logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

HUKUM MENIKAHI PEREMPUAN DALAM MASA IDDAH

HUKUM MENIKAHI PEREMPUAN DALAM MASA IDDAH

Assalamualaikum

Sail Ustadzah Muslimah.

Deskripsi Masalah.

Ada sepasang suami Istri, Suaminya berprofesi sebagai PNS dalam pernikahan keduanya dikaruniai dua orang anak entah karena apa suaminya mengatakan” Saya bukanlah suamimu lagi ” secara syariat ini sudah jatuh talak walaupun tanpa proses perceraian melalui putusan pengadilan, karena ungkapan suami dianggap semakna dengan talak/cerai/pisah. Dalam kondisi yang demikian siistri tidak menghiraukan terhadap ucapan suaminya, artinya biasa-biasa saja yakni keluar rumah sebagaimana biasanya, padahal sebenarnya dia dalam kondisi iddah, kerena menurutnya ia sudah punya dua anak, dan sejak suaminya terucap sebagaimana tersebut dia tidak pernah berkumpul ( Dukhol ).Selang beberapa tahun kemudian suaminya kembali lagi.

Kasus yang serupa tapi tidak sama .

Sepasang suami Istri (A/ Aini) dan (B/ Burhan) sudah lama menjalani hubungan keluarga tapi selalu ada percekcokan/pertengkaran, namun walaupun demikian dia dikarunai anak, pada suatu saat suaminya bilang silahkan beragkatlah kamu kepengadilan persoalan anak-anak biar aku yang merawatnya.
Ketika suami mengatakan sedemikian istrinya tidak pernah bergaul atau digauli oleh suaminya dia fokus untuk cari nafkah untuk dirinya dan kedua orang tuanya, namun dalam kondisi dia menjalani iddah 2 bulan setengah dan seiring dengan perjalanan waktu dia nikah dengan orang lain katakanlah ( D/ Dulqowi ) sedangkan iddah masih tersisa menurut pengadilan ( ketika melaporkan dan membuat berita acara untuk memastikan ucapan terjadi talak suami ) atau setelah dari pengadilan dengan berjalannya waktu dia nikah dengan orang lain namum pengadilan memutuskan agar menunggu iddah dari pengadilan secara rismi

Pertanyaan.

  1. Apakah hitungan iddah harus bermula dari putusuan pengadilan atau ketika jatuhnya talak..? Lalu bagaimana hukumnya menikah dalam kondisi iddah menurut Islam?
  2. Apakah ucapan suami sebagaimana deskripsi jatuh talak ..?
  3. Bagaimana hukum wanita iddah keluar rumah sebagaimana dalam deskripsi ..?

Waalaikum salam.

Jawaban. No.1

Inddah secara syariat itu dihitung mulai terjadinya talak baik talak shoreh ataupun kinayah atau talak wafat, sedangkan putusan pengadilan sebagai bukti terlulis secara hukum pemerintah .

Adapun jika wanita dalam kondisi menjalani iddah maka tidak boleh menikah dengan orang lain dan jika sampai terjadi menikah maka nikahnya tidak sah kecuali suaminya sendiri kembali lagi ( dalam kondisi menjalani inddah tersebut hukumnya boleh dengan syarat menurut Imam Syafi’i cukup mengatakan ” رجعتُك” ). Karena terjadinya talak tersebut adalah talak raj’i. Yaitu ketika suami mentalak istrinya talak satu atau dua tanpa imbalan (bukan khulu). Maka dia dibolehkan untuk rujuk (kembali lagi) sebelum selesai masa iddahnya, dengan tanpa memperbaharui nikahnya dengan syarat cukup dengan Kata ” رجعتُك ” Saya kembali kepadamu atau kata yang semakna seperti ” رددتُك” artinya saya kembali kepadamu ini adalah kata sharih . Atau kata-kata kinayah seperti :” تزوجتك ” saya mengawinimu ,atau ” نكحتك ” saya menikahimu akan tetapi ia harus mengatakan :
” رددتها إلي ” atau “رددتها إلى نكاحي”


