda pendapat mengenai masa tempat tinggal yang bisa menghilangkan hukum musafir. Menurut jumhur ulama, niat tinggal selama empat hari. Menurut Imam Abu Hanifah, tidak ada yang bisa memutuskan hukum musafir kecuali telah berniat tinggal selama lima belas hari.

Dari sini disimpulkan bahwa Islam tidak membatasi, baik dalam al-
Qur’an ataupun dalam Sunnah, mengenai masa bertempat tinggal yang bisa memutuskan hukum musafir secara nash. Oleh itu, masalah ini hendaklah tetap
senantiasa menjadi ruang untuk berijtihad.

FIQH HADITS :

1. Orang yang bermukim sah bermakmum kepada orang yang bermusafir tanpa adanya hukum makruh dan orang yang bermukim hendaklah menyempurnakan sholatnya sesudah imam bersalam.

2. Imam harus memberitahu keadaan sholatnya kepada orang yang bermakmum kepadanya karena ini mengikuti amalan Nabi (s.a.w).

3. Menjelaskan masa tinggal dimana apabila seorang yang bermusafir hendak bermukim, maka dia mestilah menyempurnakan sholatnya dan tidak boleh mengqashar sholat setelah itu. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa waktu seseorang yang bermusafir mesti menyempurnakan sholatnya setelah lima belas hari bermukim di suatu daerah tertentu. Imam
Malik dan Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa itu dilakukan setelah bermukim empat hari, selain hari keberangkatan dan hari kepulangan. Imam Ahmad mengatakan bahwa sholat mesti disempurnakan apabila lebih empat hari bermukim di suatu daerah. Manakala seseorang yang masih ragu tentang masa dia untuk bermukim lantaran menunggu urusan selesai, maka jumhur ulama dalam satu riwayat dari Imam al-Syafi’i berkata: “Seseorang itu boleh mengqashar sholatnya selama urusannya masih belum selesai, karena pada dasarnya dia masih dikategorikan sebagai musafir. Namun menurut pendapat yang masyhur di sisi Imam al-Syafi’i, boleh mengqasar sholat selama delapan belas hari saja.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 5 : SHALAT YANG BISA DIQASHAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 5 :

وَعَنْهُ قَالَ: ( خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنْ اَلْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ، فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى اَلْمَدِينَةِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Pernah kami keluar bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dari Madinah ke Mekkah. Beliau selalu sholat dua rakaat-dua rakaat sampai kami kembali ke Madinah. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.

MAKNA HADITS :

Antara kasih sayang Allah kepada hamba-Nya ialah mereka disyariatkan mengqasar sholat semasa dalam perjalanan. Hal ini merupakan satu nikmat yang boleh dilakukan secara berterusan selagi seseorang itu masih berada dalam perjalanan dan masih belum menetap di daerah tertentu.

Jumhur ulama berkata: “Jika seseorang yang bermusafir berniat tinggal di suatu daerah selama empat hari, maka setelah itu hukum musafir sudah dianggap habis dan dia mesti mengerjakan sholatnya dengan sempurna.”

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa bertempat tinggal yang dapat memutuskan hukum musafir ialah bertempat tinggal selama lima belas hari di suatu tempat. Jika hamba seseorang itu melarikan diri atau untanya hilang lalu dia mencarinya atau mempunyai urusan yang tidak diketahui bila urusan itu selesai, maka orang itu dibolehkan mengqasar sholat secara berterusan hingga urusannya itu selesai.

Mazhab al-Syafi’i memberi batasan maksimum untuk mengqasar sholat selama delapan belas hari. Setelah itu orang yang bersangkutan mesti mengerjakan sholatnya dengan sempurna.

