logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

P014. HUKUM BERJUALAN MAKANAN DI SIANG HARI BULAN RAMADHAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warohmatulloohi wabarokaatuh..

Berjualan aneka macam makanan di siang hari bulan ramadhan, bolehkah ?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh..

Haram dan termasuk jual beli yang mengandung maksiat bila si penjual yakin atau punya dugaan kuat bahwa pembeli akan memakannya disiang hari ramadhan. Keterangan dari kitab :

( وقوله من كل تصرف يفضي إلى معصية ) بيان لنحو وذلك كبيع الدابة لمن يكلفها فوق طاقتها والأمة على من يتخذها لغناء محرم والخشب على من يتخذه آلة لهو وكإطعام مسلم مكلف كافرا مكلفا في نهار رمضان وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا

(Keterangan “dari setiap tindakan yang berakibat kearah maksiat”) seperti menjual tunggangan pada orang yang akan membebaninya diluar batas kemampuannya, menjual sahaya wanita untuk menyanyi yang diharamkan, menjual kayu pada orang yang akan memakainya untuk alat malaahi, dan seperti orang muslim dewasa yang memberi makanan pada orang kafir dewasa disiang hari ramadhan, begitu juga menjual makanan bila yakin atau menduga kuat ia akan memakannya disiang hari ramadhan. [ I’aanah at-Thoolibiin III/24 ].

ومن النحو بيع الأمرد لمن عرف بالفجور والجارية لمن يتخذها للغناء المحرم والخشب لمن يتخذه آلة لهو وإطعام مسلم مكلف كافرا مكلفا في نهار رمضان وكذا بيعه طعاما علم أو ظن أنه يأكله نهارا .

Sebagian contoh jual beli yang diharamkan adalah menjual amraad (pemuda tampan) pada orang yang diketahui kemesumannya, menjual sahaya wanita untuk menyanyi yang diharamkan, menjual kayu pada orang yang akan memakainya untuk alat malaahi, dan seperti orang muslim dewasa yang memberi makanan pada orang kafir dewasa disiang hari ramadhan, begitu juga menjual makanan bila yakin atau menduga kuat ia akan memakannya disiang hari ramadhan. [ Hasyiyah al-Bujairimi II/224 ].

Dalam fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,

وقد أفتى جماعة من أهل العلم بوجوب إغلاق المطاعم في نهار رمضان ، والله أعلم .

Para ulama memfatwakan, wajibnya menutup warung makan di siang hari ramadhan. Wallahu a’lam.

(Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 2097)

Syaikh Kholid Al Mushlih hafizhohullah menerangkan:

Memberi makan pada orang kafir di siang hari bulan Ramadhan secara sembunyi-sembunyi terdapat beda pendapat di antara para ulama.

Sebagian ulama melarang hal ini, yaitu seorang muslim dilarang memberi makan kepada orang kafir karena itu sama saja menolong dalam merusak kemuliaan bulan Ramadhan. Dan perlu diketahui bahwa orang kafir pun sebenarnya tetap terkena kewajiban syari’at yang sifatnya furu’ (bukan pokok).

Pendapat kedua, menyatakan bolehnya seorang muslim memberi makan kepada orang kafir di siang hari bulan Ramadhan. Karena orang kafir memang tidak sah jika ia lakukan puasa. Orang kafir sama sekali tidak dikenai kewajiban puasa. Ulama yang berpendapat bahwa orang kafir tetap terkena kewajiban furu’ syari’ah juga menyatakan demikian. Pendapat kedua ini yang lebih mendekati kebenaran. Jadi, setiap orang yang tidak diperintahkan untuk berpuasa baik muslim atau kafir, boleh saja memberi makan padanya. Sebagaimana boleh saja seseorang memberi makan pada seorang musafir, wanita haidh, dan orang sakit. (Fatwa 21-10-1428).

Wallahu Ta’ala a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 57 : SURAH YANG DIBACA DALAM SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 57 :

وَعَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ قَالَ: ( كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ بِـ (ق), وَ (اقْتَرَبَتْ). أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu waqid al-Laitsi Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam sholat hari raya Fithri dan Adlha biasanya membaca surat Qof dan Iqtarabat. Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Oleh karena sholat hari raya dihadiri oleh banyak orang hingga memenuhi tempat sholat yang terdiri dari kaum lelaki, wanita, bahkan anak-anak, maka keadaan ini merupakan satu peluang untuk memberikan nasehat dan menyadarkan mereka. Oleh itu, Nabi (s.a.w) memilih Surah Qaf dan Surah al-Qamar ketika mengerjakan sholat dua hari raya.

Surah Qaf dibaca pada rakaat pertama karena di dalamnya menjelaskan huru-
hara hari kiamat, keadilan ditegakkan di hadapan Allah, hisab amal, dan perkara-
perkara yang tentu menggerunak. Begitu pula Surah Qaf, di dalamnya mengandung
kisah singkat tentang keadaan umat terdahulu hingga mereka dibinasakan dan peringatan terhadap umat ini untuk tidak mengikuti jalan umat terdahulu yang
sesat supaya azab yang telah menimpa umat terdahulu tidak menimpa mereka.

