HUKUM MENDUKUNG DAN MEMILIH PEMIMPIN DIDALAM PEMILU BAIK PILKADA MAUPUN PILPRES SERTA KRETERIA KELAYAKAN ORANG YANG HARUS DIPILIH
NKRI Adalah singkatan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia Bentuk dan Dasar negara Indonesia dapat ditemukan dalam konstitusi negara, yaitu UUD 1945. Pasal 1 ayat (1) UUD 1945 secara jelas menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik.” Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki bentuk negara kesatuan, yang mengandung arti bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan yang terinci sesuai dengan pemberian dari pemerintah pusat yang diatur dalam undang-undang, begitu juga Bentuk Negara Indonesia dapat dilihat dalam UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah, Pemerintahan daerah provinsi, dan Pemerintahan daerah kabupaten/kota. Serta Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2005 tentang pemilihan, pengesahan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah dan wakil kepala daerah. Bentuk negara dalam suatu negara mengaris bawahi secara jelas tentang tanggungjawab setiap pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Bentuk Negara Indonesia merupakan negara kesatuan yang berbentuk Republik, atau lebih dikenal dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berarti bahwa pemerintahan pusat memiliki wewenang yang lebih tinggi daripada pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah memiliki kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat, dan pembagian wilayah administratif tidak mengubah status kesatuan Indonesia sebagai satu negara. Republik Indonesia adalah republik yang berarti kepala negara dipilih oleh rakyat melalui proses pemilihan umum. Presiden adalah kepala negara dan pemerintahan serta bertanggung jawab kepada rakyat dalam menjalankan tugas dan fungsi negara. Maka menjelang pemilihan umum yang akan datang ada hal yang penting untuk kami tanyakan dalam rangka untuk memenuhi tanggung jawab masyarakat Demi kemajuan bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tercinta ini
Pertanyaan nya:
Bagaimana hukumnya mendukung dan memilih calon pemimpin legislatif (mulai dari tingkat daerah hingga pusat), dan calon pemimpin eksekutif (mulai dari kades, wali kota hingga pusat (presiden)?
Seperti apakah calon yang layak memenuhi syarat harus didukung dan dipilih?
Jawaban. No.1 Negara kita Indonesia merupakan negara kesatuan Republik sebagaimana yang telah disebutkan dalam deskripsi, maka dalam rangka memajukan bangsa dan negara, masyarakat mempunyai hak kebebasan untuk memilih. Hak Memilih Sebagai Hak Asasi Manusia .Pangakuan dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) adalah salahsatu prinsip dalam suatu negara hukum yang demokratis begitu pula dengan negara kita Indonesia , sebagai negara hukum yang demokratis maka dianggap menjadi suatu keharusan untuk memasukan pasal-pasal tentang Hak Asasi Manusia (HAM) pada konstitusi kita, sehingga pada perubahan kedua Undang-undang Dasar Nagara Republik Indonesia (UUD 1945) dimasukan pasal Pasal 28 A sampai dengan pasal 28 J UUD sebagai pengakuan dan perlindungan konstitusional terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).
Hak memilih dalam Pemilihan Umum (PEMILU) ataupun pada pemilihan Gubernur,Bupati dan Wali Kota (Pemilihan) merupakan hak konstitusional warga negara, namun bukan hanya itu hak memilih juga merupakan Hak Asasi Manusia (HAM) ini dapat kita temukan pendasarannya pada Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa: “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”. Kemudian, Pasal 28D ayat (3) menyebutkan bahwa: “setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan.”. Selanjutnya pada pasal 28 I ayat (5) disebutkan “Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan”.
Walaupun Undang-Undang Republik Indonesia nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia lebih dulu hadir dibandingkan perubahan kedua terhadap UUD 1945 namun tidak merubah kedudukan, konsistensi dan urgensi undang-undang HAM ini sebagai rujukan yang bersifat lebih operasional dalam menegakan dan melindungi Hak Asasi Manusia (HAM).Namun demikian walaupun masyarakat punya hak memilih jangan sembarangan mendukung dan memilih karena memilih ada hukumnya maka sebelum kami jelaskan tentang kelayakan orang yang harus dipilih terlebih dahulu kami jelaskan hukum mendukung dalam tanda kutip memilih / mengangkat pemimpin.
Adapun hukumnya memilih pemimpin baik ditingkat desa kabupaten atau tingkat provinsi maupun pusat adalah fardlu kifayah bukan fardu Ain.
Sebagaimana Imam Mawardi menjelaskan dalam kitab hukum-hukum pemerintahan
Referensi:
قال الماوردي في الأحكام السلطانية: الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا، وعقدها لمن يقوم بها في الأمة واجب بالإجماع. اهـ. وقال النووي في شرح مسلم: أجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة
Pemilihan Umum, merupakan “pesta demokrasi” untuk menentukan wakil rakyat yang diberi amanat, guna menjaga dan melestarikan kemaslahatan umat secara umum. Baik memilih legislatif atau memilih Presiden. Hal ini, disebut dengan intichabab alriqab wa ahli syura (memilih Pengawas Pemerintah dan Badan Musyawarah. Atau intichab raisul jumhur yang identik dengan nasbu al Imam (memilih Presiden yang identik dengan membentuk dengan atau mengangkat imam, dimana hukum wujudnya Dewan Suro dan Presiden adalah fardu kifayah. Artinya, kewajiban yang penting “hasilnya maksud”, dengan tanpa melihat pelakunya. Sebagaimana definisi fardu kifayah. Dalam Lubuul Ushul hal. 26:
Artinya: Fardu kifayah adalah sesuatu yang terpenting adalah tujuannya hasil dengan pasti dengan tanpa melihat pelakunya. Yakni, jika tujuannya sudah berhasil, maka kita tidak dituntut untuk melakukan. Sebaliknya, jika tujuan tersebut belum berhasil, maka kita semua yang mampu dan tahu, di tuntut untuk mengusahakan terwujudnya sesuatu .
Sesungguhnya, Pemilihan Umum dalam rangka “pesta demokrasi” seperti di Indonesia, tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan Islam. Dan sebenarnya, sitem Pilpres langsung, Pilgub langsung, perlu ditinjau ulang melihat dampak negatifnya lebih banyak. Tapi, yang wajib adalah terbentuknya kesejahteraan masyarakat, keamanan, dan berjalannya syariat Islam dengan utuh. Karena hal itu tidak dapat terwujud tanpa adanya pemerintahan yang adil dan bijaksana, maka wujudnya pemerintahan merupakan wajib.
“Segala sesuatu yang sudah menjadi wajib, maka hukumnya wajib sebagaimana kewajiban tersebut”.
Sebenarnya, mewujudkan pemerintahan tersebut tidak harus dengan pemilihan umum, jika dapat direalisasikan dengan selain pemilihan umum. Akan tetapi, jika hanya dengan pemilihan umum sebagaimana yang terjadi di Indonesia tercinta ini, maka pemilihan umum menjadi fardu kifayah, karena berusaha mewujdukan cita-cita tersebut. Karenanya, memilih dalam pemilihan umum hukumnya fardu kifayah pula.
Jadi kalau mengacu pada “khitob” (tuntutan) fardu kifayah, asalnya di tetapkan pada individu dan akan gugur setelah ada keyakinan atau dhan bahwa kewajiban tersebut sudah berhasil tanpa kita , maka dalam keadaan ragu masih wajib.Hal ini disebabkan kemungkinan arah khitob tersebut dengan melihat dua pandangan sebagai berikut: Melihat jika tidak ada yang melakukan sama sekali, yang berdosa adalah semua individu. Maka, arah khitob fardu kifayah pada indifidu.Melihat jika sudah ada orang lain yang mencukupi, kita tidak mendapat dosa. Berarti, pada dasarnya kita tidak wajib. Keterangan ini sama dengan fatwa al Syekh Zakaria al Anshari dalam kitab Ghoyatul Wusul hal 27;
. Artinya: Menurut pendapat yang lebih benar bahwa “fardu kifayah”, di arahkan kepada semua individu, kerena dosanya dibebankan kepadanya jika sama-sama tidak ada yang melakukan sebagaimana fardu ain. Dengan dasar firman Allah.
وَقَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ
Ini pendapat mayoritas ulama. Dan sebagaimana nashnya imam Syafi’i dalam kitab Um hanya saja fardu akan gugur dengan sebagian yang melakukan. Karena maksudnya yang penting hasil. Bukan bebannya terhadap mukallaf. Sebagian ulama berpendapat, kewajiban tersebut diarahkan kepada sebagian, bukan setiap indifidu. Sebagaimana pendapat Imam Fatchurrozi, dikarenakan dicukupkan pada sebagian dengan berdasarkan ayat;
Kemudian kisaran kewajiban tersebut pada dugaan masing-masing dengan mengikat kewajiban diarahkan kepada semua individu. Maka, barang siapa menduga bahwa orang lain telah melakukan atau dia sendiri melakukan, maka kewajiban telah gugur. Barang siapa tidak menduga dan tidak melakukan, maka tidak gugur atau tetap wajib. Jika mengikuti atas kewajiban sebagian, maka barang siapa menduga tidak ada orang lain yang melakukan dan ia tidak melakukan maka dia menjadi wajib jika tidak maka tidak wajib. [Ghoyatul wushul hal 27]. Pengangkatan kepala negara melalui pemilihan umum secara langsung, dapat dibenarkan dan tergolong pemilihan melalui syaukah yang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya selama yang terpilih bukan orang non-Muslim. Rujukan :
Adapun yang wajib kita dukung/ pilih adalah orang yang layak dan memenuhi syarat sebagaimana keterangan berikut:
عانة الطالبين ج ٤ ص ٢١٠
واعلم أنه يشترط فى التولية أن تكون للصالح للقضاء فإن لم تكن صالحا له لم تصح توليته ويأثم المولي بكسر اللام والمولى بفتحها ولاينفذ حكمه وإن أصاب فيه إلا ضرورة بأن ولّى سلطان ذو شوكة مسلما فاسقا فينفذ قضائه للضرورة لئلا تتعطل مصالح الناس واعلم أنه يشترط في التولية أن تكون للصالح للقضاء، فإن لم يكن صالحا له لم تصح توليته، ويأثم المولي – بكسر اللام – والمولى – بفتحها – ولا ينفذ حكمه، وإن أصاب فيه إلا للضرورة، بأن ولي سلطان ذو شوكة مسلما فاسقا، فينفذ قضاؤه للضرورة لئلا تتعطل مصالح الناس – كما سيذكره – روى البيهقي والحاكم: من استعمل عاملا على المسلمين، وهو يعلم أن غيره أفضل منه – وفي رواية رجلا على عصابة، وفي تلك العصابة من هو أرضى لله منه – فقد خان الله ورسوله والمؤمنين
Dan ketahuilah, bahwa pengangkatan itu syaratnya adalah bagi orang yang layak menjadi hakim (pemimpin/pemutus hukum), jika tidak cocok ( tidak layak ) baginya, maka pengangkatannya dianggap tidak sah,kecuali terpaksa maka jabatan dan hukumnya sah, misalkan diangkat langsung oleh kepala negara yang fasik ( orang islam yang fasik /orang yang berbuat maksiat .) Sedangkan detail persyaratannya sebagaimana keterangan berikut:
Referensi:
الصفحة الرئيسية > شجرة التصنيفات كتاب: موسوعة الفقه الإسلامي
صفحة البدايةالفهرس<< السابق251 من 271التالى >>
.3- أحكام الخليفة: .شروط الخليفة: يشترط في الخليفة الذي
Yang berhak menjabat sebagai kholifah(raja, presiden)
يتولى أمور المسلمين ما يلي:
(1)Harus beragama islam.Maka tidak boleh seorang kafir itu menjadi Kholifah bagi kaum muslimin
. ١ -الإسلام، فلا تنعقد إمامة الكافر على المسلمين.
(2)Harus baligh.Maka tidak sah kepemimpinan anak kecil.
٢-البلوغ، فلا تصح إمامة الصغير.
(3)Harus mempunyai akal.Maka tidak sah kepemimpinan orang gila.
٣-لعقل، فلا تنعقد الإمامة لمجنون.
(4)Harus orang yang merdeka.Alasannya ialah karena budak itu tidak mempunyai kekuasaan bagi dirinya.Bagaimana mungkin budak itu menguasai orang lain.-
٤-لحرية؛ لأن العبد لا ولاية له على نفسه، فكيف تكون له ولاية على غيره.
(5)Harus mempunyai ilmu.Maka tidak sah kepemimpinan orang yang bodoh tentang hukum-hukum Allah.
-٥-لعلم، فلا تصح ولاية جاهل بأحكام الله
(6)Harus adil(tidak gemar berbuat dosa besar atau dosa kecil).Maka tidak sah kepemimpinan bagi orang fasik(orang yang gemar berbuat dosa besar atau dosa kecil).
-٦-لعدالة، فلا تنعقد الولاية لفاسق.
(7)Harus laki-laki.Maka tidak sah kepemimpinan wanita.Karena kelemahan wanita,dan karena kurangnya agamanya wanita(disebabkan karena haid,nifas, melahirkan),dan karena kurangnya akalnya wanita. Namun sebagian ulama’ memperbolehkan wanita menguasai pemerintahan.
-٧-الذكورية، فلا تنعقد ولاية المرأة؛ لضعفها ونقصان دينها وعقلها.
فتح البارى. ج ٨ ص ١٢٨
قال الخطابى فى الحديث أن المرأة لاحلى العمارة ولاالقضاء وفيه أنها لاتزود نفسها ولاتلى العقد على غيرها كذا قال متعقب والمنه من أن تلى الإمارة والقضاء قول الجمهور وأجازه الطبرى وهى رواية عن مالك وعن أبى حنيفة تلى الحكم فيما تجوزفيه شهادة النساء
الميزان الكبرى ج٢ص ١٨٩
من ذلك قول الأئمة الثلاثة انه لايصح تولية المرأة القضاة مع قول أبي حنيفة إنه يصح أن تكون قضية فى كل شيئ تقبل فيه شهادة النساء – إلى أن قال – ومع قول محمد ابن جرير يصح أن تكون المرأة قاضية فى كل شيئ
(8)Yang baik/yang bijaksana pendapatnya didalam menyelesaikan urusan-urusan yang bermacam-macam dari kebutuhan-kebutuhan ummat.
٨-.حصافة الرأي في القضايا المختلفة من حاجات الأمة
(9)Kuatnya sifat-sifat kepribadiannya.Seperti mempunyai sifat pemberani,adil,dan semangat untuk menjauhi perkara yang haram.Dan mempunyai kemauan yang kuat untuk melaksanakan hukum-hukum Allah.
-٩-صلابة الصفات الشخصية كالجرأة، والشجاعة، والعدل، والغيرة على المحارم، والعزيمة على تنفيذ أحكام الله
(10)Cukup sehatnya badannya.yaitu selamatnya badannya, dan selamatnya anggota tubuhnya,dan selamatnya panca indranya.Yang mana cacatnya panca indra itu mempengaruhi terhadap pendapatnya dan terhadap perbuatannya.
– ١٠-الكفاية الجسدية، وهي سلامة البدن والأعضاء والحواس التي يؤثر فقدها على الرأي والعمل.
(11)Tidak tamak kepada jabatan.Maka janganlah diangkat sebagai pemimpin,yaitu orang yang meminta jabatan dan yang tamak kepada jabatan.
-١١-عدم الحرص على الولاية، فلا يولَّى من سألها وحرص عليها.
(12)Pemimpin itu harus keturunan quraisy.Tapi dengan syarat keturunan quraisy yang melaksanakan peraturan agama Islam.Alasannya ialah karena kaum qurais adalah paling utamanya kabilah(kelompok)arab.
-٢١-القرشية، فقريش أفضل قبائل العرب، والإمامة فيهم ما أقاموا الدين، ويُلحق بها مَنْ كلمته نافذة، ومتبوع من الكثرة الغالبة، ليكون مطاعاً مرضياً عنه، وتحصل به الوِحدة، وتزول الفرقة. فإن تولى الإمامة أحد بطريق الغلبة، وخُشيت الفتنة، فتجب طاعته في غير معصية الله.
.حكم تولية المرأة الحكم: كل أمر انعقد سببه في عهد النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه ولم يفعلوه، مع إمكانية فعله، فهو بدعة لا يجوز فعله، ولا إقراره، ولا العمل به. فمن رخَّص للمرأة أن تكون ملكة أو رئيسة أو أميرة على الرجال، أو وزيرة أو قاضية أو عضواً في مجلس الشورى، أو غيرها من الولايات العامة التي هي من خصائص الرجال، وتضطر فيها للاختلاط بالرجال، فقد خالف شرع الله، وأحدث في الدين ما ليس منه، وشرع ما لم يأذن به الله. وقد كان في عصر النبي? وأصحابه مجلس شورى، ولم يكن من بينهم امرأة واحدة، مع رجحان عقول كثير منهن، خاصة أمهات المؤمنين. 1- قال الله تعالى: {الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} [النساء: 34]. 2- وَعَنْ أبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَقَدْ نَفَعَنِي اللهُ بِكَلِمَةٍ أيَّامَ الجَمَلِ، لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ: «لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أمْرَهُمُ امْرَأةً». أخرجه البخاري.
.حكم طلب الإمارة: 1- لا يجوز لأحد أن يسأل الإمارة، أو يحرص عليها، ومن سألها فإنه لا يُعطاها. 1- عَنْ عَبدِالرَّحمنِ بنِ سَمرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ ِلي رسولُ الله؟: «يَا عبدَالرّحمنِ ابنَ سَمرةَ، لا تسْأل الإِمارةَ، فإنْ أُعطيتَها عَن مسْألةٍ وُكلتَ إليهَا، وإنْ أُعطيتَها عَنْ غيِر مسْألةٍ أُعنتَ علَيها». متفق عليه. 2- وَعَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: «إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ، وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَةِ، فَنِعْمَ المُرْضِعَةُ وَبِئْسَتِ الفَاطِمَةُ». أخرجه البخاري. 3- وَعَنْ أبِي مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: دَخَلتُ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أنَا وَرَجُلانِ مِنْ قَوْمِي، فَقَالَ أحَدُ الرَّجُلَيْنِ: أمِّرْنَا يَا رَسُولَ الله، وَقَالَ الآخَرُ مِثْلَهُ، فَقَالَ: «إِنَّا لا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَألَهُ، وَلا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ». متفق عليه. 2- يجوز للقادر الأمين طلب الإمارة إذا لم يعرف أفضل منه، كما طلبها يوسف؟ من ملك مصر. قال الله تعالى: {وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ [54] قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ [55]} [يوسف: 54- 55].
اجتناب الضعفاء الولايات: الولاية أمانة، والضعيف لن يقوم بحقها، فالأولى له اجتنابها؛ ليسلم من حسابها. عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلتُ: يَا رَسُولَ الله أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَر إنّكَ ضَعِيفٌ، وَإنّهَا أَمَانَةٌ، وَإنّهَا يَوْمَ القِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلاّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدّى الّذِي عَلَيْهِ فِيهَا». أخرجه مسلم.
STATUS AIR DAN WUDHU SESEORANG YANG AIRNYA TERKENA NAJIS ( NAJIS TERSANGKUT DALAM PERALON( SALURAN AIR)
Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah. Air merupakan kebutuhan pokok sehari-sehari baik air untuk diminum, dimasak , mandi, bersuci dll. Maka dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan tersebut, terkadang sebagian masyarakat menggunakan penampungan air baik itu berupa bak, jedding, tandon dengan alat bantu peralon dari sumur atau dari pusat sumber mata air. Studi Kasus ketika seseorang mengalirkan air dari pusat( sumur ) dia mengambil wudhu langsung dari paralon namun ditemukan diujung peralon terdapat Najis.
Pertanyaannya. Bagaimanakah setatus air yang mengalir dari paralon sementara diujung paralon terdapat najis ?
Sahkah wudhu seseorang tersebut?
Jawabannya :
Status air yang mengalir dalam paralon sementara air tersebut tersetuh najis, maka dalam hal ini hukumnya tidak jauh berbeda dengan air yang diam atau menggenang. Hanya saja perlu dilihat,dan dipertimbangkan terlebih dalam adalah: 1- Najisnya turut mengalir bersama air atau tidak.
2- volume air mencapai dua kulah atau tidak.
Ukuran dua kulah di sini dapat dilihat dari posisi antara dua pinggir sungai atau benda yang mengalirkan air. Sementara panjangnya tidak diperhitungkan, walaupun ratusan hingga meter. Sebab, yang diperhitungkan pada air mengalir adalah alirannya itu sendiri, bukan keseluruhan panjang air.
Perlu diketahui pula, bahwa air yang mengalir pada dasarnya terpisah secara hukum meskipun terlihat bersampung secara zahir. Sebagaimana Syekh Nawawi menjelaskan dalam kitabnya.( Kasyifatussaja)
أن الماء الجاري كالراكد فيما مر لكن العبرة في الجاري بالجرية نفسها لا مجموع الماء فإن الجريات متفاصلة حكما وإن اتصلت في الحس لأن كل جرية طالبة لما قبلها هاربة عما بعدها
Artinya:
“Sesungguhnya, air yang mengalir, sebagaimana keterangan sebelumnya, adalah layaknya seperti air yang menggenang (diam). Namun, yang diperhitungkan pada air mengalir adalah aliran itu sendiri, bukan keseluruhan air. Aliran air itu secara hukum terpisah meskipun secara kasat mata tampak bersambung. Sebab, setiap aliran membutuhkan air sebelumnya dan mendorong air setelahnya,” (Lihat: Syekh Nawawi al-Bantani, Kasyifatus Saja Syarh Safinatin Naja, halaman 21).
Mengenai status air mengalir yang terkena najis, sebagaimana telah disinggung di atas, maka dapat dirinci menjadi dua keadaan: apakah najisnya turut mengalir atau tidak, dan volume airnya mencapai dua kulah atau tidak.
Jika air mengalir yang volumenya kurang dari kulah terkena najis dan najisnya turut mengalir, maka status air yang ada di sekitar najis tersebut adalah najis baik berubah maupun tidak. Sedangkan air yang ada sebelum dan setelah najis tetap suci. Air sebelum najis dihukumi suci karena belum bersentuhan dengan najis, sedangkan air setelah najis dihukumi suci karena tidak bersentuhan dengan najis karena sudah lewat.
إذا كانت النجاسة تجري مع الماء بجرية لا تنفك عنه، فإن الماء الذي قبل النجاسة طاهر؛ لأنه لم يصل إلى النجاسة، والماء الذي بعد النجاسة طاهر أيضًا؛ لأن النجاسة لم تصل إليه
Artinya:
“Jika najis mengalir bersama air dengan aliran yang tidak berpisah darinya, maka air yang ada sebelum najis tersebut adalah suci karena ia belum sampai kepada najis. Demikian pula air yang ada setelah najis juga suci sebab najis tidak sampai kepadanya,” (Lihat: Abu al-Hasan, al-Bayan, jilid I, halaman 38).
Berbeda halnya, jika aliran air di sekitar najis mencapai dua kulah, maka ia tetap suci selama kondisinya tidak berubah. Namun, ingat volume dua kulah di sini dilihat dari lebar dan dalamnya aliran, bukan dilihat dari jauhnya. Ini untuk najis yang mengalir pada air.
Berikutnya, jika najis yang ada tidak turut mengalir bersama air, sementara volumenya tidak mencapai dua kulah, maka air yang telah melewati najis tersebut seluruhnya najis hingga ia terkumpul di suatu wadah yang volumenya mencapai dua kulah. Berbeda jika volume air yang ada di sekitar najis mencapai dua kulah, maka statusnya tidak najis alias suci selama tidak ada perubahan yang disebabkan oleh najis tersebut.
فإن كانت جامدة واقفة فذلك المحل نجس وكل جرية تمر بها نجسة إلى أن تجمع قلتان منه في موضع كفسقية مثلا فحينئذ هو طهور إذا لم يتغير بها
Artinya:
“Jika kondisi najis adalah keras dan diam, maka tempat air di sekitar najis tersebut adalah najis. Dan setiap aliran yang melewati najis juga najis hingga aliran tersebut berkumpul di satu tempat semisal kran. Maka jika sudah berkumpul mencapai dua kulah, air menjadi suci selama tidak berubah,” (Lihat: Syekh Nawawi al-Bantani, Kasyifatus Saja Syarh Safinatin Naja, halaman 21).
Makanya, masyhur teka-teki di kalangan kaum santri, air apa yang volumenya mencapai 1000 kulah, kondisinya tidak berubah, namun statusnya najis?
Jawabannya adalah air yang melewati najis yang tersangkut, meskipun alirannya sangat jauh mencapai ribuan meter.
Untuk itu, masyarakat yang mengalirkan air dari tempat jauh baik dari PDAM maupun pegunungan disarankan untuk membuat penampungan kembali di rumah seperti bak, tandon, atau toren air yang menampung dua kulah atau setara dengan volume 270 liter menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu.
Tujuannya, bila ada najis yang mengalir atau tersangkut di pipa, airnya tetap suci dan dapat digunakan selama ia tidak berubah aroma, rasa, dan warnanya.
Jawaban No.2
wudhu’ nya tidak sah baik najis mengikuti air yang mengalir ataupun tidak kecuali telah terpisah dari peralon berada pada tempat penampungan sementara ukuran penampungan mencapai 2 Qullah dan airnya tidak berubah. Maka wudhu’nya sah ( berwudhu dalam penampungan )
Kesimpulan -Jika ada air melewati paralon,sedangkan paralonnya kecil,dan didalam paralon itu ada najis yang muatstsiroh(yang membekasi, seperti kotoran ayam)dan airnya kurang dari 2 kullah,maka hukumnya air yang dilewati oleh najis itu dihukumi najis. -Jika ada air melewati paralon,sedangkan paralonnya kecil,dan didalam paralon itu ada najis yang ghoiru muatstsiroh(yang tidak membekasi, seperti bangkainya hewan yang tidak mengalir darahnya, seperti bangkainya semut )dan airnya kurang dari 2 kullah,maka hukumnya air yang dilewati oleh najis itu dihukumi suci, dan wudhu’ sah.
Referensi:
المكتبة الشاملة كتاب روضة الطالبين وعمدة المفتين [النووي] الرئيسيةأقسام الكتب الفقه الشافعي
فصول الكتاب ج:1 ص: 19 مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب باب فصل
Demikian penjelasan status air dan wudhu seseorang yang airnya terkena najis, baik najisnya mengalir maupun tidak, baik volumenya mencapai dua kulah maupun tidak. Keterangan ini menurut pandangan mazhab Syafi’i.
HUKUMNYA WUDHU DAN SHALAT MEMAKAI POMPA AIR YANG YANG MENGGUNAKAN LISTRIK YANG DIGHASHOB
Assalamualakum wr wb. Mau bertanya para kiyai. Bagai mana hukumnya ngeddol kilometer listrik ,sedangkan yang ngedol itu untuk mengalirkan air, nah sedangkan airnya di buat wudhu’,.. apakah sholatnya tetap sah,wahai kiyai.
Wa Alaikumussalam.
Jawaban:
-Didalam madzhab Syafi’i. Hukumnya wudhu’ dan sholatnya sesorang dengan menggunakan air yang dihasilkan dari pompa air dengan cara mengambil daya listrik, (mengghashab daya listrik / tanpa idzin dari PLN) maka hukumnya adalah haram, tapi hukum sholatnya adalah sah.( wudhunya sah dan sholatnya sah namun haram, alasan haram karena Ghashob daya listrik) -Didalam madzhab Ahmad bin Hambal. Hukumnya wudhu’ dan sholatnya sesorang dengan menggunakan air yang dihasilkan melalui pompa air dengan mengghashob daya listrik ( tanpa idzin dari PLN ) maka hukumnya adalah haram,dan hukum sholatnya adalah tidak sah, alasannya karena Ghashob daya listrik.
-Menurut pendapat ulama Hanafi, shalat dengan menggunakan pakaian yang haram (hasil curian,korupsi) itu tetap sah, tetapi menggunakan pakaian itu dihukumi makruh tahrim. Sebab, menggunakan pakaian yang tidak boleh dipakai sama halnya memakai sutra bagi laki-laki, dan orang tersebut juga berdosa seperti hukum shalat di atas tanah ghashab (rampasan) tanpa ada alasan yang dibenarkan oleh syara’.
