logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 166 : ZAKAT HARTA HASIL TAMBANG

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 166

وَعَنْ بِلَالِ بْنِ اَلْحَارِثِ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَخَذَ مِنَ اَلْمَعَادِنِ اَلْقَبَلِيَّةِ اَلصَّدَقَةَ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُد َ

Dari Bilal Ibnu Harits Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengambil zakat dari barang-barang tambang di Qalibiyah. Riwayat Abu Dawud.

MAKNA HADIST

Pemimpin berhak memberikan tanah yang tidak ada pemiliknya kepada sesiapa yang dikehendakinya dari kalangan orang yang mau mengelolanya. Nabi (s.a.w) pernah memberikan tanah yang mengandung barang galian yang terletak di al-Qabaliyyah kepada Bilal al-Muzani. Al-Qabaliyyah adalah nama sebuah tempat
yang terletak lima hari perjalanan dari kota Madinah menuju ke arah al-Furu’.
Baginda mengenakan zakat terhadap hasil yang digali di lombong itu. Meskipun, makna sedekah di sini masih diperselisihkan oleh ulama. Menurut satu pendapat, Itu merupakan zakat, tetapi dengan syarat jumlahnya mencapai nisab dengan alasan bahwa barang galian bukanlah rikaz. Menurut pendapat lain, apa yang dimaksud dengan zakat ialah al-khumus atau seperlima dengan alasan bahwa barang galian itu sama dengan rikaz. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah.

FIQH HADIST

  1. Barang siapa yang memperoleh barang galian, maka pada saat itu juga
    dia diwajibkan membayar zakatnya sebanyak dua puluh persen. Jumhur ulama mengatakan bahwa zakat barang tambang adalah dua puluh persen dibayar seketika dan tunai. Imam Abu Hanifah mengatakan bahwa barang tambang dikenakan khumus atau seperlimanya karena kedudukannya
    sama dengan rikaz.
  2. Wajib mengeluarkan zakat emas dan perak, sedangkan perhiasan selain itu tidak wajib dizakati, karena emas dan perak dapat dikembangkan dan dengan itu segala sesuatu dapat terbeli.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 165 : UKURAN ZAKAT HARTA RIKAZ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 165

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ -فِي كَنْزٍ وَجَدَهُ رَجُلٌ فِي خَرِبَةٍ-: إِنْ وَجَدْتَهُ فِي قَرْيَةٍ مَسْكُونَةٍ, فَعَرِّفْهُ, وَإِنْ وَجَدْتَهُ فِي قَرْيَةٍ غَيْرِ مَسْكُونَةٍ, فَفِيهِ وَفِي اَلرِّكَازِ: اَلْخُمُسُ  )  أَخْرَجَهُ اِبْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ حَسَن ٍ

Dari Amar Ibnu Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tentang harta simpanan yang ditemukan seseorang di suatu tempat yang tidak berpenghuni. Jika engkau menemukannya pada kampung yang dihuni orang, maka umumkan. Jika engkau menemukannya pada kampung yang tidak dihuni orang, maka zakatnya sebagai rikaz itu seperlima.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah dengan sanad hasan.

MAKNA HADIST

Harta yang ditemukan di atas permukaan tanah tanpa dipendam atau ditemukan di kawasan tanah yang bertuan, yakni tanah milik seseorang atau ditemukan dalam keadaan terpendam di tengah jalan, di dalam masjid, atau di tempat pos kawalan, tidaklah disebut harta rikaz, sebaliknya barang temuan dan berlaku ke atasnya hukum barang temuan. Harta rikaz yang menurut syariat wajib dikeluarkan seperlimanya mestilah memenuhi dua kriteria. ~Pertama,~ hendaklah dalam keadaan terpendam sebagai peninggalan zaman dahulu. Kedua hendaklah barang tersebut berada di dalam tanah yang tidak bertuan. Dengan demikian, jelaslah perbedaan antara barang temuan dengan harta rikaz. Hadis ini menetapkan pengertian tersebut dengan jelas.

FIQH HADIST

  1. Boleh mengambil barang temuan tetapi dengan syarat harus mengumumkannya terlebih dahulu.
  2. Zakat harta karun yang ditemukan di dalam kampung yang telah ditinggalkan oleh penduduknya adalah satu perlima, yakni dua puluh peratus, kerana diqiaskan kepada rikaz.

Wallahu a'lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 164 : ZAKAT HARTA RIKAZ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 164

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: “وَفِي اَلرِّكَازِ: اَلْخُمُسُ” ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه ِ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Zakat rikaz (harta peninggalan purbakala) adalah seperlima.” Muttafaq Alaihi.

MAKNA HADIST

Setelah Ibn Hajar selesai menyebutkan hadis-hadis mengenai zakat barang
perniagaan, beliau menyebutkan hukum zakat harta rikaz. beliau mengemukakan hadis Abu Hurairah (r.a) yang menunjukkan bahwa zakat harta rikaz itu adalah satu perlima.
Ulama berselisih pendapat mengenai makna rikaz. Pendapat mereka dibagikan menjadi dua kumpulan.

Pertama : pendapat jumhur ulama, yaitu Imam Malik, Imam al-Syafi’i, dan Imam Ahmad di mana mereka mengatakan bahwa harta rikaz adalah harta terpendam di dalam tanah yang merupakan peninggalan harta berharga pada zaman Jahiliah. Rikaz berbeda dengan harta galian kerana berdasarkan dalil hadis:

الهجماء جبار، والمعدن جبار وفى الركاز الخمس

“Luka kerana haiwan adalah sia-sia, barang galian adalah sia-sia, dan di dalam harta rikaz terdapat zakat satu perlima.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Meng-‘athaf-kan lafaz al-rikaz kepada lafaz al-ma’adin menunjukkan bahwa keduanya barang yang berlainan.

Kedua : adalah menurut pendapat Imam Abu Hanifah dimana beliau mengatakan bahwa rikaz sama dengan al-ma’adin (barang galian). Beliau menetapkan zakat satu perlima ke atas, baik yang berjumlah sedikit ataupun banyak tanpa ada ikatan nisab.

Imam al-Syafi’i mensyaratkan nisab pada rikaz berdasarkan hadis:

ليس فيما دون خمس اوسوق صدقة

“Emas yang jumlahnya kurang daripada lima auqiyah tidak dikenakan kewajipan
mengeluarkan zakat.”

Barang galian, menurut jumhur ulama, wajib dikeluarkan zakatnya apabila
jumlahnya mencapai nisab.

FIQH HADIST

Harta rikaz wajib dikeluarkan zakatnya. Jumhur ulama mengatakan bahwa baik sedikit ataupun banyak, adalah sama dimana ia wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak satu perlima.
Imam al-Syafi’i dalam qaul jadid mensyaratkan jumlahnya mencapai nisab. Oleh karna itu, harta rikaz yang jumlahnya masih di bawah nisab tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali apabila di dalam milik seseorang itu terdapat harta lain yang sama jenisnya dengan harta rikaz yang dijumpainya hingga jumlahnya genap mencapai nisab. Imam al-Syafi’i menambahkan bahwa syarat wajib zakat pada harta rikaz apabila berupa dua mata uang atau dalam bentuk lain, tetapi masih tetap dianggap sebagai mata uang, kerana berlandaskan kepada makna dahir hadis.
Hal yang sama turut dikemukakan pula oleh mazhab Hanafi, namun mereka mewajibkan satu perlima dan menjadikannya sebagai harta fai’.
Imam Ahmad mewajibkan satu perempat daripada sepersepuluh, yakni dua setengah peratus dan beliau menjadikannya sebagai zakat. Menurut Imam Malik, ada dua riwayat seperti mana dua pendapat yang di atas; masing-masing riwayat ini diceritakan oleh Ibn al-Qasim.

