logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

M082. HUKUM JUAL BELI ARISAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Sia A ikut Arisan, karena kebutuhan ia membeli Arisan pada si B yang kebetulan pada saat itu si B kebagian Arisan, si A membeli Arisan Pada si B (menggati posisinya si B dengan cara membeli pada si B) mohon penjelasan hukum jual beli si A dan Si B.

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Tidak boleh karena yang dibeli adalah uang dengan uang. Dan belum jelas jumlahnya. Apalagi harganya lebih mahal dari jumlah arisan yang akan didapat maka akan menjadi riba.

Kalau mau menjual seharusnya bukan uang tetapi barang. Misalnya bila seseorang menang arisan, hadiahnya adalah seekor sapi. Maka seseorang bisa menjual sapi itu kepada orang lain meski barangnya belum ada sekarang ini. Namanya bai’us salam. Dan ada bab tersendiri dalam fiqih tentang akad seperti ini.

Hukum mengadakan “arisan” pada dasarnya adalah boleh dengan sistem lotri bergilir satu per satu siapa yang unggul maka dialah yang berhak mengambil giliran. Akan tetapi jika diambil alih gilirannya pada orang lain dengan tanpa kesepakatan bersama terlebih tanpa adanya kerelaan (idzin) dari yang berhak maka hukumnya tidak boleh (ma’shiyat), terkecuali dengan seidzin yang bersangkutan maka boleh dengan catatan bukan dengan cara dibeli/membeli. Tetapi jika sistimnya dibeli/membeli maka hukumnya haram. Dengan alasan karena membeli barang yang masih belum jelas atau membeli uang dengan uang (dinar dengan dirham) hukumnya haram.

Referensi :

المحلى الجزء الثانى ص:٢٥٨
{ فرع } الجمعة المشهورة بين النساء بأن تأحذ إمرأة من كل واحدة من جماعة منهن قدرا معينا فى كل جمعة أو شهر تدفعه لواحدة بعد واحدة إلى آخرهن جائزة كماقاله الولى العراقىّ.

Perkumpulan yang populer (Aresan) diantara sekian perempuan, dengan mengambil-Nya seorang perempuan dari setiap perorangan dari mereka ( jamaah) dengan ukuran yang tertentu (lotri/kotto’ red:), yang dilaksanakan setiap jum’at atau setiap bulan dan diberikan gilirannya pada seorang (yang telah unggul dalam nilai kotto’an) maka hukumnya boleh.
Sebagaimana penjelasan Alwali al-Eroqiy.

Adapun ibarah mendalui giliran dari orang lain tanpa adanya keridloaan (idzin) adalah sebagai berikut :

سلم التوفيق ص:٨١
ومن معاصى البدن أخذ نوبته أى الغير فى المكان والثوب او البئر أو غير ذلك.

Diantara dari ma’shiyatnya badan adalah mendahului giliran dari pada orang lain didalam satu tempat, baju, sumur atau yang lain-Nya.

Sedangkan ibarah yang menjelaskan atas keharaman menjual barang yang tidak jelas (uang dengan uang) dan yang serupa adalah sebagai berikut:

مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق ص:٥٣
{ و} يحرم أيضا { بيع المجهول } فلا يصح بيع أحد الثوبان مثلا مبهما ولابيع بأحدهما وإن تساوت قيمتهما ولا بملء ذالبيت برا أو بزينة ذى الحصاة ذهبا والحال ملء البيت وزنة الحصاة مجهولان أو بألف دراهم ودنانير للجهل بعين المبيع فى الآولى وبعين الثمن فى الثانية ومقداره فى الباقى. أفاد ذلك الشرقاوى.

“Dan haram membeli barang yang tidak jelas. Maka tidak sah menjual salah satu diantara kedua baju. Dan tidak sah melakukan pembelian dengan pembayaran salah satu diantara dua baju tersebut, meskipun nilai dari harga keduanya sama. Juga tidak sah pembelian semua biji yang ada dirumah. Begitu juga tidak sah membeli emas dengan timbangan krikil tidak diketahui kadarnya atau pembelian dengan seribu dirham dan dinar. Ketidak absahan tersebut dikarenakan tidak jelas pada barang dijual. Barang yang dijual pada pemasalahan yang pertama, dan ketidak jelasan tzaman (ongkos). Pada permasalahan kedua, dan ketidak jelasan kadar barang yang dijual pada masah selain dua persoalan sebelumnya”. Sebagaimana disampaikam oleh Syaikh Syarkawiy.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 235 : LARANGAN MEMBACA AL-QUR’AN KETIKA SUJUD DAN RUKUK

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 235 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ اَلْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا اَلرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ اَلرَّبَّ وَأَمَّا اَلسُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca al-Qur’an sewaktu ruku’ dan sujud adapun sewaktu ruku’ agungkanlah Tuhan dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a karena besar harapan akan dikabulkan do’amu. Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Rukuk dan sujud merupakan rukun sholat. Keduanya menunjukkan kepada suatu keadaan dimana seorang hamba merasa hina dan rendah diri ketika berada di hadapan Allah. Rasulullah (s.a.w) dilarang membaca sebarang ayat Al-Qur’an dalam dua keadaan tersebut dan diisi dengan membaca zikir khusus berupa tasbih dalam rukuk dan tasbih serta do’a dalam sujud. Ketika sujud, seseorang dibolehkan membaca do’a-do’a yang bersangkutan dengan kebaikan dunia dan akhirat, karena sujud merupakan satu keadaan dimana do’a dimakbulkan.

FIQH HADITS :

1. Dilarang membaca al-Qur’an ketika rukuk dan sujud, karena kedua keadaan ini merupakan keadaan yang pada zahirnya adalah menghinakan diri. Apa yang dianjurkan bagi seseorang yang hendak membaca al-Qur’an adalah membacanya dalam keadaan yang terhormat demi memuliakan al-Qur’an sekaligus menghormati si pembaca yang kedudukannya seakan-akan sedang berbicara dengan Allah (s.w.t).

2. Disyariatkan memperdengarkan bacaan “سبحان ربي العظيم وبحمده” Malah Imam Ahmad mewajibkan untuk memperdengarkan bacaan tasbih ini, tetapi jumhur ulama menganggapnya sebagai sunat dengan berdalilkan hadis orang yang tidak sempurna dalam sholatnya. Ini karena dalam hadis tersebut Rasulullah (s.a.w) tidak mengajarkan bacaan tasbih itu kepadanya. Jika membaca tasbih itu wajib, niscaya baginda menyuruh untuk membacanya.

