logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 37 : DISYARIATKAN MENGHADAP KHOTIB KETIKA KHUTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 37 :

وَعَنْ عَبْدِ الله بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ, بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ.

وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ الْبَرَاءِ عِنْدَ اِبْنِ خُزَيْمَة َ

Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam apabila telah duduk di atas Mimbar, maka beliau berhadapan dengan muka kami. Riwayat Tirmidzi dengan sanad lemah.

Menurut Ibnu Khuzaimah hadits tersebut mempunyai saksi dari hadits Bara’.

MAKNA HADITS :

Para jamaah yang mendengarkan khutbah pada dasarnya dianjurkan untuk
menghadapkan muka ke arah khatib sehingga dia pun dapat mengarahkan
khutbahnya kepada mereka. Adalah tidak mungkin khutbah disampaikan
sedangkan mereka memalingkan muka atau membelakangi khatib. Menghadapkan
muka ke arah khatib merupakan perkara yang senantiasa dilakukan oleh para sahabat
dan oleh karenanya, ia pun dianggap sebagai satu ijmak.

FIQH HADITS :

Kaum muslimin yang menghadiri sholat Jum’at disyariatkan menghadapkan
muka mereka ke arah khatib. Seandainya mereka memalingkan muka ke arah lain,
siapa yang menjadi sasaran khutbah?

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 35-36 : HAL-HAL YANG TIDAK DIWAJIBKAN SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 35 :

وَعَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ; أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: مَمْلُوكٌ, وَاِمْرَأَةٌ, وَصَبِيٌّ, وَمَرِيضٌ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَقَالَ: لَمْ يَسْمَعْ طَارِقٌ مِنَ النَّبِيِّ . وَأَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ مِنْ رِوَايَةِ طَارِقٍ الْمَذْكُورِ عَنْ أَبِي مُوسَى

Dari Thariq Ibnu Syihab bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat Jum’at itu hak yang wajib bagi setiap Muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang, yaitu: budak, wanita, anak kecil, dan orang yang sakit.” Riwayat Abu Dawud. Dia berkata: Thoriq tidak mendengarnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam Dikeluarkan oleh Hakim dari riwayat Thariq dari Abu Musa.

HADITS KE 36 :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم ( لَيْسَ عَلَى مُسَافِرٍ جُمُعَةٌ ) رَوَاهُ الطَّبرَانِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang yang bepergian itu tidak wajib sholat Jum’at.” Riwayat Thabrani dengan sanad lemah.

MAKNA HADITS :

Islam senantiasa mengambil berat kemaslahatan umat manusia ketika menetapkan sebuah hukum syariat tanpa memuatkan unsur yang akan memudharatkan
mereka apabila mereka berhalangan sehingga tidak dapat menunaikan kewajiban
tersebut. Halangan tersebut ada kalanya bersifat pribadi atau bersifat mendatang. Anak-anak yang belum mencapai batas usia baligh tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at. Wanita selalu sibuk dengan urusan rumah tangga dan mengasuh anaknya di samping dikawatiri menimbulkan fitnah apabila keluar rumah dan oleh karenanya, dia tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at.

Seorang yang musafir tidak wajib mengerjakan sholat Jum’at, karena fikirannya sibuk dengan perjalanannya sehingga diapun turut memperoleh keringanan untuk tidak mengerjakan kewajiban ini. Orang yang sedang sakit tidak mampu menghadiri sholat Jum’at dan oleh karenanya, dia tidak wajib mengerjakan sholat Jum’at dan tidak berdosa apabila tidak menghadirinya. Hamba sahaya
mempunyai kewajiban melayan majikannya, sehingga sholat Jum’at pun tidak diwajibkan ke atasnya.

Ketika haji wada’, Nabi (s.a.w) tidak mengerjakan sholat Jum’at di Arafah karena baginda sedang dalam keadaan bermusafir. Dengan demikian, jelaslah kemudahan hukum-hukum Islam.

FIQH HADITS :

Sholat Jum’at adalah fardu ain bagi setiap orang mukmin selain hamba sahaya, karena jika itu diwajibkan ke atasnya maka keadaan ini boleh meninggalkan banyak pekerjaan dan tugas majikannya. Begitu juga, jika majikannya membenarkannya untuk turut hadir mengerjakan sholat Jum’at, maka dia dibolehkan menghadirinya dan sholat Jum’atnya itu tetap dianggap sah. Wanita tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at karena dia sibuk dengan segala pekerjaan rumah tangga. Anak-anak juga tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at karena dia masih belum diwajibkan mengerjakan sholat, apalagi sholat Jum’at. Begitu juga orang sakit tidak wajib menghadirinya karena sakit yang dialaminya. Orang yang sedang
musafir pun tidak diwajibkan mengerjakan sholat Jum’at karena fikirannya senantiasa disibukkan oleh urusan perjalanannya dan diselimuti oleh perasaan kawatir ditinggal oleh rombongannya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S064 : MENDAHULUKAN SHALAT QODHO’AN DARI ADA’AN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Deskripsi masalah:
Ada seseorang yang meninggalkan salat fardu krn tanpa disengaja/disengaja tentu salatnya perlu diqodo’.

Pertanyaannya:
Mana yang harus diutamakan antara salat ada’an dan qodo’an?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

Dahulukan qodo’an apabila waktu shalat ada’an masih panjang.

Perinciannya sebagaimana yang akan diuraikan berikut ini :

(1). Wajib mengqodo’ terhadap sholat qodo’, jika sholat qodo’ itu tidak dikerjakan karena tanpa udzur.

(2). Dan disunnatkan mengqodo’ terhadap sholat qodo’ jika sholat qodo’ itu tidak dikerjakan karena udzur,seperti karena tidur yang tidak disengaja,dan juga jika sholat qodo’ itu tidak dikerjakan karena lupa maka disunnatkan segera mengqodho’ terhadap sholat qodo’ itu.

