logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

T037. HUKUM MEMAKAN BUAH PALA/ PA’ALAH (Madura Red.)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya mau bertanya apakah Buah Pala/Pa’alah (Madura Red.) itu haram? Soalnya saya pernah baca artikel kalo buah pala itu haram.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Buah Pala/Pa’alah (Madura Red.) yang dalam bahasa Arab disebut (جوزة الطيب) adalah tanaman daerah tropis yang memiliki 200 spesies dan seluruhnya tersebar di daerah tropis. Buah pala biasa dipakai sebagai bahan bumbu makanan untuk menambah cita rasa dan aroma makanan ini sudah lama dikenal.

Sifat biji buah pala memabukkan
Ulama dalam kitab-kitab mereka menyebutkan bahwa buah Pala termasuk jenis tanaman yang memabukkan. [1] Hal ini juga diperkuat oleh penelitian modern, buah pala mengandung zat yang bisa mengganggu kerja syaraf dan otak seseorang. Disebutkan bahwa efeknya hampir sama dengan ganja jika dikonsumsi dalam jumlah besar.

Hukum memakan buah dan bijinya

Ulama berbeda pendapat tentang hukum buah Pala, sebagian mengharamkan secara mutlak sedangkan sebagian ulama yang lain menghalalkan bila tidak dengan kadar yang memabukkan.

1. Haram secara mutlak
Mayoritas ulama mengharamkan buah pala secara mutlak. Baik dikonsumsi sedikit maupun banyak. Atau dikonsumsi secara terpisah atau dicampur dengan makanan.[2] Hal ini karena keumuman hadits :

مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ

Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya tetap haram.” (HR. Tirmidzi)

Referensi :

وجوزة الطيب (1) والبرش (2) وغيرها بالمضغ أو التدخين أو غيرهما ينتج عنه تغييب العقل، وقد يؤدي إلى الإدمان، مما يسبب تدهورا في عقلية المدمنين وصحتهم، وتغير الحال المعتدلة في الخلق والخلق.
قال ابن تيمية: كل ما يغيب العقل فإنه حرام، وإن لم تحصل به نشوة ولا طرب، فإن تغييب العقل حرام بإجماع المسلمين، أي إلا لغرض معتبر شرعا. (3)
6 – وذهب جمهور الفقهاء إلى حرمة تناول المخدرات التي تغشى العقل، ولو كانت لا تحدث الشدة المطربة التي لا ينفك عنها المسكر المائع.
وكما أن ما أسكر كثيره حرم قليله من المائعات، كذلك يحرم مطلقا ما يخدر من الأشياء الجامدة المضرة بالعقل أو غيره من أعضاء الجسد.
وذلك إذا تناول قدرا مضرا منها. دون ما يؤخذ منها من أجل المداواة؛ لأن حرمتها ليست لعينها، بل لضررها.
7 – وعلى هذا يحرم تناول البنج والحشيشة
(1) جوزة الطيب: وسمي بذلك لعطريته ودخوله في الأطياب، وهو ثمر شجرة في عظم شجرة الرمان. (التذكرة لداود الأنطاكي 1 / 101 ط محمد على صبيح)
(2) البرش: وهو مركب من الأفيون والبنج. (تذكرة داود الأنطاكي 1 / 66)
(3) مجموعة فتاوى ابن تيمية 34 / 198، 204، 211

2. Boleh bila kadarnya sedikit
Sedangkan sebagian ulama diantaranya imam Abu Hanifah, sebagian Malikiyyah, sebagian ulama syafi’iyyah seperti imam Ramli dan Syekh Wahbah Zuhaili berpendapat bahwa buah pala yang dicampur dengan masakan sekedar untuk penyedap rasa atau pengharum masakan hukumnya boleh.

Syekh Wahbah Zuhaili berkata : “Tidak mengapa menggunakan sedikit buah pala untuk memberi aroma dan rasa kepada makanan dan haram jika dalam jumlah yang banyak karena ia sesuatu yang bisa membius. Hal itu, menurutnya, karena hadis yang mengatakan, “Apa yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya tetap haram,” berlaku untuk sesuatu yang memang khusus dibuat untuk memabukkan seperti minuman keras. Sedangkan, buah pala ini biasanya digunakan untuk bumbu makanan atau untuk obat, bukan untuk tujuan memabukkan.”[3]

Kesimpulan :

Hukum menggunakan buah pala sebagai penyedap masakan khilaf ditengah-tengah ulama, antara yang mengharamkan dan yang membolehkan. Syaikh Wahbah Zuhaili termasuk yang menghalalkan, namun demikian yang terbaik adalah meninggalkannya untuk kehati-hatian.

