logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 281 : HUKUM SUJUD TILAWAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 281 :

وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ : ( يَا أَيُّهَا اَلنَّاسُ إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ وَفِيهِ : ( إِنَّ اَللَّهَ] تَعَالَى [ لَمْ يَفْرِضْ اَلسُّجُودَ إِلَّا أَنْ نَشَاءَ ) وَهُوَ فِي اَلْمُوَطَّأِ

Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wahai orang-orang kita melewati bacaan ayat-ayat sujud maka barangsiapa sujud ia telah mendapat (pahala) dan barangsiapa tidak sujud tidak mendapat dosa Diriwayatkan oleh Bukhari Dalam hadits itu disebutkan: Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud kecuali jika kita menghendaki Hadits itu termuat dalam al-Muwaththa’

MAKNA HADITS :

Hukum sujud tilawah sunat, bukan wajib. Dalilnya adalah Nabi (s.a.w) dalam setengah keadaan meninggalkan sujud ini. Begitu pula yang dilakukan oleh para sahabat dimana mereka seringkali membaca ayat sajadah, namun mereka tidak melakukan sujud.
Umar al-Faruq (r.a) menetapkan bahwa tidak ada dosa bagi orang yang meninggalkan sujud ini, malah beliau turut menetapkan bahwa sujud ini bukannya fardu. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sujud ini kepada kita, melainkan apabila kita menghendakinya.”

FIQH HADITS :

1. Sujud tilawah bukan fardu.

2. Diwajibkan menyempurnakan sujud tilawah bagi orang yang telah melakukannya menurut pendapat Imam Malik dan Imam Abu Hanifah. Ini karena perkara sunat akan menjadi wajib apabila telah dimulai melaksanakannya dan ini menjadikannya wajib segera disempurnakan. Dari sini istitsna’
(pengecualian) didalam sabda Rasulullah (s.a.w): “اِلَّا اَنْ نَشَاءَ” adalah istitsna’ muttasil. Dengan kata lain, kalimat sebelum illa dan yang sesudahnya saling berkaitan antara satu sama lain. Menurut Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad pula, sujud tilawah tidak wajib hanya karena alasan ia telah dimulai. Ini karena berlandaskan kepada kaidah yang mengatakan bahwa perkara sunat tidak menjadi wajib hanya karena alasan ia telah dimulai. Dari sini istitsna’ yang terdapat di dalam sabda baginda: “اِلَّا اَنْ نَشَاءَ” adalah istitsna munqati’. Dengan demikian, maknanya adalah “tetapi sujud tilawah diserahkan sepenuhnya kepada kehendak kita”.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M093. HUKUM MEMANFAATKAN BARANG GADAI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:

Di kampung kami terdapat seseorang pengusaha namun pada suatu saat usahanya bangkrut maka dalam upaya menggembangkan usahanya seperti semula maka ia menggadaikan sawahnya dengan tempo 2 Tahun, sementara lahan sawah yang digadaikan diambil manfaatnya oleh si pegambil gadai dengan ditanami padi atau yang lainnya.
Pertanyaannya:

Bagaimana hukumnya Si penerima gadai mengambil manfaat dari barang gadai? sementara pada awal taransaksi tidak ber syarat. (tidak ada ungkapan dimanfaatkan).

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Pada dasarnya hukum memanfaatkan barang gadaian tidak diperbolehkan. Akan tetapi jika syarat pemanfaatan tidak disebutkan dalam transaksi atau akad maka terjadi khilaf:

Dalam permasalahan semacam ini terdapat tiga pendapat dari para ulama Fiqh :

1. Haram : sebab termasuk hutang yang dipungut manfaatnya.

2. Halal : Bila tidak terdapat syarat pada waktu akad sebab menurut pendapat ulama fiqh yang masyhur adat yang berlaku di masyarakat tidak termasuk syarat.

3. Syubhat : (Tidak jelas halal haramnya) karena terjadi perselisihan pendapat dalam permasalahan ini.

Referensi :

الاشباه والنظائر ج ١ ص ١٩٢

و منها : لو عم في الناس اعتياد إباحة منافع الرهن للمرتهن فهل ينزل منزلة شرطه حتى يفسد الرهن قال الجمهور : لا و قال القفال : نعم

Jika sudah umum dikalangan masyarakat kebiasaan kebolehan memanfaatkan barang gadaian oleh pemilik gadai apakah kebiasaan tersebut sama dengan pemberlakuan syarat (kebolehan pemanfaatan) sampai barang yang digadaikan tersebut rusak ? Mayoritas Ulama menyatakan tidak sama sedang Imam ql-Qaffal menyatakan sama. [ Asybah wa an-Nazhooir I/192 ].

( و ) جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض…. وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

( قوله ففاسد ) قال ع ش ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد

Diperbolehkan bagi sipemberi pinjaman untuk memanfaatkan (sesuatu kelebihan) yang diperoleh dari si peminjam seperti pengembalian yang lebih baik ukuran ataupun sifat dan lebih baik pada pinjaman yang jelek asalkan tidak tersebutkan pada waktu akad sebagai persyaratan bahkan hal yang demikian bagi peminjam disunahkan (mengembalikan yang lebih baik dibandingkan barang yang dipinjamnya)

Adapun peminjaman dengan syarat boleh mengambil manfaat oleh peminjam maka hukumnya rusak/haram sesuai dengan hadits “semua peminjaman yang menarik sesuatu (terhadap yang dipinjamkanny maka termasuk riba”

حاشية إعانة الطالبين – (ج 3 / ص 65)
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا وجبر ضعفه مجيء معناه عن جمع من الصحابة ومنه القرض لمن يستأجر ملكه أي مثلا بأكثر من قيمته لأجل القرض إن وقع ذلك شرطا إذ هو حينئذ حرام إجماعا وإلا كره عندنا وحرام عند كثير من العلماء قاله السبكي (قوله: ففاسد) قال ع ش: ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد.أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد، فلا فساد.اه.والحكمة في الفساد أن موضوع القرض: الارفاق، فإذا شرط فيه لنفسه حقا: خرج عن موضوعه فمنع صحته.(قوله: جر منفعة) أي شرط فيه جر منفعة. (قوله: فهو ربا) أي ربا القرض، وهو حرام (قوله: وجبر ضعفه) أي أن هذا الخبر ضعيف، ولكن جبر ضعفه.- أي قوى ضعفه – مجئ معناه – أي الخبر – وهو أن شرط جر النفع للمقرض مفسد للقرض.وعبارة النهاية: وروي – أي هذا الخبر – مرفوعا بسند ضعيف، لكن صحح الامام والغزالي رفعه، وروي البيهقي معناه عن جمع من الصحابة.اه.(قوله: ومنه القرض إلخ)أي ومن ربا القرض: القرض لمن يستأجر ملكه. (وقوله: أي مثلا) راجع للاستئجار – يعني أن الاستئجار ليس قيدا، بل مثالا.ومثله القرض، لمن يشتري ملكه بأكثر من قيمته.(وقوله: لاجل القرض) علة للاستئجار بأكثر من قيمته.

