logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

P007. PUASA BAGI PEKERJA BERAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:
Puasa memang wajib. Tetapi mencari nafkah juga wajib. Dan memang kewajiban puasa itu tidak bermaksud menghalangi manusia untuk mencari nafkah. Tetapi adakalanya aktivitas mencari nafkah ini memerlukan tenaga besar dan kondisi fisik yang sip, karenanya untuk sejumlah orang pada profesi tertentu puasa mengurangi tenaga yang diperlukan.

Di samping pekerja berat, ada juga mereka yang sakit dengan pelbagai kondisinya saat Ramadhan tiba. Ada di antara mereka yang sehat dan segar bugar, juga muda. Ada lagi yang sudah renta, ada yang terbaring sakit, ada lagi yang dalam perjalanan, juga mereka yang pekerjaannya membutuhkan tenaga ekstra.

Bagaimana hukum orang yang bekerja berat tidak berpuasa?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Bagi pekerja berat (seperti pengetam, kuli bangunan, tukang becak, nelayan, pembajak tanah dll.) tidak diperbolehkan berbuka puasa (mokel-java-pen) kecuali bila memenuhi 6 persyaratan :

1. Pekerjaannya tidak bisa diundur hingga bulan syawal.

2. Ada halangan untuk dikerjakan di malam hari.

3. Terjadi masyaqqat (kesulitan) menurut kebiasaan manusia bila menjalani puasa hingga dalam batasan masyaqqat yang memperkenankan baginya tayammum atau menjalani shalat dengan duduk.

4. Di malam hari tetap niat, di pagi hari tetap puasa baru setelah benar-benar tidak kuat boleh berbuka.

5. Saat berbuka diniati mencari keringanan hukuman.

6. Tidak boleh menyalahgunakan keringanan dalam arti pekerjaannya dijadikan tujuan atau membebani diri diluar batas kemampuan agar dapat keringanan berbuka puasa.

Bila syarat-syarat di atas tidak terpenuhi maka berdosa baginya berbuka puasa meskipun diganti dihari-hari selain ramadhan berdasarkan hadits “Barangsiapa berbuka puasa tanpa adanya udzur tidak mencukupi baginya meskipun diganti dengan puasa sepanjang tahun”

Buhyah alMustarsyidiin Hal. 234 :

مسألة) : لا يجوز الفطر لنحو الحصاد وجذاذ النخل والحراث إلا إن اجتمعت فيه الشروط. وحاصلها كما يعلم من كلامهم ستة : أن لا يمكن تأخير العمل إلى شوّال ، وأن يتعذر العمل ليلاً ، أو لم يغنه ذلك فيؤدي إلى تلفه أو نقصه نقصاً لا يتغابن به ، وأن يشق عليه الصوم مشقة لا تحتمل عادة بأن تبيح التيمم أو الجلوس في الفرض خلافاً لابن حجر ، وأن ينوي ليلاً ويصحب صائماً فلا يفطر إلا عند وجود العذر ، وأن ينوي الترخص بالفطر ليمتاز الفطر المباح عن غيره ، كمريض أراد الفطر للمرض فلا بد أن ينوي بفطره الرخصة أيضاً ، وأن لا يقصد ذلك العمل وتكليف نفسه لمحض الترخص بالفطر وإلا امتنع ، كمسافر قصد بسفره مجرد الرخصة ، فحيث وجدت هذه الشروط أبيح الفطر ، سواء كان لنفسه أو لغيره وإن لم يتعين ووجد غيره ، وإن فقد شرط أثم إثماً عظيماً ووجب نهيه وتعزيره لما ورد أن : “من أفطر يوماً من رمضان بغير عذر لم يغنه عنه صوم الدهر”.

Perihal orang yang kesehariannya bekerja agak berat, Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam Busyrol Karim mengatakan,

ويلزم أهل العمل المشق في رمضان كالحصادين ونحوهم تبييت النية ثم من لحقه منهم مشقة شديدة أفطر، وإلا فلا. ولا فرق بين الأجير والغني وغيره والمتبرع وإن وجد غيره، وتأتي العمل لهم العمل ليلا كما قاله الشرقاوي. وقال في التحفة إن لم يتأت لهم ليلا، ولو توقف كسبه لنحو قوته المضطر إليه هو أو ممونه علي فطره جاز له، بل لزمه عند وجود المشقة الفطر، لكن بقدر الضرورة. ومن لزمه الفطر فصام صح صومه لأن الحرمة لأمر خارج، ولا أثر لنحو صداع ومرض خفيف لا يخاف منه ما مر.

