logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

H015. WAJIBKAH TA’YIN DALAM ‘AQIKAH & KURBAN?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Deskripsi masalah:
Dikalangan masyarakat sudah mentradisi (terbiasa) dalam pelasanaan aqiqoh mereka sering menyajikan dikemas dengan cara mengundang para tetangga dan sanak famili, sehingga dikawatirkan sisa dari makanan daging aqiqoh tersebut dimakan oleh tuan rumah (orang yang beraqiqoh).

Pertanyaannya:
1. Wajibkah ta’yin (menentukan) dalam aqiqoh?

2. Kalau wajib ta’yin bagaimana solusinya menghindari ta’yin tersebut?

3. Apakah dalam kasus hukum ini berlaku juga pada daging kurban?

Mohon tanggapan/jawaban…

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tanggapan :
Pada dasarnya hukum aqiqoh adalah sunnah muakkat (sunnah yang dikokohkan), namun adakalanya hukum aqiqoh sunnah bisa berubah menjadi wajib (aqiqoh wajib) yaitu manakala seseorang terlanjur mengungkapkan kata yang bisa menibulkan arti wajib atau bernadzar, sebagaimana diungkapkan dalam kaidah fiqhih

الحكم يدور مع علته وجودا وعداما.

“Keberadaan hukum dapat berputar( berubah)beserta illatnya.

Jawaban:

1- Dalam rangka untuk membedakan antara hukum aqiqoh wajib dan sunnah maka diperlukan adanya syarat wajib ta’yin, dengan tujuan agar jelas boleh dan tidaknya tuan rumah makan daging yang tersisa dari para undangan. karena jika tanpa adanya ta’yin maka aqiqoh tersebut menjadi hukum wajib sehingga haram bagi tuan rumah makan sisa daging tersebut.

Adapun contoh lafadh/perkataan yang mengandung arti wajib /ta’yin baik secara hakikat atau secara hukum sebagai berikut:

Petama (secara hakikat/keyataan):

لله علىّ عقيقة عن ولدى

Kemudian kata tersebut ditentukan dengan perkataan

لله علي أن أعق بهذه الشاة عن ولدى

“Karena Allah wajib atas saya ber ‘aqiqoh dengan kambing ini dari anakku.

Kedua (secara hukum):

جعلتُ هذه عقيقة عن ولدى

“Saya jadikan ini aqiqoh dari anakku.

Maka kedua contoh ini adalah jatuh pada aqiqoh wajib, maka secara otomatis haram memakannya, walaupun ia berkehendak aqiqoh sunnah. Berbeda dengan sebagian pendapat ulama, Assyibramallisiy berkata kasus tersebut mendekati terjadi dikalangan orang awam, tetapi Syaikhana (Syaih al-Islam Abu Yahya Muhammad bin Ahmad Zakariya al-Anshari), melemahkannya. Maka jawaban yang murni dari itu hendaknya yang bertanya (beraqiqoh) berkata:

نريد أن نذبحها أو نأكلها

“Saya ingin menyembelihnya dan makamnya”. Artinya tidak wajib mengatakan ketika menyembelih :

اللهم هذه عقيقتي

“Ini adalah qurbanku”

Tetapi cukup orang yang berqurban niat mewakilkan qurban.

Ada yang tidak disyaratkan niat didalam barang yaitu ditentukan karena awalnya dengan nadzar, karena tempatnya niat adalah didalam hati. Artinya kalau awalnya seorang bernadzar maka tidak perlu niat, karena hakikat niat adalah didalam hati, berbeda dengan mutathowwu’ (aqiqoh yang disunnatkan).

Adapun aqiqoh wajib dapat terjadi dengan kata جعل(menjadikan) atau بالتعيين (menentukan).

Lalu bagaimana solusinya agar bisa keluar dari muayyan?

2- Agar selamat dari mu’ayyan maka sunnah melafalkan Niat dengan lisan. Dengan kata lain agar jelas aqiqoh sunnah dan wajib maka lafalkalah lafadh niat dalam lisan. Contoh Niat aqiqoh sunnah seperti niatnya qurban karena hukum nya sama dengan niatnya qurban

هذه النية قياسا على نية لأن حكم العقيقة كحكم الآضحية :

نويتُ العقيقة المسنونة/نويتُ أداء سنة العقيقة

Contoh Niat aqiqoh wajib :

نويتُ العقيقة الواجبة/ نويتُ أداء واجبة العقيقة.

Contoh lafadh yang tanpa kalimat المسنونة atau الواجبة tetapi menjadi arti wajib walau pun seseorang bermaksud/berkehendak ‘aqiqoh sunnah yaitu:
نويتُ هذه العقيقة
“Saya niat aqiqoh”

Niat seperti ini berarti menjadi aqiqoh wajib) maka haram bagi yang berqurban memakannya.

3. Hukumnya ‘aqiqoh dengan qurban serupa tetapi tidak sama :

a-Kesamaannya Aqiqoh dengan qurban adalah sama-sama hukum sunnah dan bisa berubah menjadi wajib dengan niat wajib/nadzar.

b- Diberikan kepada fakir miskin
Adapun ketidak samaan “Aqiqoh dengan qurban” adalah:

-Kalau qurban watunya tertentu yaitu dibulan Haji (Dzulhijjah) sedangkan waktu aqiqoh kapan saja bulan dan watunya namun yang utama ketika anak yang lahir baru berumur 7tahun.

– Daging qurban yang utama diberikan matangnya, sedangkan aqiqoh diberikan masaknya.

