logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 77 : LARANGAN MENGGUNAKAN WADAH DARI EMAS DAN PERAK & MEMAKAI KAIN SUTERA ASLI BAGI LAKI-LAKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 77 :

وَعَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَشْرَبَ فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ, وَأَنْ نَأْكُلَ فِيهَا, وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ وَالدِّيبَاجِ, وَأَنْ نَجْلِسَ عَلَيْهِ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melarang kami minum dan makan dalam tempat terbuat dari emas dan perak, memakai pakaian dari sutera tipis dan tebal, serta duduk di atasnya. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Diharamkan memakai kain sutera tulen bagi kaum lelaki yang telah berusia baligh. Rasulullah (s.a.w) pernah menerima hadiah sehelai baju dari sutera, lalu para sahabat memegangnya sambil menaruh sikap takjub. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) bertanya: “Apakah kamu mengagumi kain sutera ini?” Mereka menjawab: “Ya.” Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Sapu tangan Sa’ad ibn Mu’adz di dalam surga jauh lebih baik daripada ini.”
Peristiwa yang menjadi latar belakang hadis yang bersumber dari Huzaifah ini adalah ketika beliau berada di al-al-Mada’in, ibu kota Kerajaan Parsi, dia minta minum, lalu datanglah pemimpin kaum membawa sebuah bekas yang dibuat dari perak yang berisi air. Huzaifah membuang bekas tersebut berikut airnya, kemudian dia berkata kepada hadirin yang merasa heran dengan sikapnya itu: “Tidaklah sekali-kali aku membuangnya, melainkan kerana aku telah berkali-kali melarangnya dengan cara yang baik supaya tidak menyediakan minuman dengan bekas yang dibuat dari perak, namun terayata dia tidak mau mematuhinya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah (s.a.w)
bersabda: “Janganlah kamu memakai sutera tipis dan tebal, serta makan dengan menggunakan bekas yang dibuat dari perak, karena sesungguhnya barang-barang tersebut biasa digunakan oleh orang kafir di dunia. Maka bedakanlah diri kamu dengan mereka, niscaya barang-barang tersebut untuk kamu kelak di akhirat.”
Diqiyaskan dengan bekas yang digunakan untuk makan dan minum adalah bekas minyak wangi dan celak mata.

FIQH HADITS :

1. Haram makan dan minum dengan menggunakan bekas yang dibuat dari emas dan perak bagi kaum lelaki dan wanita. Lain halnya jika dijadikan perhiasan bagi kaum wanita, sehingga emas dan perak boleh dipakai oleh mereka.

2. Lelaki diharamkan memakai kain sutera. Jumhur ulama mengharamkan kaum lelaki duduk di atas hamparan kain sutera, karena berlandaskan kepada satu hadis yang mengatakan:

“Nabi (s.a.w) melarang kami (kaum lelaki) daripada memakai kain sutera yang nipis dan yang tebal, serta melarang kami daripada duduk di atasnya.”

Tetapi Imam Abu Hanifah membolehkan kaum lelaki duduk di atasnya. Beliau menyanggah pendapat jumhur ulama bahawa lafaz “نهى” tidak menunjukkan hukum haram secara pasti atau larangan tersebut ditujukan kepada gabungan antara memakainya dengan duduk di atasnya, bukan hanya ditujukan kepada duduk di atasnya semata. Adapun memegang kain sutera, memperjualbelikannya dan
memanfaatkannya maka itu tidaklah diharamkan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D054. MENINDIK TELINGA BAYI PEREMPUAN

MENINDIK TELINGA BAYI PEREMPUAN

A. HUKUM DAN HIKMAH MENINDIK

Menindik anggota tubuh selain telinga seperti hidung, lidah, pusar dan kelopak mata semua itu dihukumi haram secara mutlak, karena tindakan ekstream melubangi anggota-anggota tubuh itu tidak dianggap sebagai berhias yang di tolelir kecuali oleh segelintir kalangan saja. Beda halnya dengan apa yang dilakukan pada telinga, menggantungkan perhiasan di telinga merupakan perhiasan wanita.

Berkenaan tindakan menindik telinga, Mayoritas Ulama merumuskan bahwa praktek penindikan telinga bayi ini diperbolehkan, karena memang praktek ini telah dilakukan oleh para wanita di zaman Rasulullah Saw tanpa adanya pengingkaran dari Beliau

صحيح البخاري ـ م م (7/ 158)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَمَعَهُ بِلَالٌ فَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَجَعَلَتْ الْمَرْأَةُ تُلْقِي قُرْطَهَا

“bahwa Nabi Saw melakukan shalat ‘ied dua rakaat, beliau tidak mengerjakan shalat sebelum maupun sesudahnya,lalu Beliau menemui para wanita, sahabat Bilal menyertai Beliau, kemudian baginda Nabi memerintahkan mereka untuk bersedekah, hingga para wanita banyak yang melempar anting mereka.”(HR, al-Bukhori)

Dalam hadits ini Rasulullah tidak mengingkari ketika melihat para wanita yang memakai anting dan menjadikannya sebagai sedekah. Hal ini dipahami oleh para Ulama bahwa menindik telinga dan memakai perhiasan sebagai anting-anting bagi wanita hukumnya boleh .dalam hadits lain

Ibnu hajar al-Haitami dalam menyikapi riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan bahwa menindik telinga bayi hukumnya sunnah, sebagaimna berikut

تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 39 / ص 274)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّهُ عَدَّ مِنْ السُّنَّةِ فِي الصَّبِيِّ يَوْمَ السَّابِعِ أَنْ تُثْقَبَ آذَانُهُ

“dari ibnu ‘Abbas, bahwa beliaumenyebut termasuk dari kesunnahan (tindakan terhadap) bayi laki-laki di hari ketujuh kelahirannya adalah menindik telinganya”.