[1]Az Zawaajir ‘an Iqtiraab al Kaba’ir (1/212), al Mukhdarat hal 16.
[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah (11/34).
[3] Fiqh al Islami wa Adillatuhu (7/444

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 259 : BACAAN SETELAH SHALAT LIMA WAKTU

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 259 :

وَعَنْ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ( كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةِ مَكْتُوبَةٍ : ” لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ اَلْمُلْكُ وَلَهُ اَلْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا اَلْجَدِّ مِنْكَ اَلْجَدُّ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari al-Mughirah Ibnu Syu’bah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada setiap selesai sholat fardlu selalu membaca: (artinya = Tidak ada Tuhan selain Allah yang Esa tiada sekutu bagi-Nya bagi-Nya kerajaan dan segala puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah tiada orang yang kuasa menolak terhadap apa yang Engkau berikan dan tiada orang yang kuasa memberi terhadap apa yang Engkau cegah dan tiada bermanfaat segala keagungan karena keagungan itu hanyalah dari Engkau). Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) senantiasa membiasakan diri membaca satu zikir sebaik selesai mengerjakan sholat fardu. Inilah zikir yang paling mulia yang pernah disampaikan oleh baginda. Zikir mulia ini bertujuan mengesakan Allah, meniadakan sekutu dari-Nya, mengukuhkan sifat keperkasaan, kekuasaan, dan kebesaran bagi-Nya di atas semua makhluk. Dia Maha Kuasa ke atas segala sesuatu, lagi Maha berbuat terhadap semua yang dikehendaki-Nya. Dia memberi siapa yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapa yang dikehendaki-Nya. Dialah yang mengatur semua urusan makhluk-Nya, tiada lagi manfaat harta, anak, dan kedudukan bagi hamba-hamba ketika mereka menghadapi hisab-Nya. Sesungguhnya yang bermanfaat bagi seseorang hanyalah apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya selama hidup di alam dunia.

Melalui do’a ini Rasulullah (s.a.w) memberikan petunjuk kepada orang yang mengerjakan sholat dan menganjurkan kepada mereka supaya menghadap dengan sepenuh hati dalam berbuat ketaatan kepada Allah Tuhan semesta alam, supaya kelak di hari kiamat mereka dihimpun bersama orang yang bertaubat lagi suci.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan membaca do’a ini setiap kali selesai mengerjakan sholat fardu lima waktu.

2. Dianjurkan mengerjakan amal sholeh dan amal ibadah yang dapat membawa seseorang memperoleh keridhaan dan kecintaan Allah memandangkan segala jerih payahnya tidak dapat memberi manfaat di hadapan-Nya, tidak pula kedudukan dan harta bendanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 258 : UACAPAN SALAM DALAM TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 258 :

وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ : ” اَلسَّلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ” وَعَنْ شِمَالِهِ : ” اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ

Wail Ibnu Hujr Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam beliau salam ke sebelah kanan dan kiri dengan (ucapan): Assalamu’alaykum wa rahmatullaahi wa barakaatuh (artinya = Semoga salam sejahtera atasmu beserta rahmat Allah dan berkah-Nya). Riwayat Abu Dawud dengan sanad shahih.

MAKNA HADITS :

Salam merupakan salah satu rukun sholat yang mesti dilakukan apabila telah mengerjakan sholat. Di dalam hadis yang lain disebutkan:

تحريمها التكبير وتحليلها التسليم

“Sholat itu dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.”

Salam sudah mencukupi dengan mengucapkan “السلام عليكم” sedangkan bentuk salam yang paling sempurna ialah “ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ” dengan ditambahkan perkataan al-rahmah dan al-barakah. Sahabat senantiasa memperhatikan setiap
ucapan dan perbuatan Nabi (s.a.w) untuk mereka ikuti. Oleh itu, Wa’il
ibn Hujr tentu gembira ketika menukil salah satu dari perbuatan baginda ini.

FIQH HADITS :

1. Orang yang sholat disyariatkan membaca dua kali salam ketika selesai mengerjakan sholat, baik dia sebagai imam, makmum ataupun orang yang sholat sendirian. Ulama bersepakat bahwa salam pertama itu adalah wajib, meskipun mereka berselisih pendapat mengenai hukum salam kedua. Imam Ahmad mengatakan bahwa salam kedua itu hukumnya wajib, sedangkan menurut jumhur ulama adalah sunat.

