
Assalamualaikum para kiyai dan para ustadz dan juga para sesepuh mator pertanyaan se emaksud ma’rifah (ma’rifatullah ) kaintoh ponapah ben ponapah tetanggerah oreng se ma’rifah ?๐๐
Waalaikum salam.
Pengertian Makrifahtullah banyak ulama memberikan pengertian dengan redaksi yang berbeda akan tetapi pada dasarnya mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu mengenal Allah baik cara menempuhnya melalui intuisi hati atau cara menempuhnya melalui akal .
Menurut Imam Al-Ghazali Ma’rifatullah itu adalah musyahadah pada nur keagungan Allah, menurutnya “Tajalliy adalah tersikapknya sesuatu pada hati dari cahaya keghaiban yang dimaksud kan dengan Tajalliy disini adalah al-Mutajalliy ia adalah Allah.Pendapat ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Al-Qusyairiy dalam perbedaan antara Syariat dan Hakikat. Bahwa syariat itu adalah menetapi ibadah sedangkan hakikat adalah melihat Allah dengan penglihatan hatinya.(ma’rifah).
Menurut Sayyid Abubakr alma’ruf dengan Sayyid Bakriy al-Makkiy penyusun kitab At-Qiya’ mendefinisikan Makrifatullah adalah cahaya yang dimasukkan oleh Allah kepada hati hamba maka ia dapat melihat banyak rahasia cahaya singgasananya dan menyaksikan pada keghaiban kerajaan/ singgasananya Allah dan ia memperhatikan banyak sifat alam jabarutnya,
Sedangkan menurut Athoillah Al-Askandari membagi ma’rifat menjadi dua.
1-Makrifat kepada Allah dengan melalui jalan hati adalah menyaksikan kepada Allah dan hadir kepada Allah yang diketahui(dengan menyaksikan dan hadir secara langsung).
2- Makrifat dengan melalui jalan akal adalah mengerti kepada Allah yang diketahui dengan perantaraan panca indra dan yang diketahui dengan perantaraan gambaran didalam hati. Orang yang alim itu mengetahui kepada Allah,dan orang yang ma’rifat itu menyaksikan kepada Allah.
Adapun tanda-tanda orang yang ma’rifatullah diantaranya adalah : Diraihnya rasa takut kepada Allah . Barang siapa yang kemakrifatannya bertambah maka bertambah pula rasa takutnya sedangkan makrifah itu mewajibkan kepada ketenangan jiwa.
Selanjutnya Shahibul hikam syaikh Athoillah al-Askandari menjelaskan tanda-tanda orang yang sampai pada maqom makrifat
“Tidak disebut orang arif itu,yaitu orang yang bila ia memberi isyaroh sesuatu ia merasa bahwa Allah lebih dekat dari isyaroh-Nya, tetapi orang arif itu ialah yang merasa tidak mempunyai isyaroh, karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh menyaksikan [syuhud] kepada Allah”.
Referensi
ููุงูุฉ ุงูุฃุชููุงุก .ุต ูกูก
ูุญูููุฉ ููุตูู ุงูู
ูุตุฏ#ูู
ุดุงูุฏ ููุฑ ุงูุชุฌูู ุจุงููุฌูู
ูุนูู ุฃู ุงูุญูููุฉ ูู ูุตูู ุงูุณุงูู ููู
ูุตูุฏ ููู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ูู
ุดุงูุฏุฉ ููุฑ ุงูุชุฌูู ูุงู ุงูุบุฒุงูู ุงูุชุฌูู ู
ุงูููุดู ููููุจ ู
ู ุฃููุงุฑ ุงูุบูุจ ููุญุชู
ู ุฃู ูุฑุงุฏ ุจุงูุชุฌูู ููุง ุงูู
ุชุฌูู ูู ุงููู ุณุจุญุงูู ูุชุนุงูู ููู ููุงูู ู
ุงูุงูู ุงููุดูุฑู ูู ุงููุฑู ุจูู ุงูุดุฑูุนุฉ ูุงูุญูููุฉ ู
ู ุฃู ุงูุดุฑูุนุฉ ุฃู
ุฑ ุจุงูุชุฒุงู
ุงูุนุจูุฏูุฉ ูุงูุญูููุฉ ู
ุดุงูุฏุฉ ุงูุฑุจูุจูุฉ ุฃู ุฑุคูุชู ุฅูุงูุง ุจููุจู
Kifฤyah al-Atqiyฤโ (hal. 11):
“Hakikat adalah sampai pada tujuan dan menyaksikan cahaya tajalli dengan jelas.”