FIQH HADITS :

Disyariatkan mengqasar sholat empat rakaat selama dalam perjalanan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 4 : JARAK DIPERBOLEHKAN MENGQASHAR SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 4 :

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلَاثَةِ أَمْيَال ٍ أَوْ فَرَاسِخَ, صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ) رَوَاهُ مُسْلم

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila keluar bepergian sejauh tiga mil atau farsakh, beliau sholat dua rakaat. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Syarat dibolehkan mengqasar sholat ialah hendaklah musafir menempuh perjalanan sejauh empat burud. Ia boleh memulai sholat qasar itu bila telah meninggalkan pusat kota. Ulama berbeda pendapat mengenai jarak yang membolehkan seseorang mengqasar sholat. Menurut jumhur ulama, perjalanan itu mestilah sejauh dua marhalah, menurut Imam Abu Hanifah tiga marhalah, sedangkan menurut mazhab dzahiri tiga mil, karena berlandaskan hadis Aisyah (r.a) ini. Jumhur ulama menyanggah batasan yang ditentukan oleh hadis ini. Batasan yang disebutkan dalam hadis ini masih diragukan dan oleh karenanya, ia tidak dapat dijadikan sebagai hujah. Mereka berpegang kepada hadis Ibnu Abbas (r.a) yang menyebutkan:

لَا تَقْصُرُوا الصَّلَاةَ فِيْ أَقَلَّ مِنْ أَرْبَعَةِ بُرَدٍ (رواه البيهقي بسند صحيح)

“Janganlah kamu mengqasar sholat dalam jarak kurang dari empat burud.” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang sahih)

FIQH HADITS :

Boleh mengqasar sholat empat rakaat dalam perjalanan dengan mempersingkatnya menjadi dua rakaat. Ulama berselisih pendapat mengenai jarak perjalanan yang
membolehkan seseorang mengqasar sholat. Mazbab Hanafi mengatakan bahwa setidaknya perjalanan itu memerlukan masa tiga hari atau tiga malam mengikut ukuran hari atau malam yang paling singkat dalam satu tahun dan perjalanan itu ditempuh dengan kecepatan sederhana seperti kecepatan unta biasa berjalan. Perjalanan ini diperkirakan sejauh 72 mil. Jumhur ulama mengatakan bahwa
perjalanan yang membolehkan qasar sholat adalah sejauh dua marhalah, yaitu 48 mil atau empat burud.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 3 : KEUTAMAAN MENGERJAKAN RUKHSAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 3 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ الله يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ, وَابْنُ حِبَّانَ وَفِي رِوَايَةٍ: ( كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ )

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka bila rukhshoh (keringanan)-Nya dilaksanakan sebagaimana Dia benci bila maksiatnya dilaksanakan.” Riwayat Ahmad. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban. Dalam suatu riwayat: “Sebagaimana Dia suka bila perintah-perintah-Nya yang keras dilakukan.”

MAKNA HADITS :

Islam merupakan agama toleransi, di dalamnya tidak ada barang tekanan dan beban yang melebihi kemampuan orang mukallaf. Allah (s.w.t) berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (١٨٥)

… Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu….” (Surah al-Baqarah: 185)

Allah suka apabila hamba-Nya mengerjakan apa yang telah diberi keringanan oleh-Nya sebagai bukti ketaatan kepada-Nya, sebagaimana Allah benci apabila perbuatan durhaka terhadap-Nya dikerjakan karena melanggar perintah-Nya. Allah ridha terhadap orang yang berpegang teguh kepada apa yang telah ditetapkan-Nya demi memperoleh ridha-Nya.

FIQH HADITS :

Mengerjakan rukhsah lebih diutamakan dibanding mengerjakan ‘azimah. Allah (s.w.t) berfirman:

يُرِيدُ الله بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ (١٨٥)

“… Allah menghendaki kemudahan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagi kamu….” (Surah al-Baqarah: 185)

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADTS KE 2, JILID II : RUKHSAH DALAM PERJALANAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ORANG BEPERGIAN DAN ORANG SAKIT

HADITS KE 2 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله عَنْهَا; ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْصُرُ فِي السَّفَرِ وَيُتِمُّ, وَيَصُومُ وَيُفْطِرُ ) رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ, وَرُوَاتُهُ ثِقَاتٌ. إِلَّا أَنَّهُ مَعْلُول ٌوَالْمَحْفُوظُ عَنْ عَائِشَةَ مِنْ فِعْلِهَا, وَقَالَتْ: ( إِنَّهُ لَا يَشُقُّ عَلَيَّ ) أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيّ ُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam adakalanya mengqashar sholat dalam perjalanan dan adakalanya tidak, kadangkala puasa dan kadangkala tidak. Riwayat Daruquthni. Para perawinya dapat dipercaya, hanya saja hadits ini ma’lul. Adapun yang mahfudh dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu adalah dari perbuatannya, dan dia berkata: Sesungguhnya hal itu tidak berat bagiku. Dikeluarkan oleh Baihaqy

