logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

M104. HADITS KE 52 : HUKUM SHALAT SUNNAH SEBELUM DAN SESUDAH SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 52 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ, لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا ) أَخْرَجَهُ السَّبْعَةُ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat pada hari raya dua rakaat, beliau tidak melakukan sholat sebelum dan setelahnya. Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.

MAKNA HADITS :

Sholat sunat pada hari raya disyariatkan sebagai tanda syukur kepada Allah (s.w.t)
di atas semua nikmat yang telah dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya berupa
hidayah dan taufik hingga dapat menyempurnakan ibadah puasa pada hari raya idul fitri dan dapat menunaikan manasik haji pada hari raya idul adha.

Sholat hari raya berjumlah dua rakaat dengan tujuan memberi keringanan kepada umat manusia dan dilakukan sebelum dua khutbah karena kaum wanita dan anak-anak turut hadir di situ. Barang siapa yang hendak menghadiri dua khutbah, maka dia dibolehkan terus duduk dan barang siapa yang tidak ingin menyaksikannya, maka dia boleh terus pergi. Sholat hari raya adalah solat jahriyyah (yang bacaan ayatnya dengan suara kuat), meskipun ia termasuk sholat yang dikerjakan pada waktu siang hari, karena dengan ini diharapkan seluruh makmum dapat menikmati sekaligus merenungi bacaan Al-Qur’an.

Ulama bersepakat bahwa sholat hari raya itu terdiri daripada dua rakaat bagi orang yang menghadirinya di tempat sholat sejak mulai bersama imam. Barang siapa ketinggalan menurut pendapat Imam Ahmad, maka hendaklah dia melakukannya empat rakaat. Menurut Imam Abu Hanifah, seseorang itu
dibolehkan memilih antara dua rakaat atau empat rakaat. Sholat hari raya hukumnya sunat mu’akkad menurut pendapat jumhur
ulama. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah wajib, karena ada perintah untuk
mengerjakannya. Apabila melakukan sholat hari raya, maka tidak dibolehkan melakukan sholat sunat yang lain, baik sebelum ataupun sesudahnya agar masyarakat awam
tidak menyangka bahwa sholat hari raya adalah wajib di samping Nabi (s.a.w)
tidak pernah melakukan sholat sunat yang lainnya, baik sebelum ataupun
sesudahnya dan tidak pula memerintahkannya. Ini menunjukkan bahwa mengerjakan sholat sunat yang lain tidak disyariatkan, tetapi dibenarkan apabila seseorang telah pulang ke rumahnya, lalu dia mengerjakan sholat sunat di dalam rumahnya.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan jumlah rakaat sholat hari raya, yaitu sebanyak dua rakaat.

2. Tidak disyariatkan melakukan sholat sunat yang lain, baik sebelum ataupun sesudah sholat hari raya. Imam Ahmad mengatakan bahwa makruh melakukan sholat sunat sebelum dan sesudahnya. Imam al-Syaf’ii mengatakan bahwa orang lain selain imam boleh melakukan sholat sunat, baik sebelum ataupun sesudahnya, tetapi bagi imam itu dimakruhkan karena berdalilkan dengan hadis ini.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa makruh mengerjakan sholat sunat yang lain sebelum dan sesudah sholat hari raya apabila itu dilakukan di tempat sholat hari raya. Jika melakukan sholat sebelum itu di dalam rumah, maka hukumnya dimakruhkan. Mereka mengatakan bahwa melakukan sholat sesudahnya di dalam rumah hukumnya tidak dimakruhkan, karena berdalilkan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah yang akan dijelaskan dalam hadis no. 54.

Mazhab Maliki membeakan antara masjid dengan tempat sholat. Menurut mereka, makmum makruh mengerjakan sholat sunat di tempat sholat sebelum sholat hari raya, demikian pula sesudahnya, karena berdalilkan dengan hadis ini. Tetapi jika makmum mengerjakan sunat yang selainnya itu di dalam masjid, karena hujan dan lain-lain sebagainya, maka dia boleh mengerjakan sholat sunat sebelum sholat hari raya, yaitu sholat tahyatal masjid dan dibolehkan pula sesudahnya, karena tidak ada larangan mengenainya. Adapun bagi imam, maka hukumnya makruh secara mutlak tanpa ada perbedaan antara masjid dengan tempat sholat di tengah lapangan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T042. KERINGAT ORANG YANG MEMAKAN DAGING BABI, NAJISKAH ?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Mohon penjelasannya Apakah keringat orang yang makan babi najis ? Sehingga tidak boleh disentuh ? Syukron kyai.

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Apakah tubuh orang yang makan daging anjing itu najis seumur hidup ? Tidak najis selamanya,dikarenakan perut memiliki kekuatan untuk merubah dzat suatu benda dan mensucikannya.

تحفة المختاج في شرح المنهاج

لو أكل مغلظا ثم خرج منه لم يجب تسبيع المخرج لأن الجوف محيل مطهر لانا نقول الجوف لايحيل النجس الى الطهارة مطلقا

Jika ada orang makan anjing atau babi kemudian keluar lagi daging anjing tersebut dari dalam orang yang makan tersebut, maka baginya tidak wajib membasuh 7 kali pada tempat keluarnya tersebut (DUBUR) dikarenakan perut memiliki kekuatan untuk merubah dzat suatu benda dan mensucikannya. dikarenakan kita (Syafiiyyah) menyatakan bahwa perut ini tidak bisa merubah dzatiyah benda najis menjadi suci secara mutlak.

Keringatnya orang yang memakan daging babi tetap suci karena bukan benda yang keluar dari dua lobang depan-belakang, juga bukan muntah :

وخرج بقوله من السبيلين الخارج من بقية المنافذ فهو طاهر الا القيئ الخارج من الفم بعد وصوله الى المعدة.الباجوري ١ / ١٠٠

KERINGAT MANUSIA PEMAKAN NAJIS

Dalam kitab Fiqh ulama secara tegas menyatakan bahwa keringat manusia hukumnya adalah suci. Mereka tidak membedakan status si Pemakan dan apa yang dikonsumsinya. Imam Nawawi menyatakan ; Keringat, air ludah dan air mata itu sama, baik berasal dari orang yang berhadats besar, orang muslim, orang kafir, hewan jinak dan hewan buas, yakni kesemuanya dihukumi suci. Kecuali jika berasal dari anjing dan babi serta anak turun keduanya.

Beliau hanya mengecualikan keringat yang berasal dari anjing dan bagi, ini bukan berarti hukum asli dari keringat adalah najis, akan tetapi najisnya keringat sebab bersinggungan dengan badannya anjing dan babi tersebut yang secara otomatis membuat keringat yang berupa cairan menjadi ikut najis juga.

Perihal keringat manusia pun beliau tidak membedakan itu manusianya siapa dan bagaimana keadaan tubuhnya – dalam keadaan berhadats atau tidak – serta tidak menyinggung sama sekali harus manusia yang menkonsumsi ini dan itu yang bisa dihukumi suci keringatnya.

Dan mengenai manusia yang mengkonsumsi barang najis apakah badannya menjadi najis ? Hal ini meskipun tidak ada tekstual yang shorih dalam kitab fiqh klassik kita, namun ini bisa kita raba dengan ;

1.Tubuh manusia tidak bisa berubah menjadi najis sebab masuknya barang najis ke dalam tubuh. Mau tidak mau ini harus kita terima, sebab meskipun kita tidak pernah mengkonsumsi barang najis, tapi pada akhirnya segala sesuatu yang masuk ke dalam perut dan berubah ini akan menjadi barang najis yang keluar menjadi kotoran dan kencing. Bila najis dalam perut ini bisa menyebabkan najisnya badan, maka tidak ada satupun manusia yang sah sholatnya sebab badannya dihukumi najis.

2.Pernyataan ulama bahwa anggota bathin ini tidak bisa dihukumi Mutanajjis meskipun bersinggungan dengan barang najis.

3.Pemasalahan hewan pemakan kotoran manusia dan semisalnya. Dalam hal ini tidak satu pun ulama yang menyatakan dagingnya hewan tersebut menjadi najis. Meskipun ada ulama yang mengharamkan memakan dagingnya, tapi keharaman ini bukan berangkat dari hukum najis, melainkan daging hewan pemakan daging ini akan berubah menjadi bacin sehingga haram untuk dimakan. Jadi karena bacinnya bukan karena najis.

4.Dalam ilmu pengetahuan umum, keringat tidaklah berasal dari cairan yang terdapat dalam perut. Akan tetapi cairan yang dikeluarkan oleh KELENJAR KERINGAT pada mamalia.