Maksudnya, hakikat adalah sampainya seorang salik (penempuh jalan spiritual) kepada tujuan, yaitu mengenal Allah dan menyaksikan cahaya tajalli. Al-Ghazali mengatakan bahwa tajalli adalah sesuatu yang tersingkap bagi hati dari cahaya-cahaya gaib. Bisa juga maksud tajalli di sini adalah sesuatu yang menampakkan diri, yaitu Allah SWT, sebagaimana pendapat al-Qushairi dalam membedakan antara syariat dan hakikat. Syariat adalah perintah untuk berpegang teguh pada penghambaan, sementara hakikat adalah penyaksian terhadap rububiyah, yakni melihatnya dengan hati
ููุงูุฉ ุงูุฃุชููุงุก ูู
ููุง ุงูุฃุตููุงุก. ุต.ูกูกูก
ููุฐุงู ู
ุนุฑูุฉ ูุงุชุฎุต ุนููุฉ # ูู ุบุงูุจ ู
ู ุบูุฑูุง ูู ุชุญุตูุง
ูุนูู ุฃู ู
ุนุฑูุฉ ุงูุญููููุฉ ุงูู
ุฎุตูุถุฉ ุงูุนููุฉ ูุงุชุญุตู ูู ุงูุบุงูุจ ู
ู ุบูุฑ ูุฐู ุงูู
ุฌุงูุฏุฉ ุฃู
ุงุญุตูููุง ู
ู ุบูุฑูุง ููู ูู
ูู ูููู ูุงุฏุฑ ูู
ุงุฐูุฑู ุงููุงุธู
ุฑุญู
ู ุงููู ุชุนุงูู ุฅูู
ุง ูู ุจุญุณุจ ุงูุนุงุฏุฉ ูุฅูุง ูุฃุตู ุงูู
ุนุฑูุฉ ูุงูุญุตู ุฅูุงุจููุถ ุฅููู ูู
ุนุฑูุฉ ุงููู ููุฑ ููุฐูู ุงููู ูู ููุจ ุงูุนุจุฏ ููุฑู ุจุฐูู ุงูููุฑ ุฃุณุฑุง ู
ููู ููุดุงูุฏ ู
ูููุชู ูููุงุญุธ ุตูุงุช ุฌุจุฑูุชู ููุฐุง ูู
ุงุณุฆู ุงูุตุฏูู ุงูุฃูุจุฑ ุฑุถู ุงููู ุนูู ุจู
ุนุฑูุช ุฑุจู ููุงู ุจู
ุงุนุฑููู ููุณู ูุงูุฏุฑู ุงูุญูุงุณ ููุงููุงุณ ุจุงูููุงุณ ูุฑูุจ ูู ุจุนุฏู ุจุนูุฏ ูู ูุฑุจู ููู ูู ุดูุก ููุงูุงู ุชุญุชู ูุฃู
ุงู
ูู ุดูุก ููุงูุงู ุฃู
ุงู
ู ุดูุก ููู ุนูู ูู ุดูุก ูุฏูุฑ ููุณ ูู
ุซูู ุดูุก ููุงููุงู ูุดูุก ูู ุดูุก ูุณุญุงู ู
ู ูู ููุฐุง ูููุณ ููุฐุง ุบูุฑ ู ูุฌุงุก ูู ุงูุฎุจุฑ ุฃู ุงููู ุฎูู ุงูุฎูู ูู ุธูู
ุฉ ุซู
ุฑุด ุนูููู
ู
ู ููุฑ ูู
ู ุฃุตุงุจู ู
ู ุฐูู ุงูุชุฏู ูู
ู ุฃุฎุทุฃ ุถู ูููู ูุนูู ุจู ุฃุจู ุทุงูุจ ุฑุถู ุงููู ุนูู ูู ุนุฑูุช ุงููู ุจู
ุญู
ุฏ ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฃู ุนุฑูุช ู
