logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Hukum Suami Memanggil Istri dengan Sebutan “Ummi”: Tinjauan Syariat dan Adab dalam Rumah Tangga

Assalamualaikum

Belakang Masalah

Dalam kehidupan rumah tangga, cara suami dan istri saling memanggil menjadi salah satu bentuk komunikasi yang penting. Panggilan yang digunakan dapat mencerminkan kedekatan, penghormatan, dan kasih sayang. Namun, di kalangan masyarakat Muslim, muncul pertanyaan tentang hukum dan adab ketika seorang suami memanggil istrinya dengan sebutan “ummi” (ibu), terutama karena istilah ini biasanya digunakan untuk memanggil seorang ibu kandung atau figur keibuan.

Sebagian masyarakat menganggap bahwa penggunaan panggilan ini sebagai bentuk penghormatan, terutama jika istri sudah menjadi ibu dari anak-anak mereka. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa penggunaan istilah ini dapat menyerupai konsep zihar (yaitu ucapan suami yang menyerupakan istri dengan mahramnya, seperti ibu), yang di dalam syariat Islam memiliki konsekuensi hukum tertentu. Oleh karena itu, penting untuk memahami perspektif syariat terkait penggunaan panggilan ini agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Pertanyaan

1. Apakah memanggil istri dengan sebutan “ummi” termasuk dalam kategori zihar yang diharamkan?

2. Apakah ada ketentuan syariat mengenai panggilan yang boleh atau tidak boleh digunakan oleh suami kepada istrinya?

3. Bagaimana pandangan ulama tentang penggunaan panggilan “ummi” dalam konteks budaya dan adab dalam keluarga Muslim?

 

Waalaikum salam

Jawaban

Hukum Suami Memanggil Istri dengan Sebutan “Ummi”

Dalam pandangan Islam, hukum suami memanggil istri dengan sebutan “ummi” tergantung pada niat dan konteksnya. Berikut adalah penjelasan hukumnya:

1. Bukan Termasuk Zihar

“Zhihar secara syar’i adalah menyerupakan seorang perempuan atau bagian dari tubuhnya dengan perempuan yang haram dinikahi karena hubungan nasab, persusuan, atau pernikahan, dengan maksud pengharaman, bukan dengan maksud pemuliaan. Karena makna inilah ayat diturunkan: ‘Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan-perempuan yang melahirkan mereka’. Maksudnya, mereka bukanlah ibu-ibu mereka (yang sesungguhnya). Yang dimaksud dengan munkar adalah sesuatu yang diingkari oleh syariat, akal, dan tabiat.”

Dengan demikian dapat difahami bahwa Zihar adalah pernyataan seorang suami yang menyerupakan istrinya dengan mahramnya, seperti ibu, dengan niat untuk mengharamkan istrinya baginya. Contoh zihar adalah ucapan: “Kamu bagiku seperti punggung ibuku.” Hukum zihar diharamkan . Namun, jika suami memanggil istrinya “ummi” tanpa niat menyerupakan atau mengharamkannya, maka hal itu tidak termasuk zihar. Hal ini karena hukum zihar bergantung pada niat dan konteks, bukan semata-mata pada ucapan.

2. Sebagai Bentuk Kehormatan atau Kebiasaan Budaya

Jika panggilan “ummi” digunakan sebagai bentuk penghormatan atau kasih sayang, seperti mengakui peran istri sebagai ibu dari anak-anaknya, atau sebagai kebiasaan budaya, maka hukumnya makruh . Sebab, panggilan ini tidak bermakna literal menyerupakan istri dengan ibu kandung.

3. Pentingnya Memilih Panggilan yang Sesuai dengan Adab

Islam menganjurkan penggunaan panggilan yang baik dan penuh kasih sayang dalam hubungan suami-istri. Rasulullah ﷺ sendiri menggunakan panggilan mesra untuk istri-istrinya, seperti memanggil Aisyah dengan “Humaira” (yang pipinya kemerahan). Jika panggilan “ummi” menimbulkan kebingungan atau dianggap tidak pantas dalam budaya tertentu, suami disarankan memilih panggilan lain yang lebih sesuai.