Referensi :

١-الباجوري على ابن قاسم الجزء الثاني ص: ٣٠٤
{ قوله والأكل منها } فلايأكل من العقيقة المنذورة ويأكل من العقيقة المطوع بها، {والتصدق ببعضها} لكن لايجب التصدق ببعض منها نيأ {قوله وامتناع بيعها} فلا يبع منها شيأ ولو كانت تطوعا {وقوله وتعيينها بالنذر} أى حقيقة أوحكما فلأول كقوله لله علىّ عقيقة ولدى ثم يعين بعد ذلك وكقوله لله على أن أعق بهذه الشاة عن ولدى .والثانى كقوله جعلتُ هذه عقيقة عن ولدى فتعين ذلك كله ولايجوز الأكل منها حينئذ كما مر {وقوله حكمه } أى المذكور من السن وماعطف عليه ،وقوله ماسبق فى أضحية قد بيناه فتدبر.

١-الشرقاوى على التحرير الجزء الثانى ص:٤٧٠
{ وقوله وتسن العقيقة } أى لأخبار وردت فيها كحبر الغلام مرتهن بعقيقته تذبح عنه يوم السابع ويحلق رأسه ويسمى رواه الترمذي …..ً…………وإنما لم تجب لأنها كلأضحية بجامع أن كلا منهما إرقة دم بغير جناية ،ولخبر أبي داود من أحب أن ينسك عن ولده فليفعل ولذا قال الشافعي أفرط فى العقيقة رجلان رجل قال إنها بدعة ورجل قال هي واجبة يعنى الحسن البصرى والليث………………. ……..{قوله كلأضحية}خبر لمحذوف أى وهي كلأضحية فى جميع أحكامها من جنسها وسنها وسلامتها ونبتها ووجوبها بالنذر أو بقوله عند السؤال عنها مثلا هذه عقيقة وامتنع الآكل من الواجب والتصدق وحصول السنة بشاة ولو عن ذكر وعدم صحة بيعها ولو الجلد نعم………..
وأما العبارة عن الأضحية كما سيأتى الأتية:
الشرقاوى على التحرير الجزء الثانى ص ٤٦٥
ويشترط أيضا لها نية عند الذبح أو قبله عند تعيين لما يضحى به سواء كانت تطوعا أو واجبة بنحو جعلتها أضحية أو بتعينها له عن نذر لا فيما عين لها بنذر ابتداء فلايشترط لها نية ومعلوم أن النية بالقلب وتسن باللسان فيقول نويتُ الأضحية المسنونة أو أداء سنة التضحية فى المسنونة أو الواجبة فإن اقتصر على نحو الأضحية صارت واجبة يحرم الأكل منها ولو من جاهل قال م ر وحينئذ فما وقع فى ألسنة العوام كثيرا من شرائهم مايريدون التضحية به من أوائل السنة وكل من سألهم عنهايقولون له هذه أضحية مع جهلهم بما يترتب على ذلك من الأحكام يصير به أضحية واجبة يمتنع عليه أكله منها ولا يقبل قوله أردت أنى أتطوع بها خلافا لبعضهم ،اهى
قال ع ش ولا بعد فى اغتفار ذلك للعوام .انتهى…

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 228 : BACAAN PENGGANTI SURAH AL-FATIHAH DALAM SHALAT BAGI MUALLAF

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 228 :

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : ( جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ مِنْ اَلْقُرْآنِ شَيْئًا فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِيٌ]مِنْهُ] . قَالَ : “سُبْحَانَ اَللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةً إِلَّا بِاَللَّهِ اَلْعَلِيِّ اَلْعَظِيمِ . . . ) اَلْحَدِيثَ . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ وَالْحَاكِمُ

Abdullah Ibnu Aufa Radliyallaahu ‘anhu berkata: Ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam seraya berkata: Sungguh aku ini tidak bisa menghafal satu ayat pun dari al-Qur’an maka ajarilah diriku sesuatu yang cukup bagiku tanpa harus menghapal al-Qur’an. Beliau bersabda: “Bacalah subhanallaah walhamdulillah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar walaa haula walaa quwwata illa billaahil ‘aliyyil ‘adziim (artinya= Maha Suci Allah segala puji hanya bagi Allah tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi lagiMaha Agung).” Hadits riwayat Ahmad Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban Daruquthni dan Hakim.

MAKNA HADITS :

Membaca Surah al-Fatihah merupakan salah satu rukun shalat yang wajib dipelajari bagi setiap orang yang baru masuk Islam supaya dia dapat membacanya ketika dalam shalat. Barang siapa yang masuk Islam lalu dia tidak menemukan seseorang pun yang mengajarkannya membaca Surah al-Fatihah atau waktunya terllalu ssempit hingga tidak sempat belajar Surah al-Fatihah, maka Surah al-Fatihah boleh digantikan dengan membaca zikir, tasbih, tahmid dan tahlil agar membolehkannya mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Setelah itu, dia mesti belajar membaca al-Fatihah untuk shalat-shalat yang akan datang, sekalipun dia terpaksa bermusafir ke negeri lain jika dia mempunyai biaya.

FIQH HADITS :

Barang siapa yang tidak mampu membaca al-Fatihah ketika dalam shalat, karena waktu yang terlalu sempit atau tidak ada orang lain yang mau mengajarkannya, maka dia boleh membaca penggantinya berupa zikir sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T034. HUKUM KEPUTIHAN PADA WANITA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum keputihan yang terjadi pada perempuan apakah termasuk najis?