Artinya, “Ketika memasuki Ramadhan, pekerja berat seperti buruh tani yang membantu penggarap saat panen dan pekerja berat lainnya, wajib memasang niat puasa di malam hari. Kalau kemudian di siang hari menemukan kesulitan dalam puasanya, ia boleh berbuka. Tetapi kalau ia merasa kuat, maka ia boleh tidak membatalkannya.

Tiada perbedaan antara buruh, orang kaya, atau sekadar pekerja berat yang bersifat relawan. Jika mereka menemukan orang lain untuk menggantikan posisinya bekerja, lalu pekerjaan itu bisa dilakukannya pada malam hari, itu baik seperti dikatakan Syekh Syarqawi. Mereka boleh membatalkan puasa ketika pertama mereka tidak mungkin melakukan aktivitas pekerjaannya pada malam hari, kedua ketika pendapatannya untuk memenuhi kebutuhannya atau pendapatan bos yang mendanainya berbuka, terhenti.

Mereka ini bahkan diharuskan untuk membatalkan puasanya ketika di tengah puasa menemukan kesulitan tetapi tentu didasarkan pada dharurat. Namun bagi mereka yang memenuhi ketentuan untuk membatalkan puasa, tetapi melanjutkan puasanya, maka puasanya tetap sah karena keharamannya terletak di luar masalah itu. Tetapi kalau hanya sekadar sedikit pusing atau sakit ringan yang tidak mengkhawatirkan, maka tidak ada pengaruhnya dalam hukum ini,” (Lihat Syekh M Said Ba’asyin, Busyrol Karim, Darul Fikr, Beirut).

Perihal status wajib puasa bagi pekerja, kita juga mendapat keterangan lain dari Syeh M Nawawi Al-Bantani. Tetapi sebelum membahas pekerja, kita perlu membahas terlebih dahulu status wajib puasa orang sakit. Karena kondisi pekerja berat akan diukur dari keadaan orang sakit sejauhmana tingkat kesulitan yang dialami keduanya.

Keterangan ini bisa kita dapatkan dari Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam karyanya Nihayatuz Zain fi Irsyadin Mubtadi’in sebagai berikut.

فللمريض ثلاثة أحوال إن توهم ضررا يبيح التيمم كره له الصوم وجاز له الفطر وإن تحقق الضرر المذكور أو غلب على ظنه أو انتهى به العذر إلى الهلاك أو ذهاب منفعة عضو حرم الصوم ووجب الفطر وإن كان المرض خفيفا بحيث لا يتوهم فيه ضررا يبيح التيمم حرم الفطر ووجب الصوم ما لم يخف الزيادۃ وكالمريض الحصادون والملاحون ونحوهم.

Artinya, “Ulama membagi tiga keadaan orang sakit. Pertama, kalau misalnya penyakit diprediksi kritis yang membolehkannya tayammum, maka penderita makruh untuk berpuasa. Ia diperbolehkan tidak berpuasa. Kedua, jika penyakit kritis itu benar-benar terjadi, atau kuat diduga kritis, atau kondisi kritisnya dapat menyebabkannya kehilangan nyawa atau menyebabkan disfungsi (tidak berfungsinya) salah satu organ tubuhnya, maka penderita haram berpuasa. Ia wajib membatalkan puasanya. Ketiga, kalau sakit ringan yang sekiranya tidak sampai keadaan kritis yang membolehkannya tayammum, penderita haram membatalkan puasanya dan tentu wajib berpuasa sejauh ia tidak khawatir penyakitnya bertambah parah. Sama status hukumnya dengan penderita sakit adalah buruh tani, petani tambak garam, buruh kasar, dan orang-orang dengan profesi seperti mereka,” (Lihat Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Nihayatuz Zein fi Irsyadil Mubtai’in, Al-Ma’arif, Bandung, Tanpa Tahun, Halaman 189).

Dengan kata lain, bagaimanapun wajibnya mencari nafkah, kewajiban puasa Ramadhan perlu dihargai. Dalam artian, kita tetap memasang niat puasa di malam hari. Kalau memang di siang hari puasa terasa berat, kita yang berprofesi sebagai pekerja berat dibolehkan membatalkannya dan menggantinya di luar bulan puasa.

