logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

PRIORITAS NAFKAH DALAM KELUARGA:ANTARA ISTRI DAN IBU

PRIORITAS NAFKAH DALAM KELUARGA : ANTARA ISTRI DAN ORANG TUA (IBU)

Assalamualaikum

Deskripsi Kasus:

Dalam sebuah rumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, sebagaimana yang diatur dalam ajaran Islam. Nafkah tersebut mencakup kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup keluarga. Suami adalah pemimpin dalam keluarga dan bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan istri dan anak-anaknya.

Namun, dalam sebuah kasus, seorang suami menyatakan bahwa tujuan utamanya dalam mencari nafkah adalah untuk ibunya, bukan untuk istri dan anak-anaknya. Suami tersebut mengutamakan memberikan nafkah kepada ibunya, meskipun kebutuhan istri dan anak-anaknya belum sepenuhnya terpenuhi. Dalam situasi ini, istri mengetahui bahwa berdasarkan ajaran agama, dia dan anak-anaknya memiliki hak prioritas untuk menerima nafkah dari suami. Akan tetapi, karena merasa tidak ingin menciptakan konflik atau cekcok dalam rumah tangga, istri memilih untuk ikhlas dan menerima keputusan suaminya.

Permasalahan yang Timbul/pertanyaan adalah:

  1. Prioritas Penerima Nafkah: Berdasarkan ajaran Islam, siapa yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam menerima nafkah seorang suami? Apakah suami memiliki hak untuk mengutamakan ibunya dibanding istri dan anak-anaknya?
  2. Tanggung Jawab Suami: Apakah tindakan suami yang mengutamakan ibunya untuk menerima nafkah, sementara istri dan anak-anaknya belum terpenuhi kebutuhannya, dapat dikategorikan sebagai kelalaian terhadap kewajibannya?
  3. Keikhlasan Istri: Apakah keikhlasan istri dalam menerima keadaan ini, tanpa mempermasalahkan keputusan suami, membebaskan suami dari dosa atau tanggung jawab moralnya?
  4. Dampak pada Keharmonisan Rumah Tangga: Bagaimana dampak dari sikap istri yang menghindari konflik ini terhadap kelangsungan hubungan suami-istri, dan apakah tindakan ini justru memunculkan masalah baru di kemudian hari?

Waalaikum salam.

Jawaban dari No.1 sampai no 4 Sebagai berikut :

1️⃣ Prioritas Penerima Nafkah:
Berdasarkan ajaran Islam, prioritas utama dalam penerima nafkah seorang suami adalah istri dan anak-anaknya. Ini ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Suami memiliki kewajiban untuk menafkahi istri dan anak-anaknya sebelum memberikan kepada orang lain, termasuk orang tua. Kewajiban berbakti kepada orang tua memang sangat penting dalam Islam, tetapi kewajiban nafkah kepada istri dan anak merupakan tanggung jawab yang lebih mendesak. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian kepada keluargamu.”

Jadi, jika kebutuhan istri dan anak belum terpenuhi, suami tidak boleh mengutamakan memberikan nafkah kepada ibunya. Ini sesuai  dengan fatwa Imam Nawawi dalam kitabnya ( Fatwa An-Nawawi Al-Musamma bil Masailil Mantsuroh ). Bahwa dia( Suami ) tidak berdosa dengan mengutamakan istrinya, jika telah mencukupi kebutuhan ibunya dengan cara yang wajar, terutama jika ibunya termasuk orang yang wajib dia nafkahi. Namun, yang lebih utama adalah dia berusaha menyenangkan hati ibunya dan lebih mengutamakannya. Jika harus mengutamakan istrinya, maka sebaiknya dia melakukannya tanpa menyakiti hati ibunya.
Adapun Maksud dari ungkapan Imam An-Nawawi di atas adalah:

a. Tidak berdosa mengutamakan istri: Seorang suami tidak berdosa jika ia memberikan nafkah yang lebih kepada istrinya, selama ia telah memastikan bahwa kebutuhan ibunya sudah tercukupi dengan cara yang layak dan sesuai dengan kewajiban yang ada padanya.

