logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 126 : TATACARA MENURUNKAN JENAZAH KE DALAM KUBUR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 126 :

عن أبي إسحاق ان عبد الله ابن يزيد رضي الله عنه أدخل الميت في قبل رجلي القبر. وقال هذا من السنة. أخرجه أبو داود.

Dari Abu Ishaq (r.a) bahwa Abdullah ibn Yazid (r.a) memasukkan mayat ke dalam liang kubur dari arah kedua kakinya, lalu dia berkata: “Ini merupakan Sunnah Rasulullah (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)

MAKNA HADITS :

Memasukkan mayat ke dalam kubur walau dengan apapun caranya sekali pun tetap dibolehkan, tetapi cara yang paling afdal dalam Sunnah Nabi (s.a.w) masih
diperselisihkan.

Jumhur ulama berpendapat bahwa mayat dimasukkan ke dalam kuburnya dari arah di mana kedua kakinya akan diletakkan. Menurut pendapat yang lain, mayat diturunkan dari arah kiblat. Inilah menurut pendapat Abu Hanifah yang diperkuatkan lagi dengan hadis al-Tirmizi.

Memasukkan mayat ke dalam liang kubur boleh dengan cara apapun. Semua itu dibolehkan, karena telah disebutkan di dalam Sunnah. Antara amalan Sunnah adalah membentangkan kain di atas kubur ketika mayat sedang dimasukkan ke dalamnya. Inilah yang disebut al-Tajlil.

FIQH HADITS :

Menjelaskan tatacara menurunkan mayat ke dalam kubur. Jumhur ulama mengatakan bahwa Sunnah Nabi (s.a.w) dalam memasukkan mayat ke kubur adalah dimulai dengan kepala dengan cara meletakkan keranda di bagian belakang kubur hingga kepala mayat berada pada posisi yang lurus dengan tempat kedua kakinya apabila dia telah berada di dalam kubur, kemudian memasukkannya dengan menurunkan kepalanya.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa mayat dimasukkan ke dalam kubur dengan posisi melintang dari arah kiblat, karena cara inilah yang paling mudah dilakukan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 125 : ANJURAN BERDIRI MENGIRINGI JENAZAH DITURUNKAN KE TEMPAT PEMAKAMAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 125 :

عن أبي سعيد رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذا رأيتم الجنازة فقوموا فمن تبعها فلا يجلس حتى توضع. متفق عليه.

Dari Abu Sa’id (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah dan barang siapa yang mengiringinya, maka janganlah dia duduk sebelum jenazah diturunkan (ke tempat pengkebumian).” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Pada permulaan Islam berdiri untuk menghormati jenazah adalah disyariatkan
berdasarkan sabda Rasulullah (s.a.w): “Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah!”
Ini dilakukan untuk menghormati Allah yang mencabut nyawa si mayit dan para
malaikat yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas itu.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum perintah berdiri ini. Sebagian mereka ada yang mentafsirkannya sebagai perintah wajib sehingga diwajibkan berdiri untuk menghormati jenazah apabila lewat di hadapan seorang yang mukallaf,
meskipun dia tidak berniat turut serta mengiringinya. Ulama yang lain juga mengatakan bahwa perintah wajib ini telah dimansukh oleh hadis Ali (r.a) yang menceritakan bahwa Nabi (s.a.w) pernah berdiri untuk menghormati jenazah, kemudian setelah itu baginda duduk. Hadis ini memansukh perintah wajib yang ada hadis sebelum ini. Pendapat ini dianut oleh Imam al-Syafi’i. Antara mereka ada pula yang mentafsirkan perintah ini menunjukkan hukum sunat. Faktor yang memalingkan perintah wajib ialah adanya qarinah (bukti).
Mereka mengatakan bahwa hadis Ali (r.a) menunjukkan hukum mubah dan oleh karenanya, ia tidak bertentangan dengan hukum sunat. Boleh pula ditafsirkan
bahwa Nabi (s.a.w) duduk untuk tujuan membedakan diri dengan orang
Yahudi sebagaimana yang disebutkan dalam hadis ‘Ubadah ibnu al-Shamit yang
dikemukakan oleh Imam Ahmad. Dianjurkan tetap dalam keadaan berdiri hingga
jenazah diturunkan ke tanah. Al-Baihaqi mengemukakan hadis Abu Hurairah (r.a)
bahwa Nabi (s.a.w) bersabda:

القائم كالحامل في الأجر

“Orang yang berdiri mendapat pahala yang sama dengan orang yang mengusung (jenazah).”