3. Ketika sujud disyariatkan berdo’a dengan bacaan-bacaan do’a untuk memohon kebaikan dunia dan akhirat serta memohon perlindungan dan keburukan keduanya. Imam Ahmad mengatakan bahwa do’a ini hukumnya wajib, sedangkan menurut jumhur ulama hukum membaca do’a ini adalah sunat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N070. BATASAN MEMANDANG WANITA DALAM TA’ARUF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Dimanakah batasan melihat perempuan dalam ta’aruf untuk wanita yang mau dipinang?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Beberapa pendapat para ulama tentang batasan memandang kepada pinangan yang diperbolehkan:

Imam Asy-Syafi’i berkata Jika seseorang pria ingin menikahi seorang wanita, maka ia tidak boleh melihat wanita tersebut dalam keadaan terbuka kepala dan lengannya.

Ia boleh melihat wajah dan kedua telapak tangannya dalam keadaan tertutup baik itu dengan izinnya maupun tidak.

Allah Ta’ala berfirman: {Dan janganlah mereka (para wanita)menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya} maksudnya yaitu “Wajah dan kedua telapak tangan”.

Imam An-Nawawi berkata Dalam Raudhah Ath-Thalibin wa Umdah Al-Muftin (7/19-20)

Jika seorang pria ingin menikahi seorang wanita, maka mustahab(sunnah)untuk melihatnya agar tidak menyesal.

Ada pendapat lain yaitu bukan sunnah melihat di sini melainkan hanya mubah.
Namun yang benar adalah pendapat pertama berdasarkan berbagai hadits. Dan boleh mengulang melihat di sini baik dengan izin wanita tersebut maupun tidak.

Jika tidak mudah untuk melihat wanita tersebut, maka boleh mengutus seorang wanita untuk memperhatikan wanita tersebut dan menggambarkannya untuknya.

Dan seorang wanita boleh melihat kepada pria jika ia ingin menikah dengannya.

Karena sesungguhnya seorang wanita tertarik kepada seorang pria sebagaimana seorang pria tertarik kepada seorang wanita.

Kemudian yang boleh dilihat darinya yaitu wajah dan dua telapak tangan yang luar maupun dalam. Dan tidak boleh melihat kepada selain itu.

Imam Abu Hanifah berpendapat boleh melihat kedua telapak kaki beserta wajah dan dua telapak tangan
Ibnu Abidin dalam Hasyiahnya (5/325) Boleh melihat ke wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki dan tidak boleh lebih dari itu ” dan itu telah dinukilkan oleh IbnuRusyd sebagaimana telah berlalu.

Referensi:

~ Al-Hawi Al-Kabir juz 9/34 :

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ – ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ( ﻭﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺃﻥ ﻳﺘﺰﻭﺝﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻠﻴﺲ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺣﺎﺳﺮﺓ ، ﻭﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ﻭﻫﻲ ﻣﺘﻐﻄﻴﺔ ﺑﺈﺫﻧﻬﺎ ﻭﺑﻐﻴﺮ ﺇﺫﻧﻬﺎ ، ﻗﺎﻝﺗﻌﺎﻟﻰ : ) ﻭﻻ ﻳﺒﺪﻳﻦ ﺯﻳﻨﺘﻬﻦ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻇﻬﺮ ﻣﻨﻬﺎ ( ﻗﺎﻝ :ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ) ﺍﻟﺤﺎﻭﻱ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺝ ٩ ﺹ ٣٤

~ Raudhah Ath-Thalibin wa Umdah Al-Muftin juz 7/19-20 :

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻓﻲ ) ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﻭﻋﻤﺪﺓﺍﻟﻤﻔﺘﻴﻦ ﺝ ٧ ﺹ ٢٠-١٩ ﺇﺫﺍ ﺭﻏﺐ ﻓﻲ ﻧﻜﺎﺣﻬﺎ ﺍﺳﺘﺤﺐﺃﻥ ﻳﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻟﺌﻼ ﻳﻨﺪﻡ ، ﻭﻓﻲ ﻭﺟﻪ : ﻻ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻫﺬﺍﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﺒﺎﺡ ، ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺍﻷﻭﻝ ﻟﻸﺣﺎﺩﻳﺚ ،ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺗﻜﺮﻳﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﺈﺫﻧﻬﺎ ﻭﺑﻐﻴﺮ ﺇﺫﻧﻬﺎ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢﻳﺘﻴﺴﺮ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺑﻌﺚ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﺗﺘﺄﻣﻠﻬﺎ ﻭﺗﺼﻔﻬﺎ ﻟﻪ . ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓﺗﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺇﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩﺕ ﺗﺰﻭﺟﻪ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻌﺠﺒﻬﺎ ﻣﻨﻪﻣﺎ ﻳﻌﺠﺒﻪ ﻣﻨﻬﺎ

~ Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid juz 3/10 :

ﻭﺃﺟﺎﺯ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻘﺪﻣﻴﻦ ﻣﻊ ﺍﻟﻮﺟﻪﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ

~ Ibnu Abidin dalam Hasyiahnya juz 5/325 :

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺎﺑﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺣﺎﺷﻴﺘﻪ ) ﺝ ٥ ﺹ ٣٢٥ﻳﺒﺎﺡ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﻭﺍﻟﻘﺪﻣﻴﻦ ﻻ ﻳﺘﺠﺎﻭﺯﺫﻟﻚ ” ﺃ.ﻫـ ﻭﻧﻘﻠﻪ ﺍﺑﻦ ﺭﺷﺪ ﻛﻤﺎ ﺳﺒﻖ

~ Fathul Baari 11/78 :

ﻭﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ) ﺝ١١ ﺹ ٧٨ ( .. ﻭﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪﺓ ﻓﻲ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔﻫﻲ ﺍﻟﺮﻭﺍﻳﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M081. HUKUM BERBONCENGAN DENGAN NON MAHRAM

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum berboncengan dengan Ojek Non Mahrom.

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh..

Hukum berboncengan/ojek tersebut tidak diperbolehkan kecuali bila bisa terhindar dari fitnah (hal-hal yang diharamkan) seperti :

a- Tidak terjadi ikhtilath (persinggungan badan)

b- Tidak terjadi kholwah (berkumpulnya laki-laki dan wanita di tempat sepi yang menurut kebiasaan umum sulit terhindar dari perbuatan yang diharamkan)

c- Tidak melihat aurat selain dalam kondisi dan batas-batas yang diperbolehkan syara’

d- Tidak terjadi persentuhan kulit

1. الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء الثالث صحـ 91

“إرداف التعريف” 1 – الإرداف مصدر أردف وأردفه أركبه خلفه ولا يخرج استعمال الفقهاء عن هذا المعنى “الحكم الإجمالي” 2 – يجوز إرداف الرجل للرجل والمرأة للمرأة إذا لم يؤد إلى فساد أو إثارة شهوة لإرداف الرسول للفضل بن العباس ويجوز إرداف الرجل لامرأته والمرأة لزوجها لإرداف الرسول لزوجته صفية رضي الله عنها وإرداف الرجل للمرأة ذات الرحم المحرم جائز مع أمن الشهوة وأما إرداف المرأة للرجل الأجنبي والرجل للمرأة الأجنبية فهو ممنوع سدا للذرائع واتقاء للشهوة المحرمة

“Definisi IRDAAF (BONCENGAN)” kata IRDAAF adalah mashdar dari lafadz ARDAFA, ARDAFAHU yang bermakna menaikkan/membonceng seseorang di belakanya dan istilah ini tidak digunakan di kalangan Ulama Ahli Fiqh.