Uraian ulama tersebut menunjukkan betapa mulianya ibadah puasa Ramadhan kendati mereka yang udzur tetap mendapat keringanan untuk berbuka puasa.
Adapun hukumnya keluarga yang memberikan makanan kepada pekerja jalan (pekerja berat) itu hukumnya boleh.
Alasannya ialah: bahwa keluarga yang memberikan makanan kepada pekerja jalan (pekerja berat) itu dihukumi sebagai perantara dari dibolehkannya pekerja jalan (pekerja berat) itu untuk tidak berpuasa,sesuai dengan qoidah ushul fiqh:

للوسائل حكم المقاصد

Hukumnya perantara itu mengikuti kepada hukumnya tujuan dari perantara itu.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 148 : ADZAN MERUPAKAN KEISTIMEWAAN BAGI SHOLAT FARDHU, BUKAN UNTUK SHOLAT SUNNAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 148 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَلْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

وَنَحْوُهُ فِي اَلْمُتَّفَقِ: عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا وَغَيْرُهُ

Jabir Ibnu Samurah berkata: Aku shalat dua I’ed (Fitri dan Adha) bukan sekali dua kali bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tanpa adzan dan qomat. Riwayat Muslim.

Hadits serupa juga ada dalam riwayat Muttafaq Alaihi dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu dan dari yang lainnya.

MAKNA HADITS :

Islam memberikan keistimewaan tersendiri dalam solat fardu, yaitu
mengumandangkan azan untuk menyeru orang yang tempat tinggalnya berjauhan dengan masjid, dan mengumandangkan iqamah untuk mengingatkan orang yang telah berada di dalam masjid segera berdiri untuk mengerjakan solat.

Adapun solat sunat yang disyariatkan berjamaah seperti solat sunat dua hari raya, solat gerhana matahari, solat gerhana bulan, dan solat istisqa tidak perlu dikumandangkan azan dan tidak pula iqamah menurut ijmak ulama. Tetapi mereka berselisih pendapat sama ada mesti dikumandangkan “الصلاة جامعة” kerana ada hadis yang menyatakan bahwa itu dilakukan ketika hendak mengerjakan solat sunat dua hari raya, sepbagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam al-
Syafi’i. Menurut Imam al-Syafi’i lagi, setiap solat sunat yang di dalamnya disunatkan berjemaah diqiaskan dengan sholat sunat dua hari raya ini. Namun pendapat yang lain mengatakan bahwa tidak perlu dikumandangkan lafaz “ الصلاة جامعة“ َdalam setiap sholat sunat yang di dalamnya disunatkan berjamaah.

FIQH HADITS :

1. Tidak disyariatkan azan dan iqamah untuk mengerjakan sholat sunat dua hari raya baik Aidil fitri maupun Aidil adha.

2. Azan merupakan keistimewaan bagi sholat fardu, bukannya untuk sholat sunat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 147 : KESUNNAHAN BERSUARA MERDU BAGI MUADZIN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 147 :

وَعَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَعْجَبَهُ صَوْتُهُ فَعَلَّمَهُ اَلْآذَانَ ) رَوَاهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

Dari Abu Mahdzurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam kagum dengan suaranya kemudian beliau mengajarinya adzan. Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Kaum Quraisy kerap kali mempersenda Nabi (s.a.w) ketika menyeru mereka untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan Abu Mahdzurah termasuk salah seorang di antara mereka. Pada suatu ketika, dia pernah mendengar suara azan yang dikumandangkan kaum muslimin di Hunain, lalu dia meniru lafaz azan tersebut dengan tujuan memperolok mereka dengan suara merdu yang membuat Rasulullah (s.a.w) merasa kagum dengan kemerduan suaranya. Kemudian Nabi (s.a.w) mengutus seseorang untuk mencari mereka yang ketika itu jumlah mereka ada sembilan orang. Lalu Rasulullah (s.a.w) meminta mereka satu persatu untuk mengumandangkan azan dan mereka mematuhi perintah
baginda itu. Abu Mahdzurah adalah orang yang paling terakhir dari mereka yang mengumandangkan azan. Kemudian Rasulullah (s.a.w) mempelawanya duduk di hadapan baginda dan baginda mengusap kepalanya. Ternyata Allah menghendaki kebaikan dan keberuntungan kepadanya hingga akhirnya Allah memberinya
hidayah masuk Islam dan Nabi (s.a.w) mengajarkan kalimat azan kepadanya, lalu memerintahkannya menjadi tukang azan di Masjid al-Haram.

FIQH HADITS :

Disunatkan bagi seseorang yang hendak menjadi tukang azan memiliki suara yang merdu supaya orang ramai merasa tertarik kepada seruannya dan memenuhi apa yang diserunya yaitu mengerjakan sholat berjemaah di masjid.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 146 : ETIKA DALAM MENGUMANDANGKAN ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 146 :

وَعَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( رَأَيْتُ بِلَالاً يُؤَذِّنُ وَأَتَتَبَّعُ فَاهُ هَاهُنَا وَهَاهُنَا وَإِصْبَعَاهُ فِي أُذُنَيْهِ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَاَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

وَلِابْنِ مَاجَهْ: وَجَعَلَ إِصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ.