Arti penegasan lain yang hampir serupa tapi tidak sama, jika suami mentalak istrinya ( sudah beng-sebengan.red ) sementara istrinya telah menjalani iddah secara syariat ( habis masa iddahnya ) walau tanpa putusan pengadilan karena terjadi proses talak tidak melalui putusan pengadilan dikarenakan hawatir banyaknya tuntutan dll. sedangkang suaminya kembali lagi kepadanya maka hukum nikahnya sah ( nikah yang baru sah )

Referensi:

ابو شجاع الغاية والتقريب أحكام الكتب.ص ٣٣

وإذا طلق امرأته واحدة أو اثنتين فله مراجعتها ما لم تنقض عدتها فإن انقضت عدتها حل له نكاحها بعقد جديد

Artinya, “Jika seorang suami mentalak istrinya dengan talak satu atau talak dua, maka ia berhak merujuk kembali kepadanya selama masa penangguhan ( iddahnya) belum habis. Jika masa penangguhan (iddah) telah habis maka sang suami boleh menikahinya dengan akad yang baru.”

Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٧٦٨/٧٧٢٢

شرط ما تحصل به الرجعة: تحصل الرجعة من ناطق عند الشافعية بالقول فقط سواء أكان صريحا أم كناية، أما الصريح فمثل: راجعتك ورجعتك وارتجعتك ورددتك وأمسكتك، وبمعنى هذه الألفاظ ونحوها من سائر اللغات، سواء أعرف العربية أم لا، وسواء أضاف الرجعة إليه أو إلى نكاحه، كقوله: إلي أو إلى نكاحي أم لا، لكن يستحب ذلك. ولا بد من إضافة الرجعة إلى ظاهر كراجعت فلانة، أو مضمر كراجعتك، أو مشار إليه كراجعت هذه.
وأما الكناية في الأصح: فمثل قول المرتجع: تزوجتك أو نكحتك، ولا بد من أن يقول المرتجع في الكناية: رددتها إلي أو إلى نكاحي، حتى يكون صريحا، وهذا القول شرط.
وأما الفعل كوطء وغيره فلا تحصل به الرجعة عندهم؛ لأنه حرام، والحرام لاتصح الرجعة به، فلو وطئ الزوج رجعيته واستأنفت الأقراء من وقت الوطء، راجع فيما كان بقي من عدة الطلاق

Syarat Sahnya Ruju’:

Menurut mazhab Syafi’i, ruju’ hanya sah dengan lafaz (ucapan), baik secara sharih (jelas) maupun kinayah (samar).

Lafaz sharih dalam ruju’ misalnya: “Rajرجعتك” (aku meruju’mu), “رجعتك” (aku kembali padamu), “ارتجعتك” (aku mengambilmu kembali), “رددتك” (aku mengembalikanmu), “أمسكتك” (aku menahanmu), serta lafaz-lafaz lain yang memiliki makna serupa dalam bahasa lain. Ruju’ tetap sah meskipun suami tidak bisa berbahasa Arab dan baik ia menisbatkan ruju’ kepada dirinya sendiri (“إليّ” – kepadaku) atau kepada pernikahannya (“إلى نكاحي” – kepada ikatan nikahku). Namun, menyebutkan objek ruju’ secara jelas tetap disunnahkan, baik dengan penyebutan nama istri (“راجعت فلانة” – Aku meruju’ si Fulanah), dengan dhamir (“راجعتك” – Aku meruju’mu), maupun dengan menunjuknya langsung (“راجعت هذه” – Aku meruju’ wanita ini).

Lafaz kinayah (samar) yang dianggap sah dalam pendapat yang lebih kuat adalah seperti ucapan suami: “تزوجتك” (Aku menikahimu) atau “نكحتك” (Aku mengawini/mengikatmu kembali). Namun, agar dianggap sebagai ruju’ yang sah, suami harus menambahkan lafaz yang menjelaskan maksudnya, seperti “رددتها إلي” (Aku mengembalikannya kepadaku) atau “إلى نكاحي” (ke dalam ikatan nikahku). Tanpa tambahan ini, lafaz kinayah tidak dianggap sebagai ruju’.

