logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 104 : HUKUM SUAMI MEMANDIKAN ISTRI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 104 :

عن عا ئشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عيه وسلم قال : “لَوْ متِّ قَبْلِي فَغَسَّلْتُكِ” الحديث. رواه أحمد وابن ماجة وصححه ابن حبان

Dari Aisyah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) bersabda kepadanya: “Jika kamu
meninggal dunia sebelumku, niscaya aku yang akan memandikanmu,…” hingga akhir hadis. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibn Majah, dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Menurut kaidah asal, sesuatu itu ditetapkan seperti keadaannya semula. Oleh itu, seorang suami dibolehkan memandikan jenazah isterinya. Inilah menurut pendapat jumhur ulama karena berlandaskan kepada kekalnya hukum perkawinan di samping berdasarkan kepada sabda Nabi (s.a.w) kepada isterinya, Aisyah (r.a): “Seandainya kamu mati sebelumku, niscaya aku yang akan memandikan (jenazah)mu. Selain itu, pendapat jumhur ulama ini turut didukung oleh wasiat Fatimah (r.a) yang meminta agar Ali (r.a), suaminya memandikannya. Dalil yang lain pula adalah berdasarkan wasiat Khalifah Abu Bakar (r.a) kepada isterinya, Asma’ binti ‘Umais yang meminta agar istrinya memandikan jenazahnya. Asma’ meminta bantuan Abdul Rahman ibn Auf agar membantunya melakukan wasiat tersebut memandang keadaan tubuhnya ketika itu yang lemah dan ternyata tidak ada seorang pun yang memprotesnya.

Dari uraian di atas dapat diambil satu kesimpulan bahwa salah seorang di
antara suami isteri apabila memandikan yang lain merupakan tradisi yang telah dikenal sejak zaman Rasulullah (s.a.w) dan demikian pula setelah baginda wafat.
Akan tetapi, hukum jenazah bukan mahram tentu memiliki hukum yang berlainan dimana apabila ada seorang wanita meninggal dunia di tengah-tengah lelaki tanpa ada seorang wanita pun di antara mereka atau ada seorang lelaki meninggal dunia di kalangan wanita lain tanpa ada seorang lelaki pun di antara mereka, maka kedua jenazah ini hendaklah ditayamumkan, lalu dikebumikan dan jenazah mereka ini disamakan dengan orang yang tidak menemukan air.

Adapun wanita yang memandikan jenazah suaminya, maka itu dibolehkan
mengikut kesepakatan ulama.

FIQH HADITS :

1. Orang yang sakit boleh memperlihatkan rasa sakitnya, tetapi bukan sebagai
keluhan, melainkan untuk mencari dokter atau obat.

2. Seorang suami boleh memandikan jenazah isterinya, lain halnya dengan
Imam Abu Hanifah yang meriwayatkan hadis dengan bermakna yang sebaliknya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 103 : LARANGAN BERLEBIH-LEBIHAN DALAM PEMAKAIAN KAIN KAFAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 103 :

عنْ عَلِيٍِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : ” لا تُغَالُوا فِي الْكَفَنِ ، فَإِنَّهُ يسْلبُ سَرِيعًا “. رواه أبو داود

Dari Ali (r.a), beliau berkata: Saya pernah mendengar Nabi (s.a.w) ber-
sabda: “Janganlah kamu berlebihan dalam menggunakan kain kafan, karena sesungguhnya kain kafan itu cepat rusak.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

MAKNA HADITS :

Tujuan utama mengkafankan mayat untuk menutupi auratnya. Oleh itu, Nabi
(s.a.w) melarang berlebihan dalam melakukannya. Nabi (s.a.w) mengisyaratkan bahwa kain kafan gampang rusak. Dalam kaitan ini, Khalifah Abu Bakar (r.a) ketika sedang sakit dan memakai pakaian yang berbekas zakfaran, beliau berkata: “Cucilah pakaianku ini, kemudian tambahkanlah kepadanya dua pakaian lain sebagai kain kafanku.” Lalu Aisyah (r.a) berkata: “Sesungguhnya baju ini sudah rapuh.” Khalifah Abu Bakar (r.a) menjawab: “Sesungguhnya orang yang hidup lebih berhak untuk memakai kain yang baru, karena sesungguhnya kain kafan itu hanyalah untuk tanah.” Riwayat ini dikeluarkan oleh al-Bukhari.