b. Kewajiban terhadap ibu: Jika ibu berada dalam kondisi yang membutuhkan nafkah atau perawatan, suami tetap memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ini disebut “كفاية الأم” yang artinya mencukupi ibu dengan cara yang baik dan sesuai dengan norma yang berlaku.

c. Yang lebih utama (afdhal): Walaupun secara hukum tidak berdosa mengutamakan istri, lebih utama bagi seorang anak untuk berusaha menyenangkan hati ibunya dan memberikan perhatian lebih kepadanya, karena kedudukan ibu dalam Islam sangat tinggi.

d. Mengutamakan istri tanpa menyakiti hati ibu: Jika seorang suami harus mengutamakan istrinya, misalnya dalam situasi yang mendesak, maka hal itu sebaiknya dilakukan dengan cara yang tidak menyakiti perasaan ibunya. Ini artinya suami harus bijaksana dalam bersikap agar tidak menimbulkan konflik antara istri dan ibu.

2️⃣ Tanggung Jawab Suami:
Jika suami mengutamakan ibunya dalam pemberian nafkah sementara kebutuhan istri dan anak-anak belum terpenuhi, maka suami telah lalai terhadap kewajibannya. Islam menekankan pentingnya memenuhi kewajiban kepada istri dan anak-anak terlebih dahulu. Menyediakan nafkah untuk keluarga adalah bagian dari tanggung jawab suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga, sebagaimana dinyatakan dalam Surah An-Nisa: 34, “Laki-laki itu adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain…”. Dengan mengabaikan nafkah untuk istri dan anak-anak, suami telah mengabaikan amanah yang diberikan oleh Allah. Maka, tindakan ini dapat dianggap sebagai kelalaian.

3️⃣ Keikhlasan Istri:
Jika istri dengan penuh keikhlasan menerima keputusan suami tanpa memprotes atau mempermasalahkan, hal ini menunjukkan kesabarannya. Namun, **keikhlasan istri tidak otomatis membebaskan suami dari tanggung jawab moral atau dosa jika ia mengabaikan kewajibannya. Suami tetap memiliki kewajiban yang harus dipenuhi, dan walaupun istri merelakan haknya, kewajiban suami di hadapan Allah untuk menafkahi istri dan anak-anaknya tetap ada. Sebab, tanggung jawab ini bukan hanya perjanjian antar manusia, tetapi juga amanah dari Allah.

4️⃣ Dampak pada Keharmonisan Rumah Tangga:
Sikap istri yang memilih menghindari konflik mungkin terlihat bijak dalam jangka pendek karena menghindari perselisihan. Namun, jika masalah nafkah ini terus berlanjut, bisa menimbulkan ketegangan di kemudian hari. Hal ini dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga karena kebutuhan istri dan anak-anak yang tidak terpenuhi bisa menjadi sumber ketidakpuasan dan rasa ketidakadilan. Dalam jangka panjang, istri bisa merasa diabaikan dan kurang dihargai, dan hal ini bisa memicu masalah-masalah yang lebih serius dalam hubungan mereka. Oleh karena itu, idealnya suami harus menyadari tanggung jawabnya dan mengutamakan kesejahteraan keluarganya.


Berikut adalah beberapa referensi dari Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama terkait masalah nafkah suami:

  1. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah (2:233):
    “Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf…” Ayat ini menegaskan kewajiban seorang suami untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya.
  2. Al-Qur’an Surat An-Nisa (4:34):
    “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” Ayat ini menegaskan tanggung jawab laki-laki (suami) sebagai pemimpin yang harus menafkahi istri dan anak-anaknya.
  3. Hadis Riwayat Muslim:
    “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian kepada keluargamu.” Hadis ini mengajarkan bahwa seseorang, khususnya suami, harus terlebih dahulu memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarganya sebelum membantu orang lain, termasuk orang tua.
  4. Hadis Riwayat Al-Bukhari:
    Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Engkau tidak akan memberikan nafkah yang engkau harapkan ridha Allah darinya, kecuali engkau akan diberi pahala karenanya, bahkan terhadap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari, No. 56). Hadis ini menegaskan bahwa nafkah yang diberikan kepada istri adalah amal yang berpahala.
  5. Pandangan Ulama:
    Menurut mayoritas ulama, nafkah kepada istri dan anak-anak adalah wajib, sementara memberi nafkah kepada orang tua adalah anjuran jika mampu dan jika orang tua dalam keadaan membutuhkan. Ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menekankan bahwa nafkah kepada keluarga inti (istri dan anak-anak) lebih utama dibanding yang lain.

