logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 97-98 : ANJURAN ADUS DI HARI JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 97 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( غُسْلُ اَلْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ ) أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَة ُ

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Mandi hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh.” Riwayat Imam Tujuh.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) menganjurkan mandi pada hari Jum’at dengan sunat mu’akkad. Pada permulaan Islam, mandi pada hari Jum’at adalah wajib kerana kehidupan para sahabat ketika itu amat sukar dan mereka selalu memakai baju yang terbuat dari bulu kambing yang apabila melekat pada tubuh dalam waktu yang lama akan menyebabkan bau kurang enak.

Akan tetapi setelah Allah melimpahkan banyak kenikmatan dan keluasan

rezeki kepada mereka melalui harta ghanimah yang mereka peroleh, maka hukum wajib ini di-mansukh. Hukumnya yang mulanya wajib beralih menjadi menjadi sunat mu’akkad.

FIQH HADITS :

Wajib mandi pada hari Jum’at berdasarkan keterangan yang telah disebutkan diatas, kemudian hukum wajib ini di-mansukh oleh hadis berikut ini.

HADITS KE 97 :

وَعَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنْ اِغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيّ

Dari Samurah Ibnu Jundab Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudlu pada hari Jum’at berarti telah menjalankan sunnah dan sudah baik dan barangsiapa yang mandi maka itu lebih utama.” Riwayat Imam Tujuh dan dinilai hasan oleh Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana hari Jum’at adalah hari raya dimana pada hari itu kaum muslimin berkumpul di rumah-rumah Allah (masjid-masjid) untuk mengerjakan shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah dan turut hadir bersama para malaikat, maka syariat menganjurkan agar memakai wewangian dan berpakaian paling baik serta tubuh yang bersih dengan cara mandi. Ini disyari’atkan bagi orang yang mampu melakukannya dan ia lebih utama dan lebih sempurna baginya. Tetapi jika tidak mampu mandi, maka cukuplah baginya berwuduk dan orang yang mampu berwudukpun sudah dianggap mengikuti amalan Sunnah.

FIQH HADITS :

Keutamaan mandi pada hari Jum’at. Hadits ini memansukh hukum wajib yang terkandung pada hadits sebelum ini. Inilah rahasia menyebutkan hadits ini sesudahnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 96 : DISYARI’ATKAN ADUS BAGI MUALLAF (ORANG YANG BARU MASUK ISLAM)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 96 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( -فِي قِصَّةِ ثُمَامَةَ بْنِ أُثَالٍ عِنْدَمَا أَسْلَم- وَأَمَرَهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَغْتَسِلَ ) رَوَاهُ عَبْدُ اَلرَّزَّاق ِ وَأَصْلُهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu tentang kisah tsamamah Ibnu Utsal ketika masuk Islam Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruhnya mandi. Riwayat Abdur Rozaq dan asalnya Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Jika orang kafir masuk Islam, maka batinnya menjadi suci dari ‘akidah yang bathil. Oleh sebab itu, syari’at memerintahkan mandi supaya dzahirnya turut menjadi suci dari kekufuran dan sisa-sisa junub yang dilakukan ketika masih kafir. Tujuannya ialah supaya dia bersiap sedia melakukan ibadah dengan dzahir dan batin yang suci serta keyakinan dan amal yang suci pula.

FIQH HADITS :

Disyari’atkan mandi bagi orang yang baru masuk Islam. Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Imam Ahmad mewajibkan mandi berlandaskan kepada dzahir hadits. Imam Malik dan Imam al-Syafi’i mewajibkannya pula bagi orang yang pernah berjunub ketika kafir, baik dia telah mandi ataupun belum, sedangkan bagi yang tidak pernah berjunub ketika kafir, hukum mandi itu hanyalah sunat. Imam Abu Hanifah mewajibkan mandi bagi orang yang berjunub ketika kafir sedangkan dia tidak pernah mandi junub dan mandi tidak wajib baginya apabila dia pernah mandi semasa dia kafir.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S039. HUKUM MENJAMAK SHALAT KARENA TERJEBAK MACET DI JALAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya penduduk kota yg rawan macet. suatu ketika saya nyetir mobil dlm perjalanan menuju tempat kerja yg tak begitu jauh dari rumah saya namun kena macet sehingga masuk waktu sholat, sehingga :
– Tidak bisa turun dari mobil
– Tidak bisa ambil wudhu

Pertanyaannya :

1-Bagaimana caranya agar bisa sholat?

