logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 243 : BOLEH SHALAT SAMBIL DUDUK BAGI YANG SAKIT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 243 :

وَعَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ : ( رَأَيْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا ) رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ

‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku pernah melihat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sholat dengan duduk bersila. Riwayat Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

MAKNA HADITS :

Berdiri dalam sholat fardu merupakan rukun sholat bagi orang yang mampu berdiri.
Orang yang sakit dan tidak mempunyai kemampuan untuk berdiri boleh mengerjakan sholat dalam keadaan duduk mengikuti keadaan yang dapat dia lakukan. Hal ini merupakan salah satu kemudahan Islam. Orang sakit yang mengerjakan sholat sambil duduk memperoleh pahala yang sama dengan orang yang sholat sambil berdiri. Sedangkan dalam sholat sunat, tidak diwajibkan berdiri, meskipun melakukannya dalam keadaan berdiri lebih diutamakan. Hukum wajib
berdiri dalam sholat ialah firman-Nya:

وقوموا لله قانتين

“… Berdiri untuk Allah (dalam solat kamu) dengan khusyuk.” (Surah al-Baqarah: 238)

FIQH HADITS :

Hadis ini menjelaskan tatacara sholat orang yang sakit hingga terpaksa mengerjakannya dalam keadaan duduk.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

T035. HUKUM SPERMA YANG KELUAR DARI FARJIK PEREMPUAN SETELAH ADUS (MANDI WAJIB)

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Diskripsi Masalah:
Ada Pasutri Melakukan jimak, lalu adus. Selang Beberapa Jam setelah adus pada saat si istri beraktifitas maka dari Farji’nya keluar sperma lagi.

Pertanyaan:
1. Bagaimana Hukum Keluarnya Sperma tsb, apakah si istri harus Mandi Besar Lagi?

2. Bagaimana Hukum Sperma tsb (Najis/tdk)?

3. Bagaimana Hukum Wudu’nya si istri Apabila sewaktu keluarnya sperma dalm Kondisi Punya Wudu’?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1). Jawabannya ditafsil :

a. Bila saat menjalani senggama dia juga mengeluarkan sperma maka wajib baginya mengulangi mandinya.

b. Bila saat senggama dia tidak mengeluarkan sperma maka tidak wajib mengulangi mandinya karena sesungguhnya yang keluar dari kemaluannya adalah mani suaminya.

2). Kalau jelas yang keluar adalah mani maka suci.

3). Ditafshil :

a. Bila saat menjalani senggama dia juga mengeluarkan sperma maka wudhuknya tidak batal, namun wajib adus.

b. Bila saat senggama dia tidak mengeluarkan sperma maka wuduknya batal karena sesungguhnya yang keluar dari kemaluannya adalah mani suaminya. Dan tidak wajib adus.

Referensi :

at-Taqriirat as-sadiidah di bagian ta’liiq hal. 115 :

فلو جامع الرجل زوجته ولم تقض وطرها بأن كانت نائمة أو مكرهة ثم اغتسلت فخرج منها مني زوجها فلا يجب عليها الغسل مرة أخرى، ولكن ينتقض وضوؤها، بخلاف ما إذا قضت وطرها فيجب عليها الغسل مرة أخرى

– as-Syarqowi juz 1 hal 77 :

قوله وخرج بمنيه مني غيره (إلي أن قال أوفي قبلها وخرج منه بعد ماذكر فإن قضت شهوتهاحال الوطء بأن كانت بالغة مختارة مستيقظة وجب عليه إعادة الغسل لأن الظاهر أنه منيهما معا لإختلاطهما وأقيم الظن هنا مقام اليقين

I’aanah I/70 :

وخرج بمني نفسه مني غيره كأن وطئت المرأة في دبرها فاغتسلت ثم خرج منها مني الرجل فلا يجب عليها إعادة الغسل أو وطئت في قبلها ولم يكن لها شهوة كصغيرة أو كان لها شهوة ولم تقضها كنائمة فكذلك لا إعادة عليها

Dikecualikan dengan maninya sendiri adalah mani orang lain, seperti :

1. Wanita yang disenggamai duburnya kemudian ia mandi dan keluar mani suaminya (saat mandi) maka tidak wajib baginya mengulangi mandinya.

2. Atau wanita tersebut digauli dikemaluannya hanya saja tidak ada gairah syahwat darinya (hingga memungkinkan baginya keluar sperma saat senggama) seperti wanita yang masih kecil

3. Atau dia punya gairah hanya saja dia tidak menuntaskannya (tidak sampai orgasme/keluar mani)

Dalam tiga cgambaran diatas kesemuanya tidak mewajibkan mengulangi mandi. [ I’aanah I/70 ].

– Hasyiyah Al-Qolyubi I/72 :

والمراد مني الشخص نفسه ولو مع مني غيره , فلو قضت المرأة شهوتها واغتسلت , ثم خرج منها مني وجب عليها الغسل إقامة للمظنة مقام اليقين , ولو خرج المني في دفعات وجب الغسل بكل مرة وإن قل .

