logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 156 : PERBEDAAN TEMPO DALAM ADZAN DAN IQOMAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 156 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِبِلَالٍ : ( إِذَا أَذَّنْتَ فَتَرَسَّلْ وَإِذَا أَقَمْتُ فَاحْدُرْ وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ اَلْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ) اَلْحَدِيثَ . رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَضَعَّفَهُ.

Dari Jabir Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada Bilal: “Jika engkau menyeru adzan perlambatlah dan jika engkau qomat percepatlah dan jadikanlah antara adzan dan qomatmu itu kira-kira orang yang makan telah selesai dari makannya.” Hadits diriwayatkan dan dianggap lemah oleh Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Oleh kerana azan bertujuan memberitahukan masuknya solat kepada orang yang tinggal berjauhan dengan masjid, maka Rasulullah (s.a.w) menganjurkan azan supaya dilakukan secara tartil (perlahan-lahan) dan bukannya dikumandangkan dengan cara cepat, sebab cara tersebut lebih memungkinkan sampai kepada
mereka yang tinggal jauh dari masjid.

Oleh kerana iqamah bertujuan memberitahukan kepada para hadirin bahwa solat tidak lama lagi akan didirikan, maka ia dilakukan dengan cepat dengan tujuan segera melakukan hal yang paling utama, yaitu melaksanakan solat fardu.

Rasulullah (s.a.w) memerintahkan supaya dibuat jarak waktu antara azan dengan iqamah untuk memperbolehkan orang yang mendengarnya bersiap-siap untuk menghadiri solat secara berjamaah. Ini merupakan salah satu rahmat bagi kaum muslimin. Nabi (s.a.w) melarang mereka melakukan iqamah sebelum imam solat hadir di dalam masjid. Ini bertujuan jamaah tidak terlalu lama menunggu pelaksanaan solat dalam keadaan berdiri sekiranya ada halangan yang melambatkan kedatangan imam menunaikan solat secara berjamaah.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan tartil ketika mengumandangkan azan, yaitu tenang dan perlahan ketika menyampaikannya, kerana itu diharapkan mampu dapat didengar oleh mereka yang tinggal jauh dari masjid.

2. Disyariatkan cepat dalam melakukan iqamah, kerana iqamah ditujukan kepada orang yang telah hadir di dalam masjid. Jadi, ia lebih tepat jika dilakukan dengan cara yang cepat supaya dapat segera mengerjakan solat yang merupakan tujuan utama di sebalik iqamah itu.

3. Disunatkan memberikan jarak waktu antara azan dengan iqamah untuk bersiap-siap menghadiri solat berjamaah dan manfaat azan tidak disia-siakan.

4. Disyariatkan mengawasi tukang azan dan mengajarkan tatacara dalam mengumandangkan azan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N052. PERBEDAAN FASAKH DAN KHULUK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Apa perbedaan Fasakh dan Khuluk?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Ada dua istilah yang dipergunakan pada kasus gugat cerai oleh istri, yaitu fasakh dan khulu’:

1. FASAKH

Fasakh adalah pengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami, dalam kondisi di mana:

Suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut;

Suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya);Suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suamii istri); atauAdanya perlakuan buruk oleh suami seperti penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri.

Jika gugatan tersebut dikabulkan oleh Hakim berdasarkan bukti-bukti dari pihak istri, maka Hakim berhak memutuskan (tafriq) hubungan perkawinan antara keduanya.

2. KHULU’

Khulu’ adalah kesepakatan penceraian antara suami istri atas permintaan istri dengan imbalan sejumlah uang (harta) yang diserahkan kepada suami. Khulu’ disebut dalam QS Al-Baqarah 2:229.

Adapun dalil haditsnya adalah sebuah hadits shahih yang mengisahkan tentang istri Tsabit bin Qais bin Syammas bernama Jamilah binti Ubay bin Salil yang datang pada Rasulullah dan meminta cerai karena tidak mencintai suaminya. Rasulullah lalu menceraikan dia dengan suaminya setelah sang istri mengembalikan mahar.

[Hadits riwayat Bukhari no. 4973; riwayat Baihaqi dalam Sunan al-Kubro no. 15237; Abu Naim dalam Al-Mustakhroj no. 5275; Teks asal dari Sahih Bukhari sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَتِ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلَا خُلُقٍ إِلَّا أَنِّي أَخَافُ الْكُفْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ فَقَالَتْ نَعَمْ فَرَدَّتْ عَلَيْهِ وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا

DEFINISI KHULU’

Definisi khuluk menurut madzhab Syafi’i adalah sebagai berikut:

الخلع شرعا هو اللفظ الدال على الفراق بين الزوجين بعوض متوفرة فيه الشروط الآتي بيانها في شروط العوض فكل لفظ يدل على الطلاق صريحا كان أو كناية يكون خلعا يقع به الطلاق البائن وسيأتي بيان ألفاظ الطلاق في الصيغة وشروطها

(Khulu’ secara syariah adalah kata yang menunjukkan atas putusnya hubungan perkawinan antara suami istri dengan tebusan [dari istri] yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Setiap kata yang menunjukkan pada talak, baik sharih atau kinayah, maka sah khulu-nya dan terjadi talak ba’in.) [Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/185 mengutip definisi khuluk menurut madzhab Syafi’i].

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari mendefinisikan khuluk demikian:

الخلع هو أن تفتدي المرأة نفسها بمال تدفعه لزوجها، أو هو فراق الزوجة على مال

(Khuluk adalah istri yang menebus dirinya sendiri dengan harta yang diberikan pada suami atau pisahnya istri dengan membayar sejumlah harta). [Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, IX/490; Mu’jam Al-Mustalahat al-Fiqhiyah, II/46 – 48)].

HUKUM KHULU’

Adapun hukum asal dari gugat cerai adalah boleh. Imam Nawawi menyatakan:

وأصل الخلع مجمع على جوازه ، وسواء في جوازه خالع على الصداق أو بعضه ، أو مال آخر أقل من الصداق ، أو أكثر ، ويصح في حالتي الشقاق والوفاق ،

(Hukum asal dari khulu’ adalah boleh menurut ijmak ulama. Baik tebusannya berupa seluruh mahar atau sebagian mahar atau harta lain yang lebih sedikit atau lebih banyak. Khulu’ sah dalam keadaan konflik atau damai.) [ Abu Syaraf An-Nawawi dalam Raudah at-Talibin 7/374; Al-Hashni dalam Kifayatul Akhyar, III/40].