بغية المسترشدين – ( ص 221)
القرض الفاسد المحرم هو القرض المشروط فيه النفع للمقرض ، هذا إن وقع في صلب العقد ، فإت تواطآ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لغير غرض شرعي.

Perlu diketahui bahwa akad rahn (gadai), awal mulanya disyariatkan adalah untuk maksud menjaga kepercayaan dari orang yang memberi utang orang lain, bahwa utang tersebut akan dilunasinya tepat waktu.

لأن الرهن إيفاء الدين والإرتهان استيفاؤه

Artinya: “Karena sesungguhnya gadai berhubungan dengan pemenuhan utang, sementara menerima gadai berhubungan dengan cara meminta dipenuhinya utang.” (al-Kasâny, Badâi’ u al-Shanâi’ fi Tartîb al-Syarâi’, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, tt., 6/135)
Berhubung utang tersebut nilainya besar sehingga sulit untuk melepaskannya/memberikannya kepada pihak pengutang bila tanpa disertai adanya jaminan, maka disyariatkanlah sistem gadai tersebut dengan ciri utama adanya barang gadai (marhûn) sebagai jaminan kepercayaan (li al-tautsiq). Berangkat dari sini, maka lalu muncul dua kondisi:
1. Bilamana utang dengan jaminan tersebut bisa ditunaikan/dilunasi tepat waktu
2. Bilamana utang dengan jaminan tersebut tidak bisa dilunasi dengan tepat waktu (molor)
Berangkat dari dua kondisi ini, lalu muncul tradisi yang berlaku (adat mutharid) akan boleh tidaknya pemanfaatan barang gadai.

Pertama, menurut ulama yang membolehkan dan alasan dasarnya (illat)

Ulama yang membolehkan pemanfaatan barang gadai ini juga dibagi dua, yaitu:

1. Boleh melalui jalan jual beli dengan janji bahwa barang akan dibeli kembali oleh orang yang menjual (pihak pengutang). Akad ini dinamakan akad sende. Para fuqaha’ menamainya dengan istilah bai’u-l ‘uhdah (transaksi jual beli dengan tempo) .

وَصُوْرَتُهُ اَنْ يَتَّفَقَ الْمُتَبَايِعَانِ عَلَى اَنَّ اْلبَائِعَ مَتَى اَرَادَ رُجُوْعَ الْمَبِيْعَ اِلَيْهِ اَتَى بِمِثْلِ الثَّمَنِ الْمَعْقُوْدِ عَلَيْهِ وَلَهُ اَنْ يُقَيَّدَ الرُّجُوْعَ بِمُدَّةٍ فَلَيْسَ لَهُ اْلفَكُّ اِلاَّبَعْدَ مُضِيِّهَا ثُمَّ بَعْدَ الْمُوَاطَأَةِ يُعْقِدَانِ عَقْدًا صَحِيْحًا بَلاَشَرْطٍ

Artinya: “Gambaran dari [akad bai’ul ‘uhdah] ini adalah kedua pihak penjual dan pembeli telah bersepakat apabila penjual sewaktu-waktu ingin menarik kembali barang yang telah dijual maka ia harus menyerahkan harga umumnya (tsaman mitsil-nya) ia boleh membatasi untuk penarikan kembali barang yang sudah dijual itu dengan suatu masa tertentu sehingga ia tidak boleh lepas kecuali telah melewati masa itu, kemudian setelah terjadi serah terima kedua penjual dan pembeli itu melakukan transaksi dengan transaksi yang sah tanpa ada satu syarat.” (Abdullah Ba’alawy, Bughyatu al-Mustarsyidin, Surabaya: Al-Hidayah, tt., 133).
2. Boleh dengan syarat adanya izin atau diduga pasti diizinkan oleh pihak yang menggadaikan (râhin). Untuk pendapat yang kedua ini berlaku syarat bahwa kebolehan pemanfaatan tersebut tidak disyaratkan sebelumnya oleh penerima gadai (al-murtahin) saat terjadinya akad (fi shulbi al-‘aqdi). Apabila berlaku pemanfaatan tersebut disyaratkan saat aqad ditetapkan, maka tidak syak lagi bahwa pemanfaatan tersebut adalah masuk unsur riba. Namun, bila tidak disyaratkan saat berlangsungnya akad, maka hal tersebut tidak disebut sebagai riba. (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 258)

بغية المسترشدين – ( ص 221)
القرض الفاسد المحرم هو القرض المشروط فيه النفع للمقرض ، هذا إن وقع في صلب العقد ، فإت تواطآ عليه قبله ولم يذكر في صلبه أو لم يكن عقد جاز مع الكراهة كسائر حيل الربا الواقعة لغير غرض شرعي.

Kedua, menurut ulama yang tidak membolehkan

Ulama yang tidak membolehkan pemanfaatan barang yang digadaikan ini pada dasarnya beralasan bahwa mengambil manfaat terhadap barang jaminan, adalah sama dengan mengambil manfaat terhadap utang. Dan ini masuk lingkup bahasan yang kedua sebagaimana di atas. Jadi, letak illatnya adalah pada keberadaan syarat pemanfaatan. Jika disyaratkan saat akad, maka hukumnya tidak boleh, dan bila tidak ada syarat sebelumnya serta diduga ada izin sebelumnya dari pihak penggadai, maka hukumnya menjadi boleh. (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 258)

Inti utama kewajiban dari pemberi utang/penerima gadai adalah menjaga agar barang yang dijadikan jaminan untuk gadai tidak mengalami rusak akibat disia-siakan. Misalnya, yang digadaikan adalah berupa hewan ternak perah. Bila tidak diperah susu hewan tersebut, justru akan berakibat pada kesehatan hewan. Maka dalam hal ini, memerah susu hewan gadai hukumnya menjadi wajib bagi murtahin (penerima gadai) karena apabila dibiarkan justru bisa berakibat pada itlâf (kerusakan) serta tadlyî’u al-amwâl (menyia-nyiakan harta).