وَلِأَبِي دَاوُدَ: ( لَوَى عُنُقَهُ لَمَّا بَلَغَ “حَيَّ عَلَى اَلصَّلَاةِ ” يَمِينًا وَشِمَالاً وَلَمْ يَسْتَدِرْ ). وَأَصْلِهِ فِي اَلصَّحِيحَيْنِ

Abu Juhaifah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah melihat Bilal adzan dan aku perhatikan mulutnya kesana kemari (komat kamit dan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya. Riwayat Ahmad dan Tirmidzi. Hadits shahih menurut Tirmidzi.

Menurut Ibnu Majah: Dia menjadikan dua jari-jarinya menutup kedua telinganya.

Menurut Riwayat Abu Dawud: Dia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri ketika sampai pada ucapan “hayya ‘alash sholaah” dan dia tidak memutar tubuhnya. Asal hadits tersebut dari Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Azan mempunyai etika tersendiri yang mesti dipelihara dan dijaga. Antara lain adalah hendaklah muazin memiliki suara yang merdu; mengumandangkan azan diatas tempat yang tinggi seperti di atas menara, menolehkan kepala ketika membaca al-hayya’alatain ke arah kanan dan ke arah kiri, meletakkan kedua jari telunjuknya pada kedua telinga supaya suaranya lebih kuat dan orang tuli dapat memahami yang dia sedang mengumandangkan azan dan bukannya untuk meminta pertolongan, dan tetap kekal menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan meskipun menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.

FIQH HADITS :

1. Boleh memakai pakaian yang bergaris-garis merah.

2. Disyariatkan menolehkan kepala ketika mengumandangkan azan ke arah kanan dan kiri terutama ketika mengucapkan al-hay’alatain disertai dengan meletakkan kedua jari telunjuk pada kedua telinga. Ini bertujuan supaya seseorang berada di kejauhan atau orang tuli tahu bahwa dia sedang mengumandangkan azan, di samping dengan cara demikian bisa menguatkan suara.

3. Orang yang sholat disyariatkan meletakkan penghalang di hadapannya.

4. Dibolehkan mengambil berkat dari bekas yang pernah digunakan oleh Rasulullah (s.a.w), sisa air wuduk, sisa makan dan minum serta bekas pakaiannya.

5. Disyariatkan mengqasar sholat ketika dalam perjalanan.

6. Para sahabat amat menghormati Rasulullah (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 145 : PERBEDAAN JUMLAH KALIMAT ADZAN DAN IQAMAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 145 :

وَعَنْ أَنَسِ]بْنِ مَالِكٍ] رضي الله عنه قَالَ: ( أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ اَلْآذَانَ وَيُوتِرَ اَلْإِقَامَةَ إِلَّا اَلْإِقَامَةَ يَعْنِي قَوْلَهُ: قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَلَمْ يَذْكُرْ مُسْلِمٌ اَلِاسْتِثْنَاءَ

وَلِلنَّسَائِيِّ: ( أَمَرَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِلَالاً )

Anas Radliyallaahu ‘anhu berkata: Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat qomat kecuali kalimat iqomat yakni qod qoomatish sholaah. Muttafaq Alaihi tetapi Muslim tidak menyebut pengecualian.

Menurut riwayat Nasa’i: Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan Bilal (untuk menggenapkan adzan dan mengganjilkan qomat).

MAKNA HADITS :

Oleh kerana tujuan azan adalah memberitahu masuknya waktu sholat bagi orang yang tinggal berjauhan dengan masjid secara umum, maka dianjurkan mengucapkan kalimat-kalimatnya secara berulang untuk menguatkan lagi pemberitahuan tersebut. Oleh kerana tujuan iqamah adalah beritahu yang sholat hendak dilaksanakan kepada orang yang telah berada di dalam masjid secara khusus, maka ia sudah memadai mengucapkannya secara witir, yakni mengucapkan lafaz-lafaznya satu kali-satu kali. Lafaz iqamah “قد قامت الصلاة” diulang sebanyak dua kali kerana itulah tujuan utama di balik iqamah tersebut.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menggenapkan lafaz azan, kerana tujuannya adalah memberitahun orang yang tinggal berjauhan dengan masjid bahwa waktu sholat sudah tiba. Cara ini lebih cepat sampai kepada mereka. Oleh sebab itu, azan disunatkan dilakukan di tempat yang tinggi dengan suara yang keras dan hendaklah tidak dilakukan cara terlampau cepat ketika
mengumandangkannya.