Yang dimaksud dengan sperma adalah spermanya sendiri meskipun bercampur dengan sperma orang lain karenanya bila seorang wanita saat mandi wajib telah mendatangi syahwatnya (orgasme) kemudian keluar darinya sperma (saat mandi) maka wajib baginya mandi sebab dugaan kuat didudukkan dalam hukum yakin (artinya diduga itu juga maninya yang keluar bersama mani suaminya karena dalam persenggamaan dia juga orgasme) dan bila mani tersebut keluar dengan berulang-ulang wajib baginya mandi meskipun keluarnya sedikit.

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِذَا أَمْنَى وَاغْتَسَل ثُمَّ خَرَجَ مِنْهُ مَنِيٌّ عَلَى الْقُرْبِ بَعْدَ غُسْلِهِ لَزِمَهُ الْغُسْل ثَانِيًا، سَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ قَبْل أَنْ يَبُول بَعْدَ الْمَنِيِّ أَوْ بَعْدَ بَوْلِهِ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ (٢) ، وَلَمْ يُفَرِّقْ؛ وَلأَِنَّهُ نَوْعُ حَدَثٍ فَنَقَضَ مُطْلَقًا، كَالْبَوْل وَالْجِمَاعِ وَسَائِرِ الأَْحْدَاثِ (٣) .

(٢) حديث: ” إنما الماء من الماء “. تقدم تخريجه ف٥
(٣) المجموع شرح المهذب للنووي ٢ / ١٣٩ – ١٤٠

Dan menurut pendapat Syafi’iyah : Jika seseorang keluar mani dan ia langsung mandi, kemudian setalah mandi keluar mani lagi dengan jarak yang dekat, Maka ia mandi lagi (mandi dua kali). Sama saja keluarnya mani sebelum berkencing atau keluarnya setelah berkencing. Karena adanya hadits Nabi saw. “Sesungguhnya air itu dari air”. Hal itu sebagian dari hadats sebagaimana kencing, jimak dan hadats2 yang lain.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

M085. HUKUM MENGAMBIL JAMUR DI TANAH ORANG LAIN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum nya ngambil jamur di tanah orang ? Mohon jawaban nya dan kalau ada mana landasan nya [ibarotnya], wasalam.

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh

BOLEH apabila pemiliknya sudah tidak memperdulikannya lagi atau meyakini bahwa pemilik merelakannya. Jika sebalikanya maka TIDAK BOLEH, seperti halnya pemilik pohon pelit atau pohon buah tersebut dipagari, maka haram mengambilnya.

أسنى المطالب الجزء 1 صحـ : 574 مكتبة دار الكتاب الإسلامي

( وَالثِّمَارُ وَالزَّرْعُ فِي التَّحْرِيمِ ) عَلَى غَيْرِ مَالِكِهَا وَالْحِلِّ لَهُ ( كَغَيْرِهَا ) فَلاَ يُبَاحُ لَهُ بِغَيْرِ إذْنِ مَالِكِهَا إِلاَّ عِنْدَ اضْطِرَارِهِ فَيَأْكُلُ وَيَضْمَنُ ( فَلَوْ جَرَتِ الْعَادَةُ بِأَكْلِ مَا تَسَاقَطَ ) مِنْهَا ( جَازَ ) إِجْرَاءً لَهَا مَجْرَى اْلإِبَاحَةِ لِحُصُوْلِ الظَّنِّ بِهَا كَمَا يَحْصُلُ بِحَمْلِ الصَّبِيِّ الْمُمَيِّزِ الْهَدِيَّةَ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَيَنْبَغِيْ أَنْ يُسْتَثْنَى مَا إِذَا كَانَ ذَلِكَ لِمَنْ لاَ يُعْتَبَرُ إذْنَهُ كَيَتِيمٍ وَأَوْقَافٍ عَامَّةٍ ِلأَنَّ صَرِيحَ إِذْنِهِ لاَ يُؤَثِّرُ فَمَا يَقُوْمُ مَقَامَهُ أَوْلَى قَالَ وَقَدْ ذَكَرَ ابْنُ عَبْدِ السَّلاَمِ مِثْلَ ذَلِكَ فِي الشُّرْبِ مِنَ الْجَدَاوِلِ وَاْلأَنْهَارِ الْمَمْلُوْكَةِ وَهَذَا أَوْلَى مِنْهُ ( إِلاَّ إِنْ حُوِّطَ عَلَيْهِ ) أَيْ مَا ذُكِرَ مِنَ الثِّمَارِ وَالزُّرُوعِ ( أَوْ مَنَعَ ) مِنْهُ ( الْمَالِكُ ) ِلأَنَّ ذَلِكَ يَدُلُّ عَلَى شُحِّهِ وَعَدَمِ مُسَامَحَتِهِ اهـ

Buah-buahan dan tanaman dalam hukum halal haramnya diambil selain pemiliknya sama dengan barang-barang lainya dalam arti tidak halal mengambilnya tanpa seizin pemiliknya kecuali dalam kondisi terpaksa maka boleh mengambil dan memakannya namun harus mengganti.