JAWABAN :

Waalaikumussalaam Warohmatullahi Wabarokaatuh..

Keputihan adalah getah atau cairan yang keluar dari vagina, yang ditimbulkan oleh jamur. Dalam ilmu Kedokteran disebut jamur candida. Kelembaban dan kehangatan vagina, merupakan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan dan berkembang biaknya jamur. Getah atau cairan yang ditimbulkan keputihan berwarna putih, kental, keruh dan kekuning-kuningan. Biasanya rasanya gatal, membuat vagina meradang dan luka.

Penyebab timbulnya keputihan diantaranya :

– Menopause, yaitu masa yang sudah tidak keluar haidl, sebab dengan aktif keluar haidl, ada cairan yang selalu membasahi dinding vagina dan mempertahankan vagina tetap segar dan sehat.

– Pil penghambat atau penyubur kehamilan. Hal ini disebabkan, pil tersebut mempunyai efek mengurangi ketahanan pelindung vagina dari infeksi jamur.

– Efek dari kontrasepsi dari rahim.
Stres.

– Celana yang terbuat dari nilon.
Celana ketat.

– Sabun bubuk pembersih.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa keputihan dalam fiqih dikategorikan sebagai “ruthubatul farji” (cairan basah vagina). Sedangkan hukum dari keputihan diperinci sebagai berikut :

Apabila cairan tersebut keluar dari luar farji (bagian vagina yang nampak ketika jongkok), maka hukumnya suci.

Apabila cairan tersebut keluar dari farji (bagian vagiana yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ (cebok) dan terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya suci menurut pendapat yang ashoh.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa keputihan dalam fiqih dikategorikan sebagai “ruthubatul farji” (cairan basah vagina).

Sedangkan hukum dari keputihan diperinci sebagai berikut :

1. Apabila cairan tersebut keluar dari luar farji (bagian vagina yang nampak ketika jongkok), maka hukumnya suci.

2. Apabila cairan tersebut keluar dari farji (bagian vagiana yang tidak wajib dibasuh ketika istinja’ (cebok) dan terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya suci menurut pendapat yang ashoh.

3. Apabila cairan tersebut keluar dari balik farji (vagina bagian dalam yang tidak terjangkau penis saat bersenggama), maka hukumnya najis dan menyebabkan batalnya wudlu.

Sedangkan apabila cairan yang keluar termasuk dalam kategori cairan yang najis (No. 3) maka hukum-hukum yang berlaku bagi wanita tersebut adalah hukum-hukum yang berlaku bagi wanita yang mengeluarkan darah istihadhoh. Dan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum sholat adalah sebagai berikut:

Karena cairan keputihan bukanlah termasuk darah haidh atau nifas, maka wanita yag sedang mengalami keputihan tidak diwajibkan melakukan mandi besar, dan tidak diberlakukan hukum wanita haidh dan nifas baginya. Dan dihukumi seperti wanita yang suci apabila cairan yang keluar masuk dalam kategori suci (No.1 & 2).
Menaruh semisal kapas pada tempat keluarnya darah untuk menyumbat darahnya agar tidak keluar. Namun menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan itu tidak boleh dilakukan orang yang sedang puasa, karena dapat membatalkan puasanya, begitu juga hal tersebut tidak wajib dilakukan bagi wanita yang merasa sakit apabila menaruh kapas pada tempat keluarnya cairan. Apabila kapas itu tidak cukup bisa mencegah darah keluar maka wajib menambahkan kain atau pembalut.

Setelah itu, jika waktu sholat sudah masuk, diwajibkan segera berwudhu, dan wudhunya harus dilakukan setelah waktu sholat masuk, tidak boleh dilakukan sebelum masuknya waktu sholat.

Ada dua hal yang membedakan antara wudhu wanita istihadlah dengan wudhu wanita pada umumnya, yaitu :

Niat wudhunya tidak seperti wudhu pada umumnya yang menggunakan niat “lirof’il hadatsi” (untuk menghilangkan hadats), karena wudhunya wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh tidak menghilangkan maka niat wudhunya sebelum melakukan sholat adalah :

نويت الوضوء لاستباحة الصلاة لله تعالى

NAWAITUL WUDHU’A LISTIBAHATIS SHOLATI FARDHON LILLAHI TA’ALA.

Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan sholat…”

Atau bisa juga dengan niat secara umum, maksudnya entah itu mau sholat atau melakukan hal-hal lain yang diharuskan wudhu dahulu, yaitu:

نويت الوضوء لاستباحة مفتقر الى وضوء فرضا لله تعالى

“NAWAITUL WUDHU’A LISTIBAHATI MUFTAQIRIN ILA WUDHU’IN FARDHON LILLAHI TA’ALA”

Saya niat wudhu agar diperbolehkan melakukan perkara yang membutuhkan wudhu’…

Ketika wudhu, diwajibkan untuk muwalah (terus menerus) dalam membasuh dan mengusap anggota badannya. Maksud dari muwalah adalah pembasuhan atau pengusapan anggota badan dilakukan sebelum anggota badan yang dibasuh atau diusap sebelumnya kering.

Setelah wudhu, diwajibkan untuk segera melakukan sholat dan tidak boleh mengakhirkannya kecuali apabila mengakhirkannya karena melakukan hal-hal yang berkaitan dengan sholat, seperti menjawab adzan, melakukan sholat sunat qobliyah atau menunggu dimulainya sholat jama’ah.