( Hukum Secara Global ). Diperbolehkan seorang pria membonceng pria lain, wanita membonceng wanita lain bila memang tidak menimbulkan bahaya atau menimbulkan syahwat karena Rasulullah pernah membonceng sahabat fadhl Bin Abas, boleh juga suami membonceng istrinya, istri membonceng suaminya karena Rasulullah pernah membonceng istrinya Shofiyyah Ra. Seorang pria membonceng wanita mahramnya hukumnya boleh dengan syarat aman dari gejolak nafsu, sedang seorang wanita membonceng pria yang bukan mahramnya dan seorang pria membonceng wanita yang juga bukan mahramnya hukumnya di larang untuk menghindari hal-hal yang menjadi perantara dan timbulnya syahwat yang di haramkan. [ Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah vol. III hal. 91 ].

Masalah ketentuan syarat-syarat yang lain yang telah di sebutkan diatas bisa di lihat di : Syarh Muslim vol. XIV hal. 164-166, I’ânah at-Thâlibîn vol. I hal. 272, Al-Mausû’ah, alFiqhiyyah vol. II hal. 290-291

Bila persinggungannya secara langsung, maka haram bila tidak maka makruh……..

وَمِنْهُ الْوُقُوْفُ لَيْلَةَ عَرَفَةَ أَوِ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَالْاِجْتِمَاعُ لَيَالِيَ الْخُتُوْمِ آخِرَ رَمَضَانَ وَنَصْبُ الْمَنَابِرِ وَالْخُطَبُ عَلَيْهَا فَيُكْرَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ اخْتِلَاطُ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ بِأَنْ تَتَضَامَّ أَجْسَامُهُمْ فَإِنَّهُ حَرَامٌ وَفِسْقٌ

diantaranya adalah saat wuquf dimalam arafah atau saat di masy’ar al-haram (muzdalifah), berkumpul diakhir malam pada bulan ramadhan, mendengarkan khutbah bersama-sama maka dimakruhkan selagi tidak terjadi percampuran antara pria dan wanita dengan gambaran jasad-jasad mereka antara satu dan lainnya salaing bersinggungan maka termasuk hal yang diharamkan dan perbuatan fasiq”. [ I’aanah at-Thoolibiin I/313 ].

اخْتِلَاطَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ إذَا لَمْ يَكُنْ خَلْوَةً لَيْسَ بِحَرَامٍ

Percampuran antara wanita dan pria asalkan tidak terjadi khalwat tidak diharamkan. [ Al-majmuu’ IV/350 ].

وَضَابِطُ الْخَلْوَةِ اجْتِمَاعٌ لَا تُؤْمَنُ مَعَهُ الرِّيبَةُ عَادَةً بِخِلَافِ مَا لَوْ قُطِعَ بِانْتِفَائِهَا عَادَةً فَلَا يُعَدُّ خَلْوَةً ا هـ . ع ش عَلَى م ر مِنْ كِتَابِ الْعِدَدِ

Batasan yang dinamai khalwat adalah pertemuan yang tidak diamankan terjadinya kecyrigaan kearah zina secara kebiasaan berbeda saat dipastikan tidak akan terjadi hal yang demikian secara kebiasaannya maka tidak dinamai khalwat. [ Hasyiyah al-jamal IV/124 ].

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 234 : ANJURAN MEMOHON RAHMAT DAN PERLINDUNGAN KETIKA MEMBACA AYAT RAHMAT DAN AYAT ADZAB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 234 :

وَعَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ : (صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَمَا مَرَّتْ بِهِ آيَةُ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا يَسْأَلُ وَلَا آيَةُ عَذَابٍ إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْهَا) أَخْرَجَهُ الْخَمْسَةُ وَحَسَّنَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ

Hudzaifah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku sholat bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setiap melewati bacaan ayat tentang rahmat beliau berhenti untuk berdo’a meminta rahmat dan setiap melewati bacaan tentang adzab beliau berhenti untuk berdo’a meminta perlindungan dari-Nya. Dikeluarkan oleh Imam Lima. Hadits hasan menurut Tirmidzi.

MAKNA HADITS :

Para nabi dan rasul adalah orang yang terpelihara dari berbuat kesalahan. Sungguhpun begitu, mereka senantiasa merasa takut kepada Allah, selalu memohon ampunan kepada-Nya dan takut akan siksa-Nya. Mereka senantiasa bertafakur ketika membaca kitab samawi dan memohon supaya dimasukkan ke dalam syurga ketika membaca kisah yang berkaitan dengannya, dan memohon perlindungan kepada Allah ketika membaca ayat-ayat azab-Nya, supaya Allah memelihara mereka dari dijerumuskan ke dalam neraka dan siksa-Nya. Apa yang disebutkan
dalam hadis ini yang antara lain do’a, tangisan dan permohonan Nabi (s.a.w) barangkali dilakukan ketika mengerjakan sholatul lail sebagaimana yang difahami
dari hadis Imam Ahmad dan Abu Dawud.