5.Sesuatu yang keluar tidak melalui dua saluran pembuangan hukumnya adalah suci kecuali muntahan yang sudah berubah dan air liur yang berasal dari perut.

KESIMPULANNYA :
Keringat yang berasal dari tubuh manusia tetap dihukumi suci meskipun yang ia konsumsi setiap hari adalah barang najis semisal daging babi dan anjing. Wallohu A’lam. (Fakhrur Rozy, Ghufron Bkl, Muhammad Harsandi Kudung Kantil).

– Al-Umm, juz. 1 halaman. 18 – Maktabah Syameela :

ولا ينجس عرق جنب ولا حائض من تحت منكب ولا مأبض ولا موضع متغير من الجسد ولا غير متغير فإن قال قائل وكيف لا ينجس عرق الجنب والحائض قيل بأمر ( ( ( أمر ) ) ) النبي صلى الله عليه وسلم الحائض بغسل دم الحيض من ثوبها ولم يأمرها بغسل الثوب كله والثوب الذي فيه دم الحيض الإزار ولا شك في كثرة العرق فيه وقد روى عن بن عباس وبن عمر أنهما كانا يعرقان في الثياب وهما جنبان ثم يصليان فيها ولا يغسلانها

– Al-Hawi Fi Fiqh Asy-Syafii, juz. 15 halaman. 147 – Maktabah Syameela :

فصل : روى مجاهد عن ابن عمر أن النبي – صلى الله عليه وسلم – نهى عن أكل الجلالة وألبانها وروى نافع عن ابن عمر أن النبي – صلى الله عليه وسلم – نهى عن الجلالة والمجثمة وعن المصبورة . فأما الجلالة فهي التي ترعى الجلة ، وهي البعر والعذرة ، فحمل بعض أصحاب الحديث النهي على التحريم ، وبه قال سفيان الثوري ، وأحمد بن حنبل . وعندي أنه محمول على الكراهة دون التحريم ، لأن النهي عنها وارد ، لأجل ما تأكله من الأنجاس ، وهي تغتذيه في كرشها ، والعلف الطاهر ينجس في الكرش ، فساوى في حصوله منه حال النجس ، ولأن لحوم ما ترعى الأنجاس نتن ، وأكل اللحم إذا نتن يحرم ، وإذا كان هكذا فكلما كان أكثر غذائه رعي الأنجاس كان أكل لحمه وشرب لبنه مكروها .

– Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz. 2 halaman 559 :

559واعلم انه لا فرق في العرق واللعاب والمخاط والدمع بين الجنب والحائض والطاهر والمسلم والكافر والبغل والحمار والفرس والفار وجميع السباع والحشرات بل هي طاهرة من جميعها ومن كل حيوان طاهر وهو ما سوى الكلب والخنزير وفرع أحدهما ولا كراهة في شئ من ذلك عندنا وكذا لا كراهة في سؤر شئ منها وهو بقية ما شربت منه والله أعلم

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 51 : PELAKASANAAN KHOTBAH SEBELUM SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 51 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ: ( كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بَكْرٍ, وَعُمَرُ: يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Bakar, dan Umar selalu sholat dua hari raya Fithri dan Adlha sebelum khutbah. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana mendengarkan dua khutbah sholat dua hari raya tidak diwajibkan,
maka Nabi (s.a.w) mengemukakan satu pilihan menerusi sabdanya:

انا نخطب، فمن أحب أن يجلس للخطبة فليجلس. ومن أحب أن يذهب فليذهب

“Sesungguhnya kami akan berkhutbah. Barang siapa yang hendak mendengarkan khutbah,
maka hendaklah dia duduk, tapi barang siapa yang tidak ingin mendengarkannya, maka dia
boleh pergi.”

Pertama yang baginda lakukan ialah mengerjakan sholat hari raya, karena
sholat merupakan suatu yang paling penting karena dengan mendahulukan sholat
akan memudahkan orang banyak. Orang yang pertama mendahulukan khutbah
ke atas sholat hari raya ialah Marwan ibn al-Hakam, gabenor Madinah. Tindakan
ini dilakukan karena orang-orang segera meninggalkan tempat sholat setelah sholat
selesai tanpa mau mendengarkan khutbah terlebih dahulu.

FIQH HADITS :

Mendahulukan sholat hari raya ke atas khutbah. Ini merupakan pendapat para ulama karena mengikuti Sunnah Nabi (s.a.w) dan dua orang khalifah sesudahnya.

Tetapi mereka berselisih pendapat mengenai khutbah yang dilakukan sebelum
sholat hari raya. Mazhab al-Syafi’i dan mazhab Hanbali menegaskan khutbah tidak dianggap dan harus diulang lagi sesudah mengerjakan sholat.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa khutbah sudah dianggap sah, tetapi itu dimakruhkan.

Mazhab Maliki mengatakan bahwa khutbah dianggap sah, dan mengulanginya
sesudah sholat merupakan sesuatu yang dianjurkan. Menurut pendapat yang lain di
sisi mereka, mengulangi khutbah merupakan sesuatu yang disunnatkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 50 : MENGHADIRI SHALAT ‘ID BAGI WANITA HAID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 50 :

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: ( أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ, وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Ummu Athiyyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami diperintahkan mengajak keluar gadis-gadis dan wanita-wanita haid pada kedua hari raya untuk menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin, wanita-wanita yang haid itu terpisah dari tempat sholat. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Syariat Islam yang telah diperkenalkan oleh Rasulullah (s.a.w) menganjurkan supaya
anak-anak gadis remaja yang sudah baligh dan mereka yang mendekati usia baligh
keluar menuju ke tempat di mana sholat hari raya akan dilaksanakan. Nabi (s.a.w)
menyuruh berbuat demikian menunjukkan betapa penting mengajarkan ilmu-ilmu
agama kepada kaum wanita. Penyertaan mereka untuk menghadiri nasihat dan
majlis taklim diharapkan mampu menanamkan akhlak mulia dan membersihkan
hati mereka. Dengan demikian, mereka turut serta bersama kaum lelaki memetik manfaat yang terdapat pada hari perayaan ini berupa ilmu, bimbingan dan rahmat. Ini khusus apabila keluarnya wanita tidak menimbulkan fitnah. Tetapi apabila menimbulkan fitnah, maka kaum wanita dilarang keluar rumah. Aisyah
(r.a) berkata: “Seandainya Nabi (s.a.w) mengetahui apa yang dilakukan oleh kaum
wanita sesudahnya, niscaya baginda melarang mereka dari hadir di dalam masjid.”

FIQH HADITS :

Pada kedua hari raya itu kaum wanita disyariatkan keluar menuju ke tempat
dimana sholat hari raya dilaksanakan tanpa ada perbedaan antara anak perawan dengan janda, antara pemuda dengan orang tua, wanita yang sedang haid dengan yang tidak haid. Namun wanita yang sedang haid tidak boleh turut serta mengerjakan sholat dan hendaklah mereka keluar rumah tanpa menimbulkan fitnah.

Mazbab al-Syafi’i menegaskan bahwa wanita disunatkan keluar pada hari
lraya idul fitri dan hari raya idul adha, kecuali gadis yang masih muda dan gadis cantik. Mereka makruh keluar rumah menuju tempat dimana sholat dilaksanakan karena dikawatiri menimbulkan fitnah.

Mazhab Hambali juga menyatakan bahwa tidak ada salahnya kaum wanita
keluar rumah menuju tempat dimana sholat hari raya dilaksanakan, tetapi tidak
boleh memakai minyak wangi dan pakaian yang menjolok mata. Dzahir pendapat
mereka ini menunjukkan tidak ada perbedaan antara wanita yang masih muda dengan yang lainnya dimana mereka sama dibolehkan keluar rumah untuk menyaksikan pelaksanaan sholat hari raya.

Mazhab Maliki juga mengatakan bahwa apabila keadaan wanita tidak menimbulkan hasrat kaum lelaki, maka dia dibolehkan keluar untuk melakukan sholat fardu, sholat hari raya, dan sholat istisqa’. Namun jika wanita itu masih muda meskipun tidak cantik, maka tidak dibolehkan keluar rumah karena alasan di atas, dimana sholat hari raya selalu dipenuhi orang banyak hingga mereka berdesak-desakan. Wanita dibolehkan keluar menuju ke masjid untuk mengerjakan sholat
berjemaah, tetapi dengan syarat tidak memakai minyak wangi dan perhiasan.
Hendaklah penampilan dirinya tidak dikawatiri akan menimbulkan fitnah, tidak
memakai pakaian yang menjolok mata, tidak berdesak-desakan dengan kaum lelaki, dan hendaklah jalan yang dilaluinya selamat daripada macam-macam gangguan.
Jika tidak selamat, maka haram baginya keluar rumah. Jika wanita itu memiliki
kecantikan yang mempesonakan, maka secara mutlak dia diharamkan keluar rumah.

Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa wanita-wanita yang dikurung tidak
boleh keluar rumah.

Abu Yusuf mengatakan bahwa wanita makruh keluar rumah mereka secara mutlak.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

P012. MENGAPA NIAT PUASA HARUS MALAM HARI DAN TIDAK BERSAMAAN KETIKA MENGERJAKANNYA?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Niat puasa. Sesuai ta’rifnya QOSHDU SYAIN MUQTARONAN BIFI’LIH. Niat suatu perkara dengan dibarengi mengerjakannya. Niat sholat, wudhu, adus dll tapi bagaimana dengan Niat puasa ? Kenapa niat nya puasa Ramadhan harus tengah malam, padahal puasa nya baru setelah keluar fajar ?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Niat puasa wajib adalah harus malam hari, dan ketentuan ini adalah pengecualian dari ta’rif niat yang anda sampaikan tersebut. Bahkan kalau seseorang ketika melakukan niat puasa wajib, kalau bersamaan dengan fajar, maka menurut qoul yang Ashoh puasanya tidak sah. Lihat Asybah wa an-Nadzoir juz 1 hlm 60. Wallaahu A’laamu Bis Showaab.

– Almughniy ibnu qudamah :

قال: [ ولا يجزئه صيام فرض حتى ينويه أي وقت كان من الليل ] وجملته أنه لا يصح صوم إلا بنية إجماعا فرضا كان أو تطوعا, لأنه عبادة محضة فافتقر إلى النية كالصلاة, ثم إن كان فرضا كصيام رمضان في أدائه أو قضائه والنذر والكفارة اشترط أن ينويه من
الليل عند إمامنا ومالك, والشافعي وقال أبو حنيفة: يجزئ صيام رمضان وكل صوم متعين بنية من النهار لأن النبي -صلى الله عليه وسلم- أرسل غداة عاشوراء إلى قرى الأنصار التي حول المدينة: (من كان أصبح صائما فليتم صومه ومن كان أصبح مفطرا فليصم بقية يومه, ومن لم يكن أكل فليصم) متفق عليه وكان صوما واجبا متعينا ولأنه غير ثابت في الذمة فهو كالتطوع

المغني موفق الدين أبو محمد عبد الله بن قدامة المقدسي الحنبلي

– Asnal matholib juz 1 hal 28 :

أسنى المطالب في شرح روض الطالب – (ج 1 / ص 28)

وَإِنَّمَا لم يُوجِبُوا الْمُقَارَنَةَ في الصَّوْمِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ وَتَطْبِيقِ النِّيَّةِ عليه

Dan sesungguhnya tidak wajib muqoronah / mbarengno /membarengkan niat pada puasa karena sulitnya meneliti / mengantisipasi fajar dan menyesuaikannya.

– Tuhfatul muhtaj :

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 2 / ص 341)

( قَوْلُهُ : مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ ) أَيْ فِعْلِ ذَلِكَ الشَّيْءِ فَيَجِبُ اقْتِرَانُهَا بِفِعْلِ الشَّيْءِ الْمَنْوِيِّ إلَّا فِي الصَّوْمِ فَلَا يَجِبُ فِيهِ الِاقْتِرَانُ بَلْ لَوْ فَرَضَ وَأَوْقَعَ النِّيَّةَ فِيهِ مُقَارِنَةً لِلْفَجْرِ لَمْ يَصِحَّ لِوُجُوبِ التَّبْيِيتِ فِي الْفَرْضِ فَهُوَ مُسْتَثْنًى مِنْ وُجُوبِ الِاقْتِرَانِ أَوْ أَنَّ الشَّارِعَ أَقَامَ فِيهِ الْعَزْمَ مَقَامَ النِّيَّةِ لِعُسْرِ مُرَاقَبَةِ الْفَجْرِ ، وَهُوَ الصَّحِيحُ شَيْخُنَا عِبَارَةُ سم .قَوْلُهُ مُقْتَرِنًا بِفِعْلِهِ اعْتِبَارُ الِاقْتِرَانِ فِي مَفْهُومِ النِّيَّةِ يَشْكُلُ بِتَحَقُّقِهَا بِدُونِهِ فِي الصَّوْمِ وَلَا مَعْنَى لِلِاسْتِثْنَاءِ فِي أَجْزَاءِ الْمَفْهُومِ

– Hasyiyah qolyubi :

حاشية قليوبي – (ج 2 / ص 66)

( لما تعذر اقترانها ) لعل المراد لما تعذر صحة الصوم مع اقترانها لأنه جزء من النهار , ولو كان مراده مشقة الاقتران لقال لعسر مراقبة الفجر كما قاله غيره

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 49 : PERBEDAAN ANJURAN SUNNAH SEBELUM SHALAT IDUL FITRI DAN IDUL ADLHA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 49 :

وَعَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ, عَنْ أَبِيهِ قَالَ: ( كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ, وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَالتِّرْمِذِيُّ, وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ

Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak keluar pada hari raya Fithri sebelum makan dan tidak makan pada hari raya Adlha sebelum sholat. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Menceritakan dan mengingati nikmat Allah merupakan sesuatu yang dibenarkan
oleh syariat dan begitu pula memperlihatikan kemurahan Allah dengan membuktikan
berbagai rahsia ibadah yang telah disyariatkan merupakan sebagian dari nilai-nilai baik syariat Islam. Ketika Allah (s.w.t) menyuruh untuk menyembelih hewan qurban pada waktu hari raya idul adha, maka apa yang paling penting
untuk dilakukan adalah bersegera memakan sebagian daging hewan qurban tersebut setelah selesai mengerjakan sholat sebagai ungkapan perasaan syukur kepada Allah di samping memperlihatkan rahsia-rahsia ibadah qurban yang mengandung manfaat dunia dan pahala di akhirat. Oleh itu, Allah (s.w.t) berfirman:

كذالك سخرناها لكم لعلكم تذكرون (٣٦)

“… Demikianlah kami telah menundukkan unta-unta itu bagi kamu, mudah-mudahan
kamu bersyukur.” (Surah al-Hajj: 36)

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan makan terlebih dahulu sebelum mengerjakan sholat hari raya Idul fitri, karena menurut sunnah dianjurkan bersedekah pada hari raya idul fitri sebelum mengerjakan sholat sehingga disunatkan pula makan agar dapat turut serta meramaikannya bersama kaum fakir miskin.

2. Disyariatkan makan pada hari raya idul adha sesudah mengerjakan sholat, karena sedekah pada hari raya idul adha hanya dilakukan setelah mengerjakan sholat, yaitu sedekah hewan qurban, sehingga disunatkan meramaikannya secara bersama, di samping kedua hari raya tersebut berbeda dengan hari-hari sebelumnya, karena sebelum hari raya aidil fitri diharamkan makan, berbeda dengan hari-hari sebelum hari raya idul adha.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

KAIFIYAH MEMBACA SURAT YASIN & DO’A MALAM NISHFU SYA’BAN

Pertama:

Dari Kitab Kanzunnajah Wassuruur fil Ad’yah Allatii Tasyrahushshuduur karya Syeikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds (Kudus) Beliau berkata (di halaman 47-48):

وَقَدْ جُمِعَ دُعَاءٌ مَأْثُوْرٌ مُنَاسِبٌ لِلْحَالِ خَاصٌّ بِلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ مَشْهُوْرٌ، يَقْرَؤُهُ الْمُسْلِمُوْنَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ الْمَيْمُوْنَةَ فُرَادَى وَجَمْعًا فِيْ جَوَامِعِهِمْ وَغَيْرِهَا، يُلَقِّنُهُمْ أَحَدُهُمْ ذَلِكَ الدُّعَاءَ، أَوْ يَدْعُوْ وَهُمْ يُؤَمِّنُوْن كَمَا هُوَ مَعْلُوْمٌ.

Telah dikumpulkan doa ma`tsur dan masyhur yang sesuai dengan keadaan khusus di malam Nashfu Sya’ban. Doa tsb dibaca kaum muslimin pada malam yang berkah, sendirian atau bersama-sama di masjid-masjid mereka dan di tempat lain. Salah satu dari mereka menuntun doa tsb atau dia berdoa sementara yang lainnya mengamininya.

وَكَيْفِيَّتُهُ: تَقْرَأُ أَوَّلًا قَبْلَ ذَلِكَ الدُّعَاءِ بَعْدَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ سُوْرَةَ يَسٍ ثَلَاثًااَلْأُوْلَي : بِنِيَّةِ طُوْلِ الْعُمْرِ . اَلثَّانِية : بِنِيَّةِ دَفْعِ الْبَلَاءِ اَلثَّالِثَةُ : بِنِيَّةِ الْاِسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ

Adapun tata caranya sbb:Setelah usai shalat maghrib, sebelum membaca doa kamu baca surat Yasin tiga kali

Bacaan Yasin Pertama:Diniati agar diberi panjang umur

Bacaan Yasin Kedua:Diniati agar terhindar dari bala

Bacaan Yasin Ketiga:Diniati agar tidak menggantungkan diri dengan orang lain

وَكُلَّمَا تَقْرَأُ السُّوْرَةَ مَرَّةً تَقْرَأُ بَعْدَهَا اَلدُّعَاءَ مَرَّةً

Setiap selesai membaca Surat Yasin kamu iringi dengan membaca Do’a Nishfu Sya’ban

وَهَذَا هُوَ الدُّعَاءُ الْمُبَارَكُ

:Inilah doa yang mubarok (diberkahi) tsb :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَـحْبِهِ وَسَـلَّـمَاَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلاَ يُمَنُّ عَلَيْهِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إلَهَ اِلَّا اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِئِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ الَّلهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَطَرْدِيْ وَاِقْتَارَ رِزْقِيْ وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ اْلـمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ اْلـمُرْسَلِ: (يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ) اِلَهِيْ بِالتَّجَلِّي اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْباَنَ اْلـمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ وَمَا اَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ، اِنَّكَ أَنْتَ اْلأَعَزُّ اْلاَكْرَمُ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Kedua:

Riwayat dari Imam Dairobi.Dalam Kitab Kanzunnajah (halaman 48-49) dituturkan:

وَقَالَ الْعَلَّامَةُ الدَّيْرَبِيُّ فِيْ مُجَرَّبَاتِهِ؛ وَمِنْ خَوَاصِّ سُوْرَةِ يس كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ أَنْ تَقْرَأَهَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ الأُوْلَى بِنِيَّةِ طُوْلِ اْلعُمْرِ وَالثَّانِيَةُ بِنيَّةِ دَفْعِ الْبَلاَءِ وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ اْلإسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ

Imam Dairobi berkata dalam kitab Mujarrobat:Diantara khasiat Surat Yasin, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, kamu membacanya tiga kali pada malam Nishfu Sya’ban

Pertama: Diniati agar diberi panjang umur

Kedua: Diniati agar terhindar dari bala

Ketiga: Diniati agar tidak menggantungkan diri dengan orang lain

ثُمَّ تَدْعُوْ بِهَذَا الدُّعَاءِ (عَشْرَ مَرَّاتٍ) يَحْصُلُ الْمُرَادُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى، وَهُوَ:

Kemudian kamu membaca doa ini sepuluh kali. Insya Allah apa yang dikehendaki akan berhasil. Doanya ialah:

إِلَهِيْ جُوْدُك دَلَّنِيْ عَلَيكَ وَإِحْسَانُكَ قَرَّبَنِي إِلَيكَ، أَشْكُوْ إِلَيْكَ مَا لَا يَخفَى عَلَيْكَ وَأَسْأَلُكَ مَا لَا يَعْسُرُ عَلَيْكَ إِذْ عِلمُكَ بِحَالِيْ يَكْفِيْ عَنْ سُؤَالِيْ يَا مُفَرِّجَ كُرَبِ الْمَكْرُوْبِيْنَ فَرِّجْ عَنِّيْ مَا أَنَا فِيْهِ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبحَانَكَ إِنِّيْ كُنُتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجِّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِيْنَ.اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ وَكَنْزَ الطَّالِبِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبتَنِيْ عِندَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَو مَحرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزقِ فَامْحُ عَنِّيْ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِيْ وَحِرمَانِيْ وَطَرْدِيْ وَإِقْتَارَ رِزْقِيْ وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاء وَيُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَاب. وَأَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ بِحَقِّ التَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ أَنْ تَكْشِفَ عَنِّيْ مِنَ الْبَلَاءِ مَا أَعلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ فَاغْفِرْ لِيْ مَا أَنْتَ بِهِ أَعلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Ketiga:

Riwayat dari Quthbuzzamaan Syeikh Hasan bin Abdullah Ba’alawi Al Haddad.Dalam Kitab Kanzunnajah (halaman 50 s/d 54) dituturkan:

دُعَاءُ شَعْبَانَ الْمَشْهُوْرُ هُوَ دُعَاءٌ عَظِيْمُ النَّفْعِ، فِيْهِ فَوَائِدُ عَظِيْمَةٌ وَأَدْعِيَةٌ جَلِيْلَةٌ، وَبَعْضُهُ قَدْ وَرَدَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُقْرَأُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَقَرِيْبُ الْمَغْرِبِ أَحْسَنُ وَأَوْلَى، جَمَعَهُ سَيِّدُنَا بَرَكَةُ الْوُجُوْدِ وَعُمْدَةُ الْمُحَقِّقِيْنَ وَحَاوِيْ أَسْرَارِ آبَائِهِ الصَّالِحِيْنَ، اَلْعَارِفُ بِاللهِ قُطْبُ الزَّمَانِ، اَلسَّيِّدُ الشَّرِيْفُ بَدْرُ الدِّيْنِ اَلشَّيْخُ اَلْحَسَنُ بْنُ الْقُطْبِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَاعَلَوِيٍّ اَلْحَدَّادُ، نَفَعَ بِهِ وَبِعُلُوْمِهِ آمِينْ.

Doa Sya’ban yang masyhur adalah doa yang agung faedahnya. Didalamnya banyak faedah yang agung dan doa yang mulia. Sebagian doa datang dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Doa tsb dibaca pada malam Nishfu Sya’ban. Dekat dengan Maghrib lebih bagus. Doa tsb dikumpulkan oleh Sayyidunaa Barakatul Wujuud Wa ‘Umdatul Muhaqqiqiin wa Haawi Asraari Abaa`ihiishshaalihiin Al Arif Billaah Quthbuzzamaan Assayyid Asysyariaf Badruddin Asysyaikh Al Hasan bin Al Quthb Abdullah bin Ba’alawi Al Haddaad, Nafa’a Bihii wa Bi’uluumihii, Amin

وَهَذِهِ طَرِيْقُه: تَقْرَأُ أَوَّلَهُ سُوْرَةَ يس (ثَلَاثَ مَرَّاتٍ) اَلْأُوْلَى بِنِيَّةِ طُوْلِ الْعُمْرِ مَعَ التَّوْفِيْقِ لِلطَّاعَةِ،اَلثَّانِيَةُ بِنِيَّةِ الْعِصْمَةِ مِنَ الْآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَنِيَّةِ سَعَةِ الرِّزْقِ،اَلثَّالِثَةُ لِغِنَى الْقَلْبِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ،

Caranya:Pada awal doa kamu baca Surat Yasin tiga kali

Bacaan Yasin Pertama:Diniati agar diberi panjang umur dengan mendapatkan taufiq untuk thaat

Bacaan Yasin Kedua:Diniati agar terhindar dari marabahaya dan penyakit, serta diniati agar dilapangkan rizqi

Bacaan Yasin Ketiga:Diniati agar hatinya kaya, dan agar diberi husnul khatimah

ثُمَّ تَقْرَأُ الدُّعَاءَ، وَهُوَ هَذَا:

Kemudian kamu baca doa, yaitu:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبتَنِيْ عِندَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَو مَحرُوْمًا أَوْ مُقَتَّرًا عَلَيَّ فِي الرِّزقِ فَامْحُ مِنْ أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرمَانِيْ وَتَقْتِيْرَ رِزْقِيْ وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِيْ كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاء وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَاب. إِلَهِيْ بالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ اِكْشِفْ عَنِّيْ مِنَ الْبَلَاءِ مَا أَعلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ فَاغْفِرْ لِيْ مَا أَنْتَ بِهِ أَعلَمُاَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ مِنْ أَعْظَمِ عِبَادِكَ حَظًّا وَنَصِيْبًا فِيْ كُلِّ شَيْءٍ قَسَمْتَهُ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ نُوْرٍ تَهْدِي بِهِ، أَوْ رَحْمَةٍ تَنْشُرُهَا، أَوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهُ، أَوْ فَضْلٍ تَقْسِمُهُ عَلَى عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِيْنَ، يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ.اَللَّهُمَّ هَبْ لِيْ قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا مِنَ الشِّرْكِ بَرِيًّا، لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا، وَقَلْبًا سَلِيْمًا خَاشِعًا ضَارِعًا. اَللَّهُمَّ امْلأْ قَلْبِيْ بِنُوْرِكَ وَأَنْوَارِ مُشَاهَدَتِكَ وَجَمَالِكَ وَكَمَالِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَعِصْمَتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِلْمِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