Bila dalam masyarakat berkembang kebiasaan diperkenankan memungut buah-buahan dan tanaman yang terjatuh maka secara agama juga diperlakukan hukum yang sama karena artinya pemiliknya diduga juga memperbolehkannya sebagaimana bolehnya memungut hadiah dari bocah yang sudah tamyiz.

Berkata az-Zarkasyi “Semestinya dalam hal ini diberi pengecualian pada hal yang tidak bisa dipertimbangkan lagi pemberian izinnya seperti izin dari anak yatim dan tempat-tempat wakaf umum karena meskipun perizinan dengan kata jelaspun darinya tidak berpengaruh maka hal yang serupa kedudukannya dengannya lebih baik dianalogkan juga dengannya”.

Ibn Salam berkata “Serupa dengannya minum ditempat anak-anak sungai atau kali yang dipunyai seseorang”Kecuali saat Buah-buahan dan tanaman tersebut dipagari atau pemiliknya melarang mengambilnya karena yang demikian menunjukkan sifat kikirnya pemilik dan tidaka adanya toleransi darinya. [ Asnaa al-Mathaalib I/574 ].

تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 9 صحـ : 337 مكتبة دار إحياء التراث العربي

وَيَحْرُمُ أَخْذُ ثَمَرٍ مُتَسَاقِطٍ إنْ حُوِّطَ عَلَيْهِ وَسَقَطَ دَاخِلَ الْجِدَارِ وَكَذَا إِنْ لَمْ يُحَوَّطْ عَلَيْهِ أَوْ سَقَطَ خَارِجَهُ لَكِنْ لَمْ تُعْتَدِ الْمُسَامَحَةُ بِأَخْذِهِ وَفِي الْمَجْمُوْعِ مَا سَقَطَ خَارِجَ الْجِدَارِ إنْ لَمْ تُعْتَدْ إِبَاحَتُهُ حَرُمَ وَإِنِ اعْتِيدَتْ حَلَّ

Dan haram memungut buah-buahan yang telah jatuh bila dipagari dan jatuh didalam tembok pagar atau jatuh diluar tembok pagar hanya saja tidak terjadi kebiasaan masyarakat ditoleransi menmungutnya. Dalam kitab al-Majmu’ dijelaskan “Benda yang jatuh diluar tembok pagar bila tidak umum di masyarakat maka haram memungutnya bila umum maka halal [ Tuhfah al-Muhtaaj IX/337 ].

Wallaahu A’lamu Bis Showaab..

Kategori
Uncategorized

S061. HUKUM BERMAKMUM KEPADA ORANG YANG SHALAT LIHURMATIL WAKTI

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Deskripsi Masalah:
Suatu saat terdapat seseorang sholat lihurmat wakti karena pada waktu itu ia tidak bisa memakai air dari sangat dinginnya. Kemudian disaat sholat ada seseorang yg berma’mum kepadanya.

Pertanyaannya:
Bagaimana hukum sholatnya makmum tersebut?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Tidak boleh Berjamaah/bermakmum kepada orang yang melakukan shalat lihurmatil wakti (karen tidak adanya suci dari dua hadas). Dan juga karena tidak memenuhi syaratnya الإقتداء
(bermakmum).

Selain itu shalat jamaah/bermakmum adalah merupakan ikatan shalat yang sempurna. Maka suatu keharusan dalam shalat berjamaah minimal adanya imam dan makmun kecuali shalat ‘id dan shalat jum’at, hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw,: “Dua orang ataupun lebih maka itu adalah berjamaah”. Ini pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, beserta Abbas ra. Jamaah (dua orang) baik salah satunya adalah laki-laki atau perempuan atau anak2 yang berakal. Karena itu Rasulullah Saw, menyebutnya berjamaah atas mereka berdua.

Adapun orang yang gila dan anak kecil yang tidak berakal maka tidak termasuk dalam kategori ahli jamaah. Oleh karenanya dalam shalat berjamaah ada syarat- tertentu sebagaimana dalam ibarah berikut:

Referensi :