Sedangkan menurut pendapat ulama Hambali, tidak sah shalat dengan menggunakan benda yang haram, seperti memakai pakaian yang dibuat dari sutra, atau shalat di atas tanah ghashab sekalipun yang di-ghashab hanya faedahnya atau sebagian darinya saja. Atau, shalat menggunakan pakaian yang dibeli dengan uang haram, ataupun shalat dengan menggunakan cincin emas. Ini semua jika ia mengetahui tentang keharaman memakai pakaian itu dan tidak dalam keadaan lupa. Pendapat ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh imam Amad dari Ibnu Umar, “Siapa yang membeli pakaian dengan harga sepuluh dirham, sedangkan satu dirham darinya adalah uang haram, niscaya Allah ta’ala tidak menerima shalatnya selama pakain itu dipakainya.” Kemudian Ibnu Umar memasukkan dua jarinya ke dalam dua lubang telinganya dan berkata, “ Tulilah kedua telinga ini jika Nabi Muhammad tidak berkata yang demikian.”
Juga, berdasarkan hadits riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan yang tidak kami perintahkan, maka ia ditolak.”
Jika seorang tidak mengetahui atau lupa bahwa pakaian yang ia pakai adalah terbuat dari sutra atau hasil ghashab, atau dikurung di tempat hasil ghashab atau tempat bernajis, maka shalat dalam keadaan tersebut dianggap sah, karena itu tidak termasuk berdosa.[1]
[1] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (1/635 ), Al Mughni (1/587).
(الفقه الاءسلامي وادلته,جز ١,صحيفۃ ٣٩٥) ,الصلاۃ في الاءرض المغصوبۃ حرام بالاءجماع,لاءن اللبث فيها يحرم في غير الصلاۃ,فلاءن يحرم في الصلاۃ اولی,وهل تصح الصلاۃ في المكان المغصوب؟ قال الجمهور غير الحنابلۃ:الصلاۃ صحيحۃ,لاءن النهي لايعود الی الصلاۃ,فلم يمنع صحتها,كما لو صلی وهو يری غريقا يمكنه انقاذه,فلم ينقذه,او حريقا يقدر علی اطفاءه فلم يطفءه,او مطل غريمه الذي يمكن ايفاءه وصلی,ويسقط بها الفرض مع الاءثم,ويحصل بها الثواب,فيكون مثابا علی فعله,عاصيا بمقامه,واثمه اذن للمكث في مكان مغصوب. وقال الحنابلۃ في الاءرجح عندهم:لا تصح الصلاۃ في الموضع المغصوب,ولو كان جزءا مشاعا,او في ادعاءه الملكيۃ,او في المنفعۃ المغصوبۃ من ارض او حيوان او بادعاء اجارتها ظالما,او وضع يده عليها بدون حق.لاءنها عبادۃ اتي بها علی الوجه المنهي عنه,فلم تصح,كصلاۃ الحاءض وصومها,وذلك لاءن النهي يقتضي تحريم الفعل واجتنابه والتاءثيم بغعله,فكيف يكون مطيعا بما هو عاص به,ممتثلا بما هو محرم عليه,متقربا بمايبعد به؟فاءن حركاته ۃسكناته من القيام والركوع والسجود افعال اختيایيۃ,هو عاص بها منهي عنها.ويختلف الاءمر عن انقاذ الغربق واطفاء الحريق,لاءن افعال الصلاۃ في نفسها منهي عنها.
-Shalat menggunakan pakaian hasil ghosob sah namun tidak diterima karena Allah tidak menerima amal kecuali yang thoyyib , namun walaupun begitu secara aqliy Allah berhak menerima dan memberi pahala sebagai fadlol/anugerah kepada hambanya.
Syarah arba’in NAwawi Ibnu Daqiq al-‘Id :
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إن الله تعالى طيب 1 لا يقبل إلا طيباً، وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين، فقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ} . فقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} . ثم ذكر: “الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء: يا رب يا رب ومطعمه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب له” رواه مسلم. وهذا الحديث أحد الأحاديث التي عليها قواعد الإسلام ومباني الأحكام، وفيه الحث على الإنفاق من الحلال والنهى عن الإنفاق من غيره وأن المأكول والمشروب والملبوس ونحوها ينبغي أن يكون حلالاً خالصاً لا شبهة فيه وأن من أراد الدعاء كان أولى بالاعتناء بذلك من غيره، وفيه أن العبد إذا أنفق نفقة طيبة فهي التي تزكو وتنمو وأن الطعام اللذيذ غير المباح يكون وبالاً على آكله ولا يقبل الله عمله. 1 قيل: “الطيب” في صفات الله بمعنى المنزه عن النقائص.
وقوله: ثم ذكر “الرجل يطيل السفر أشعث أغبر” إلى آخره: معناه – والله أعلم – يطيل السفر في وجوه الطاعات: الحج وجهاد وغير ذلك من وجوه البر ومع هذا فلا يستجاب له لكون مطعمه ومشربه وملبسه حراماً فكيف هو بمن هو منهمك في الدنيا أو في مظالم العباد أو من الغافلين عن أنواع العبادات والخير.وقوله: “يمد يديه” أي يرفعهما بالدعاء لله مع مخالفته وعصيانه، قوله: “وغُذي بالحرام” هو بضم الغين المعجمة وتخفيف الذال المكسورة. وقوله: “فأنى يستجاب له؟ ” وفي رواية: “فأنى يستجاب لذلك؟ ” يعني من أين يستجاب لمن هذه صفته، فإنه ليس أهلاً للإجابة، لكن يجوز أن يستجيب الله تعالى له تفضلا ولطفاً وكرماً والله أعلم.
Dalam ibarah yang lain dijelaskan bahwa melaksanakan sholat dengan pakaian yang haram(ghasab) hukumnya sah namun tidak mendapatkan pahala.
Referensi:
إعانة الطالبين الجزء الأول.ص ٢٢٧ وفى الأرض المغصوبة بل تصح الصلاة بلاثواب،كمافى ثوب مغصوب.
“Dan shalat ditanah ghasaban shalatnya sah dengan tidak berpahala, seperti halanya shalat dengan pakaian hasil curian(ghasab). Selanjudnya,shalatnya orang dengan memakai pakaian hasil curian atau barang haram maka tidak diterima.
Refensi:
إسعاد الرفيق الجزء الأول ص ٨٧ قال صلى الله عليه وسلم ” من اشترى ثوبا بعشرة دراهم فيه درهم حرام لم يقبل الله منه صلاة مادام عليه.
“Rasulullah saw.bersabda:” Barang siapa membeli baju seharga sepuluh dirham, satu dirham diantaranya adalah uang haram,maka Allah tidak akan menerima shalatnya selama ia memakai pakaian tersebut.
Shalat dengan pakaian ghasab hukumnya harom, dan shalatnya tetap sah tapi tidak berpahala. :
وتحرم الصلاة لقبر نبي أو نحو ولي تبركا أو إعظاما_وفي أرض مغصوبة وتصح بلا ثواب كما في ثوب مغصوب أى فإنها تحرم فيه مع صحتها بلا ثواب. إعانة الطالبين ١/١٩٥
النهي إن عاد إلى الذات أو شرط الصحة دل على الفساد وإن عاد إلى أمر خارج فلا أن يكون النهي عائدًا إلى أمر خارج عن الذات والشرط فإنه لا يدل على فساد المنهي عنه وإنما يدل على نقصان الأجر لكن الفعل صحيح
Larangan, apabila menyangkut obyek/dzat kasus atau syarat sahnya maka berkonsekwensi pada keTIDAK SAHannya. apabila larangan menyangkut hal di luar itu maka tidak mengganggu keabsahannya, hanya saja mengurangi nilai pahala. [ talqihul ifham al’aliyyah 1/37 ].
Masalah haramnya shalat memakai barang ghoshob ulama’ sepakat. Dan sah atau tidak sholatnya ulama’ khilaf. Dan al jumhur menyataKan sah.
المجموع شرح المهذب juz 3/169 : ( الشرح ) الصلاة في الأرض المغصوبة حرام بالإجماع ، وصحيحة عندنا وعند الجمهور من الفقهاء وأصحاب الأصول . وقال أحمد بن حنبل والجبائي وغيره من المعتزلة : باطلة ، واستدل عليهم الأصوليون بإجماع من قبلهم . قال الغزالي في المستصفى : هذه المسألة قطعية ليست اجتهادية ، والمصيب فيها واحد ; لأن من صحح الصلاة أخذه من الإجماع وهو قطعي ومن أبطلها أخذه من التضاد الذي بين القربة والمعصية ، ويدعي كون ذلك محالا بالعقل ، فالمسألة قطعية ، ومن صححها يقول هو عاص من وجه متقرب من وجه ، ولا استحالة في ذلك ، إنما
الاستحالة في أن يكون متقربا من الوجه الذي هو عاص به وقال القاضي أبو بكر الباقلاني يسقط الفرض عند هذه لا بها ، بدليل الإجماع على سقوط الفرض إذا صلى ، واختلف أصحابنا هل في هذه الصلاة ثواب أم لا ؟ ففي الفتاوى التي نقلها القاضي أبو منصور أحمد بن محمد بن محمد بن عبد الواحد عن عمه أبي نصر بن الصباغ صاحب الشامل رحمه الله قال : ” المحفوظ من كلام أصحابنا بالعراق أن الصلاة في الدار المغصوبة صحيحة يسقط بها الفرض ولا ثواب فيها ” .
قال القاضي أبو منصور : ورأيت أصحابنا بخراسان اختلفوا ، منهم من قال : لا تصح صلاته قال : وذكر شيخنا يعني ابن الصباغ في كتابه الكامل : إنا إذا قلنا بصحة الصلاة ينبغي أن يحصل الثواب ، فيكون مثابا على فعله عاصيا بمقامه . قال القاضي وهذا c5هو القياس إذا صححناها.
HUKUMNYA ISTRI YANG TIDAK MAU DI JIMA’ DISEBABKAN SUAMINYA SELINGKUH
Assalamualaikum. Mau bertanya , anggap saja pulan(Andi) seorang suami dia punya istri(Fitriyah) namun dia masih bercettingan(menelpon,masih sms an,masih video call) dengan orang lain(yaitu Faridah) alias selingkuh . kemudian si istri(Fitriyah) tau dan istri(Fitriyah) tidak mau melayani sebagai mana tugasnya istri.(artinya Fitriyah tidak mau dijima’ oleh Andi).
Pertanyaan nya:
Dosakah istri yang tidak mau dijima’ karena disebabkan suami selingkuh ? Lalu bagaimana hukumnya suami yang selingkuh sebagaimana deskripsi?
Jawaban: Istri yang tidak mau dijima’ oleh suaminya karena disebabkan suaminya selingkuh dengan orang lain maka hukumnya istri tersebut berdosa, dan termasuk dari perempuan ( istri) yang masuk dalam kategori nusyuz, alasannya karena istri tidak mentaati ( maksiat) terhadap perintah atau ajakan suami. Dalam kondisi istri Nusyuz maka suami tidak berkewajiban memberi nafkah , namun dia berkewajiban untuk mendidik.
Adapun Tanda-tanda perempuan nusyuz
Istri tidak mau dijima’ oleh suami, padahal istri itu tidak mempunyai udzur(alasan).
Istri melakukan Ihrom haji tanpa idzin suaminya
-Istri keluar rumah tanpa idzin suaminya, Kecuali jika keluarnya istri dari rumahnya karena ada udzur(alasan),seperti jika rumahnya akan roboh, karena berziarah atau karena menjenguk orang sakit.Maka hal ini tidak termasuk nusyuz. Berikut keterangan Ulama fiqih tentang Perempuan Nusyuz.
Referensi
(الفقه الاءسلامي وادلته) ـ النشوز: هو معصية المرأة لزوجها فيما له عليها مما أوجبه له عقد الزواج. والنفقة تسقط بنشوز المرأة، ولو بمنع لمس بلا عذر بها، إلحاقا لمقدمات الوطء بالوطء؛ لأن النفقة هي في مقابلة الاستمتاع، فإذا امتنعت فلا نفقة للناشز. وقال الحنفية: النفقة التي تسقط بالنشوز أو الموت هي النفقة المفروضة، لا المستدانة في الأصح. فإن وجد عذر لوجود قروح قرب فرجها، أو التهابات حادة، فلا تسقط نفقتها. ومن الأعذار: مرض يضر معه الوطء، وعبالة زوج، أي كبر آلته بحيث لا تحتملها الزوجة.
أما خروج المرأة من بيت الزوج بلا إذنه، أو سفرها بلا إذنه، أو إحرامها بالحج بغير إذنه، فهو نشوز، إلا للضرورة أو العذر، كأن يشرف البيت على انهدام، أو تخرج لبيت أبيها لزيارة أو عيادة، فيعد خروجها عذرا، وليس نشوزا.
وأما سفر المرأة بإذن الزوج: فقد فصل فيه الشافعية فقالوا: إن كان السفر مع الزوج أو لحاجته، فلا تسقط نفقتها به، وإن كان لحاجتها فتسقط في الأظهر. ولا يعد نشوزا عرفا في رأي الشافعية خروج المرأة في غيبة زوجها لزيارة أقاربها أو جيرانها أو عيادتهم أو تعزيتهم، فلا تسقط نفقتها؛ لأن خروجها لا على وجه النشوز. وكذا قال الحنابلة: لا نفقة لمن سافرت بلا إذن زوج لحاجتها، أو لنزهة، أولزيارة ولو بإذن الزوج، أو لتغريب في حد أو تعزير، أو لحبس ولو ظلما، أو صامت للكفارة أو قضاء رمضان ووقته متسع، أو صامت أو حجت نفلا أو نذرا معينا في وقته بلا إذنه. ولا تسقط عندهم وعند المالكية لو أحرمت بحج فرض. ووافق الحنفية الحنابلة في أن حبس المرأة ولو ظلما يسقط النفقة، إلا إذا حبسها الزوج بدين له، فلها النفقة في الأصح. ووافق الحنفية الشافعية في أن الحج مع غير الزوج ولو فرضا، يسقط النفقة، لفوات الاحتباس. وقال المالكية: إن حبست ظلما فلا يسقط حقها في النفقة؛ لأن منعه من الاستمتاع ليس من جهتها. وإن منعت المرأة نفسها عن الزوج بالصوم، فإن كان بصوم تطوع، فالصحيح لدى الشافعية أن نفقتها تسقط؛ لأنها منعت التمكين التام بما ليس بواجب، فسقطت نفقتها كالناشزة، وإن منعت نفسها بصوم رمضان أو بقضائه وقد ضاق وقته، لم تسقط نفقتها؛ لأن ما استحق بالشرع لا حق للزوج في زمانه.
وإن منعت نفسها بصوم القضاء قبل أن يضيق وقته، أو بصوم كفارة أو نذر في الذمة، سقطت نفقتها؛ لأنها منعت حقه، وهو على الفور بما هو ليس فوريا. وكذا تسقط نفقتها بنذر معين بعد الزواج إن كان بغير إذن الزوج. والاعتكاف مثل الصوم: إن كان باعتكاف تطوع أو نذر في الذمة، سقطت نفقتها. وإن منعت المرأة نفسها بالصلاة: فإن كانت بالصلوات الخمس، أو السنن الراتبة، لم تسقط نفقتها؛ لأن ما ترتب بالشرع لا حق للزوج في زمانه. وإن كان بقضاء فوائت، سقطت نفقتها؛ لأنها على التراخي، وحقه على الفور. وإذا سقطت نفقة المرأة بنشوزها، ثم أطاعت وعدلت عن النشوز، والزوج
حاضر، عادت نفقتها، لزوال المسقط لها، ووجود التمكين المقتضي لها. وإن كان الزوج غائبا، لم تعد نفقتها في رأي الشافعية والحنابلة، لعدم تحقق التسليم والتسلم، إذ لا يحصلان مع الغيبة. وقال الحنفية: تعود نفقتها بعد عدولها عن النشوز ولو في غيبة الزوج. ………..
Suami yang selingkuh dengan perempuan lain hukumnya dosa. Karena yang dinamakan selingkuh adalah laki-laki yang punya istri kemudian berzina dengan perempuan lain (nidurin perempuan lain). Hukum orang laki-laki/perempuan yang selingkuh telah digambarkan dosa-dosanya oleh Allah ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam isro’ bersama Malaikat Jibril, sebagaimana keterangan dalam kitab Dardir berikut:
ثم أتى على قوم بين ايديهم لحم نضيج في قدور ولحم آخر نیء خبيث فجعلوا يأكلون من النيء الخبيث ويدعون النضيج الطيب فقال ماهذا ياجبريل قال هذا الرجل من امتك تكون عنده المرأة الحلال الطيبة فيأتى امرأة خبيثة فينبت عندها حتى يصبح والمرأة تقوم من عند زوجها حلالا طيبا فتأتى رجلا خبيثا فتبيت معه حتى تصبح.
Kemudian bertemulah beliau dengan sekelompok orang yang dihadapan mereka tersaji daging matang yang masih segar yang berada di dalam panci\ kuwali (cawan besar) dan daging lain yang masih mentah serta busuk. Anehnya, orang-orang tersebut memakan daging yang busuk dan meninggalkan daging yang matang lagi enak. Nabi Muhammadﷺ berkata: “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah contohnya orang laki-laki dari umat Baginda Rasulullah ﷺ yang sudah memiliki istri yang halal dan bagus, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan wanita lain yang tidak halal serta buruk. Hingga lelaki tersebut selingkuh ( menidurinya) sampai pagi tiba. Serta contohnya seorang wanita yang sudah mempunyai suami halal dan baik, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan lelaki lain yang buruk.Serta tidur bersama lelaki tersebut hingga pagi tiba. Maka dalam hukum Islam keduanya ( orang laki-laki dan perempuan yang selingkuh ) Wajib di rajam ( artinya seorang pezina tubuhnya ditanam setengah badan dan dilempari batu sampai mati ) karena termasuk zina muhshon.
Lalu bagaimana sikap istri jika benar-benar suaminya melakukan selingkuh sebagaimana keterangan diatas, maka dalam hal ini boleh istri mengajukan untuk fasakh ke hakim Pengadilan Agama guna memutuskan fasakh(perceraian) suami istri sebagaimana kasus diatas
Referensi:
Referensi:
المكتبة الشاملة كتاب فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب [زكريا الأنصاري] الرئيسيةأقسام الكتب الفقه الشافعي
فصول الكتاب ج:2 ص: 190 مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب المجلد الثاني كتاب الزنا
كتاب الزنا.
يجب الحد على ملتزم عالم بتحريمه بإيلاج حشفة أو قدرها بفرج مُحَرَّمٍ لِعَيْنِهِ مُشْتَهًى طَبْعًا بِلَا شُبْهَةٍ وَلَوْ مكتراة أو مبيحة ومحرما وإن تزوجها لا بغير إيلاج وبوطء حليلته في نحو حيض وصوم وَفِي دُبُرٍ وَأَمَتِهِ الْمُزَوَّجَةِ أَوْ الْمُعْتَدَّةِ أَوْ المحرم أو وطء بإكراه أو بتحليل عالم أو لميتة أو بهيمة والحد لمحصن رجم بمدر وحجارة معتدلة ولو في مرض وحر وبرد مفرطين وسن حفر لامرأة لم يثبت زناها بإقرار والمحصن مكلف حر ولو كافرا وطىء أو وطئت بقبل في نكاح.
الرَّجُلِ لَا يُحْفَرُ لَهُ وَإِنْ ثَبَتَ زِنَاهُ بِالْبَيِّنَةِ وَأَمَّا ثُبُوتُ الْحَفْرِ فِي قِصَّةِ الْغَامِدِيَّةِ مَعَ أَنَّهَا كَانَتْ مقرة فبيان للجواز وذكر حكم اللعان من زيادتي.
………..
كتاب المهذب في فقه الإمام الشافعي – الشيرازي [أبو إسحاق الشيرازي] الرئيسية أقسام الكتب
الفقه الشافعي فصول الكتاب ج:3 ,ص:335 مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب كتاب الحدود باب حد الزنا
الشافعي – الشيرازي [أبو إسحاق الشيرازي] الرئيسية أقسام الكتب
الفقه الشافعي فصول الكتاب ج:3 . ص:334 مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب المجلد الثالث كتاب الحدود [كتاب الحدود] [باب حد الزنا] الزنا حرام وهو من الكبائر العظام والدليل عليه قوله عز وجل: {وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً} [الإسراء: ٣٢] وقوله تعالى: {وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ الله إِلَهاً آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ الله إِلَّا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَاماً} [الفرقان: ٦٨] وروى عبد الله قال: سألت النبي صلى الله عليه وسلم أي الذنب أعظم عند الله عز وجل قال: “أن تجعل لله نداً وهو خلقك” قلت إن ذلك لعظيم قال: قلت: ثم أي قال: “أن تقتل ولدك مخافة أن يأكل معك” قال: قلت: ثم أي قال: “أن تزاني حليلة جارك” (رواه البخاري في كتاب الأدب باب ٢٠. مسلم في كتاب الإيمان حديث ١٤١. أبو داود في كتاب الطلاق باب ٥٠. النسائي في كتاب الإيمان باب ٦). …….. فصل: إذا وطئ رجل من أهل دار الإسلام امرأة محرمة عليه من غير عقد ولا شبهة عقد وغير ملك ولا شبهة ملك وهو عاقل بالغ مختار عالم بالتحريم وجب عليه الحد فإن كان محصناً وجب عليه الرجم لما روى ابن عباس رضي الله عنه قال: قال عمر لقد خشيت أن يطول بالناس زمان حتى يقول قائلهم ما نجد الرجم في كتاب الله فيضلون ويتركون فريضة أنزلها الله ألا إن الرجم إذا أحصن الرجل وقامت البينة أو كان الحمل أو الإعتراف وقد قرأتها الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة وقد رجم رسول الله صلى الله عليه وسلم ورجمنا ولا يجلد المحصن مع الرجم لما روى أبو هريرة وزيد بن خالد الجهني رضي الله عنهما قالا: كنا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقام إليه رجل فقال: إن ابني كان عسيفاً على هذا فزنى بامرأته فقال صلى الله عليه وسلم: “على ابنك جلد مائة وتغريب عام واغد يا أنيس على امرأة هذا فإن اعترفت فارجمها”. فغدا عليها فاعترفت فرجمها ولو وجب الجلد مع الرجم لأمر به فصل: والمحصن الذي يرجم هو أن يكون بالغاً عاقلاً حراً وطئ في نكاح صحيح فإن كان صبياً أو مجنوناً لم يرجم لأنهما ليسا من أهل الحد وإن كان مملوكاً لم يرجم وقال أبو ثور: إذا أحصن بالزوجية رجم لأنه حد لا يتبعض فاستوى فيه الحر والعبد كالقطع في السرقة وهذا خطأ لقوله عز وجل: {فَإذا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ} [النساء: ٢٥] فأوجب مع الإحصان خمسين جلدة وروى أبو هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “إذا زنت أمة أحدكم فليجلدها الحد” ١. ولأن الرجم أعلى من جلد مائة فإذا لم يجب على المملوك جلد مائة فلأن لا يجب الرجم أولى ويخالف القطع في السرقة فإنه ليس في السرقة حد غير القطع فلو أسقطناه القطع سقط الحد وفي ذلك فساد وليس كذلك في الزنا فإن فيه حداً غير الرجم فإذا أسقطناه لم يسقط الحد وأما من لم يطأ في النكاح الصحيح فليس بمحصن وإذا زنى لم يرجم لما روى مسروق عن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث: الثيب الزاني والنفس بالنفس والتارك لدينه المفارق للجماعة” ٢. ولا خلاف أن المراد بالثيب الذي وطئ في نكاح صحيح واختلف أصحابنا هل يكون من شرطه أن يكون الوطء بعد كماله بالبلوغ والعقل والحرية أم لا؟ فمنهم من قال ليس من شرطه أن يكون الوطء بعد الكمال فلو وطئ وهو صغير ١ رواه البخاري في كتاب العتق باب ١٧. مسلم في كتاب الحدود حديث ٣٢. الترمذي في كتاب الحدود باب ٨. ابن ماجه في كتاب الحدود حديث ١٤. الموطأ في كتاب الحدود حديث ١٤. ٢ رواه مسلم في كتاب القسامة حديث ٢٥، ٢٦. أبو داود في كتاب الحدود باب١. الترمذي في كتاب الديات باب ١٠. ابن ماجه في كتاب الحدود باب ١. أحمد في مسنده ١/٣٨٢.
Termasuk Hak orang Islam terhadap saudara islam yang lainnya adalah jika bertemu mengucapkan salam ( Sunnah mengucapkan salam ) Sedangkan menjawabnya adalah wajib, sebagaimama dijelaskan dalam sebuah hadits
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : «حقُّ المسلم على المسلم ست: إذا لَقِيتَهُ فسَلِّمْ عليه، وإذا دعاك فَأَجِبْهُ، وإذا اسْتَنْصَحَكَ فانْصَحْهُ، وإذا عَطَسَ فَحَمِدَ الله فسَمِّتْهُ، وإذا مرض فعُدْهُ، وإذا مات فاتَّبِعْهُ» [صحيح] – [رواه مسلم].
Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alayhi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim itu ada enam: jika kamu bertemu dengannya ucapkan makalah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepada maka berilah ia nasihat, jika ia bersinggungan dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan ‘Yarhamukallah’, jika ia sakit maka jenguklah dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.” (HR.Muslim Menurut keterangan ketika seseorang melakukan shalat maka diakhir sholatnya ketika mengucapkan salam sunnah diniatkan mengucapkan salam kepada para malaikat yang berada disisi kanan dan kirinya dan juga para jin dan juga orang mukmin yang berada disisinya. Studi Kasus ada sesorang sedang sholat disuraunya (musholla ) mendadak ada tamu mengucapkan salam, ia bingung ketika mendengar orang mengucapkan salam dalam kondisi shalat antara menjawab atau tidak sedangkan tamu tidak mengetahui bahawa shohibul baik dalam kondisi shalat.
Pertanyaannya. Wajibkah salam dijawab dalam kondisi sholat?
Waalaikum salam. Jawaban. Salam mimang hukumnya wajib dijawab namun demikian islam memberikan aturan yang pantas untuk kita ikuti karena tidak semua salam itu wajib dijawab terkecuali dalam kondisi orang berada di WC maka hukum tidak wajib menjawab salam dan juga menjawab salanya orang yang fasik hukumnya makruh, tidak wajib pula menjawab salamnya orang yang musyataha (orang disyahwati ) bahkan tidak boleh menjawab salam (haram hukumnya menjawab ) dalam kondisi sholat, namun demikian ada tata cara bagi orang yang sedang sholat sebagai tanda menjawabnya yaitu dengan isyarat. Referensi:
إعانة الطالبين ج ٣ص ١٨٥ وقوله مسنون صفة لسلام وخرج به غير المسنون مما سيذكره فى قوله ولايندب السلام على قاضي الحاجة الخ فلايجب دره……….. …( وقوله در سلامها) أى يكره على الأجنبي أن يرد سلام المشتهاة وقوله ومثله أى الرد فى الكراهة إبتدائ السلام منه عليها.
Imam Nawawi dalam kitab Al Adzkar menjelaskan masalah menjawab salam dalam kondisi tersebut sebagaimana deskripsi.
Adapun orang yang shalat maka diharamkan baginya menjawab dengan ucapan: “Waalaikumsalam,” Jika hal itu dilakukan maka shalatnya akan batal dengan catatan ia mengetahui keharamannya. Sebaliknya saat ia tidak mengetahui maka shalatnya tak menjadi batal.
Lebih lanjut, imam Nawawi menjelaskan secara spesifik
Disunnahkan menjawab salam saat ia dalam shalat menggunakan isyarat tanpa mengucapkan sesuatu apapun. Jika ia membalas salam setelah selesai shalat menggunakan suara maka itu tak menjadi masalah (boleh).
Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad yang diriwayatkan dari Ibnu Umar
Artinya: diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata: “Aku bertanya kepada Bilal, “Bagaimana kamu melihat Nabi Muhammad menjawab salam saat mereka memberikan salam kepada beliau, padahal beliau sedang shalat?Lantas bilal menjawab: “Beliau memberikan isyarat dengan tangannya.” (HR. Imam Abu Dawud dan Imam Turmudzi).
Imam As Shan’ani dalam kitab Subulus Salam memberikan penjelasan bahwa hadits tersebut sebagai dalil saat seseorang melaksanakan shalat kemudian ada orang yang memberikan salam maka cara menjawabnya dengan isyarat tanpa mengeluarkan suara.
Orang yang shalat tak boleh menjawab salam Sedangkan imam Syatibi dalam kitab Al Muwafaqat menjawab sebuah pertanyaan seputar menjawab salam termasuk urusan duniawi?
Iya, menjawab salam itu diluar pembahasan hakikat shalat tapi hal tersebut bukan urusan duniawi semata namun ada unsur ibadahnya
Dari sini perlu diperhatikan bahwa walau menjawab salam itu wajib hukumnya namun orang yang shalat harus mengerti kondisi dirinya tak boleh membatalkan shalatnya hanya gara-gara untuk menunaikan kewajiban (menjawab salam) semata. Maka dibutuhkan kehati-hatian dalam mempraktekkan ajaran agama supaya tak salah kaprah. Dan dalam kaidah dijelaskan jika seseorang dihadapak pada dua kemaslahatan maka dahulukannlah yang lebih utama dan jika seseorang dihadapkan pada dua kerusakan maka Ambillah yang lebih ringan. Kesimpulan jika sesorang dihadapkan pada dua kewajiban ( Melakukan sholat dan menjawab salam) maka yang harus dipilih adalah melanjutkan sholat dan meninggalkan menjawab salam.(karena jika memilih menjawab salam maka hukumnya haram)
Referensi
شرح رسالة مختصرة في أصول الفقه قاعدة المصالح والمفاسد وَإِذَا تَزَاحَمَتْ مَصْلَحَتَانِ؛ قُدِّمَ أَعْلاَهُمَا، أَوْ مَفْسَدَتَانِ لاَ بُدَّ مِنْ فِعْلِ إِحْدَاهُمَا؛ ارْتُكِبَتْ أَخَفُّهُمَا مَفْسَدَةً. قال: (وإذا تزاحمت مصلحتان؛ قُدِّمَ أعلاهما أو مفسدتان لا بد من فعل إحداهما؛ ارْتُكِبَ أخفُّهما). هذه القاعدة تسمى عند العلماء: قاعدة المصالح والمفاسد، وقاعدة المصالح والمفاسد لها ثلاث صور، ذكر الشيخ صورتين، وترك الصورة الثالثة. الصورة الأولى: أن تتزاحم مصلحتان، والتزاحم معناه التعارض بين أمرين لا يمكن الجمع بينهما، فعندنا مصلحتان ولا يمكن الجمع بينهما، ولا بد أن نفعل مصلحة واحدة؛ فما الحكم؟! قال الشيخ: إنه يختار أعلى المصلحتين؛ مثل شخص اجتمع عليه دين ونفقة مستحبة؛ كصدقة، فقضاء الدين مصلحة، والنفقة المستحبة على الفقراء والمساكين مصلحة، فأيهما يُقَدِّمُ؟ يقدم قضاء الدين؛ لأن قضاء الدين واجب، هذا الآن تعارض بين مصلحتين إحداهما واجبة والأخرى مستحبة. طيب.. لو تعارضت مصلحتان واجبتان؛ مثل صلاة نذر وصلاة فرض، يُقدم صلاة الفرض على صلاة النذر؛ لأن الفرض ثبت بأصل الشرع، والنذر أوجبه المكلف على نفسه، وفي النفقة اللازمة للزوجات والأقارب تُقَدَّمُ نفقة الزوجات ثم الأقارب، إذا تعارض عند الزوجة أمر أبويها وأمر زوجها؛ يُقَدَّمُ أمر زوجها؛ لأنه آكد. إذا اجتمعت مصلحتان مسنونتان؛ قُدِّمَ أفضلهما، ويقدم ما فيه نفع متعدٍّ، فلو تعارض عند إنسان طلب علم وصلاة نفل؛ يقدم طلب العلم. تعليم العلم مع صلاة نفل، تعليم العلم، المقصود من هذا: أن الأعلى في المصالح يختلف من مصلحة إلى أخرى. ومن الأدلة على اختيار أعلى المصلحتين: ما ورد في الحديث الصحيح قول النبي -صلى الله عليه وسلم- كما في حديث ابن الزبير(1) عن عائشة قَالَ: «يَا عَائِشَةُ! لَوْلاَ قَوْمُكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ» قال ابن الزبير: بِكُفْرٍ، « لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ، فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ: بَابٌ يَدْخُلُ مِنْهُ النَّاسُ وَبَابٌ يَخْرُجُونَ»(2). فهنا عندنا مصلحتان: المصلحة الأول: نقض الكعبة وجعل لها بابين، وإذا كان لها بابان يكون أخفَّ وأسهل من كون الناس يدخلون ويخرجون مع باب واحد، والمصلحة الثانية: تأليف قلوب قريش؛ لأنهم لا يزالون حدثاء عهد بكفر، فماذا قدم الرسول -صلى الله عليه وسلم- من المصلحتين؟ قدم المصلحة الثانية، وهي تأليف القلوب. الصورة الثانية: إذا اجتمعت مفسدتان؛ ارتكب أخفهما، ومن أدلة هذا وأمثلته: ما ورد في الحديث الصحيح حديث أنس -رضي الله عنه- قال: جاء أعرابي فبال في المسجد فزجره الناس، فنهاهم النبي -صلى الله عليه وسلم-، فلما قضى بوله أمر بذنوب من ماء فأريق عليه(3). البول في المسجد مفسدة، والاستمرار على البول مفسدة، والصحابة -رضي الله عنهم- أرادوا أن يقطعوا على الرجل بوله، يعني أرادوا أن لا يستمر البول. والرسول -صلى الله عليه وسلم- أراد أن يستمر البول. إذن: البول في المسجد مفسدة في حد ذاتها، واستمرار البول مفسدة، فأراد الرسول -صلى الله عليه وسلم- أن يقضوا على الاستمرار، فنَهوا هذا الرجل لأجل أن يقوم ويُكمل بوله خارجَ المسجد، لكن الرسول -صلى الله عليه وسلم- نهاهم. لماذا؟ لأن قطع البول مفسدته أعظم من مفسدة الاستمرار، والبول في المسجد، وكونه يستمر على بوله هذا أهون، وكونه يقوم ويخرج هذا أعظم، فارْتُكِبَتْ أدنى المفسدتين وأخف المفسدتين؛ لأنه إذا قام سيكون هناك ثلاث مفاسد: المفسدة الأولى: حبس البول، والإنسان إذا أراد أن يبول وحَبَسَ البول هذا مُضِرّ. المفسدة الثانية: أنه سينجس أكبر بقعة من المسجد، وبوله كانت بقعة معينة ما يعني تزيد على بضعة من السنتيمترات، لكن إذا قاموا وطردوه سيكون هناك شيء من البول يخرج هذه مفسدة ثانية. المفسدة الثالثة: أن ثيابه ستتنجس، لكن إذا بقي البول بالمسجد حصل ستتلاشى المفاسد هذه. إذن: الرسول -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا نهاهم أراد ارتكاب أدنى المفسدتين في مقابل أعلاهما. الصورة الثالثة: إذا تقابلت مصلحة ومفسدة وكانت المفسدة أعظم.. انظر الآن الصورة الأولى عندنا مصلحتان، والصورة الثانية عندنا مفسدتان، والصورة الثالثة عندنا مصلحة ومفسدة، ولكن المفسدة أعظم، فما الحكم؟ يُقدم دفع المفسدة ويُترك تحقيق المصلحة؛ لأن درء المفاسد مقدم على جلْب المصالح. ومن أدلة هذا قول الله -تعالى: ﴿ وَلاَ تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ﴾(4)، سبوا آلهة المشركين هذه مصلحة، وهي تحقير دينهم وعبادتهم، وسب الله -تعالى- هذه مفسدة، ولما كان سيترتب على هذه المصلحة التي هي سب آلهة المشركين سيترتب عليها مفسدة وهي سب الله -تعالى- تُركت هذه المصلحة، قال -تعالى: ﴿ وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ﴾. ومن الأمثلة على هذا ما ورد من زَوَّارَات القبور(5)، فزيارة القبور للنساء فيها مصلحة، وهي الاتعاظ ولكن فيها مصلحة أعظم وهي مفسدة فتنة الأحياء من جهة، وإيذاء الأموات من جهة أخرى، فقُدِّمَ درء المفسدة على جلب المصلحة. ومن الأمثلة أيضًا منْع الجار من أن يَتَصَرَّفَ في ملكه إذا أَدَّى إلى الإضرار بجاره، فكون الجار يتصرف في بيته هذه مصلحة، ولكن كونه يضر الجار هذه مفسدة. يعني لو أن إنسانا يبيع الغنم، وقال: الحوش بعيد عني، وسأجعل الغنم عندي بالبيت، فوضعهم في بيته، وبجانبه جدار جاره، كونه الآن قَرَّبَ الغنم له في بيته مصلحة له، ولكن جاره تأذى من رائحة الغنم هذه مفسدة أيهما الذي يُقَدِّمُ؟ يُقدم درء المفسدة، نكتفي بهذا القدر والله -سبحانه وتعالى- أعلم. يسأل أحد الإخوة؛ يقول: كيف نجمع بين قاعدة “الوسائل لها أحكام المقاصد” وبين قاعدة “الغاية لا تبرر الوسيلة”؟ أولا: العلماء يفرقون بين الوسيلة وبين الذريعة، وقد ذكرني السؤالُ، فقالوا: الوسيلة هي ما توصل إلى المقصود قطعا أو ظنا، والذريعة قد لا تُوصل إلى المقصود. المثال الذي يوضح: مصاحبة شخص منحرف أو مصادقة ومحبة شخص منحرف، أيهما أبلغ في التأثر؟ المصادقة والمحبة أبلغ في التأثر؛ إذن: نقول: المصادقة هذه وسيلة، ومجرد مصاحبة بطريق مثلا هذه تعتبر ذريعة. فالقول هنا بأن الغاية تبرر الوسيلة هذا عكس للقاعدة التي ذكرها العلماء؛ لأن العلماء ما يقولون: المقاصد لها أحكام الوسائل. إذن لا يُنظر إلى الغاية بحيث تبرر الوسيلة أو ما تبررها؛ وإنما يُنظر إلى الوسيلة نفسها هل تُؤدي إلى هذا المقصود أو لا. ثم إن قضية الغاية تبرر الوسيلة قد يُستدل بهذا على التطرق إلى الأمور المحرمة، بينما قضية الوسائل لها أحكام المقاصد هذه تَمنع وُلوجَ هذا الباب، هذا الفرق بينهما. يقول أيضًا: هل الوسائل لها أحكام المقاصد على إطلاقها؟ لأننا نرى أن الوفاء بنذر الطاعة واجب مع أن وسيلته -وهو النذر- مكروهة، فما توجيهكم؟ مسألة النذر هذه مسألة فيها خلاف بين العلماء، هو سأل عن النذر؟ أي نعم. هذه فيها خلاف بين العلماء هل الوفاء بالنذر واجب أو مستحب أو محرم؟ المسألة فيها خلاف بين أهل العلم، لكن على القول بأن ابتداء النذر، فالوفاء بالنذر واجب في الطاعة، لكن ابتداء النذر من أهل العلم من قال: “إنه مكروه”، ومن أهل العلم من قال: “إنه مستحب”، ومن أهل العلم من قال: “إنه محرم”. فالأقوال ثلاثة في ابتداء النذر وهذا يُشكل على هذه القاعدة فعلاً؛ لأنه على القول بأن ابتداء النذر مكروه، كيف يصير الوفاء بالنذر واجبا؟! هذا يعتبره العلماء مستثنى من القاعدة، والسبب في هذا أنه ورد أحاديث تنهى عن النذر؛ كما في حديث ابن عمر أن النبي -صلى الله عليه وسلم- نَهى عن النذر وقال: « إِنَّهُ لاَ يَأْتِي بِخَيْرٍ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ»(6)، وجاءت أدلة أخرى في المقابل توجب الوفاء بالنذر. فالحاصل من هذا أن القاعدة ليست على إطلاقها بالنسبة لمسألة النذر، ولهذا العلماء قالوا: “إن مسألة النذر تُشْكِلُ؛ كيف يُنهى عن الشيء، ثم يصير الوفاء به واجبا؟!
(1) عبد الله بن الزبير بن العوام بن خويلد بن أسد بن عبد العزي، القرشي، الأسدي. أبوه حواري رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وأمه بنت الصديق، وجدته صفية عمة رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وعمة أبيه خديجة بنت خويلد، وهو أول مولود ولد للمهاجرين بعد الهجرة. حنكه النبي -صلى الله عليه وسلم- وسماه باسم جده، وكناه بكنيته، وأحد من وَلِيَ الخلافة. قُتل -رضي الله عنه- في جمادى الأولى سنة ثلاث وسبعين من الهجرة. انظر: أسد الغابة (3/138 ترجمة 2947)، الإصابة (4/89 ترجمة 4685). (2) متفق عليه: أخرجه البخاري: كتاب العلم، باب من ترك بعض الاختيار مخافة أن يقصر فهم بعض الناس عنه فيقعوا في أشد منه (126)، واللفظ له، مسلم: كتاب الحج ، باب نقض الكعبة وبنائها (1333). (3) متفق عليه: أخرجه البخاري: كتاب الوضوء، باب ترك النبي والناس الأعرابي حتى فرغ من بوله في المسجد (219، 221، 6025)، ومسلم: كتاب الطهارة، باب: وجوب غسل البول وغيره من النجاسات إذا حصلت في المسجد وأن الأرض تطهر بالماء من غير حاجة إلى حفرها (284، 285) بنحوه من حديث أنس. (4) الأنعام: 108. (5) صحيح:أحمد في المسند (8449، 8452، 86 الفقه
Referensi:Kaidah dengan redaksi yang sedikit berbeda ( bentuk jama’) namun tujuannya adalah sama:
[إذا تزاحمت المصالح قدمت الأعلى وإذا تزاحمت المفاسد ارتكبت بالأدنى ]
Jika seseorang dihadapkan pada banyak kemaslahatan maka dahulukanlah yang lebih tinggi nilai keutamaannya. Dan jika dihadapkan pada banyak kerusakan maka ambillah /lakukanlah yang lebih ringan
. كتاب شرح منظومة القواعد الفقهية للسعدي – حمد الحمد [حمد الحمد] الرئيسية أقسام الكتب علوم الفقه والقواعد الفقهية فصول الكتاب << < ج: ص: > >> مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب تزاحم المصالح والمفاسد إذا تزاحمت المصالح قدمت الأعلى + – التشكيل [إذا تزاحمت المصالح قدمت الأعلى ] قال المصنف رحمه الله: [فإن تزاحم عدد المصالح يقدم الأعلى من المصالح] إذا تزاحمت عندنا المصالح فإنا نقدم الأعلى منها، عندنا مصلحة ومصلحة وتعارضتا عند هذا المكلف، فإما أن يفعل هذه المصلحة وإما أن يفعل المصلحة الأخرى، فيقدم الأعلى منهما. إذا أتيت إلى المسجد وقد أقيمت صلاة الصبح فهل تشرع بنافلة الصبح القبلية أو تصلي الصبح؟ نقول: تصلي الفريضة مع الإمام؛ لأن النبي عليه الصلاة والسلام قال كما في صحيح مسلم: (إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة). إذاً: نقدم الفريضة على النافلة. وإذا كانت العبادة ذات نفع متعد كالعلم، وعارضتها عبادة ذات نفع لازم كصيام التطوع؛ فإنا نقدم العبادة ذات النفع المتعدي. إذاً: نقدم الأعلى من المصالح. إذا تزاحمت المفاسد ارتكبت الأدنى] قال المصنف رحمه الله: [وضده تزاحم المفاسد يرتكب الأدنى من المفاسد] كذلك إذا تعارضت المفاسد وتزاحمت فإنا نرتكب الأدنى منها ونجتنب الأعلى، ولذا فإن النبي عليه الصلاة والسلام كما في الصحيحين من حديث أنس بن مالك: أنه لما بال الأعرابي في المسجد فزجره الناس، نهاهم النبي عليه الصلاة والسلام، وذلك لتعارض مفسدتين، الأولى: البول في المسجد فينجس. المفسدة الثانية: أن يحبس بوله فيتضرر، يعني: يلحق بدنه الضرر، وكذلك أيضاً قد ينتشر هذا في المسجد لأنه يقوم وتنتقل النجاسة إلى مواضع أخرى من المسجد. فنهاهم النبي عليه الصلاة والسلام من باب الوقوع في المفسدة الصغرى، فإذا تعارضت عندنا مفسدتان قدمنا المفسدة الصغرى في الوقوع، فنقع في المفسدة الصغرى ونجتنب المفسدة الكبرى. ومن ذلك قول النبي عليه الصلاة والسلام: (لولا أن قومك حديثو عهد بكفر لهدمت الكعبة وبنيتها على قواعد إبراهيم)، متفق عليه. فهنا عندنا مفسدة، وهي بقاء الكعبة فيها نقص من الجهة التي فيها حجر إسماعيل، فإن قريشاً قصرت بهم النفقة فقصروا البناء من جهة حجر إسماعيل، فالنبي عليه الصلاة والسلام أراد أن يهدم الكعبة ويبنيها على قواعد إبراهيم كاملة؛ لكنه خشي مفسدة أعظم، وهي أن يرتد الناس عن الإسلام لأنهم كانوا حديثي عهد بكفر.
Sebagaimana yang kita maklumi bahwa Wudu adalah mensucikan anggota badan tertentu dengan air untuk menghilangkan hadas kecil. Hadas kecil yang dimaksud adalah buang angin, buang air kecil, buang air besar, dll.
Pertanyaan. Nyoona jawaban kyai.
Hukum wudhu apakah tetap wajib kalau tujuannya shalat sunnah.
Kalau hukum wudhu tetap wajib walaupun untuk shalat sunnah, lebih besar ( utama ) mana pahala wudhu dengan shalat sunnah.
Waalaikum salam
Jawaban: No.1
Berwudhu’ hukumnya wajib walau hanya tujuannya untuk melaksanakan shalat sunnah, karena wudhu’ merupakan syarat sahnya shalat sebagaimana keterangan berikut:
(1)Syarat sahnya sholat fardhu dan sholat sunnat, itu harus suci dari hadats besar dan hadats kecil.Artinya harus mempunyai wudhu’,dan harus tidak junub, tidak haid,tidak nifas. ………..
Nomor 5 syaratnya sholat fardhu atau sholat sunnat, adalah harus suci dari hadats besar dan harus suci dari hadats kecil.Jika seseorang ( Ahmad ) bertakbirotul ihrom dalam keadaan suci dari hadats. Lalu Ahmad keluar angin/berkentut ( mempunyai hadats kecil ),maka sholatnya Ahmad batal. Dengan demikian maka syarat sah nya sholat adalah suci dari hadts. Terkecuali jika sesorang tidak memenuhi syarat untuk bersuci dari hadts misalkan karena tidak ada air atau tidak ada debu untuk bertayyammun sedang orang tersebut badannya atau pakaiannya terkena Najis atau dalam kondisi daa imul hadats disebabkan cer- cer yang tidak memungkinkan untuk bersuci dll., maka dalam kondisi yang sedemikian ia harus ( wajib ) melaksanakan sholat lihurmatil wakti. walau tanpa wudu’. Namun demikian ia wajib mengqodo’ sholatnya, ketika ia telah memenuhi syarat untuk bersuci. Berikut sebab-sebab atau syarat melaksanakan sholat lihurmatil Wakti :
Tidak mendapatkan sarana bersuci baik berupa air atau debu.
Tidak mampu menutupi aurotnya atau hanya mampu menutupi aurot dengan pakaian najis yang tidak dima’fu.
Tidak mampu menghilangkan najis yang tidak dima’fu dari tubuhnya.
Tidak mampu mengetahui masuknya waktu shalat.
Tidak mampu menempati tempat atau alas yang suci dari najis yang tidak dima’fu.
Jawaban No.2
Lebih utama melakukan sholat sunnah ( sholat sunnah wudhu’ ) dari pada hanya berwudhu saja hal ini berdasarkan beberapa alasan ( Dalil) sebagai berikut:
Hadits . Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Bilal Radhiyallahu anhu ketika shalat Shubuh يا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْت دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طُهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ Artinya;” Wahai Bilal! Sampaikanlah kepadaku amal shalih yang kamu kerjakan dan paling diharapkan manfaatnya (di sisi Allȃh Azza wa Jalla ) dalam Islam, karena sesungguhnya tadi malam (dalam mimpi) aku mendengar suara sandalmu (langkah kakimu) di depanku di dalam Surga”. Maka Bilal Radhiyallahu anhu berkata, “Tidaklah aku mengamalkan satu amal shalih dalam Islam yang paling aku harapkan manfaatnya (di sisi Allȃh Azza wa Jalla ) lebih dari (amalan ini yaitu) tidaklah aku berwudhu dengan sempurna pada waktu malam atau siang, kecuali aku mengerjakan shalat dengan wudhu itu sesuai dengan apa yang ditetapkan Allâh bagiku untuk aku kerjakan”
Kaidah. ما كان أكثر فعلا كان أكثر فضلا. Sesuatu yang lebih banyak pekerjaannya maka lebih banyak keutamaannya.
Hadits diatas menjelaskan betapa besar keutamaan orang yang selalu menjaga wudhunya dengan selalu memperbaharuinya setiap kali batal dan keutamaan mengerjakan shalat sunnah setelahnya. Karena ini termasuk sebab yang bisa memudahkan orang tersebut untuk masuk surga dengan rahmat dan karunia Allȃh Azza wa Jalla. Imam al-Bukhâri mencantumkan hadits ini dalam Bab, “ Keutamaan Selalu Berwudhu Di Waktu Malam Dan Siang, Serta Keutamaan Shalat (Sunnah) Setelah Berwudhu Di Waktu Malam Dan Siang ”
Dalam riwayat lain dari Buraidah bin al-Hushaib Radhiyallahu anhu bahwa Bilal Radhiyallahu anhu berkata kepada Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasȗlullȃh! Tidaklah aku melakukan perbuatan dosa kecuali aku melaksanakan shalat dua rakaat (untuk bertaubat kepada Allȃh Azza wa Jalla ) dan tidaklah aku ditimpa hadats (sesuatu yang membatalkan wudhu) kecuali aku segera berwudhu pada waktu itu”. Maka Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Karena amal shalih inilah (kamu mendapatkan balasan tinggi tersebut)”
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat keutamaan shalat setelah berwudhu dan ini adalah shalat sunnah (tidak wajib). Shalat ini boleh dikerjakan di waktu-waktu larangan; ketika matahari terbit, ketika tegak lurus (di tengah-tengah langit) dan ketika terbenam, juga setelah shalat Shubuh dan Ashar, karena shalat ini adalah shalat yang ada sebabnya, inilah pendapat kami”. Anjuran untuk mengerjakan shalat sunnah setelah berwudhu, supaya wudhu tersebut tidak luput dari tujuannya. Anjuran untuk selalu dalam keadaan suci dan menjaga wudhu, karena orang yang selalu menjaga wudhunya maka dia akan melewati malam dalam keadaan suci, dan barangsiapa yang melewati malam dalam keadaan suci maka dia selalu di atas kebaikan. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan amal shalih yang dikerjakan secara tersembunyi dan itu lebih utama daripada amal shalih yang dikerjakan secara terang-terangan Sebagaimana hadits ini menunjukkan tingginya kedudukan dan agungnya keutamaan Sahabat yang mulia, Bilâl bin Rabah Radhiyallahu anhu, demikian juga judul bab yang dicantumkan oleh Imam al-Bukhari Peristiwa yang disampaikan oleh Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini adalah yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lihat dalam mimpi, sebagaimana penjelasan Imam at-Tirmidzi. Perbuatan yang dikerjakan oleh Sahabat Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diingkari oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk Sunnah yang disyariatkan dalam Islam, karena Rasȗlullȃh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mendiamkan dan membenarkan perbuatan yang salah.
Kesimpulan shalat sunnah ( shalat sunnah wudhu ) ataupun shalah sunnah yang lainya, lebih utama dari pada hanya berwurudhu’ saja, karena jika melakukan sunnah wudhu’ keduanya bisa dicapai yaitu keutamaan Wudhu’ dan shalat sunnah wudhu’nya ataupun shalat-shalat sunnah yang lainnya.
Referensi:.