Jadi, berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan pandangan ulama, prioritas nafkah seorang suami adalah kepada istri dan anak-anaknya.Namun seorang anak berusa sebisa mungkin untuk melembutkan hati seorang itu karena bagaimanapun anak punya kewajiban untuk berbakti kepada orang tua .Sebagaimana dijelaskan dalam Kaidah:

Jika seseorang dihadapi kan pada duan kemaslahat, maka dahulukan yang lebih nilainya keutamaannya# Dan bila mana dihadapkan pada dua kerusakan maka Ambillah yang lebih ringan.Wallahu A’lam bisshowab

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته،

وصف الحالة:

في الحياة الزوجية، يكون الزوج ملزماً بتوفير النفقة للزوجة والأولاد، كما هو مقرر في تعاليم الإسلام. تشمل النفقة الحاجات الأساسية مثل الطعام، والملبس، والمسكن، وغيرها من الأمور الضرورية لاستمرار حياة الأسرة. الزوج هو القائد في الأسرة ومسؤول عن رفاهية زوجته وأولاده.

ولكن في حالة معينة، صرّح الزوج أن هدفه الأساسي من العمل وتحصيل المال هو إعالة أمه، وليس زوجته وأولاده. حيث يُفضّل الزوج تقديم النفقة لأمه رغم أن احتياجات الزوجة والأولاد لم تُلبَّى بالكامل. وفي هذه الحالة، تعلم الزوجة أن لها ولأولادها الحق الأول في نفقة الزوج بناءً على تعاليم الدين. ولكنها تختار أن تقبل قرار الزوج بصدر رحب دون أن تثير النزاع حفاظاً على استقرار الأسرة.

المسائل المطروحة/الأسئلة:

١. أولوية متلقي النفقة وفقاً لتعاليم الإسلام، من يجب أن يكون له الأولوية في تلقي نفقة الزوج؟ وهل يحق للزوج أن يُفضِّل أمه على زوجته وأولاده؟

٢. مسؤولية الزوج ، هل يمكن اعتبار تصرف الزوج في تفضيل أمه بالنفقة بينما لم تُلبى حاجات زوجته وأولاده إهمالاً لمسؤولياته؟

٣. رضا الزوجة: هل قبول الزوجة لهذا الوضع بصدر رحب دون مناقشة قرار الزوج يعفيه من الإثم أو المسؤولية الأخلاقية؟

٤. تأثير ذلك على استقرار الأسرة: كيف يمكن أن يؤثر تجنب الزوجة للصراع على استمرارية العلاقة بين الزوجين؟ وهل قد يؤدي هذا التصرف إلى مشاكل مستقبلية؟

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الإجابة على الأسئلة من الرقم ١ إلى ٤ كالتالي:

٣. رضا الزوجة: هل قبول الزوجة لهذا الوضع بصدر رحب دون مناقشة قرار الزوج يعفيه من الإثم أو المسؤولية الأخلاقية؟

٤. تأثير ذلك على استقرار الأسرة: كيف يمكن أن يؤثر تجنب الزوجة للصراع على استمرارية العلاقة بين الزوجين؟ وهل قد يؤدي هذا التصرف إلى مشاكل مستقبلية؟

الإجابة على الأسئلة من الرقم  ١    إلى ٤  كالتالي:

١.  أولوية متلقي النفقة:
   وفقًا لتعاليم الإسلام، الأولوية في تلقي النفقة للزوج هي الزوجة والأولاد. وقد ورد ذل في عدة آيات من القرآن الكريم وأحاديث النبي محمد ﷺ. حيث يجب على الزوج أن يقوم بتلبية احتياجات زوجته وأولاده قبل أن يقدّم لأشخاص آخرين، بما في ذلك والديه. وإن كان البر بالوالدين من أهم الواجبات في الإسلام، إلا أن النفقة على الزوجة والأولاد تُعدّ مسؤولية مباشرة وأساسية. وهذا يتماشى مع الحديث النبوي الذي رواه الإمام مسلم: “ابدأ بنفسك ثم بمن تعول”.