ุญู
ุฏุง ุจุงููู ุชุนุงูู ููุงู ูู ุนุฑูุช ุงููู ุจู
ุญู
ุฏ ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ู
ุงุนุจุฏุชู ูููุงู ู
ุญู
ุฏ ุฃูุซู ูู ููุณู ู
ู ุงููู ุชุนุงูู ููู ุนุฑูุช ู
ุญู
ุฏุง ุจุงููู ูู
ุงุงุญุชุฌุช ุฅูู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ูููู ุงููู ุนุฑููู ููุณู ุจูุงููู ูู
ุงุดุงุก ูุจุนุซ ู
ุญู
ุฏุง ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุจุชุจููุบ ุฃุญูุงู
ุงููุฑุขู ูุจูุงู ู
ุนุถูุงุช ุงูุฅุณูุงู
ูุงูุฅูู
ุงู ูุฅุซุจุงุช ุงูุญุฌุฉ ูุชูููู
ุงููุงุณ ุนูู ู
ููุฌ ุงูุฅุฎูุงุต ูุตุฏูุชู ุจู
ุงุฌุงุก ุจู ูุนูู
ุฃูู ูุณุชุญูู ุงููุตูู ุฅูู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุจุบูุฑ ุงููู ููุงุณุจูู ุฅูู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุชุนุงูู ุฅูุงุจุงููู ูุฅู ุงูุฃููุงู
ูุงูุฃููุงู
ูุงูุฎูุงุทุฑ ุนุงุฌุฒุฉ ูุงุตุฑุฉ ุนู ุฅุฏุฑุงู ุชุตูุฑูุง ุจุตูุฑูุง ูุนูููุง ูููู ุชุทูู ุงุฏุฑุงู ู
ุตูุฑูุง ูู
ุนูููุง ูุฅูู
ุง ุงูุญู ุณุจุญุงูู ุฎูู ุฎููู ูู
ุงุดุงุก ุนูู ุดุงุก ูููู ู
ู ุดุงุก ูู
ุง ุดุงุก ูุนุฑู ู
ู ุดุงุก ุจู
ุง ุดุงุก ูููู ุนูู ุฑุถู ุงููู ุนูู ูููู ุงููู ุนุฑููู ููุณู ุฃู ุจุงูุนุฌุฒ ูุงูุฅูุชูุงุฑ ูุนุฑูุช ุฃู ููุง ุฑุจุง ุงูุฌุฏูุง ููุฐูู ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ู
ู ุนุฑู ููุณู ุนุฑู ุฑุจู ุฃู ู
ู ุนุฑู ููุณู ุจุงูุนุฌุฒ ูุงูุฅูุชูุงุฑ ุนุฑู ุฑุจู ุจุงููุฏุฑุฉ ูุงูุบูู.ูุฃูุญู ุงููู ุชุนุงูู ุฅูู ุฏุงูุฏ ุนููู ุงูุณูุงู
ุฃุนุฑููู ูุฃุนุฑู ููุณู ููุงู ุฅููู ุนุฑูุชู ุจุงููุฑุฏุงููุฉ ูุงููุฏุฑุฉ ูุงูุจูุงุก ูุนุฑูุช ููุณู ุจุงูุถุนู ูุงูุนุฌุฒ ูุงูููุงุก ููุงู ูุงุฏุงูุฏ ุงูุขู ุนุฑูุชูู
Kifฤyah al-Atqiyฤโ wa Minha al-Aแนฃfiyฤโ (hal. 111):
“Begitu pula, makrifat yang khusus dan tinggi tidak akan didapatkan dalam kebanyakan keadaan kecuali dengan mujahadah.”