(3). Dan disunnatkan mentartibkan didalam mengqodho’ terhadap sholat qodo’.Sehingga orang itu disunnatkan mengqodo’ terhadap sholat subuh sebelum sholat duhur.

(4). Dan disunnatkan mendahulukan mengqodho’ sholat qodo’ yang tidak dikerjakan disebabkan karena udzur dulu,baru kemudian mengerjakan terhadap sholat ada’an.Tapi dengan syarat jika tidak dikhawatirkan tidak dikerjakannya sholat ada’an.Walaupun dikhawatirkan hilangnya kesempatan untuk mengerjakan sholat berjamaah terhadap sholat ada’an.

(5). Tapi jika sholat qodo’ itu tidak dikerjakan karena tanpa udzur,maka wajib mendahulukan sholat qodo’ atas sholat ada’an.

(6). Adapun jika orang itu khawatir terhadap tidak dikerjakannya sholat ada’an (artinya jika sebagian dari sholat ada’an itu khawatir dikerjakan diluar waktunya sholat ada’an itu)maka wajib bagi orang itu memulai dengan sholat ada’an.

(7). Dan wajib mendahulukan sholat yang tidak dikerjakan karena tanpa udzur (didahulukan)atas sholat yang tidak dikerjakan karena udzur.

(8). Dan disunnatkan mengakhirkan sholat sunnat rowaatib(diakhirkan)dari sholat qodo’ (yang tidak dikerjakan karena udzur).

(9). Dan wajib mengakhirkan sholat sunnat rowatib(diakhirkan)dari sholat qodo’ yang tidak dikerjakan karena tanpa udzur.

(اعانة الطالبين،جز ١, صحيفة ٢٣)

(ويبادر) من مر(بفاءت) وجوبا ان فات بلا عذر فيلزمه القضاء فورا، قال شيخنا احمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر انه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه، وانه يحرم عليه التطوع،انتهى، ويبادر ندبا ان فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك(ويسن ترتيبه) اي الفاءت فيقضي الصبح قبل الظهر وهكذا (وتقديمه على حاضرة لا يخاف فوتها) ان فات بعذر وان خشي فوت جماعتها على المعتمد، واذا فات بلا عذر فيجب تقديمه عليها،اما اذا خاف فوت الحاضرة باءن يقع بعضها وان قل خارج الوقت فيلزمه البدء بها،ويجب تقديم ما فات بغير عذر على ما فات بعذر وان فقد الترتيب لاءنه سنة والبدار واجب، ويندب تأخير الرواتب عن الفواءت بعذر، ويجب تأخيرها عن الفواءت بغير عذر.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 34 : MEMBACA AL-QUR’AN KETIKA KHOTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 34 :

وَعَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ ا عَنْهُمَا ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ فِي الْخُطْبَةِ يَقْرَأُ آيَاتٍ مِنَ الْقُرْآنِ, وَيُذَكِّرُ النَّاسَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُد َ. وَأَصْلُهُ فِي مُسْلِم ٍ

Dari Jabir Ibnu Samurah bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pada saat khutbah membaca ayat-ayat Qur’an untuk memberi peringatan kepada orang-orang. Riwayat Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Membaca satu ayat Al-Qur’an pada salah satu dari dua khutbah Jum’at merupakan salah satu rukun khutbah. Inilah pendapat Imam al-Syafii, sedangkan menurut ulama yang lainnya, ia hanyalah sunat. Rasulullah (s.a.w) senantiasa membaca ayat-ayat Al-Qur’an diwaktu menyampaikan khutbah untuk tujuan mengingatkan umat manusia, karena Al-Qur’an merupakan nasehat yang paling baik.

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca ayat al-Qur’an ketika khutbah untuk mengingatkan dan menganjurkan umat manusia beramal kebaikan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 33 : ANJURAN BERDO’A KETIKA KHOTBAH

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 33 :

عن سمرة بن جندب أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يستغفر للمؤمنين والمؤمنات كل جمعة رواه البزار بإسناد لين

Dari Samurah ibn Jundub (r.a) bahwa Nabi (s.a.w) selalu memohonkan ampunan bagi kaum mukminin lelaki dan perempuan setiap Jum’at. (Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad berkedudukan lemah)

MAKNA HADITS :

Khatib disunatkan berdo’a untuk dirinya sendiri dan memohonkan ampunan bagi kaum mukminin lelaki dan perempuan, karena khutbah merupakan waktu yang tepat supaya do’a-do’a dikabulkan oleh-Nya.

FIQH HADITS :

Disyariatkan berdo’a dan memintakan ampun bagi kaum mukminin lelaki dan perempuan.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

P010. HUKUM PUASA RAJAB

Bulan ini kita telah memasuki dalam bulan Rajab. Tidak sedikit kaum Muslimin di Indonesia, yang mentradisikan puasa Sunnah ketika memasuki bulan-bulan mulia seperti bulan Rajab. Persoalannya, setelah merebaknya aliran Salafi-Wahabi di Indonesia, beragam tradisi ibadah dan keagamaan yang telah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara, seperti puasa Sunnah di bulan Rajab selalu dipersoalkan oleh mereka dengan alasan bid’ah, haditsnya palsu dan alasan-alasan lainnya. Seakan-akan mereka ingin menghalangi umat Islam dari mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beribadah puasa. Oleh karena itu tulisan ini, berupaya menjernihkan hukum puasa Rajab berdasarkan pandangan para ulama yang otoritatif.

Hukum Puasa Rajab

Para ulama’ berbeda pendapat tentang hukum puasa Rajab.

Pertama, mayoritas ulama’ dari kalangan Madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa puasa Rajab hukumnya Sunnah selama 30 hari. Pendapat ini juga menjadi qaul dalam Madzhab Hanbali.