FIQH HADITS :

1. Dianjurkan untuk memikirkan makna ayat-ayat yang dibaca ketika dalam sholat.

2. Disyariatkan memohon rahmat ketika dalam sholat apabila sampai pada ayat yang di dalamnya menceritakan rahmat, dan memohon perlindungan ketika
sampai pada ayat yang di dalamnya menceritakan makna siksaan atau azab. Inilah pendapat mazhab al-Syafi’i dimana mereka mengatakan bahwa dalam kaitan ini tidak ada perbedaan antara imam, makmum atau orang yang sholat sendirian, baik dalam sholat fardu maupun sgolat sunat; semuanya harus
memohon rahmat ketika membaca ayat rahmat dan memohon perlindungan ketika membaca ayat azab. Mazhab Hanafi mengatakan bahwa itu hanya disunatkan ketika mengerjakan sholat sunat, bukannya dalam sholat fardu. Hal
yang sama turut dikemukakan pula oleh mazhab Maliki, dimana mereka mengatakan bahwa berdo’a ketika sedang membaca ayat al-Qur’an dalam sholat fardu hukumnya makruh, kecuali bagi makmum. Makmum boleh membaca sholawat ke atas Nabi (s.a.w) apabila sebutannya dituturkan dalam bacaan al-Qur’an, dibolehkan memohon surga apabila membaca ayat yang di dalamnya dikisahkan tentang surga, dan dibolehkan memohon perlindungan dari neraka apabila membaca ayat yang di dalamnya dikisahkan tentang neraka.
Imam Ahmad meriwayatkan satu hadis dari Abdul Rahman ibn Abu Laila dari ayahandanya, beliau berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقرأ في صلاة ليست بفريضة، فمرت بذكر الجنة والنار، فقال : أعوذ بالله من النار، ويل لأهل النار

“Saya pernah mendengar Nabi (s.a.w) membaca al-Qur’an ketika dalam sgolat yang bukan sholat fardu, lalu baginda membaca ayat yang menyebutkan tentang surga dan neraka. Maka baginda berdoa: “Aku berlindung kepada Allah dari neraka, celakalah bagi penghuni neraka itu.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M080. HUKUM GOLPUT DALAM PEMILU DAN PILKADA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bagaimana hukum golput (tidak memilih/netral dalam pemilu?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohmatullahi wabarokatuh..

Perlu diingat bahwa memilih / mengangkat pemimpin adalah fardlu kifayah. :

.بقي أن نقول أن وجوب نصب الخليفة الذي ذهب اليه جمهور العلماء ليس وجوبا عينيا بل هو وجوب كفائي شأنه شأن سائر الواجبات الكفائية من جهاد وطلب علم ونحو ذلك فإذا بهذه الوظيفة من يصلح لها سقط وجوبها على كافة المسلمين . مغني المحتاج ٥/٤١٨

Pemilihan Umum, merupakan “pesta demokrasi” untuk menentukan wakil rakyat yang diberi amanat, guna menjaga dan melestarikan kemaslahatan umat secara umum. Baik memilih legislatif atau memilih Presiden. Hal ini, disebut dengan intichabab alriqab wa ahli syura (memilih Pengawas Pemerintah dan Badan Musyawarah. Atau intichab raisul jumhur yang identik dengan nasbu al Imam (memilih Presiden yang identik dengan membentuk dengan atau mengangkat imam, dimana hukum wujudnya Dewan Suro dan Presiden adalah fardu kifayah. Artinya, kewajiban yang penting “hasilnya maksud”, dengan tanpa melihat pelakunya. Sebagaimana definisi fardu kifayah. Dalam Lubuul Ushul hal. 26:

فَرْضُ الْكِفَايَةِ مُهِمٌّ يُقْصَدُ جَزْمًا حُصُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ نَظْرٍ بِالذَّاتِ لِفَاعِلِهِ.

Artinya: Fardu kifayah adalah sesuatu yang terpenting adalah tujuannya hasil dengan pasti dengan tanpa melihat pelakunya.

Yakni, jika tujuannya sudah berhasil, maka kita tidak dituntut untuk melakukan. Sebaliknya, jika tujuan tersebut belum berhasil, maka kita semua yang mampu dan tahu, di tuntut untuk mengusahakan terwujudnya sesuatu tersebut.

A. Kronologi pemilihan umum di hukumi fardu kifayah sebagai berikut:

Sesungguhnya, Pemilihan Umum dalam rangka “pesta demokrasi” seperti di Indonesia, tidak pernah ada dalam sistem pemerintahan Islam. Dan sebenarnya, sitem Pilpres langsung, Pilgub langsung, perlu ditinjau ulang melihat dampak negatifnya lebih banyak. Tapi, yang wajib adalah terbentuknya kesejahteraan masyarakat, keamanan, dan berjalannya syariat Islam dengan utuh. Karena hal itu tidak dapat terwujud tanpa adanya pemerintahan yang adil dan bijaksana, maka wujudnya pemerintahan merupakan wajib.

مَالاَيَتِمُّ اْلوَاجِبُ اِلاَ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Segala sesuatu yang sudah menjadi wajib, maka hukumnya wajib sebagaimana kewajiban tersebut”.
Sebenarnya, mewujudkan pemerintahan tersebut tidak harus dengan pemilihan umum, jika dapat direalisasikan dengan selain pemilihan umum. Akan tetapi, jika hanya dengan pemilihan umum sebagaimana yang terjadi di Indonesia tercinta ini, maka pemilihan umum menjadi fardu kifayah, karena berusaha mewujdukan cita-cita tersebut. Karenanya, memilih dalam pemilihan umum hukumnya fardu kifayah pula.

Lalu, apakah golput haram? Jika kita yakin atau punya dugaan bahwa dengan adanya kita golput, cita-cita di atas tidak terwujud maka golput haram. Jika kita yakin atau dhan (berprasangka) cita-cita tetap terlaksana walau kita golput, maka golput tidak masalah atau tidak haram. Demikian pula, jika kita yakin atau dhan golput atau memilih hasilnya sama, sama suksesnya atau sama tidak suksesnya. Jika kita ragu akan “dampak” golput kita, maka terjadi dua pendapat dikalangan ulama.

1. Golput dihukumi haram, dengan mengacu bahwa “khitob” (tuntutan) fardu kifayah, asalnya di tetapkan pada individu dan akan gugur setelah ada keyakinan atau dhan bahwa kewajiban tersebut sudah berhasil tanpa kita , maka dalam keadaan ragu masih wajib.

2. Golput tidak haram, melihat asal fardu kifayah bukan khitob untuk semua indifidu, tapi kepada sebagian kelompok yang tidak tertentu. Dan dapat menjadi kewajiban setiap indifidu, jika yakin atau dhan belum terlaksana, berarti kalau ragu belum menjadi wajib. Pendapat yang lebih benar yang pertama. Hal ini disebabkan kemungkinan arah khitob tersebut dengan melihat dua pandangan sebagai berikut:
Melihat jika tidak ada yang melakukan sama sekali, yang berdosa adalah semua individu. Maka, arah khitob fardu kifayah pada indifidu.