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa pada rakaat pertama dibaca Surah al-A’la, sedangkan pada rakaat kedua dibaca Surah al-Ghasyiyah. Rahsia yang terdapat di dalamnya hanya Allah yang mengetahuinya, tetapi Surah al-A’la menjelaskan permulaan kejadian, menceritakan nikmat Allah yang berlimpah dan perintah untuk senantiasa mengingatkan umat manusia dari kelalaian.

Surah al-Ghasyiyah pula menggambarkan tentang ahli neraka dan ahli syurga. Ia turut menerangkan siksaan yang telah disediakan oleh Allah bagi musuh-Nya serta kenikmatan yang berlimpah bagi kekasih-Nya. Surah ini mengingatkan umat manusia akan nikmat-nikmat Allah dan perintah mengingatkan umat manusia dari kelalaian sekaligus menerangkan tempat kembali semua makhluk adalah kepada Allah (s.w.t).

Ketentuan membaca surah-surah ini ketika mengerjakan sholat dua hari raya bukanlah sesuatu yang wajib, melainkan ia hanya sunat saja. Seandainya seseorang membaca surah selain itu, maka ia pun sudah dianggap mencukupi baginya.

FIQH HADITS :

1. Menguatkan suara bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat dua hari raya.

2. Disyariatkan membaca Surah Qaf dan Surah al-Qamar pada sholat dua
hari raya, karena dalam kedua surah tersebut memuat berita hari bangkit, kisah umat terdahulu yang mendustakan rasul mereka sehingga mereka dibinasakan, kemunculan manusia pada hari raya yang diumpamakan dengan kebangkitan mereka pada hari bangkit, dan kebangkitan umat manusia dari alam kubur diumpamakan dengan belalang yang beterbangan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T043. HUKUM PENGOLAHAN AIR MUTANAJJIS DENGAN RESERVE OSMOSIS

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum wr.wb.

Baru-baru ini banyak hotel & apartemen memakai sistem pengairan yang disebut “reverse osmosis” yaitu pengolahan air kotor, tinja dan sebagainya yang disaring / difilter kotorannya hingga air itu terlihat menjadi bersih. Bagamana kedudukan air tersebut ?? silahkan di-share.

JAWABAN :

Wa’alaikumussaalaam warahmatullaah.

Air mutanajjis. Bagaimana jika air mutanajjis tersebut dikumpulkan sehingga menjadi dua kulah atau lebih, dan air tersebut sudah hilang warna, rasa dan bau najisnya, asalkan hilang dengan sendirinya. Bukankah air tersebut menjadi suci ? dalam Fat_hul Wahhaab / hamisy hasyiyah Jamal 1/42-43 :

فإن زال تغيره) الحسى أو التقديري (بنفسه) أي لا بعين كطول، مكث (أو بماء) انضم إليه ولو نجسا أو أخذ منه والباقي قلتان (طهر) لانتفاء علة التنجس، ولا يضر عود تغيره إذا خلا عن نجس جامد. أما إذا زال حسا بغيرهما كمسك وتراب وخل فلا يطهر للشك في أن التغير زال أو استتر بل، الظاهر أنه استتر. فإن صفا الماء ولا تغير به طهر

Anapun tetkalane ilang opo owah kanthi kadriyo ( dengan apa yang bisa dilihat panca indera ) kelawan liyane karone ilang dewe utowo dicemplungi banyu liyo, contone minyak misik, lebu lan cukak, mongko banyu mau ora biso suci kerono ono kemamangan opotoh owahe banyu bener-bener ilang utowo ketutup, malah menurut zhahire owahe banyu ketutup ( maksudnya berubahnya air masih tertutup dengan adanya minyak wangi/debu/cuka, misalnya bau najis tertutup dengan bau minyyak wangi ), Mongko lamun wis bening opo banyu, lan ora ono owah, mongko suci opo banyu.

Karena sumber air bersih dari tahun ke tahun semakin langka, maka digunakanlah berbagai metode untuk memperoleh air bersih dan memenuhi standar kesehatan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan metode Reserve Osmosis atau yang dikenal dengan istilah osmosis terbalik yaitu proses penyaringan berbagai zat dari suatu larutan dengan menambahkan tekanan ketika larutan tersebut berada di membran penyaring.

Walhasil zat-zat yang berbaur dengan larutan seperti karbon dioksida, hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dapat dikurangi bahkan dihilangkan. Selain itu partikel-partikel mineral yang terlarut seperti besi, mangan dll akan teroksidasi secara cepat membentuk endapan. Larutan yang sudah jernih tadi akan kembali disaring untuk ke-2 atau ke-3 kalinya untuk menghasilkan hasil yang optimal. Dari hasil pengolahan tersebut terciptalah suatu air yang jernih, higienis, dan tidak berbau.

Dalam tinjauan fiqih air yang sudah kembali murni ini, dalam artian tidak berasa, berbau dan berwarna maka dihukumi suci sehingga boleh dikonsumsi ataupun digunakan untuk bersuci.

