logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 204 & 205 : LARANGAN MENCARI BARANG HILANG DAN BERJUALAN DI DALAM MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB MASJID

HADITS KE 204 :

وَعَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي اَلْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ : لَا رَدَّهَا اَللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ اَلْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا ) رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendengar ada seseorang yang mencari barang hilang di masjid hendaknya mengatakan: Allah tidak mengembalikannya kepadamu karena sesungguhnya masjid itu tidak dibangun untuk hal demikian.” Riwayat Muslim.

HADITS KE 205 :

وَعَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ ( إِذَا رَأَيْتُمْ مَنْ يَبِيعُ أَوْ يَبْتَاعُ فِي اَلْمَسْجِدِ فَقُولُوا : لَا أَرْبَحَ اَللَّهُ تِجَارَتَكَ ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَحَسَّنَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Jika engkau melihat seseorang berjual beli di dalam masjid maka katakanlah padanya: (Semoga Allah tidak menguntungkan perdaganganmu.” Riwayat Nasa’i dam Tirmidzi. Hadits hasan menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Masjid dibangun untuk berzikir kepada Allah dan pengajian, karena masjid adalah rumah Allah. Allah memerintahkan supaya asma-Nya disebut di dalam masjid.
Oleh yang demikian, tidak boleh melakukan transaksi jual beli di dalam masjid dan tidak boleh pula mendendangkan syair-syair yang sesat. Jadi, apabila seseorang ada yang melihat dua orang sedang melakukan transaksi di dalamnya, maka hendaklah dia berkata kepada mereka berdua: “Semoga Allah tidak memberikan keuntungan kepada jual belimu itu.” Ini sebagai peringatan keras ke atas mereka berdua agar tidak lagi melakukan perkara yang serupa, sekalipun transaksi jual beli yang dilakukan oleh mereka berdua tetap sah.

Barang siapa merasa kehilangan sesuatu di dalam masjid, maka hendaklah bertanya kepada juru kuncinya dan tidak perlu mencarinya di dalam masjid, sekalipun barangnya itu hilang di dalam masjid. Barang siapa yang mendengar seruannya, maka hendaklah dia mengatakan kepadanya sebagai satu peringatan: “Semoga Allah tidak mengembalikan barang hilang itu kepadamu”.

FIQH HADITS :

1. Dilarang mencari barang yang hilang di dalam masjid. Barang siapa yang mendengar ada seseorang mencari barang yang hilang di dalam masjid, maka hendaklah dia mengatakan kepadanya: “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.”

2. Haram melakukan jual beli di dalam masjid. Barang siapa yang melihatnya dilakukan oleh pihak penjual dan pembeli, maka hendaklah dia mengucapkan kepada mereka berdua: “Semoga Allah tidak memberikan keuntungan ke atas perniagaan kamu.” Ini sebagai peringatan keras ke atas mereka berdua.

3. Masjid tidak dibangun untuk berniaga dan melakukan urusan-urusan duniawi yang lain, sebaliknya ia dibangun untuk ibadah dan berzikir kepada Allah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

H012. HUKUM ARISAN QURBAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum arisan qurban?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Arisan ini perlu diperjelas, apakah hanya tujuh nama yg ikut arisan atau hanya tujuh nama yg menang?,

jika hanya ada 7 orang maka tentunya hal itu bukan arisan, tapi lebih dekat pada : \”menabung bersama untuk kurban sapi\”, hal ini merupakan kemuliaan, dan diperbolehkan dalam syariah,

namun jika arisan, berrarti diundi, maka bagaimana dg orang orang lain selain 7 orang itu?

akankah mereka menang tahun yg akan datang?, jika tak ada kemungkinan menang maka merugikan orang lain dan hal itu haram hukumnya.

Kalo arisan itu hanya sekedar bergiliran melaksanakan kurban dengan domba atau sapi tanpa menentukan kepemilikan secara penuh terhadap peserta arisan masing-masing artinya domba atau sapi tsb belum di tentukan kepemilikannya kepada orang yg melaksanakan kurban maka itu tidak sah karna kepemilikannya belum di tentukan.

