logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

S066. UKURAN RAPAT SHAF DALAM SHOLAT

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Sebenarnya ukuran rapat dalam shof sholat itu seberapa rapat sih? minta keterangannya.

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh..

Yaitu ketika bahu bertemu bahu dan kaki bertemu kaki, hal ini dilakukan sewajarnya saja, tidak terlalu rapat namun juga tidak terlalu longgar barisannya.

قال أنس – رواية – فلقد رأيت أحدنا يلصق منكبه بمنكب صاحبه، وقدمه بقدمه.الكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج2 ص29

“Sahabat Anas berkata [dalam sebuah riwayat] maka kami melihat di antara kami saling mempertemukan bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki dari lainnya.”

وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق اهـ جمل.الكتاب : بغية المسترشدين ص 140

“Disebutkan bahwa ukuran lebar shaf ketika hendak shalat yaitu yang umum dilakukan oleh seseorang, dengan tanpa berlebihan dalam lebar dan sempitnya.”

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 112 مكتبة دار الفكر وُتُعْتَبَرُ الْمَسَافَةُ فِيْ عَرْضِ الصُّفُوْفِ بِمَا يُهَيَّأُ لِلصَّلاَةِ وَهُوَ مَا يَسَعُهُمْ عَادَةً مُصْطَفِّيْنَ مِنْ غَيْرِ إِفْرَاطٍ فِي السَّعَةِ وَالضَّيْقِ اهـ جمل

Bahu saling menempel. Kaki renggang sejajar bahu saja. Dan jarak diantara bahunya seseorang ke bahunya orang lain itu jangan terlalu kebar dan jangan terlalu sempit.Dan juga jarak diantara kakinya seseorang ke kakinya orang lain itu jangan terlalu lebar dan jangan terlalu sempit.

Wallahu a’lam bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 56 : TAKBIR DALAM SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 56 :

وَعَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلتَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الْأُولَى وَخَمْسٌ فِي الْآخِرَةِ, وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَنَقَلَ التِّرْمِذِيُّ عَنِ الْبُخَارِيِّ تَصْحِيحَهُ

Dari Amar Ibnu Syuaib dari ayahnya dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Takbir dalam sholat hari raya Fithri adalah tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, dan bacalah al-fatihah dan surat adalah setelah kedua-duanya.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi mengutipnya dari shahih Bukhari.

MAKNA HADITS :

Bilangan witir mempunyai pengaruh yang besar dalam mengingat keesaan Allah
yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Bilangan tujuh mengandung rah asia
besar dimana syariat Islam menjadikan bilangan takbir sholat hari raya menjadi
ganjil. Syariat Islam menjadikannya pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali untuk
mengingatkan ada pekerjaan haji yang dilakukan sebanyak tujuh kali, yaitu tawaf,
sa’i dan melontar jumrah, yang kesemuanya dilakukan sebanyak tujuh kali. Di samping itu, ia bertujuan membuat hati senantiasa rindu untuk mengerjakan ibadah haji, karena menghayati hari raya idul adha mampu mengingatkan diri kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta ini melalui renungan terhadap semua perbuatan-Nya seperti penciptaan tujuh langit, tujuh bumi, dan tujuh hari beserta segala isinya. Hal ini mampu mengingatkan kepada Allah apabila dilakukan pada hari raya idul adha berbanding hari-hari biasa yang selainnya.

Kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah (s.a.w) dalam mensyariatkan segala
sesuatu selalu mengambil berat kemudahan, karena belas kasihan terhadap
umat ini. Antara kemudahan itu ialah bilangan rakaat kedua sholat hari raya lebih diringankan berbanding rakaat yang pertama. Oleh karena bilangan lima adalah bilangan yang mendekati angka tujuh, maka syariat Islam menetapkan lima kali takbir untuk rakaat kedua karena belas kasihan kepada umat ini sehingga diharapkan mereka selalu dalam keadaan taat kepada Allah dan Rasul-Nya

FIQH HADITS :

1. Disunatkan bertakbir dalam sholat dua hari raya, yaitu pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua lima kali takbir. Imam Malik dan Imam Ahmad berkata: “Pada rakaat pertama takbir dilakukan sebanyak tujuh kali termasuk takbiratul ihram, sedangkan pada rakaat kedua takbir dilakukan sebanyak lima kali selain takbir berdiri.”

Imam al-Syafi’i berkata: “Takbir dilakukan sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama selain takbiratul ihram dan pada rakaat kedua lima kali takbir selain takbir berdiri.” Imam Abu Hanifah berkata: “Empat kali takbir termasuk takbiratul ihram pada rakaat pertama dan takbir rukuk pada rakaat kedua tetap dikira empat takbir itu.”

Adapun kesinambungan dalam membaca takbir-takbir tersebut, maka Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa hendaklah seseorang melakukannya secara berkesinambungan tanpa memisahkannya dengan dzikir ataupun bacaan do’a dan hendaklah imam berdiam sebentar menunggu para makmum menyelesaikan bacaan takbirnya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad pula berpendapat bahwa antara setiap takbir hendaklah dipisahkan dengan waktu yang kadarnya lebih kurang sama dengan membaca satu ayat yang tidak panjang dan tidak pula pendek. Murid-murid Imam al-Syafi’i berbeda pendapat mengenai bacaan yang seharusnya dibaca dalam waktu berdiam itu. Kebanyakan mereka menyatakan bahwa waktu berdiam itu hendaklah diisi dengan bacaan:

سبحان الله والحمد لله ولا إله الا الله والله اكبر

“Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha-besar.”

Sebagian mereka pula mengatakan bahwa bacaan itu ialah:

لا اله الا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

“Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Maha Kuasa ke atas segala sesuatu.”