2. Disunatkan menambahkan kalimat “ وبركاته “ ketika mengucapkan salam dan tidak benar pendapat orang yang mengatakan bahwa menambahkan lafaz ini ketika mengucapkan salam hukumnya bid’ah. Manakala Imam Malik pula membatasinya hingga perkataan ” السلام عليكم ” karena itu berlandaskan kepada amalan masyarakat Madinah dan mereka tidak ada yang menambahkan perkataan ” ورحمة الله وبركاته ” ketika mengucapkan salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 257 : DO’A DALAM SHOLAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 257 :

وَعَنْ أَبِي بَكْرٍ اَلصِّدِّيقِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي . قَالَ قُلْ : ” اَللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ اَلذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ اَلْغَفُورُ اَلرَّحِيمُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam: Ajarkanlah padaku doa yang aku baca dalam sholatku. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah diriku sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) dianugerahkan jawami’ al-kalim dan ilmu mengenai perkara-perkara yang belum diketahui. Tiada satu kebaikan pun dari kebaikan dunia dan akhirat melainkan baginda menunjukkannya kepada kita, dan tiada satu keburukan pun dari keburukan dunia dan akhirat melainkan baginda mengingatkan kita supaya berwaspada terhadapnya. Dari sini Abu Bakar al-Shiddiq meminta kepada Rasulullah (s.a.w) agar mengajarkan kepadanya suatu doa yang seharusnya beliau baca ketika dalam sholat. Nabi (s.a.w) kemudian mengajarkan kepadanya do’a ini yang di dalamnya mengandungi permohonan ampun. Tidak diragukan lagi bahwa permohonan ampun merupakan permintaan yang paling tinggi dan paling besar untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

FIQH HADITS :

1. Meminta pengajaran dari orang alim lebih-lebih lagi berkaitan do’a yang disebutkan di dalam hadits yang di dalamnya terkandung jawami’ al-kalim.

2. Bertawassul, yakni memohon kepada Allah dengan menyebut asma-Nya yang sesuai dengan kedudukan ketika meminta hajat dan berdo’a supaya diselamatkan dari hal-hal yang tidak disukai, seperti menyebut lafaz “ْالغفور رحيم “ ketika memohon ampunan atau menyebut lafaz: “ وارزقنا وأنت خير الرازقين ” ketika memohon supaya dianugerahkan rezeki. Betapa banyak kalimat seperti ini di dalam al-Qur’an dan do’a-do’a yang pernah dibaca oleh Rasulullah (s.a.w).

3. Disyariatkan berdo’a ketika dalam sholat secara mutlak tanpa perlu ditentukan tempat dimana mesti berdo’a. Dalam hadis sebelum ini disebutkan bahwa do’a ketika dalam sholat dilakukan sesudah tasyahhud, membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) dan isti’adzah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 256 : DO’A MOHON PERLINDUNGAN DALAM TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 256 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ اَلدَّجَّالِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : ( إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنْ اَلتَّشَهُّدِ الْأَخِيرِ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu bertasyahhud maka hendaklah ia memohon perlindungan pada Allah dari empat hal dengan mengucapkan: (Artinya = Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan pada-Mu dari siksa neraka jahannam siksa kubur cobaan hidup dan mati dan dari fitnah dajjal).” Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim disebutkan: “Jika seseorang antara kamu telah selesai dari tasyahhud akhir.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) senantiasa berbelas kasih dan amat memperhatikan umatnya supaya mereka tidak melakukan perbuatan maksiat dan setiap perkara yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam lembah dosa. Untuk itu, baginda memberikan mereka cara membahagiakan mereka di dunia dan akhirat melalui do’a yang baginda ajarkan. Do’a itu merupakan jami’ al-kalim yang di dalamnya mengandung perlindungan daripada siksa neraka Jahannam dan dari segala
fitnah yang melanda manusia sepanjang masa hidup dan ketika menjelang mati.