Contoh kalo 2 orang memiliki 2 domba secara musyarokah (bersekutu) atau lebih dari 7 orang bermusyarokah terhadap 2 sapi maka itu tidak cukup dan tidak sah. Begitu pula kalo 14 orang memiliki 2 sapi tapi belum di tentukan satu persatunya maka itu tidak sah karena tiap orang bukan memiliki 1/7 dari 1 sapi tapi memiliki 1/14 dari 2 sapi. Begitu pula kalo 8 orang bermusyarokah dalam 2 sapi maka hukumnya juga tidak sah karna satu orang dari 8 itu tidak memiliki 1/8 dari 2 sapi jadi di sebut tidak mu’ayyan (di tentukan) dan tidak dipastikan.

Kesimpulan :
kalau dari arisan itu hanya sekedar mengeluarkan tabungan lalu untuk membeli sapi tanpa menentukan siapa yg memiliki sapi tsb maka itu tidak sah, sama halnya dgn kurban satu kambing yg tidak di tentukan. Tetapi kalo hanya arisan dalam pengumpulan uang yg hasilnya di pastikan milik orang tertentu untuk di belikan hewan tertentu ataupun hasil dari arisan itu di belikan hewan dan hewan itu sudah di milikan kepada orang tertentu dengan akad menghutangkan dari orang lain spt membeli satu hewan dengan akad hutang maka itu sah. Lihat Nihayatul muhtaj jilid 2 shohifah 4.

لواشترك اثنان في شتين في تضحية أو هدية لم يجزء. وقال الرشيدومثله لواشترك أربعة عشرفي بدنتين لأن كلاإنماحصل له سبع البدنتين فلم يحصل له من كل إلانصف سبع وذلك لايكفي لانه لايكفي إلاسبع كامل من بدنة واحدة وفاقا لم ر. وقياسه عدم الإجزاء إذا اشترك ثمانية في بدنتين إذيخص كلا من كل بدنة ثمن لايكفي

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

H011. UCAPAN NADZAR QURBAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana apabila seseorang membeli kambing lalu ditanya oleh seseorang “untuk apa kambing itu” lalu dia menjawab “untuk hewan qurba”. Apakah otomatis akan menjadi qurban nadzar?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Mengacu pendapat jumhurul ulama’ Pada dasarnya hukum Qurban adalah sunnah muakkad, dan bisa menjadi wajib karena adanya Nadzar.

Berbicara tentang Nadzar, Bentuk nadzar ada 2 yaitu :

Pertama, Nadzar shorih (jelas) seperti ucapan “untuk Allah, saya akan berqurban, ini adalah hewan qurbanku, aku jadikan hewan ini sebagai qurban”, dalam nadzar ini tidak membutuhkan niat bahkan kalau niat dengan niat yang tidak sesuai ucapannya, niatnya tidak diperhitungkan.

Karena itu yang sering terjadi pada masyarakat awam yaitu ketika mereka pulang dari pasar dengan menuntun kambing kemudian ditanya rekannya kambing siapa itu? Dia menjawab: “ini hewan kurbanku”, maka secara otomatis dia telah bernadzar berkurban.
Namun pendapat ini ditentang sebagian ulama’ antara lain Sayyid Umar Al Bashry yang mengatakan bahwa ucapan “Ini adalah hewan kurbanku” akan menjadi nadzar kurban kalau seseorang mengatakannya tanpa niat memberi tahu (ihbar), kalau ada niat ihbar maka tidak menjadi nadzar.