MAKNA HADITS :

Dalam perjalanan diperbolehkan mengqasar dan menyempurnakan sholat, sebagaimana juga diperbolehkan berbuka dan puasa, karena berbuka dan qasar merupakan satu keringanan (rukhsah). Barang siapa yang lebih menyukai ‘azimah, maka itu dia boleh melakukan dan barang siapa yang ingin mengambil rukhsah, maka itu lebih diutamakan baginya, kerana Allah menyukai apabila rukhsah-Nya dikerjakan, sebagaimana suka apabila ‘azimah-Nya dikerjakan.

FIQH HADITS :

1. Dalam perjalanan diperbolehkan mengqasar sholat.

2. Dalam perjalanan diperbolehkan berbuka puasa.

3. Dalam perjalanan diperbolehkan mengerjakan sholat dengan sempurna.

4. Dalam perjalanan tetap diperbolehkan berpuasa.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

BIODATA LENGKAP 25 NABI DAN RASUL

BIODATA LENGKAP 25 NABI DAN RASUL

1. ADAM AS.
Nama: Adam As.
Usia: 930 tahun.
Periode sejarah: 5872-4942 SM.
Tempat turunnya di bumi: India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab.
Jumlah keturunannya: 40 laki-laki dan perempuan.
Tempat wafat: India, ada yang berpendapat di Mekkah.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 25 kali.

2. IDRIS AS.
Nama: Idris/Akhnukh bin Yarid, nama Ibunya Asyut.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As.
Usia: 345 tahun di bumi.
Periode sejarah: 4533-4188 SM.
Tempat diutus: Irak Kuno (Babylon, Babilonia) dan Mesir (Memphis).
Tempat wafat: Allah mengangkatnya ke langit dan ke surga.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali.

3. NUH AS.
Nama: Nuh/Yasykur/Abdul Ghaffar bin Lamak.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As.
Usia: 950 tahun.
Periode sejarah: 3993-3043 SM.
Tempat diutus (lokasi): Selatan Irak.
Jumlah keturunannya: 4 putra (Sam, Ham, Yafits dan Kan’an).
Tempat wafat: Mekkah.
Sebutan kaumnya: Kaum Nuh.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 43 kali.

4. HUD AS.
Nama: Hud bin Abdullah.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ ‘Aush (‘Uks) ⇒ ‘Ad ⇒ al-Khulud ⇒ Rabah ⇒ Abdullah ⇒ Hud As.
Usia: 130 tahun.
Periode sejarah: 2450-2320 SM.
Tempat diutus: Al-Ahqaf (antara Yaman dan Oman).
Tempat wafat: Bagian Timur Hadhramaut Yaman.
Sebutan kaumnya: Kaum ‘Ad.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 7 kali.

5. SHALIH AS.
Nama: Shalih bin Ubaid.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Iram (Aram) ⇒ Amir ⇒ Tsamud ⇒ Hadzir ⇒ Ubaid ⇒ Masah ⇒ Asif ⇒ Ubaid ⇒ Shalih As.
Usia: 70 tahun.
Periode sejarah: 2150-2080 SM.
Tempat diutus: Daerah al-Hijr (Mada’in Shalih, antara Madinah dan Syria).
Tempat wafat: Mekkah.
Sebutan kaumnya: Kaum Tsamud.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 10 kali.

6. IBRAHIM AS.
Nama: Ibrahim bin Tarakh.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As.
Usia: 175 tahun.
Periode sejarah: 1997-1822 SM.
Tempat diutus: Ur, daerah selatan Babylon (Irak).
Jumlah keturunannya: 13 anak (termasuk Nabi Ismail As. dan Nabi Ishaq As.). Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron, Palestina/Israel).
Sebutan kaumnya: Bangsa Kaldan.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 69 kali.