Al-Jaziri membagi hukum khuluk menjadi boleh, wajib, haram, dan makruh:

الخلع نوع من الطلاق لأن الطلاق تارة يكون بدون عوض وتارة يكون بعوض والثاني هو الخلع وقد عرفت أن الطلاق يوصف بالجواز عند الحاجة التي تقضي الفرقة بين الزوجين وقد يوصف بالوجوب عند عجز الرجل عن الإنفاق والاتيان وقد يوصف بالتحريم إذا ترتب عليه ظلم المرأة والأولاد وقد يوصف بغير ذلك من الأحكام المتقدم ذكرها هناك على أن الأصل فيه المنع وهو الكراهة عند بعضهم والحرمة عند بعضهم ما لم تفض الضرورة إلى الفراق

(Khuluk itu setipe dengan talak. Karena, talak itu terkadang tanpa tebusan dan terkadang dengan tebusan. Yang kedua disebut khuluk. Seperti diketahui bahwa talak itu boleh apabila diperlukan. Terkadang wajib apabila suami tidak mampu memberi nafkah. Bisa juga haram apabila menimbulkan kezaliman pada istri dan anak. Hukum asal adalah makruh menurut sebagian ulama dan haram menurut sebagian yang lain selagi tidak ada kedaruratan untuk melakukannya). [Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/186].

As-Syairazi dalam Al-Muhadzab menyatakan bahwa khuluk itu boleh secara mutlak walaupun tanpa sebab asalkan kedua suami istri sama-sama rela. Apalagi kalau karena ada sebab, baik sebab yang manusiawi seperti istri sudah tidak lagi mencintai suami; atau sebab yang syar’i seperti suami tidak shalat atau tidak memberi nafkah.

إذا كرهت المرأة زوجها لقبح منظر أو سوء عشرة وخافت أن لا تؤدي حقه جاز أن تخالعه على عوض لقوله عز و جل { فإن خفتم أن لا يقيما حدود الله فلا جناح عليهما فيما افتدت به } [ البقرة : 229 ] وروي أن جميلة بنت سهل كانت تحث ثابت بن قيس بن الشماس وكان يضربها فأتت إلى النبي ( ص ) وقالت : لا أنا ولا ثابت وما أعطاني فقال رسول الله ( ص ) [ خذ منها فأخذ منها فقعدت في بيتها ] وإن لم تكره منه شيئا وتراضيا على الخلع من غير سبب جاز لقوله عز و جل { فإن طبن لكم عن شيء منه نفسا فكلوه هنيئا مريئا } [ النساء : 4 ]

(Apabila istri tidak menyukai suaminya karena buruk fisik atau perilakunya dan dia kuatir tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, maka boleh mengajukan gugat cerai dengan tebusan karena adanya firman Allah dalam QS Al Baqaran 2:229 dan hadits Nabi dalam kisab Jamilah binti Sahl, istri Tsabit bin Qais. … Apabila istri tidak membenci suami akan tetapi keduanya sepakat untuk khuluk tanpa sebab maka itupun dibolehkan karena adanya firman Allah dalam QS An Nisa 4:4). [As-Syairozi, Al-Muhadzab, II/289].

KHULU’ DI LUAR PENGADILAN

Khuluk, sebagaimana halnya talak, dapat dilakukan secara langsung antara suami istri tanpa melibatkan hakim dan pengadilan agama. Seperti dikatakan Imam Nawawi dalam Al-Majmuk Syarh al-Muhadzab:

ويجوز الخلع من غير حاكم لأنه قطع عقد بالتراضي جعل لدفع الضرر، فلم يفتقر إلى الحاكم كالإقالة في البيع.

(Khuluk dapat dilakukan tanpa hakim karena khuluk merupakan pemutusan akad dengan saling sukarela yang bertujuan untuk menolak kemudaratan. Oleh karena itu ia tidak membutuhkan adanya hakim sebaagaimana iqalah dalam transaksi jual beli). [Imam Nawawi, Al-Majmuk Syarh al-Muhadzab, XVII/13].

Walaupun khuluk dapat dilakukan di luar pengadilan, namun secara formal itu tidak diakui negara. Untuk mengesahkannya secara legal formal menurut undang-undang Indonesia, maka pihak yang berperkara tetap harus mengajukannya ke Pengadilan Agama. [KHI (Kompilasi Hukum Islam) , Bab XVI Pasal 114]

Harus juga diingat, bahwa proses perceraian di Pengadilan Agama dapat dilakukan apabila memenuhi sejumlah persyaratan yang ditentukan. Seperti, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), suami tidak memberi nafkah, ditinggal suami selama 2 tahun berturut-turut, dan lain-lain. [KHI (Kompilasi Hukum Islam) , Bab XVI Pasal 116].

KHULU’ DI PENGADILAN AGAMA

Suatu gugatan perceraian akan diakui negara dan akan memiliki kekuatan legal formal apabila dilakukan di Pengadilan Agama dan diputuskan oleh seorang Hakim. [Pasal 1 Bab I Ketentuan Umum PP No 9/1975 tentang Pelaksanaan UU No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan]

Untuk mengajukan gugatan cerai atau khulu’, seorang istri atau wakilnya dapat mendatangi Pengadilan Agama (PA) di wilayah tempat tinggalnya. Bagi yang tinggal di Luar Negeri, gugatan diajukan di PA wilayah tempat tinggal suami. Bila istri dan suami sama-sama tinggal di luar negeri, maka gugatan diajukan kepada Pengadilan Agama di wilayah tempat keduanya menikah dulu, atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat. [Pasal 73 UU No 7/89 tentang Peradilan Agama].

Berbeda dengan khuluk yang dilakukan di luar Pengadilan, maka gugat cerai yang diajukan melalui lembaga pengadilan harus memenuhi syarat-syarat antara lain:

Suami berbuat zina, pemabuk, pemadat, penjudi dan sebagainya;suami meninggalkan anda selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa ada ijin atau alasan yang jelas dan benar, artinya: suami dengan sadar dan sengaja meninggalkan anda;suami dihukum penjara selama (lima) 5 tahun atau lebih setelah perkawinan dilangsungkan;suami bertindak kejam dan suka menganiaya anda;suami tak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami karena cacat badan atau penyakit yang dideritanya;terjadi perselisihan dan pertengkaran terus menerus tanpa kemungkinan untuk rukun kembali;suami melanggar taklik-talak yang dia ucapkan saat ijab-kabul;suami beralih agama atau murtad yang mengakibatkan ketidaakharmonisan dalam keluarga. (Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam jo Pasal 19 PP No 9 tahun 1975).

Syarat-syarat di atas tentu saja harus disertai dengan adanya saksi dan bukti-bukti yang menguatkan gugatan.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S050. BILA SHALAT ‘ID BERTEPATAN PADA HARI JUM’AT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya kalau lebaran pas bertepatan dengan hari jum’at adakah dalil yang memprbolehkan cukup sholat id dan gak usah shalat jum’at? terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Terdapat perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini.