Sama posisinya dalam hal ini adalah tanah. Bilamana tanah itu adalah berupa tanah persawahan atau tanah ladang, membiarkannya tidak dikelola, justru dapat berakibat pada rusaknya struktur tanah dan bahkan bisa berubah fungsi. Yang asalnya merupakan tanah ladang, karena tidak dikelola dapat berubah menjadi tanah liar dipenuhi semak belukar.

Kondisi perubahan fungsi ini bisa dipahami sebagai itlâf atau tadlyi’u al-amwal. Hukumnya justru haram membiarkannya bahkan wajib mengelolanya sehingga tetap terjaga fungsinya. Sekali lagi kunci utamanya adalah pemanfaatan tersebut tidak disyaratkan di awal dan ada izin atau diduga pasti diizinkan oleh orang yang menggadaikan.
Bilamana tidak ada izin atau tidak ada tanda-tanda diizinkan oleh penggadai, maka tugas murtahin adalah menjaga tetapnya fungsi dan sekaligus kondisi barangnya. Di saat pihak penerima gadai melakukan perawatan atau penjagaan fungsi dari barang yang digadaikan, maka ia berhak menerima upah (ujrah) perawatan. Hal ini sama dengan bilamana barang yang digadaikan adalah berupa hewan. Merawat dan mencarikan rumput bagi hewan tersebut merupakan illat bisanya murtahin menerima upah atau keuntungan.
Apa yang barusan kita jelaskan di muka, ketentuannya juga bisa berlaku pada kendaraan. Namun, ada dua hal yang penting dan harus diperhatikan adalah bahwa:

1. Bilamana terjadi kerusakan pada barang yang digadaikan akibat dibiarkan itlaf (rusak) sebab tidak dirawat maka pihak murtahin harus memberikan ganti rugi (dlamman).

2. Demikian pula rusaknya barang gadai yang disebabkan karena pemanfaatan di luar ketentuan menjaga fungsinya agar tetap normal, maka pihak murtahin juga harus memberikan ganti rugi.

Kerusakan pada barang gadai – di luar dua ketentuan ini – sepenuhnya adalah tanggung jawab râhin (pihak penggadai). (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 259)

Menyewakan Sawah yang Digadaikan

Setiap barang adalah sah disewakan manakala barang tersebut sah untuk dijual. Semua barang yang sah dijual adalah harus berupa barang ‘milik’ atau ‘mendapatkan amanah’ untuk menjualkan dari pemilik asli barang. Sementara itu, dalam gadai, barang yang digadaikan (al-marhun) adalah masih tetap milik penggadai (râhin). Jadi, dalam hal ini tidak ada perpindahan status kepemilikan dari râhin kepada murtahin. Walhasil, barang yang digadaikan tidak sah disewakan, apalagi dijual dan ini adalah hukum asalnya.

Masalahnya kemudian adalah bahwa penerima gadai (murtahin) ‘wajib’ menjaga fungsi dari barang yang digadaikan. Dan ini kita sepakati.

Lantas, bagaimana bila murtahin tidak bisa sendiri dalam menjaga fungsi barang tersebut. Bolehkah ia menyuruh orang yang diupah? Sudah pasti dalam hal ini adalah boleh dengan besar ongkos pertanggungan upahnya (ujrah) adalah dibebankan kepada râhin (Al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islâmy wa Adillatuh, Kairo: Dâr al-Fikr, tt., Juz 5: 259).

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي

ج: ٦ ص:  ٤٢٨٧

أولاً ـ انتفاع الراهن بالرهن: هناك في انتفاع الراهن بالرهن

رأيان: رأي الجمهور غير الشافعية بعدم جواز الانتفاع. ورأي الشافعية بجوازه ما لم يضر بالمرتهن (1).وتفصيل الأقوال فيما يأتي:

1 – قال الحنفية (2): ليس للراهن أن ينتفع بالمرهون استخداماً أو ركوباً أو لبساً أو سكنى وغيرها، إلا بإذن المرتهن، كما أنه ليس للمرتهن الانتفاع بالرهن إلا بإذن الراهن، ودليلهم على الحالة الأولى: أن حق الحبس ثابت للمرتهن على سبيل الدوام، وهذا يمنع الاسترداد. فإن انتفع الراهن من غير إذن المرتهن، فشرب لبن البقرة المرهونة، أو أكل ثمر الشجر المرهون، ونحوهما، ضمن قيمة ما انتفع به؛ لأنه تعدى بفعله على حق المرتهن، وتدخل القيمة التي هي بدل الاستهلاك في حبس المرتهن للرهن، ويتعلق بها الدين.

وإذا استعاد الراهن الرهن لاستعماله بدون إذن المرتهن، فركب الدابة المرهونة، أو لبس الثوب المرهون، أو سكن الدار المرهونة أو زرع الأرض، ارتفع ضمان المرتهن للرهن، وكان غاصباً للرهن، فيرد إلى المرتهن جبراً عنه. وإذا هلك في يده هلك عليه. فإن لم يترتب على انتفاع الراهن بالرهن رفع يد المرتهن، فله الانتفاع به، كإيجار آلة يشغلها المرتهن، مثل آلة طحن ونحوه، فأجر ما تطحنه حينئذ للراهن؛ لأن نماء الرهن وزوائده للراهن (3)، وإذا أخذه المرتهن احتسب من دينه. وهذا المذهب مبني على أن الرهن يلحق الزيادة المتولدة من الرهن متصلة أو منفصلة عنه.


(1) الإفصاح: 238/ 1.
(2) البدائع: 146/ 6، الدر المختار: 342/ 5 ومابعدها.
(3) الدر المختار: 370/ 5.

Sampai di sini, bilamana perawatan fungsi sawah tersebut harus menyuruh orang lain yang diupah, dan sebagai wasilah perawatannya adalah tanah tersebut harus ditanami, maka milik siapakah hasil tanaman tersebut? Dalam hal ini, kita mengambil qiyas dengan hasil perahan susu hewan yang digadaikan. Bilamana susu tersebut dijual, maka hasil susu tersebut milik siapa? Karena hewan yang diperah adalah milik penggadai (râhin), maka susu hasil perahan tersebut adalah milik râhin, dan bisa digunakan untuk menggaji orang yang memerah dan sekaligus membayar biaya perawatan, yang pengelolaannya diserahkan kalkulasinya kepada murtahin.

Kondisi yang sama bisa berlaku pada sawah. Bilamana penjagaan fungsi sawah harus dengan jalan menanami, maka hasil tanaman sawah hakikatnya adalah milik râhin dan bisa diambil oleh murtahin untuk menggaji orang yang merawat fungsinya melalui mekanisme pemberian ujrah. Dan bila yang merawat adalah murtahin sendiri, maka murtahin bisa memungut tagihan ke rahin atau mengambil upah dari hasil perawatan dengan seizin râhin.
Wah, jika demikian berlakunya, bukankah itu sama saja dengan boleh disewakan? Sekali lagi, tugas murtahin adalah menjaga fungsi barang yang digadaikan agar tidak rusak. Meskipun, dalam menjaga fungsi tersebut memang ada mekanisme yang hampir sama dengan sewa menyewa.
Yang jelas, boleh bagi murtahin untuk mengongkosi orang guna menjaga fungsinya. Hasil perawatan adalah milik penggadai (râhin), dikelola oleh penerima gadai (murtahin). Perawatnya berhak menerima akumulasi upah (ujrah). Syarat ujrah itu harus maklum dan tidak boleh memakai taksiran berupa hasil tanaman menjadi milikmu semua. Seperti ini adalah tidak boleh.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S063. IMAM DAN MAKMUM TERHALANG KACA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya sholat di luar masjid dengan ada nya satir tapi dengan kaca bening

JAWABAN :

Waalaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokaatuh.

Orang shalat di luar masjid dengan adanya satir (tirai, penutup) dengan kaca bening itu ditafshil:

(1). Sah, jika satir yang berupa kaca bening tersebut tidak mencegah kepada makmum untuk melewati menuju imam. Misalnya masih ada pintu menuju imam (baik pintu itu dibuka ataupun ditutup, asalkan pintu itu tidak dikunci). Dan dengan syarat makmum itu mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukun shalat menuju rukun shalat lainnya (mengetahui) dengan melihat kepada imam melalui kaca yang bening itu, atau (mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukun shalat menuju rukun shalat lainnya) melalui mendengar suara muballigh.

(2). Tidak sah, jika satir yang berupa kaca bening tersebut mencegah kepada makmum untuk melewati menuju imam. Misalnya ada pintu yang dikunci (yang mana pintu itu menuju imam). Walaupun makmum itu mengetahui terhadap berpindah-pindahnya imam dari satu rukunnya shalat kepada rukun shalat lainnya (mengetahui) melalui kaca yang bening.

 (التقريرات السديدۃ في المسائل المفيدۃ,في قسم العبادات,صحيفۃ ٢٩٥)

شروط صحۃ الجماعۃ :
الثاني:ان يعلم الماموم انتقالات الامام برؤيۃ او سماع مبلغ.

 (التقريرات السديدۃ في المسائل المفيدۃ,في قسم العبادات,صحيفۃ ٢٩٩)

مسائل من شروط الجماعۃ :
١-الباب المغلق في المسجد لا يضر, وامٌَا الۡمُسَمٌَرُ فَيَضُرٌُ.

٢-اذا كان بينهما حائل يمنع المرور-كزجاج في المسجد-فيضر وان علم المأموم انتقالات امامه

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M092. KENAPA HARUS BERMADZHAB?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya taqlid (mengikuti) kepada salah satu dari imam madhab yang empat (yaitu imam Malik, imam Syafii, imam Ahmad bin Hanbal, imam Abu Hanifah)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya wajib karena kita belum mancapai tingkatan mujtahid.

KETERANGAN TENTANG WAJIBNYA BERMADZHAB (TAQLID) KEPADA SALAH SATU MADZHAB EMPAT

Dalam kitab Hidayatus Saary Ila Dirosatil Bukhori – Muqaddimah Syarah Shohih Bukhori karya Al-Muhaddits Imdadul Haq As-Silhaty Al-Bangladisyi disebutkan :

وقال الشيخ ابن الهمام فى آخر التحرير؛ ولما اندرست المذاهب الحقة إلا هذه الأربعة ، كان إتباعها إتباعا للسواد الأعظم والخروخ عنها خروجا عن السواد الأعظم ، وأيضا قال فيه لأن الناس لم يزالوا من زمان الصحابة الى أن ظهرت المذاهب الأربعة يقلدون من اتفق من العلماء من غير نكير من أحد يعتبر إنكاره ، ولو كان باطلا لا نكروه

Berkata Asy-Syaikh Ibnul Himam di akhir kitab karangannya : ketika madzhab mazhab yang haq (pada jaman dulu) telah habis dan menyisakan madzhab empat, maka mengikuti mereka (madzhab empat) ini seperti mengikuti As-Sawaadul A’dhom (golongan mayoritas yang selamat), dan keluar darinya berarti keluar dari As-Sawaadul A’dhom.
Beliau melanjutkan karena umat islam sejak zaman shahabat sampai lahirnya madzhab empat merka senantiasa TAQLID (mengikuti) kepada ulama yang telah disepakati keilmuannya dengan tanpa ingkar dari seseorang yang disebut sebut keingkarannya, walaupun perkara tersebut bathil mereka tidak mengingkarinya (karena keterbatasan ilmu mereka).

وأيضا قال فيه إعلم أن في الأخذ بهذه المذاهب الأربعة مصلحة عظيمة ، وفى الإعراض عنها كلها مفسدة كبيرة ، وقال الشيخ ابن الهمام فى فتح القادر؛ انعقد الإجماع على عدم العمل بالمذاهب المخالفة للأئمة الأربعة ، وقال ابن حجر المكى فى فتح المبين ؛ أما فى زماننا فقال أئمتنا لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة الشافعى ومالك وأبى حنيفة وأحمد بن حنبل ، وقال الطحاوى من كان خارجا عن هذه الأربعة فهو من أهل البدعة والنار

Asy-Syaikh Ibnul Himam melanjutkan : ketahuilah sesungguhnya mengikuti madzhab empat ini terdapat mashlahah (kebaikan) yang agung, dan menentangnya adalah kerusakan yang besar.

Berkata Asy-Syaikh Ibnul Himam dalam kitab Fathul Qodir : telah sah kesepakatan ulama dalam masalah TIDAK BOLEH mengikuti madzhab yang menyelisihi (berbeda) terhadap madzhabnya imam yang empat.

Berkata Asy-Syaikh Ibnu Hajar Al-Maky dalam kitab Fathil Mubin Adapun di zaman kita berkata para imam (guru) kita : TIDAK BOLEH taqlid kepada SELAIN madzhab empat , Imam Asy-Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad Bin Hambal.

Ath-Thohawi berkata : Barangsiapa yang keluar dari madzhab empat ini maka termasuk ahli bid’ah dan ahli naar.

Selama seseorang belum mencapai darajat Mujtahid baik ia orang alim atau awam tetap wajib taqlid.
Apa itu taqlid?

Muhammad Said Ramadhan al-Buthi mendifinisikan sebagai berikut.

والتقليد هو اتباع قول انسان دون معرفة الحجة على صحة ذلك القول وان توافرت معرفة الحجة على صحة التقليد نفسه. ( اللامذهبية اخطر بدعة تهدد الشريعة الاسلامية، ص: ٦٩)

Taqlid hukumnya tidak boleh bagi seorang yang berderajat mujtahid dan wajib bagi kalangan awam sebagaimana disampaikan oleh Imam al- Suyuthi.

ثم الناس مجتهد وغيره فغير المجتهد يلزمه التقليد مطلقا عاميا كان اوعالما لقوله تعالى ” فاسألوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون ( الكوكب الساطع في نظم جمع الجوامع جز الثاني ص ٤٩٣)

Sehubungan dengan ketidak bolehan taqlid seorang mujtahid kepada lainnya Imam Ahmad pernah berkata kepada Imam abu Dawud pengarang Sunan Abu Dawud

قال لي احمد لا تقلدني ولا مالكا ولا الشافعي ولا الاوزعي ولا الثوري وخذ من حيث اخذوا. ( القول المفيد للامام محمد بن علي الشوكاني ص ٦١)

Dalam redaksi ibarat menunjukkan ketidak bolehan Abu Dawud Taqlid pada orang lain kerena menurut Imam Ahmad beliau sudah mencapai darajat mujtahid beliau telah memuat hadis sebanyak lima ribu dua ratus delapan puluh empat Hadis lengkap dengan sanadnya dengan kata lain Imam Abu Dawud telah memiliki kemampuan untuk berijtihad. Selanjutnya hal yang sama juga diungkapkan oleh Syekh Waliullah al-Dahlawi ketika mengumentari pendapat Ibn Hazm:

فما ذهب اليه ابن حزم حيث قال التقليد حرام…… الى ان … انما يتم في من له ضرب من الاجتهاد ولو في مساءلة واحدة). ( حجة الله البالغة جز الاول .ص. ٤٤٣- ٤٤٤)

Artinya :

pedapat Ibn Hazm yang mengatakan bahwa taqlid itu haram………. Berlaku bagi orang yang mempunyai kemampuan Ijtihad Walau hanya satu masalah (Hujjatullah al-Balighah, juz 1, hal 443-444).

ﻛﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﻭﻳﺠﺐ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﻣﻦ ﻗﻠﺪ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﻋﻬﺪﺓ ﺍﻟﺘﻜﻠﻴﻒ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻘﻠﺪ ﺃﺭﺟﺤﻴﺔ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﺃﻭ ﻣﺴﺎﻭﺍﺗﻪ ﻭﻻﻳﺠﻮﺯ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﻓﻰ ﺇﻓﺘﺎﺀ ﺃﻭ ﻗﻀﺎﺀ . ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻭﻻﻳﺠﻮﺯ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺑﺎﻟﻀﻌﻴﻒ ﺑﺎﻟﻤﺬﻫﺐ ﻭﻳﻤﺘﻨﻊ ﺍﻟﺘﻠﻔﻴﻖ ﻓﻰ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﻛﺄﻥ ﻗﻠﺪ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﻓﻰ ﻃﻬﺎﺭﺓ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﻓﻰ ﻣﺴﺢ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺮﺃﺱ ـ ﺍﻫـ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ ١ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ١٧

“Setiap imam yang empat itu berjalan di jalan yang benar maka wajiblah bagi umat islam untuk bertaqlid kepada salah satu diantara yang empat tadi sebab orang yang sudah bertaqlid kepada salah satu imam yang empat tersebut maka ia telah terlepas dari tanggungan dalam keagamaan dan orang yang bertaqlid haruslah yakin bahwa madzhab yang ia ikuti itu benar dan sama benarnya dengan yang lain serta tidak boleh bertaqlid kepada madzhab lain selain madzhab yang ia ikuti, seperti apa yang dikatakan oleh ibnu hajar alhaitami: tidak boleh seseorang yang menganut suatu madzhab berbuat talfiq (mencampur adukkan madzhab untuk mencari yang ringan-ringan) misalnya mengikuti imam malik yang mensucikan anjing dan juga mengikuti imam syafi’ie dalam membasuh sebagian kepala dalam berwudu”. I’anatut Tholibin I/17.

ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻘﻠﺪ ﻭﺍﺣﺪﺍ ﻣﻨﻬﻢ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﻧﺎ ﺍﻋﻤﻞ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺪﻋﻴﺎ ﻓﻬﻢ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻣﻨﻬﻤﺎ ﻓﻼ ﻳﺴﻠﻢ ﻟﻪ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﺨﻄﺊ ﺿﺎﻝ ﻣﻀﻞ ﺳﻴﻤﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﺍﻟﺬﻯ ﻋﻢ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻔﺴﻖ ﻭﻛﺜﺮﺕ ﺍﻟﺪﻋﻮﻯ ﺍﻟﺒﺎﻃﻠﺔ ﻷﻧﻪ ﺍﺳﺘﻈﻬﺮ ﻋﻠﻰ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻫﻮ ﺩﻭﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﻭﺍﻟﻌﺪﺍﻟﺔ ﻭﺍﻻﻃﻼﻉ

“Dan barangsiapa yang tidak mengikuti salah satu dari mereka (Imam madzhab) dan berkata “saya beramal berdasarkan alQuran dan hadits”, dan mengaku telah memahami hukum-hukum alquran dan hadits maka orang tersebut tidak dapat diterima, bahkan termasuk orang yang bersalah, sesat dan menyesatkan terutama pada masa sekarang ini dimana kefasikan merajalela dan banyak tersebar dakwah-dakwah yang salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, keadilan dan analisa”. Tanwiir Al-Quluub 74-75

Ketetapan wajib bertaqlid bagi orang yang belum sampai derajat mujtahid adalah berdasar:

1. Dalil Al-Qur’an Q.S. an-Nahl: 43:

فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kalian semua kepada orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui.”

Dan sudah menjadi ijma’ ulama bahwa ayat tersebut memerintahkan bagi orang yang tidak mengetahui hukum dan dalilnya untuk ittiba’ (mengikuti) orang yang tahu. Dan mayoritas ulama ushul fiqh berpendapat bahwa ayat tersebut adalah dalil pokok pertama tentang kewajiban orang awam (orang yang belum mempunyai kapasitas istinbath [menggali hukum]) untuk mengikuti orang alim yang mujtahid.

senada dengan ayat diatas didalam Qur`an surat At-Taubah ayat 122;

فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.( 122)

2. Ijma’

Maksudnya, sudah menjadi kesepakatan dan tanpa ada khilaf, bahwa shahabat-shahabat Rasulallah berbeda-beda taraf tingkatan keilmuannya, dan tidak semua adalah ahli fatwa (mujtahid) seperti yang disampaikan Ibnu Khaldun. Dan sudah nyata bahwa agama diambil dari semua sahabat, tapi mereka ada yang memiliki kapasitas ijtihad dan itu relatif sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah semua sahabat. Di antaranya juga ada mustafti atau muqallid (sahabat yang tidak mempunyai kapasitas ijtihad atau istinbath) dan shahabat golongan ini jumlahnya sangat banyak.

Setiap shahabat yang ahli ijtihad seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Ustman, Ali, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar dan lain-lain saat memberi fatwa pasti menyampaikan dalil fatwanya.

3. Dalil akal

Orang yang bukan ahli ijtihad apabila menemui suatu masalah fiqhiyyah, pilihannya hanya ada dua, yaitu: antara berfikir dan berijtihad sendiri sembari mencari dalil yang dapat menjawabnya atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid.

Jika memilih yang awal, maka itu sangat tidak mungkin karena dia harus menggunakan semua waktunya untuk mencari, berfikir dan berijtihad dengan dalil yang ada untuk menjawab masalahnya dan mempelajari perangkat-perangkat ijtihad yang akan memakan waktu lama sehingga pekerjaan dan profesi ma’isyah pastinya akan terbengkalai. Klimaksnya dunia ini rusak. Maka tidak salah kalau Dr. al-Buthi memberi judul salah satu kitabnya dengan “Tidak bermadzhab adalah bid’ah yang paling berbahaya yang dapat menghancurkan agama”.

Dan pilihan terakhirlah yang harus ditempuh, yaitu taqlid. (Allamadzhabiyah hlm. 70-73, Takhrij Ahadits al-Luma’ hlm. 348. )

Kesimpulannya dalam hal taqlid ini adalah:

1. Wajib bagi orang yang tidak mampu ber-istinbath dari Al-Qur’an dan Hadits.

2. Haram bagi orang yang mampu dan syaratnya tentu sangat ketat, sehingga mulai sekitar tahun 300 hijriah sudah tidak ada ulama yang memenuhi kriteria atau syarat mujtahid. Mereka adalah Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri dan lain-lain.

Lalu menjawab perkataan empat imam madzhab yang melarang orang lain bertaqlid kepada mereka adalah sebagaimana yang diterangkan ulama-ulama, bahwa larangan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang mampu berijtihad dari Al-Qur’an dan Hadits, dan bukan bagi yang tidak mampu, karena bagi mereka wajib bertaqlid agar tidak tersesat dalam menjalankan agama. (Al-Mizan al-Kubra 1/62. )

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 280 : KEUTAMAAN SURAH AL HAJJ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 280 :

وعن خَالِد بن مَعْدَان رضي الله عَنْه قال: (فُضِّلَتْ سُوْرَةُ الْحَجِّ بِسَجْدَتَيْنِ) رواه أبو داود في المرَاسِيْل.
ورواه أحمد والتُّرمذي موصُولاً من حديث عُقبَة بن عَامِر، وزاد: “فَمَنْ لَمْ يَسْجُدْهُمَا فَلَا يَقْرَأْهَا” وسندُه ضعيفٌ

Dari Khalid ibn Ma’dan (r.a), beliau berkata: “Surah al-Hajj mempunyai keistimewaan karena di dalamnya memuatkan dua kali sujud tilawah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab al-Marasil)
Imam Ahmad dan al-Tirmizi meriwayatkan hadis ini secara mawsul dari ‘Uqbah ibn ‘Amir (r.a) yang di dalamnya ditambahkan: “Barang siapa yang tidak mau melakukan sujud pada keduanya, maka dia tidak perlu membacanya.” (Sanad hadis ini dha’if)

MAKNA HADITS :

Sebagian surah al-Qur’an mempunyai keistimewaan khusus yang membuatnya menjadi lebih afdhal dibanding yang lain, antara lain ialah Surah al-Hajj. Didalam Surah al-Hajj terdapat dua ayat sajdah; pertama, pada permulaan surah dan ini telah disepakati oleh ulama; kedua, di akhir surah tetapi ini masih dipersilisihkan oleh ulama, sebagaimana yang telah diterangkan sebelum ini.

Bahkan, syariat telah mengukuhkan bahwa disyariatkan melakukan sujud pada kedua ayat dalam Surah al-Hajj tersebut hingga mengatakan: “Barang
siapa yang tidak mau sujud, maka tidak perlu membaca kedua ayat tersebut.”