Perbuatan seperti berhubungan intim atau tindakan lainnya tidak dianggap sebagai ruju’ dalam mazhab Syafi’i karena hukumnya haram. Ruju’ tidak sah dengan cara yang haram. Jika seorang suami berhubungan intim dengan istrinya yang masih dalam masa iddah talak raj’i, maka istri tersebut harus mengulangi masa iddahnya dari awal setelah waktu persetubuhan, sementara suami hanya dapat meruju’ sisa masa iddah yang sebelumnya masih tersisa.

Jawaban. No.2

Ucapan suami ( Silahkan kamu pergi kepengadilan biar anak-anak aku yang ngurusin ) ini termasuk talak kinayah, yaitu ucapan yang tidak jelas maksudnya, namun ucapannya itu maksudnya talak lain. Talak kinayah ini memerlukan adanya niatan, artinya jika ucapan tersebut niat talak, pisah atau cerai, ucapan tersebut terjadi talak, tetapi jika tidak ada niatan talak maka tidak terjadi talak. Ucapan kinayah diatas bukan talak sharih, karena talak sharih tidak butuh niat, artinya tanpa niatpun jika talak sharih tetap terjadi talak.

Dalil talak kinayah dan sharih.
Referensi:

الموسوعة الفقهية١٨١١٨/٣١٩٤٩

كما اتفقوا على أن الكنائي في الطلاق هو: ما لم يوضع اللفظ له، واحتمله وغيره، فإذا لم يحتمله أصلا لم يكن كناية، وكان لغوا لم يقع به شيء (٢) . واتفقوا على أن الصريح يقع به الطلاق بغير نية، وكذلك بالنية المناقضة قضاء فقط، وعلى ذلك فلو أطلق اللفظ الصريح، وقال: لم أنو به شيئا وقع به الطلاق، ولو قال: نويت غير الطلاق لم يصدق قضاء وصدق ديانة، هذا ما لم يحف باللفظ من قرائن الحال ما يدل على صدق نيته في إرادة غير الطلاق، فإن وجدت قرينة تدل على عدم قصده الطلاق  صدق قضاء أيضا، ولم يقع به عليه طلاق، وذلك كما إذا أكره على  الطلاق فطلق صريحا غير نا وبه الطلاق، فإنه لا يقع ديانة ولا قضاء لقرينة الإكراه

Para ulama telah sepakat bahwa lafaz kinayah dalam thalak adalah lafaz yang tidak secara khusus digunakan untuk thalak, tetapi dapat bermakna thalak maupun makna lainnya. Jika suatu lafaz sama sekali tidak bisa bermakna thalak, maka ia bukan termasuk kinayah, melainkan lafaz yang sia-sia (tidak berdampak hukum).

Mereka juga sepakat bahwa lafaz sharih (jelas) dalam thalak akan menyebabkan jatuhnya thalak tanpa memerlukan niat. Bahkan jika seseorang memiliki niat yang bertentangan (dengan makna lafaz tersebut), hal itu hanya berpengaruh dalam hukum di sisi Allah (secara diin, yaitu tanggung jawab antara dia dan Allah), tetapi tidak dalam hukum pengadilan (qadha’).

Karena itu, jika seseorang mengucapkan lafaz sharih dalam thalak tanpa menyertakan niat, maka thalak tetap jatuh. Jika ia berkata, “Saya tidak meniatkan thalak,” maka pernyataannya tidak diterima dalam hukum pengadilan, tetapi diterima dalam hukum di sisi Allah. Namun, jika ada indikasi kuat (qarinah) yang menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak bermaksud menjatuhkan thalak, maka pernyataannya dapat diterima dalam hukum pengadilan juga, dan thalak tidak jatuh.