Referensi :

1. Bughyah al-Mustarsyidiin I/187

مسألة) : فيما إذا وافق يوم الجمعة يوم العيد ففي الجمعة أربعة مذاهب ، فمذهبنا أنه إذا حضر أهل القرى والبوادي العيد وخرجوا من البلاد قبل الزوال لم تلزمهم الجمعة وأما أهل البلد فتلزمهم ، ومذهب أحمد لا تلزم أهل البلد ولا أهل القرى فيصلون ظهراً ، ومذهب عطاء لا تلزم الجمعة ولا الظهر فيصلون العصر ، ومذهب أبي حنيفة تلزم الكل مطلقاً ، اهـ من الميزان الشعراني.

MASALAH

Dalam pembahasan “SAAT HARI JUMAT BERTEPATAN DENGAN HARI RAYA” Maka dalam kewajiban pelaksaan menunaikan shalat jumat terdapat empat madzhab :

▪Madzhab kami (syafi’iyyah) bila penduduk desa dan pedalaman menjalankan shalat Ied dan keluar dari desa sebelum tergelincirnya matahari maka tidak wajib bagi penduduk pedalaman mengerjakan shalat jumat sedang bagi penduduk desa masih diwajibkan mengerjakannya.

▪Madzhab Imam Ahmad, bagi penduduk desa dan pedalaman tidak berkewajiban menjalankan shalat jumat, kerjakanlah shalat dhuhur.

▪Madzhab Imam ‘Atha’ tidak diwajibkan bagi mereka menjalankan shalat Jumat juga shalat dhuhur, kerjakanlah shalat Ashar.

▪Madzhab Abu Hanifah, semua shalat masih diwajibkan bagi mereka. (al-Miizaan as-Sya’rooni).

2. Raudhah at-Thoolibiin I/173

فرع إذا وافق يوم العيد يوم جمعة وحضر أهل القرى الذين يبلغهم لصلاة العيد وعلموا أنهم لو انصرفوا لفاتتهم الجمعة فلهم أن ينصرفوا ويتركوا الجمعة في هذا اليوم على الصحيح المنصوص في القديم والجديد. وعلى الشاذ عليهم الصبر للجمعة.

[ SUB BAHASAN ] Bila hari raya bertepatan dengan hari jumah dan penduduk desa yakni mereka-mereka yang mendengan seruan shalat Ied dan mereka yakin andaikan mereka membubarkan diri (meninggalkan masjid dan pulang kerumah masing-masing) mereka akan ketinggalan shalat maka bagi mereka diperkenankan membubarkan diri dan meninggalkan shalat jumah dihari seperti ini menurut pendapat yang shahih, sedang menurut pendapat yang SYADZ (ganjil) bagi mereka wajib menunggu pelaksanaan shalat jumat.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 155 : ANJURAN ADZAN SETIAP WAKTUNYA TIBA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 155 :

وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ لَنَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ( وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ . . . ) اَلْحَدِيثَ أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَةُ.

Dari Malik Ibnu Huwairits Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda pada kami: “Bila waktu shalat telah tiba maka hendaklah seseorang diantara kamu menyeru adzan untukmu sekalian.” Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) memerintahkan untuk mengumandangkan azan untuk setiap kali hendak mengerjakan solat fardu sebagai peringatan yang waktu solat telah tiba. Baginda menganjurkan azan supaya benar-benar diperhatikan dan menjelaskan bahwa kedudukan imam solat merupakan hak bagi orang yang lebih alim dan usianya lebih tua disamping membimbing mereka untuk mengetahui tatacara pelaksanaan solat menerusi perbuatannya karena pelajaran yang disampaikan secara praktikal lebih besar pengaruhnya. Dalam kaitan ini, baginda bersabda:

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Solatlah kamu sebagaimana kamu melihatku mengerjakan solat.”

Ibn Hajar al-‘Asqalani sengaja meringkas hadis ini karena menyesuaikan dengan tuntutan bab ini sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para ahli hadis yang lain.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan azan untuk setiap kali hendak mengerjakan solat fardu ketika waktunya telah tiba.

2. Tidak ada suatu syarat bagi seseorang yang hendak menjadi muazzin selain beriman kepada Allah dan mengetahui waktu-waktu solat. Hal ini berlandaskan kepada sabda Rasulullah (s.a.w): “Seseorang di antara kamu,” (tanpa menyebutkan suatu persyaratan).

3. Solat berjamaah diperintahkan oleh syariat.

4. Keutamaan menjadi imam solat berbanding menjadi muazzin, kerana Rasulullah (s.a.w) bersabda: “Hendaklah orang yang paling tua usianya diantara kamu menjadi imam solat bagi kamu.” Baginda tidak mengatakan: “Hendaklah orang yang paling tua usianya diantara kamu mengumandangkan azan buat kamu.” Adapun masalah memohon supaya dilantik menjadi imam masih diperdebatkan oleh ulama tentang keutamaannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 154 : MEMUNGUT BAYARAN BAGI MUADZIN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 154 :

وَعَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ رضي الله عنه ( أَنَّهُ قَالَ : يَا رَسُولَ اَللَّهِ اِجْعَلْنِي إِمَامَ قَوْمِي . قَالَ : “أَنْتَ إِمَامُهُمْ وَاقْتَدِ بِأَضْعَفِهِمْ وَاِتَّخِذْ مُؤَذِّنًا لَا يَأْخُذُ عَلَى أَذَانِهِ أَجْرًا ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.

Utsman Ibnu Abul’Ash Radliyallaahu ‘anhu berkata: Wahai Rasulullah jadikanlah aku sebagai imam mereka perhatikanlah orang yang paling lemah dan angkatlah seorang muadzin yang tidak menuntut upah dari adzannya.” Dikeluarkan oleh Imam Lima. Hasan menurut Tirmidzi dan shahih menurut Hakim.

MAKNA HADITS :

Memohon untuk menjadi imam solat merupakan amalan yang terpuji, kerana menjadi imam itu besar pahalanya. Kedudukan ini pernah disebutkan di dalam do’a
hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah. Kisah mereka disebutkan di dalam al-Qur’an. Mereka berdoa seperti berikut:

(واجعلنا للمتقين إماما (الفرقان،٧٤

“… Dan jadikanlah kami menjadi imam bagi orang yang bertakwa.” (Surah al-
Furqan: 74)

Ini bukanlah permohonan untuk menjadi pemimpin yang dilarang oleh syari’at, yaitu kepimpinan yang bersifat duniawi. Seseorang yang memohon jabatan sebagai pemimpin duniawi tidak boleh dibantu mewujudkan keinginannya bahkan jabatan itu tidak boleh diberikan kepadanya.

FIQH HADITS :

1. Mengingatkan imam supaya senantiasa mengambil berat keadaan orang yang solat bermakmum di belakangnya.

2. Pemimpin masyarakat dianjurkan melantik seorang juru azan bagi menghimpun orang ramai untuk mengerjakan solat.

3. Seorang muazin dianjurkan untuk tidak menuntut bayaran ke atas azan yang dikumandangkannya.

Ulama berbeda pendapat sehubungan masalah ini.