B. Melihat jika sudah ada orang lain yang mencukupi, kita tidak mendapat dosa. Berarti, pada dasarnya kita tidak wajib. Keterangan ini sama dengan fatwa al Syekh Zakaria al Anshari dalam kitab Ghoyatul Wusul hal 27;

وَاْلأَصَحُّ اَنَّهُ اى فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلكُلِّ لإِثْمِهِمْ بِتَرْكِهِ كَمَا فِى فَرْضِ اْلعَيْنِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى قاَتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ باللهِ وَهَذَا مَا عَلَيْهِ الجُمْهُوْرُ وَنَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِى فِى اْلأُمِّ وَيَسْقُطُ اَلْفَرْضُ بِفِعْلِ اْلبَعْضِ لأَنَّ اْلمَقْصُوْدَ كَمَا مَرَّ حُصُوْلُ اْلفِعْلِ لاَ ابْتِلاَءُ كُلِّ مُكَلَّفٍ بِهِ – اِلىَ اَنْ قاَلَ – وَقِيْلَ فَرْضُ اْلكِفَايَةِ عَلَى اْلبَعْضِ لاَ اْلكُلِّ وَرَجَّحَهُ الأَصْلُ . وِفَاقًا بِزَعْمِ اْلإِمَام الرَّازِى للإِكْتِفَاءِ بِحُصُوْلِهِ مِنَ اْلبَعْضِ وَِلأَيَةٍ وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ – اِلىَ اَنْ قَالَ – ثُمَّ مَدَارُهُ عَلَى الظَّنِّ فَعَلَى قَوْلِ اْلكُلِّ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ فَعَلَهُ أَوْ يَفْعَلُهُ سَقَطَ عَنْهُ وَمَنْ لاَ فَلاَ. وَعَلَى اْلقَوْلِ اْلبَعْضِ مَنْ ظَنَّ اَنَّ غَيْرَهُ لَمْ يَفْعَلْهُ وَلاَ يَفْعَلُهُ وَجَبَ عَلَيْهِ وَمَنْ لاَ فَلاَ.

Artinya: Menurut pendapat yang lebih benar bahwa “fardu kifayah”, di arahkan kepada semua individu, kerena dosanya dibebankan kepadanya jika sama-sama tidak ada yang melakukan sebagaimana fardu ain. Dengan dasar firman Allah.

وَقَاتِلُوا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ

Ini pendapat mayoritas ulama. Dan sebagaimana nashnya imam Syafi’i dalam kitab Um hanya saja fardu akan gugur dengan sebagian yang melakukan. Karena maksudnya yang penting hasil. Bukan bebannya terhadap mukallaf. Sebagian ulama berpendapat, kewajiban tersebut diarahkan kepada sebagian, bukan setiap indifidu. Sebagaimana pendapat Imam Fatchurrozi, dikarenakan dicukupkan pada sebagian dengan berdasarkan ayat;

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ اُمَّةٌ يَدْعُوْنَ اِلَى اْلخَيْرِ

Kemudian kisaran kewajiban tersebut pada dugaan masing-masing dengan mengikat kewajiban diarahkan kepada semua individu. Maka, barang siapa menduga bahwa orang lain telah melakukan atau dia sendiri melakukan, maka kewajiban telah gugur. Barang siapa tidak menduga dan tidak melakukan, maka tidak gugur atau tetap wajib. Jika mengikuti atas kewajiban sebagian, maka barang siapa menduga tidak ada orang lain yang melakukan dan ia tidak melakukan maka dia menjadi wajib jika tidak maka tidak wajib. [Ghoyatul wushul hal 27].

Pengangkatan kepala negara melalui pemilihan umum secara langsung, dapat dibenarkan dan tergolong pemilihan melalui syaukah yang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya selama yang terpilih bukan orang non-Muslim.

Rujukan :

بَقِيَ اَنْ نَقُوْلَ اَنَّ وُُجُوْبَ نَصْبِ الْخَلِيْفَةِ الَّذِى ذَهَبَ اِلَيْهِ جُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءِ لَيْسَ وُجُوْبًا عَيْنِيُّا بِلْ هُوَ وُجُوْبٌ كِفَائِيٌّ شَأْنُهُ شَأْنُ سَائِرِ الْوَاجِبَاتِ اْلكِفَائِيَّةِ مِنْ جِهَادٍ وَطَلَبِ عِلْمٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ، فَإِذَا بِهَذِهِ الْوَظِيْفَةِ مَنْ يَصْلُحُ لَهَا سَقَطَ وُجُوْبِهَا عَلَى كاَفَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ. (مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج، 5/418)

الْحُكْمُ التَّكْلِيفِيُّ: أَوَّلاً التَّوْلِيَةُ بِمَعْنَى نَصْبِ الْوُلاَةِ تَوْلِيَةُ إِمَامٍ عَامٍّ عَلَى الْمُسْلِمِينَ يَفْصِل فِي أُمُورِهِمْ وَيَسُوسُهُمْ فَرْضُ كِفَايَةٍ، مُخَاطَبٌ بِهِ أَهْل الْحَل وَالْعَقْدِ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَوُجُوهِ النَّاسِ حَتَّى يَخْتَارُوا الإِْمَامَ –الى ان قال– وَعَلَى الإِْمَامِ أَنْ يُوَلِّيَ مَنْ تَحْتَاجُ إِلَيْهِ الدَّوْلَةُ فِي أُمُورِهَا الْعَامَّةِ وَالْخَاصَّةِ مِنْ وُزَرَاءَ وَقُضَاةٍ وَأُمَرَاءِ الْجُيُوشِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، فَإِنَّ أَمْرَ الدَّوْلَةِ لاَ يَصْلُحُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ إِلاَّ بِتَوْلِيَةِ هَؤُلاَءِ وَأَمْثَالِهِمْ؛ لأَِنَّ مَا وُكِّل إِلَى الإِْمَامِ مِنْ تَدْبِيرِ الأُْمَّةِ لاَ يَقْدِرُ عَلَى مُبَاشَرَةِ جَمِيعِهِ إِلاَّ بِاسْتِنَابَةٍ . (الموسوعة الفقهية الكويتية، 14/196)