Kedua, para ulama’ Madzhab Hanbali berpendapat bahwa berpuasa Rajab secara penuh (30 hari) hukumnya makruh apabila tidak disertai dengan puasa pada bulan-bulan yang lainnya. Kemakruhan ini akan menjadi hilang apabila tidak berpuasa dalam satu atau dua hari dalam bulan Rajab tersebut, atau dengan berpuasa pada bulan yang lain. Para ulama Madzhab Hanbali juga berbeda pendapat tentang menentukan bulan-bulan haram dengan puasa. Mayoritas mereka menghukumi Sunnah, sementara sebagian lainnya tidak menjelaskan kesunnahannya.

Berikut pernyataan para Ulama’ Madzhab 4 (empat) tentang puasa Rajab.

Madzhab Hanafi

Dalam al-Fatawa al-Hindiyyah (1/202) disebutkan:

في الفتاوي الهندية 1/202 : ( المرغوبات من الصيام أنواع ) أولها صوم المحرم والثاني صوم رجب والثالث صوم شعبان وصوم عاشوراء ) اه

“Macam-macam puasa yang disunnahkan adalah banyak macamnya. Pertama, puasa bulan Muharram, kedua puasa bulan Rajab, ketiga, puasa bulan Sya’ban dan hari Asyura.”

Madzhab Maliki

Dalam kitab Syarh al-Kharsyi ‘ala Mukhtashar Khalil(2/241), ketika menjelaskan puasa yang disunnahkan, al-Kharsyi berkata:

(والمحرم ورجب وشعبان)يعني : أنه يستحب صوم شهر المحرم وهو أول الشهور الحرم , ورجب وهو الشهر الفرد عن الأشهر الحرم) اه وفي الحاشية عليه: (قوله: ورجب) , بل يندب صوم بقية الحرم الأربعة وأفضلها المحرم فرجب فذو القعدة فالحجة) اهـ

“Muharram, Rajab dan Sya’ban. Yakni, disunnahkan berpuasa pada bulan Muharram – bulan haram pertama -, dan Rajab – bulan haram yang menyendiri.” Dalam catatan pinggirnya: “Maksud perkataan pengaram, bulan Rajab, bahkan disunnahkan berpuasa pada semua bulan-bulan haram yang empat, yang paling utama bulan Muharram, lalu Rajab, lalu Dzul Qa’dah, lalu Dzul Hijjah.”

Pernyataan serupa bisa dilihat pula dalam kitab al-Fawakih al-Dawani (2/272), Kifayah al-Thalib al-Rabbani (2/407), Syarh al-Dardir ‘ala Khalil (1/513) dan al-Taj wa al-Iklil (3/220).

Madzhab Syafi’i

Imam al-Nawawi berkata dalam Kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439),

قال الإمام النووي في المجموع 6/439: (قال أصحابنا: ومن الصوم المستحب صوم الأشهر الحرم , وهي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب , وأفضلها المحرم , قال الروياني في البحر : أفضلها رجب , وهذا غلط ; لحديث أبي هريرة الذي سنذكره إن شاء الله تعالى أفضل الصوم بعد رمضان شهر الله المحرم) اه

“Teman-teman kami (para ulama madzhab Syafi’i) berkata: “Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, dan yang paling utama adalah Muharram. Al-Ruyani berkata dalam al-Bahr: “Yang paling utama adalah bulan Rajab”. Pendapat al-Ruyani ini keliru, karena hadits Abu Hurairah yang akan kami sebutkan berikut ini insya Allah (“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.”)”.

Pernyataan serupa dapat dilihat pula dalam Asna al-Mathalib (1/433), Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (2/53), Mughni al-Muhtaj (2/187), Nihayah al-Muhtaj (3/211) dan lain-lain.

Madzhab Hanbali

Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata dalam kitab al-Mughni (3/53):

قال ابن قدامة في المغني 3/53 : (فصل: ويكره إفراد رجب بالصوم. قال أحمد:وإن صامه رجل, أفطر فيه يوما أو أياما, بقدر ما لا يصومه كله … قال أحمد : من كان يصوم السنة صامه, وإلا فلا يصومه متواليا, يفطر فيه ولا يشبهه برمضان ) اه

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah puasa. Ahmad bin Hanbal berkata: “Apabila seseorang berpuasa Rajab, maka berbukalah dalam satu hari atau beberapa hari, sekiranya tidak berpuasa penuh satu bulan.” Ahmad bin Hanbal juga berkata: “Orang yang berpuasa satu tahun penuh, maka berpuasalah pula di bulan Rajab. Kalau tidak berpuasa penuh, maka janganlah berpuasa Rajab terus menerus, ia berbuka di dalamnya dan jangan menyerupakannya dengan bulan Ramadhan.”

Ibnu Muflih berkata dalam kitab al-Furu’ (3/118):

وفي الفروع لابن مفلح 3/118: (فصل): يكره إفراد رجب بالصوم نقل حنبل: يكره, ورواه عن عمر وابنه وأبي بكرة, قال أحمد: يروى فيه عن عمر أنه كان يضرب على صومه, وابن عباس قال : يصومه إلا يوما أو أياما … وتزول الكراهة بالفطر أو بصوم شهر آخر من السنة , قال صاحب المحرر: وإن لم يله .

“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa. Hanbal mengutip: “Makruh, dan meriwayatkan dari Umar, Ibnu Umar dan Abu Bakrah.” Ahmad berkata: “Memuku seseorang karena berpuasa Rajab”. Ibnu Abbas berkata: “Sunnah berpuasa Rajab, kecuali satu hari atau beberapa hari yang tidak berpuasa.” Kemakruhan puasa Rajab bisa hilang dengan berbuka (satu hari atau beberapa hari), atau dengan berpuasa pada bulan yang lain dalam tahun yang sama. Pengarang al-Muharrar berkata: “Meskipun bulan tersebut tidak bergandengan.”