Beliau berkomentar; hadits yang disampaikan oleh ath-Thobraniy, dengan perawi yang terpercaya secara jelas menunjukkan bolehnya menindik bayi laki-laki, maka untuk bayi perempuan lebih utama.

& تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 39 / ص 274)

وَزَعَمَ أَنَّ تَأْخِيرَ الْبَيَانِ عَنْ وَقْتِ الْحَاجَةِ مُمْتَنِعٌ لَا يُجْدِي هُنَا ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ تَأْخِيرُ ذَلِكَ إلَّا لَوْ سُئِلَ عَنْ حُكْمِ التَّثْقِيبِ أَوْ رَأَى مَنْ يَفْعَلُهُ أَوْ بَلَغَهُ ذَلِكَ فَهَذَا هُوَ وَقْتُ الْحَاجَةِ ، وَأَمَّا شَيْءٌ وَقَعَ وَانْقَضَى وَلَمْ يَعْلَمْ هَلْ فُعِلَ بَعْدُ أَوْ لَا فَلَا حَاجَةَ مَاسَّةَ لِبَيَانِهِ ، نَعَمْ خَبَرُ الطَّبَرَانِيِّ بِسَنَدٍ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّهُ عَدَّ مِنْ السُّنَّةِ فِي الصَّبِيِّ يَوْمَ السَّابِعِ أَنْ تُثْقَبَ آذَانُهُ

Diantara para Ulama yang berpendapat bolehnya menindik bayi wanita adalah al-Imam Abu Hanifah dan al-Imam Ahmad Bin Hanbal. Adapun dari golongan syafi’iyyah adalah Imam az-Zarkasyi dan Imam ‘Ali Syibramulisi, kesemuanya mengatakan diperbolehkan menindik bayi perempuan, sedangkan untuk bayi laki-laki menurut mayoritas Ulama tidak diperbolehkan secara mutlak (hanya saja Syaikh Syihabuddin ar-Ramli memperbolehkannya dalam satu pendapatnya) , mereka memberikan ‘ilat mengenai tidak diperbolehkannya menindik telinga bagi laki-laki sebagai berikut;

@ Pertama;karena dalam hadits riwayat imam Bukhori yang menjadi dalil diatas hanya menceritakan tentang perempuan saja

@ Kedua, Pada dasarnya penindikan ini bukan merupakan perhiasan yang dibutuhkan oleh seorang bayi laki-laki

@ Ketiga, Proses penindikan adalah hal yang menyakitkan.

Pada dasarnya melakukan perbuatan yang berdampak sakit itu tidak diperbolehkan, namun akan diperbolehkan untuk para wanita sebab terdapat faktor hajat (kepentingan) yang berorientasi kemashlahatan, maka rasa sakit yang dirasakan si bayi ketika proses penindikan itu ditolelir oleh syariat. Dan memang kenyataannya rasa sakit itu tergolong ringan dan pada umumnya bisa ditanggung, proses kesembuhannya pun cepat, jelas tidak ada mafsadah bagi si-bayi dalam penindikan trsebut. Bagi kaum wanita, menindik telinga memang sudah menjadi perhiasan yang dibutuhkan sejak zaman dahulu hingga sekarang, disamping menyimpan kemashlahatan tersendiri bagi bayi wanita nantinya, karena ketika mereka telah dewasa dan menikah bisa menjadikan mereka lebih menarik ketika memakai anting-anting di telinga, sehingga bisa menjadikan sang suami nantinya lebih sayang dan cinta kepada mereka. Selain itu, mengingat adanya keterangan bahwa diperbolehkan bagi seorang wali perempuan untuk menggunakan hartanya demi kepentingan putrinya dalam berhias, baik berupa pakaian atau lainnya guna menarik calon suaminya untuk segera melamarnya.

Beberapa faktor diatas tidak ditemukan pada bayi laki-laki sehingga hukum menindik telinga haram jika dilakukan pada bayi laki-laki.

Referensi:

@ Asnal Mathalib

تنبيه ) تثقيب أذن الصبية لتعليق الحلق جائز على الراجح خلافا للغزالي قال شيخنا ما كتبه الوالد هناهو الأوجه وإن وافق الغزالي على الحرمة في فتاويه

@ Mughny Muhtaj jilid 4 hal 296 cet. Dar Fikr

فائدة قال في الإحياء لا أدري رخصة في تثقيب أذن الصبية لأجل تعليق حلي الذهب أي أو نحوه فيها ، فإن ذلك جرح مؤلم ، ومثله موجب للقصاص ، فلا يجوز إلا لحاجة مهمة كالفصد والحجامة والختان .والتزين بالحلي غير مهم ، فهذا وإن كان معتادا فهو حرام ، والمنع منه واجب، والاستئجار عليه غير صحيح ، والأجرة المأخوذة عليه حرام ا هـ

فإن قيل في البخاري فجعلن يلقين من أقراطهن وخواتيمهن في حجر بلال ؟

أجيب بأن النبي صلى الله عليه وسلم أقر على التعليق لا على التثقيب ، وعند الحنابلة أن تثقيب آذان البنات للزينة جائز ويكره للصبيان ، وعند الحنفية لا بأس بتثقيب آذان الصبية لأنهم كانوا يفعلونه في الجاهلية ولم ينكر عليهم النبي صلى الله عليه وسلم .قال الحسن بن إسحاق بن راهويه ولد أبو إسحاق مثقوب الأذنين فمضى جدي إلى الفضل بن موسى فسأله عن ذلك فقال يكون ابنك رأسا إما في الخير وإما في الشر