FIQH HADITS :

1. Tidak boleh berlebihan dalam menggunakan kain kafan.

2. Menyebutkan hukum sebaiknya disertai alasan hujah supaya lebih berkesan
di dalam jiwa dan lebih mantap untuk difahami.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 102 : BOLEH MENGGABUNGKAN MAYIT DALAM SATU KAFAN DAN SATU KUBURAN KETIKA DARURAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 102 :

وَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحَدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ, ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ؟, فَيُقَدِّمُهُ فِي اللَّحْدِ, وَلَمْ يُغَسَّلُوا, وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِمْ ) رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Jabir berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengumpulkan dua orang yang gugur dalam perang Uhud dalam satu pakaian. Kemudian beliau bertanya: “Siapakah di antara mereka yang paling banyak menghapal al-Qur’an?” Lalu beliau mendahulukannya untuk dimasukkan ke dalam lahat, mereka tidak dimandikan dan tidak disholatkan. Riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Orang yang mati syahid dalam peperangan mempunyai ketentuan hukum yang khusus berkaitan bagaimana cara memandikan dan mengkafankannya namun tidak menyembahyangkan. Hukum-hukum masalah ini diketahui melalui peristiwa kaum muslimin yang mati syahid dalam Perang Uhud. Pada hari itu Nabi (s.a.w) memberikan berbagai petunjuk hukum kepada para sahabatnya yang antara lain ialah:

Pertama, boleh menghimpun dua mayat dalam satu kain karena keadaan darurat. Mereka yang mati syahid hendaklah setiap orang dari mereka dikafankan dengan cara meletakkannya pada salah satu bagian dari kain agar kulit keduanya tidak bersentuhan secara langsung.

Kedua, boleh mengumpulkan mereka dalam satu liang lahad karena keadaan
darurat. Ketika meletakkan jenazah di dalam kubur hendaklah didahulukan orang yang paling banyak hafal al-Qur’an bagi menghormati keutamaan al-Qur’an. Dengan demikian, urutan meletakkan mereka di dalam al-Qur’an adalah berdasarkan penilaian mana yang lebih utama. Demikian pula dibolehkan mengumpulkan mayat laki-laki dan mayat perempuan dalam satu liang lahad karena keadaan darurat. Caranya ialah mendahulukan laki-laki, kemudian dibuat penghalang diantara keduanya dengan tanah. Setelah itu barulah diletakkan mayat perempuan ke dalam liang lahad. Semua ketentuan tersebut disimpulkan dari dua hadis yang masing-masing diriwayatkan oleh al-Tirmizi dan Abdul Razzaq.

Ketiga, orang yang mati syahid tidak boleh dimandikan bagi memelihara
bekas darahnya yang kelak pada hari kiamat akan menjadi saksi bagi jihadnya
seperti yang disebutkan di dalam hadis Jabir (r.a):

لا تغسلوهم، فإن كل جرح أو كل دم يفوح مسكا يوم القيامة.

“Janganlah kamu memandikan mereka, karena sesungguhnya setiap luka atau setiap darah akan menyebarkan aroma minyak kasturi pada hari kiamat.”

Keempat, orang yang mati syahid tidak boleh disholatkan. Adapun beberapa
hadis yang menceritakan bahwa Nabi (s.a.w) pernah menyembahyangkan
orang yang mati syahid dalam Perang Uhud, maka itu ditafsirkan sebagai do’a
bagi mereka, bukan solat jenazah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) tidak mengajak sahabat-
sahabatnya untuk melakukan sholat jenazah secara berjemaah.