DALIL PUASA RAJAB

Dalil Mayoritas Ulama’

Mayoritas ulama’ yang berpandangan bahwa puasa Rajab hukumnya Sunnah sebulan penuh, berdalil dengan beberapa banyak hadits dan atsar. Dalil-dalil tersebut dapat diklasifikasi menjadi :

Pertama, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan puasa Sunnah secara mutlak. Dalam konteks ini, al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah (2/53) dan fatwa beliau mengutip dari fatwa al-Imam Izzuddin bin Abdussalam (hal. 119):

قال ابن حجر كما في الفتاوى الفقهية الكبرى 2/53: (ويوافقه إفتاء العز بن عبد السلام فإنه سئل عما نقل عن بعض المحدثين من منع صوم رجب وتعظيم حرمته وهل يصح نذر صوم جميعه فقال في جوابه :نذر صومه صحيح لازم يتقرب إلى الله تعالى بمثله والذي نهى عن صومه جاهل بمأخذ أحكام الشرع وكيف يكون منهيا عنه مع أن العلماء الذين دونوا الشريعة لم يذكر أحد منهم اندراجه فيما يكره صومه بل يكون صومه قربة إلى الله تعالى لما جاء في الأحاديث الصحيحة من الترغيب في الصوم مثل : قوله صلى الله عليه وسلم {يقول الله كل عمل ابن آدم له إلا الصوم} وقوله صلى الله عليه وسلم {لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك} وقوله {إن أفضل الصيام صيام أخي داود كان يصوم يوما ويفطر يوما} وكان داود يصوم من غير تقييد بما عدا رجبا من الشهور) اهـ

“Ibnu Hajar, (dan sebelumnya Imam Izzuddin bin Abdissalam ditanya pula), tentang riwayat dari sebagian ahli hadits yang melarang puasa Rajab dan mengagungkan kemuliaannya, dan apakah berpuasa satu bulan penuh di bulan Rajab sah? Beliau berkata dalam jawabannya: “Nadzar puasa Rajab hukumnya sah dan wajib, dan dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukannya. Orang yang melarang puasa Rajab adalah orang bodoh dengan pengambilan hukum-hukum syara’. Bagaimana mungkin puasa Rajab dilarang, sedangkan para ulama yang membukukan syariat, tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan masuknya bulan Rajab dalam bulan yang makruh dipuasai. Bahkan berpuasa Rajab termasuk qurbah (ibadah sunnah yang dapat mendekatkan) kepada Allah, karena apa yang datang dalam hadits-hadits shahih yang menganjurkan berpuasa seperti sabda Nabi SAW: “Allah berfirman, semua amal ibadah anak Adam akan kembali kepadanya kecuali puasa”, dan sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum menurut Allah dari pada minyak kasturi”, dan sabda Nabi SAW: “Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasa saudaraku Dawud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari.” Nabi Dawud AS berpuasa tanpa dibatasi oleh bulan misalnya selain bula Rajab.”

Al-Syaukani berkata dalam Nail al-Authar (4/291):

وقال الشوكاني في نيل الأوطار 4/291: (وقد ورد ما يدل على مشروعية صومه على العموم والخصوص : أما العموم : فالأحاديث الواردة في الترغيب في صوم الأشهر الحرم وهو منها بالإجماع . وكذلك الأحاديث الواردة في مشروعية مطلق الصوم … )اهـ

“Telah datang dalil yang menunjukkan pada disyariatkannya puasa Rajab, secara umum dan khusus. Adapun hadits yang bersifat umum, adalah hadits-hadits yang datang menganjurkan puasa pada bulan-bulan haram. Sedangkan Rajab termasuk bulan haram berdasarkan ijma’ ulama. Demikian pula hadits-hadits yang datang tentang disyariatkannya puasa sunnat secara mutlak.”

Kedua, hadits-hadits yang menganjurkan puasa bulan-bulan haram, antara lain hadits Mujibah al-Bahiliyah. Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam al-Sunan(2/322) sebagai berikut ini:

عن مجيبة الباهلية عن أبيها أو عمها أنه:أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم انطلق فأتاه بعد سنة وقد تغيرت حالته وهيئته فقال يا رسول الله أما تعرفني قال ومن أنت قال أنا الباهلي الذي جئتك عام الأول قال فما غيرك وقد كنت حسن الهيئة قال ما أكلت طعاما إلا بليل منذ فارقتك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لم عذبت نفسك ثم قال صم شهر الصبر ويوما من كل شهر قال زدني فإن بي قوة قال صم يومين قال زدني قال صم ثلاثة أيام قال زدني قال صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك صم من الحرم واترك وقال بأصابعه الثلاثة فضمها ثم أرسلها)

Dari Mujibah al-Bahiliyah, dari ayah atau pamannya, bahwa ia mendatangi Rasulullah SAW kemudian pergi. Lalu datang lagi pada tahun berikutnya, sedangkan kondisi fisiknya telah berubah. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau masih mengenalku?” Beliau bertanya: “Kamu siapa?” Ia menjawab: “Aku dari suku Bahili, yang datang tahun sebelumnya.” Nabi SAW bertanya: “Kondisi fisik mu kok berubah, dulu fisikmu bagus sekali?” Ia menjawab: “Aku tidak makan kecuali malam hari sejak meninggalkanmu.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa kamu menyiksa diri?” Lalu berliau bersabda: “Berpuasalah di bulan Ramadhan dan satu hari dalam setiap bulan.” Ia menjawab: “Tambahlah kepadaku, karena aku masih mampu.” Beliau menjawab: “Berpuasalah dua hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah, aku masih kuat.” Nabi SAW menjawab: “Berpuasalah tiga hari dalam sebulan.” Ia berkata: “Tambahlah.” Nabi SAW menjawab: “Berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah, berpuasalah di bulan haram dan tinggalkanlah.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Mengomentari hadits tersebut, Imam al-Nawawi berkata dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab(6/439): “Nabi SAW menyuruh laki-laki tersebut berpuasa sebagian dalam bulan-bulan haram tersebut dan meninggalkan puasa di sebagian yang lain, karena berpuasa bagi laki-laki Bahili tersebut memberatkan fisiknya. Adapuan bagi orang yang tidak memberatkan, maka berpuasa satu bulan penuh di bulan-bulan haram adalah keutamaan.” Komentar yang sama juga dikemukakan oleh Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari dalam Asna al-Mathalib (1/433) dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa-nya (2/53).