Imam Abu Hanifah mengharamkannya apabila dia mensyaratkan upah untuk mengumandangkan azan. Dalilnya adalah hadis ini.

Mazhab Hanbali mengatakan tidak boleh mengambil upah selagi ada
seorang yang bersedia membayarnya. Jika tidak, maka juru azan mesti diberi upah yang diambil dari Baitul Mal. Bagi mereka, muazin boleh menerima upah di atas azan yang dikumandangkannya.

Menurut pendapat yang paling sahih di sisi mazbab Imam al-Syafi’i, imam boleh memberinya upah yang diambil dari Baitul Mal, dari hartanya sendiri, dari individu penduduk kampung, atau dari selain mereka.

Mazhab Maliki dalam masalah ini mempunyai dua pendapat; ada yang melarang menuntut upah azan dan ada yang membolehkannya. Ibn al-Arabi memilih pendapat yang membolehkannya, yakni boleh menerima upah.

4. Boleh memohon menjadi imam solat kerana ia merupakan amalan yang baik.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

Z010. MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH DENGAN QIMAH (UANG)

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana cara mengeluarkan zakat firah dengan membeli bahan makanan ke mustahiq?

Dan bolehkah zakat fitrah dengan berbentuk qimah/uang?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Zakat fitrah wajib dikeluarkan dengan ukuran 1 Sho’ dan harus berdasarkan makanan pokok kebiasan baik berupa Gandum, beras, jagung, kurma, dan lainnya selain dengan Uang hukumnya tidak boleh, kecuali menurut pendapat Hanafiah maka hukumnya boleh zakat fitrah dengan harga (uang) sebagaimana ibarah berikut.

الواجب في صدقة الفطر صاع (1) من القمح، أو الشعير، التمر، أو الزبيب، أو الاقط (2) ، أو الارز، أو الذرة أو نحو ذلك مما يعتبر قوتا. وجوز أبو حنيفة إخراج القيمة.

Nb.catatan:
Maka solusinya bagi seorang yang ingin mengeluarkan zakat firah maka bawa uangnya lalu belikan beras/ jagung kepada mustahiq seharga satu sho’.

Katakan saya mau beli beras untuk zakat fitrah seukuran satu sho’ berkisar satu gantang. Maka kalau begitu boleh.

Zakat fithrah dengan berbentuk uang ulama berbeda pendapat :

Menurut pendapat Madzhab Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanafiyah Zakat fithrah denga uang hukumnya tidak boleh. Dengan alasan karena tidak ada nas dengan hal tersebut.
Sedangkan menurut madzhab Hanafiyah maka hukumnya boleh, bahkan zakat fithrah dengan uang itu lebih utama. Dengan alasan karena lebih mudah bagi orang miskin untuk membeli sesuatu dihari raya.

Sebagaima ibarah berikut:

موسوعة الفقهية

أَدَاءُ الْقِيمَةِ:
١٥ – ذَهَبَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ دَفْعُ الْقِيمَةِ، لأَِنَّهُ لَمْ يَرِدْ نَصٌّ بِذَلِكَ، وَلأَِنَّ الْقِيمَةَ فِي حُقُوقِ النَّاسِ لاَ تَجُوزُ إِلاَّ عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمْ، وَلَيْسَ لِصَدَقَةِ الْفِطْرِ مَالِكٌ مُعَيَّنٌ حَتَّى يَجُوزَ رِضَاهُ أَوْ إبْرَاؤُهُ.
وَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ يَجُوزُ دَفْعُ الْقِيمَةِ فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ، بَل هُوَ أَوْلَى لِيَتَيَسَّرَ لِلْفَقِيرِ أَنْ يَشْتَرِيَ أَيَّ شَيْءٍ يُرِيدُهُ فِي يَوْمِ الْعِيدِ؛ لأَِنَّهُ قَدْ لاَ يَكُونُ مُحْتَاجًا إِلَى الْحُبُوبِ بَل هُوَ مُحْتَاجٌ إِلَى
(1) حاشية ابن عابدين 2 / 79، والدسوقي 1 / 508، ومغني المحتاج 3 / 116، والفروع 2 / 540.

Menurut madzhab Syafi’iyyah mengeluarkan zakat dengan bentuk qimah itu tidak boleh, berbeda halnya menurut madzhab Hanafiyyah.

ﺍﻟﻤﺠﻤﻮﻉ – ﻣﺤﻴﻰ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ – ﺝ – ٥ ﺍﻟﺼﻔﺤﺔ ٤٢٩ :

ﻓﺮﻉ: ﻗﺪ ﺫﻛﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﺍﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺍﺧﺮﺍﺝ ﺍﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ ﺷﺊ ﻣﻦ ﺍﻟﺰﻛﻮﺍﺕ ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﻭﺃﺣﻤﺪ ﻭﺩﺍﻭﺩ ﺍﻻ ﺍﻥ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﺟﻮﺯ ﺍﻟﺪﺭﺍﻫﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﻧﺎﻧﻴﺮ ﻭﻋﻜﺴﻪ. ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻳﺠﻮﺯ ﻓﺈﺫﺍ ﻟﺰﻣﻪ ﺷﺎﺓ ﻓﺄﺧﺮﺝ ﻋﻨﻬﺎ ﺩﺭﺍﻫﻢ ﺑﻘﻴﻤﺘﻬﺎ ﺃﻭ ﺍﺧﺮﺝ ﻋﻨﻬﺎ ﻣﺎﻟﻪ ﻗﻴﻤﺔ ﻋﻨﺪﻩ ﻛﺎﻟﻜﻠﺐ ﻭﺍﻟﺜﻴﺎﺏ. ﻭﺣﺎﺻﻞ ﻣﺬﻫﺒﻪ ﺍﻥ ﻛﻞ ﻣﺎ ﺟﺎﺯﺕ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔ ﺑﻪ ﺟﺎﺯ ﺍﺧﺮﺍﺟﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻨﺲ ﺍﻟﺬﻱ ﻭﺟﺒﺖ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺃﻡ ﻣﻦ ﻏﻴﺮﻩ ﺍﻻ ﻓﻲ ﻣﺴﺄﻟﺘﻴﻦ: ﺇﺣﺪﺍﻫﻤﺎ: ﺗﺠﺐ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﻓﻴﺨﺮﺝ ﺑﻘﻴﻤﺘﻬﺎ ﻣﻨﻔﻌﺔ ﻋﻴﻦ ﺑﺄﻥ ﻳﺴﻠﻢ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﺩﺍﺭﺍ ﻳﺴﻜﻨﻮﻧﻬﺎ ﺑﻘﻴﻤﺔ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ. ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﺍﻥ ﻳﺨﺮﺝ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﺟﻴﺪ ﻋﻦ ﻧﺼﻒ ﺻﺎﻉ ﻭﺳﻂ ﻟﺰﻣﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺠﺰﺋﻪ ﻭﻭﺍﻓﻖ ﻋﻠﻰ ﺃﻧﻪ ﻻ ﺗﺠﺰﺉ ﺍﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﺿﺤﻴﺔ ﻭﻛﺬﺍ ﻟﻮ ﻟﺰﻣﻪ ﻋﺘﻖ ﺭﻗﺒﺔ ﻓﻲ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﻻ ﺗﺠﺰﺉ ﻗﻴﻤﺘﻬﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻳﻮﺳﻒ ﻭﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺇﺫﺍ ﺃﺩﻯ ﻋﻦ ﺧﻤﺴﺔ ﺟﻴﺎﺩ ﺩﻭﻧﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻮﺩﺓ ﺃﺟﺰﺃﻩ ﻭﻗﺎﻝ ﻣﺤﻤﺪ ﻳﺆﺩﻯ ﻓﻀﻞ ﻣﺎ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﻭﻗﺎﻝ ﺯﻓﺮ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻥ ﻳﺘﺼﺪﻕ ﺑﻐﻴﺮﻫﺎ ﻭﻻ ﻳﺠﺰﺋﻪ ﺍﻷﻭﻝ ﻛﺬﺍ ﺣﻜﺎﻩ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺮﺍﺯﻱ. ﻭﻗﺎﻝ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﺍﻟﺜﻮﺭﻱ ﻳﺠﺰﺉ ﺍﺧﺮﺍﺝ ﺍﻟﻌﺮﻭﺽ ﻋﻦ ﺍﻟﺰﻛﺎﺓ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺑﻘﻴﻤﺘﻬﺎ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻣﻦ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺤﻪ ﻭﻫﻮ ﻭﺟﻪ ﻟﻨﺎ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ.