FIQH HADITS :

1. Seseorang yang sedang dalam keadaan duduk disyariatkan berdiri apabila
iringan jenazah lalu di hadapannya untuk mengagungkan Allah (s.w.t).

2. Orang yang mengiringi jenazah tidak boleh duduk sebelum jenazah diturunkan dari atas bahu para pengusungnya ke tanah, karena orang yang mengiringi jenazah itu bertujuan mementingkan jenazah, bukan
mementingkan dirinya sendiri.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

Hukum Pemasrahan Wali Melalui Telfon

https://youtu.be/5Y8dSP9OoBk


 

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 124 : HUKUM MENGANTARKAN JANAZAH BAGI WANITA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 124 :

عن ام عطية رضي الله عنها قالت : نهينا عن اتباع الجنائز، ولم يعزم علينا. متفق عليه.

Dari Ummu Atiyyah (r.a), beliau berkata: “Kami (kaum wanita) telah dilarang mengiringi jenazah, tetapi larangan tersebut tidak diperketatkan.” (Muttafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Pendapat paling kuat pada zaman sekarang dimana banyak kerusakan terjadi
dan hijab tidak lagi diendahkan adalah dilarang kaum wanita mengiringi jenazah
ke tempat pengkebumian. Selain itu perasaan pedih akibat musibah yang baru
menimpa mereka belum lagi hilang dari dalam diri mereka, tidak mempunyai
kesabaran dan tidak memiliki kemampuan untuk mengusung jenazah, lebih-lebih
lagi dikawatiri aurat mereka terlihat. Oleh itu, adalah wajar apabila Rasulullah
(s.a.w) bersabda kepada kaum wanita yang mengiringi jenazah:

ارجعن معزورات غير مأجورات

“Kembalilah kamu dalam keadaan membawa dosa, tanpa memperoleh suatu pahala!”

FIQH HADITS :

Kaum wanita dilarang mengantarkan jenazah ke tempat pengkebumian.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 123 : POSISI KETIKA MENGANTAR PEMAKAMAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 123 :

عن سالم عن أبيه رضي الله عنه أن النبي ﷺ وابا بكر وعمر يمشون أمام الجنازة. رواه الخمسة وصححه ابن حبان. وأعله النسائي وطائفة بالإرسال

Dari Salim dari ayahnya bahwa dia pernah melihat Nabi (s.a.w), demikian pula Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar berjalan di hadapan jenazah. (Diriwayatkan oleh al-Khamsah, dinilai sahih oleh Ibn Hibban, dan dinilai mursal oleh al-Nasa’i dan sekumpulan ulama yang lain)

MAKNA HADITS :

Orang yang mengiringi jenazah adalah orang yang memohonkan syafaat bagi si
mayat dan antara kebiasaan orang yang memohonkan syafaat adalah hendaklah
mereka berada di hadapan orang yang dipintakan syafaat, karena mengharap
supaya syafaat itu diterima. Inilah yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) dan para
khalifah sesudahnya mengikut pendapat jumhur ulama.

Menurut Imam Abu Hanifah, orang yang mengiringi jenazah hendaklah berada di belakangnya dan ini lebih diutamakan dengan tujuan permohonan syafaat dikabulkan dan perjalanan mengantarkannya ke tempat pengkebumian cepat sampai. Perbedaan ini hanya berkaitan masalah mana yang lebih utama, karena walau apapun dibolehkan berjalan di sebelah manapun, baik di belakang
jenazah, di hadapan, di sebelah kanan ataupun di sebelah kirinya. Bagi orang yang
berkendaraan, hendaklah berjalan di belakang jenazah mengikuti kesepakatan ulama.

FIQH HADITS :

Orang yang mengiringi jenazah disunatkan berada di sebelah hadapannya. Imam
al-Syafi’i dan Imam Malik berpendapat bahwa berjalan di hadapan jenazah lebih
afdhal berdasarkan pemahaman yang terdapat di dalam hadis ini, yaitu perbuatan yang telah dilakukan oleh Nabi (s.a.w) dan para khalifah sesudahnya.

