logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

BATASAN UMUR ANAK HARUS DIPISAH TEMPAT TIDURNYA DENGAN ORANG TUANYA

BATASAN UMUR ANAK HARUS DIPISAH TEMPAT TIDURNYA DENGAN ORANG TUANYA

Deskripsi masalah

Anak merupakan anugerah dari Allah kepada manusia yang dikehendakinya, berarti tidak setiap manusia yang berkeluarga itu punya keturunan , jika Allah tidak menghendakinya. Oleh karena itu manusia hanya berusaha , sedangkan pemberi mutlak adalah Allah subhanahu wa ta’ala baik pemberian itu berupa anak perempuan ataupun anak laki-laki.

لله ملك السموات والأرض يخلق مايشاء ويهب لمن يشاء إناثا ويهب لمن يشاء الذكور

Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, (QS. Asy-Syura: 49).
Dari ayat tersebut jelas bahwa anak perempuan maupun laki itu ada anugerah Allah yang diberikan kepada orang dikehendakinya. Artinya jika seorang ingin punya anak laki dan sudah ikhtiar tapi diberi perempuan maka harus diterima begitu juga sebaliknya, dan orang tidak dikaruniai anak, haruslah menerima, dan yang dikaruniai haruslah bersyukur karena anak merupakan nikmat ( anugerah ) dari Allah, selain itu anak adalah amanah, dimana setiap orang tua punya kewajiban- kewajiban ( tanggung jawab ) yang harus dilaksanakan sehingga nantinya diharapkan anak mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah yang menjadi pertanyaan.

Pertanyaanya:
Apa termasuk kewajiban orang tua memisahkan anak kecil dari tempat tidurnya bersamanya ?.. lalu kapan itu harus terjadi?
Kalau bisa mohon jelaskan kewajiban- kewajiban orang tua terhadap anak..?

Waalaikum salam.

Jawaban.
Kewajiban orang tua terhadap anak adalah mendidik dengan pendidikan ilmu pendidikan agama islam seperti Akidah akhlak dan dll.

قال علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – علموا أولادكم فإنهم مخلوقون لزمان غير زمانكم 

“Didiklah anak-anakmu itu, karena sesungguhnya mereka diciptakan pada satu zaman selain masamu ( untuk mengisi masa depan bukan masamu”)

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ :  قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  اَدِّبُوْا اَوْلَادَكُمْ عَلَى ثَلَاثِ خِصَالٍ : حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ اَهْلِ بَيْتِهِ وَ قِرَأَةُ الْقُرْأَنِ فَإِنَّ حَمْلَةَ الْقُرْأَنُ فِيْ ظِلِّ اللهِ يَوْمَ لَا ظِلٌّ ظِلَّهُ مَعَ اَنْبِيَائِهِ وَاَصْفِيَائِهِ

Dari Ali R.A ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Didiklah anak-anak kalian dengan tiga macam perkara yaitu mencintai Nabi kalian dan keluarganya serta membaca Al-Qur’an, karena sesungguhnya orang yang menjunjung tinggi Al-Qur’an akan berada di bawah lindungan Allah, diwaktu tidak ada lindungan selain lindungan-Nya bersama para Nabi dan kekasihnya” (H.R Ad-Dailami)

Selain itu orang tua punya kewajiban memerintah anak untuk melakukan sholat ketika berumur tujuh tahun dan wajib memukulnya ketika tidak melakukan sholat pada umur 10 tahun, dan termasuk kewajiban orang tua adalah memisah kan tempat tidurnya dengan orang tuanya, kapan itu? Yaitu ketika sudah memasuki mumayyiz dan baligh. Sebagaimana keterangan hadits berikut:

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka (jika tidak melaksanakan shalat) saat mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur di antara mereka” (HR Abu Daud).
Berdasarkan hadits ini, para ulama berpandangan bahwa tempat tidur anak harus dipisah, baik dengan orang tua ataupun saudaranya, tatkala anak sudah menginjak tamyiz dan usia sepuluh tahun. Kewajiban ini selain berlandaskan dalil hadits di atas, juga dimaksudkan agar menjauhi prasangka buruk (mawadhi’ at-tuham) serta agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebab usia sepuluh tahun merupakan usia-usia mulai munculnya syahwat (madzinnah as-syahwat). Kewajiban memisah ranjang ini salah satunya dijelaskan sebagaimana berikut:

موسو عة الحديث

وفي هذا الحَديثِ يَقولُ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: “إذا بلَغَ أولادُكم سبْعَ سِنينَ، ففَرِّقُوا بين فُرشِهم”، أي: إذا بَلَغوا سِنَّ السَّابعةِ يُفرَّقُ بين الأولادِ بصِفةٍ عامَّةٍ، وبين الذُّكورِ والإناثِ بصِفةٍ خاصَّةٍ في النَّومِ بجانبِ بعضِهم البعضِ، ويُفْصَلُ بينَهم؛ وهو سِنُّ مَظِنَّةِ التَّمييزِ عندَ الطِّفلِ، حتَّى إذا وصَلوا إلى سِنِّ البُلوغِ والشَّهوةِ يَكونونَ قَدِ اعْتادوا على هذا الفَصْلِ، والْمُرادُ بالفُرشِ: أماكِنُ النَّومِ، “وإذا بلَغُوا عشْرَ سِنينَ فاضْرِبُوهم على الصَّلاةِ”، أي: إذا بَلَغَ الطِّفْلُ عَشْرَ سِنينَ أُلْزِمَ بالصَّلاةِ الَّتي ظَلَّ ثلاثَ سنَواتٍ يتَدرَّبُ عليها كما في روايةِ أبي داودَ مِن حديثِ عبدِ اللهِ بنِ عمرٍو رضِيَ اللهُ عنهما: “مُرُوا أولادَكم بالصَّلاةِ وهم أبناءُ سبْعِ سِنينَ، واضْرِبوهم عليها وهم أبناءُ عشْرٍ”، فإذا قَصَّر في الصَّلاةِ بَعْدَ هذه السِّنِّ ضُرِبَ وعُوقِبَ حتَّى يعتادَ على أدائِها، فإذا ما دَخَل وقتُ التَّكليفِ يكونونَ قد اعْتادوا عليها دونَ أَدْنى تَفريطٍ مِنْهم في تِلْكَ العِبادةِ.
وفي الحديثِ: بيانُ عِظَمِ قَدْرِ الصَّلاةِ والاهتمامِ بها، ومشروعيَّةُ ضَرْبِ الأبناءِ على التَّقصيرِ في الصَّلاةِ عِنْدَ بُلوغِهم سِنَّ العاشِرةِ. وفيه: الحثُّ على تَعليمِ الأولادِ ما يَنفعُهم ويُصلِحُهم، والحثُّ على سَدِّ كلِّ ذَرائعِ الفِتنةِ بينَ الذُّكورِ والإناثِ.

kitab Kifayah al-Akhyar:

يحرم على الرجل أَن يضاجع الرجل وَكَذَا يحرم على الْمَرْأَة أَن تضاجع الْمَرْأَة فِي فرَاش وَاحِد وَإِن كَانَ كل وَاحِد مِنْهُمَا فِي جَانب الْفراش كَذَا أطلقهُ الرَّافِعِيّ وَتَبعهُ النَّوَوِيّ على ذَلِك فِي الرَّوْضَة وَقيد النَّوَوِيّ التَّحْرِيم فِي شرح مُسلم بِمَا إِذا كَانَا عاريين وَهَذَا الْقَيْد صرح بِهِ القَاضِي حُسَيْن والهروي وَغَيرهمَا وَقد ورد فِي بعض الرِّوَايَات ذَلِك وَإِذا بلغ الصَّبِي والصبية عشر سِنِين وَجب التَّفْرِيق بَينه وَبَين امهِ وَأَبِيهِ وَأُخْته وأخيه فِي المضجع للنصوص الْوَارِدَة فِي ذَلِك وَالله أعلم “

Haram bagi seorang laki-laki tidur seranjang dengan laki-laki yang lain, begitu juga bagi perempuan haram tidur satu ranjang dengan perempuan yang lain, meskipun masing-masing dari mereka berada di sisi ranjang yang lain, seperti yang dimutlakkan oleh Imam ar-Rafi’i dan diikuti oleh Imam an-Nawawi dalam kitab ar-Raudhah, sedangkan dalam kitab Syarah Muslim, Imam an-Nawawi membatasi keharaman tersebut ketika mereka dalam keadaan telanjang. Batasan demikian sama halnya yang ditegaskan oleh Qadli Husein, al-Harawi dan ulama lainnya. Pembatasan demikian juga terdapat dalam sebagian riwayat. Dan ketika anak kecil laki-laki dan perempuan telah menginjak usia sepuluh tahun, maka wajib untuk memisahkan mereka dengan ibu, bapak, saudara laki-laki, dan perempuannya dengan ranjang yang berbeda, sebab terdapat dalil nash yang menyebutkan hal ini. Wallahu a’lam” (Abu Bakar bin Muhammad al-Husaini, Kifayah al-Akhyar, hal. 354) Meski demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa kewajiban memisahkan tempat tidur anak tidak dimulai dari usia sepuluh tahun, melainkan sejak anak menginjak usia tujuh tahun. Pendapat ini salah satunya diusung oleh Imam az-Zarkasyi dengan berpijak pada dalil hadits yang lain yang menyebutkan usia tujuh tahun sebagai pijakan utama dalam pemisahan tempat tidur anak. Berikut penjelasan mengenai hal ini:

وَمَا ذَكَرَهُ مِنْ اعْتِبَارِ الْعَشْرِ فِي التَّفْرِيقِ نَازَعَ فِيهِ الزَّرْكَشِيُّ وَغَيْرُهُ فَقَالُوا بَلْ الْمُعْتَبَرُ السَّبْعُ لِخَبَرِ «إذَا بَلَغَ أَوْلَادُكُمْ سَبْعَ سِنِينَ فَفَرِّقُوا بَيْنَ فُرُشِهِمْ» رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ إنَّهُ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ قَوْلَهُ فِي الْخَبَرِ الْمَشْهُورِ «وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ» رَاجِعٌ إلَى أَبْنَاءِ سَبْعٍ وَأَبْنَاءِ عَشْرٍ جَمِيعًا “

Hal yang dijelaskan berupa penetapan umur sepuluh tahun sebagai pijakan wajibnya memisah ranjang, ditentang oleh imam az-Zarkasyi dan ulama yang lain. Mereka berpendapat bahwa yang menjadi pijakan adalah umur tujuh tahun, berdasarkan hadits “jika anak kalian telah berumur tujuh tahun, maka pisahlah ranjang tidur mereka” hadits riwayat imam Daruquthni dan imam Hakim, hadits ini adalah hadits shahih berdasarkan syarat kualifikasi Imam Muslim. Hadits ini menunjukkan bahwa sabda Nabi dalam hadits yang masyhur “Pisahlah ranjang di antara mereka” berlaku bagi anak berumur tujuh sekaligus sepuluh tahun” (Syekh Zakaria al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 3, hal.113) Namun penetapan usia tujuh tahun dalam pemisahan tempat tidur anak, rupanya dipandang sebagai pendapat yang lemah oleh para ulama, dan hadits yang menyebut perintah memisahkan tempat tidur anak saat menginjak usia tujuh tahun diarahkan hanya bersifat anjuran (sunnah) tidak sampai mengarah pada hukum wajib. Sedangkan maksud memisahkan tempat tidur antara anak dan orang tua, dapat mengarah pada dua cara. Pertama, memisah tempat tidur dengan memiliki tempat tidur sendiri-sendiri bagi anak dan orang tua. Kedua, tempat tidur cukup satu tempat atau satu ruangan, namun masing-masing anak dan orang tua berada di tempat yang terpisah dan tidak saling berdekatan. Masing-masing dari dua cara dalam memisahkan anak dan orang tua dalam tempat tidur sama-sama dapat dijadikan pijakan dan diamalkan, meski yang paling utama adalah mengikuti cara pertama, sebab cara tersebut merupakan cara yang paling hati-hati (al-ahwath). Kedua cara ini terangkum dalam kitab Hasyiyah ar-Ramli al-Kabir berikut:

ـ (قَوْلُهُ وَيَجِبُ التَّفْرِيقُ إلَخْ) قِيلَ التَّفْرِيقُ فِي الْمَضَاجِعِ يَصْدُقُ بِطَرِيقَيْنِ أَنْ يَكُونَ لِكُلٍّ مِنْهُمَا فِرَاشٌ وَأَنْ يَكُونَا فِي فِرَاشٍ وَاحِدٍ وَلَكِنْ مُتَفَرِّقَيْنِ غَيْرَ مُتَلَاصِقَيْنِ وَيَنْبَغِي الِاكْتِفَاءُ بِالثَّانِي؛ لِأَنَّهُ لَا دَلِيلَ عَلَى حَمْلِ الْحَدِيثِ عَلَى الْأَوَّلِ وَحْدَهُ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ حَمْلُهُ عَلَيْهِ هُوَ الظَّاهِرُ بَلْ هُوَ الصَّوَابُ لِلْحَدِيثِ السَّابِقِ فَرَّقُوا بَيْنَ فُرُشِهِمْ مَعَ تَأْيِيدِهِ بِالْمَعْنَى وَهُوَ خَوْفُ الْمَحْذُورِ “

Maksud dari memisah ranjang bias mencakup dua cara. Pertama, masing-masing dari keduanya (anak dan orang tua) memiliki tempat tidur tersendiri. Kedua, mereka berdua berada dalam satu tempat tidur, namun terpisah dan tidak saling menempel atau berdekatan. Hendaknya bentuk memisah ranjang ini dicukupkan dengan cara kedua, sebab tidak ada dalil yang mengarahkan hadits pada pemaknaan cara pertama saja. Imam az-Zarkasyi berkata: mengarahkan hadits pada cara pertama adalah makna yang dhahir bahkan merupakan makna yang benar, berdasarkan hadits ‘Pisahlah di antara ranjang mereka’ besertaan kuatnya cara pertama ini terhadap makna, yakni khawatir terjadinya hal yang ditakutkan” (Syihabuddin ar-Ramli, Hasyiyah ar-Ramli al-Kabir ‘ala Asna al-Mathalib, juz 3, hal. 113) Walhasil, memisah tempat tidur anak dengan orang tua adalah hal yang wajib saat anak sudah menginjak usia sepuluh tahun. Pendapat yang lain menyebutkan pemisahan ranjang ini dimulai saat anak berusia tujuh tahun. Dalam praktiknya, sebaiknya orang tua senantiasa bijak dan memperhatikan sarana dan prasarana yang tersedia dalam rumahnya, jika ruangan rumah hanya terbatas dan tidak memungkinkan untuk dipisah dengan kamar yang lain, maka boleh bagi orang tua untuk mengikuti cara kedua dalam memisah tempat tidur anak dengan sekiranya tidur anak dan orang tua tidak berdekatan dan menempel, meski masih dalam satu ruangan yang sama. Di samping menyiapkan suasana baru bagi anak yang beranjak kian dewasa, memisahkan tempat tidur juga bagian dari ikhtiar membentuk pribadi anak untuk lebih mandiri. Dengan tidur sendiri, apalagi bila punya kamar sendiri, anak dilatih untuk bertanggung jawab atas dirinya dan ruangannya tanpa mesti selalu bergantung pada orang tua.
Berikut keterangan lengkap dalam kitab mausu’ah al-fiqhiyah al-Quwaitiyah

الموسوعة الفقهية – 4087/31949

ثانيا: الحقوق التي تتساوى فيها مع الرجل:
تتساوى المرأة والرجل في كثير من الحقوق العامة مع التقييد في بعض الفروع بما يتلاءم مع طبيعتها.
وفيما يأتي بعض هذه الحقوق:

أ – حق التعليم:
9 – للمرأة حق التعليم مثل الرجل: فقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم (3) . وهو يصدق على المسلمة أيضا، فقد قال الحافظ السخاوي: قد ألحق بعض المصنفين بآخر هذا الحديث (ومسلمة) وليس لها ذكر في شيء من طرقه وإن كان معناها صحيحا. (4) وقال النبي صلى الله عليه وسلم: من كانت له بنت فأدبها فأحسن أدبها، وعلمها فأحسن تعليمها، وأسبغ عليها من نعم الله التي أسبغ عليه كانت له سترا أو حجابا من النار. (1) وقد كان النساء في زمن النبي صلى الله عليه وسلم يسعين إلى العلم. روى البخاري عن أبي سعيد الخدري قال: قالت النساء للنبي صلى الله عليه وسلم: غلبنا عليك الرجال فاجعل لنا يوما من نفسك، فواعدهن يوما لقيهن فيه فوعظهن وأمرهن (2) . وعن عائشة رضي الله تعالى عنها قالت: نعم النساء نساء الأنصار لم يمنعهن الحياء أن يتفقهن في الدين (3) .
وقال النبي صلى الله عليه وسلم: مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهن عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع. (4)
قال النووي: والحديث يتناول بمنطوقه الصبي والصبية، وأنه لا فرق بينهما بلا خلاف، ثم قال النووي: قال الشافعي والأصحاب رحمهم الله تعالى: على الآباء والأمهات تعليم أولادهم الصغار الطهارة والصلاة والصوم ونحوها، وتعليمهم تحريم الزنى واللواط والسرقة، وشرب المسكر والكذب والغيبة وشبهها، وأنهم بالبلوغ يدخلون في التكليف، وهذا التعليم واجب على الصحيح، وأجرة التعليم تكون في مال الصبي، فإن لم يكن له مال فعلى من تلزمه نفقته، وقد جعل الشافعي والأصحاب للأم مدخلا في وجوب التعليم؛ لكونه من التربية وهي واجبة عليها كالنفقة (1) .
ومن العلوم غير الشرعية ما يعتبر ضرورة بالنسبة للأنثى كطب النساء حتى لا يطلع الرجال على عورات النساء. جاء في الفتاوى الهندية: امرأة أصابتها قرحة في موضع لا يحل للرجل أن ينظر إليه، لا يحل أن ينظر إليها، لكن يعلم امرأة تداويها، فإن لم يجدوا امرأة تداويها ولا امرأة تتعلم ذلك إذا علمت، وخيف عليها البلاء أو الوجع أو الهلاك فإنه يستر منها كل شيء إلا موضع تلك القرحة، ثم يداويها الرجل، ويغض بصره ما استطاع إلا عن ذلك الموضع. (2)
10 – وإذن، فلا خلاف في مشروعية تعليم الأنثى. لكن في الحدود التي لا مخالفة فيها للشرع وذلك من النواحي الآتية:
أ – أن تحذر الاختلاط بالشباب في قاعات الدرس، فلا تجلس المرأة بجانب الرجل، فقد جعل النبي صلى الله عليه وسلم للنساء يوما غير يوم الرجال يعظهن فيه. بل حتى في العبادة لا يخالطن الرجال، بل يكن في ناحية منهم يستمعن إلى الوعظ ويؤدين الصلاة، ولا يجب استحداث مكان خاص لصلاتهن، أو إقامة حاجز بين صفوفهن وصفوف الرجال.
ب – أن تكون محتشمة غير متبرجة بزينتها لقول الله تعالى: {ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها} (1) وفي اتباع ذلك ما يمنع من الفتنة ومن إشاعة الفساد (2) .

ب – أهليتها للتكاليف الشرعية:

11 – المرأة أهل للتكاليف الشرعية مثل الرجل، وولي أمرها مطالب بأمرها بأداء العبادات، وتعليمها لها منذ الصغر؛ لما جاء في قول النبي صلى الله عليه وسلم مروا اولاد كم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهن عليها وهم أبناء عشر، وفرقوا بينهم في المضاجع (3) والحديث يتناول الأنثى بلا خلاف كما قال النووي (4) .وهي بعد البلوغ مكلفة بالعبادات من صلاة وصوم وزكاة وحج، وليس لأحد – زوج أو غيره – منعها من أداء الفرائض. فجملة العقائد والعبادات والأخلاق والأحكام التي شرعها الله للإنسان يستوي في التكليف بها والجزاء عليها الذكر والأنثى. (5)

يقول الله تعالى: {من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم أجرهم بأحسن ما كانوا يعملون} (1) . ويؤكد الله سبحانه وتعالى هذا المعنى في قوله: {إن المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات والقانتين والقانتات والصادقين والصادقات والصابرين والصابرات والخاشعين والخاشعات والمتصدقين والمتصدقات والصائمين والصائمات والحافظين فروجهم والحافظات والذاكرين الله كثيرا والذاكرات أعد الله لهم مغفرة وأجرا عظيما} (2) ويروى في سبب نزول هذه الآية أن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال النساء للنبي صلى الله عليه وسلم ما له يذكر المؤمنين ولا يذكر المؤمنات، فنزلت. وعن أم سلمة أنها قالت: قلت يا رسول الله: أيذكر الرجال في كل شيء ولا نذكر؟ ، فنزلت هذه الآية. (3) وفي استجابة الله تعالى لسؤال المؤمنين قال: {فاستجاب لهم ربهم أني لا أضيع عمل عامل منكم من ذكر أو أنثى بعضكم من بعض} . (4)
ولقد روي في سبب نزولها ما روي في سبب نزول الآية السابقة، ويقول ابن كثير: {بعضكم من بعض} أي جميعكم في ثوابي سواء. وبين الله سبحانه وتعالى أن الذي يؤذي المؤمنات هو في الإثم كمن يؤذي المؤمنين، يقول الله تعالى:{والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وإثما مبينا} (1) .وهي مطالبة بالأمر بالمعروف والنهي عن المنكر كالرجل، يقول الله تعالى: {والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض يأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويقيمون الصلاة ويؤتون الزكاة ويطيعون الله ورسوله أولئك سيرحمهم الله إن الله عزيز حكيم} . (2)والجهاد كذلك يتعين على المرأة إذا هاجم العدو البلاد. يقول الفقهاء: إذا غشي العدو محلة قوم كان الجهاد فرض عين على الجميع ذكورا وإناثا وتخرج المرأة بغير إذن الزوج؛ لأن حق الزوج لا يظهر في مقابلة فرض العين. (3)وقد خفف الله عنها في العبادات في فترات تعبها من الحيض والحمل والنفاس والرضاع. وتنظر الأحكام الخاصة بذلك في (حيض، حمل، نفاس، رضاع) .والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENARIK BIAYA KIRIM FATIHAH DAN DO’A UNTUK ARWAH PADA ACARA KHOTMILQUR’AN DAN TAHLIL QUBRO

HUKUM MENARIK BIAYA KIRIM FTIHAH DAN DOA UNTUK ARWAH PADA ACARA KHOTMIL QUR’AN DAN TAHLIL KUBRO

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum.

Deskripsi masalah

Sudah lumrah disebagian masyarakat ketika mengadakan khomil Qur’an dan tahlil Qubaro baik kegiatan tersebut digagas oleh lembaga sekolah atau organisasi NU. Ketika acara akan dilaksanakan berkisar 1 bulan mereka ( Panitia/Anggota ) menarik biaya kirim fatihah dan do’a dengan tarif 10000 persatu orang ahli kubur, selanjutnya hasil dari uang tersebuat ada kalanya untuk yang membaca dan sebagian untuk pembangunan gedung keagamaan. Misalkan untuk madrasah , Kantor NU dll.

Pertanyaannya.

Apa hukumnya kalau dalam tahlil kubro / acara acara tahlilan di pengajian untuk pengiriman doa setiap arwah nya diberi (dimintai) jumlah nominal uang yang harus diberikan (contoh 1 arwah Rp.10000), mohon penjelasan nya, makasih.

Wa’alaikumussalam.

Jawaban:

Hukumnya boleh / sah. Persoalan perolehan biaya tersebut ada dua cara.

  1. Yang disewa boleh mengambilnya karena Haknya
  2. Boleh disedekahkan oleh panitia untuk pembangunan keagamaan atas Nama Mayit karena mayit memang butuh kebaikan dan do’a dari orang yang hidup, bila memenuhi salah satu diantara 4 :

Dibaca di samping kuburannya

Tidak dibaca di samping kuburan akan tetapi disertai do’a setelah membacanya bahwa pahalanya dihadiahkan pada mayit tersebut.

Tidak dibaca di samping kuburan akan tetapi disertai do’a setelah membacanya bahwa pahalanya dihadiahkan pada mayit tersebut.

Atau dibaca serta disebut / diniatkan dalam hati. Wallohu a’lam.

Referensi :

.إعانة الطالبين ٣/١١٢-١١٣

.قال شيخنا في شرح المنهاج يصح الإستئجار لقرأة القرأن عند القبر أو مع الدعاء بمثل ما حصل له من الأجر له أو لغيره عقبها عين زمانا أو مكانا أولا ونية الثواب له من غير دعاء له لغو خلافا لجمع أى قالوا أنه ليس بلغو فعليه تصح الإجارة ويستحق الأجرة وان اختار السبكي ما قالوه عبارة شرح الروض بعد كلام قال السبكي تبعا لابن الرفعة بعد حمله كلامهم على ما اذا نوى القارئ أن يكون ثواب قرأته للميت بغير دعاء على أن الذي دل عليه الخبر بالإستنباط أن بعض القرأن اذا قصد به نفع الميت نفعه إذ قد ثبت أن القارئ لما قصد بقرأته الملدوع نفعه.حاصل ما ذكره أربع صور إن كان قوله الأتي ومع ذكره في القلب صورة مستقلة وهي القرأة عند القبر والقرأة لا عنده لكن مع الدعاء عقبها والقرأة بحضرة المستأجر والقرأة مع ذكره في القلب وخرج بذلك القرأة لا مع أحد هذه الأربعة فلا يصح الإستئجار لها

بغية المسترشدين ص 165

(مسألة: ي):

يصح الاستئجار لكل ما لا تجب له نية عبادة كان، كأذان وتعليم قرآن وإن تعين، وتجهيز ميت أولا كغيره من العلوم تدريساً وإعادة، بشرط تعيين المتعلم والقدر المتعلم من العلم، وكالاصطياد ونحوه لا القضاء والإمامة ولو في نفل، فما يعطاه الإمام على ذلك فمن باب الأرزاق والمسامحة، فلو امتنع المعطي من إعطاء ما قرره لم تجز له المطالبة به ولا لعقد نكاح كالجعالة عليه، ويحرم اشتراط الأجرة عليه من غير عقد، بل هو من أكل أموال الناس بالباطل، نعم إن أهدى نحو الزوج للملفظ شيئاً جاز قبوله إن لم يشترطه، وعلم الدافع عدم وجوبه عليه. 