2-Bolehkah sy niat menjamak sholat (kalau sholat yg bisa dijamak) padahal sy bukan musafir.

Mohon penjelasannya berikut dalilnya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Jawaban untuk pertanyaan yang pertama.

Orang yg tidak bisa turun dari mobil, dan orang itu tidak punya wuduk, dan jalannya macet, dan didalam mobil tidak ada debu yang bisa digunakan untuk bertayammum, maka hal tersebut disebut faaqiduththohuuroini (فاقد الطهورين), sama halnya dengan orang yang dipenjara dalam ruangan yang tidak ada air untuk wuduk dan tidak ada debu untuk tayammum, dia tetap wajib shalat dalam keadaan tersebut seadanya dengan sholat lihurmatil waqti:
Umpama niat shalat Dzuhur

(اصلي فرض الظهر لحرمۃ الوقت )

Namun ketika sudah menemukan air atau debu baik masih dalam perjalanan atau dirumah, maka orang itu harus mengqodho’ (mengganti) sholat duhurnya dengan cara berwuduk memakai air atau dengan cara bertayammum memakai debu (jika tidak ada air).

Referensi:

فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء

Faqidut Thahuurain adalah Orang yang tidak mendapati sarana untuk bersuci baik berupa air atau debu seperti saat ia dipenjara dan tidak mendapati salah satu dari keduanya, atau ditempat najis yang tidak ia dapatkan debu untuk bersuci sementara air yang ada dibutuhkan untuk dahaganya orang yang bersamanya, orang yang sedang disalib atau berada diperahu yang tidak dapat meraih air dan seperti orang sakit yang tidak mampu menjalani wudhu atau tayammum sebab sakit atau semacamnya, maka mayoritas ulama mewajibkan hukum shalat baginya sekedar penghormatan terhadap waktu, hukum kewajiban shalat tidak semata-mata gugur baginya namun baginya wajib mengulangi shalat yang ia kerjakan dalam kondisi demikian menurut kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, sedang menurut kalangan hanabilah tidak wajib mengulangi shalatnya. Menurut pendapat yang mu’tamad (dapat dijadikan pegangan) dikalangan Malikiyyah seseorang yang dalam kondisi diatas shalatnya gugur dan dalam pendapat lainnya wajib menjalani dan mengqadhainya. [ Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 14/273 ].

Referensi lain:

(المجموع شرح المهذب,جز ٢,صحيفۃ ٣۰٣-٣۰٤) واما حكم المسئلۃ: فإذا لم يجد المكلف ماء ولا ترابا بأن حبس في موضع نجس او كان في ارض ذات وحل ولم يجد ماء يجففه به او ما اشبه ذلك ففيه اربعۃ اقوال حكاها اصحابنا الخراسانيون. (احدها) يجب عليه ان يصلي في الحال علی حسب حاله ويجب عليه الاءعادۃ اذا وجد ماء او ترابا في موضع يسقط الفرض فيه بالتيمم. وهذا قول هو الصحيح الذي قطع به كثيرون من الاءصحاب او اكثرهم وصصحه الباقون وهو المنصوص في الكتب الجديدۃ. (والثاني )لا تجب الصلاۃ بل تستحب ويجب القضاء,سواء صلی ام لم يصل حكوه عن القديم,وحكاه الشيخ ابو حامد وغيره من العراقيين (والثالث),يحرم عليه الصلاۃ ويجب القضاء حكاه الاءمام الحرمين وجماعۃ من الخراسنيين عن القديم. (والرابع)تجب الصلاۃ في الحال علی حسب حاله ولا تجب الاءعادۃ,حكاه عن القديم ايضا,وستاءتي ادلۃ هذه الاءقوال في فرع مذاهب العلماء ان شاء ﷲ تعالی ,انتهی,

2. Jawaban untuk pertanyaan yang kedua

Ketika seseorang dalam situasi seperti dalam deskripsi diatas maka yang diterapkan tetap penjelasan dalam jawaban yang pertama yaitu tidak boleh jamak, dia wajib sholat lihurmatil wakti setiap masuk waktu shalat dan wajib qadla apabila menemukan air atau debu sebagaimana penjelasan diatas.

Namun terlepas dari deskripsi penanya, ketika seseorang dalam keadaan suci dari najis dan hadats serta memungkinkan mengerjakan shalat, maka dalam situasi tertentu boleh menjamak shalat walaupun tidak dalam perjalanan jauh, sebagaimana uraian berikut;

Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal. 77 disebutkan :

(فائدة) لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي. وظاهر الحديث جوازه في حضر كما في شرح مسلم. وحكى الخطابي عن ابي اسحاق جوازه في الحضر للحاجة وإن لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض. وبه قال ابن المنذر ا.هـ

(Faidah)
Kami berpendapat boleh menjamak shalat bagi orang yang menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. Sebuah hadits dengan jelas memperbolehkan melakukan shalat jamak bagi orang yang bukan musafir sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim. Alkhatthabi menceritakan dari Abu Ishak tentang bolehnya menjamak shalat dalam perjalanan singkat karena suatu keperluan/hajat meskipun tidak dalam kondisi keamanan terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnul Munzir juga memegang pendapat ini,”

والله اعلم بالصواب.

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 95 : SEBAB-SEBAB ANJURAN MANDI BESAR (ADUS)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 95 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( كَانَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَغْتَسِلُ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنْ اَلْجَنَابَةِ وَيَوْمَ اَلْجُمُعَةِ وَمِنْ اَلْحِجَامَةِ وَمِنْ غُسْلِ اَلْمَيِّتِ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَة

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam biasanya mandi karena empat hal: jinabat hari Jum’at berbekam dan memandikan mayit. Riwayat Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) mandi kerana sesuatu perkara dan memerintahkan mandi kerana beberapa perkara yang lain. Baginda mandi kerana berjunub, mandi untuk hari Jum’at dan mandi pula setelah berbekam kerana darah biasanya menyebar ke seluruh tubuh hingga sukar membasuhnya hanya pada bagian tertentu.

Menyedot darah dengan alat dapat menyebabkan darah keluar dari setiap sisi yang disedot, sedangkan mandi dapat menghentikan mengalirnya darah dan mencegah keluarnya darah secara berlebihan.

Kemestian mandi setelah memandikan jenazah adalah disebabkan tubuh

orang yang memandikannya selalunya sukar menghindar dari terkena percikan air. Jika seseorang tahu yang dirinya bakal mandi sesudah itu, maka dia tidak lagi ragu memandikan jenazah dan menyentuh tubuhnya. Apapun, belum pernah terdengar bahwa Nabi (s.a.w) pernah memandikan jenazah.

FIQH HADITS :

1. Wajib mandi kerana berjunub meskipun hanya sekedar hubungan seks sekalipun tanpa keluar air mani.

2. Disyariatkan mandi pada hari Jum’at, sesudah berbekam dan sesudah memandikan jenazah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 94 : KEWAJIBAN ADUS BAGI WANITA YANG KELUAR MANI SETELAH BERMIMPI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 94 :

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الْمَرْأَةِ تَرَى فِى مَنَامِهَا مَايَرَى الرَّجُلُ – قَالَ : ( تَغْتَسِلُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

زَادَ مُسْلِمٌ: فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْم ٍ ( وَهَلْ يَكُونُ هَذَاقَالَ: نَعَمْ فَمِنْ أَيْنَ يَكُونُ اَلشَّبَهُ)

Anas Radliyallahu ‘Anhu berkata: Rasulallah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang perempuan yang bermimpi sebagaimana yang dimimpikan oleh laki-laki, maka sabdanya, “Ia wajib mandi.” Hadits riwayat Muttafaqun ‘Alaih

Imam Muslim menambahkan: Ummu Salamah bertanya: Adakah hal ini terjadi؟ Nabi menjawab: “Ya lalu darimana datangnya persamaan؟”

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) membentuk rupa janin dalam rahim mengikut gambaran yang Dia kehendaki. Adakalanya anak itu mirip dengan ayahnya atau kakeknya dari sebelah ayahnya dan adakalanya pula mirip dengan ibunya atau neneknya dari sebelah ibunya. Air mani siapa diantara keduanya yang mampu mengalahkan yang lain, maka anak yang bakal dilahirkan akan mirip dengan mani yang menang

itu. Ini merupakan salah satu di antara mukjizat Nabi (s.a.w) kerana baginda

mengetahui tentang fasa yang dialami oleh janin. Nabi (s.a.w) mewajibkan mandi kepada wanita yang mengeluarkan air mani dalam mimpi, sebagaimana ia juga diwajibkan kepada lelaki, kerana wanita pada hakekatnya merupakan belahan lelaki.

FIQH HADITS :

1. Wanitapun boleh bermimpi mengeluarkan air mani sama dengan kaum lelaki.

2. Wanita tidak diwajibkan mandi kecuali apabila dia melihat adanya air mani.

3. Pengakuan yang menyatakan bahwa anak itu adakalanya mirip dengan ayahnya atau mirip dengan ibunya. Jika air mani salah seorang di antara keduanya mendahului air mani yang lainnya, maka anaknya akan mirip dengan siapa yang mengeluarkan air mani terlebih dahulu itu.

4. Seorang wanita dibolehkan meminta fatwa mengenai perkara-perkara yang

dianggap musykil baginya dalam urusan agama.

5. Perhatian yang sangat luar biasa dimiliki oleh sahabat wanita untuk sentiasa memperdalam ilmu agama.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 93 : JIMAK TERMASUK HAL YANG MEWAJIBKAN ADUS WALAUPUN TIDAK MENGELUARKAN MANI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 93 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اَلْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ اَلْغُسْلُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

زَادَ مُسْلِمٌ: وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki duduk di antara empat bagian (tubuh) wanita lalu mencampurinya maka ia telah wajib mandi.” Muttafaq Alaihi.

Riwayat Muslim menambahkan: “Meskipun ia belum mengeluarkan (air mani).”

MAKNA HADITS :

Bersetubuh termasuk perkara yang mewajibkan mandi junub, kerana di dalamnya terdapat bersatunya kedua alat kelamin antara suami dengan isteri, baik keluar air mani ataupun tidak. Pada permulaan Islam, syari’at memberikan rukhshah bahwa yang diwajibkan mandi hanyalah apabila persetubuhan itu mengeluarkan air mani, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits sebelum ini: “Mandi itu (wajib) kerana keluar air mani.” Kemudian syari’at memerintahkan mandi apabila telah memasukkan zakar ke dalam kemaluan isteri, sebab makna jinabah menurut istilah orang Arab secara hakiki ditujukan kepada persetubuhan, sekalipun tidak keluar air mani.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan memakai kata sindiran dalam mengungkapkan perkara yang

bersifat aib untuk disebutkan secara langsung.

2. Wajib mandi junub kerana memasukkan zakar ke dalam kemaluan perempuan, sekalipun tidak mengeluarkan air mani.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HJ006. SISTEM TUNGGU KUOTA HAJI TIDAK MENGGUGURKAN KEWAJIBAN BERANGKAT HAJI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Pertanyaan, Mengamati lamanya menungu bagi jamaah haji indonesia menimbulkan sebuah permasalahan, masih wajibkah daftar haji bagi orang yang sudah berusia 50 tahun ke atas?

Apakah kasusnya bisa disamakan dengan haji muhshar?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Orang berumur 50 tahun ataupun lebih dari 50 ke atas ia masih berkewajiban melakukan ibadah haji manakala ia mampu.

Firman Allah swt, Suroh Ali lmron ayat 97 :

وانما شرطت الإستطاعة لقوله تعالى :
ولله على الناس حج البيت من استطاع اليه سبيلا.

قال ابن عباس : والإستطاعة ان يكون قادرا على الزاد والراحلة وان يصح بدن العبد وان يكون الطريق أمنا.
إعانة الطالبين ج ٢ ص ٣١٨

Jadi yang di maksud mampu adalah: punya bekal, Ada kendaraan, badan sehat Dan Dalam perjalanan Aman.

Mampu disini oleh ulama di bagi 2 yaitu :
1- Mampu mubasyaroh, mencakup fisik Dan harta benda.
2-Mampu Niyabah, mencakup harta benda.

Referensi :
i’anatut tolibin juz 2 Hal 318.

ثم الإستطاعة نوعان :
أحدهما : الاستطاعة مباشرة،وهذه يقال لها استطاعة بالبدن والمال ولها أحد عشر شرطا.. الى ان قال…
وثانيها بإنابة الغير عنه،وهذه يقال لها استطاعة بالمال فقط،وانما تكون في ميت ومعضوب.. الخ

Juga dijelaskan dalam kitab :

مغنى المحتاح
الْخَصْلَةُ الثَّانِيَةُ لِلاِسْتِطَاعَةِ: صِحَّةُ الْبَدَنِ:
– إِنَّ سَلاَمَةَ الْبَدَنِ مِنَ الأَْمْرَاضِ وَالْعَاهَاتِ الَّتِي تَعُوقُ عَنْ الْحَجِّ شَرْطٌ لِوُجُوبِ الْحَجِّ.
فَلَوْ وُجِدَتْ سَائِرُ شُرُوطِ وُجُوبِ الْحَجِّ فِي شَخْصٍ وَهُوَ مَرِيضٌ زَمِنٌ أَوْ مُصَابٌ بِعَاهَةٍ دَائِمَةٍ، أَوْ مُقْعَدٌ أَوْ شَيْخٌ كَبِيرٌ لاَ يَثْبُتُ عَلَى آلَةِ.

شُرُوطُ الزَّادِ وَآلَةِ الرُّكُوبِ:
– ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ شُرُوطًا فِي الزَّادِ وَآلَةِ الرُّكُوبِ الْمَطْلُوبَيْنِ لاِسْتِطَاعَةِ الْحَجِّ، هِيَ تَفْسِيرٌ وَبَيَانٌ لِهَذَا الشَّرْطِ، نَذْكُرُهَا فِيمَا يَلِي:
أ – أَنَّ الزَّادَ الَّذِي يُشْتَرَطُ مِلْكُهُ هُوَ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي ذَهَابِهِ وَإِيَابِهِ مِنْ مَأْكُولٍ وَمَشْرُوبٍ وَكِسْوَةٍ بِنَفَقَةٍ وَسَطٍ لاَ إِسْرَافَ فِيهَا وَلاَ تَقْتِيرَ، فَلَوْ كَانَ يَسْتَطِيعُ زَادًا أَدْنَى مِنَ الْوَسَطِ الَّذِي اعْتَادَهُ لاَ يُعْتَبَرُ مُسْتَطِيعًا لِلْحَجِّ، وَيَتَضَمَّنُ اشْتِرَاطُ الزَّادِ أَيْضًا مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنْ آلاَتٍ لِلطَّعَامِ وَالزَّادِ مِمَّا لاَ يَسْتَغْنِي عَنْهُ.

وَجْهُ الاِسْتِدْلاَل أَنَّ ” مَنْ كَانَ صَحِيحَ الْبَدَنِ قَادِرًا عَلَى الْمَشْيِ وَلَهُ زَادٌ فَقَدِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً فَيَلْزَمُهُ فَرْضُ الْحَجِّ “.

Kesimpulan :
Tidak Ada batasan umur dalam Melaksanakan kewajiban haji, Selama bukan Anak Anak (Belum baligh) Dan tidak Gila Maka haji tetap wajib.

Jawaban no 2.
Tidak Sama, ibarot telah disinggung pada jawaban no 1.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 92 : KEWAJIBAN ADUS BAGI ORANG JUNUB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 92 :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلْمَاءُ مِنْ اَلْمَاءِ) رَوَاهُ مُسْلِم وَأَصْلُهُ فِي اَلْبُخَارِيّ

Dari Abu said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Air itu dari air.” Riwayat Muslim yang berasal dari Bukhari.

MAKNA HADITS :

Sebahagian sahabat pada mulanya mengira bahwa kewajipan mandi junub hanya kerana bersetubuh dan mereka tidak tau bahwa mereka wajib mandi apabila mimpi mengeluarkan air mani. Nabi (s.a.w) memberitau mereka bahwa bermimpi mengeluarkan air mani wajib mandi junub. Untuk itu, Nabi (s.a.w)

bersabda bahwa wajib mandi dengan air yang boleh menyucikan apabila keluar air mani. Al-Qasr dalam hadits ini adalah qasr idhafi. Makna ini lebih utama dibanding mengatakan hadits ini di-mansukh, sebab nasakh berpegang dengan kaidah asal. Apapun, ada hadits lain yang mendukunng nasakh. Oleh sebab itu, Ibn Hajar penulis Bulugh al-Maram ini tetap berpegang dengan hadits ini, lalu mengiringinya dengan hadits lain yang berkaitan dengannya.

FIQH HADITS :

1. Wajib mandi kerana mengeluarkan air mani.

2. Pemahaman hadits ini di-nasakh oleh hadits berikut ini yang menunjukkan

wajib mandi apabila kedua khitan (tempat sunnat) bertemu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D014. APAKAH SEMUA PERTANYAAN WAJIB DI JAWAB?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Langsung saja mau tanya,
Apakah setiap pertanyaan harus dijawab, sementara hal yang ditanyakan merupakan hal yg sangat bersifat rahasia?
Lalu bagaimana kaitannya dengan hadits orang yang ditanyai ilmu sementara ia tidak menjawab/atau menyimpannya sedangkan ia tau?

من سئل عن علم فكتمه ألجمه الله يوم القيامة بلجام من النار. ” رواه ابن ماجه “

Mohon jawabannya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak semua pertanyaan itu harus dijawab, mengapa demikian? karena ilmu itu ada dua yaitu :
1- ilmu lisan dan
2- ilmu hati.
Adapun pertanyaan yang harus dijawab adalah ilmu lisan, yaitu ilmu yang nampak, seperti halnya hukum-hukum mu’amalah, hukum-hukum yang menjelaskan tentang halal dan haram, dan lain sebagainya maka jika dimintai/ atau ditanyaakan tentang hal tersebut maka ia wajib menjawab/ mejelaskan sesuai dengan ilmu pengetahun yang dimilikinya atau yang ia ketahui, karena kalau ia mengetahui dan tidak menjelaskan ketika ditanya maka hukumnya haram, dan akan dibelenggu di akhirat dengan belenggu api neraka. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Nabi (s.a.w) :

عن ابي هريرة رضي الله قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من سئل عن علم فكتمه ألجمه الله يوم القيامة بلجام من النار. ” رواه ابن ماجه “

“Barang siapa yang ditanyai tentang ilmu lalu ia menyimpannya (tidak menjelaskannya) maka Allah akan membelenggunya dihari kiamat dengan belenggu api neraka”

Sedangkan pertayaan yang tidak harus dijawab ialah ilmu yang bersifat rahasia (hati) sedang urusan hati hanyalah yang melihatnya, hanya Allah swt, sebagaimana Rasulullah bersabda :

Rasulullah bersabda :

العلم علمان ، علم في القلب فذلك علم النافع وعلم في اللسان فذلك حجة الله على ابن أدم رواه الخطيب عن جابر
مختار الحديث ص ١١٦

“Ilmu itu ada dua :
1- ilmu hati, Yaitu ilmu yang bermanfaat.
2- ilmu lisan, Yaitu hujjah/ dalil atas anak Adam.
Contoh bahwa tidak semua pertanyaan bisa dijawab dijelaskan Assyaih Athoillah dalam kitab Alhikam.

(غيث المواهب العليۃ في شرح الحكم العطاءيۃ,صحيفۃ ٢٣٣)ما العارف من اذا اشار وجد الحق اقرب اليه من اشارته,بل العارف من لا اشارۃ له,لفناءه في وجوده وانطواءه في شهوده.

Bukanlah orang yang ‘aarif (yang ahli ma’rifat), yaitu orang yg jika orang itu memberi isyarot maka orang yg ‘aarif itu menemukan kepada Allah lebih dekat dari isyarohnya.
Tapi yg dikatakan ‘aarif adalah orang yg tidak ada isyaroh bagi dia, disebabkan karena (perasaan didalam orang ‘aarif) tentang fana’nya orang ‘aarif itu didalam wujudnya Allah, dan disebabkan karena orang yg ‘aarif itu dilipat didalam menyaksikan (didalam hatinya) kepada Allah.
Artinya, jika kita bertanya kepada orang yg ‘aarif (yang ahli ma’rifat kepada Allah) tentang rahasia ketuhanan, maka orang yg ‘aarif itu tidak akan menjawab, karena dia itu sangat asyik didalam menyaksikan dzat Allah dari bashirohnya (dari mata hatinya).

imam asysyibli berkata:

وكل اشارۃ اشار بها الخلق الی الحق فهي مردودۃ عليهم,حتی يشيروا الی الحق بالحق وليس لهم ذلك طريق

Semua isyaroh, yg mana makhluk itu memberi isyaroh dengan isyaroh itu kepada pengenalan kepada Allah,maka isyaroh itu ditolak dari makhluk, sampai makhluk itu memberi isyaroh kepada pengenalan kepada Allah(dengan melalui Allah).Dan tidak ada jalan bagi makhluk untuk mengenal secara haqiqat kepada Allah.
Artinya tidak setiap pertanyaan itu wajib dijawab. Kalau pertanyaannya itu mengenai pengenalan kepada haqiqat Allah (haqiqat ketuhanan) itu sulit jawabannya.

“Apabila seseorang bertanya pada orang lain, apakah malam ini baik untuk di gunakan akad nikah atau pindah rumah maka pertanyaan seperti tidak perlu dijawab, karena nabi pembawa syariat melarang meyakini hal semacam itu dan mencegahnya dengan pencegahan yang sempurna maka tidak ada pertimbangan lagi bagi orang yang masih suka mengerjakannya, Imam Ibnu Farkah menuturkan dengan menyadur pendapat Imam syafii : Bila ahli nujum tersebut meyakini bahwa yang menjadikan segala sesuatu hanya Allah hanya saja Allah menjadikan sebab akibat dalam setiap kebiasaan maka keyakinan semacam ini tidak apa-apa yang bermasalah dan tercela adalah bila seseorang berkeyakinan bahwa bintang-bintang dan makhluk lain adalah yang mempengaruhi akan terjadinya sesuatu itu sendiri (bukan Allah). Lihat Ghayat al Talkhis al Murad Hal 206 :

(مسألة) إذا سأل رجل اخر هل ليلة كذا او يوم كذا يصلح للعقد او النقلة فلا يحتاج إلي جواب لان الشارع نهي عن اعتقاد ذلك وزجر عنه زجرا بليغا فلا عبرة بمن يفعله. وذكر ابن الفركاح عن الشافعي انه ان كان المنجم يقول ويعتقد انه لايؤثر الا الله ولكن أجري الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا . والمؤثر هو الله عز وجل. فهذه عندي لابأس فيه وحيث جاء الذم يحمل علي من يعتقد تأثير النجوم وغيرها من المخلوقات. وافتى الزملكاني بالتحريم مطلقا. اهـ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

N038. STATUS MERTUA TIRI DALAM HAL KEMAHRAMAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Diskripsi :
Saya mempunyai mertua pernah menikah dgn seorang wanita kemudian cerai, kemudian menikah kembali dgn seorang wanita dan dikaruniai seorang anak perempuan yang menjadi istri saya. Kemudian ayah mertua menikah lagi dengan wanita lain dan tidak dikaruniai anak.

Pernyataannya,
Apakah saya dengan mantan istri mertua saya berstatus mahrom? Dan apakah saya dengan istri ayah Mertua saya yang ketiga juga Mahrom?

Mohon penjelasan para ustadz dan kiai..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Istri-Istri dari mertua selain ibu kandung dari istri kita bukanlah mahram, kita boleh menikahi mereka apabila mereka cerai dari mertua kita, Dengan demikian istri-istri mertua yang menjadi mahram kita hanyalah ibu kandung dari istri kita.

Disebutkan dalam al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 22

وَلاَ تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ أبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

“Dan janganlah kamu menikahi istri-istri ayah kamu”.

Maksud ayat ini adalah larangan kepada anak kandung menikahi istri-istri dari ayah kandungnya.

Disebutkan pula tentang larangan menikahi ibu mertua dalam surah An-Nisa’ ayat 23

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهَاتُكُمْ ….. ….. وَاُمَّهَاتُ نِسَاءِكُمْ

“Diharamkan atas kalian Ibu-ibu kalian ……. ….. dan Ibu-ibu dari istri–istri kalian.”

Berkenaan dengan hal ini dijelaskan dalam kitab Qurrat al-‘Ain hal. 208 :

أن التحريم خاص بأم الزوجة وأمهاتها وإن علون فقط. أما زوجات أبيها الباقيات فلايحرمن علي الزوج. وذلك لفقد المعني الذي من أجله حرمت أم الزوجة في قوله تعالي”أمهات نسأئكم” وهو أن الله تعالي جعلها محرمة علي زوج بنتها بمجرد العقد علي البنت لاحتياجه اليها. بل لاضطراره اليها لتفريب وجهة النظر بينه وبين الزوجة وتوفير اسباب الألفة بينهما. وهذا المعني مفقود من بقية زوجات الأب لأنهن ضرائر لأمها فلا يسرهن صلاح حالها مع زوجها كما هو المعروف من طبيعة الحال والعرف

Sesungguhnya keharaman yang dimaksud disini adalah khusus pada ibu dari istri dan nenek-neneknya sampai keatas saja, adapun istri-istri dari ayah mertua yang lain, tidaklah mahram bagi sang suami. Hal ini karena ayat yang menjelaskan tentang “keharaman ibu-ibu istri” dalam ayat “أمهات نسأئكم” tidak mengandung makna yang mengarah kepada istri-istri mertua yang lain. Dalam ayat ini Allah menjadikan mertua perempuannya mahram bagi suami dari anaknya sendiri yang disebabkan terjadinya aqad atas sang anak perempuannya karena kebutuhan suami kepadanya.

Wallahu a’lamu bisshowab..