Hidup manusia senantiasa terdedah kepada bahaya dan kejahatan apabila tidak mendapat perlindungan dari Allah Yang Maha Pernurah lagi Maha
Penyayang. Pada akhir do’a tersebut disebutkan permohonan perlindungan kepada Allah
dari fitnah yang paling besar, paling merbahaya, dan paling luas mudharat (bahaya)nya. Umat ini pada akhir zaman kelak akan mendapat cobaan fitnah tersebut, yaitu kemunculan al-masih al-Dajjal yang menyeru manusia kepada kebatilan dan perbuatan dosa. Kebenaran pun menjadi pudar bagi mereka dan segala urusan umat manusia menjadi kacau balau. Pada zaman itu mereka hampir tidak dapat membedakan lagi antara mana yang bermanfaat dan mana yang mudharat, mana yang baik dan mana yang buruk. Semoga Allah melindungi kita dari fitnah ini dan menunjukkan kita ke arah jalan yang lurus.

FIQH HADITS :

1. Azab kubur itu memang ada.

2. Al-Dajjal itu ada dan fitnahnya pasti terjadi ketika dia telah muncul di akhir zaman nanti.

3. Disyariatkan memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah, kejahatan, dan memohon agar semua tersebut ditolak-Nya.

4. Disunatkan berdo’a sesudah selesai membaca tasyahhud sebelum melakukan salam.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 255 : BACAAN SHOLAWAT DALAM TAHIYAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 255 :

وَعَنْ أَبِي مَسْعُودٍ اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : ( قَالَ بَشِيرُ بْنُ سَعْدٍ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ ! أَمَرَنَا اَللَّهُ أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ ? فَسَكَتَ ثُمَّ قَالَ : ” قُولُوا : اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي اَلْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ . وَالسَّلَامُ كَمَا عَلَّمْتُكُمْ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَزَادَ اِبْنُ خُزَيْمَةَ فِيهِ : (فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا عَلَيْكَ فِي صَلَاتِنَا)

Dari Abu Mas’ud bahwa Basyir Ibnu Sa’ad bertanya: Wahai Rasulullah, Allah memerintahkan kepada kami untuk bersholawat padamu bagaimanakah cara kami bersholawat padamu? beliau diam kemudian bersabda: “Ucapkanlah: (artinya = Ya Allah limpahkanlah rahmat atas Muhammad dan keluarganya sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat atas Ibrahim. Berkatilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim. Di seluruh alam ini Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung) kemudian salam sebagaimana yang telah kamu ketahui.” Diriwayatkan oleh Muslim. Dalam hadits tersebut Ibnu Khuzaimah menambahkan: “Bagaimanakah cara kami bersholawat padamu jika kami bersholawat padamu pada waktu sholat.”

MAKNA HADITS :

Wajib membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) ketika dalam tasyahhud akhir, menurut pendapat Imam al-Syafi’i, sebagai membalas sebagian jasa perjuangan baginda kepada kita. Oleh itu, sahabat bertanya kepada Nabi (s.a.w) tentang cara
membaca sholawat tersebut, kemudian Rasulullah (s.a.w) mengajarkan kepadanya
cara yang disyariatkan. Sholawat ini juga mengandung permohonan sholawat untuk keluarga baginda, yaitu ahli baitnya yang suci, sebagaimana terkandung pula di
dalamnya keutamaan Nabi Ibrahim, bapak sekalian para nabi.

FIQH HADITS :

1. Barang siapa yang diperintahkan melakukan sesuatu, sedangkan dia masih belum faham cara untuk melakukannya, maka hendaklah dia bertanya kepada ahli al-dzikir.

2. Disyariatkan membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) dengan shighat (kalimat) yang tersebut di atas.

3. Menerangkan kemuliaan para sahabat dan sejauh mana perhatian mereka yang sangat dalam meneliti hukum-hukum agama.

4. Menerangkan kemuliaan Nabi Ibrahim yang senantiasa bertambah dengan membaca sholawat ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 254 : DISYARI’ATKAN MEMBACA HAMDALAH DAN SHALAWAT DALAM BERDO’A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 254 :

وَعَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَمِعَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رِجْلاً يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اَللَّهَ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ” عَجِلَ هَذَا ” ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ. رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَدْعُو بِمَا شَاءَ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالثَّلَاثَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Fadlolah Ibnu Ubaidah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mendengar seseorang berdo’a dalam sholatnya dengan tidak memuji Allah dan tidak membaca sholawat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam maka bersabdalah beliau: “Orang ini tergesa-gesa.” Kemudian beliau memanggilnya seraya bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu sholat maka hendaknya ia memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjung-Nya kemudian membaca sholawat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam lalu berdoa dengan do’a yang dikehendakinya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam Tiga. Hadits shahih menurut Tirmidzi Ibnu Hibban dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Do’a mempunyai etika tersendiri yang mesti ditaati apabila ingin doanya dimakbulkan, antara lain adalah memulainya dengan membaca hamdalah dan memanjatkan sanjungan kepada-Nya serta bersholawat ke atas Nabi (s.a.w), karena baginda merupakan wasilah al-‘uzhma (perantara yang paling agung) dalam memperoleh hidayah dan bimbingan. Sesudah itu barulah seseorang berdoa memohon apa yang dikehendakinya.