موسوعة الفقهية ص: ٣٣١١/٣١٩٤٩
الاِقْتِدَاءُ فِي الصَّلاَةِ
٧- الاِقْتِدَاءُ فِي الصَّلاَةِ هُوَ: رَبْطُ صَلاَةِ الْمُؤْتَمِّ بِصَلاَةِ الإِْمَامِ كَمَا سَبَقَ، فَلاَ بُدَّ أَنْ يَكُونَ هُنَاكَ إِمَامٌ وَمُقْتَدٍ، وَلَوْ وَاحِدًا. وَأَقَل مَنْ تَنْعَقِدُ بِهِ الْجَمَاعَةُ – فِي غَيْرِ الْعِيدَيْنِ وَالْجُمُعَةِ – اثْنَانِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ مَعَ الإِْمَامِ وَاحِدٌ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الاِثْنَانِ فَمَا فَوْقَهُمَا جَمَاعَةٌ (١) وَلِفِعْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حِينَ صَلَّى بِابْنِ عَبَّاسٍ وَحْدَهُ. (٢)
وَسَوَاءٌ كَانَ ذَلِكَ الْوَاحِدُ رَجُلاً أَوِ امْرَأَةً أَوْ صَبِيًّا يَعْقِل، لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمَّى الاِثْنَيْنِ مُطْلَقًا جَمَاعَةً.
وَأَمَّا الْمَجْنُونُ وَالصَّبِيُّ الَّذِي لاَ يَعْقِل فَلاَ عِبْرَةَ بِهِمَا، لأَِنَّهُمَا لَيْسَا مِنْ أَهْل الصَّلاَةِ. (٣)
هَذَا، وَهُنَاكَ شُرُوطٌ لاَ بُدَّ مِنْ تَوَفُّرِهَا فِي الاِقْتِدَاءِ وَالْمُقْتَدَى بِهِ (الإِْمَامِ) ، وَحَالاَتٌ تَخُصُّ الْمُقْتَدِيَ أَيْ (الْمَأْمُومَ) نَذْكُرُهَا فِيمَا يَلِي:

شُرُوطُ الْمُقْتَدَى بِهِ (الإِْمَامِ) :
٨ – يُشْتَرَطُ فِي الإِْمَامِ فِي الْجُمْلَةِ: الإِْسْلاَمُ وَالْعَقْل اتِّفَاقًا، وَالْبُلُوغُ عِنْدَ الْجُمْهُورِ، وَكَذَلِكَ الذُّكُورَةُ إِذَا كَانَ الْمُقْتَدُونَ ذُكُورًا، وَالسَّلاَمَةُ مِنَ الأَْعْذَارِ – كَرُعَافٍ وَسَلَسِ الْبَوْل – إِذَا اقْتَدَى بِهِ أَصِحَّاءُ، وَالسَّلاَمَةُ مِنْ عَاهَاتِ اللِّسَانِ – كَفَأْفَأَةٍ وَتَمْتَمَةٍ – إِذَا اقْتَدَى بِهِ السَّلِيمُ مِنْهُمَا، وَكَذَا السَّلاَمَةُ مِنْ فَقْدِ شَرْطٍ،كَطهَارةٍ ، وَسِتْرِ الْعَوْرَةِ….الخ

(١) حديث: ” الاثنان فما فوقهما جماعة. . . ” أخرجه ابن ماجه (١ / ٣١٢ – ط الحلبي) وقال الحافظ البوصيري في الزوائد: الربيع وولده ضعيفان.
(٢) حديث: ” صلى النبي صلى الله عليه وسلم بابن عباس وحده. . . “. أخرجه البخاري (٢ / ١٩٠- الفتح – ط السلفية) .
(٣) البدائع ١ / ١٥٦ والقليوبي ١ / ٢٢٠، وكشاف القناع ١ / ٤٥٣ وجواهر الإكليل ١ / ٧٦

والله أعلم بالصواب

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 242 : POSISI JEMARI TANGAN KETIKA RUKUK DAN SUJUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 242 :

وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ ) رَوَاهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Wail Ibnu Hujr Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila ruku’ merenggangkan jari-jarinya dan bila sujud merapatkan jari-jarinya. Diriwayatkan oleh Hakim.

MAKNA HADITS :

Rukuk mempunyai dua keadaan; keadaan mencukupi dan keadaan sempurna. Keadaan rukuk mencukupi ialah seseorang hendaklah membungkukkan tulang belakangnya dalam bentuk seperti busur. Keadaan rukuk sempurna ialah seseorang hendaklah menundukkan tulang belakangnya dan meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lutut sambil membuka jari-jari tangannya supaya dapat mencengkram kedua lutut untuk memastikan tulang belakang dengan kepalanya sejajar. Demikian pula ketika sujud dimana seseorang dikehendaki menekankan ketujuh anggota tubuhnya ke tanah sambil menghimpun jari-jari tangannya, karena cara inilah yang lebih sempurna.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membuka (merenggangkan) jari kedua tangan ketika rukuk dan menghimpun keduanya ketika sujud.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

N072. APA ITU ANAK SYUBHAT?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Apa itu anak syubhat? Kedengarannya aneh. Tolong jelaskan

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Anak syubhat adalah anak yang dihasilkan dari nikah syubhat. Apa itu nikah syubhat?