2. Disyariatkan mengumandangkan lafaz iqamah tanpa berulang, kerana iqamah ditujukan kepada orang yang hadir di dalam masjid. Oleh sebab itu, lafaz iqamah diucapkan dengan cepat. Tetapi lafaz “قد قامت الصلاة” sebutannya diulang sebanyak dua kali kerana ini merupakan tujuan utamanya.

3. Mengumandangkan lafaz iqamah tanpa berulang selain kalimat
“قد قامت الصلاة” adalah mazhab al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Malik berpendapat bahwa semua lafaz iqamah disebut hanya satu kali-satu kali tanpa terkecuali, termasuk kalimat “قد قامت الصلاة” Imam Abu Hanifah juga berpendapat bahwa kesemua
lafaz mesti dibaca dua kali-dua kali disertai dengan membaca takbir sebanyak empat kali pada bagian permulaan. Apapun, ulama bersepakat membaca dua kali takbir dan membaca satu kali kalimat tauhid pada bagian akhir iqamah.

4. Menjelaskan perbedaan pendapat ulama berkaitan azan dan iqamah. Ada yang mengatakan ifrad, tatsniyah, tarbi’ dan ada pula yang mengatakan tarji’; kesemua ini merupakan sunat sebagaimana yang telah dikemukakan oleh beberapa riwayat mengenainya. Setiap ulama memilih dalil yang dianggapnya kuat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T030. PERBEDAAN MADI, WADI DAN MANI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Apakah keluarnya madi itu membatalkan puasa?
Dan maaf sebelumnya minta referensi perbedaan Mani, Wadi, madi, ustadz..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak membatalkan puasa.

Perbedaan antara mani, madzi dan wadi sebagai berikut :

MANI adalah cairan putih keluar dengan tersendat-sendat disertai syahwat serta menyebabkan loyo setelah keluarnya.

Hukumnya suci dan wajib mandi. Ciri-ciri mani ada 3, yaitu :

– keluar disertai syahwat (kenikmatan).

– keluar dengan tersendat-sendat.

– jika basah baunya mirip adonan kue dan jika kering mirip putih telur.

Jika didapatkan salah satu dari tiga ciri di atas, maka disebut mani. Hal ini berlaku pada laki-laki dan perempuan.

MADZI adalah cairan putih lembut dan licin keluar pada permulaan bergejolaknya syahwat. Istilah madzi untuk laki-laki, namun jika keluar dari perempuan dinamakan QUDZA.

Hukumnya najis dan membatalkan wudhu tapi tidak wajib mandi.

WADI adalah cairan putih keruh dan kental, keluar setelah melaksanakan kencing atau ketika mengangkat beban berat.

Hukumnya seperti madzi yaitu najis dan membatalkan wudhu’ tapi tidak wajib mandi.

KESIMPULAN :

1.Jika cairan keluar mengandung salah satu ciri-ciri mani, maka dihukumi mani. Namun jika tidak ada dan keluarnya pada mulai gejolaknya syahwat atau sesudah syahwat, maka dihukumi madzi.

2.Jika ragu yang keluar mani atau madzi ?, maka boleh memilih antara menjadikannya mani sehingga wajib mandi, atau menjadikannya madzi sehingga hukumnya najis, tidak wajib mandi namun batal wudhu’nya. Paling afdholnya menggabung keduanya yaitu mandi janabah dan menyucikan tempat yang terkena cairan tersebut.

3.Wanita juga mengeluarkan mani dengan ciri-ciri sebagaimana di atas. Namun menurut imam Al-Ghozali, mani wanita hanya bercirikan keluar disertai syahwat (kenikmatan).

التقريرات االسديدة في المسائل المفيدة ص 115-116

الفرق بين المني والمذي والودي :

المني : ماء أبيض يتدفق حال خروجه ويخرج بشهوة ويعقب خروجه فتور.