دقائق الأخبار .

ياوارثي ماجمعت مالاكثرا من الدنيا إلاتركته لكم فتذكروني بكثرة خيركم وقد علمتكم القرآن والأدب فلاتنسوني من دعائكم

Ungkapan Mayit “Wahai ahli warisku, tidaklah aku kumpulkan harta yang banyak kecuali aku tinggalkan untuk kalian. Maka ingatlah kepadaku dengan memperbanyak amal baik, karena Al-Quran telah mengajari kalian berbagai sopan santun dan janganlah kalian lupa mendoakanku.

مجموع الفتاوى لابن تيمية ٢٤/١٦٥


{ وسئل }
عن قرآءة أهل الميت تصل إليه ؟ والتسبيح والتحميد والتهليل والتكبير إذا أهداه إلى الميت يصل إليه ثوابها أم لا..؟
[ فأجاب ]
يصل إلى الميت قرآءة أهله وتسبيحهم وتكبيرهم وسائر ذكرهم لله تعالى إذا أهدوه إلى الميت وصل إليه والله أعلم بالصواب


Ibnu Taimiyah ditanya mengenai bacaan keluarga mayit yang terdiri dari tasbih,tahmid, tahlil dan takbir , apabila mereka menghadiahkan kepada mayit apakah pahalanya bisa sampai atau tidak..? Ibnu Taimiyyah menjawab bacaan keluarga mayit bisa sampai, baik tasbihnya takbirnya dan semua zikirnya, karena Allah SWT.Apabila mereka menghadiahkan kepada mayit maka akan sampai kepadanya.

قال الإمام القرطبي رحمه الله وقد أجمع العلماء على وصول ثواب الصدقة للأموات فكذلك القول فى قرآءة القرآن والدعاء والاستغفار إذ كل صدقة بدليل قوله عليه الصلاة والسلام كل معروف صدقة ( رواه البخارى )فلم يخص الصدقة بالمال ( مختصر تذكرة القرطبي:٢٥ )

Al-Qurthubi berkata :” Ulama sepakat sampainya pahala sedekah kepada orang-orang yang mati, begitu pula dalam masalah membaca al-Qur’an , do’a dan istighfar , sebab semuanya itu adalah sedekah, berdasarkan sabda Nabi SAW ” Setiap kebaikan adalah sedekah “.( HR.Al-Bukhari dan Muslim ), maka Nabi Tidak mengkhususkan sedekah dengan harta saja.( Mukhtashor tadzkiroh al-Qurthubiy : 25 )
Wallahu A’lam bisshowab

Kategori
Uncategorized

DONASI WALIMAH,BISNIS YANG LARIS MANIS

DONASI WALIMAH, TREND BISNIS YANG LARIS MANIS

Assalamualaikum

Deskripsi Masalah

Ekonomi sulit, hutang melilit namun gaya hidup masih saja terlihat elit. Salah satu trend yang kini populer di kalangan Masyarakat, khususnya saat acara- acara walimah, tasyakuran dan semacamnya. Baik kaya ataupun miskin, banyak yang berlomba-lomba mendonasikan harta yang mereka punya sebagai aset yang bisa mereka tarik saat mereka sendiri mengadakan acara dan seremonial tertentu.. Diantara transaksi yang paling sering dilakukan adalah model donasi rokok, dimana shohibul hajah mengundang yang disertai penghargaan rokok ( undangan ditempelkan dirokok) donatur akan memberikan uang dengan syarat pencatatan hutang berupa rokok dan pada saatnya nanti akan dituntut pengembalian hutang dalam bentuk uang seharga nilai rokok saat dikembalikan ( jika harga rokok naik maka harus mengembalikan lebih ) Transaksi kedua, berupa donasi beras, dimana pihak donatur akan menyumbangkan uang seharga ukuran beras tertentu dengan sistem pencatatan berupa beras, dan pada saatnya nanti akan dituntut dengan pengembalian seharga nilai beras jika harga beras mengalami kenaikan, atau pengembalian sebesar modal donasi jika harga beras mengalami penurunan. Artinya rialita sebagian dimasyarakat, seorang menyumbang uang diakad dengan harga beras, misalkan 25 kelu grm harga beras Rp 300 dia harus mengembalikan uangnya sebesar 300 jika tidak ada kenaikan sedang jika pengembalian nanti ada kenaikan harga beras 25 kelu gr. Rp.350 maka yang disumbang harus mengembalikan uang Rp.350, Tetapi jika ada penurunan harga maka tidak ikut, misalkan yang harga Rp.300 turun harganya menjadi Rp. 250 maka tidak ikut mengembalikan uang seharga 250 melaikan harus seharga Rp 300. Artinya jika naik harga beras maka pengembalian ikut tetapi jika turun harga beras pengembalian tidak ikut:

Di sisi yang lain, kalangan masyarakat yang benar-benar tidak mampu atau enggan ikut campur dalam hiruk pikuk lingkaran hutang semacam itu hanya ikut menyumbang ala kadarnya. Namun seringkali mereka harus dihadapkan dengan dilema, lantaran sumbangan yang sedikit itu biasa dianggap sebagai pemberian cuma-cuma, sementara undangan walimah-an kadung menumpuk. Jika mereka hadir, maka akan bertambah biaya yang harus dikeluarkan, jika tidak hadir maka loyalitas dan harga diri yang akan dipertanyakan.

Pertanyaan

  1. Sahkan transaksi dengan model-model sebagaimana deskripsi diatas?
  2. Apakah termasuk kategori ribawi?
  3. Halalkah donasi dan juga pembayaran yang diterima masing-masing pelaku?
  4. Bagaimana hukum mengadakan walimah terkait realita transaksi dan dilema yang dihadapi masyarakat?

Wa alaikumussalam.

Jawaban: 1️⃣

Transaksi yang pertama ditafsil:

🅰️Transaksinya sah dan termasuk akad hibah atau qordu, bergantung urf dimasing-masing daerah dengan cacatan pengembalian tanpa syarat ,yaitu orang yang diundang memberikan uang kepada sohibul hajat ( orang yang mengadakan walimatul arus/selamatan penganten) atau kepada orang yang diberi idzin oleh sohibul hajat. Apakah termasuk hibah atau hutang.Menurut sebagian ulama bahwa hal itu termasuk hibah.Tapi menurut ulama lain bahwa hal itu termasuk hutang, Jiika orang yang diundang berkata kepada sohibul hajat:Ambillah uang ini,dan orang yang diundang itu berniat menghutangkan.Maka sohibul hajat wajib mengembalikan uang itu kepada orang yang diundang. Tapi jika orang yang diundang memberikan uang kepada sohibul hajat, sedangkan hal tersebut tidak menjadi kebiasaan terjadinya sohibul hajat mengembalikan uang kepada orang yang diundang, maka hukumnya orang yang diundang memberikan uang kepada sohibul hajat itu dihukumi hibah.

البكري الدمياطي ,إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين  ج ٣ ص ٥٨
قال شيخنا والأوجه فى النقوط المعتاد فى الأفراح أنه هبة لا قرض وإن اعتيد رد مثله .
(قوله : تمليك شيء على أن يرد مثله) وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِي زَمَانِنَا مِنْ دَفْعِ النُّقُوطِ فِي الْأَفْرَاحِ لِصَاحِبِ الْفَرَحِ فِي يَدِهِ أَوْ يَدِ مَأْذُونِهِ هَلْ يَكُونُ هِبَةً أَوْ قَرْضًا أَطْلَقَ الثَّانِيَ جَمْعٌ وَجَرَى عَلَى الْأَوَّلِ بَعْضُهُمْ قَالَ وَلَا أَثَرَ لِلْعُرْفِ فِيهِ لِاضْطِرَابِهِ مَا لَمْ يَقُلْ خُذْهُ مَثَلًا وَيَنْوِي الْقَرْضَ وَيُصَدَّقُ فِي نِيَّةِ ذَلِكَ هُوَ وَوَارِثُهُ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ إطْلَاقُ مَنْ قَالَ بِالثَّانِي وَجَمَعَ بَعْضُهُمْ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ الْأَوَّلِ عَلَى مَا إذَا لَمْ يُعْتَدْ الرُّجُوعُ وَيَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْمِقْدَارِ وَالْبِلَادِ وَالثَّانِي عَلَى مَا إذَا اُعْتِيدَ وَحَيْثُ عُلِمَ اخْتِلَافٌ تَعَيَّنَ مَاذُكِرَ شَرْحُ م ر بحروفه

🅱️ Tansaksi tidak sah karena Qordu dianggap rusak disebabkan bersyarat ( harus mengembalikan sesuai dengan harga rokok, artinya jika harga rokok naik maka harus mengembalikan lebih, seuai dengan harga rokok, maka lebihnya termasuk riba karena disebutkan pada akad . كل قرض جر منفعة فهو ربا :” Setiap pinjaman hutang yang menarik keuntungan maka termasuk riba. Kecuali tidak disebutkan dalam akad maka hukumnya boleh membayar lebih.

الموسوعة الفقهية – 21038/31949

و اشتراط الزيادة للمقرض:
– لا خلاف بين الفقهاء في أن اشتراط الزيادة في بدل القرض للمقرض مفسد لعقد القرض، سواء أكانت الزيادة في القدر، بأن يرد المقترض أكثر مما أخذ من جنسه، أو بأن يزيده هدية من مال آخر، أو كانت في الصفة، بأن يرد المقترض أجود مما أخذ، وإن هذه الزيادة تعد من قبيل الربا (1) .
قال ابن عبد البر: وكل زيادة في سلف أو منفعة ينتفع بها المسلف فهي ربا، ولو كانت قبضة من علف، وذلك حرام إن كان بشرط (2) ، وقال ابن المنذر: أجمعوا على أن المسلف إذا شرط على المستسلف زيادة أو هدية، فأسلف على ذلك، أن أخذ الزيادة على ذلك ربا (3) .
واستدلوا على ذلك: بما روي من النهي عن كل قرض جر نفعا (4) أي للمقرض. وبأن موضوع عقد القرض الإرفاق والقربة، فإذا شرط المقرض فيه الزيادة لنفسه خرج عن موضوعه، فمنع صحته؛ لأنه يكون بذلك قرضا للزيادة لا للإرفاق والقربة؛ ولأن الزيادة المشروطة تشبه الربا؛ لأنها فضل لا يقابله عوض، والتحرز عن حقيقة الربا وعن شبهة الربا واجب (1).
وقال الحنابلة: ومثل ذلك اشتراط المقرض أي عمل يجر إليه نفعا، كأن يسكنه المقترض داره مجانا، أو يعيره دابته، أو يعمل له كذا، أو ينتفع برهنه. . . إلخ (2) .
ولا يخفى أن السلف إذا وقع فاسدا وجب فسخه، ويرجع إلى المثل في ذوات الأمثال، وإلى القيمة في غيرها (3) .

الهدية للمقرض ذريعة إلى الزيادة:
29 – اختلف في حكم هدية المقترض للمقرض قبل الوفاء بالقرض على أقوال: (أحدها) : للحنفية، وهو أنه لا بأس بهدية من عليه القرض لمقرضه، لكن الأفضل أن يتورع المقرض عن قبول هديته إذا علم أنه إنما يعطيه لأجل القرض، أما إذا علم أنه يعطيه لا لأجل القرض، بل لقرابة أو صداقة بينهما، فلا يتورع عن القبول، وكذا لو كان المستقرض معروفا بالجود والسخاء، كذا في محيط السرخسي، فإن لم يكن شيء من ذلك (4) فالحالة حالة الإشكال، فيتورع عن حتى يتبين أنه أهدى لا لأجل الدين (1) .(والثاني) : للمالكية، وهو أنه لا يحل للمقترض أن يهدي الدائن رجاء أن يؤخره بدينه، ويحرم على الدائن قبولها إذا علم أن غرض المدين ذلك، لأنه يؤدي إلى التأخير مقابل الزيادة، ثم إن كانت الهدية قائمة وجب ردها، وإن فاتت بمفوت وجب رد مثلها إن كانت مثلية، وقيمتها يوم دخلت في ضمانه إن كانت قيمية، أما إذا لم يقصد المدين ذلك وصحت نيته، فله أن يهدي دائنه، قال ابن رشد: لكن يكره لذي الدين أن يقبل ذلك منه وإن تحقق صحة نيته في ذلك إذا كان ممن يقتدى به، لئلا يكون ذريعة لاستجازة ذلك حيث لا يجوز (2) .
ثم أوضح المالكية ضابط الجواز حيث صحت النية وانتفى القصد المحظور فقالوا: إن هدية المديان حرام إلا أن يتقدم مثل الهدية بينهما قبل المداينة، وعلم أنها ليست لأجل الدين، فإنها لا تحرم حينئذ حالة المداينة، وإلا أن يحدث موجب للهدية بعد المداينة، من صهارة أو جوار أو نحو ذلك، فإنها لا تحرم أيضا (3) .

Contoh Hutang piutang adalah Ahmad menghutangkan uang 1 juta kepada Umar, dan Umar wajib mengembalikan terhadap jumlah uang yang sama ( yaitu uang 1 juta ) kepada Ahmad.

المحلي ٢/ ٢٨٧
الإِقْرَاضُ هُوَ تَمْلِيْكُ الشَّيْءٍ عَلَى أَن يُرَدَّ بَدَلَهُ.

Jawaban 2️⃣

Transaksi yang kedua tidak sah dan termasuk akad fasid, termasuk ribawi dengan Alasan karena menguntungkan salah satu pihak dan merugikan salah satu pihak, mengingat hal pengembaliannya digantungkan pada nilai harga beras sementara harga beras setiap tahunnya belum tentu tetap, artinya bisa jadi harganya bertambah dan bisa jadi turun namun yang pasti naik dan turunnya harga dapat merugikan salah satu pihak ( antara penyumbang dan penerima ) oleh karena itu transaksi yang sedemikian termasuk riba. Sesuai dengan definisi riba:

” زيادة فى المال لأجل تأخير الأجل”


Artinya;” bertambahnya harta karena berakhirnya jatuh tempo.

Sebagaimana keterangan berikut:

مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق. ص ٤٨
{ وحرم الربا } كماقال تعالى فى كتابه العزيز  وأحل الله البيع وحرم الربا ( البقرة : ١٧٥) .قال سليمان الجمل يعنى وأحل الله لكم الأرباح فى التجارة بالبيع والشراء وحرم الربا الذي هو زيادة فى المال لأجل تأخير الأجل وذكر بعض العلماء الفرق بين البيع والربا فقال إذا باع ثوبايساوى عشرة بعشرين فقد جعل ذات الثوب مقابلات بعشرين  فلما حصل التراضى على هذا المقابل صار كل واحد منهما مقابلات للأخر فى المالية عندهما فلم يكن آخذ من صاحبه شيأ بغير عوض أما إذا باع عشرة دراهم بعشرين فقد أخذ العشرة الزائدة بغير عوض ولايمكن أن يقال أن العوض هو الإمهال فى مدة الأجل لأن الإمهال ليس مالا حتى يجعله عوضا عن العشرة الزائدة فقد ظهر الفرق بين الصورتين إنتهى.


Artinya:” Allah SWT. Telah mengharamkan riba, sebagaimana Allah SWT berfirman: ” Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ( QS: Al-Baqarah: 175 ) .
Syaikh Sulaiman al-Jamal berkata: Allah SWT menghalalkan bagi kamu sekalian keuntungan dalam perdagangan, penjualan dan pembelian . Dan Allah telah mengharamkan riba, Yakni adanya tambahan harta yang disebabkan pengakhiran tempo pembayaran .Sebagian ulama menjelaskan  perbedaan antara jual dan riba, bahwa sahsanya ketika seseorang  yang menjual pakaian seumpamanya, dan pakaian tersebut bernilai sepuluh lalu dijual dengan harga  dua puluh, maka uang dua puluh tersebut merupakan imbalan dari pakaian yang dibeli. Dan ketika diantara penjual dan pembeli saling merelakan, maka kedua belah pihak telah memberikan barang dan uangnya dengan ada imbalan .Berbeda halnya dengan jika uang sepuluh dijual dengan uang dua puluh, maka uang tambahan yang sepuluh dari dua puluh tidak ada imbalannya .Dan tidak bisa tempo dalam pembayaran dijadikan sebagai imbalan, karena tempo pembayaran bukanlah harta yang bisa dijadikan imbalan.

Solusi

Transaksi yang pertama harus tanpa syarat , .Kemudian Transaksi yang kedua Agar tidak termasuk pada akad fasid, maka harus merubah akad dengan cara membeli beras ( yang telah disediakan oleh tuan rumah/ada bukti. ) kemudian disumbangkan dengan bentuk beras, sedangkan kembaliannya harus berupa beras baik harga beras itu naik maupun turun, alasannya karena yang disumbangkan beras bukan berupa nilai harga, maka beras harus kembali beras.bukan nilai harga yang dibayarkan maka hukumnya riba.

فتح الوهب ج: ١ ص: ٢٢٤-٢٢٥
الإقراض ” هو تمليك الشيء على أن يرد مثله ” سنة ” لأن فيه إعانة على كشف كربة وأركانه أركان البيع كمايعلم –إلى أن قال- ويرد ” المقترض المثلي ” مثلا ” لأنه أقرب إلى الحق ” ولمتقوم مثلا صورة “ لخبر مسلم أنه صلى الله عليه وسلم اقترض بكرا ورد رباعيا وقال: “إن خياركم أحسنكم قضاء” –إلى أن قال- ” فلو رد أزيد ” قدرا أو صفة ” بلا شرط فحسن ” لما في خبر مسلم السابق إن خياركم أحسنكم قضاء ولا يكره للمقرض أخذ ذلك,*

Artinya:Hutang piutang adalah:-Muhammad menghutangkan beras kepada Ahmad, dan Ahmad wajib mengembalikan terhadap jumlah beras yang sama kepada Ahmad.Dan Muhammad wajib membayar terhadap sifat beras yang sama kepada Muhammad.
-Jika Muhammad berhutang beras 25 kelu gr, kepada Ahmad, maka Muhammad wajib membayar beras 25 kelu gr. kepada Ahmad.dll.
-Jika Muhammad berhutang beras yang mutunya buruk kepada Ahmad maka Muhammad wajib membayar terhadap beras yang mutunya buruk kepada Ahmad.
-Jika Muhammad berhutang beras yang mutunya bagus kepada Ahmad maka Muhammad wajib membayar terhadap beras yang mutunya bagus kepada Ahmad.
-Jika Muhammad membayar beras kepada Ahmad dengan beras yang lebih ( yang lebih dari 25 kelu gr, atau dengan beras yang mutunya lebih bagus ), dengan tanpa syarat ketika akad hutang piutang bahwa pembayaran beras itu harus dibayar dengan beras yang lebih ( yang lebih dari 25 kelu gr, atau dengan beras yang mutunya lebih bagus), maka hukumnya adalah baik. Berdasarkan sabda nabi Muhammad:

إن خياركم أحسنكم قضاء

Artinya :” Sesungguhnya paling baiknya kalian, adalah paling baiknya kalian didalam membayar hutangnya.
-Dan tidak dimakruhkan bagi Ahmad untuk mengambil terhadap pembayaran beras yang lebih dari 25 kelu gr ( beras yang lebih bagus mutunya ) dari Ahmad.Tapi dengan syarat jika pembayaran beras yang lebih dari 25 kelu gr. ( beras yang lebih bagus mutunya ) dari Ahmad itu tidak disyaratkan ketika terjadi akad hutang piutang diantara Muhammad dan Ahmad


Sedangkan penyumbang yang ketiga yaitu menyumbang seadanya ( cuma-cuma ) boleh dan disebut akad hibah/ hadiah.

Referensi

ابن حجر الهيتمي ,الفتاوى الفقهية الكبرى ج ٣ ص ٣٧٣ 
(وَسُئِلَ) نَفَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِهِ عَمَّا اُعْتِيدَ مِنْ إهْدَاءِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ لِلثَّوَابِ بِأَنْ يُمْلَأَ ظَرْفَ الْهَدِيَّة وَيُرَدَّ وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ وَقَعَ الْعَتَبُ وَالذَّمُّ هَلْ يَحِلُّ تَنَاوُلُهُ أَوْ لَا؟
(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ: مَذْهَبُنَا أَنَّ الْهِبَةَ بِقَصْدِ الثَّوَابِ يُوجِبُهُ، وَكَذَلِكَ هِبَةُ الْأَدْنَى لِلْأَعْلَى، وَإِنْ اُعْتِيدَ أَنَّهَا لَا تَكُونُ إلَّا لِطَلَبِ الْمُقَابَلَةِ وَالْهَدِيَّةِ كَالْهِبَةِ فِي ذَلِكَ، وَحِينَئِذٍ فَلَا عَمَلَ بِتِلْكَ الْعَادَةِ.هَذَا بِالنِّسْبَةِ لِلْأَحْكَامِ الظَّاهِرَةِ، أَمَّا بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ عَلِمَ أَوْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ مِنْ الْمُهْدِي أَوْ الْوَاهِبِ بِقَرَائِنِ أَحْوَالِهِ أَنَّهُ لَمْ يُهْدِ أَوْ يَهَبْ إلَّا لِطَلَبِ مُقَابِلٍ، فَلَا يَحِلُّ لَهُ أَكْلُ شَيْءٍ مِنْ هَدِيَّتِهِ أَوْ هِبَتِهِ، إلَّا إنْ قَابَلَهُ بِمَا يَعْلَمُ، أَوْ يَظُنُّ أَنَّهُ رَضِيَ بِهِ فِي مُقَابَلَةِ مَا أَعْطَاهُ، وَقَدْ صَرَّحَ الْأَئِمَّةُ فِي الْمُهْدِي حَيَاءً، وَلَوْلَا الْحَيَاءُ لَمَا أَهْدَى أَوْ خَوْفَ الْمَذَمَّةِ وَلَوْلَا خَوْفُهَا لَمَا أَهْدَى، بِأَنَّهُ يَحْرُمُ أَكْلُ هَدِيَّتِهِ لِأَنَّهُ لَمْ يَسْمَح بِهَا فِي الْحَقِيقَةِ، وَكُلُّ مَا قَامَتْ الْقَرِينَةُ الظَّاهِرَةُ عَلَى أَنَّ مَالِكَهُ لَا يَسْمَحُ بِهِ لَا يَحِلُّ تَنَاوُلُهُ وَقَدْ ذَكَرُوا فِي بَابِ الضِّيَافَةِ مِنْ ذَلِكَ فُرُوعًا لَا تَخْفَى
الباجوري ج ٢ ص .١٣٩
النقوط المعتاد فى الأفراح يجب رده كالدين ، ولدافعه المطالبه به ، ولا أثر للعرف إذا جرى بعدم الرد ، لأنه مضطرب فلا اعتبار به ، فكم من شخص يدفع النقوط ويريد رده إليه ويستحي به أن يطالب به 
الجمل، حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب ج ٣ ص ٢٥٦
وَاَلَّذِي تَحَرَّرَ مِنْ هَذَا كُلِّهِ أَنَّهُ لَا رُجُوعَ فِي النُّقُوطِ الْمُعْتَادِ فِي الْأَفْرَاحِ أَيْ لَا يَرْجِعُ بِهِ مَالِكُهُ إذَا وَضَعَهُ فِي يَدِ صَاحِبِ الْفَرَحِ أَوْ فِي يَدِ مَأْذُونٍ إلَّا بِثَلَاثَةِ شُرُوطٍ أَنْ يَأْتِيَ بِلَفْظٍ كَخُذْهُ وَأَنْ يَنْوِيَ الرُّجُوعَ وَيَصْدُقَ هُوَ وَوَارِثُهُ فِيهَا وَأَنْ يُعْتَادَ الرُّجُوعُ فِيهِ وَإِذَا وَضَعَهُ فِي يَدِ الْمُزَيِّنِ وَنَحْوِهِ أَوْ فِي الطَّاسَةِ الْمَعْرُوفَةِ لَا يَرْجِعُ إلَّا بِشَرْطَيْنِ نِيَّةِ الرُّجُوعِ وَشَرْطِ الرُّجُوعِ اهـ. شَيْخُنَا ح ف على اللقيط وانظر هل الواجب
(قَوْلُهُ: كَالْإِنْفاق

3️⃣.Akad yang pertama halal jika tanpa syarat dan sebaliknya ( jika bersyarat ) maka harom karena riba. Sebagaimana keterangan ibaroh diatas. Akan tetapi akad yang kedua tidak halal bagi keduanya baik yang menyumbang ataupun yang disumbang ( menerima ). Hal ini berdasarkan firman Allah.

ياأيهاالذين آمنوا لاتأكلوا الربى أضعافا مضاعفة

4️⃣.Ulama berbeda pandang tentang Hukum mengadakan walimah ada yang mengatakan sunnah dan ada yang mengatakan wajib, karena tujuan diadakannya walimah adalah mengumumkan adanya pernikahan, namun setelah acara akad nikah selesai bisa jadi berubah sesuai dengan situasi dan kondisi kalau setelahnya akad berisi acara donatur walimah bercampur antara Halal dan harom maka syubhad. Ketika acaranya sudah memasuki perkara yang subhad ( barang yang tidak jelas kehalalan dan keharamannya ) maka dapat dipastikan jatuh pada hal yang harom.