Syubhat artinya kerancuan dan ketidak jelasan. Disebut nikah syubhat, karena sejatinya nikah ini batal, namun diyakini sah oleh pelaku, karena ketidak tahuannya.

Syaikh Sholeh al-Azhari (w. 1335 H) memberikan pengertian nikah syubhat sebagai berikut,

وضابط نكاح الشبهة أن ينكح نكاحا فاسدا مجمعا على فساده، لكن يدرأ الحد كأن يتزوج بمعتدة أو خامسة أو ذات محرم غير عالم ويتلذذ بها أو يطأ امرأة يظنها زوجته فيحرم عليه أصل كل واحدة منهن وفرعها

Batasan nikah syubhat adalah seseorang menikah dengan pernikahan yang tidak sah, yang telah disepakati tidak sahnya, akan tetapi tidak ditegakkan (zina). Seperti menikahi wanita yang masih dalam masa ‘iddah, atau dengan wanita sebagai istri yang kelima, atau dengan wanita mahramnya, dalam kondisi dia TIDAK mengetahui hal tersebut, sementara dia telah bercumbu dengannya, atau dia melakukan hubungan dengan wanita yang dia sangka istrinya. Sehingga semua wanita tersebut haram bagi lelaki yang bersangkutan, termasuk selain hubungan badan.” (Ats-Tsamr Ad-Daani fi Tqriib al-Ma’aani, syarh Risaalah Ibni Abi Zaid Al-Qoyrowaani, Al-Azhari, hal 451)

Berdasarkan keterangan di atas, pernikahan digolongkan sebagai nikah syubhat, dengan beberapa syarat,

Terjadi akad nikahPernikahan dinilai batal dengan sepakat ulama, karena tidak memenuhi rukun dan syaratnya.Dilakukan karena tidak tahu, sehingga tidak ditegakkan hukuman perbuatan zinaKonsekuensi dari Nikah Syubhat

Dalam ensiklopedi fikih dinyatakan,

اتفق الفقهاء على وجوب العدة وثبوت النسب بالوطء في النكاح المختلف فيه بين المذاهب , كالنكاح بدون شهود , أو بدون ولي , وكنكاح المحرم بالحج , ونكاح الشغار

Ulama sepakat wajibnya menjalani menjalani iddah dan sahnya nasab karena hubungan badan setelah pernikahan yang statusnya diperselisihkan oleh berbagai madzhab. Seperti nikah tanpa saksi, atau tanpa wali, atau pernikahan yang dilakukan orang ihram ketika haji atau nikah syighar.

ويتفقون كذلك على وجوب العدة وثبوت النسب في النكاح المجمع على فساده بالوطء ، كنكاح المعتدة , وزوجة الغير ، والمحارم ، إذا كانت هناك شبهة تسقط الحد , بأن كان لا يعلم بالحرمة ; ولأن الأصل عند الفقهاء : أن كل نكاح يدرأ فيه الحد ، فالولد لاحق بالواطئ

Ulama juga sepakat wajibnya iddah dan sahnya nasab dari hasil pernikahan yang disepakati batalnya, seperti menikahi wanita di masa iddah, atau menikahi istri orang lain, atau menikahi mahram, jika di sana ada syubhat, yang menyebabkan gugurnya hukuman zina, yaitu dia tidak mengetahui haramnya pernikahan tersebut. Kaidah yang ditetapkan para ulama, bahwa semua pernikahan (yang batal) namun tidak berhak mendapatkan hukuman zina, maka anak dinisbatkan kepada bapak biologisnya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 8/123).

Syaikhul Islam pernah ditanya tentang hukum menikah tanpa wali dan saksi, apakah pernikahan sah?

Beliau memberikan jawaban dengan terlebih dahulu beliau jelaskan bahwa menikah tanpa wali dan saksi adalah penikahan yang batal. Selanjutnya beliau mengatakan,

لكن إن اعتقد هذا نكاحاً جائزا كان الوطء فيه وطء شبهة يلحق الولد فيه ويرث أباه

Namun jika pelaku meyakini bahwa nikah semacam ini sah, maka hubungan badan yang dilakukan statusnya hubungan badan karena syubhat. Anak yang dihasilkan dinasabkan kepada ayah biologisnya dan dia bisa mendapatkan warisan dari ayahnya. (al-Fatawa al-Kubro, 4/9).

Kemudian, as-Sarkhasi dalam al-Mabsuth menyatakan,

وقضى علي رضي الله عنه في الوطء بالشبهة بسقوط الحد ووجوب مهر المثل على الواطئ والعدة على الموطوءة

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memutuskan untuk hubungan badan yang terlarang karena tidak tahu, dengan digugurkannya hukuman had bagi pezina, dan wajibnya memberikan mahar standar bagi si lelaki dan wanita wajib menjalani masa iddah. (al-Mabsuth, 34/219).