فان صاف الماء و لا تغير به طهر(قوله فان صاف الماء) اي زال ريح المسك او لون التراب او طعم الخل، (وقوله طهر) اي حكمنا بطهريته لانتفاء علة التنجيس

“Apabila air menjadi jernih dan tidak berubah sama sekali maka sucilah air itu, yang dimaksud jernih adalah bahwa bau misik atau warna tanah atau rasa cuka telah hilang, dan yang dimaksud suci yakni hukumnya suci lantaran ‘illat kenajisan telah tiada”. (Ket. Hasyiyah albujairimi juz 1 hal.26).

الحاصل انه اذا صاف الماء و لم يبق فيه تكدر يحصل به الشك في زوال التغير طهر كل من الماء والتراب سواء كان الباقي عما رسب فيه التراب قلتين ام لا

“Kesimpulan bahwa apabila air menjad jernih dan di dalamnya tidak tersisa kekeruhan yang menimbulkan keraguan mengenai hilangnya perubahan air,maka masing-masing air dan tanah menjadi suci baik air yang tersisa setelah penyerapan mencapai 2 kulah atau tidak”. (Ket. Hasyiyah aljamal juz 1 hal 42).

Wallohu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S066. UKURAN RAPAT SHAF DALAM SHOLAT

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Sebenarnya ukuran rapat dalam shof sholat itu seberapa rapat sih? minta keterangannya.

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohmatullahi Wabarakatuh..

Yaitu ketika bahu bertemu bahu dan kaki bertemu kaki, hal ini dilakukan sewajarnya saja, tidak terlalu rapat namun juga tidak terlalu longgar barisannya.

قال أنس – رواية – فلقد رأيت أحدنا يلصق منكبه بمنكب صاحبه، وقدمه بقدمه.الكتاب : حاشية إعانة الطالبين ج2 ص29

“Sahabat Anas berkata [dalam sebuah riwayat] maka kami melihat di antara kami saling mempertemukan bahu dengan bahu dan kaki dengan kaki dari lainnya.”

وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق اهـ جمل.الكتاب : بغية المسترشدين ص 140

“Disebutkan bahwa ukuran lebar shaf ketika hendak shalat yaitu yang umum dilakukan oleh seseorang, dengan tanpa berlebihan dalam lebar dan sempitnya.”

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 112 مكتبة دار الفكر وُتُعْتَبَرُ الْمَسَافَةُ فِيْ عَرْضِ الصُّفُوْفِ بِمَا يُهَيَّأُ لِلصَّلاَةِ وَهُوَ مَا يَسَعُهُمْ عَادَةً مُصْطَفِّيْنَ مِنْ غَيْرِ إِفْرَاطٍ فِي السَّعَةِ وَالضَّيْقِ اهـ جمل

Bahu saling menempel. Kaki renggang sejajar bahu saja. Dan jarak diantara bahunya seseorang ke bahunya orang lain itu jangan terlalu kebar dan jangan terlalu sempit.Dan juga jarak diantara kakinya seseorang ke kakinya orang lain itu jangan terlalu lebar dan jangan terlalu sempit.

Wallahu a’lam bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 56 : TAKBIR DALAM SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 56 :

وَعَنْ عَمْرِوِ بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلتَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الْأُولَى وَخَمْسٌ فِي الْآخِرَةِ, وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ. وَنَقَلَ التِّرْمِذِيُّ عَنِ الْبُخَارِيِّ تَصْحِيحَهُ

Dari Amar Ibnu Syuaib dari ayahnya dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Takbir dalam sholat hari raya Fithri adalah tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, dan bacalah al-fatihah dan surat adalah setelah kedua-duanya.” Dikeluarkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi mengutipnya dari shahih Bukhari.

MAKNA HADITS :

Bilangan witir mempunyai pengaruh yang besar dalam mengingat keesaan Allah
yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya. Bilangan tujuh mengandung rah asia
besar dimana syariat Islam menjadikan bilangan takbir sholat hari raya menjadi
ganjil. Syariat Islam menjadikannya pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali untuk
mengingatkan ada pekerjaan haji yang dilakukan sebanyak tujuh kali, yaitu tawaf,
sa’i dan melontar jumrah, yang kesemuanya dilakukan sebanyak tujuh kali. Di samping itu, ia bertujuan membuat hati senantiasa rindu untuk mengerjakan ibadah haji, karena menghayati hari raya idul adha mampu mengingatkan diri kepada Allah yang telah menciptakan alam semesta ini melalui renungan terhadap semua perbuatan-Nya seperti penciptaan tujuh langit, tujuh bumi, dan tujuh hari beserta segala isinya. Hal ini mampu mengingatkan kepada Allah apabila dilakukan pada hari raya idul adha berbanding hari-hari biasa yang selainnya.

Kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah (s.a.w) dalam mensyariatkan segala
sesuatu selalu mengambil berat kemudahan, karena belas kasihan terhadap
umat ini. Antara kemudahan itu ialah bilangan rakaat kedua sholat hari raya lebih diringankan berbanding rakaat yang pertama. Oleh karena bilangan lima adalah bilangan yang mendekati angka tujuh, maka syariat Islam menetapkan lima kali takbir untuk rakaat kedua karena belas kasihan kepada umat ini sehingga diharapkan mereka selalu dalam keadaan taat kepada Allah dan Rasul-Nya

FIQH HADITS :

1. Disunatkan bertakbir dalam sholat dua hari raya, yaitu pada rakaat pertama sebanyak tujuh kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua lima kali takbir. Imam Malik dan Imam Ahmad berkata: “Pada rakaat pertama takbir dilakukan sebanyak tujuh kali termasuk takbiratul ihram, sedangkan pada rakaat kedua takbir dilakukan sebanyak lima kali selain takbir berdiri.”

Imam al-Syafi’i berkata: “Takbir dilakukan sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama selain takbiratul ihram dan pada rakaat kedua lima kali takbir selain takbir berdiri.” Imam Abu Hanifah berkata: “Empat kali takbir termasuk takbiratul ihram pada rakaat pertama dan takbir rukuk pada rakaat kedua tetap dikira empat takbir itu.”

Adapun kesinambungan dalam membaca takbir-takbir tersebut, maka Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa hendaklah seseorang melakukannya secara berkesinambungan tanpa memisahkannya dengan dzikir ataupun bacaan do’a dan hendaklah imam berdiam sebentar menunggu para makmum menyelesaikan bacaan takbirnya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad pula berpendapat bahwa antara setiap takbir hendaklah dipisahkan dengan waktu yang kadarnya lebih kurang sama dengan membaca satu ayat yang tidak panjang dan tidak pula pendek. Murid-murid Imam al-Syafi’i berbeda pendapat mengenai bacaan yang seharusnya dibaca dalam waktu berdiam itu. Kebanyakan mereka menyatakan bahwa waktu berdiam itu hendaklah diisi dengan bacaan:

سبحان الله والحمد لله ولا إله الا الله والله اكبر

“Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha-besar.”

Sebagian mereka pula mengatakan bahwa bacaan itu ialah:

لا اله الا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير

“Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Dia Maha Kuasa ke atas segala sesuatu.”

Mazhab Hanbali pula mengatakan bahwa kalimat yang dibaca ketika berdiam itu ialah:

الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا وصلى الله على محمد النبي وعلى أله وسلم تسليما كثيرا

“Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang berlimpah, dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan waktu petang, semoga Allah melimpahkan salawat-Nya ke atas Nabi Muhammad serta keluarganya, semoga pula keselamatan Allah sentiasa melimpah kepadanya.”

Jumhur ulama mengatakan bahwa setiap kali membaca takbir, kedua tangan mestilah diangkat. Abu Yusuf mengatakan bahwa kedua tangan tidak boleh diangkat melainkan hanya ketika takbiratul ihram Pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Imam Malik sebagaimana yang telah diriwayatkan pula oleh Ibn Mutharrif daripada Imam Malik bahwa disunatkan mengangkat kedua tangan setiap kali membaca takbir. Dalam riwayat lain yang bersumber dari Imam Malik disebutkan bahwa seseorang boleh memilih mana yang dia sukai.

Hukum takbir ketika mengerjakan sholat hari raya menurut pendapat jumhur ulama adalah sunat, sedangkan menurut mazhab Hanafi adalah wajib, dimana seseorang berdosa apabila meninggalkannya dengan sengaja. Seseorang yang meninggalkan bacaan takbir itu atau sebagian darinya karena lupa, maka ulama berbeda pandangan dalam masalah ini:

Mazhab al-Syafi’i dan mazhab Hanbali menyatakan bahwa apabila seseorang meninggalkannya hingga selesai bacaan al-Qur’an, dia tidak boleh mengulanginya lagi dan tidak perlu pula melakukan sujud sahwi.

Mazhab Maliki menegaskan bahwa apabila seseorang lupa hingga tidak membaca takbir hingga selesai bacaan al-Qur’an, sedangkan dia masih belum rukuk, maka dia dibolehkan melakukan takbir, kemudian melakukan sujud sahwi sesudah salam. Ini karena setiap takbir daripada takbir-takbir sholat hari raya merupakan sunat mu’akkad. Jika seseorang ingat setelah melakukan rukuk, maka hendaklah dia meneruskan sholatnya. Jika dia sebagai imam, maka hendaklah melakukan sahwi sesudah salam dan begitu pula seseorang yang mengerjakan sholat secara bersendirian.

Mazhab Hanafi mengatakan bahwa seandainya seseorang meninggalkan
takbir hingga selesai bacaan al-Qur’an, namun dia baru mengingatinya
ketika sedang rukuk, maka dia boleh membaca takbir dalam keadaan rukuk
itu. Jika mengingatinya setelah mengangkat tubuh daripada rukuk, maka hendaklah dia melakukan sujud sahwi sebagai penggantinya karena orang itu telah melalaikan suatu yang wajib.