@ Tuhfatul Muhtaj jilid 9 hal 228 Cet. dar Fikr

( فلو مات ) المولى ( بجائز من هذا ) الذي هو قطع السلعة أو الفصد أو الحجامة ، ومثلها ما في معناها ( فلا ضمان ) بدية ولا كفارة ( في الأصح ) ؛ لئلا يمتنع من ذلك فيتضرر المولى ، نعم صرح الغزالي وغيره بحرمة تثقيب أذن الصبي أو الصبية ؛ لأنه إيلام لم تدع إليه حاجة ، قال الغزالي إلا أن يثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم تبلغنا

وكأنه أشار بذلك إلى رد ما قيل مما جرى عليه قاضي خان من الحنفية في فتاويه أنه لا بأس به ؛ لأنهم كانوا يفعلونه جاهلية ولم ينكر عليهم صلى الله عليه وسلم وفي الرعاية للحنابلة يجوز في الصبية لغرض الزينة ويكره في الصبي وأما ما في الحديث الصحيح { أن النساء أخذن

ما في آذانهن وألقينه في حجر بلال ، والنبي صلى الله عليه وسلم يراهن } فليس فيه دليل للجواز ؛لأن التثقيب سبق قبل ذلك فلم يلزم من سكوته عليه حله ، وزعم أن تأخير البيان عن وقت الحاجة ممتنع لا يجدي هنا ؛ لأنه ليس فيه تأخير ذلك إلا لو سئل عن حكم التثقيب أو رأى من يفعله أو بلغه ذلك فهذا هو وقت الحاجة ، وأما شيء وقع وانقضى ولم يعلم هل فعل بعد أو لا فلا حاجة ماسة لبيانه ، نعم خبر الطبراني بسند رجاله ثقات عن ابن عباس : أنه عد من السنة في الصبي يوم السابع أن تثقب آذانه صريح في الجواز في الصبي، فالصبية أولى ؛ لأن قول الصحابي من السنة كذا في حكم المرفوع وبهذا يتأيد ما ذكر عن قاضي خان والرعاية من حيث مطلق الحل ، ثم رأيت الزركشي استدل للجواز بما في حديث أم زرع في الصحيح ، وهو { قوله صلى الله عليه وسلم لعائشة : كنت لك كأبي زرع لأم زرع } مع قولها : أناس أي : ملأ من حلي أذني انتهى

وفيه نظر يتلقى مما ذكرناه في حديث النساء ؛ إذ بفرض دلالة الحديث على أن أذنيها كانتا مخرقتين وأنه صلى الله عليه وسلم ملأهما حليا هو محتمل إذ لم يدر من خرقهما ، وقد تقرر أن وجود الحلي فيهما لا يدل على حل ذلك التخريق السابق ، ويظهر في خرق الأنف بحلقة تعمل فيه من فضة أو ذهب أنه حرام مطلقا ؛ لأنه لا زينة في ذلك يغتفر لأجلها إلا عند فرقة قليلة ولا عبرة بها مع العرف العام بخلاف ما في الآذان فإنه زينة للنساء في كل محل

والحاصل أن الذي يتمشى على القواعد حرمة ذلك في الصبي مطلقا ؛ لأنه لا حاجة فيه يغتفر لأجلها ذلك التعذيب ، ولا نظر لما يتوهم أنه زينة في حقه ما دام صغيرا ؛ لأن الحق أنه لا زينة فيه بالنسبة إليه وبفرضه هو عرف خاص ، وهو لا يعتد به لا في الصبية لما عرف أنه زينة مطلوبة في حقهن قديما وحديثا ، وقد جوز صلى الله عليه وسلم اللعب لهن للمصلحة ، فكذا هذا ، وأيضا جوز الأئمة لوليها صرف مالها فيما يتعلق بزينتها لبسا وغيره مما يدعو الأزواج إلى خطبتها وإن ترتب عليه فوات مال لا في مقابل تقديما لمصلحتهاالمذكورة ، فكذا هنا ينبغي أن يغتفر هذا التعذيب ؛ لأجل ذلك على أنه تعذيب سهل محتمل وتبرأ منه سريعا ، فلم يكن في تجويزه لتلك المصلحة مفسدة بوجه فتأمل ذلك فإنه مهم

@ Ihya `Ulumiddin dan ittihaf Sadatil Muttaqin jilid 8 hal 128 Cet. Dar Kutub Ilmiyah

ولا أرى رخصة في تثقيب أذن الصبية لأجل تعليق حلق الذهب فيها فإن هذا جرح مؤلم ومثله موجب للقصاص فلا يجوز إلا لحاجة مهمة كالفصد والحجامة والختان والتزين بالحلق غير مهم بل في التقريط بتعليقه على الأذن وفي المخانق والأسورة كفاية عنه

فهذا وإن كان معتادا فهو حرام والمنع منه واجب والاستئجار عليه غير صحيح والأجرة المأخوذة عليه حرام إلا أن يثبت من جهة النقل فيه رخصة ولم يبلغنا إلى الآن فيه رخصة

(قوله فهو حرام والمنع منه واجب والاستئجار عليه غير صحيح والأجرة المأخوذة عليه حرام إلا أن يثبت من جهة النقل فيه رخصة ولم يبلغنا إلى الآن فيه رخصة) و المشهور ان السيدة سارة اماسحاق عليه السلام لما غضبت على هاجر ام اسماعليل عليه السلام حلفت لتقطعن من اطرافها فتثقبت اذنها وانفها وخفضتها لأجل اليمين فبقي ذلك سنة ولم يثبت ان النبي صلى الله عليه وسلم نهى عنه فهذا وجه الرخصة

@ Nihayatuz Zain hal 385 Cet. Dar Fikr

وحرم تثقيب أذن ) قال الزيادي والأوجه أن ثقب أذن الصغيرة لتعليق الحلق حرام لأنه لم تدع إليه حاجة وغرض الزينة لا يجوز بمثل هذا التعذيب هذا ما قاله الغزالي في الإحياء وأفتى بذلك الشيخ الرملي ورجح في موضع آخر الجواز وهو المعتمد كذا في تحفة الحبيب أما خرم أذن الصبي فحرم قطعا كما يحرم خرم الأنف ليجعل فيه حلقة من ذهب أو نحوه ولا فرق في ذلك بين الذكر والأنثى ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم

@ Hasyiah Bujairimy `ala Khatib jilid 2 hal 260 Cet. Dar Fikr

قال الشريف الرحماني : وخرق الأنف لما يجعل فيه من نحو حلقة نقد حرام مطلقا ، ولا عبرة باعتياد ذلك لبعض الناس في نسائهم وأذن الصبي كذلك ، ولا نظر لزينته بذلك دون الأنثى ، فيجوز خرق أذنها على المعتمد من إفتاءين للرملي متناقضين . وعبارة الرملي في شرح الزبد : وأما تثقيب آذان الصبية لتعليق الحلق فحرام لأنه جرح لم تدع إليه حاجة

صرح به الغزالي في الإحياء وبالغ فيه مبالغة شديدة ، قال : إلا أن ثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم يبلغنا . وقوله : فحرام ضعيف ، وفي الرعاية في مذهب الإمام أحمد : يجوز تثقيب آذانالصبية للتزيين ويكره ثقب أذن الصبي اه بحروفه

@ Ghayatul Bayan Syarah Zubad ibnu Ruslan hal 40 Cet. Dar Ma`rifah

وأما تثقيب آذان الصبية لتعليق الحلق فحرام لأنه جرح لم تدع إليه حاجة صرح به الغزالى في الإحياء وبالغ فيه مبالغة شديدة قال إلا أن يثبت فيه من جهة النقل رخصة ولم تبلغنا وفي الرعاية في مذهب أحمد يجوزتثقيب آذان الصبية للزينة ويكره ثقب آذان الصبي وفي فتاوى قاضيخان من الحنفية أنه لا بأس بتثقيب آذان الصبية لأنهم كانوا يفعلونه في الجاهلية ولم ينكر عليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم

Wallahu a’lamu Bisshowab..

Kategori
Uncategorized

KAJIAN KITAB AL-HIKAM PP. MUBA

Ngaji Hikam RKH. Moh. Tohir Abdul Hamid

Silahkan buka Link berikut :

Edisi Rabu 3 Juli 2019

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 76 : DIHARAMKAN MEMAKAI KAIN SUTERA BAGI LAKI-LAKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 76 :

عَنْ أَبِي عَامِرٍ اَلْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الحِر وَالْحَرِيرَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ

Dari Abu Amir al-Asy’ari Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya akan ada di antara umatku kaum yang menghalalkan kemaluan dan sutra.” Riwayat Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menganugerahkan pakaian kepada hamba-Nya, lalu dimudahkan-
Nya untuk memperolehinya. Allah (s.w.t) berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا (٢٦)

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk
menutupi auratmu dan pakaian yang indah sebagai perhiasanmu…” (Surah al-A’raf: 26)

Pakaian itu ada dua jenis. Pertama, pakaian yang bersifat konkrit, seperti pakaian yang lazim kita pakai. Jenis ini ada dua jenis, yaitu pakaian halal dan pakaian haram. Pakaian halal seperti pakaian yang dibuat dari bahan kapas atau bahan yang lainnya yang halal. Sedangkan pakaian haram seperti pakaian yang dibuat dari sutera dan emas, khusus bagi kaum lelaki tanpa ada udzur untuk memakainya.

Kedua, jenis pakaian yang bersifat abstrak, yaitu menghiasi diri dengan akhlak
mulia dan mengerjakan perintah Allah (s.w.t) Allah (s.w.t) berfirman:

ولباس التقوى ذلك خير (٢٦)

“… Dan pakaian takwa itulah yang paling baik…” (Surah al-A’raf: 26)

Salah seorang penyair berkata:

“Jika akhlak seseorang tidak dinodai sifat tercela maka seluruh pakaian yang dipakainya indah belaka”.

Seorang bijak pandai berpesan:
“Jika seseorang tidak menghiasi dirinya dengan takwa sebagai pakaiannya, maka bererti dia sama dengan bertelanjang, sekalipun dia berpakaian secara dzahir.”

FIQH HADITS :

1. Lelaki haram memakai kain sutera, karena pakaian yang dibuat dari kain sutera merupakan pakaian miwah dan perhiasan yang hanya layak dipakai oleh kaum wanita atau pakaian sutera menunjukkan penampilan yang bongkak dan sombong atau ia dilarang sebagai perkara yang dilarang oleh Islam.

2. Haram berzina dan tidak boleh menghalalkan kemaluan wanita kecuali
setelah kawin dengannya.

3. Barang siapa yang menghalalkan perkara yang diharamkan sebagaimana yang telah dinyatakan oleh agama dengan tegas, maka sesungguhnya orang itu dianggap telah keluar dari agama dan tidak termasuk umat Islam lagi sehinggalah dia bertaubat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 75 : CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO’A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 75 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memohon hujan, lalu beliau memberi isyarat dengan punggung kedua telapak tangannya ke langit. Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Dalam berdo’a disunatkan memohon agar malapetaka dijauhkan seperti memohon agar musim kemarau dihilangkan dan lain-lain sebagainya. Hendaklah seseorang mengangkat kedua tangan dan menjadikan kedua telapak tangannya menghadap ke arah langit sebagai isyarat, semoga keadaan hidup yang keras dan gersang berubah menjadi keadaan yang subur dan makmur.

Dalam berdo’a memohon kebaikan, hendaklah bagian dalam kedua
telapak tangan diarahkan ke langit. Hal ini diperkuatkan lagi dengan apa yang
disabdakan oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis yang lain:

إذا سألتم الله فاسألوه ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها

“Jika kamu memohon sesuatu kepada Allah, maka pohonlah kepada-Nya dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan kamu; dan janganlah kamu meminta kepada-Nya dengan bagian luar telapak tangan kamu.