FIQH HADITS :

1. Boleh mengkafankan dua orang laki-laki dalam satu kain kafan karena keadaan
darurat.

2. Boleh mengkebumikan dua orang dalam satu liang lahad karena keadaan
darurat.

3. Disunatkan mendahulukan yang lebih utama di antara kedua mayat ke
dalam liang lahad, misalnya orang yang lebih banyak hafal al-Qur’an;
seorang ayah lebih didahulukan daripada anaknya, sekalipun si anak lebih
afdhal darinya demi menghormati kedudukannya sebagai ayah; dan
ibu lebih didahulukan daripada anak perempuannya; kemudian segi-segi
penilaian keutamaan diqiyaskan dengan aspek tersebut.

4. Orang yang mati syahid tidak boleh dimandikan dan disholatkan demi
menjaga bekas darah syahidnya, karena setiap luka atau titisan darah kelak
pada hari kiamat akan menyebarkan aroma minyak kasturi.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 101 : ANJURAN MENGKAFANI MAYIT DENGAN BAIK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 101 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا كَفَّنَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحْسِنْ كَفَنَهُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu mengkafani saudaranya, hendaknya ia memilih yang paling baik.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan agar mengkafankan mayat dengan cara yang baik. Di dalam hadis yang lain disebutkan alasan di balik anjuran itu bahwa orang yang mati saling berbangga diri dan saling mengunjungi dengan memakai kain kafan mereka masing-masing di dalam kubur. Demikianlah menurut riwayat yang
disebut oleh al-Dailami secara marfu’ dari Jabir (r.a).

Mengkafankan mayat dengan cara yang baik hendaklah mencakupi kriteria
berikut; hendaknya kain yang dipakai lebar dan dapat menutupi seluruh tubuh badan; hendaklah menggunakan kain yang bermutu baik sebagaimana dianjurkan pula untuk tidak berlebihan atau menggunakan kain yang diharamkan, misalnya kain sutera bagi mayat lelaki.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengkafankan mayat dengan cara yang baik.

2. Menjelaskan keutamaan mengkafankan mayat. Barang siapa yang menutupi seorang muslim, niscaya Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 100 : ANJURAN MENGKAFANI MAYIT DENGAN KAIN WARNA PUTIH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 100 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ الْبَيَاضَ, فَإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ, وَكَفِّنُوا فِيهَا مَوْتَاكُمْ ) رَوَاهُ الْخَمْسَةُ إِلَّا النَّسَائِيَّ, وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Pakailah pakaianmu yang putih karena ia adalah pakaianmu yang terbaik, dan jadikan ia sebagai kain kafan mayit-mayitmu.” Riwayat Imam Lima kecuali Nasa’i dan dinilai shahih oleh Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan kita memakai pakaian yang berwarna putih karena warna putih adalah simbol kebersihan dan kita segera mencucinya apabila ada kotoran yang melekat padanya. Berbeda dengan warna yang lain, kotoran sukar kelihatan. Nabi (s.a.w) menganjurkan kita mengkafankan orang mati di antara kita dengan kain putih sebagai tafa’ul (harapan baik) semoga si mayat dibersihkan dan dijernihkan daripada dosa-dosanya. Pakaian berwarna putih juga menunjukkan kesederhanaan.
Itupun dibolehkan mengkafankan mayat dengan kain yang tidak berwarna putih, karena sekumpulan syuhada’ Uhud dikafani dengan kain beralur. Oleh itu, dapat disimpulkan bahwa perintah yang terdapat di dalan bab: “Berpakaian dan Mengkafankan Mayat dengan Kain Berwarna Putih” hanyalah sunat, bukan wajib. Faktor yang memalingkan perintah dari hukum wajib ialah ijmak ulama yang
menyatakan boleh mengkafankan mayat dengan kain selain yang berwarna putih.