Dari keterangan di atas, bisa kita simpulkan bahwa ketika terjadi nikah syubhat, konsekuensi yang terjadi,

Ikatan nikah dibubarkanSang wanita wajib menjalani masa iddah, 3 kali haidAnak tetap dinasabkan kepada ayah biologis, sebagaimana layaknya anak kandung.Si lelaki wajib memberikan mahar standar kepada wanita, menurut madzhab Hanafi.

Contoh kasus :

Nikah syubhat yang mungkin sering terjadi di sekitar kita adalah nikah tanpa wali yang sah. Misalnya, gadis dinikahkan oleh ayah angkatnya tanpa memberitahukan ayahnya, atau dinikahkan oleh saudaranya, sementara ayahnya masih ada. Kemudian mereka meyakini pernikahan ini sah dan hingga menghasilkan anak. Status anak ini digolongkan sebagai anak syubhat.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

J034. CARA MERAWAT MAYAT YANG SUDAH DI MUTILASI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana cara merawat jenazah yang dimutilasi (dibunuh lalu dipotong-potong badannya)?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Kewajiban kita masih tetap sama dengan janazah lainnya, mengkafani, mensholati dan menguburkannya hanya dalam masalah memandikan diganti dengan tayammum.

(وَيَلْزَمُ) عَلَى طِرِيْقِ فَرْضِ الْكِفَايَةِ (فِي الْمَيِّتِ)… الْمُسْلِمِ غَيْرِ الْمُحْرِمِ وَالشَّهِيْدِ (أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلاَةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ ) (قَوْلُهُ غُسْلُهُ) أَيْ أَوْ بَدُلُهُ وَهُوَ التَّيَمُّمُ كَمَا لَوْ حُرِقَ بِالنَّارِ وَكَانَ لَوْ غُسِلَ تَهَرَّى .

Dan wajib menurut secara fardlu kifayah pada mayat yang muslim selain orang yang mati dalam keadaan ihram dan mati syahid (dalam pertempuran membela agama) empat perkara, yaitu: memandikannya, mengkafaninya, melakukan shalat atasnya dan menguburnya. Ucapan pengarang: memandikannya, artinya atau penggantinya, yaitu tayammum, sebagaimana andaikata mayat yang terbakar oleh api dan andaikata dimandikan maka dagingnya terlepas dari tubuhnya. [ Al Bajuri 1/ 242 – 243 ].

وَإِنْ كان بِحَيْثُ لو غُسِّلَ تَهَرَّى لِحَرْقٍ أو نَحْوِهِ يُمِّمَ بَدَلَ الْغُسْلِ لِعُسْرِهِ

“Apabila janazah dalam keadaan rusak karena terbakar atau lainnya yang andai di mandikan kulitnya akan terkelupas maka janazah tersebut ditayammumi sebagai pengganti dari mandi karena sulitnya melaksanakan pemandian”. [ Asna alMathoolib I/305 ].

Dalam kasus mutilasi apakah potongan tubuh yang ditemukan di kemudian hari, wajib dimandikan & dikubur jadi satu dengan potongan tubuh yang lainya ? Wajib kang, tapi nggak usah menggali potongan yang telah dikubur.

وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ مُسْلِمٍ غَيْرِ شَهِيدٍ صُلِّيَ عَلَيْهِ بَعْدَ غُسْلِهِ وَسُتِرَ بِخِرْقَةٍ وَدُفِنَ كَالْمَيِّتِ الْحَاضِرِ ، وَإِنْ… كَانَ الْجُزْءُ ظُفْرًا أَوْ شَعْرًا لَكِنْ لَا يُصَلَّى عَلَى الشَّعْرَةِ الْوَاحِدَةِ

قَوْلُهُ : ( وَلَوْ وُجِدَ جُزْءُ مَيِّتٍ ) أَيْ تَحَقَّقَ انْفِصَالُهُ مِنْهُ حَالَ مَوْتِهِ أَوْ فِي حَيَاتِهِ وَمَاتَ عَقِبَهُ فَخَرَجَ الْمُنْفَصِلُ مِنْ حَيٍّ وَلَمْ يَمُتْ عَقِبَهُ إذَا وُجِدَ بَعْدَ مَوْتِهِ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ ، وَيُسَنُّ مُوَارَاتُهُ بِخِرْقَةٍ وَدَفْنُهُ .اهـ .

Bila diketemukan bagian dari janazah orang muslim maka wajib di sholati setelah terlebih dahulu dimandikan dan dibungkus dengan kain, dan juga dikuburkan selayaknya janazah yang hadir, meskipun bagian tersebut hanyalah kuku atau rambut hanya saja bila hanya sehelai rambut tidak perlu disholati.

(Perkataan pengarang “Bila di ketemukan bagian dari janazah orang muslim”) dengan syarat bila diketahui pasti anggota tersebut milik mayit saat ia sudah mati/saat matinya, atau saat hidupnya kemudian mati setelahnya, berbeda dengan bagian tubuh yang terpisah dari orang hidup namun ia tidak mati setelah anggautanya terpisah dan baru diketemukan saat ia mati maka tidak wajib disholati”. [ Hasyiyah Bujairomi VI/98, I/455 ].