Kedua, Nadzar kinayah (tidak jelas) seperti ucapan “kalau saya sembuh dari sakitku maka saya akan menyembelih seekor kambing”, dalam nadzar ini hukumnya sangat bergantung terhadap niat

حاشيتا قليوبي – وعميرة – (ج 1 / ص 97)

كِتَابُ الْأُضْحِيَّةِ قَوْلُهُ : ( لَا تَجِبُ إلَّا بِالْتِزَامٍ ) يُرِيدُ بِهِ أَنَّ نِيَّةَ الشِّرَاءِ لِلْأُضْحِيَّةِ لَا تُوجِبُهَا وَهُوَ كَذَلِكَ عَلَى الْأَصَحِّ ، قَوْلُهُ : ( بِالنَّذْرِ ) أَيْ وَمَا أُلْحِقَ بِهِ كَجَعَلْتُهَا أُضْحِيَّةً أَوْ هَذِه أُضْحِيَّةً

Qurban hukumnya tidak wajib kecuali dengan adanya menerima kewajiban (dengan nadzar), ini mengandung pengertian bahwa niat membeli untuk qurban tidak menjadikan wajibnya qurban. Ini menurut Qoul Ashoh. Qurban menjadi wajib sebab nadzar atau sesuatu yang menyamainya seperti mengatakan : “aku jadikan kambing ini sebagai kurban” atau “kambing ini adalah qurban”

o مغني المختاج 6 ص : 233

وأما الصيغة فيشترط فيها لفظ يشعر بالتزام فلا ينعقد بالنية كسائر العقود وتنعقد بإشارة الأخرس المفهمة , وينبغي كما قال شيخنا انعقاده بكناية الناطق مع النية

Disyaratkan dalam Shighot (ungkapan nadzar), kata-kata yang menunjukkan menerima kewajiban, sehingga tidak sah nadzar hanya dengan niat seperti aqad-aqad yang lain, dan nadzar sah dengan isyarat bagi orang bisu. Dan menurut Syaikhuna nadzar sah dengan bahasa kinayah jika disertai niat

o نهاية المختاج 8 ص: 131

[ فَرْعٌ ] لَوْ قَالَ : إنْ مَلَكْت هَذِهِ الشَّاةَ فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَا لَمْ تَلْزَمْهُ , وَإِنْ مَلَكَهَا لِأَنَّ الْمُعَيَّنَ لَا يَثْبُتُ فِي الذِّمَّةِ بِخِلَافِ إنْ مَلَكْتُ شَاةً فَلِلَّهِ عَلَيَّ أَنْ أُضَحِّيَ بِهَا فَتَلْزَمُهُ إذَا مَلَكَ شَاةً لِأَنَّ غَيْرَ الْمُعَيَّنِ يَثْبُتُ فِي الذِّمَّةِ , كَذَا صَرَّحُوا بِهِمَا فَانْظُرْ الرَّوْضَ وَغَيْرَهُ انْتَهَى سم عَلَى مَنْهَجٍ

(Far’un) Kalau ada orang berkata : “Jika aku memiliki kambing ini, maka hanya karena Allah aku akan berkurban dengannya”, maka dia tidak wajib berkurban walau dia benar-benar memiliki kambing tersebut, sebab “sesuatu yang tertentu tidak bisa menjadi tetap dalam tanggungjawabnya”. Berbeda jika ia mengatakan: “Jika aku memiliki seokar kambing maka hanya karena Allah aku akan berkurban dengannya”, maka ia wajib berkurban jika ia benar-benar memiliki seekor kambing, karena “sesuatu yang tidak tertentu itu bisa menjadi tetap dalam tanggungjawabnya”. 2 masalah ini telah dijelaskan oleh ulama’, lihat dalam kitab Roudl dan kitab-kitab lain.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

H010. HUKUM BERKORBAN DENGAN KAMBING BETINA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Ust. Saya mau tanya, bagaimana kalo sapi/kambing betina buat kurban ‘idul Adha?

Atas jawabannya, disampaikan terimakasih.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Sapi betina itu boleh dibuat qurban idul adha.

(بجيرمي علی شرح المنهاج,جز ٤,صحيفۃ ٢٩٥)

(وشرطها) اي التضحيۃ (نعم) ابل وبقر وغنم اناثا كانت اوخناثی او ذكورا ولو خصيانا لقوله تعالی ولكل امۃ جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله علی ما رزقهم من بهيمۃ الانعام, ولان التضحيۃ عبادۃ تتعلق بالحيوان فاختصت بالنعم كالزكاۃ.