Ketiga, hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan bulan Rajab secara khusus. Hadits-hadits tersebut meskipun derajatnya dha’if, akan tetapi masih diamalkan dalam bab fadhail al-a’mal, seperti ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa-nya (2/53).

Di antara hadits yang menjelaskan keutamaan puasa Rajab secara khusus adalah hadits Usamah bin Zaid berikut ini:

في سنن النسائي 4/201: ( عن أسامة بن زيد قال قلت: يا رسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ما تصوم من شعبان قال ذلك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ) اهـ

“Dalam Sunan al-Nasa’i (4/201): Dari Usamah bin Zaid, berkata: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa dalam bulan-bulan yang ada seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban?” Beliau menjawab: “Bulan Sya’ban itu bulan yang dilupakan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan.”

Mengomentari hadits tersebut, Imam al-Syaukani berkata dalam kitabnya Nail al-Authar (4/291): “Hadits Usamah di atas, jelasnya menunjukkan disunnahkannya puasa Rajab. Karena yang tampak dari hadits tersebut, kaum Muslimin pada masa Nabi SAW melalaikan untuk mengagungkan bulan Sya’ban dengan berpuasa, sebagaimana mereka mengagungkan Ramadhan dan Rajab dengan berpuasa.”

Keempat, atsar dari ulama’ salaf yang saleh. Terdapat beberapa riwayat yang menyatakan bahwa beberapa ulama salaf yang saleh menunaikan ibadah puasa Rajab, seperti Hasan al-Bashri, Abdullah bin Umar dan lain-lain. Hal ini bisa dilihat dalam kitab-kitab hadits seperti Mushannaf Ibn Abi Syaibah dan lain-lain.

Dalil Madzhab Hanbali

Sebagaimana dimaklumi, madzhab Hanbali berpendapat bahwa mengkhususkan puasa Rajab secara penuh dengan ibadah puasa adalah makruh. Akan tetapi kemakruhan puasa Rajab ini bisa hilang dengan dua cara, pertama, meninggalkan sehari atau lebih dalam bulan Rajab tanpa puasa. Dan kedua, berpuasa di bulan-bulan di luar Rajab, walaupun bulan tersebut tidak berdampingan dengan bulan Rajab.

Para ulama yang bermadzhab Hanbali, memakruhkan berpuasa Rajab secara penuh dan secara khusus, didasarkan pada beberapa hadits, antara lain:

Hadits dari Zaid bin Aslam, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Rajab, lalu beliau menjawab: “Di mana kalian dari bulan Sya’ban?” (HR. Ibnu Abi Syaibah [2/513] dan Abdurrazzaq [4/292]. Tetapi hadits ini mursal, alias dha’if).

Hadits Usamah bin Zaid. Ia selalu berpuasa di bulan-bulan haram. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Berpuasalah di bulan Syawal.” Lalu Usamah meninggalkan puasa di bulan-bulan haram, dan hanya berpuasa di bulan Syawal sampai meninggal dunia.” (HR. Ibn Majah [1/555], tetapi hadits ini dha’if. Hadits ini juga dinilai dha’if oleh Syaikh al-Albani.).

Hadits dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW melarang puasa Rajab. (HR. Ibn Majah [1/554], tetapi hadits ini dinilai dha’if oleh Imam Ahmad, Ibnu Taimiyah dalam al-Fatawa al-Kubra [2/479], dan lain-lain).

Madzhab Hanbali juga berdalil dengan beberapa atsar dari sebagian sahabat, seperti atsar bahwa Umar pernah memukul orang karena berpuasa Rajab, atsar dari Anas bin Malik dan lain-lain. Tetapi atsar ini masih ditentang dengan atsar-atsar lain dari para sahabat yang justru melakukan puasa Rajab. Disamping itu, dalil-dalil para ulama yang menganjurkan puasa Rajab jauh lebih kuat dan lebih shahih sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.

Wallahul a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 32 : BILANGAN YANG SAH DALAM SHALAT JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 32 :

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: ( مَضَتِ السُّنَّةُ أَنَّ فِي كُلِّ أَرْبَعِينَ فَصَاعِدًا جُمُعَةً ) رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ بِإِسْنَادٍ ضَعِيف ٍ

Jabir Radliyallaahu ‘anhu berkata: Sunnah telah berlaku bahwa pada setiap empat puluh orang ke atas wajib mendirikan sholat Jum’at. Riwayat Daruquthni dengan sanad lemah.

MAKNA HADITS :

Sholat Jum’at merupakan salah satu syiar Islam yang paling mulia. Oleh itu, sholat Jum’at hanya dilakukan secara berjemaah dan mesti ada dua khutbah untuk memberikan pelajaran dan nasihat kepada segenap kaum muslimin. Tetapi tidak ada keterangan yang tegas yang menentukan berapa batasan minimum orang yang
mesti menghadiri sholat Jum’at itu dan oleh karenanya, ulama berbeda pendapat mengenainya.

Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad mengatakan bahawa solat Jum’at tidak sah kecuali dihadiri oleh empat puluh orang laki-laki. Imam Malik mengatakan dua belas
orang laki-laki selain imam dan ini adalah pendapat yang kedua dari Imam al-Syafi’i. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa sholat Jum’at sah dengan adanya tiga orang laki-laki termasuk imam.