المذي : ماء أبيض رقيق لزج يخرج عند ثوران الشهوة بلا شهوة كاملة

الودي : ماء أبيض ثخين كدر يخرج بعد البول أو عند حمل شيئ ثقيل

الحكم عند خروج أحدها :

المني يوجب الغسل ولا ينقض الوضوء وهو طاهر

المذي والودي حكمهما كالبول فينقضان الوضوء وهما نجسان

علامة المني يجب الغسل إذا وجدت إحدى هذه العلامات ولا يشترط كلها والمرأة مثل الرجل في ذلك وهي ثلاثة :

1. التلذذ بخروجه أي يخرج بشهوة

2. التدفق أي يخرج على دفعات

3. الرائحة إذا كان رطبا كرائحة العجين أو الطلع ، وإذا كان جافا كرائحة بياض البيض

فليس من علامات المني كونه أبيضا أو يعقب خروجه فتور ولكن هذا على سبيل الغالب

كما قال صاحب صفوة الزبد :

ويعرف المني باللذة حين # خروجه وريح طلع أو عجن

مسألة : إذا شك هل الخارج مني ام مذي فما الحكم؟ يتخير فإن شاء جعله منيا فيجب عليه الغسل وإن شاء جعله مذيا فينتقض وضوؤه ويجب غسل ما أصابه منه والأفضل أن يجمع بينهما فيغتسل ويغسل ما اصابه منه

Wallahu a’lamu bisshowab

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 144 : ANJURAN BERSUARA MERDU BAGI TUKANG ADZAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB ADZAN

HADITS KE 144 :

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَهُ اَلْآذَانَ فَذَكَرَ فِيهِ اَلتَّرْجِيعَ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَلَكِنْ ذَكَرَ اَلتَّكْبِيرَ فِي أَوَّلِهِ مَرَّتَيْنِ فَقَطْ. وَرَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ فَذَكَرُوهُ مُرَبَّعًا

Dari Abu Mahdzurah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengajarinya adzan lalu beliau menyebut tarji’ (mengulangi dua kali).

Dikeluarkan oleh Muslim namun ia hanya menyebutkan takbir dua kali pada permulaan adzan. Riwayat Imam Lima dengan menyebut takbir empat kali.

MAKNA HADITS :

Kebahagiaan itu tersembunyi di sebalik keajaiban takdir. Mereka adalah pemuda yang kerap kali meniru azan yang dikumandangkan oleh Bilal. Maka Allah menetapkan keberuntungan kepada Abu Mahdzurah. Akhirnya jatuhlah pilihan Rasulullah (s.a.w) ke atas dirinya memandangkan dia memiliki suara yang merdu dan dia menjadi juru azan (selain Bilal). Berikut ini kisahnya. Sesudah pembukaan kota Mekah, Abu Mahdzurah keluar menuju Hunain bersama sembilan orang penduduk Mekah. Ketika mereka mendengar suara azan (Bilal), mereka turut mengumandangkan azan dengan
tujuan mempersendakan orang beriman. Mendengar itu, Nabi (s.a.w) bersabda: “Aku telah mendengar di kalangan mereka suara azan seseorang yang mempunyai suara merdu. Suruhlah mereka datang menghadapku dan suruh mereka azan seorang demi seorang.” Aku adalah orang paling akhir mendapat giliran di antara mereka. Ketika aku tiba (di hadapan Rasulullah (s.a.w), baginda bersabda: “Kemarilah!” Baginda mempersilahkanku duduk di hadapannya. Baginda mengusap
kepalaku dan mendo’akan diriku supaya memperoleh keberkatan sebanyak tiga kali, kemudian bersabda: “Pergilah dan jadilah engkau juru azan di Masjid al-Haram.” Aku pun berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu, ajarkan azan kepadaku.” Baginda mengajarkan azan kepadanya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan memilih orang yang bersuara merdu untuk menjadi juru azan, kerana azan yang dikumandangkan dengan suara yang merdu lebih berkesan di dalam hati.

2. Menjelaskan lafaz-lafaz azan yang sudah tidak asing lagi bagi setiap muslim. Ulama berbeda pendapat berkaitan dengan membaca empat kali takbir dan membaca dua kali takbir. Menurut pendapat yang masyhur, ia hendaklah dibaca sebanyak empat kali. Ini merupakan amalan penduduk Mekah yang merupakan tempat perhimpunan kaum muslimin setiap kali musim haji dan tidak ada seorang sahabat pun yang membantahnya. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah dan jumhur ulama. Sedangkan Imam Malik mengatakan bahwa takbir hendaklah dibaca sebanyak dua kali. Beliau mendukung pendapatnya berlandaskan hadis ini yang telah menjadi amalan penduduk Madinah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

P006. HUKUM MEMASUKKAN BENDA KE KUPING DAN HIDUNG KETIKA PUASA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya bagi orang yang memasukkan benda ke kuping (nguker kopeng Bhs. Madura) dan ngupil (nguker elong) ketika berpuasa?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak batal apabila tidak sampai pembatas dalam (tulang hidung/khaisyum) dan tidak sampai pada awal bagian dalam telinga yang tidak terlihat dari luar (Almu’allaq).