Boleh berkurban dengan kambing betina. Dalam Kitab al Majmu’ 8/397 dijelaskan :

يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى بِالْإِجْمَاعِ وَفِي الْأَفْضَلِ مِنْهُمَا خِلَافٌ (الصَّحِيحُ) الَّذِي نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْبُوَيْطِيِّ وَبِهِ قَطَعَ كَثِيرُونَ أَنَّ الذَّكَرَ أَفْضَلُ مِنْ الْأُنْثَى وَلِلشَّافِعِيِّ نَصٌّ آخَرُ أَنَّ الْأُنْثَى أَفْضَلُ فَمِنْ الْأَصْحَابِ مَنْ قَالَ لَيْسَ مُرَادُهُ تَفْضِيلَ الْأُنْثَى فِي التَّضْحِيَةِ وَإِنَّمَا أَرَادَ تَفْضِيلَهَا فِي جَزَاءِ الصَّيْدِ إذَا أَرَادَ تَقْوِيمَهَا لِإِخْرَاجِ الطَّعَامِ قَالَ الْأُنْثَى أَكْثَرُ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ الْمُرَادُ الْأُنْثَى الَّتِي لَمْ تَلِدْ أَفْضَلُ مِنْ الذَّكَرِ الذي كثر نزوانه فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ ذَكَرٌ لَمْ يَنْزُ وَأُنْثَى لَمْ تَلِدْ فَهُوَ أَفْضَلُ مِنْهَا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

يَصِحُّ التَّضْحِيَةُ بِالذَّكَرِ وَبِالْأُنْثَى

Sah berqurban dengan jantan dan dengan betina.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M074. HUKUM DAN PROBLEMATIKA ARISAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi Masalah :
Arisan pada prinsipnya termasuk tolong-menolong antar sesama yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Dalam praktiknya, para anggota mengadakan kesepakatan jumlah nominal iuran, waktu pelaksanaan, bentuk arisan (uang tunai/barang/jasa seperti biaya naik haji) dan sebagainya. Untuk menentukan pemenang (pengambil giliran) dilakukan dengan cara mengundi nomor peserta.

Salah satu tokoh agama berpendapat bahwa dalam praktik arisan tersebut terdapat unsur untung rugi yang mengakibatkan tidak bolehnya praktik tersebut, karena masa tenggang (giliran pemenang arisan) antara anggota yang satu dengan lannya kadang-kadang bersamaan dengan berubahnya nilai mata uang/barang/jasa sehingga yang mendapatkan giliran akhir tentunya dirugikan.

Pertanyaan :

a. Dinamakan akad apakah praktik arisan tersebut?

b. Benarkah pendapat tokoh agama tersebut dengan pertimbangan hukum seperti tersebut di atas?

c. Bolehkah dalam arisan barang/jasa jumlah nominal iuran disesuaikan dengan harga barang/ongkos jasa yang berlaku pada waktu pelaksanaan pegundian arisan?

d. Apabila di pertengahan ada salah satu peserta meninggal dunia, sedangkan beliau meninggalkan anak yatim dan sisa dari arisan tsb tinggal separu perjalanan, apakah sisa arisan itu masuk katagori hutang utk di bayar? atau yg bayar harus anak yatimnya atau ada solusi lain utk membayar sisa dari arisan tsb.

Mohon jawaban sekaligus refrensi yg jelas. terimakasih

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

a. Termasuk akad qardlu (utang piutang)

b. Tidak benar, kerena akad qardlu mengandung unsur tolong menolong sehingga tidak memperhitungkan unsure untung rugi.

c. Boleh

Referensi :
1. al-Mahally, Juz II, Hal. 287
2. Hasyiyatan Qalyuby wa ‘Amirah, Juz II, Hal. 321
3. Mughni, Juz II, Hal. 118
4. Nihayah al-Muhtaj, Juz IV, Hal. 225
5. Al-Majmu’, Juz XIII, Hal. 174
6. Hamisy I’anah al-Thalibin, Juz III, Hal. 53

Referensi :

وعبارته :

