Jamiyatul Khottot Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata didirikan disebabkan karena banyaknya santri yang memiliki bakat dalam bidang tilawatil Quran. Akan tetapi pada saat yang sama tidak terdapat wadah yang secara khusus menangani pengelolaan kegiatan pengembangan bakat tersebut. Sehingga sebagian santri megembangkan bakat tilawatil Quran tersbut secara individu dan tak terkelola dengan baik di kamar asatidz. Bahkan sebagian santri berusaha untuk meningkatkan bakat tersebut hingga ke desa-desa sekitar.
Kemudian pada tahun 1989, dilakukakanlah proses penjaringan terhadap santri berbakat dan mempunyai kemampuan seni untuk dibina dan disatukan dalam organisasi atau lembaga khusus. Akhir dari penjaringan dan proses pembinaan secara berkelanjutan tersebut pada tahun yang sama didirikan Jamiyatul Qurro’ wal Hoffadz wal Khotthoth. Pada awalnya, kantor instansi tersebut ditempatkan blok H/1 yang sebelumnya difungsikan sebagai toko kitab. Kemudian kantor tersebut dipindah ke lantai dua blok A yang sekarang dijadikan sebagai asrama LPTQ.
Jam’iyatul Qurro’ (JAMQUR) Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata berdiri Pada tanggal 12 Juni 1987 yang diprakarsai oleh dua guru senior yang berkompenten di bidang seni tilawah, Ust. H. Kholilurrohman (Ust Suruto Suruji) dan Ust. Rafiuddin S,Ag, instansi yang mengkhusukan kegiatan pada pendidikan dan pengembangan seni Tilawah awal mulanya bernama JQKH (Jam’iyatul Qurro’ Wal Khottot) mengingat bakat santri tidak hanya pada seni Tilawatil Qur’an, melainkan juga dibidang seni tulis al-Qur’an (Khot), namun jauh sebelumnya JQKH menjadi wadah tiga kegiatan pendidikan dan pengembangan sebagaimana dua program yang sudah disebutkan diatas ditambah dengan kegiatan Mengahafal Al-Qur’an, dengan nama instansi Jam’iyatul Qurro’ Wal Khuffadz Wal Khottot.
Namun dalam perjalannya “Jamiyatul Qurro’ Wal Khaffadz Wal Khottot” berubah menjadi
Berdirinya Divisi Pengembangan Ulumul Qur’an (DPUQ) Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata diawali oleh seorang santri bernama Zubaidi asal Desa Waru Timur Kec. Waru Kab. Pamekasan, Beliau mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz dan mengikuti i’lan Al-Qur’an di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata pada tahun 1990, setelah itu Ust. Zubaidi merasa terpanggil untuk merintis Lembaga Tafidzul Qur’an di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata yang dikenal dengan nama LPTQ (Lembaga Pengembangan Tahfidzul Qur’an) formalisasi lembaga ini dilakukan pada tahun 1993.
Dengan adanya lembaga khusus untuk menghafal Al-Qur’an, jumlah santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata yang menghafal Al-Qur’an meningkat cukup signifikan, sehingga Lembaga Pengembangan Tahfidzul Qur’an (LPTQ) atas inisiatif para DEWAN A’WAN pada tanggal 05 November 2013 M bertepatan
Lembaga Pengembangan Bahasa Inggris ini didirikan pada tahun 1999 yang pada mulanya hanya mempunyai satu lokal khusus. Pendirian instansi ini merupakan diantara langkah pesantren dalam merespon kebutuhan masyarakat terhadap santri yang menguasai Bahasa Asing. Dan pada tahun 2003 fasilitas local instansi ini disempurnakan hingga menjadi delapan local pemondokan,. Langkah ini diambil agar santri lebih termotivasi untuk belajar dan mendapat bekal keterampilan, kepemimpinan dan kepribadian yang luhur dengan kecakapan bahasa yang tinggi.