   وبالتالي، إذا لم تُلبَّ احتياجات الزوجة والأولاد، فلا يجوز للزوج أن يُقدِّم النفقة لأمه قبلهم.
كما قال النوى فى كتابه المسمى بالمسائل المنثوره:
*المسألة:* رجل له زوجة وأم. هل يجوز له تفضيل زوجته على أمه في النفقة، والاحتياجات، والكسوة، وغيرها من الأمور؟ وهل يأثم إذا فضّل زوجته كما ورد في المسألة؟

**الجواب:** لا يأثم إذا قام بتلبية احتياجات أمه بشكل مناسب وبما يُعرف من العرف السائد، خاصة إذا كانت الأم ممن يجب عليه نفقتها. ومع ذلك، الأفضل أن يسعى إلى إرضاء أمه وتقديمها في الأولوية. وإذا اضطر إلى تفضيل زوجته، فيجب عليه أن يقوم بذلك بطريقة لا تسيء إلى مشاعر أمه.

المقصود من العبارة أعلاه هو توضيح الأولويات بين الأم والزوجة فيما يتعلق بالنفقة والرعاية من جهة الزوج. وإليك التوضيح:

أ. لا يأثم في تفضيل الزوجة: لا يكون الزوج آثمًا إذا قدم النفقة الأكبر لزوجته، بشرط أن يكون قد ضمن تلبية احتياجات أمه بطريقة لائقة ومناسبة لواجبه تجاهها.

ب . الواجب تجاه الأم: إذا كانت الأم في حاجة إلى نفقة أو رعاية، فإن الزوج لا يزال ملتزمًا بتلبية هذه الاحتياجات. يُشار إلى هذا بـ”كفاية الأم”، أي تلبية احتياجات الأم بطريقة حسنة ومتوافقة مع العرف السائد.

ج . الأفضلية (الأفضل): رغم أنه لا إثم في تفضيل الزوجة، إلا أن الأفضل للزوج هو أن يسعى إلى إرضاء قلب أمه وإعطائها الأولوية، نظرًا لمكانة الأم العالية في الإسلام.

د . تفضيل الزوجة دون إيذاء الأم:إذا اضطر الزوج إلى تفضيل زوجته في بعض الأمور، مثل الحالات الطارئة، فإنه ينبغي أن يفعل ذلك بطريقة لا تؤذي مشاعر أمه. أي أنه يجب أن يكون حكيماً في التعامل لكي لا يتسبب في خلق نزاع بين الأم والزوجة.

بشكل عام، يؤكد النص على أهمية التوازن في تلبية حقوق كل من الزوجة والأم، مع توجيه النصيحة لتقديم الأم قدر الإمكان دون إهمال حقوق الزوجة.

٢. مسؤولية الزوج:
إذا قدّم الزوج أمه على زوجته وأولاده في النفقة بينما لم تُلبى حاجاتهم، فإن الزوج قد أهمل واجباته. يؤكد الإسلام على ضرورة تلبية احتياجات الزوجة والأولاد أولاً. توفير النفقة للأسرة هو جزء من مسؤوليات الزوج كقائد للأسرة، كما ورد في سورة النساء الآية ٣٤: “الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ…”.

إذا أهمل الزوج نفقة زوجته وأولاده، فقد أخل بالأمانة التي أوكلها الله إليه، وبالتالي فإن هذا التصرف يمكن اعتباره إهمالاً.