هَذَا أَقَلُّهُ. وَأَكْمَلُهُ:

Doa diatas adalah minimal. Doa yang lebih sempurna adalah sbb:

إِلَهِيْ تَعَرَّضَ إِلَيْكَ فِيْ هذِهِ اللَّيْلَةِ الْمُتَعَرِّضُوْنَ، وَقَصَدَكَ وَأَمَّلَ مَعْرُوْفَكَ وَفَضْلَكَ الطَّالِبُوْنَ، وَرَغَبَ إِلَى جُوْدِكَ وَكَرَمِكَ الرَّاغِبُوْنَ وَلَكَ فِي هذِهِ اللَّيْلَةِ نُفَحَاتٌ، وعَطَايَا وَجَوَائِزُ وَمَوَاهِبُ وَهَبَّاتٌ، تَمُنُّ بِهَا عَلَى مَنْ تَشَاءُ مِنْ عِبَادِكَ وَتَخُصُّ بِهَا مَنْ أَحْبَبْتَهُ مِنْ خَلْقِكَ، وَتَمْــنَعُ وَتَحْرُمُ مَنْ لَمْ تَسْبِقْ لَهُ الْعِنَايَةُ مِنْكَ،

فَأَسْأَلُكَ يَا اللهُ بِأَحَبِّ الأَسْمَاءِ إِلَيْكَ، وَأَكْرَمِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْكَ، أَنْ تَجْعَلَنِيْ مِمَّنْ سَبَقَتْ لَهُ مِنْكَ الْعِنَايَةُ، وَاجْعَلْنِيْ مِنْ أَوْفَرِ عِبَادِكَ وَاجْزَلِ خَلْقِكَ حَظًّا وَنَصِيْبًا وَقِسْمًا وَهِبَةً وَعَطِيَّةً فِيْ كُلِّ خَيْرٍ تَقْسِمُهُ فِيْ هذِهِ اللَّيْلَةِ أَوْ فِيْمَا بَعْدَهَا مِنْ نُوْرٍ تَهْدِيْ بِهِ أَوْ رَحْمَةٍ تَنْشُرُهَا أَوْ رِزْقٍ تَبْسُطُهُ أَوْ ضُرٍّ تَكْشِفُهُ أَوْ ذَنْبٍ تَغْفِرُهُ أَوْ شِدَّةٍ تَدْفَعُهَا أَوْ فِتْنَةٍ تَصْرِفُهَا أَوْ بَلَاءٍ تَرْفَعُهُ، أَوْ مُعَافَاةٍ تَمُنُّ بِهَا أَوْ عَدُوٍّ تَكْفِيْهِ فَاكْفِنِيْ كُلَّ شَرٍّ وَوَفِّقْنِيَ اللَّهُمَّ لِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَارْزُقْنِيَ الْعَافِيَةَ وَالْبَرَكَةَ وَالسَّعَةَ فِي الْأَرْزَاقِ وَسَلِّمْنِيْ مِنَ الرِّجْزِ وَالشِّرْكِ وَالنِّفَاقِ

اَللَّهُمَّ إِنَّ لَكَ نَسَمَاتِ لُطْفٍ إِذَا هَبَّتْ عَلَى مَرِيْضِ غَفْلَةٍ شَفَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ نَفَحَاتِ عَطْفٍ إِذَا تَوَجَّهَتْ إِلَى أَسِيْرِ هَوًى أَطْلَقَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ عِنَايَاتِ إِذَا لَاحَظَتْ غَرِيْقًا فِيْ بَحْرِ ضَلَالَةٍ أَنْقَذَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ سَعَادَاتٍ إِذَا أَخَذَتْ بِيَدِ شَقِيٍّ أَسْعَدَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ لَطَائِفَ كَرَمٍ إِذَا ضَاقَتِ الْحِيْلَةُ لِمُذْنِبٍ وَسَعَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ فَضَائِلَ وَنِعَمًا إِذَا تَحَوَّلَتْ إِلَى فَاسِدٍ أَصْلَحَتْهُ، وَإِنَّ لَكَ نَظَرَاتِ رَحْمَةٍ إِذَا نَظَرَتْ بِهَا إِلَى غَافِلٍ أَيْقَظَتْهُ،

فَهَبْ لِيَ اللَّهُمَّ مِنْ لُطْفِكَ الْخَفِيِّ نَسَمَةً تَشْفِيْ مَرْضَ غَفْلَتِي، وَانْفَحْنِيْ مِنْ عَطْفِكَ الوَفِيِّ نَفْحَةً طَيِّبَةً تُطْلِقُ بِهَا أَسْرِي مِنْ وَثَاقِ شَهْوَتِيْ، وَالْحَظْنِيْ وَاحْفَظْنِيْ بِعَيْنِ عِنَايَتِكَ مُلَاحَظَةً تُنْقِذُنِيْ بِهَا وَتُنْجِيْنِيْ بِهَا مِنْ بَحْرِ الضَّلَالَةِ, وَآتِنِيْ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، تُبَدِّلُنِي بِهَا سَعَادَةً مِنْ شَقَاوَةٍ وَاسْمَعْ دُعَائِيْ، وَعَجِّلْ إِجَابَتِيْ، وَاقْضِ حَاجَتِيْ وَعَافِنِيْ، وَهَبْ لِيْ مِنْ كَرَمِكَ وَجُوْدِكَ الْوَاسِعِ مَا تَرْزُقُنِيْ بِهِ الْإِنَابَةَ إِلَيْكَ مَعَ صِدْقِ اللَّجَأِ وَقَبُوْلِ الدُّعَاِء، وَأَهِّلْنِيْ لِقَرْعِ بَابِكَ لِلدُّعَاءِ يَا جَوَادُ، حَتَّى يَتَّصِلَ قَلْبِيْ بِمَا عِنْدَكَ، وَتُبَلِّغُنِيْ بِهَا إِلَى قَصْدِكَ يَا خَيْرَ مَقْصُوْدٍ، وَأَكْرَمَ مَعْبُوْدٍ اِبْتِهَالِيْ وَتَضَرُّعِيْ فِيْ طَلَبِ مَعُوْنَتِكَ وَأَتَّخِذُكَ يَا إِلَهِيْ مَفْزَعًا وَمَلْجَأً أَرْفَعُ إِلَيْكَ حَاجَتِيْ وَمَطَالِبِيْ وَشَكَوَايَ، وَأُبْدِي إِلَيْكَ ضُرِّي، وَأُفَوِّضُ إِلَيْكَ أَمْرِي وَمُنَاجَاتِيْ، وَأَعْتَمِدُ عَلَيْكَ فِيْ جَمِيْعِ أُمُوْرِيْ وَحَالَاتِيْ

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ وَهذِهِ اللَّيْلَةَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ فَلَا تَبْلُنِيْ فِيْهَا وَلَا بَعْدَهَا بِسُوْءٍ وَلَا مَكْرُوْهٍ، وَلَا تُقَدِّرْ عَلَيَّ فِيْهَا مَعْصِيَّةً وَلَا زَلَّةً، وَلَا تُثْبِتْ عَلَيَّ فِيْهَا ذَنْبًا، وَلَا تَبْلُنِيْ فِيْهَا إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ، وَلَا تُزَيِّنْ لِيْ جَرَاءَةً عَلَى مَحَارِمِكَ وَلَا رُكُوْنًا إِلَى مَعْصِيَتِكَ، وَلَا مَيْلاً إِلَى مُخَالَفَتِكَ، وَلَا تَرْكًا لِطَاعَتِكَ، وَلَا اِسْتِخْفَافًا بِحَقِّكَ، وَلَا شَكًّا فِيْ رِزْقِكَ، فَأَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ نَظْرَةً مِنْ نَظَرَاتِكَ وَرَحْمَةً مِنْ رَحْمَاتِكَ، وَعَطِيَّةً مِنْ عَطِيَّاتِكَ اللَّطِيْفَةِ، وَارْزُقْنِيْ مِنْ فَضْلِكَ، وَاكْفِنِيْ شَرَّ خَلْقِكَ، وَاحْفَظْ عَلَيَّ دِيْنَ الْإِسْلَامِ، وَانْظُرْ إِلَيْنَا بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لَا تَنَامُ، وَآتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (ثلاثا)

إِلَهِيْ بِالتَّجَلِّي الأَعْظَمِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ الشَّهْرِ الأَكْرَمِ، الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، اِكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَاغْفِرْ لَنَا مَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ (ثلاثا)