Mazhab Hanbali pula mengatakan bahwa kalimat yang dibaca ketika berdiam itu ialah:

الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا وصلى الله على محمد النبي وعلى أله وسلم تسليما كثيرا

“Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang berlimpah, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan waktu petang, semoga Allah melimpahkan salawat-Nya ke atas Nabi Muhammad serta keluarganya, semoga pula keselamatan Allah sentiasa melimpah kepadanya.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa setiap kali membaca takbir, kedua tangan mestilah diangkat. Abu Yusuf mengatakan bahwa kedua tangan tidak boleh diangkat melainkan hanya ketika takbiratul ihram Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik sebagaimana yang telah diriwayatkan pula oleh Ibn Mutharrif daripada Imam Malik bahwa disunatkan mengangkat kedua tangan setiap kali membaca takbir. Dalam riwayat lain yang bersumber dari Imam Malik disebutkan bahwa seseorang boleh memilih mana yang dia sukai.

Hukum takbir ketika mengerjakan sholat hari raya menurut pendapat jumhur ulama adalah sunat, sedangkan menurut mazhab Hanafi adalah wajib, dimana seseorang berdosa apabila meninggalkannya dengan sengaja. Seseorang yang meninggalkan bacaan takbir itu atau sebagian darinya karena lupa, maka ulama berbeda pandangan dalam masalah ini:

Mazhab al-Syafi’i dan mazhab Hanbali menyatakan bahwa apabila seseorang meninggalkannya hingga selesai bacaan al-Qur’an, dia tidak boleh mengulanginya lagi dan tidak perlu pula melakukan sujud sahwi.

Mazhab Maliki menegaskan bahwa apabila seseorang lupa hingga tidak membaca takbir hingga selesai bacaan al-Qur’an, sedangkan dia masih belum rukuk, maka dia dibolehkan melakukan takbir, kemudian melakukan sujud sahwi sesudah salam. Ini karena setiap takbir daripada takbir-takbir sholat hari raya merupakan sunat mu’akkad. Jika seseorang ingat setelah melakukan rukuk, maka hendaklah dia meneruskan sholatnya. Jika dia sebagai imam, maka hendaklah melakukan sahwi sesudah salam dan begitu pula seseorang yang mengerjakan sholat secara bersendirian.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa seandainya seseorang meninggalkan
takbir hingga selesai bacaan al-Qur’an, namun dia baru mengingatinya
ketika sedang rukuk, maka dia boleh membaca takbir dalam keadaan rukuk
itu. Jika mengingatinya setelah mengangkat tubuh daripada rukuk, maka hendaklah dia melakukan sujud sahwi sebagai penggantinya karena orang itu telah melalaikan suatu yang wajib.

2. Membaca al-Qur’an pada sholat hari raya. Menurut jumhur ulama, ia dilakukan sesudah membaca takbir pada kedua rakaat tersebut. Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa seseorang hendaklah meneruskan
kedua bacaan itu secara berkesinambungan. Dengan arti kata lain, dia melakukan takbir pada rakaat pertama, lalu membaca al-Qur’an dan pada rakaat yang kedua, dia terus membaca al-Qur’an dan setelah itu barulah melakukan takbir. Beliau mengatakan bahwa takbir merupakan pujian, sedangkan pujian yang disyariatkan pada rakaat pertama mendahului bacaan al-Qur’an dan doa iftitah sedangkan pada rakaat yang kedua
disyariatkan mengakhirkannya sama halnya dengan do’a qunut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian kajian hadits hari ini

Semoga bermanfaat.. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M106. HUKUM MENCABUT BULU HIDUNG

PERTANYAAN :Assalamualaikum wr wb..Mohon penjelasan hukum ”MENCABUT BULU HIDUNG” kadang saya merasa geli & gak enak dengan bulu hidung.. Dan tadi saya baca ada artikel, menurut kesehatan begini ”Mencabut Bulu Hidung Berujung Maut” sedemikiankah efek mencabut bulu tersebut. Kalau menurut hukum Islam??JAWABAN :Waalaikumussalam wr wb..Dalam Al-Fiqh ‘Ala Madzahibi Al-Arba’ah Juz 2 Hal 43-44 diterangkan tentang Hukum Menghilangkan Bulu Dan Menggunting Kuku :ﻓﻲ ﺣﻜﻢ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﻭﻗﺺ ﺍﻷﻇﺎﻓﺮ ﺗﻔﺼﻴﻞ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ – ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻧﺘﻒ ﺷﻌﺮ ﺍﻷﻧﻒ ﺑﻞ ﻳﺴﻦ ﻗﺼﻪ ﺇﻥ ﻃﺎﻝ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﺮﻛﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺔAsy-syafi’iyyah : Dimakruhkan mencabut bulu hidung, akan tetapi disunahkan mengguntingnya jika dirasa panjang, dan biarkan tetap ada karena keberadaannya mempunyai manfaat kesehatan (sebagai filter udara).ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ – ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﺃﻣﺎ ﺣﻠﻖ ﺷﻌﺮ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺍﻟﺼﺪﺭ ﻓﻬﻮﺧﻼﻑ ﺍﻷﺩﺏHanafiyyah : Adapun mencukur bulu yang tumbuh di punggung dan di dada, hukumnya khilaful adab/menyalahi adab.ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ – ﻗﺎﻟﻮﺍ : -ﻭﻳﺒﺎﺡ ﺣﻠﻖ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﻛﺸﻌﺮ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻭﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻭﺍﻷﻟﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﻌﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻠﻰ ﺣﻠﻘﺔ ﺍﻟﺪﺑﺮMalikiyyah : Diperbolehkan mencukur seluruh bulu yang tumbuh di badan seperti bulu dada dan bulu di kedua tangan, bulu di bokong (maaf, di pantat) dan bulu di sekitar anus.Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S065. ALASAN QUNUT SHALAT WITIR SETELAH TANGGAL 15 RAMADHAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Semuanya.

Saya mau bertanya tentang Qunut di bulan Ramadlan. Kenapa yang disunnahkan membaca Qunut pada tanggal 15 akhir bulan Ramadlan dalam shalat sunnah Witir ? Kenapa dari tanggal 1 s/d 14 tidak dianjurkan, silahkan saudara-saudaraku berbagi ilmunya.

Terimakasih.