Wallaahu A’lamu bis showaab..

Kategori
Uncategorized

N071. HUKUM IJAB QABUL HANYA DENGAN LAFADZ “QOBILTU NIKAHAN”

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Lansung saya bertanya:
Sahkah dalam akad nikah, jika si Cantin (calon pengantin laki-laki) dalam qabul hanya mengatakan kalimat “قبلت نكاحا ”
Contoh :

Wali bilang :

انكحتك وزوجتك بنتي عاءشۃ بمهر منك خمسماءۃ الاف روبيۃ

saya nikahkan kamu dan saya kawinkan kamu kepada putriku yang bernama ‘Aisyah. dengan maskawin dari kamu 500 ribu rupiah.
Lalu calon mempelai laki-laki menjawab :

قبلت نكاحا

(saya terima nikah),
Apakah aqad nikahnya sah?

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Menurut QAUL AZHAR tidak sah. Namun ada yang mengatakan sah. Dalam kitab Raudhah, Imam Nawawi menjelaskan:

فرع  إذا قال : زوجتكها ، فليقل : قبلت نكاحها أو تزويجها ، أو قبلت هذا النكاح ، فإن اقتصر على قبلت ، لم ينعقد على الأظهر . وقيل : قطعا . وقيل : ينعقد قطعا

Imam Haramain dalam kitab Nihayah halaman 196 menerangkan :

فإن قال: “قبلت” واقتصر على ذلك، فقد اختلف أصحابنا في المسألة: فمنهم من قال: لا ينعقد النكاح؛ فإن المجيب لم يذكر لفظ النكاح في قبوله، ولم يضف القبول إلى المرأة أيضاًً، والنكاح يتطرق إليه الاعتناء باللفظ، كما سبق تقريره.  ومنهم من قال: يصح؛ فإن الجواب يترتب على الخطاب، حتى كأن الخطاب في حكم المعاد في الجواب.

Sementara Imam Syirbini dalam kitab Mughni menjelaskan bahwa ‘ALAL MADZHAB tidak sah. Dan dalam satu QAUL sah.

ولو قال ‘ الولي ‘ زوجتك ‘ الخ ‘ فقال ‘ الزوج ‘ قبلت ‘ واقتصر عليه ‘ لم ينعقد ‘ هذا النكاح ‘ على المذهب ‘ لأنه لم يوجد منه التصريح بواحد من لفظي النكاح والتزويج ونيته لا تفيد.

وفي قول ينعقد بذلك لأنه ينصرف إلى ما أوجبه الولي فإنه كالمعاد لفظا كما هو الأصح في نظيره من البيع وفرق الأول بأن القبول وإن انصرف إلى ما أوجل البائع إلا أنه من قبيل الكنايات والنكاح لا ينعقد بها بخلاف البيع.  وقيل بالمنع قطعا وقيل بالصحة قطعا.

Keterangan dari Fathul mu’in :

( وقبول متصل به ) أي بالإيجاب من الزوج وهو ( كتزوجتها أو نكحتها ) فلا بد من دال عليها من نحو اسم أو ضمير أو إشارة ( أو قبلت أو رضيت ) على الأصح خلافا للسبكي لا فعلت ( نكاحها ) أو تزويجها أو قبلت النكاح أو التزويج على المعتمد  لا قبلت ولاقبلتهامطلقا أي المنكوحة ولا قبلته أي النكاح والأولى في القبول قبلت نكاحها لأنه القبول الحقيقي  (3/275

Qobul yang sambung dengan ijab dari suami seperti ” zawwajtuha atau nakahtuha ” maka harus ada suatu yang menunjukkan calon istri seperti nama, dlomir atau isyaroh, berbeda dengan imam assubqi, bukan lafadzfa’aaltu nikahaha, atau tazwijaha, nikah, attazwij menurut yang mu’tamad, tidak sah qobiltu doang ( قبلت ). Juga tidak sah qobiltuha ( قبلتها ) scr mutlaq, jug qobiltuhu ( قبلته ) yang paling siiip dalam qobul yaitu qobiltu nikahaha (نكاحها ) karena ini qobul yang sebenarnya.

اعانة الطالبين  وقوله مطلقا انظر ما في معنى الاطلاق في كلامه ؟ وفي التحفة بعد قوله ولا قبلته زيادة في مسئلة المتوسط . فيكون المراد بالاطلاق في عبارة التحفة انه لا فرق بين مسئلة المتوسط وغيرها في قبلت وقبلتها  فيعلم منها تفسير الاطلاق في عبارتنا بما ذكر ونصها لاقبلتها مطلقا ولا قبلتها في مسئلة المتوسط علي ما في الروضة لكن ردوه ولايشترط فيها ايضا تخاطب

 

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 240 : CARA SUJUD BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 240 :

وَعَنْ اِبْنِ بُحَيْنَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبِطَيْهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Buhainah bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila sholat dan sujud merenggangkan kedua tangannya sehingga tampak putih kedua ketiaknya. Muttafaq Alaihi.