Penjelasan mengenai kadar zakat harta rikaz zaman dahulu, yaitu satu perlima, karena harta tersebut dikeluarkan tanpa bersusah payah. Lain halnya dengan barang galian, karena barang galian dikeluarkan dengan kerja berat dan bersusah payah.

Penjelasan yang mengatakan bahwa orang yang menemukan harta rikaz sesudah dia mengeluarkan satu perlimanya bererti dia memiliki sisanya sebanyak empat perlimanya atau delapan puluh perseratus.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 161-162 : ZAKAT PERHIASAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 161-162

وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ; ( أَنَّ اِمْرَأَةً أَتَتِ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَمَعَهَا اِبْنَةٌ لَهَا, وَفِي يَدِ اِبْنَتِهَا مِسْكَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ, فَقَالَ لَهَا: “أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا?” قَالَتْ: لَا. قَالَ: “أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اَللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ?”. فَأَلْقَتْهُمَا. )  رَوَاهُ اَلثَّلَاثَةُ, وَإِسْنَادُهُ قَوِيّ ٌ. وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَة

Dari Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas ditangannya. Lalu beliau bertanya: “Apakah engkau mengeluarkan zakat gelang ini?” Dia menjawab: Tidak. Beliau bersabda: “Apakah engkau senang pada hari kiamat nanti Allah akan menggelangi kamu dengan dua gelang api neraka?” Lalu perempuan itu melepaskan kedua gelang tersebut. Riwayat Imam Tiga dengan sanad yang kuat. Hadits shahih menurut Hakim dari hadits ‘Aisyah.

وَعَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; ( أَنَّهَا كَانَتْ تَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَكَنْزٌ هُوَ? ] فَـ [ قَالَ: إِذَا أَدَّيْتِ زَكَاتَهُ, فَلَيْسَ بِكَنْزٍ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.

Dari Ummu Salamah Radliyallaahu ‘anhu bahwa dia mengenakan perhiasan dari emas, lalu dia bertanya: Ya Rasulullah, apakah ia termasuk harta simpanan? Beliau menjawab: “Jika engkau mengeluarkan zakatnya, maka ia tidak termasuh harta simpanan.” Riwayat Abu Dawud dan Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim.

MAKNA HADIST


Nabi (s.a.w) membolehkan kaum wanita memakai perhiasan emas dan perak,
sebagai mana yang telah disebutkan di dalam hadis lain yang mengatakan bahawa Rasulullah (s.a.w) mengambil kain sutera, lalu dipegang di tangan kanannya, danemas yang baginda pegang di tangan kirinya, kemudian bersabda:


ان هذين حرام على ذكور امتي حل لإناثها

Sesungguhnya kedua barangan ini haram bagi kaum lelaki umatku, namun halal bagi
kaum wanita

Hadis ini menunjukkan bahwa perhiasan kaum wanita tidak dikenakan wajib zakat. Inilah yang dijadikan pegangan oleh jumhur ulama dan dikuatkan oleh fatwa ulama salaf serta kebiasaan yang berlaku yang tidak mengenakan wajibzakat terhadap perhiasan kaum wanita.
Imam Abu Hanifah mengatakan bahawa perhiasan wajib dikenakan zakat,apabila jumlahnya telah mencapai nisab kerana disamakan dengan makna umum wajib zakat atas emas dan perak, di samping itu berdasarkan hadis-hadis yang mengancam dan mengingatkan orang yang tidak menunaikan zakatnya. Akan tetapi, menurut jumhur ulama kesahihan hadis-hadis yang mengandung ancaman masih belum dapat dibuktikan

FIQH HADIST


Perhiasan wajib dikeluarkan zakatnya menurut Imam Abu Hanifah yang melandaskan pendapatnya dengan berdalilkan hadis Ummu Salamah.
Jumhur ulama mengatakan bahawa barang perhiasan yang dibuat untuk dipakai tidak dikenakan kewajipan membayar zakat. Segolongan ulama ada yang mengatakan bahawa zakat barang perhiasan itu ialah meminjamkannya.
Segolongan ulama yang lain mengatakan bahawa perhiasan itu wajib dikeluarkan zakat satu kali selama hidupnya.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S070. SHALAT MEMEJAMKAN MATA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh..

Bagaimana hukumnya sholat sambil memejamkan mata karna untuk menambah ke khusuan dalam sholat

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam Warohamatullahi Wabarokatuh..

Hukumnya sholat sambil memejamkan mata itu MAKRUH, terkecuali ada kepentingan dalam memejamkan matanya seperti agar dapat lebih khusyu’, tidak terganggu dengan pandangan matanya, khawatir melihat hal-hal yang haram maka tidak lagi makruh bahkan lebih baik ketimbang matanya terbuka.

89 – ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ – الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَبَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ – إِلَى كَرَاهَةِ تَغْمِيضِ الْعَيْنَيْنِ فِي الصَّلاَةِ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ يُغْمِضُ عَيْنَيْهِ (4) .

وَاحْتَجَّ لَهُ – أَيْضًا – بِأَنَّهُ فِعْل الْيَهُودِ ، وَمَظِنَّةُ النَّوْمِ . وَعَلَّل فِي الْبَدَائِعِ : بِأَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَرْمِيَ بِبَصَرِهِ إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ وَفِي التَّغْمِيضِ تَرْكُهَا . وَالْكَرَاهَةُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ تَنْزِيهِيَّةٌ .

وَاسْتَثْنَوْا مِنْ ذَلِكَ التَّغْمِيضَ لِكَمَال الْخُشُوعِ ، بِأَنْ خَافَ فَوْتَ الْخُشُوعِ بِسَبَبِ رُؤْيَةِ مَا يُفَرِّقُ الْخَاطِرَ فَلاَ يُكْرَهُ حِينَئِذٍ ، بَل قَال بَعْضُهُمْ : إِنَّهُ الأَْوْلَى . قَال ابْنُ عَابِدِينَ : وَلَيْسَ بِبَعِيدٍ .

قَال الْمَالِكِيَّةُ : وَمَحَل كَرَاهَةِ التَّغْمِيضِ مَا لَمْ يَخَفِ النَّظَرَ لِمُحَرَّمٍ ، أَوْ يَكُونُ فَتْحُ بَصَرِهِ يُشَوِّشُهُ ، وَإِلاَّ فَلاَ يُكْرَهُ التَّغْمِيضُ حِينَئِذٍ .

وَاخْتَارَ النَّوَوِيُّ : أَنَّهُ لاَ يُكْرَهُ – أَيْ تَغْمِيضُ الْعَيْنَيْنِ – إِنْ لَمْ يَخَفْ مِنْهُ ضَرَرًا عَلَى نَفْسِهِ ، أَوْ غَيْرِهِ فَإِنْ خَافَ مِنْهُ ضَرَرًا كُرِهَ (1)

(1) حاشية ابن عابدين 1 / 434 ، حاشية الدسوقي 1 / 254 ، مغني المحتاج 1 / 181 ، شرح روض الطالب 1 / 169 ، كشاف القناع 1 / 370 .

(4) حديث : ” إذا قام أحدكم في الصلاة فلا يغمض عينيه ” . أخرجه الطبراني في المعجم الكبير ( 11 / 34 – ط وزارة الأوقاف العراقية ) من حديث ابن عباس ، وأورده الهيثمي في ( مجمع الزوائد 2 / 83 – ط . اقدسي ) وقال : فيه ليث بن أبي سليم وهو مدلس وقد عنعنه .

Mayoritas Ulama Fiqh (Hanafiyyah, Malikiyyah, Hanabilah dan sebagian Syafi’iiyyah) menilai makruhnya shalat dengan memejamkan kedua mata berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam “Bila salah seorang diantara kalian berdiri menjalankan shalat, maka janganlah memejamkan kedua matanya”. (HR. at-Thabrany dalam Mu’jam al-Kabiir XI/34).

Alasan kemakruhan diatas karena disinyalir memejamkan mata saat ibadah merupakan perbuatan orang-orang Yahudi, dapat kebablasan ketiduran dan disebutkan dalam al-Badaa-I’ (juga kebanyakan kitab fiqih lainnya) bahwa yang sunah adalah mengarahkan pandangan pada tempat sujudnya dan dengan terpejam berarti meninggalkannya.

Kemakruhannya menurut kalangan Hanafiyyah tergolong MAKRUH TANZIIH

Dikecualikan dari ketentuan diatas memejamkan mata untuk menggapai sempurnanya kekhusyuan, dalam arti mengkhawatirkan hilangnya kekhusyuan saat matanya terbuka sebab melihat hal-hal yang dapat mencerai beraikan konsentrasi maka yang demikian tidak lagi makruh hukumnya bahkan sebagian ulama fiqh mengisyaratkan memejamkan mata dalam kondisi semacam ini justru lebih baik, Ibn ‘Abidiin berkata “Hal demikian tidaklah jauh (dari kebenaran)”

Kalangan Malikiyyah berpendapat : Kemakruhan memejamkan mata tersebut bila tidak dikhawatirkan saat matanya terbuka akan melihat hal-hal yang haram atau mengacaukan kekhusyuannya bila demikian maka memejamkan mata baginya tidak lagi dimakruhkan.

Imam an-Nawaawy cenderung memilih “Memejamkan mata saat shalat tidaklah makruh bila tidak dikhawatirkan berdampak dharar (bahaya0 dalam dirinya atau orang lainnya, bila dikhawatirkan maka makruh. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 27/105 ].

11ً – تغميض العينين إلا لخوف وقوع بصره على ما يشغله عن صلاته، روى ابن عدي في حديث بسند ضعيف: «إذا قام أحدكم في الصلاة فلا يغمض عينيه» لأن السنة النظر إلى موضع سجوده وفي التغميض تركها، والكراهة تنزيهية بالاتفاق.

No. 11. Dari kemakruhan-kemakruhan saat shalat. Memejamkan mata kecuali saat dikhawatirkan mengarahnya pandangan pada hal yang dapat membuatnya terlena dari shalatnya. Diriwayatkan dari Ibn ‘Ady dalam hadits dengan sanad dho’if “Bila salah seorang diantara kalian berdiri menjalankan shalat, maka janganlah memejamkan kedua matanya” karena sunahnya memandang tempat sujud dan memejamkan mata berarti meninggalkan kesunahannya, kemakruhannya tergolong makruh tanzih dengan kesepakatan ulama. [ Al-Fiqh al-Islaam II/135 ].

وَيُكْرَهُ أَيْضًا فِي الصَّلاَةِ تَغْمِيضُ الْعَيْنَيْنِ إِلاَّ لِحَاجَةٍ ، وَلاَ يُعْلَمُ فِي ذَلِكَ خِلاَفٌ

Kalangan Malikiyyah berpendapat “Dimakruhkan juga memejamkan kedua mata saat shalat kecuali ada kepentingan, dan tidak diketahui dalam hal tersebut terjadi perbedaan pendapat”. [ Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah VIII/99 ].

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

D055. PERBEDAAN MUSIBAH DAN BALA’

PERTANYAAN:

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh..

Perbedaan antara ujian dan hukuman dari Alloh itu apa, ya kiyai??

JAWABAN:

Wa’alaikum Salam Warohamatullahi Wabarokatuh..

Bala’ atau musibah itu ada tiga macam tujuannya : Yaitu bala’ (musibah)sebagai hukuman, bala’ sebagai penghapus dosa dan bala’ sebagai pengangkat derajat.

Hal ini berdasarkan keadaan atau reaksi orang yang terkena bala’ tersebut, sebagaimana keterangan dari Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani dalam kitab At Tabaqotul Kubro karya Syeikh Abdul Wahhab As-Sya’roni. Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani berkata :

علامة الابتلاء على وجه العقوبة، والمقابلة عدم الصبر عند وجود البلاء والجزع، والشكوى إلى الخلق، وعلامة الابتلاء تكفيراً، وتمحيصاً للخطيئات، وجود الصبر الجميل من غير شكوى، ولا جزع ولا ضجر، ولا ثقل في أداء الأوامر، والطاعات، وعلامة الابتلاء لارتفاع الدرجات، وجود الرضا والموافقة، وطمأنينة النفس والسكون للأقدار حتى تنكشف

” Tandanya bala’/ musibah sebagai hukuman dan pembalasan adalah orang yang menerima bala’ tersebut tidak bersabar, malah bersedih dan mengeluh kepada makhluk. Tandanya bala’/musibah sebagai penebus dan penghapus kesalahan-kesalahan adalah kesabaran yang bagus tanpa adanya mengeluh , tidak bersedih dan tidak gelisah, serta tidak merasa berat ketika melakukan ketaatan – kataatan. Sedangkan tandanya bala’/ musibah sebagai pengangkat derajat adalah adanya ridho, merasa cocok dan tenangnya jiwa serta tunduk patuh terhadap ketetapan ketetapan Allah hingga hilangnya bala’ tersebut “.

Ujian dan cobaan dalam kehidupan sejatinya bukan untuk mengukur kekuatan dirimu tetapi untuk mengukur kekuatan kepasrahan, tawakkal dan kesungguhanmu memohon pertolongan dari Allah Azza Wa Jalla. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash beliau berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam : “Ya Rasulallah, siapa manusia yang paling berat cobaannya ?”. Rasulullah menjawab : “Para Nabi, lalu orang-orang shalih, lalu orang-orang yang semisal dengan mereka, lalu yang semisal dengan mereka. Seseungguhnya seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas Dien (agama) nya, semakin kuat ia berpegang teguh dengan Dien nya, semakin berat cobaan dan ujian yang diterimanya. Sedangkan yang Dien nya biasa-biasa saja, maka ia diuji sebatas kualitas(mutu) Dien nya itu. Dan ujian itu akan terus menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di atas bumi tanpa dosa”. (HR Tirmidzi dengan derajat Hasan Shahih, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban).

الابتلاء ليس احتبارا عن قوتك الذاتية ولكن احتبار عن قوة استعانتك بالله

عَنْ سعد بن أبي وقاص قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الصَّالِحُونَ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Tuhfatul Ahwadzi :

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻗﺘﻴﺒﺔ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺣﻤﺎﺩ ﺑﻦ ﺯﻳﺪ ﻋﻦ ﻋﺎﺻﻢ ﺑﻦ ﺑﻬﺪﻟﺔ ﻋﻦ ﻣﺼﻌﺐ ﺑﻦ ﺳﻌﺪ ﻋﻦ ﺃﺑﻴﻪ ﻗﺎﻝ ﻗﻠﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ ﻓﻴﺒﺘﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺩﻳﻨﻪ ﺻﻠﺒﺎ ﺍﺷﺘﺪ ﺑﻼﺅﻩ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺩﻳﻨﻪ ﺭﻗﺔ ﺍﺑﺘﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﺐ ﺩﻳﻨﻪ ﻓﻤﺎ ﻳﺒﺮﺡ ﺍﻟﺒﻼﺀ ﺑﺎﻟﻌﺒﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﺖﺭﻛﻪ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺭﺽ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺧﻄﻴﺌﺔ ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﻋﻴﺴﻰ ﻫﺬﺍ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺒﺎﺏ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻭﺃﺧﺖ ﺣﺬﻳﻔﺔ ﺑﻦ ﺍﻟﻴﻤﺎﻥ ﺃﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺌﻞ ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ

Syarah Hadits :

ﻗﻮﻟﻪ : ) ﺃﻱ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺷﺪ ( ﺃﻱ ﺃﻛﺜﺮ ﻭﺃﺻﻌﺐ ) ﺑﻼﺀ ( ﺃﻱ ﻣﺤﻨﺔ ﻭﻣﺼﻴﺒﺔ ) ﻗﺎﻝ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ( ﺃﻱ ﻫﻢ ﺃﺷﺪ ﻓﻲ ﺍﻻﺑﺘﻼﺀ ﻷﻧﻬﻢ ﻳﺘﻠﺬﺫﻭﻥ ﺑﺎﻟﺒﻼﺀ ﻛﻤﺎ ﻳﺘﻠﺬﺫ ﻏﻴﺮﻫﻢ ﺑﺎﻟﻨﻌﻤﺎﺀ ، ﻭﻷﻧﻬﻢ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﺒﺘﻠﻮﺍ ﻝﺗﻮﻫﻢ ﻓﻴﻬﻢ ﺍﻷﻟﻮﻫﻴﺔ ، ﻭﻟﻴﺘﻮﻫﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻣﺔ ﺍﻟﺼﺒﺮ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺒﻠﻴﺔ . ﻭﻷﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺑﻼﺀ ﻛﺎﻥ ﺃﺷﺪ ﺗﻀﺮﻉﺍ ﻭﺍﻟﺘﺠﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ) ﺛﻢ ﺍﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ( ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ : ﺍﻷﻣﺜﻞ ﺃﻓﻌﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺜﺎﻟﺔ ﻭﺍﻟﺠﻤﻊ ﺃﻣﺎﺛﻞ ﻭﻫﻢ ﺍﻟﻔﻀﻼﺀ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﻠﻚ : ﺃﻱ ﺍﻷﺷﺮﻑ ﻓﺎﻷﺷﺮﻑ ﻭﺍﻷﻋﻠﻰ ﻓﺎﻷﻋﻠﻰ ﺭﺗﺒﺔ ﻭﻣﻨﺰﻟﺔ . ﻳﻌﻨﻲ ﻣﻦ ﻫﻮ ] ﺹ: 67 [ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻼﺅﻩ ﺃﺷﺪ ﻟﻴﻜﻮﻥ ﺛﻮﺍﺑﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻄﻴﺒﻲ : ” ﺛﻢ ” ﻓﻴﻪ ﻟﻠﺘﺮﺍﺧﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﺗﺒﺔ ﻭﺍﻟﻔﺎﺀ ﻟﻠﺘﻌﺎﻗﺐ ﻋﻠﻰ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﺘﻮﺍﻟﻲ ﺗﻨﺰﻻ ﻣﻦ ﺍﻷﻋﻠﻰ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﺳﻔﻞ ﻭﺍﻟﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻷﻥﺑﻴﺎ

Wallahu a’lamu bisshowab..

Kategori
Uncategorized

T049. HUKUM BANGKAI LARON (JEDJELENG) DIBAWA SHALAT

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh..

Diskripsi masalah :
Di musim hujan ini biasanya banyak laron (jedjeleng) yang bertebaran di dalam tempat yang ada lampunya sehingga banyak yang mati di tempat tersebu

Pertanyaannya :

1. Bagaimana hukumnya bangkai laron (jedjeleng) tersebut?

2. Bagaimana hukum sholatnya orang di Tempat yang banyak bangkai laronnya?

JAWABAN :

Wa’alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sebelumnya patut dipahami terlebih dahulu bahwa najis secara umum terbagi menjadi empat kategori. Pembagian najis ini, secara lugas dijelaskan dalam kitab Hasyiyah asy-Syarqawi berikut ini:

واعلم أن النجاسة أربعة أقسام: قسم لا يعفى عنه مطلقاً وهو معروف، وقسم عكسه وهو ما لا يدركه الطرف، وقسم يعفى عنه في الثوب دون الماء وهو قليل الدم لسهولة صون الماء عنه، ومنه أثر الاستنجاء فيعفى عنه في البدن، والثوب المحاذي لمحله خلافاً لابن حجر، وقسم عفي عنه في الماء دون الثوب وهو الميتة التي لا دم لها سائل حتى لو حملها في الصلاة بطلت

“Ketahuilah bahwa najis terbagi menjadi empat macam. Pertama, najis yang tidak ditoleansi (ma’fu) secara mutlak. Najis ini sudah dapat diketahui secara umum. Kedua, najis yang ditoleransi secara mutlak. Najis ini adalah najis yang tidak dapat dijangkau pandangan mata. Ketiga, najis yang ditoleransi ketika terdapat di badan, tapi tidak ketika terdapat di air. Najis ini misalnya seperti darah yang sedikit, sebab mudahnya menjaga air dari najis tersebut. Dan juga bekas istinja’, maka najis tersebut ditoleransi ketika terdapat di badan dan pakaian yang sejajar dengan tempat keluarnya najis. Namun, Ibnu Hajar berpandangan, najis tersebut tidak ditoleransi. Keempat, najis yang ditoleransi di air, tapi tidak di pakaian. Najis ini berupa bangkai yang tidak terdapat darah yang mengalir (ketika dipotong bagian tubuhnya), sehingga ketika seseorang membawa bangkai ini saat shalat, maka shalatnya menjadi batal” (Abdullah bin Hijazi bin Ibrahim al-Azhari, Hasyiyah asy-Syarqawi, juz 1, hal. 277)

Penjelasan tentang Najis yang Dimaafkan dan yang Tak Dimaafkan Berpijak pada referensi di atas, dapat dipahami bahwa bangkai laron serta bangkai hewan serangga yang lain termasuk dalam cakupan najis yang keempat, yakni najis yang ditolerir (dimaafkan) di air, tapi tidak di tolerir (tidak di maafkan) ketika berada di tubuh dan pakaian yang digunakan seseorang. Sehingga ketika seseorang sebelum shalat mengetahui adanya bangkai serangga yang hinggap di pakaian atau tubuhnya, maka wajib baginya untuk menghilangkan bangkai tersebut serta menyucikan pakaian dan tubuhnya yang terkena serangga dengan air, agar dapat kembali dihukumi suci. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka shalat yang dilakukan menjadi tidak sah. Berbeda halnya ketika seseorang tidak mengetahui atau lupa terhadap wujudnya bangkai serangga yang mengenai pakaiannya, lalu pakaian tersebut ia gunakan untuk shalat, setelah shalat selesai, ia baru mengetahui akan keberadaan bangkai serangga yang hinggap di pakaiannya.

Dalam konteks ini, tentang apakah shalat wajib diulang atau tidak, para ulama berbeda pendapat. Perbedaan pendapat ini seperti yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab berikut ini:

(فرع) في مذاهب العلماء فيمن صلى بنجاسة نسيها أو جهلها . ذكرنا أن الأصح في مذهبنا وجوب الإعادة وبه قال أبو قلابة وأحمد وقال جمهور العلماء : لا إعادة عليه , حكاه ابن المنذر عن ابن عمر وابن المسيب وطاوس وعطاء وسالم بن عبد الله ومجاهد والشعبي والنخعي والزهري ويحيى الأنصاري والأوزاعي وإسحاق وأبي ثور قال ابن المنذر وبه أقول , وهو مذهب ربيعة ومالك وهو قوي في الدليل وهو المختار .

“Cabang pembahasan yang menjelaskan beberapa pendapat ulama tentang orang yang shalat dengan membawa najis yang ia lupakan atau tidak diketahuinya. Kami menyebutkan bahwa sesungguhnya qaul ashah (pendapat yang cenderung lebih benar) dalam mazhab kita (mazhab Syafi’i) wajib mengulangi shalatnya. Pendapat demikian diikuti oleh Abu Qalabah dan Imam Ahmad. Mayoritas ulama berpendapat tidak wajib mengulangi shalatnya, pendapat demikian diungkapkan oleh Imam Ibnu Mundzir dari riwayat Sahabat Ibnu ‘Umar, Ibnu al-Musayyab Thawus, Atha’, Salim bin ‘Abdullah, Mujahid, Sya’bi, Nukho’i, Zuhri,Yahya al-Anshari, Auza’I, Ishaq, dan Imam Abi Tsur,. Imam Ibnu Mundzir begitu juga aku (Imam Nawawi) berkata: ”Pendapat tidak wajibnya mengulangi shalat adalah pendapat Imam Malik. Pendapat ini kuat dari segi dalilnya dan merupakan pendapat yang terpilih” (Syarafuddin Yahya an-Nawawi, Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 4, hal. 163)

Kedua pendapat yang ditampilkan dalam referensi di atas sama-sama kuat secara dalil, sehingga dapat dijadikan pijakan serta diamalkan.

Sedangkan ketika bangkai serangga terdapat di bawah sajadah yang digunakan untuk shalat, maka bangkai tersebut tidak mempengaruhi terhadap keabsahan shalat, sebab dalam keadaan demikian seseorang tidak dianggap membawa ataupun bersentuhan dengan najis. Lebih lengkapnya, silahkan simak dalam artikel “Ada najis di Bawah Sajadah, Apakah Shalat Tetap Sah?” Jika ternyata ketentuan hukum di atas, menurut sebagian orang dirasa cukup berat, maka sebagai solusi terakhir, kita dapat berpijak pada pandangan Imam Qaffal yang berpandangan bahwa bangkai serangga dan hewan-hewan lain yang tidak mengalirkan darah dihukumi suci.

Berikut penjelasannya:

وقال القفال إن ميتة ما لا يسيل دمه طاهرة كالقمل والبراغيث والذباب اهـ فيجوز للإنسان أن يقلده في حق نفسه اهـ

“Imam Qaffal berkata: ‘Sesungguhnya bangkai hewan yang tidak mengalirkan darah itu suci, seperti kutu, nyamuk, lalat. Maka boleh bagi seseorang mengikuti pendapat tersebut untuk pengamalan dirinya sendiri” (Ahmad al-Maihi as-Syaibini, Hasyiyah al-Maihi as-Syaibini ala Syarh as-Sittin Mas’alah li a-Ramli, hal. 106)

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan di atas adalah bahwa bangkai laron dan serangga yang lain tidak dihukumi najis yang ma’fu (ditoleransi) secara mutlak, tapi hanya ma’fu ketika mengenai air saja. Sehingga, ketika bangkai tersebut mengenai pakaian ataupun tubuh seseorang, ia harus menyucikannya terlebih dahulu agar shalat yang dilakukan dapat dihukumi sah. Sedangkan ketika bangkai serangga diketahui keberadaannya setelah selesai melakukan shalat, maka dalam menyikapi wajib tidaknya mengulang shalat terdapat dua perbedaan pendapat di antara para ulama.

Perincian hukum di atas, selain berlaku pada bangkai serangga, juga berlaku pada potongan tubuh serangga yang mengenai pakaian atau tubuh seseorang, misalnya seperti sayap, kepala dan bagian tubuh serangga yang lain. Hal ini berdasarkan hadits:

مَا قُطِعَ مِنْ حَيٍّ فَهُوَ مَيِّتٌ

“Sesuatu yang terpisah dari hewan yang hidup, maka statusnya seperti halnya dalam keadaan (menjadi) bangkai” (HR. Hakim).

Maka sebaiknya bagi kita lebih hati-hati sebelum hendak melaksanakan shalat, alangkah lebih baik jika sebelum shalat kita memperhatikan pakaian dan tubuh kita, apakah sudah bersih dari najis atau masih terselip najis yang menempel pada pakaian dan tubuh kita tanpa kita sadari. Sehingga shalat yang kita lakukan dapat benar-benar suci dari najis serta dapat dilaksanakan secara sempurna.

Wallahu a’lamu Bisshowab..

Kategori
Uncategorized

WISUDA PERDANA AT-TANZIL DI PONDOK IKABA & IMABA MALAYSIA

Latar Belakang Program AT-Tanzil Malaysia

Metode Praktis Belajar Membaca Al-Qur’an “AT-TANZIL” sudah digunakan di Lima Negara, termasuk di negeri jiran Malaysia dan sedang proses pengenalan di negara-negara lainnya.

Kemahiran membaca Al-Qur’an adalah salah satu keperluan bagi anak-anak muslim. Namun isu anak-anak mulai tidak menyukai mempelajari Al-Qur’an adalah hal yang perlu menjadi perhatian serius. Hal ini disebabkan kurangnya dukungan orang tua, tidak ada nya lingkungan mengaji yang baik, kurang nya pengajar yang membantu serta perbagai metode dalam mengajar Al-Qur’an.

Maka IKABA & IMABA Malaysia Mengambil bagian untuk sama-sama hadir dalam menjalankan satu program akselarasi membaca al-quran menggunakan metode At-Tanzil yang di mulai pada tanggal 9 september 2018 yang bertempat di Surau An-Najah balakong dan di Pondok IMABA Damansara hingga tanggal 30 maret 2019.

Untuk menyempurnakan program tersebut kami telah mengadakan program graduasi atau Wisuda Perdana.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh :
– R.KH. AHMAD MAHFUDZ ABDUL QADIR. (Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bira Timur Sampang Madura Indonesia).
– R.KH. Mohammad Istbat Abdul Qadir (Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bira Timur Sampang Madura Indonesia).
– Bpk. Badrul Jamal (KBRI Malaysia)
– Para tokoh-tokoh Akademisi Seperti DATOK DR. YUSUF OTHMAN (UKM) dan DATIN JAWIYAH (UKM).
– Pengurus DPP IKABA & IMABA
– Para Undangan dan Wali santri.

Semoga acara ini bisa menambah semangat bagi para pencinta Al-Qur’an untuk mengembangkan anak didiknya dalam “Mencetak generasi Qur’ani, Menyongsong masa depan gemilang”.

رب هب لي من الصالحين. أمين.

Kategori
Uncategorized

HADITS KE 160 : CARA MENGHITUNG ZAKAT ANGGUR DAN KURMA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم

KAJIAN KITAB IBANAH AL-AHKAM KARYA ASSAYYID ALAWI BIN ABBAS AL-MALIKI

《JILID II (DUA)》

BAB ZAKAT

HADITS KE 160

وَعَنْ عَتَّابِ بنِ أُسَيْدٍ رضي الله عنه قَالَ: أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( أَنْ يُخْرَصَ اَلْعِنَبُ كَمَا يُخْرَصُ اَلنَّخْلُ, وَتُؤْخَذَ زَكَاتُهُ زَبِيبًا ) رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ, وَفِيهِ اِنْقِطَاع ٌ

Attab Ibnu Asid Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan agar anggur ditaksir sebagaimana kurma, dan zakatnya diambil setelah dalam keadaan kering. Riwayat Imam Lima dan sanadnya terputus.

MAKNA HADIST

Kaum fakir miskin adalah kawan bagi orang yang memiliki harta termasuk buah-
buahan dalam kadar yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka dari zakat buah-buahan itu. Jika pemilik buah-buahan dilarang dari memanfaatkan buah-buahan mereka hingga masak, niscaya ini akan menyusahkan mereka. Jika dia memetiknya dengan sesuka hatinya, nescaya itu merugikan hak kaum fakir
miskin yang terdapat pada buah-buahan miliknya.
Oleh kepercayaan atau sifat amanah tidak dapat diwujudkan di kalangan setiap pemilik harta, demikian pula para pekerjanya, maka syariat menetapkan satu kaedah ini dengan membuat taksiran yang dilakukan oleh amil zakat.
Tujuannya supaya pemilik harta segera dapat memanfaatkan harta miliknya sekaligus memelihara hak kaum fakir miskin yang ada pada hartanya itu.

FIQH HADIST

1. Disyariatkan melakukan taksiran zakat terhadap buah kurma dan anggur
yang masih bergantung pada pohonnya.

2. Zakat buah kurma dan anggur diambil setelah keduanya benar-benar masak, yakni setelah menjadi tamar dan kismis.

Wallahu a’lam bisshowab..

Demikian Kajian Hadits untuk hari ini.

Semoga bermanfaat. Aamiin..

Kategori
Uncategorized

S069. HUKUM MAKMUM MUWAFIQ DAN MAKMUM MASBUQ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PERTANYAAN :

Mohon penjelasan tentang Makmum masbuq.

Studi kasus :
Ketika shalat dilakukan secara berjamaah, kemudian ada beberapa makmum yang menemui imam dalam kondisi :

1- Imam berdiri membaca surat sebelum ruku’
2- Imam dalam kondisi ruku’.
3- Imam dalam kondisi sujud,atau tahyat
4- Imam cepat dalam bacaannya sehingga makmum tertinggal sampai tiga rukun, apa yang harus dilakukan makmum dalam kondisi tersebut diatas.

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ulama berbeda pandang dalam mendefinisikan makmum masbuq walaupun demikian akan tetapi tujuanya adalah sama yang diantaranya.

إعانة الطالبين .الجزء الثانى
المأموم المسبوق هو من لم يدرك من قيام اﻹمام قدرا يسع الفاتحة بالنسبة إلى قراءة الفاتحة المعتدلة.(قوله وهو من لم يدرك من قيام اﻹمام الخ) أى سوآء كان قيام الركعة اﻷولى أوغيرها ويتصور كونه مسبوقا فى كل ركعات لنحو زحمة أو بطء حركة

Makmum masbuq adalah makmum yang tidak mendapati berdirinya imam dalam setandartnya ukuran membaca fatihah,baik berdirinya imam dirakaat pertama ataupun dilainnya rakaat pertama.

Sebagian mendefinisikan makmum masbuq sebgai berikut:

الموسوعة الفقهية.23401
المسبوق فى اللغة إسم مفعول من السبق أصله التقدم
وفى الإصطلاح قال الجرجنى هو الذى أدرك اﻹمام بعد ركعة أوأكثر ،وعرفه الشافعية أنه هو الذى لم يدرك مع اﻹمام محل قراءة الفاتحة المعتدلة

Artinya:Masbuq secara bahasa merupakan isim maf’ul dari kata “ASSABQU yang asalnya. “AT-TAQADDAMU”(terlewati)

Sedangkan secara istilah Masbuq menurut Al-Jurjaniy adalah orang yang mendapati imam setelah satu rakaat atau lebih.Dengan kata lain Syafi’iyah mendifinisikan masbuq adalah orang yang tidak mendapati imam dalam ukuran setandartnya membaca fatihah.
Sedangkan definisi muwafiq adalah sebaliknya masbuq(yaitu orang (makmum)yang mendapati imam dalam ukuran standartnya membaca fatihah)

إعانة الطالبين الجزء الثانى .ص 35
قوله وضد الموافق اى هو الذى يدرك قدرا يسع الفاتحة بالنسبة الى قراءة الفاتحة المعتدلة

Artinya” Muwafiq adalah makmum yang mendapati berdinya imam dalam ukuran strandartnya membaca fatihah.

Adapun kriteria dari makmum muwafiq dan masbuq, dan yang harus dilakukan oleh makmum masbuq ketika mendapati imam dalam kondisi sebagaimana tersebut diatas adalah:

1- Makmum muwafiq ketika mendapati imam dalam kondisi berdiri sebelum ruku’,maka yang harus dia lakukan makmum adalah bertakbiratul ihrom dan wajib menyempurnakan membaca fatihah.

2- Ketika makmum mendapati imam dalam kondisi ruku’, maka yang harus dilakukan makmum adalah ada dua perkara:

a). Bertakbiratul-Ihrom
b). Takbir intiqol wajib mengikuti ruku’nya imam dan makmum tidak perlu membaca fatihah. Maka dalam kondisi yang sedemikian berarti makmum telah memperoleh (mendapati) satu rakaat .

3- Ketika makmum mendapati imam dalam kondisi turun ke sujud/ sujud atau tahiyyat maka yang harus dilakukan makmum masbuq adalah mengikuti imam turun kesujud, dan makmum tidak perlu ruku’ karena ruku’nya makmum tidak dihitung maka dalam kondisi yang sedemikian berarti makmum telah kehilangan rakaatnya,karena rakaat itu dihitung ketika makkmum medapati imam dalam kondisi ruku’ ,dan makmum wajib menyempurnakan rakaat yang tertinggal setelah salamnya imam,andaikan makmum terpaksa menyempurnakan fatihah tidak sujud besama imam maka shalatnya makmum tidak batal kecuali jika makmum sampai tertinggalan dua rukun maka hukum salatnya makmum itu batal.

الطالبين الجزء الثانى .ص. 33
وإن وجده فى القيام قبل أن يركع وقف معه فإن أدرك معه زمنا يسع الفاتحة فهو موافق. فيجب عليه إتمام الفاتحة ،وإن لم يدرك زمنا يسع الفاتحة فهو مسبوق يقرء ماأمكنه من الفاتحة.

إعانة الطالبين الجزء الثانى .ص.15
(و)تدرك (ركعة)لمسبوق أدرك اﻹمام راكعا بأمرين (بتكبيرة )اﻹحرام ثم أخرى لهوى…الخ.(قوله وتدرك ركعة لمسبوق) وهو من لم يدرك زمنا يسع الفاتحة مع اﻹمام(قوله راكعا)حال من اﻹمام(قوله بأمرين)متعلق بتدرك أى تدرك الركعة من الصلاة قبل أن يقيم اﻹمام صلبه فقد أدركها.(قوله بتكبيرة اﻹحرام) بدل بعض من الجار والمجرور قبله وهذه التكبيرة واجبة فى القيام أو بدله.(قوله ثم أخرى لهوى ) أى ثم تكبيرة أخرى للهوى وهذه التكبيرة مندوبة ﻷن الركوع محسوب له التكبيرة فندب له التكبير.

فإن قرءه وأدرك اﻹمام فى الركوع فقد أدرك الركعة فان يدركه فيه فاتته الركعة ولايركع ،ﻷنه لا يحسب بل يتابعه فى هويه للسجود وإﻻ بطلت صلاته(قوله لغت ركعته )أى ﻷن شرط عدم إلغائها إدراكه فى الركوع.

وبل الغمام فى أحكام المأموم المسبوق واﻹمام.. ص.31
فإن ركع اﻹمام والمأموم المسبوق فى الفاتحة فإن كان لم يشتغل بشيء غير الفاتحة قطع القراءة وركع معه وتحمل عنه بقية الفاتحة كمايتحملها إذا ركع عقب إحرامه أوو جده راكعا،فإن لم يتابعه حتى فارق اﻹمام أقل من الركوع فاتته الركعة ولاتبطل صلاته إﻻ إن تخلف حتى شرع اﻹمام فى الهوى للسجود

نهاية الزين .
وماأدركه المسبوق مع اﻹمام ممايعتد له به فهو أول صلاته ،ومايأتى به بعد سلامه آخرها ،لقوله صلى الله عليه وسلم (وماأدركتم فصلوا ومافاتكم فأتموا )وإتمام الشيء إنمايكون بعد أوله فيعيد فى الباقى القنوت والتشهد وسجود السهو.

MAKMUM KETINGGALAN BEBERAPA RUKUN (3 RUKUN YANG PANJANG) DIKARENAKAN BACAAN IMAM (KONDISINYA IMAM) CEPAT.
DAN DALAM HAL INI MAKMUM DIMA’FU’ KARENA ADANYA BANYAK UDZUR.

Adapun udzur-udzurnya makmum yang menjadikan sebab ketinggalan bersama dengan imam yaitu ada 9 :

1- Makmum yang lirih (terlambat) dalam bacaan karena memang keadaannya (yakni bukan karena sengaja atau waswas).

2- Makmum yang ragu-ragu (apa dia baca patihah atau tidak).

3- Makmum lupa pada bacaan fatihah.

4- Makmum yang mencocoki imam sementara dia menyibukkan diri dengan amalan sunnah seperti do’a iftitah maka dalam kondisi yang sedemikian imam sampai ruku’

5- Makmum yang menunggu diamnya imam sehingga imam ruku’. Yakni makmum untuk baca fatihah masih menunggu berhenti/ diamnya imam, karena imam sunnah diam setelah baca fatihah, setelah itu melanjutkan baca surah.

6- Makmum yang ketiduran dikala tasyahhud.

7- Bercampur takbirnya makmum dengan imam (tidak nyambung) akibat buta (tidak melihat) atau kondisisi petang.

8- Makmum menyempurnakan bacaan tasyahhud sementara imam sudah berdiri dari ruku’.

9- Makmum yang lupa bahwa dirinya bermakmum dan tidak ingat baru setelah imam sujud ingat bahwa dirinya bermakmum.

Menurut Imam Romliy 4 kondisi yang terakhir ini termasuk udzur sampai tiga rukun yang panjang. Sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar Kondisinya makmum yang terdapat pada no 6,7,dan 8 hukumnya seperti orang masbuq, yang mengakibatkan pada gugurnya fatihahnya makmum. Dan kondisi yang no.8 termasuk udzur.

CATATAN :

Bentuk dari takhalluf (tertinggalnya) makmum dengan imam dikarenakan adanya salah satu udzur dari beberapa udzur seperti lambatnya bacaan, maka sehingga tertinggal tiga rukun. Yakni: 1-ruku, 2-sujud yang pertama dan 3- sujud yang kedua.

Wallahu a’lam..

Referensi:

تكرير الشديدة. ص :300-301

*أعذار تخلف المأموم عن اﻹمام*
يعذر المأموم فى التخلف عن إمامه بثلاثة أركان طويلة(1) فى تسع حالات، فلا بد ان يركع قبل ارتفاع اﻹمام من سجوده الثانى للتشهد او للقيام (2)فإذا لم يركع فيجب عليه أن ينوى المفارقة او يتابع اﻹمام فيماهو فيه ،ويفوته الركعة ويأتى بها بعد سلام اﻹمام،فإذا لم ينو المفارقة ولم يتابعه بطلت صلاته،وهذه الحالات مجموعة فى قول بعضهم .
إن شئت صبطا للذى شرفا عذر# حتى له ثلاث أركان اغتفر
من فى قراءة لعجزه بطئ # او شك (هل قرأ ..؟) ومن لها نسي
وضف موافقا لسنة عدل# ومن لسكتة انتظاره حصل
من نام فى تشهد أو اختلط# عليه تكبير اﻹمام ماانضبط
كذا الذى يكمل التشهدا # بعد إمام قام عنه قاصدا
والخلف فى أواخر المسائل# محقق فلا تكن بذاهل
شرح اﻷبيات أى :يعذر المأموم فى التخلف عن اﻹمام بثلاثة أركان طويلة فى تسع حالات وهى:
1) – من فى قراءة لعجزه بطئ.أى إذا كان المأموم بطئ القراءة لعجز خلقي.
2) – أو شك ” هل قرأ: أى إذا شك : هل قرأ الفاتحة أم لا..؟
3) – ومن لها نسي :أى إذا نسي قراءة الفاتحة .
4) -وضف موافقا لسنة عدل :أى إذا كان موافقا لﻹمام واشتغل بسنة كدعاء اﻹفتتاح فركع اﻹمام .
5) -ومن لسكتة انتظاره حصل :أى إذا انتظر سكتة اﻹمام ليقرأ سورة الفاتحة،فركع اﻹمام ولم يتمكن المأموم من قراءة الفاتحة كلها او بعضها.
ففى هذه الحالات الخمسة التقدمة يعذر فيها المأموم الى ثلاثة أركان طويلة باﻹتفاق،وهى أربع حالات:
6) – من نام فى تشهد :أى إذا نام المأموم فى التشهد اﻷول .
7) – او اختلط عليه تكبير اﻹمام ماانضبط: أى إذا اختلط عليه تكبيرة اﻹحرام :كأعمى أو كان فى ظلمة .
8) – كذا الذى يكمل التشهدا بعد امام قام عنه قاصدا: إذا جلس فى التشهد يكمل بعد أن قام اﻹمام عنه.
9) – من نسي القدوة ولم يتذكر إلا واﻹمام ساجد.
وهذه الحالات اﻷربع اﻷخير يعذر فيها عند الرملى إلى ثلاثة أركان طويلة.وأما عند ابن حجر فحكم الحالة رقم 6 ،7, 8.كحكم المسبوق، فتسقط عنه الفاتحة.وأماالحالة رقم 8 فلايعذر.

(1)-صوتها:بتأخير المأموم لعذر من اﻷعذار، كبطئ القراءة فيعذر لثلاثة أركان طويلة،وهى الركوع والسجود اﻷول والسجود الثانى
(2)-وهو الركن الرابع.

Dalam keterang yang lain dijelaskan bahwa bacaan surat Fatihah di dalam shalat hukumnya wajib dan termasuk rukun shalat, berarti bagi yang tidak membaca surat Fatihah ketika shalat maka dipastikan shalatnya tidak sah.

Namun bagi makmum yang lambat dalam bacaannya maka mendapat kemudahan dengan tetap dihukumi sah shalatnya baik makmum muwafiq maupun makmum masbuq. Kalau makmum tidak sempat menyempurnakan membaca Fatihah, maka imam yang mananggung kekurangan bacaan makmum tersebut.

Dalam kondisi bacaan fatihah imam cepat maka makmum tetap harus mengikuti gerakan imam, artinya makmum tidak perlu menyelesaikan bacaan Fatihahnya kemudian menyusul imamnya, bahkan ketika imamnya ruku’ maka makmum juga mengikutinya ruku’ meskipun dia belum selesai dari bacaan Fatihahnya, karena dalam kondisi demikian imam menanggung sisa bacaan yang tidak sempat dia lanjutkan, dan shalat jamaahnya tetap dihukumi sah.

إعانة الطالبين الجزء الثانى .ص34
إعلم أن حاصل مسئلة المسبوق إنه إذا ركع اﻹمام وهو فى الفاتحة فإن لم يكن إشتغل بإفتتاح أو تعوذ وجب عليه أن يركع معه فإن ركع معه أدرك الركعة وإن فاته ركوع اﻹمام فاتته الركعة ولاتبطل صلاته إﻻإذا تخلف بركنين من غير عذر ،وأماإذااشتغل بإفتتاح أوتعوذ فيجب عليه إذا ركع اﻹمام أن يتخلف ويقرأ بقدر ما فوته فإن خالف وركع معه عمدا بطلت صلاته وإن لم يركع معه بل تخلف فإن أتى بما يجب عليه وأدرك اﻹمام فى الركوع أدرك الركعة فإن رفع اﻹمام من الركوع قبل ركوعه فاتته الركعة فإن هوى اﻹمام للسجود وكمل مافوته وافقه فيه وإلا فارقه وجوبا.

إعانة الطالبين.الجزء الثانى .ص 33
وإن وجده فيما بعد الركوع وافقه فيماهو فيه وتدارك بعد السلام اﻹمام مافاته .

نهاية الزين
وماأدركه المسبوق مع اﻹمام ممايعتد له به فهو أول صلاته، ومايأتى به بعد سلامه آخرها ،لقوله صلى الله عليه وسلم ( وماأدركتم فصلوا ومافاتكم فأتموا) وإتمام الشيء إنمايكون بعد أوله فيعيد فى الباقى القنوت والتشهد وسجود السهو.

I’anah ath Thaalibiin juz 2 hal. 40

واعلم) أن الأعذار التي توجب التخلف كثيرة: منها أن يكون المأموم بطئ القراءة لعجز خلقي لا لوسوسة، والإمام معتدلها، وأن يعلم أو يشك قبل ركوعه وبعد ركوع إمامه أنه ترك الفاتحة، وأن يكون المأموم لم يقرأها منتظرا

سكتة إمامه عقبها فركع الإمام عقب قراءته الفاتحة، وأن يكون المأموم موافقا واشتغل بسنه كدعاء الافتتاح والتعوذ، وأن يطول السجدة الأخيرة عمدا أو سهوا، وأن يتخلف لإكمال التشهد الأول أو يكون قد نام فيه متمكنا، وأن يشك هل هو مسبوق أو موافق؟ فيعطى حكم الموافق المعذور ويتخلف لقراءة الفاتحة، وأن يكون نسي أنه في الصلاة ولم يتذكر إلا والإمام راكع أو قريب منه، أو يكون سمع تكبيرة الإمام بعد الركعة الثانية فظنها تكبيرة التشهد فإذا هي تكبيرة قيام فجلس وتشهد، ثم قام فرأى الإمام راكعا .

وقد ذكر الشارح بعضها.

ومما ينسب للشيخ العزيزي: إن رمت ضبطا للذي شرعا عذر حتى له ثلاث أركان غفر: من في قراءة لعجزه بطئ أو شك إن قرا ومن لها نسي وصف موافقا لسنة عدل ومن لسكتة انتظاره حصل من نام في تشهد أو اختلط عليه تكبير الإمام ما انضبط كذا الذي يكمل التشهدا بعد إمام قام منه قاصدا والخلف في أواخر المسائل محقق فلا تكن بغافل وقوله: والخلف في أواخر المسائل، وهي ثلاثة: من نام في تشهده الأول ممكنا مقعده بمقره فما انتبه من نومه إلا وإمامه راكع، ومن سمع تكبير إمامه للقيام فظنه لجلوس التشهد فجلس له وكبر إمامه للركوع فظنه للقيام من التشهد الأول ثم على أنه للركوع.

ففي هاتين المسألتين جرى الخلاف بين العلامتين ابن حجر، والشمس الرملي، فقال الأول: هو مسبوق، فيلزمه أن يقرأ من الفاتحة ما تمكن منها.

وقال الثاني: هو موافق، يغتفر له ثلاثة أركان طويلة.

والمسألة الثالثة: من مكث بعد قيام إمامه لإكمال التشهد الأول، فلا انتصب وجد إمامه راكعا أو قارب أن يركع.

فقال الرملي: هو موافق، يغتفر له ما مر من الأركان.

وقال حجر: هو كالموافق المتخلف لغير عذر، فإن أتم فاتحته قبل هوى

سجدته إلا والإمام راكع أو قارب أن يركع، فقال الرملي: هو كموافق..

والله أعلم بالصواب