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan di atas, kita awali dari Hadits ‘Umar :

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺍﻟﺘﻠﺨﻴﺺ ﺍﻟﺤﺒﻴﺮ ﻓﻲ ﺗﺨﺮﻳﺞ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ 2/122 :

50- 551 ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ ” : ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﻦ ﺣﻤﺪﻩ . ” ﺭﻭﻳﻨﺎﻩ ﻓﻲ ﻓﻮﺍﺋﺪ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﺭﺯﻗﻮﻳﻪ ﻋﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺍﻟﺴﻤﺎﻙ ، ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻛﺎﻣﻞ ، ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺣﻔﺺ ﻗﺎﻝ : ﻗﺮﺃﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻘﻞ ، ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ، ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺧﺮﺝ ﻟﻴﻠﺔ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻫﻮ ﻣﻌﻪ ، ﻓﺮﺃﻯ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﺃﻭﺯﺍﻋﺎ ﻣﺘﻔﺮﻗﻴﻦ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﺑﻬﻢ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﻓﺨﺮﺝ ﻋﻤﺮ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﺑﺼﻼﺓ ﻗﺎﺭﺋﻬﻢ ، ﻓﻘﺎﻝ : ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ ، ﻭﺍﻟﺘﻲ ﻳﻨﺎﻣﻮﻥ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻘﻮﻣﻮﻥ . ﻳﺮﻳﺪ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻘﻮﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺃﻭﻟﻪ . ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺭﻛﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﺉ ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﻦ ﺣﻤﺪﻩ ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻟﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ . ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ .

551-50 – Hadits ‘Umar : Sunnah adalah apabila bulan Ramadhan sudah dapat separuh maka hendaknya melaknat orang-orang kafir di dalam shalat witir setelah membaca : Sami’allahu Liman Hamidahu. Kami meriwayatkannya dalam Fawa`id Aby al-Hasan bin Razqawih dari ‘Utsman bin al-Simak dari Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Kamil dari Sa’id bin Hafsh berkata: Kami membaca atas Mi’qal dari al-Zuhry dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qary bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan ‘Umar keluar dan dia bersamanya. Lalu ‘Umar melihat jama’ah masjid mengerjakan shalat secara terbagi dan terpisah-pisah. Dan dia menyuruh Ubay bin Ka’ab untuk mengomandoi mereka dibulan Ramadhan. Kemudian ‘Umar keluar sementara jama’ah melakukan shalat dengan panduan imam mereka, lalu dia berkata: Alangkah baiknya bid’ah ini, dan sesuatu yang mereka tidur meninggalkannya itu lebih utama dari apa yang mereka lakukan (dia maksudkan) di akhir malam, dan mereka melakukan di awal malam. Dan ‘Umar berkata: Sunnah adalah apabila bulan Ramadhan dapat separuh maka hendaknya melaknat orang-orang kafir di akhir rakaat shalat witir setelah membaca : Sami’allahu Liman Hamidahu. Lalu berdo’a: Wahai Allah, laknatilah orang-orang kafir. Sanad hadits ‘Umar ini Hasan.

Hubungan hadits di atas dengan hadits di bawah ini untuk mengetahui rahasia penempatan do’a qunut pada separuh akhir di bulan Ramadhan :

ﻣﺮﻗﺎﺓ ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻴﺢ ﺷﺮﺡ ﻣﺸﻜﺎﺓ ﺍﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ – ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻼﺓ – ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻘﻨﻮﺕ- ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺭﻗﻢ3 :

ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ 1293 – ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ، ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﻬﻢ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻟﻴﻠﺔ ، ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺑﻬﻢ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﺗﺨﻠﻒ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ، ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺃﺑﻖ ﺃﺑﻲ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ .

ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺑﻬﻢ ، ﺃﻱ : ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﻭﻟﻌﻠﻪ ﻣﻘﻴﺪ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻟﻤﺎ ﻣﺮ ﺑﺴﻨﺪ ﺹﺣﻴﺢ ﺃﻭ ﺣﺴﻦ ، ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﺛﻢ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺗﻔﺎﺅﻻ ﺑﺰﻭﺍﻟﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻘﺎﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﻣﺤﺎﻟﻠﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻘﺎﺻﻬﻢ ، ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻴﺮ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﻟﻠﺤﺠﺎﻣﺔ ﻭﺍﻟﻔﺼﺪ ﻣﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺪﻡ ﻟﺨﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﻭﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﻌﺎﻫﺔ .

Fasal Ketiga 1293 – dari al-Hasan ra. bahwa ‘Umar bin al-Khatthab ra. mengumpulkan jama’ah atas pemandu Ubay bin Ka’ab, lalu dia melakukan shalat bersama mereka selama dua puluh malam, dan dia tidak berdo’a qunut bersama mereka kecuali di separuh akhir yang tersisa. Kemudian ketika sudah sepuluh hari yang akhir dia mundur lalu shalat di rumahnya. Lantas mereka berkata: Ubay telah kabur. HR. Abu Daud

Redaksi Hadits: “Dan dia tidak berdo’a qunut bersama mereka”. Maksudnya dalam shalat witir dan barangkali hal itu teruntuk mendo’akan orang-orang kafir sesuai hadits yang telah lewat dengan sanad yang shahih atau hasan dari ‘Umar “bahwa sunnah adalah apabila Ramadhan sudah dapat separuh hendaknya melaknat orang-orang kafir dalam shalat witir”. Kemudian wajah hikmah terpilihnya separuh akhir itu sebagai sikap pengharapan dengan sirnanya mereka, berpindahnya mereka dari perkemahannya, dan berkurangnya jumlah mereka, sebagaimana terpilihnya separuh akhir dalam setiap bulan untuk melakukan bekam, cantuk dari keluarnya darah karena keluarnya penyakit, dan sirnanya penyakit hama.

– Fathulwahhab bab shalat sunnah :

.وان الجماعة تنذب فى الوترتقب التراويح جماعة وتقدم فى صفةالصلاةانه يسن فيه القنوت في النصف الثاني من رمضان

Disunnahkan berjama’ah dalam salat witir bulan ramadan dan juga disunnahkan berqunut pada separo kedua bulan ramadan dalam salat witir.