كتاب فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب [زكريا الأنصاري] الرئيسية أقسام الكتب
الفقه الشافعي فصول الكتاب << < ج: 1 ص: 57 > >> مسار الصفحة الحالية: فهرس الكتاب كتاب الصلاة باب في شروط الصلاة
[باب في شروط الصلاة] … باب. معرفة وقت وتوجه وستر عورة بما يمنع إدراك لونها من أعلى وجوانب ولو بطين ونحو ماء كدر وعورة رجل ومن بها رق ما بين سرة وركبة وحرة غير وجه وكفين وخنثى كأنثى وله ستر بعضها بيد فإن وجد كافيه قدم سوأتيه ثم قبله وعلم بكيفيتها وطهر حدث فإن سبقه بطلت وتبطل بمناف عرض لا بلا تقصير ودفعه حالا وطهر نجس في محمول وبدن وملاقيهما ولو نجس بعض شيء منها وجهل وجب غسل كله ولو غسل. ــ بَابٌ بِالتَّنْوِينِ. ” شُرُوطُ الصَّلَاةِ ” جَمْعُ شَرْطٍ بِالْإِسْكَانِ وَهُوَ لُغَةً تَعْلِيقُ أَمْرٍ بِأَمْرٍ كُلٌّ مِنْهُمَا فِي الْمُسْتَقْبَلِ وَيُعَبَّرُ عَنْهُ بِإِلْزَامِ الشَّيْءِ وَالْتِزَامِهِ وَاصْطِلَاحًا مَا يَلْزَمُ مِنْ عَدَمِهِ الْعَدَمُ وَلَا يلزم من وجوده وَلَا عَدَمٌ لِذَاتِهِ فَشُرُوطُ الصَّلَاةِ مَا يَتَوَقَّفُ عليها صحة الصلاة وَلَيْسَتْ مِنْهَا وَهِيَ تِسْعَةٌ بِالِاكْتِفَاءِ عَنْ الْإِسْلَامِ بِطُهْرِ الْحَدَثِ وَبِجَعْلِ انْتِفَاءِ الْمَانِعِ شَرْطًا تَجَوُّزًا عَلَى مَا فِي الْمَجْمُوعِ وَحَقِيقَةً عَلَى مَا مَالَ إلَيْهِ الرَّافِعِيُّ أَحَدُهَا ” مَعْرِفَةُ دُخُولِ ” وَقْتٍ ” يَقِينًا أَوْ ظَنًّا فَمَنْ صَلَّى بِدُونِهَا لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ وَإِنْ وَقَعَتْ فِي الْوَقْتِ ” و ” ثَانِيهَا ” تَوَجُّهٌ ” لِلْقِبْلَةِ وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُهُ مَعَ ما قبله في كتاب الصلاة ” و ” ثَالِثُهَا ” سَتْرُ عَوْرَةٍ ” وَلَوْ خَالِيًا فِي ظلمة ” بما ” أَيْ بِجُرْمٍ ” يَمْنَعُ إدْرَاكَ لَوْنِهَا مِنْ أَعْلَى وجوانب ” لها لا من أسفلها فلو ريئت مِنْ ذَيْلِهِ كَأَنْ كَانَ بِعُلُوٍّ وَالرَّائِي أَسْفَلُ لَمْ يَضُرَّ ذَلِكَ ” وَلَوْ ” سَتَرَهَا ” بِطِينٍ وَنَحْوِ مَاءٍ كَدِرٍ ” كَمَاءٍ صَافٍ مُتَرَاكِمٍ بِخُضْرَةٍ فَعُلِمَ أنه يجب التطيين أَوْ نَحْوُهُ عَلَى فَاقِدِ الثَّوْبِ وَنَحْوِهِ وَأَنَّهُ لَوْ كَانَ بِحَيْثُ تُرَى عَوْرَتُهُ مِنْ طَوْقِهِ فِي رُكُوعٍ أَوْ غَيْرِهِ بَطَلَتْ عِنْدَهُمَا فَلْيَزُرَّهُ أو يشد وسطه ونحوه مِنْ زِيَادَتِي. ” وَعَوْرَةُ رَجُلٍ ” حُرًّا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ ” وَمَنْ بِهَا رِقٌّ ” وَلَوْ مُبَعَّضَةً ” مَا بَيْنَ سُرَّةٍ وَرُكْبَةٍ ” لِخَبَرِ الْبَيْهَقِيّ “وَإِذَا زَوَّجَ أَحَدُكُمْ أَمَتَهُ عَبْدَهُ أَوْ أَجِيرَهُ فَلَا تَنْظُرْ الْأَمَةُ إلَى عَوْرَتِهِ” وَالْعَوْرَةُ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ والركبة وقيس بالرجل من بهارق بِجَامِعِ أَنَّ رَأْسَ كُلٍّ مِنْهُمَا لَيْسَ بِعَوْرَةٍ وتعبيري بذلك أعم من تعبيره بالأمة ” و ” عَوْرَةُ ” حُرَّةٍ غَيْرُ وَجْهٍ وَكَفَّيْنِ ” ظَهْرًا وَبَطْنًا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} ١ وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَإِنَّمَا لَمْ يَكُونَا عَوْرَةً لِأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إلَى إبْرَازِهِمَا ” وَخُنْثَى كأنثى ” رقا وحرية هذا مِنْ زِيَادَتِي فَلَوْ اقْتَصَرَ الْخُنْثَى الْحُرُّ عَلَى سِتْرِ مَا بَيْنَ سُرَّتِهِ وَرُكْبَتِهِ لَمْ تَصِحَّ صَلَاتُهُ ” وَلَهُ ” أَيْ الْمُصَلِّي ” سَتْرُ بَعْضِهَا بِيَدٍ ” لِحُصُولِ مَقْصُودِ السِّتْرِ ” فَإِنْ وَجَدَ كَافِيهِ ” أَيْ بَعْضَهَا ” قَدَّمَ ” وُجُوبًا ” سَوْأَتَيْهِ ” أَيْ قُبُلَهُ وَدُبُرَهُ لِأَنَّهُمَا أَفْحَشُ مِنْ غَيْرِهِمَا وَسُمِّيَا سَوْأَتَيْنِ لِأَنَّ انكشافهما يَسُوءُ صَاحِبَهُمَا ” ثُمَّ ” إنْ لَمْ يَكْفِهِمَا قَدَّمَ ” قُبُلَهُ ” لِأَنَّهُ مُتَوَجِّهٌ بِهِ إلَى الْقِبْلَةِ فَكَانَ سَتْرُهُ أَهَمُّ تَعْظِيمًا لَهَا وَلِأَنَّ الدُّبُرَ مَسْتُورٌ غَالِبًا بِالْأَلْيَيْنِ ” و ” رَابِعُهَا وَهُوَ مِنْ زِيَادَتِي ” عِلْمٌ بِكَيْفِيَّتِهَا ” أَيْ الصَّلَاةِ بِأَنْ يَعْلَمَ فَرْضِيَّتَهَا وَيُمَيِّزَ فُرُوضَهَا مِنْ سُنَنِهَا نَعَمْ إنْ اعْتَقَدَهَا كُلَّهَا فَرْضًا أَوْ بَعْضَهَا وَلَمْ يُمَيِّزْ وَكَانَ عَامِّيًّا وَلَمْ يَقْصِدْ نَفْلًا بِفَرْضٍ صَحَّتْ
……….. Nomer 5 syaratnya sholat fardhu atau sholat sunnat, adalah harus suci dari hadats besar dan harus suci dari hadats kecil.Jika seseorang (Ahmad)bertakbirotul ihrom dalam keadaan suci dari hadats.Lalu Ahmad berkentut(mempunyai hadats kecil),maka sholatnya Ahmad batal.
مناهل العرفان ـ (ص ١٤٢) ان تعليق الكيس المذكور الذي يحمل البول حيث كان ضروريا ومضطرا اليه ولا يمكن التخلي عنه بارسال البول في اناء منفصل عن الشخص المذكور انه يجب عليه ان يصلي اولا لحرمة الوقت ثم القضاء اهـ بغية المسترشدين ـ (ص 78) فائدة: يجب على المريض أن يؤدي الصلوات الخمس مع كمال شروطها وأركانها واجتناب مبطلاتها حسب قدرته وإمكانه، وله الجلوس ثم الاضطجاع ثم الاستلقاء والإيماء إذا وجد ما تبيحه على ما قرر في المذهب، فإن كثر ضرره واشتد مرضه وخشي ترك الصلاة رأساً فلا بأس بتقليد أبي حنيفة ومالك، وإن فقدت بعض الشروط عندنا. وحاصل ما ذكره الشيخ محمد بن خاتم في رسالته في صلاة المريض أن مذهب أبي حنيفة أن المريض إذا عجز عن الإيماء برأسه جاز له ترك الصلاة، فإن شفي بعد مضي يوم فلا قضاء عليه، وإذا عجز عن الشروط بنفسه وقدر عليها بغيره فظاهر المذهب وهو قول الصاحبين لزوم ذلك، إلا إن لحقته مشقة بفعل الغير، أو كانت النجاسة تخرج منه دائماً، وقال أبو حنيفة: لا يفترض عليه مطلقاً، لأن المكلف عنده لا يعد قادراً بقدرة غيره، وعليه لو تيمم العاجز عن الوضوء بنفسه، أو صلى بنجاسة أو إلى غير القبلة مع وجود من يستعين به ولم يأمره صحت، وأما مالك فمقتضى مذهبه وجوب الإيماء بالطرف أو بإجراء الأركان على القلب، والمعتمد من مذهبه أن طهارة الخبث من الثوب والبدن والمكان سنة، فيعيد استحباباً من صلى عالماً قادراً على إزالتها، ومقابلة الوجوب مع العلم والقدرة، وإلا فمستحب ما دام الوقت فقط، وأما طهارة الحدث فإن عجز عن استعمال الماء لخوف حدوث مرض أو زيادته أو تأخير برء جاز التيمم ولا قضاء عليه، وكذا لو عدم من يناوله الماء ولو بأجرة، وإن عجز عن الماء والصعيد لعدمهما أو عدم القدرة على استعمالهما بنفسه وغيره سقطت عنه الصلاة ولا قضاء اهـ. واعلم أن الله مطلع على من ترخص لضرورة، ومن هو متهاون بأمر ربه، حتى قيل: ينبغي للإنسان أن لا يأتي الرخصة حتى يغلب على ظنه أن الله تعالى يحب منه أن يأتيها لما يعلم ما لديه من العجز، والله يعلم المعذور من المغرور، اهـ ومن لم يجد ماء ولا ترابا يصلي لحرمة الوقت. أَنَّ مَنْ فَقَدَ السُّتْرَةَ يُصَلِّي عَارِيًّا وَلَا إعَادَةَ عَلَيْهِ ، بِخِلَافِ الْمُحْدِثِ وَمَنْ بِبَدَنِهِ نَجَاسَةٌ فَإِنَّ كُلًّا مِنْهُمَا يُصَلِّي لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَيُعِيدُ ( قوله فمن صلى بدونها ) أي بدون المعرفة المذكورة وقوله لم تصح صلاته أي إن كان قادرا وإلا صلى لحرمة الوقت اه شوبري وَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَوْضِعًا طَاهِرًا وَلَا بِسَاطًا طَاهِرًا صَلَّى لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ المجموع شرح المهذب ـ (ج 3 / ص 242)
Mau nanya yg dikatakan خفين itu seperti apa ? dan apakah sepatu boot, atau semacamnya bisa dihukumi sama seperti خفين sehingga bisa jadi pengganti dari membasuh kaki ketika wudhu’.
Terimakasih..
Wa alaikumussalam. Jawaban:
Tidak semua sepatu bisa menjadi pengganti membasuh kedua kaki ketika berwudu’ dengan cara mengusap, tetapi sepatu atau Muzah yang dapat dijadikan pengganti dari membasuh kedua kaki hanya dengan mengusapnya adalah Khaffain atau Muzah (sepatu ) yang terbuat dari kulit yang kuat dan dapat mencegah masuknya air kedalam dua kaki sedangkan modelnya muzah yang dapat menjadi pengganti membasuh kaki dengan mengusapnya yaitu muzah yang terbuat dari kulit juga menutupi kedua kaki sebagaimana gambar tersebut.Dengan demikian sepatu boot tidak mencukupi syarat untuk dijadikan pengganti membasuh kedua kaki ketika wudu’ .Alasannya karena tidak terbuat dari kulit dan juga motif nya kasar.
Kitab Al Mabaadiul Fiqhiyyah,juz4, halaman 14-15)
Syarat sahnya mengusap dua sepatu:
Dua sepatu itu harus kuat.Yang mana bisa berturut-turut berjalan diatas dua sepatu.
Dua sepatu itu harus dari kulit,atau dari kain berbulu yang kuat,atau seumpamanya kulit dan kain berbulu yang kuat,yaitu sepatu yang dapat mencegah sampainya air ke kaki.
Orang itu harus memulai memakai terhadap dua sepatu dalam keadaan suci yang sempurna (yaitu suci dari hadats besar dan dari hadats kecil).
Dua sepatu itu harus menutupi terhadap tempatnya dua kaki yang dibasuh dengan air.
Referensi:
(المباديء الفقهية ، جز ٤ ، صحيفة ١٤-١٥ )
المَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ.
المُسَحُ عَلَى ظَاهِـر الخفين رُخصة لِلرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ فى السفر والحضر لعذر وَلِغَيْرِ عذر. شرُوطُ صِحَةِ المَسَخ
(ا) أَنْ يَكُونَ الْخُفَّانِ قَوِيَّيْنِ يُمكن تتابع المشي عَلَيْهما. ( ٢)أَنْ يَكُونَا مِنَ الجِلْدِ او الجُوخ القوي او نحوهما من الَّذِي يَمنع وصول الماء إلى الرجل ( ٣) أَنْ يَبتَدِيء لبسهُمَا عَلَى طهُر کامل (٤)أَنْ يَكُونَا سَاتِرين لمحل الغسل مِنَ القَدَمَيْنِ
Artinya, “Sesungguhnya Nabi saw pernah berwudhu dengan mengusap ubun-ubunnya, mengusap surban yang diikatkan di kepalanya, dan mengusap kedua sepatunya (sebagai ganti dari basuhan kaki).” (HR Muslim)
Termasuk perkara yang wajib diimani oleh setiap muslim dan muslimah adalah meyakini adanya kejadian (peristiwa ) isra’ dan mi’rajnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, dimana hal tersebut merupakan kejadian yang luar biasa, yang terjadi pada malam hari yang bertepatan pada tanggal 27 Rojab tahun ke-11 dari kenabian .
Pertanyaannya.
Apakah yang dimakan Isra’ dan Mi’raj. Lalu apa sebebarnya tujuan Allah SWT mengisra’kan dan memi’rajkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..Mohon penjelassannya tentang kisah tersebut
Waalaikum salam .
Jawaban.
Isra’ adalah bentuk masdar yang diambil dari fi’il madi yang mutaaddiy yaitu أسرى yang berarti menjalankan. Jadi isra’ berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW dari masjidil haram kemasjidil Aqsho, di Qudus, ( Palestina ) pada waktu malam, yang menjalankan adalah Allah. Hal ini telah diterangkan dengan nash Al-Qur’an.
سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى. الخ
Sedangkan mi’raj adalah perjalanan Nabi dari masjidil Aqsho di Palestina kebeberapa langit ( mulai dari kelangit pertama sampai kelangit ketujuh) sampai kesidratil muntaha dan Nabi berkumpul dengan para malaikat dan para Nabi untuk menghormati mereka ( dengan kedatangan beliau ) dan untuk memuliakan beliu.Hal ini telahbditerangkan dalam hadits-hadits yang shahih.
Hal itu perkara yang mungkin, yang telah diberitakan oleh Nabi yang selalu berkata benar, jadi harus dinyatakan sebagai lahiriyah lafal hadits ( tidak usah ditakwil ). Bagi Allah yang menerbangkan burung di udara, hal itu tidaklah dianggap aneh dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang dalam semenit bisa melewati jarak yang tidak bisa ditempuh manusia dalam seratus tahun, untuk mengangkat kekasihnya yang telah dipilih atas seluruh manusia kelangit dalam sesaat. Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha waspada atas segala sesuatu. Sedang tujuannya adalah agar Allah memberikan beban kewajiban perintah shalat lima waktu kepada Nabi Muhammad dan umatnya 5 kali sehari semalam . Sebagaima dijelaskan dalam kitab Jawahirul Kalamiyah dan kitab Dardir.
الإسراء هو سير النبي عليه الصلاة والسلام من مسجد مكة إلى المسجد الأقصى فى القدس فى ليلة وهذا ثابت بنص القرآن الكريم. والمعراج هو صعوده تلك اليلة من المسجد الأقصى إلى السموات واجتماعه بالملإ الأعلى تشريفا لهم به وإكراما له وقد ثبت ذلك بالأحاديث الصحيحة وهذا أمر ممكن أخبر به الصادق فيجب حمله على ظاهره ولايستغرب ممن سيره الطير فى الهواء وجعل الكواكب تقطع بحركتها فى دقيقة مسافة لايقطعها الناس فى مائة عام أن يرفع إلى السماء فى ساعة حبيبَه الذي إصطفاه على الأنام فهو على كل شيء قدير وبكل شيء خبير ( جواهر الكلامية .)
دردير قصة معراج الرسول صلى الله عليه وسلم
مقدمة المترجم بسم الله الرحمن الرحيم .ا لحمد لله رب العالمين حمدا يوافى نعمه ويكافئ مزيده ياربنا لك الحمد كما ينبغى لجلال وجهك وعظيم سلطانك ،أشهد أن لاإله الله وحده الشريك له وأشهد أن محمداعبده ورسوله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه والتابعين وتابع التابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين أما بعد ؛فهذا الكتاب الدردير قصة معراج الرسول صلى الله عليه وسلم المؤلف الشيخ العلامة النجم الغيطى رضي الله عنه بعد ذكر القصة ومتى قال المؤلف وهو المراد ومن شرح العلامة القليوبي وغيرهما مما يفتح الله به ونفعنا الله به ببركاته وأنا الفقير الراجي إلى رحمة الله سبحانه و تعالى عبد الغني الجزائري أترجم به باللغة الإندونيسية ليسهل لمن يريد قرائته وتعلمه وعلمه والعمل به للخاص والعام. وآخيرا : فإذا كانت هذه الترجمة صوابا فمن الله وإذا كانت خطيئة فمني . فأستغفر الله العظيم وأتوب إليه ، وأسئل الله العليم الكريم أن ينفع بها -في الدنيا والآخرة- لمن قرأها أو نشرها، اوتعلمها بل لمن علمها آمبن يارب العالمبن
Segala puji bagi Allah Tuhan semista Alam dengan pujian yang sebanding dengan nikmat- nikmat-Nya dan menjamin tambahan-Nya,wahai Tuhan kami bagimulah segala puji, dan bagimulah segala syukur sebagaimana layak bagi keluhuran Dzat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu. Aku bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya,kecuali Allah yang maha Tunggal dan tiada sekutu baginya, dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah hambanya dan utusan Allah. Sholawat dan salam semuga senantiasa tetap terlimpakkan atas beliau dan ahlinya dan para sahabatnya dan para pengikut mereka dan orang yang ikut kepada mereka sampai hari pembalasan.
Selanjutnya.Ini adalah Kitab Dardir Kisah mi’raj Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,Penyusun Syaikh yang sangat Alim Anajmu al ghoithi ra. Setelah menyebut kisah dan ketika dia mengatakan pengarang maka ialah yang dimaksudkan adalah dari syarah al-Allamah Al-Qulyubiy semuga Allah memberikan manfaat kepada kita dengan keberkahan keduanya. Dan saya Al-Faqir yang sangat mengharap rahmat dari Allah SWT .Abd.Ghani Al-Jazairiy menterjemah kitab ini dengan Bahasa Indonesia dengan tujuan untuk mempermudah bagi orang yang ingin membacanya,dan mempelajarinya dan mengajarkannya serta mengamalkannya bagi orang yang berilmu dan orang yang awam. Dan akhirnya jika terjemah ini benar maka dari Allah ,dan jika salah maka dari saya. Saya memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung dan aku bertaubat kepadanya ,dan aku memohon kepada Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Dermawan , agar menjadikan terjemah kitab fiqih zakat ini bermanfaat didunia dan akhirat bagi orang yang membacanya atau bagi orang yang menyebarkannya atau mempelajarinya bahkan bagi orang yang mengajarkannya .Amien Ya Rabbal Alamien.
KITAB DARDIR
Pada suatu malam bertepatan tanggal 27 Rojab tahun ke-11 dari kenabian
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله. وبعد فهذه كلمات جمعتها على قصة المعراج رجاء أن ينتفع من يتصدق إلى قرأتها ممن هو قاصر مثلى جمعتها من الوجوه التى ذكرها مألفها العلامة النجم الغيطى رضي الله عنه بعد ذكر القصة ومتى قلت المؤلف وهو المراد ومن شرح العلامة القليوبي وغيرهما مما يفتح الله به مع عدم التطويل المؤدي للسامة فأقول وأنا أفقر عبيد الله تعالى حليف التقصير أحمد بن محمد الدردير قال مؤلفه نفعنا الله ببركاته بعد أن تكلم على بعد فوائد أية سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام إلى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع البصير .وأية والنجم إذاهوى الخ .وحيث إنتهى الكلام على بعد ذكر فوائد هذه الآيات الشريفة فلنسف القصة على نسق واحد وإن كانت مأخوذة من أحاديث متعددة لتكون أبهج للسامعين وانعش لقلوب المؤمنين ونتكلم على بعض فوائدها إن شاء الله تعالى فنقول:
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam untuk utusan Alla Dan setelah itu, adalah kata-kata yang aku kumpulkan untuk kisah mikraj, karena berharap agar bermanfaat bagi orang yang ingin membacanya dari orang-orang yang kurang sepertiku yang aku kumpulkan dari versi-versi yang di sebut oleh pengarang yaitu, Al allamah anajmu al ghoithi ra ( Sayyid Ahmad Ad-Dardiriy). Setelah menyebut kisah dan ketika aku mengatakan pengarang maka ialah yang dimaksud dan selain keduanya yang dimudahkan oleh Allah Serta tanpa melebarkan yang mengakibatkan bosan Maka aku berkata, dan saya adalah hamba Allah yang paling fakir, yang tersumpah kekurangan, yaitu Muhammad Dardir Pengarang kirab berkata -semoga Allah memberi manfaat kita dengan keberkahannya- setelah berbicara tentang sebagian faedah-faedah ayat “mahasuci Tuhan yang menjalankan hambanya” dst. dan ayat demi bintang tatkala terbenam , dan ketika selesai membicarakan tentang sebagian faidah ayat-ayat ini, maka hendaknya kita menjelaskan kisah berdasarkan satu runtutan Walaupun diambil dari beberapa hadis yang bermacam-macam, agar kisah itu lebih indah di para pendengar, dan lebih membangunkah bagi hati-hati orang yang kita akan membicarakan sebagian faedahnya insya Allah, maka kami mengucapkan:
بسم الله الر حمن الرحيم بينما النبي صلى الله عليه وسلم فى الحجر عند البيت مضطجعا بين رجلين اذ أتاه جبريل وميكائيل ومعهما ملك آخر فاحتملوا حتی جاؤابه زمزم فاستلقوه على ظهره فتولاه منهم جبريل وفي رواية فرج سقف بیتی فنزل جبريل فشق من ثغرة نحره إلى أسفل بطنه ثم قال جبريل لميكائيل ائتنی بطست من ماء زمزم کيما اطهر قلبه واشرح صدره فاستخرج قلبه فغسله ثلاث مرات ونزع ما كان به من أذى واختلف الیه میکائیل بثلاث طسات من ماء زمزم ثم أتي بطست من ذهب ممتلئ حكمة وايمانا فأفرغه فى صدره وملأه حلما وعلما ويقينا واسلاما ثم أطبقه ثم ختم بين كتفيه بخاتم النبوة
Bismillahirrahmaanirrahiim
Diwaktu Nabiyullah Muhammad ﷺ beristirahat. Tidur menyamping di samping Hijir Ismail. Dekat Baitullah. Di samping kanan dan kiri ada dua orang pemuda (Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib).Tiba-tiba di tempat tersebut, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan Mikail.Selain kedua malaikat itu masih ada satu malaikat lagi, yaitu Malaikat Isrofil.Kemudian ketiga malaikat itu membopong Nabiyullah Muhammad ﷺ hingga kesumur Zam-Zam.Lantas Nabiyullah Muhammad ditelentangkan di sana . Di dalam sebuah riwayat lain dijelaskan bahwa: tiba-tiba atap rumah saya tersingkap. Lantas Malikat Jibril masuk. Setelah itu Jibril membedah/ mengoperasi dada Nabiyullah Muhammad. Dimulai dari bawahnya leher hingga sampai di bawahnya perut. Malaikat Jibril kemudian berucap kata kepada Malaikat Mikail: “Ambillah bokor /bejana yang berisikan air Zam-Zam. Saya hendak menyucikan hati dan melapangkan dadanya Nabiyullah Muhammad SAW. ” Setelah itu, Malaikat Jibril mengeluarkan hatinya Nabiyullah Muhammad ﷺ sampai tiga kali.Dan membuang semua kotoran yang terdapat di dalam batin Nabi Muhammad ﷺ. Adapun Malaikat Mikail mondar-mandir sambil membawa tiga bokor emas yang di dalamnya berisikan air Zam-Zam. Setelah melakukan semua hal itu, kemudian membawa bokor emas yang isinya penuh dengan hikmah dan iman. Selanjutnya isi bokor ( Talam:red ) tersebut ditumpahkan ke dalam hatinya Nabi Muhammad hingga batin beliau berisi penuh dengan sifat:” sabar, helim, yakin, dan islam“. Lantas dikembalikan seperti sediakala. Dan diberikan cap kenabian diantara kedua belikatnya.
ثم أتى بالبراق مسرجا ملجما وهو دابة أبيض طويل فوق الحمار ودون البغل يضع حافره عند منتهی طرفه مضطرب الاذنين اذا أتى على جبل ارتفعت رجلاه واذا هبط ارتفعت يداه له جناحان في فخذيه يحفز هما رجليه فاستصعب عليه فوضع جبريل يده على معرفته ثم قال الاتستحى یا براق فوالله ماركبك خلق اكرم على الله منه فاستحيا حتى ارفض عرقا وقر حتی ركبها وكانت الانبیاء ترکبها قبله وقال سعيد ابن المسيب وغيره وهی دابة ابراهيم التي كان يركب علي البيت الحرام
Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ disediakan kendaraan Buroq. Lengkap dengan pelana dan kendalinya. Buroq adalah sejenis hewan yang berbuluh putih, tinggi melebihi Himar dan lebih pendek dari Bighol. Sekali melangkahkan kakinya.Sejauh mata memandang. Kedua telinganya selalu bergerak-gerak. Saat naik gunung, kedua kakinya yang belakang memanjang. Dan saat turun gunung, kedua kakinya yang depan memanjang. Buroq itu memiliki sepasang sayap di kedua pupuhnya. Kedua sayap itu berfungsi untuk membantu kecepatan larinya. Buroq berjingkrak-jingkrak memperlihatkan kekuatannya. Lantas Jibril meletakkan kedua tangannya tepat di kepala Buroq. Dan berkata: “Tidakkah kamu malu, wahai Buroq? Demi Allah! Orang yang hendak menaikimu ini adalah orang yang paling mulia dihadapan Allah SWT.” Lantas Buroq tersipu malu hingga keringatnya berkucuran Dan dia pun tenang. Hingga Nabi Muhammad ﷺ naik di atas punggungnya. Buroq itu sebenarnya sudah pernah dinaiki oleh para nabi sebelum Nabiullah Muhammad ﷺ . Sa’id bin Musayyap dam lainnya menjelaskan bahwa: “Buroq itu merupakan kendaraannya Nabi Ibrahim AS yang biasanya dinaiki untuk bepergian ke Baitul Haram (Mekah)”.
فانطلق به جبریل وهو عن يمينه و میکائل عن يساره و عند ابن سعد وكان الأٓخذ برکا به جبريل و بز مام البراق میکائیل فساروا حتى بلغوا أرضا ذات نخل فقال له جبريل إنزل فصل ههنا ففعل ثم رکب فقال له جبريل اتدری أین صليت فقال لا قال صليت بطيبة واليها المهاجرة
Selanjutnya Nabiyullah Muhammad ﷺ berangkat dengan didampingi Malikat Jibril di sebelahkanan dan Malaikat Mikail di sebelah kiri. Menurut keterangan Ibnu Sa’id:“Jibril bagian memegang tempat duduknya, Mikail memegang tali kendalinya”. Maka berangkatlah mereka hingga sampai di kebun kurma.Jibril berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ: “Saya persilahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk turun, dan bersedialah kiranya untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ: “tahukah kamu wahai Baginda Rasulullah , ditempat manakah Baginda Rasul mengerjakan shalat tadi?” Nabi Muhsmmad ﷺ menjawab:“Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Thoyyibah (Madinah)……Di tempat itulah kelak Baginda Rasul akan berhijrah.”
فانطلق البراق یهوی به يضع حافره حيث أدرك طرفه فقال له جبريل انزل فصل ههنا ففعل ثم ركب فقال له جبريل أتدری أین صليت قال لا قال صليت بمدين عند شجرة مومسى فانطلق البراق یهوی به ثم قال له جبريل انزل فصل ففعل ثم ركب قال له أتدری أین صليت قال لا قال صليت بطور سيناء حيث كلم الله موسی
Tidak lama kemudian Buroq berangkat lagi dengan kecepatannya yang sangat kencang. Begitu sekali melangkahkan kakinya, sejauh mata memandang. Jibril berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ: “Saya persilahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk turun, dan bersedialah kiranya untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ “Mengertikah Wahai Baginda Rasulullah ﷺ , di tempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi mengerjakan shalat di Madyan di dekat Sajaroh Musa (pohon tempat Nabi Musa berteduh ketika keluar dari Mesir, sebab dikejar-kejar oleh Raja Fir’un).” Lantas Nabi Muhammad ﷺ berangkat kembali: Buroq berlari dengan kencangnya. Dan berhentilah kembali. Jibril pun berkata: “Saya persilahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk turun, dan bersedialah untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Nabi Muhammad turun dan mengerjakan shalat sunnat dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ : “tahukah kamu Wahai Baginda Rasulullah ﷺ , ditempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di gunung Thursina. Tempat Nabi Musa dimana Allah bicara pada nabi musa (Tempat munajatnya Nabi Musa AS ).”