Semua hal diatas dilakukan setiap kali akan melakukan sholat fardhu, termasuk mengganti kapas dan pembalutnya, atau mencuci kain yang dipakai sebagai pembalut sebelumnya.Dan bila semua hal diatas sudah dilakukan, maka sholat yang dikerjakan sah dan tidak usah mengqodho’
(mengulaingi) nya lagi.

Ibarot :

Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarah Al-Manhaj, Juz : 1 Hal : 179

قوله ورطوبة فرج) هي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق ومحل ذلك إذا خرجت من محل يجب غسله، فإن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة؛ لأنها رطوبة جوفية وهي إذا خرجت إلى الظاهر يحكم بنجاستها وإذا لاقاها شيء من الطاهر تنجس وحينئذ يشكل قولهم بعدم تنجيس ذكر المجامع مع أنه يجاوز في الدخول ما يجب غسله إلا أن يقال عفي عن ذلك كما عفي عن الولد الخارج من الباطن

At-Taqrirot Asy-Syadidah, Hal : 171

الأحكام العامة للمستحاضة :
تختلف المستحاضة عن الحائض والنفساء, فالمستحاضة يجب عليها أن تصلي, وصلاتها صحيحة ولا قضاء عليها, وإذا حل رمضان وجب يجب عليها الصوم, ويجوز لزوجها أن يأتيها ولو مع سيلان الدم الخطوات التي تتخذها المستحاضة إذا أرادت الصلاة يجب عليها أن تتطهر من النجاسة الدم وغيره يجب عليها الخشو في موضع خروج الدم بقطن أو نحوه, إلا غذا كانت تتأذى, أو كانت صائمة, لأن ذلك يفطرها, ويجب عليها التعصب إن لم يكف الحشو يجب عليها المبادرة بعد ذلك بالوضوء, وشرطه أن يكون بعد دخول الوقت, والموالة فيهيجب عليها المبادرة إلى الصلاة, فلا يجوز تأخيرها, إلا إذا كان التأخير لمصلحة الصلاة كإجابة مؤذن ونافلة قبلية وانتظار جماعة

Hasyiyah I’anatut Tholibin, Juz : 1 Hal : 104

قوله: وهي) أي رطوبة الفرج الطاهرة على الاصح. (قوله: متردد بين المذي والعرق) أي ليس مذيا محضا ولا عرقا كذلك. (قوله: الذي لا يجب غسله) خالف في ذلك الجمال الرملي، وقال: إنها إن خرجت من محل لا يجب غسله فهي نجسة، لانها حينئذ رطوبة جوفية وحاصل ما ذكره الشارح فيها أنها ثلاثة أقسام طاهرة قطعا، وهي ما تخرج مما يجب غسله في الاستنجاء، وهو ما يظهر عند جلوسها ونجسة قطعا، وهي ما تخرج من وراء باطن الفرج، وهو ما لا يصله ذكر المجامع وطاهرة على الاصح، وهي ما تخرج مما لا يجب غسله ويصله ذكر المجامع

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T033. HUKUM MEMAKAI SIWAK SELAIN KAYU ‘ARAK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau tanya ustad bagaimana tanggapan pandangan islam dalam menyikapi kepada orang yang bersiwak menggunakan lengan bajunya. Karena Melihat Begitu sangat di anjurkan nya bersiwak. Terimakasih. Mohon penjelasannya.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Boleh manakala tidak punya siwak yang asli bahkan pakai pasta gigi dan yang lain-Nya dengan syarat barang yang dijadikan siwak tidak tersambung dengan badan seperti halya jari-jari tangan itu tidak boleh. karena bersambung dengan badan.

Referensi :

رياض الباديعة فى أصول الدين وبعض فروع الشريعة) ص٢٣
{وتحصل السنة فيه بكل طاهر } خلافا لإبن حجر إلا أصبعه المتصلة {يزيل صفوة الأسنان ولو خرقة} لحصول المقصود بها {وأفضله الأراك اليابس المبلول بالماء } ويدعو بعد ذلك كأن يقول اللهم طيب نكهتي ونور قلبي وطهر أعضائي ومحص ذنوبي وأدخلني برحمتك فى عبادك الصالحين وارزقني جنتك يارب العالمين. هاكذا

Boleh dan mendapat kesunnatan bersiwak dengan memakai setiap barang yang suci, dan terpisah (tidak bersambung seperti bebera jari-jari tangan) barang yang terpisah seperti halnya kayu yang kasar dan kain (baju), namun yang paling utama adalah memakai kayu ‘Arak yang kering yang dibasahi dengan air (siwak yang basah).

(بجيرمي علی الخطيب,جز ١,صحيفۃ ١٧٨)
(القول في الۃ السواك) ويحصل بكل خشن يزيل القلح كعود من اراك اوغيره اوخرقة او اشنان لحصول المقصود بذلك, لكن العود اولی من غيره والأراك اولی (قوله بكل خشن) اي طاهر وفاقا للرملي وخلافا لابن حجر حيث قال: يكفي النجس ولو من مغلظ, ورد بقوله عليه الصلاۃ والسلام (,السواك مطهرۃ للفم) وهذا منجسة ,لكنه اجاب بأن المراد الطهارۃ اللغوية, وحشن بكسرتين كما قاله الأشموني في شرح قول المتن:
وفعل اولی وفعيل بفعل.
لكن جوز القاموس فيه فتح الخاء وكسر الشين, (قوله يزيل القلخ) هو ما يتراكم علی الأسنان من الوسخ ق ل.