HADITS KE 241 :

وَعَنْ اَلْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari al-Barra Ibnu ‘Azib Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila engkau sujud letakkanlah kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua siku-sikumu.” Diriwayatkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Sujud merupakan salah satu rukun sholat dan seseorang mestilah menekan anggota-anggotanya ke atas lantai untuk memastikan sujud yang dilakukannya sempurna. Ini tidak dapat dilakukan dengan sempurna melainkan apabila seseorang merenggangkan kedua tangannya hingga tidak melekat pada kedua sisi lambungnya. Sedangkan wanita ketika sujud tidak dituntut untuk berbuat demikian karena dikawatiri kecantikannya terlihat.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan menjarakkan kedua lengan dengan kedua sisi lambung ketika bersujud supaya setiap anggota sujud berada pada tempatnya dengan rapi.

2. Tidak boleh meletakkan kedua hasta (lengan) di atas tanah ketika sedang sujud, agar tidak seperti haiwan buas yang sedang mendekam.

3. Menjelaskan cara sujud yang disyariatkan dengan meletakkan kedua telapak tangan di atas tanah dan mengangkat kedua siku dari tanah, tidak melekatkannya di atas tanah. Hikmahnya adalah cara ini lebih memantapkan lagi kening dan hidung melekat ke tanah di samping menonjolkan gaya tawadhu’ (rendah diri) dan menjauhi kebiasaan pemalas. Ini karena seseorang yang melekatkan kedua sikunya ke tanah mirip dengan hewan buas sekaligus memberikan satu pemahaman tentang keadaan orang yang gegabah dalam sholat dan tidak menghadap dengan sepenuh hatinya. Ketentuan ini hanya berlaku bagi lelaki, sedangkan wanita tidak perlu berbuat demikian kerana berlandaskan kepada hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah (s.a.w) pada suatu hari berjumpa dengan dua orang wanita yang sedang sholat lalu baginda bersabda kepada keduanya:

إذا سجدتما فضمَّا بعض اللحم إلى الأرض ؛ فإن المرأة ليست في ذلك كالرجل

“Jika kamu berdua sujud, maka rapatkan sebagian anggota tubuhmu ke tanah, karena sesungguhnya wanita dalam masalah ini tidak sama seperti laki-laki.”

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 239 : ANGGOTA SUJUD

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

BAB TATACARA PELAKSANAAN SHOLAT

HADITS KE 239 :

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ : عَلَى اَلْجَبْهَةِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ – وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ اَلْقَدَمَيْنِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Aku diperintahkan untuk bersujud di atas tujuh tulang pada dahi. Beliau menunjuk dengan tangannya pada hidungnya kedua tangan kedua lutut dan ujung-ujung jari kedua kaki.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADITS :

Memandang tujuan sujud dengan kening adalah sebagai ungkapan kehinaan dan tunduk kepada Allah, sedangkan hidung tidak dapat menggantikan peranan kening untuk mengungkapkan hal tersebut, maka sujud mesti dilakukan pada kening. Oleh karena sukar membuktikan yang Nabi (s.a.w) sujud di atas keningnya, maka isyarat Rasulullah (s.a.w) yang ditujukan ke hidungnya jika memberikan pemahaman bahwa hidung mesti menyentuh lantai ketika sujud, maka itu tidak bererti hidung dan kening merupakan satu kesatuan di mana sujud sudah mencukupi dengan menyentuhkan salah satu darinya ke lantai.

FIQH HADITS :

1. Wajib sujud di atas tujuh anggota tersebut. Imam al-Syafi‟i dan Imam Ahmad berkata: “Wajib sujud di atas sebagian anggota yang tujuh itu.” Mazhab Maliki dan mazhab Hanafi mengatakan, wajib sujud di atas kening, dan sujud di atas anggota yang selainnya hanyalah sunat.

2. Disyariatkan sujud di atas kening dan hidung. Imam Ahmad mengatakan wajib menggabungkan di antara keduanya. Untuk itu, seandainya seseorang sujud hanya dengan salah satu darinya, maka tidak mencukupi. Imam Abu Hanifah berkata: “Jika seseorang sujud dengan salah satu di antara kedua sujudnya, maka itu dianggap mencukupi, tetapi makruh.” Imam Malik dan Imam al-Syafii berkata: “Apa yang diwajibkan ketika sujud ialah meletakkan kening,
sedangkan sujud di atas hidung hukumnya sunat.” Menurut Imam Malik lagi, seseorang hendak mengulangi sujud jika tidak sujud di atas hidungnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..