Contohnya, jika seseorang dipaksa untuk mengucapkan thalak dan ia mengucapkannya dengan lafaz sharih tanpa niat thalak, maka thalak tidak jatuh baik dalam hukum di sisi Allah (diin) maupun dalam hukum pengadilan (qadha’), karena adanya indikasi pemaksaan tersebut.

Adapun seorang perempuan ( A / Aini ) yang ditalak oleh suaminya ( B / Burhan) untuk bisa menikah dengan orang lain ( D/Dulqowi ) adalah:

🅰️. Wanita yang ditalak ( Aini ) Harus memastikan dalam menjalani iddah sudah habis.
IDDAH :” Ialah masa tenggang atau batas waktu untuk tidak boleh kawin bagi perempuan yang dicerai atau ditinggal mati suaminya . Iddah ini dengan maksud untuk menentukan hamil atau tidaknya perempuan itu sesudah ditinggal mati atau ditalak suaminya. Apabila istri telah ditalak suaminya, wanita itu tidak boleh dipinang atau dinikahkan, kecuali sudah habis iddahnya. Yakni jika ditalak dalam kondisi suci maka iddahnya selama 3 sucian ( 3 bulan ) dan jika menjalani iddah wafat maka harus menunggu iddah selama 4 bulan 10 hari dan jika dalam kondisi hamil maka sampai melahirkan, maka pernikahan (A/ Aini ) dan (D/ Dulqowi ) sah.
🅱️. Jika wanita yang ditalak belum memastikan habisnya masa penagguhan/penantian (iddah) Kemudian menikah dengan Si ( D/ Dulqowi ) maka nikahnya tidak sah . Alasannya karena pernikahan dilakukan dalam masa iddah, maka dia wajib dipisahkan.

CATATAN:

Iddah dimulai dari jatuhnya talak atau ucapan suami , sampai akhir hitungan iddah , namun demikian sebaiknya ia harus mentaati /mengikuti aturan pemerintah ( putusan pengadilan ), agar selamat dari fitnah dan tidak termasuk dalam kategori pernikahan yang ilegal . Mentaati hukum pemerintah selama tidak bertentangan dengan agama hukumnya wajib Sebagaimana firman Allah.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.( QS. Annisa’ : 59 )

Para ahli fiqih sepakat, pernikahan di masa ‘iddah tidak sah, sebagaimana  ketentuan UU Perkawinan 1/1974 pasal 2 ayat (1) “perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu”.  Artinya, pernikahan yang dilangsungkan dalam masa ‘iddah, bertentangan dengan ketentuan ajaran Islam, sebagaimana tertuang dalam KHI pasal 40 huruf (b) yang melarang perkawinan wanita yang masih dalam masa ‘iddah dengan pria lain.

Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٤٦٠/٧٧٢٢

١١ – وأما مانع العدة: فاتفقوا على أن النكاح لا يجوز في العدة، سواء أكانت عدة حيض أم عدة حمل، أم عدة أشهر، وسواء من نكاح أم شبهة نكاح.
واختلفوا فيمن تزوج امرأة في عدتها ودخل بها، فقال مالك والأوزاعي
والليث: يفرق بينهما، ولا تحل له أبدا،
وقال أبو حنيفة والشافعي والثوري وأحمد: يفرق بينهما، وإذا انقضت  العدة، فلا بأس في تزوجه إياها مرة ثانية. وسبب اختلافهم اختلاف أقوال الصحابة، فالفريق الأول أخذ بقول عمر رضي الله عنه حينما فرق بين طليحة الأسدية وبين زوجها راشد الثقفي، لما تزوجها فى العدة  من زوج ثان، وقال: «أيما امرأة نكحت في عدتها، فإن كان زوجها الذي تزوجها لم يدخل بها فرق بينهما، ثم اعتدت بقية عدتها من الأول، ثم كان الآخر خاطبا من الخطاب، وإن كان دخل بها، فرق بينهما ثم اعتدت بقية عدتها من الأول، ثم اعتدت من الآخر، ثم لا يجتمعان أبدا».
واحتج الفريق الثاني بقول علي وابن مسعود رضي الله عنهما، خلافا لرأي عمر رضي الله عنه، فلم يقضيا بتحريمها عليه.