Boleh bersiwak menggunakan lengan bajunya. Alasannya ialah Alat-alat siwak itu bisa terjadi dengan setiap benda kasar yang bisa menghilangkan kotoran gigi, seperti kayu yang harum yaitu kayu ‘arak atau kayu lainnya, atau kain, atau sikat gigi. Tapi kayu arak itu lebih utama dari lainnya, Disebabkan karena diperolehnya sesuatu yang dituju (yaitu bersihnya gigi) dengan kayu arak, kain dan sikat gigi.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 227 : DISUNNAHKAN MEMBACA “AAMIIN” BERSAMAAN DENGAN AAMIIN-NYA IMAM

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 227 :

وَعَنْهُ قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَةِ أُمِّ اَلْقُرْآنِ رَفَعَ صَوْتَهُ وَقَالَ : “آمِينَ”. ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَحَسَّنَهُ وَالْحَاكِمُ وَصَحَّحَهُ

وَلِأَبِي دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيِّ مِنْ حَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ نَحْوُهُ

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila selesai membaca Ummul Qur’an (al-fatihah) beliau mengangkat suaranya dan membaca: “Amin.” Hadits hasan diriwayatkan oleh Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim.

Ada pula hadits serupa dalam riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi daari hadits Wail Ibnu Hujr.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) menegaskan bahwa Surah al-Fatihah memiliki penutup yang dengannya baginda bertadharru‟ memohon kepada Allah seraya mengagungkan-Nya, yaitu dengan membaca lafaz “Amin”. Lafaz “Amin” merupakan isim fi’il amar yang dimabnikan. Maksudnya adalah: “Ya Allah, perkenankan do’a kami.” Antara keistimewaan membaca “Amin” adalah barang siapa yang bacaan aminnya bertepatan dengan bacaan amin para malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.

FIQH HADITS :

Imam shalat disyariatkan membaca amin. Penjelasan mengenainya telah disebutkan sebelum ini di fiqh hadis no. 225.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D020. HUKUM LUPA TERHADAP HAFALAN AL-QUR’AN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukumnya orang yang lupa terhadap hafalan Al Qur’nnya?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Lupa hafalan, mungkin kenyataan paling pahit untuk para penghafal quran. Terlebih setelah berjuang keras menjaga hafalan. Kalau saja hafal qur’an dan dapat terjaga kuat di memori otak, itu bisa dibeli, niscaya mereka mau membeli semahal apapun.

Lantas bila kenyataan itu memang terjadi pada anda wahai para penghafal Al Qur’an, apakah anda berdosa? Ini yang akan kita ulas.

Beberapa riwayat menerangkan ancaman yang keras untuk mereka yang melupakan hafalan Qurannya. Diantaranya hadis berikut :

Hadis Anas bin Malik radhiyallahuanhu

عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى الْقَذَاةُ يُخْرِجُهُ الرَّجُلُ مِنَ الْمَسْجِدِ ، وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهُ

“Diperlihatkan padaku pahala umatku, termasuk (pahala) sampah yang dikeluarkan seseorang dari masjid. Dan ditampakkan kepadaku dosa umatku. Saya tidak melihat dosa yang lebih besar dibandingkan seseorang yang telah diberi (hafalan) surat Al-Qur’an atau ayat kemudian dia melupakannya.” (HR. Tirmidzi).

Dan hadis Sa’ad bin Ubadah radhiyallahuanhu :

مَا مِنْ امْرِئٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْذَمَ

Tidak seorang mampu membaca alqu’ran kemudian dia melupakan hafalannya, melainkan kelak dia akan bertemu dengan Allah dalam kondisi menderita sakit lepra. (HR. Abu Dawud)

Jadi jika ada orang yang hafal seluruh ayat-ayat Al Qur’an atau hafal sebagian ayat-ayat Al Qur’an, lalu orang itu lupa terhadap ayat-ayat Al Qur’an yang telah dihafalnya, dan orang itu tidak berusaha menghafalkan lagi ayat-ayat Al Qur’an yang telah dilupakannya, maka hukumnya orang itu berdosa.

Hukumnya lupa terhadap Al Qur’an yang telah dihafal, itu ada perbedaan pendapat. Menurut madhab Maliki makruh, sedangkan menurut madhab syafi’i haram.

(حاشيۃ الصاوي,جز ٣,صحيفۃ ٦٨)
فمذهب مالك رضي الله عنه حفظ الزاءد عما تصح به الصلاۃ من القراءن مستحب اكد ابتداء ودواما فنسيانه مكروه,ومذهب الشافعي نسيان كل حرف منه كبيرۃ تكفر بالتوبۃ والرجوع لحفظه,انتهی,