مَسْئَلَةُ ك: تَنْعَقِدُ الْإِمَامَةُ إِمَّا بِبَيْعَةِ أَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِِ مِنَ اْلعُلَمَاءِ وَالرُّؤَسَاءِ وَوُجُوْهِ النَّاسِ الَّذِيْنَ يَتَيَسَّرَ اجْتِمَاعُهُمْ اَوْ بِاسْتِخْلَافِ اِمَامٍ قَبْلَهُ أَوْ بِاسْتِيْلَاءِ ذِيْ الشَّوْكَةِ وَاِنِ اخْتَلَّتْ فِيْهِ الشُّرُوْطُ كُلُّهَا فَحِيْنَئِذٍ مَنِ اجْتَمَعَتْ فِيْهِ الشُّرُوْطُ الَّتِى ذَكَرُوْهَا فِى الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فَهُوَ إِمَامٌُ أَعْظَمُ, وَإِلَّا فَهُوَ مُتَوَلٍّ بِالشَّوْكًَةِ، فَلَهُ حُكْمُ الْإِمَامِ الْأَعْظَمِ فِى عَدَمِ انْعِزَالِهِ اهـ. (مَسْئَلَةُ: ي) لَا تَزُوْلَ وِلَايَةُ السُّلْطَانِ الَّذِي انْعَقَدَتْ وِلَايَتُهُ بِبَيْعَة اَوْ عَهْدٍ مُتَّصِلٍ بِمَنِ انْعَقَدَتْ وِلَايَتُهُ بِزَوَالِ شَوْكَتِهِ حَتَّى يَخْلع نَفْسَهُ بِسَبَبٍ اَوْ يَأْسُرَهُ الْكُفَّارُ وَيَيْأَسُ مِنْ خَلَاصِهِ، اَمَّا مَنْ كَانَتْ وِلَايَتُهُ بِتَغَلُّبٍ اَوْ عَهْدٍ مُتَّصِلٍ بِمُتَغَلَّبٍ كالب وُلَاةِ الزَّمَانِ فَنُفُوْذُ وِلَايَتِهِ مُدَّةُ بَقَاءِ شَوْكَتِهِ وَلَوْ ضَعِيْفَةُ لَا بَعْدَ زَوَالِهَا فَلَوْ بَقِيَتْ بِبَعْضِ الْبِلَادِ نَفَذَتْ فِيْمَا بَقِيَتْ فِيْهِ فَقَطْ، –إِلَي أَنْ قَالَ– وَمَعْنَي ذِي شَوْكَةٍ إِنْقِيَادُ النَّاسِ وَطَاعَتُهُمْ وَإِذْعَائُهُمْ لِأَمْرِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَا عِنْدَ السُّلْطَانِ مِنْ أَلَةِ الْحَرْبِ وَالْجُنْدِ وَنَحْوِهِمَامِمَّا تَقَعُ بِهِ الرَّهْبَةُ كَرُؤَسَاءِ اْلبَلَدِ وَرَأْسِ الْجَمَاعَةِ وَصَاحِبِ الْحُوْطَاتِ الْمَطَائِعِ عَلَى وَجْهِ الْاِعْتِقَادِ وَالْاِحْتِسَامِ. (بغية المسترشدين، 247)

وَذَكَرَ بَعْضُُ الْحَنَفِيَّةِ اشْتِرَاطَ جَمَاعَةٍ دُوْنَ عَدَدٍ مَخْصُوْصٍ ا هـ ثُمَّ قَالَ: لَوْ تَعَذَّرَ وُجُوْدُ الْعِلْمِ وَالْعَدَالَةِ فِيْمَنْ تَصَدَّى لِلْإِمَامَةِ وَكَانَ فِي صَرْفِهِ عَنْهَا إِثَارَةُ فِتْنَةٍ لَا تُطَاقُ حَكَمْنَا بِانْعِقَادِ إِمَامَتِهِ كَيْ لَا تَكُوْنَ كَمَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا، وَإِذَا تَغَلَّبَ آَخَرُ عَلَى الْمُتَغَلِّبِ وَقَعَدَ مَكَانَهُ انْعَزَلَ الْأَوَّلُ وَصَارَ الثَّانِي إِمَامًا وَتَجِبُ طَاعَةُ الْإِمَامِ عَادِلًا كَانَ أَوْ جَائِرًا إِذَا لَمْ يُخَالِفْ الشَّرْعَ، فَقَدْ عُلِمَ أَنَّهُ يَصِيْرُ إِمَاًما بِثَلَاثَةِ أُمُوْرٍ ، لِكِنِ الثَّالِثُ فِي الْإِمَامِ الْمُتَغَلِّبِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ فِي شُرُوْطِ الْإِمَامَةِ، وَقَدْ يَكُوْنُ بِالتَّغَلُّبِ مَعَ الْمُبَايَعَةِ وَهُوَ الْوَاقِعُ فِي سَلَاطِيْنِ الزَّمَانِ نَصَرَهُمُ الرَّحْمَنُ. (رد المحتار، 4/263)

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

J023. HUKUM DUDUK KETIKA MENUNGGU PEMAKAMAN JENAZAH

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz

Bolehkah kita duduk menunggu jenazah dimakamkan?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh

Terdapat hadis yang melarang kita untuk duduk ketika mengantar jenazah ke kuburan, sampai jenazah diletakkan di tanah.

Disebutkan dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمُ الْجَنَازَةَ فَقُومُوا ، فَمَنْ تَبِعَهَا فَلاَ يَقْعُدْ حَتَّى تُوضَعَ

Apabila kalian melihat jenazah, berdirilah. Dan siapa yang mengikuti jenazah, jangan duduk sampai dia diletakkan. (HR. Bukhari 1310 & Muslim 2265)

Juga disebutkan dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبِعْتُمُ الْجَنَازَةَ فَلاَ تَجْلِسُوا حَتَّى تُوضَعَ

Apabila kalian mengiringi jenazah, jangan duduk sampai jenazah itu diletakkan.

Imam Bukhari mencantumkan hadis ini dalam judul bab

باب من تبع جنازة فلا يقعد حتى توضع عن مناكب الرجال فإن قعد أمر بالقيام

Bab orang yang yang mengiringi jenazah, jangan duduk sampai diturunkan dari pundak pengiring. Jika ada yang duduk maka dia diperintahkan untuk berdiri.

Ibnul Hammam – ulama Hanafiyah – mengatakan,

وإذا بلغوا إلى قبره يكره أن يجلسوا قبل أن يوضع عن أعناق الرجال”؛ لأنه قد تقع الحاجة إلى التعاون ، والقيام أمكن منه ؛ ولأن المعقول من ندب الشرع لحضور دفنه إكرام الميت , وفي جلوسهم قبل وضعه ازدراء به وعدم التفات إليه , هذا في حق الماشي معها

Ketika sudah sampai di kuburan, makruh untuk duduk sebelum jenazah diletakkan dari pundak-pundak lelaki yang membawanya. Karena terkadang butuh kerja sama dan menangani jenazah semampunya. Dan secara logika, anjuran dari syariat untuk mengiringi pemakaman jenazah adalah dalam rangka memuliakan jenazah. Sementara mengambil sikap duduk sebelum jenazah diletakkan, termasuk penghinaan dan sikap tidak peduli dengannya. Aturan ini berlaku bagi mereka yang mengiringi jenazah. (Fathul Qadir, 2/135)

Al-Buhuti – ulama Hambali – mengatakan,

ويكره جلوس من تبعها” أي : الجنازة ( حتى توضع بالأرض للدفن ) ، نص عليه

Makruh bagi yang mengiringi jenazah untuk duduk, sampai dia diletakkan di tanah untuk dimakamkan. Demikian yang ditegaskan (dalam madzhab hambali). (Kasyaf al-Qina’, 2/130)

Demikian, Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 233 : SURAH YANG DIBACA KETIKA SHALAT SUBUH PADA HARI JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 233 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اَلله صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ : (الم تَنْزِيلُ ) اَلسَّجدَةَ و (هَلْ أَتَى عَلَى اَلْإِنْسَانِ) ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

وَلِلطَّبَرَانِيِّ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ مَسْعُودٍ : ( يُدِيمُ ذَلِكَ)

Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dalam sholat Shubuh pada hari jum’at biasanya membaca (Alif Laam Mim Tanziil) Al-Sajadah dan (Hal ataa ‘alal insaani). Muttafaq Alaihi.