الموسوعة الفقهية -/ 298516

وليمة

التعريف:
1 – الوليمة في اللغة مشتقة من الولم وهو الجمع، لأن الزوجين يجتمعان، وهي اسم لطعام العرس والإملاك، وقيل: هي كل طعام صنع لعرس وغيره أو كل طعام يتخذ لجمع. (1) وفي الاصطلاح تقع الوليمة على كل طعام يتخذ لسرور حادث من عرس وإملاك وغيرهما، لكن استعمالها مطلقة في العرس أشهر وفي غيره بقيد. (2)
وذكر العلماء للولائم التي يدعى إليها الناس أسماء خاصة. (3) تنظر في مصطلح (دعوة ف 26) .
وينحصر الكلام في هذا المقام على بيان الأحكام المتعلقة بوليمة العرس، أما الأحكام المتعلقة بسائر الولائم فتنظر في المصطلحات الخاصة بها وفي مصطلح (دعوة) .

الألفاظ ذات الصلة:
أـ الدعوة:
٢ – من معاني الدعوة في اللغة: الضيافة، وهي بفتح الدال عند جمهور العرب، وتيم الرباب تكسرها، وذكرها قطرب بالضم وغلطوه. (١)
ويستعمل الفقهاء الدعوة بهذا المعنى، والصلة بين الدعوة والوليمة أن الدعوة أعم من الوليمة. (٢)
ب ـ المأدبة:
٣ – المأدبة لغة: الطعام الذي يصنعه الرجل ويدعو إليه الناس. (٣)
وفي الاصطلاح: كل طعام صنع لدعوة مأدبة. (٤) ، والصلة بين المأدبة والوليمة أن الوليمة أخص من المأدبة.
الحكم التكليفي:
٤ – اختلف الفقهاء في حكم الوليمة ولهم رأيان:

الأول: ذهب جمهور الفقهاء: الحنفية والشافعية في المذهب والحنابلة في المذهب إلى أن وليمة العرب سنة، زاد الحنفية وفيها مثوبة عظيمة.
وذهب المالكية إلى أنها مندوبة على المذهب. (١) ، واستدل هؤلاء الفقهاء على ما ذهبوا إليه من أن الوليمة  مسنونة غير واجبة بقول النبي صلى الله عليه وسلم ليس في المال حق سوى الزكاة (٢) . وقالوا: سبب  الوليمة عقد النكاح وهو غير واجب ففرعه أولى أن يكون غير واجب، ولأنها لو وجبت لتقدرت كالزكاة والكفارات ولكان لها بدل عند الإعسار، كما يعدل المكفر في إعساره إلى الصيام، فدل عدم تقديرها وبدلها على سقوط وجوبها، ولأنها لو وجبت لكان مأخوذا بفعلها حيا، ومأخوذة من تركته ميتا كسائر الحقوق. (١)
الثاني: ذهب الشافعية في قول والمالكية في قول والإمام أحمد في قول ذكره ابن عقيل إلى أن الوليمة واجبة، لما ورد أن النبي صلى الله عليه وسلم رأى على عبد الرحمن بن عوف رضي الله عنه أثر صفرة فقال له: مهيم – أي ما الخبر؟ – قال: تزوجت امرأة من الأنصار. فقال: أولم ولو بشاة (٢) .، وهذا أمر يدل على الوجوب، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم ما نكح قط إلا أولم في ضيق أو سعة، ولأن في الوليمة إعلانا للنكاح، فرقا بينه وبين السفاح، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم أعلنوا النكاح (٣) ، ولأنه لما كانت إجابة الداعي إليها واجبة، دل على أن فعل الوليمة واجب، لأن وجوب المسبب دليل على وجوب السبب. (٤)

Kaidah:


الحكم يدور مع علته وجودا وعداما


Hukum bisa berputar sesuai dengan illatnya ada dan tidaknya itu.


الوسائل حكم المقاصد.

Pelantara/mendia menjadi hukum, sesuai dengan tujuannya .

Hal ini sesuai dengan hadits: Segala Hal yang Haram dan yang Halal telah Jelas dan diantara keduanya subhat ( samar/tidak jilas)

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بِشِيْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاس، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرأَ لِدِيْنِهِ وعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِيْ الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَقَعَ فِيْهِ. أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمَىً. أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وإذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهيَ اْلقَلْبُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu ‘Abdillah Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Sesungguhnya perkara yang halal itu telah jelas dan perkara yang haram itu telah jelas. Dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang (samar), tidak diketahui oleh mayoritas manusia. Barang siapa yang menjaga diri dari perkara-perkara samar tersebut, maka dia telah menjaga kesucian agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat, maka dia telah terjatuh kepada perkara haram, seperti  seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan (hima), dikhawatirkan dia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah, bahwa setiap raja itu mempunyai hima, ketahuilah bahwa hima Allah subhanahu wa ta’ala adalah segala yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan. Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik maka baik pula seluruh tubuhnya dan apabila daging tersebut rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah kalbu (hati). [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits di atas merupakan dalil yang memuat atau mencakup beberapa materi fiqih yang kemudian di formulasikan kepada suatu kaidah, yang diantaranya adalah; Menggunakan Harta yang Bercampur antara Halal dan Haram.

كتاب الأشباه والنظائر -السيوطي
[الْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: إذَا اجْتَمَعَ الْحَلَالُ وَالْحَرَامُ غَلَبَ الْحَرَامُ]

Bila yang halal dan yang haram bercampur, maka yang dimenangkan adalah yang haram.Wallahu A’lam bisshowab.

Kategori
Uncategorized

HUKUM MENGIDARKAN KOTAK AMAL KETIKA KHUTBAH BERLANGSUNG

*MENGEDARKAN KOTAK AMAL SAAT KHUTBAH BERLANGSUNG*

Assalamualaikum

Saya bertanya:
Apa hukumnya mengedarkan Kotak Amal Jum’at ketika Khutbah Jum’at?

Waalaikum salam

Jawab:
Khutbah Jum’at merupakan salah satu syarat sah penyelenggaraan shalat Jum’at seperti halnya terdapat 40 orang ahli Jum’at. Dalam Khutbah Jum’at sendiri juga terdapat rukun-rukun khutbah, misalnya membaca hamdalah, membaca shalawat Nabi Muhammad SAW. dan lain-lain. Lalu, bagaimana ketika khutbah sedang berlangsung para jama’ah menjalankan kotak infak?

Bagi para jama’ah ketika khutbah sedang berlangsung dianjurkan menghadap ke arah kiblat, memperhatikan dan mendengarkan khutbah dengan sungguh-sungguh. Keterangan ini dipaparkan dalam kitab Shahih Muslim juz 1 halaman 377 sebagai berikut;

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa berwudhu’, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudhu’nya, kemudian mendatangi shalat Jum’at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya (kesalahan yang dicela).” (HR. Muslim)

Dalam syarhnya Imam Nawawi menjelaskan bahwa pencegahan memegang (bermain-main) krikil  dan lainnya merupakan salah satu perbuatan yang sembrono/sia-sia dalam keadaan khutbah. Selain itu juga terdapat isyarat untuk menghadapkan hati dan anggota badan saat sedang khutbah Jum’at. (Hadis ini tergolong hadis hasan shahih)

Dalam pandangan Syaikh Sulaiman bin Umar bin Manshur al Ujaili al Azhari al Jamal di kitab khasyiyat al Jamal ala minhaj juz 2 halaman 36 bahwa melakukan segala sesuatu yang dapat memalingkan dari dzikir dan mendengar khutbah hukumnya makruh. Dengan demikian, dalam persoalan menjalankan kotak amal dapat dikategorikan sebagai illat (sebab) tersebut. Sebagaimana redaksi di bawah ini:

قَوْلُهُ : وَيُكْرَهُ الْمَشْيُ بَيْنَ الصُّفُوفِ لِلسُّؤَالِ وَدَوْرَانِ الْإِبْرِيقِ وَالْقِرَبِ لِسَقْيِ الْمَاءِ وَتَفْرِقَةِ الْأَوْرَاقِ وَالتَّصَدُّقِ عَلَيْهِمْ ؛ لِأَنَّهُ يُلْهِي النَّاسَ عَنْ الذِّكْرِ وَاسْتِمَاعِ الْخُطْبَةِ ا هـ

“Dimakruhkan menjalankan di antara shaf-shaf untuk meminta dan memutarkan teko, mendekatkan teko untuk menyuguhkan air dan membagikan kertas-kertas serta shadaqah kepadanya, karena itu semua menyebabkan manusia lalai dari dzikir dan mendengarkan khutbah.

Karena makruh, maka seyogyanya untuk dicarikan alternatif lain. Kalau masih bisa dicarikan alternatif dengan efektifitas dan kondusifitas yang lebih baik, kenapa tidak? Langkah alternatifnya bisa dengan:
– meletakkan kotak amal di setiap pintu masuk masjid, sehingga orang yang ingin bersedakah bisa langsung memasukkannya baik sebelum khutbah dimulai maupun setelahnya.
atau
– Pemutaran kotak amal dilakukan setelah selesai sholat Jum’at (Ini juga ada beberapa masjid yang melakukannya). Semoga bermanfaat.
Wallahu ‘Alam bis showab.

Kategori
Uncategorized

APAKAH KIYAI/GURU NGAJI MASUK KATEGORI 8 GOLONGAN ORANG YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT…?

Assalamualaikum

Mohon pencerahan kyai rincian mustahiq zakat versi imam syafie …lalu bagaimana kedudukan guru ngaji yg menerima zakat apakah masuk fisabilillah atau ambil zakat.

Waalaikum salam.

Al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap distribusi zakat, sebagaimana tercantum dalam QS. At-Taubah: 60 yang menetapkan delapan golongan mustahik zakat. Hal ini bertujuan untuk memastikan zakat disalurkan kepada yang berhak dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak.Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang faqir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang di jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

Dalam sejarah, ada kelompok yang mencela Rasulullah ﷺ dalam pembagian zakat, sebagaimana disebut dalam QS. At-Taubah: 58-59. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa zakat harus dibagi sesuai ketetapan Allah, bukan berdasarkan keinginan individu. Hadis dari Abu Dawud juga menunjukkan bahwa hanya mereka yang termasuk dalam delapan golonganlah yang berhak menerima zakat.

Ulama menekankan bahwa yang terpenting bukan hanya pengumpulan harta, tetapi bagaimana harta itu didistribusikan. Jika salah kelola, hak mustahik bisa terabaikan. Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan zakat, tetapi juga menjelaskan mustahiknya secara rinci.

Sebagai penutup, al-Faqir akan menjelaskan secara lebih rinci kedelapan golongan mustahik zakat menurut Madzhab Syafi’iyah berdasarkan Kitab Kasyifatussaja dan kitab-kitab fiqih lainnya.

Referensi


كاشفة السجا فى شرح سفينة النجا.

وهم ثمانية أنواع الأول فقير وحده هو الذي لا مال له أصلاً ولا كسب كذلك حلالين والمراد بالكسب هنا هو طلب المعيشة أو له مال فقط حلال لا يسد من جوعته مسداً من كفاية العمر الغالب على المعتمد عند توزيعه عليه إن لم يتجر فيه بحيث لا يبلغ النصف كأن يحتاج إلى عشرة دراهم ولو وزع المال الذي عنده على العمر الغالب لخص كل يوم أربعة أو أقل بخلاف من قدر على نصف كافيه فإنه مسكين وأما إن اتجرفالعبرة بكل يوم أو له كسب فقط حلال لائق به لا يسد مسداً من كفايته كل يوم كمن يحتاج إلى عشرة ويكتسب كل يوم أربعة فأقل أو له كل منهما ولا يسد مجموعهما مسداً من كفايته

Mustahik zakat ada 8 (delapan) golongan, yaitu:

1) Fakir

Pengertian fakir adalah sebagai berikut; orang yang tidak memiliki harta halal dan pekerjaan halal sama sekali. Yang maksud dengan pekerjaan disini adalah pekerjaan mencari kehidupan ekonomi. Orang yang memiliki harta halal saja, tetapi hartanya tersebut tidak dapat mencukupi kebutuhan seumur hidup ketika hartanya dibelanjakan, yang mana ia tidak menggunakan hartanya itu untuk niaga atau berdagang, sekiranya hartanya itu tidak sampai memenuhi setengah dari kebutuhannya, misalnya, kebutuhan seharinya adalah 10 dirham, kemudian apabila ia kalkulasi hartanya untuk kebutuhannya seumur hidup, maka setiap harinya hanya mendapatkan 4 dirham atau kurang. Berbeda dengan orang yang hartanya sampai memenuhi setengah kebutuhannya per hari maka orang ini bukanlah disebut fakir, tetapi miskin. Adapun apabila ia memperdagangkan hartanya maka kalkulasi kebutuhannya adalah per hari, bukan dikalkulasi berdasarkan kebutuhan seumur hidup. orang yang hanya memiliki pekerjaan halal yang layak baginya, tetapi hasil pekerjaan tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhannya per hari, misalnya; ia membutuhkan 10 dirham per hari, kemudian hasil pekerjaannya hanyalah 4 dirham atau kurang. orang yang memiliki harta dan pekerjaan yang halal, tetapi harta yang telah dikalkulasi untuk kebutuhan seumur hidup ditambah dengan hasil pekerjaannya per hari tidak mencapai setengah dari kebutuhan per hari maka ia juga disebut fakir.

Catatan.

Ukuran seumur hidup disesuaikan pada umumnya orang-orang hidup, menurut pendapat mu’tamad, yaitu 60 tahun. Akan tetapi, yang dimaksud adalah kecukupan kebutuhan sisa dari 60 tahun.

(قوله يعطى كفاية العمر الغالب) أي بقيته وهو ستون سنةكذا ذكر فى إعانة الطالبين

Misalnya; ada seseorang hanya memiliki harta sebesar Rp. 100.000.000. Ia telah berusia 40 tahun. Jadi sisa umur hidup menurut umumnya adalah 20 tahun, yaitu 60-40 tahun. Apabila kebutuhan per harinya adalah Rp. 50.000 maka;
1 tahun : 360 hari
20 tahun : 7.200 hari
100.000.000/7.200=13.889.
Jadi ia tergolong fakir, karena menurut kalkulasinya 13.889 kurang dari 25.000 (setengah dari 50.000).

Referensi:

.( . فقه العبادات – شافعى ج ١ ص ٦٥٥ – )

الفقير : هو من لا مال له أصلا ولا كسب من حلال أو له مال أو كسب دون أن يكفيه أي من ذلك بأن كان أقل من نصف الكفاية


Fakir adalah orang yang tidak punya harta atau pekerjaan sama sekali dari kerjaan halal,atau punya harta atau kerjaan tapi tidak mencukupi, gambarannya adalah hasilnya itu kurang dari 50% dari kebutuhan


Al-Bajury hlm. 282


الفقير في الزكاة هو الذي لا مال له ولا كسب يقع موقعا من حاجته أي مطعما وملبسا ومسكنا وغيرها مما لا بد منه على ما يليق بحاله وحال ممونه لعمر الغالب


Fakir, yaitu : orang yang tidak punya harta atau punya harta apabila dibagi sisa dari umur Gholib (60 th) tidak mencapai 50% dari kebutuhan primer, atau orang yang tidak punya pekerjaan layak atau punya pekerjaan namun hasilnya tidak mencapai 50% dari kebutuhan se harihari.

2)- Miskin

والثاني مسكين وهو من قدر على مال أو كسب أو عليهما معاً يسد كل منهما أومجموعهما من جوعته مسداً من حيث يبلغ النصف فأكثر ولا يكفيه كمن يحتاج إلى عشرة ولا يملك أو لا يكتسب إلا خمسة أو تسعة ولا يكفيه إلا عشرة،

Pengertian miskin yaitu orang yang memiliki harta atau pekerjaan atau memiliki dua-duanya yang masing-masing dari harta dan pekerjaannya tersebut atau gabungan dari harta dan hasil pekerjaannya tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhannya, sekiranya sudah mencapai setengah kebutuhannya atau lebih, misalnya; ia memiliki kebutuhan 10 dirham, kemudian ia tidak memiliki harta, atau tidak dapat menghasilkan dari pekerjaannya kecuali hanya 5 dirham atau 9 dirham dan tidak sampai 10 dirham.

ويمنع فقر الشخص ومسكنته كفايته بنفقة الزوج أو القريب الذي يجب الإنفاق عليهكأب وجد لا نحو عم

Seseorang tidak masuk dalam kategori fakir atau miskin jika kebutuhannya telah terpenuhi karena nafkah dari suami atau kerabat, yaitu orang-orang yang wajib memberi nafkah kepadanya, seperti ayah, kakek, bukan paman.

وكذا اشتغاله بنوافل والكسب يمنعه منها فإنه يكون غنياً

Begitu juga seseorang tidak masuk dalam kategori fakir atau miskin jika ia disibukkan dengan aktivitas ibadah-ibadah sunah yang apabila ia bekerja maka pekerjaannya tersebut akan mencegahnya melakukan aktifitas tersebut, maka ia termasuk orang yang kaya.

ولا يمنع ذلك اشتغاله بعلم شرعي أو علم آلات، والكسب يمنعه لأنه فرض كفاية إذاكان زائداً عن علم الآلات وإلا فهو فرض عين كما بين ذلك شيخنا أحمد النحراوي

Seseorang masuk dalam kategori fakir atau miskin jika ia disibukkan dengan aktifitas mencari ilmu syariat atau ilmu alat (Nahwu, Shorof, dan lain-lain) yang apabila ia bekerja maka pekerjaan tersebut akan mencegahnya melakukan aktifitas tersebut, karena kesibukan tersebut hukumnya adalah fardhu kifayah jika ia memang tidak memerlukan ilmu alat, tetapi jika ia memerlukannya maka kesibukan tersebut hukumnya fardhu ain, seperti yang dijelaskan oleh Syaikhuna Ahmad Nahrowi.

ولا يمنع ذلك أيضاً مسكنه وخادمه وثياب وكتب له يحتاجها مال له غائب بمرحلتين أومؤجل فيعطى ما يكفيه إلى أن يصل ماله أو يحل الأجل لأنه الآن فقير أو مسكين

Rumah, pembantu, pakaian, dan buku-buku yang ia butuhkan tidak mencegah seseorang dari status fakir dan miskin, artinya, ia tergolong dari fakir atau miskin. Adapun harta yang seseorang miliki, tetapi tidak ada di tempat karena berada di tempat yang jauh sekiranya membutuhkan perjalanan 2 marhalah (±81km)5 atau karena masih dalam bentuk piutang, maka tidak mencegah statusnya dari kefakiran dan kemiskinan, oleh karena itu, ia diberi harta zakat sekiranya bisa memperoleh kembali harta yang tidak ditangannya itu atau agar piutangnya segera diterima, karena statusnya sekarang ia adalah sebagai orang fakir atau miskin.
Yang maksud 2 marhalah sama dengan 16 farsakh, yakni kurang lebih 81 km, sebagaimana disebutkan oleh Dr. Mustofa Daibul Bagho dalam Tadzhib Fi Adillah Matan al-Ghoyah Wa at-Taqrib. Ibarotnya adalah:

(قوله ستة عشر فرسخا) إلى أن قال وهى ستة عشر فرسخا وتساوى (٨١) كيلو مترا تقريبا


Referensi:

المسكين: وهو الذي له مال أو كسب يقع موقعا من كفايته ولا يكفيه، بأن يحصل فوق نصف ما يكفيه , مثاله: يحتاج في الشهر ٥۰۰ ريال ويحصل ٤۰۰ ريال .


Miskin adalah orang yang memiliki harta atau pekerjaan yang dapat mencukupi kebutuhannya, namun masih tidak mencukupi, gambarannya: berpenghasilan separuh dari kebutuhunnya, semisal dia butuh dalam sebulan 500 reyal sedangkan dia hanya dapat 400 riyal.


Al Fiqhul islam 3/1964:


والمسكين: هو من قدر على مال أو كسب حلال يساوي نصف ما يكفيه في العمر الغالب


Miskin, yaitu : orang yang punya pekerjaan, hasilnya tidak mencukupi kebutuhan primer, atau punya harta yang apabila dihitung untuk mencukupi kebutuhan pada sisa umur Gholib (60 th) hasilnya mencapai 50 % lebih dari kebutuhan se hari-hari.


Kriteria Faqir Miskin yang Mustahiq :

  1. Muslim
  2. Orang yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk bekerja, namun pendapatan nya dibawah kemampuan/ kecukupan.
  3. Orang yang sudah berusaha sekuat tenaga untuk bekerja, namun pendapatan nya dibawah kemampuan/ kecukupan
  4. Bukan Miskin karena malas kerja ( bukan Miskin yang tidak mau bekerja dan sebenarnya kuat kerja )
  5. Kyai/guru ngaji Miskin yang seluruh waktunya untuk mengajar ngaji,(Jika masih punya waktu luang banyak namun tidak mau kerja, maka bukan mustahiq zakat).

الفقه الإسلامى ج٣ ص ١٩٦٤

يعطى الفقير أو المسكين من الزكاة إذ ا كان قادراًعلى الكسب للحديث السابق عند أبي داود بإسناد صحيح: »لا حظ فيها لغني، ولا لقوي مكتسب ولو اشتغل بعلم والكسب يمنعه من اشتغاله بذلك، فهو فقير.

المجموع شرح المهذب ج 6 ص 22

وأما القوي المكتسب فال تحل له الزكاة والقوي المكتسب هو من كان صحيحاًفي بدنه ويجد عملا يكتسب منه ما يسد حاجته فهذا لا يعطى من الزكاة ألن الواجبعليه أن يعمل ويكسب ليكفي نفسه وعياله ولا يجوز أن يكون عاطالًا عن العمل باختياره ويمد يده بدنه ويجد عمالًا يكتسب منه ما يسد حاجته فهذا لا يعطى من الزكاة لان الواجب عليه أن يعمل ويكسب ليكفي نفسه وعياله ولا يجوز أن يكون عاطالًا عن العمل باختياره ويمد يده ليأخذ من أموال الزكاة وهذا مذهب جمهور أهل العلم


Dan adapun orang yang kuat /mampu untuk bekerja maka tidak halal baginya mengambil zakat. Sedangkan definisi orang yang kuat/mampu untuk
bekerja adalah : orang yang badannya sehat dan dia mendapatkan pekerjaaan yang dapat menutup keperluan dia sehari hari , maka orang seperti ini tidak diberi zakat karena yang wajib baginya adalah bekerja agar dapat mencukupi bagi dirinya dan keluarganya dan tidak boleh pula bagi dia bermalas malasan untuk tidak bekerja dan tidak boleh pula bagi dia meminta minta zakat. Dan ini adalah madzhab jumhur ahlul ilmi .

3) Amil

والثالث عامل كساع يعمل في أخذها من أرباب الأموال وكاتب يكتب ما أعطاه أربااوقاسم يقسمها على المستحقين وحاشر يجمع الملاك أو ذوي السهمان لا قاض ووالي

Yang dimaksud amil yaitu seperti;

✅orang yang bertugas mengambil harta zakat dari orang-orang yang membayar zakat,
✅orang yang menulis harta zakat yang diberikan oleh pemberi,
✅orang yang membagikan harta zakat kepada para mustahik,
✅Hasyir atau orang yang mengumpulkan para pengeluar zakat atau para mustahiknya, bukan qodhi dan wali.
Referensi:

موهبة ذى الفضل .ج ٤ ص ١٣٠

و( الصنف الخامس ) والعاملون عليها( ومنهم الساعي الذي يبعثه الإمام لأخذ الزكوات وبعثه واجب ( قوله والعاملون عليها ) أي الزكاة يعنى من نصبه الإمام فى أخذ العمالة من الزكوات

Bagian kelima adalah para amil, mereka antara lain adalah sa’i yang diutus penguasa untuk menarik zakat, dan pengangkatannya itu wajib.
Amil zakat adalah orang yang diangkat imam untuk menjadi pegawai penarik zakat

فقه على مذهب الأربعة. ج ١ص ٩٨٧

و”العامل على الزكاة” هو من له دخل في جميع الزكاة: كالساعي، والحافظ، والكاتب، وإنما يأخذ العامل منها إذا فرقها الإمام، ولم يكن له أجرة مقدرة من قبله

  • Amil zakat adalah orang yang mendapat gaji untuk semua hal terkait
  • Pengumpulan zakat seperti penarik, pemelihara, penulis. Amil zakat
  • Mengambil dari zakat apabila imam yang melakukan pembagian zakat dan tidak memberikan gaji yang ditentukan sebelumnya

4) – Muallaf

والرابع المؤلفة إن قسم الإمام وهم أربعة من أسلم ولكن ضعيف يقين وهو الإيمان أوقويه ولكن له شرف في قومه يتوقع بإعطائه إسلام غيره من الكفار أو من يكفينا شرمن يليه من الكفار ومن يكفينا شر مانعي الزكاة فهذان القسمان الأخيران إنما يعطيان إذا كان إعطاؤهما أهون علينا من تجهيز جيش نبعثه لكفار أومانعي الزكاة أما القسمان الأولان فلايشترط في إعطائهما ذلك

Muallaf dapat menerima zakat apabila imam memang memberikan jatah zakat untuknya. Muallaf dibagi menjadi 4 (empat), yaitu:

a).Orang yang telah masuk Islam tetapi masih memiliki keimanan yang lemah sekiranya kelemahan imannya ini masih dianggap sebagai iman.

b).Orang yang telah masuk Islam dan memiliki iman kuat tetapi ia memiliki kehormatan tinggi di kalangan kaumnya yang non muslim, yang mana dengan memberinya zakat akan diharapkan kaumnya yang non muslim itu akan masuk Islam

c).Orang yang telah masuk Islam yang keberadaannya dapat menjauhkan orang-orang muslim dari sikap buruk orang-orang non muslim yang ada di sekitarnya.

d).Orang yang telah masuk Islam yang keberadaannya dapat menjauhkan orang-orang muslim dari sikap buruk orang-orang yang enggan membayar zakat.
Bagian yang [c] dan [d] hanya diberi zakat apabila memberikan zakat kepada mereka itu lebih memudahkan bagi orang-orang muslim daripada menyusun pasukan yang dipersiapkan untuk memerangi orang-orang non muslim atau orang-orang yang enggan membayar zakat.
Adapun bagian [a] dan [b] maka tidak disyaratkan apakah memberikan zakat kepada mereka itu lebih memudahkan bagi orang-orang muslim dari pada menyusun pasukan yang dipersiapkan untuk memerangi orang-orang non muslim atau orang-orang yang enggan membayar zakat atau tidak.