Dalam bab zakat dik tab fathul mu’in di situ dijelaskan yang intinya : selain zakat hasil tijaroh tidak diperbolehkan menggunakan uang. Kecuali menurut kalangan Hanafiyyah.

ﺭﺩ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺹ 286 🙂 ﻭﺟﺎﺯ ﺩﻓﻊ ﺍﻟﻘﻴﻤﺔ ﻓﻲ ﺯﻛﺎﺓ ﻭﻋﺸﺮﻭﺧﺮﺍﺝ ﻭﻓﻄﺮﺓ ﻭﻧﺬﺭ ﻭﻛﻔﺎﺭﺓ ﻏﻴﺮﺍﻹﻋﺘﺎﻕ ( ﻭﺗﻌﺘﺒﺮ ﺍﻟﻘﻴﻤﺔ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏﻭﻗﺎﻻ ﻳﻮﻡ ﺍﻷﺩﺍﺀ . ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺴﻮﺍﺋﻢ ﻳﻮﻡﺍﻷﺩﺍﺀ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﻭﻫﻮ ﺍﻷﺻﺢ ﻭﻳﻘﻮﻡ ﻓﻲﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻓﻴﻪ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ ﻣﻔﺎﺯﺓ ﻓﻔﻲﺃﻗﺮﺏ ﺍﻷﻣﺼﺎﺭ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﺘﺢ .

– Bughyah :

وقال ق.ل.اما اخراج الفلوس فإني أعتقد بجوازه ولكنه مخالف لمذهب الشافعي اه

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

S049. SHOLAT BERJAMAAH DI RUMAH BERSAMA KELUARGA ATAU SHOLAT DI MASJID?

PERTANYAAN :

Assalamu’alkum para Asatidz..

Mau tanya, lebih utama manakah sholat berjama’ah di rumah karena mempertahankan berjama’ah dengan keluarga, dibanding sholat di masjid sementara jika sholat di masjid keluarga di rumah sholat sendirian? Mohon penjelasanya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukum jamaah di masjid itu fardlu kifayah bihaytsu yadhharus syi’aar… Kalau di rumah ya tidak dapat syiarnya dong.

هي فرض كفاية في حق الرجال المقيمين في المكتوبات الخمس المؤديات بحيث يظهر الشعار

Jadi tidak menggugurkan kewajiban jika :

– Dilakukan selain laki-laki

– Dilakukan Musafir

– Dilakukan dalam shalat qadla’

– Dilakukan dalam selain shalat 5 waktu

– Dilakukan di tempat yang tidak menampakkan syiar.

Syiar akan diperoleh jika dilakukan di tempat umum yang setiap orang bisa mengaksesnya, tidak seperti dalam kamar atau musholla pribadi. Dan tidak cukup dalam satu wilayah yang luas jika hanya ada satu jamaah saja, karena kewajiban syiar itu melingkupi seluruh wilayah sehingga jumlah jamaah harus disesuaikan dengan luasnya wilayah.

وتسن للنساء وللمسافرين وللمقضية خلف مثلها

Shalat jamaah sunnah bagi wanita, musafir dan orang yang qadla’ shalat di belakang qadla’ yang sama.

– Mughnil Muhtaj 1/229 :

نعم لو كان إذا ذهب إلى المسجد وترك أهل بيته لصلوا فرادى أو لتهاونوا أو بعضهم في الصلاة أو لو صلى في بيته لصلى جماعة وإذا صلى في المسجد صلى وحده فصلاته في بيته أفضل

Cuman perlu kita pilah-pilah dulu karena banyak kemungkinan yang terjadi terkait shalatnya perempuan di masjid atau di rumah.

وجماعة المرأة والخنثى في البيت أفضل منها في المسجد

Jamaah wanita dan khuntsa di rumah lebih baik dari jamaah di masjid. (Mughnil Muhtaj).

ويكره لذوات الهيئات حضور المسجد

Makruh bagi wanita yang “menarik” hadir di masjid. (Mughnil Muhtaj)

واصحهما … لا تتأكد في حقهن كتأكدها في حق الرجال فلا يكره لهن تركها

Pendapat yang lebih shahih terkait kesunnahan jamaah bagi wanita, tidak dikuatkan kesunnahan jamaah bagi wanita seperti dikuatkannya bagi lelaki, maka tidak makruh bagi wanita meninggalkan jamaah. (AlMajmu’).

Dengan pertimbangan di atas, maka :

1.Shalat wanita di rumah secara berjamaah lebih baik dari shalat di masjid meski berjamaah, ini berlaku bagi setiap jenis wanita (tua/muda/dsb)

2.Shalat wanita muda di rumah lebih utama dari di masjid meski di rumah sendirian dan di masjid jamaah, karena makruh hadirnya wanita muda di masjid sedang ia tidak makruh meninggalkan jamaah.

3.Shalat wanita tua di masjid berjamaah lebih utama dari shalat sendiri di rumah karena ia tidak makruh hadir di masjid dan sunnah jamaah.