FIQH HADITS :

Menjelaskan cara mengangkat kedua tangan ketika berdo’a memohon agar
malapetaka dihilangkan.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D053. APAKAH WAJIB MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TAJDWID?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Membaca Al Qur’an adalah amalan yang agung dan banyak keutamaannya. Dalam membaca Al Qur’an dikenal ilmu tajwid. Bagaimanakah hukum ilmu tajwid ini? Apakah wajib membaca Al Qur’an dengan menerapkan kaidah-kaidah tajwid?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Definisi ilmu tajwid

Tajwid secara bahasa adalah mashdar dari jawwada-yujawwidu, yang artinya membaguskan. Sedangkan secara istilah, Imam Ibnul Jazari menjelaskan:

الإتيان بالقراءة مجودة بالألفاظ بريئة من الرداءة في النطق ومعناه انتهاء الغاية في التصحيح وبلوغ النهاية في التحسين

“tajwid adalah membaca dengan membaguskan pelafalannya, yang terhindar dari keburukan pelafalan dan keburukan maknanya, serta membaca dengan maksimal tingkat kebenarannya dan kebagusannya” (An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/210).

Beliau juga menjelaskan hakekat dari ilmu tajwid,

فالتجويد هو حلية التلاوة ، وزينة القراءة ، وهو إعطاء الحروف حقوقها وترتيبها مراتبها ، ورد الحرف إلى مخرجه وأصله ، وإلحاقه بنظيره وتصحيح لفظه وتلطيف النطق به على حال صيغته ، وكمال هيئته ; من غير إسراف ولا تعسف ولا إفراط ولا تكلف

“maka tajwid itu merupakan penghias bacaan, yaitu dengan memberikan hak-haknya huruf-huruf, urutan dan tingkatan yang benar kepada setiap huruf, dan mengembalikan setiap huruf pada tempat keluarnya dan pada asalnya, dan menyesuaikan huruf-huruf tersebut pada setiap keadaannya, dan membenarkan lafadznya dan memperindah pelafalannya pada setiap konteks(hubungan kalimat, keadaan), menyempurnakan bentuknya. tanpa berlebihan, dan tanpa meremehkan” (An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/212).

Hukum ilmu tajwid

Para ulama pernah ditanya, “apakah seorang Muslim boleh membaca Al Qur’an tanpa berpegangan pada kaidah-kaidah tajwid?”. Para ulama menjawab:

نعم يجوز ذلك إذا لم يلحن فيه فإن لحن فيه فالواجب عليه تعديل اللحن وأما التجويد فهو واجب، التجويد تحسين للفظ فقط وتحسين اللفظ بالقرآن لا شك أنه خير وأنه أتم في حسن القراءة بحيث نقول بل إن القرآن نزل على سبعة أحرف حتى كان كل من الناس يقرؤه بلغته إلا أنه بعد أن خيف النزاع والشقاق بين المسلمين وحد المسلمون في القراءة على لغة قريش في زمن أمير المؤمنين عثمان بن عفان رضي الله عنه وهذا من فضائله ومناقبه وحسن رعايته في خلافته أن جمع الناس على حرف واحد لئلا يحصل النزاع والخلاصة أن القراءة بالتجويد فهي واجبة ،ونقول إنما الواجب إقامة الحركات والنطق بالحروف على ما هي عليه فلا يبدل الراء لاما مثلا ولا الذال زاياً وما أشبه ذلك هذا هو الممنوع

“Ya, itu dibolehkan. Selama tidak terjadi lahn (kesalahan bacaan) di dalamnya. Jika terjadi lahn(kesalahan bacaan) maka wajib untuk memperbaiki lahn-nya(kesalahan bacaannya) tersebut. Adapun tajwid, maka hukumnya wajib. Tajwid itu untuk memperbagus pelafalan saja, dan untuk memperbagus bacaan Al Qur’an. Tidak diragukan bahwa tajwid itu baik, dan lebih sempurna dalam membaca Al Qur’an.

Yaitu bahwasanya Al Qur’an diturunkan dalam 7 huruf, hingga setiap manusia membacanya dengan gaya bahasa mereka sendiri. Sampai suatu ketika, dikhawatirkan terjadi perselisihan dan persengketaan di antara kaum Muslimin, maka disatukanlah kaum Muslimin dalam satu qira’ah dengan gaya bahasa Qura’isy di zaman Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu’anhu. Dan ini merupakan salah satu keutamaan beliau (Utsman), dan jasa beliau, serta bukti perhatian besar beliau dalam masa kekhalifahannya untuk mempersatukan umat dalam satu qira’ah. Agar tidak terjadi perselisihan di tengah umat.

Kesimpulannya, membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah wajib. Dan yang wajib adalah membaca harakat dan mengucapkan huruf sesuai yang sebagaimana mestinya. Misalnya, tidak mengganti huruf ra’ (ر) dengan lam (ل), atau huruf dzal (ذ) diganti zay (ز), atau semisal itu yang merupakan perkara yang terlarang”. (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 5/2, Asy Syamilah).