ثم بلغ أرضا فبدت له قصور الشام قال له جبريل انزل فصل ففعل ثم رکب فانطلق البراق یهوى به قال أتدری أین صلیت قال لا قال صليت بيت لحم حيث ولد عيسى ابن مريم وبينما هو يسير على البراق اذ رای عفریتا من الجن يطلبه بشعله من نار كلما التفت رآه فقال له جبريل الا اعلمك كلمات تقولهن اذا قلتهن طفئت شعلته وخر لفيه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم بلى فقال جبريل قل أعوذ بوجه الله الكريم و بكلمات الله التامات التي لا يجاوزهن بر و لافاجر من شر ماينزل من السماء ومن شر مايعرج فيها و من شر ما ذرأ فى الارض و من شر مايخرج منها ومن فتن الليل والنهار ومن طوارق الليل والنهار الا طارقا يطرق بخير يارحمٰن فانكب لفيه و طفئت شعله
Terus Nabi Muhammad ﷺ melanjutkan perjalanannya kembali hingga tiba di tanah yang terlihat bangunan gedung-gedung Negeri Syam berdiri kokoh. Jibril berkata:“Saya persilahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk turun, dan bersedialah untuk mengerjakan shalat di tempat ini.” Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ turun dan mengerjakan shalat sunah dua rakaat. Kemudian berangkat lagi. Buroq berlari kencang. Larinya laksana kilat menyambar. Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ: “tahukah kamu Wahai Baginda Rasul, di tempat manakah Baginda mengerjakan shalat tadi?” Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: “Saya tidak tahu.” Jibril berkata: “Baginda tadi shalat di Betlehem, tanah tempat Nabi Isa dilahirkan.” Dan di tengah-tengah perjalanan, saat Nabi Muhammad ﷺ masih berada di atas punggung Buroq. Tiba-tiba Nabi Muhammad ﷺ melihat Jin Iffrit (Jin yang jahat).Yang bergegas mengikuti Nabi Muhammad ﷺ dengan membawa sebuah obor dari api. Setiap kali Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menoleh ke belakang, Jin Iffrit terlihat masih ada. Selanjutnya Jibril berkata: “Apakah Baginda Rasulullah ﷺ menginginkan saya untuk mengajari baginda kalimat- kalimat, yang apabila kalimat-kalimat itu Baginda baca, tentu akan padam obor tersebut dan Iffrit akan tersungkur.” Menjawab Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam : :……Silahkan.” dan Jibril pun akhirnya berkata::……Baginda Rasul saya persilahkan untuk membaca:
Artinya: Aku berlindung dengan wajah Allah Yang Maha Mulia dan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna yang tidak ada orang yang baik dan tidak pula orang yang durhaka dapat melampauinya, dari kejahatan apa saja yang turun dari langit dan dari kejahatan apa saja yang naik ke langit; dari kejahatan apa saja yang masuk ke dalam bumi dan dari kejahatan apa saja yang keluar dari bumi; dari fitnah-fitnah di waktu malam hari dan di waktu siang hari; dari bencana-bencana dari malam hari dan siang hari, kecuali yang datang dengan kebaikan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang. Saya berlindung kepada Allah yang Maha Mulia. Dan kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Yang tidak dapat dilanggar oleh orang-orang shalih dan jahat. Serta dari bala’- kejahatan yang turun dari langit. Dan bahaya kejahatan yang naik ke langit. Dan dari kejahatan makhluk melata di bumi. Dan dari kejahatan hewan-hewan yang keluar dari dalam bumi ( seperti ular, kalajengking, dan sebagainya ). Serta dari bahaya fitnah, godaan di waktu malam dan siang tiba. Dan dari bencana yang datangnya tiba-tiba ketika waktu siang dan malam. Kecuali apabila datang sesuatu yang membawa rahmat-kesehatan. Wahai Dzat yang Maha Pengasih.” Dan akhirnya Jin iffrit pun tersungkur dan obornya padam.
فساروا حتى أتوا على قوم يزرعون في يوم ويحصدون في يوم كلما حصدوا عاد كما كان فقال ياجبريل ما هذا فقال هؤلاء المجاهدون في سبیل الله تعالى تضاعف لهم الحسنة بسبعمائة ضعف وما أنفقوا من شيء فهو يخلفه
Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya kembali hingga tiba di sebuah umat yang saat itu sedang bercocok tanam. Namun anehnya, tanaman yang baru saja ditanam itu dengan seketika bisa dipanen. Setiap kali dipanen, tanaman itu langsung kembali seperti semula. Nabi Muhammad ﷺ bertanya kepada Malikat Jibril:“Apa maksudnya dari semua itu?” Jibril menjawab: “Semua itu merupakan contoh dari umat Baginda Rasul yang berjihad berjuang fi sabilillah. Satu amal shalih akan dilipat gandakan pahalanya hingga tujuh ratus kebaikan . Q.S As-Saba :Ayat 39
Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya (Q.S As-Saba :Ayat 39)
ووجد ريحا طيبة فقال ياجبريل ماهذه الرائحة قال هذه رائحة ماشطة بنت فرعون واولادها بينماهي تمشط بنت فرعون اذ سقط المشط فقالت بسم الله تعس فرعون فقالت ابنة فرعون أولك رب غير ابى فقالت نعم قالت افاخبر بذلك ابى قالت نعم فاخبرته فدعاها فقال او لك رب غيري قالت نعم ربي وربك الله وكان للمراة أبنان وزوج فارسل اليهم فراود المرأة وزوجها ان يرجعا عن دينهما فابيا فقال اني قاتلكما قالت احسانا منك الينا ان قتلنا أن تجعلنا في بيت واحد فدفنا فيه جميعا قال ذاك لك بمالك علينا من الحق فأمر ببقرة من نحاس فأحميت
Selanjutnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam mencium aroma yang sangat sedap keharumannya. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bertanya: “Jibril, aroma harum apakah ini?” Jibril menjawabi: “Ini adalah aroma harum Ibu Masyitoh. Seorang wanita yang bekerja sebagai juru sisir putra-pura Raja Fir’un dan putri-putrinya. Suatu ketika, Masyito menyisir rambut putrinya Raja Fir’un. Tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dengan sepontan Ibu Masyitoh bibirnya mengucap: ….. Dengan menyebut nama Allah, Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Celakalah Fir’un.” Putri Fir’un mendengar ucapan itu. Dia terkejut dan bertanya: “Apakah kamu mempunyai Tuhan selain Bapak saya?” Masyitoh menjawab: “Ya!”. Putri Fir’un bertanya kembali: “Beranikah kamu, saya laporkan kepada bapak saya atas apa yang baru saja kamu ucapkan?” Masyitoh menjawab:“Silahkan!” Lantas Putri Raja Fir’un tersebut melaporkan semua perkataan yang telah diucapkan Masyitoh kepada Raja Fir’un. Selanjutnya Fir’un memanggil Msyitoh untuk menghadap dan bertanya: “Apakah kamu mempunyai tuhan selain saya?”Kemudian Masyitoh pun menjawabnya dengan tegas: “Iya, benar. Tuhan saya dan tuhan Baginda Raja itu adalah Allah SWT.” Masyitoh itu memiliki dua putra laki-laki dan seorang suami. Setelah itu Raja Fir’un memanggil ke hadapannya dengan maksud ingin membujuk dan mempengaruhi agar Masyitoh dan suaminya berkenan meninggalkan agamanya. Namun Masyitoh dan suaminya tetap tidak mau murtad (menolaknya). Fir’un kemudian berkata: “Kalau begitu, saya akan benar-benar menghukum mati kalian berdua!”Dewi Msyitoh menjawabnya: “Silahkan! Saya hanya meminta yang terbaik dari Baginda Raja. Apabila kami semua jadi dibunuh, saya berharap agar ditempatkan dalam satu tempat yang sama dan dikubur dalam satu kuburan yang sama pula.”Fir’un membalasnya: “Ini jadi hakmu. Saya akan melaksanakannya.” Raja Fir’un lalu memberi perintah agar segera menyiapkan kobejen : red (penggorengan yang terbuat dari tembaga yang sagat besar). Dan diisi dengan minyak Zaitun.Pun dipanaskan hingga mendidih.
ثم امر بها لتلقى فيها هى واولادها فالقوا واحدا واحدا حتى بلغوا اصغر رضيع فيهم فقال يا امه قعی ولا تتقاعسى فانك على الحق فالقيت هي واولادها قال وتكلم في المهد اربعة وهم صغار هذا و شاهد يوسف و صاحب جريج وعیسی بن مریم.
Selanjutnya Raja Fir’un memerintahkan agar Masyitoh beserta putra-putrinya segera dimasukan ke dalam tempat penggorengan tersebut. Tidak lama kemudian, mereka semua di masukkan satu persatu hingga anaknya yang masih bayi dan baru berumur delapan bulan. Saat itu hati Dewi Masyito sempat ragu-ragu, keimanannya goyah. Lantas bayi yang masih menyusu itu berkata: “Wahai Ibuku! Bersedialah Ibu untuk segera mencelupkan diri. Janganlah maju-mundur, karena sesungguhnya Ibu itu memegang teguh sebuah kebenaran. ”Selanjutnya Masyito beserta putra- putrinya dimasukkan ke dalam tempat penggorengan yang mendidih tersebut. Perowi hadits berkata: “Bayi yang sudah sanggup berbicara semenjak ia berada didalam ayunan itu ada empat: 1) Bayinya Dewi Masyitoh, 2) Bayi yang menjadi saksinya Nabi Yusuf, 3) Bayi saksinya Juraij, 4) Bayi Nabi Isa bin Maryam AS.”
ثم أتى على قوم ترضخ رؤسهم كلما رضخت عادت ما كانت ولايفتر عنهم من ذلك شي فقال يا جبريل من هؤلاء قال هؤلاء الذين تتثاقل رؤسهم عن الصلاة المكتوبة ثم اتى على قوم على اقبالهم رقاع وعلى ادبار هم رقاع يسرحون كما تسرح الابل والغنم ويأكلون الضريع والزقوم ورضف جهنم وحجارتها فقال من هؤلاء ياجبريل قال هؤلاء الذين لا يؤدون صدقات أموالهم وماظلمهم الله شيأ ثم أتى على قوم
Lantas Nabi Muhammadﷺ melanjutkan perjalanannya kembali. Dalam perjalanan berikutnya, beliau bertemu dengan sekelompok orang yang memukul-mukul kepalanya sendiri dengan palu godam hingga kepalanya pecah. Tidak lama kemudian kepala tersebut kembali utuh seperti sediakala. Kemudian orang-orang tersebut kembali memukulinya lagi dengan tiada henti- hentinya. Nabi ﷺ bertanya: “Jibril,siapa orang- orang tersebut ? ” Jibril menjawab: “Mereka adalah gambaran dari orang-orang yang berat dan bermalas- malasan dalam mengerjakan shalat maktubah.” Setelah itu, Nabi Muhammad ﷺ meneruskan perjalanannya hingga bertemu dengan sekelompok orang yang semuanya setengah telanjang ( hanya bercelana dalam. Sekedar menutupi kemaluannya saja ) yang digembalakan seperti unta dan kambing ( digiring ). Orang-orang tersebut memakan tumbuh-tumbuhan yang berduri dan Zakkum, Bara dan batu dari neraka Jahannam. Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa orang-orang tersebut?” Jibril menjawab: “Mereka adalah contoh dari sebagian umat Baginda Rasulullah ﷺ yang sudah waktunya mengeluarkan zakat namun enggan mengeluarkan zakat. Yang seperti itu, bukanlah Allah yang mendholimi mereka, sedikitpun ( namun akibat dari perbuatan mereka sendiri yang menyengsarakannya ).” Lantas Nabi Muhammad ﷺ meneruskan perjalanannya kembali.
ثم أتى على قوم بين ايديهم لحم نضيج في قدور ولحم آخر نیء خبيث فجعلوا يأكلون من النيء الخبيث ويدعون النضيج الطيب فقال ماهذا ياجبريل قال هذا الرجل من امتك تكون عنده المرأة الحلال الطيبة فيأتى امرأة خبيثة فينبت عندها حتى يصبح والمرأة تقوم من عند زوجها حلالا طيبا فتأتى رجلا خبيثا فتبيت معه حتى تصبح.
Kemudian bertemulah beliau dengan sekelompok orang yang dihadapan mereka tersaji daging matang yang masih segar yang berada di dalam panci/ kuwali (cawan besar) dan daging lain yang masih mentah serta busuk. Anehnya, orang-orang tersebut memakan daging yang busuk dan meninggalkan daging yang matang lagi enak. Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah contohnya orang laki-laki dari umat Baginda Rasulullah ﷺ yang sudah memiliki istri yang halal dan bagus, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan wanita lain yang tidak halal serta buruk. Hingga lelaki tersebut selingkuh ( menidurinya) sampai pagi tiba. Serta contohnya seorang wanita yang sudah mempunyai suami halal dan baik, namun masih saja melakukan perbuatan zinah dengan lelaki lain yang buruk. Serta tidur bersama lelaki tersebut hingga pagi tiba.
ثم أتى على خشبة على الطريق لا يمر بها ثوب ولا شيئ الا خرفته فقال ماهذا ياجبريل قال هذا مثل اقوام من امتلك يقعدون على الطريق فيقطعونه ولا تقعدوا بكل صراط توعدون وتصدون عن سبيل الله ورأى رجلا يسبح في نهر من دم يلقم الحجارة فقال ماهذا يا جبريل قال هذا مثل آكل الر با.
Nabi Muhammad ﷺ kembali perjalanannya lantas bertemu dengan sebatang kayu yang berduri dipinggir jalan yang mana setiap kain yang lewat atau suatu benda lainnya maka akan merobeknya. Nabi Muhammd ﷺ bertanya: “Maksudnya apa semua ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Semua ini adalah sebagian contoh dari umat Baginda Rasulullah ﷺ yang senang nongkrong dipinggir jalan dan mereka mencegat orang-orang yang lewat” (untuk dirampok atau pungutan liar) Kemudian Jibril membaca sebuah ayat:
Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah. ( QS. Al-A’raf: 86)
Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ meneruskan perjalanannya kembali hingga bertemu dengan orang-orang yang berenang di sungai darah yang dilempari bebatuan, (dilempar kan batu kemulutnya supaya ditelan) Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Apa artinya semua ini wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Semua itu merupakan sebagian contoh dari orang-orang yang kerap memakan harta riba.” Setelah itu Nabi Muhammad ﷺ berangkat kembali untuk melanjutkan perjalanannya.
ثم أتى على رجل قد جمع حزمة حطب لا يستطيع حملها وهو يزيد عليها فقال ماهذا ياجبريل قال هذا الرجل من أمتك تكون عنده أمانات الناس لا يقدر على أدائها يريد أن يتحمل عليها. وأتى على قوم تفرض ألسنتهم وشفاههم بمقاريض من حديد كلما فرضت عادت كما كانت لا يفتر عنهم فقال من هؤلاء ياجبر يل قال هؤلاء خطباء الفتنة خطباء امتك يقولون مالا يفعلون .ومر بقوم لهم اظفار من نحاس يخمشون بها وجوههم وصدورهم فقال من هؤلاء ياجبريل قال هؤلاء الذين يأ كلون لحوم الناس ويقعون في أعراضهم
Beliau kemudian bertemu dengan laki-laki yang mengumpulkan kayu bakar, yang mengikat kayu tersebut dalam satu ikatan yang besar. Dia tidak kuat memikul kayu-kayu tersebut namun justru malah ditambahi beban kayu lagi. Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Apakah maksud semua itu Jibril?” Jibril menjawab: “Semua itu adalah sebagian contoh dari umat Baginda Rasulullah ﷺ yang sudah banyak menerima tanggungan amanah dari sesamanya. ia sudah tidak mampu lagi melaksanakan tanggungan dan amanah tersebut namun masih berkenan menerima bahkan masih mencari-cari tanggungan dan amanah lagi. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ berangkat lagi dan bertemu dengan sekelompok orang yang saling menggunting lisan dan bibirnya sendiri-sendiri dengan menggunakan gunting besi. Setiap kali digunting, lisan dan bibirnya terputus. Setelah itu kembali utuh seperti semula. Begitu seterusnya. Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa meraka wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah ahli nasihat.( Ahli memberi pembelajaran kepada orang banyak. Suka mengajak kepada kebaikan dan kemaslahatan) namun dirinya sendiri tidak pernah mengerjakannya. Setelah itu, Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan sekelompok kaum yang mencakar-cakar wajah dan dadanya sendiri-sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga yang sangat tajam. Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah sebagian contoh dari oran-orang yang suka memakan daging manusia (maksudnya orang-orang tersebut adalah orang-orang yang mengumpat alias berghibah) , senang menyebarluaskan aib orang lain. Senang membuat pencemaran nama baik orang lain ( Nama orang lain menjadi tercemar).
وأتي على جحر صغير يخرج منه ثور عظيم فجعل الثور يريد أن يرجع من حيث خرج فلا يستطيع فقال ماهذا يا جبريل قال هذا الرجل من أمنك یتكلم بالكلمة العظيمة ثم يندم عليها فلا يستطيع أن يردها وبينما هو يسير اذ دعاه داع عن يمينه یامحمد انظر ني اسألك فلم يجبه فقال ماهذا یا جبريل قال هذا داعى اليهود أما انك لو أجبته لتهودت أمتك فبينما هو يسير إذ دعاه داع عن شماله يامحمد انظرني أسألك فلم يجبه فقال ماهذا ياجبريل قال هذا داعى النصارى اما انك لو أجبته لتنصرت أمتك و بينما هو يسير اذ هو بامرأة حاسرة من ذراعها وعليها من كل زينة خلقها الله تعالى فقالت يامحمد انظر نى أسألك فلم يلت فت اليها فقال من هذه ياجبريل قال تلك الدنيا أما انك لواجبتها لاختارت أمتك الدنيا على الآخرة
Nabi Muhammad ﷺ berangkat meneruskan perjalanannya kembali, lantas menjumpai sebuah lubang yang sangat kecil. Dari dalamnya keluar banteng yang sangat besar. Banteng tersebut berusaha ingin masuk kembali ke dalam lubang yang sangat kecil itu lagi, namun tidak bisa masuk. Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Apa maksud dari semua ini Jibril?” Jibril menjawab: “Semua ini adalah sebagian contoh dari laki-laki umat Baginda Rasulullah ﷺ yang besar omongnya dan ia menyesalinya tapi tak kuasa menarik omongannya (sudah terlanjur berbicara sedangkan ucapan,yang diutarakan tadi adalah ucapan yang bersifat berbahaya- merusak di dunia dan akhirat. Namun pada akhirnya ia menyesali semua ucapannya tadi. Tentu saja ucapan tersebut tidak dapat ditarik kembali.)” sewaktu Nabi Muhammad ﷺ sedang berjalan, Nabi Muhammad ﷺ tiba-tiba dipanggil-panggil oleh seseorang dari arah kanan: “Wahai Muhammad! Bersedialah kamu untuk berhenti sebentar. Saya hendak bertanya sesuatu kepadamu.” Namun Nabi Muhammad ﷺ tidak menolehkan kepalanya sedikitpun dan enggan menjawab seruan orang tersebut. Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab:“Itu adalah seruan dari orang Yahudi. Ingatlah! Andaikan Baginda Rasulullah ﷺ tadi berkenan menjawab seruan itu, sudah barang tentu umat Baginda Rasulullah ﷺ akan menjadi orang-orang yahudi semuanya.” Lantas Nabi Muhammad ﷺ berangkat lagi. Tiba-tiba beliau dipanggil-panggil seseorang dari arah kiri: “Wahai Muhammad, saya meminta keapada kamu untuk berhenti sejenak dan menunggu saya. Saya bertanya sesuatu hal kepadamu.” Namun Nabi Muhammad ﷺ tidak menghiraukannya. Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Siapa lagi itu ya Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah seruan yang berasal dari orang Nasrani. Ingatlah! Seumpama Baginda Rasulullah menjawab panggilan orang tersebut, tentu umat Baginda Rasulullah ﷺ akan menjadi orang-orang-orang Nasrani semuanya.” Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ berangkat lagi. Tiba-tiba beliau berjumpa dengan seorang wanita yang kedua lengannya terbuka. Dia memakai perhiasan yang serba indah. Dia kemudian memanggil-manggil: “Wahai Muhammad, bersedialah kamu untuk berhenti sebentar saja. Saya hendak bertanya kepadamu tentang suatu hal.” Namun Nabi Muhammad ﷺ enggan ( tidak mau berhenti ) berhenti dan tidak menoleh, dan tidak menghiraukannya. Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Siapa wanita tersebut ya Jibril?” Jibril menjawab: “Itulah dunia. Andaikan Baginda Rasulullah ﷺ tadi menjawabnya, sudah barang tentu seluruh umat Baginda Rasulullah ﷺ akan memilih kehidupan dunia dan enggan memperhatikan kehidupan akhirat.
و بينما هو يسراذ هو بشیخ يدعوه متنحيا عن الطريق يقول هلم يامحمد فقال جبر یل بل سر يامحمد فقال من هذا ياجبريل قال هذا عدو الله ابليس أراد أن تميل اليه وسار فاذا هو بعجوز على جانب الطريق فقالت يا محمد انظر ني اسألك فلم يلتفت اليها فقال من هذه يا جبريل قال انه لم يبق من عمر الدنيا الا مابقي من عمر هذه العجوز
Dikala Nabi Muhammad ﷺ berangkat untuk melanjutkan perjalanannya kembali.Tiba-tiba beliau berjumpa dengan orang tua di tepi jalan. Dia memanggil-manggil: “Wahai Muhammad! Kemarilah sebentar!” Jibril berkata:“Bergegaslah dalam melangkah ya Rasulullah!” Lantas Nabi Muhammad ﷺ bertanya:“Siapakah orang tua tersebut ya Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah musuh Allah SWT. Dia tidak lain adalah Iblis. Dia berusaha untuk menggoda Baginda Rasulullah ﷺ agar berkenan mengikuti perbuatannya.” Nabi Muhammad ﷺ berjalan kembali. Tiba- tiba berjumpa dengan seorang nenek-nenek di tepi jalan. Dia memanggil-manggil kepada Nabi Muhammad ﷺ : “Wahai Muhammad! Saya mohon kepadamu agar kamu berkenan untuk berhenti sejenak! Hamba hendak bertanya kepadamu.”Nabi Muhammad ﷺ tidak menolehnya dan bahkan tidak menghiraukannya. Lantas Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Itu adalah sedikit gambaran dari alam dunia yang usianya sudah sangat tua renta (sudah sangat dekat dengan datangnya hari kiamat)
وسار حتى أتى مدينة بيت المقدس ودخلها من بابها اليمانى ثم نزل عن البراق وربطه بباب المسجد بالحلقة التي كانت تربطه بها الانبياء عليهم الصلاة والسلام وفى رواية أن جبریز ، اتي الصخرة فوضع أصبعه فيها فخرقها وشدها البراق ودخل المسجد من باب تميل فيه الشمس والقمر ثم صلی هوو جبريل كل واحد ركعتين فلم يلبث الا يسرا حتی اجتمع ناس کثیر فعرف النی النبيين من بين قائم وراكع وساجد ثم أذن مؤذن وأقيمت الصلاة فقاموا صفوفا ينتظرون من يؤمهم فاخذجبر یل بیده صلی الله عليه وسلم فقدمه فصلى بهم ركعتين * وعن کعب فاذن جبريل ونزلت الملائكة من السماء وحشر الله له جيع المرسلين والانبياء فصلی النبي صلى الله عليه وسلم بالملائكة والمرسلين فلما انصرف قال جبریل يامحمد اتدري من صلی خلفك قال لا قال كل نبي بعثه الله تعالى
Setelah itu, Nabi Muhammad ﷺ melanjutkan perjalanannya kembali hingga sampai di-Baitul Maqdis (Palestina). Beliau masuk lewat pintu gerbang Al-Yamani (kanan).Lantas Nabi Muhammad ﷺ turun dari Buroq dan mengikat Buroq tersebut di dekat Masjidil Aqsho. Di mana tempat itu adalah tempat yang dahulu pernah dijadikan oleh para Nabi untuk mengikat Buroqnya Menurut salah satu riwayat: Malaikat Jibril mendekati sebuah batu yang sangat besar. Batu tersebut kemudian dilubangi oleh Jibril. Dan Buroq pun akhirnya diikat di batu tersebut. Lantas Nabi Muhammad ﷺ masuk ke dalam Masjidil Aqsho melalui pintu yang dicondongi matahari dan rembulan ketika baru terbit. Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ mengerjakan shalat dua rakaat berjamaah dengan Malikat Jibril. Tidak lama kemudian, berkumpullah para Nabi. Nabi Muhammad ﷺ melihat dan memperhatikan para Nabi tersebut, sebagian ada yang masih berdiri, ada yang ruku’, ada pula yang sujud. Lantas ada yang beradzan dan dilanjutkan iqomah. Para nabi itu berdiri dan berbaris semuanya hingga menjadi beberapa shaf. Semuanya menunggu siapa yang akan menjadi imam shalat jamaah saat itu. Kemudian Jibril memegang tangan Nabi Muhammad ﷺ dan menariknya ke depan untuk menjadi imam. Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ pun menjadi imam dari para Nabi untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Menurut riwayat Imam Ka’ab: “Malaikat Jibril yang beradzan. Lantas seluruh malaikat pun berbondong- bondong turun dari langit. Dan Allah SWT mengumpulkan seluruh Nabi dan rasul. Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ menjadi imam shalat dari seluruh malaikat, Nabi, dan Rasul.” Setelah salam, Jibril bertanya: “Wahai Muhammad! Tahukah kamu, siapa orang-orang yang shalat di belakangmu tadi?” Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Saya tidak tahu!” Jibril menjawab: “Semuanya tadi, adalah para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah SWT.”
ثم أثنی كل نبي من الانبیاء علی ربه بثناء جميل فقال النبي صلى الله عليه وسلم لكم اثني على ر به وأنا مثن على ر بی * ثم شرع يقول الحمد لله الذي ارسلنی رحمة للعالمين وكافة للناس بشبرا ونذير او انزل على القرآن فيه تبيان لكل شيئ وجعل أمتی خير امة اخرجت للناس وجعل امتي وسطا وجعل امتى هم الأولون والآخرين وشرح لي صدري ووضع عنی وزری ورفع لی ذکری وجعلني فاتحا خاتما فقال ابراهیم صلی الله عليه وسلم بهذا فضلكم محمد
Lantas para Nabi dan Rasul tersebut saling memuji Allah dengan puji-pujian yang bagus. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Kamu sekalian saling memuji-muji kepadaTuhanmu. Dan saya juga akan memuja dan memuji-muji kepada Tuhan saya.” Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ bergegas mengucap puji- pujian: “Segala puji itu hanya milik Allah. Dzat yang telah mengutusku sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan kepada manusia dengan memberi kebahagiaan surga bagi orang yang patuh-taat. Dan menakut-nakuti dengan neraka bagi orang yang durhaka. Dan Allah SWT telah menurunkan Al-Quran kepadaku yang di dalamnya itu terdapat keterangan- keterangan tentang seluruh hal. Dan telah menjadikan umatku lebih bagus dari seluruh umat terdahulu. Yang dilahirkan untuk manusia yang lain. Dan telah dijadikan umatku menjadi umat yang “tengah-tengah ( sedengan ) dan pilihan”.Dan telah dijadikan umatku sebagai umat yang pertama dalam permulaan menakdirkan makhluk dan wujud umat yang terakhir. Dan Allah telah melapangkan dada dan hatiku, serta mengampuni segala dosaku. Dan telah mengangkat derajat serta namaku. Dan yang telah menjadikanku Nabi yang paling awal dan paling akhir.” Nabi Ibrahim AS berkata: “Sebab perkataan Nabi Muhammad ﷺ tersebut, Nabi Muhammad dimuliakan Allah SWT melebihi kemuliaan seluruh Nabi dan Rasul.”
واخذ النبي صلى الله عليه وسلم من العطش اشد مااخذه فجاءه جبريل عليه السلام باناء من خمر واناء من لبن فاختار اللبن فقال له جبريل اخترت الفطرة ولو شربت الخمر لغوت امتك ولم يتبعك منهم الا القليل وفي رواية ان الآنية كانت ثلاثة الثالث فيه ماء وان جبريل قال له لو شربت الماء لغرقت امتك وفي رواية ان احد الآنية الثلاثة التي عرضت عليه كان فيها عسل بدل الماء وانه رأی عن يسار الصخرة الحور العين فسلم عليه فرددن عليه السلام وسألن فأجبنه بما تقر به العين ثم اتي بالمعراج الذي تعرج عليه ارواح بني آدم
Saat itu Nabi Muhammad ﷺ merasakan rasa haus yang begitu dahsyat. Jibril kemudian datang dengan membawa segelas arak dan segelas susu. Lantas Nabi Muhammad ﷺ mengambil dan memilih susu. Jibril berkata: “Baginda Rasulullah telah memilih fitrah (Agama Islam). Andaikan Baginda Rasulullah ﷺ memilih arak, sudah dapat dipastikan bahwa umat Baginda Rasulullah akan banyak yang bersifat durhaka dan tidak ada yang menaati Baginda Rasulullah ﷺ kecuali hanya sedikit saja. Menurut riwayat lain: “Sesungguhnya gelas yang telah dihidangkan itu ada tiga:adapun gelas yang nomor tiga tersebut berisi air putih. Jibril berkata: Andaikan Baginda Rasulullah ﷺ tadi meminum air putih, sudah barang tentu umat Baginda Rasulullah ﷺ akan mati tenggelam dalam kemaksiatan. Dalam riwayat lain juga dijelaskan: “Gelas yang nomor tiga tersebut adalah madu yang merupakan pengganti dari air putih.” Dan sesungguhnya Nabi Muhammad ﷺ juga melihat dan memperhatikan beberapa bidadari yang berada di sebelah kiri batu besar. Setelah itu beliau bersalam dan bidadari-bidadari itu pun menjawab salam beliau. Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ bertanya kepada para bidadari tersebut. Bidadari menjawabnya dengan perangai wajah yang berseri-seri dan membahagiakan pandangan. Nabi Muhammad ﷺ lantas disediakan tangga. Sebuah alat untuk naiknya ( mi’raj ) roh-roh anak cucu Adam.