Artnya:Akad nikah itu tidak boleh dilakukan didalam iddah.Baik iddah haid ( tiga kali haid dan tiga kali suci ) ,atau iddah hamil,atau iddah yang menggunakan bulan(misalnya iddahnya perempuan yang kematian suaminya,yaitu 4 bulan dan 10 hari ). Baik iddah dari akad nikah atau iddah dari syubhatnya nikah.

Para ulama berbeda pendapat didalam orang( Dulqowi) yang menikahi terhadap perempuan ( Aini ) didalam iddahnya ( Aini ).Dan Dulqowi menjima’ kepada Aini.

➡️Menurut imam Malik dan imam Auza’i dan imam Laits berkata:Wajib dipisah diantara keduanya(diantara Dulqowi dan Aini ).Dan Aini itu tidak halal bagi Dulqowi selamanya.
➡️Imam Abu Hanifah dan imam Syafi’i dan imam Tsauri dan imam Ahmad berkata:Hendaklah dipisah diantara keduanya (yaitu diantara Dulqowi dan Aini ).Dan jika iddahnya Aini sudah habis, maka diperbolehkan bagi Dulqowi untuk menikahi terhadap Aini untuk kedua kalinya.

Referensi:

الفقه الإسلامي و أدلته – ٦٤٢٨/٧٧٢٢

٢ ) ـ المرأة المعتدة: وهي التي تكون في أثناء العدة من زواج سابق، سواء عدة طلاق أو وفاة. فلا يحل لأحد غير زوجها الأول التزوج بها حتى تنقضي عدتها، ويشمل ذلك عدة الزواج الفاسد أوبشبهة، لثبوت نسب الولد. لقوله تعالى: {ولا تعزموا عقدة النكاح حتى يبلغ الكتاب أجله} [البقرة:٢٣٥/ ٢] أي لا تعقدوا الزواج على المعتدة من وفاة حتى تنتهي عدتها. ولقوله سبحانه: {والمطلقات يتربصن بأنفسهن ثلاثة قروء} [البقرة:٢٢٨/ ٢] أي أطهار أو حيضات على رأيين في التفسير والفقه، أي يجب على المرأة المطلقة الانتظار ثلاثة أطهار أو حيضات، فلا يحل الزواج بها، وقال علي وابن عباس وعبيدة السلماني: «ما أجمعت الصحابة على شيء كإجماعهم على أربع قبل الظهر، وألا تنكح امرأة في عدة أختها»وحكمة تحريم المعتدة بقاء آثار الزواج السابق، ورعاية حقوق الزوج القديم، ومنع اختلاط الأنساب.وهل يترتب على الدخول بالمعتدة تحريمها على الرجل تحريما مؤبدا؟اختلف الفقهاء على رأيين (١)، فقال الجمهور: إن الدخول بالمعتدة لا يحرمها عليه، بل إذا انقضت عدتها حل له الزواج بها؛ لأن الرجل لو زنى بامرأة لا يحرم عليه الزواج بها بالاتفاق، فكذلك لو دخل بها وهي في العدة أو بعدها، لا يحرم عليه الزواج بها بعد انتهاء العدة، ولأن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال: يفرق بينهما، ثم يخطبها بعد العدة إن شاء. وروي مثله عن ابن مسعود رضي الله عنه.وقال المالكية: الدخول بالمعتدة يحرمها على الرجل تحريما مؤبدا، فيفرق

Wanita yang sedang menjalani masa iddah

Wanita yang berada dalam masa iddah dari pernikahan sebelumnya, baik karena talak maupun kematian suami, tidak halal dinikahi oleh siapa pun selain suami pertamanya hingga masa iddah-nya selesai. Hal ini juga mencakup iddah dari pernikahan yang fasid (tidak sah) atau yang terjadi karena syubhat, jika ada ketetapan nasab anak darinya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kamu berazam (berniat kuat) untuk melakukan akad nikah sebelum habis masa yang ditentukan dalam kitab (iddah).”
(QS. Al-Baqarah: 235)