5) – Budak

والخامس الرقاب وهم المكاتبون لأن غيرهم من الأرقاء لا يملكون ذلك إذا كانوا لغيرالمزكي ولو لنحو كافر وهاشمي ومطلبي فيعطون ما يعينهم على العتق إن لم يكن معهمما يفي بنجومهم ولو بغير إذن سيدهم، ويشترط كون الكتابة صحيحة بأن تستوفي شروطها وأركانها

Yang dimaksud dengan ‘budak’ dalam mustahik zakat adalah budak-budak mukatab karena selain mereka adalah budak-budak murni yang dicegah memiliki zakat. Budak-budak mukatab dapat menerima zakat ketika mereka dimiliki oleh tuan yang bukan orang yang berzakat, meskipun mereka adalah milik tuan yang kafir atau tuan yang berasal dari keturunan Hasyim dan Muthollib. Mereka diberi zakat dalam jumlah yang dapat membantu untuk merdeka apabila mereka tidak memiliki biaya yang dapat memenuhi cicilan dalam akad kitabah, meskipun tanpa seizin dari tuan mereka.
Disyaratkan mereka adalah budak-budak mukatab yang melakukan transaksi kitabah yang sah, sekiranya transaksi tersebutmemenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Catatan:

Budak Mukatab adalah budak yang terikat transaksi kitabah. Transaksi kitabah adalah transaksi merdeka (dari status budak) atas dasar kesepakatan harta dalam jumlah tertentu yang dicicil sebanyak dua kali atau lebih dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, tuan berkata, “Saya melakukan akad kitabah kepadamu dengan biaya dua dinar yang dapat kamu bayar/cicil selama dua bulan. Apabila kamu Kamu membayarnya maka kamu merdeka.” (Tausyih ‘Ala Ibni Qosim al-Ghozi. Syeh Nawawi alBanteni. Hal. 297)

فأركان المكاتبة أربعة أحدها رقيق وشرط فيه اختيار وعدم صبا وجنون وأن لا يتعلق به حق لازم كالمرهون وثانيها صيغة وشرط فيها لفظ يشعر بالكتابة إيجاباً ككاتبتك أو أنت مكاتب على دينارين تأتيما في شهرين فإن أديتهما إلي فأنت حر وقبولاً كقبلت ذلك وثالثها عوض وشرط فيه كونه ديناً أو منفعة مؤجلاً بنجمين فأكثر ولا يجوز أقل من نجمين ولا بد من بيان قدر العوض وصفته وعدد النجوم وقسط كل نجم ورابعها سيد وشرط فيه كونه مختارًاً أهل تبرع وولاء فلا تصح من مكره ومكاتب وإن أذن له سيده ولا من صبي ومجنون ومحجور سفه وأوليائهم لا من محجور فلس ولا من مرتد لأن ملكه موقوف

Rukun-rukun kitabah ada 4 (empat), yaitu;

1- Budak.

Disyaratkan dalam budak adalah ikhtiar atau tidak dipaksa untuk melakukan akad kitabah, bukan shobi (anak kecil laki-laki) atau majnun (orang gila), dan ia tidak terikat dengan hak yang wajib, misalnya ia adalah budak yang digadaikan.

2- Sighot.

Disyaratkan dalam sighot adalah lafadz atau pernyataan yang mengandung pengertian kitabah, dari segi ijab, seperti; “Aku melakukan akad kitabah denganmu,” atau, “kamu adalah budak mukatab atas biaya dua dinar yang dapat kamu bayar selama dua bulan. Kemudian apabila kamu membayarnya kepadaku maka kamu adalah merdeka,” dan dari segi qobul, seperti; “Saya menerimanya.”

  1. Biaya atau ‘Iwadh.

Disyaratkan dalam biaya adalah berupa hutang atau manfaat atau jasa yang ditangguhkan dengan dua kali cicilan atau lebih. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan cicilan yang dilakukan kurang dari dua kali. Begitu juga harus menjelaskan jumlah biaya, sifat biaya (seperti dalam bab pesanan atau salam), berapa kali cicilan dilakukan (seperti dua bulan atau tiga bulan sekali), dan menjelaskan jumlah biaya dalam setiap kali cicilan (seperti 5 dirham dalam setiap cicilan).

  1. Tuan/sayyid.

Disyaratkan bagi tuan adalah mukhtar atau tidak dipaksa, ahli tabarruk, dan ahli menjadi wali. Oleh karena itu, akad kitabah tidak sah dari tuan yang dipaksa atau dari budak mukatab, meskipun si tuan mengizinkan budak mukatab tersebut untuk melakukan transaksi kitabah. Begitu juga, akad kitabah tidak sah dari shobi, majnun, mahjur lis safih, dan wali-wali mereka. Adapun akad kitabah dari mahjur lil falasi atau dari orang murtad maka akadnya sah karena sifat kepemilikan mereka terhadap harta adalah mauquf atau hanya diberhentikan, bukan dihilangkan.

ويجوز صرف الزكاة إليهم قبل حلول النجوم على الأصح ولا يجوز صرف ذلك إلى سيدهم إلا بإذن المكاتبين، لكن إن دفع إلى السيد سقط عن المكاتب بقدر المصروف إلى السيد لأن من أدى دين غيره بغير إذنه برئت ذمته

Menurut pendapat ashoh, boleh memberikan zakat kepada budak-budak mukatab sebelum cicilan mereka lunas. Tidak diperbolehkan memberikan zakat kepada tuan mereka kecuali apabila ada izin dari para budak mukatab, tetapi apabila zakat diberikan kepada tuan maka tanggungan cicilan yang wajib dibayar oleh mereka kepada tuan akan berkurang sesuai dengan nilai ukuran zakat yang diberikan kepada tuan tersebut, karena orang yang membayarkan hutang orang lain yang menanggung hutang dengan tanpa ada izin dari orang yang berhutang maka orang yang berhutang bebas dari tanggungan hutang.

أما المكاتب كتابة فاسدة وهو من لم يستو ف تلك الأركان والشروط فلا يعطي شيئاً من الزكاة

Adapun budak mukatab yang melakukan akad kitabah fasidah atau yang tidak sah, yaitu yang tidak memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukun kitabah, maka tidak berhak menerima zakat.

6) – Ghorim

والسادس الغارم وهو ثلاثة من تداين لنفسه في أمر مباح طاعة كان أو لا وإن صرف في معصية أو في غير مباح كخمر وتاب وظن صدقه في توبته، أو صرفه في مباح فيعطى مع الحاجة بأن يحل الدين ولا يقدر على وفائه أو تداين لإصلاح ذات الحال بين القوم كأن خاف فتنة بين قبيلتين تنازعتا بسبب قتيل ولو غير آدمي بل ولو كلباً فتحمل ديناً تسكيناً للفتنة فيعطى ولو غنياً أو تداين لضمان فيعطى إن أعسر مع الأصيل وإن لم يكن متبرعاً بالضمان أو أعسره وحده وكان متبرعاً بالضمان بخلاف ما إذا ضمن
بالإذن

Yang dimaksud ghorim yaitu orang yang memiliki hutang. Ghorim dibagi menjadi tiga jenis, yaitu;

  1. Orang yang berhutang untuk dirinya sendiri, baik hutang tersebut untuk urusan yang diperbolehkan syariat atau tidak, dan meskipun hutang tersebut dibelanjakan dalam hal maksiat atau dalam hal yang tidak diperbolehkan syariat, seperti mirasantika, dan ia telah bertaubat, dan taubatnya dianggap serius, atau ia membelanjakan hutang tersebut dalam urusan yang diperbolehkan syariat. Maka orang ini diberi zakat disertai rasa butuhnya pada zakat itu, misalnya; karena waktu membayar hutang telah jatuh tempo tetapi ia tidak mampu melunasinya.
  2. Orang yang berhutang karena tujuan untuk mendamaikan perselisihan yang terjadi di antara masyarakat, misalnya ia kuatir akan terjadi fitnah antara dua suku atau kabilah yang saling berselisih disebabkan permasalahan adanya korban yang mati, meskipun bukan manusia, bahkan meskipun seekor anjing, kemudian ia rela berhutang dan menanggung beban hutang karena tujuan menghindari terjadinya fitnah antar dua kubu tersebut. Maka orang yang berhutang ini diberi zakat meskipun ia adalah orang yang kaya.
  3. Orang yang berhutang karena tujuan menanggung hutang orang lain. Maka orang ini diberi zakat apabila ia dan orang yang ditanggung hutangnya adalah melarat, meskipun ia yang menanggung bukan ahli tabarruk dalam menanggung, atau ia yang menanggung hutang adalah orang yang melarat dan ahli tabarruk sedangkan orang yang ditanggung hutangnya adalah orang yang mampu sekiranya orang yang menanggung tidak menagihnya karena tanpa ada izin dari orang yang ditanggung hutangnya.Berbeda dengan masalah apabila orang yang menanggung hutang mendapat izin dari orang yang ditanggung hutangnya sedangkan ia yang menanggung hutang adalah orang yang melarat, maka ia tidak berhak menerima zakat, karena tanggungan hutang itu dikembalikan kepada pihak yang hutangnya ditanggung.

7)- Sabilillah

والسابع سبيل اﷲ وهم الغزاة المتطوعون بالجهاد أي الذين لا رزق لهم في الفيء فيعطون ولو أغيناء إعانة لهم على الغزو

Maksud Sabilillah yaitu orang-orang yang berperang jihad di jalan Allah serta tidak memiliki jatah bagian harta dari Baitul Maal. Maka mereka diberi zakat meskipun mereka kaya, karena bertujuan untuk menolong mereka dalam berperang.

Pendapat ulama’ tentang” SABILILLAH “.

a). Menurut Imam Al-Syafi’i dan Imam Achmad bin Hanbal adalah ” Perajurit sukarelawan, (perajurit tanpa bayaran)”
b). Menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik adalah ” Perajurit sukarelawan dan Fasilitas pendidikan agama islam”.
c). Menurut sebagian Ulama’ hanafiah adalah Orang- orang yg menuntut Ilmu.
d). Menurut Imam Al Kasani adalah semua obyek yg bernilai ibadah, penafsiran ini sama dengan pendaoat Imam Al- Qoffal yang mengutip dari
sebagian Fuqoha’.
e). Menurut Imam Achmad, imam Hasan dan imam Ishaq ” adalah orang yg menunaikan ibadah Haji ” (buat pembiyayaan ibadah haji bagi yg tidak mampu).

Referensi;

منهاج القويم ٢٣٩ /١

و” الصنف السابع: “الغزاة الذكور المتطوعون” بالجهاد بأن لم يكن لهم رزق في الفيء وهم المراد بسبيل هللا في الآية فيعطى كل منهم وإن كان غنيا كفايته وكفاية ممونه إلى أن يرجع من نفقة وكسوة ذهابا وإيابا وإقامة في الثغر ونحوه إلى الفتح وإن طالت إقامته مع فرس إن كان يقاتل فارسا، ومع ما يحمله في سفره إن عجز عن المشي أو طال السفر وما يحمل زاده ومتاعه إن لم يطق حملهما، أما المرتزق فال يعطى من الزكاة مطلقا فإن اضطررنا إليه أعانه أغنياؤنا من أموالهم لامن الزكاة

دررالحكام الحتفي ١٨٩ /١

وفي سبيل الله ( هو منقطع الغزاة عند أبي يوسف أي الفقراء منهم ومنقطع الحاج عند محمد أي الفقراء منهم وإنما أفرد بالذكر مع دخوله في الفقير أو المسكين لزيادة حاجته بسبب االنقطاع

بداية المجتهد المالكي ٣٦ / .٢

وأما في سبيل الله : فقال مالك: سبيل الله مواضع الجهاد والرباط وبه قال أبو حنيفة. وقال غيره: الحجاج والعمار. وقال الشافعي: هو الغازي جار الصدقة، وإنما اشترط جار الصدقة لأن ؛ عند أكثرهم أنه لا يجوز تنقيل الصدقة من بلد إلى
بلد إلا من ضرورة.

العدة في شرح العمدة الحنبلي ١٥٦/١
( السابع: في سبيل الله وهم الغزاة الذين لا ديوان لهم ) يعطون قدر ما يحتاجون إليه لغزوهم من نفقة طريقهم وإقامتهم وثمن السالح والخيل إن كانوا فرسانا، ويعطون مع الغنى ألنهم يأخذون لمصلحة المسلمين، وال يعطى الراتب في الديوان ألنه يأخذ قدر كفايته من الفيء.

تفسير منير للزحيلي ٢٧٤ /١۰

وفسر بعض الحنفية سبيل الله بطلب العلم، وفسره الكاساني بجميع القرب، فيدخل فيه جميع وجوه الخير مثل تكفين الموتى وبناء القناطر والحصون وعمارة المساجد ألن قوله تعالى: وفي سبيل هللا عام في الكل.والخالصة: المراد بسبيل الله : إعطاء المجاهدين ولو كانوا أغنياء عند الشافعية، وبشرط كونهم فقراء عند الحنفية، والحج من سبيل الله عند أحمد والحسن وإسحاق.
واتفق العلماء الا ما يروى عن بعضهم أنه لا يجوز صرف الزكاة لبناء المساجد والجسور والقناطر وإصالح الطرقات، وتكفين الموت ى، وقضاء الدين، وشراء الأسلحة ونحو ذلك من القرب التي لم تذكر في الآية، مما لا تمليك فيه

فتح القدير للكمال ابن همام ٢٦ /٢
( وفي سبيل الله منقطع الغزاة عند أبي حنيفة – رحمه الله ) لأنه هو المتفاهم عند الإطالق )وعند محمد – رحمه الله – منقطع الحاج( لما روى »أن رجال جعل بعيرا له في سبيل هللا. فأمره رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أن يحمل عليه الحاج« .

Kutipan Imam Qoffal adalah Dloif/lemah


تفسير الخازن ج 3 ص 295 :
{ وفي سبيل الله }

يعني وفي النفقة في سبيل الله وأراد به الغزاة فلهم سهم من مال الصدقات فيعطون إذا أرادوا الخروج إلى الغزو ما يستعينون به على أمر الجهاد من النفقة والكسوة والسلاح فيعطون ذلك وإن كانوا أغنياء لما تقدم من حديث عطاء وأبي سعيد الخدري وال يعطى من سهم هللا لمن أراد الحج عند أكثر أهل العلم وقال قوم يجوز أن يصرف سهم سبيل الله إلى الحج يروى ذلك عن ابن عباس وهو قول الحسن وإليه ذهب أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه وقال بعضهم : إن اللفظ عام فال يجوز قصره على الغزاة فقط ولهذا أجاز بعض الفقهاء صرف سهم سبيل الله إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الجسور والحصون وعمارة المساجد وغير ذلك قال لأن قوله وفي سبيل الله عام في الكل فلا يختص بصنف دون غيره والقول الأول هو الصحيح لإجماع الجمهور عليه

8 ) – Ibnu Sabil (Musafir)

(والثامن ابن السبيل) وهو على قسمين مجازي وهو منشىء سفر من بلد مال الزكاةوحقيقي وهو مار ببلد الزكاة في سفره وذلك إن احتاج بأن لم يكن معه ما يوصله مقصده أو ماله فيعطى من لا مال له أصلاً

Ibnu Sabil dibagi menjadi dua jenis, yaitu; Ibnu Sabil Majazi, yaitu orang yang melakukan perjalanan jauh yang bermula dari daerah zakat.
Ibnu Sabil Hakiki, yaitu musafir yang melewati daerah harta zakat di tengah-tengah perjalanan.
Ibnu Sabil Majazi atau Hakiki diberi zakat apabila ia membutuhkannya sekira ia kekurangan bekal yang dapat membiayainya untuk sampai di tempat tujuan atau untuk sampai di tempat hartanya berada. Oleh karena itu, musafir yang tidak memiliki harta sama sekali diberi jatah zakat.

وكذا من له مال في غير البلد المنتقل إليه بشرط أن لا يكون سفره معصية

Begitu juga diberi zakat adalah musafir yang memiliki harta yang berada di daerah yang bukan menjadi tujuan kepergiannya, dengan syarat kepergiannya bukan dalam hal maksiat.

قال في المصباح وقيل للمسافر ابن السبيل لتلبسه به أي بالسبيل والطريق قالوا والمراد بابن السبيل في الآية من انقطع عن ماله انتهى

Di dalam kitab Misbah disebutkan bahwa musafir disebut dengan Ibnu Sabil karena yang namanya musafir itu menetapi jalan (sabil dan thoriq). Para ulama berkata, “Yang dimaksud dengan Ibnu mustahik zakat adalah orang yang jauh atau terpisah dari hartanya.”Sabil dalam ayat al-Quran yang menjelaskan tentang mustahik- Syarat-syarat Mustahik Zakat .

(خاتمة)
وشرط آخذ الزكاة من هذه الثمانية حرية وإسلام وأن لا يكون هاشمياً ولامطلبياً لقوله صلى اﷲ عليه وسلّّم إن هذه الصدقة أوساخ الناس وإنها لا تحل لمحمد ولالآل محمد ووضع الحسن في فيه تمرة أي من تمر الصدقة فنزعها رسولﷲ صلى الله عليه وسلّم بلعابه وقال كخ كخ إنا آل محمد لا تحل لنا الصدقات

[KHOTIMAH]
Disyaratkan bagi orang yang mengambil atau menerima zakat adalah merdeka, Islam, dan bukan termasuk keturunan Hasyimdan Muthollib, karena sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Sesungguhnya zakat-zakat ini adalah kotoran-kotoran manusia dan tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad,” dan karena berdasarkan perbuatan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama, “Ketika Hasan meletakkan sebutir kurma dari harta zakat ke dalam mulutnyaludahnya dan ber, kata, ‘Kikh! Kikh Sesungguhnya kami adalahRasulullah mengambil kurma itu dengan air zakat.’”keluarga Muhammad yang tidak halal bagi kami menerima harta

ومعنى أوساخ الناس أن بقاءها في الأموال يدنسها كما يدنس الثوب الوسخ وقوله كخكخ كما قال الصبان نقلاً عن ابن قاسم هو بكسر الكاف وتشديد الخاء ساكنة ومكسورة وعن القاموس جواز تخفيف الخاء وجواز تنوينها وجواز فتح الكاف وهي اسم صوت وضع لزجر الطفل عن تناول شيء

Pengertian zakat sebagai kotoran manusia adalah apabila zakat tidak ditunaikan dari harta seseorang maka harta tersebut menjadi terkotori sebagaimana baju terkotori oleh kotoran (noda).
Sabda Rasulullah, ‘كخ كخ’ seperti yang dikatakan oleh Syeh Shoban dengan mengutip dari Ibnu Qosim adalah dengan dibaca kasroh pada huruf /ك/ dan tasydid pada huruf /خ/ yang dapat dibaca sukun dan kasroh.
Dikutip dari kitab al-Qomus bahwa diperbolehkan tidak memberi tasydid pada huruf /خ/ dan diperbolehkan mentanwinnya dan diperbolehkan menfathah huruf /ك/. Lafadz ‘كخ كخ’ adalah isim shout atau kata benda suara yang mengandung arti mencegah anak kecil menggunakan atau mengkonsumsi sesuatu

ونقل عن الاصطخري القول بجواز صرف الزكاة إلى بني هاشم وبني المطلب عند منعهم من خمس الخمس قال البيجوري ولا بأس بتقليد الاصطخري في قوله الآن لاحتياجهم وكان الشيخ محمد الفضالي رحمه الله يميل إلى ذلك محبة فيهم نفعنا اللهم

Dikutip dari Syeh Isthokhori sebuah pendapat yang mengatakan diperbolehkannya membagikan zakat kepada keturunan Hasyim dan Muthollib ketika mereka enggan menerima 1/5 hak mereka dari Baitul Maal. Syeh Bajuri berkata, “Tidak apa-apa bertaklid atau mengikuti pendapat Isthokhori untuk saat ini, karena mereka para keturunan Hasyim dan Muthollib membutuhkan zakat.”
Syeh Muhammad al-Fadholi cenderung pada pendapat Isthokhori ini karena kecintaannya kepada mereka. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui perantara mereka, yaitu para keturunan Hasyim dan Mutholib

Jawaban:

Semua imam madzhab yang empat sepakat bahwa kiyai/ guru ngaji atau pun guru madrasah bukan termasuk mustahiq zakat.Namun Jika Kyai dan guru itu masuk dalam ashnaf fakir atau miskin atau ashnaf lain nya, maka diperbolehkan. Bolehnya menerima zakat bukan karena jadi Kyai atau guru tapi karena masuk salah satu 8 ashnaf zakat. menurut beberapa ulama’ madzhab Hanbali, seperti al-Lakhomi dan Ibnu Rusyd, jika guru tidak mendapatkan hak-haknya dari pemerintah, maka guru berhak menerima zakat meski guru tersebut kaya. Imam qoffal termasuk ashabussyafi’i beliau menukil dari beberapa ulama fiqih mereka memperbolehkan dengan mengatasnamakan Fisabilillah, namun kutipan Imam qoffal dho’if, karena yang dikutip oleh Imam Qoffal belum diketahui secara pasti siapa yang dimaksud oleh Imam Qoffal tersebut, namun ada kemungkinan besar mengarah pada Imam Hasan dan Imam Anas bin Malik. Sedangkan pendapat tersebut menurut Jumhur ulama tidak mu’tabar (tidak dianggap). Pendapat ini didukung oleh mufti Hadramaut, karena pendapat tersebut di luar lingkup madzhab empat. Namun ada juga yang sependapat dengan pendapat kutipan Imam Qaffal, seperti Syeikh Hasanain Makhluf dan ulama mu’ashirin Mesir yang memfatwakan dan memilih pendapat tersebut.
Pendapat sebagian ulama yang dinukil oleh imam qoffal dan di tanggapi oleh para ulama itu dalam konteks zakat maal. Sedangkan zakat fitrah belum ada penjelasan lebih lanjut, sehingga perumus dan para musyawirin bahtsul masail PWNU Jatim tidak berani memasukkan dalam khilaf ini, sebab dikhawatirkan ada perbedaan sebagaimana dalam madzhab Maliki yang menyatakan bahwa untuk mashrof zakat fitrah hanya terbatas pada fuqoro’ masakin, sedangkan mashrof yang lain, seperti fisabilillah yang termasuk di dalamnya para ustadz, mu’adzin dll, tidak menjadi mashrof dalam zakat fitrah akan tetapi hanya mashrof dalam zakat maal. Untuk itu, demi menjaga kehati-hatian, maka untuk zakat fitrah hanya boleh disalurkan kepada fuqoro’ masakin, sedangkan ustadz & kiyai yang aghniya’ (kaya), tidak boleh menerima zakat fitrah.

جواهر البخارى ص ١٩٣

أهل سبيل الله أى الغزاة المتطوعون بالجهاد إن كانوا أغنياء إعانة على الجهاد ويدخل في ذلك طلبة العلم الشرعي ورواد الحق وطلاب العدل ومقيموا الإنصاف والوعظ والإرشاد وناصرو الدين الحنيف

“Orang-orang yang berada di jalan Allah,” yaitu para pejuang sukarelawan dalam jihad, walaupun mereka kaya, maka mereka dibantu untuk berjihad. Dan termasuk dalam hal ini adalah para penuntut ilmu syar’i, para pencari kebenaran, para penuntut keadilan, para penegak keadilan, para pemberi nasihat dan bimbingan( guru,ngaji ) serta para pembela agama yang lurus.