7. LUTH AS.
Nama: Luth bin Haran.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Haran ⇒ Luth As.
Usia: 80 tahun.
Periode sejarah: 1950-1870 SM.
Tempat diutus: Sodom dan Amurah (Laut Mati atau Danau Luth).
Jumlah keturunannya: 2 putri (Ratsiya dan Za’rita).
Tempat wafat: Desa Shafrah di Syam (Syria).
Sebutan kaumnya: Kaum Luth.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 27 kali.

8. ISMAIL AS.
Nama: Ismail bin Ibrahim.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As.
Usia: 137 tahun.
Periode sejarah: 1911-1774 SM.
Tempat diutus: Mekah.
Jumlah keturunannya: 12 anak.
Tempat wafat: Mekkah.
Sebutan kaumnya: Amaliq dan Kabilah Yaman.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 12 kali.

9. ISHAQ AS.
Nama: Ishaq bin Ibrahim.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As.
Usia: 180 tahun.
Periode sejarah: 1897-1717 SM.
Tempat diutus: Kota al-Khalil (Hebron) di daerah Kan’an (Kana’an).
Jumlah keturunannya: 2 anak (termasuk Nabi Ya’qub As./Israel).
Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron).
Sebutan kaumnya: Bangsa Kan’an.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 17 kali.

10. YA’QUB AS.
Nama: Ya’qub/Israel bin Ishaq.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As.
Usia: 147 tahun.
Periode sejarah: 1837-1690 SM.
Tempat diutus: Syam (Syria).
Jumlah keturunannya: 12 anak laki-laki (Rubin, Simeon, Lewi, Yahuda, Dan, Naftali, Gad, Asyir, Isakhar, Zebulaon, Yusuf dan Benyamin) dan 2 anak perempuan (Dina dan Yathirah).
Tempat wafat: Al-Khalil (Hebron), Palestina.
Sebutan kaumnya: Bangsa Kan’an.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 18 kali.

11. YUSUF AS.
Nama: Yusuf bin Ya’qub.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As.
Usia: 110 tahun.
Periode sejarah: 1745-1635 SM.
Tempat diutus: Mesir.
Jumlah keturunannya: 3 anak; 2 laki-laki dan 1 perempuan.
Tempat wafat: Nablus.
Sebutan kaumnya: Heksos dan Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 58 kali.

12. AYYUB AS.
Nama: Ayyub bin Amush.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayub As.
Usia: 120 tahun.
Periode sejarah: 1540-1420 SM.
Tempat diutus: Dataran Hauran.
Jumlah keturunannya: 26 anak.
Tempat wafat: Dataran Hauran.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Amori, di daerah Syria dan Yordania.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 4 kali.

13. SYU’AIB AS.
Nama: Syu’aib bin Mikail.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Madyan ⇒ Yasyjur ⇒ Mikail ⇒ Syu’aib As.
Usia: 110 tahun.
Periode sejarah: 1600-1490 SM.
Tempat diutus: Madyan (pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai).
Jumlah keturunannya: 2 anak perempuan.
Tempat wafat: Yordania.
Sebutan kaumnya: Madyan dan Ash-habul Aikah.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 11 kali.

14. MUSA AS.
Nama: Musa bin Imran, nama Ibunya Yukabad atau Yuhanaz Bilzal.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matisyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Musa As.
Usia: 120 tahun.
Periode sejarah: 1527-1407 SM.
Tempat diutus: Sinai di Mesir.
Jumlah keturunannya: 2 anak, Azir dan Jarsyun, dari istrinya bernama Shafura binti Syu’aib As.
Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang).
Sebutan kaumnya: Bani Israel dan Fir’aun (gelar raja Mesir).
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 136 kali.

15. HARUN AS.
Nama: Harun bin Imran, istrinya bernama Ayariha.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun As.
Usia: 123 tahun.
Periode sejarah: 1531-1408 SM.
Tempat diutus: Sinai di Mesir.
Tempat wafat: Gunung Nebu (Bukit Nabu’) di Jordania (sekarang).
Sebutan kaumnya: Bani Israel dan Fir’aun (gelar raja Mesir).
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 20 kali.