Imam Ahmad mengatakan bahwa boleh berjalan di hadapan jenazah atau di sebelah belakangnya, di sebelah kanan atau di sebelah kirinya. Di dalam pendapatnya ini terdapat kebebasan bagi orang yang menghantarkan jenazah untuk berjalan di sebelah manapun, dan ini sesuai dengan sunat menyegerakan
untuk mengantar jenazah tanpa ada hubungan dengan tempat tertentu bagi posisi mereka ketika berjalan, agar tidak memberatkan mereka atau sebagian mereka yang mengiringi jenazah.

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa berjalan di belakang jenazah lebih utama berdasarkan satu riwayat yang diketengahkan oleh Ibn Thawus dari ayahnya:

ما مشى رسول الله صلى الله عليه وسلم حتى مات إلا خلف الجنازة

“Rasulullah (s.a.w) belum pernah berjalan (ketika mengiringi jenazah) hingga baginda
wafat, melainkan seantiasa berada di belakang jenazah.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 122 : PAHALA BAGI ORANG YANG MERAWAT JENAZAH SAMPAI DIKUBURKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 122 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله ﷺ : مَنْ شَهِدَ الْجِنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ . قِيلَ : وَمَا الْقِيرَاطَانِ ؟ قَالَ : مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ .
وَلِمُسْلِمٍ : أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ. متفق عليه. ولمسلم حتى توضع فى اللحد.
وللبخاري : مَنْ تبعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّه يَرْجِعُ مِنْ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ. كل قيراط مثل جبل أحد.

Dari Abu Hurairah (r.a), beliau berkata: Rasulullah (s.a.w) bersabda:
“Barang siapa yang menghadiri jenazah hingga menyembahyangkannya, maka baginya pahala satu qirath. Barang siapa yang menghadirinya hingga dikebumikan, maka baginya pahala dua qirath. Seorang sahabat bertanya: “Apakah maksud dua qirath itu?” Nabi (s.a.w)
menjawab: “Seperti dua buah bukit yang besar.” (Muttafaq ‘alaih) Menurut riwayat
Muslim disebutkan: “Hingga jenazah dimasukkan ke dalam liang lahad.”
Menurut riwayat al-Bukhari yang juga daripada Abu Hurairah (r.a) disebutkan:
“Barang siapa yang mengiringi jenazah seorang muslim berlandaskan iman dan mengharap pahala Allah, sedangkan dia selalu bersamanya hingga menyembahyangkannya dan selesai
mengikuti acara pengkebumiannya, maka sesungguhnya dia pulang dengan membawa pahala dua qirath; setiap satu qirath sama seperti bukit Uhud.”

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menganjurkan untuk menyelenggarakan jenazah dan
membantu keluarganya mengiringinya ke tempat pemakaman, mengusung,
menyembahyangkan dan mengkebumikannya. Oleh itu, baginda memberitakan bahwa barang siapa yang mengiringi jenazah setelah menyembahyangkannya,
maka baginya pahala satu qirath yang besar. Nabi (s.a.w) menggambarkan sesuatu yang abstrak ini dengan sesuatu yang nyata yang mereka kenal, yaitu Bukit Uhud. Bukit Uhud berada di dekat mereka dan bukit yang paling disukai oleh jiwa mereka yang beriman.
Pahala makin bertambah apabila seseorang mengiringi jenazah sesudah
menyembahyangkannya hingga jenazah dikebumikan. Pahala yang dijanjikan di dalam hadis ini tidak diperoleh kecuali oleh orang yang menghadiri, menyembahyangkan dan mengkebumikan jenazah yang berlandaskan percaya kepada janji Allah yang menganugerahkan ganjaran pahala untuknya di sisi-Nya. Lain halnya dengan orang yang berbuat demikian karena ingin mengharapkan
imbalan upah semata-mata, atau riya dan menginginkan popularitas, maka dia tidak
memperoleh ganjaran pahala tersebut.

FIQH HADITS :

1. Diwajibkan mengkafani, menyembahyangkan, dan mengiringinya hingga selesai dari penguburannya.

2. Adalah satu kemuliaan dan penghormatan bagi mayat karena orang yang menyelenggarakan jenazahnya memperoleh ganjaran pahala yang banyak.

3. Kemurahan Allah (s.w.t) dan penghormatan-Nya kepada si mayat karena orang yang memperlakukannya dengan baik diberi ganjaran pahala yang berlimpah oleh-Nya.