FIQH HADITS :

1. Disunahkan memakai pakaian berwarna putih.

2. Disunatkan mengkafankan mayat dengan kain berwarna putih.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 99 : BOLEH MENGKAFANI MAYIT DENGAN BAJU GAMIS

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 99 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: ( لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ جَاءٍ اِبْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ, فَأَعْطَاه إيَّاهُ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Abdullah Ibnu Ubay wafat, puteranya datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Berikan baju baginda padaku untuk mengkafaninya. Lalu beliau memberikan kepadanya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) sentiasa bersikap kasih sayang untuk menjinakkan hati orang lain
agar mau menerima ajarannya, gemar memberikan imbalan kepada orang yang pernah berbuat kebaikan dan tidak pernah menolak orang yang meminta sesuatu
kepadanya.

Ketika Abdullah ibn Ubay, tokoh munafiq terkemuka meninggal dunia, anak laki-lakinya datang menghadap Rasulullah (s.a.w) untuk meminta baju gamisnya.
Baju gamis Rasulullah (s.a.w) itu kelak akan dia gunakan untuk mengkafankan
ayahnya karena dia meyakini itu dapat meringankan siksa neraka bagi ayahnya dan menulak siksa kuburnya. Lalu Rasulullah (s.a.w) memberikan apa yang dipintanya karena menghormati kedudukan anaknya yang telah berbuat baik di dalam Islam dan untuk melunakkan hati kaumnya sekaligus membalas kebaikan yang pernah dilakukan oleh ayahnya terhadap bapak saudara Nabi (s.a.w) (al-Abbas r.a) ketika ditawan di Badar. Pada saat itu bapak saudara Nabi (s.a.w) tidak memakai baju gamis,
kemudian Ibn Ubay memberikan baju gamis kepadanya. Dengan demikian, Nabi (s.a.w) telah membalas jasa kebaikan yang pernah dilakukan Ibn Ubay terhadap bapak saudaranya sebagai bakti seorang anak terhadap bapak saudaranya.

FIQH HADITS :

1. Akhlak Rasulullah (s.a.w) yang mulia dan sifat dermawannya dimana
baginda tidak pernah menolak orang yang pernah meminta kepadanya.

2. Orang munafik tetap diperlakukan hukum-hakum Islam ke atas dirinya
karena memandangnya berdasarkan dzahir semata, seperti memandikan,
mengkafankan dan mengkebumikan jenazahnya hendaklah mengikut
hukum Islam.

3. Disyariatkan melawat mayat dan memberitakan kematiannya.

4. Boleh meminta pakaian-pakaian orang sholeh untuk mengambil barokah
darinya, sekalipun si peminta adalah orang yang berkemampuan.

5. Disyariatkan mengafankan mayat dengan baju gamis. Keutamaan Abdullah
ibn Abdullah ibn Ubay, karena Rasulullah (s.a.w) telah memperkenankan
permintaannya dan memberikan baju gamis kepadanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 99 : CARA MERAWAT JENAZAH ORANG MUNAFIK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 99 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: ( لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ أُبَيٍّ جَاء اِبْنُهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم . فَقَالَ: أَعْطِنِي قَمِيصَكَ أُكَفِّنْهُ فِيهِ, فَأَعْطَاه إيَّاهُ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِِ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa ketika Abdullah Ibnu Ubay wafat, puteranya datang kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Berikan baju baginda padaku untuk mengkafaninya. Lalu beliau memberikan kepadanya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) sentiasa bersikap kasih sayang untuk menjinakkan hati orang lain agar mau menerima ajarannya, gemar memberikan imbalan kepada orang yang pernah berbuat kebaikan dan tidak pernah menolak orang yang meminta sesuatu kepadanya.