Dengan demikian, apa yang disebutkan sebagian ulama qiraat, bahwa wajib membaca Al Qur’an dengan tajwid, yaitu semisal wajib membaca dengan ikhfa, idgham, izhar dan lainnya, adalah hal yang sangat tepat . Dan ilmu tajwid adalah wajib dalam kadar yang bisa menghindari seseorang dari kesalahan makna dalam bacaannya. Terdapat penjelasan yang bagus dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah :

ذَهَبَ الْمُتَأَخِّرُونَ إِلَى التَّفْصِيل بَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ شَرْعِيٌّ) مِنْ مَسَائِل التَّجْوِيدِ، وَهُوَ مَا يُؤَدِّي تَرْكُهُ إِلَى تَغْيِيرِ الْمَبْنَى أَوْ فَسَادِ الْمَعْنَى، وَبَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ صِنَاعِيٌّ) أَيْ أَوْجَبَهُ أَهْل ذَلِكَ الْعِلْمِ لِتَمَامِ إِتْقَانِ الْقِرَاءَةِ، وَهُوَ مَا ذَكَرَهُ الْعُلَمَاءُ فِي كُتُبِ التَّجْوِيدِ مِنْ مَسَائِل لَيْسَتْ كَذَلِكَ، كَالإِْدْغَامِ وَالإِْخْفَاءِ إِلَخْ. فَهَذَا النَّوْعُ لاَ يَأْثَمُ تَارِكُهُ عِنْدَهُمْ.
قَال الشَّيْخُ عَلِيٌّ الْقَارِيُّ بَعْدَ بَيَانِهِ أَنَّ مَخَارِجَ الْحُرُوفِ وَصِفَاتِهَا، وَمُتَعَلِّقَاتِهَا مُعْتَبَرَةٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ: فَيَنْبَغِي أَنْ تُرَاعَى جَمِيعُ قَوَاعِدِهِمْ وُجُوبًا فِيمَا يَتَغَيَّرُ بِهِ الْمَبْنَى وَيَفْسُدُ الْمَعْنَى، وَاسْتِحْبَابًا فِيمَا يَحْسُنُ بِهِ اللَّفْظُ وَيُسْتَحْسَنُ بِهِ النُّطْقُ حَال الأَْدَاءِ

“para ulama muta’akhirin merinci antara wajib syar’i dengan wajib shina’i dalam masalah tajwid. Wajib syar’i (kewajiban yang dituntut oleh syariat) adalah yang jika meninggalkannya dapat menjerumuskan pada perubahan struktur kalimat atau makna yang rusak. Dan wajib shina’i adalah hal-hal yang diwajibkan para ulama qiraat untuk menyempurnakan kebagusan bacaan.

Maka apa yang disebutkan pada ulama qiraat dalam kitab-kitab ilmu tajwid mengenai wajibnya berbagai hukum tajwid, bukanlah demikian memahaminya. Seperti idgham, ikhfa’, dan seterusnya, ini adalah hal-hal yang tidak berdosa jika meninggalkannya menurut mereka.

Asy Syaikh Ali Al Qari setelah beliau menjelaskan bahwa makharijul huruf berserta sifat-sifat dan hal-hal yang terkait dengannya itu adalah hal yang berpengaruh dalam bahasa arab, beliau berkata: ‘hendaknya setiap orang memperhatikan semua kaidah-kaidah makharijul huruf ini. Wajib hukumnya dalam kadar yang bisa menyebabkan perubahan struktur kalimat dan kerusakan makna. Sunnah hukumnya dalam kadar yang bisa memperbagus pelafalan dan pengucapan ketika membacanya’” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 10/179).

Makna ayat “bacalah secara tartil”

Sebagian orang yang menganggap wajibnya menerapkan kaidah tajwid secara mutlak, berdalil dengan ayat:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا

“dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS. Al Muzammil: 4).

Tartil di sini dimaknai dengan hukum-hukum tajwid. Kita simak penjelasan para ulama tafsir mengenai ayat ini.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: {وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا} أَيِ: اقْرَأْهُ عَلَى تَمَهُّلٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ عَوْنًا عَلَى فَهْمِ الْقُرْآنِ وَتَدَبُّرِهِ

“dan firman-Nya: ‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, maksudnya bacalah dengan pelan karena itu bisa membantu untuk memahaminya dan men-tadabburi-nya” (Tafsir Ibni Katsir, 8/250).

Imam Ath Thabari juga menjelaskan:

وقوله: (وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا) يقول جلّ وعزّ: وبين القرآن إذا قرأته تبيينا، وترسل فيه ترسلا

“dan firman-Nya: ‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, maksudnya Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan: perjelaslah jika engkau membaca Al Qur’an dan bacalah dengan tarassul(pelan dan hati-hati)” (Tafsir Ath Thabari, 23/680).

As Sa’di menjelaskan:

{وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا} فإن ترتيل القرآن به يحصل التدبر والتفكر، وتحريك القلوب به، والتعبد بآياته، والتهيؤ والاستعداد التام له

“‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, karena membaca dengan tartil itu adalah membaca yang disertai tadabbur dan tafakkur, hati bisa tergerak karenanya, menghamba dengan ayat-ayat-Nya, dan tercipta kewaspadaan dan kesiapan diri yang sempurna kepadanya” (Taisir Karimirrahman, 892).

Demikian yang dijelaskan para ulama ahli tafsir mengenai makna tartil.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lamu bis shawab.

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 74 : ANJURAN MENGELUARKAN HEWAN TERNAK KETIKA SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 74 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( خَرَجَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَسْتَسْقِي, فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً قَوَائِمَهَا إِلَى السَّمَاءِ تَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ, لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ, فَقَالَ: ارْجِعُوا لَقَدْ سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Nabi Sulaiman pernah keluar untuk memohon hujan, lalu beliau melihat seekor semut terlentang di atas punggungnya dengan kaki-kakinya terangkat ke langit seraya berkata: “Ya Allah kami adalah salah satu makhluk-Mu yang bukan tidak membutuhkan siraman airmu. Maka Nabi Sulaiman berkata: Pulanglah, kamu benar-benar akan diturunkan hujan karena doa makhluk selain kamu.”