4. Membuat perumpamaan dengan sesuatu yang nyata supaya mudah difahami dan lebih berkesan di hati.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 121 : ANJURAN SEGERA MENGUBURKAN JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI
《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 121 :

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي ﷺ قال : أَسْرِعُوا بِالْجِنَازَةِ، فَإِنْ تَكُ صَالِحَةً فَخَيْرٌ تُقَدِّمُونَهَا اليه وَإِنْ يكُ سِوَى ذَلِكَ فَشَرٌّ تَضَعُونَهُ عَنْ رِقَابِكُمْ». متفق عليه.

Dari Abu Hurairah (r.a) daripada Rasulullah (s.a.w), baginda bersabda:
“Bersegeralah kamu mengusung jenazah. Jika jenazah itu orang sholeh, berarti kamu telah melakukan kebaikan untuknya. Jika jenazah itu bukan orang soleh, bererti kamu telah membuang keburukan dari bahu kamu.” (Mutafaq ‘alaih)

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mengingatkan kaum muslimin apabila mayat telah diletakkan
di dalam keranda, lalu diusung oleh sekumpulan kaum lelaki, maka disunatkan bersegera membawanya ke liang lahad, karena apabila mayat itu orang sholeh,
sebaiknya disegerakan acara pengkebumiannya agar dia segera menjumpai pahala yang telah disediakan oleh Allah (s.w.t) untuknya.
Namun jika mayat itu bukan orang soleh, maka tidak ada untungnya melewatkan masa pengkebumiannya, karena berteman dengan orang jahat merupakan perbuatan tercela. Antara amalan kebaikan ialah menjauhi kejahatan dan oleh karenanya dianjurkan bersegera mengkebumikan jenazah yang tidak sholeh untuk membebaskan diri dari keburukannya. Melalui hadis ini Rasulullah
(s.a.w) seakan-akan membangkitkan dorongan untuk berbuat amal kebaikan
kepada orang lain, sekalipun mereka telah menjadi mayat di samping mendorong
mereka menjauhi kejahatan serta pelaku maksiat, sekalipun mereka telah menjadi
mayat

FIQH HADITS :

1. Disunatkan bersegera membawa jenazah dengan langkah-langkah kaki yang sederhana antara berjalan cepat dengan jalan lambat hingga tidak menimbulkan mudharat pada mayat atau tidak menimbulkan kesusahan
bagi para pengiring dan orang yang mengusungnya. Jika terlalu cepat hingga menimbulkan perkara-perkara yang tidak diinginkan, maka hukumnya haram.

2. Disunatkan bersegera mengkebumikan mayat, kecuali orang yang mati itu menderita sakit jantung atau sakit lumpuh, lalu mati mendadak, maka kematiannya harus diperiksa terlebih dahulu oleh doktor dan menangguhkan pengkebumiannya.

3. Tidak boleh bergaul dengan orang jahat dan pelaku maksiat karena tidak ada kebaikannya bergaul dengan mereka.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 120 : ANJURAN IHLAS KETIKA MENDO’AKAN MAYIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 120 :

وعنه أن النبي ﷺ قال : إذا صليت على الميت فأخلصوا عليه الدعاء. رواه أبو دود وصححه ابن حبان.

Dari Abu Hurairah (r.a), bahwa Nabi (s.a.w) bersabda: “Jika kamu melakukan
sholat jenazah, maka ikhlaslah ketika kamu mendo’akan jenazah itu.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban)

MAKNA HADITS :

Seseorang yang melakukan sholat jenazah adalah orang yang memohon syafaat untuk jenazah dan berharap semoga syafaatnya diterima untuk si mayat. Oleh itu, sudah sepatutnya dia bersungguh-sungguh ketika berdo’a dan ikhlas dalam melakukannya. Rasulullah (s.a.w) menyuruh kita untuk berbuat demikian melalui sabdanya: “Ikhlaslah kamu ketika mendo’akan jenazah itu.” Perintah yang terdapat di dalam hadis ini menunjukkan hukum sunnah.

FIQH HADITS :

Dianjurkan ikhlas ketika mendo’akan mayat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 118-119 : DO’A-DO’A DALAM SHALAT JANAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 118 :

عن عوف بن مالك رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال: صلى رَسُول اللَّهِ ﷺ على جنازة فحفظت من دعائه وهو يقول: اللهم اغفر له وارحمه، وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واغسله بالماء والثلج والبرد، ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس، وأبد له داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله، وأدخله الجنة، وقه فتنة القبر وعذاب النار. رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Auf ibn Malik (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) telah
menyembahyangkan jenazah dan aku telah menghafal do’a yang telah dibaca
baginda itu:

اللهم اغفر له وارحمه، وعافه واعف عنه، وأكرم نزله ووسع مدخله، واغسله بالماء والثلج والبرد، ونقه من الخطايا كما نقيت الثوب الأبيض من الدنس، وأبد له داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله، وأدخله الجنة، وقه فتنة القبر وعذاب النار

“Ya Allah, ampunilah dia dan berilah rahmat kepadanya. Selamatkanlah dirinya dan berilah pengampunan kepadanya, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburnya, dan mandikanlah dia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah dirinya dari dosa-dosa sebagaimana membersihkan baju putih dari kotoran, dan gantilah untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, dan keluarga
yang lebih baik daripada keluarganya. Dan masukkanlah dia ke dalam surga serta peliharalah dirinya dari siksa kubur dan siksa neraka.” (Diriwayatkan
oleh Muslim)

HADITS KE 119 :

للَّهم اغفر لِحَيِّنَا وَميِّتِنا ، وَصَغيرنا وَكَبيرِنَا ، وذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا ، وشَاهِدِنا وَغائِبنَا . اللَّهُمَّ منْ أَحْيَيْتَه منَّا فأَحْيِه على الإسْلامِ ، وَمَنْ توَفَّيْتَه منَّا فَتَوَفَّهُ عَلى الإيمانِ ، اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنا أَجْرَهُ ، وَلا تَضلنا بَعْدَهُ » رواه مسلم والاربعة.

Dari Abu Hurairah (r.a), beliau berkata: “Jika Rasulullah (s.a.w)
menyembahyangkan jenazah, baginda berdo’a seraya mengatakan:

اللَّهُمَّ منْ أَحْيَيْتَه منَّا فأَحْيِه على الإسْلامِ ، وَمَنْ توَفَّيْتَه منَّا فَتَوَفَّهُ عَلى الإيمانِ ، اللَّهُمَّ لا تَحْرِمْنا أَجْرَهُ ، وَلا تَضلنا بَعْدَه

“Ya Allah, berikanlah ampunan bagi orang yang hidup di antara kami, orang yang
mati di antara kami, orang yang hadir di antara kami, orang yang tidak hadir di
antara kami, anak-anak dan orang tua di antara kami, lelaki dan perempuan kami. Ya Allah, siapa yang Engkau karuniakan hidup di antara kami, maka hidupkanlah dia dalam Islam dan siapa yang Engkau matikan di antara kami,
maka matikanlah dia dalam iman. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami untuk meraih pahala dan janganlah Engkau sesatkan kami sepeninggalannya.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan al-Arba’ah)

MAKNA HADITS :

Topik kedua hadis ini sama, yaitu cara berdo’a untuk si mayat. Rasulullah
(s.a.w) menyuruh kita supaya ikhlas ketika mendo’akan mayat, karena orang
yang mengerjakan sholat jenazah adalah orang yang memohon syafaat, dan orang
yang memohon syafaat itu hendaklah ikhlas supaya do’anya dikabulkan. Tidak diragukan bahwa do’a yang pernah dibaca oleh Nabi (s.a.w) lebih afdal untuk
didahulukan, karena baginda dianugerahkan Jawami’ al-Kalim dan baginda adalah seorang yang paling mengetahui cara berdo’a. Banyak hadis yang menceritakan do’a mayat ini dengan pelbagai bentuk kalimat yang dimuatkannya. Ini menunjukkan bahwa masalah ini luas dan tidak ada batasan dengan do’a tertentu. Do’a-do’a tersebut diucapkan ketika mengerjakan sholat jenazah dengan suara yang tidak kuat. Do’a-do’a untuk mayat yang dinukil oleh para sanabat dari Nabi (s.a.w) dapat ditafsirkan bahwa sesekali Nabi (s.a.w) menguatkan suara bacaan do’a ketika mengerjakan sholat jenazah supaya didengar oleh makmum di belakang, meskipun tidak menutup kemungkinan mereka bertanya tentang apa yang dibaca oleh baginda dalam do’anya itu, lalu Nabi (s.a.w) memberitahu hal tersebut kepada mereka.

FIQH HADITS :

1. Dalam sholat jenazah disyariatkan berdo’a untuk si mayat.

2. Disunatkan berdo’a dengan do’a-do’a yang terdapat di dalam hadis, karena
do’a-do’a tersebut lebih lebih afdal.

3. Menetapkan adanya siksa kubur dan siksa neraka.

4. Dianjurkan berdo’a dengan do’a yang memiliki makna yang menyeluruh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 116-117 : HUKUM MEMBACA SURAH AL-FATIHAH DALAM SHALAT JENAZAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

KITAB JANAZAH

HADITS KE 116 :

عن جابر رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكبر على جنائزنا أربعا ويقرأ بفاتحة الكتاب في التكبيرة الأولى . رواه الشافعي بإسناد ضعيف.

Dari Jabir (r.a), beliau berkata: “Rasulullah (s.a.w) bertakbir untuk jenazah
kami sebanyak empat kali dan pada takbir yang pertama baginda membaca Surah
al-Fatihah.” (Diriwayatkan oleh al-Syafi’i dengan sanad berkedudukan dha’if)

HADITS KE 117 :

عن طلحة ابن عبد الله ابن عوف رضي الله عنه قال صليت خلف ابن عباس على جنازة فقرأ فاتحة الكتاب فقال لتعلموا أنها سنة. رواه البخاري والنسائي

Dari Talhah ibn Abdullah ibn Auf (r.a), beliau berkata: “Saya pernah
melakukan sholat jenazah di belakang Ibn Abbas, lalu beliau membaca Surah al-
Fatihah dan berkata: “Ketahuilah bahwa bacaan al-Fatihah ini Sunnah (tuntunan
Nabi (s.a.w).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

MAKNA HADITS :

Ulama berselisih pendapat mengenai hukum disyariatkan bacaan al-Fatihah dalam sholat jenazah. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad, mengatakan bahwa membaca Surah al-Fatihah sesudah takbir pertama adalah wajib. Mereka beralasan bahwa sholat jenazah termasuk salah satu sholat, sedangkan Rasulullah (s.a.w) pernah bersabda:

لا صلاة إلا بفاتحة الكتاب

Tidak ada sholat kecuali dengan Fatihah al-Kitab.”

Dengan demikian, sholat jenazah termasuk ke dalam pengertian umum hadis ini. Selain itu, ia turut berlandaskan kepada hadits di atas yang mengatakan bahwa bacaan al-Fatihah ini adalah Sunnah atau termasuk Sunnah. Menurut riwayat lain disebutkan haq, yaitu suatu ketetapan. Ini mengukuhkan lagi bahwa membaca al-Fatihah adalah wajib, karena Sunnah adalah kebiasaan yang dilakukan oleh Nabi (s.a.w) atau tuntunan Nabi (s.a.w), sementara pengertian haq adalah sesuatu yang telah ditetapkan.
Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa di dalam sholat
jenazah tidak ada bacaan al-Qur’an, karena tujuan utamanya adalah mendo’akan
si mayat. Mereka melandaskan pendapatnya dengan perkataan Ibn Mas’ud (r.a): “Rasulullah (s.a.w) tidak menetapkan suatu bacaan apa pun dalam sholat jenazah kepada kami.”
Apapun, pendapat kedua imam yang pertama lebih baik untuk dijadikan pegangan.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca Surah al-Fatihah ketika mengerjakan sholat jenazah.
Sehubungan ini, ulama berbeda pendapat. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad
mengatakan bahwa membaca Surah al-Fatihah ketika mengerjakan sholat jenazah adalah wajib. Sedangkan menurut mazhab Maliki, membaca Surah al-Fatihah
dalam sholat jenazah adalah makruh.
Mazhab Hanafi mengatakan bahwa tidak ada bacaan Surah al-Fatihah
dalam sholat jenazah. Antara yang mensyariatkan membaca Surah al-Fatihah dalam mengerjakan sholat jenazah adalah Ibnu Mas’ud, al-Hasan ibn Ali dan Ibn
Umar. Manakala antara yang tidak mensyariatkannya adalah Ibn ‘Umar dan Abu Hurairah. Kebanyakan ulama mengatakan bahwa Surah al-Fatihah dibaca dengan suara yang tidak kuat dan mereka bersepakat untuk tidak membaca satu surah pun sesudah membaca Surah al-Fatihah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..