FIQH HADITS :

1. Keutamaan Surah Al-Hajj karena di dalamnya terdapat dua ayat sajadah.

2. Mengukuhkan bahwa disyariatkan melakukan sujud dalam dua ayat Surah al-Hajj.

3. Tidak perlu membaca dua ayat sajadah al-Hajj bagi orang yang tidak mau melakukan sujud tilawah pada keduanya.

4. Adanya ketetapan bahwa sebagian al-Qur’an mempunyai keutamaan ke atas sebagian yang lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 278-279 : ADANYA SUJUD DALAM SURAH MUFASSHAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 278 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَجَدَ بِالنَّجْمِ رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sujud sewaktu membaca surat Al-Najm Riwayat Bukhari

HADITS KE 279 :

وَعَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه قَالَ : ( قَرَأْتُ عَلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَلنَّجْمَ فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Zaid Ibnu Tsabit Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah membaca surat Al-Najm di hadapan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam namun beliau tidak sujud waktu itu Muttafaq Alaihi

MAKNA HADITS :

Disyariatkan melakukan sujud tilawah dalam surah mufassal adalah berlandaskan pendapat jumhur ulama, lain halnya dengan Imam Malik yang mengemukakan
pendapat yang berbeda dalam masalah ini. Sehubungan dengan itu, Imam Malik berkata:
“Tidak ada sujud di dalam surah mufassal.” Beliau berlandaskan pendapatnya dengan berdalil kepada amal perbuatan masyarakat Madinah antara lain Zaid ibn Tsabit (r.a) sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam hadisnya.

Sedangkan jumhur ulama berpegang dengan perkataan Ibn Abbas (r.a) karena perkataannya itu bersifat mengukuhkan dan oleh karenanya, ia mesti diutamakan ke atas yang menafikannya.

Ada pula kemungkinan Nabi (s.a.w) adakalanya melakukan sujud pada suatu waktu tertentu dan meninggalkannya pada suatu waktu yang lain yang tujuannya
untuk menjelaskan bahwa perkara itu adalah sunat sekaligus menolak sangkaan yang mengatakan itu adalah fardu. Adakalanya pula karena ada halangan yang datang secara mengejut hingga baginda tidak dapat melakukan sujud sebagaimana baginda berada dalam keadaan tidak berwudu’.

FIQH HADITS :

Adanya ketetapan melakukan sujud dalam surah mufasshal. Inilah tuntutan yang terdapat di dalam hadis Ibn Abbas (r.a) yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama.

Tidak ada sujud dalam surah mufasshal sebagaimana tuntutan yang terdapat di dalam hadis Zaid ibn Tsabit (r.a). Ini dijadikan pegangan oleh Imam Malik.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 277 : SUJUD TILAWAH DALAM SURAT SODL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 277 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( ( ص ) لَيْسَتْ مِنْ عَزَائِمِ اَلسُّجُودِ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْجُدُ فِيهَا ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Surat Shod bukanlah termasuk surat yang disunatkan sujud tapi aku pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sujud ketika membacanya Riwayat Bukhari

MAKNA HADITS :

Sebagian di antara sujud tilawah memiliki hukum sunat yang lebih dikukuhkan ke atas sebagian yang lain. Setiap ayat yang di dalamnya disebutkan perintah sujud atau anjuran untuk sujud, maka hukumnya lebih kuat daripada yang lain. Inilah yang dinamakan ‘aza’im al-sujud. Manakala ayat-ayat yang di dalamnya tidak terdapat perintah sujud dan tidak pula wujud anjuran melakukannya sebagaimana ayat sujud dalam Surah Shad, maka itu sekadar memberitakan tentang sujud taubat Nabi Dawud dan kita hendaklah turut melaksanakan sujud sebagai tanda syukur.

FIQH HADITS :

Melakukan sujud dalam Surah Shad tidak termasuk sujud muakkad menurut Imam al-Syafi’i rahimahullah. Sedangkan menurut jumhur ulama, ayat ini termasuk kedalam sujud tilawah yang dikukuhkan oleh Nabi (s.a.w), sebagaimana yang telah diberitakan oleh orang yang pernah melihat baginda berbuat demikian.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 276 : SUJUD TILAWAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 276 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( سَجَدْنَا مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي : ( إِذَا اَلسَّمَاءُ اِنْشَقَّتْ ) و : ( اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ ) ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Kami sujud bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sewaktu membawa (idzas samaaun syaqqot) dan (iqra’ bismi rabbikalladzii kholaq) Diriwayatkan oleh Muslim

MAKNA HADITS :

Dari hadis ini hukum yang berkaitan dengab sujud tilawah mulai diperbincangkan. Hadis ini
dimasukkan kedalam pembahasan bab sujud sahwi ini kerana pada bahagian judul turut disebutkan sujud sahwi dan lain-lain.

Sujud tilawah (bacaan al-Qur’an) disyariatkan bagi orang yang membaca dan yang mendengarkannya. Hukumnya sunat menurut pendapat jumhur ulama sedangkan menurut mazhab Hanafi wajib, tetapi bukan fardu. Untuk melakukan sujud tilawah disyaratkan sebagaimana syarat ketika hendak mengerjakan solat, yaitu dilakukan dalam keadaan suci dan menutup aurat. Inilah pendapat jumhur ulama. Pendapat janggal selain itu tidak perlu diambil. Masalah sujud ini dalam surah mufassal yang memuatkan anjuran sujud masih diperselisihkan perinciannya dan kami akan segera menyebutnya dalam pembahasan berikut.

FIQH HADITS :

Adanya ketetapan melakukan sujud tilawah dalam surah mufassal bagi orang yang membaca dan yang mendengarkannya di luar ataupun di dalam solat sujud tilawah ini menurut jumhur ulama hukumnya sunat, sedangkan menurut Imam
Abu Hanifah wajib. Sujud ini menurut jumhur ulama sunat hukumnya bagi orang yang membaca dan yang mendengarkannya. Dengan arti kata lain, apabila pembaca sujud, maka pendengar pula dikehendaki turut melakukan sujud bersamanya. Jika pembaca tidak sujud, maka pendengar pun tidak perlu
melakukan sujud tilawah.