Menurut riwayat Thabrani dari hadits Ibnu Mas’ud: Beliau selalu membaca surat tersebut.

MAKNA HADITS :

Surah-surah al-Qur’an banyak mengandung pengajaran dan peringatan yang tidak samar lagi bagi orang yang berakal. Rasulullah (s.a.w) istiqamah membaca dua surah ketika mengerjakan sholat Subuh hari Jum’at, yaitu Surah al-Sajdah dan Surah al-Dahr. Kedua surah ini mengandung berita yang telah terjadi dan berita yang bakal terjadi pada hari Jum’at. Di dalamnya mengandung berita tentang penciptaan Adam (a.s), perhimpunan semua hamba Allah, dan kisah yang bakal terjadi di akhirat. Dengan membaca kedua surah ini berarti kita telah mengingatkan diri kita tentang hari kiamat dan sebagaimana disebutkan dalam satu riwayat bahwa hari kiamat kelak terjadi pada hari Jum’at.

FIQH HADITS :

1. Menguatkan suara bacaan al-Qur’an ketika mengerjakan sholat Subuh.

2. Disunatkan membaca Surah al-Sajadah dan Surah al-Insan ketika mengerjakan sholat Subuh pada hari Jum’at. Inilah pendapat Imam al-Syafi0’i dan Imam Ahmad. Namun Imam Ahmad mengatakan makruh apabila ia dijadikan satu kebiasaan. Imam Abu Hanifah mengatakan, membaca kedua-dua surah tersebut dalam sholat Subuh hari Jum’at hukumnya sunat apabila berniat mengikuti Sunnah Nabi (s.a.w). Jika seseorang membaca suatu ayat al-Qur’an secara khusus), maka hukumnya makruh, karena itu bererti mengenyampingkan yang lain dan cenderung mengutamakan ayat al-Qur’an tertentu ke atas yang

lain. Imam Malik mengatakan, makruh apabila sengaja membaca surah tertentu yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah ketika mengerjakan solat fardu, tetapi beliau membolehkannya apabila di belakang imam hanya terdapat sedikit makmum, karena itu tidak dikawatiri akan membuat mereka bingung. Ibn Hubaib merincikan pendapat Imam Malik dengan mengatakan boleh membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah dalam solat jahriyyah, bukan dalam sholat sirriyyah, sebab ketika membacanya dalam sholat jahriyyah maka itu tidak akan membuat makmum menjadi bingung. Ibn Basyir mengatakan bahwa pendapat yang sahih ialah boleh membacanya meskipun dalam sholat sirriyah karena Rasulullah (s.a.w) membiasakan membaca surah yang di dalamnya terdapat ayat al-Sajadah.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N069. BOLEHKAH WALI AQROB PINDAH KE WALI AB’AD KARENA BISU?

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi masalah:
Ahmadi dan Sitti Maisarah dua insan yang telah lama menjalin hubungan “pertunangan” sedangkan ayah Sitti Maisarah telah meninggal seminjak dia masih kecil,namun untungnya Sitti Maisarah masih masih punya kakek dan saudara laki-laki seayah seibu bernama Yusuf.
Selang beberapa minggu hubungan Ahmadi dan Sitti Aisyah semakin dekat sehingga tumbuh hasrat (keinginan) dalam hatinya untuk segera melangsungkan pernikahan. Akan tetapi sangat disayangkan manakala pernihan akan segera dilangsungkan kekak kesayangannya jatuh sakit (struk) sehingga mengakibatkan bisu, tidak bisa berjalan, tidak mendengar (tuli) bahkan fikiran dan akalnya menjadi tidak normal.

Pertanyaannya:
Bolehkah Yusuf saudara Sitti Maisarah menikahkan adiknya (menjadi wali nikah) dikala situasi kakeknya sakit srtuk (bisu, fikiran dan akalnya tidak normal)?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Boleh Yusuf saudara Sitti Maisarah yang seayah seibu menikahkan dan mengawinkan Sitti Maisarah (menjadi wali nikah) manakala kakekya dalam situasi sakit struk yang mengakibatkan bisu dan tidak normalnya akal dan fikirannya sehingga tidak memungkinkan menikahkan sendiri dan mewakilkan baik secara isyarah ataupun tulisan. Dengan alasan karena adanya kakek telah dianggap tidak memenuhi persyaratan wali nikah.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٤
{تنبيه}مماتركه المصنف من شروط الولى أن لايكون مختل النظر بهرم أو خبل وأن لايكون محجورا عليه بسفه متى كان الأقرب ببعض هذه الصفات المانعة للولاية فالولاية للأبعد

“(Satu peringatan)” Diantara perkara yang ditinggalkan oleh Kyai Mushonnif adalah diantara bebera syarat menjadi wali diantaranya adalah:

1. Harus memiliki fikiran atau akal yang sempurna artinya tidak cukup syarat bilamana fikirannya dan akalnya rusak karena disebabkan pikun.

2. Tidak menjadi “Mahhjur alaih” dengan sebab kebodohannya.
Kapan walinikah yang “aqrab”(lebih dekat) tidak memenuhi syarat yang ada diantara sebagian sifat tersebut yang mencegah(adanya maani’) atas kewalian maka wali nikah nya adalah beralih kepada wali ab-ad(lebih jauh) yakni Saudar-Nya yang seayah seibu dan seterusnya.

Referensi :

الإقناع الجزء الثانى ص:١٢٥
{فرع} الأحرس إن كان وليا وله إشارة يفهمها كل واحد عقد بها وإن فهمها الفطن أوكان له كتابة وأمكن التوكيل بهما وكل وإلا زوج الآبعد، وأما إن كان زوجا فإن كانت إشارته صريحة عقدبها وإن كانت كناية أوكانت له كتابة فإن أمكنه التوكيل وكل وإلا عقد للضرورة وتعرف نيته بإشارة أخرى أو كتابة وقيل يكون كالمجنون فزوج الحاكم عند فقد الأب والجد.