Ketika Abdullah ibn Ubay, tokoh munafiq terkemuka meninggal dunia, anak laki-lakinya datang menghadap Rasulullah (s.a.w) untuk meminta baju gamisnya. Baju gamis Rasulullah (s.a.w) itu kelak akan dia gunakan untuk mengkafankan ayahnya karena dia meyakini itu dapat meringankan siksa neraka bagi ayahnya dan menolak siksa kuburnya. Lalu Rasulullah (s.a.w) memberikan apa yang dipintanya karena menghormati kedudukan anaknya yang telah berbuat baik di dalam Islam dan untuk melunakkan hati kaumnya sekaligus membalas kebaikan yang pernah dilakukan oleh ayahnya terhadap bapak saudara Nabi (s.a.w) (al-Abbas r.a) ketika ditawan di Badar. Pada saat itu bapak saudara Nabi (s.a.w) tidak memakai baju gamis, kemudian Ibn Ubay memberikan baju gamis kepadanya. Dengan demikian, Nabi (s.a.w) telah membalas jasa kebaikan yang pernah dilakukan Ibn Ubay terhadap bapak saudaranya sebagai bakti seorang anak terhadap bapak saudaranya.

FIQH HADITS :

1. Akhlak Rasulullah (s.a.w) yang mulia dan sifat dermawannya dimana baginda tidak pernah menolak orang yang pernah meminta kepadanya.

2. Orang munafik tetap diperlakukan hukum-hakum Islam ke atas dirinya
karena memandangnya berdasarkan dzahir semata, seperti memandikan,
mengkafankan dan mengkebumikan jenazahnya hendaklah mengikut
hukum Islam.

3. Disyariatkan melawat mayat dan memberitakan kematiannya.

4. Boleh meminta pakaian-pakaian orang sholeh untuk mengambil barokah
darinya, sekalipun si peminta adalah orang yang berkemampuan.

5. Disyariatkan mengafankan mayat dengan baju gamis. Keutamaan Abdullah ibn Abdullah ibn Ubay, karena Rasulullah (s.a.w) telah memperkenankan permintaannya dan memberikan baju gamis kepadanya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 98 : BATASAN MENGKAFANI JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 98 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ, لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ. ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dikafani dengan tiga kain putih bersih dari kapas, tanpa ada baju dan surban padanya. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Kain kafan disyariatkan untuk menutupi aurat si mayat dan memperindah
penampilannya. Batas minimum ukuran kain kafan adalah yang dapat menutup
aurat. Jika tidak ada kain kafan, kecuali kain yang hanya dapat menutupi aurat,
maka itu pun sudah dianggap memadai. Jika ada kain kafan yang lebih lebar,
maka bagian kepala si mayat harus ditutup, dan bagian kakinya dibubuhi
rerumputan atau yang sejenisnya, seperti yang pernah dilakukan terhadap Mush’ab
bin ‘Umair.

Sedangkan yang paling sempurna adalah seperti kain kafan. yang dipakai
untuk mengkafankan Rasulullah (s.a.w) ketika meninggal dunia, yaitu tiga helai
kain putih yang dipakaikan berlapis-lapis antara satu sama lain.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan mengkafankan jenazah dengan kain putih.

2. Disunatkan bagi jenazah laki-laki dikafankan dengan tiga helai kain yang
menutupi seluruh tubuhnya. Ini merupakan cara yang paling sempurna.

Namun menurut cara yang minimum sekedar menutupi semua auratnya
dan itu sudah mencukupi. Imam al-Syafi’i berkata: “Di dalam kain kafan
disunatkan tidak terdapat gamis dan surban.” Imam Ahmad berkata:

“Disunatkan mengkafankan mayat dengan tiga helai kain, dan makruh melebihi tiga helai kain karena berlandaskan kepada makna dzahir hadis ini. Jika jenazah dikafankan dengan memakai baju gamis yang berlengan dan sehelai kain kafan, maka hukumnya boleh, tanpa makruh.”