فلم تر الخلائق أحسن منه له مِرقاة من فضة ومِرقاة من ذهب وهو من جنة الفردوس مُنضدة باللؤلؤء عن يمينه وملائكة وعن يساره ملائكة فصعد هو وجبريل حتى انْتهياإلى باب من أبواب السماء الدنيا يقال له بابُ الحفظة وعليه ملك يقال له إسمعيل وهو صاحب السماء الدنيا يسكن الهواء لم يصعد إلى السماء قط ولم يهبط إلى الأرض قط إلا يوم مات النبي صلى الله عليه وسلم وبين يديه سبعون ألفَ ملكٍ مع كل ملك جندٌ من الملائكة سبعون ألفَ ملك فاستفتح جبريلُ باب السماء قيل من هذا قال جبریل قيل ومن معك قال محمد ، قيل أوقد أُرسل إليه وفى رواية بعث إليه وفى رواية بُعث له قال نعم قيل مرحبا به وأهلا
Tangga tersebut sangatlah bagus dan indah yang tiada bandingnya. Satu tangga terbuat dari perak dan satu tangga yang lain terbuatdari emas. Tangga tersebut berasal dari surga Firdaus. Tangga tersebut disemprot dengan lu’lu’-mutiara. Di sebelah kanan tangga ada malaikat. Disebelah kirinya juga terdapat malaikat. Lantas Nabi Muhammad ﷺ naik tangga bersamaan dengan malaikat Jibril hingga keduanya tiba di sebuah pintu dari beberapa pintu langit dunia, yang disebut dengan Babul Hafadhah. Di pintu tersebut terdapat penjaganya yang bernama Malaikat Ismail. Beliau yang diperintahkan sebagai penjaga langit dunia yang bertempat di angkasa. Selama-lamanya Malaikat Ismail tidak pernah naik ke langit atasnya dan beliau juga tidak akan pernah turun ke bumi, kecuali ketika hari wafatnya Baginda Rasulullah Muhammad. Adapun jumlah pengawal Malaikat Ismail adalah tujuh puluh ribu malaikat. Dan setiap satu orang malaikat ditemani tujuh puluh ribu malaikat. Selanjutnya Malaikat Jibril mengetuk pintu langit. Dan ditanyalah Malaikat Jibril: “Siapaitu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapakamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam .” Dan ditanyalah sekalilagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk! Selamat datang!
حياه الله من أخِ من خليفة فنعم الأخ ونعم الخليفة ونعم المُجيْئُ جاء فاتح لهما فلمّا خاصا فإذا فيها آدم عليه السلام وهو أبو البشر كهيئته يوم خلقهُ الله تعالى على صورته تعرض عليه أرواح الانبياء وذريته المؤمنين فيقول روحٌ طيبةٌْ ونفسٌ طيبة إجعلها في عليّين ثم تعرض عليه أرواح ذريته الكفار فيقول روحٌ خبيثةٌ نفسٌ خبيثة إجعلوها فى سجين ورأى عن يمينه أسوِدةً وباباً يخرج منه ريحٌ طيبة وعن شماله أسوِدةً
Saya bersyukur atas anugrah dari Allah SWT, sebab saya dapat bertatap muka dengan Baginda Rasulullah dan menjadi bagian dari keluarga Baginda Rasul. Semoga dimuliakan Allah SWT, saudara: yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Demikianlah sebagus-bagusnya saudara seiman, wakilnya Allah SWT, dan sebagus-bagusnya orang yang datang. Lantas pintu langit pun segera di buka, tatkala keduanya masuk. Tiba-tiba ditempat tersebut berjumpa dengan Nabi Adam AS, yaitu bapak dari seluruh umat manusia. Adapun keberadaannya masih tetap sama seperti ketika diciptakan olehAllah SWT (kulitnya tetap putih kemerah-merahan dan bercahaya, tinggi badanya kira-kira 60 dziro’ atau kurang lebih 29 meter. Lebar dadanya kurang lebih 7dziro’ atau kurang lebih 3 meter) Didatangkan kepada Nabi Adam AS arwahnya par a Nabi dan keturunannya yang beriman. Lantas Nabi Adam berkata: “Roh suci dan sukma yang bagus! Sama-samamasuklah kalian semua di dalam surga Firdaus / Illiyyin.” Lantas didatangkan lagi kepada Nabi Adam AS roh- roh keturunannya yang sama-sama kafir. Dan Nabi Adam AS pun berkata: “Roh-roh yang busuk dan sukma yang durhaka, sama-sama masuklah kalian semua di dalam neraka Sijjin.” Dan Nabi Adam AS melihat dari arah kanannya ada bayang-bayang ( gerombolan-gerombolan nyawa) hitam dan pintu. Dan dari pintu tersebut, keluarlah aroma yang sangat semerbak harum. Dan dari arah kiri, Nabi Adam AS melihat bayang-bayang dan pintu. Dari pintu tersebut keluarlah aroma yang yangsangat busuk dan menyengat.
وبابا يخرج منه ريح خبيثة مُنْشِنَةٌ فإذا نظر قَبِلَ يمينه ضحك واستبشر وإذا نظر قبل شماله حزن وبكى فسلم عليه النبي صلى الله عليه وسلم فرد عليه السلام ثم قال مرحبا بالإبن الصالح والنبيِّ الصالح فقال النبي صلى الله عليه وسلم من هذا من هذا ياجبريل قال هذا أبوك آدم هذه الأسوِدة نسم بنيه فأهل اليمين منهم أهل الجنة وأهل الشمال منهم أهل النار فإذا نظر قبل يمينه ضحك واستبشر وإذا نظر قبل شماله بكى وحزن
Ketika Nabi Adam AS menoleh ke arah kanan, dirinya bangga dan bergembira. Dan ketika menoleh ke kiri, dirinya sedih dan menangis. Lantas Nabi Muhammad bersalam kepada Nabi ﷺ Adam AS. Dan Nabi Adam AS pun menjawab salam beliau. Nabi Adam AS lantas berkata: “Selamat datang wahai anakku yang shalih dan Nabi yang shalih.” Lantas Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa itu Wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Beliau adalah Bapak moyang Baginda Rasul, yaitu Nabi Adam AS. Adapun bayang- bayang hitam itu adalah keturunan Nabi Adam AS. Sementara itu, gerombolan-gerombolan hitam sisi kanan adalah ahli surga, dan yang sisi kiri adalah ahli neraka.” Apabila Nabi Adam AS melihat ke sisi kanan, beliau tertawa bangga dan bahagia hatinya. Dan apabila melihat ke sisi kiri, Nabi Adam AS menangis dan bersedih hati.
هذا الباب الذي عن يمينه باب الجنة إذا نظر من يدخله من ذريته ضحك واستبشر والباب الذي عن شماله باب جهنم إذا من يدخله من ذريته بكى وحزن ثم مضى هُنَيْهَةً فوجد آكل الربا وأموال اليتامى والزُّناةَ وغيرهم على حالةِ شَنِيعَةٍ بنحو ماتقدم وأَشْنعَ ثم صعد إلى السماء الثانية فاستفتح جبريلُ فقيل من هذا قال جبریل ومن معك قال محمد قيل أو قد أُرسل إليه قال نعم قيل مرحبا به وأهلا حيّاه الله من أخٍ ومن خليفة فنعم الأخُ ونعم الخليفة ونعم تلمُجِيْئُ جاء وفُتح لهما فلمّا خلصا إذ هو بإبن الخالة عيس ابنِ مريمَ ويحي بن زكريا شَبِيْهٌ إحداهما بصاحبه بثيابهما وشعرها ومعهما نفرٌ من قومهما وإذا عيسى جعدَ مَرْبُوع يميل إلى الخمرة والبياض سبطُ الرأس كأنما خرج من دِيْماسٍ أى حمام شبه بِعُرْوَةَ ابنِ مسعود الثَّقَفِى فسلم عليهما النبي صلى الله عليه وسلم فاردّو عليه السلام قالا مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح ودعوا له بخير ثم وصعد إلى السماء الثالثة
Pintu sebelah kanan adalah pintu surga. Ketika Nabi Adam AS melihat anak keturunannya sama-sama masuk surga, hatinya bangga dan berbahagia. Adapun pintu sebelah kiri adalah pintu neraka. Ketika Nabi Adam AS melihat anak keturunannya sama-sama masuk neraka, hatinya menangis dan bersedih. Lantas Nabi Muhammad ﷺ melanjutklan perjalanannya kembali yang tidak jauh dari tempat tadi. Dan bertemulah beliau dengan orang-orang yang senang memakan harta riba dan harta benda anak yatim. Beliau juga bertemu dengan orang-orang yanggemar berzina dan sebagainya. Keberadaan mereka sangat menyedihkan dan mengenaskan ( buruk ). Seperti fenomena terdahulu. Justru malah lebih menyedihkan. Lantas Nabi Muhammd ﷺ kembali ke langit yang kedua. Jibril mengetuk puntu langit dan meminta izin untuk masuk. Penjaga langit bertanya: “Siapa itu?”Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas penjaga langit bertanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Nabi Muhammad ﷺ .”Dan ditanyalah sekali lagi “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk! Selamat datang! Aduh … …, Saya rasa, saya mendapat anugrah dari Allah SWT, sebab saya dapat bertatap muka dengan Baginda Rasul dan menjalin persaudaraan. Semoga Baginda Rasul dimuliakan Allah SWT, dan saudara- saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Demikianlah sebagus-bagusnya saudara seiman, wakilnya Allah SWT, dan sebagus-bagusnya orang yang datang. Kemudian pintu langit pun segera dibuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tiba mereka bertemu dengan Nabi Isa AS bin Maryam dan Nabi Yahya bin Zakaria yang keduanya hampir serupa pakaian dan rambutnya ( ibunya nabi Yahya masih bersaudara dengan Dewi Maryam ). Keduanya ditemani oleh sekelompok kaumnya. Nabi Isa itu berperawakan standar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Rambutnya panjang, kelihatan seperti orang yang baru saja mandi. Wajahnya serupa dengan Yarwah bin Mas’ud-ats Tsaqafi Nabi Muhammd ﷺ lantas berucap salam kepada Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS Keduanya menjawab salam tersebut dan berkata: “Selamat datang saudaraku yang shalih dan Nabi yang shalih. ”Keduanya punmendoakan Nabi Muhammad dengan do’a yang baik /bagus. Lantas Nabi Muhammad ﷺ dan Malaikat Jibril naik ke Langit yang ketiga.
فاستفتح جبريل قيل ومن هذا قال جبریل قيل ومن معك قال محمد أوقد أُرسل إليه قال نعم قيل مرحبا به وأهلا حياه الله من أخ ومن خليفة فنعم الأخ ونعم الخليفة ونعم المجيئ جاء ففُتح لهما فلما خلصا إذ هو بيوسف ومعه نفر من قومه فسلم عليه فرد عليه السلام ثم قال مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح ودعاله بخير وإذا هو قد أُُعطيَ شَطْر الحسن وفى رواية أحسن خلق الله قد فضل الناس بالحُسن كالقمر ليلة البدر على سائر الكواكب قال من هذا ياجبريل قال أخوك يوسف ثم صعد إلى السماء الرابعة فاستفتح جبريل قيل من هذا قال جبریل ومن معك قال محمد قيل أوقد أُرسل إليه قال نعم قيل مرحبا به وأهلا حياه الله من أخ ومن خليفة فنعم الأخ ونعم الخليفة ونعم المجيئ جاء ففُتح لهما فلما خلصا إذ هو بإدريس قد رفعه الله مكانا عليا فسلم عليه فرد عليه السلام ثم قال مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح ودعاله بخير ثم وصعد إلى السماء الخامسة
Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit. Penjaga pintu langit pun bertanya:“Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam .” Dan ditanyalah sekali lagi: “ Sudah diutus oleh Allah kah kamu untuk datang kemari?”Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Baru kemudian dipersilahkan: “Silahkan masuk! Selamat datang! Sungguh saya telah mendapat anugrah dari Allah SWT, sebab saya dapat berjumpa dengan Baginda Rasulullah dan menjalin persaudaraan dengan Baginda Rasulullah . Semoga baginda Rasulullah dimuliakan Allah SWT, saudara- saudara yang seiman dan para da’i ( wakil dari Allah ) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Itulah semulya-mulyanya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang. Kemudian pintu langit pun segera dibuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tiba mereka berdua berjumpa dengan Nabi Yusuf AS yang ditemani oleh sebagian umatnya. Nabi Muhammad ﷺ bersalam kepada Nabi Yusuf AS. Lantas Nabi Yusuf AS menjawab salam tersebut. Dan berkatalah Nabi Yusuf AS: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih!” Nabi Yusuf pun mendo’akan Nabi Muhammad ﷺ dengan do’a yang luhur. Ketampanan Nabi Yusuf tersebut menyamai setengah dari ketampanan Nabi Muhammad ﷺ Menurut salah satu riwayat: “Nabi Yusuf itu dianugrahi raut wajah yang indah melebihi keindahan wajah seluruh umat manusia. Wajahnya laksana bulan purnama yang sinar terangnya melebihi terang sinar semua bintang. ”Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa dia wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah saudara Baginda Rasulullah. Namanya Nabi Yusuf AS.” Lantas Nabi Muhammad ﷺ dan Malaikat Jibril naik lagi ke langit yang keempat. Dan Jibril meminta izin agar dibukakan pintunya. Penjaga langit bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapakamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Nabi Muhammad ﷺ .” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allahkah kamu untuk datang kemari?” Jibril menjawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus- bagusnya orang yang datang. Pintu langit lalu dibukakan. Setelah itu mereka berdua masuk. Tiba-tiba Nab i Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Malaikat Jibril bertemu dengan Nabi Idris AS yang dimuliakan Allah SWT di tempat yang tinggi dan mulia. Nabi Muhammad ﷺ bersalam. Dan dijawablah salam tersebut oleh Nabi Idris AS. Beliau berkata: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan Nabi yang shalih.” Lantas Nabi Idris mendo’akan Nabi Muhammad dengan do’a yang luhur. Kemudian Nabi dan Malikat Jibril naik ke langit yang kelima.
فاستفتح جبريل قيل من هذا قال جبریل ومن معك قال محمد قيل أوقد أُرسل إليه قال نعم قيل مرحبا به وأهلا حياه الله من أخ ومن خليفة فنعم الأخ ونعم الخليفة ونعم المجيئ جاء ففُتح لهما فلما خلصا إذ هو بهارون ونصف لحيته بيضاء ونصفها سوداء تكادُ تضربُه إلى سرته من طولها وحوله قوم من بني إسرائيلَ وهو يقصُّ عليهم فسلم عليه فرد عليه السلام ثم قال مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح ودعاله بخير فقال من هذا ياجبريل هذا الرجل المُحَبَّبُ فى قومه وهارونُ ابنُ عمرانَ ثم صعد إلى السماء السادسة
Jibrillalu minta izin untuk dibukakan pintunya. Penjaga langit pun bertanya: “Siapaitu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapakamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Nabi Muhammad ﷺ” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutuskah kalian oleh Allah untuk datang ke tempat ini?”Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan olehsaudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang. Setelah itu pintu langit pun dibuka. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ dan Malaikat Jibril masuk, tiba-tiba mereka berdua berjumpa dengan Nabi Harun AS yang rambut dan jenggotnya sebagian putih dan sebagian hitam. Jenggot tersebut menjuntai kebawah sepanjang pusar, sebab sangat panjangnya. Nabi harun dikerumuni oleh kaum Bani Israil. Saat itu Nabi Harun bercerita kepada kaum tersebut. Nabi Muhammad ﷺ bersalam dan dijawab. Lantas Nabi Harun berucap: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan nabi yang shalih!” Kemudian Nabi Harun mendo’akan Nabi Muhammd ﷺ dengan do’a yang baik. Nabi Muhammd ﷺ bertanya kepada Malaikat Jibril: “Siapakah dia ya Jibril?” Jibril menjawab: “Dia adalah seorang lelaki yang sangat dicintai oleh kaumnya. Namanya Nabi Harun bin Imran.” Selanjutnya Nabi Muhammad ﷺ dan Malaikat Jibril naik lagi ke langit yang keenam.
فاستفتح جبريل قيل ومن هذا قال جبریل قيل ومن معك قال محمد أوقد أُرسل إليه قال نعم قيل مرحبا به وأهلا حياه الله من أخ ومن خليفة فنعم الأخ ونعم الخليفة ونعم المجيئ جاء ففُتح لهما فجعل يمر بالنبي عليه الصلاة والسلام والنبيين معهم الرهْطُ والنبيِّ والنبيين ليس معهم أحد ثم مر بسوادٍعظيمٍ سدَّ الأفُقَ فقال من هذا الجمعُ قيل موسى وقومه ولكن إرفع رأسك فإذا هو بسوادٍ عظيم سدَّ الأفُقَ من ذاالجانب ومن ذاالجانب فقيل له هؤلاء أمتك سواى هؤلاء سبعون ألفا يدخلون الجنة بغير حساب فلما خلصا فإذا هو بموسى ابن عمرانَ رجلٌ آدِمٌ طُوالٌ كأنه من رجالٍ شَنُوْءَةً كثيرُالشعر لو كان عليه قميصان لنفذ شعرُه دونهما فسلم عليه النبي صلى الله عليه وسلم ثم قال مرحبا بالأخ الصالح والنبي الصالح ثم دعاله بخير يزعُمُ الناس أني أكرم بنى آدم على الله من هذا بل هو أكرم على الله منى فلما جاوزه النبي صلى الله عليه وسلم بكى فقيل له مايبكيك قال أبكى لأن غلاما بعث من بعدى يدخل الجنة من إمته أكثر ممن يدخل الجنة من أمتي يزعم بنوا إسرائيل أني أكرم بنى آدم على الله وهذا رجل من بني آدم خلفني فى الدنيا وأنا فى أخرى فلوا أنه فى نفسه لم أبال ولكن معه أمتُه ثم صعد إلى السماء السابعة فاستفتح جبريل فقيل من هذا قال جبریل قيل ومن معك قال محمد أوقد أُرسل إليه قال نعم قيل مرحبا به وأهلا حياه الله من أخ ومن خليفة فنعم الأخ ونعم الخليفة ونعم المجيئ جاء ففُتح لهما فلما خلصا فإذا النبي بإبراهيم الخليل صلى الله عليه وسلم جالس عند باب الجنة على كرسي من ذهب مسندٍ ظهره إلى البيت المعمور معه نفر من قومه فسلم عليه النبي صلى الله عليه وسلم فرد عليه السلام وقال مرحبا بالإبن الصالح والنبي الصالح ثم قال مر أمتك فلتكثر من غراس الجنة فإن تربتها طيبة وأرضها واسعة فقال وماغراس الجنة قال لاحول ولا قوة الا بالله العلي العظيم
Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit tersebut. Penjaga pintu langit bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali:“Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Nabi Muhammad ﷺ ”Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allah kah kamu untuk datang kemari?” Jibril Jawab: “ Ya! Sudah!” Penjaga pintu langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang. Kemudian pintu langit pun dibuka. Setelah itu mereka berdua masuk. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan beberapa Nab yang saling diiringi oleh parakaumnya, namun hanya sedikit. Nabi Muhammad ﷺ juga berjumpa dengan Nabi -Nabi yang kaumnya banyak. Dan bertemu dengan Nabi-Nabi yang tidak berpengikut. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan serombongan orang yang sangat banyak yang memenuhi segala penjuru (segala arah). Nabi Muhammd ﷺ bertanya: “Siapa merekawahai Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah Nabi Musa AS dan para pengikutnya. Namun saya harap Baginda Rasul untuk mengangkat kepala.” Tiba-tiba Nabi melihat serombongan orang yang juga berjumlah sangat banyak yang memenuhi segala penjuru. Jibril berkata: “Mereka semua adalah umatmu wahai Baginda Rasulullah.” Adapun selain iring-iringan tersebut, ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa dihisab, (semoga kita masuk dalam golongan tersebut). Setelah Nabi Muhammad ﷺ dan Malaikat jibril masuk, tiba- tiba mereka berdua bertemu dengan Nabi Musa AS bin Imran. Nabi Musa itu seorang lelaki yang berkulit putih kemerah-merahan. Tinggi badannya seperti orang Syanuah. Banyak bulunya apabila memakai baju rangkap dua, sungguh akan robek tertembus bulu tersebut. Lantas Nabi Muhammad ﷺ bersalam, dan salam tersebut dijawab oleh Nabi Musa AS. Kemudian Nabi Musa berucap: “Selamat datang wahai saudaraku yang shalih dan Nabi yang shalih.” Nabi Musa AS juga berdo’a untuk Nabi dengan do’a yang luhur. Nabi Musa berkata: “Semua orang sama-sama berpikiran bahwa saya adalah orang termulia di hadapan Allah SWT dari pada Muhammad. Namun sesungguhnya Muhammadlah yang lebih mulia di hadapan Allah SWT dari pada saya.” Ketika Nabi melewati Nabi musa AS, Nabi Musa menangis. Beliau ditanya oleh orang-orang banyak: “Ada apa kok menangis wahai Nabi Musa?” Nabi Musa menjawab: “Saya menangis sebab Muhammad ﷺ diutus sesudah saya, namun umatnya sangat banyak yang masuk surga dari pada umat saya.” Kaum Bani Israil sama-sama berpendapat bahwa sayalah yang paling mulia diantara seluruh keturunan Nabi Adam AS dihadapan Allah, namun sesungguhnya Muhammadlah yang lahir sesudah saya yang termulia. Sementara saya telah hidup di alam akhirat. Seumpama hanya Muhammad sendirian, saya tidak apa-apa, namun ini berbeda, Muhammad bersama-sama dengan umatnya, tentu saja saya menjadi iri dengannya. ” Lantas Nabi Muhammad ﷺ dan Malaikat Jibril naik kembali ke langit yang ketujuh.Jibril meminta izin agar dibukakan pintu langit tersebut. Penjaga pintu langit bertanya: “Siapa itu?” Jibril menjawab: “Saya Jibril!” Lantas ditanya kembali: “Bersama siapa kamu?” Jibril menjawab: “Saya bersama Nabi Muhammad ﷺ” Dan ditanyalah sekali lagi: “Sudah diutus oleh Allah kah kamu untuk datang ke mari? ”Jibril Jawab: “ Ya! Sudah! ” Penjaga langit lantas berucap: “Silahkan masuk! Selamat datang! Semoga kalian berdua dimuliakan Allah SWT, dimuliakan oleh saudara yang seiman dan para da’i (wakil dari Allah) yang telah berkenan menyampaikan agama Allah SWT. Begitulah semulia-mulianya saudara seiman, khalifah, dan sebagus-bagusnya orang yang datang.” Kemudian pintu langit pun terbuka. Ketika keduanya telah masuk, tiba-tiba mereka bejumpa dengan Nabi Ibrahim AS “Al-Kholil” yang duduk di sebuah kursi yang terbuat dari emas di depan pintu surga. Beliau menyandarkan punggungnya di-Baitul Makmur. Saat itu Nabi Ibrahim sedang didampingi oleh sekolompok kaumnya. Lantas Nabi Muhammad ﷺ berucap salam dan dijawablah salam tersebut oleh Nabi Ibrahim AS. Kemudian Nabi Ibrahim AS berkata: “Selamat datang wahai anakku dan nabi yang shalih.” Lantas Nabi Ibrahim berpesan: “Perintahkanlah kepada umatmu, agar memperbanyak tanaman dan perhiasan surga, karena sesungguhnya tanah surga itu sangatlah bagus-subur dan luas.” Nabi bertanya: “Apa tanaman surga tersebut?” Nabi Ibrahim AS berkata: “ Yaitu: laa khaula wa laa quwwata illaabillaahil ‘aliyyil ‘adhiim.”
وفى رواية أُقرئ أمتك منِّىَ السلام وأخبرهم أن الجنة طيبةُ التربة عُذْبَةِ الماء وأنّ غراسها سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر وعنده قوم جلوس بِيْضُ الوجوه أمثالُ القراطيسِ وقومٌ فى ألوانهم شيئ فدخلوْا نهرٌ فاغتسلوا فيه فخرجواوقد خلص من ألوانهم شيئ ثم دخلوا نهرا ثالثا فاغتسلوا فيه وقد خلصت ألوانهم فصارت مثل ألوان أصحابهم فجاؤا فجلسوا إلى أصحابهم فقال يا جبريل من هؤلاء البيض الوجوه ومن هؤلاء الذين فى ألوانهم شيئ ومافيه الأنهار فأولها رحمة الله والثاني نعمة الله والثالث سقاهم ربهم شرابا طهورا وقال هذه مكانُك ومكانُ أمتك وإذا بِأمّته شطرين شطرٍ عليهم ثيابٌ كأنها القراطيسُ وشطرٍعليهم ثياب رُمْد فدخل البيت المعمور ودخل معه الذين عليهم الثياب البيض وحُجِب الآخرون الذين عليهم الثياب الرُمْد وهم على خير فصلى ومن معه من المؤمنين فى البيت المعمور وآذا هو يدخله كل يوم سبعون ألف ملك لايعودون إليه إلى يوم القيامة وإنه بحذاء الكعبة لو خُر منه حجرٌ لِخرّ عليها خرُماعليهم
Menurut salah satu riwayat diterangkan bahwa: “Tolong sampaikan salam saya kepada umatmu dan ceritakanlah bahwa surga itu tanahnya bagus-sangat subur,tawar dan segar airnya. Adapun tanaman surga adalah : سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر ” Orang-orang yang berada di sebelah kiri dan kanan Nabi Ibrahim (kaumnya) semuanya duduk dalam satu kelompok. Wajahnya putih-bening seperti kertas, sekelompok lain ada kotoran noda hitam kulitnya. Lantas kaum yang terdapat kotoran dikulitnya sama-sama berdiri kemudian masuk dan mandi di sebuah sungai.Selanjutnya sama-sama keluar sebab telah bersih kotorannya. Setelah itu masukdan mandi kembali di sebuah sungai yang lain. Kemudian keluar dan telah bersih kotoran noda- noda hitamnya. Lantas masuk dan mandi kembali sampai tiga kali diaungai yang lain lagi. Sesudah itu sama-sama keluar sebab telah bersih seluruh kotoran noda hitamnya. Sehingga kulit dan wajahnya putih-bening sama sepertiteman-temannya yang lain. Lantas semuanya sama-sama duduk berkumpul bersama teman-temannya yang berkulit dan berwajah putih-bening tadi. Nabi bertanya: “Wahai Jibril, siapa kelompok orang-orang yang berkulitdan berwajah putih-bening tersebut? Dan siapa golongan yang kulit dan wajahnya terdapat kotoran noda hitam itu? Dan sungai apa yang dijadikan tempat manditadi?” Jibril menjawab: “Kelompok orang-orang yang kulit dan wajahnya putih-bening itu adalah orang-orang yang imannya tidak tercampur dengan dosa- maksiat. Sedangkan sekelompok orang yang kulit dan wajahnya terdapat kotoran dan noda hitam adalah orang-orang yang beramal shalih namun juga mengerjakan perbuatan dosa-maksiat, lantas mereka sama-sama bertobat dan Allah SWT menerima tobatnya. Adapun sungai tersebut adalah: yang pertama sungai Rahmatullah, yang kedua sungai nikmatullah, dan yang ketiga adalah sungai saqaahum rabbahumsyaraabangthahuuraa, yang artinya: sungai tempat kalian semua dianugrahi minum-minuman yang sangat segar dan bening juga bersih.” Dan dijelaskan oleh Malaikat Jibril: “Itulah tempatmu dan tempat ummatmu ya Rasulullah!” Di tempat tersebut tiba-tiba Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan umat beliau. Umat tersebut terbagi menjadi dua golongan. Golongan yang pertama memakai pakaian putih seperti kertas, sedangkan golongan yang kedua memakai pakaian kusam. Nabi Muhammad ﷺ lantas masuk ke Baitul Makmur. Beliau masuk bersama-sama dengan golongan yang memakai pakaian putih. Dan golongan yang memakai pakaian kusam dilarang masuk mengikutinya. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ mengerjakan shalat di Baitul Makmur bersama-sama dengan orang-orang mukmin. Di situ, Baitul Makmur tersebut ternyata dalam setiap harinya dimasuki tujuh puluh ribu malaikat yang tidak pernah kembali keluar lagi hingga hari kiamat. Dan sesungguhnya Baitul Makmur tersebut tegak lurus dengan Ka’bah. Seumpama sebuah batu di jatuhkan dari Baitul Makmur, maka akan terjatuh tepat di Ka’bah. Apabila sudah masuk Baitul Makmur maka tidak akan keluar lagi. Tepat di Baitul Mamur tersebut merupakan akhir dari perjalanan para malaikat.
وفى رواية أنه عُرضت عليه الآنية الثلاثة المتقدمة فأخذ اللبن فصوّب جبريلُ فَعلَه كماتقدم وقال كمافى رواية هذه الفُطرةُ التى أنت عليها وأمتُك ثم رفع إلى سدرة المنتهى وإليها ينتهى مايعرج من الأرض فيُقبَض منها وإليها ينتهي مايهبط من فوق ويُقبض منها وإذا هي شجرة يخرج من أصلهاأنهار من ماء غيرِ آسن وأنهار غير لبن لم يتغير طعمه أنهار من خمر للذةٍ للشاربين وأنهار من عسل مصفى يسير الراكب فى ظِلِّها سبعين عاما لايقطعها وإذا نَبْقُها مِئْلُ قلالٍ هجر وإذا ورقُها كأذانِ الفِيْلَةِ تكادُ الورقةِ تُغْطى هذه الأمةَ وفى رواية الورقةُ منها تظِلُّ الخلائقَ على كل ورقة فيها ملك فَغَشِيَها ألوانٌ لايُدرى ماهى فلما غشِيَها من أَمر الله ماغشيهاتغيرت وفي رواية تَحَولت ياقوت وزبَرجدا فمايستطيع أحدْ أن يَنْعِتها من حسنها وفيها فراش من ذهب وإذا فى أصلها أربعة أنهار نهران باطنان ونهران ظاهران فقال ماهذه الأنهار ياجبريل قال اما البطنان في الجنة وأماالظاهران فالنّيلُ والفُراتُ وفى رواية أنه رآى جبريل عند سدرة المنتهى وله ستُّمائة جناح كل جناح منها قد سدالأفقَ يتناثرُ من أجنحته التهاويلُ الدُّرُّ والياقوتُ مما لايعلمُه إلا الله تعالى ثم أخذ على الكوثر حنى دخل الجنة فإذا فيها مالاعينَ رآت ولا أذن سمعت ولاخطر على قلب بشر فرآى على بابها مكتوبا الصدقة بعشر أمثالها والقرْض بثمانية عشر فقال جبريل مابالُ القرضِ أفضلَ من الصدقة قال لأن السائل يسأل وعنده شيئ فالمُستقرضَ لايستقرضُ إلا من حاجةٍ فسار فإذا هو بنهار من لبنٍ لم يتغير طعمه وأنهار من خمر لذة للشاربين أنهار من عسل مصفى وإذا فيها جنابدُ اللُّؤلؤ وإذا رُمانُها كالدُّلآل وفى رواية فإذا فيها رمان
Dalam riwayat lain juga dijelaskan: “Dalam Baitul Makmur itu, Nabi Muhammad ﷺ dihidangi tiga gelas minuman. Lantas Nabi Muhammad ﷺ memilih dan mengambil gelas yang berisi susu. Tindakan Nabi Muhammad tersebut dibenarkan oleh Malaikat Jibril dengan ungkapan: Susu tersebut merupakan tanda dari agama islam ( fitrah ) yang akan Baginda Rasul dan umat Baginda Rasul peluk.” Kemudian Nabi dibawah naik lagi ke Sidrotul Muntaha. Di tempat itulah akhir dari semua amal manusia naik dari bumi, lalu berhenti. Di Sidrotul Muntaha tersebut, takdir-takdir diturunkan dari ketinggian dan berhenti. Sidrotul Muntaha adalah sebatang pohon besar. Dari tunasnya mengalir beberapa sungai yang airnya sangat bening dan tidak pernah berubah, baik bentuk maupun rasanya. Di situ juga mengalir sungai susu yang tidak akan pernah berubah rasanya. Ada juga sungai arak yang sangat segar menurut orang- orang yang meminum dan sungai madu yang sangat bersih-bening. Atap Sidratul Muntaha itu jika ditelusuri seseorang yang naik kendaraan membutuhkan waktu tujuh puluh tahun, namun belum juga sampai. Adapun buahnya Sidrotul Muntaha itu sebesar kendi-kendi Tanah Hajar ( sebuah desa yang dekat dengan Madinah ). Sementara daunnya selebar telinga gajah. Satu daun saja sudah mampu menutupi seluruh umat yang ada. Menurut salah satu riwayat diterangkan: “Selembar daun tersebut dapat menutupi seluruh makhluk. Tiap- tiap satu daun terdapat satu malaikat. Daun itu warnanya bermacam-macam yang tidak dapat dimengerti warna apa saja itu. Ketika ada suatu perkara yang menutupinya, sebab perintah Allah SWT, lantas berubalah menjadi Intan Baiduri, Yaqut, dan Zabarjud.” Tidak ada seorang pun yang sanggup memberi sifat dan menggambarkan keadaan Sidratul Muntaha. Dalam setiap daun terdapat belalang emas. Dari tunas pohon Sidrotul Muntaha tersebut mengalir empat sungai yang masuk ke surga. Adapun yang dua, mengalir keluar ke bumi (dua yang terlihat dan dua tidak terlihat). Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Sungai apakah itu ya Jibril?” Jibril berkata: “Dua sungai yang tidak terlihat itu mengalir ke dalam surga. Adapun dua sungai yang terlihat itu adalah sungai Nil (Mesir) dan sungai Furat ( Irak ).” Menurut salah satu riwayat dijelaskan: “Di dalam Sidrotul Muntaha, Nabi Muhammad ﷺ sempat melihat Malaikat Jibril memiliki enam ratus sayap (600). Tiap-tiap sayap tersebut sanggup menutupi jagad raya. Dan dari tiap-tiap sayapnya Jibril itu bertaburan Intan dan Yaqut. Dari mana asalnya tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT.” Lalu Nabi Muhammad ﷺ berjalan menelusuri tepi Telaga Kautsar hingga masuk ke dalam surga. Tiba-tiba Nabi di dalam surga melihat beberpa hal yang tidak dapat terlihat oleh mata, tidak dapat didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati. Nabi Muhammad ﷺ kemudian melihat sebuah tulisan di pintu surga: “Memberi shadaqah itu pahalanya sepuluh kali lipat, dan memberi hutang orang kepada yang membutuhkan itu pahalanya delapan belas kali lipat. ”Lantas Nabipun bertanya: “Jibril, bagaimana bisa orang yang memberi hutang itu lebih utama dari pada shadaqah?” Jibril menjawab: “Sebab orang yang meminta-minta itu masih memiliki kelebihan sesuatu, sedangkan orang hutang itu tidak akan berani hutang kecuali membutuhkan.” Nabi kemudian berjalan-jalan di surga. Tiba-tiba saja beliau berjumpa dengan sungai susu yang tidak akan pernah berubah rasanya dan sungai khomer yang sangat lezat menurut orang-orang yang minum. Dan sungai madu yang sangat bening. Di dalam surga bertaburan rumah-rumahan kecil yang terbuat dari lu’lu’-mutiara dan beberapa buah delima yang besarnya sebesar timba-timba.
وفى رواية فإذا فيها رمان كأنه جلود الإبل المُقْتَبَةِ وإذا بغيرها كالبُخاتِى فقال أبو بكر يارسول الله إنها لنا عِمَةٌ أكلتُها أنعم منها وإنّي لاأرجوا أن تأكل منها ورأى نهر الكوثر على حافِتَيْهِ قُبابُ الدّرّ المُجوَّفِ وإذا طيْنُه مسكٌ أَذْفرٌ ثم عُرِضتْ عليه النار فإذا فيها غضبُ الله.وزَجْرِه ونقمتِه لو طُرح.فبها الحجارة والحديد لأكْلَتْها فإذا فيها قومٌ يأكلون الجِيْفَ فقال من هؤلاء ياجبريل قال هؤلاء يأكلون لحوم الناس ورأى مالكا خازنَ النار فإذا هو رجل عابَسٌ يُعرَف الغضبُ فى وجهه فبدأَه النبي صلى الله عليه وسلم بالسلام ثم أُغْلِقَ النارُ دونه
Menurut salah satu riwayat diterangkan: “Di dalam surga terdapat buah delimayang besarnya sebesar kulit unta yang ada muatannya dan burung-burung surga itu sebesar Unta Khurasan yang memiliki dua punuk ( punggung ). ” Shahabat Abu Bakr berkata: “Ya Rasulullah! Apakah dagingnya nikmat?” Nabi berkata: “Saya pernah memakan daging burung itu. Sungguh dagingnya benar-benar nikmat melebihi kenikmatan seluruh daging yang pernah aku rasakan.Dan saya berharap kamu bisa makan daging burung tersebut.” Lalu Nabi Muhammad ﷺ melihat Telaga Kautsar yang di dua tepinya terdapat rumah-rumahan kecil yang terbuat dari mutiara yang dilubangi. Tanahnya berbau harum seperti minyak misik. Lantas Nabi Muhammad ﷺ diperlihatkan batu dan besi di neraka. Di situ tempat kemurkaan, kutukan, dan siksaan Allah SWT. Seumpama batu dan besi dilemparkan ke dalam neraka, tentu akan hancur binasa dan meleleh. Di dalam neraka tiba-tiba ada sekelompok orang/umat yang semuanya memakan bangkai. Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa mereka ya Jibril?” Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang pekerjaannya suka memakan daging manusia ( artinya: orang-orang yang gemar mengumpat ).” Di situ, Nabi Muhammad ﷺ melihat Malaikat Malik penjaga neraka. Wajahnya selalu terlihat sadis dan memancarkan aura kemarahan yang sangat membara. Nabi Muhammad ﷺ mengawali berucap salam kepada Malaikat Malik. Lalu pintu neraka ditutup untuk menghormati Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam
ثم رُفع إلى سدرة المنتهى فغَشِيَتْه سحابة فيها من كل لون فتأخّرَجبريل ثم عُرجَ به صلى الله عليه وسلم لمُستوى سُمع فيها صريفُ الأقلام ورأى رجلا مُغِيبًا فى نور العرش فقال من هذا أَمَلَكٌ قيل لا قال من هو قيل رجل كان فى الدنيا لسانه رطبٌ بذكر الله تعالى وقلبه معلق بالمساجد ولم يَستَسِبّ لوالديه قط قرئ ربُّه سبحانه وتعالى فخرَّ النبي صلى الله عليه وسلم ساجده وكلّمه ربّه عند ذلك فقال له يامحمد قال لبيك يارب قال سَلْ فقال إنك إتَّختَ إبراهيم خليلا وأعطيتَه ملكا لا ينبغى لأحد من بعده زعلِّمتَ عيس التوراة والإنجيل وجعلتَه تُبرئُ الأ كمَه والأبرصَ ويحي الموتَ بإذنك وأَعَذتَه وأمَّه من الشيطان الرجيم فلم يكن للشيطان عليهما سبيل
Lantas Nabi Muhammad ﷺ dibawah naik ke Sidrotul Muntaha. Nabi Muhammad ﷺ diselimuti kabut yang menyerupai mendung yang warnanya beraneka ragam. Dan Jibril pun berhenti. Nabi Muhammad ﷺ lalu dibawa naik ke Mustawa ( sebuah tempat tinggi yang biasanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan ). Di tempat tersebut, beliau terdengar gemricik kolam-kolam. Di situ, beliau juga melihat seorang lelaki yang diliputi oleh Nurul ‘Arsy. Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Siapa dia wahai Jibril? Apakah seorang Malaikat?” Jibril menjawab: “Bukan!” Nabi bertanya lagi:“Apakah seorang nabi?” Dijawabnya kembali: “Bukan!” Nabi bertanya sekali lagi: “Lantas siapakah dia?” Dan dijawablah: “Dia adalah seorang lelakiyang semasa hidup di dunia, lisannya selalu basah sebab dibuat dzikir kepada Allah SWT. Dan hatinya selalu terikat erat ( sambung-berpikir- berangan-angan ) dengan masjid. Serta tidak pernah memusuhi tidak pernah menyakiti hati kedua orang tuanya.” Lantas Nabi Muhammad ﷺ menghadap Allah SWT. Beliau lalu bersujud. Allah pun berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau sedang bersujud: “Wahai Muhammad!” Nabi menjawab: “Ya, ada apa wahai Tuhanku?” Allah berucap: “Apa yang kamu kehendaki dari-Ku?” Kanjeng Nabi berkata: “Sesungguhnya Engkau telah menjadikan Nabi Ibrahim AS sebagai Kholilullah dan juga kerajaan yang agung. Engkau telah memberi petunjuk kepada Nabi Musa AS. Dan menganugrahi Nabi Dawud AS kerajaan yang agung, meluluhkan besi kepada Nabi Dawud AS, juga memberi kuasa Nabi Dawud untuk meguasai gunung. Dan Engkau telah memberikan kepada Nabi Sulaiman kerajaan yang agung, dapat menguasai jin, manusia, syetan, dan angin. Engkau juga telah menganugrahkan sebuah kerajaan yang tidak pernah diberikan setelah Nabi Sulaiman. Engkau juga mengajari Nabi Isa AS kitab Taurat dan Injil, juga memberikan kemampuan dapat menyembuhkan orang buta, bisu, dan belang ( kulitnya putih ), dan dapat menghidupkan orang mati dengan seizin-Mu. Engkau telah menjaga sekaligus melindungi Nabi Isa AS serta ibunya dari godaan syetan yang terkutuk, hingga tidak ada jalan ( yang berani menggoda ) keduanya lagi.”
فقال الله سبحانه وتعالى قد إتّخذتُك حبيبا قال الراوى وهو مكتوبٌ فى التوراة فى حبيب الله وأرسلتُك للناس كافةً بشيرا ونذيرا وبشرحْتُ لك صدرَك ووضعتُ عنك وزُرَك ورفعتُ لك ذكرك لا أُذْكَرُ إلا ذُكرتَ معى وجعلتُ أمتك خير أمة أخرجت للناس وجعلتُ أمتَك أمة وسطا وجعلت أمتك هم الأولون وهم الآخرون وجعلت أمتك لاتجوز لهم خطبةٌ حتى يشهدوا أنك عبدى ورسولى وجعلت من أمتك أعواما قلوبُهم أنا جِيْلهم
Lalu Allah SWT berkata: “Sungguh telah Kujadikan engakau Muhammad sebagai kekasih-Ku. Rowi Hadits menjelaskan: “Ucapan Allah tersebut sebenarnya telahditulis di dalam kitab Taurat, bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah kekasih Allah dan Allah pun telah mengutusnya untuk seluruh umat manusia dengan memberi kebahagiaan surga bagi orang yang berkenan mengikutinya, dan menakut-nakuti dengan neraka bagi orang yang mendurhakainya. Dan Allah telah membuka serta melapangkan dada juga hati Muhammad ﷺ . Mengampuni seluruh dosanya, dan Allah telah mengangkat derajatnya hingga tidak akan disebut nama Allah kecuali bersamaan dengan Nama Muhammad. Allah telah menjadikan umat Muhammad sebagai ummat yang terbagus dari seluruh umat yang ada dan dilahirkan untuk manusia. Dan Allah telah menjadikan umat Muhammad sebagai umat yang awal diciptakan dan yang terakhir dilahirkan.” “Dan telah Ku tetapkan kepada umatmu, Muhammad, tidak memiliki kewenangan dalam menasehati sesamanya, kecuali telah berucap dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Hamba-Ku dan utusan-Ku. Dan Aku telah menjadikan umatmu, Muhammad, sebagai satu-satunya umat yang hatinya menjadi tempat menerima ilmu dan hikmah.”
وجعلتك أول النبيين خلقا وآخرهم بعثًا وأوّلَهم يُقضى له وأعطيتُك سبعا من المثانى ولم أُعطِها نبيا قبلك وأعطيتك خواتمَ سورةِ البقرة من كنزٍ تحت العرش لم أعطها نبيا قبلك وأعطتك الكوثر وأعطيتك ثمانية أسْهُمِ الإسلامَ والهجرةَ والجهاد والصدقَ وصوم رمضان والأمرَ بالمعروفِ والنهيَ عن المنكر وأني يومَ خلقتُ السموات والأرض فرّضتُ عليك وعلى أمتك خمسين صلاة فقُم بها أنت وأمتك
“Dan telah Kujadikan engkau sebagai permulaan para nabi dalam setiap kejadiannya dan yang akhir dari seluruh para nabi berdasarkan pengutusannya. Dan telah Kujadikan engkau sebagai orang yang pertama dihisab, dan telah Aku anugrahkan kepadamu surat Al-Fatihah ( tujuh ayat yang diulang-ulang sampaiberkali-kali pembacaannya) yang tidak Aku berikan kepada Nabi sebelum kamu.” “Dan telah Kuberikan kepadamu, beberapa akhir dari surat Al-Baqarah, dari perbendaharaannya di bawah ‘Arasy yang tidak pernah aku berikan kepada Nabi sebelum kamu. Dan engkau telah Aku anugrahi Al-Kautsar (telaga Kautsar). Saya juga telah memberimu delapan keutamaan: ……….. …… Islam, hijrah, kebenaran, puasa Ramadlan, amar ma’ruf, dan nahi munkar.” “Dan sesungguhnya Aku mulai hari ini telah memberi mandat kepada seisi langitdan bumi. Telah Kuwajibkan kepadamu dan kepada umatmu untuk mengerjakan shalat lima puluh kali. Maka kerjakanlah shalat tersebut.
” وفى رواية أُعطى رسول الله صلى الله عليه وسلم الصلوات الخمس وخواتم سورة البقرة وغفرت لمن لم يشرك بالله من أمتك شيأ المُقْحِماتِ ثم إنْجَلتْ عنه السحابة وأخذ بيده جبريل فانصرف سريعا فأتى على إبراهيم فلم يقل شيأ ثم أتى على موسى قال ونعم الصاحبُ كان لكم فقال ماصنعتَ يامحمد مافرض ربُّك عليك وعلى أمتك قال فرّض علي وأمتي خمس صلاة كل يوم وليلة قال أرجع إلى ربك فسأل له التخفيف عنك وعن أمتك فإن أمتك لاتطيق ذلك فإني خبرتُ الناس قبلك وبلغتُ بنى إسرائيلَ وعالَجْتُهم أشد المعالجة على أدنى من هذا فاعفوا عنه وتركوه أمتك أضعف أجسادنا وبدأنا وقلوبنا وابصارا وأسماعا فالتفتَ النبي صلى الله عليه وسلم إلى جبريلَ يستشيرُه فأشار إليه جبريل أن نعم إن شئتَ فارجع فرجع سريعا حتى انتهى إلى الشجرة فغَسِيَته السحابة وخرّ ساجدا ثم قال خفّف عن أمتي فإنها أضعف الأمم قال وضعتُ عنهم خمسا ثم أُنْجِلتِ السحابة ورجع إلى موسى وضع عني خمسا فقال إرجع إلى ربك فاسأله التخفيف فإن أمتك لاتطيق ذلك
Dan dalam salah satu riwayat dijelaskan “Rasulullah Muhammad ﷺ dianugrahi shalat 50 ( lima puluh ) waktu, beberapa ayat terakhir dari surat Al-Baqarah, dan Allah telah mengampuni dosa-dosa umat Muhammad, kecuali dosa musyrik ( menyekutukan Allah ) dari umat Muhammad dengan sesuatu hal yang bersifat merusak keimanan. ”Lantas tersingkaplah /tersibaklah kabut yang menyilaukan yang berasal dari nur Nabi Muhammad ﷺ Kemudian Jibril memegang erat-erat tangan Nabi Muhammad ﷺ Lalu cepat-cepat mengundurkan diri. Setelah itu, Nabi Muhammad ﷺ mendatangi Nabi Ibrahim AS. Nabi Ibrahim tidak berkata apa-apa. Kemudian Nabi Muhammad mendatangi Nabi Musa AS. Nabi Musa AS berkata: “Aku adalah sebagus-bagusnya teman bagimu.” Nabi Musa AS bertanya: “Ada keperluan apa engkau Wahai Muhammad..? Apa yang telah diwajibkan Allah kepadamu dan kepada umatmu ? ”Nabi menjawab: “Allah telah mewajibkan kepadaku dan kepada umatku untuk mengerjakan shalat lima puluh waktu dalam sehari semalam. ” Nabi Musa AS berkata: “Berkenanlah kiranya engkau untuk kembali ke hadapan Allah dan memintalah keringanan untuk dirimu dan umatmu. Sebab sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya
. فلم يزل يرجع موسى وبين ربه يُحبط عنه خمسا حتى قال الله يامحمد لبيك وسعديك قال هن خمس صلوات فى كل يوم وليلة كل صلاة بعشر فتلك خمسون صلاة لايُبدّل القول لدىَّ ولايُنسخ كتابي ومن هم بحسنة فلم يعملها كتبت له فإن عملها كتبت عشرا وإن هم بسيئة فلم يعملها لم تُكتب عليه شيأ فإن عملها كتبت سيئة واحدة انحلّت فنزل إنتهى إلى موسى فأخبره فقال إرجع إلى ربك فاسأل التخفيف فإن أمتك لاتطيق ذلك فقال قد رجعت ربي حتى إستحيتُ منه ولكن أرْضى وأسلّمُ فنادى منادٍ أن قد أَمْضَيْتُ فريضتى وخففتُ عن عبادي فقال له موسى إهبط بسم الله ولم يمر على ملاء من الملائكة إلا قالوا عليك بالحجامة وفى رواية مُر أمتك بالحجامة ثم انحدر فقال لجبريل مالى لم أَتِ أهلَ سماء إلا رحيُوابي وضحكوا لي غَيرَ واحد سلّمت عليه فرد علي السلام ورحب بي ودعالي ولم يضحك فقال ذلك ملك خازن النار لم يضحك منذ خُلق ولو ضحك لأحد لضحك لك فلما نزل إلى سماء الدنيا نظر إلى أسفل منه فإذا هو بِرَهَجٍ ودخانٍ وأصواتٍ فقال ماهذا ياجبريل قال هذه الشياطين يحومون على عيون بني آدم لايتفكرون فى ملكوت السموات والأرض ولو ذلك لَرَأواالعجائبَ ثم ركب مُنصرفا فمر بِعِيْرٍ لقريشٍ بمكان كذا وكذا وفيها جمَلٌ عليه غرارتان غرارة سوداء غرارة بيضاء فلما حاذى العيرَ نفرتْ استدارتْ وصرح ذلك البعير وانكسر ومر بِعيرٍ
Sungguh, saya telah mencobanya kepada orang-orang sebelum kamu dari kaum Bani Israil. Dan perintah tersebut lebih ringan dari pada perintah yang telah diwajibkan kepadamu dan kepada ummatmu itu. Pagi dua rakaat, sore dua rakaat, namun ummatku masih saja sulit dan tidak sanggup mengerjakannya. Mereka semua sama- sama meninggalkannya. Sementara umatmu, lebih ringkih jasadnya, badannya, hatinya, penglihatannya, dan pendengarannya.” Lalu Nabi Muhammad ﷺ menoleh ke arah malaikat Jibril, meminta pertimbangan. Jibril menganggukkan kepala, sebagai tanda mempersilahkan. Nabi Muhammad ﷺ lantas lekas-lekas kembali. Hingga tiba di Syajaroh Sidrotil Muntaha. Nabi Muhammad ﷺ kemudian diselimuti mendung. Nabi Muhammad ﷺ sujud dan berkata: “Duh Tuhanku, semoga engkau berkenan memberi keringanan kepada umatku sebab umatku adalah seringkih-ringkihnya umat.” Allah SWT berkata: “Aku kurangi lima untuk umatmu.” Lantas tersingkaplah kabut mendung. Nabi Muhammad ﷺ kembali datang menghadap Nabi Musa AS, dan berkata: “Allah telah mengurangi lima untukku. ” Kemudian Nabi Musa AS berkata: “Berkenanlah untuk kembali mengahadap Tuhanmu dan mintalah keringanan sekali lagi. Karena sesungguhnya umatmu masih tidak mampu untuk mengerjakannya. ”Selanjutnya Kanjeng Nabi bolak-balik dengan tiada henti-hentinya di antara Nabi Musa AS dan Allah SWT. Allah memberikan keringanan lima-lima kepada Nabi hingga shalat lima puluh waktu tersebut hanya tinggal lima waktu saja. Allah pun berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ : “Wahai Muhammad!” Nabi menjawab: “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah!” Allah berkata: “Shalat itu kerjakanlah dalam waktu sehari-semalam. Adapun pahalanya setiap satu kali shalat adalah sepuluh kali lipat. Jadi, lima kali shalatan itu sama halnya dengan pahala lima puluh kali shalat. Oleh sebab itu, apa yang telah aku katakan, tidak akan pernah bisa diganti maupun dihapus, dan itu telah menjadi ketetapanku. Dan siapa saja yang dengan sengaja berniat untuk melakukan kebajikan, namun tidak bisa melaksanakan (sebabada sesuatu udzur syara’) maka ditulis satu kebaikan, namun jika dapat mengerjakannya, maka ditulis sepuluh kebagusan. Barang siapa yang berniat maksiat, lantas tidak jadi dikerjakannya, maka tidakakan ditulis apa-apa. Apa bila jadi mengerjakan maksiat tersebut, maka ditulislah satu maksiat.” Setelah itu tersingkaplah mendung yang menutupi Nabi Muhammad ﷺ beliau pun akhirnya turun hingga sampai pada Nabi Musa AS kembali lantas Nabi memberi khabar padanya. Lantas Nabi Musa AS berkata:: “Berkenanlah kiranya kamu ya Muhammad untuk kembali lagi ke hadapan Allah, Tuhanmu untuk meminta keringanan. Sesungguhnya umatmu masih belum sanggup untuk mengerjakannya. ”Nabi Muhammad ﷺ menjawab: “Saya sudah bolak-balik ke hadapan Allah SWT hingga saya merasa malu. Sekarang saya telah ridla dan pasrah/ikhlas menerimanya. ”Tidak lama kemudian, terdengarlah seruan: “Sungguh aku telah mewajibkan akan sebuah kewajiban dan telah memberikan suatu keringanan kepada hamba-Ku. ”Setelah terdengar seruan itu, Nabi Musa AS lalu berkata: “Silahkan, saya persilahkan kamu wahai Muhammad untuk turun sambil menyebut nama Allah SWT.” Kemudian Nabi Muhammad ﷺ turun. Dan beliau tidak mendahului rombongan para malaikat. Kecuali mereka semua saling berkata: “Berkenanlah kamu ya Rasulullah untuk membiasakan canduk (mengeluarkan darah kotor dari kepala).” Dalam satu riwayat diterangkan: “Berkenanlah kamu kiranya ya Muhammad untuk memerintahkan kepada ummatmu agar membiasakan canduk.” Lalu Nabi turun. Nabi bertanya kepada Malaikat Jibril: “Saya tidak menemukan penghuni langit, kecuali sama- sama menyambut kehadiranku dengan sambutan riang gembira. Dan semuanya sama-sama tersenyum manis untukku. Kecuali seorang malaikat. Saya mengucap salam kepadanya. Dia juga menjawab salam saya dan menyambut saya dengan penuh kebahagiaan. Dia juga mendoakan saya, namun dia tidak menunjukkan raut wajah yang menggembirakan kepadaku.” Jibril menjelaskan: “Seorang Malaikat tersebut adalah Malaikat Malik penjaga neraka. Dia tidak pernah menunjukkan raut wajah yang menggembirakan semenjak diciptakan. Seumpama Malaikat Malik ingin menunjukkan raut wajah yang menggembirakan kepada orang lain, tentu saja hanya kepadamu seorang Wahai Rasul. ”Ketika Nabi Muhammad ﷺ turun ke langit dunia, beliau melihat ke bawah. Tiba-tiba beliau melihat debu yang tebal dan mendengar suara yang menggemuruh. Lalu Nabi Muhammad ﷺ bertanya: “Apa itu ya Jibril ? ” Jibril menjawab: “Itu adalah perbuatan syetan-syetan yang berusaha untuk menghalang-halangi manusia agar manusia tersebut tidak mampu memikirkan keagungan Allah SWT baik di langit maupun di bumi. Seumpama syetan tidak menggaggu dan tidak menghalang-halangi, sudah dapat dipastikan bahwa, semua manusia akan mampu melihat keajaiban-keajaiban Allah SWT.” Nabi Muhammad ﷺ lalu naik Buroq. Beliau kemudian melihat unta-unta orang Quraisy berhamburan di sana-sini. Dan di dalam rombongan unta-unta tersebut, ada satu unta yang mmbawa dua muatan. Satu muatan berwarna hitam dan satu muatan berwarna putih. Ketika Nabi Muhammad ﷺ mendekati unta-unta tersebuat, unta-unta itu semuanya saling berontak lari dan berputar-putar lalu terjatuh hingga ada yang patah atau pecah kakinya
قد ضلُّوا بعيرا لهم قد جمعَه بنوا فلان فسلّم عليهم فقال بعضهم هذا صوت محمد ثم أتى إلى أصحابه قُبَيْل الصبح بمكة فلما أصبح قطع وعرف أن الناس تكذبه فقعد حزينا فمرّ به عدُوّ الله أبو جهْل فجاء حتى جلس إليه فقال له كالمُستهزِى هل كان من شيئ قال نعم قال ماهو قال أُسرِىَ بي الليلةَ قال إلى أين قال إلى بيت المقدس قال ثم أصبحتَ بين ظهرانِينا قال نعم فلم ير أنه يكذبه مخافةً أنه يَجْحِدُه الحديثَ ان دعا قومَه إليه قال أرأيتَ إن دعوتُ قومك أتحدِّثم بما حدثتَنى قال نعم
Nabi Muhammad ﷺ lantas mendahului iring-iringan orang yang mengendarai unta-unta yang lain. Di antara mereka ada yang kehilangan untanya. Seluruh unta dikumpulkan dan dicarilah unta yang hilang tersebut oleh orang banyak yang berasal dari Bani Fulan. Lalu Nabi Muhammad ﷺ bersalam kepada orang berunta tersebut. Dan berkatalah sebagian orang dari rombongan tadi: “Ini suaranya Muhammad!” Setelah semua itu, Nabi Muhammad ﷺ tiba di tempat shohabat-shohabatnya menjelang waktu subuh di Makkah. Ketika sudah subuh, beliau terlihat mengeluh-sedih dan mengerti jika sesungguhnya orang-orang akan sama-sama mendustakannya. Nabi Muhammad ﷺ duduk bersandar dan bersedih hati. Tidak lama kemudian muncullah musuh Allah SWT yaitu Abu Jahal. Abu Jahal pun mendatangi Nabi dan ikut duduk bersama beliau. Abu Jahal bertanya kepada Nabi seperti orang yang mengejek: “Apakah ada berita yang ajaib Muhammad?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab: “Iya, ada!” Abu Jahal bertanya kembali: “Berita apakah itu?” Nabi menjawabnya: “Tadi malam saya di-Isra’kan.”Abu Jahal bertanya lagi: “Kemanakah Isra’mu?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab: “Ke Baitul Maqdis.” Abu Jahal bertanya: “Sepagi inikah kamu sudah hadir di tengah-tengah kita semua?” Nabi Muhammad ﷺ menjawab: “Ya!” Abu Jahal tidak memperlihatkan kedustaanya kepada Nabi Muhammad ﷺ . Abu Jahal hawatir jika Nabi Muhammad ﷺ akan berpaling dari ucapannya sehingga Abu Jahal pun memanggilkan para kaum beliau. Abu Jahal bertanya: “Wahai Muhammad! Bagaimana pendapatmu jika aku undang kaummu? Apakah kamu berkenan untuk menceritakan kepada para kaummu apa yang telah kau ceritakan kepadaku?” Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Ya, saya mau!
” يامعشر بنى كعَب بن لُؤى هلُمُوا فانقضتْ إليه المجالس وجاؤو حتى جلسوا إليهما فقال حَدِّثْ قومَك بما حدّثاني به فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم أُسرِىَ بي الليلةَ قال إلى أين قال إلى بيت المقدس قال ثم أصبحتَ بين ظهرانِينا قال نعم فمن بين مُصَفَقٍ ومن بين واضع يده على رأسه مُتَعجِّبا وضجُوا وأعظموا ذلك فقال المُطْعِم بن عَدِى كل أمرك قبل اليوم كان أمَمًا غيرَ قولك اليومَ أنا أشهدُ أنك كاذب نحن نضرب أكبادَ الإبلِ إلى بيت المقدس مُصعِدا شهرا تَزْعَمُ أنك أتيتَه فى ليلة والّآت والعُزى لاأصدِّقك فقال أبو بكرٍ يامُطعم بِئس ماقلتَ لِإبنِ أخيك جبهتَه وكذبتِه وأنا أشهد أنه صادق فقالوا يامحمد صف لنا بيت المقدس كيف بَنَاءُه وكيف هيئَتُه وكيف قُربُه من الجبل وفى القوم من سافر إليها
Lalu Abu jahal mengundang dan mengumumkannya: “Wahai kaum keturunan Bani Ka’abbin Lu’ayin, datanglah kemari kalian semuanya!” Lantas datanglah mereka semua untuk menghadiri majelis tersebut. Orang-orang banyak yang berdatangan serta duduk di depan kursinya Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Jahal. Abu Jahal pun berkata:“Wahai Muhammad! Berceritalah kamu kepada kaummu, tentang apa yang telah kauceritakan kepadaku!” Kemudian Rasulullah ﷺ pun bercerita: “Sesungguhnya saya tadi malam telah di-Isra’kan. ” Orang banyak sama-sama bertanya: “Ke mana?” Baginda Rasulullah ﷺ Menjawab: “Ke Baitul Maqdis.” Orang-orang pun bertanya kembali: “Apa sepagi inikah kamu telah datang di tengah-tengah kita semua? ”Baginda Rasulullah ﷺ menjawab: ”Ya, benar! ”Mendengar cerita Rasulullah tersebut, kaum menjadi gaduh. Ada yang bertepuk tangan. Ada yang meletakkan tangannya di kepalanya sebab kagum. Suasana kaum menjadi gaduh. Kaum menganggapnya aneh dan sebuah peristiwa besar. Lantas Mut’im bin Adi berkata: “Wahai Muhammad! Semua ceritamu sebelumnya hanyabiasa-biasa saja dan ringan, kecuali ceritamu pada hari ini. Saya bersaksi: bahwa sesungguhnya kamu itu bohong dan seorang pembohong. Kita/saya bepergian ke Baitul Maqdis dengan mengendarai unta itu membutuhkan rentang waktu satu bulan. Apa mungkin kamu dapat sampai di Baitul Maqdis dalam rentang waktu hanya semalam? Demi Latta dan Uzza, saya tidak percaya!” Shohabat Abu Bakar berkata: “Wahai Mut’im! Sungguh hina ucapanmu kepada putra saudaramu sendiri. Kamu telah membuat malu dan mendustakan keponakanmu sendiri. Sementara itu, saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad ﷺ itu orang yang benar (saya percaya)!” Orang-orang saling bertanya: “Wahai Muhammad! Cobalah kau sifati jelaskanlah kepada kita semua tentang Baitul Maqdis. Seperti apa bangunannya? Seperti apa bentuknya? Dan berapa jarak-jauhnya dengan gunung? Sementara di dalam kumpulan kaum ini sudah ada salah seorang yang pernah pergi ke Baitul Maqdis.”
فذهب يَنْعِتُ بِنَاءُه كذا وهيئَتُه كذا وقُرْبُه من الجبل كذا فما زال يَنْعِتُه لهم حتى إلتبسَ عليه النعتُ فكرُبَ كَرَبًا ماكَرُبَ مثلَه فجِيءَ بالمسجد الحرام وهو ينظر إليه حتى وُضِع دون دارٍ عُقَيْلٍ او عُقالٍ فقالو كم للمسجد من باب ولم يكن عدَها فجعل ينظر إليها ويعُدُها باباً باباً ويُعْلِمُهم وأبوبكرٍ يقول صدقتَ أشهد أنك رسول الله فقال القوم أما النعْتُ فوالله لقد أصاب ثم قالوا لأبي بكر أفتصُدَّقُه أنه ذهب اللية إلى المقدس وجاء قبل أن يصبح قال نعم إني لأصَدِّقُه فيما هو أَبعَدُ من ذلك أُصدّقُه بخَبرِ السماء فى غَدْوَةٍ او رَوحَةٍ فلذك سُمّىَ أبوبكر الصديق ثم قالوا يامحمد أخبرني عن عِيرِنا فقال أَتيتُ ع٥ بني فلان بِالرَّوْحاءِ قد ضلُّوا ناقةً لهم فانطلقوا فى طلبها فانتَهَيْتُ إلى رجالهم وليس بها منهم أحدٌ وإذا بِقَدَحٍ ماءٍ فشربتُ منه ثم انتَهَيْتُ إلى غيرِي بنى فلان بمكان كذا وكذا وفيها جمل أحمرُ علبه غرارة بيضاء فلما حاذَيْتُ العييرَ نفرتْ وصُرِع ذلك البعير وانكسر ثم انتهيتُ إلى عيري بنى فلان فى التّنَعِيْمِ يُقْدِمُها جملٌ أَوْرقٌعليه مسَحٌ اسود وغراتان سَوْدَوَانِ وَهَا هِيَ ذِه تطلُع عليكم من الثنِيَّة قالوا فمتى تجىء قال يومُ الأربعاءِ
Lalu Nabi Muhammad ﷺ menyifati Baitul Maqdis dengan jelas kepada kaumnya. Bagunannya, bentuknya, dan jarak-jauhnya dengan gunung. Beliau menyifati dan menggambarkan semua keadaan Baitul Maqdis secara jelas kepada kaumnya. Hanya ada satu hal yang tidak beliau jelaskan yaitu tentang jumlah pintunya. Sebab itulah, hati Nabi Muhammad ﷺ menjadi sedih. Belia tidak pernah merasakan kesedihan hati seperti saat itu. Tiba-tiba beliau pun didatangkan gambar Masjid Baitul Maqdis yang terletak didekat rumah Akil bin Abi Tholib. Kaum Quraisy lalu saling bertanya: “Berapa banyakkah jumlah pintu Baitul Maqdis? ”padahal Nabi belum pernah menghitungnya. Kemudian beliau melihat dan mengamati gambar masjid serta menghitung jumlah pintunya dengan jelas. Lalu Nabi pun menjawab dan memberitahukannya kepada mereka semua. Dengan sepontan Shohabat Abu Bakar berkata: “Benar kamu ya Rasulullah. Kamu memang benar! Saya bersaksi bahwa engkaulah utusan Allah SWT.” Kaum Quraisy saling berkata kepada Abu Bakar: “Berkaitan dengan sifat-sifat masjid, Demi Allah Muhammad memang benar. Namun apakah engkau juga membenarkan jika Muhammad telah bepergian dalam kurun waktu semalam ke Baitul Maqdis? Dan telah tiba kembali di tempat ini sebelum subuh? ”Abu Bakr menjawab: “Ya, justru itu, sesungguhnya saya sangat membenarkannya. Saya juga percaya mengenai cerita Nabi Muhammad ﷺ yang naik ke langit ( Mi’raj ) dalam kurun waktu sepagi atau sesore.” Sebab itulah Abu Bakar mendapat gelar Ash-Shiddiq ( orang yang cepat percaya ). Lantas kaum Quraisy bertanya kepada Kanjeng Nabi: “Wahai Muhammad! Coba kamu ceritakan tentang rombongan unta-unta kita (yang sekarang baru bepergian ke Baitul Maqdis).” Nabi Muhammad ﷺ berkata: “Saya bertemu rombongan unta Bani Fulan di Rukhaa yang kehilangan untanya dan mereka semua saling mencarinya. Kemudian saya singgaya tidak bertemu dengan siapa-siapa. Tiba-tiba ditempat itu, saya menemukan semangkuk air. Air itu lalu saya minum. Kemudian saya juga bertemu dengan rombongan unta-unta Bani Fulan di sana-sini. Dan di tempat itu ada unta merah yang ada muatannya karug hitam dan karung putih. Ketika saya melewatinya, rombongan unta-unta itu sama-sama terkejut dan saling berlarian membuyarkan diri. Lalu saya bertemu iring-iringan rombongan orang-orang yang naik unta dari Bani Fulan di Tan’im. Unta yang terdepan berwarna kelabu yang bergaris hitam. Unta tersebut membawa dua karung. Rombongan untan-unta tersebut sebentar lagi akan tiba di sini.” Kaum Quraisy bertanya: “Kira-kira kapan rombongan unta-unta itu akan tiba? ”Kanjeng Nabi menjawab: “Hari Rabu!” .
فلما كان ذلك اليوم أشرفت قريشٌ ينظرون العير وقد ولّى النهارُ ولم تجىء فدعا النبي صلى الله عليه وسلم فزِيدَ له فى النهار ساعةً فحُسبت له الشمسُ حتى طلعت العيرُ فاستقبلوا الإبلَ فقالوا هل ضلَّ لكم بعيرٌ قالوا قالو نعم قال فاسألوا العيرالآخرَ فقالوا هل انكسر لكم ناقةٌ خمرآءُ قالوا نعم قالوا فهل كان عندكم قصعةٌ من ماء فقال رجل أنا والله وضعتُها فما شرِبَها أحدٌ منا ولا أُهْرِيْقَيْتُ فى الأرض فرموه بالسحر وقالو صدق الوُلَيْد فأنزل الله سبحانه وتعالى وماجعلنا الرؤياالتى أَرَأَيْناك إلا فتنةً للناس : إنتهت القصّة بحمد الله وعونه وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا والحمد لله رب العالمين، وترجمه باللغة الاندونيسي الفقير الراجى إلى رحمة الله الكريم عبد الغني الجزائري كيلي رجا كيلي كنتغ سومنف المدربة الشرقية والله أعلم بالصواب
Ketika hari Rabu telah tiba, kaum Quraisy sama-sama menjemput dan menunggu kedatangannya. Tidak disangka, hari Rabu pun hampir berselang, rombongan unta-unta belum juga tiba. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam lalu berdo’a-meminta kepada Allah SWT agar hari itu di tambah satu jam lagi dan matahari ditahan berhenti hingga iring-iringan unta-unta itu tiba. Lantas kaum Quraisy sama-sama menjemput rombongan unta-unta itu dan saling bertanya: “Apakah kalian kehilangan unta?” Rombongan tersebut menjawab: “Iya, benar!” Perowi hadits menceritakan: “Kaum Quraisy saling bertanya kepada rombongan unta-unta yang lain. Apa unta kalian yang berwarna merah kakinya patah?” Mereka menjawabnya: “Iya, benar!” Kaum Quraisy bertanya lagi: “Apakah di antara kalian ada yang memiliki semangkuk air?” Ada salah seorang yang menjawab: “Saya bersumpah Demi Allah, saya meletakkan semangkuk air. Tidak ada seorang pun yang mengaku meminum air itu dan juga tidaklah tumpah air itu ketanah, namun airnya habis dengan sendirinya.” Pada Akhirnya kaum Quraisy sama-sama menuduh kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan berucap:“Benar, apa kata Al-Walid!” Sebab peristiwa tersebut, Allah pun menurunkanayat: “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan ar-ru’ya ( penglihatan dan pengetahuan yang telah Kuperlihatkan ketika Isra’- Mi’raj ), kecuali hanya menjadi fitnah-ujian bagi manusia.” Berakhirlah kisah perjalanan Isra’-Mi’raj rasulullah Muhammad SAW. Segala puji bagi Allah atas segala pertolongan-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan Rahmat dan salam-Nya kepada Nabiyullah Muhammad, keluarga, dan kepada parashahabat-shahabat beliau dengan Rahmat dan Salam yang melimpah-ruah. Dan segalapuji tersebut, hanyalah milik Allah, Tuhan sekalian Alam, amin. Dan kitab ini diterjemah bahasa Indonesia oleh Al-Fakir Abd.Abd.Ghani, Al-Jazairiy Giliraja Giliginting Sumenep Madura Jawa Timur. Wallahu A’lam bisshowab.
Senin tgl 4 September 2023
. PENTERJEMAH ABD.GHANI
Deskripsi Masalah : Undang-undang perlindungan Hak Cipta Karya Ilmiyah (HAKI) telah berlaku UU No. 19 tahun 2002. untuk karya ilmiyah mutakhir ( kontemporer ) tentu dijamin oleh UU tersebut. Masalahnya, terkait kitab-kitab karya ulama salaf rata-rata pengarangnya tidak melarang siapapun menggandakan atau menerbitkannya. Oleh karenanya kaifiyat(cara) pemanfaatan karya tersebut dibenarkan sekalipun al-tahammul wa al-adaa’nya menempuh jalur al-wijadah. Di lain pihak dalam ilmu balaghah termuat istilah Badi’ Saraqah lantaran indikasi plagiat. QS. Ali Imran ayat 188 mengkritis orang yang senang memperoleh pujian bukan dari hasil ciptanya.
Pertanyaan :
Adakah pengaturan (etis) terkait karya-karya ulama salaf – khalaf yang melindungi keberadaan karangan mereka sesuai penegasan syara’ ?
Termasuk dalam transaksi apakah pembelian hak cipta, hak penerbitan dan hak penyiaran serta bagaimana hukumnya? 3.Siapakah yang berhak menentukah standar harga (قيمة ) , dan bolehkah jika diukur oleh salah satu piahak saja ?
Jawaban :
Ulama muta’akhirin sepakat melindungi hak cipta, sementara ulama salaf menghoramati perlindungan terhadap hak cipta apabila sudah diundang-undangkan sebagai kewajiban taat kepada ulil amri.
Aqadnya adalah naqlul yad, an nuzul anil wadlaif. (menugaskan orang lain untuk melakukan tanggung jawabnya)
Mekanisme penentuan qimah atau standart harga disesuaikan dengan kebiasaan dalam menilai hak cipta oleh orang-orang yang ahli , tetapi bila penentuan tsaman atau ujrah itu ditentukan oleh kedua belah pihak.
Referensi :
بغية المسترشدين – (ج 1 / ص 189)
(مسألة : ك)
: يجب امتثال أمر الإمام في كل ما له فيه ولاية كدفع زكاة المال الظاهر ، فإن لم تكن له فيه ولاية وهو من الحقوق الواجبة أو المندوبة جاز الدفع إليه والاستقلال بصرفه في مصارفه ، وإن كان المأمور به مباحاً أو مكروهاً أو حراماً لم يجب امتثال أمره فيه كما قاله (م ر) وتردد فيه في التحفة ، ثم مال إلى الوجوب في كل ما أمر به الإمام ولو محرماً لكن ظاهراً فقط ، وما عداه إن كان فيه مصلحة عامة وجب ظاهراً وباطناً وإلا فظاهراً فقط أيضاً ، والعبرة في المندوب والمباح بعقيدة المأمور ، ومعنى قولهم ظاهراً أنه لا يأثم بعدم الامتثال ، ومعنى باطناً أنه يأثم اهـ. قلت : وقال ش ق : والحاصل أنه تجب طاعة الإمام فيما أمر به ظاهراً وباطناً مما ليس بحرام أو مكروه ، فالواجب يتأكد ، والمندوب يجب ، وكذا المباح إن كان فيه مصلحة كترك شرب التنباك إذا قلنا بكراهته لأن فيه خسة بذوي الهيئات ، وقد وقع أن السلطان أمر نائبه بأن ينادي بعدم شرب الناس له في الأسواق والقهاوي ، فخالفوه وشربوا فهم العصاة ، ويحرم شربه الآن امتثالاً لأمره ، ولو أمر الإمام بشيء ثم رجع ولو قبل التلبس به لم يسقط الوجوب اهـ)
(حواشي الشرواني والعبادي – ج 6 / ص 215)
قوله: (أو أقمتك مقامي) أي ولو بمال في مقابلة ذلك فيما يظهر ويجوز للمؤثر أخذه أخذا مما ذكروه في النزول عن الوظائف بعوض وحيث وقع ذلك فلا رجوع له بعد لانه أسقط حقه اهـ
حاشية رد المحتار على الدر المختار رقم الجزء : 5 الصفحة 74
أما حق المؤلف الذي يدخل تحت عنوان قانوني جديد وهو الحق الأدبي فهو حق مصون في تقديري شرعا على أساس قاعدة الاستصلاح أو المصلحة المرسلة (وهي الأوصاف التي تلائم تصرفات الشرع ومقاصده ولكن لم يشهد لها دليل معين من الشرع بالإعتبار أو الإلغاء ويحصل من ربط الحكم بها جلب مصلحة أو دفع مفسدة عن الناس ) فكل عمل فيه مصلحة غالبة أو دفع ضررأو مفسدة يكون مطلوبا شرعا .والمؤلف قد بذل جهدا كبيرا في إعداد مؤلفه فيكون أحق الناس به سواء فيما يمثل الجانب المادي وهو الفائدة المادية التي يستفيدها من عمل أو الجانب المعنوي وهو نسبة العمل إليه ويظل هذا الحق خالصا دائما له ثم لورثته لقول النبي صلى الله عليه وسلم فيما رواه البخاري وغيره “من ترك مالا أو حقا فلورثته ” وبناء عليه يعتبر إعادة طبع الكتاب أو تصويره اعتداء على حق المؤلف أى أنه معصية موجبة للإثم شرعا وسرقة موجبة لضمان حق المؤلف قي مصادرة النسخ المطبوعة عدوانا وظلما وتعويضه عن الضرر الأدبي الذي أصابه. وذلك سواء كتب على النسخ المطوعة عبارة (حق التأليف محفوظ للمؤلف ) أم لا لأن العرف والقنون السائد اعتبر هذا الحق من جملة الحقوق الشخصية والمنافع تعد من الأموال المتقومة في رأي جمهور الفقهاء غير الحنفية لأن الأشياء أو الأعيان تقصد لمنافعها لا لذواتها والغرض الأظهر من جميع الأموال هو منفعتها كما قال شيخ الإسلام عز الدين بن عبد السلام بل أن متأخري الحنيف
ة أفتوا بضمان منافع المغصوب في ثلاثة أشياء المال الموقوف ومال اليتيم والمال المعد للاستغلال والمؤلف حينما يطبع كتابه يقصد به أمرين نشر العلم واستثمار مؤلفه ويكون لكل طبعة من طبعات الكتاب حق خاص للمؤلفه الى أن قال …… وأما حق النشر أو التوزيع فيحكمه العقد أو الاتفاق الحاصل بين المؤلف والناشر أو الموزع فيجب على طرفي الاتفاق الالتزام بمضمونه من حيث عدد النسخ المطبوعة والمدة التي يسري فيها الاتفاق والله تعالى أمر بالوفاء بالعقود { يا أيها الذين آمنوا أوفوا بالعقود } [ المائدة :1 : 5] { وأوفوا بالعهد } [الإسراء 34: 17] وبناء عليه يحرم شرعا نقض بنود الاتفاق ولايجوز للمؤلف أن يقوم بإعطاء حق النشر أو التوزيع لغير الدار التي التزم معها في مدة معينة وأما ما يقال من جهد دار التوزيع أو النشر فهذا قد استوفت الدار عوضه بما تأخذه من ربح والشهرة كانت بالرواج النابع من موضوع الكتاب لا من شكله وإخراجه فهذا له دور ثناوي بدليل أن كثيرا من الكتاب ذات إخراج بديع ولكنها تافهة لم يكتب لها الرواج كذلك لا يصح القول إن دار النشر أو التوزيع هي التي أضفت على المؤلف وكتابه شهرة فذلك قد استوفت الدار عوضه مما أخذته من نسبة مئوية عالية تفوق فعلا ما يستفيده صاحب التأليف ذاته. كذلك الترجمة ينبغي أن يكون نشرها بإذن المؤلف وباتفاق معه وحق المؤلف أو الناشر حينئذ يتجلى في المطالبة بما يحقق الكتاب من أرباح بنسبة مئوية بحسب الاتفاقات أو الأعراف الشائعة التي تعرف من مجموع اتفاقات المؤلفين الناشرين.) حق التأليف والنشر والتوزيع( والفرق بين الثمن والقيمة أن الثمن ما تراضى عليه المتعاقدان سواء زاد على القيمة أو نقص والقيمة ما قوم به الشيئ بمنزلة المعيار من غير زيادة ولانقصان. )
HUKUMNYA BERKECING SAMBIL MAKAN CAMILAN DAN MINUM SAMBIL ROKOK’AN (MEROKOK)
Deskripsi Masalah : Terkadang ada hal-hal yang tanpa diduga-duga oleh seseorang misalkan, Ketika sesorang enak makan camilan dan sambil merokok dan ngobrol mendadak perutnya sakit lalu ke WC sambil menuntaskan gamilan mengkunyahnya dan roko’an.
Pertanyaan : Bagaimana hukumnya waktu qadil-hajah (qadil hajah adalah berkencing atau Buang Air Besar sambil makan )sebagaimana deskripsi?
Jawaban : Makan atau minum makruh dilaksanakan ketika qadil-hajah (qadil hajah adalah berkencing atau Buang Air Besar). Artinya makruh ketika sedang berkencing atau buang air besar sambil makan dan minum.Sedangkan merokok adalah sebagian dari tindakan makan dan minum. Terbukti dengan adanya hukum batalnya merokok di saat puasa. Jadi menghisap rokok atau makan ketika qadil-Hajah hukumnya makruh.
Referensi :
فتح العلام -(1/539)
ولا يلتفت يمينا وشمالا ولا يعبث بيده ولا يأكل ولا يشرك ولا يستاك ولا يبزق.
شرح روض الطالب-(1/46)
ولا يتكلم الا لضرورة كالجامع فان عطس حمد بقلبه ولا ينظر الى الفرج والخارج والسماء ولا يعبث بيده
فتح الوهاب -(1/10)
وان يسكت حال قضا ء الحاجة عن ذكر غيره فالكلام عنده مكروه الا لضرورة كاندار فلو عطس حمد الله بقلبه ولا يحرك لسانه وقد روي ابن حبان وغيره خبر النبي عن التحدث على الغائط
حاشية البجيرمي على الخطيب – (6 / 440)
قوله : ( وصول دهن ) ومنه دخان لا عين فيه كالبخور ، بخلاف ما فيه عين كالدخان المشهور -الى آن قال- .وعبارة عبد البر : ومنه يؤخذ أن وصول الدخان الذي فيه رائحة البخور أو غيره إلى جوفه لا يضر وإن تعمد فتح فيه لذلك ؛ لأنه ليس عينا ، أي في العرف ، وأما الدخان الحادث الآن المسمى بالنتن لعن الله من أحدثه فإنه من البدع القبيحة ، فقد أفتى شيخنا الزيادي أولا بأنه لا يفطر لأنه إذ ذاك لم يكن يعرف حقيقته ، فلما رأى أثره بالبوصة التي يشرب بها رجع وأفتى بأنه يفطر