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُ مِنْ كُلِّ مَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَاَ تَعْلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا أَعْلَمُ وَمَا لَا أَعْلَمُ. اَللَّهُمَّ إِنَّ الْعِلْمَ عِنْدَكَ وَهُوَ عَنَّا مَحْجُوْبٌ، وَلَا نَعْلَمُ أَمْرًا نَخْتَارُهُ لِأَنْفُسِنَا، وَقَدْ فَوَّضْنَا إِلَيْكَ أُمُوْرَنَا، وَرَفَعْنَا إِلَيْكَ حَاجَاتِنَا، وَرَجَوْنَاكَ لِفَاقَاتِنَا وَفَقْرِنَا، فَارْشُدْنَا يَا اَللهُ، وَثَبِّتْنَا وَوَفِّقْنَا إِلَى أَحَبِّ الْأُمُوْرِ إِلَيْكَ وَأَحْمَدِهَا لَدَيْكَ، فَإِنَّكَ تَحْكُمُ بِمَا تَشَاءُ وَتَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ، وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظَيْمِ

سُبْحَانَ رَبِكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Keempat:

Dituturkan oleh Sayyid Murtadha Azzabidi dalam Kitab Ithaafissadaatil Muttaqin, Syarh Ihyaa` Uluumiddin juz 3 halaman 424:

وَقَدْ تَوَارَث الْخَلَفُ عَنِ السَّلَفِ فِيْ إِحْيَاءِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ بِصَلَاةِ سِتِّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ صَلَاة الْمَغْرِبِ

Ulama khalaf telah mewarisi para ulama salaf dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan shalat enam rakaat setelah shalat Maghrib

كُلُّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيْمَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهَا بِالْفَاتِحَةِ مَرَّةً وَالْإِخْلَاصِ سِتَّ مَرَّاتٍ.

Tiap dua rakaat dengan satu salaman. Setiap satu rakaat membaca surat Al Fatihah satu kali dan Surat Al Ikhlas enam kali

بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ سُوْرَةَ يس مَرَّةً وَيَدْعُوْ اَلدُّعَاءَ الْمَشْهُوْرَ بِدُعَاءِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ.

Usai shalat dua rakaat, membaca Surat Yasin satu kali dan berdoa dengan doa yang telah masyhur yaitu doa malam nisfu sya’ban.

وَيَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى اَلْبَرَكَةَ فِي الْعُمْرِ

Bacaan pertama dengan berdoa memohon kepada Allah agar diberi keberkahan didalam umurnya.

ثُمَّ فِي الثَّانِيَةِ اَلْبَرَكَةَ فِي الرِّزْقِ

Bacaan kedua memohon agar agar diberi keberkahan didalam rizkinya

ثُمَّ فِي الثَّالِثَةِ اَلْبَرَكَةَ فِيْ حُسْنِ الْخَاتِمَةِ

Bacaan ketiga memohon agar diberi keberkahan mendapat predikat husnul Khatimah

وَذَكَرُوْا أَنَّ مَنْ صَلَّى هَكَذَا بِهَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ أُعْطِيَ جَمِيْعَ مَا طَلَبَ

Ulama menuturkan bahwa barangsiapa yang melaksanakan shalat seperti tata cara tersebut, akan diberi segala apa yang diinginkan.

وَهَذِهِ الصَّلَاةُ مَشْهُوْرَةٌ فِيْ كُتُبِ الْمُتَأَخِّرِيْنَ مِنَ السَّادَةِ الصُّوْفِيَّةِ وَلَمْ أَرَ لَهَا وَلَا لِدُعَائِهَا مُسْتَنَدًا صَحِيْحًا فِي السُّنَّةِ اِلَّا اَنَّهُ مِنْ عَمَلِ الْمَشَايِخِ

Shalat ini masyhur didalam kitab-kitab ulama mutaakhkhirin dari Saadat Shufiyyah. Aku belum melihat sandaran yang shahih dari Assunnah mengenai shalat ini dan doanya, hanya saja hal itu adalah termasuk dari amaliyah para Masyayikh.

Penutup:

Perihal Membaca Surat Yasin pada Malam Nishfu Sya’banDikutip dari Kitab SYAHRU SYA’BAAN MAA DZAA FIIH?, karya Sayyid Dr. Muhammad bin Alawi Al Maaliki, halaman 23

قِرَاءَةُ يس لِقَضَاءِ الْحَوَائِجِ قِرَاءَةُ يس بِنِيَّةِ طَلَبِ الْخَيْرِ الدُّنْيَوِيِّ وَالْأُخْرَوِيِّ أَوْ قَرِاءَةُ الْقُرْآنِ كُلِّهِ لِذَلِكَ لَا حَرَجَ فِيْهِ وَلَيْسَ بِمَمْنُوْعٍ .

وَقَدِ ادَّعَى بَعْضُهُمْ أَنَّ ذَلِكَ حَرَامٌ أَوْ مَمْنُوْعٌ أَوْ بِدْعَةٌ سَيِّئَةٌ إِلَى آخِرِ الْقَائِمَةِ الْمَعْرُوْفَةِ الْمَشْهُوْرَةِ فِيْ هَذَا الْبَابِ وَالَّتِيْ نَسْمَعُهَا مُطْلَقَةً فِيْ كُلِّ مُسْتَحْدَثٍ جَدِيْدٍ دُوْنَ شَرْطٍ أَوِ احْتِرَازٍ أَوْ تَقْيِيْدٍ ، وَهَذَا نَصُّ كَلَامِهِمْ : مَا يَفْعَلُهُ عَامَّةُ النَّاسِ مِنْ قِرَاءَةِ سُوْرَةِ يس ثَلَاثَ مَرَّاتٍ : مَرَّةٌ بِنِيَّةِ طُوْلِ الْعُمُرِ مَعَ التَّوْفِيْقِ لِلطَّاعَةِ ، اَلثَّانِيَةُ بِنِيَّةِ الْعِصْمَةِ مِنَ الْآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ وَنِيَّةِ سَعَةِ الرِّزْقِ ، اَلثَّالِثَةُ لِغِنَى الْقَلْبِ وَحُسْنِ الْخَاتِمَةِ ، وَالصَّلَاةُ الَّتِيْ يُصَلُّوْنَـهَا بَيْنَ الدُّعَاءِ ، وَالصَّلَاةُ بِنِيَّةٍ خَاصَّةٍ لِقَضَاءِ حَاجَةٍ مُعَيَّنَةٍ ، كُلُّ ذَلِكَ بَاطِلٌ لَا أَصْلَ لَهُ وَلَا تَصِحُّ الصَّلَاةُ إِلَّا بِنِيَّةٍ خَالِصَـةٍ للهِ تَعَالَى لَا لِأَجْلِ غَرَضٍ مِنَ الْأَغْرَاضِ ، قَالَ تَعَالَى : ﴿ وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ﴾ سورة البينة ، آية 5 . هَذَا كَلَامُ الْمُنْكِرِيْنَ .

أَقُوْلُ : إِنَّ هَذِهِ الدَّعْوَى هِيَ بِنَفْسِهَا بَاطِلَةٌ لِأَنَّـهَا مَبْنِيَّةٌ عَلَى قَوْلٍ لَا دَلِيْلَ عَلَيْهِ ، وَفِيْهِ تَحَكُّمٌ وَتَحْجِيْرٌ لِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ . وَالْحَقُّ أَنَّهُ لَا مَانِعَ أَبَدًا مِنِ اسْتِعْمَالِ الْقُرْآنِ وَالْأَذْكَارِ وَالْأَدْعِيَةِ لِلْأَغْرَاضِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْمَطَالِبِ الشَّخْصِيَّةِ وَالْحَاجَاتِ وَالْغَايَاتِ وَالْمَقَاصِدِ بَعْدَ إِخْلَاصِ النِّيَّةِ للهِ فِيْ ذَلِكَ ، فَالشَّرْطُ هُوَ إِخْلَاصُ النِّيَّةِ فِي الْعَمَلِ للهِ تَعَالَى . وَهَذَا مَطْلُوْبٌ فِيْ كُلِّ شَيْئٍ مِنْ صَلَاةٍ وَزَكَاةٍ وَحَجٍّ وَجِهَادٍ وَدُعَاءٍ وَقِرَاءَةِ قُرْآنٍ ، فَلَا بُدَّ فِيْ صِحَّةِ الْعَمَلِ مِنْ إِخْلَاصِ النِّيَّةِ للهِ تَعَالَى ، وَهُوَ مَطْلُوْبٌ لَا خِلَافَ فِيْهِ بَلْ إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا لَمْ يَكُنْ خَالِصًا للهِ تَعَالَى فَإِنَّهُ مَرْدُوْدٌ ، قَالَ تَعَالَى : ﴿ وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ﴾ ، لَكِنْ لَا مَانِعَ مِنْ أَنْ يُضِيْفَ الْإِنْسَانُ إِلَى عَمَلِهِ مَعَ إِخْلَاصِهِ مَطَالِبَهُ وَحَاجَاتِهِ الدِّيْنِيَّةَ وَالدُّنْيَوِيَّةَ ، اَلْحِسِّيَّةَ وَالْمَعْنَوِيَّةَ ، اَلظَّاهِرَةَ وَالْبَاطِنَةَ .

وَمَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ يس أَوْ غَيْرَهَا مِنَ الْقُرْآنِ للهِ تَعَالَى طَالِبًا اَلْبَرَكَةِ فِي الْعُمُرِ وَالْبَرَكَةَ فِي الْمَالِ وَالْبَرَكَةَ فِي الصِّحَّةِ فَإِنَّهُ لَا حَرَجَ عَلَيْهِ . وَقَدْ سَلَكَ سَبِيْلَ الْخَيْرِ ( بِشَرْطِ أَنْ لَا يَعْتَقِدَ مَشْرُوْعِيَّةَ ذَلِكَ بِخُصُوْصِهِ ) فَلْيَقْرَأْ يس ثَلَاثًا أَوْ ثَلَاثِيْنَ مَرَّةً أَوْ ثَلَاثَمِائَةِ مَرَّةٍ ، بَلْ لِيَقْرَأْ الْقُرْآنَ كُلَّهُ للهِ تَعَالَى خَالِصًا لَهُ مَعَ طَلَبِ قَضَاءِ حَوَائِجِهِ وَتَحْقِيْقِ مَطَالِبِهِ وَتَفْرِيْجِ هَمِّهِ وَكَشْفِ كَرْبِهِ وَشِفَاءِ مَرَضِهِ وَقَضَاءِ دَيْنِهِ ، فَمَا الْحَرَجُ فِيْ ذَلِكَ ؟ وَاللهُ يُحِبُّ مِنَ العَبْدِ أَنْ يَسْأَلَهُ كُلَّ شَيْئٍ حَتَّى مِلْحَ الطَّعَامِ وَإِصْلَاحَ شَسْعِ نَعْلِهِ وَكَوْنُهُ يُقَدَّمُ بَيْنَ يَدَيْ ذَلِكَ سُوْرَةُ يس أَوِ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا هُوَ إِلَّا مِنْ بَابِ التَّوَسُّلِ بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَبِالْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَذَلِكَ مُتَّفَقٌ عَلَى مَشْرُوْعِيَّتِهِ

Wallaahu A’lamu bishshawaab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 48 : ANJURAN MAKAN KURMA SEBELUM SHALAT IDUL FITRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

HADITS KE 48 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ ) أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ. وَفِي رِوَايَةٍ مُعَلَّقَةٍ -وَوَصَلَهَا أَحْمَدُ-: وَيَأْكُلُهُنَّ أَفْرَادًا

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak berangkat (menuju tempat sholat) pada hari raya Fithri, sehingga beliau memakan beberapa buah kurma. Dikeluarkan oleh Bukhari. Dan dalam riwayat mu’allaq (Bukhari) yang bersambung sanadnya menurut Ahmad: Beliau memakannya satu persatu.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) adalah seorang pembimbing yang bijaksana dalam setiap
perkataan dan tingkah lakunya. Baginda samasekali tidak memberi ruang kepada
orang melampau dan senantiasa berusaha mematahkan hujah orang yang melewati
batas kewajaran. Baginda senantiasa makan sebelum mengerjakan sholat hari raya
supaya orang banyak tidak mengira bahwa puasa tetap wajib dilaksanakan hingga
sholat hari raya selesai. Baginda ibarat seorang tabib yang mahir dan tahu betul
bahwa puasa dapat melemahkan pandangan mata, sehingga dengan cara itu
baginda memberikan petunjuk untuk menjaganya dengan cara memakan
sesuatu yang manis ketika berbuka, karena memakan sesuatu yang manis dapat
menguatkan dan mencerahkan lagi pandangan mata, dan kekuatan tubuh
kembali seperti semula. Inilah yang diungkapkan oleh Rasulullah (s.a.w) sekaligus mengisyaratkan akan keesaan Allah (s.w.t) dengan cara memakan buah kurma
satu demi satu.

FIQH HADITS :

1. Rasulullah (s.a.w) selalu makan terlebih dahulu sebelum mengerjakan sholat hari raya idul fitri.

2. Disunatkan berbuka dengan memakan buah kurma atau makanan yang
manis, karena makanan yang mengandung zat gula dapat menguatkan pandangan mata sesudah dilemahkan oleh pengaruh puasa.

3. Disunatkan memakan buah kurma satu demi satu, karena itu mengandung
isyarat yang menunjukkan keesaan Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T042. MENGGABUNGKAN DUA NIAT BERSUCI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Jika saya mempunyai hadas besar & kecil lalu saya mandi besar:

1. Apakah hadas kecil otomatis hilang bersamaan hadas besar?

2. Habis mandi besar langsung sholat tanpa wudhu sah kah? (melakukan mandi junub tidak melakukan sunah seperti wudhu sebelum mandi).
Terimakasih..

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

1. Iya benar menurut pendapat yang shohih dalam madhab Syafi’i.

2. Sah asalkan setelah air merata keseluruh tubuh (dalam artian mandi besarnya sudah sah) tidak melakukan hal hal yang membatalkan wudhu.

– Kitab Roudhotut Tholibin karya Imam Nawawi I / 94 Cet Beirut :

فرع من اجتمع عليه حدثان : أصغر . وأكبر . فيه أوجه . الصحيح : يكفيه غسل جميع البدن بنية الغسل وحده ، ولا ترتيب عليه . والثاني : يجب نية الحدثين إن اقتصر على الغسل . والثالث : يجب وضوء مرتب ، وغسل جميع البدن . فإن شاء قدم الوضوء ، وإن شاء أخره . والرابع : يجب وضوء مرتب ، وغسل باقي البدن . هذا كله إذا وقع الحدثان معا ، أو سبق الأصغر ، وأما إذا سبق الأكبر ، فطريقان . أصحهما : طرد الخلاف . والثاني : القطع بالاكتفاء بالغسل .

[ Cabang ] Barang siapa yang terkumpul padanya dua hadats, kecil dan besar, maka terdapat beberapa pendapat :

1.Pendpat yang shohih adalah cukup baginya membasuk seluruh badannya dengan niat mandi saja dan tidak memerlukan tartib (urutan dalam wudhu)

2.Jika melakukan mandi saja maka wajib niat dua hadats

3.Wajib wudhu secara urut dan membasuh seluruh badan, boleh wudhu di awal atau di akhir mandi

4.Wajib wudhu secara urut dan membasuh sisa badan yang belum terkena air.

Itu semua jika hadasnya terjadi secara bersamaan atau hadas kecil mendahulinya.
Adapun jika hadast besarnya yang mendahului hadas kecil maka ada dua pendapat :

1. Pendapat yang paling sohih adalah sebgaimana hilaf diatas.

2. Sudah pasti cukup dengan sekali mandi.

Disebutkan dalam Al-Asybah Wannadho-ir halaman 86 Cet Thoha Putra Semarang :

ﺍﻟﻘﺎﻋﺪﺓ ﺍﻟﺘﺎﺳﻌﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻊ ﺃﻣﺮﺍﻥ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﻭﺍﺣﺪ ، ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻣﻘﺼﻮﺩﻫﻤﺎ ، ﺩﺧﻞ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮ ﻏﺎﻟﺒﺎ

فَمِنْ فُرُوعِ ذَلِكَ إذَا اجْتَمَعَ حَدَثٌ وَجَنَابَةٌ, كَفَى الْغُسْلُ عَلَى الْمَذْهَبِ, كَمَا لَوْ اجْتَمَعَ جَنَابَةٌ وَحَيْضٌ

“Qaidah ke sembilan : Apabila ada dua perkara yang sejenis dan maksud (tujuannya) tidak berbeda berkumpul jadi satu maka secara umum salah satunya masuk kepada yang lain”.
Diantara yang masuk dalam qaidah ini adalah : Apabila hadats dan junub berkumpul menjadi satu, maka cukup mandi saja menurut madhab Syafi’i, seperti halnya berkumpulnya junub dan hadats dan hadats sebab haidl, maka cukup mandi satu saja.