Referensi :

– Fathul muin :

ولا يفطر بوصول شيء إلـى بـاطنِ قَصَبَةِ أنفٍ حتـى يجاوِزَ منتهى الـخَيْشُوم، وهو أقْصَى الأَنْفِ

– I’anatut tholibin :

(قوله: ولا يفطر بوصول شيء إلـى بـاطن قصبة أنف) أي لأنها من الظاهر، وذلك لأن القصبة من الـخيشوم، والـخيشوم جميعه من الظاهر. (قوله: حتـى يجاوز منتهى الـخيشوم) أي فإن جاوزه أفطر، ومتـى لـم يجاوز لا يفطر

– Minhajul qawim :

ثم داخل الفم إلى منتهى المهملة، والأنف إلى منتهى الخيشوم، له حكم الظاهر في الإفطار باستخراج القيء إليه أو ابتلاعه النخامة منه، وفي عدم الإفطار بدخول شيء فيه وإن أمسكه، وفي أنه إذا تنجس وجب غسله، وله حكم الباطن في عدم الإفطار بابتلاع الريق منه، وفي سقوط غسله عن الجنب

– Hasyiyah aljamal :

وَالأَنْفِ إلَى مُنْتَهَى الْخَيْشُومِ لَهُ حُكْمُ الظَّاهِرِ فِي الإِفْطَارِ بِاسْتِخْرَاجِ الْقَيْءِ إلَيْهِ وَابْتِلاعِ النُّخَامَةِ مِنْهُ وَعَدَمِهِ بِدُخُولِ شَيْءٍ فِيهِ وَإِنْ أَمْسَكَهُ

– Qalyubi :

قَالَ شَيْخُنَا الرَّمْلِيُّ: وَدَاخِلُ الْفَمِ وَالأَنْفِ إلَى مُنْتَهَى الْخَيْشُومِ لَهُ حُكْمُ الظَّاهِرِ فِي الإِفْطَارِ بِوُصُولِ الْقَيْءِ إلَيْهِ وَابْتِلاعُ النُّخَامَةِ مِنْهُ وَعَدَمُ الإِفْطَارِ بِوُصُولِ عَيْنٍ إلَيْهِ وَإِنْ أَمْسَكَهَا فِيهِ

Melihat beberapa ta’bir di atas maka bisa disimpukan bahwa memasukkan air ke dalam hidung tidak membatalkan puasa. Termasuk ngupil juga tidak batal. Selagi yang dimasukkan itu tidak sampai pangkal hidung. Bagaimana dengan menghirup ingus ?

Pada Telinga : ketika sudah melewati ” Almuntabiq”, yakni awal bagian dalam telinga yang tidak terlihat dari luar.
Pada Hidung : ketika melewati seluruh tulang yang keras”khaisyum”.

Sedangkan menurut qoul’ muqobbil asoh” yang dipelopori oleh Imam Al Ghozali, Imam Abu Ali, Imam Fauroniy, dan Qodli Husain, masuknya benda ke dalam lubang telinga tidak membatalkan puasa karena tidak mempunyai tembusan ke otak. Ibarot kitab Ittihaf saddatul muttaqiin 4/209 :

ولا يفسد بالفصد والحجامة والإكتحال وإدخال الميل في الأذن والإحليل إلا أن يقطر فيه ما يبلغ المثانة .

( ما يبلغ المثانة ) … إلى أن قال … قال الرافعي في بطلان الصوم بالتقطير في الأذن بحيث يصل إلى الباطن وجهان أحدهما وبه قال الشيخ أبو محمد أنه يبطل كالسعوط والثاني لا يبطل لأنه لا منفذ من الأذن إلى الدماغ وما يصل إلى المسام فأشبه الإكتحال ويروى هذا الوجه عن الشيخ أبي علي والفوراني والقاضي الحسين وهو الذي أورده المصنف في الوجيز ولكن الأول أظهر عند أكثر الأصحاب ولهم أن يقولوا هب ان الأذن لامنفذ فيه إلى داخل الدماغ لكنه نافذ إلى داخل قحف الرأس لامحالة والوصول إليه كاف في البطلان إهــ .

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S047. BOLEHKAN SHALAT TARAWIH SEBELUM SHALAT ISYA’?

PERTANYAAN :

Asalamualaikum para guru..

Bolehkah seseorang melaksanakan sholat tarawih sebelum melaksanakan sholat isya’?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak boleh karena syaratnya sholat tarawih apabila telah mengerjakan sholat isya’.