(“Satu cabang”) Orang yang bisu (tidak bisa bicara) manakala dia bersetatus wali nikah sedangkan dia bisa memberikan isyarah dan bisa difahami oleh setiap seorang dan atau bisa difahami oleh orang yang cerdas maka dia boleh mengakadnya atau sibisu bisa menulis dan memungkinkan mewakilkan maka wakilkan. Akan tetapi jika hal tersebut tidak memungkinkan mengakad dan mewakilkan, maka yang menikahkannya (menjadi wali nikah) adalah wali ab’ad (lebih jauh) yakni Yusuf saudaranya Sitti Maisarah dan serusnya.
Dan adapun jika si bisu punya istri dan sedangkan isyarah sharikh (jelas) baik dalam bentuk kinayah atau tulisan maka dia mengakadnya dan jika bisa mewakilkan dengan tulisan maka wakilkan dengan tulisan jika tidak bisa maka akadlah (wali ab’ad) dengan kondisi dlorurah. Dan niatnya dapat dikenal/diketahui disisi yang lain.

Dikatakan oleh sebagian ulama, dia diibaratkan orang gila
maka hakim yang menikahkan (menjadi wali) diwaktu tidak adanya ayah dan kakek.

CATATAN:

Jika ada ungkapan kata “قيل” (dikatakan) adalah:

a. Menunjukkan adanya khilaf (perbedaan pendapat) pada wajah-wajah ashhab.

b. Menunjukkan pendapat yang lemah.

لايقال قيل إلا ضعيف

Tidak dikatakan suatu perkatan “قيل” terkecuali lemah.

Adapun yang dimaksud wali aqrab (dekat) diatas adalah “Ayah” karena wali yang lebih dekat dengan perempuan untuk menikahkan.

Sedangka yang dimaksud dengan wali ab’ad (jauh) adalah Kakek/Saudara se ayah se ibu. Sebagaiman rincian wali nikah sebagai berikut :

Derajat (tingkatan) wali nikah (Wali yang mengakad nikah) pada dasarnya ada dua macam:

1- Wali nasab

Wali nasab adalah wali yang ada hubungan darah dengan perenpuan yang akan mereka kawini adalah :
a.) Ayah kandung
b.) Kakek dari ayah
c.) Saudara laki-laki seayah seibu
d.) Saudara laki-laki seayah
e.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu seayah
f.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah
g.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
h.) Saudara laki-laki seayah dari ayah
i.) Anak laki-laki dari saudara laki laki seeibu seayah dari ayah
j.) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah dari ayah
Wali kolom a.) di atas disebut
“Wali yang paling dekat” kepada perempuan yang hendak dinikahkan. Dalam bahasa Arab disebut “ألولى الأقرب”.
Wali yang dibelakangnya disebut (dinamakan) “Wali yang lebih jauh”. Dalam bahasa Arab disebut “الولى الآبعد”.

Jika wali kolom 1/ a.) tidak ada karena berhalangan tetap (meninggal) atau berhalangan tidak tetap karena ada perjalanan sampai dua marhalah maka yang mengakatnya wali kolom 2/ b.) yang lebih dekat dan jika wali kolom b.) tidak ada maka yang menjadi wali adalah kolom 3/c.) dan seterudnya.

2- Wali hakim.
Yang dimaksud ” Wali Hakim” ialah kepala negara yang beragama Islam, dan dalam hal ini biasanya Pengadilan Agama, ia dapat mengangkat orang lain menjadi Hakim (biasanya yang diangkat KUA (Kepala Kantor Urusan Agama) Kecamatan untuk mengakatkan nikah perempuan yang berwali Hakim.

Sebagaimana Sabda Rasulullah (S.a.w) :

عن عائشة رضى الله عنها قالت:قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :أيما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فإن دخل بها فلها المهر بمااستحلّ من فرجها،فإن اشتجروا فالسلطان ولىّ من لا ولى له (أخرجه الأربعة إلا النسائي وصححه أبو عوانة وابن حبان والحاكم)

الباجورى الجزء الثانى ص: ١٠٥
(وأولى الولاية )
أى أحق الآولياء بالتزويج (الأب ثم الجد أبو الأب) ثم أبوه وهكذا ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد (ثم الأخ للآب والأم) ولو عبر بالشقيق لكان أخصر (ثم الأخ للأب ثم ابن الآخ للأب والأم وإن سفل(ثم إبن الأخ للأب) وإن سفل………الخ
{قوله الأب ثم الجد} إنمالم يقل الأب وإن علا وإنه أخصر لضرورة أفادة الترتيب بين الأب والجد فإنه لو قال ماذكر لم يفد الترتيب بينهما فاندفع بذلك قول المحشى تبعا للقليوبى لو قال الأب وان علا لكان أولى وأخصر وقوله أبو الأب إحتراز من الجد أبى الأم فلا ولاية له كمالايخفى {قوله ثم أبوه} أى أبو الجد وقوله وهكذا أى ثم ابو أبيه ثم أبو ابي أبيه قوله ويقدم الأقرب من الأجداد على الأبعد وهو مستفاد من قوله ثم أبوه وهكذا وهو تصريح بما علم أتى به توضيحا {قوله ثم الآخ للأب والأم } أى لادلائه بالأب فهو أقرب من ابن الأخ……… الخ

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 232 : SURAH YANG DIBACA DALAM SHALAT MAGHRIB

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 232 :

وَعَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قَالَ : ( سَمِعْت رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Jubair Ibnu Muth’im Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam membaca surat At-Thur dalam sholat maghrib. Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Rasulullah (s.a.w) mengalami berbagai keadaan dimana baginda mesti menitik beratkan keadaan makmum dalam sholat. Ketika mengerjakan sholat Maghrib ada
kalanya baginda membaca surah mufassal yang pendek dan ini merupakan kebiasaan yang kerap dilakukannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Sulaiman ibn Yasar sebelum ini. Ada kalanya pula baginda membaca surah mufasshal yang panjang ketika mengerjakan sholat Maghrib, seperti membaca Surah al-Thur, dan ada kalanya baginda membaca surah seperti al-A’raf dan al-An’am.

FIQH HADITS :

1. Disunatkan membaca surah mufasshal yang panjang dalam sholat Maghrib.

2. Menguatkan suara bacaan dalam sholat Maghrib.

3. Diperbolehkan menerima riwayat Jubair dalam kisah ini, meskipun ketika beliau mendengarnya masih belum masuk Islam, karena yang penting ialah kisah itu sendiri, bukan keadaan atau status orang yang menceritakannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..