Kesimpulan

1. Memanggil istri “ummi” tidak termasuk zihar, selama tidak ada niat menyerupakan istri dengan mahram.

2. Jika digunakan sebagai bentuk penghormatan atau kebiasaan, hukumnya makruh.

3. Sebaiknya suami memilih panggilan yang menunjukkan kasih sayang dan mencerminkan keharmonisan rumah tangga.

Untuk kehati-hatian, ulama seperti Imam Syafi’i menekankan pentingnya niat dalam ucapan. Wallahu A’lam Bisshawab

Referensi

Al-Qur’an dan hadis terkait adab dalam memanggil seseorang, khususnya panggilan yang baik untuk memperkuat hubungan rumah tangga:

1. Dalil dari Al-Qur’an .Allah SWT berfirman:

 “وقولوا للناس حسناً

 “Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.”(QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat ini menunjukkan pentingnya berbicara dengan cara yang baik dan memilih kata-kata yang tidak menyakitkan atau menimbulkan salah paham. Panggilan suami kepada istri juga termasuk dalam perintah ini, agar mencerminkan kasih sayang dan tidak menyerupai hal-hal yang diharamkan.

2. Hadis tentang Panggilan Kasih Sayang

Rasulullah ﷺ dikenal sangat lembut dan penuh kasih dalam memanggil istri-istrinya. Salah satu contohnya adalah panggilannya kepada Aisyah:

 “يا حُميراء

 “Wahai Humaira…” (HR. An-Nasa’i dan Abu Dawud)

Panggilan “Humaira” yang berarti “si pipi kemerahan” menunjukkan kelembutan dan kasih sayang beliau kepada istrinya. Hal ini menjadi teladan bahwa panggilan mesra dapat mempererat hubungan suami-istri.

3. Dalil Pentingnya Niat dalam Ucapan

Rasulullah ﷺ bersabda:

 “إنما الأعمال بالنيات…”

 “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…”(HR. Bukhari dan Muslim)

Jika suami memanggil istri dengan “ummi” tanpa niat zihar atau menyerupakan istri dengan ibu kandungnya, maka hal ini tidak masuk dalam kategori ucapan yang diharamkan.

4. Peringatan tentang Zihar

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman tentang zihar:

 “الذين يظاهرون منكم من نسائهم ما هن أمهاتهم إن أمهاتهم إلا اللائي ولدنهم…”

 “Orang-orang yang menzihar istrinya di antara kamu (menganggapnya sebagai ibu), padahal istri mereka bukanlah ibu mereka. Ibu mereka hanyalah wanita yang melahirkan mereka.”

(QS. Al-Mujadilah: 2)

Ayat ini mengingatkan bahwa menyerupakan istri dengan ibu secara sengaja adalah tindakan yang salah dan memiliki konsekuensi hukum. Namun, jika tidak ada niat menyerupakan, maka tidak termasuk zihar.

5. I’ânah at-Thâlibîn, Juz 4, hlm. 35-36

Dalam kitab Minhâj at-Tarbiyah ash-Shâlihah disebutkan bahwa penggunaan kata-kata seperti “Abi” dan “Umi” dianjurkan dalam pendidikan anak usia 1 hingga 6 tahun, dan dapat disesuaikan dengan kebiasaan lokal.

6. Pendapat Para Ulama:

Imam Nawawi:

“Jika seseorang berkata: *‘Engkau bagiku seperti ibuku’ atau ‘seperti ibuku’, maka hal tersebut tidak dianggap sebagai zihâr kecuali dengan niat, karena pernyataan tersebut memungkinkan makna bahwa ia seperti ibu dalam hal keharaman atau dalam hal kemuliaan. Oleh karena itu, tidak dijadikan zihâr tanpa niat, sebagaimana lafaz kinayah dalam talak.” (Al-Majmû’, Juz 18, hlm. 434, Dâr al-Fikr)

7.Tafsir Rawâ’i’ al-Bayân karya Syaikh Ali ash-Shâbûnî:

“Adapun orang yang berkata kepada istrinya: ‘Wahai saudariku’ atau ‘Wahai ibuku’ dengan maksud memuliakan dan menghormati, maka hal itu tidak menjadikannya seorang yang melakukan zihâr, namun hal tersebut makruh baginya.” (Rawâ’i’ al-Bayân, Juz 2, hlm. 522)

Kesimpulan

Dalil-dalil di atas menekankan pentingnya menggunakan panggilan yang baik, penuh kasih sayang, dan tidak menimbulkan makna yang salah dalam hubungan rumah tangga. Jika “ummi” digunakan tanpa niat buruk, maka hukumnya mubah. Namun, lebih baik memilih panggilan lain yang lebih lembut dan romantis untuk menciptakan keharmonisan.