Referensi :

ووقتها من صلاة العشاء ولو تقديما إلى طلوع الفجر الصادق فعلم أن صحتها متوقفة على فعل العشاء
نهاية الزين – (ج ١/ ص ١١٤)

Dan waktu pelaksanaan shalat tarawih dimulai dari shalat Isya’ walaupun (shalat Isya’nya) dikerjakan secara jama’ taqdim sampai tampaknya fajar Shadiq, dengan demikian maka dapat dikatehui (disimpulkan) bahwa pelaksanaan shalat tarawih dilaksanakan setelah shalat Isya’.

Imam Nawawiy al-Dimasyqiy :

يَدْخُلُ وَقْتُ التَّرَاوِيْحِ بِالْفَرَاغِ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ذَكَرَهُ الْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ وَيَبْقَى إِلَى طُلُوْعِ اْلفَجْرِ وَلْيُصَلِّهَا رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ كَمَا هُوَ اْلعَادَةُ فَلَوَْصَلَّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيْمةٍ لَمْ يَصِحَّ ذَكَرَهُ الْقَاضِى حُسَيْنٌ فيِ فَتَاوِيْهِ ِلاَنَّهُ خِلاَفُ الْمَشْرُوْعِ قَالَ وَلاَ تَصِحُّ بِنِيَّةٍ مُطْلَقَةٍ بَلْ يَنْوِى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ أَوْ صَلاَةَ التَّرَاوِيحِ أَوْ قِيَامَ رَمَضَانَ فَيَنْوِيْ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ مِنْ صَلاَةِ التَّرَاوِيحِ . )المجموع شرح المهذب: ج 4 ص : 38 (دار الفكر 2000)

Artinya:”Masuk waktu shalat Tarawih itu setelah melaksanakan shalat Isya. Imam al-Baghawi dan lainnya menyebutkan: “waktu tarawih masih ada sampai terbit fajar”. Hendaklah seseorang mengerjakan shalat Tarawih dengan dua rakaat- dua rakaat, sebagaimana kebiasaan shalat sunah lainnya. Seandainya ia shalat dengan 4 rakaat dengan satu salam, maka shalatnya tidak sah. Hal ini telah dikatakan oleh al-Qâdhi Husain dalam fatwanya, dengan alasan hal demikian menyalahi aturan yang telah disyariatkan. Al-Qâdhi juga berpendapat seorang dalam shalat Tarawih ia tidak boleh berniat mutlak, tetapi ia berniat dengan niat shalat sunah Tarawih, shalat Tarawih atau shalat Qiyam Ramadhan. Maka ia berniat pada setiap 2 rakaat dari shalat Tarawih.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M053. HUKUM JUAL BELI RAMBUT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana Hukumnya menjual belikan rambut Baik rambut itu karena di potong atau rontok
Mohon penjelasannya beserta dalilnya..

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمۃ الله وبركاته

Hukum jual beli rambut adalah haram.

Pada dasarnya hukum Jual beli adalah sah selama jual beli itu dapat memberi manfaat kepada orang lain. Jika terdapat jual beli yang tidak berdasarkan pada asas manfaat, atau sampai mendatangkan mudharat, maka jual beli itu hukumnya haram. Misalkan jual beli narkoba, daging babi untuk dikonsumsi dan lain sebagainya.

Termasuk haram adalah memperjualbelikan segala anggauta badan manusia. Walaupun itu hanya sehelai rambut. Tersebut dalam :

(اسنی المطالب علی شرح روضۃ الطالبين)

وأما فى الثانى فلأنه يحرم الانتفاع به وبسائر أجزاء الأدمي لكرامته

Dan adapun pada masalah kedua (menyambung rambut dengan rambut anak adam) itu haram. Karena haramnya memanfaatkan rambut anak adam dan segala bagian badan sebab kemuliaannya.

Dari sini bisa difahami, jika menjual rambut saja sebagai anggota paling ringan dan subur tumbuhnya hukumnya haram, apalagi menjual anggota badan yang lain yang tidak bisa tumbuh kedua kali pasti hukumnya lebih haram. Misalkan menjual jantung, mata, dan lain sebagainya. Hal ini berdasar pada frman Allah swt :

ولقد كرمنا بنى ادم

“Dan Kami telah muliakan anak adam”

Diantara bukti kemuliaan itu adalah pertama tidak najisnya bangkai anak adam jika telah meninggal. Dan kedua, dilarang memanfaatkan anggota badan yang telah terlepas dari tubuh manusia. Termasuk didalam kategori memanfaatkan adalah memperjual belikannya.

Wallahu a’lamu bisshowab..