فتح الإله المنان فتاوى أبو بكر باغيثان ـ (ص ٧٦-٧٠)
سئل ( رحمه الله تعالى ) هل تخرج شيء من زكاة المال أي النقد في المشاريع الخيرية كبناء مساجد أو عمارتها أو بناء مدارس أو الانفاق عليها، أو أي شيء من المرافق العامة والنافعة للمسلمين، هل يجوز إخراج شيء لهذه الغايات، وما هو مقدار الذي يصرف من الزكاة لهذه الغايات، كما بلغنا أن علماء الأزهر أو غيرهم أفتوا بالجواز فما هو الحجة والدليل، وهل يجوز نقل زكاة المال من بلد الى آخر، والمستحقين للزكاة في البلد الذي فيها المال الموجودين ……. الخ ؟ أفتونا مأجورين. ( فأجاب بقوله ) الحمد لله و صلى الله على سيدنا محمد و على آله و صحبه، الجواب لا يجوز صرف الزكاة في شيء مما ذكره السائل من بناء المساجد و عمارتها، أو بناء المدارس أو الانفاق عليها أو غير ذلك من المشاريع الخيرية وذلك لأن الله سبحانه و تعالى بنفسه في محكم كتابه تولى قسم الصدقات و لم يكل قسمتها إلى أحد غيره فجزأها لهؤلاء المذكورين بقوله { إنما الصدقات للفقراء والمساكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل فريضة من الله والله عليم حكيم (٦٠) } التوبة.
وإنما للحصر والإثبات تثبت المذكور وتنفي ما عداه، لأنها مركبة من حرفي نفي و إثبات ـــــ الى أن قال ـــــ فلا يجوز صرفها الى غير من ذكر الله تعالى في كتابه مما ذكر ـــــ الى أن قال ـــــ قال: في الشرح الكبير على متن المقنع من كتب الحنابلة، ولا نعلم خلافا بين أهل العلم في أنه لا يجوز دفع هذه الزكاة الى غير هذه الأصناف الا ما روي عن أنس والحسن انهما قالا ما أعطيت في الجسور و الطرقات فهي صدقة ماضيه، قال والصحيح الأول، لأن الله تعالى قال { إنما الصدقات …. الخ } ومثله في المغني لابن قدامة من كتبهم، وقد فسر الأئمة الأربعة الأصناف المذكورة في كتاب الله تعالى بتفاسير معروفة، ومع اختلاف في بعضها ليس فيها ما يفيد شمول أحدها للمصالح العامة مما ذكره السائل، نعم رأيت بأسفل مغني ابن قدامة الحنبلي المطبوع بأسفله الشرح الكبير على متن المقنع الذي اشرف على تصحيح طبعه السيد محمد رشيد رضا، صاحب مجلة المنار على قول المقفع و شرحه السابع (في سبيل الله) وهم الغزاة الذين لا ديوان لهم هذا الصنف السابع من أصناف الزكاة و لا خلاف في استحقاقهم و بقاء حكمهم

ـــــ الى أن قال ـــــ رأيت عن السيد محمد رشيد رضا على قول الشرح المذكور لأن سبيل الله عند الإطلاق هو الغزو، ما لفظه هذا غير صحيح بل سبيل الله هو الطريق الموصل الى مرضاته و جنته و هو الإسلام في جملته، وآيات الإنفاق في سبيل الله تشمل جميع أنواع النفقة المشروعة ـــــ الى أن قال ـــــ فلعل من قال بجواز دفع الزكاة الى من ذكر السائل من علماء الأزهر و غيرهم أخذ بقول السيد رشيد رضا هذا، و لكن هذا مخالف لما قاله أهل المذاهب المعمول بها كما رأيته فيما نقلناه عن الشرح المذكور.

مواهب الفضل من فتاوى بافضل ـ (ص ٣٨-٤١)
في الزكاة ما قولكم، رضي الله عنكم، في إخراج الزكاة لنحو بناء مسجد و مدرسة و معهد، ولنحو فرش المسجد، وغيرها، من المصالح العامة، بدعوى أنها داخلة في سبيل الله ؟ و يقال إن القفال من الشافعية نقل عن بعض الفقهاء، أنهم أجازوا صرف الزكاة إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى و بناء الحصون و عمارة المساجد، لأن ذلك كله في سبيل الله …… ؟ انتهى ما قيل عن القفال، أفتونا أثابكم بما قاله العلماء في الموضوع على اختلاف المذاهب والأقوال، فإن المسألة واقعة حال والناس ما عندهم ورع و لا تورع، و أحضرت الأنفس الشح، و كلما عرض عليهم مشروع خيري أعطوه و حسبوه من الزكاة، والله أعلم ! الحمد لله الجواب والله الهادي للصواب: لا يجوز إخراج الزكاة إلى ما ذكره السائل في السؤال من نحو بناء مسجد وغيره من المصالح العامة كما في الأنوار والمغني لابن قدامة الحنبلي لتعين صرفها إلى مستحقيها و لاتفاق الأئمة الأربعة رحمهم الله تعالى على عدم جواز إخراجها لذلك. قالوا: و المراد بقوله تعالى ( و في سبيل الله ) الغزاة، إلا الإمام أحمد في أظهر روايتيه فإنه جعل من الحج كما نص عليه الإمام الشعراني في الميزان و الشيخ محمد بن عبد الرحمن الدمشقي العثماني الشافعي في كتابه كتاب الرحمة و الإمام النواوي رضي الله عنهم.

لكن قال الشيخ ابن حجر رحمه الله في التحفة: إن الحديث الذي استدل الإمام أحمد مخالف لما عليه أكثر العلماء، و أجابوا عنه بعد تسليم صحته التي زعمها الحاكم، وإلا فقد طعن فيه غير واحد، بأن في مسنده مجهولا وعنعنة مدلس وبأن فيه اضطرابا بأنا لا نمنع أنه يسمى بذلك. وإنما النزاع في سبيل الله في الأية، و قوله ( لا تحل الصدقة إلا لخمسة ) و ذكر منها الغازي في سبيل الله صريح في أن المراد بهم فيها من ذكرناه إلى آخر ما أطال به في ذلك. و ما يقال عن القفال عن بعض الفقهاء مما ذكره السائل لم نره عنه فيما بأيدينا من المصادر. نعم، رأيت ذلك في تفسير الخازن عن بعض الفقهاء وقال بعده والقول الأول هو الصحيح لإجماع الجمهور عليه.
ولا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة كما نص عليه ابن الصلاح ونقل الإجماع عليه أي حتى في العمل لنفسه لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف و التبديل، وعليه فمن قلد غير الأئمة الأربعة في إخراج الزكاة و صرفها إلى غير مستحقيها من نحو بناء مسجد أوغيره من المصالح العامة مثلا لا تبرأ ذمته منها ويأثم إثما عظيما لأن صرفها لغير مستحقيها مما ذكره السائل كمنعها لأنه خالف الكتاب والسنة وإجماع العلماء في قولهم إن المراد بقوله تعالى: ( و في سبيل الله ) هم الغزاة وإليك الأدلة من كلامهم. قال في الأنوار: و لا يجوز الصرف في كفن الميت و دفنه و في بناء المسجد …. ( اهـ ).
قال الكمثيري في حاشيته عليه لتعين صرفها إلى مستحقيها. و قال الشيخ ابن قدامة الحنبلي في مغنيه ما لفظه: و لا يجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى، من بناء المساجد والقناطر والسقايات وإصلاح الطرقات وسد البثوق وتكفين الموتى والتوسعة على الأضياف وأشباه ذلك من القرب التي لم يذكرها الله تعالى … اهـ. ثم استدل لذلك بقوله تعالى : ( إنما الصدقات للفقراء و المساكين …) ، قال و إنما للحصر و الإثبات تثبت المذكور و تنفي ما عداه اهـ . و قال الإمام الشعراني في الميزان : اتفق الأئمة الأربعة على أنه لا يجوز إخراج الزكاة لبناء مسجد أو تكفين . ثم قال : و من ذلك قول الأئمة الثلاثة، إن المراد بقوله تعالى ( و في سبيل الله ) الغزاة مع قول أحمد في أظهر روايتيه أن منه الحج اهــ .
و قال الشيخ محمد الدمشقي في كتابه ( كتاب الرحمة ) بهامش الميزان : واتفقوا على أنه لا يجوز دفعها إلى عبده ثم قال : و اتفقوا على منع الإخراج لبناء مسجد أو تكفين ميت اهــ . و المراد بهم في قوله ” واتفقوا ” الأئمة الأربعة . و قال أيضا في كتاب الرحمة بعد عد بعض الأصناف ( و في سبيل الله ) الغزاة . و قال أحمد في أظهر الروايتين : الحج من سبيل الله اهـ . و قال الإمام النواوي في المجموع : و مذهبنا أن سهم سبيل الله المذكور في الآية الكريمة يصرف إلى الغزاة الذين لا حق لهم في الديوان ، بل يغزون متطوعين . و به قال أبو حنيفة و مالك رحمهما الله تعالى . و قال أحمد رحمه الله تعالى في أصح الروايتين عنه : يجوز صرفه إلى مريد الحج .

و روي مثله عن ابن عمر رضي الله عنهما اهـ.

و قال السيد الإمام عبد الرحمن المشهور في بغية المسترشدين ما مثاله : مسألة ش نقل ابن الصلاح الإجماع على أنه لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة، أي حتى العمل لنفسه فضلا عن القضاء والفتوى، لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل، كمذهب الزيدية المنسوبين إلى الإمام زيد بن علي بن الحسين السبط رضوان الله عليهم، وإن كان هو إماما من أئمة الدين، وعلما صالحا للمسترشدين، غير أن أصحابه نسبوه إلى التساهل في كثير لعدم اعتنائهم بتحرير مذهبه، بخلاف المذاهب الأربعة فإن أئمتها جزاهم الله خيرا بذلوا نفوسهم في تحرير أقوالها، وبيان ما ثبت عن قائلها وما لم يثبت، فأمن أهلها التحريف، وعلموا الصحيح من الضعيف اهـ

ﺑﻐﻴﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ ﻟﻠﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻬﺮﺭﻱ ـ (٣٨٧-٣٨٦) ﺩﺍﺭ ﺍﻟﻤﺸﺎﺭﻳﻊ
ﻓﺪﻟﻨﺎ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺒﻴﻦ ﻟﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﻭ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ‏) ﻓﻲ ﺁﻳﺔ ﺍﻟﺼﺪﻗﺎﺕ ﺑﻌﺾ ﺃﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺒﺮ ﻻ ﻛﻠﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ . ﻭ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺤﺞ ﻭﻫﻮ ﻓﻘﻴﺮ . ﻭ ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺇﻥ ﻛﻠﻤﺔ ‏( ﻭ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ‏) ﺗﻌﻢ ﻛﻞ ﻣﺸﺮﻭﻉ ﺧﻴﺮﻱ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﺇﻧﻤﺎ ﺫﻟﻚ ﺫﻛﺮﻩ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻫﻢ ﻣﺠﺘﻬﺪﻭﻥ ﻓﺤﺮﺍﻡ ﺃﻥ ﻳﺆﺧﺬ ﺑﻘﻮﻝ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ . ﻓﻠﻴﺤﺬﺭ ﻣﻦ ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻠﻤﻮﻥ ﺃﻣﻮﺍﻝ ﺍﻟﺰﻛﻮﺍﺕ ﺑﺎﺳﻢ ﺍﻟﻤﺴﺘﺸﻔﻰ ﺃﻭ ﺑﻨﺎﺀ ﺟﺎﻣﻊ ﺃﻭ ﺑﻨﺎﺀ ﻣﺪﺭﺳﺔ ﻫﺆﻻﺀ ﺣﺮﺍﻡ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭ ﺣﺮﺍﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻌﻄﻮﻧﻬﻢ ﻷﻧﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻛﻞ ﻋﻤﻞ ﺧﻴﺮﻱ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏( ﻭ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ٠ ٦ ‏) ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ، ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ (( ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻬﺎ ﺣﻖ ﻟﻐﻨﻲ ﻭ ﻻ ﻟﻘﻮﻱ ﻣﻜﺘﺴﺐ )).

ﻭﻫﺆﻻﺀ ﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻭ ﻗﺪ ﻧﻘﻞ ﺍﺑﻦ ﺣﺰﻡ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﺒﻨﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ، ﻭ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻫﻮ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﻭ ﻻ ﻳﻌﺘﺪ ﻓﻲ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﺑﻘﻮﻝ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻟﻢ ﻳﺼﻠﻮﺍ ﺇﻟﻰ ﻣﺮﺗﺒﺔ ﺍﻹﺟﺘﻬﺎﺩ ﻛﺼﺎﺣﺐ ﺍﻟﺒﺪﺍﺋﻊ ﺍﻟﻜﺎﺳﺎﻧﻲ ﺍﻟﺤﻨﻔﻲ ﻓﺈﻧﻪ ﻓﺴﺮ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﺠﻤﻴﻊ ﺃﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﻴﺮ، ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﺒﺪﺍﺋﻊ ﻫﺬﺍ ﻫﻮ ﻣﻘﻠﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﺍﻟﺤﻨﻔﻲ ﺍﺑﺘﺪﻉ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻫﻮ ﺑﻌﻴﺪ ﻣﻦ ﻣﺮﺗﺒﺔ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻼ ﻳﻌﺘﺒﺮ ﻗﻮﻟﻪ ﺣﺠﺔ ﻓﻲ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺗﺒﻌﻪ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺘﺪ ﺑﻬﻢ ﻓﻬﺆﻻﺀ ﻻ ﻳﻜﻮﻧﻮﻥ ﺣﺠﺔ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ* . ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻳﺠﻮﺯ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻟﻜﻞ ﻋﻤﻞ ﺧﻴﺮﻱ ﻣﺎ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ (( ﺗﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺃﻏﻨﻴﺎﺋﻬﻢ ﻭ ﺗﺮﺩ ﺇﻟﻰ ﻓﻘﺮﺍﺋﻬﻢ )) ﺃﻣﺎ ﻣﻄﻠﻖ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﺍﻟﺨﻴﺮﻳﺔ ﻓﺘﺠﻮﺯ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﻭ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺘﺼﺪﻕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﺃﻓﻀﻞ.

الموسوعة الفقهية ـ (ج ٢٣ / ص ٣٢٩-٣٣٠)
ذهب الفقهاء إلى أنه لا يجوز صرف الزكاة في جهات الخير غير ما تقدم بيانه فلا تنشأ بها طريق ولا يبنى بها مسجد ولا قنطرة ولا تشق بها ترعة ولا يعمل بها سقاية ولا يوسع بها على الأصناف ولم يصح فيه نقل خلاف عن معين يعتد به وظاهر كلام الرملي أنه إجماع واحتجوا لذلك بأمرين الأول أنه لا تمليك فيها لأن المسجد ونحوه لا يملك وهذا عند من يشترط في الزكاة التمليك والثاني الحصر الذي في الآية فإن المساجد ونحوها ليست من الأصناف الثمانية وفي الحديث المتقدم الذي فيه إن الله جعل الزكاة ثمانية أجزاء ولا يثبت مما نقل عن أنس وابن سيرين خلاف ذلك

Kutipan Imam Qoffal adalah Dloif/lemah


{ وفي سبيل الله }

يعني وفي النفقة في سبيل الله وأراد به الغزاة فلهم سهم من مال الصدقات فيعطون إذا أرادوا الخروج إلى الغزو ما يستعينون به على أمر الجهاد من النفقة والكسوة والسلاح فيعطون ذلك وإن كانوا أغنياء لما تقدم من حديث عطاء وأبي سعيد الخدري وال يعطى من سهم الله لمن أراد الحج عند أكثر أهل العلم وقال قوم يجوز أن يصرف سهم سبيل الله إلى الحج يروى ذلك عن ابن عباس وهو قول الحسن وإليه ذهب أحمد بن حنبل وإسحاق بن راهويه وقال بعضهم : إن اللفظ عام فال يجوز قصره على الغزاة فقط ولهذا أجاز بعض الفقهاء صرف سهم سبيل الله إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى وبناء الجسور والحصون وعمارة المساجد وغير ذلك قال لأن قوله وفي سبيل الله عام في الكل فلا يختص بصنف دون غيره والقول الأول هو الصحيح لإجماع الجمهور عليه

مواهب الفضل من فتاوى با فضل٣-٤١

في الزكاة ما قولكم ، رضي الله عنكم ، في إخراج الزكاة لنحو بناء مسجد و مدرسة و معهد ، و لنحو فرش المسجد ، و غيرها ، من المصالح العامة ، بدعوى أنها داخلة في سبيل الله ؟ و يقال إن القفال من الشافعية نقل عن بعض الفقهاء ، أنهم أجازوا صرف الزكاة إلى جميع وجوه الخير من تكفين الموتى و بناء الحصون و عمارة المساجد ، لأن ذلك كله في سبيل الله …… ؟ انتهى ما قيل عن القفال ، أفتونا أثابكم بما قاله العلماء الى ان قال……….الحمد الله.
الجواب والله الهادي للصواب : لا يجوز إخراج الزكاة إلى ما ذكره السائل في السؤال من نحو بناء مسجد و غيره من المصالح العامة كما في الأنوار و المغني ابن قدامة الحنبلي لتعين صرفها إلى مستحقيها و اتفق الأئمة الأربعة رحمهم هللا تعالى على عدم جواز إخراجها لذلك . قالوا : و المراد بقوله تعالى ( و في سبيل الله ) الغزاة

الميزان الكبري الجزء الثاني ص :١٣

،اِتَّفَقَ الأئِمَّةُ الأرْبَعَةُعَلَى أَنَّهُ لا يَجُوْزُ إِخْرَاجُ الزَّكَاة لبناء المسجد أو تكفين ميت


الفقه الإسلامى الجزء الثانى ص: ١٩٥٨
هل تعطى الزكاة لغير هذه األصناف ؟ اتفق جماهير فقهاء المذاهب على انه لايجوز صرف الزكاة إلى غير من ذكر الله تعالى من بناء المسجد والجسور والقناطر إلخ

بغية المسترشدين ١٠٦.
(مسئلة)

لا يَسْتَحِقُّ الْمَسْجِدُشَيْئًا مِنَ الزَّكَاةِمُطْلَقًا إِذْ لا يَجُوْزُصَرْفُهَا إِلا لِحُر مسلم ليست الزكاة كالوصية

حاشية العدوي؛ ج ٢، ص ٢١٦
يجوز اعطاء الزكاة للقارئ والعالم والمعلم ومن فيه منفعة للمسلمين ولو كانوا اغنياء لعموم نفعهم ولبقاء الدين.


الشرح الكبير؛
( تنبيه )

لا تعطى الزكاة للعالم والمفتي والقاضي إلا أن يمنعوا حقهم من بيت المال وإلا جاز لهم الأخذ بوصف الفقر أما الغني فلا يجوز له الأخذ وقال اللخمي: وابن رشد إذا منعوا حقهم من بيت المال جاز لهم أخذ الزكاة مطلقا سواء كانوا فقراء أو أغنياء بالأولى من الأصناف المذكورة في الآية كذا ذكر شيخنا في حاشية خش وقرر أن الراجح من القولين الأول

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA MENYAPU GEREJA

HUKUM MENJADI TUKANG SAPU GEREJA.
Assalaamu’alaikum,

Deskripsi masalah.

Dalam keterangan ulama’ yang berhubungan dengan non muslim terdapat keterangan yang menjelaskan bahwasanya bekerja pada non muslim itu hukumnya boleh, dan ada lagi bahwasanya membantu membangun peribadatan non muslim itu hukumnya haram, nah yang menjadi musykil bagi saya begini.

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya orang yang bekerja sebagai clening servis / tukang sapu di tempat peribadatan non muslim ?


Wa alaikumus salaam warohmatulloh.
Jawaban.

Tidak boleh (haram), karena termasuk membantu perbuatan kemaksiat (I’anah ‘ala al-Maksiat).
Namun menurut Hanafiyyah diperbolehkan kalau memang hanya mengharapkan uangnya. Jadi menurut ulama’ syafi’iyah bekerja sebagai cleaning servis / tukang sapu di gereja bagi orang muslim hukumnya HARAM karena termasuk membantu perbuatan maksiyat, sedangkan menurut hanafiyah hukumnya boleh kalau hanya memang mengharapkan gajinya. Wallohu a’lam bis showab.

Referensi :

  • Is’adur Rofiq hal 127 juz 2 :

ومنها (الإعانة على المعصية) على معصبة على معاصي الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كانت الإعانة عليها كذلك كما في الزواجر.

Artinya : Sebagian dari maksiat badan adalah menolong orang lain dalam berbuat dan berbagai maksiat kepada Allah baik berupa ucapan, perbuatan atau yang lainnya. Kemudian apabila maksiat itu berupa dosa besar maka menolong hal tersebut juga termasuk dosa besar sebagaimana yang tertera dalam kitab Zawajir.

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج الجزء 5 صحـ : 274 مكتبة دار الفكر
( فَرْعٌ )

لاَ يَصِحُّ اسْتِئْجَارُ ذِمِّيٍّ مُسْلِمًا لِبِنَاءِ كَنِيسَةٍ لِحُرْمَةِ بِنَائِهَا وَإِنْ أَقَرَّ عَلَيْهِ وَمَا فِي الزَّرْكَشِيّ مِمَّا يُخَالِفُ ذَلِكَ مَمْنُوعٌ أَوْ مَحْمُولٌ عَلَى كَنِيسَةٍ لِنُزُولِ الْمَارَّةِ اه

ـتحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 6 صحـ : 247 مكتبة دار إحياء التراث العربي
( قَوْلُهُ نَحْوِ الْكَنَائِسِ ) صَرِيحُ مَا ذُكِرَ أَنَّ هَذَا إذَا صَدَرَ مِنْ مُسْلِمٍ يَكُونُ مَعْصِيَةً فَقَطْ وَلاَ يَكْفُرُ بِهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ ِلأَنَّ غَايَتَهُ أَنَّهُ فَعَلَ أَمْرًا مُحَرَّمًا لاَ يَتَضَمَّنُ قَطْعَ اْلإِسْلاَمِ لَكِنْ نُقِلَ بِالدَّرْسِ عَنْ شَيْخِنَا الشَّوْبَرِيِّ أَنَّ عِمَارَةَ الْكَنِيسَةِ مِنْ الْمُسْلِمِ كُفْرٌ ِلأَنَّ ذَلِكَ تَعْظِيمٌ لِغَيْرِ اْلإِسْلاَمِ وَفِيْهِ مَا لاَ يَخْفَى ِلأَنَّا لاَ نُسَلِّمُ أَنَّ ذَلِكَ فِيْهِ تَعْظِيمُ غَيْرِ اْلإِسْلاَمِ مَعَ إنْكَارِهِ فِي نَفْسِهِ وَبِتَسْلِيمِهِ فَمُجَرَّدُ تَعْظِيمِهِ مَعَ اعْتِقَادِ حَقِّيَّةَ اْلإِسْلاَمِ لاَ يَضُرُّ لِجَوَازِ كَوْنِ التَّعْظِيمِ لِضَرُورَةٍ فَهُوَ تَعْظِيمٌ ظَاهِرِيٌّ لاَ حَقِيقِيٌّ اهـ ع ش أَقُولُ اْلأَقْرَبُ مَا نُقِلَ عَنْ الشَّوْبَرِيِّ مِنْ الْكُفْرِ فِي ظَاهِرِ الشَّرْعِ إلاَ أَنْ يُقَارَنَ فِعْلُهُ بِنَحْوِ ضَرُورَةٍ اهـ

البحر الرائق الجزء الثامن صحـ : 231 مكتبة دار الكتاب الإسلامي (حنفي)
قَالَ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى ( وَحَمْلُ خَمْرِ الذِّمِّيِّ بِأَجْرٍ ) يَعْنِي جَازَ ذَلِكَ وَهَذَا عِنْدَ اْلإِمَامِ وَقَالاَ يُكْرَهُ ِلأَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ { لَعَنَ فِي الْخَمْرِ عَشَرَةً وَعَدَّ مِنْهَا حَامِلَهَا } وَلَهُ أَنَّ اْلإِجَارَةَ عَلَى الْحَمْلِ وَهُوَ لَيْسَ بِمَعْصِيَةٍ وَإِنَّمَا الْمَعْصِيَةُ بِفِعْلِ فَاعِلٍ مُخْتَارٍ فَصَارَ كَمَنْ اسْتَأْجَرَهُ لِعَصْرِ خَمْرِ الْعِنَبِ وَقَطْفِهِ وَالْحَدِيثُ يُحْمَلُ عَلَى الْحَمْلِ الْمَقْرُونِ بِقَصْدِ الْمَعْصِيَةِ وَعَلَى هَذَا الْخِلاَفِ إذَا أَجَّرَ دَابَّةً لِيَحْمِلَ عَلَيْهَا الْخَمْرَ أَوْ نَفْسَهُ لِيَرْعَى لَهُ الْخَنَازِيرَ فَإِنَّهُ يَطِيبُ لَهُ اْلأَجْرُ عِنْدَهُ وَعِنْدَهُمَا يُكْرَهُ وَفِي التَّتَارْخَانِيَّة وَلَوْ أَجَّرَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ لِذِمِّيٍّ لِيَعْمَلَ فِي الْكَنِيسَةِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَفِي الذَّخِيرَةِ إذَا دَخَلَ يَهُودِيٌّ الْحَمَّامَ هَلْ يُبَاحُ لِلْخَادِمِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَخْدُمَهُ قَالَ إنْ خَدَمَهُ طَمَعًا فِي فُلُوسِهِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ خَدَمَهُ تَعْظِيمًا لَهُ يُنْظَرُ إنْ فَعَلَ ذَلِكَ لِيُمِيلَ قَلْبَهُ إلَى اْلإِسْلاَمِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ فَعَلَهُ تَعْظِيمًا لَهُ كُرِهَ ذَلِكَ وَعَلَى هَذَا إذَا دَخَلَ ذِمِّيٌّ عَلَى مُسْلِمٍ فَقَامَ لَهُ طَمَعًا فِي إسْلاَمِهِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ قَامَ لَهُ تَعْظِيمًا لَهُ كُرِهَ لَهُ ذَلِكَ اهـ

الموسوعة الفقهية الكويتية

عَمَل الْمُسْلِمِ فِي الْكَنِيسَةِ
٣٠ – ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَعْمَل لأَِهْل الذِّمَّةِ فِي الْكَنِيسَةِ نَجَّارًا أَوْ بَنَّاءً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ، لأَِنَّهُ إِِعَانَةٌ عَلَى الْمَعْصِيَةِ، وَمِنْ خَصَائِصِ دِينِهِمُ الْبَاطِل، وَلأَِنَّهُ إِِجَارَةٌ تَتَضَمَّنُ تَعْظِيمَ دِينِهِمْ وَشَعَائِرِهِمْ، وَزَادَ الْمَالِكِيَّةُ بِأَنَّهُ يُؤَدَّبُ الْمُسْلِمُ إِِلاَّ أَنَّ يَعْتَذِرَ بِجَهَالَةٍ.
وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِِلَى أَنَّهُ لَوْ آجَرَ نَفْسَهُ لِيَعْمَل فِي الْكَنِيسَةِ وَيَعْمُرَهَا لاَ بَأْسَ بِهِ لأَِنَّهُ لاَ مَعْصِيَةَ فِي عَيْنِ الْعَمَل (١) .