Juga firman-Nya:

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri mereka (menunggu) selama tiga quru’.”
(QS. Al-Baqarah: 228)

Maksud dari quru’ dalam ayat ini ada dua pendapat dalam tafsir dan fiqh, yaitu tiga kali suci atau tiga kali haid. Dengan kata lain, seorang wanita yang ditalak wajib menunggu selama tiga kali suci atau tiga kali haid, dan selama itu tidak halal baginya untuk menikah dengan lelaki lain.

Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan ‘Ubaidah As-Salmani berkata:

“Tidak ada perkara yang lebih disepakati oleh para sahabat selain empat rakaat sebelum Dzuhur dan larangan menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah saudarinya.”

Hikmah larangan menikahi wanita yang masih dalam iddah adalah:

  1. Menjaga pengaruh pernikahan sebelumnya.
  2. Memperhatikan hak-hak suami terdahulu.
  3. Mencegah percampuran nasab.

Apakah hubungan badan dengan wanita dalam masa iddah mengharamkannya selamanya?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini:

  1. Pendapat mayoritas ulama (jumhur):

    • Tidak menyebabkan keharaman selamanya.
    • Jika seorang pria berhubungan dengan wanita yang masih dalam iddah, pernikahan tetap tidak sah dan keduanya harus dipisahkan.
    • Setelah masa iddah selesai, pria tersebut boleh menikahinya.
    • Dalilnya: Jika seorang pria berzina dengan seorang wanita, maka tetap halal baginya untuk menikahinya berdasarkan kesepakatan ulama. Maka, jika ia berhubungan dengan wanita dalam iddah, hal ini juga tidak menjadikannya haram selamanya.
    • Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

      “Keduanya dipisahkan, lalu setelah iddah selesai, ia boleh melamarnya jika ia mau.”

    • Pendapat yang serupa juga diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
  2. Pendapat Mazhab Maliki:

    • Hubungan badan dengan wanita dalam masa iddah menjadikannya haram dinikahi selamanya.
    • Oleh karena itu, jika seorang pria berhubungan badan dengan wanita dalam iddah, maka keduanya harus dipisahkan dan tidak boleh menikah selama-lamanya.

Jawaban. No.3.

Dalam kondisi Si-istri ( A/Aini ) menjalani iddah hukumnya keluar rumah berdosa tanpa ada hajat kecuali dalam kondisi darurat.

Berikut keterangan hukum seputar orang perempuan Inddah.

Boleh perempuan yang menjalani iddah keluar untuk mencari nafkah pada malam hari selama tidak memungkinkan melakukannya pada siang hari.

Referensi :

تَنْبِيهٌ : اقْتَصَرَ الْمُصَنِّفُ عَلَى الْحَاجَةِ إعْلَامًا بِجَوَازِهِ لِلضَّرُورَةِ مِنْ بَابِ أَوْلَى كَأَنْ خَافَتْ عَلَى نَفْسِهَا تَلَفًا أَوْ فَاحِشَةً أَوْ خَافَتْ عَلَى مَالِهَا أَوْ وَلَدِهَا مِنْ هَدْمٍ أَوْ غَرَقٍ .فَيَجُوزُ لَهَا الِانْتِقَالُ لِلضَّرُورَةِ الدَّاعِيَةِ إلَى ذَلِكَ ، وَعُلِمَ مِنْ كَلَامِهِ كَغَيْرِهِ تَحْرِيمُ خُرُوجِهَا لِغَيْرِ حَاجَةٍ وَهُوَ كَذَلِكَ ، كَخُرُوجِهَا لِزِيَارَةٍ وَعِيَادَةٍ وَاسْتِنْمَاءِ مَالِ تِجَارَةٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ .
قَوْلُهُ : ( وَنَحْوِ ذَلِكَ ) أَيْ كَخُرُوجِهَا لِجِنَازَةِ زَوْجِهَا أَوْ أَبِيهَا مَثَلًا فَلَا يَجُوزُ .