1. الاقراض هو تمليك الشيئ على ان يرد بدله اهـ (المحلى، جـ 2، صـ 287)

2. فرع : الجمعة المشهورة بين النساء بأن تأخذ امرأة من كل واحدة من جماعة منهن قدرا معينا فى كل جمعة او شهر وتدفعه لواحدة بعد واحدة الى اخرهن جائزة كما قاله الولي العراقي (حاشيتان قليوبى وعميرة، جـ 2، صـ 321)

3. قال فى الروضة ولا يجوز اقراض المنافع لانه لا يجوز السلم فيها ويؤخذ من تعليله ان محله فى منافع العين المعينة اما التي فى الذمة فيجوز اقراضها لجواز السلم فيها (مغني، جـ2، صـ 118)

4. فى الروضة هنا عن القاضى منع قرض المنفعة لانتفاع السلم فيها وفيها كاصلها وفى الاجارة جوازهما وجمع الاسنوي وغيره اخذا من كلامهما بحمل المنع على منفعة فى الذمة واعتمده الوالد رحمه الله تعالى فى فتاويه (نهاية المحتاج، جـ 4، صـ 225)

5. اذا اقترضه الخبز وشرط ان يرد عليه الخبز ففيه وجهان احدها يجوز لان مبناه عى الرفق فلو منعناه من رد الخبز شق وضاق والثانى لا يجوز اذا اشترط صار بيع خبز بخبز وذلك لا يجوز (المجموع، جـ 14، صـ 174)

6. ولا يلزم المقترض الدفع فى غير محل الاقراض الا اذا لم يكن لحمله مؤنة أوله مؤنة وتحملها المقرض لكن له مطالبة فى غير محل الاقراض بقيمة بمحل الاقراض وقت المطالبة فيما لنقله مؤنة ولم يتحملها المقرض لجواز الاعتياض عنه (هامش اعانة الطالبين، جـ 3، صـ 53)

Dasar Hukum diperbolehkannya ARISAN

(فَرْعٌ) الْجُمُعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِاَنْ تَأْخُذَ اِمْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فىِ كُلِّ جُمُعَةٍ اَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ اِلىَ آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ . القليوب ص 258 الجزء 2

(Cabang) Hari Jum’at yang termasyhur di antara para wanita, yaitu apabila seseorang wanita mengambil dari setiap wanita dari jama’ah para wanita sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jum’at atau setiap bulan dan menyerahkan keseluruhannya kepada salah seorang, sesudah yang lain, sampai orang terakhir dari jamaah tersebut adalah boleh sebagaimana pendapat Al-Wali al-‘Iraqi. [ AlQolyuuby II/258 ].

d. Karena arisan itu termasuk aqad hutang piutang (al iqrod), sedangkan aqad iqrod adalah

(المحلي,جز ٢,صحيفۃ ٢٨٧)
الاقراض هو تمليك الشيء علی ان يرد بدله

Iqrod: Memberikan uang agar supaya orang yang diberi uang itu mengembalikan gantinya uang yang diberikan, maka peserta arisan yang meninggal dunia (yang meninggalkan anak yatim) wajib membayar sisa arisan yang tinggal separuh (setengah) perjalanan. Uang pembayarannya itu diambilkan dari tirkah (harta peninggalan) peserta yang meninggal dunia. Alasannya ialah: Karena arisan sama dengan hutang.

Adapun anak yatim tidak boleh disuruh membayar arisan dengan menggunakan uang anak yatim tersebut. Alasannya ialah karena takut termasuk memakan harta anak yatim-yang diharamkan

Dalil diharamkannya memakan harta anak yatim adalah:

(ارشاد العباد,صحيفۃ ٨٣)
واخرج الشيخان عن ابي هريرۃ قال:,قال رسول الله صلی الله عليه وسلم: (اجتنبوا السبع الموبقات,قالوا: يا رسول الله وما هي,قال: الشرك بالله والسحر وقتل النفس التي حرم الله الا بالحف واكل الربا واكل مال اليتيم والتولي يوم الزحف وقذف المحصنات الغافلات الموءمنات)