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menciptakan hewan dan binatang dengan membekalinya fitrah
untuk selalu memohon perlindungan kepada-Nya dan mereka tahu bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah (s.w.t) Yang Maha Suci yang ada di atas Arasy-
Nya, sebagaimana yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang dapat menggambarkan-Nya dan tanpa ada yang dapat menyerupakan-Nya. Allah (s.w.t) berfirman:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ (٤٤)

“… Dan tak ada suatu (makhluk) pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya…” (Surah al-Isra: 44)

Akan tetapi, ada sekumpulan hewan berwujud manusia menggambarkan Allah
yang menciptakan mereka dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menggambarkan
pengertian fawqiyyah sebagai pengertian alam nyata yang memiliki batasan ruang
serta tempat tertentu. Pengertian seperti itu pada hakikatnya tidak memahami
hakikat Allah yang benar di samping keluar dari pemahaman yang benar dan menyimpang dari apa yang disifatkan oleh Allah (s.w.t) terhadap zat-Nya di dalam Kitab-Nya dan oleh Rasul-Nya. Tidak ada suatu nash pun yang menggambarkan Tuhan Yang Maha Pencipta dengan gambaran yang mempunyai batasan, arah dan rupa Allah (s.w.t) sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١١)

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat…” (Surah al-Syura: 11)

Dalam ayat yang lain Allah (s.w.t) berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ (٤)

“… Dan Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada…” (Surah al-Hadid: 4)

Dengan demikian, tidak ada ta’til (meniadakah sifat-sifat Allah), ta’wil, tasybih dan tamtsil melainkan kita menyifatkan Allah (s.w.t) sesuai dengan apa yang Dia sifatkan untuk zat-Nya dan sesuai dengan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan berangkat menuju lapangan untuk mengerjakan sholat istisqa’.

2. Istisqa’ juga disyariatkan bagi umat-umat terdahulu.

3. Dianjurkan mengeluarkan semua hewan ternak ketika beristisqa’, karena hewan juga mempunyai tabiat yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai Allah. Ia berzikir dan berdo’a kepada-Nya dengan
bahasanya sendiri yang hanya difahami oleh Allah (s.w.t), meskipun manusia tidak memahaminya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M107. HUKUM MERENOVASI BANGUNAN WAQAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau bahas soal waqof. Didesaku mesjidnya direnovasi (di perbaharui), lantai tegelnya diganti keramik padahal masih bisa dipakai.

Bolehkah mengganti waqofan seperti diatas yang masih bisa dipakai dengan yang baru ?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Dalam hal ini ulama’ berbeda pendapat :

تنبيه : لا بجوز تغيير شئ من عين الوقف و لو لارفع منها فان شرط الواقف العمل بالمصلحة اتبع شرطه ، و قال السبكي يجوز تغيير الوقف بشروط ثلاثة ان لا يغير مسماه ، و ان يكون مصلحة له كزيادة ريعه ، و ان لا تزال عبنه فلا يضر نقلها من جانب الى اخر

Tidak boleh merubah sedikitpun dari bangunan wakaf meskipun untuk yang lebih baik. Apabila pihak pewakaf meminta syarat perbaikan, maka harus dipenuhi.
Menurut Assubki boleh merubah bentuk wakaf dgn 3 syarat, yaitu :
1. Tidak merubah status nama
2. Untuk kemaslahatan wakaf
3. Tidak menghilangkan bangunan fisiknya, sehingga jika sekedar menggesernya ke posisi lain di area yg sama diperbolehkan.
Hasyiyah al-Qulyubi juz 3 hal 108.

Kalau memang diperlukan boleh, dengan syarat ada izin dari nadzir (pengelola harta waqof) atau hakim.

Menurut Imam ibn Abidin dari madzhab Hanafi boleh apabila yang membangun adalah penduduk setempat dengan dana diambil dari harta mereka sendiri
bukan dari kas masjid kecuali ada perintah dari Qadhi (pemerintah)

( وَيَجُوزُ تَجْدِيدُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ لِمَصْلَحَةٍ ) لِحَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا { لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ فَهُدِمَ ، فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ ، وَأَلْزَقْتُهُ بِالْأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا، وَبَابًا غَرْبِيًّا ، فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إبْرَاهِيمَ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Kisyaaf al-Qinaa’ 14/489

ويجوز توسيع المسجد وتغيير بنائه بنحو رفعه للحاجة بشرط إذن الناظر من جهة الواقف ، ثم الحاكم الأهل ، فإن لم يوجد وكان الموسع ذا عدالة ورآه مصلحة بحيث يغلب على الظن أنه لو كان الواقف حياً لرضي به جاز ، ولا يحتاج إلى إذن ورثة الواقف إذا لم يشرط لهم النظر ،

Bughyah al-Mustarsyidiin I/131

ولا ينقض المسجد إلا إذا خيف على نقضه فينقض يحفظ أو يعمر به مسجد آخر إن رآه الحاكم

Fath al-Mu’in III/181

[ فَرْعٌ ] أَرَادَ أَهْلُ الْمَحَلَّةِ نَقْضَ الْمَسْجِدِ وَبِنَاءَهُ أَحْكَمَ مِنْ الْأَوَّلِ أَنَّ الْبَانِيَ مِنْ أَهْلِ الْمَحَلَّةِ لَهُمْ ذَلِكَ وَإِلَّا لَا بَزَّازِيَّةٌ .