16. DZULKIFLI AS.
Nama: Dzulkifli/Bisyr/Basyar bin Ayyub.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ al-‘Aish ⇒ Rum ⇒ Tawakh ⇒ Amush ⇒ Ayyub As. ⇒ Dzulkifli As.
Usia: 75 tahun.
Periode sejarah: 1500-1425 SM.
Tempat diutus: Damaskus dan sekitarnya.
Tempat wafat: Damaskus.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Amori (Kaum Rom), Syria dan Yordania.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali.

17. DAUD AS.
Nama: Daud bin Isya.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As.
Usia: 100 tahun.
Periode sejarah: 1063-963 SM.
Tempat diutus: Palestina (dan Israel).
Jumlah keturunannya: 1 anak, Sulaiman As.
Tempat wafat: Baitul Maqdis (Yerusalem).
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 18 kali.

18. SULAIMAN AS.
Nama: Sulaiman bin Daud.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matisyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As.
Usia: 66 tahun.
Periode sejarah: 989-923 SM.
Tempat diutus: Palestina (dan Israel).
Jumlah keturunannya: 1 anak, Rahab’an.
Tempat wafat: Baitul Maqdis (Yerusalem).
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 21 kali.

19. ILYAS AS.
Nama: Ilyas bin Yasin.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Lawi ⇒ Azar ⇒ Qahats ⇒ Imran ⇒ Harun As. ⇒ Alzar ⇒ Fanhash ⇒ Yasin ⇒ Ilyas As.
Usia: 60 tahun di bumi.
Periode sejarah: 910-850 SM.
Tempat diutus: Ba’labak (Lebanon).
Tempat wafat: Diangkat Allah ke langit.
Sebutan kaumnya: Bangsa Fenisia.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 4 kali.

20. ILYASA’ AS.
Nama: Ilyasa’ bin Akhthub.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As. ⇒ Ifrayim ⇒ Syutlim ⇒ Akhthub ⇒ Ilyasa’ As.
Usia: 90 tahun.
Periode sejarah: 885-795 SM.
Tempat diutus: Jaubar, Damaskus.
Tempat wafat: Palestina.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arami dan Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 2 kali.

21. YUNUS AS.
Nama: Yunus/Yunan/Dzan Nun bin Matta binti Abumatta, Matta adalah nama Ibunya. (Catatan: Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya kecuali Yunus dan Isa As.).
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Ya’qub As. ⇒ Yusuf As. ⇒ Bunyamin ⇒ Abumatta ⇒ Matta ⇒ Yunus As.
Usia: 70 tahun.
Periode sejarah: 820-750 SM.
Tempat diutus: Ninawa, Irak.
Tempat wafat: Ninawa, Irak.
Sebutan kaumnya: Bangsa Asyiria, di utara Irak.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 5 kali.

22. ZAKARIYA AS.
Nama: Zakariya bin Dan.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakariya As.
Usia: 122 tahun.
Periode sejarah: 91 SM-31 M.
Tempat diutus: Palestina.
Jumlah keturunannya: 1 anak.
Tempat wafat: Halab (Aleppo).
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 12 kali.

23. YAHYA AS.
Nama: Yahya bin Zakariya.
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Aynaman ⇒ Yahfayath ⇒ Syalum ⇒ Nahur ⇒ Bal’athah ⇒ Barkhiya ⇒ Shiddiqah ⇒ Muslim ⇒ Sulaiman ⇒ Daud ⇒ Hasyban ⇒ Shaduq ⇒ Muslim ⇒ Dan ⇒ Zakariya As. ⇒ Yahya As.
Usia: 32 tahun.
Periode sejarah: 1 SM-31 M.
Tempat diutus: Palestina.
Tempat wafat: Damaskus.
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 5 kali.