Artinya: Rosululloh SAW. bersabda: Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang merusak/ yang membinasakan. Para sahabat bertanya: Ya Rosulalloh,apakah tujuh perkara yang merusak (yang membinasakan) itu?. Rosululloh berkata:
(1)Musyrik kepada Allah.
(2)Sihir.
(3)Membunuh orang lain (yang diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya).
(4)Memakan riba.
(5)Memakan harta anak yatim.
(6)Melarikan diri pada waktu peperangan.
(7)Menuduh berzina kepada perempuan yang mu’minat.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 203 : HUKUM MEMBACA SYAIR DI MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB MASJID

HADITS KE 203 :

وَعَنْهُ رضي الله عنه ( أَنَّ عُمَرَ رضي الله عنه مُرَّ بِحَسَّانَ يَنْشُدُ فِي اَلْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ : “قَدْ كُنْتُ أَنْشُدُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ) . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Umar Radliyallaahu ‘anhu melewati Hassan yang sedang bernyanyi di dalam masjid lalu ia memandangnya. Maka berkatalah Hassan: Aku juga pernah bernyanyi di dalamnya dan di dalamnya ada orang yang lebih mulia daripada engkau. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Syair adalah kalimat-kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama tertentu. Syair dianggap baik apabila di dalamnya memuatkan makna pujian kepada Allah, memuji Rasul-Nya, memperjuangkan syariat dan lain-lain seumpamanya yang mengandung tujuan yang dibenarkan, bahkan syair seperti itu boleh didendangkan di dalam masjid. Jika syair mengandungi celaan, mempropagandakan perkara bid’ah atau memberi semangat untuk melakukan maksiat, maka syair seperti itu dianggap buruk sama dengan syair di zaman Jahiliah yang dilakukan oleh pelaku kebatilan. Dengan demikian, maka hadis yang melarang mendendangkan syair di dalam masjid dan hadis membolehkannya dapat digabungkan.

FIQH HADITS :

1. Boleh mendendangkan syair di dalam masjid untuk kepentingan yang ada kaitannya dengan nasihat dan tazkirah.

2. Berhujah dengan pangakuan Rasulullah (s.a.w) karena baginda tidak pernah memperakui sesuatu melainkan ia telah diakui oleh syariat.

3. Dianjurkan membela Islam dan menjawab tantangan musuh, baik melalui syair ataupun prosa, karena itu termasuk jihad fi sabilillah.

4. Seseorang dibolehkan menjawab (menyanggah) orang yang lebih utama darinya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 202 : HUKUM MEMASUKI MASJID BAGI ORANG MUSYRIK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

_*BAB MASJID*_

HADITS KE 202 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( بَعَثَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم خَيْلاً فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي اَلْمَسْجِدِ ) اَلْحَدِيثَ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengirim pasukan berkuda lalu mereka datang membawa seorang tawanan mereka mengikatnya pada salah satu tiang masjid. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Hadis ini telah diterangkan sebelum ini dalam bab mandi dalam kaitannya orang kafir disyariatkan jika masuk Islam. Dalam bab ini kami sengaja mengulanginya lagi dalam kaitannya orang kafir boleh diikat sebagai tawanan di dalam masjid.

FIQH HADITS :

1. Boleh mengikat tawanan di dalam masjid, meskipun tawanan itu orang kafir.

2. Orang musyrik dibolehkan memasuki masjid kecuali Masjid al-Haram.

Imam Malik berkata: “Orang musyrik tidak boleh memasuki masjid kecuali karena
ada satu keperluan yang teramat penting.”

Imam al-Syafi‟i berkata: “Orang musyrik baik ahli kitab ataupun selainnya boleh memasuki masjid setelah mendapat kebenaran orang muslim kecuali Masjid al-Haram di Mekah dan
tanah suci.”

Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa ahli kitab boleh memasuki semua masjid namun kafir selain ahli kitab tidak dibolehkan.