(١) حاشية ابن عابدين ٣ / ٢٧٢، و٥ / ٢٥١، والفتاوى الهندية ٤ / ٤٥٠، والحطاب ٥ / ٤٢٤، ومغني المحتاج ٤ / ٢٥٤، ٢٥٥، ٢٥٧، والأم ٤ / ٢١٣، وأحكام أهل الذمة ١ / ٢٧٧.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA JIMA’ DALAM KONDISI NIFAS

HUKUMNYA JIMA’ DALAM KONDISI NIFAS

Assalaamu alaikum.

Deskripsi masalah

Ada seorang perempuan baru melahirkan sedang nifasnya sudah mencapai 40 hari, dalam kondisi nifas suaminya tidak tahan menahan nafsunya untuk mewathe”nya ( menjima’nya ).

Pertanyaannya.

Bagaimana hukumnya suami menjima’ istrinya dalam kondisi nifas

Waalaikumsalam.

Jawaban.

Hukumnya haram suami istri melakukan jima’ dalam kondisi sedang nifas sampai darahnya ampet dan suci dari nifas dengan cara adus ( mandi dari hadas besar / nifas), sebagaimana keterangan dalam kitab Mausuah al-fiqhiyah ibarat yang ditebalkan.

Referensi:

الموسوعة الفقهية:١١٩٨١١/٣١٩٤٩

الثالث – الحيض والنفاس:١٨

– اتفق الفقهاء على أن الحيض والنفاس من موجبات الغسل، ونقل ابن المنذر وابن جرير الطبري وآخرون الإجماع عليه.ودليل وجوب الغسل في الحيض قوله تعالى: {ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله} (٢) أي إذا اغتسلن، فمنع الزوج من وطئها قبل غسلها، فدل على وجوبه عليها، ولقول النبي صلى الله عليه وسلم لفاطمة بنت أبي حبيش: إذا أقبلت الحيضة فدعي الصلاة، وإذا أدبرت فاغسلي عنك الدم وصلي (٣) .ودليل وجوبه في النفاس الإجماع – حكاه ابن المنذر وابن جرير الطبري والمرغيناني من الحنفية صاحب الهداية – ولأنه حيض مجتمع؛ ولأنه يحرم الصوم والوطء ويسقط فرض الصلاة، فأوجب الغسل كالحيض

Referensi:

المكتبة الشاملةكتاب كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار[تقي الدين الحصني

]الرئيسيةأقسام الكتب الفقه الشافعيفصول الكتاب ص: 41مسار الصفحة الحالية:

فهرس الكتاب

كتاب الطهارة موجبات الغسل

(وَثَلَاثَة تخْتَص بهَا النِّسَاء وَهِي الْحيض وَالنّفاس والولادة)

من الْأَسْبَاب الْمُوجبَة للْغسْل الْحيض قَالَ الله تَعَالَى {وَلَا تقربوهن حَتَّى يطهرن فَإِذا تطهرن فاتوهن من حَيْثُ أَمركُم الله} نهى عَن قربانهن إِلَى الْغَايَة وَعَن عَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا أَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ(إِذا أَقبلت الْحَيْضَة فدعي الصَّلَاة فَإِذا ذهب قدرهَا فاغسلي عَنْك الدَّم وَصلي وَفِي رِوَايَة(ثمَّ اغْتَسِلِي وَصلي) وَالنّفاس كالحيض فِي ذَلِك وَفِي مُعظم الْأَحْكَام وَمن الْأَسْبَاب الْمُوجبَة للْغسْل الْولادَة وَله عِلَّتَانِ إحدهما أَن الْولادَة وظنة خُرُوج الدَّم وَالْحكم يتَعَلَّق بالمظان أَلا ترى أَن النّوم ينْقض الْوضُوء لِأَنَّهُ مَظَنَّة الْحَدث وَالْعلَّة الثَّانِيَة وَهِي الَّتِي قَالَهَا الْجُمْهُور أَن الْوَلَد مني مُنْعَقد وَتظهر فَائِدَة الْخلاف فِيمَا إِذا ولدت ولدا وَلم تَرَ بللاً فعلى الأول لَا يجب الْغسْل وعَلى الْعلَّة الثَّانِيَة وَهُوَ أَنه مني مُنْعَقد يجب الْغسْل وَهُوَ الرَّاجِح وَكَذَا يجب الْغسْل بِوَضْع الْعلقَة والمضغة على الرَّاجِح وَمِنْهُم من قطع بِالْوُجُوب بِوَضْع المضغة .

Referensi:

(الفتاوي المصرية)السؤالما حكم مَن عاشرها زوجها وهي في فترة النفاس؟

الجواب

يحرم على الرجل جماع زوجته في الحيض أو النفاس، ويحرم عليها أن تطاوعه في ذلك، فإذا كان ذلك قد وقع، فعليهما بالتوبة بالندم، والعزم على عدم العودة، وكثرة الاستغفار، والعمل الصالح، وخاصةً الصدقة.وَالله أعلم

Di haramkan bagi suami untuk berjima’ dengan istrinya, didalam keadaan istrinya sedang haid dan nifas.Dan haram bagi istri untuk mau dijima’ oleh suaminya, didalam keadaan istri itu sedang haid atau nifas.

Kategori
Uncategorized

NADZAR SYARAT DAN RUKUNNYA

Assalamualaikum izin bertanya🙏

Deskripsi masalah.
Inayatul Husna merupakan salah satu santri dipondok yang ada dijawa dia pernah bernazar bahwa jika dia menang dalam lomba yang diikutinya dia akan membuat acara makan bersama satu kelas namun ketika dia menang dia lupa akan nazarnya itu dan ingat ketika dia dan teman2 nya sudah lulus dari pondok


Pertanyaannya

  1. Apakah nazar Ina tersebut dianggap gugur atau tidak??..jika tidak gugur maka apa yang harus dilakukan ina agar dapat melunasi nazarnya tersebut
  2. Apa saja syarat -syarat nazar agar bisa dianggap sah.

Waalaikumsalam

Sebelum menjawab dari pertanyaan sebagaimana deskripsi penting mujawwib jelaskan pengertian Nadzar secara bahasa adalah janji (melakukan hal) baik atau buruk. Sedangkan nazar menurut istilah syara’ adalah kesanggupan melakukan ibadah (qurbah; mendekatkan diri kepada Allah) yang bukan merupakan hal wajib (fardhu ‘ain) bagi seseorang.  “Mewajibkan suatu bentuk ketaatan yang asalnya tidaklah wajib berdasarkan syariat. Sebagian ulama mendefinisikan Nadzar secara istilah berarti janji melakukan kebaikan tertentu atau menetapkan (mewajibkan dirinya) melakukan perkara yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang perkara tersebut pada hukum asalnya tidak wajib’ Yang kedua: adanya nadzar tersebut tidak digantungkan pada sesuatu seperti ucapan: ‘Demi Allah, wajib bagiku puasa atau haji atau yang lainnya.

Dalam Fath Al-Qorib disebutkan, nadzar adalah:

فصلٌ): فِيْ أَحْكَامِ الُّنُذُوْرِ. جَمْعُ نَذْرٍ وَهُوَ بِذَالٍ مُعْجَمَةٍ سَاكِنَةٍ، وَحُكِيَ فَتْحُهَا وَمَعْنَاهُ لُغَةً الْوَعْدُ بِخَيْرٍ أَوْ شَرٍّ، وَشَرْعاً اِلْتِزَامُ قُرْبَةٍ غَيْرِ لَازِمَةٍ بِأَصْل الشَّرْعِ

Pasal : Menerangkan tentang hukum-hukum Nadzar.  Kata : ‘Nudzur” adalah jamak dari kata : “Nadzrin”, yaitu dengan menggunakan huruf Dzal mati yang dititik, dan diceritakan yaitu (dengan memakai dzal, ) yang berharakat fat-hah. Adapun maknanya Nadzar menurut etemologi ( bahasa ) ialah “janji”. Sedang menurut syara” Nadzar ialah Mewajibkan suatu bentuk ketaatan yang asalnya tidaklah wajib berdasarkan syariat.

Nazar Terbagi Dua

Nazar (Nadzar) ini terbagi dua bagian yaitu nazar Lajaj dan yang keduanya nazar mujazah, keterangan berikurt ini;

وَ النَّذُر ضَرْبَانِ أَحَدُهُمَا نَذْرُ اللَّجَاجِ بِفَتْحِ أَوَّلِهِ وَهُوَ التَّمَادِيْ فِيْ الْخُصُوْمَةِ، وَالْمُرَادُ بِهَذَا النَّذْرِ أَنْ يَخْرُجَ مُخْرَجَ الْيَمِيْنِ، بِأَنْ يَقْصِدَ النَّاذِرُ مَنْعَ نَفْسِهِ مِنْ شَيْءٍ، وَلَا يَقْصِدَ الْقُرْبَةَ وَفِيْهِ كَفَارَةُ يَمِيْنٍ أَوْ مَا الْتَزَمَهُ بِالنَّذْرِ

Nadzar itu ada dua macann, yaitu

Pertama : Nadzar Lajjaj (dengan dibaca harkat fat-hah hurup yang permulaan) yaitu memperpanjang perbantahan. Adapun yang yang yang dimaksud dengan nadzar ini yaitu suatu nadzar yang keluar karena adanya sumpah yang keluar di mana si Nadzir (orang yang bersumpah) mencegah dirinya dari (melakukan) sesuatu tidak bermaksud ibadah, dan dalam hal ini wajib membayar kafarat sumpah atau menetapkannya dengan nadzar.

Nadzar yang kedua ( Al-Majazah)

Adapun yang dimaksud dengan Nazar Mujazah adalah sebagai bertikut;

وَثَانِيهَا نَذْرُ الْمُجَازَاةِ وَهُوَ نَوْعَانِ، أَحَدُهُمَا أَنْ لَا يُعَلِّقَهُ النَّاذِرُ عَلَى شَيْءٍ كَقَوْلِهِ اِبْتِدَاءً لِلَّهِ عَلَيَّ صَوْمٌ أَوْ عِتْقٌ، وثَانِيْهِمَا أَنْ يُعَلِّقَهُ عَلَى شَيْءٍ وَأَشَارَ لَهُ الْمُصَنِّفُ بِقَوْلِهِ (وَالنَّذْرُ يَلْزِمُ فِيْ الْمُجَازَاةِ عَلَى) نَذْرِ (مُبَاحٍ وَطَاعَةٍ كَقَوْلِهِ) أَيْ النَّاذِرِ (إِنْ شَفِىَ اللهُ مَرِيْضِيْ) وَفِيْ بَعْضِ النُّسَخِ مَرَضِيْ أَوْ إِنْ كُفِيَتْ شَرَّ عَدُوِّيْ (فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُصَلِّيَ أَوْ أَصُوْمَ أَوْ أَتَصَدَّقَ وَيَلْزِمُهُ) أَيْ النَّاذِرَ (مِنْ ذَلِكَ) أَيْ مِمَّا نَذَرَهُ مِنْ صَلَاةٍ أَوْ صَوْمٍ أَوْ صَدَقَةٍ (مَا يَقَعُ عَلَيْهِ الْاِسْمُ) مِنَ الصَّلَاةِ وَأَقَلُّهَا رَكْعَتَانِ أَوِ الصَّوْمِ وَأَقَلُّهُ يَوْمٌ أَوِ الصَّدَقَةِ، وَهِيَ أَقَلُّ شَيْءٍ مِمَّا يَتَمَوَّلُ وَكَذَا لَوْ نَذَرَ التَّصَدُقَ بِمَالٍ عَظِيْمٍ كَمَا قَالَ الْقَاضِي أَبُوْ الطَّيِّبِ 

Kedua : Nadzar Mujazah, yaitu ada dua macam :

  1. Si Nadzir (yang bernadzar) tidak menggantungkan nadzarnya atas sesuatu. Seperti ucapan Nadzir yang permulaan “Karena Allah wajib atas aku puasa atau memerdekakan (budak).
  2. Si Nadzir menggantungkan nadzarnya atas sesuatu. Mushannif memberikan petunjuk kepada nadzar macam kedua dengan melalui perkataannya bahwa nadzar itu tetap wajib dalam hal melaksanakan suatu nadzar yang digantungkan atas perkara yang mubah dan perbuatan taat. Seperti ucapan Nadzir : “Jika Allah menyehatkan (menghilangkan) penyakitku (menurut sebagian keterangan menggunakan kata “sakitku atau aku dicegah dari kejelekan musuhku”), maka dengan karena Allah wajib atas aku yaitu mengerjakan shalat atau puasa atau memberi shadaqah”.

Dan wajiblah bagi Nadzir dari nadzar itu tadi, artinya dari apa yang ia menadzarkannya berupa shalat, puasa atau shadaqah yaitu segala yang terjadi pada nama shalat, paling sedikitnya shalat yaitu dua rakaat, atau puasa, paling sedikitnya yaitu sehari, atau shadaqah, paling sedikit berupa sesuatu yang dapat menjadi uang (bernilai, pen.) Demikian pula jika seseorang bernadzar untuk shadaqah dengan harta yang besar (banyak, pen.) sebagaimana pendapat Qadli Abu Ath-Thayyib.

Nazar Bukan untuk maksiat

Tidak boleh bernazar untuk maksiat dan secara hukum nazar tersebut tidak sah. Dalam hal ini Mushanif menjelaskan sebagai berikut:

ثُمَّ صَرَحَ الْمُصَنِّفُ بِمَفْهُوْمِ قَوْلِهِ سَابِقاً عَلَى مُبَاحٍ فِيْ قَوْلِهِ (وَلَا نَذْرَ فِيْ مَعْصِيَةٍ) أَيْ لَا يَنْعَقِدُ نَذْرُهَا (كَقْوْلِهِ إِنْ قَتَلْتُ فُلَاناً) بِغَيْرِ حَقٍّ (فَلِلَّهِ عَلَيَّ كَذَا) وَخَرَجَ بِالْمَعْصِيَةِ نَذْرُ الْمَكْرُوْهِ كَنَذْرِ شَخْصٍ صَوْمَ الدَّهْرِ، فَيَنْعَقِدُ نَذْرُهُ وَيَلْزِمُهُ الْوَفَاءُ بِهِ، وَلَا يَصِحُّ أَيْضاً نَذْرُ وَاجِبٍ عَلَى الْعَيْنِ. كَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ أَمَّا الْوَاجِبُ عَلَى الْكِفَايَةِ فَيَلْزِمُهُ كَمَا يَقْتَضِيْهِ كَلَامُ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا 

Kemudian Mushannif menjelaskan pemahaman pendapatnya terdahulu atas “kebolehan” dalam perkataannya, bahwa tidak ada nadzar dalam kaitannya dengan maksiyat, artinya bahwa nadzar maksiyat itu tidak boleh (tidak sah). Seperti ucapan Nadzir “Jika aku membunuh si Fulan dengan jalan tidak benar, maka karena Allah wajib melakukan sesuatu”. Kecuali nadzar maksiat, yaitu nadzar perkara yang makruh. Seperti nadzar seseorang untuk berpuasa selama satu tahun maka terjadilah nadzar makruh itu dan bagi Nadzir wajib melaksanakannya. Demikian juga tidak sah nadzar wajib dalam arti wajib ‘Ain, seperti shalat lima waktu. Adapun wajib kifayah, maka bagi Nadzir melaksanakan nadzarnya, sebagaimana keterangan yang sesuai dengan perkataan kitab Raudhah dan aslinya.

Berdasarkan pengertian di atas, maka tidak sah bernazar akan melakukan hal yang mubah, makruh (menurut penda.pat yang rajih [kuat]), dan haram. Begitu juga tidak sah bernazar akan melakukan sesuatu yang wajib atau fardhu ‘ain baginya, seperti bernazar akan melakukan shalat lima waktu. Sebab shalat lima waktu, meskipun tidak dinazarkan, sudah menjadi kewajiban bagi seorang Muslim (Sayyid Ahmad bin ‘Umar As-Syatiri, al-Yaqut an-Nafis fi Madzhabi Ibni Idris, hal. 227).

Jawaban No.1

Nadzarnya Inayah tidak gugur, selama masih hidup, Kecuali mati, namun pengecualian mati ini ulama berbeda pendapat ada yang berpendapat gugur dan ada yang berpendapat tidak gugur.

Nadzar ada dua : Nadzar Maliyah dan Nadzar Gharu maliyah

Pandangan ulama tentang Nadzar yang bersifat harta.

Jika nadzarnya seseorang bersifat harta,

  • Menurut Madzahab Hanafi dan Maliki nadzarnya tidak gugur, jika ada wasiat.( walaupun mati)
  • Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah Nadzarnya tidak gugur karena sebab kematian baik ada wasiat atau tidak ada wasiat, maka harus diambil dari harta tirkatnya.

Jika Nadzarnya seseorang bukan bersifat harta, ulama beda pendapat.

  • Menurut mayoritas ulama fiqih dari kalangan Hanafi, Maliki Syafi’i dan Hanabilah gugur.,Namun jika orang bernadzar haji maka ada dua pendapat.
  1. Menurut Hanafi, Malikiyah, sedangkan menurut Syafi’iyah gugur kecuali:
  2. Ada kesempatan,melaksanakannya maka wajib diqodlo’ dengan diambilkan dari semua hartanya ( dengan cara badal haji) ( Ini menurut Syafiiyah dan Hanabilah)

Jika seseorang tidak mampu sehingga melanggar Nadzarnya maka ia wajib membayar kaffat diantaranya ia boleh memilih 1 diantara 3

  1. Memerdekakan budak
  2. Memberi makan 10 orang miskin dan juga memberi pakaian kepada mereka.
  3. Berpuasa tiga hari berturut-turut

Jawaban .No 2

Syarat-syarat Nadzar

  1. Islam.Karena adanya Nazar itu harus Qurbah ( mendekatkan diri kepada Allah), sedang pekerjaan orang kafir tidak diminati dengan qurbah ini Menurut Hanafi Maliki Syafi’iyah tetapi menurut Hambali boleh/sah nadzar walau bukan islam.
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Merdeka
  5. Ikhtiyar

Rukun-rukun nadzar ada tiga:

1-orang-rang yang nadzar
2-perkara yang dinadzari
3-sighat (ucapan yang menunjukkan nadzar)’

Dalam masalah sighat, adalah adanya lafal (ucapan) yang menunjukkan adanya penetapan dan dalam pengertian penetapan (mewajibkan) ini adalah keterangan bab dlaman (tanggungan). Yaitu seperti kata ‘Demi Allah wajib atasku perkara seperti ini atau wajib atasku perkara seperti ini. Maka sighat tidak sah hanya sekedar niat (tanpa diucapkan), sebagaimana juga tidak sah semua aqad hanya dengan niat. Juga tidak sah sighat yang tidak menunjukkan penetapan (mewajibkan) seperti ucapan: ‘Saya melakukan seperti ini’.
Kitab Tadzhib halaman 254

الموسوعة الفقهية -٣١٩٤٩ 

نذر
التعريف:
١- النذر لغة: هو النحب، وهو ما ينذره الإنسان فيجعله على نفسه نحبا واجبا، يقال: نذر على نفسه لله كذا، ينذر، وينذر، نذرا ونذورا، كما يقال: أنذر وأنذر نذرا، إذا أوجبت على نفسك شيئا تبرعا، من عبادة أو صدقة، أو غير ذلك (١) .
والنذر اصطلاحا: إلزام مكلف مختار نفسه لله تعالى بالقول شيئا غير لازم عليه بأصل الشرع (٢)
الألفاظ ذات الصلة:
أ – الفرض:
٢ – من معاني الفرض في اللغة: الإيجاب، يقال: فرض الأمر: أوجبه، وفرض عليه:
كتبه عليه (١) . وفي الاصطلاح: ما يثاب الشخص على فعله، ويعاقب على تركه (٢) .
والصلة بين النذر والفرض: أن النذر أوجبه الشخص على نفسه، والفرض وجب بإيجاب الشرع.
ب – التطوع:
٣ – التطوع في اللغة: التبرع، يقال تطوع بالشيء تبرع به (٣) .
وفي الاصطلاح: هو طاعة غير واجبة (٤) .
والصلة بين التطوع والنذر أن النذر فيه التزام بالفعل، بخلاف التطوع فلا التزام فيه.
ج – اليمين:
٤- من معاني اليمين في اللغة: الحلف. لأنهم كانوا إذا تحالفوا ضرب كل واحد منهم يمينه على يمين صاحبه (٥) .
واليمين اصطلاحا: تحقيق أمر غير ثابت، ماضيا كان أو مستقبلا، نفيا أو إثباتا، ممكنا أوممتنعا، مع العلم بالحال أو الجهل به (١) .
مشروعية النذر:
٥ – لا خلاف بين الفقهاء في صحة النذر في الجملة، ووجوب الوفاء بما كان طاعة منه (٢) .
وقد استدلوا على ذلك بالكتاب والسنة والإجماع.
أما الكتاب الكريم فبآيات منها قوله تعالى: وليوفوا نذورهم (٣) ومنها ما قاله سبحانه في شأن الأبرار يوفون بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا (٤) .وما قاله جل شأنه: ومنهم من عاهد الله لئن آتانا من فضله لنصدقن ولنكونن من الصالحين فلما آتاهم من فضله بخلوا به وتولوا وهم معرضون فأعقبهم نفاقا في قلوبهم إلى يوم يلقونه بما أخلفوا الله ماوعدوه وبما كانوا يكذبون (١) وأما السنة النبوية المطهرة فبأحاديث منها ما ورد عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: من نذر أن يطيع الله فليطعه، ومن نذر أن يعصيه فلا يعصه (٢) وما ورد عن ابن عمر أن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف يوما في المسجد الحرام فكيف ترى؟ قال: اذهب فاعتكف يوما وفي رواية أخرى أنه قال للنبي صلى الله عليه وسلم: يا رسول الله، إني نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة في المسجد الحرام. فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أوف بنذرك (٣) .وما روى عمران بن الحصين رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خير أمتي قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم،ثم إن بعدكم بقوما يشهدون ولا يستشهدون، ويخونون ولا يؤتمنون، وينذرون ولا يفون، ويظهر فيهم السمن (١) .
وأما الإجماع فحكى ابن رشد (الحفيد) اتفاق الفقهاء على لزوم النذر المطلق في القرب، وقال ابن قدامة: أجمع المسلمون على صحة النذر في الجملة، ولزوم الوفاء به (٢) .
حكم النذر:
٦ – اختلف الفقهاء في فى صفة النذر
الشرعية على اتجاهين:
الاتجاه الأول: يرى أن النذر مندوب إليه، وإن كان لبعضهم تفصيل في نوع النذر الذي يوصف بذلك.
فقد ذهب الحنفية إلى أن النذر قربة مشروعة، ولا يصح إلا بقربة لله تعالى من جنسها واجب.
وذهب المالكية إلى أن النذر المطلق – وهو الذي يوجبه المرء على نفسه شكرا لله على ما كان ومضى – مستحب.
وذهب القاضي والغزالي والمتولي من الشافعية إلى أن النذر قربة.
وقال ابن الرفعة: الظاهر أنه قربة في نذر

Nadzar
Definisi:

  1. Secara bahasa, nadzar berarti sumpah atau janji, yaitu sesuatu yang dijanjikan seseorang atas dirinya sendiri sehingga menjadi kewajiban baginya. Contohnya, seseorang mengatakan, “Aku bernadzar kepada Allah akan melakukan ini,” baik berupa ibadah, sedekah, atau lainnya. Dalam istilah syara’, nadzar adalah kewajiban yang diikatkan oleh seorang mukallaf yang berakal dan memilih secara sukarela dengan ucapan untuk Allah Ta’ala, terhadap sesuatu yang tidak wajib baginya menurut hukum asal syariat.

Kata-Kata yang Berkaitan:
a. Fardhu:
2. Dalam bahasa, fardhu berarti kewajiban. Secara istilah, fardhu adalah suatu amalan yang pelakunya diberi pahala dan yang meninggalkannya mendapat hukuman. Hubungan antara nadzar dan fardhu adalah bahwa nadzar diwajibkan oleh diri sendiri, sedangkan fardhu diwajibkan oleh syariat.

b. Tathawwu’ (Amalan Sunnah):
3. Dalam bahasa, tathawwu’ berarti pemberian secara sukarela. Secara istilah, tathawwu’ adalah ketaatan yang tidak wajib. Hubungan antara tathawwu’ dan nadzar adalah bahwa nadzar melibatkan komitmen untuk melaksanakan suatu amal, sedangkan tathawwu’ tidak memiliki komitmen tersebut.

c. Yamin (Sumpah):
4. Dalam bahasa, yamin berarti sumpah, dinamakan demikian karena dahulu orang yang bersumpah akan saling meletakkan tangan kanannya di atas tangan kanan pihak lain. Secara istilah, yamin adalah penegasan terhadap suatu hal yang belum pasti, baik masa lalu maupun masa depan, dengan pernyataan positif atau negatif, baik hal tersebut mungkin atau mustahil, dengan pengetahuan atau tanpa pengetahuan tentangnya.