Lantas bagaimana menyiasati shalat wanita muda di rumah agar dapet jamaah, sementara suami tetap dapet keutamaan jamaah di masjid ? Pilihan yang diungkapkan dalam Mughnil Muhtaj bahwa jika ahli rumah akan shalat sendirian jika suami pergi ke masjid maka lebih utama lelaki shalat di rumah, tampaknya melihat jumlah karena yang dipakai untuk menyebut ahli rumah adalah shighat jama’. Apakah kalau cuman istri seorang akan tetap mengorbankan shalat berjamaahnya lelaki di masjid?

قال الشافعي والأصحاب ويؤمر الصبي بحضور المساجد وجماعات الصلاة ليعتادها

As-Syafi’i dan ashhab berkata : Anak lelaki diperintahkan hadir di masjid dan berjamaah shalat agar terbiasa. (Al-Majmu’).

Pernyataan itu menyiratkan bahwa lelaki tetap condong diutamakan di masjid meninggalkan sang istri shalat sendirian atau berjamaah dengan anak perempuan di rumah karena suami dan anak lelakinya ke masjid. Untuk menyiasatinya, bisa setelah shalat di masjid, suami i’aadah di rumah berjamaah dengan istri. Atau cukup istri berjamaah dengan anak perempuan atau pembantunya. Jadi semua dapat nilai optimal dari jamaahnya.

Hukum Sholat berjama’ah terjadi Khilaf menurut Imam Ar-rofi’i dan Imam Mawardi Hukumnya adalah Sunnah Mu’akkad dan menurut Imam Nawawi Qoul mu’tamad Hukumnya Fardhu Kifayah yang mana apabila dalam satu Kampung tidak ada yang Sholat Berjama’ah maka Satu Kampung dihukumi Haram semua.

– Nihayatus sain :

صلاة الجماعة فى أدء مكتوبة غير جمعة سنة مؤكدة عند الرفعى والماوردى، والمعتمد عند النووى وغيره أنها في غير جمعة فرض كفاية لرجال. نهاية الزين ص 117

– Kifayatul Ahyar :

كفاية الاخيار ( باب صلاة الجماعة ) ( فصل) وصلاة الجماعة مؤكدة وعلى المأموم أن ينوي الجماعة دون الإمام )

الأصل في مشروعية الجماعة الكتاب والسنة وإجماع الأمة قال تعالى { وإذا كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة فلتقم طائفة منهم معك } الآية أمر بالجما

عة في قوله فلتقم فعند الأمن أولى وهي فرض عين في الجمعة وأما في غيرها ففيه خلاف الصحيح عند الرافعي أنها سنة وقيل فرض كفاية وصححه النووي وقيل فرض عين وصححه ابن المنذر وابن خزيمة وحجة من قال انها سنة قوله صلى الله عليه وسلم

( صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة ) وروى البخاري بخمس وعشرين درجة من رواية أبي سعيد فقوله صلى الله عليه وسلم أفضل يقتضي جواز الأمرين إذ المفاضلة تقتضي ذلك فلو كان أحد الأمرين ممنوعا لما جاءت هذه الصيغة وحجة من قال بفرض الكفاية قوله صلى الله عليه وسلم

( ما من ثلاثة في قرية أو بدو لا تقام فيهم الصلاة إلا استحوذ عليهم الشيطان فعليكم بالجماعة فإنما يأكل الذئب من الغنم القاصية ) وحجة من قال إنها فرض عين أحاديث منهما قوله صلى الله عليه وسلم

( لقد هممت أن آمر بالصلاة فتقام ثم آمر رجلا فيصلي بالناس ثم أنطلق مع رجال معهم حزم من حطب إلى قوم لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم بالنار ) وجوابه أنه لم يحرق وأن هذا كان في المنافقين واعلم أن الجماعة تحصل بصلاة الرجل في بيته مع زوجته وغيرها لكنها في المسجد أفضل وحيث كان الجمع من المساجد أكثر فهو أفضل فلو كان بقربه مسجد قليل الجمع وبالبعيد مسجد كثير الجمع فالبعيد أفضل إلا في حالتين الصحيح عند الرافعي أنها سنة واعلم أن الجماعة تحصل بصلاة الرجل في بيته مع زوجته وغيرها لكنها في المسجد أفضل

Bila dia shalat berjama’ah di masjid menyebabkan istrinya shalat sendirian dirumah/tidak berjama’ah maka lebìh afdlol berjama’ah dirumah bersama istri dengan catatan dengan tidak hadirnya dia kemasjid tidak menyebabkan kekosongan jama’ah dimasjid/dengan tidak hadirnya dia ke masjid tetap ada jama’ah di masjid :

Kitab Busyro Al Karim 1/119 :

..نعم إن كان يصليها بأهله جماعة وذهابه الى المسجد يفوتها وقام الشعار بغيره ولم يتعطل مسجد بغيبته فهو أفضل. بشرى الكريم

Al Bajuri 1/193 :

وتحصل فضيلة الجماعة بصلاته بزوجته أو نحوها بل تحصيله الجماعة لأهل بيته أفضل. الباجوري

KESIMPULAN :

Kalau cuman seorang, semisal cuman istri, maka akan mudah mengontrolnya untuk shalatnya menunggu suami pulang dari masjid dan i’adah. Ibarot-ibarot tampaknya condong untuk bahkan membiarkan istri shalat sendiri daripada suami tidak ke masjid. Dan secara logika, kalau semua suami mengambil kebijakan shalat dengan istri di rumah karena kalau istri ke masjid makruh misalnya, maka masjid akan cenderung kosong. Namun kalau ahli rumahnya banyak seperti diungkap dalam ibarot mughnil muhtaj di atas, maka akan sulit mengontrol untuk menunggu suami pulang karenanya langsung dikatakan lebih afdhol jamaah di rumah.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 153 : TATA CARA MENJAWAB ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 153 :

وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَمِعْتُمْ اَلنِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلْبُخَارِيِّ: عَنْ مُعَاوِيَةَ

وَلِمُسْلِمٍ: ( عَنْ عُمَرَ فِي فَضْلِ اَلْقَوْلِ كَمَا يَقُولُ اَلْمُؤَذِّنُ كَلِمَةً كَلِمَةً سِوَى اَلْحَيْعَلَتَيْنِ فَيَقُولُ: “لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ” )

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sekalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin.” Muttafaq Alaihi.

Dalam riwayat Bukhari dari Muawiyah Radliyallaahu ‘anhu terdapat hadits yang semisalnya.

Menurut Riwayat Muslim dari Umar Radliyallaahu ‘anhu tentang keutamaan mengucapkan kalimat per kalimat sebagaimana yang diucapkan oleh sang muadzin kecuali dua hai’alah (hayya ‘alash sholaah dan hayya ‘alal falaah) maka hendaknya mengucapkan la haula wala quwwata illa billah.