(اسعاد الرفيق,جز ٢,صحيفۃ ٩٥)
(و )منها(نسيان)شيء من (القراءن)ولو حرفا واحدا بعد ان حفظه,قال رسول الله صلی الله عليه وسلم:(,عرضت علي اجور امتي حتی القذاۃ يخرجها الرجل من المسجد,وعرضت علي ذنوب امتي فلم ار ذنبا اعظم من سورۃ من القراءن او ايۃ اوتيها رجل ثم نسيها),قال رسول الله صلی الله عليه وسلم(ما من امریء يقراء القراءن ثم ينساه الا لقي الله اجذم)اي مقطوع اليد,وقيل معناه انه لا خير فيه ولا حجۃ له,وقد عده الرافعي من الكباءر,فلا يجوز لمن نسيه ان يشتغل بغيره,قال في الزواجر:ويوءخذ من قولهم نسيان ايۃ منه كبيرۃ انه يجب علی من حفظه بصفۃ من اتقان او توسط او نحوهما كاءن كان يتوقف فيه او يكثر غلطه فيه ان يستمر علی تلك الصفۃ التي حفظه عليها فلا يحرم الا نقصها من حافظته,اما زيادتها وان كانت موءكدۃ ينبغي الاءعتناء بها الا ان تركها لا يوجب اثما,وحمل ابو شامۃ وابن الصلاح النسيان الوارد في الحديث علی ترك العمل به قال:ولا يبعدان يكون من تهاون به حتی نسي تلاوته كذلك,انتهی,وهذا هو المتبادر من الاءحاديث,قال القرطبي:,لا يقال حفظ القراءن غير واجب عينا فكيف ذم من نسيه,لاءنا نقول من جمعه فقد علت رتبته وشرف في قومه,وكيف لا وقد ادرجت(ادخلت)النبوۃ بين جنبيه وصار ممن يقال فيه انه من اهل الله وخاصته,فحينءذ المناسب ان تغلظ العقوبۃعلی من اخل لمرتبته الدينيۃ وموءاخذته بما لا يوءاخذ به غيره,وترك معاهدۃ القراءن يوءدي الی الجهالۃ

Dalam ibarah yang lain dijelaskan bahwa bagi penghafal al-Qur’an yang lupa termasuk sebagian dari أعظم الذنوب (besarnya dosa).

Referensi:

النصائح الدينية:ص ١٢٢
وليحذر من هجران التلاوة،وترك تعهد القرآن فيتعرض بذلك لنسيانه الذي هو من أعظم الذنوب
..كما في الحديث المذكور فى إسعاد الرفيق…………وقد أمر عليه الصلاة والسلام صاحب القرآن بتعهده، وأخبر أن القرآن أسرع تفلّتا من صدور الرجال من الإبل فى عقولها………

Sesungguhnya lupa terhadap Al Qur’an, atau lupa terhadap sedikit dari ayat Al Qur’an, walaupun lupanya itu hanyalah lupa terhadap satu huruf dari Al Qur’an, sesudah balighnya orang tersebut, sesudah sangat hafalnya orang itu terhadap Al Qur’an, maka dosa besar. Tapi dengan syarat jika lupanya orang tersebut karena tidak ada udzur (alasan syar’ie) seperti lamanya menderita sakit atau hilangnya aqal yang berat. Maka orang itu tidak berdosa jika orang itu lupa terhadap Al Qur’an jika lupanya terhadap Al Qur’an karena lamanya menderita sakit atau hilangnya aqal yang berat.

(الفتوحات الربانيۃ شرح الاءذكار النوويۃ,جز ٣,صحيفۃ ٢٥١-٢٥٥)
وروينا في كتاب ابي داود والترمذي عن انس رضي الله عنه قال:قال رسول الله صلی الله عليه وسلم (عرضت علي اجور امتي حتی القذاۃ يخرجها الرجل من المسجد,وعرضت علي ذنوب امتي فلم ار ذنبا اعظم من سورۃ من القراءن او ايۃ اوتيها رجل ثم نسيها) تكلم الترمذي فيه, وحديث ابي داود الاءتي,ان نسيان القراءن اوشيء منه ولو حرفا واحدا بعد البلوغ بعد حفظه عن ظهر القلب اذا كان بغير عذر من نحو طول المرص او غيبۃ عقل كبيرۃ,

ويحرم نسيان القرأن اذالم يتيسر حفظه ثاني مرة الابتكرار كأول مرة.

الفتوحات الربانية هامش نصائح العباد.ص ٢٦

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HJ008. HUKUM MENUNAIKAN HAJI TANPA IDZIN/ TASHRIH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana setatus haji seseorang yang berangkatnya tidak memenuhi aturan2 yang sudah ditentukan pemerintah Arab Saudi
katanlah tidak punya tashrih/izin?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam Warohmatulloohi Wabarokaatuh.

Hajinya orang yang tidak memiliki idin untuk haji tersebut hukumnya sah bila memenuhi syarat dan rukunnya haji dan tidak wajib mengulangi hajinya karena haji tersebut sudah menggugurkan kewajiban. Akan tetapi haji tersebut dihukumi haram bila khawatir timbul bahaya seperti akan dipenjara ketika tertangkap sebab dianggap illegal misalnya. Wallohu a’lam.

البجيرمي على الخطيب ٢/٣٧٠ :
. : .ولكن الفقهاء قالوا إن الإنسان إذا أدى الحج واستوفى أركانه وشروطه فإن الحج يصح منه و يسقط عنه فريضته سواء أداه بمال حلال أو حرام. يسئلونك في الدين والحياة ٢/١٥٤ : والشرط السادس للوجوب تخلية الطريق أى أمنه ولو ظنا في كل مكان بحسب ما يليق به فلو خاف في طريقه علي نفسه أو عضوه أو نفس محترمة منه أو عضوها أو ماله ولو يسيرا سبعا أو عدوا أو رصديا ولا طريق له سواه لم يجب عليه لحصول الضرر ____بل ولا يستحب بل ربما حرم إذا غلب على ظنه الضرر

الباجوري ١/٣٠٩
والرابعة الوقوع عن فرض الإسلام وشرطها مع الإسلام والتمييز والبلوغ الحرية وإن لم يكن مستطيعا فيقع حج الفقير عن حجة الإسلام وإن حرم عليه السفر له إذا حصل له منه ضرر لكمال حاله.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 226 : BASMALAH SEBAGIAN AYAT DARI SURAH AL-FATIHAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 226 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا قَرَأْتُمْ اَلْفَاتِحَةِ فَاقْرَءُوا : ( بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ ) فَإِنَّهَا إِحْدَى آيَاتِهَا ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَوَّبَ وَقْفَهُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila kamu membaca al-fatihah maka bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim karena ia termasuk salah satu dari ayatnya.” Riwayat Daruquthni yang menggolongkannya hadits mauquf.