Disyariatkannya Nadzar:
5. Para ulama sepakat bahwa nadzar pada dasarnya adalah sah dan wajib dipenuhi selama berkaitan dengan ketaatan. Hal ini didasarkan pada Al-Qur’an, sunnah, dan ijma’:

a. Al-Qur’an:
Di antaranya firman Allah:

  • “Dan hendaklah mereka memenuhi nadzar-nadzar mereka” (QS. Al-Hajj: 29).
  • “Mereka memenuhi nadzar dan takut akan suatu hari yang keburukannya merata di mana-mana” (QS. Al-Insan: 7).
  • Firman-Nya tentang orang-orang munafik: “Dan di antara mereka ada yang berjanji kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya, niscaya kami akan bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka adalah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (QS. At-Taubah: 75-76).

b. Sunnah Nabi:

  • Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa bernadzar untuk taat kepada Allah, hendaklah ia memenuhinya. Dan barang siapa bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah, maka janganlah ia memenuhinya” (HR. Bukhari dan Muslim).
  • Dari Ibnu Umar, bahwa Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah ﷺ, “Ya Rasulullah, aku bernadzar di masa jahiliah untuk beriktikaf sehari di Masjidil Haram, bagaimana pendapatmu?” Rasulullah menjawab: “Penuhilah nadzarmu.”

c. Ijma’:
Ibnu Rusyd (cucu) menyatakan bahwa para ulama sepakat atas wajibnya menepati nadzar yang bersifat ketaatan. Ibnu Qudamah juga menegaskan bahwa umat Islam telah sepakat tentang sahnya nadzar secara umum dan kewajiban untuk memenuhinya.

Hukum Nadzar:
6. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum syar’i nadzar, terbagi menjadi dua pendapat:
Pendapat pertama: Menyatakan bahwa nadzar adalah sunnah, meskipun sebagian ulama memberikan rincian tentang jenis nadzar tertentu.

  • Mazhab Hanafi: Nadzar adalah ibadah yang disyariatkan, tetapi hanya sah jika berupa ketaatan yang serupa dengan kewajiban syar’i.
  • Mazhab Maliki: Nadzar mutlak (sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah terjadi) adalah dianjurkan.
  • Sebagian ulama Syafi’i, seperti Al-Qadhi, Al-Ghazali, dan Al-Mutawalli, juga menyebutkan bahwa nadzar adalah ibadah yang disunnahkan.

Sebagian mendefinisikan nadzar secara syara’ sebagai berikut:

… وَشَرْعًا الوَعْدُ بِالخَيْرِ خَاصَّةُ أو اِلْتِزَامُ قُرْبَةً لَمْ تَتَعَيَّنْ بِأصْلِ الشَّرْعِ… وَالثَّانِى أنْ يَكُونَ غَيْرَ مُعَلَّقٍ كَأنْ يَقُولَ للهِ عَلَيَّ صَوْمٌ أو حَجٌّ أو غَيْرُ ذَلِكَ.ٌ و َجٌّ و َيْرُ َلِكَ..


Syarat-Syarat Nadzar


موسوعة الفقهية ;2778/31949

شرائط النذر، وهي: الإسلام والبلوغ والعقل والحرية والاختيار، ولتفصيلها يراجع باب النذر.

الموسوعة الفقهية – 2523/31949

(6) النذر، فيشترط إسلام الناذر، لأن النذر لا بد أن يكون قربة، وفعل الكافر لا يوصف بكونه قربة. وهذا مذهب الحنفية والمالكية وظاهر مذهب الشافعية. ويصح عند الحنابلة. قال صاحب كشاف القناع: (1) ويصح النذر من كافر ولو بعبادة، لحديث عمر رضي الله عنه قال: قلت يا رسول الله: إني كنت نذرت في الجاهلية أن أعتكف ليلة، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: أوف بنذرك. (2)

Rukun-rukunya Nadzar

وَأرْكَانُهُ ثَلاَثَةٌ: نَاذِرٌ وَمَنْذُورٌ وَصِيْغَةٌ … وَفِى الصِّيغَةٍ كَونُهَا لَفْظًا يُشْعِرُ بِاللإلْتِزَامِ وَفِى مَعْنَاهُ مَا مَرَّ فِى الضَّمَانِ كَللَّهِ عَلَيَّ كَذَا وَعَلَيَّ كَذَا فَلاَ تَصِحُّ بِالنِيَّةِ كَسَائِرِ العُقُودِ وَلاَ بِمَا لاَيُشْعِرُ بِالإلْتِزَامِ كَأَفْعَلُ كَذَا.

Nadzar tidak gugur karena sebab kematian


الموسوعة الفقهية – 25639/31949

ح – النذر:
88 – إذا مات من وجب عليه النذر دون أن يفي به، فهل يبطل التزامه بالموت أم لا؟
فرق الفقهاء في ذلك بين النذرالمالي  كالصدقة والعتق ونحوهما، وبين غير المالي كالصلاة والصوم والحج والاعتكاف ونحوها، وبيان ذلك فيما يلي:
أ – النذر المالي:
89 – اختلف الفقهاء في حكم من نذر في صحته ونحوها، ثم مات قبل الوفاء بنذره وذلك على قولين:
القول الأول: للحنفية والمالكية، وهو عدم سقوط النذر بموته إذا أوصى بأن يوفى من ماله، ويخرج من ثلثه كسائر الوصايا، فإن لم يوص به سقط في أحكام الدنيا، ولا يجب على الورثة إخراجه من مالهم إلا أن يتطوعوا به (1) .
القول الثاني: للشافعية والحنابلة، وهو أن النذر لا يسقط بموته، بل يؤخذ من رأس مال تركته كسائر ديون الله تعالى أوصى بذلك أو لم يوص به (2) .
ب – النذر غير المالي:
90 – فرق الفقهاء في ذلك بين ما إذا كان المنذور به حجا أو صوما أو صلاة أو اعتكافا على النحو التالي:
أ – فإن كان النذر صلاة، فمات الناذر قبل فعلها فقد ذهب جمهور الفقهاء من الحنفية والمالكية والشافعية والحنابلة إلى سقوطها بموته، فلا يصلي أحد عن الميت، لأن الصلاة لا بدل لها، وهي عبادة بدنية لا ينوب أحد عن الميت في أدائها (1) .
ب – وإن كان النذر حجا، ومات الناذر قبل التمكن من أدائه لأي عذر من الأعذار الشرعية فقد اختلف الفقهاء في ذلك على قولين:
أحدهما: للحنفية والمالكية والشافعية، وهو أنه يسقط عنه ولا شيء عليه (2) .والثاني: للحنابلة في المذهب، وهو أنه يجب أن يخرج عنه من جميع ماله ما يحج به عنه، ولو لم يوص بذلك (1) .وإذا مات بعد أن تمكن من أدائه ولم يحج، فقد اختلف الفقهاء في سقوطه على قولين:
القول الأول: للحنفية والمالكية، وهو أنه يسقط بوفاة الناذر، ولا يلزم ورثته الحج عنه، فلا يؤخذ من تركته شيء لأجل قضاء ما وجب عليه من حج إلا إذا أوصى بذلك، فإنه ينفذ في حدود ثلث تركته (2) .
القول الثاني: للشافعية والحنابلة، وهو أنه صار بالتمكن دينا في ذمته، ويجب قضاؤه من جميع تركته إن ترك مالا، بأن يحج وارثه عنه أو يستأجر من يحج عنه، سواء أوصى بذلك أو لم يوص، فإن لم يترك مالا، بقي النذر في ذمته، ولا يلزم الورثة بقضائه عنه (3) .ج – وإن كان النذر صوما، فمات الناذر قبل فعله فقد اختلف الفقهاء في سقوطه على قولين:
أحدهما: للحنفية والمالكية والشافعية في المذهب، وهو أن الصوم يسقط بموته، فلا يصوم عنه أحد، لأن الصوم الواجب جار مجرى الصلاة، فكما أنه لا يصلي أحد عن أحد، فلا يصوم أحد عن أحد (1) .

والثاني: للحنابلة والشافعي في القديم، وهو أنه لا يسقط بموته، ويصوم عنه وليه، وذلك لأن النذر التزام في الذمة بمنزلة الدين، فيقبل قضاء الولي له كما يقضي دينه.غير أن الصوم ليس بواجب على الولي في قول الحنابلة والشافعي في القديم، بل هو مستحب له على سبيل الصلة له والمعروف (2)

Nadzar

88. Jika orang yang memiliki kewajiban nadzar meninggal dunia sebelum melaksanakannya, apakah kewajibannya gugur karena kematian atau tidak?
Para ulama membedakan antara nadzar yang bersifat harta seperti sedekah, memerdekakan budak, dan sejenisnya, dengan nadzar yang bersifat non-harta seperti shalat, puasa, haji, dan i’tikaf. Penjelasannya sebagai berikut:

A. Nadzar yang bersifat harta
89. Para ulama berbeda pendapat mengenai seseorang yang bernadzar terkait harta dalam keadaan sehat lalu meninggal sebelum memenuhi nadzarnya:

  • Pendapat pertama: Mazhab Hanafi dan Maliki menyatakan bahwa kewajiban nadzar tidak gugur karena kematian jika ia berwasiat agar nadzar tersebut dipenuhi dari hartanya. Nadzar itu diambil dari sepertiga hartanya seperti wasiat-wasiat lainnya. Namun, jika ia tidak berwasiat, maka kewajibannya gugur dalam hukum dunia, dan para ahli waris tidak wajib memenuhinya kecuali mereka melakukannya secara sukarela.
  • Pendapat kedua: Mazhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa nadzar tidak gugur dengan kematian. Nadzar tersebut harus dipenuhi dari seluruh harta warisan seperti halnya utang kepada Allah Ta’ala, baik almarhum berwasiat atau tidak.

B. Nadzar yang bersifat non-harta
90. Para ulama membedakan hukumnya berdasarkan jenis nadzar, apakah berupa haji, puasa, shalat, atau i’tikaf:

  1. Jika nadzar berupa shalat:

    • Jika orang yang bernadzar meninggal sebelum melaksanakannya, mayoritas ulama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) berpendapat bahwa kewajiban shalatnya gugur dengan kematiannya. Tidak seorang pun dapat melaksanakan shalat untuk menggantikan orang yang meninggal karena shalat adalah ibadah fisik yang tidak dapat diwakilkan.
  2. Jika nadzar berupa haji:

    • Jika orang yang bernadzar meninggal sebelum mampu melaksanakan haji karena adanya uzur syar’i, maka:
      • Pendapat pertama: Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i menyatakan kewajibannya gugur, dan tidak ada kewajiban apa pun atasnya.
      • Pendapat kedua: Mazhab Hanbali berpendapat bahwa haji harus dilaksanakan dari seluruh hartanya, meskipun ia tidak berwasiat.
    • Jika orang yang bernadzar meninggal setelah mampu melaksanakan haji tetapi tidak melakukannya, maka:
      • Pendapat pertama: Mazhab Hanafi dan Maliki menyatakan kewajibannya gugur dengan kematian, dan ahli waris tidak diwajibkan untuk melaksanakannya kecuali almarhum telah berwasiat. Wasiat tersebut hanya dilaksanakan dari sepertiga harta.
      • Pendapat kedua: Mazhab Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa kemampuan melaksanakan haji menjadikan nadzar tersebut sebagai utang dalam tanggungan almarhum. Oleh karena itu, nadzar tersebut harus dipenuhi dari seluruh harta warisan, baik ia berwasiat maupun tidak. Jika tidak ada harta yang ditinggalkan, maka nadzar tetap menjadi tanggungan almarhum, tetapi ahli waris tidak diwajibkan untuk melaksanakannya.
  3. Jika nadzar berupa puasa:

    • Jika orang yang bernadzar meninggal sebelum melaksanakan puasanya, maka:
      • Pendapat pertama: Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i (pendapat dalam mazhab) menyatakan bahwa kewajibannya gugur, dan tidak seorang pun dapat menggantikannya karena puasa wajib serupa dengan shalat. Sebagaimana shalat tidak dapat diwakilkan, puasa pun demikian.
      • Pendapat kedua: Mazhab Hanbali dan pendapat lama dalam Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa kewajiban puasa tidak gugur. Walinya dianjurkan untuk melaksanakan puasa tersebut sebagai pengganti, karena nadzar adalah tanggungan dalam diri yang menyerupai utang. Meskipun demikian, pelaksanaan puasa oleh wali hanya bersifat sunah sebagai bentuk kasih sayang dan kebajikan terhadap almarhum.

.

Membayar kaffar/ tebusan bagi yang tidak mampu ( melanggar nadzar )

فتح القريب باب النذر

وَلَا يَلْزِمُ النَّذْرُ) أَيْ لَا يَنْعَقِدُ (عَلَى تَرْكِ مُبَاحٍ) أَوْ فَعْلِهِ فَالْأَوَّلُ (كَقَوْلِهِ لَا آكُلُ لَحْماً وَلَا أَشْرَبُ لَبَناً وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ) مِنَ الْمُبَاحِ كَقَوْلِهِ لَا أَلْبِسُ كَذَا، وَالثَّانِيْ نَحْوُ آكُلُ كَذَا وَأَشْرَبُ كَذَا، وَأَلْبِسُ كَذَا، وَإِذَا خَالَفَ النَّذْرَ الْمُبَاحَ لَزِمَهُ كَفَارَةُ يَمِيْنٍ عَلَى الرَّاجِحِ عِنْدَ الْبَغَوِيِّ، وَتَبِعَهُ الْمُحَرَّرُ وَالْمِنْهَاجُ لَكِنْ قَضَيِةُ كَلَامِ الرَّوْضَةِ وَأَصْلِهَا عَدَمُ اللُّزُوْمِ

Artinya:” Dan tidak wajib suatu nadzar, artinya tidak bisa terjadi suatu nadzar untuk meninggalkan perkara yang dimubahkan atau melaksanakan perkara mubah, maka sebagai contoh pertama. seperti ucapan si nadzir (yang nadzarl) “Aku tidak akan memakan daging dan tidak akan memium susu serta barang mubah yang menyerupainya, seperti ucapan si nadzir : “Saya tidak akan memakai itu”.

Adapun yang kedua, yaitu seperti (ucapan nadzir, .) : “Aku akan memakan itu, meminum itu dan memakan itu”. Jika si Nadzir menyalahi nadzar yang dimubahkan itu, maka baginya wajib membayar kafarat sumpah bagi pendapat yang unggul menurut Imam Baghawi, dan keterangan kitab Muharrar dan Minhaj mengikuti pendapat Imam Baghawi, tetapi menurut sebenarnya keterangan kitab Raudhah dan asalnya, yaitu tidak ada kewajiban membayar kafarat.

الموسوعة الفقهية – 3115/31949
ج – أثر الإعسار في سقوط النذر:
7 – ذهب الحنفية والشافعية إلى أنه إن نذر التصدق بشيء، وليس في ملكه إلا أقل منه، لا يلزمه غيره، لأن النذر بما لا يملك لا يصح. (3)
وذهب المالكية إلى أن من نذر ما لا يملك لزمه إن قدر عليه، فإن لم يقدر لزمه بدله أو بدل بدله، فلو نذر بدنة لزمته، فإن أعسر عنها فبقرة، فإن أعسر عنها فسبع شياه، فلو قدر على ما دون السبعة من الغنم فإنه لا يلزمه إخراج شيء من ذلك، وهو ظاهر كلام خليل والمواق، وفي كلام بعضهم أنه يلزمه إخراج ما دون السبعة من الغنم، ثم يكمل ما بقي متى أيسر، لأنه ليس عليه أن يأتي بها كلها في وقت واحد. (1)
وعند الحنابلة: من نذر طاعة لا يطيقها، أو كان قادرا عليها فعجز عنها فعليه كفارة يمين، لما روى عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: نذرت أختي أن تمشي إلى بيت الله حافية، فأمرتني أن أستفتي لها رسول الله صلى الله عليه وسلم فاستفتيته فقال: لتمش ولتركب (2) .
وعن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا نذر في معصية الله، وكفارته كفارة يمين.
قال: ومن نذر نذرا لا يطيقه فكفارته كفارة يمين (3)

د – أثر الإعسار في كفارة اليمين:
8 – إذا حنث الحالف في الأيمان فعليه الكفارة، لقوله تعالى {ولكن يؤاخذكم بما عقدتم الأيمان} (٤) إن شاء أعتق رقبة، وإن شاء أطعم عشرة مساكين أو كساهم، فإن لم يجد فصيام ثلاثة أيام متتابعات، لقوله تعالى: {فكفارته إطعام عشرة مساكين من أوسط ما تطعمون أهليكم أوكسوتهم أو تحرير رقبة} (١) على التخيير بينها {فمن لم يجد فصيام ثلاثة أيام} وقرأ ابن مسعود رضي الله عنه (ثلاثة أيام متتابعات) وقراءته مع شذوذها عند القراء هي كالخبر المشهور من حيث الرواية.
فمقتضى هذا أن الإعسار بالعتق أو الإطعام أو الكسوة ينتقل به المعسر إلى الصيام .والله أعلم بالصواب

C. Pengaruh Ketidakmampuan dalam Gugurnya Nadzar

7. Ulama Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa jika seseorang bernadzar untuk bersedekah dengan sesuatu yang nilainya lebih besar dari apa yang dimilikinya, maka ia tidak diwajibkan memenuhi lebih dari apa yang dimilikinya. Sebab, nadzar terhadap sesuatu yang tidak dimiliki tidak sah.

Mazhab Malikiyah berpendapat bahwa jika seseorang bernadzar dengan sesuatu yang tidak ia miliki, maka nadzar tersebut tetap wajib dipenuhi jika ia mampu. Jika ia tidak mampu, maka ia diwajibkan mengganti dengan sesuatu yang lain atau penggantinya. Misalnya, jika ia bernadzar seekor unta, maka unta tersebut menjadi kewajiban baginya. Jika ia tidak mampu memenuhinya, maka ia mengganti dengan seekor sapi. Jika tidak mampu lagi, maka ia mengganti dengan tujuh ekor kambing. Namun, jika ia hanya mampu memberikan kurang dari tujuh ekor kambing, ia tidak diwajibkan mengeluarkan apa pun. Pendapat ini sesuai dengan keterangan Khalil dan Al-Mawaq. Namun, sebagian ulama menyatakan bahwa ia tetap wajib memberikan apa yang dimilikinya di bawah tujuh ekor kambing, lalu melengkapi sisanya jika ia mampu di kemudian hari. Sebab, ia tidak diwajibkan memberikan semua secara langsung dalam waktu bersamaan.

Mazhab Hanabilah menyatakan bahwa jika seseorang bernadzar untuk melakukan suatu ketaatan yang tidak mampu ia laksanakan, atau sebelumnya mampu tetapi kemudian tidak sanggup melaksanakannya, maka ia diwajibkan membayar kafarat sumpah. Hal ini berdasarkan hadis dari ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Saudari perempuanku bernadzar untuk berjalan ke Baitullah tanpa alas kaki. Lalu ia memerintahkanku untuk meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka aku memintakan fatwa untuknya, lalu Rasulullah bersabda: ‘Hendaklah ia berjalan, tetapi juga boleh menaiki kendaraan.’”

Juga berdasarkan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada nadzar dalam kemaksiatan kepada Allah, dan kafaratnya adalah kafarat sumpah.” Nabi bersabda: “Barang siapa bernadzar dengan sesuatu yang tidak mampu ia lakukan, maka kafaratnya adalah kafarat sumpah.”


D. Pengaruh Ketidakmampuan dalam Kafarat Sumpah

8. Jika seseorang melanggar sumpahnya, maka ia diwajibkan membayar kafarat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Tetapi Allah akan menghukum kalian karena sumpah yang kalian teguhkan.” (QS. Al-Ma’idah: 89)

Ia boleh memilih salah satu dari tiga bentuk kafarat:

  1. Memerdekakan seorang budak.
  2. Memberi makan sepuluh orang miskin dengan makanan yang biasa ia berikan kepada keluarganya, atau memberikan pakaian kepada mereka.
  3. Jika ia tidak mampu melakukan salah satu dari ketiganya, maka ia diwajibkan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Maka kafaratnya adalah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak mampu melakukannya, maka ia harus berpuasa selama tiga hari.” (QS. Al-Ma’idah: 89)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu membaca ayat tersebut dengan tambahan “tiga hari berturut-turut.” Meskipun bacaan ini dianggap tidak mutawatir, ia memiliki kedudukan seperti hadis masyhur dari sisi periwayatannya.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa ketidakmampuan dalam memerdekakan budak, memberi makan, atau memberi pakaian, menyebabkan orang yang bersangkutan berpindah kewajiban ke bentuk kafarat lainnya, yaitu puasa.

Kategori
Uncategorized

HUKUMNYA PENCERAMAH/MUBALLIGH MENGHADIRI UNDANGAN BERSAMA TEMAN/SOPIR/KHODDAMNNYA

HUKUMNYA PENCERAMAH/MUBALLIGH MENGHADIRI UNDANGAN BERSAMA TEMANNYA/KHODDAM.

Assalamualaikum.
Deskripsi Masalah.
Sudah biasa disebagian masyarakat muslim jika Fulan mengadakan acara walimah untuk anaknya dan dalam acara walimah tersebut didalamnya diisi pengajian mengundang masyarakat terlebih yang diundang adalah sebagai penceramah, dan ketika penceramah hadir ia membawa teman/atau khoddam karena menurutnya berjalan/musafir sendirian hukumnya makruh.

Pertanyaannya.
Bagaimana hukumnya orang penceramah membawa ( bersama) teman/sopir/khoddam?

Wa alaikumussalam.
Jawaban:
Ditafsil.
A- Jika muballigh yang diundang idzin terlebih dahulu atau ada sangkaan kuat ridlonya orang yang mengundang maka hukumnya boleh.

B. Tidak boleh ( harom) tanpa adanya idzin atau
ridlonya orang yang mengundang sebagaimana keterangan berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Demikian itu lebih baik bagimu agar kamu mengambil pelajaran (QS. An-Nur/27).
Berdasar ayat ini para ulama menetapkan bahwa meminta izin terlebih dahulu kepada penghuni rumah, bagi orang lain yang hendak memasuki rumahnya, adalah suatu keharusan. Tujuannya agar jangan sampai orang lain memasuki suatu rumah, sedang si pemilik rumah sedang di dalam rumah dalam keadaan tidak ingin dilihat orang lain.
Imam al-Qurthubi mengungkapkan tentang latar belakang turunnya ayat di atas. Bahwa seorang perempuan dari Kaum Anshar mengadu kepada Nabi Muhammad tentang kebiasaan kaum lelaki dari keluarganya, yang tidak tinggal serumah dengannya, yang dengan seenaknya sendiri memasuki rumah perempuan tersebut. Padahal perempuan tersebut tatkala di dalam rumah sering dalam keadaan yang dia sendiri tidak suka dilihat seorang pun. Bahkan orang tua maupun anaknya. Lalu turunlah ayat di atas. (Tafsir al-Qurthubi/12/213).

Imam al-Mawardi menyatakan, sebuah rumah adalah tempat perlindungan bagi orang yang menghuninya. Entah apakah status penghuni tersebut adalah pemilik asli atau penyewa. Penghuni tersebut miliki hak melarang orang lain memasuki rumahnya atas dasar dua hal. Pertama, penghuni tersebut memiliki hak mengelola rumah tersebut; Kedua, rumah mereka adalah tempat mereka menjaga aurat dan privasi mereka dari penglihatan orang lain. Maka orang lain tidak boleh memasuki rumah mereka tanpa seizin penghuni tersebut (al-Hawi al-Kabir/13/984).
Pentingnya meminta izin penghuni rumah saat hendak memasuki rumahnya juga ditunjukkan oleh hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah:

« مَنِ اطَّلَعَ فِى بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ »

Orang yang melihat ke dalam rumah suatu kaum tanpa seizin pemiliknya, maka pemiliknya boleh melempar mata orang tersebut (HR. Muslim).
Dalam hadis lain disebutkan bahwa Sahl ibn Sa’d meriwayatkan Nabi Muhammad bersabda:

إِنَّمَا جَعَلَ اللَّهُ الإِذْنَ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ

Allah mensyariatkan meminta izin sebab perihal mata (HR. Muslim).
Imam al-Nawawi di dalam Syarah Sahih Muslim berkomentar, bahwa hadis ini menunjukkan bahwa meminta izin penghuni rumah saat hendak memasuki rumahnya adalah sesuatu yang disyariatkan dan diperintahkan. Tujuannya agar orang yang hendak memasuki rumah tersebut tidak melihat hal-hal yang diharamkan. Misalnya perempuan yang bukan muhrimnya yang kebetulan tidak sedang menutupi auratnya (Syarah Sahih Muslim/7/285).
Syaikh Wahbah al-Zuhaili berkomentar, Surat Alnur ayat 27 menyinggung etika pergaulan sosial yang amat penting untuk diperhatikan. Persoalan memasuki rumah tanpa seizin pemiliknya tidak hanya berdampak melihat hal-hal yang diharamkan, tapi juga mengagetkan penghuni rumah yang bisa memancing munculnya kebencian di antara mereka (Tafsir Munir/18/202).

Referensi

( قليوبي ج ٣ ص٢٩٩)
والمراد بالضيف هنا من حضر طعام غيره , بدعوته ولو عموما أو يعلم رضاه وأصل الضيف النازل بغيره لطلب الإكرام سمي باسم ملك , يأتي برزقه لأهل المنزل قبل مجيئه بأربعين يوما , وينادي فيهم هذا رزق فلان كما ورد في الخبر مأخوذ من الضيافة وهي الإكرام وضده الطفيلي , مأخوذ من التطفل وهو حضور طعام الغير بغير دعوة , وبغير علم رضاه , فهو حرام فلو دعا عالما أو صوفيا فحضر بجماعته حرم حضور من لم يعلم رضا المالك به منهم

Bahwa yang ditunjukkan oleh perkataan nya para ulama’,bahwa diperbolehkannya mengambil miliknya orang lain, dengan alasan ‘ulima ridhoohu (artinya karena sudah diketahui ridho nya orang yang memiliki barang itu),itu bisa diterapkan kepada semua benda, dan hal itu tidak cuma khusus kepada makanan yang disuguhkan kepada tamu.Dan para ulama’  menerangkan bahwa persangkaan kuat tentang ‘ulima ridhoohu itu adalah seperti ‘ulima ridhoohu. Maka jika berdasarkan dugaan kuat,diketahui bahwa pemilik barang itu ridho jika barangnya diambil oleh orang lain,maka diperbolehkan untuk mengambil barangnya pemilik barang itu.
Kemudian jika tampak kebalikan dari persangkaan orang itu ( artinya jika diketahui bahwa pemilik barang itu tidak ridho jika barangnya diambil oleh orang lain ) ,maka hendaklah orang yang mengambil barang itu mengganti kerugian dengan cara orang yang mengambil barang itu membayar barang itu kepada pemilik barang itu.