الوسيط (2/ 213)

الخامس القنوت مستحب في الوتر في النصف الأخير من رمضان بعد رفع الرأس من الركوع وقال أبو حنيفة يقنت قبل الركوع في الوتر جميع السنة وقال مالك بعد الركوع في جميع شهر رمضان وفي الجهر بالقنوت خلاف

Yang ke 5 qunut disunnahkan pada sholat witir diseparo akhir dari bulan romadlon setelah mengangkat kepala dari ruku’, Abu Hanifah berpendapat sunnah melakukan qunut sebelum melakukan rukuk pada sholat witir dalam semua tahun, imam malik berpendapat qunut setelah rukuk pada sholat witir hukumnya sunnah dibulan romadlon secara keseluruhan, adapun tentang hukum membaca nyaring pada qunut terjadi perbedaan pendapat.

Wallohu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 55 : RANGKAIAN IBADAH DALAM SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 55 :

وَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى, وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ, ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ -وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ- فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

ِDari Abu Said Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar pada hari raya Fithri dan Adlha ke tempat sholat, sesuatu yang beliau dahulukan adalah sholat, kemudian beliau berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, orang-orang masih tetap pada shafnya, lalu beliau memberikan nasehat dan perintah kepada mereka. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Apa yang dikerjakan oleh Nabi (s.a.w) ketika hari raya adalah keluar menuju tempat sholat dan mengerjakan sholat hari raya sebelum khutbah. Ketika berkhutbah, beliaumenghadapkan wajahnya ke arah kaum muslimin. Apa yang disampaikannya di dalam khutbah adalah nasehat, petunjuk, peringatan dan larangan. Baginda tidak
melakukan sholat sunnat, baik sebelum ataupun sesudahnya. Demikianlah Sunnah yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w).

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan keluar menuju tempat sholat untuk mengerjakan sholat hari raya.2. Mendahulukan sholat hari raya sebelum berkhutbah. 3. Tidak ada mimbar di tempat sholat karena sholat hari raya dilakukan di luar masjid.4. Khutbah mengandung perintah melakukan amal kebaikan dan nasehat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

P013. HUKUM NIAT PUASA RAMADHAN SEBULAN PENUH

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Bentar lagi puasa romadhon, mau tanya tentang niatnya. Boleh tidak niatnya sekaligus sebulan, seperti…. “Nawaitu shouma syahri romadlon kullihi” atas jawabanya saya ucapkan terma kasih.

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warahmatullahi wabarakatuh..

Niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa romadlon hukumya disunahkan. Sedangkan hukum niat untuk puasa hari-hari setelah hari pertama ulama berbeda pendapat (khilaf) :

1.menurut madzhab syafi’iyah niat puasa untuk sebulan penuh tersebut cukup untuk puasa satu hari yang pertama,sehingga stiap hari puasa romadlonya wajib di niati,jika tidak di niati maka tidak sah puasanya sbulan tersebut kecuali puasa romadlon hari pertamanya.

2.sedangkan menurut imam Malik niat puasa romadlon untuk sebulan penuh sdah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali, yang artinya jika tidak niatpun sudah sah karena niatnya sudah sebulan penuh pada malam hari pertama awal puasa Romadlon tersebut. [ Hasyiya qulyubi wa ‘umairoh 2/67, Al majmu’ syarah muhadzab 6/303, Hasyiyah al bajuri 1/288 ].

Sedikit mengutipkan dari kitab Kasyifatus Sajaa :

فلو نوى ليلة اول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول ، لكن ينبغى له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذى نسي النية فبه عند مالك كما يسن له ان ينوى اول اليوم الذى نسيها فيه ليحصل له صومه عند ابى حنيفة و واضح ان محله ان قلد و الا كان متلبسا بعبادة فاسدة فى اعتقاده و هو حرام كاشفة السجا ١١٧

Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadhan untuk melakukan puasa keseluruhannya ( 1 bulan full ) maka menurut Madzhab Syafii tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada tiap malamnya. Tetapi menurut pendapat madzhab Maliki niat jamak puasa 1 bulan adalah sunah hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati. Hal senada juga dikemukakan oleh Madzhab Hanafi. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah kita tidak boleh mencampur adukan madzhab. Bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah kerusakan ibadah.

Menurut Syafi’iyyah niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa Romadlon hukumya SUNNAH dan hanya mencukupi niat tersebut untuk malam pertama saja sedang bagi Malikiyyah dapat mencukupi pada malam-malam ramadhan berikutnya selama sebulan bila kebetulan ia lupa menjalankan niat.

قَوْلُهُ : ( التَّبْيِيتُ ) أَيْ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَنَا كَالْحَنَابِلَةِ وَالْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ اكْتَفَى الْحَنَفِيَّةُ بِالنِّيَّةِ نَهَارًا لِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَلِذَلِكَ تَعَدَّدَتْ الْكَفَّارَةُ بِالْوَطْءِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْهُ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ ، وَعِنْدَنَا لِلَّيْلَةِ الْأُولَى فَقَطْ .

(Keterangan niat di malam hari) artinya pada setiap malam dibulan Ramadhan menurut kalangan Kami (Syafi’iyyah) seperti pendapat kalangan Hanabilah dan Hanafiyyah hanya saja dikalangan Hanafiyyah menganggap cukup bila niatnya dikerjakan pada siang hari.

Sebab setiap hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah tersendiri karenanya diwajibkan membayar banyak kaffaarat (denda pelanggaran) sebab berkali-kalinya senggama disiang hari disetiap hari-hari ramadhan namun disunahkan dimalam pertama pada bulan ramadhan niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik yang menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya disemua malam ramadhan dan bagi kami (Syafi’iyyah) niat yang demikian hanya mencukupi pada malam pertama saja. [ Hasyiyah al-Qolyuby V/365 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 54 : MENGERJAKAN SHALAT SUNNAH DI RUMAH SETELAH SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 54 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يُصَلِّي قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئًا, فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Dari Abu Said Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak melakukan sholat apapun sebelum sholat hari raya, bila beliau kembali ke rumahnya beliau sholat dua rakaat. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.