Mazhab Maliki mengatakan bahwa disunatkan memakaikan kain, baju gamis, dan dua helai kain serta surban yang panjang ujung kainnya memadai satu asta, lalu dipakaikan pada wajah si mayat. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa disunatkan memakaikan kain sarung, baju gamis, dan satu helai kain. Ciri baju gamis itu ialah panjang dari kedua pundak hingga kedua telapak kaki, bagian bawah tidak dilonggarkan dan bagian tepi tidak dijahit, serta tidak berlengan. Sedangkan panjang sehelai kain dan sarung dari atas kepala hingga telapak kaki. Mazhab Hanafi menyanggah hadis Aisyah (r.a) bahwa beliau telah meniadakan baju gamis dan surban, karena beliau tidak melihat pengurusan jenazah sejak awal, sedangkan selain Aisyah (r.a) menetapkan adanya baju gamis, kain sarung serta surban. Ada pula kemungkinan baawa Aisyah (r.a) bermaksud baju gamis dan surban
tersebut selain tiga helai kain kafan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 97 : CARA MEMANDIKAN DAN MENGKAFANI JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI*

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 97 :

وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ، فَقَالَ: “اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا, أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ”، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ.فَقَالَ: “أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ” ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: ( ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ الْوُضُوءِ مِنْهَا ). وَفِي لَفْظٍ ِللْبُخَارِيِّ: ( فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ, فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا )

Ummu Athiyyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam masuk ketika kami sedang memandikan jenazah puterinya, lalu beliau bersabda: “Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan kapur barus :kamfer) atau campuran dari kapur barus.” Ketika kami telah selesai, kami beritahukan beliau, lalu beliau memberikan kainnya pada kami seraya bersabda: “Bungkuslah ia dengan kain ini.” Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat: “Dahulukan bagian-bagian yang kanan dan tempat-tempat wudlu.” Dalam suatu lafadz menurut Bukhari: Lalu kami pintal rambutnya tiga pintalan dan kami letakkan di belakangnya.

MAKNA HADITS :

Para ulama berpedoman dengan hadis Ummu ‘Atiyyah dalam cara memandikan
mayat, karena dalam hadis ini Nabi (s.a.w) menjelaskan kepadanya bagaimana
cara memandikan mayat dan baginda sendiri yang memimpinnya sehingga ini
merupakan satu ketetapan darinya.
Untuk memandikan mayat ada dua cara. Pertama ialah cara minimum yaitu
dengan meratakan basuhan ke seluruh tubuh si mayat. Kedua ialah cara maksimum yaitu memandikannya dengan basuhan (siraman) dalam hitungan witir (ganjil), memberinya wangian, dan mulai membasuh anggota wuduk sebelah kanan, kemudian mengepangkan rambutnya menjadi tiga bagian.

FIQH HADITS :

1. Wajib memandikan mayat. Cara manimum ialah meratakan air pada seluruh tubuh si mayat. Sedangkan cara maksimum ialah memandikannya dalam
hitungan witir apabila dianggap mencukupi untuk menyucikannya dengan
mendahulukan anggota wuduk daripada yang lain untuk memuliakannya dan memelihara ghurrah dan tahjil bagi mayat.

2. Imam dikehendaki memberi nasihat kepada orang yang tidak memahami apa-
apa yang dialaminya serta menyerahkan pelaksanaannya kepada seseorang
apabila dia mampu mengerjakannya sendiri setelah mendapat petunjuk
dari imam atau imam sendiri yang memimpin pelaksanaannya.

3. Disunatkan memandikan jenazah dengan air yang dicampur daun bidara.

4. Disunatkan memakai kapur barus pada siraman kali yang terakhir, karena
bau kapur barus ini sangat wangi, bermanfaat untuk mengusir lalat dan
lain-lain dari jenazah, serta dapat mencegah pembusukan.

5. Disunatkan memulai memandikan mayat dari sebelah kanan.

6. Wanita lebih berhak memandikan mayat perempuan dari suaminya.
Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang suami boleh memandikan
jenazah isterinya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa suami tidak
boleh memandikannya, tetapi ulama telah bersepakat bahwa seorang isteri boleh memandikan jenazah suaminya.

7. Boleh mengkafankan seorang mayat wanita dengan pakaian lelaki.

8. Mengambil berkat dari pakaian-pakaian yang pernah dipakai oleh Rasulullah (s.a.w).

9. Disunatkan menyikat rambut jenazah wanita, lalu mengepangnya menjadi
tiga bagian dan meletakkan semua kepangan ke belakang tubuhnya.
Demikianlah menurut pendapat Imam Ahmad, Imam al-Syafi’i, dan mazhab
Malik. Sedangkan mazhab Hanafi mengatakan bahwa rambut jenazah
wanita tidak boleh disikat, tetapi hanya dikepang menjadi dua bagian, lalu diletakkan pada dadanya di luar baju gamisnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 95 : MENCAMPURKAN AIR DENGAN DAUN BIDARA UNTUK MEMANDIKAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 95 :

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ فِي الذِي سَقَطَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَاتَ: ( اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Mengenai orang yang terjatuh dari kendaraannya kemudian meninggal, mandikanlah ia dengan air dan bidara, dan kafankanlah dengan dua lapis kainnya.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Ibn Abbas (r.a) menceritakan bahwa ketika beliau bersama Nabi (s.a.w) sedang berwukuf di Arafah dan banyak orang yang di sekelilingnya, tiba-tiba ada seorang
lelaki jatuh dari atas kendaraannya, hingga lehernya patah dan meninggal dunia
seketika itu juga. Melihat itu, Rasulullah (s.a.w) menyuruh para sahabatnya
untuk memandikannya dan meletakkan daun bidara di dalam air mandinya serta
mengafaninya dengan kedua pakaian ihramnya. Ketika itu lelaki tersebut sedang berihram dan memakai pakaian ihram, iaitu kain dan selendang.

Nabi (s.a.w) melarang mereka meletakkan hanuth (bahan pengawet) dan menutupi kepalanya. Mereka harus membiarkannya dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana ketika dia mati, karena sesungguhnya kelak pada hari kiamat
dia akan dihimpun dalam keadaan berpakaian ihram sebagaimana keadaannya ketika dia meninggal dunia seraya mengucapkan: “لبيك اللهم لبيك”

FIQH HADITS :

1. Wajib memandikan mayat dan mengkafaninya.

2. Boleh memandikan mayat yang mati dalam keadaan berihram dengan daun bidara dan air karena berlandaskan kepada perintah Rasulullah (s.a.w) dalam hadis ini. Imam al-Syafi’i berkata: “Orang hidup yang sedang berihram dibolehkan mandi dengan air dan daun bidara.” Sedangkan menurut jumhur ulama, itu makruh.

3. Boleh mengkafankan mayat dengan dua pakaian, tetapi yang lebih afdhal ialah dengan tiga helai pakaian, yaitu tiga helai kain.

4. Ihram lelaki berkaitan dengan kepalanya, bukan dengan wajahnya.

5. Disunatkan mengkafankan mayat yang mati selagi berihram dengan pakaian ihramnya.

6. Orang yang sedang mengerjakan amal ibadah lalu dia mati ketika mengerjakannya dan amal ibadahnya itu belum sempat dia selesaikan, maka diharapkan kelak pada hari kiamat dihimpun bersama orang yang
rajin dalam amal ibadah itu.

7. Jika seseorang yang sedang ihram meninggal dunia, maka status ihramnya
masih tetap wujud pada dirinya. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahwa haram menutup kepala mayat yang mati ketika sedang berihram, bagitu pula memberinya wangian, karena berlandaskan kepada hadis ini. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa menutup kepala dan memberinya wangian boleh dilakukan ke atasnya sama dengan apa yang diperlakukan ke atas orang yang mati dalam keadaan tidak berihram. Ketetapan ini berdasarkan qiyas, karena status ibadah telah terputus dengan hilangnya beban taklif, yaitu hidup. Mereka menyanggah hadis ini bahwa hal tersebut merupakan keistimewaan bagi lelaki yang mati sedang berihram pada zaman Rasulullah (s.a.w) itu saja. Ini kerana pemberitahuan baginda yang menyatakan bahwa lelaki itu kelak akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah (berihram) merupakan kesaksian baginda yang haji lelaki itu telah diterima dan status ini tidak dapat diperlakukan kepada orang lain.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..