MAKNA HADITS :

Menjawab azan yang dilakukan oleh pendengar disebut hikayah al-azan (meniru bacaan azan), yaitu dengan cara meniru semua sebutan lafaz azan kecuali
حي على الصلاة “ dan “حي على الفلاح
maka jawaban kedua kalimat ini adalah membaca kalimat
“لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم”.

Hikmah menjawab azan yang dilakukan oleh orang yang mendengarnya adalah bersegera datang menuju ke tempat sholat. Ini berarti dia telah memenuhi
seruannya dengan ucapan sekaligus perbuatannya, yaitu berwuduk dan berangkat ke masjid untuk mengerjakan sholat berjamaah. Menjawab azan yang dilakukan oleh orang yang medengarnya tidak semata-mata bertujuan meniru suara azan yang kemudian menyeru umat manusia mengerjakan solat, sebaliknya ia bertujuan membangkitkan perasaan. Dengan membaca
لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم “
seseorang telah mengakui kelemahan yang ada pada dirinya sekaligus memohon pertolongan
kepada Allah untuk melaksanakan ibadah yang mulia ini. Dengan demikian, orang yang mendengar azan itu mendapat ganjaran pahala setelah membaca hawqalah
“لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم “
(yang merupakan respon ke atas ucapan al-hay’alatain yang
dikumandangkan oleh juru azan.
Hukum menjawab azan ialah sunat, dan dianggap sudah memadai apabila azan yang dikumandangkan oleh seorang muazin telah dijawab meskipun di kawasan tersebut ramai orang yang mengumandangkan azan. Azan pertama untuk fajar
kadzib mesti dijawab, kerana Islam telah menyebutnya sebagai azan dan oleh kerananya, ia sunat untuk dijawab.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menjawab azan yang dikumandangkan muazzin baik bagi orang yang dalam keadaam bersuci ataupun hadas, wanita yang haid
maupun yang junub, sebab jawaban itu merupakan berzikir kepada Allah dan diperbolehkan untuk melakukan dzikir. Namun menjawab azan tidak boleh dilakukan oleh orang yang sedang buang air dan orang yang sedang bersetubuh.

2. Hukum menjawab azan adalah sunat, kerana ulama telah sepakat
mengenainya. Kesepakatan inilah yang memalingkan pengertian wajib di dalam perintah yang terkandung di dalam sabda Rasulullah (s.a.w): “Maka ucapkanlah…”

3. Orang yang mendengar al-haya’alatain hendaklah menjawab dengan al-hawqalatain.

4. Keutamaan ikhlas di dalam setiap beramal. Amal yang diterima oleh Allah merupakan anugerah yang besar hingga seseorang yang melakukannya akan masuk ke dalam surga.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S048. HUKUM MENGGERA-GERAKKAN TELUNJUK KETIKA TAHIYAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya, Ada imam ketika tahyat telunjuknya diputer-puter (digerakkan) Itu boleh atau gimna?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Makruh menggoyang-nggoyangkan (menggerakkan) jarinya saat tasyahud, kecuali menurut Imam Malik (madzhab malikiyyah) :

قَوْلُهُ : ( وَلَا يُحَرِّكُهَا ) لِأَنَّهُ مَكْرُوهٌ خِلَافًا لِلْإِمَامِ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى .قَوْلُهُ : ( لِمَا قَامَ إلَخْ ) وَهُوَ أَنَّ الْمَطْلُوبَ فِي الصَّلَاةِ عَدَمُ الْحَرَكَةِ ، أَوْ لِأَنَّ التَّحْرِيكَ يُذْهِبُ الْخُشُوعَ ، وَتَحْرِيكُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهَا لِبَيَانِ الْجَوَازِ .

(Dan janganlah digerak-gerakkan) karena hukumnya makruh berbeda menurut Imam malik rh karena menggerak-gerakkannya menyalahi tujuan shalat (tenang) atau karena dapat menghilangkan kekhusyuan, sedang gerakan jari rasulullah SAW saat tahiyyah (dimungkinkan) hanya sekedar menerangkan kebolehannya. [ Hasyiyah al-Qolyubi II/370 ].

Adapun dalam madzhab Syafi’i penjelasannya sebagaimana diterangkan dalam kitab Majmu juz III halaman 434 :

وهل يحركها عند الرفع بالإشارة ؟ فيه أوجه ( الصحيح ) الذي قطع به الجمهور أنه لا يحركها

Apakah orang shalat menggerakkan jari telunjuk ketika mengangkatnya dengan berisyarah. Dalam hal ini ada beberapa wajah,Pendapat yang shahih yang ditetapkan oleh Jumhur, orang shalat tidak menggerakkanya (maksudnya tidak dianjurkan / disunnahkan mengerak-gerakkkan jari telunjuk).

فلو حركها كان مكروها ولا تبطل صلاته ; لأنه عمل قليل

Maka jika dia mengerak-gerakkannya maka itu hukumnya makruh, shalatnya tidak batal, karena itu pekerjaan yang sedikit.

‎( والثاني ) يحرم تحريكها ، فإن حركها بطلت صلاته ، حكاه عن أبي علي بن أبي هريرة وهو شاذ ضعيف

Pendapat kedua : Haram mengerak-gerakkannya, jika dia menggerakkannya maka shalatnya batal. Pendapat kedua ini menceritakan dari Abu Ali ibn Abu Hurairah. Pendapat ini syadz lagi dha’if

والثالث ) يستحب تحريكها ، حكاه الشيخ أبو حامد والبندنيجي والقاضي أبو الطيب وآخرون . وقد يحتج لهذا بحديث وائل بن حجر رضي الله عنه { أنه وصف صلاة رسول الله صلى الله عليه وسلم وذكر وضع اليدين في التشهد قال ثم رفع أصبعه فرأيته يحركها يدعو بها } رواه البيهقي بإسناد صحيح

Pendapat ketiga : Sunnah menggerak-gerakkannya. Pendapat ini diceritakan oleh Syeikh Abu Hamid , Qadhi Abuththayyib dan yang lainnyaPendapat ini berhujjah dengan hadits Waa`il ibn Hujr radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya dia mensifati shalat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , dia menuturkan (Rasulullah) meletakkan dua tangan beliau dalam tasyahhud. Dia berkata: Kemudian Rasulullah mengangkat telunjuknya, aku melihatnya beliau mengerakkannya, beliau berdoa dengannya. HR Al-Baihaqi dengan isnad yang shahih.

قال البيهقي يحتمل أن يكون المراد بالتحريك الإشارة بها لا تكرير تحريكها ، فيكون موافقا لرواية ابن الزبير ، وذكر بإسناده الصحيح عن ابن الزبير رضي الله عنهما { أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يشير بأصبعه إذا دعا لا يحركها } رواه أبو داود بإسناد صحيح

Imam Baihaqi berkata Dimungkinkan yang dikehendaki dengan TAHRIIK (menggerakkan) adalah berisyarat dengannya, bukan mengulang-ulang (dalam) menggerakkannya, dengan demikian cocok dengan riwayat Ibnuzzubair : “Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berisyarat dengan jari telunjuk ketika beliau berdoa, beliau tidak menggerakkannya”. [ HR Abu Dawud dengan isnad yang shahih ].