24. ISA AS.
Nama: Isa bin Maryam binti Imran. (Catatan: Tidak ada dari para nabi yang dinasabkan ke Ibunya kecuali Yunus dan Isa As.).
Garis Keturunan: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ishaq As. ⇒ Yahudza ⇒ Farish ⇒ Hashrun ⇒ Aram ⇒ Aminadab ⇒ Hasyun ⇒ Salmun ⇒ Bu’az ⇒ Uwaibid ⇒ Isya ⇒ Daud As. ⇒ Sulaiman As. ⇒ Rahab’am ⇒ Radim ⇒ Yahusafat ⇒ Barid ⇒ Nausa ⇒ Nawas ⇒ Amsaya ⇒ Izazaya ⇒ Au’am ⇒ Ahrif ⇒ Hizkil ⇒ Misyam ⇒ Amur ⇒ Sahim ⇒ Imran ⇒ Maryam ⇒ Isa As.
Usia: 33 tahun di bumi.
Periode sejarah: 1 SM-32 M.
Tempat diutus: Palestina.
Tempat wafat: Diangkat oleh Allah ke langit.
Sebutan kaumnya: Bani Israel.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 21 kali, sebutan al-Masih sebanyak 11 kali, dan sebutan Ibnu (Putra) Maryam sebanyak 23 kali.

25. MUHAMMAD SAW.
Nama: Muhammad bin Abdullah.
Garis Keturunan Ayah: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As. ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad Saw.
Garis Keturunan Ibu: Adam As. ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qinan ⇒ Mihlail ⇒ Yarid ⇒ Idris As. ⇒ Matusyalih ⇒ Lamak ⇒ Nuh As. ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyad ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra’u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Tarakh ⇒ Ibrahim As. ⇒ Ismail As. ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya’rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma’ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu’ay ⇒ Ka’ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒ Muhammad Saw.
Usia: 63 tahun.
Periode sejarah: 570-632 M.
Tempat diutus: Mekkah.
Jumlah keturunannya: 7 anak; 3 laki-laki Qasim, Abdullah dan Ibrahim, dan 4 perempuan Zainab, Ruqayyah, Ummi Kultsum dan Fatimah az-Zahra.
Tempat wafat: Madinah.
Sebutan kaumnya: Bangsa Arab.
Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 25 kali.

(Disarikan dari: Qashash al-Anbiya’ Ibn Katsir, Badai’ az-Zuhur Imam as-Suyuthi dan selainnya)

Kategori
Uncategorized

D039. SELAMATAN HARI KETIGA s/d KESERIBU HARI SETELAH KEMATIAN

PERTANYAAN :
Assalamualaikum Ustadz

Bagaimana hukumnya melaksanakan selamatan pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu dari hari kematian mayit?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Hukum pelaksanaan selamatan tersebut makruh, bahkan haram, bila diambilkan dari harta tirkah(harta tetinggalan mayyit) yang mayitnya punya hutang, atau ahli waris mahjur alaih(yang tidak waras akalnya atau masih kecil), atau ahli waris ada yang tidak rela.*)

Catatan: hukum makruh di atas tidak sampai menghilangkan pahala shodaqoh

Pengambilan ibarat:

1. Asnal Matholib, juz I, hal. 335

2. Al-Fatawi Kubro, juz II, hal. 7

3. Ahkamul Fuqoha`, juz I, hal. 16

وفى أسنى المطالب، ج 1 ص 335، مانصه:

(ويكره لأهله) أى الميت (طعام) أى صنع الطعام (يجمعون عليه الناس) أخذا كصاحب الأنوار الكراهة من تعبير الروضة والمجموع بأن ذلك بدعة غير مستحب واستدل له فى المجموع بقول جرير بن عبد الله كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة رواه الإمام أحمد وابن ماجة بإسناد صحيح وليس فى رواية ابن ماجة بعد دفنه وهذا ظاهر فى التحريم فضلا عن الكراهة والبدعة الصادقة بكل منهما. (قوله وهذا ظاهر فى التحريم) لاخفاء فى تحريمه إن كان على الميت دين أو فى الورثة محجور عليه أو غائب وصنع ذلك من التركة. اهـ

وفى الفتاوى الكبرى، ج 2 ص 7، مانصه:

ولا يجوز ان يفعل شيئ من ذلك من التركة حيث كان فيها محجور عليه مطلقا أو كانوا كلهم رشداء لكن لم يرض بعضهم. اهـ

وفى أحكام الفقهاء، ج 1 ص 16، مانصه:

س: ما حكم تهيئة الاطعمة من أهل الميت لضيافة المعزين يوم الوفاة أو غيره وقصد بذلك التصدق عن الميت فهل لهم الثواب ذلك التصدق أو لا؟