Maksudnya, makrifat yang khusus dan tinggi biasanya tidak diperoleh kecuali dengan usaha keras (mujahadah). Namun, memperolehnya tanpa mujahadah memang mungkin, tetapi sangat jarang. Apa yang disebutkan oleh sang penyair hanyalah berdasarkan kebiasaan, sedangkan pada hakikatnya, makrifat hanya diperoleh melalui limpahan ilahi.
Makrifat tentang Allah adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati seorang hamba, sehingga dengan cahaya itu ia dapat melihat rahasia kerajaan-Nya, menyaksikan alam malakut-Nya, dan mengamati sifat-sifat keagungan-Nya.
Oleh karena itu, ketika Abu Bakar as-Shiddiq r.a. ditanya, “Bagaimana engkau mengenal Tuhanmu?” Ia menjawab, “Dengan cara Dia sendiri memperkenalkan diri-Nya kepadaku. Dia tidak dapat dijangkau oleh indera dan tidak dapat diukur dengan perbandingan. Dia dekat dalam kejauhan-Nya, jauh dalam kedekatan-Nya. Dia di atas segala sesuatu, tetapi tidak dikatakan ada sesuatu di bawah-Nya. Dia di depan segala sesuatu, tetapi tidak dikatakan ada sesuatu di depannya. Dia berkuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, serta tidak dapat dikatakan bahwa Dia serupa dengan sesuatu dalam sesuatu.”
Maha Suci Allah, yang tidak ada yang seperti-Nya.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah menciptakan makhluk dalam kegelapan, lalu Dia memancarkan cahaya kepada mereka. Maka, siapa yang terkena cahaya itu akan mendapatkan petunjuk, dan siapa yang luput darinya akan tersesat.
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Apakah engkau mengenal Allah melalui Muhammad SAW atau mengenal Muhammad SAW melalui Allah?” Ia menjawab, “Jika aku mengenal Allah melalui Muhammad, maka aku tidak akan menyembah-Nya, karena Muhammad akan lebih kuat kedudukannya dalam hatiku daripada Allah. Dan jika aku mengenal Muhammad melalui Allah, maka aku tidak akan membutuhkan Rasulullah SAW. Tetapi Allah-lah yang memperkenalkan diri-Nya kepadaku tanpa kaif (tanpa cara) sebagaimana yang Dia kehendaki. Dia mengutus Muhammad SAW untuk menyampaikan hukum-hukum Al-Qur’an, menjelaskan perkara-perkara Islam dan iman yang sulit, menegakkan hujjah, serta membimbing manusia kepada jalan yang benar. Aku membenarkan ajaran yang dibawanya. Maka, jelas bahwa mustahil seseorang dapat mengenal Allah tanpa Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal-Nya kecuali dengan pertolongan-Nya, sebab akal, imajinasi, dan lintasan pikiran manusia tidak mampu memahami-Nya, apalagi mencapai-Nya.”
Ali r.a. juga mengatakan, “Tetapi Allah memperkenalkan kepadaku diriku sendiri,” maksudnya, dengan memperlihatkan kelemahan dan kefakiranku, sehingga aku menyadari bahwa aku memiliki Tuhan yang telah menciptakanku.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Yakni, barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah dan fakir, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagai Zat yang Maha Kuasa dan Maha Kaya.
Allah juga mewahyukan kepada Nabi Dawud a.s., “Kenalilah Aku, maka engkau akan mengenal dirimu sendiri.”
Dawud bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku mengenal-Mu?”
Allah berfirman, “Aku mengenalkan diri-Ku kepadamu dengan keesaan, kekuasaan, dan keberadaan-Ku yang kekal. Dan Aku mengenalkan dirimu dengan kelemahan, ketidakmampuan, dan kefanaan.”
Maka Allah berfirman, “Sekarang engkau telah mengenal-Ku.”