Rasulullah (s.a.w) pernah mendengar seorang lelaki yang tidak tahu bagaimana cara berdoa yang betul, kerana tidak mengindahkan etika tersebut dalam do’anya. Melihat itu, Nabi (s.a.w) menyebutnya sebagai orang yang terburu-buru dalam berdo’a dan tidak ada jaminan yang dia tidak akan melakukan kesalahan. Baginda bersabda: “Lelaki ini terlampau tergesa-gesa.” Kemudian baginda memanggil lelaki itu dan mengajarkan kepadanya etika yang mesti ditaati ketika berdo’a.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membaca hamdalah dan salawat ke atas Nabi (s.a.w) ketika bertasyahhud.

2. Do’a dibaca sesudah tasyahhud dan sebelum salam. Dalam kaitan ini dianjurkan hanya sebatas menurut apa yang disebutkan di dalam hadis.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 253 : KALIMAT TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 253 :

ولمسلم عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا التَّشَهُّدَ “التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ…….. الى أخره.

Menurut riwayat Muslim dari Ibn Abbas (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) dahulu mengajarkan kami tasyahhud, yaitu: التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ
(Semua penghormatan, keberkatan, sholat lima waktu dan kebaikan hanyalah milik Allah….) hingga akhir hadis.

MAKNA HADITS :

Tasyahhud yang diajarkan oleh Nabi (s.a.w) kepada para sahabatnya menunjukkan betapa besar perhatian baginda terhadap tasyahhud ini. Banyak riwayat yang menceritakan Nabi (s.a.w) mengajarkan para sahabatnya bacaan tasyahhud dalam bentuk lafaz yang beragam, hingga hadis mengenai tasyahhud ini telah diriwayatkan dengan lafaz yang berbeda-beda antara satu sama lain oleh dua puluh empat orang sahabat. Walaupun, membaca salah satu lafaz tasyahhud ini sudah dianggap mencukupi, meskipun apa yang terdapat di dalam hadis Ibn Abbas ini paling kuat.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca tasyahhud dengan kalimat yang telah disebutkan di dalam hadis ini. Ini menjadi pilihan Imam al-Syafii memandang di dalamnya ada tambahan lafaz “المباركات ,“ karena kalimat ini sesuai dengan apa yang disebut di dalam firman-Nya:

تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ

“…salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkah lagi baik…” (Surah al-Nuur: 61)

Al-Baihaqi turut mengutamakan hadis ini dan berkata: “Rasulullah (s.a.w) pernah mengajarkannya kepada Ibn Abbas dan rekan-rekan yang sebaya dengannya dari kalangan sahabat yang masih berusia muda. Dengan demikian, hadis ini adalah hadis terakhir dalam masalah tasyahhud dan lebih baru dibandingkan dengan tasyahhud yang disebutkan dalam hadis Ibn Mas’ud dan lainnya. Tetapi Imam Malik memilih tasyahhud Umar r.a yang lafaznya ialah seperti berikut:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالزاكيات لله، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semua penghormatan adalah milik Allah, semua sesuatu yang suci adalah milik Allah, semua sholat dan sesuatu yang baik adalah milik Allah. Semoga kesejateraan berlimpah kepadamu, wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan keberkatannya…” hingga akhir tasyahhud.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 252 : BACAAN KETIKA TASYAHHUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 252 :

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ : ( اِلْتَفَتَ إِلَيْنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ” إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ : اَلتَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا اَلنَّبِيُّ وَرَحْمَةَ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اَللَّهِ اَلصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ اَلدُّعَاءِ أَعْجَبُهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ )

وللنسائي : كنا نقول قبل أن يفرض علينا التشهد. وَلِأَحْمَدَ : ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَهُ اَلتَّشَهُّد وَأَمَرَهُ أَنْ يُعَلِّمَهُ اَلنَّاسَ )

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berpaling pada kami kemudian bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu sholat hendaknya ia membaca: (Artinya = Segala penghormatan sholawat dan kebaikan itu hanya bagi Allah semata. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepadamu wahai Nabi beserta rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga selamat sejahtera dilimpahkan kepada kami dan kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusan-Nya) kemudian hendaknya ia memilih doa yang ia sukai lalu berdoa dengan doa itu.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Menurut riwayat Nasa’i: Kami telah membaca doa itu sebelum tasyahud itu diwajibkan atas kami. Menurut riwayat Ahmad: bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengajarinya tasyahhud dan beliau memerintahkan agar mengajarkannya kepada manusia.

MAKNA HADITS :

Kalimat tasyahhud memiliki banyak bentuk lafaz yang kesemuanya disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh dua puluh empat orang sahabat.

Jumhur ulama memilih salah satu diantaranya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis Ibn Mas’ud (r.a). Dengan membaca salah satu lafaz tasyahhud, maka itu sudah dianggap mencukupi. Nabi (s.a.w) amat mementingkan tasyahhud dan mengajarkannya kepada para sahabatnya di samping mereka berkewajiban mengajarkannya kepada orang lain.

FIQH HADITS :

1. Seseorang dilarang mengucapkan “السلام على الله”

2. Disyariatkan membaca tasyahhud menurut kalimat yang pernah diajarkan oleh Rasulullah (s.a.w). Ini menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad.

3. Disunatkan memulai do’a terlebih dahulu untuk diri sendiri, lalu berdo’a untuk orang lain secara umum.

4. Disyariatkan membaca do’a sesudah tasyahhud dan sebelum salam, yaitu mana yang berkaitan dengan kebaikan dunia dan akhirat, namun do’a itu tidak boleh memuatkan dosa. Inilah pendapat jumhur ulama. Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak boleh membaca do’a kecuali lafaz do’a yang terdapat di dalam al-Qur’an atau Sunnah atau lafadz do’a yang serupa dengan lafaz al-Qur’an,
namun tidak boleh membaca lafadz do’a yang mempunyai kesamaan dengan percakapan manusia.”

5. Wajib membaca tasyahhud pada tempatnya di dalam sholat. Tasyahhud merupakan rukun sholat dalam rakaat terakhir dan sunat dalam rakaat kedua.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

J036. CARA MERAWAT MAYAT KORBAN GEMPA DAN SUNAMI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:

Di zaman sekarang ini tidak sedikit kita bertemu dan melihat seorang laki2 yang membiarkan rambutnya panjang sehingga sama dengan rambutnya wanita yang tidak berjilbab, begitu juga sebaliknya terkadang tanpa disengaja kita bertemu dengan wanita yang rambutnya pendek menyerupai orang laki-laki, bahkan bukan cuma itu pakainpun merip dengan orang laki-laki.

Akibat terjadinya gempa stunami yang terjadi di sulawesi tengah, maka banyak yang menjadi korban meninggal kurang lebih 386 dan masih banyak yang luka-luka ringan dan berat yang sekarang ini dirawat dirumah sakit. Yang meninggal mudah-mudahan diampuni oleh Allah dan yang luka-luka mudah-mudahan tertolong dan sembuh.

Studi kasus, setelah kurang lebih dari seminggu polisi dan mayarakat menemukan mayat yang sudah rusak akibat tsunami tersebut, sehingga sulit untuk diketahui jenisnya.

Pertanyaannya:

Bagaimana tatacara menyelesaikan kewajiban (tajhizulmayit) mulai dari memandikan menshalatinya sampai mengkuburkannya (mentalqiniya) menurut hukum agama, sementara ia tidak diketahui jenis kelaminnya?
Mohon dengan hormat atas jawabannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

CARA MEMANDIKAN :

Apabila mayatnya hancur/remuk karena gempa sehingga tidak diketahui jenis kelaminnya maka kewajiban kita masih tetap sama dengan janazah lainnya, mengkafani, mensholati dan menguburkannya hanya dalam masalah memandikan diganti dengan tayammum.

Referensi :

Al Bajuri 1/ 242 – 243 :

(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)… الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .

Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya.

– Asna alMathoolib I/305 :

وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

“Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”.

CARA MEN-SHALATKAN :

Tidak disyaratkan dalam shalat jenazah harus mengetahui jenis kelamin mayit yang dishalati. Sebagaimana pula tidak dipersyaratkan harus mengetahui nama mayit.