FIQH HADITS :

Menjelaskan bilangan yang sah untuk mengerjakan sholat Jum’at, yaitu sebanyak empat puluh orang laki-laki. Inilah menurut pendapat Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad berdasarkan hadis ini.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S063. SHOLAT FARDLU LIHURMATIL WAQTI

PERTANYAAN :

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokaatuh.

Deskripsi Masalah :
Pada suatu ketika saya dari surabaya berangkat jam 19:00 dan sampai ke Jakarta jam 08:00 dan saya sholat subuh didalam kereta sebisanya (sholat lihurmatil waqti).

Pertanyaan :
A. Bagaimana hukum sholat lihurmatil waqti?
B. Seandainya tidak sholat lihurmatil waqti, dosakah?

JAWABAN :

Wa alaikumussalaam warohmatulloohi wabarokaatuh.

A. Tafsil :
a. Apabila keretanya keadaan berjalan dan tidak menghadap ke arah kiblat, maka dia wajib sholat lihurmatil waqti dan wajib mengqodlo’nya.
b. Apabila keretanya keadaan berjalan dan menghadap ke arah kiblat, maka ia wajib sholat lihurmatil waqti ada 2 hal :
1) Jika dia sholat dapat menyempurnakan pelaksanaan ruku’ dan sujudnya, maka kewajiban mengqodlo’ sholatnya khilaf. Akan tetapi menurut pendapat yang kuat, wajib mengqodlo’ sholatnya, karena tempat sholat itu harus diam (tidak berjalan).
a) Jika ia sholat tidak dapat menyempurnakan pelaksanaan ruku’ dan sujudnya, maka ulama sepakat wajib mengqodlo’ sholatnya.

B. Khilaf :
a. Berdosa, karena tidak mengerjakan sholat yang wajib pada waktunya.
b. Tidak berdosa, karena tidak wajib mengerjakan sholat pada waktunya jika sholat tersebut wajib diqodlo’.

Referensi jawaban soal A & B :

اﻟﻤﺠﻤﻮﻉ ﺷﺮﺡ اﻟﻤﻬﺬﺏ – (ج 3 / ص 223) ﺩاﺭ اﻟﻔﻜﺮ
(ﻓﺮﻉ) ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻭﻟﻮ ﺣﻀﺮﺕ اﻟﺼﻼﺓ اﻟﻤﻜﺘﻮﺑﺔ ﻭﻫﻢ ﺳﺎﺋﺮﻭﻥ ﻭﺧﺎﻑ ﻟﻮ ﻧﺰﻝ ﻟﻴﺼﻠﻴﻬﺎ ﻋﻠﻲ اﻻﺭﺽ اﻟﻲ اﻟﻘﺒﻠﺔ اﻧﻘﻄﺎﻋﺎ ﻋﻦ ﺭﻓﻘﺘﻪ ﺃﻭ ﺧﺎﻑ ﻋﻠﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﺃﻭ ﻣﺎﻟﻪ ﻟﻢ ﻳﺠﺰ ﺗﺮﻙ اﻟﺼﻼﺓ ﻭﺇﺧﺮاﺟﻬﺎ ﻋﻦ ﻭﻗﺘﻬﺎ ﺑﻞ ﻳﺼﻠﻴﻬﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺪاﺑﺔ ﻟﺤﺮﻣﺔ اﻟﻮﻗﺖ ﻭﺗﺠﺐ اﻻﻋﺎﺩﺓ ﻻﻧﻪ ﻋﺬﺭ ﻧﺎﺩﺭ ﻫﻜﺬا ﺫﻛﺮ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﻣﻨﻬﻢ ﺻﺎﺣﺐ اﻟﺘﻬﺬﻳﺐ ﻭاﻟﺮاﻓﻌﻲ ﻭﻗﺎﻝ اﻟﻘﺎﺿﻰ ﺣﺴﻴﻦ ﻳﺼﻠﻲ ﻋﻠﻲ اﻟﺪاﺑﺔ ﻛﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎ ﻗﺎﻝ ﻭﻭﺟﻮﺏ اﻻﻋﺎﺩﺓ ﻳﺤﺘﻤﻞ ﻭﺟﻬﻴﻦ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻻ ﺗﺠﺐ ﻛﺸﺪﺓ اﻟﺨﻮﻑ ﻭاﻟﺜﺎﻧﻰ ﺗﺠﺐ ﻻﻥ ﻫﺬا ﻧﺎﺩﺭ