ูุงุนูู ุฃู ู ู ุฃู ุงุฑุงุช ุงูู ุนุฑูุฉ ุจุงููู ุญุตูู ุงูููุจุฉ ู ู ุงููู ูู ู ุงุฒุฏุงุฏุช ู ุนุฑูุชู ุงุฒุฏุงุฏุช ููุจุชู ุงูู ุนุฑูุฉ ุชูุฌุจ ุงูุณูููุฉ ูููู ูุฃุจู ูุนููุจ ุงูุณูุณู ูู ูุณุชุฃูุณ ุงูุนุงุฑู ุจุดูุก ุบูุฑ ุงููู ุชุนุงูู ููุงู ููุงู ููู ูุฑู ุบูุฑ ุงููู ููุณุชุฃูุณ ุจู ูููู ูู ูุจุฃู ุนูู ููุธุฑ ุฅูู ุงูุฃุดูุงุก ูุงู ุจุนูู ุงูููุงุก ูุงูุฒูุงูโฆ..ุงูุฎ.
Ketahuilah bahwa di antara tanda-tanda makrifat kepada Allah adalah munculnya rasa takut (haibah) kepada-Nya. Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar rasa takutnya kepada-Nya.
Makrifat juga menumbuhkan ketenangan (sakinah).
Ketika Abu Yaโqub as-Susi ditanya, “Apakah seorang arif akan merasa tenang dengan sesuatu selain Allah?” Ia menjawab, “Apakah ia masih melihat selain Allah sehingga bisa merasa tenang dengannya?”
Lalu ia ditanya, “Dengan mata apa ia melihat segala sesuatu?”
Ia menjawab, “Dengan mata kefanaan dan kehancuran.”
ุงููุฑู ุจูู ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูุนูููุฉ ูุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูููุจูุฉ:
ูู
ู ุงููุงุถุญ ุฃูู ููุงู ุงุฎุชูุงูุงู ุจูู ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูุนูููุฉ ูุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูููุจูุฉุ ููู ููุณ ุงูุงุฎุชูุงู ุจูู ุงูุฅุญุณุงุณ ูุงูุนูู
ุ ุฃู ุจูู ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงููุฑุฏูุฉ ูุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูุนุงู
ุฉ. ููู
ูููุง ููุง ุฃู ูุดูุฑ ุฅูู ุงููุฑู ุจูู ุงูู
ุนุฑูุชูู ู
ู ุฎูุงู ุงูููุงุท ุงูุชุงููุฉ:
ุฃููุงู: ุฅูู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุณุจุญุงูู ุนู ุทุฑูู ุงูููุจ ูู ุดููุฏ ูุญุถูุฑ ุงูู
ุนููู
ุนูุฏ ุงูุนุงูู
ู
ุจุงุดุฑุฉุ
ุฃู
ุง ู
ุนุฑูุชู ุนู ุทุฑูู ุงูุนูู ููู ุชุญุตูู ูุฅุฏุฑุงู ุงูู
ุนููู
ุจูุงุณุทุฉ ุงูุญูุงุณ ูุงูุตูุฑ ุงูุฐูููุฉ. ูุงูุนุงูู
ูุนุฑู ุงููู ููููู ุงูุนุงุฑู ูุฑู ุงููู. ูู
ุง ูุฑุฏ ูู ุงูุฏุนุงุก ุงูู
ุฑูู ุนู ุงูุฅู
ุงู
ุฒูู ุงูุนุงุจุฏูู ุนููู ุงูุณูุงู
: “โฆ ุฅููู ูุงุฌุนููุง ู
ู ุงูุฐูู ุชุฑุณูุฎุชโ ุฃุดุฌุงุฑ ุงูุดููู ุฅููู ูู ุญุฏุงุฆู ุตุฏูุฑูู
ูุฃุฎุฐุช ููุนุฉ ู
ุญุจุชู ุจู
ุฌุงู
ุน ูููุจูู
ููู
ุฅูู ุฃููุงุฑ ุงูุฃููุงุฑ ูุฃููู ููู ุฑูุงุถ ุงููุฑุจ ูุงูู
ูุงุดูุฉ ูุฑุชุนูู ูู
ู ุญูุงุถ ุงูู
ุญุจูุฉ ุจูุฃุณ ุงูู
ูุงุทูุฉ ููุฑุนูู ูุดุฑุงุฆุน ุงูู
ุตุงูุงุฉ ูุฑุฏูู ูุฏ ูุดู ุงูุบุทุงุก ุนู ุฃุจุตุงุฑูู
ูุงูุฌูุช ุธูู
ุฉ ุงูุฑููุจ ุนู ุนูุงุฆุฏูู
ู
ู ุถู
ุงุฆุฑูู
ูุงูุชูุช ู
ูุฎุงููุฌุฉ ุงูุดูู ุนู ูููุจูู
ูุณุฑุงุฆุฑูู
ูุงูุดุฑุญุช ุจุชุญูููโ ุงูู
ุนุฑูุฉ ุตุฏูุฑูู
โฆ” (2).