An-Nawawi mengatakan,

ولا يفتقر إلى تعيين الميت، وأنه زيد أو عمرو أو امرأة أو رجل ، بل يكفيه نية الصلاة على هذا الميت وإن كان مأموما ونوى الصلاة على من يصلي عليه الإمام كفاه ، صرح به البغوي وغيره

Shalat jenazah tidak harus diniatkan untuk mayit tertentu. Seperti diniatkan untuk mayit bernama Zaid, atau Amr, atau seorang wanita atau seorang lelaki. Namun cukup dengan niat menshalatkan jenazah yang bersangkutan. Dan jika dia sebagai makmum shalat jenazah, lalu dia berniat shalat sebagaimana yang diniatkan imam, itu sah. Demikian yang ditegaskan al-Baghawi dan yang lainnya. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 5/230).

Keterangan yang lain juga disebutkan dalam kitab Kifayatul Akhyar,

ولا يشترط تعين الميت بل لو نوى الصلاة على من صلى عليه الإمام كفى

Tidak disyaratkan harus meniatkan shalat jenazah untuk mayit tertentu. Bahwa jika berniat shalat jenazah sebagaimana niatnya imam, itu sudah cukup. (Kifayatul Akhyar, hlm. 162).

Karena inti dari shalat jenazah adalah mendoakan mayit yang bersangkutan. Sekalipun kita tidak tahu jenis kelaminnya, tidak tahu namanya, selama dia muslim, maka doa kita bisa bermanfaat baginya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan” (HR. Bukhari & Muslim)

Bagaimana dengan Kata Ganti dalam Doanya?

Kata ganti orang ketiga dalam bahasa arab dibedakan untuk lelaki (mudzakkar) dan perempuan (muannats). Dalam posisinya sebagai objek, kata “dia lelaki” digunakan [هُـ]. Sementara kata “dia perempuan” digunakan [هَا].

Dalam bahasa arab, kata benda juga terbagi menjadi mudzakar dan muannats. Salah satu diantara cirinya adalah adalah kata muannats bertandakan huruf ta’ melingkar (marbuthah) ditulis [ة]. Sementara kata benda mudzakkar, umumnya tidak menggunakan ta’ marbuthah.

Sebagai contoh:

Kata mayit [المَيِّتُ] adalah kata mudzakkar, diantara cirinya tidak ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf hu [هُـ].

Kata jenazah [الجَنَازَةُ] adalah kata muannats, diantara cirinya ada huruf ta’ marbuthah. Sehingga jika dibuat kata ganti (dhamir) bisa menggunakan huruf haa [هَا].

Sementara dalam shalat jenazah, kita bisa mendoakan dengan redaksi: “Ya Allah, ampunilah mayit ini…”, atau bisa juga dengan redaksi, “Ya Allah, ampunilah jenazah ini…”

Oleh karena itu, sekalipun kita tidak tahu jenis kelamin jenazah, menggunakan dhamir (kata) ganti apapun, tetap benar.

Misalnya, anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

/Allahummagh-fir laHU war hamHU wa ‘aafiiHI wa’fu’anHU /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘hu’ dengan niat ditujukan kepada mayit. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah mayit [المَيِّت], yang merupakan kata mudzakkar. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Atau misalnya,

anda membaca doa ketika shalat jenazah,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا وَارْحَمْهَا وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهَا

/Allahummagh-fir laHA war hamHA wa ‘aafiiHA wa’fu’anHA /

“Ya Allah berilah ampunan kepadanya, sayangilah ia, jagalah ia dan maafkanlah ia..”

Anda menggunakan kata ganti (dhamir) ‘ha’ dengan niat ditujukan kepada jenazah. Sehingga kalimat “Ya Allah berilah ampunan kepadanya…” maksud kata ‘nya’ adalah jenazah [الجَنَازَةُ], yang merupakan kata muannats. Sehingga apapun jenis kelamin mayit, tidak mempengaruhi doa ini.

Do’a dan bacaan saat menyolati mayyit yang tidak kita ketahui baik jenis kelamin, jumlah, dan balligh atau belumnya, adalah dengan dimudzakkarkan dhomirnya, karena sebetulnya tidak disyaratkan ta’yin mayyit yang hadir dicukupkan dengan ta’yin solat jenazah atau ta’yin fardhu / fardhu kifayah.