MAKNA HADITS :

Jika ada dua hadis yang maknanya secara dzahir saling bertentangan, maka
pemahaman keduanya mestilah digabungkan. Dalam hadis sebelum ini telah
disebutkan bahwa tidak ada sholat (sunat) pada hari raya (yakni sholat sunat hari
raya), baik sebelum ataupun sesudahnya, sedangkan hadis ini menunjukkan
bahwa disyariatkan mengerjakan sholat sunat dua rakaat sesudahnya. Jika kedua hadis ini digabungkan, maka berarti penafian ini ditujukan kepada tempat sholat, sedangkan penetapan ditujukan kepada pelaksanaannya di dalam rumah. Dengan ini diharapkan tidak ada lagi perbedaan pemahaman diantara kedua hadis ini.

FIQH HADITS :

1. Tidak disunatkan mengerjakan sholat sunat sebelum mengerjakan sholat hari
raya.

2. Disyariatkan mengerjakan sholat dua rakaat di rumah setelah kembali pulang dari melaksanakan sholat hari raya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 53 : TIDAK ADA ANJURAN ADZAN DAN IQAMAH DALAM SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 53 :

وَعَنْهُ: ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى الْعِيدَ بِلَا أَذَانٍ, وَلَا إِقَامَةٍ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat hari raya tanpa adzan dan qomat. Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana hukum sholat hari raya adalah sunat mu’akkad, maka tidak disyariatkan
adzan dan iqamah, karena adzan dan iqamah hanya khusus bagi sholat fardhu.
Mengumandangkan adzan untuk mengerjakan sholat hari raya adalah bi’dah dan orang yang pertama berbuat demikian adalah Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Juru adzan untuk sholat hari raya dianjurkan mengumandangkan:

الصلاة جامعة

(Kerjakanlah sholat dengan berjemaah) karena berdalilkan kepada hadis Muslim dan
diperkuat oleh qiyas ke atas sholat gerhana yang semua itu telah ditetapkan.

FIQH HADITS :

1. Tidak disyariatkan mengumandangkan adzan dan iqamah untuk mengerjakan sholat dua hari raya.

2. Kaum wanita boleh keluar menuju ke tempat sholat.

3. Pada hari raya imam disunatkan menasehati kaum wanita dan menganjurkan
mereka untuk bersedekah dan lain-lain sebagainya.

4. Boleh meminta sedekah untuk orang yang memerlukannya.

5. Wanita boleh menyedekahkan hartanya tanpa perlu meminta kebenaran suaminya.

6. Kaum wanita pada zaman Rasulullah (s.a.w) senantiasa bersegera mengeluarkan sedekah dari harta milik mereka meskipun itu adalah harta kesayangan mereka seperti perhiasan yang sedang mereka pakai.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M105. HUKUM JUAL BELI KREDIT DENGAN SISTEM LEASING

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Apakah pembelian barang dengan sistem kredit adalah RIBAWI, karena jika terlambat 1 – 2 hari maka pembayaran bertambah besar ?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Sebenarnya perdagangan yang tidak beresiko tinggi kearah ribawi memang dengan memakai system naqdan (kontan), namun demikian menjual barang dengan sistem kredit yang di kenal dalam fikih dengan istilah bai’ bi tsaman ‘aajil (menjual barang dengan harga tempo) penjualan model seperti ini hukumnya sah-sah saja.

Saat terjadi penjualan barang dengan memakai sistem kredit yang perlu diperhatikan adalah adanya pilihan harga yang jelas dari kedua belah pihak, sehingga tidak terjadi penjualan satu barang dengan dua harga (bai’atun fi bai’ataini) yang dilarang dalam Hadits riwayat at-Tirmidzi. Semisal penjual bilang pada pembeli, “Aku jual barang ini kepada kamu dengan harga 1.000 kontan atau dengan harga 2.000 dengan tempo (kredit). Terserah kamu pilih harga yang mana.”

– Roudhotu Thoolibiin III/397 :

والثاني أن يقول بعتكه بألف نقدا أو بألفين نسيئة فخذه بأيهما شئت أو شئت أنا وهو باطل أما لو قال بعتك بألف نقدا وبألفين نسيئة أو قال بعتك نصفه بألف ونصفه بألفين فيصح العقد

Lihat juga : Al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuh, V/147; Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil-Minhaj, 17/54

Catatan : Meskipun terjadi TAROODHI saling suka rela antara dua belah pihak (penjual-pembeli) dengan transaksi yang mereka lakukan itupun tidak berpengaruh terhadap rusaknya akad, artinya transaksinya tetap dianggap batal dan berkonsekwensi(berakibat) wajibnya mengembalikan barang yang telah mereka terima.

Sedangkan transaksi kredit dengan praktek perjanjian pencabutan barang serta hangusnya uang cicilan disaat konsumen tidak mampu memenuhi kewajiban angsuran dalam jangka tertentu adalah tidak sah kecuali jika hal itu dilakukan di luar aqad (kharij al-aqd).

سلم التوفق ص : 65

واعلم ان الكلام وسيلة إلى المقاصد فكل مقصود محمود يمكن التوصل اليه بالصدق والكذب جميعا فالكذب فيه حرام لعدم الحاجة اليه وان أمكن التوصل اليه بالكذب ولم يمكن بالصدق فالكذب فيه مباح ان كان تحصيل ذلك المقصود مباحا وواجب ان كان المقصود واجبا فاذا اختفى مسلم من ظالم وسأل عنه وجب الكذب بإخفائه وكذا لو كان عنده أو عند غيره وديعة وسأل عنها ظالم قهرا وجب ضمانها على المودع المخبر. اهـ

حواشي الشرواني ج: 4 ص: 294

(وقوله في بيعة ) بفتح الباء اه ع ش (قوله بخلاف بألف الخ ) أي فإنه يصح ويكون الثمن ثلاثة آلاف ألف حالة وألفان مؤجلة لسنة اه نهاية )قوله وألفين لو زاد على ذلك فخذ بأيهما شئت الخ( ففي شرح العباب أن الذي يتجه البطلان وإن تردد فيه الزركشي لأن قوله فخذ الخ مبطل لإيجابه فبطل القبول المترتب عليه سم على حج اهـ