الفقه الإسلامي وأدلته – (ج 2 / ص 236)
ﺣ ـ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ اﻟﺴﻔﻴﻨﺔ، ﻭﻣﺜﻠﻬﺎ اﻟﻄﺎﺋﺮﺓ ﻭاﻟﺴﻴﺎﺭﺓ: ﺗﺠﻮﺯ ﺻﻼﺓ اﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﻓﻲ اﻟﺴﻔﻴﻨﺔ ﻭاﻟﻄﺎﺋﺮﺓ ﻭاﻟﺴﻴﺎﺭﺓ ﻗﺎﻋﺪا، ﻭﻟﻮ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ ﻋﻨﺪ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ، ﻭﻟﻜﻦ ﺑﺸﺮﻁ اﻟﺮﻛﻮﻉ ﻭاﻟﺴﺠﻮﺩ.
ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺼﺎﺣﺒﺎﻥ: ﻻ ﺗﺼﺢ ﺇﻻ ﻟﻌﺬﺭ، ﻭﻫﻮ اﻷﻇﻬﺮ. ﻭاﻟﻌﺬﺭ ﻛﺩﻭﺭاﻥ اﻟﺮﺃﺱ، ﻭﻋﺪﻡ اﻟﻘﺪﺭﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﺨﺮﻭﺝ.
ﻭﻳﺸﺘﺮﻁ اﻟﺘﻮﺟﻪ ﻟﻠﻘﺒﻠﺔ ﻓﻲ ﺑﺪء اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﻳﺴﺘﺪﻳﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻛﻠﻤﺎ اﺳﺘﺪاﺭﺕ اﻟﺴﻔﻴﻨﺔ، ﻭﻟﻮ ﺗﺮﻙ اﻻﺳﺘﻘﺒﺎﻝ ﻻ ﺗﺠﺰﺋﻪ اﻟﺼﻼﺓ، ﻭﺇﻥ ﻋﺠﺰ ﻋﻦ اﻻﺳﺘﻘﺒﺎﻝ ﻳﻤﺴﻚ ﻋﻦ اﻟﺼﻼﺓ ﺣﺘﻰ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ اﻹﺗﻤﺎﻡ ﻣﺴﺘﻘﺒﻼ.
ﻭاﻟﺴﻔﻴﻨﺔ اﻟﻤﺮﺑﻮﻃﺔ ﻓﻲ ﻟﺠﺔ ﺃﻭ ﻋﺮﺽ اﻟﺒﺤﺮ اﻟﺘﻲ ﺗﺤﺮﻛﻬﺎ اﻟﺮﻳﺢ اﻟﺸﺪﻳﺪﺓ ﻛﺎﻟﺴﺎﺋﺮﺓ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﺗﺤﺮﻛﻬﺎ ﻓﻬﻲ ﻛﺎﻟﻮاﻗﻔﺔ ﻋﻠﻰ اﻷﺻﺢ. ﻭاﻟﻤﺮﺑﻮﻃﺔ ﺑﺎﻟﺸﻂ ﺃﻭاﻟﻤﺮﻓﺄ ﻻ ﺗﺠﻮﺯ اﻟﺼﻼﺓ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﺎﻋﺪا اﺗﻔﺎﻗﺎ.
ﻭاﻟﺜﺎﺑﺖ ﻓﻲ اﻟﺴﻨﺔ ﻭﺟﻮﺏ اﻟﻘﻴﺎﻡ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ اﻟﺴﻔﻴﻨﺔ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﻟﻪ اﻟﻘﻌﻮﺩ ﺇﻻ ﻋﻨﺪ ﺧﺸﻴﺔ اﻟﻐﺮﻕ، ﻟﻘﻮﻝ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ: «ﺳﺌﻞ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ، ﻛﻴﻒ ﺃﺻﻠﻲ ﻓﻲ اﻟﺴﻔﻴﻨﺔ؟ ﻗﺎﻝ: ﺻﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﺎﺋﻤﺎ، ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺨﺎﻑ اﻟﻐﺮﻕ».

شرح البهجة الوردية – (ج 2 / ص 328)
ﻭﻧﻘﻞ ﺇﻣﺎﻡ اﻟﺤﺮﻣﻴﻦ ﻭاﻟﻐﺰاﻟﻲ ﺃﻥ ﻟﻠﺸﺎﻓﻌﻲ ﻗﻮﻻ ﺃﻥ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﺗﻔﺘﻘﺮ ﺇﻟﻰ اﻟﻘﻀﺎء ﻻ ﻳﺠﺐ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﻓﻲ اﻟﻮﻗﺖ ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺣﻨﻴﻔﺔ ﻭﻗﻮﻻ ﺑﺄﻥ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﻭﺟﺒﺖ ﻓﻲ اﻟﻮﻗﺖ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻣﻦ ﺧﻠﻞ ﻟﻢ ﻳﺠﺐ ﻗﻀﺎﺅﻫﺎ ﻭﺑﻪ ﻗﺎﻝ اﻟﻤﺰﻧﻲ ﻭﻫﻮ اﻟﻤﺨﺘﺎﺭ ؛ ﻷﻧﻪ ﺃﺩﻯ ﻭﻇﻴﻔﺔ اﻟﻮﻗﺖ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﺐ اﻟﻘﻀﺎء ﺑﺄﻣﺮ ﺟﺪﻳﺪ ﻭﻟﻢ ﻳﺜﺒﺖ ﻓﻴﻪ ﺷﻲء ﺑﻞ ﺛﺒﺖ ﺧﻼﻓﻪ ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ اﻫـ ﻣﺠﻤﻮﻉ

التقريرات السديدة – (ج 1 / ص 201)
وأما صلاة الفرض إن تعينت عليه أثناء الرحلة وكانت الرحلة طويلة بأن لم يستطع الصلاة قبل صعودها أوانطلاقها أوبعد هبوبها في الوقت ولوتقديما أوتأخيرا ففي هذه الحالة يجب عليه أن يصلي لحرمة الوقت مع استقبال القبلة وفيها حالتان :
۱- إن صلى بإتمام الركوع والسجود ففي وجوب القضاء عليه خلاف لعدم استقرار الطائرة في الأرض والمعتمد أن عليه القضاء.
٢- وإن صلى بدون الركوع والسجود أو بدون استقبال القبلة مع الإتمام فيجب عليه القضاء بلاخلاف.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

S062. KESUNNAHAN MEMAKAI SONGKOK KETIKA SHALAT

PERTANYAAN :

Assalaamu’alaikum Warohmatulloohi Wabarokaatuh

Saya ingin bertanya,, apa hukumnya sholat berjamaah kalau misalnya imamnya tidak memakai kopyah(songkok), dan masih banyak kurang adabnya saat hendak mau sholat ? Dan sebaiknya bagaimana?

JAWABAN :

Waalaikumsalam warohmatulloohi wabarokaatuh ..