– kitab almuntaqo syarah almuwatho’ :

(مَسْأَلَةٌ): وَمَعْنَى إشَارَتِهِ بِالسَّبَّابَةِ رَوَى سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ وَزَادَ فِي آخِرِهِ وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ أَوَّلا ثُمَّ لَقِيته فَسَمِعْته مِنْهُ وَزَادَ فِيهِ مُسْلِمٌ قَالَ هِيَ مُدْيَةُ الشَّيْطَانِ لا يَسْهُو أَحَدُكُمْ مَا دَامَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ وَهُوَ يَقُولُ هَكَذَا فَفِيهِ أَنَّ تَحْرِيكَ السَّبَّابَةِ إنَّمَا هُوَ لِرَفْعِ السَّهْوِ وَقَمْعِ الشَّيْطَانِ يَتَذَكَّرُ بِذَلِكَ أَنَّهُ فِي الصَّلاةِ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ كَانَ يُخْرِجُهَا مِنْ تَحْتِ الْبُرْنُسِ وَيُوَاظِبُ عَلَى تَحْرِيكِهَا. وَقَالَ ابْنُ الْقَاسِمِ يَمُدُّهَا مِنْ غَيْرِ تَحْرِيكٍ وَيَجْعَلُ جَنْبَهَا الأَيْسَرَ مِنْ فَوْقُ وَقَالَهُ يَحْيَى بْنُ مَرْيَمَ فَمَنْ ذَهَبَ إلَى تَحْرِيكِهِمَا فَهُوَ الَّذِي يَتَأَوَّلُ الاشْتِغَالَ بِهَا عِنْدَ السَّهْوِ وَقَمْعَ الشَّيْطَانِ وَمَنْ ذَهَبَ إلَى مَدِّهَا فَهُوَ الَّذِي يَتَأَوَّلُ التَّوْحِيدَ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يُحَرِّكُهَا عِنْدَ قَوْلِهِ أَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلا اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ وَلَعَلَّهُ يُرِيدُ بِذَلِكَ مَدَّهَا وَالإِشَارَةَ بِهَا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.

– kitab faidhul qodir :

(تحريك الأصابع)وفي رواية الأصبع (في الصلاة) يعني في التشهد (مذعرة) أي مخوفة والذعر الخوف (للشيطان) أي أنه يفرق منه فيتباعد عن المصلي لذلك فعلى هذا فتحريك المصلي أصبعه فيه سنة وإليه ذهب جمع شافعية فسنوا تحريك السبابة لكن المصحح عندهم أنه لا يحركها بل يقتصر على رفعها عند قوله إلا اللّه.

– kitab tuhfah syarah sunan turmudzi :

تنبيه: قال النووي: في شرح مسلم: قال أصحابنا: يشير عند قوله: إلا الله من الشهادة انتهى. وقال صاحب سبل السلام: موضع الاشارة عند قوله: لا إله إلا الله، لما رواه البيهقي من فعل النبي صلى الله عليه وسلّم انتهى. وقال الطيبي في شرح قوله وأشار بالسبابة في حديث ابن عمر أي رفعها عند قوله إلا الله ليطابق القول الفعل على التوحيد انتهى. وقال علي القاري في المرقاة بعد ذكر قول الطيبي هذا: وعندنا يعني الحنفية يرفعها عند لا إله ويضعها عند إلا الله لمناسبة الرفع للنفي وملاءمة الوضع للإثبات ومطابقة بين القول والفعل حقيقة انتهى.قلت: ظاهر الأحاديث يدل على الاشارة من ابتداء الجلوس ولم أر حديثاً صحيحاً يدل على ما قال الشافعية والحنفية. وأما ما رواه البيهقي من فعل النبي صلى الله عليه وسلّم فلم أقف عليه ولم يذكر صاحب السبل سنده ولا لفظه فالله تعالى أعلم كيف حاله.تنبيه اخر: قد جاء في تحريك السبابة حين الاشارة حديثان مختلفان، فروى أبو داود والنسائي عن عبد الله بن الزبير قال: كان النبي صلى الله عليه وسلّم يشير بأصبعه إذا دعا ولا يحركها. قال النووي إسناده صحيح. فهذا الحديث يدل صراحة على عدم التحريك وهو قول أبي حنيفة.

Adapun dalam madzhab Maliki penjelasannya sebagaimana dalam kitab :

حاشية العدوي على شرح كفاية الطالب الربانيjuz III halaman 336

والرابع أشار إليه بقوله : ( واختلف في تحريكها ) فقال ابن القاسم : يحركها .وقال ابن مزين : لا يحركها ، وإذا قلنا يحركها فهل في جميع التشهد أو عند الشهادتين فقط قولان اقتصر في المختصر على الأول .وظاهر كلام ابن الحاجب أن الثاني هو المشهور وعلى القولين فهل يمينا وشمالا أو أعلى وأسفل قولان

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 152 : KEWAJIBAN IJTIHAD WAKTU SEBELUM ADZAN DIKUMANDANGKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 152 :

وَعَنْ اِبْنِ عُمَرَ; ( إِنَّ بِلَالاً أَذَّنَ قَبْلَ اَلْفَجْرِ فَأَمَرَهُ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَرْجِعَ فَيُنَادِيَ: “أَلَا إِنَّ اَلْعَبْدَ نَامَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَضَعَّفَهُ

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Bilal beradzan sebelum fajar lalu Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyuruhnya kembali pulang kemudian berseru: “Ingatlah bahwa hamba itu butuh tidur.” Diriwayatkan dan dianggap hadits lemah oleh Abu Dawud.

MAKNA HADITS :

Tidak diperbolehkan mengumandangkan azan untuk memberitahu masuknya waktu
solat sebelum mengenal pasti kebenaran masuknya waktu solat. Apabila muazzin salah lalu mengumandangkan azan sebelum tiba waktu solat, maka dia wajib
mengingatkan orang yang mendengarnya melalui seruan ralat supaya mereka tidak terpengaruh dengan azan tersebut sehingga mengerjakan solat sebelum masuk waktunya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan mematuhi orang alim, lebih-lebih lagi dalam urusan agama.

2. Tidak boleh mengumandangkan azan Subuh sebelum masuk waktunya.

3. Juru azan mesti meneliti waktu terlebih dahulu dalam memastikan waktu solat. Tetapi jika ternyata masih salah setelah ijtihad mengenainya, maka dia wajib memberitahu orang ramai tentang kekeliruannya tersebut.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..