(قوله بألف نقدا وألفين إلي سنة الخ) قضيته بطلان ذلك وإن قبل بأحدهما معينا وهو الأوجه في شرح العباب وفاقا لمقتضى كلام الغزالي وغيره خلافا لما نقله ابن الرفعة عن القاضي من الصحة حينئذ وتخصيص البطلان بقبوله علي الإبهام أو بقبولهما معا .اهـ

المجموع ج: 9 ص: 364

الشروط خمسة أضرب أحدها: ما هو من مقتضى العقد بأن باعه بشرط خيار المجلس أو تسليم المبيع أو الرد بالعيب أو الرجوع بالعهدة أو انتفاع المشتري كيف شاء وشبه ذلك فهذا لا يفسد العقد بلا خلاف لما ذكره المصنف ويكون شرطه توكيداً وبياناً لمقتضاه الضرب الثاني: أن يشترط ما لا يقتضيه إطلاق العقد لكن فيه مصلحة للعاقد كخيار الثلاث والأجل والرهن والضمين والشهادة ونحوها، وكشرط كون العبد المبيع خياطاً أو كاتباً ونحوه فلا يبطل العقد أيضاً بلا خلاف بل يصح ويثبت المشروط الضرب الثالث: أن يشترط ما لا يتعلق به غرض يورث تنازعاً كشرط ألا يأكل إلا الهريسة، أو لا يلبس إلا الخز أو الكتان، قال إمام الحرمين وكذا لو شرط الإشهاد بالثمن وعين شهوداً وقلنا لا يتعينون فهذا الشرط لا يفسد العقد، بل يلغو ويصح البيع، هذا هو المذهب، وبه قطع إمام الحرمين والغزالي ومن تابعهما، وقال المتولي لو شرط التزام ما ليس بلازم بأن باع بشرط أن يصلي النوافل، أو رمضان أو يصلي الفرائض في أول أوقاتها بطل البيع لأنه ألزم، ما ليس بلازم، قال الرافعي مقتضى هذا فساد العقد في مسألة الهريسة ونحوها، والله سبحانه وتعالى أعلم الضرب الرابع: أن يبيعه عبداً أو أمة بشرط أن يعتقه المشتري ففيه ثلاثة أقوال الصحيح المشهور الذي نص عليه الشافعي في معظم كتبه وقطع به المصنف وأكثر الأصحاب، أن البيع صحيح طاعة لازم يلزم الوفاء به ولثاني يصح البيع ويبطل الشرط، فلا يلزمه عتقه والثالث يبطل الشرط والبيع جميعـاً همام من الشروط، والمذهب صحتهما

Dalam transaksi dikalangan kaum Hawa sering juga kita dengar istilah YARNEN (membayar panen), YARDU (membayar gadu), YARSEM (membayar karo mesem). Apapun jenis transaksi seperti diatas kalau jelas akadnya maka SAH, yang tidak sah bila dijual dengan model akad “Aku jual barang ini kepada kamu dengan harga 1.000 kontan atau dengan harga 2.000 dengan tempo (kredit). Terserah kamu pilih harga yang mana.”

Bagaimana kalau beli barang dengan barang. Misal beli minyak goreng dengan beras ? Coba saya sebutkan macam-macam definisi akad/transaksi dalam fiqh :

قال الدارمي في جمع الجوامع و من خطه نقلت : إذا كان المبيع غير الذهب و الفضة بواحد منهما فالنقد ثمن و غيره مثمن و يسمى هذا العقد : بيعا و إذا كان غير نقد سمى هذا العقد : معاوضة و مقايضة و منافلة و مبادلة لان كان نقدا سمي : صرفا و مصارفة و إن كان الثمن مؤخرا سمي : نسيئة وإن كان المثمن مؤخرا سمي : سلما أو سلفا و إن كان المبيع منفعة : سمي : إجارة أو رقبة العبد له سمي : كتابة أو بضعا سمي : صداقا أو خلعا انتهى

“Berkata Imam Daroomi dalam Kitab Jam’u Aljawaami’ :
~ Bila yang di jual tidak berupa emas dan perak, sedang (alat pembayaran) dengan alat pembayaran emas dan perak (uang), maka alat pembayaran dinamakan harga, sedang barangnya di namakan yang dihargai, dan transaksinya namanya jual beli
~ Bila alat pembayaran tidak berupa emas dan perak (uang, misalnya barang dengan barang) nama transaksinya Mu’aawadhoh/Muqooyadhoh/Munafalah/Mubadalah (barter)
~ Bila alat pembayaran berupa emas dan perak (uang),maka nama transaksinya adalah pembelanjaan
~ Bila harga (uang) dibelakang, maka nama transaksinya adalah kredit
~ Bila barang di belakang,maka nama transaksinya adalah pesan
~ Bila barang berupa jasa,maka nama transaksinya adalah sewa
~ Bila barang berupa pembebasan hamba,maka nama transaksinya adalah kitaabah
~ Bila barang berupa BUDH’ (“farji’nya” nya wanita),maka nama transaksinya adalah mas kawin” [ Asyabah 463 ]

Bolehkah jual beli barang dengan barang ? Diperbolehkan asal tidak terjadi RIBA FADHL (riba yang terjadi dalam masalah barter / tukar menukar benda). Namun bukan dua jenis benda yang berbeda, tapi dari satu jenis barang namun dengan kadar atau takaran yang berbeda

.ويسمى ربا الفضل لفضل أحد العوضين على الآخر

Di dalam masyarakat sering terjadi berbagai macam perdagangan ada yang sistim kontan ada juga yang sistim kredit / tempo, kalau mengkreditkan emas termasuk riba gak pak ustad? Sama halnya dengan hukum diatas, Kalau saat transaksi pihak penjual berkata “Aku jual barang (emas) ini seharga 800.000 dengan kredit maka sah-sah saja”. Berbeda saat penjual bilang “Aku jual barang (emas) ini kepada kamu dengan harga 700.000 kontan atau dengan harga 800.000 dengan tempo (kredit). Terserah kamu pilih harga yang mana.” Kemudian antara penjual dan pembeli tidak mengadakan bentuk kesepakan transaksi yang disetujui dan berpisah, maka ini tidak boleh karena harga barang (emas) tersebut masih tidak di ketahui karenanya transaksi semacam ini di hukumi fasid (rusak), berbeda hukumnya dengan bila telah sepakat mengambil salah satu bentuk transaksi baik kontan/kredit sebelum keduanya berpisah….