Makruh tidak menggunakan tutup kepala ketika sholat. (Hal ini tidak berpengaruh terhadap keshahan/keabshahan sholat berjamaah).
Yang disunnahkan adalah menggunakan tutup kepala semisal; kopyah/peci, imamah (surban di kepala) dll.
Anjuran menggunakan kopyah(songkok) ini berlaku bagi setiap orang yang sholat(tidak khusus bagi imam saja).

Dan disunnahkan yang menjadi imam adalah orang yang;
Paham ilmu Fiqh, banyak hafalan al Qur’annya, wara'(menjauhi terhadap yang haram), usia lebih tua, keturunan mulia dan yang melakukan hijrah bersama Rasulullah Saw.

✍🏻Referensi:

إعانة الطالبين – (ج ١ / ص ٢٢٦)

(قوله: وكشف رأس ومنكب) أي وكره كشف رأس ومنكب لأن السنة التجمل في صلاته بتغطية رأسه وبدنه كما مر.
.

– الموسوعة الفقهية – (ج/ص ٢٢/٣)

لا خلاف بين الفقهاء في استحباب ستر الرأس في الصلاة للرجل بعمامة وما في معناها لأنه صلى الله عليه وسلم كان كذلك يصلي.
.

– إعانة الطالبين – (ج/ص 1/95)

وتسن العمامة للصلاة، ولقصد التجمل، للأحاديث الكثيرة فيها، واشتداد ضعف كثير منها يجبره كثرة طرقها، وزعم وضع كثير منها تساهل، كما هو عادة ابن الجوزي هنا، والحاكم في التصحيح – ألا ترى إلى حديث: اعتموا تزدادوا حلما.
حيث حكم ابن الجوزي بوضعه، والحاكم بصحته، استرواحا منهما على عادتهما؟ وتحصل السنة بكونها على الرأس أو نحو قلنسوة تحتها.
.

– شرح على هدية الناصح، الإمام رملي – (ص٩-١٠) مخطوطات

لِلْإِمَامِ صِفَاتٌ : صِفَاتٌ مُسْتَحَبَّةٌ وَصِفَاتٌ مَشْرُوْطَةٌ ، فَالْمُسْتَحَبَّةُ سِتَّةٌ وَهِيَ الْفِقْهُ وَالْقِرَاءَةُ وَالْوَرَعُ وَالسِّنُّ وَالنَّسَبُ وَالْهِجْرَةُ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 30-31 : WAKTU ISTIJABAH DI HARI JUM’AT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID KE II (DUA)》

BAB SHALAT JUM’AT

HADITS KE 30 :

وَعَنْهُ; أَنَّ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: ( فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي, يَسْأَلُ الله تعالى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه. ِ وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ( وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam setelah menyebut hari Jum’at beliau bersabda: “Pada hari itu ada suatu saat jika bertepatan seorang hamba muslim berdiri untuk sholat memohon kepada Allah, maka niscaya Allah akan memberikannya sesuatu.” Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya bahwa saat itu sebentar. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat Muslim: “Ia adalah saat yang pendek.”

HADITS KE 31 :

وَعَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ, وَرَجَّحَ الدَّارَقُطْنِيُّ أَنَّهُ مِنْ قَوْلِ أَبِي بُرْدَةَ. وفي حديث عبد الله ابن سلام عند ابن ماجة، وجابر عند أبي دود والنسائي: أنها ما بين صلاة العصر الى غروب الشمس. وقد اختلف فيها أكثر من أربعين قولا، أمليتها في شرح البخاري

Abu Burdah dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Saat (waktu) itu ialah antara duduknya imam hingga dilaksanakannya sholat.” Riwayat Muslim. Daruquthni menguatkan bahwa hadits tersebut dari perkataan Abu Burdah sendiri.

Dalam hadis Abdullah ibn Salam yang ada pada Ibn Majah dan dalam hadis Jabir yang ada pada Abu Dawud dan al-Nasa’i disebutkan seperti berikut bahwa saat (mustajab) tersebut terletak di antara sholat Asar hingga matahari terbenam. Lebih empat puluh pendapat yang memperdebatkan waktu saat (do’a mustajab) ini. Semua itu kami uraikan dalam kitab Syarh al-Bukhari.

MAKNA HADITS :

Hari Jum’at mempunyai beberapa keistimewaan yang antara lain ialah sa’ah al-mubarakah (waktu yang penuh dengan keberkahan). Pada waktu itu do’a dikabulkan selagi tidak melakukan dosa atau memutuskan ikatan silaturahim. Waktu
ini amatlah singkat dimana Nabi (s.a.w) menganjurkan agar ia diberi perhatian mengingat waktunya yang sempit itu.

Ulama berselisih pendapat mengenai ketentuannya, hingga ada empat puluh tiga pendapat yang membahas masalah ini. Tetapi menurut pendapat yang sahih, waktu tersebut masih belum dapat dipastikan, namun waktu antara sholat Asar hingga matahari tenggelam merupakan waktu yang paling diharapkan supaya do’a dikabulkan. Ada pula kemungkinan bahwa waktu ituberpindah-pindah, tetapi itu masih berlaku pada hari Jum’at. Hikmah merahasiakan waktu mustajab do’a ini ialah supaya seluruh hari Jum’at diisi dengan dengan ibadah.

FIQH HADITS :

1. Keutamaan hari Jum’at adalah adanya sa’ah al-ijabah dimana pada waktu do’a dikabulkan.

2. Boleh menggunakan isyarat untuk mengungkapkan isi hati sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang Arab dalam pembicaraan mereka.

3. Menentukan sa’ah al-ijabah pada hari Jum’at yaitu antara imam mulai duduk di atas mimbar hingga dia selesai mengerjakan sholat Jum’at. Menurut hadis Abdullah ibn Salam (r.a), ia terletak pada akhir siang hari, sedangkan menurut hadis Jabir (r.a), ia terletak antara sholat Asar hingga matahari terbenam.

4. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah (s.a.w) membenarkan kitab-kitab suci yang terdahulu.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..