2. Membaca al-Qur’an pada sholat hari raya. Menurut jumhur ulama, ia dilakukan sesudah membaca takbir pada kedua rakaat tersebut. Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa seseorang hendaklah meneruskan
kedua bacaan itu secara berkesinambungan. Dengan arti kata lain, dia melakukan takbir pada rakaat pertama, lalu membaca al-Qur’an dan pada rakaat yang kedua, dia terus membaca al-Qur’an dan setelah itu barulah melakukan takbir. Beliau mengatakan bahwa takbir merupakan pujian, sedangkan pujian yang disyariatkan pada rakaat pertama mendahului bacaan al-Qur’an dan doa iftitah sedangkan pada rakaat yang kedua
disyariatkan mengakhirkannya sama halnya dengan do’a qunut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian kajian hadits hari ini

Semoga bermanfaat.. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M106. HUKUM MENCABUT BULU HIDUNG

PERTANYAAN :Assalamualaikum wr wb..Mohon penjelasan hukum ”MENCABUT BULU HIDUNG” kadang saya merasa geli & gak enak dengan bulu hidung.. Dan tadi saya baca ada artikel, menurut kesehatan begini ”Mencabut Bulu Hidung Berujung Maut” sedemikiankah efek mencabut bulu tersebut. Kalau menurut hukum Islam??JAWABAN :Waalaikumussalam wr wb..Dalam Al-Fiqh ‘Ala Madzahibi Al-Arba’ah Juz 2 Hal 43-44 diterangkan tentang Hukum Menghilangkan Bulu Dan Menggunting Kuku :ﻓﻲ ﺣﻜﻢ ﺇﺯﺍﻟﺔ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﻭﻗﺺ ﺍﻷﻇﺎﻓﺮ ﺗﻔﺼﻴﻞ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ – ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻧﺘﻒ ﺷﻌﺮ ﺍﻷﻧﻒ ﺑﻞ ﻳﺴﻦ ﻗﺼﻪ ﺇﻥ ﻃﺎﻝ ﻭﺃﻥ ﻳﺘﺮﻛﻪ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻨﻔﻌﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺔAsy-syafi’iyyah : Dimakruhkan mencabut bulu hidung, akan tetapi disunahkan mengguntingnya jika dirasa panjang, dan biarkan tetap ada karena keberadaannya mempunyai manfaat kesehatan (sebagai filter udara).ﺍﻟﺤﻨﻔﻴﺔ – ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻭﺃﻣﺎ ﺣﻠﻖ ﺷﻌﺮ ﺍﻟﻈﻬﺮ ﻭﺍﻟﺼﺪﺭ ﻓﻬﻮﺧﻼﻑ ﺍﻷﺩﺏHanafiyyah : Adapun mencukur bulu yang tumbuh di punggung dan di dada, hukumnya khilaful adab/menyalahi adab.ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ – ﻗﺎﻟﻮﺍ : -ﻭﻳﺒﺎﺡ ﺣﻠﻖ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺸﻌﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﺪﻥ ﻛﺸﻌﺮ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﻭﺍﻟﻴﺪﻳﻦ ﻭﺍﻷﻟﻴﺔ ﻭﺍﻟﺸﻌﺮ ﺍﻟﺬﻱ ﻋﻠﻰ ﺣﻠﻘﺔ ﺍﻟﺪﺑﺮMalikiyyah : Diperbolehkan mencukur seluruh bulu yang tumbuh di badan seperti bulu dada dan bulu di kedua tangan, bulu di bokong (maaf, di pantat) dan bulu di sekitar anus.Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S065. ALASAN QUNUT SHALAT WITIR SETELAH TANGGAL 15 RAMADHAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Semuanya.

Saya mau bertanya tentang Qunut di bulan Ramadlan. Kenapa yang disunnahkan membaca Qunut pada tanggal 15 akhir bulan Ramadlan dalam shalat sunnah Witir ? Kenapa dari tanggal 1 s/d 14 tidak dianjurkan, silahkan saudara-saudaraku berbagi ilmunya.

Terimakasih.

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam.

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan di atas, kita awali dari Hadits ‘Umar :

ﺍﻟﻤﻮﺳﻮﻋﺔ ﺍﻟﺸﺎﻣﻠﺔ – ﺍﻟﺘﻠﺨﻴﺺ ﺍﻟﺤﺒﻴﺮ ﻓﻲ ﺗﺨﺮﻳﺞ ﺃﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺮﺍﻓﻌﻲ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ 2/122 :