حكم مناداة الزوج زوجته بـ “أمي”

في الشريعة الإسلامية، حكم مناداة الزوج لزوجته بـ “أمي” يعتمد على النية والسياق. وفيما يلي تفصيل الحكم:

١. ليس من قبيل الظِّهار

الظِّهار هو أن يُشَبِّه الزوج زوجته بمحارمه، كقوله لها: “أنت عليَّ كظهر أمي”، وهو من الأمور المحرمة في الإسلام وله كفارة كما جاء في قوله تعالى:

 “الذين يظاهرون منكم من نسائهم ما هن أمهاتهم إن أمهاتهم إلا اللائي ولدنهم…”

(سورة المجادلة: ٢)

أما إذا نادى الزوج زوجته بـ “أمي” دون نية التشبيه أو التحريم، فلا يُعد ذلك من الظِّهار؛ لأن الحكم هنا يعتمد على النية والسياق وليس على مجرد اللفظ.

٢. على سبيل الاحترام أو العادة

إذا استُخدم لفظ “أمي” تعبيرًا عن الاحترام أو المحبة، كإقرارٍ بدور الزوجة كأم لأولاده، أو كان ذلك من العادات الثقافية، فحكمه مكروه، لأن اللفظ لا يحمل معنى التشبيه الحقيقي بالأم.

٣. أهمية اختيار الألفاظ المناسبة

الإسلام يحث على استخدام الألفاظ الطيبة والمليئة بالمحبة في العلاقة بين الزوجين. فقد كان النبي ﷺ ينادي زوجاته بألفاظ تدل على الحب والمودة. ومن ذلك مناداته للسيدة عائشة رضي الله عنها بـ “حُميراء”، أي ذات الخدين المحمرين.

الأدلة الشرعية المتعلقة بالمناداة:

١. من القرآن الكريم

قال الله تعالى:

 “وقولوا للناس حسناً.”

(سورة البقرة: ٨٣)

هذا يدل على أهمية انتقاء الكلمات الطيبة، خاصة بين الزوجين، لتجنب أي سوء فهم أو معاني غير لائقة.

٢. من السنة النبوية

كان النبي ﷺ يستخدم الألفاظ المحببة في مناداة زوجاته، ومن ذلك قوله لعائشة رضي الله عنها:

 “يا حُميراء…”

(رواه النسائي وأبو داود)

٣. أهمية النية في الأقوال

قال النبي ﷺ:

 “إنما الأعمال بالنيات…”

(رواه البخاري ومسلم)

فإذا كانت نية الزوج مناداة زوجته بـ “أمي” ليست التشبيه بالأم أو تحريمها، فلا حرج في ذلك.

٤. زيادة المراجع : إعانة الطالبين، ج ٤، ص ٣٥-٣٦

وفي كتاب منهاج التربية الصالحة ورد أن استخدام كلمات مثل “أبي” و”أمي” يُعد أمرًا مستحبًا في تربية الأطفال من سن ١ إلى ٦ سنوات، ويمكن تعديله وفقًا للعرف المحلي.

٥.أقوال العلماء:

الإمام النووي:

وإن قال: “أنتِ عليّ كأمي أو مثل أمي”، لم يكن ظهارًا إلا بالنية، لأنه يحتمل أنها كالأم في التحريم أو في الكرامة، فلم يُجعل ظهارًا من غير نية، كالكنايات في الطلاق. (المجموع، ج ١٨، ص ٤٣٤، دار الفكر)

٦. تفسير روائع البيان للشيخ علي الصابوني:

وأما من قال لزوجته: “يا أختي” أو “يا أمي” على سبيل الكرامة والتوقير فإنه لا يكون مظاهرًا، ولكن يُكره له ذلك. (روائع البيان، ج ٢، ص ٥٢٢)

وبناءً على ذلك، إذا قال الزوج: “أنتِ كأمي” ولم يقصد الظهار، فلا يقع، أما إذا نوى الظهار فإنه يقع (ظهار كناية). والله أعلم بالصواب.

الخلاصة

١. مناداة الزوج لزوجته بـ “أمي” لا يُعد من الظِّهار إذا لم يكن هناك نية تشبيهها بالأم.

٢. إذا كان ذلك بدافع الاحترام أو المحبة، فهو مكروه، والأفضل اختيار ألفاظ أخرى تعبر عن الحب والمودة.

٣. يُنصح الزوج باستخدام كلمات طيبة ومليئة بالمشاعر الإيجابية لتعزيز الألفة في العلاقة الزوجية.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM