logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 76 : DIHARAMKAN MEMAKAI KAIN SUTERA BAGI LAKI-LAKI

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB PAKAIAN

HADITS KE 76 :

عَنْ أَبِي عَامِرٍ اَلْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الحِر وَالْحَرِيرَ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، وَأَصْلُهُ فِي الْبُخَارِيِّ

Dari Abu Amir al-Asy’ari Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya akan ada di antara umatku kaum yang menghalalkan kemaluan dan sutra.” Riwayat Abu Dawud dan asalnya dalam riwayat Bukhari.

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menganugerahkan pakaian kepada hamba-Nya, lalu dimudahkan-
Nya untuk memperolehinya. Allah (s.w.t) berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا (٢٦)

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk
menutupi auratmu dan pakaian yang indah sebagai perhiasanmu…” (Surah al-A’raf: 26)

Pakaian itu ada dua jenis. Pertama, pakaian yang bersifat konkrit, seperti pakaian yang lazim kita pakai. Jenis ini ada dua jenis, yaitu pakaian halal dan pakaian haram. Pakaian halal seperti pakaian yang dibuat dari bahan kapas atau bahan yang lainnya yang halal. Sedangkan pakaian haram seperti pakaian yang dibuat dari sutera dan emas, khusus bagi kaum lelaki tanpa ada udzur untuk memakainya.

Kedua, jenis pakaian yang bersifat abstrak, yaitu menghiasi diri dengan akhlak
mulia dan mengerjakan perintah Allah (s.w.t) Allah (s.w.t) berfirman:

ولباس التقوى ذلك خير (٢٦)

“… Dan pakaian takwa itulah yang paling baik…” (Surah al-A’raf: 26)

Salah seorang penyair berkata:

“Jika akhlak seseorang tidak dinodai sifat tercela maka seluruh pakaian yang dipakainya indah belaka”.

Seorang bijak pandai berpesan:
“Jika seseorang tidak menghiasi dirinya dengan takwa sebagai pakaiannya, maka bererti dia sama dengan bertelanjang, sekalipun dia berpakaian secara dzahir.”

FIQH HADITS :

1. Lelaki haram memakai kain sutera, karena pakaian yang dibuat dari kain sutera merupakan pakaian miwah dan perhiasan yang hanya layak dipakai oleh kaum wanita atau pakaian sutera menunjukkan penampilan yang bongkak dan sombong atau ia dilarang sebagai perkara yang dilarang oleh Islam.

2. Haram berzina dan tidak boleh menghalalkan kemaluan wanita kecuali
setelah kawin dengannya.

3. Barang siapa yang menghalalkan perkara yang diharamkan sebagaimana yang telah dinyatakan oleh agama dengan tegas, maka sesungguhnya orang itu dianggap telah keluar dari agama dan tidak termasuk umat Islam lagi sehinggalah dia bertaubat.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 75 : CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO’A

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 75 :

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Dari Anas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memohon hujan, lalu beliau memberi isyarat dengan punggung kedua telapak tangannya ke langit. Dikeluarkan oleh Muslim.

MAKNA HADITS :

Dalam berdo’a disunatkan memohon agar malapetaka dijauhkan seperti memohon agar musim kemarau dihilangkan dan lain-lain sebagainya. Hendaklah seseorang mengangkat kedua tangan dan menjadikan kedua telapak tangannya menghadap ke arah langit sebagai isyarat, semoga keadaan hidup yang keras dan gersang berubah menjadi keadaan yang subur dan makmur.

Dalam berdo’a memohon kebaikan, hendaklah bagian dalam kedua
telapak tangan diarahkan ke langit. Hal ini diperkuatkan lagi dengan apa yang
disabdakan oleh Nabi (s.a.w) dalam hadis yang lain:

إذا سألتم الله فاسألوه ببطون أكفكم ولا تسألوه بظهورها

“Jika kamu memohon sesuatu kepada Allah, maka pohonlah kepada-Nya dengan menengadahkan bagian dalam telapak tangan kamu; dan janganlah kamu meminta kepada-Nya dengan bagian luar telapak tangan kamu.

FIQH HADITS :

Menjelaskan cara mengangkat kedua tangan ketika berdo’a memohon agar
malapetaka dihilangkan.

Wallahu a’lamu bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

D053. APAKAH WAJIB MEMBACA AL-QUR’AN DENGAN TAJDWID?

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Membaca Al Qur’an adalah amalan yang agung dan banyak keutamaannya. Dalam membaca Al Qur’an dikenal ilmu tajwid. Bagaimanakah hukum ilmu tajwid ini? Apakah wajib membaca Al Qur’an dengan menerapkan kaidah-kaidah tajwid?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Definisi ilmu tajwid

Tajwid secara bahasa adalah mashdar dari jawwada-yujawwidu, yang artinya membaguskan. Sedangkan secara istilah, Imam Ibnul Jazari menjelaskan:

الإتيان بالقراءة مجودة بالألفاظ بريئة من الرداءة في النطق ومعناه انتهاء الغاية في التصحيح وبلوغ النهاية في التحسين

“tajwid adalah membaca dengan membaguskan pelafalannya, yang terhindar dari keburukan pelafalan dan keburukan maknanya, serta membaca dengan maksimal tingkat kebenarannya dan kebagusannya” (An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/210).

Beliau juga menjelaskan hakekat dari ilmu tajwid,

فالتجويد هو حلية التلاوة ، وزينة القراءة ، وهو إعطاء الحروف حقوقها وترتيبها مراتبها ، ورد الحرف إلى مخرجه وأصله ، وإلحاقه بنظيره وتصحيح لفظه وتلطيف النطق به على حال صيغته ، وكمال هيئته ; من غير إسراف ولا تعسف ولا إفراط ولا تكلف

“maka tajwid itu merupakan penghias bacaan, yaitu dengan memberikan hak-haknya huruf-huruf, urutan dan tingkatan yang benar kepada setiap huruf, dan mengembalikan setiap huruf pada tempat keluarnya dan pada asalnya, dan menyesuaikan huruf-huruf tersebut pada setiap keadaannya, dan membenarkan lafadznya dan memperindah pelafalannya pada setiap konteks(hubungan kalimat, keadaan), menyempurnakan bentuknya. tanpa berlebihan, dan tanpa meremehkan” (An Nasyr fil Qira’at Al ‘Asyr, 1/212).

Hukum ilmu tajwid

Para ulama pernah ditanya, “apakah seorang Muslim boleh membaca Al Qur’an tanpa berpegangan pada kaidah-kaidah tajwid?”. Para ulama menjawab:

نعم يجوز ذلك إذا لم يلحن فيه فإن لحن فيه فالواجب عليه تعديل اللحن وأما التجويد فهو واجب، التجويد تحسين للفظ فقط وتحسين اللفظ بالقرآن لا شك أنه خير وأنه أتم في حسن القراءة بحيث نقول بل إن القرآن نزل على سبعة أحرف حتى كان كل من الناس يقرؤه بلغته إلا أنه بعد أن خيف النزاع والشقاق بين المسلمين وحد المسلمون في القراءة على لغة قريش في زمن أمير المؤمنين عثمان بن عفان رضي الله عنه وهذا من فضائله ومناقبه وحسن رعايته في خلافته أن جمع الناس على حرف واحد لئلا يحصل النزاع والخلاصة أن القراءة بالتجويد فهي واجبة ،ونقول إنما الواجب إقامة الحركات والنطق بالحروف على ما هي عليه فلا يبدل الراء لاما مثلا ولا الذال زاياً وما أشبه ذلك هذا هو الممنوع

“Ya, itu dibolehkan. Selama tidak terjadi lahn (kesalahan bacaan) di dalamnya. Jika terjadi lahn(kesalahan bacaan) maka wajib untuk memperbaiki lahn-nya(kesalahan bacaannya) tersebut. Adapun tajwid, maka hukumnya wajib. Tajwid itu untuk memperbagus pelafalan saja, dan untuk memperbagus bacaan Al Qur’an. Tidak diragukan bahwa tajwid itu baik, dan lebih sempurna dalam membaca Al Qur’an.

Yaitu bahwasanya Al Qur’an diturunkan dalam 7 huruf, hingga setiap manusia membacanya dengan gaya bahasa mereka sendiri. Sampai suatu ketika, dikhawatirkan terjadi perselisihan dan persengketaan di antara kaum Muslimin, maka disatukanlah kaum Muslimin dalam satu qira’ah dengan gaya bahasa Qura’isy di zaman Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiallahu’anhu. Dan ini merupakan salah satu keutamaan beliau (Utsman), dan jasa beliau, serta bukti perhatian besar beliau dalam masa kekhalifahannya untuk mempersatukan umat dalam satu qira’ah. Agar tidak terjadi perselisihan di tengah umat.

Kesimpulannya, membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah wajib. Dan yang wajib adalah membaca harakat dan mengucapkan huruf sesuai yang sebagaimana mestinya. Misalnya, tidak mengganti huruf ra’ (ر) dengan lam (ل), atau huruf dzal (ذ) diganti zay (ز), atau semisal itu yang merupakan perkara yang terlarang”. (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 5/2, Asy Syamilah).

Dengan demikian, apa yang disebutkan sebagian ulama qiraat, bahwa wajib membaca Al Qur’an dengan tajwid, yaitu semisal wajib membaca dengan ikhfa, idgham, izhar dan lainnya, adalah hal yang sangat tepat . Dan ilmu tajwid adalah wajib dalam kadar yang bisa menghindari seseorang dari kesalahan makna dalam bacaannya. Terdapat penjelasan yang bagus dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah :

ذَهَبَ الْمُتَأَخِّرُونَ إِلَى التَّفْصِيل بَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ شَرْعِيٌّ) مِنْ مَسَائِل التَّجْوِيدِ، وَهُوَ مَا يُؤَدِّي تَرْكُهُ إِلَى تَغْيِيرِ الْمَبْنَى أَوْ فَسَادِ الْمَعْنَى، وَبَيْنَ مَا هُوَ (وَاجِبٌ صِنَاعِيٌّ) أَيْ أَوْجَبَهُ أَهْل ذَلِكَ الْعِلْمِ لِتَمَامِ إِتْقَانِ الْقِرَاءَةِ، وَهُوَ مَا ذَكَرَهُ الْعُلَمَاءُ فِي كُتُبِ التَّجْوِيدِ مِنْ مَسَائِل لَيْسَتْ كَذَلِكَ، كَالإِْدْغَامِ وَالإِْخْفَاءِ إِلَخْ. فَهَذَا النَّوْعُ لاَ يَأْثَمُ تَارِكُهُ عِنْدَهُمْ.
قَال الشَّيْخُ عَلِيٌّ الْقَارِيُّ بَعْدَ بَيَانِهِ أَنَّ مَخَارِجَ الْحُرُوفِ وَصِفَاتِهَا، وَمُتَعَلِّقَاتِهَا مُعْتَبَرَةٌ فِي لُغَةِ الْعَرَبِ: فَيَنْبَغِي أَنْ تُرَاعَى جَمِيعُ قَوَاعِدِهِمْ وُجُوبًا فِيمَا يَتَغَيَّرُ بِهِ الْمَبْنَى وَيَفْسُدُ الْمَعْنَى، وَاسْتِحْبَابًا فِيمَا يَحْسُنُ بِهِ اللَّفْظُ وَيُسْتَحْسَنُ بِهِ النُّطْقُ حَال الأَْدَاءِ

“para ulama muta’akhirin merinci antara wajib syar’i dengan wajib shina’i dalam masalah tajwid. Wajib syar’i (kewajiban yang dituntut oleh syariat) adalah yang jika meninggalkannya dapat menjerumuskan pada perubahan struktur kalimat atau makna yang rusak. Dan wajib shina’i adalah hal-hal yang diwajibkan para ulama qiraat untuk menyempurnakan kebagusan bacaan.

Maka apa yang disebutkan pada ulama qiraat dalam kitab-kitab ilmu tajwid mengenai wajibnya berbagai hukum tajwid, bukanlah demikian memahaminya. Seperti idgham, ikhfa’, dan seterusnya, ini adalah hal-hal yang tidak berdosa jika meninggalkannya menurut mereka.

Asy Syaikh Ali Al Qari setelah beliau menjelaskan bahwa makharijul huruf berserta sifat-sifat dan hal-hal yang terkait dengannya itu adalah hal yang berpengaruh dalam bahasa arab, beliau berkata: ‘hendaknya setiap orang memperhatikan semua kaidah-kaidah makharijul huruf ini. Wajib hukumnya dalam kadar yang bisa menyebabkan perubahan struktur kalimat dan kerusakan makna. Sunnah hukumnya dalam kadar yang bisa memperbagus pelafalan dan pengucapan ketika membacanya’” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 10/179).

Makna ayat “bacalah secara tartil”

Sebagian orang yang menganggap wajibnya menerapkan kaidah tajwid secara mutlak, berdalil dengan ayat:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا

“dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS. Al Muzammil: 4).

Tartil di sini dimaknai dengan hukum-hukum tajwid. Kita simak penjelasan para ulama tafsir mengenai ayat ini.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: {وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا} أَيِ: اقْرَأْهُ عَلَى تَمَهُّلٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ عَوْنًا عَلَى فَهْمِ الْقُرْآنِ وَتَدَبُّرِهِ

“dan firman-Nya: ‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, maksudnya bacalah dengan pelan karena itu bisa membantu untuk memahaminya dan men-tadabburi-nya” (Tafsir Ibni Katsir, 8/250).

Imam Ath Thabari juga menjelaskan:

وقوله: (وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا) يقول جلّ وعزّ: وبين القرآن إذا قرأته تبيينا، وترسل فيه ترسلا

“dan firman-Nya: ‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, maksudnya Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan: perjelaslah jika engkau membaca Al Qur’an dan bacalah dengan tarassul(pelan dan hati-hati)” (Tafsir Ath Thabari, 23/680).

As Sa’di menjelaskan:

{وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا} فإن ترتيل القرآن به يحصل التدبر والتفكر، وتحريك القلوب به، والتعبد بآياته، والتهيؤ والاستعداد التام له

“‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, karena membaca dengan tartil itu adalah membaca yang disertai tadabbur dan tafakkur, hati bisa tergerak karenanya, menghamba dengan ayat-ayat-Nya, dan tercipta kewaspadaan dan kesiapan diri yang sempurna kepadanya” (Taisir Karimirrahman, 892).

Demikian yang dijelaskan para ulama ahli tafsir mengenai makna tartil.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lamu bis shawab.

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 74 : ANJURAN MENGELUARKAN HEWAN TERNAK KETIKA SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 74 :

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( خَرَجَ سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَسْتَسْقِي, فَرَأَى نَمْلَةً مُسْتَلْقِيَةً عَلَى ظَهْرِهَا رَافِعَةً قَوَائِمَهَا إِلَى السَّمَاءِ تَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنَّا خَلْقٌ مِنْ خَلْقِكَ, لَيْسَ بِنَا غِنًى عَنْ سُقْيَاكَ, فَقَالَ: ارْجِعُوا لَقَدْ سُقِيتُمْ بِدَعْوَةِ غَيْرِكُمْ ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Nabi Sulaiman pernah keluar untuk memohon hujan, lalu beliau melihat seekor semut terlentang di atas punggungnya dengan kaki-kakinya terangkat ke langit seraya berkata: “Ya Allah kami adalah salah satu makhluk-Mu yang bukan tidak membutuhkan siraman airmu. Maka Nabi Sulaiman berkata: Pulanglah, kamu benar-benar akan diturunkan hujan karena doa makhluk selain kamu.”

MAKNA HADITS :

Allah (s.w.t) menciptakan hewan dan binatang dengan membekalinya fitrah
untuk selalu memohon perlindungan kepada-Nya dan mereka tahu bahwa yang menciptakan mereka adalah Allah (s.w.t) Yang Maha Suci yang ada di atas Arasy-
Nya, sebagaimana yang dikehendaki-Nya tanpa ada yang dapat menggambarkan-Nya dan tanpa ada yang dapat menyerupakan-Nya. Allah (s.w.t) berfirman:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ (٤٤)

“… Dan tak ada suatu (makhluk) pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya…” (Surah al-Isra: 44)

Akan tetapi, ada sekumpulan hewan berwujud manusia menggambarkan Allah
yang menciptakan mereka dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menggambarkan
pengertian fawqiyyah sebagai pengertian alam nyata yang memiliki batasan ruang
serta tempat tertentu. Pengertian seperti itu pada hakikatnya tidak memahami
hakikat Allah yang benar di samping keluar dari pemahaman yang benar dan menyimpang dari apa yang disifatkan oleh Allah (s.w.t) terhadap zat-Nya di dalam Kitab-Nya dan oleh Rasul-Nya. Tidak ada suatu nash pun yang menggambarkan Tuhan Yang Maha Pencipta dengan gambaran yang mempunyai batasan, arah dan rupa Allah (s.w.t) sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١١)

“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat…” (Surah al-Syura: 11)

Dalam ayat yang lain Allah (s.w.t) berfirman:

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ (٤)

“… Dan Dia bersama kamu di mana sahaja kamu berada…” (Surah al-Hadid: 4)

Dengan demikian, tidak ada ta’til (meniadakah sifat-sifat Allah), ta’wil, tasybih dan tamtsil melainkan kita menyifatkan Allah (s.w.t) sesuai dengan apa yang Dia sifatkan untuk zat-Nya dan sesuai dengan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya.

FIQH HADITS :

1. Disyariatkan berangkat menuju lapangan untuk mengerjakan sholat istisqa’.

2. Istisqa’ juga disyariatkan bagi umat-umat terdahulu.

3. Dianjurkan mengeluarkan semua hewan ternak ketika beristisqa’, karena hewan juga mempunyai tabiat yang berkaitan dengan pengetahuan mengenai Allah. Ia berzikir dan berdo’a kepada-Nya dengan
bahasanya sendiri yang hanya difahami oleh Allah (s.w.t), meskipun manusia tidak memahaminya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M107. HUKUM MERENOVASI BANGUNAN WAQAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Mau bahas soal waqof. Didesaku mesjidnya direnovasi (di perbaharui), lantai tegelnya diganti keramik padahal masih bisa dipakai.

Bolehkah mengganti waqofan seperti diatas yang masih bisa dipakai dengan yang baru ?

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Dalam hal ini ulama’ berbeda pendapat :

تنبيه : لا بجوز تغيير شئ من عين الوقف و لو لارفع منها فان شرط الواقف العمل بالمصلحة اتبع شرطه ، و قال السبكي يجوز تغيير الوقف بشروط ثلاثة ان لا يغير مسماه ، و ان يكون مصلحة له كزيادة ريعه ، و ان لا تزال عبنه فلا يضر نقلها من جانب الى اخر

Tidak boleh merubah sedikitpun dari bangunan wakaf meskipun untuk yang lebih baik. Apabila pihak pewakaf meminta syarat perbaikan, maka harus dipenuhi.
Menurut Assubki boleh merubah bentuk wakaf dgn 3 syarat, yaitu :
1. Tidak merubah status nama
2. Untuk kemaslahatan wakaf
3. Tidak menghilangkan bangunan fisiknya, sehingga jika sekedar menggesernya ke posisi lain di area yg sama diperbolehkan.
Hasyiyah al-Qulyubi juz 3 hal 108.

Kalau memang diperlukan boleh, dengan syarat ada izin dari nadzir (pengelola harta waqof) atau hakim.

Menurut Imam ibn Abidin dari madzhab Hanafi boleh apabila yang membangun adalah penduduk setempat dengan dana diambil dari harta mereka sendiri
bukan dari kas masjid kecuali ada perintah dari Qadhi (pemerintah)

( وَيَجُوزُ تَجْدِيدُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ لِمَصْلَحَةٍ ) لِحَدِيثِ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا { لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ فَهُدِمَ ، فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ ، وَأَلْزَقْتُهُ بِالْأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ بَابًا شَرْقِيًّا، وَبَابًا غَرْبِيًّا ، فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إبْرَاهِيمَ } رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Kisyaaf al-Qinaa’ 14/489

ويجوز توسيع المسجد وتغيير بنائه بنحو رفعه للحاجة بشرط إذن الناظر من جهة الواقف ، ثم الحاكم الأهل ، فإن لم يوجد وكان الموسع ذا عدالة ورآه مصلحة بحيث يغلب على الظن أنه لو كان الواقف حياً لرضي به جاز ، ولا يحتاج إلى إذن ورثة الواقف إذا لم يشرط لهم النظر ،

Bughyah al-Mustarsyidiin I/131

ولا ينقض المسجد إلا إذا خيف على نقضه فينقض يحفظ أو يعمر به مسجد آخر إن رآه الحاكم

Fath al-Mu’in III/181

[ فَرْعٌ ] أَرَادَ أَهْلُ الْمَحَلَّةِ نَقْضَ الْمَسْجِدِ وَبِنَاءَهُ أَحْكَمَ مِنْ الْأَوَّلِ أَنَّ الْبَانِيَ مِنْ أَهْلِ الْمَحَلَّةِ لَهُمْ ذَلِكَ وَإِلَّا لَا بَزَّازِيَّةٌ .

الشَّرْحُ

( قَوْلُهُ : أَنَّ الْبَانِيَ إلَخْ ) الْمُتَبَادَرُ مِنْ الْعِبَارَةِ أَنَّ الْمُرَادَ بَانِي الْمَسْجِدِ أَوَّلًا ، لَكِنَّ الْمُنَاسِبَ أَنْ يُرَادَ مُرِيدُ الْبِنَاءِ الْآنَ وَفِي ط عَنْ الْهِنْدِيَّةِ : مَسْجِدٌ مَبْنِيٌّ أَرَادَ رَجُلٌ أَنْ يَنْقُضَهُوَيَبْنِيَهُ أَحْكَمَ لَيْسَ لَهُ ذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَا وِلَايَةَ لَهُ مُضْمَرَاتٌ إلَّا أَنْ يَخَافَ أَنْ يَنْهَدِمَ ، إنْ لَمْ يُهْدَمْ تَتَارْخَانِيَّةٌ وَتَأْوِيلُهُ إنْ لَمْ يَكُنْ الْبَانِي مِنْ أَهْلِ تِلْكَ الْمَحَلَّةِ ، وَأَمَّا أَهْلُهَا فَلَهُمْ أَنْ يَهْدِمُوهُ وَيُجَدِّدُوا بِنَاءَهُ وَيَفْرِشُوا الْحَصِيرَ ، وَيُعَلِّقُوا الْقَنَادِيلَ ، لَكِنْ مِنْ مَالِهِمْ لَا مِنْ مَالِ الْمَسْجِدِ إلَّا بِأَمْرِ الْقَاضِي

Radd al-Muhtaar 17/224

Menurut Syafi’iyah mengganti barang waqof dengan yang lain, tidak boleh MUTHLAQAN.apalagi masih layak untuk digunakan.

Ta’bir Tuhfatul Muhtaj :

اسْتِبْدَالَ جُزْءِ وَقْفٍ بِجُزْءٍ آخَرَ وَقْفٍ وَهُوَ مُمْتَنِعٌ مُطْلَقًا

“mengganti juz/bagian waqaf dengan juz waqof yg lain, adalah dilarang secara muthlaq”

Ta’bir Nihayatuz Zain :

وَلَا يجوز استبدال الْمَوْقُوف عندنَا وَإِن خرب
“menurut kami (Syafi’iyah) tidak boleh mengganti barang waqaf sekalipun telah roboh”

merenovasi masjid menurut imam Ibn Ujail,Syaikh Abdullah Balhaj dan imam Abu Syakil d perbolehkn scara muthlaq, sedangkan menurut imam Ibn al Munir di perbolehkan dengan alasan menjga dari hinaan(fath al baariy libn Hajar 2/187 al nash alwaarid fi hukmi tajdid al masaajid hlm 13 – 14)

KESIMPULAN :

Dari ibaroh2 diatas dapat diambil pelajaran bahwasanya waqof itu secara asal tidak boleh diganti, ditukar, dijual dll tetapi jika orang yang memberi wakaf / pengelola wakaf /hakim telah mengizinkan maka hukumnya boleh.
Yang perlu digaris bawahi
dalam masalah ini adalah faktor keuntungan dari pewakaf, karena hakekatnya pewakaf mewakafkan sesuatu adalah supaya pahala dapat mengalir sampai ia dialam qubur (sebagai jariahnya).Jikalau sampai diganti, ditukar maka kemanfaatan itu bisa hilang. Karena pahala akan didapat ketika sesuatu yang diberikan itu masih dipakai.
Ya…meski ada perkhilafan dalam masalah pahala ini.

Wallahu A’lamu Bisshowab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 73 : DO’A RASULULLAH DALAM SHALAT ISTISQA’

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 73 :

وَعَنْ سَعْدٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَعَا فِي اَلِاسْتِسْقَاءِ: ( اَللَّهُمَّ جَلِّلْنَا سَحَابًا, كَثِيفًا, قَصِيفًا, دَلُوقًا, ضَحُوكًا, تُمْطِرُنَا مِنْهُ رَذَاذًا, قِطْقِطًا, سَجْلًا, يَا ذَا الجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) رَوَاهُ أَبُو عَوَانَةَ فِي صَحِيحِهِ

Dari Sa’ad Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdoa sewaktu memohon hujan: “Ya Allah ratakanlah bagi kami awan yang tebal, berhalilintar, yang deras, berkilat, yang menghujani kami dengan rintik-rintik, butir-butir kecil yang banyak siramannya, wahai Dzat yang Maha Agung dan Mulia.” Riwayat Abu Awanah dalam kitab shahihnya.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) dianugerahi jawami’ al-kalim dan semua do’a yang dibaca ketika
beristisqa’ merupakan do’a yang paling fasih dari segi bahasa dan memiliki nilai
kesastraan yang paling tinggi. Di dalamnya terdapat ungkapan tadharru’, memohon kepada Allah agar rahmat-Nya tetap dilestarikan, sedangkan bahaya
yang terkandung di dalamnya dihilangkan. Ia turut memuatkan etika ketika
memohon kepada-Nya melalui sabdanya: “يا ذا الجلال والاكرام “ yang bermaksud:
(Wahai Tuhan yang memiliki kekayaan secara mutlak dan memiliki anugerah yang sempurna, lestarikanlah anugerah-Mu, dan lenyapkanlah malapetaka dari kami).

Pada suatu hari Nabi (s.a.w) bersua dengan seorang lelaki yang sedang berdo’a di dalam sholatnya seraya membaca: “يا ذا الجلال والاكرام” “Wahai Tuhan Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.” Mendengar itu, baginda bersabda kepada lelaki itu:
“Sungguhnya do’amu itu telah dikabulkan oleh Allah.”

FIQH HADITS :

Disyariatkan membaca do’a istisqa’ dengan salah satu dari do’a-do’a yang
dinukil dari Rasulullah (s.a.w).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 72 : DO’A KETIKA TURUN HUJAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 72 :

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا رَأَى المَطَرَ قَالَ: ( اَللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا ) أَخْرَجَاهُ

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bila melihat hujan, beliau berdo’a: “Ya Allah curahkanlah hujan yang bermanfaat.” Dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim.

MAKNA HADITS :

Nabi (s.a.w) amat pengasih lagi penyayang. Jika melihat hujan turun dengan lebat, baginda segera berdo’a kepada Allah memohon agar hujan tersebut dijadikan sebagai hujan yang bermanfaat dan kaum muslimin terhindar daripada hujan yang membahayakan seperti hujan yang menumbangkan pepohonan dan meruntuhkan rumah-rumah. Oleh itu, Nabi (s.a.w) berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.” Oleh itu, do’a ini sunnah dibaca ketika hujan turun.

FIQH HADITS :

Disunatkan berdo’a ketika hujan turun.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

M106. WANITA KARIR DALAM PANDANGAN ISLAM

PERTANYAAN :

Assalamu’alaikum Ustadz..

Jaman sekarang ini banyak WANITA KARIR, malah hampir 80% semua perusahaan bertenaga kerja WANITA. Gmana hukumnya WANITA BERKARIR dalam Agama Islam ? Dan gmana menurut pandangan dari hati akhi wa ukhti dengan WANITA KARIR ? Dan yang terakhir buat para kaum adam tolong kasih nasehat buat kami khususnya buat WANITA KARIR umumnya buat semua wanita biar kami WANITA KARIR tidak salah jalan dalam menempuh hidup dengan berkarir. Kalau ada di piss ini yang istrinya berkarir / bekerja apa keluhannya punya istri bekerja ? Kami tunggu share-nya biar jadi bahan renungan dan pertimbangan buat kami KHUSUSNYA BUAT DINDA DAN UMUMNYA BUAT SEMUA WANITA KARIR. Salam santun.

JAWABAN :

Wa’alaikumsalam wr. wb.

Pandangan Fiqih tentang hukumnya Wanita karir TIDAK BOLEH kecuali :

1. Aman dari fitnah yakni aman dari hal-hal yang membahayakan dirinya hartanya serta aman dari maksiat,

2. Suami miskin / tidak mampu menafkahi keluarganya

3. Mendapat izin dari wali / suami jika suami masih mampu memberi nafkah. [Hasiah jamal Juz 4 hal 509].

Berikut Hasil Bahtsul Masaail PP Nurul Hudaa/1999 :

Di lingkungan perusahaan kami, pimpinan melarang saya berjilbab, tentu dengan niat bukan untuk mempertontonkan aurat. Saya berusaha melamar ditempat lain tetapi tidak ada panggilan. Jika harus berhenti bekerja saya bingung karena saya masih belum cukup membalas budi orang tua (saya anak angkat) dan saya ingin memberi pendidikan yang terbaik pada putra-putri nanti. Yang ingin saya tanyakan:

a.Bagaimana hukum perbuatan saya itu menurut Islam dan langkah apa yang terbaik untuk saya?

b.Lebih baik mana menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga?

c.Andai ada suami yang menyuruh isterinya bekerja keras karena dua alasan diatas, dengan posisi wanita seperti saya, apakah wajib dipatuhi?mohon disertai dasar dan penjelasan. Terima kasih.

Jawaban :

a.Hukum membuka tutup kepala bagi wanita dewasa untuk kepentingan bekerja, menurut pendapat yang muktamad (bisa dijadikan pegangan) adalah tetap haram. Menurut pendapat lain boleh bagi wanita yang keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya. Menurut madzhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, apabila tidak ada fitnah.Langkah yang terbaik untuk anda, jika ingin menjadi wanita yang shalihah yang berpegang teguh (disiplin) pada ajaran Islam, anda harus berusaha terus mencari tempat bekerja yang mengizinkan pegawainya berjilbab sambil memohon kepada Allah. Insya Allah akan berhasil.

b.Ibu rumah tangga yang berhasil mendidik putra-putrinya menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, adalah jauh lebih baik daripada wanita karir yang manapun juga. Sebab menjadikan anak yang berhasil dalam mencapai tujuan hidupnya adalah jauh lebih mahal daripada gaji seorang presiden sekalipun.

c.Tidak wajib dipatuhi, sebab patuh kepada seseorang itu diperbolehkan oleh agama dalam hal-hal yang tidak menyangkut kemaksiatan.

Dasar pengambilan :

Kitab Al Bajuri juz 2 Bab Nikah :

(قَولُهُ إلَى أجْنَبِيَّةٍ) اى إلَى شَيءٍ مِنْ امْرَأةٍ أجْنَبِيَّةٍ اى غَيْرِ مَحْرَمٍ وَلَوْ أمَةً. شَمَلَ ذَلِكَ وَجْهَهَا وَكَفَّيْهَا فَيَحْرُمُ النَّظْرُ إلَيْهِمَا وَلَو مِنْ غَيْرِ شَهْوَةٍ او خُوفِ فِتْنَةٍ عَلَى الصَّحِيْحِ كَمَا فِى المِنْهَجِ وَغَيْرِهِ إلَى أَنْ قَالَ: وَقِيْلَ لاَ يَحْرُمُ لِقَولِهِ تَعَالَى: ولاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَهُوَ مُفَسِّرٌ بِالوَجْهِ وَالكَفَّيْنِ. وَالمُعْتَمَدُ الأوَّلُ, وَلاَ بَأسَ بِتَقْلِيْدِ الثَّانِى لاَ سِيَمًا فِى هَذَا الزَّمَانِ الَّذِى كَثُرَ فِيْه خُرُوجُ النِّسَآءِ فِى الطُّرُقِ وَالأسْوَاقِ وَشَمَلَ ذَلِكَ ايْضًا شَعْرَهَا وَظُفْرَهَا.

(Ucapan Mushonnif : kepada wanita lain ), artinya kepada sesuatu dari wanita lain, yaitu yang bukan muhrim,meskipun budak belian. Hal itu meliputi mukanya dan kedua telapak tangannya, sehingga haram memandang muka dan kedua telapak tangan,meskipun tanpa sahwat atau rasa takut terhadap fitnah,menurut pendapat yang benar sebagaimana tersebut dalam kitab Al-Minhaj dan lainnya … sampai pada ucapan Mushanif: Dan dikatakan: tidak haram berdasar firman Allah ta’ala: “dan jnganlah para wanita menampakan tempat perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya. Apa yang nampak ini ditafsirkan dengan muka dan kedua telapak tangan. Pendapat yang dapat dipegangi adalah yang pertama.dan tidak berdosa mengikuti pendapat yang kedua,lebih lebih pada zaman ini yang banyak para wanita keluar ke jalan-jalan dan pasar. Dan itu juga termasuk rambut kukunya”.

Hadist riwayat Imam Bukhori dari Ibn Umar :

قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَالَمْ يُؤْمَرْ بِالمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سُمِعَ وَلاَ طَاعَةَ.

Nabi saw bersabda: “Mendengarkan dan ketaatan (dari seorang isteri kepada suami, atau dari seorang murid kepada guru, atau dari rakyat kepada pemerintah… dst.) adalah wajib, selama tidak diperintah dengan kemaksiatan. Jika diperintah dengan kemaksiatan, maka tidak wajib mendengarkan dan mentaati.

Dalam segala hal wanita diharuskan berpegang dan mentaati peraturan syariat, baik dalam aspek tingkah laku, berpakaian maupun profesi. Seperti halnya ketika seorang wanita muslimah beraktifitas di luar rumah, maka beberapa ketentuan menjadi etika syariat yang wajib dilakukan di antaranya :

1. Ke luar rumah karena adanya keperluan (hajat).

2. Mendapatkan ijin suami atau wali.

3. Terjamin dari ancaman fitnah

4. Dengan menutup aurat

5. Harus menghindari terjadinya ikhtilath(bercampur baur) dengan laki-laki bukan mahram.

6. Tidak dengan cara tasyabbuh(yaitu wanita yang menyerupai laki-laki).

7. Tidak berhias

8. Tidak berpakaian ketat dengan menonjolkan bentuk tubuh.

9. Bentuk profesi yang dilakukan diperbolehkan (tidak dilarang) syariat seperti, menjadi pedagang, pengajar dsb.

آداب حياة الزوجية ص: 163ليس في الإسلام ما يمنع المرأة أن تكون تاجرة أو طبيبة أو مدرسة أو محترفة لأي حرفة تكسب منها الرزق الحلال ما دامت الضرورة تدعو إلى ذلك وما دامت تختار لنفسها الأوساط الفاضلة وتلتزم خصائص العفة التي اسلفنا بعضها اهـإسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 136ومنها خروج المرأة من بيتها متعطرة او متزينة ولو كانت مستورة وكان خروجها بإذن زوجها إذا كانت تمر فى طريقها على رجال أجانب-إلى أن قال-قال فى الزواجر وهو من الكبائر لصريح هذه الأحاديث وينبغى حمله ليوافق قواعدنا على ما إذا تحققت الفتنة أما مجرد خشيتها فإنما هو مكروه ومع ظنها حرام غير كبيرة كما هو ظاهر وعد من الكبائر أيضا خروجها بغير إذن زوجها ورضاه لغير ضرورة شرعية كاستفتاء لم يكفها إياه أو خشية نحو فجارة أو انهدام المنزل إهـ.

Wallahu A’lamu Bis showaab..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 71 : KEBERKAHAN AIR HUJAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB SHALAT ISTISQA’

HADITS KE 71 :

وَعَنْ أَنَسٍ قَالَ: ( أَصَابَنَا -وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ- صلى الله عليه وسلم مَطَرٌ قَالَ: فَحَسَرَ ثَوْبَهُ, حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ, وَقَالَ: “إِنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ” ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari dia Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah kehujanan, lalu beliau membuka bajunya sehingga badan beliau terkena hujan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hujan ini baru datang dari Tuhannya.” Riwayat Muslim.

MAKNA HADITS :

Barokah merupakan limpahan karunia ilahi yang diberikan kepada siapa yang
dikehendaki-Nya dan untuk tujuan yang Dia kehendaki pula. Allah (s.w.t)
menjadikan air hujan sebagai berkah seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكًا فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ (٩)

“Dan Kami turunkan air dari langit yang banyak mengandung manfaat…” (Surah Qaf: 9)

Oleh kerana Allah (s.w.t) menjadikannya sebagai rahmat dan menciptakannya
dalam waktu yang singkat, maka disunahkan menyambut kedatangannya untuk mengambil berkah darinya. Dalam kaitan ini, Rasulullah (s.a.w) membuka sebagian pakaiannya agar sebagian tubuhnya terkena air hujan untuk menyambut berkah yang terdapat di dalamnya, hingga air hujan menites dari
janggutnya. Baginda bersabda:
“Sesungguhnya hujan ini baru saja diciptakan oleh Tuhannya.”

FIQH HADITS :

1. Disunatkan membuka baju ketika hujan mulai turun agar memperoleh berkah.

2. Menegaskan bahwa air hujan mengandung berkah (manfaat).

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HJ011. JIKA TERJADI SENTUHAN KULIT DUA JENIS BUKAN MAHROM SAAT THOWAF

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Di madzhab syafi’i saling bersentuhan kulit dua jenis bukan mahrom (mubaasyaroh) membatalkan wudu, sedangkan dalam thowaf hal ini bukanlah hal yang mudah dihindari dan pasti terjadi. Bagaimana cara mencari solusinya ? [Wahab Abdul].

JAWABAN :

Waalaikumussalam Warohmatullahi wabarokaatuh..

Ada solusi Qiil dalam madzhab syafi’i. Menurut imam Furoni dan Imam Haromain tidak batal bila tak disengaja, menurut imam Ibnu Suraij tidak batal bila tidak syahwat, menurut imam AL AUZA’I tidak batal bila tidak menyentuh dengan tangan. Baca ktab AL BAHJAH JuZ 1 HLM 137 -138. Apakah itu muTLAQ APA khusus dalam thowaf ? Muthlaq.

Memang terdapat pendapat di kalangan Syafiiyah yang menyatakan tidak membatalkan wudhu bila persentuhan terjadi akibat tidak adanya kesengajaan, yaitu pendapat al-Furaani dan Imam Haramain. SOLUSINYA :

1. Mengikuti pendapat di atas

2. Pindah Madzhab, namun demikian harus mengikuti segala ketentuaan yang berlaku dalam madzhab yang diikutinya seperti syarat, rukun dan hal-hal yang membatalkan wudhu.

( قَوْلُهُ : وَسَوَاءٌ إلَخْ ) وَلَنَا وَجْهٌ أَنَّهُ لَا يُنْتَقَضُ وُضُوءُ الْمَلْمُوسِ ، وَوَجْهٌ أَنَّ لَمْسَ الْعُضْوِ الْأَشَلِّ أَوْ الزَّائِدِ لَا يَنْقُضُ ، وَوَجْهٌ لِابْنِ سُرَيْجٍ أَنَّهُ يُعْتَبَرُ الشَّهْوَةُ فِي الِانْتِقَاضِ قَالَ الْحَنَّاطِيُّ وَحُكِيَ هَذَا عَنْ نَصِّ الشَّافِعِيِّ ، وَوَجْهٌ حَكَاهُ الْفُورَانِيُّ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَآخَرُونَ أَنَّ اللَّمْسَ لَا يَنْقُضُ إلَّا إذَا وَقَعَ قَصْدًا ، وَأَمَّا تَخْصِيصُ النَّقْضِ بِأَعْضَاءِ الْوُضُوءِ فَلَيْسَ وَجْهًا لَنَا بَلْ مَذْهَبُ الْأَوْزَاعِيِّ وَحُكِيَ عَنْهُ أَنَّهُ لَا يَنْقُضُ إلَّا اللَّمْسُ بِالْيَدِ كَذَا فِي الْمَجْمُوعِ

Dari kalangan Syafiiyah juga terdapat beberapa pendapat :

a.Ada yang menyatakan tidak menjadi batal wudhunya orang yang disentuh

b.Ada yang menyatakan tidak membatalkan menyentuh anggauta badan yang telah lumpuh atau anggauta tambahan

c.Ada yang menyatakan (pendapat Ibn Suraij) yang membatalkan saat terjadi syahwat dalam persentuhan, berkata al-Hannaathy diceritakan ini adalah hokum yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i

d.Ada yang menyatakan (Pendapat al-Furaani dan Imam Haramain dan ulama-ulama lain) persentuhan kulit tidak membatalkan kecuali bila terjadi unsur kesengajaan.

Sedang bersentuhan kulit yang membatalkan terbatas pada anggauta wudhu’ saja bukan merupakan pendapat kalangan syafi’i namun pendapat al-Auzaa’i yang juga diceritakan menurutnya bahwa tidak membatalkan wudhu kecuali menyentuhnya dengan tangan, inilah yang diuaraikan dalam kitab al-majmuu’. [ Syarh alBahjah alWardiyyah II/44 ].

ومما تعم به البلوي في الطواف ملامسة النساء للزحمة ، فينبغي للرجل أن لا يزاحمهن ولها أن لا تزاحم الرجال خوفا من انتقاض الطهارة ، فإن لمس أحدهما بشرة الآخر ببشرته انتقض طهور اللامس وفي الملموس قولان للشافعي رحمه الله تعالي أصحهما أنه ينتقض وضوءه وهو نصه في أكثر كتبه ، والثاني لا ينتقض واختاره جماعة قليلة من أصحابه والمختار الأول .

Termasuk cobaan yang umum dalam thowaf adalah bersentuhan kulit dengan wanita karena berdesakan, maka sebaiknya bagi laki-laki tidak mendesaknya dan bagi wanita tidak mendesak kaum pria karena dikhawatirkan rusaknya bersuci, bila terjadi persentuhan kulit diantara keduanya naka batal kesuciannya orang yang menyentuh. Sedang bagi yang disentuh terdapat dua pendapat milik Imam Syafi’i rh. Pendapat yang paling shahih menyatakan juga batal wudhunya ini teks keterangan beliau dibeberapa kitabnya, sedang menurut pendapat yang kedua tidak batal, pendapat ini dipilih oleh sebagian golongan dari pengikut beliau sedang pendapat yang terpilih adalah pendapat yang pertama. [ Al-Iidhooh Hal. 102 ].

Wallahu A’lamu Bis Showaab.