ج: ان تهيئة الاطعمة يوم الوفاة أو ثالث أيامها أو سابعها مكروهة من حيث الإجتماع والتخصيص وتلك الكراهة لاتزيل ثواب الصدقة. اهـ

* ) Catatan Tim Redaksi:

Dalam kitab Qurrotul Ain bi Fatawi Isma’il Zain disebutkan bahwa walimah tersebut hukumnya boleh, bahkan termasuk qurubat(ibadah mendekatkan diri kepada Allah), dan orang yang melakukannya mendapatkan pahala sedangkan walimah tersebut dinamakan walimah wadlimah (وضيمة) dengan syarat: untuk walimah tidak diambilkan dari tirkah mayit(harta tetinggalan mayyit) yang ahli warisnya mahjur alaih (yang tidak waras akalnya atau yang masih kecil) atau ahli waris ada yang tidak rela.

Pengambilan Ibarat:

Qurrotul ‘Ain, hal. 91-92

وفى قرة العين بفتاوى الشيخ إسماعيل الزين، ص 91-99، مانصه:

فقد طلب منى من يعز علي أن أكتب عن الحديث الوارد فى مشكاة المصابيح وهو حديث كما ستراه اشتمل على فوائد جمة وأحكام مهمة وعن عاصم بن كليب عن أبيه عن رجل من الأنصار قال خرجنا مع رسول الله r فى جنازة فرأيت رسول الله r وهو على القبر يوصى الحافر يقول أوسع من قبل رجليه أوسع من قبل رأسه فلما رجع استقبله داعى امرأته(اي زوجة المتوفى) فأجاب ونحن معه فجيئ بالطعام فوضع يده ثم وضع القوم فأكلوا فنظرنا إلى رسول الله r يلوك لقمة فى فيه ثم قال أحد :” لحم شاة أخذت بغير إذن أهلها “,فأرسلت امرأة تقول” يا رسول الله إنى ارسلت الى النقيع وهو موضع يباع فيه الغنم ليشترى لى شاة فلم توجد فارسلت إلى جار لى قداشترى شاة ان يرسل إلي بثمنها فلم يوجد فارسلت إلى امرأته فارسلت إلي بها” فقال رسول الله r أطعمى هذا الطعام الاسرى (رواه أبو داود والبيهقى فى دلائل النبوة). اهـ ‑إلى أن قال‑ ومنها مسألة مهمة ولأجلها