Lembaga Pengembangan Bahasa Inggris (LPBI). Bertempat di Markaz atau tempat yang difungsikan secara khusus sebagai pusat kegiatannya. Pada perkembangannya, Dewan Ma’hadiyah dan Dewan A’wan berinisiatif untuk menciptakan perubahan konseptual terhadap lembaga tersebut. Perubahan tersebut diantaranya ditandai dengan perubahan nama instansi menjadi Bata-Bata English Centre (BBEC) atau Pusat Lembaga Pengembangan Bahasa Inggris. Perubahan tersebut kemudian secara legalitas disahkan oleh RH. Moh. Thohir Zain AH, S.Pd.I, salah satu Dewan A’wan pada hari Jum’at tanggal 01 Agustus 2003.
Sebelum lembaga ini didirikan, Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata menerapkan system legislasi yang mengena pada seluruh santri tanpa berpihak kepada siapapun. Tak terkecuali santri yang tidak memilikii kemampuan dasar berbahasa inggris-pun berjibaku melaksanakan khitob ma’hadiyah di setiap malam dan hari jum’at. Secara keseluruhan santri harus melepas bahasa nasional dan bahasa daerah dan hanya berbahasa Inggris atau bahasa Arab.
Akhir dari ikhtiar panjang itu kemudian mengerucut pada arti penting didirikannya institusi informall pesantren yang berkonsentrasi dalam melahirkan santri yang mempunyai kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris yang dapat di pertanggung jawabkan secara akademik sehingga santri tersebut di harapkan mampu menjadikan diri mereka sebagai agen bahasa di tiap-tiap asrama. Strategi ini hingga saat ini dirasa lebih mampu mewujudkan bahasa yang merupakan rumpun lingui franca ini lebih membumi di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata.
Program-Program BBEC
Setengah bulan setelah kursusan dimulai, Siswa harus berbicara Bahasa Inggris untuk level Speaking, dan untuk level Elementary satu bulan setelah kursusan dimulai.
Tiga bulan sesudahnya dengan target bisa menguasai semua Pelajaran yang telah diajarkan kepada semua Siswa.
Program-Program Pengembangan BBEC
Diantara Program yang dilaksakan oleh Pengurus BBEC, sebagai berikut:
Pemahaman grammar (Level Elementary)
Program ini khusus untuk Program Elementary yang dilaksanakan setiap hari kecuali hari jum’at dan hari selasa dilaksanakan pada jam 05.00 WIB s/d 06.00 WIB. pagi, sedangkan jum’at dan selasa libur. Program ini ialah untuk menguasai cara menyusun bahasa Inggris dengan baik.
Pengembangan speaking (Level Elementary, Speaking)
Program ini khusus untuk Program Speaking yang di laksanakan setiap malam yang di kemas dengan beberapapa system. Diantaranya system Debating, Sharing, Discussing, Pronunciation, Weekly Meeting dan half meeting antar Lembaga
Debating (Level Speaking)
Discribing (Level Speaking)
Discussion (Level Speaking)
Pronunciation (Cara Pengucapan yang benar), (Level Speaking)
Lembaga ini merupakan Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) yang berada di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata yang di rintis oleh para guru senior bahasa arab pada saat itu, pada tahun 2000 M, dan kemudian lembaga ini diresmikan pada tahun 2003, didirikannya LPBA tidak lain untuk mengajarkan para santri agar dapat berkomunikasi (Berbicara), Menulis ,mengarang, dan memahami bahasa Arab dengan baik.
Kegiatan LPBA, lebih pada program kursus, yang mengkhuskan kegiatannya pada kursus bahasa Arab, sehingga terdapat banyak tahapan kegiatan pada program LPBA ini, mulai dari menghafal mufaradat, praktek berbicara dengan bahasa arab, Mengarang, Pidato bahasa arab dan bernyanyi dengan bahasa arab yang diterjemah dari lagu bahasa Indonesia.
Instansi badan otonom ini, dikelola oleh para Rois yang telah memiliki kapabilitas di bidang bahasa arab. Guna mempercepat penguasaan bahasa arab bagi A’dlo’ (Peserta Kursus) semua kegiatan menggunakan pengantar bahasa arab, dan diwajibkan berbicara menggunakan bahasa arab pula, baik antar sesame A’dlo’ maupun kepada Rosi (Pembimbing), selian itu juga didukung dengan para pengajar Alumni Timur Tengah yang sebelumnya juga Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata.
Mengingat semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik di lembaga ini dan untuk menciptkan suasana belajar mengajar yang optimal maka di dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang telah terdaftar dibagi menjadi dua tingkatan yaitu :
MUBTADI’
Mubtadi (LPBA)
MUTAWASSIT
Mutawassit (LPBA)
Lembaga Binaan LPBA
Himpunan Alumni Bahasa Arab Bata-Bata (HUBBA)
el- Gasashiyah (Teater)
Markazan
Forum Penulis Bahasa Arab Bata – Bata (FPBA)
Syu’bah
Sumber: Profil PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, Edisi 2014
Prakom atau Pra Komisi merupakan program kursus baca kitab dengan system akselerasi, yang diselenggarakan oleh pengurus Majlis Musyawaoh Kutubud Diniyah (M2KD) sebagai organisasi atau lembaga binaan, Prakom berdiri pada tahun 2011, bermula dari keinginan salah satu wali santri Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, agar putranya dapat membaca kitab kuning dengan cepat.
Untuk menjawab hal tersebut Dewan A’wan Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, dalam hal ini RH. Moh. Tohir Zain, S.Pd.I, menginstruksikan kepada directur M2KD, Pembina, dan pengurus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, untuk membuat program pendidikan atau kursus cepat membaca kitab kuning (Gundul) dan menyusun metode praktisnya.
Konseptor program ini RH. Moh. Tohir Zain, S.Pd.I menunjuk pembina M2KD sebagai Tim Penyusun Materi diantaranya Ust. Bukhori Muslim, S.Pd.I sebagai ketua, Ust. Alimansur, S.Pd.I sebagai wakil ketua, dan beberapa anggota tim yang berasal dari pengurus harian M2KD, yaitu suadara Muhajir, Sahrul Anam, Izzat Fawaid, Fathul Qorib, dan Faizin Muhtar.
Program prakom didirikan guna mencetak santri agar dapat membaca kitab kuning dengan cepat, yaitu dalam waktu tiga bulan yang sesuai dengan Qaidah Nahwiyah dan Shorfiyah, materi yang digunakan dalam program ini adalah materi yang dihasilkan oleh Tim yang diberi nama Futuhul Mannan (Fi Halli Uqdatil Lisan).
Tahapan Program Prakom :
Penyampaian materi Futuhul Mannan oleh guru pembimbing, dengan ketentuan satu orang pembimbing membina delapan peserta didik, kegiatan ini diselenggarakan setiap pagi setelah sholat subuh dan pada malam hari setelah kajian di Musholla sampai sebelum jam belajar, tahapan ini dilakukan pada satu bulan pertama.
Kemudian Para peserta wajib menghafal materi yang sudah diajarkan oleh pembimbing, dan menyetorkan hafalan kepada pembimbing masing-masing, sampai semua materi futuhul mannan tuntas dalam waktu satu bulan.
Pada bulan kedua dan ketiga kegiatan prakom diisi dengan program lanjutan yaitu, praktek membaca kitab sebagai aplikasi dari teori yang telah diajarkan dan dihafal, dalam tahapan praktek ini, menggunakan kitab Fathul Qorib sebagai materi praktek.
Para pembimbing Prakom melaksanakan evaluasi terhadap perkembangan peserta prakom kurang lebih setiap setengan bulan satu kali, evaluasi dilakukan guna mengetahui perkembangan kemampuan peserta didik pada setiap tahapan baik secara teori maupun pada tahapan praktek.
Dan pada tahapan praktek, juga diberikan kegiatan ekstra berupa kajian kitab Fathul Qorib, guna memberikan pemahaman dasar kepada peserta didik dalam memberikan makna dengan bahasa Madura.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam program prakom, menggunakan pendekatan yang kembang sendiri oleh para pembibing sesuai dengan kretifitas seni mengajar yang demiliki, namun penekanannya pada pembelajaran yang menyenangkan bagi para peserta didik, yang dalam teori pendidikan dikenal dengan PAIKEM (Pembelajaran, Aktif, Inovatif,dan menyenangkan).
Kegiatan Penunjang
Diakhir program, sebelum diselenggarakan wisuda lulusan, peserta prakom disuguhkan dengan kegiatan penunjang yang diisi dengan kegiatan lomba-lomba, lomba tersebut tetap bertujuan menguji kompetensi peserta didik, meliputi :
Lomba Nicecoffe (Nules Kalaben Valid), Peserta didik yang mengikuti lomba ini, diuji kemampuannya dibidang tulis arab, peserta diminta menulis bentuk kalimat (singat) sebuah kata dalam bahasa arab.
Lomba Ragam Pesona, Peserta didik yang mengikuti lomba ini, diuji kemampuannya dalam penguasaan materi dan praktek, mekanisme lomba ini hampir sama dengan lomba cerdas cermat, letak perbedaannya peserta dituntut menebak gambaran/ciri-ciri sebuah definisi, istilah, atau contoh yang dibacakan oleh seorang juri.
Lomba Mencari kamus, dalam lomba peserta didik diuji kemampuan dalam mencari kosa kata arab dalam kamus munawwir.
Setelah kesuluruhan program Prakom selesai, para peserta didik yang telah menempuh pendidikan selama tiga bulan, disaring dengan melalui berbagai macam evaluasi guna mengetahui peserta didik yang lulus dan siap diwisuda, dengan standar kelulusan Pertama Peserta didik menguasai dan hafal materi futuhul mannan, dan Kedua Peserta didik mampu membaca kitab kuning dengan benar, untuk selanjutnya dilatih demonstrasi dan ditampilakan pada saat acara wisuda, dalam setiap tahunnya dilaksanakan dua kali wisuda lulusan prakom.
Kegiatan ARKOM
ARKOM (Alumni PRAKOM)
Arkom (Alumni Prakom) adalah Program lanjutan dari Prakom, lulusan program Prakom yang memiliki kemampuan cukup baik dan semangat kuat, dibina dan digembleng dengan berbagai macam kegiatan pada program Arkom ini, peserta didik pada program Arkom dibina untuk memahami dan menginterpretasikan kandungan kitab Fathul Qorib, hal itu diperkuat dengan tahapan-tahapan program :
Tahapan-Tahapan Program Arkom
Kajian Kitab Fathul Qorib, pada tahapan ini selain peserta didik Arkom menerima materi kajian Kitab Fathul Qorib dari Tutor, juga dituntut untuk bisa memebrikan Mafhum pada setiap materi yang yang disampaikan.
Peserta didik juga dibimbing oleh seorang tutor metode memahami kandungan kitab.
Puncaknya, semua peserta pada program Arkom juga diarahkan untuk melaksanakan Musyawarah Kitab Fathul Qorib, Membaca Kitab, Memberikan Arti, memahami dan menjalaskan kepada anggota musyawarah.
Setelah keseluruhan program Arkom tuntas, peserta program Arkom yang lulus secara otomatis akan menjadi Anggota Tetap Majlis Musyawarah Kutubud Diniyah (M2KD), dan wajib mengikuti keseluruhan program M2KD, dalam kegiatan Musyawarah M2KD Lulusan Arkom masuk pada Komisi C.