Pada dasarnya jual beli saat buah belum nampak kebaikannya (masih muda/masih belum masak) tidak diperbolehkan karena masih rawan penyakit disamping akan menimbulkan gambling(perjudian, untung-untungan) pada kedua belah pihak,. Berikut ketentuan jual beli buah dalam saat belum tampak kebaikannya menurut ketentuan syara’ :
1. Padi, jagung, semangka, terong sayuran, tidak di perbolehkan dijual sebelum tampak kebaikannya(matangnya) kecuali dipetik langsung atau dijual bersama tanahnya.
2. Kurma, kelapa dan buah dalam batang pohon lainnya, tidak diperbolehkan dijual sebelum tampak kebaikannya(matangnya) kecuali dipetik langsung atau dijual bersama batang pohonnya atau bersama tanahnya.

Solusi dalam mengatasi masalah pembelian buah yang masih belum tampak kebaikannya(matangnya) dan belum di mungkinkan untuk segera di potong bila memang hal semacam ini terjadi di lingkungan kita dan tidak dapat bagi kita menghindarinya :
1. Mengikuti pendapat Imam Syafii dengan Qoul Qadiimnya yang memperkenankan penjualan semacam padi meski masih dalam tangkainya asalkan bentuk bijinya telah mengeras (dapat diperkirakan rata-rata hasil buahnya di saat siap potong. [ al Majmu’ juz 5 hal 49 dan juz 10 hal 472 ].
2. Antara penjual dan pembeli tidak mengadakan akad jual beli tapi mengadakan akad saling hibah menghibahi.

– Siraaj Alwahhaab I/308 :

وكذلك الثمار قبل بدو الصلاح تجوز هبتها من غير شرط القطع بخلاف البيع

Wallaahu A’lamu Bis Showaab.

Kategori
Uncategorized

M104. HUKUM MENARIK BARANG KREDIT MACET

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh.

Kebanyakan masyarakat lebih memilih mengkredit dari pada membeli secara kontan, disamping uang mukanya murah, ansuran tiap bulannya pun dapat dijangkau. Tapi bagaimanapun sebenarnya dealer tidak mau rugi, buktinya bagi pengkredit yang tidak mampu mengansur dalam beberapa bulan sepeda motor akan disita dan uang akan menjadi hangus.

Pertanyaan:

a. Termasuk transaksi apakah kasus diatas dan bagaimana hukumnya?

b. Dapatkah dibenarkan tindakan dealer menyita sepeda motor tanpa mengembalikan uang dengan alasan di atas?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

a. Transaksi di atas dinamakan akad Bai’ bi Tsamanin Muajjalin (jual beli dengan harga yang ditempo) yang hukumnya tidak sah jika persyaratan disebutkan dalam akad (fi shulbi al-‘aqdi) dan sah jika tidak disebutkan dalam akad.

b. Berpijak pada akad yang sah, maka tidak dibenarkan, karena yang diambil pihak dealer melebihi kapasitas(besarnya) piutangnya (tagihan ansuran selama tiga bulan). Bila akadnya fâsid (rusak), maka penyitaan sepeda motor yang dilakukan oleh dealer dibenarkan, tapi pihak dealer harus mengembalikan uang cicilan tersebut sesuai dengan penggunaan pihak pengkredit. Supaya tidak merugikan salah satu pihak.

Referensi :

المجموع شرح المهذب الجزء 9 صحـ : 452 مكتبة مطعبة المنيرية

( فَرْعٌ ) لَوْ بَاعَ بِشَرْطِ أَنْ لَا يُسَلِّمَ الْمَبِيعَ حَتَّى يَسْتَوْفِيَ الثَّمَنَ فَإِنْ كَانَ الثَّمَنُ مُؤَجَّلًا بَطَلَ الْعَقْدُ لِأَنَّهُ يَجِبُ تَسْلِيمُ الْمَبِيعِ فِي الْحَالِ فَهُوَ شَرْطٌ مُنَافٍ لِمُقْتَضَاهُ وَإِنْ كَانَ حَالًّا بُنِيَ عَلَى أَنَّ الْبَدَاءَةَ فِي التَّسْلِيمِ بِمَنْ ( فَإِنْ قُلْنَا ) بِالْبَائِعِ لَمْ يَفْسُدْ وَإِلَّا فَيَفْسُدُ لِلْمُنَافَاةِ .

– المجموع شرح المهذب الجزء 9 صحـ : 452 مكتبة مطعبة المنيرية

( فَرْعٌ ) فِي مَذَاهِبِهِمْ فِيمَنْ بَاعَ سِلْعَةً وَقَالَ فِي الْعَقْدِ لِلْمُشْتَرِي إنْ لَمْ تَأْتِ بِالثَّمَنِ فِي الْوَقْتِ الْفُلَانِيِّ فَلَا بَيْعَ بَيْنَنَا فَمَذْهَبُنَا بُطْلَانُ هَذَا الْبَيْعِ وَحَكَى ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ الثَّوْرِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ أَنَّهُ يَصِحُّ الْبَيْعُ وَالشَّرْطُ قَالَ وَبِهِ قَالَ أَبُو ثَوْرٍ إذَا كَانَ الشَّرْطُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ وَرُوِيَ مِثْلُهُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَبِهِ قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ إنْ كَانَ الْوَقْتُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ صَحَّ الْبَيْعُ وَبَطَلَ الشَّرْطُ وَإِنْ كَانَ أَكْثَرَ فَسَدَ الْبَيْعُ فَإِنْ نَقَدَهُ فِي ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ صَحَّ الْبَيْعُ وَلَزِمَ وَقَالَ مُحَمَّدٌ يَجُوزُ نَحْوُ عَشَرَةِ أَيَّامٍ قَالَ وَقَالَ مَالِكٌ إنْ كَانَ الْوَقْتُ نَحْوَ يَوْمَيْنِ وَثَلَاثَةٍ جَازَ دَلِيلُنَا أَنَّهُ فِي مَعْنَى تَعْلِيقِ الْبَيْعِ فَلَمْ يَصِحَّ .

– نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 477 مكتبة دار الفكر

( وَلَا يَصِحُّ بَيْعُ الْعُرْبُونِ ) بِفَتْحِ أَوَّلَيْهِ وَهُوَ الْأَفْصَحُ وَبِضَمٍّ فَسُكُونٍ وَيُقَالُ لَهُ الْعُرْبَانُ بِضَمٍّ فَسُكُونٍ وَهُوَ مُعَرَّبٌ وَأَصْلُهُ التَّقْدِيمُ وَالتَّسْلِيفُ ثُمَّ اُسْتُعْمِلَ فِيمَا يَقْرُبُ مِنْ ذَلِكَ كَمَا أَفَادَهُ قَوْلُهُمْ ( بِأَنْ يَشْتَرِيَ ) سِلْعَةً ( وَيُعْطِيه دَرَاهِمَ ) مَثَلًا وَقَدْ وَقَعَ الشَّرْطُ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ عَلَى أَنَّهُ إنَّمَا أَعْطَاهَا ( لِتَكُونَ مِنْ الثَّمَنِ إنْ رَضِيَ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَهِبَةً ) بِالنَّصْبِ وَيَجُوزُ رَفْعُهُ لِلنَّهْيِ عَنْهُ لَكِنَّ إسْنَادَهُ لَيْسَ بِمُتَّصِلٍ وَلِمَا فِيهِ مِنْ شَرْطَيْنِ مُفْسِدَيْنِ شَرْطُ الْهِبَةِ وَشَرْطُ رَدِّ الْبَيْعِ بِتَقْدِيرِ أَنْ لَا يَرْضَى اهـ

– حاشية الجمل الجزء 3 صحـ : 75 مكتبة دار الفكر

أَنَّ كُلَّ شَرْطٍ مُنَافٍ لِمُقْتَضَى الْعَقْدِ إنَّمَا يُبْطِلُهُ إذَا وَقَعَ فِي صُلْبِهِ أَوْ بَعْدَهُ وَقَبْلَ لُزُومِهِ بِخِلَافِ مَا لَوْ تَقَدَّمَ عَلَيْهِ وَلَوْ فِي مَجْلِسِهِ اهـ

– إعانة الطالبين الجزء 3 صحـ : 7 مكتبة دار الفكر

(وَقَوْلُهُ الْمَقْبُوْضُ بِهَا) أي بالمعطاة (وَقَوْلُهُ كَالْمَقْبُوْضِ بِالْبَيْعِ الْفَاسِدِ) أَيْ فَيَجِبُ عَلَى كُلٍّ أَنْ يَرُدَّ مَا أَخَذَهُ عَلَى الآخَرِ إِنْ بَقِيَ أَوْ بَدَّلَهُ إِنْ تَلِفَ. قَالَ سم فَهُوَ إِذَا كَانَ بَاقِيًّا عَلَى مِلْكِ صَاحِبِهِ فَإِنْ كَانَ زَكَوِيًّا فَعَلَيْهِ زَكَاتُهُ لَكِنْ لا يَلْزَمُ إِخْرَاجُهَا إِلا إِنْ عَادَ إِلَيْهِ أَوْ تَيَسَّرَ أَخْذُهُ وَإِنْ كَانَ تَالِفًا فَبَدَلُهُ دَيْنٌ لِصَاحِبِهِ عَلَى الآخَرِ فَحُكْمُهُ كَسَائِرِ الدُّيُوْنِ فِي الزَّكَاةِ اهـ (قَوْلُهُ أَيْ فِي أَحْكَامِ الدُّنْيَا) أَيْ أَنَّ الْمَقْبُوْضَ بِهَا كَالْمَقْبُوْضِ بِالْبَيْعِ الْفَاسِدِ بِالنِّسْبَةِ لِلأَحْكَامِ الدُّنْيَوِيَّةِ (وَقَوْلُهُ أَمَّا الآخِرَةُ فَلا مُطَالَبَةَ بِهَا) أَيْ إِذَا لَمْ يَرُدَّ كُلَّ مَا أَخَذَهُ فَلا يُعَاقَبُ عَلَيْهَا فِي الآخِرَةِ أَيْ لِطِيْبِ النَّفْسِ بِهَا وَاخْتِلافِ الْعُلَمَاءِ فِيْهَا لَكِنْ هَذَا مِنْ حَيْثُ الْمَالُ وَأَمَّا مِنْ حَيْثُ تَعَاطِي الْعَقْدِ الْفَاسِدِ فَيُعَاقَبُ عَلَيْهِ إِذَا لَمْ يُوْجَدْ مُكَفِّرٌ اهـ

– الأشباه والنّظائر للسّبكى الجزء 1 صحـ : 294 مكتبة الشاملة الإصدار الثاني

كُلُّ تَصَرُّفٍ يَقَعُ مِنَ الْمُشْتَرِى شِرَاءً فَاسِدًا فَهُوَ كَتَصَرُّفِ الْغَاصِبِ وَالْعَيْنِ فِى يَدِهِ كَالْمَغْصُوْبِ عِنْدَ الْغَاصِبِ اهـ

– حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 2 صحـ : 343 مكتبة دار إحياء التراث العربية

( وَحُكْمُ فَاسِدِ الْعُقُودِ حُكْمُ صَحِيحِهَا فِي الضَّمَانِ ) وَعَدَمُهُ فَالْمَقْبُوضُ بِبَيْعٍ فَاسِدٍ مَضْمُونٌ وَبِهِبَةٍ فَاسِدَةٍ غَيْرُ مَضْمُونٍ اهـ

Wallahu a’lamu bisshowab..