Referensi:

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج ٤ / ص ١١٦)
( وَسُئِلَ ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ وَإِلَّا فَلَا.

حاشية الباجوري – (ج ٢ / ص ١٢٨)
وعلم من ذالك أنه يجوز للإنسان أن يأخذ من مال غيره ما يظن رضاه به من دراهم وغيرها ويختلف ذالك باختلاف الناس والأموال فقد يسمح لشخص دون آخر وبمال دون آخر وينبغى له مراعاة النصفة مع الرفقة فلا يأخذ الا ما يخصه لا ما يزيد عليه من حقهم الا أن يرضوا بذالك عن طيب نفس لا عن حياء.

فتح المعين وإعانة الطالبين – (ج ٣ / ص ٣٦٨)
ويجوز للانسان أخذ من نحو طعام صديقه مع ظن رضا مالكه بذلك، ويختلف بقدر المأخوذ وجنسه وبحال المضيف ومع ذلك ينبغي له مراعاة نصفة أصحابه فلا يأخذ إلا ما يخصه أو يرضون به عن طيب نفس لا عن حياء وكذا يقال في قران نحو تمرتين أما عند الشك في الرضا فيحرم الاخذ كالتطفل ما لم يعم كأن فتح الباب ليدخل من شاء.
(قوله ويجوز للإنسان أخذ من نحو طعام صديقه) اى يجوز له أن يأخذ من طعام صديقه وشرابه ويحمله الى بيته قال فى التحفة وإذا جوزنا له الأخذ فالذى يظهر أنه إن ظن الأخذ بالبدل كان قرضا ضمينا او بلا بدل توقف الملك على ما ظنه (قوله ويختلف) اى ظن الرضا وعبارة غيره وتختلف قرائن الرضا فى ذالك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال. والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

DILEMA UNDANGAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW DAN HIKMAH MERAYAKANNYA

Dilema Undangan Maulid Nabi Muhammad saw
Dan Hikmah merayakannya.

(Sail : Amtsilati)

Latar belakang masalah

Ahmad Munif mengadakan peringatan maulid Nabi dikarenakan pernah menemukan sebuah hikayat sebagai berikut:

KITAB TARGHIBUL MUSTAQIN NO..46

قَالَ عَبْدُ اللّهِ عِيْسَى الأنْصَارى كَانَتْ بِجِوَارِى إِمْرَأَةٌ صَالِحَةٌ وَلَهَا وَلَدٌ صَالِحٌ فَكَانَتْ فَقِيْرَةً لَاشَيْئَ فِيْهَا إِلَّا دِيْنَارٌ وَاحِدٌ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِهَا فَمَاتَتْ وَكَانَ ذَلِكَ الْوَلَدُ يَقُوْلُ هَذَ مِنْ ثَمَنِ غَزْلِ أُمِّي وَ اللّهِ لَا أَصْرِفُ إِلَّا فٍى أَمْرِ الْأخِرَة


Syaikh Abdullah Isa Al-Anshoriy .Ada tetanggaku seorang wanita yang sholehah. Dia mempunyai anak yang shalih. Wanita yang shalihah itu termasuk orang fakir ( orang yang tidak mempunyai harta ) selain satu dinar yang diperoleh dari hasil kerja tenunannya. Tatkala Wanita itu meninggal dunia, maka anaknya yang shalih tersebut berkata kepada dirinya : Uang satu dinar ini adalah hasil dari kerja tenunannya ibuku. Demi Allah saya tidak akan menggunakan harta ini kecuali untuk urusan akhirat.

وَخَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ فِى حَاجَةٍ لَهُ فَمَرَّ بِقَوْمٍ يَقْرَؤنَ القُرآنَ وَعَمِلُوْ مَوْلِدَ النبي صلى الله عليه وسلم فِى رَبِيْعِ الأوّل فَجَلَسَ عِنْدَهُُمْ وَسَمِعَ ذَلِكَ.

Pada suatu hari anak laki tersebut keluar rumah untuk memenuhi sesuatu keperluannya, dia melewati satu perkumpulan yang sama- sama membaca Khafmil Quran dan mengadakan peringatan mailid Nabi Muhammad saw Pada bulan rabiul Awwal , lalu dia duduk bersama mereka dan mendengarkan maulid tersebut

ثُم؟َ فِى لَيْلَتِه فَرَأى فِى مَنامِهِ كأن القِيَأمةَ قَدْ قَامَتْ وَكَأَنّ مُنَادِيًا يُنَادِي يَا فُلَان بِنْ فُلَان يَذْكُرُ جَمَاعَةً فَسَاقَهُمْ إِلَى الْجَنّةِ وَذَلِكَ شَابٌ مَعَهُمْ . وَقَالَ الْمُمَادِى : إِنَّ اللّهَ جَعَلَ لِكُلِّ مِنْكُمْ قَصْرَا فِى الجنة فَدَخَلَ ذَلِكَ الشّابُ قَصْرًا لَمْ يَرَ أَحْسَن مِنهُ والْحُوْ رُ الْعِيْنُ فِيْهِ كَثِيْرةٌ وَعَلَى بَابِهِ خَدَّامٌ وَبَاقِى القصُوْرِ أَلْطَفُ مِنَ القَصْرِ الّذِيْ دَخَلِ فِيْهِ ثُمَّ نَامَ فِى لَيْلَتِهِ فَرَأَى فِى مَنَامِهِ كَأَنَّ الْقِيَامَةَ قَدْ قَامَتْ وَكَانَ مُنَادِيًا يُنَادِى أىُّ فُلَانٍ بِنِ فُلَان يَذْكُرْ جَمَاعَةً فَسَاقَهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَذَلِكَ الشَّابُ مَعَهُمْ ، وَقَالَ الْمُنَادِى : إِنَّ اللّهَ جَعَلَ لِكُلِّ مِنْكُمْ قَصْرَا فِى الجنةِ فَدَخَلَ ذَلِكَ الشّابُ قَصْرًا لَمْ يَرَ أَحْسَن مِنه والْحُوْ رُ الْعِيْنُ فِيْهِ كَثِيْرةٌ وَعَلَى بَابِهِ خَدَّامٌ وَبَاقِى القصُوْرِ أَلْطَفُ مِنَ القَصْرِ الّذِيْ دَخَلِ فِيْهِ فَلَمَّا هَمَّ بِالدُّخُوْلِ قَالَ لَهُ الْخَادِِمُ : لَيْسَ هذا لَكَ وَإِنَّمَا هُوَ لِمَنْ عَمِلَ مَوْلِدَ رَسولِ الله صلى الله عليه وسلم

Pada malamnya anak pemuda yang shalih itu bermimpi seolah-olah kiamat telah terjadi, dan seorang penyeru , menyeru : Dimanakah anak si Fulan bin Fulan ( disebut nama-nama orang yang ada pada perkumpulan golongan tersebut ) lalu mereka semua dikiring menuju surga, ternyata sipemuda itu ikut bersama mereka.Kemudian sipenyeru berkata: Sesungguhnya Allah menjadikan dan memberi bagi setiap kamu sebuah Istana didalam surga. Dan masuklah sipemuda yang shalih tersebuat kedalam sebuah istana yang tidak pernah sama sekali dia lihat istana yang lebih bagus dan lebih sempurna dari segi keindahannya. Yang dipenuhi dari sekian bidadari. Dan pada setiap pintunya terdapat pelayan ( penjaga). Dan pemuda yang shalih tersebut melihat istana lain yang lebih elok dari pada istana yang dia masuknya. Tatkala terpelihara didalam hatinya untuk memasuki istana tersebut, maka berkata pelayan ( khoddam) kepadanya. Ini bukanlah untuk kamu, sesungguhnya istana ini diperuntukkan ( disediakan ) bagi orang yang mengadakan bacaan maulid Nabi ( memperingati kelahiran Nabi Muhammadsaw ).

فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَلِكَ الشَّابُ صَرَفَ ذَلِكَ الدٍِيْنَارَ عَلَى مَوْلِدِ النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَرَحًا بِرُؤيَاه وَجَمَعَ الفُقرآءَ يَذْكُكُرُوْنَ اللّهَ تَعَالَى وَيَقْرؤُوْنَ القرآن وَ مَوْلِدَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم وَقَصَّ عَلَى الجَمَاعَةِ رُؤيَاه فَفَرِحُوا بِذَلكَ وَنَذَرَ أَنْ لَإ يَقْطَعَ مَوْلِدَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم مَادَمَ حَيًّا

Maka keesokan harinya (pada pagi harinya ) pemuda yang shalih tersebut menggunakan (membelanjakan ) uang yang satu dinar (peninggalan orang tuannya tersebut ) guna untuk mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad saw karena kekembiraannya mempinya itu. Diapun mengundang mengumpulkan orang-orang fakir untuk sama- sama berzikir, dan membaca Alquran dan maulid Nabi Muhammad saw. Dia juga menceritakan mimpinya itu kepada jamaah mereka, sehingga mereka menjadi gembira mendengarkan ceritanya itu. Pemuda yang shalih tersebut bernadzar tidak akan berhenti memperingati kelahiran Nabi selama masih hidup.

ثُمَّ نَامَ فَرَأى أُمَّهُ فِى المَنَامِ فِى هَيْئةٍ حَسَنَةٍ وَفِى حُلَلٍ مِنْ حُلَلِ الْجَنَّةِ وَقَبَّلَ يَدَهَا وَهِىَ قَبَّلَتْ رَأسَهُ ، وَقَالَتْ جَزَاكَ الله خَيْرًا يَاوَلَدِي لَقَدْ آتَانِيْ مَلَكٌ وَأَعْطَانِي هَذِه الْحُلَلَ ،فَقَالَ: لَهَا مِنْ أَيْنَ لَكِ هَذِهِ الْكَرَامَةُ فَقَالَتْ: لِأنَّكَ قَدْ صَنَعْتَ بِالدِّيْنَارِ الذي وَرَثْتُهُ مِنِّي مَوْلِدَ سَيِّدِ الأوَّلِيْنَ وَالْأخِرِيْنَ وَهذَا جَزَأُ مَنْ عَظَّمَ نَبِيَّهُ وَعَمِلَ مَوْلِدَهُ.

Dari kisah latar belakang tersebut diatas menjadikan satu motivasi serta keinginan yang kuat bagi Ahmad untuk mengadakan peringatan maulid setiap tahun sebagaimana dalam hikayat tersebut, ternyata keinginan Ahmad terbukti bertahun- tahun dia melakukan peri gantan maulid, mengundang para kerabatnya dan tetangganya sebagaimana biasanya, namun disalahkan satu peringan maulid, Ahmad lupa mengundang salah satu tetangganya. Ketika Hari – H ( hari pelaksanaan ) sesuai hari tgl dan waktu sebagaimana yang tertera dalam undangan, maka semua yang diundang hadir bahkan tetangganya yang tidak diundang hadir juga, dengan alasan karena setiap tahunnya diundang ( menurutnya ), selain itu ada orang yang diundang, namun ia membawa anaknya.

Pertanyaan:

A Bagaimana hukumnya hadir ke acara maulid dengan alasan di atas?

B. Bagaimana hadir ke undangan bawa anaknya padahal yang di undang hanya orang tuanya ?.

C. Mohon penjelasan hikmah merayakan maulid Nabi Muhammad saw

Wa alaikumussalam.
Jawaban: No.1

Orang yang hadir tanpa diundang, karena beralasan sudah terbiasa diundang, ini tidak dibenarkan menurut Agama, Karena adat (kebiasaan) yang bisa menjadi hukum jika tidak menyalahi aturan syariat, sebagaimana sebuah Kaidah:

العادة محكمة مالم تخالف الشرع

Akan tetapi jika adat menyalahi syariat maka tidak dibenarkan.Karena dalam syariat Islam dijelaskan sebagaimana hadits.

Dalil pertama: dan kedua: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

للأحاديث الصحيحة: ” إذا دعي أحدكم إلى وليمة عرس فليجب “. وفي لفظ: ” من دعي إلى وليمة فليأتها “. وفي رواية: ” من لم يجب الدعوة فقد عصى الله ورسوله ” رواه مسلم.

Artinya :” Jika salah seorang dari kamu diundang pada acara walimatul urs maka hadirilah. Dan dalam satu riwayat ” Barang siapa orang yang diundang pada acara walimah maka datangilah padanya. Dan dalam satu riwat orang yang tidak menghadiri undangan maka ia sungguh telah maksiat kepada Allah dan Rasulnya. HR. Muslim
Dua hadits diatas sebagai dalil yang serupa tapi tidak sama. Hadits yang pertama menunjukkan khusus yaitu seseorang diantara kamu. Kemudian hadits yang kedua ada kalimat ” من ” yang mana jika ditinjau dari ilmu Tata bahasa ( ilmu nahwu ) adalah merupakan isim mausul yang menunjukan arti musytarok ( mufrod, mudzakkan muannas dan Jama’ ) seorang laki-laki/ perempuan atau sekelompok orang banyak.

Dalil ketiga: Kewajiban menghadiri undangan yang menunjukkan orang banyak: ( tertentu/ yang diundang ).Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَجِيبُوا هَذِهِ الدَّعْوَةَ إِذَا دُعِيتُمْ لَهَا

“Hadirilah undangan ini jika kalian diundang untuk menghadirinya!” (HR. Al-Bukhari: 4781, Muslim: 2581 dari Ibnu Umar radliyallahu anhuma).

Dalil yang ke empat:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه :
حَقُّ الْمُسْلِم عَلَى الْمُسْلِمِ سِتْ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلَّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبَعْهُ.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap sesama muslim lainya itu ada enam: jika kamu bertemu dengannya ucapkan makalah salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepada maka berilah ia nasihat, jika ia bersin dan mengucapkan ‘Alhamdulillah’ maka do’akanlah ia dengan Yarhamukallah’, jika ia sakit maka jenguklah dan jika ia meninggal dunia maka iringilah jenazahnya.”
(HR.Muslim)


Dengan demikian jika orang yang hadir ke sesuatu acara maulid tanpa diundang, sementara shobil bait tidak ridlo dengan kehadirannya, maka hukumya harom.Karena menghadirinya bukanlah haknya melainkan hak bagi orang yang diundang.

( قليوبي ج ٣ ص٢٩٩)
والمراد بالضيف هنا من حضر طعام غيره , بدعوته ولو عموما أو يعلم رضاه وأصل الضيف النازل بغيره لطلب الإكرام سمي باسم ملك , يأتي برزقه لأهل المنزل قبل مجيئه بأربعين يوما , وينادي فيهم هذا رزق فلان كما ورد في الخبر مأخوذ من الضيافة وهي الإكرام وضده الطفيلي , مأخوذ من التطفل وهو حضور طعام الغير بغير دعوة , وبغير علم رضاه , فهو حرام فلو دعا عالما أو صوفيا فحضر بجماعته حرم حضور من لم يعلم رضا المالك به منهم

Keterangan :
Menghadiri acara tanpa undangan atau ridlonya sohibul hajat adalah harom..

Akan tetapi berbeda dengan acara maulid yang bersifat umum yang mana hanya cukup dengan disiarkan ( maklumat tanpa undangan) seperti disurau-surau ( langgar ngaji ) yang biasa tanpa undangan ( tradisinya ) maka boleh sebagaimana deskripsi. Dan juga boleh jika orang tidak diundang hadir sementara ia punya dugaan kuat shohibul hajah ridho dengan kehadirannya, dan sebaliknya.

Jawaban: No.2

Jika yang diundang adalah bapaknya atau ibunya sementara ia membawa anaknya yang sudah baligh, maka dalam hal ini dipertimbangkan dengan kerelaan shohibul bait, artinya jika yang shohibiah bait ridlo atau yang diundang punya dugaan kuat bahwa orang mengundang ridlo maka hukumnya boleh kecuali anak kecil yang masih disapih dan tidak makan kecuali air susu ibunya, karena yang menjadi pertimbangan dalam hal ini adalah hidangan yang memang diperuntukkan untuk para tamu undangan sebagainya Keterangan ulama’ berikut:

Bahwa yang ditunjukkan oleh perkataan nya para ulama’ dalam hal diperbolehkannya mengambil miliknya orang lain, ada sangkaan ‘ulima ridhoohu (artinya karena sudah diketahui ridho nya orang yang memiliki barang itu),itu bisa diterapkan kepada semua benda,dan hal itu tidak cuma khusus kepada makanan yang disuguhkan kepada tamu.Dan para ulama’  menerangkan bahwa persangkaan kuat tentang ‘ulima ridhoohu itu adalah seperti ‘ulima ridhoohu. Maka jika berdasarkan dugaan kuat,diketahui bahwa pemilik barang itu ridho jika barangnya diambil oleh orang lain,maka diperbolehkan untuk mengambil barangnya pemiliki barang itu. Kemudian jika tampak kebalikan dari persangkaan orang itu(artinya jika diketahui bahwa pemilik barang itu tidak ridho jika barangnya diambil oleh orang lain),maka hendaklah orang yang mengambil barang itu mengganti kerugian dengan cara orang yang mengambil barang itu membayar barang itu kepada pemilik barang itu.

Referensi:

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج 4 / ص 116)
( وَسُئِلَ ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ وَإِلَّا فَلَا.

حاشية الباجوري – (ج 2 / ص 128)
وعلم من ذالك أنه يجوز للإنسان أن يأخذ من مال غيره ما يظن رضاه به من دراهم وغيرها ويختلف ذالك باختلاف الناس والأموال فقد يسمح لشخص دون آخر وبمال دون آخر وينبغى له مراعاة النصفة مع الرفقة فلا يأخذ الا ما يخصه لا ما يزيد عليه من حقهم الا أن يرضوا بذالك عن طيب نفس لا عن حياء.

فتح المعين وإعانة الطالبين – (ج 3 / ص 368)
ويجوز للانسان أخذ من نحو طعام صديقه مع ظن رضا مالكه بذلك، ويختلف بقدر المأخوذ وجنسه وبحال المضيف ومع ذلك ينبغي له مراعاة نصفة أصحابه فلا يأخذ إلا ما يخصه أو يرضون به عن طيب نفس لا عن حياء وكذا يقال في قران نحو تمرتين أما عند الشك في الرضا فيحرم الاخذ كالتطفل ما لم يعم كأن فتح الباب ليدخل من شاء.
(قوله ويجوز للإنسان أخذ من نحو طعام صديقه) اى يجوز له أن يأخذ من طعام صديقه وشرابه ويحمله الى بيته قال فى التحفة وإذا جوزنا له الأخذ فالذى يظهر أنه إن ظن الأخذ بالبدل كان قرضا ضمينا او بلا بدل توقف الملك على ما ظنه (قوله ويختلف) اى ظن الرضا وعبارة غيره وتختلف قرائن الرضا فى ذالك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال.

Referensi:

الفتاوى الفقهية الكبرى – (ج 4 / ص 116)
( وَسُئِلَ )8 بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ وَإِلَّا فَلَا.

حاشية الباجوري – (ج 2 / ص 128)
وعلم من ذالك أنه يجوز للإنسان أن يأخذ من مال غيره ما يظن رضاه به من دراهم وغيرها ويختلف ذالك باختلاف الناس والأموال فقد يسمح لشخص دون آخر وبمال دون آخر وينبغى له مراعاة النصفة مع الرفقة فلا يأخذ الا ما يخصه لا ما يزيد عليه من حقهم الا أن يرضوا بذالك عن طيب نفس لا عن حياء.

فتح المعين وإعانة الطالبين – (ج 3 / ص 368)
ويجوز للانسان أخذ من نحو طعام صديقه مع ظن رضا مالكه بذلك، ويختلف بقدر المأخوذ وجنسه وبحال المضيف ومع ذلك ينبغي له مراعاة نصفة أصحابه فلا يأخذ إلا ما يخصه أو يرضون به عن طيب نفس لا عن حياء وكذا يقال في قران نحو تمرتين أما عند الشك في الرضا فيحرم الاخذ كالتطفل ما لم يعم كأن فتح

الباب ليدخل من شاء.
(قوله ويجوز للإنسان أخذ من نحو طعام صديقه)

اى يجوز له أن يأخذ من طعام صديقه وشرابه ويحمله الى بيت قال فى التحفة وإذا جوزنا له الأخذ فالذى يظهر أنه إن ظن الأخذ بالبدل كان قرضا ضمينا او بلا بدل توقف الملك على ما ظنه (قوله ويختلف) اى ظن الرضا وعبارة غيره وتختلف قرائن الرضا فى ذالك باختلاف الأحوال ومقادير الأموال،

مذاهب الأربعة ج ٢ ص ٣٨ /٤٣
.     الشافعية – قالوا : يشترط لوجوب إجابة الدعوة فى وليمة النكاح وسنيتها فىغيرها شروط ؛ أولا :أن لايخص الداعى الأغنياء بدعوته بل يدعوهم والفقراء وليس الغرض من هذا أن يدعو الناس جميعا بل الغرض أن لا يقصر دعوته على الأغنياء ملقا ونفاقا ومفاخرة ورياء لأن هذه حالة لايقرها الدين فمن قامت به لايكون له حق على غيره، أما إذا دعى الأغنياء صدفة واتفاقا كأن كانوا جيرانا له أو أهل حرفته فإنه لايضر، ثانيا:أن تكون الدعوة فى اليوم الأول من أيام الوليمة فإن أولم ثلاثة أيام أو أكثر كسبعة لم تجب الإجابة إلا

فى اليوم الأول وتكون مستحبة فى اليوم الثانى وتكره فيما بعد ذلك، ثالثا :أن يكون الداعى مسلما فإن كان كافرا فإن الإجابة لاتجب ولكن تسن إجابة الذمى سنة غير مؤكدة رابعا :أن يكون الداعى له مطلق التصرف فإن كان محجورا عليه تحرم الإجابة إن كانت الوليمة من ماله، أما إذا فعلها وليه من مال نفسه فإن الإجابة عليه تكون واجبة، خامسا :أن يعين الداعى من يدعوه بنفسه وبرسوله، سادسا :      أن لايدعوه لخوف منه أو لطمع فى جاهه أو إعانته على باطل، سابعا : أن لايعتذر المدعو للداعى ويرضى بتخلفه     عن طيب نفس لا عن حياء ويعرف ذلك بالقرائن، ثامنا :أن لايكون الداعى فاسقا أو شريرا أو مفاخرا، تاسعا :       أن لايكون أكثر مال الداعى حراما فإن كان كذلك فإن إجابته تكره فلو علم أن عين الطعام الذى يأكل منه مال حرام يحرم أن يأكل منه لأن المال المحرم يحرم الأكل منه إلا إذا عم فإنه يجوز إستعمال مايحتاج إليه منه بدون أن يتوقف ذلك على ضرورة فإذا لم يكن أكثر مال الداعى حراما لكن فيه شبهة لم تجب الإجابة ولم تسن بل تكون مباحة، عاشرا: أن لايكون الداعى إمراءة أجنبية منه من غير حضور محرم لها أو للمدعى خشية من الخلوة المحرمة وإن لم تقع الخلوة بالفعل، الحادى عشر :أن تكون الدعوة فى وقت الوليمة وهى من حين العقدة كما تقدما، الثانى عشر :    أن لايكون المدعو قاضيا أو ما فى معناه من طل ذى ولاية فإنه لاتجب عليه الدعوة فى محل ولايته خصوصا إذا كان الداعىله خصومة ينظر فيها فإن إجابته تحرم، الثالث عشر :أن لايكون المدعو معذورا بعذر يبيح له ترك الجماعة كمرض، الرابع عشر :أن لا يكون المدعو إمراءة أو غلاما أمرد يخشى منهما الفتنة أو الطعن على الداعى فىعرضه، الخامس عشر :أن لايتعدد الداعى فإن تعدد قدم الأسبق ثم الأقرب رحما ثم الأقرب دارا هذا عند المقارنة فى الدعوة وعند الإستواء يقرع بين الداعيين

No.3

penjelasan:

Hikmah Memperingati ( merayakan ) Maulid Nabi yang diantaranya sebagaimana yang terdapat dalam kisah tersebut adalah;

1️⃣.Mendorong Umat Islam Membaca Qiratul- Qur’an dan Qiro’atul maulidinnabi dengan bersholawat untuk mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad SAW.

أن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab:56).

2️⃣.Ungkapan Kegembiraan dan Kesenangan Terhadap Nabi Muhammad SAW.

قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

3️⃣.Mendorong untuk meningkat syukur kepada Allah karena ada Nabi Muhammad merupakan nikmat yang agung dan tertunda sebagai bagi bagi Alam semista. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an.

وماأرسلناك إلا رحمة للعالمين

Artinya:” Dan Aku tidak mengutus kepadamu ( Muhammad ) kecuali menjadi Rahmat bagi semesta Alam.

4️⃣.Meneguhkan kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai orang mukmin, kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW merupakan sebuah keniscayaan, sebagai konsekuensi dari keimanan. Kecintaan ini harus berada di atas segalanya. Bahkan melebihi kecintaan kepada anak dan istri, kecintaan kepada harta, kedudukan dan kecintaan pada diri sendiri. Rasulullah bersabda:

لايؤمن أحكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين

Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya.: HR. Al-Bukhari.

5️⃣.Mengajarkan Kedermawanan dan Kemurahan Hati sebagai mana kisah tersebut..dll.

Wallahu A’lam bisshowab.