Tujuan Pengarang kitab membatasi bolehnya keluar bagi wanita yang sedang menjalani masa idah bila ada HAJAT (kepentingan, seperti bekerja mencukupi kebutuhannya) itu sekaligus memberi pengertian juga diperbolehkan baginya keluar dalam keadaan DARURAT seperti dia khawatir akan keselamatannya, kehormatannya, harta bendanya, khawatir akan keselamatan anaknya, maka diperbolehkan baginya keluar rumah sebab adanya darurat tersebut, ini berarti bila tidak unsur diatas tidak boleh (haram) baginya keluar rumah tanpa ada keperluan seperti seperti diatas semisal keluar untuk ziyaroh, menengok orang sakit, menjalankan usahanya agar hartanya bertambah dan lain sebagainya.
Keterangan (dan lain sebagainya) seperti keluarnya untuk menjenguk jenazah suaminya, ayahnya, maka keluarnya tidak boleh. [Hasyiyah Bujairomi ‘Alaa al-Khootib XI/285]
Namun bila keluarnya ada HAJAT (keperluan) seperti mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan dirinya (bagi wanita yang menjalani masa iddah sementara tidak ada yang menafkahinya ) hukum keluarnya DIPERBOLEHKAN

( إلَّا لِحَاجَةٍ )

أَيْ فَيَجُوزُ لَهَا الْخُرُوجُ فِي عِدَّةِ وَفَاةٍ وَعِدَّةِ وَطْءِ شُبْهَةٍ وَنِكَاحٍ فَاسِدٍ وَكَذَا بَائِنٌ وَمَفْسُوخٌ نِكَاحُهَا ,وَضَابِطُ ذَلِكَ كُلُّ مُعْتَدَّةِ لَا تَجِبُ نَفَقَتُهَا وَلَمْ يَكُنْ لَهَا مَنْ يَقْضِيهَا حَاجَتَهَا لَهَا الْخُرُوجُ فِي النَّهَارِ لِشِرَاءِ طَعَامٍ وَقُطْنٍ وَكَتَّانٍ وَبَيْعِ غَزْلٍ وَنَحْوِهِ لِلْحَاجَةِ إلَى ذَلِكَ ، أَمَّا مَنْ وَجَبَتْ نَفَقَتُهَا مِنْ رَجْعِيَّةٍ أَوْ بَائِنٍ حَامِلٍ أَوْ مُسْتَبْرَأَةٍ فَلَا تَخْرُجُ إلَّا بِإِذْنٍ أَوْ ضَرُورَةٍ كَالزَّوْجَةِ ، لِأَنَّهُنَّ مُكَفَّيَاتٌ بِنَفَقَةِ أَزْوَاجِهِنَّ وَكَذَا لَهَا الْخُرُوجُ لِذَلِكَ لَيْلًا إنْ لَمْ يُمْكِنْهَا نَهَارًا وَكَذَا إلَى دَارِ جَارَتِهَا لِغَزْلٍ وَحَدِيثٍ وَنَحْوِهِمَا لِلتَّأَنُّسِ لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ تَرْجِعَ وَتَبِيتَ فِي بَيْتِهَا .


Diperbolehkah wanita dalam masa iddah keluar rumah untuk bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri dan keluarganya dengan beberapa ketentuan :
a• keluarnya hanya semata-mata mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya yang seandainya tidak keluar akan bisa menimbulkan masyaqoh.
b• keluarnya dilakukan pada siang hari dan tetap komitmen dengan aturan ihdad selain menetap di rumah seperti tidak memakai wewangian, celak dll.
Diperbolehkan juga baginya keluar untuk mencari nafkah pada malam hari selama tidak memungkinkan melakukannya pada siang hari.
Wallahu a’lamu bisshowab..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM