logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 304-305 : JUMLAH RAKAAT SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 304 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( مَا كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً, يُصَلِّي أَرْبَعًا, فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ, ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا, فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ, ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا. قَالَتْ عَائِشَةُ, فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ? قَالَ: “يَا عَائِشَةُ, إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي”) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَفِي رِوَايَةٍ لَهُمَا عَنْهَا: ( كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ عَشْرَ رَكَعَاتٍ, وَيُوتِرُ بِسَجْدَةٍ, وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ, فَتِلْكَ ثَلَاثُ عَشْرَةَ )

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah menambah dalam sholat malam Ramadhan atau lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau sholat empat rakaat dan jangan tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian beliau sholat empat rakaat dan jangan tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian beliau sholat tiga rakaat. ‘Aisyah berkata: Saya bertanya, wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum sholat witir? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur namun hatiku tidak.” Muttafaq Alaihi.

Dalam suatu riwayat Bukhari-Muslim yang lain: Beliau sholat malam sepuluh rakaat, sholat witir satu rakaat, dan sholat fajar dua rakaat. Jadi semuanya tiga belas rakaat.

HADITS KE 305 :

وَعَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً, يُوتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ, لَا يَجْلِسُ فِي شَيْءٍ إِلَّا فِي آخِرِهَا)

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat malam tiga belas rakaat, lima rakaat di antaranya sholat witir, beliau tidak pernah duduk kecuali pada rakaat terakhir.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana sholat sunat pada waktu malam hari adalah sunat, maka adakalanya Nabi (s.a.w) sengaja menambah jumlah rakaatnya dan adakalanya pula mengurangi bilangan rakaatnya.

Tujuannya ialah untuk membuktikan ia adalah sunat dan ia boleh dengan cara seperti itu disamping menjaga keadaan supaya tetap bersemangat dan adakalanya pula baginda melakukan ketika sedang musafir.

Dengan demikian, dapatlah diketahui bahwa tidak ada kecelaruan dalam hadis Aisyah (r.a), sebaliknya apa yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) ketika mengerjakan sholat tahajjud memang berbeda-beda. Adakalanya Aisyah (r.a) menceritakan bahwa baginda mengerjakan sholat sunat sebelas rakaat, adakalanya menceritakan tiga belas rakaat, dan adakalanya pula menceritakan lima belas rakaat.

Oleh karena sebagian besar kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) adalah yang pertama, yaitu sebelas rakaat, maka Aisyah (r.a) mengatakan: “Dan tidak pula pada lainnya (selain Ramadhan).” Ini berdasarkan kebiasaan, bukannya sebagai ikatan. Pembahasan mengenai masalah ini cukup luas.

Antara keistimewaan yang dimiliki oleh Rasulullah (s.a.w) ialah tidur baginda tidak membatalkan wuduk karena hati baginda tetap dalam keadaan sadar dan selalu hadir bersama Allah, yakni senantiasa ingat kepada-Nya.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan jumlah bilangan rakaat sholat sunat pada waktu malam hari.

2. Menjelaskan jumlah bilangan rakaat solat witir.

3. Makruh tidur sebelum mengerjakan sholat witir.

4. Hati yang tidur membatalkan wuduk. Inilah pendapat Imam Malik dan berkata: “Tidur yang dilakukan oleh seseorang hingga tidak merasa lagi apa yang terjadi di hadapannya membatalkan wuduk. Rujuk pembahasan masalah
ini pada pembahasan sebelumnya.

5. Disyariatkan melakukan dua rakaat sunat fajar (qabliyyah Subuh).

6. Antara keistimewaan yang dimiliki oleh para nabi ialah mata mereka tidur, tetapi hati mereka tidak tidur, tetap sadar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 303 : SHALAT WITIR ADALAH SUNNAH MUAKKAD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 303 :

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ , عَنْ أَبِيهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْوِتْرُ حَقٌّ, فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَد لَيِّنٍ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

وَلَهُ شَاهِدٌ ضَعِيفٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ

Dari Abdullah Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Witir adalah hak, maka barangsiapa tidak sholat witir ia bukanlah termasuk golongan kami.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang lemah. Shahih menurut Hakim.

Hadits tersebut mempunyai saksi yang lemah dari Abu Hurairah menurut riwayat Ahmad.

MAKNA HADITS :

Lafaz “حق” menurut bahasa bermaksud wajib dan sunat mu‟akkad. Ulama yang
mengartikannya wajib antara lain Imam Abu Hanifah, berarti beliau cenderung mentafsirkannya sebagai wajib sebagaimana dalam firman Allah:

حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ (١٨٠)

“… (Ini adalah) kewajiban atas orang yang bertakwa.” (Surah al-Baqarah: 180)

Ulama yang mengatakan sholat witir itu sunat mu’akkad, berarti dia mentafsirkannya sunat yang dikukuhkan dengan menggabungkan antara hadis ini dengan hadis lain yang menunjukkan makna tidak wajib. Ini merupakan pendapat jumhur ulama sebagaimana di dalam firman Allah:

حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ (٢٣٨)

“Yang demikian itu merupakan ketetapan bagi orang yang berbuat kebajikan.” (Al-
Baqarah: 236)

FIQH HADITS :

Shalat witir adalah sunah muakkad berdasarkan pemahaman yang menggabungkan diantara hadis yang menunjukkan bahwa ia tidak wajib.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 302 : WAKTU SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 302 :

وَعَنْ خَارِجَةَ بْنِ حُذَافَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ اللَّهَ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ ” قُلْنَا : وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ? قَالَ : ” اَلْوِتْرُ , مَا بَيْنَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ ) رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

وَرَوَى أَحْمَدُ : عَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ نَحْوَهُ

Dari Kharijah Ibnu Hudzafah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membantu kamu dengan sholat yang lebih baik bagimu daripada unta merah?” Kami bertanya: Sholat apa itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Witir antara sholat Isya’ hingga terbitnya fajar.” Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i. Hadits Shahih menurut Hakim.

Ahmad juga meriwayatkan hadits serupa dari Amr Ibnu Syuaib dari ayahnya dari kakeknya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan sholat witir dan dianjurkan mengerjakannya.

2. Sholat witir bukan wajib. Seandainya wajib, maka bukan hanya dianjurkan untuk mengerjakannya, melainkan sudah dipastikan dengan bentuk perintah yang tegas, yaitu ”ٌْفرض عليكم“ atau ”ٌْاوجب عليكم“ karena itu tentu tidak dapat ditawar-tawar lagi.

3. Waktu sholat witir dimulai setelah selesai mengerjakan sholat Isyak hingga fajar terbit.

4. Membuat perumpamaan dengan gambaran harta yang paling berharga untuk mudah difaham.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 301 : HUKUM SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 301 :

وَعَنْ جَابِرٍ ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَامَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ, ثُمَّ اِنْتَظَرُوهُ مِنْ الْقَابِلَةِ فَلَمَّا يَخْرُجْ , وَقَالَ : ” إِنِّي خَشِيتُ أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْكُمْ الْوِتْرُ ) رَوَاهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat malam pada bulan Ramadhan. Kemudian orang-orang menunggu beliau pada hari berikutnya namun beliau tidak muncul. Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya aku khawatir sholat witir ini diwajibkan atas kamu.” Riwayat Ibnu Hibban.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) adalah seorang penyuluh yang amat menyayangi umatnya. Baginda meninggalkan beberapa perkara sunat karena kawatir jika dilakukan secara terus menerus dianggap menjadi fardu ke atas umatnya dan ini tentu menyukarkan mereka.

Wahyu turun kepada Rasulullah (s.a.w) setiap pagi dan petang. Baginda kadangkala meninggalkan suatu amalan; padahal jika itu dikerjakan tentu ia lebih
baik. Baginda berbuat demikian karena kasihan kepada umatnya. Nabi (s.a.w) tidak mau keluar menemui para sahabat untuk melakukan sholat tarawih bersama mereka pada malam kedua dan malam ketiga, sekalipun baginda tahu mereka telah berhimpun menunggu kedatangannya. Ini baginda lakukan karena kawatir jika sholat ini akan diwajibkan ke atas mereka, sebagaimana yang kita ketahui berdasarkan alasan yang baginda kemukakan dan baginda menjelaskan kepada mereka bahwa sholat witir itu tidak wajib.

FIQH HADITS :

1. Boleh mengerjakan sholat sunat di dalam masjid secara berjamaah, tetapi apa yang lebih afdhal ialah mengerjakannya secara sendirian di dalam rumah, kecuali apabila dilakukan secara berjamaah maka boleh untuk menyemarakkan lagi syi’ar Islam seperti sholat kedua gerhana, sholat tarawih dan lain-lain.

2. Boleh bermakmum kepada orang yang tidak berniat menjadi imam. Ini pendapat jumhur ulama.

3. Jika kemaslahatan berbenturan dan dikawatiri muncul kemudharatan, maka apa yang mesti dilakukan adalah menutup segala kemungkinan yang bakal mengakibatkan kepada kerusakan itu. Nabi (s.a.w) melihat bahwa mengerjakan sholat sunat di dalam masjid secara berjamaah mimang ada maslahatnya karena ia sekaligus menjelaskan yang perbuatan itu dibolehkan. Akan tetapi, ketika baginda merasa kawatir kalau itu bakal dianggap fardu ke atas mereka, maka baginda meninggalkan perbuatan itu karena kawatir akan
menimbulkan mudharat yang lebih besar, yaitu apabila mereka tidak mampu mengerjakannya ketika perbuatan difardukan. Apapun, perasaan kawatir seperti ini tidak lagi wujud setelah baginda wafat. Oleh karenanya, ia boleh dikerjakan di dalam masjid secara berjamaah.

4. Jika pemimpin suatu kaum mengerjakan sesuatu yang sukar difahami oleh pengikutnya karena adanya uzur yang datang secara tiba-tiba, maka hendaklah dia menjelaskan puncaknya kepada mereka untuk menghibur hati mereka sekaligus menghilangkan prasangka buruk akibat godaan syaitan yang dikawatiri telah merasuk ke dalam jiwa mereka.

5. Rasulullah (s.a.w) amat menyayangi umatnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 299-300 : JUMLAH RAKAAT SHALAT WITIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 299 :

وَعَنْ أَبِي أَيُّوبَ اَلْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( اَلْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ , مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ , وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ , وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ ) رَوَاهُ اَلْأَرْبَعَةُ إِلَّا اَلتِّرْمِذِيَّ , وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ , وَرَجَّحَ النَّسَائِيُّ وَقْفَهُ

Dari Ayyub al-Anshory bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Witir itu hak bagi setiap muslim. Barangsiapa senang sholat witir lima rakaat hendaknya ia kerjakan, barangsiapa senang sholat witir tiga rakaat hendaknya ia kerjakan, barangsiapa senang sholat witir satu rakaat hendaknya ia kerjakan.” Riwayat Imam Empat kecuali Tirmidzi. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan mauquf menurut Nasa’i.

HADITS KE 300 :

وَعَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه قَالَ : ( لَيْسَ اَلْوِتْرُ بِحَتْمٍ كَهَيْئَةِ اَلْمَكْتُوبَةِ , وَلَكِنْ سُنَّةٌ سَنَّهَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

Ali Ibnu Abu Thalib Radliyallaahu ‘anhu berkata: Witir itu tidaklah wajib sebagaimana sholat fardlu, tapi ia hanyalah sunat yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Hadits diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa’i dan Hakim. Hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Sholat witir adalah sholat sunat muakkad menurut pendapat jumhur ulama dan bukannya sholat wajib berdasarkan keterangan yang disebut dalam hadis ini karena dalam masalah ini tidak ada lagi ruang bagi akal manusia. Selain itu, ia turut dikuatkan oleh hadis orang Arab badwi ketika bertanya: “Apakah masih ada perkara lain yang diwajibkan ke atas diriku?” Nabi (s.a.w) menjawab: “Tidak ada, kecuali jika kamu hendak mengerjakan sholat sunat).”

Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah dimana beliau mengatakan bahwa sholat witir itu hukumnya wajib. Ini tidak lain karena menurutnya sesuatu yang wajib dapat ditetapkan hanya dengan adanya dalil yang bersifat zhanni. Beliau mendukung pendapatnya dengan hadis Abu Ayyub (r.a) yang di dalamnya disebutkan bahwa sholat witir wajib ke atas setiap muslim.

Jumhur ulama menyanggah pendapatnya dengan menegaskan bahwa maksud lafaz al-haq tidak menunjukkan makna wajib. Wajib itu adakalanya bermaksud
pengukuhan sebagaimana dalam hadis mengenai perintah mandi pada hari Jumaat:

غسل الجمعة واجب على كل محتلم

“Mandi pada hari Jum’at disunatkan secara muakkad bagi setiap orang yang telah baligh.”

Selain itu, maksud takhyir (pilihan) yang terdapat dalam hadis menerusi sabdanya “من احب” (barang siapa yang ingin) menunjukkan witir bukan sesuatu yang diwajibkan, karena tidak ada pilihan bagi sesuatu yang wajib.

Sholat witir boleh pula dilakukan di atas kendaraan, sebagaimana dibolehkan pula melebihkan
dan mengurangkan jumlah bilangan rakaatnya. Ini merupakan satu bukti yang sholat witir adalah sunat.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mengerjakan sholat witir. Jumhur ulama mengatakan bahwa sholat witir itu sunat muakkad, karena adanya pilihan dalam bilangan rakaatnya yang menunjukkan bahwa ia tidak wajib. Lain halnya dengan Imam Abu Hanifah dimana beliau berpendapat bahwa sholat witir itu wajib.

2. Menjelaskan bilangan rakaat sholat witir. Ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Untuk itu, Imam Malik mengatakan bahwa witir hanya dilakukan satu rakaat. Imam Abu Hanifah mengatakan witir hanya dilakukan tiga rakaat, sedangkan Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa witir boleh dilakukan satu rakaat, tiga rakaat, hingga sampai sebelas rakaat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 298 : SHALAT SUNNAH YANG PALING AFDHAL

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 298 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat yang paling utama setelah sholat fadlu ialah sholat malam.” Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Malam hari diselimuti oleh keheningan dan ketenangan. Ketika itu orang sedang lelap tidur dan pada waktu itu pula merupakan saat yang paling menunjang untuk berkomunikasi secara langsung dengan Allah. Orang pilihan pastinya bangun dari tidur dengan penuh ikhlas untuk menunaikan ibadah dan bermunajat kepada Allah. Ketika itu, rahmat-Nya turun pada waktu sepertiga terakhir malam hari. Oleh itu, sholat sunat malam dikatakan lebih afdhal pahalanya
setelah sholat lima waktu yang fardu.

FIQH HADITS :

Sholat sunat pada waktu malam hari adalah sholat sunat yang paling afdhal, tetapi tidak ada sholat sunat manapun yang lebih afdhal daripada sholat fardu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 297 : ANJURAN SHALAT MALAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 297 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى , فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحِ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً , تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلْخَمْسَةِ – وَصَحَّحَهُ اِبْنِ حِبَّانَ – : ( صَلَاةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى” ) وَقَالَ النَّسَائِيُّ : “هَذَا خَطَأٌ”

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat malam itu dua-dua, maka bila seorang di antara kamu takut telah datang waktu Shubuh hendaknya ia sholat satu rakaat untuk mengganjilkan sholat yang telah ia lakukan.” Muttafaq Alaihi.

Dalam Riwayat Imam Lima yang dinilai shahih oleh Ibnu Hibban adalah lafadz: “Sholat malam dan siang itu dua dua.” Nasa’i menyatakan bahwa ini salah.

MAKNA HADITS :

Sholat tahajjud pada waktu malam hari mempunyai keutamaan yang luar biasa. Ini telah disebut dalam firman Allah (s.w.t):

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا (6)

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Surah al Muzzammil: 6).

Sholat tahajud dilakukan dua rakaat-dua rakaat, dengan perkataan lain bahwa seseorang hendaklah mengucapkan salam pada setiap dua rakaat. Ini untuk memberikan peluang baginya untuk beristirahat sesudah salam dan untuk menunaikan keperluannya apabila ada urusan penting lain yang datang secara tiba-tiba.

Waktu sholat ini panjang hingga terbit fajar. Jika seseorang merasa kawatir waktu sholat Subuh hampir tiba, maka sebaiknya dia mengerjakan sholat satu rakaat untuk mewitirkan semua rakaat genap yang telah dikerjakannya sepanjang malam. Ini merupakan satu kemudahan dalam mengerjakan ibadah. Apapun, sholat tahajud itu boleh juga dilakukan empat rakaat-empat rakaat.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengerjakan sholat sunat pada waktu malam hari.

2. Apa yang lebih afdhal ketika mengerjakan sholat sunat pada waktu malam hari adalah mengucapkan salam untuk setiap dua rakaat.

3. Menentukan dua rakaat sebelum witir.

4. Waktu witir berakhir dengan terbitnya fajar.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 295-296 : ANJURAN BERBARING KE KANAN SETELAH SHALAT SUNNAH FAJAR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB GAMBARAN SHALAT SUNNAH

HADITS KE 295 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( كَانَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا صَلَّى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ اِضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ اَلْأَيْمَنِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila selesai sholat dua rakaat fajar berbaring atas sisinya yang kanan. Riwayat Bukhari.

HADITS KE 296 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ , فَلْيَضْطَجِعْ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ , وَأَبُو دَاوُدَ , وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu selesai sholat dua rakaat sebelum sholat Shubuh, hendaknya ia berbaring atas sisinya yang kanan.” Hadits riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Berbaring sesudah mengerjakan sholat sunat qabliyyah Subuh adalah disyariatkan melalui sabda Nabi (s.a.w) dan dikuatkan lagi dengan perbuatannya. Maksudnya
adalah berbaring dalam waktu sebentar pada lambung yang sebelah kanan seraya menghadap ke arah kiblat. Tujuannya supaya seseorang itu senantiasa ingat tempat pembaringannya di dalam kubur kelak. Dengan demikian, dia berusaha dan berupaya melakukan amal sholeh sebagai bekalannya. Sedangkan Mazhab Zahiri mengemukakan pendapat yang berlainan dengan mengatakan bahwa berbaring pada lambung sebelah kanan adalah wajib berlandaskan kepada makna dzahir perintah yang terdapat di dalam hadis ini. Akan tetapi, apa yang dikatakannya itu dapat disanggah dengan kenyataan bahwa Nabi (s.a.w) adakalanya tidak berbaring pada lambung sebelah kanan setelah mengerjakan sholat sunat fajar. Bukti inilah yang memalingkan hukum wajib pada perkataan perintah yang
terdapat dalam hadis ini. Imam Malik menganggap makruh berbuat demikian apabila diniatkan sebagai sunat, tetapi beliau membolehkan apabila diniatkan sebagai istirahat. Apa yang dikatakannya ini berpegang kepada apa yang biasa dilakukan oleh masyarakat Madinah dan perbuatan yang dilakukan oleh Ibn Umar (r.a) yang menurut satu riwayat beliau sering melempari orang yang berbaring pada lambung setelah mengerjakan sholat sunat fajar dengan batu kerikil.

FIQH HADITS :

Orang yang sholat pada waktu malam hari disyariatkan berbaring pada lambung yang sebelah kanan untuk mengistirahatkan tubuh dari keletihan setelah lama berdiri ketika mengerjakan qiyamul lail supaya ketika mengerjakan sholat Subuh, tubuh menjadi segar kembali dan penuh semangat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M094. HUKUM MEMVIRALKAN BERITA BOHONG (HOAX)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..
1. Bagaimana tanggapan para mujawwib sehubungan dampak memviralkan berita bohong?

2. Lalu bagaimana pula dengan para artis yang kadang memviralkan diri dengan keadaan dirinya menampakkan aurat /berpenampilan seksi yang mengundang syahwat dan tidak mustahil para penggemarnya pun ikut memviralkan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

(1). Memviralkan (menyiarkan) berita bohong (hoax) hukumnya haram.

(اسعاد الرفيق,جز ٢,صحيفۃ ١۰٥)
(و)منها(كتابۃ ما يحرم النطق به). قال في البدايۃ لاءن القلم احد اللسانين قاحفظه عما يجب حفظ اللسان منه: اي من غيبۃ وغيرها فلا يكتب به ما يحرم النطق به من جميع ما مر وغيره,وفي الخطبۃ وكاللسان في ذلك كله:اي ما ذكر من افات اللسان القلم اذ هو احد اللسانين بلا جرم اي شك بل ضرره اعظم وادوم,فليصن الاءنسان قلمه عن كتابۃ الحيل والمخادعات ومنكرات حادثات المعاملات

(2). Para artis yang memviralkan dirinya menampakkan aurat dan berpenampilan seksi itu hukumnya haram. Dan juga para penggemarnya yang memviralkan artis itu juga berdosa, karena para penggemarnya itu melakukan

الاءِعَانَۃُ عَلَی المَعۡصِيَۃِ

“membantu terhadap perbuatan ma’shiyat. sesuai dengan haditsnya nabi Muhammad SAW :

من اعان علی معصيۃ ولو بشطر كلمۃ كان شريكا له

Barangsiapa yang membantu terhadap suatu ma’siyat, walaupun hanya dengan separuh kalimat, maka orang yang membantu ma’siyat itu bersekutu dengan orang yang mengerjakan ma’siyat.

(رواءع البيان,جز ٢,صحيفۃ ١٦٧)
ينبغي علی الرجال ان يمنعوا النساء من كل ما يُوءَدِي الی الفتنۃ والاءغراء كخروجهن بملابس ضيقۃ او ذات الوان جَذابۃٍ ورفعِ اصواتِهِنٌَ وتَعَطُرِهِنٌَ اذا خرجن للاءسواق وتَبَخۡتُرِهِنٌَ في المِشۡيَۃِ وتَكَسٌُرِهِنٌَ في الكلام,
(رواءع البيان,جز ٢,صحيفۃ ١٦٧)
وذهبَ ابنُ كثيرٍ رحمهُ اللهُ الی انٌَ المَراءۃَ منهِيٌَۃُ عنۡ كلٌِ شيءٍ يُلفِتُ النَظرَ اليهَا او يُحَرِكُ شَهۡوۃَ الرِجَالِ نحۡوَهَا,ومن ذلكَ انهَا تُنهَی عنِ التَعَطٌُرِ والتَطَيٌُبِ عندَ خروجهَا منۡ بَيًتِهَا فيَشُمٌُ الرجَالُ طِيۡبَهَا.

(الباجوري,جز ١,صحيفۃ ١٤٥)
(قوله ويجب سترها)اي العورۃ لا بقيد كونِهِ عَورۃَ الصَلاَۃِ كما هو ظَاهِرُ-الی ان قال-قوله عن الناس اي الذينَ يَحرمُ عَلَيهِمۡ النَظَرُ اِلَيهِ وَاِنۡ لَزِمَهُمۡ غَضٌُ اَبۡصَارِهِمۡ,فَلُزُوۡمُ الغَضٌِ لاَ يُجَوٌِزُ الكَشۡفَ.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

D038. KEUTAMAAN MAULID NABI MUHAMMAD صلى الله عليه وسلم

PERTANYAAN :

Assalamu alaikum Ustadz..

Mohon diterangkan keutamaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

“KEUTAMAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW”.

Di dalam kitab “An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam” halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami* _(909-974 H. / 1503-1566 M.), cetakan “Maktabah al-Haqiqat” Istambul Turki, diterangkan tentang keutamaan-keutamaan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

1. Sayyidina Abu Bakar RA. berkata:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم كان رفيقي في الجنة،

“Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga.

2. Berkata Sayyidina Umar RA.

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد أحيا الإسلام،

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

3. Berkata Sayyidina Utsman RA.:

من أنفق درهما على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم فكأنما شهد غزوة بدر وحنين،

“Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”

4. Sayyidina Ali RA. berkata:

من عظم مولد النبي صلى الله عليه وسلم وكان سببا لقراءته لا يخرج من الدنيا إلا بالإيمان ويدخل الجنة بغير حساب،

“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

5. Imam Hasan Bashri RA. berkata:

وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا فأنفقته على قراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم،

“Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati maulid Nabi SAW.”

6. Imam Junaed al-Baghdadi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:

من حضر مولد النبي صلى الله عليه وسلم وعظم قدره فقد فاز بالإيمان،

“Barangsiapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.”

7. Imam Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya:

من هيأ طعاما لأجل قراءة مولد النبي صلى الله عليه و سلم و جمع اخوانا و أوقد سراجا و لبس جديدا و تبخر و تعطر تعظيما لمولد النبي صلى الله عليه و سلم حشره الله يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين و كان فى أعلى عليين،

“Barangsiapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”

8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:

ما من شخص قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ملح أو بر أو شيئ أخر من المأكولات الا ظهرت فيه البركة و فى كل شيئ وصل اليه من ذلك المأكول فانه يضطرب و لا يستقر حتى يغفر الله لأكله وان قرئ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على ماء فمن شرب من ذلك الماء دخل قلبه ألف نور و رحمة و خرج منه ألف غل و علة و لا يموت ذلك القلب يوم تموت القلوب . و من قرأ مولد النبي صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا و خلط تلك الدراهم بغيرها و قعت فيها البركة و لا يفتقر صاحبها و لا تفرغ يده ببركة النبي صلى الله عليه و سلم،

“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya.

Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu.

Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw.”

9. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم،

“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”

10. Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع الا لمحبة النبي صلى الله عليه و سلم . وقد قال صلى الله عليه و سلم : من أحبني كان معي فى الجنة،

“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”

11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:

مامن بيت أو مسجد أو محلة قرئ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا حفت الملائكة ذلك البيت أو المسجد أو المحلة وصلت الملائكة على أهل ذلك المكان وعمهم الله تعالى بالرحمة والرضوان.
وأما المطوفون بالنور يعنى جبريل و ميكائيل و اسرافيل و عزرائيل عليهم الصلاة و السلام فانهم يصلون على من كان سببا لقراءة النبي صلى الله عليه و سلم. و قال أيضا: ما من مسلم قرأ فى بيته مولد النبي صلى الله عليه و سلم الا رفع الله سبحانه و تعالى القحط والوباء والحرق والغرق والأفات والبليات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص من أهل ذلك البيت فاذا مات هون الله عليه جواب منكر ونكير ويكون فى مقعد صدق عند مليك مقتدر. فمن أراد تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم يكفيه هذا القدر. ومن لم يكن عنده تعظيم مولد النبي صلى الله عليه وسلم لو ملأت له الدنيا فى مدحه لم يحرك قلبه فى المحبة له صلى الله عليه وسلم.

“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”

Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena, sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada Allah swt untuk mereka yang menjadi sebab dibacakannya pembacaan maulid Nabi saw. Dan, dia berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan Allah swt menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu. Dan, apabila ia meninggal, maka Allah akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan, barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan, barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi saw.

Semoga bermanfa’at..

Wallahu a’lamu bisshowab..