Imam Abu Hanifah mengemukakan hujah untuk menguatkan pendapatnya dengan satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab al-Musnad dengan sanad jayyid melalui Jabir (r.a) bahwa Rasulullah (s.a.w)
pernah bersabda:

لايدخل مسجدنا هذا بعد عامنا هذا مشرك الا أهل العهد وخدمهم

“Sesudah tahun kita sekarang ini orang musyrik tidak boleh lagi memasuki masjid kita, kecuali ahli kitab dan para pembantu mereka.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 201 : LARANGAN MENJADIKAN KUBURAN SEBAGAI MASJID

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB MASJID

*HADITS KE 201 :*

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( قَاتَلَ اَللَّهُ اَلْيَهُودَ : اِتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه وَزَادَ مُسْلِمُ ( وَالنَّصَارَى )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Allah memusuhi orang-orang Yahudi yang menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid.” Muttafaq Alaihi. Muslim menambahkan: “Dan orang-orang Nasrani.”

وَلَهُمَا مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- ( كَانُوا إِذَا مَاتَ فِيهِمْ اَلرَّجُلُ اَلصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ) وَفِيهِ ( أُولَئِكَ شِرَارُ اَلْخَلْقِ )

Menurut Bukhari-Muslim dari hadits ‘Aisyah r.a: “Apabila ada orang sholeh di antara mereka yang meninggal dunia mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid.” Dalam hadits itu disebutkan: “Mereka itu berakhlak buruk.”

*MAKNA HADITS :*

Ummu Salamah dan Ummu Habibah yang merupakan Ummahat al-Mu’minin
menceritakan kepada Nabi (s.a.w) tentang apa yang pernah mereka saksikan di negeri Habsyah. Masyarakat Habsyah menyembah dan mengagungkan patung dan
gambar manusia di dalam gereja. Rasulullah (s.a.w) menegaskan kepada mereka bahawa dorongan membuat patung dan gambar tersebut pada hakikatnya baik, yaitu untuk meneladani amal kebajikan yang pernah dilakukan oleh orang soleh di kalangan mereka yang telah meninggal dunia. Tetapi mereka tidak menyadari perbuatan itu kerana dengan cara ini mereka telah membuka pintu kekufuran bagi generasi berikutnya. Akhirnya patung itu diagungkan dan disembah. Oleh sebab itu, mereka menjadi sejahat-jahat atau seburuk-buruk makhluk Allah pada hari kiamat kelak.

Di sini Rasulullah (s.a.w) ingin mengingatkan para sahabat supaya tidak menjadikan kuburannya seperti apa yang telah dilakukan dengan kuburan orang soleh itu. Ini merupakan langkah berjaga-jaga baginda sekali gus menjauhkan perbuatan yang menyerupai para penyembah berhala di samping mengingatkan agar harta tidak dimubazirkan dan disia-siakan untuk sesuatu yang tidak ada
manfaatnya.

*FIQH HADITS :*

1. Dilarang menjadikan kuburan sebagai masjid.

2. Boleh menceritakan keanehan yang telah disaksikan oleh seseorang.

3. Dilarang membuat patung malah diharamkan membuat patung atau gambar makhluk yang bernyawa, khususnya patung atau gambar orang soleh.

4. Haram membangun (membuat) kuburan di dalam masjid.

5. Orang yang melakukan perbuatan yang diharamkan hendaklah dicela.

6. Apa yang mesti menjadi kaedah dalam menentukan sesuatu hukum adalah syariat, bukan adat kebiasaan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M073. AKAD DALAM MITRA PEMELIHARAAN AYAM POTONG

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya ustad di daerah kami banyak yg memelihara ayam potong dgn cara bermitra dgn perusahaan dimana smua biaya perawatan ayam tsb ditanggung oleh perusahaan tsb dan setelah panen ayam itu hrs di jual kpd perusahaan tsb, bolehkah akad seperti itu? syukron..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Perusahaan yang menanggung biaya perawatan ayam potong itu disebut aqad hibah

(فقه السنۃ,جز ٣,صحيفۃ ٢٦٦)
والهبۃ في الشرع:عقد موضوعه تمليك الاءنسان ماله لغيره في الحياۃ بلا عوض

Hibah adalah: Aqad (transaksi), yang mana pokok permasalahannya adalah seseorang memberikan hartanya kepada orang lain, pada waktu orang yang memberi itu dalam keadaan hidup, dengan tanpa ganti.