Imam Ahmad mengatakan bahwa tempat untuk sujud tilawah ada lima belas ayat seperti berikut ini:

1. Dalam Surah al-A’raf ayat 206.
2. Dalam Surah al-Ra’d ayat 15.
3. Dalam Surah al-Nahl ayat 49 dan ayat berikutnya.
4. Dalam Surah al-Isra’ ayat 107 hingga ayat 109.
5. Dalam Surah Maryam ayat 58.
6. Dalam Surah al-Hajj ayat 18:
7. Dalam Surah al-Hajj ayat 77.
8. Dalam Surah al-Furqan ayat 60.
9. Dalam Surah al-Naml ayat 25-26.
10. Dalam Kesepuluh, dalam Surah al-Sajdah ayat 15.
11. Dalam Surah Shad ayat 24.
12. Dalam Surah Fussilat ayat 37.
13. Dalam Surah al-Najm ayat 62.
14. Dalam Surah al-Insyiqaq ayat 21.
15. Dalam Surah al-‘Alaq ayat 19.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa tempat-tempat untuk melakukan sujud tilawah ada empat belas. Mereka menggugurkan ayat yang kedua dari Surah al-Hajj ayat 77. Sehubungan dengan ayat tersebut mereka mengatakan bahwa
ayat itu ‘azimah, yakni mengandung makna solat, bukan sujud sunat.

Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa jumlah ayat sujud tilawah ada empat belas, yaitu dengan menggugurkan sujud dalam Surah Shad. Beliau mengatakan bahwa ayat ini mengandung maksud sujud syukur, bukan sujud tilawah.

Imam Malik mengatakan, tempat-tempat untuk sujud tilawah ada sebelas, tiada satu ayat pun dari surah mufasshal yang mengandung makna sujud tilawah, sedangkan ayat yang kedua dari Surah al-Hajj ayat 77 telah digugurkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T038. HUKUM MENULIS AL-QUR’AN BAGI WANITA HAID DAN ORANG JUNUB

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum menulis Al Qur’an bagi wanita haid dan orang junub, misalnya untuk menulis jawaban ketika ujian?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh asalkan tidak menyentuhnya.

Referensi :

Asnal Matholib Juz 1 Hlm. 61

اسنى المطالب ج ١ ص ٦١
(وَلَا) يَحْرُمُ (كَتْبُهُ) أَيْ الْقُرْآنَ (بِلَا مَسٍّ وَ) حَمْلٍ لَا (قَلْبِ وَرَقِهِ بِعُودِ) لِأَنَّهُ لَيْسَ بِحَمْلٍ وَلَا مَسٍّ

Boleh menulis al qur’an selagi tdk menyentuh atau memegang tulisanya(al maktub).

شرح البهجة الوردية الجزء 1 صحـ : 146 مكتبة المطبعة الميمنية:
وَلَا يَمْنَعُ الْحَدَثُ كَتْبَ الْقُرْآنِ إذَا خَلَا الْمَكْتُوبُ عَنْ مَسٍّ وَحَمْلٍ اهـ

Menulis al qur’an dlm keadaan punya hadats (muhdits) atau junub d bolehkan jika saat menulisya tidak menyentuh dan memegang tulisanya(al maktub).

Menulis pada waktu hadas atau junub ada 3 pendapat:

– Jika pada waktu menulis mushaf memegang dan menyentuh tulisan maka d haramkan menulisya, tp jika tdk menyentuh dan memegang tulisan maka menurut qoul shohih hukumya boleh menulisya.

– Menurut qoul masyhur hukumya haram secara mutlaq.

– Menurut imam mawardi, hukumya haram bagi org yang junub dan boleh bagi orang yang punya hadats (muhdits).

Menyentuh tulisanya tidak di haramkan jika niatya tidak krn al qur’an, tp jika menyentuhya krena niat al qur’an maka d haramkan.

al majmu’ syarah muhadzab 2/70

hasyiyah jamal 3/19

Referensi :

التبيان للنواوي ص 181
إذا كتب المحدث أو الجنب مصحفا إذا كان يحمل الورقة أو يمسها حال الكتابة فهو حرام, وان لم يحملها ولم يمسها, ففيه ثلاثة أوجوه: الصحيح جوازه, والثاني تحريمه, والثالث يجوز للمحدث ويحرم على الجنب.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 275 : BOLEHKAH SUJUD SAHWI BERULANG-ULANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH DAN SUJUD SYUKUR

HADITS KE 275 :

وَعَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( لِكُلِّ سَهْوٍ سَجْدَتَانِ بَعْدَمَا يُسَلِّمُ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَهْ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ

Dari Tsauban dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: Setiap kali lupa itu diganti dengan dua sujud setelah salam Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad lemah

MAKNA HADITS :

Melihat tujuan utama dibalik syariat sujud sahwi ini adalah untuk membuat syaitan merasa kesal dan menzahirkan ketaatan seorang hamba kepada Allah Yang Maha Pemurah, maka cukuplah dua kali sujud dilakukan untuk menutupi semua jenis kealpaan itu. Sujud sahwi tidak berulang2, meskipun hal-hal yang menyebabkan untuk melakukan sujud sahwi itu bilang, sebab Nabi (s.a.w) pernah salam dan berbicara serta berjalan karena lupa, tetapi baginda tidak sujud kecuali hanya dua kali saja, sebagaimana apa yang telah disebutkan dalam hadis Dzu al-Yadain. Inilah pendapat jumhur ulama, sebab mereka berlandaskan kepada amalan Nabi (s.a.w) dalam hadis tersebut. Adapun hadis Tsauban ini, maka ia tidak boleh dijadikan alasan untuk menyangkal pendapat jumhur ulama melihat kedudukan hadis ini yang dha’if.

FIQH HADITS :

Makna zahir hadis ini menunjukkan bahwa sujud sahwi dilakukan secara berulang kali dengan adanya kealpaan yang dilakukan secara berulang dalam solat, karena satu kealpaan dengan yang lain tidak dapat dimasukkan kepada yang lain menjadi satu. Sedangkan menurut jumhur ulama, sujud sahwi tidak dilakukan secara berulang meskipun kealpaan itu berulang, melainkan satu sama lain dapat digabungkan menjadi satu kali sujud sahwi meskipun kealpaan itu lebih daripada satu kali, apalagi jika kealpaan itu hanya satu kali.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..