كانت كتابة هذه الرسالة وهى ما يصنعه أهل الميت من الوليمة ودعاء الناس إليها للأكل فإن ذلك جائز كما يدل عليه الحديث المذكور بل هو قربة من القرب لأنه إما أن يكون بقصد حصول الأجر والثواب للميت, وذلك من أفضل القربات التى تلحق الميت باتفاق, وإما أن يكون بقصد إكرام الضيف والتسلى عن المصاب وبُعدا عن إظهار الحزن, وذلك أيضا من القربات والطاعات التى يرضاها رب العالمين ويثيب فاعلها ثوابا عظيما, وسواء كان ذلك يوم الوفاة عقب الدفن كما فعلته زوجة الميت المذكورة فى الحديث أو بعد ذلك, فالحديث نص صريح فى مشروعية ذلك, واما استحسانه والترغيب فيه وانه قربة وطاعة فمستفاد من معنى المشروعية وحكمتها جريا على قواعد أهل الشرع وأصولهم, ولا ينافى ذلك الحديث المشهور وهو قوله r (( اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد جاءهم ما يشغلهم)) لأن هذا الحديث يحتمل أن يكون خاصا بآل جعفر رضى الله عنهم اجمعين وان النبىr رأى من شدة حزنهم انهم لايستطيعون ان يصنعوا لأنفسهم طعاما فأمر أهل بيته أن يصنعوا لهم ذلك، لأن الخطاب فى الحديث لبعض أزواج رسول الله r ،قال ذلك حيثما بلغه حال آل جعفر رضى الله عنهم، فحينئذ يكون الحديث انما هو خصوصية لآل جعفر وواقعة عين فلا ينهض به الإستدلال على منع الوليمة من أهل الميت ولم يقل النبى r :((من مات له ميت فلا يولم ولا يطعم الناس )) ,ولم يجئ فى الحديث نهى رسول الله r اهل الميت عن الوليمة وان يطعموا غيرهم، بل الذى جاء فى الحديث ان أهل الميت أولموا واطعموا ودعوا الرسول r ومن معه فأجاب دعوتهم واقرهم على ذلك ولم ينكر عليهم، وقد جاء ان السيدة عائشة رضى الله عنها كانت إذا مات الميت من أهلها فاجتمع الناس ثم تفرقن إلا اهلها وخاصتها امرت ببرمة(االقدر) من تلبينة فطبخت ثم صنع ثريد فصبت التلبينة عليه ثم قالت “كلوه” الحديث كما فى البخارى. ومن ينظر فى قواعد الشرع بالنظر الصحيح يرى ان لا محذور فى وليمة أهل الميت إذا صنعوها واطعموا غيرهم تقربا إلى الله عز وجل وتسليا عن المصاب وإكراما للضيف النازلين عليهم للتعزية, ولكن قيد الفقهاء رحمهم الله تعالى بان لاتكون من مال الورثة القاصرين, وذلك لعدم صحة تبرعهم لا لأن الوليمة مذمومة من حيث هى بل هى محمودة وهى احد الولائم المشروعة وسمى بالوضيمة بالضاد المعجمة. وما جاء من جابر رضى الله عنه من قوله (( كنا نعد الإجتماع إلى اهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة)) فمحمول على ما إذا كان مع إظهار الحزن ووجود الجزع, واما إذا خلا من ذلك فلا مرية فى استحسانه جمعا بين الأحاديث ,ويكون بذلك قد انتظمت الادلة وتم الإستدلال وزال بما ذكرناه وجه الإشكال. وما يذكره الفقهاء رحمهم الله فى كتبهم فى مبحث الجنائز من قولهم: ويسن لجيران أهل الميت تهييئة طعام يشبعهم يومهم وليلتهم. اهـ محمول على ما ذكرناه من ان ذلك فى حق من غلب عليه الحزن كآل جعفر رضى الله عنهم وليس لهم دليل على كراهة الوليمة من أهل الميت مطلقا إلا ما ورد من حديث آل جعفر وحديث جرير وكأنهم لم يطلعوا على حديث عاصم بن كليب عن أبيه الذى هو نص فى الجواز ‑إلى أن قال‑ قال العلامة القارى فى المرقاة بعد ذكر حديث عاصم بن كليب المذكور ما نصه: هذا الحديث بظاهره يرد على ماقرره أصحاب مذهبنا من انه يكره اتخاذ الطعام فى اليوم الأول أو الثالث او بعد الأسبوع كما فى البزازية وذكر فى الخلاصة انه لايباح اتخاذ الضيافة عند ثلاثة ايام, وقال ابن الهمام: يكره اتخاذ الضيافة من أهل الميت، والكل عللوه بأنه شرع فى السرور لا فى الشرور قال وهى بدعة مستقبحة. روى الإمام أحمد وابن حبان بإسناد صحيح عن جرير بن عبد الله (( كنا نعد الإجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة. اهـ )) فينبغى ان يقيد كلامهم بنوع خاص من اجتماع يوجب استحياء أهل بيت الميت فيطعمونهم كرها, أو يحمل على كون بعض الورثة صغيرا أو غائبا او لم يعرف رضاه, أو لم يكن الطعام من عند أحد معين من مال نفسه لامن مال الميت قبل قسمته ونحو ذلك, انتهى الكلام القارى رحمه الله تعالى. وهذا كله كما هو ظاهر فيما إذا لم يوصى الميت باتخاذ الطعام واطعامه للمعزين الحاضرين, وإلا فيجب ذلك عملا بوصيته وتكون الوصية معتبرة من الثلث أى ثلث تركة الميت، قال فى التحفة جزء 3 ص 208 أثناء كلام ساقه: ومن ثم خالف ذلك بعضهم فأفتى بصحة الوصية باطعام المعزين وانه ينفد من الثلث وبالغ فنقله عن الأئمة. اهـ والله اعلم بالصواب.

Talbiinah adalah kuah dari tepung dicampur madu.

Wallahu a’lamu bisshowab..