MAKNA HADITS :

Hadis ini menunjukkan bahwa basmalah merupakan sebagian ayat dari Surah al-Fatihah, namun hadis ini mawquf.

FIQH HADITS :

Basmalah dalam solat dibaca dengan suara keras dan basmalah merupakan salah satu ayat dari Surah al-Fatihah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 225 : BASMALAH DALAM SUROH AL FATIHAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 225 :

وَعَنْ نُعَيْمٍ اَلْمُجَمِّرِ رضي الله عنه قَالَ : ( صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ : (بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ) . ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ : (وَلَا اَلضَّالِّينَ) قَالَ : “آمِينَ” وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ وَإِذَا قَامَ مِنْ اَلْجُلُوسِ : اَللَّهُ أَكْبَرُ . ثُمَّ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ : وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ

Nu’aim al-Mujmir berkata: Aku pernah sembahyang di belakang Abu Hurairah r.a. Dia membaca (bismillaahirrahmaanirrahiim) kemudian membaca al-fatihah sehingga setelah membaca (waladldlolliin) dia membaca: Amin. Setiap sujud dan ketika bangun dari duduk selalu membaca Allaahu Akbar. Setelah salam dia mengatakan: Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya sungguh aku adalah orang yang paling mirip sholatnya dengan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Riwayat Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) adakalanya membaca basmalah ketika dalam sholat dengan suara keras dan adakalanya pula dengan suara tidak keras. Dalam solat jahriyyah, baginda membacanya dengan suara keras, sedangkan dalam solat sirriyyah, baginda membacanya dengan tidak keras. Tetapi adakalanya baginda membacanya dengan suara tidak keras dalam solat jahriyyah untuk menjelaskan bahwa itu boleh dilakukan. Dengan ini, riwayat yang meniadakan bacaan basmalah dan riwayat yang menyuruh membacanya dapat digabungkan.

Antara Sunnah Nabi (s.a.w) adalah membaca amin dalam solat jahriyyah ketika selesai membaca Surah al-Fatihah dan membaca takbir dalam setiap perpindahan satu rukun ke rukun yang lain kecuali ketika mengangkat kepala dari rukuk. Bacaan ketika bangkit daripada rukuk adalah “سمع الله لمن حمده”

FIQH HADITS :

Disyariatkan bagi imam membaca amin dengan suara keras. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, imam membaca amin dengan suara tidak keras, karena bacaan amin tidak lain kecuali sebagai tambahan do’a dan oleh karenanya, inti do’a lebih utama dari itu. Tetapi riwayat Imam Malik mengenai membaca amin dalam solat jahriyyah masih ada perselisihan pendapat. Ulama Mesir meriwayatkan dari Imam Malik, tidak ada bacaan amin dalam solat jahriyyah, karena imam adalah orang yang berdo’a sedangkan membaca amin hanya disunatkan kepada orang yang tidak membaca do’a. Tetapi diriwayatkan pula dari Imam Malik bahwa hendaklah imam membaca amin dengan suara tidak kuat.

Meskipun begitu, mereka tidak berselisih pendapat dalam solat sirriyyah dimana imam dikehendaki membaca amin dengan suara tidak keras. Makmum juga hendaklah menngeraskan suara bacaan amin dalam solat jahriyyah dan tidak
menguatkan suara dalam solat sirriyyah. Inilah pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad. Imam Malik mengatakan bahwa makmum membaca amin dengan suara tidak kuat dalam keadaan apapun, baik dalam solat jahriyyah maupun dalam solat sirriyah. Orang yang solat sendirian juga sama hukumnya dengan makmum dalam masalah ini. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa makmum hendaklah membaca amin dengan suara tidak keras, begitu juga dengan orang yang solat bersendirian.

2. Disyariatkan mengucapkan takbiratul intiqal ketika sujud, ketika bangkit dari kedua sujud, dan ketika bangkit dari tasyahhud pertama.

3. Boleh bersumpah tanpa disertai permintaan untuk mengukuhkan perkara.

4. Ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca basmalah dengan suara kuat. Disini ada beberapa pendapat :

Imam al-Syafi’i mengatakan bahwa disunatkan membaca basmalah dengan suara yang keras dalam solat jahriyyah, dan dengan suara tidak keras dalam solat sirriyyah. Beliau mengatakan bahwa basmalah merupakan salah satu dari Surah al-Fatihah. Seluruh ulama bersepakat bahwa basmalah di dalam Surah al-Naml merupakan sebagian daripadanya, tanpa ada ulama yang memperselisihkannya, meskipun mereka berselisih pendapat dalam surah yang lain. Pendapat yang paling sahih menurut Imam al-Syafi’i adalah basmalah merupakan sebagian dari setiap surah. Beliau menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh ibnu huzaimah melalui Ummu Salamah (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) membaca
ِ“ بسم الله الرحمن الرحيم”
ketika dalam solat dan baginda mengganggapnya sebagai satu ayat (dari al-Fatihah). Para sahabat telah bersepakat untuk menetapkannya dalam mushaf pada setiap permulaan surah kecuali pada permulaan Surah al-Baraah, yakni Surah al-Taubah.