50- 551 ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ ” : ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ : ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﻦ ﺣﻤﺪﻩ . ” ﺭﻭﻳﻨﺎﻩ ﻓﻲ ﻓﻮﺍﺋﺪ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﺭﺯﻗﻮﻳﻪ ﻋﻦ ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﺍﻟﺴﻤﺎﻙ ، ﻋﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻛﺎﻣﻞ ، ﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺣﻔﺺ ﻗﺎﻝ : ﻗﺮﺃﻧﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﻘﻞ ، ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻫﺮﻱ ، ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺭﻱ : ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺧﺮﺝ ﻟﻴﻠﺔ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻫﻮ ﻣﻌﻪ ، ﻓﺮﺃﻯ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﺃﻭﺯﺍﻋﺎ ﻣﺘﻔﺮﻗﻴﻦ ، ﻭﺃﻣﺮ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﺑﻬﻢ ﻓﻲ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﻓﺨﺮﺝ ﻋﻤﺮ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﺑﺼﻼﺓ ﻗﺎﺭﺋﻬﻢ ، ﻓﻘﺎﻝ : ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ ، ﻭﺍﻟﺘﻲ ﻳﻨﺎﻣﻮﻥ ﻋﻨﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻲ ﻳﻘﻮﻣﻮﻥ . ﻳﺮﻳﺪ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﻠﻴﻞ ، ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻘﻮﻣﻮﻥ ﻓﻲ ﺃﻭﻟﻪ . ﻭﻗﺎﻝ : ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺭﻛﻌﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﺑﻌﺪ ﻣﺎ ﻳﻘﻮﻝ ﺍﻟﻘﺎﺭﺉ ﺳﻤﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻤﻦ ﺣﻤﺪﻩ ، ﺛﻢ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻟﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ . ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ .

551-50 – Hadits ‘Umar : Sunnah adalah apabila bulan Ramadhan sudah dapat separuh maka hendaknya melaknat orang-orang kafir di dalam shalat witir setelah membaca : Sami’allahu Liman Hamidahu. Kami meriwayatkannya dalam Fawa`id Aby al-Hasan bin Razqawih dari ‘Utsman bin al-Simak dari Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Kamil dari Sa’id bin Hafsh berkata: Kami membaca atas Mi’qal dari al-Zuhry dari ‘Abdirrahman bin ‘Abdil Qary bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan ‘Umar keluar dan dia bersamanya. Lalu ‘Umar melihat jama’ah masjid mengerjakan shalat secara terbagi dan terpisah-pisah. Dan dia menyuruh Ubay bin Ka’ab untuk mengomandoi mereka dibulan Ramadhan. Kemudian ‘Umar keluar sementara jama’ah melakukan shalat dengan panduan imam mereka, lalu dia berkata: Alangkah baiknya bid’ah ini, dan sesuatu yang mereka tidur meninggalkannya itu lebih utama dari apa yang mereka lakukan (dia maksudkan) di akhir malam, dan mereka melakukan di awal malam. Dan ‘Umar berkata: Sunnah adalah apabila bulan Ramadhan dapat separuh maka hendaknya melaknat orang-orang kafir di akhir rakaat shalat witir setelah membaca : Sami’allahu Liman Hamidahu. Lalu berdo’a: Wahai Allah, laknatilah orang-orang kafir. Sanad hadits ‘Umar ini Hasan.

Hubungan hadits di atas dengan hadits di bawah ini untuk mengetahui rahasia penempatan do’a qunut pada separuh akhir di bulan Ramadhan :

ﻣﺮﻗﺎﺓ ﺍﻟﻤﻔﺎﺗﻴﺢ ﺷﺮﺡ ﻣﺸﻜﺎﺓ ﺍﻟﻤﺼﺎﺑﻴﺢ – ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻼﺓ – ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻘﻨﻮﺕ- ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺭﻗﻢ3 :

ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺍﻟﺜﺎﻟﺚ 1293 – ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻥ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻰ ﺃﺑﻲ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ ، ﻓﻜﺎﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺑﻬﻢ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻟﻴﻠﺔ ، ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺑﻬﻢ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻟﺒﺎﻗﻲ ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﺗﺨﻠﻒ ﻓﺼﻠﻰ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ ، ﻓﻜﺎﻧﻮﺍ ﻳﻘﻮﻟﻮﻥ : ﺃﺑﻖ ﺃﺑﻲ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ .

ﻭﻻ ﻳﻘﻨﺖ ﺑﻬﻢ ، ﺃﻱ : ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﻭﻟﻌﻠﻪ ﻣﻘﻴﺪ ﺑﺎﻟﺪﻋﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻟﻤﺎ ﻣﺮ ﺑﺴﻨﺪ ﺹﺣﻴﺢ ﺃﻭ ﺣﺴﻦ ، ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ، ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﺼﻒ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻥ ﻳﻠﻌﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﺗﺮ ، ﺛﻢ ﻭﺟﻪ ﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﺧﺘﻴﺎﺭ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺗﻔﺎﺅﻻ ﺑﺰﻭﺍﻟﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻘﺎﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﻣﺤﺎﻟﻠﻬﻢ ﻭﺍﻧﺘﻘﺎﺻﻬﻢ ، ﻛﻤﺎ ﺍﺧﺘﻴﺮ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﺍﻷﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﻟﻠﺤﺠﺎﻣﺔ ﻭﺍﻟﻔﺼﺪ ﻣﻦ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﺪﻡ ﻟﺨﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﻭﺯﻭﺍﻝ ﺍﻟﻌﺎﻫﺔ .

Fasal Ketiga 1293 – dari al-Hasan ra. bahwa ‘Umar bin al-Khatthab ra. mengumpulkan jama’ah atas pemandu Ubay bin Ka’ab, lalu dia melakukan shalat bersama mereka selama dua puluh malam, dan dia tidak berdo’a qunut bersama mereka kecuali di separuh akhir yang tersisa. Kemudian ketika sudah sepuluh hari yang akhir dia mundur lalu shalat di rumahnya. Lantas mereka berkata: Ubay telah kabur. HR. Abu Daud

Redaksi Hadits: “Dan dia tidak berdo’a qunut bersama mereka”. Maksudnya dalam shalat witir dan barangkali hal itu teruntuk mendo’akan orang-orang kafir sesuai hadits yang telah lewat dengan sanad yang shahih atau hasan dari ‘Umar “bahwa sunnah adalah apabila Ramadhan sudah dapat separuh hendaknya melaknat orang-orang kafir dalam shalat witir”. Kemudian wajah hikmah terpilihnya separuh akhir itu sebagai sikap pengharapan dengan sirnanya mereka, berpindahnya mereka dari perkemahannya, dan berkurangnya jumlah mereka, sebagaimana terpilihnya separuh akhir dalam setiap bulan untuk melakukan bekam, cantuk dari keluarnya darah karena keluarnya penyakit, dan sirnanya penyakit hama.

– Fathulwahhab bab shalat sunnah :

.وان الجماعة تنذب فى الوترتقب التراويح جماعة وتقدم فى صفةالصلاةانه يسن فيه القنوت في النصف الثاني من رمضان

Disunnahkan berjama’ah dalam salat witir bulan ramadan dan juga disunnahkan berqunut pada separo kedua bulan ramadan dalam salat witir.

الوسيط (2/ 213)

الخامس القنوت مستحب في الوتر في النصف الأخير من رمضان بعد رفع الرأس من الركوع وقال أبو حنيفة يقنت قبل الركوع في الوتر جميع السنة وقال مالك بعد الركوع في جميع شهر رمضان وفي الجهر بالقنوت خلاف

Yang ke 5 qunut disunnahkan pada sholat witir diseparo akhir dari bulan romadlon setelah mengangkat kepala dari ruku’, Abu Hanifah berpendapat sunnah melakukan qunut sebelum melakukan rukuk pada sholat witir dalam semua tahun, imam malik berpendapat qunut setelah rukuk pada sholat witir hukumnya sunnah dibulan romadlon secara keseluruhan, adapun tentang hukum membaca nyaring pada qunut terjadi perbedaan pendapat.

Wallohu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 55 : RANGKAIAN IBADAH DALAM SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 55 :

وَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى, وَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ, ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ -وَالنَّاسُ عَلَى صُفُوفِهِمْ- فَيَعِظُهُمْ وَيَأْمُرُهُمْ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

ِDari Abu Said Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam keluar pada hari raya Fithri dan Adlha ke tempat sholat, sesuatu yang beliau dahulukan adalah sholat, kemudian beliau berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, orang-orang masih tetap pada shafnya, lalu beliau memberikan nasehat dan perintah kepada mereka. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Apa yang dikerjakan oleh Nabi (s.a.w) ketika hari raya adalah keluar menuju tempat sholat dan mengerjakan sholat hari raya sebelum khutbah. Ketika berkhutbah, beliaumenghadapkan wajahnya ke arah kaum muslimin. Apa yang disampaikannya di dalam khutbah adalah nasehat, petunjuk, peringatan dan larangan. Baginda tidak
melakukan sholat sunnat, baik sebelum ataupun sesudahnya. Demikianlah Sunnah yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w).

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan keluar menuju tempat sholat untuk mengerjakan sholat hari raya.2. Mendahulukan sholat hari raya sebelum berkhutbah. 3. Tidak ada mimbar di tempat sholat karena sholat hari raya dilakukan di luar masjid.4. Khutbah mengandung perintah melakukan amal kebaikan dan nasehat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

P013. HUKUM NIAT PUASA RAMADHAN SEBULAN PENUH

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Bentar lagi puasa romadhon, mau tanya tentang niatnya. Boleh tidak niatnya sekaligus sebulan, seperti…. “Nawaitu shouma syahri romadlon kullihi” atas jawabanya saya ucapkan terma kasih.

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warahmatullahi wabarakatuh..

Niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa romadlon hukumya disunahkan. Sedangkan hukum niat untuk puasa hari-hari setelah hari pertama ulama berbeda pendapat (khilaf) :

1.menurut madzhab syafi’iyah niat puasa untuk sebulan penuh tersebut cukup untuk puasa satu hari yang pertama,sehingga stiap hari puasa romadlonya wajib di niati,jika tidak di niati maka tidak sah puasanya sbulan tersebut kecuali puasa romadlon hari pertamanya.

2.sedangkan menurut imam Malik niat puasa romadlon untuk sebulan penuh sdah mencukupi, sehingga untuk hari-hari berikutnya tidak wajib niat kembali, yang artinya jika tidak niatpun sudah sah karena niatnya sudah sebulan penuh pada malam hari pertama awal puasa Romadlon tersebut. [ Hasyiya qulyubi wa ‘umairoh 2/67, Al majmu’ syarah muhadzab 6/303, Hasyiyah al bajuri 1/288 ].

Sedikit mengutipkan dari kitab Kasyifatus Sajaa :

فلو نوى ليلة اول رمضان صوم جميعه لم يكف لغير اليوم الاول ، لكن ينبغى له ذلك ليحصل له صوم اليوم الذى نسي النية فبه عند مالك كما يسن له ان ينوى اول اليوم الذى نسيها فيه ليحصل له صومه عند ابى حنيفة و واضح ان محله ان قلد و الا كان متلبسا بعبادة فاسدة فى اعتقاده و هو حرام كاشفة السجا ١١٧

Apabila seseorang berniat pada awal malam bulan Ramadhan untuk melakukan puasa keseluruhannya ( 1 bulan full ) maka menurut Madzhab Syafii tidak cukup. Kewajiban niat harus dilakukan pada tiap malamnya. Tetapi menurut pendapat madzhab Maliki niat jamak puasa 1 bulan adalah sunah hal ini untuk menjaga puasa yang lupa tidak diniati. Hal senada juga dikemukakan oleh Madzhab Hanafi. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah kita tidak boleh mencampur adukan madzhab. Bila ini dilakukan maka yang terjadi adalah kerusakan ibadah.

Menurut Syafi’iyyah niat puasa sebulan penuh pada malam awal puasa Romadlon hukumya SUNNAH dan hanya mencukupi niat tersebut untuk malam pertama saja sedang bagi Malikiyyah dapat mencukupi pada malam-malam ramadhan berikutnya selama sebulan bila kebetulan ia lupa menjalankan niat.

قَوْلُهُ : ( التَّبْيِيتُ ) أَيْ كُلَّ لَيْلَةٍ عِنْدَنَا كَالْحَنَابِلَةِ وَالْحَنَفِيَّةِ وَإِنْ اكْتَفَى الْحَنَفِيَّةُ بِالنِّيَّةِ نَهَارًا لِأَنَّ كُلَّ يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ وَلِذَلِكَ تَعَدَّدَتْ الْكَفَّارَةُ بِالْوَطْءِ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِنْهُ ، وَيُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ أَوْ صَوْمَ رَمَضَانَ كُلَّهُ لِيَنْفَعَهُ تَقْلِيدُ الْإِمَامِ مَالِكٍ فِي يَوْمٍ نَسِيَ النِّيَّةَ فِيهِ مَثَلًا لِأَنَّهَا عِنْدَهُ تَكْفِي لِجَمِيعِ الشَّهْرِ ، وَعِنْدَنَا لِلَّيْلَةِ الْأُولَى فَقَطْ .

(Keterangan niat di malam hari) artinya pada setiap malam dibulan Ramadhan menurut kalangan Kami (Syafi’iyyah) seperti pendapat kalangan Hanabilah dan Hanafiyyah hanya saja dikalangan Hanafiyyah menganggap cukup bila niatnya dikerjakan pada siang hari.

Sebab setiap hari pada bulan Ramadhan adalah ibadah tersendiri karenanya diwajibkan membayar banyak kaffaarat (denda pelanggaran) sebab berkali-kalinya senggama disiang hari disetiap hari-hari ramadhan namun disunahkan dimalam pertama pada bulan ramadhan niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil kemanfaatan bertaqlid pada pendapat Imam Malik yang menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya disemua malam ramadhan dan bagi kami (Syafi’iyyah) niat yang demikian hanya mencukupi pada malam pertama saja. [ Hasyiyah al-Qolyuby V/365 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 54 : MENGERJAKAN SHALAT SUNNAH DI RUMAH SETELAH SHALAT ‘ID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHOLAT HARI RAYA IDUL
FITRI DAN IDUL ADLHA

HADITS KE 54 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يُصَلِّي قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئًا, فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Dari Abu Said Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tidak melakukan sholat apapun sebelum sholat hari raya, bila beliau kembali ke rumahnya beliau sholat dua rakaat. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.

MAKNA HADITS :

Jika ada dua hadis yang maknanya secara dzahir saling bertentangan, maka
pemahaman keduanya mestilah digabungkan. Dalam hadis sebelum ini telah
disebutkan bahwa tidak ada sholat (sunat) pada hari raya (yakni sholat sunat hari
raya), baik sebelum ataupun sesudahnya, sedangkan hadis ini menunjukkan
bahwa disyariatkan mengerjakan sholat sunat dua rakaat sesudahnya. Jika kedua hadis ini digabungkan, maka berarti penafian ini ditujukan kepada tempat sholat, sedangkan penetapan ditujukan kepada pelaksanaannya di dalam rumah. Dengan ini diharapkan tidak ada lagi perbedaan pemahaman diantara kedua hadis ini.

FIQH HADITS :

1. Tidak disunatkan mengerjakan sholat sunat sebelum mengerjakan sholat hari
raya.

2. Disyariatkan mengerjakan sholat dua rakaat di rumah setelah kembali pulang dari melaksanakan sholat hari raya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..