Walaahu A’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

D041. PENGERTIAN I’TIKAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mohon pencerahannya kyai, tentang I’tikaf.

Pertanyaannya:

1. Apa itu i’tikaf ?

2. Berapa lama waktu minimal i’tikaf ?

3. Cukupkah hanya keluar masuk masjid dengan di niati i’tikaf ?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

تعريفه: الاعتكاف لغة: اللبث وملازمة الشيء أو الدوام عليه خيراً كان أو شراً. ومنه قوله تعالى: {يعكفون على أصنام لهم} [الأعراف:138/7] وقوله: { ما هذه التماثيل التي أنتم لها عاكفون} [الأنبياء:53/21] وقوله سبحانه: {ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد} [البقرة:187/2]. وشرعاً له تعاريف متقاربة في المذاهب، قال الحنفية (1) : هو اللبث في المسجد الذي تقام فيه الجماعة، مع الصوم، ونية الاعتكاف، فاللبث ركنه؛ لأنه ينبئ عنه، فكان وجوده به، والصوم في الاعتكاف المنذور والنية من شروطه. ويكون من الرجل في مسجد جماعة: وهو ماله إمام ومؤذن، أديت فيه الصلوات الخمس أو لا، ومن المرأة: في مسجد بيتها: وهو محل عينته للصلاة، ويكره في المسجد، ولا يصح في غير موضع صلاتها من بيتها.وقال المالكية (2) : هو لزوم مسلم مميز مسجداً مباحاً لكل الناس، بصوم، كافاً عن الجماع ومقدماته، يوماً وليلة فأكثر، للعبادة، بنية. فلا يصح من كافر، ولا من غير مميز، ولا في مسجد البيت المحجور عن الناس، ولا بغير صوم، أي صوم كان: فرض أو نفل، من رمضان أو غيره، ويبطل بالجماع ومقدماته ليلاً أو نهاراً، وأقله يوم وليلة ولا حد لأكثره، بقصد العبادة بنية، إذ هو عبادة، وكل عبادة تفتقر للنية.وعبارة الشافعية (3) : هو اللبث في المسجد من شخص مخصوص بنية.وعبارة الحنابلة (4) : هو لزوم المسجد لطاعة الله ، على صفة مخصوصة، من مسلم عاقل ولو مميزاً ، طاهر مما يوجب غسلاً، وأقله ساعة، فلا يصح من كافر ولو مرتداً، ولا من مجنون ولا طفل، لعدم النية، ولا من جنب ونحوه ولو متوضئاً، ولا يكفي العبور، وإنما أقله لحظة.

(1) فتح القدير: 106/2، الدر المختار: 176/2، مراقي الفلاح: ص118، اللباب: 174/1.

(2) الشرح الكبير:541/1 ومابعدها، الشرح الصغير: 725/1 ومابعدها.

(3) مغني المحتاج: 449/1.

(4) كشاف القناع: 404/2، المغني: 183/3.وزمانه: أنه مستحب كل وقت في رمضان وغيره، وأقله عند الحنفية

(1) نفلاً: مدة يسيرة غير محدودة، وإنما بمجرد المكث مع النية، ولو نواه ماشياً على المفتى به؛ لأنه متبرع، وليس الصوم في النفل من شرطه، ويعد كل جزء من اللبث عبادة مع النية بلا انضمام إلى آخر. ولا يلزم قضاء نفل شرع فيه على الظاهر من المذهب؛ لأنه لا يشترط له الصوم.وأقله عند المالكية

(2) : يوم وليلة، والاختيار: ألا ينقص عن عشرة أيام، بمطلق صوم من رمضان أو غيره، فلا يصح من مفطر، ولو لعذر، فمن لا يستطيع الصوم لا يصح اعتكافه.والأصح عند الشافعية

(3) :أنه يشترط في الاعتكاف لبث قدر يسمى عكوفاً أي إقامة، بحيث يكون زمنها فوق زمن الطمأنينة في الركوع ونحوه، فلا يكفي قدرها، ولا يجب السكون، بل يكفي التردد فيه.وأقله عند الحنابلة

(4) : ساعة أي ما يسمى به معتكفاً لابثاً، ولو لحظة. فالجمهور على الاكتفاء بمدة يسيرة، والمالكية يشترطون لأقله يوماً وليلة.

(1) مراقي الفلاح ونور الإيضاح: ص119.

(2) الشرح الكبير والصغير، المكان السابق، القوانين الفقهية: ص125.

(3) مغني المحتاج: 451/1، المهذب: 190/1 ومابعدها.

(4) كشاف القناع: 404/2.

I’TIKAAF

Secara etimologi artinya berdiam diri, menetap dan menjalani secara kontinyu atas satu perbuatan baik perbuatan yang bajik ataupun jelek, Allah berfirman :“suatu kaum yang tetap menyembah berhala” (QS. 7:138).

“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya? “(QS.21:52)“ (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid” (QS. 2:187)

Sedang penegrtian I’tikaf secara terminologi :

Hanafiyyah :
ialah berdiam diri didalam masjid yang dipakai untuk shalat berjamaah dengan disertai puasa dan niat, maka berdiam diri adalah rukun didalam i’tikaf, tidak ada i’tikaf tanpa berdiam diri di masjid. Dan puasa dalam i’tikaf yang dinadzari dan niat adalah syarat-syaratnya i’tikaf.I’tikaf bagi pria adanya dimasjid jamaah yakni masjid yang terdapati imam dan muadzdzinnya baik dipakai untuk shalat lima waktu atau tidak, sedang bagi wanita dalam masjid yang terdapat dirumahnya yakni tempat yang telah ia tentukan dipakai shalat sehari-hari dan tidak sah diselain tempat shalat dalam rumahnya.

Malikiyyah :
Ialah menetapinya seorang muslim yang telah tamyiz untuk menjalani ibadah dalam masjid yang diperkenankan untuk setiap orang dengan disertai puasa, mencegah diri dari berjima’ dan foreplaynya(permainan sebelum berjima’) dimasa sehari semalam dan masa lebih banyak, dengan disertai niat.Maka i’tikaf tidak sah dari orang non muslim, belum tamyiz, dalam masjid rumah yang bersifat pribadi, tanpa puasa baik puasa fardhu atau sunah, puasa ramadhan atau lainnya, dan batal akibat berjima’ serta foreplaynya(permainan sebelum berjima’). Dan paling minimal waktunya sehari semalam tiada batasan untuk masa paling banyaknya, dengan tujuan beribadah dengan niat karena i’tikaf adalah ibadah dan setiap ibadah butuh terhadap niat.

Syafi’iyyah :

Ialah berdiam diri dalam masjid yang dilakukan oleh seseorang dengan dibarengi niat.

Hanabilah :

Ialah menetapi masjid untuk taat pada Allah dengan bentuk yang tertentu, dilakukan seorang muslim yang berakal meski ia tamyiz, suci dari hal yang mewajibkan mandi dan Paling sedikit masanya adalah sesaat.

Maka tidak sah dilakukan oleh orang non muslim meski orang murtad, orang gila, belum tamyiz, karena tidak adanya niat dari mereka, tidak sah juga dilakukan oleh orang yang sedang junub meskipun ia berwudhu, tidak cukup hanya dengan melewati masjid dan masa paling pendeknya sekejap mata.

MASA I’TIKAF

I’tikaf boleh dikerjakan disetiap waktu baik dibulan ramadhan atau lainnya, sedang masa paling pendeknya adalah :

– Hanafiyyah : Bila i’tikaf sunah maka masa paling pendeknya adalah masa yang amat sedikit yang tiada dapat dibatasi…

– Malikiyyah : Sehari semalam dan yang lebih baik tidak kurang dari 10 hari dengan disertai puasa ramadhan atau lainnya maka tidak sah dilakukan oleh orang yang tidak berpuasa meskipun karena udzur “Orang yang tidak kuat berpuasa tiada i’tikaf baginya”

– Syafi’iyyah : Menurut pendapat yang paling shahih dikalangan syafi’i disyaratkan dalam i’tikaf dalam waktu yang disebut berdiam diri, dalam arti masanya melebihi kadar masa thuma’ninah seseorang dikala menjalani ruku’ dan selainnya maka tidak cukup hanya dalam waktu sekedar thuma’ninah, tidak harus diam boleh dengan mondar-mandir.

– Hanabilah : Sesaat artinya waktu yang bila dikerjakan maka disebut berdiam diri meskipun sekejap mata.

Dengan demikian mayoritas ulama menyatakan cukupnya i’tikaf dalam masa sesaat sedangkan kalangan malikiyyah mensyaratkan minimalnya sehari semalam.

Al-Fiqh al-Islaam III/123-124

Wallahu a’lamu bisshowab..