الشَّرْحُ

( قَوْلُهُ : أَنَّ الْبَانِيَ إلَخْ ) الْمُتَبَادَرُ مِنْ الْعِبَارَةِ أَنَّ الْمُرَادَ بَانِي الْمَسْجِدِ أَوَّلًا ، لَكِنَّ الْمُنَاسِبَ أَنْ يُرَادَ مُرِيدُ الْبِنَاءِ الْآنَ وَفِي ط عَنْ الْهِنْدِيَّةِ : مَسْجِدٌ مَبْنِيٌّ أَرَادَ رَجُلٌ أَنْ يَنْقُضَهُوَيَبْنِيَهُ أَحْكَمَ لَيْسَ لَهُ ذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَا وِلَايَةَ لَهُ مُضْمَرَاتٌ إلَّا أَنْ يَخَافَ أَنْ يَنْهَدِمَ ، إنْ لَمْ يُهْدَمْ تَتَارْخَانِيَّةٌ وَتَأْوِيلُهُ إنْ لَمْ يَكُنْ الْبَانِي مِنْ أَهْلِ تِلْكَ الْمَحَلَّةِ ، وَأَمَّا أَهْلُهَا فَلَهُمْ أَنْ يَهْدِمُوهُ وَيُجَدِّدُوا بِنَاءَهُ وَيَفْرِشُوا الْحَصِيرَ ، وَيُعَلِّقُوا الْقَنَادِيلَ ، لَكِنْ مِنْ مَالِهِمْ لَا مِنْ مَالِ الْمَسْجِدِ إلَّا بِأَمْرِ الْقَاضِي

Radd al-Muhtaar 17/224

Menurut Syafi’iyah mengganti barang waqof dengan yang lain, tidak boleh MUTHLAQAN.apalagi masih layak untuk digunakan.

Ta’bir Tuhfatul Muhtaj :

اسْتِبْدَالَ جُزْءِ وَقْفٍ بِجُزْءٍ آخَرَ وَقْفٍ وَهُوَ مُمْتَنِعٌ مُطْلَقًا

“mengganti juz/bagian waqaf dengan juz waqof yg lain, adalah dilarang secara muthlaq”

Ta’bir Nihayatuz Zain :

وَلَا يجوز استبدال الْمَوْقُوف عندنَا وَإِن خرب
“menurut kami (Syafi’iyah) tidak boleh mengganti barang waqaf sekalipun telah roboh”

merenovasi masjid menurut imam Ibn Ujail,Syaikh Abdullah Balhaj dan imam Abu Syakil d perbolehkn scara muthlaq, sedangkan menurut imam Ibn al Munir di perbolehkan dengan alasan menjga dari hinaan(fath al baariy libn Hajar 2/187 al nash alwaarid fi hukmi tajdid al masaajid hlm 13 – 14)

KESIMPULAN :

Dari ibaroh2 diatas dapat diambil pelajaran bahwasanya waqof itu secara asal tidak boleh diganti, ditukar, dijual dll tetapi jika orang yang memberi wakaf / pengelola wakaf /hakim telah mengizinkan maka hukumnya boleh.
Yang perlu digaris bawahi
dalam masalah ini adalah faktor keuntungan dari pewakaf, karena hakekatnya pewakaf mewakafkan sesuatu adalah supaya pahala dapat mengalir sampai ia dialam qubur (sebagai jariahnya).Jikalau sampai diganti, ditukar maka kemanfaatan itu bisa hilang. Karena pahala akan didapat ketika sesuatu yang diberikan itu masih dipakai.
Ya…meski ada perkhilafan dalam masalah pahala ini.

Wallahu A’lamu Bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 73 : DO’A RASULULLAH DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 73 :

وَعَنْ سَعْدٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَعَا فِي اَلِاسْتِسْقَاءِ: ( اَللَّهُمَّ جَلِّلْنَا سَحَابًا, كَثِيفًا, قَصِيفًا, دَلُوقًا, ضَحُوكًا, تُمْطِرُنَا مِنْهُ رَذَاذًا, قِطْقِطًا, سَجْلًا, يَا ذَا الجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) رَوَاهُ أَبُو عَوَانَةَ فِي صَحِيحِهِ

Dari Sa’ad Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdoa sewaktu memohon hujan: “Ya Allah ratakanlah bagi kami awan yang tebal, berhalilintar, yang deras, berkilat, yang menghujani kami dengan rintik-rintik, butir-butir kecil yang banyak siramannya, wahai Dzat yang Maha Agung dan Mulia.” Riwayat Abu Awanah dalam kitab shahihnya.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) dianugerahi jawami’ al-kalim dan semua do’a yang dibaca ketika
beristisqa’ merupakan do’a yang paling fasih dari segi bahasa dan memiliki nilai
kesastraan yang paling tinggi. Di dalamnya terdapat ungkapan tadharru’, memohon kepada Allah agar rahmat-Nya tetap dilestarikan, sedangkan bahaya
yang terkandung di dalamnya dihilangkan. Ia turut memuatkan etika ketika
memohon kepada-Nya melalui sabdanya: “يا ذا الجلال والاكرام “ yang bermaksud:
(Wahai Tuhan yang memiliki kekayaan secara mutlak dan memiliki anugerah yang sempurna, lestarikanlah anugerah-Mu, dan lenyapkanlah malapetaka dari kami).

Pada suatu hari Nabi (s.a.w) bersua dengan seorang lelaki yang sedang berdo’a di dalam sholatnya seraya membaca: “يا ذا الجلال والاكرام” “Wahai Tuhan Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” Mendengar itu, baginda bersabda kepada lelaki itu:
“Sungguhnya do’amu itu telah dikabulkan oleh Allah.”

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca do’a istisqa’ dengan salah satu dari do’a-do’a yang
dinukil dari Rasulullah (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 72 : DO’A KETIKA TURUN HUJAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 72 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَأَى المَطَرَ قَالَ: ( اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا ) أَخْرَجَاهُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila melihat hujan, beliau berdo’a: “Ya Allah curahkanlah hujan yang bermanfaat.” Dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) amat pengasih lagi penyayang. Jika melihat hujan turun dengan lebat, baginda segera berdo’a kepada Allah memohon agar hujan tersebut dijadikan sebagai hujan yang bermanfaat dan kaum muslimin terhindar daripada hujan yang membahayakan seperti hujan yang menumbangkan pepohonan dan meruntuhkan rumah-rumah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.” Oleh itu, do’a ini sunnah dibaca ketika hujan turun.

FIQH HADITS :

Disunatkan berdo’a ketika hujan turun.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..