٣. رضا الزوجة:
إذا تقبلت الزوجة قرار زوجها برضا وصدر رحب دون الاعتراض عليه، فإن هذا يظهر صبرها وتحملها. ولكن، رضا الزوجة لا يعفي الزوج من المسؤولية الأخلاقية أو الإثم إذا كان قد أهمل واجباته تجاهها. يظل الزوج مسؤولاً أمام الله عن توفير النفقة لزوجته وأولاده، حتى لو تنازلت الزوجة عن حقها. لأن هذه المسؤولية ليست مجرد اتفاق بين البشر، بل هي أمانة من الله يجب الوفاء بها.

٤. تأثير ذلك على استقرار الأسرة:
قد يبدو تصرف الزوجة بتجنب النزاع حكمة على المدى القصير، لأنه يجنّب الأسرة الصراع. لكن إذا استمر هذا الوضع لفترة طويلة، قد يؤدي إلى توترات في المستقبل. إن عدم تلبية احتياجات الزوجة والأولاد يمكن أن يكون سببًا في خلق شعور بعدم الرضا وعدم العدالة. وعلى المدى البعيد، قد تشعر الزوجة بالإهمال ونقص التقدير، مما قد يؤدي إلى مشاكل أكبر في العلاقة الزوجية. ولذلك، ينبغي على الزوج أن يعي مسؤوليته وأن يولي رعاية واهتمامًا لرفاهية أسرته أولاً.


المراجع من القرآن الكريم والأحاديث وآراء العلماء حول مسألة النفقة:

١. القرآن الكريم، سورة البقرة ( ٢:٢٣٣)
“وعلى المولود له رزقهن وكسوتهن بالمعروف…” تؤكد هذه الآية على واجب الزوج في توفير النفقة للزوجة والأولاد.

٢. القرآن الكريم، سورة النساء (٣٤:٤:):
“الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ…” هذه الآية تبرز مسؤولية الرجل (الزوج) كقائد في الأسرة وضرورة إنفاقه على زوجته وأولاده.

٣. حديث رواه مسلم:
“ابدأ بنفسك ثم بمن تعول”. يُعلِّم هذا الحديث أن الشخص، وخاصة الزوج، يجب أن يبدأ بتلبية احتياجات نفسه وأسرته قبل مساعدة الآخرين، بما في ذلك والديه.

٤. حديث رواه البخاري:
قال النبي محمد ﷺ: “إنك لن تنفق نفقة تبتغي بها وجه الله إلا أجرت عليها حتى ما تجعل في في امرأتك”. (رواه البخاري، رقم ٥٦). يؤكد هذا الحديث أن النفقة التي يقدمها الزوج لزوجته تعتبر عملاً يؤجر عليه.

.٥. آراء العلماء:
   وفقًا لغالبية العلماء، النفقة على الزوجة والأولاد واجب، بينما تقديم النفقة للوالدين مستحب إذا كان الشخص قادرًا وكان الوالدان في حاجة. وأوضح علماء مثل الإمام النووي في _شرح صحيح مسلم_ أن النفقة على الأسرة الأساسية (الزوجة والأولاد) لها الأولوية على الآخرين.


٦.فتوى النووي المسمى بالمسائل المنثورة .ص ١٥٠ وعبارته

تفضيل الزوجة على الأم

مسئلة: إنسان له زوجة وأم ، هل له تفضيل الزوجة على الأم فى النفقة؟ وغيرها من المؤن والكسوة وهل يأثم بذلك؟
الجواب : لايأثم بذلك إذا قام 
بكفاية الأم إن كانت ممن يلزمه كفايتها بالمعروف: لكن الأفضل أن يستطيب قلب الأم، وأن يفضلها ، وإن كان لابد من ترجيح الزوجة فينبغى له أن يخيفه عن الأم.

بناءً على القرآن الكريم، الأحاديث النبوية، وآراء العلماء، فإن أولوية النفقة للزوج يجب أن تكون على زوجته وأولاده لكن ينبغى له أن يخيفه عن الأم. وأن يستطيب قلب أمه كماذكر فى القواعد: إذا تزامحت المصلحتان قدم الأعلى # وإذا تزامحت المفسدتان أخذ بالأخف.والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM