logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 111 : DEBU ADALAH PENGGANTI SEMENTARA APABILA TIDAK ADA AIR

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 111 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اَلصَّعِيدُ وُضُوءُ اَلْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ اَلْمَاءَ عَشْرَ سِنِينَ فَإِذَا وَجَدَ اَلْمَاءَ فَلْيَتَّقِ اَللَّهَ وَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلْقَطَّانِ و لَكِنْ صَوَّبَ اَلدَّارَقُطْنِيُّ إِرْسَالَه

وَلِلتِّرْمِذِيِّ: عَنْ أَبِي ذَرٍّ نَحْوُهُ وَصَحَّحَه

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tanah itu merupakan alat berwudlu bagi orang Islam meskipun ia tidak menjumpai air hingga sepuluh tahun. Maka jika ia telah mendapatkan air hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menggunakan air itu untuk mengusap kulitnya.” Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Shahih menurut Ibnul Qaththan dan mursal menurut Daruquthni.

Menurut riwayat Tirmidzi dari Abu Dzar ada hadits serupa dengan hadits tersebut. Hadits tersebut shahih menurutnya.

MAKNA HADITS :

Tayammum dengan debu merupakan salah satu keistimewaan umat Nabi
Muhammad (s.a.w), sebagaimana yang disebutkan dalam sabdanya:

وجعلت التراب ترابتها لنا طهورا، إذا لم نجد الماء

“Dan debunya dijadikan bagi kami dapat menyucikan apabila kami tidak menjumpai air.” Debu merupakan sarana bersuci orang muslim. Dengan debu tersebut dia dierbolehkan melakukan perkara-perkara yang dilarang kerana berhadas kecil dan berhadas besar (junub). Tetapi debu pada dasarnya tidak dapat menghilangkan hadas. Buktinya ialah apabila dijumpai air, maka seseorang diwajibkan berwuduk atau mandi junub. Hukum boleh bertayammum dibatasi dengan adanya air.

Oleh kerana tayammum merupakan cara yang masih belum dikenali oleh
masyarakat Arab dan belum pula oleh yang bangsa yang lain, maka syariat mengukuhkan perintahnya kepada mereka dan menamakannya sebagai sesuatu yang boleh menyucikan ketika air tidak ada. Hal ini dinyatakan dengan ungkapan mubalaghah melalui sabdanya: “Apabila tidak menemukan air, sekalipun selama sepuluh tahun.” Nabi (s.a.w) menamakannya sebagai pengganti air yang menyucikan.

Dalam keadaan di mana sukar dijumpai, tidak ada bedanya antara ketiadaan
yang hakiki atau ketiadaan hukmi seperti seseorang yang kehilangan alat untuk mengeluarkan air atau sedang sakit yang melarangnya menggunakan air kerana sakitnya dikawatiri bertambah terus atau malah lambat sembuh, atau akan mengakibatkan komplikasi penyakit lain yang diketahui secara pasti atau hanya berlandaskan prasangka melalui uji coba atau nasehat pakar seorang dokter muslim.

FIQH HADITS :

1. Tayammum juga disebut sebagai wudhu.

2. Tayammum menggantikan kedudukan air yang dapat menghilangkan junub untuk sementara waktu hingga air ditemukan.

3. Orang yang junub lalu bertayammum apabila dia menemukan air, maka dia wajib segera mandi junub.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 110 : CARA MEMBASUH MUKA DAN TANGAN KETIKA TAYAMMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 110 :

وَعَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى اَلْمِرْفَقَيْنِ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَ اَلْأَئِمَّةُ وَقْفَه

Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku.” Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) memberi petunjuk kepada umatnya dan menjelaskan kepada mereka tentang hukum. Kadang kala baginda menjelaskan perkara yang wajib secara komprehensif dan kadang pula menjelaskan apa yang dianjurkan secara lengkap. Baginda menjelaskan bahwa tayammum itu dilakukan dengan dua kali pukulan debu; sekali pukulan untuk mengusap wajah dan sekali pukulan lagi untuk mengusap kedua tangan.

Ada sebagian ulama fiqih yang menjadikan hadis ini sebagai batasan tayammum yang sempurna dan menjadikan perkara yang diwajibkan hanya dengan sekali pukulan. Ada yang menjadikan pengusapan terhadap kedua tangan hanya sampai batas kedua pergelangan tangan serta menjadikan pukulan yang kedua dan mengusap sampai batas kedua siku sebagai batas tayammum yang sempurna. Pendapat ini berlandaskan kepada usaha menggabungkan beberapa hadis dalam masalah ini. Ada juga di antara mereka yang menjadikan dua kali pukulan serta mengusap kedua tangan sampai batas kedua siku itu merupakan perkara yang diwajibkan dalam tayammum karena berdasarkan tarjih hadis-hadis yang menunjukkan demikian. Cara ini merupakan yang ditempuh melalui tarjih.

FIQH HADITS :

1. Menjelaskan cara bertayammum, iaitu dilakukan dengan dua kali pukulan. Ini menurut pendapat Imam al-Syafi’i, Imam Abu Hanifah dan satu riwayat dari Imam Malik. Tetapi pendapat yang paling masyhur di kalangan mazhab Maliki ialah pukulan pertama fardu, sedangkan pukulan kedua sunat. Imam Ahmad mengatakan bahwa apa yang diwajibkan ialah sekali pukulan kerana berlandaskan kepada hadis ‘Ammar ibn Yasir (r.a) yang menceritakan: “Aku pernah bertanya kepada Nabi (s.a.w) mengenai cara tayammum. Baginda memerintahkan kepadaku melakukan sekali pukulan untuk mengusap wajah dan kedua telapak tangan.”

2. Disyariatkan tertib (berurutan), yaitu dengan mendahulukan pengusapan wajah ke atas pengusapan kedua tangan. Ini adalah wajib menurut Imam al-Syafi’i. Sedangkan menurut pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, berurutan bukanlah syarat dalam bertayammum, sebaliknya ia hanya disyaratkan ketika menyucikan diri dari hadas besar saja, bukannya untuk hadats kecil.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T025. HUKUM AIR SEDIKIT YANG DITAMBAH DENGAN BARANG NAJIS MENJADI DUA KULLAH

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi :
Ada air untuk mencapai ukuran dua qullah hanya kurang satu cangkir/gelas, kemudian air tersebut ditambah barang najis berupa air seni ukuran satu cangkir/gelas sehingga air tersebut menjadi sampai ukuran dua qullah.

Pertanyaan : Sucikah air yang pas dua qulla tersebut dengan dicampur air seni satu cangkir/gelas

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukumnya tetap najis karena penambahannya dengan barang najis, bukan dengan sesama jenis air walaupun mutanajjis atau mustakmal.

فصل: وإذا كان الماء قلتين) ولو احتمالاً، وإن تيقنت قلّته قبل، بأن جمع شيئاً فشيئاً فبلغ قلتين لا ببول أو مائع، بل من خالص الماء ولو متنجساً أو مستعملاً أو متغيراً ( .. فلا ينجس بوقوع النجاسة فيه)؛ لخبر القلتين المتقدم (إلا إن تغير) من تلك النجاسة الواقعة فيه يقيناً (طعمه، أو لونه، أو ريحه، ولو تغيراً يسيراً) ولو بمعفو عنه، ولو بمجاور أو مخالط لم يستغن الماء عنه؛ لغلظ النجاسة.

(بشرى الكريم شرح المقدمة الحضرمية )

Apabila air belum sampai dua kullah, lalu ditambah dengan air murni menjadi dua kullah walaupun penambahan tersebut mutanajjis atau mustakmal atau air yang sudah berubah, (bukan dari barang najis seperti kencing dan benda cair sejenisnya), maka air tersebut tidak bisa najis kecuali berubah rasa, warna dan baunya walaupun perubahannya hanya sedikit.

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺨﺘﺮﻋﻪ ﺑﻌﺾ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﻭﻳﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﻣﺬﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺃﻧﻪ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻗﻠﺘﻴﻦ ﺇﻻ ﻛﻮﺯا ﻓﻜﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﻃﻬﺮ ﻓﺒﻬﺘﺎﻥ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻪ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ: ﻗﺎﻝ اﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺣﺎﻣﺪ ﺷﻴﺦ اﻷﺻﺤﺎﺏ ﺇﺫا ﻛﻤﻠﻪ ﺑﺒﻮﻝ ﺃﻭ ﻧﺠﺎﺳﺔ ﺃﺧﺮﻯ ﻓﺎﻟﺠﻤﻴﻊ ﻧﺠﺲ ﺑﻼ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﻴﻦ: ﻭﻗﺎﻝ ﻭﺃﺻﺤﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﺤﻜﻮﻥ ﻋﻨﺎ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﺬﻫﺒﺎ ﻟﻨﺎ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

(المجموع)

Lihat kitab Fath al-Mu’in :

والماء القليل إذا تنجس يطهر ببلوغه قلتين ولو بماء متنجس حيث لا تغير به

( قوله والماء القليل إذا تنجس ) أي بوقوع نجاسة فيه وقوله يطهر ببلوغه قلتين أي بانضمام ماء إليه لا بانضمام مائع فلا يطهر ولو استهلك فيه وقوله ولو بماء متنجس أي ولو كان بلوغه ما ذكر بانضمام ماء متنجس إليه أي أو بماء مستعمل أو متغير أو بثلج أو برد أذيب

Air sedikit bila menjadi najis bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah meskipun memakai air yang terkena najis asalkan tidak menjadikannya berubah.

(Keterangan Air sedikit bila menjadi najis) artinya menjadi najis sebab kejatuhan najis.

(Keterangan bisa suci kembali dengan menjadikan ia dua qullah) artinya dengan menambahkan air lain padanya tidak dengan menambahkan barang cair lainnya meskipun bisa melebur dengan air.

(Keterangan meskipun memakai air yang terkena najis) artinya meskipun penambahan untuk menjadikannya dua qullah tersebut memakai air lain yang terkena najis, atau menggunakan air musta’mal, atau air yang berubah, atau es atau embun yang telah meleleh. [ I’anah at-Thoolibiin I/34 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

N041. BATALNYA NIKAH KARENA MURTAD

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi :
Ada sepasang suami istri bernama Mahmudi dan Mahmudah. Pada suatu waktu si Mahmudi melakukan perbuatan yang menyebakan dia menjadi murtad, beberapa hari kemudian si Mahmudah (istrinya) yang cantik jelita sowan pada gurunya, guna menanyakan setatusnya menjadi istri Mahmudi, lalu sang guru menyatakan bahwa tali pernikahan keduanya sepontanitas batal. Namun selang tiga hari kemudian si Mahmudi sadar diri, dan ia pun bertobat masuk islam kembali dengan membaca syahadad. Sedangkan ia berkeinginan untuk kembali/meminang kembali istri yang cantik jelita serta tersebut.

Pertanyaannya :
Apakah Mahmudi harus melakukan akat nikah baru?

Mohon penjelasan Ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Pandangan Madzhab Syafi’i:
Menurut Imam Nawawi dalam kitab Raudhah at Talibin VII/141-142. Pasal Pindah Agama: Apabila suami istri murtad atau salah satunya sebelum terjadinya dukhul (hubungan intim), maka otomatis terjadi talak. Apabila setelah dukhul maka diperinci. Dalam arti, apabila kembali ke Islam sebelum habisnya iddah, maka nikah diteruskan; apabila tetap murtad maka talak terjadi dan dihitung sejak masa murtad. Dan selama masa menunggu, tidak halal melakukan hubungan intim.

CATATAN DAN RUJUKAN :

[1] – Imam Nawawi dari madzhab Syafi’i menyatakan dalam kitab Al-Minhaj

ولو انفسخ -أي النكاح- بردة بعد وطء فالمسمى -أي فالواجب هو المهر المسمى. انتهى
فقد سمى رحمه الله الفرقة الحاصلة بسبب الردة فسخاً

Artinya: Apabila nikah batal (fasakh) karena sebab murtad setelah terjadinya hubungan intim maka istri berhak mendapat mahar atau maskawin (kalau mahar belum dibayar). Perpisahan suami-istri karena murtad disebut fasakh.

[2]- Al-Ibadi dari madzhab Hanafi mengatakan dalam kitab Mukhtashar Al-Qaduri

وإذا ارتد أحد الزوجين عن الإسلام وقعت البينونة بينهما فرقة بغير طلاق عندهما -يعني أبا حنيفة وأبا يوسف – وقال محمد إن كانت الردة من الزوج فهي طلاق.

Artinya: Apabila salah satu suami-istri murtad dari Islam maka terjadikan perpisahan (firqah) yang bukan talak. Menurut Abu Yusuf, apabila yang murtad itu suami maka disebut talak.

[3]- Dalam kitab Daurul Hukkam madzhab Hanafi juga dikatakan

ارتداد أحدهما فسخ عاجل للنكاح غير موقوف على الحكم. وفائدة كونه فسخاً أن عدد الطلاق لا ينتقص به.

Artinya: Murtadnya salah satu suami-istri membatalkan nikah secara otomatis tanpa perlu keputusan hukum pengadilan.

Kesimpulannya :

Mahmudi tidak perlu melakukan akad baru, dengan alasan karena Mahmudi kembali ke agama islam pada waktu” iddah “secara otomatis Mahmudah yang cantik jelita menjadi istrinya lagi.

Referensi :

إسعاد الرفيق الجزء الأول ص ٦٤ مكتبة “الهداية” سورابيا
(و) يبطل بها (نكاحه) مسلمة إذا كانت ردته ولو معها (قبل الدخول)أي قبل وطئها أو وصول المنيّ المحترم لفرجها لأن النكاح لم يتأكد حينئذ لفقد غايته (وكذا) يبطل إذارتدّ معا أوأحدهما (بعده) أي الدخول (إن لم ) يعودا أو (يعد ) المرتد منهما إلى الإسلام أي لم يجمعهما الإسلام (في) مدة (العدةِ) والمراد أنه يتبين بطلانه حين الردة منهما أو من أحدهما فلا ينفذ طلاق ولا ظهار ولا إلاء

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T024. HUKUM MELAKUKAN JIMAK DIWAKTU HAID

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Mau tanya ustadz..

1. Bagaimana hukumnya suami istri melakukan jimak sedang istri dalam situasi haid?

2. Bagaimana cara mandi besar/ adus (Bhs Madura) bagi yang melakukan hal tersebut?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته.

Jawaban untuk No.1 :

Hukum melakukan jimak ketika istri dalam keadaan haid adalah haram dan termasuk bagian dari perbuatan dosa bilamana ia lakukan dengan sengaja, sebagaimana ibarah berikut :

Referensi :

الإقناع فى حل الألفاظ ابي شجاع.ص٨٧
{الوطء} ولو بعد انقطاعه وقبل الغسل لقوله تعالى ولاتقربو هن حتى يطهرن ووطئها فى الفرح كبيرة من العامد العالم بالتحريم المختار ويكفر مستحله كما فى المجموع عن الأصحاب وغيرهم بخلاف الناسي والجاهل والمكره لخبر إن الله تجاوز عن أمتي الخطاء والنسيان ومااستكرهوا عليه رواه البهقي وغيره، ويسن للواطئ المتعمد المختار بالتحريم فى أول الدم وقوعه التصدق بمثقال اسلامى من الذهب الخالص وفى آخر الدم وضعفه بنصف مثقال لخبر إذا وقع الرجل أهله وهى حائض ان كان دما أحمر فليتصدق بدينار وان كان أصفر فليتصدق بنصف دينار .رواه ابوادود.

“(Wathi’/jima).”Walau setelah terputusnya darah dan sebelumnya mandi, karena berdasarkan firman Allah swt, ” Janganlah kau dekati (wathi’/jima’) mereka (perempuan) sehingga mereka dalam keadaan suci. Dan menjima’ perempuan dalam keadaan haid adalah termasuk dosa besar bilamana ia lakukan dengan sengaja dan sudah tahu akan keharaman yang terpilih. Dan ia menjadi penyebab kekafiran manakala ia menghalalkannya (wathi’ dalan situasi haid) sebgaimana dijelaskan dalam kitab majmu’ dari Ashhab dan yang lain-Nya, dan berbeda dengan situasi lupa, tidak tahu dan dipakasa, karena berdasarkan sebuah hadits ” Sesungguhnya Allah mengampuni dari ummatku yaitu: keliru dan lupa dan sesuatu yang dipaksa.{HR.Baihaqi}.

Dan disunnatkan bagi orang yang yang sengaja melakukan wathi’ dan sudah mengetahui akan keharaman-Nya, diawal terjadinya darah, yaitu bersedekah seberat satu misqol islamiy dari emas yang murni, dan dalam berakhirnya darah dan lemahnya darah bersedakah dengan separuhnya mistqol, karena hadits “Apabila telah terjadi wathi’ (jima) seorang laki-laki pada ahlinya (istrinya) sedangkan istrinya dalam keadan haid, jika adanya darah mirah maka bersedakalah dengan dinar. Dan bilamana adanya darah kuning maka bersedakahlah dengan separuh dinar. { HR.Abudaud}.

SELAIN hukumnya haram Bagi yang tau namun tetap sengaja menjimak istrinya
maka ia dianjurkan (Sunnah) bersedekah se dinar. Jika mewathi’ di waktu Kuatnya darah.

Jika mewathi’nya di waktu darah sudah lemah serta sebelum perempuan adus,
Maka disunnahkn bersedekah separuh dinar.

Pesan kitab majmuk dibawah juga ada teks :
Bagi pelanggar tersebut hendaklah beristighfar dan bertaubat kepada Allah (s.w.t) يستغفر الله تعالى ويتوب

المجموع شرح المهذب [2 /359]

فان وطئها مع العلم بالتحريم ففيه قولان قال في القديم ان كان في أول الدم لزمه أن يتصدق بدينار وان كان في آخره لزمه أن يتصدق بنصف دينار لما روى ابن عباس رضى الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في الذى يأتي امرأته وهى حائض يتصدق بدينار أو بنصف دينار وقال في الجديد لا يجب لانه وطئ محرم للاذى فلم تتعلق به الكفارة كالوطئ في الدبر ]

[ الشرح ] أجمع المسلمون علي تحريم وطئ الحائض للآية الكريمة والاحاديث الصحيحة قال المحاملي في المجموع قال الشافعي رحمه الله من فعل ذلك فقد اتي كبيرة قال أصحابنا وغيرهم من استحل وطئ الحائض حكم بكفره قالوا ومن فعله جاهلا وجود الحيض أو تحريمه أو ناسيا أو مكرها فلا اثم عليه ولا كفارة لحديث ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (ان الله تجاوز لى عن امتى الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه) حديث حسن رواه ابن ماجه والبيهقي وغيرهما وحكي الرافعي عن بعض الاصحاب انه يجئ علي القديم قول انه يجب علي الناسي كفارة كالعامد وهذا ليس بشئ

واما إذا وطئها عالما بالحيض وتحريمه مختارا ففيه قولان الصحيح الجديد لا يلزمه كفارة بل يعذر ويستغفر الله تعالى ويتوب.

ويستحب ان يكفر الكفارة التى يوجبها القديم والثاني وهو القديم يلزمه الكفارة وذكر المصنف دليلهما والكفارة الواجبة في القديم دينار ان كان الجماع في اقبال الدم ونصف دينار ان كان في ادباره.

والمراد باقبال الدم زمن قوته واشتداده وبادباره ضعفه وقربه من الانقطاع هذا هو المشهور الذى قطع به الجمهور وحكي الفوراني وامام الحرمين وجها عن الاستاذ ابي اسحق الاسفراينى ان اقباله ما لم ينقطع وادباره ما بعد انقطاعه وقبل اغتسالها وبهذا قطع القاضى أبو الطيب في تعليقه فعلي قول الجمهور لو وطئ بعد الانقطاع وقبل الاغتسال لزمه نصف دينار قاله البغوي وغيره واستدلوا لهذا القول القديم بحديث ابن عباس المذكور وحملوا قوله بدينار أو بنصف دينار علي التقسيم وان الدينار في الاقبال والنصف في الادبار.

Jawaban untuk No.2 :

Adapun cara bersuci/ adus (Bhs Madura) bagi orang yang terlanjur jima dalam keadaan haid, (ia dalam situasi menanggung dua hadas yakni janabah dan haid). Maka carannya adalah cukup memilih salah satu dari keduanya, berdasarkan Qaidah :

إذاتزامحت المصالح قدم الأعلى * وإذا تزامحت المفاسد قدم الأخف

“Jika terdapat beberapa kemasalahan bertabrakan maka dahulukannlah mashlahat yang paling tinggi. Dan bilamana kerusakan-kerusakan (bahaya) bertabrakan maka dahulukanlah kerusakan yang lebih ringan. Dalam hal ini dikokohkan dalam ibarah berikut dalam kitab fiqhussuh :

يجزئ غسل واحد من حيض وجنابة ، أو عن جمعة وعيد، أو عن جنابة وجمعة ،إذا نوى الكل، لقوله صلى الله عليه وسلم.” وإنما لكل امرئ مانوى”

“Cukuplah mandi salah satu diatara dari haid dan janabah, dan diatara jum’at dan aid, atau diantara janabah dan jum’at, manakala ia berniat secara keseluruhan, karena berdasarkan pada hadits Nabi saw. Dan sesungguhn-Nya keabsahan sesuatu pekerjaan adalah tergantung pada niat.

والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 109 : TATA CARA TAYAMMUM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 109 :

وَعَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( بَعَثَنِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ فَلَمْ أَجِدِ اَلْمَاءَ فَتَمَرَّغْتُ فِي اَلصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ اَلدَّابَّةُ ثُمَّ أَتَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ: إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَقُولَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ اَلْأَرْضَ ضَرْبَةً وَاحِدَةً ثُمَّ مَسَحَ اَلشِّمَالَ عَلَى اَلْيَمِينِ وَظَاهِرَ كَفَّيْهِ وَوَجْهَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم

وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: وَضَرَبَ بِكَفَّيْهِ اَلْأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْه

Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan lalu aku junub dan tidak mendapatkan air maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini.” Lalu beliau menepuk tanah sekali kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya punggung kedua telapak tangan dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.

MAKNA HADITS :

Sahabat yang mulia ‘Ammar ibn Yasir (r.a) menempuh cara dzahir sebagaimana yang dituntut oleh pemahaman analogi dan akal. Beliau berpandangan tayammum merupakan pengganti mandi. Oleh sebab itu beliau meyakini bahwa seluruh tubuh mesti terkena debu sebagaimana halnya mandi. Untuk itu, beliau berguling di atas pasir seperti bergulingnya seekor hewan ternakan. Nabi (s.a.w) menjelaskan kepadanya tatacara bertayammum yang disyariatkan oleh Allah (s.w.t).

FIQH HADITS :

1. Tidak ada celaan terhadap seorang mujtahid apabila dia telah mengerahkan seluruh kemampuannya tetapi masih tetap salam dan tidak mencapai kebenaran.

2. Pengajaran secara praktikal memiliki kesan yang lebih mendalam dibanding pengajaran secara teori.

3. Boleh membatasi tayammum hanya dengan sekali pukulan (sekali ambil debu).

4. Disyariatkan mengusap wajah dan dua telapak tangan dalam tayammum menurut pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah dan Imam al-Syafi’i di dalam qaul jadidnya, batas mengusap tangan sampai kepada kedua siku. Keduanya melandaskan pendapat mereka kepada dalil hadis kedua yang akan disebut sesudah ini.

5. Tayammum sudah mencukupi dijadikan sebagai pengganti mandi junub apabila air tidak dijumpai.

6. Disyariatkan menepuk kedua tangan ketika bertayammum.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 108 : DEBU SEBAGAI PENGGANTI AIR UNTUK BERSUCI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG TAYAMUM

HADITS KE 108 :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي اَلْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ اَلصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ ) وَذَكَرَ اَلْحَدِيث

وَفِي حَدِيثِ حُذَيْفَةَ عِنْدَ مُسْلِمٍ: ( وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ اَلْمَاءَ)

وعن علي رضي الله عنه عند أحمد “وجعل التراب لي طهورا”

Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepad seorang pun sebelumku yaitu aku ditolong dengan rasa ketakutan (musuhku) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci maka siapapun menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat. “Muttafaq Alaihi”.

Dan menurut Hadits Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: “Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci.”

Menurut riwayat Ahmad daripada ‘Ali (r.a) disebutkan: “Dan dijadikan bagiku tanah dapat menyucikan.”

MAKNA HADITS :

Dalam pembahasan sebelum ini telah disebutkan bersuci dengan air, baik ber-suci kecil (wudhu) maupun bersuci besar (mandi junub) di samping hukum-hukum yang berkaitan dengan keduanya.

Dalam bab ini diterangkan pula bersuci dengan debu kerana tanah dapat dijadikan sebagai pengganti bersuci dengan air, tetapi tidak boleh menggunakan cara ini kecuali dalam keadaan yang tidak memungkinkan memperoleh dan menggunakan air. Ini merupakan salah satu keistimewaan umat Nabi Muhammad (s.a.w).

Allah (s.w.t) telah memuliakan Rasul-Nya dan umatnya dengan keistimewaan yang amat banyak, antara lain ialah mendapat pertolongan melalui perasaan takut yang mencekam hati musuh. Rasa takut itu dilemparkan oleh Allah ke dalam hati mereka sekalipun jarak antara Nabi (s.a.w) dengan mereka memerlukan perjalanan sejauh satu bulan. Umat Nabi (s.a.w) diperbolehkan mengerjakan sholat di mana-mana tempat di muka bumi ini kerana semua bumi adalah tempat sujud untuknya dan tanahnya dapat menyucikan. Bagi umat sebelum ini, ibadah mereka tidak sah kecuali hanya di tempat-tempat ibadah mereka sendiri.

Dihalalkan pula harta ghanimah bagi umat Nabi (s.a.w). Oleh sebab itu, mereka dapat menikmatinya. Sedangkan umat sebelum ini diharamkan ke atas mereka harta ghanimah itu. Allah (s.w.t) memerintahkan mereka mengumpulkan harta ghanimah di tanah lapang, lalu Dia mengirimkan api dari langit yang langsung membakarnya. Nabi (s.a.w) diberi Syafa’ah al-‘Uzhma untuk memberikan ketenangan kepada ahli mawqif di padang mahsyar kelak. Nabi (s.a.w) diutus untuk seluruh umat manusia secara umum, sedangkan sebelum itu setiap nabi hanya diutus untuk kaumnya secara khusus.

Ya Allah, berilah Nabi kami kebenaran untuk memberi syafaat kepada kami, dan jadikanlah kami berada di bawah panjinya, yaitu panji pujian kelak pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Engkau memperkenankan orang yang berdo’a kepada-Mu, wahai Tuhan semesta alam.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan Nabi (s.a.w) ke atas nabi-nabi yang lain.

2. Membicarakan nikmat Allah bukan untuk tujuan membanggakan diri dan bukan pula untuk menyombongkan diri, sebaliknya untuk mendorong dirinya dan orang lain yang memperoleh suatu nikmat supaya bersyukur dan bertambah giat melakukan amal ibadah kepada Allah yang memberi nikmat itu. Allah (s.w.t) berfirman: وأما بنعمة ربك فحدث “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Surah al-Dhuha: 11).

3. Rasulullah (s.a.w) ditolong oleh Allah melalui perasaan takut yang mencekam dan menggentarkan hati musuh-musuhnya. Al-Ru’b atau perasaan takut atau gementar merupakan salah satu dari balatenteranya yang maju menggempur hati dan semangat musuh-musuhnya hingga mereka sudah merasa kalah sebelum perang yang sebenar dimulakan.

4. Menetapkan hukum-hukum syariat yang antara lain ialah mengerjakan solat tidak mesti dilakukan hanya di dalam masjid sahaja.

5. Pada asalnya tanah itu hukumnya suci.

6. Tayammum membolehkan apa yang dicegah oleh hadas sama halnya dengan air. Pendapat ini merupakan mazhab Imam Abu Hanifah. Jadi, baginya seseorang dengan tayammum boleh mengerjakan solat fardu dan solat sunat sebanyak apa yang dia kehendaki selagi belum berhadas atau belum menjumpai air, kerana tayammum baginya merupakan pengganti air secara mutlak. Namun Jumhur ulama mengatakan dibolehkan mengerjakan sekali solat fardu dan solat sunat seberapa banyak dia mampu mengerjakannya, tetapi tidak boleh digunakan untuk menggabungkan dua solat fardu. Jika ketika bertayammum seseorang itu berniat untuk mengerjakan solat fardu, maka dia dibolehkan mengerjakan sekali solat fardu dan solat sunat. Tetapi jika berniat untuk melakukan solat sunat, maka dia tidak dibolehkan mengerjakan solat fardu kecuali dengan tayammum yang baru.

7. Tayammum hanya khusus dilakukan dengan debu, sedangkan bertayammum dengan menggunakan objek yang selainnya tidak dianggap memadai menurut pendapat Imam Ahmad dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan menurut mazhab Maliki dibolehkan bertayammum dengan apa-apa yang termasuk jenis tanah dengan syarat tidak dibakar. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahawa tayammum sah dengan menggunakan semua benda suci yang termasuk jenis tanah, iaitu segala sesuatu yang tidak menjadi abu dan tidak lembek apabila dibakar dengan api, seperti debu, pasir dan batu. Jika sesuatu itu menjadi abu apabila dibakar seperti kayu serta daun kering, dan sesuatu yang menjadi lembek apabila dibakar dengan api seperti besi dan timah, maka tayammum tidak sah dengan menggunakan benda tersebut
apabila tidak terdapat debu yang melekat padanya. Abu Yusuf, salah seorang ulama mazhab Hanafi, mengatakan bahawa tidak sah bertayammum kecuali dengan menggunakan debu dan pasir.

8. Ghanimah dihalalkan bagi umat Nabi Muhammad (s.a.w).

9. Hanya Rasulullah (s.a.w) yang diutus kepada seluruh umat manusia secara umum.

10. Allah (s.w.t) menganugerahkan Syafa’at al-‘Uzhma kepada Rasul-Nya untuk membebaskan umat manusia dari kesusahan dan huru-hara pada hari kiamat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T023. CARA MENSUCIKAN BARANG YANG TERKENA NAJIS ANJING ATAU BABI

PERTANYAAN :

Assalaamualaikum Ustadz..

Ust mau tanya mengenai Nderek tanglet (cacing dari dalam usus babi, terus di taruh di wadah) nah.. Penyucian wadah yang bekas terkena cacing tadi apa harus di sucikan seperti mensucikan najis nya anjing/babi?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Sesuatu yang terkena najisnya babi tetap harus dibasuh sebanyak tujuh kali di qiyaskan sama najisnya anjing.

Sebagaimana hadis abu hurairah ra. :

إذا ولغ الكلب على إناء أحدكم فليغسله سبعا إحداهن بتراب.

Jika seekor anjing menjilat wadah salah satu milik kalian hendaknya dibasuh tujuh kali salah satunya di campur debu.

Caranya :

1. Basuhan pertama harus menghilangkan semua sifat2 najis (warna, bau dan rasa).
Walaupun dibasuh seribu kali kalau sifat2 najis masih tersisa maka belum dihitung satu.

2. Lalu di tambah enam basuhan.

3. Salah satu ketujuh basuhan sicampur debu.

4. Apabila air basuhan tsb memercik ke pakaian maka pakaian tsb dibasuh sebanyak sisa basuhan dari wadah yg dibasuh, Misal si A membasuh wadah yg terjilat anjing lalu di basuhan ketiga airnya memercik ke pakaian maka pakaian tsb cukup dibasuh empat kali.

————————————–

PERMASALAHAN LAIN :

Kalau di lewatin anjing/babi, tapi tidak berbekas apakah harus di cuci juga ustad anjing lewat di tikar/hambal saumpamanya?

JAWABAN :

المغلظة ما تنجس من الطاهرات بلعابها او بولها او عرقها او بملاقات اجزاء بدنها مع توسط رطوبة من احد جانبيه

NAJIS MUGHOLLADZAH

Ialah perkara-perkara suci yang terkena air liur atau keringat atau kencing atau keringat atau salah satu anggota dari tubuh anjing/babi dengan disertai basah dari salah satu dari keduanya (perkara najis atau perkara sucinya). [ Kasyifah as-Sajaa Hal. 44 ].

– إذا اتصل النجس أو المتنجس بالطاهر نظر فإن كانا جافين فلا تؤثر النجاسة بالطاهر بناء على القاعدة الفقهية : الجاف طاهر بلا خلاف وإن كان أحدهما أو كلاهما رطبا تنجس الطاهر بالآخر

Bila najis atau barang yang terkena najis bertemu dengan barang suci maka tafsil :

~ Bila keduanya kering maka sifat kenajisan tidak mempengaruhi barang yang suci berdasarkan kaidah fiqhiyyah “Hal kering adalah suci tanpa terjadi perbedaan ulama”

~ Bila salah satunya atau keduanya basah maka barang yang suci menjadi najis.

Fiqh al-‘Ibaadaat I/181.

Kesimpulan :

Apapun yang timbul dari anjing Dan babi dihukumi najis Mughalladzah, selama bukan juz yang kering dan barang Atau tempat yang tersentuh najis juga kering.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S042. KEUTAMAAN SHALAT ISYA’ DI AKHIR WAKTU (QIYAMUL LAIL) APABILA TIDAK MUSYAQQAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Mau tanya ustad.. Lebih utama yang mana, sholat isyak di awal waktu tapi tidak qiyamul lail. Atau sholat isyak jam 3 sekalian qiyamul lail? Mohon jawabannya..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Keutamaan mengakhirkan dan mengawalkan shalat dikondisikan. Bilamana diawal waktu secara berjamaah (lebih banyak jamaahnya) lebih utama diawalkan. jika situasinya tidak seperti itu dan tidak menjadi masyaqqat dan ia membaisakan shalat tahajjud (قيام الليل) lebih utama diakhirkan, berdasarkan hadits disebutkan dalam kitab.

Referensi :

إبانة الأحكام ص٢٣٦
وعندهما من حديث جابر: والعشاء أحيانا يقدمها وأحيانا يأخرها:إذا رآهم اجتمعوا عجل ، وإذا رآهم أبطئو أخر، والصبح كان النبي صلى الله عليه وسلم يصليها بغلس.
التحليل اللفظي
أحيانا يقدمها: في أول وقتها
إذا رأى الصحابة اجتمعوا في أول الوقت صلى بهم رفقا بحالهم.
وإذا رآهم أبطئوا أخر: إذا رأى الصحابة تأخروا أخر الصلاة مراعة لهم ليدركوا الجماعة.
الفقه الحديث،
إستحباب تأخير صلاة العشأ إلى ثلث الليل إذا لم تحصل مشقة على الناس

(disunnatkan mengakhirkam shalat isya’ sampai sepertiga malam jika tidak menjadikan masyakkat pada manusia).

Dalam hadits yang lain dijelaskan:

عن عائشة رضي الله عنها قالت :أعتم النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة بالعشاء حتى ذهب عامة الليل، ثم خرج فصلى، وقال( إنه لوقتها لولا أن أشق على أمتي)رواه مسلم.
فقه الحديث،
وقت العشاءممتد فالصلاة العشاء فى أخر وقته أفضل إذا لم يحصل من ذلك التأخير تكليف على الناس.

(“Waktu isya’ adalah waktu yang panjang, oleh karenanya waktu isya’ lebih utama dari diakhirkan dari waktunya dengan catatan tidak ada masyaqqat (tidak dirasakan berat pada manusia).

والله تعالى أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 107 : KEWAJIBAN MEMBASUH SEMUA KULIT KETIKA ADUS TERMASUK YANG TERSELIP DI BAWAH RAMBUT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TENTANG MANDI DAN JUNUB

HADITS KE 107 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ تَحْتَ كُلِّ شَعْرَةٍ جَنَابَةً فَاغْسِلُوا اَلشَّعْرَ وَأَنْقُوا اَلْبَشَرَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَاه

وَلِأَحْمَدَ عَنْ عَائِشَةَ نَحْوُهُ وَفِيهِ رَاوٍ مَجْهُول

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya di bawah setiap helai rambut terdapat janabat. Oleh karena itu cucilah rambut dan bersihkanlah kulitnya.” Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi dan keduanya menganggap hadits ini lemah.

Menurut Ahmad dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu terdapat hadits serupa. Namun ada perawi yang tidak dikenal.

MAKNA HADITS :

Air meresap ke seluruh tubuh ketika mandi junub adalah wajib. Oleh kerana

rambut boleh mencegah sampainya air ke bagian yang ditutupi oleh rambut,

maka Nabi (s.a.w) mengingatkan kita untuk tidak mengabaikannya ketika mandi junub. Baginda menganjurkan kita untuk memastikan air itu benar-benar sampai ke akar rambut dengan menegaskan bahwa di bawah setiap helai rambut terdapat janabah. Di dalam hadits yang diceritakan oleh ‘Ali ibn Abi Thalib (r.a) disebutkan:

من ترك موضع شعرة من جنابة فعل بها كذا وكذا في النار. قال فمن ثم عاديت شعر رأسي وكان يجز شعره

“Barang siapa yang meninggalkan satu tempat meskipun hanya sehelai rambut ketika mandi junub, kelak akan dilakukan terhadapnya demikian dan demikian di dalam neraka. Lalu ‘Ali berkata: “Oleh itu saya memusuhi rambutku.” ‘Ali sentiasa mencukur rambutnya.”

FIQH HADITS :

1. Wajib membasuh seluruh tubuh ketika mandi junub dan tidak ada satu pun anggota tubuh yang dimaafkan apabila tidak terkena air.

2. Wajib menghilangkan segala sesuatu yang boleh mencegah sampainya air ke kulit tubuh.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..