Adapun perjanjian bahwa setelah panen ayam potong tersebut harus dijual kepada perusahaan tersebut, maka aqad (transaksi) jual beli ini bisa sah dengan syarat: penjual itu ridho jika ayam potongnya itu hanya boleh dijual kepada perusahaan tersebut.
Alasannya ialah: Karena diantara rukun-rukun jual beli adalah jika kedua belah pihak (yaitu penjual dan pembeli) itu sama-sama ridho terhadap aqad (transaksi) jual beli tersebut.

(منهاج المسلم,صحيفة ٣١٦)
ج-اركان البيع خمسة, وهي:……………..
(١)-الباءع, ولابد ان يكون مالكا لما يبيع, او مأذونا له في بيعه, رشيدا غير سفيه.
(٢)-المشتري, ولا بد ان يكون جاءز التصرف باءن لايكون سفيها, ولا صبيا لم يوءذن له.
(٣)-المبيع -الثمن-ولا بد ان يكون مباحا طاهرا مقدورا علی تسليمه, معلوما لدی المشتري ولو بوصفه.
(٤)-صيغۃ العقد, وهي الاءيجاب والقبول بالقول نحو: بعني كذا, فيقول الباءع: بعتك, او بالفعل كاءن يقول; بعني ثوبا مثلا, فيناوله اياه.
(٥)-التراضي, فلا يصح بيع بدون رضاالطرفين (اي الباءع والمشتري) لقوله صلی الله عليه وسلم: (انما البيع عن تراض) (رواه ابن ماجه)

Rukun ke 5 dari jual beli adalah harus saling ridho antara penjual dan pembeli. maka aqad (transaksi) jual beli itu tidak sah tanpa keridhoan diantara kedua belah pihak (yaitu penjual dan pembeli). Berdasarkan sabda Rosululloh SAW.:

انما البيع عن تراض(رواه ابن ماجه)

Sesungguhnya jual beli itu (bisa sah) jika terdapat saling ridho (diantara penjual dan pembeli) terhadap aqad (transaksi) jual beli itu (Hadits Riwayat ibnu majah).

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 200 : ANJURAN MEMBANGUN MASJID DAN MERAWATNYA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB MASJID

HADITS KE 200 :

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِبِنَاءِ اَلْمَسَاجِدِ فِي اَلدُّورِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَ إِرْسَالَهُ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung dan hendaknya dibersihkan dan diharumkan. Riwayat Ahmad Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi menilainya hadits mursal.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) amat mementingkan sholat yang merupakan rukun Islam yang kedua. Dalam hal itu, baginda memerintahkan membangun masjid dan tempat untuk mengumandangkan azan. Baginda memerintahkan supaya setiap daerah dan kota mesti dibangun sebuah masjid untuk mendirikan sholat lima waktu dalam sehari semalam. Baginda memerintahkan membangun masjid besar untuk melaksanakan sholat Jum’at yang dapat menampung seluruh penduduk kota yang ada.

Mengingat surau-surau yang ada di setiap daerah kadang kala kurang
diperhatikan kebersihannya, Nabi (s.a.w) memerintahkan agar setiap masjid dan surau dibersihkan dan diberi wewangian, begitu pula dengan masjid besar. Nabi (s.a.w) di sini mengungkapkan kota dengan istilah al-Dur, sedangkan daerah yang merupakan bagian dari kota) disebut dengan istilah al-Dar.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan membangun surau di setiap kampung dan menggunakannya sebagai tempat beribadah dan sholat berjamaah lima waktu agar penduduk setempat tidak ketinggalan untuk mendapat keutamaan pahala berjamaah, karena kedudukan tempat tinggal mereka yang berjauhan dengan masjid besar.

2. Dianjurkan membersihkan masjid-masjid dari kotoran.

3. Dianjurkan memberikan wewangian yang sewajarnya untuk masjid.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..