قوله ويكبر ) الي ان قال وأركانها سبعة أحدها النية ويجب فيها القصد والتعيين كصلاة الجنازة ونية الفرضية وإن لم يعترض للكفاية وغيرها ولا يشترط تعيين الميت الحاضر

Adapun rukun dari solat jenazah ialah 7 salah satunya niat dan diwajibkan untuk menyegaja niat dan ta’yin niat contoh solat jenazah dan niat fardhu walaupun tidak menyinggung/mengucapkan kifayah atau selainnya dan tidak disyaratkan menta’yin mayyit yang hadir.

Referensi :

– khasiyah albajuri juz 1 hal 249

فإن عينه كزيد أو رجل ولم يشر اليه ,أخطأ في تعيينه كأن بان عمر أو إمرأة لم تصح صلاته فأن أشار اليه كأن ٌقال نويت الصلاة علي زيد هذا فبان عمرا صحت صلاته تغليبا للإشارة ويلغو التعيين

Seandainya seorang yang menyolati jenazah menta’yin contoh mayyat bernama zaid atau mayyat laki-laki dan tidak menisyarohi/memakai lafad hadza maka demikian apabila salah pada ta’yinnya dalam contoh kenyataannya mayyatnya umar atau kenyataannya mayyatnya perempuan maka tidak sah solatnya berbeda seandainya orang yang solat jenazah tersebut mengisyarohi /melafdkan hadza seperti niat nawaitu as solata ala zaidin hadza ,maka apabila kenyaataannya salah maka sah solatnya karena yang dimenangkan adalah isyarohnya dan tidak dianggap ta’yinnya. [ referensi khasiyah al bajuri juz 1 hal 249 ].

– Syarh Al Bahjah al-Wardiyyah VI/97 ].

ويؤنث الضمائر ويجوز تذكيرها بقصد الشخص

Dan dhomir dijadikan ta’nits (dalam mayat wanita) dan boleh juga memudzakkarkannya.

– I’aanah at-Thoolibiin II/128

ويؤنث الضمائر في الأنثى ويجوز تذكيرها بإرادة الميت أو الشخص( قوله ويؤنث الضمائر في الأنثى ) كأن يقول اللهم اغفر لها وارحمها إلخ اللهم اجعلها فرطا لأبويها إلخ ( قوله ويجوز تذكيرها ) أي الضمائر في الأنثى ( وقوله بإرادة الميت أو الشخص ) يعني أنه إذا ذكر الضمير وكان الميت أنثى جاز ذلك بتأويلها بالشخص أو بالميت أي اللهم اغفر له أي هذا الميت أو الشخص أي أو الحاضر

CARA MENGUBURKAN :

Hukum menguburkan mayat secara massal adalah sebagai berikut:

a. Tidak boleh, apabila masih bisa menguburkannya secara normal (satu lubang kuburan untuk satu mayat)

b. Boleh, apabila dalam keadaan darurat (tidak memungkinkan untuk menguburkan mayat dengan normal). Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Muhadzdzab berikut ini:

وَلاَ يُدْفَنُ مَيِّتٌ فِيْ مَوْضِعٍ فِيْهِ مَيِّتٌ إِلاَّ أَنْ يُعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ بَلِيَ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهُ شَيْءٌ وَيُرْجَعُ فِيْهِ إِلَى أَهْلِ الْخُبْرَةِ بِتِلْكَ اْلأَرْضِ وَلاَ يُدْفَنُ فِيْ قَبْرٍ وَاحِدٍ اِثْناَنِ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم لَمْ يَدْفَنْ فِي كُلِّ قَبْرٍ إِلاَّ وَاحِدًا فَإِنْ دَعَتْ إِلَى ذلِكَ ضَرُوْرَةٌ جَازَ لِأَنَّ النَّبِيَ صلى الله عليه وسلم كاَنَ يَجْمَعُ اْلاِثْنَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ…. (المهذب في فقه الإمام الشافعي، ج 1 ص 253)

Dan mayit tidak boleh dikuburkan pada suatu tempat yang sudah ada mayatnya, kecuali mayat (yang sudah dikubur) telah rusak, dan tidak ada sesuatu di dalamnya, dan hal ini diserahkan pada ahlinya. Dan tidak dikuburkan dalam satu kuburan dua mayat, karena Nabi tidak mengubur dalam satu lubang kubur kecuali satu mayat, namun apabila dalam keadaan darurat maka diperbolehkan, karena sesungguhnya Nabi pernah mengumpul-kan dua mayat dalam satu kuburan pada saat perang uhud. (al-Muhadzdzab fii Fiqh al-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 253)

Wallahu a’lamu bisshowab..