Imam Malik mengatakan bahwa basmalah tidak perlu dibaca dalam solat fardu baik solat sirriyyah maupun solat jahriyyah, karena basmalah tidak termasuk salah satu ayat dari al-Qur’an, baik pada permulaan Surah al-Fatihah mahupun pada permulaan surah yang lainnya kecuali Surah al-Naml, karena di dalam Surah al-Naml basmalah merupakan salah satu dari ayatnya. Di dalam solat sunat, seseorang dibolehkan memilih baik membacanya atau sebaliknya.

Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahwa disunatkan membaca basmalah dengan suara tidak kuat, bukan dengan suara kuat dalam solat sirriyyah dan jahriyyah. Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mengatakan bahwa basmalah merupakan ayat tersendiri dari al-Qur’an. Ia diturunkan untuk memohon keberkatan dan sebagai pemisah di antara satu surah dengan surah yang lain, tetapi ia tidak termasuk salah satu daripada ayat Surah al-Fatihah dan juga surah-surah yang lain. Pada awalnya Rasulullah (s.a.w) tidak tahu apa yang patut dijadikan pemisah di antara satu surah dengan surah yang sebelum diturunkan kepadanya. Basmalah: “بسم الله الرحمن الرحيم ” Ini merupakan ketetapan yang menegaskan bahwa basmalah diturunkan untuk memisahkan
antara satu surah dengan yang lain, dan basmalah tidak termasuk sebagai ayat permulaan bagi setiap surah. Kedua ulama ini menguatkan pendapatnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim melalui Anas (r.a):

أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر كانوا يفتتحون الصلاة ب ” الحمد لله رب العالمين” لا يذكرون “بسم الله الرحمن الرحيم” في أول قرأة ولا في أخرها

“Nabi (s.a.w) dan Abu Bakar serta Umar memulai solat dengan bacaan “الحمد لله رب العالمين”
Mereka tidak membaca “بسم الله الرحمن الرحيم ” baik pada permulaan bacaan maupun di akhir bacaan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 224 : HUKUM BASMALAH DALAM SHALAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 224 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ اَلصَّلَاةِ بِـ (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ اَلْعَالَمِينَ ) ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

زَادَ مُسْلِمٌ: ( لَا يَذْكُرُونَ : (بِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ ) فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا )

وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ وَالنَّسَائِيِّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ : ( لَا يَجْهَرُونَ ‏بِبِسْمِ اَللَّهِ اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيم ِ )

وَفِي أُخْرَى لِابْنِ خُزَيْمَةَ : ( كَانُوا يُسِرُّونَ ). وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ اَلنَّفْيُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ خِلَافًا لِمَنْ أَعَلَّهَا

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Abu Bakar dan Umar memulai sholat dengan (membaca) alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin. Muttafaq Alaihi.

Muslim menambahkan: Mereka tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim baik pada awal bacaan maupun akhirnya.

Dalam suatu riwayat Ahmad Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah disebutkan: Mereka tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim dengan suara keras.

Dalam suatu hadits lain riwayat Ibnu Khuzaimah: Mereka membaca dan amat pelan. (Pengertian ini membaca dengan amat pelan diarahkan pada pengertian tidak membacanya seperti pada hadits riwayat Muslim yang tentunya berbeda dengan yang menyatakan bahwa hadits ini ma’lul).

MAKNA HADITS :

Basmalah adalah sebagian dari ayat al-Qur’an di dalam Surah al-Naml, menurut ijmak ulama. Tetapi mereka berselisih pendapat mengenai basmalah pada permulaan Surah al-Fatihah baik ia termasuk salah satu ayat darinya karena ia ditulis dalam mushaf dan mereka tidaklah menulis basmalah di dalam mushaf melainkan ia termasuk sebagian dari al-Qur’an ataupun basmalah tidak termasuk sebagian ayat dari al-Fatihah, karena disebutkan pada permulaannya hanya semata-mata untuk ber-tabarruk, sebagaimana ia disebutkan pada setiap permulaan surah untuk memisahkan antara satu surah dengan surah yang lain.

Hadis Anas (r.a) menegaskan bahwa apa yang mereka maksudkan ialah tidak membaca basmalah dengan suara kuat atau meniadakan bacaan basmalah lantaran bacaan itu tidak termasuk dari salah satu dari ayat Surah al-Fatihah. Apapun, hadis Anas (r.a) ini dinilai mudhtharib. Buktinya, Nabi (s.a.w) ada kalanya ketika di dalam sholat membaca basmalah dengan suara kuat dan ada kalanya pula dengan suara tidak kuat. Baginda membacanya dengan suara kuat dalam sholat jahriyyah dan membaca dengan suara tidak kuat dalam sholat sirriyyah. Tetapi adakalanya baginda membacanya dengan tidak kuat dalam sholat jahriyyah untuk menjelaskan bahwa itu boleh dilakukan.

Dengan cara demikian, hadis-hadis dalam masalah ini yang seakan berselisih antara satu sama lain dapat digabungkan pemahamannya. Ulama membahas masalah ini dengan panjang lebar, malah ada pula diantara mereka yang menulis secara khusus masalah ini.

FIQH HADITS :

Basmalah dalam sholat tidak dibaca dengan suara kuat. Inilah pendapat Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah. Tetapi Imam al-Syafi’i mengkhususkan hanya dalam sholat-sholat fardu yang dikerjakan pada waktu siang hari, kerana sholat fardu siang hari adalah sholat sirriyyah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..