ุซุงููุงู: ุฃุญุฏ ุงูุงุฎุชูุงูุงุช ุงูุฃุฎุฑู ุจูู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุนู ุทุฑูู ุงูุนูู ูุนู ุทุฑูู ุงูููุจ ุงูุชู ุชุชูุฑุน ุนู ุงููุฑู ุงูุฃููู ูู ุฃูู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุนู ุทุฑูู ุงูููุจ ุฅุญุณุงุณ ููู ุทุฑูู ูุฑุฏู ุชู
ุงู
ุงูุ ููุง ุชูุจู ุงูููู ููุขุฎุฑูู ูุงูุชุนููู
ูุงูุชุนูู
ุ ุนูู ุฎูุงู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุนู ุทุฑูู ุงูุนูู ููู ููุณุช ูุฑุฏูุฉ ููู ูุงุจูุฉ ููุชุนููู
ูุงูุชุนูู
ููู
ูู ููููุง ููุขุฎุฑูู. ุฅูู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุนู ุทุฑูู ุงูููุจ ูุง ูู
ูู ุฅุจุฑุงุฒูุง ูู ูุงูุจ ุงูุงุณุชุฏูุงูุ ููู ููุณุช ุฃู
ุฑุงู ููููุงู ุจู ูู ุฃู
ุฑ ุฐูููุ ูููุน ู
ู ุงูุชุฌุฑุจุฉ ุงูุจุงุทููุฉ ูุง ูู
ูู ููููุง ููุขุฎุฑููุ ูู
ุง ุฃูู ุงูู
ุจุตุฑ ูุง ูุณุชุทูุน ุฃู ูุจูู ููุฃุนู
ู ุงูููู ูุฅุฏุฑุงูู ูู ูู
ุนุฑูุชู ุจูุ ููู
ุง ุฃูู ุงูุฅุญุณุงุณ ุจุงูุฌูุน ูุงูุนุทุด ูุง ููุจู ุงูููู ููุขุฎุฑูู ููุฐูู ุงูุดุฎุต ุงูุฐู ูุณุชุทูุน ุฃูู ูุญุณู ุจุงููู ุนู ุทุฑูู ุงูููุจ ูุง ูุณุชุทูุน ุฃู ูููู ุฅุญุณุงุณู ุฅูู ู
ู ูุงู ุจุตุฑ ููุจู ุฃุนู
ู.
ุซุงูุซุงู: ูู
ู ุงูุงุฎุชูุงูุงุช ุจูู ู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุนู ุทุฑูู ุงูููุจ ูู
ุนุฑูุฉ ุงููู ุนู ุทุฑูู ุงูุนูู ูู ุฃูู ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูููุจูุฉ ุชูุฃู
ููุนู
ู ูุงูุงูุชุฒุงู
ูุงูุชูููุ ูููู ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูุนูููุฉ ูู
ูู ุฃู ุชููู ู
ุน ุงูุชููู ููู
ูู ุฃูุง ุชููู ู
ุน ุงูุชูููุ ุจู ูู
ูู ุฃู ุชููู ุฃุญูุงูุงู ู
ุชุฑุงููุฉ ู
ุน ุงูููุฑุ ูู
ุง ูุชุถุญ ุฐูู ู
ู ูููู ุณุจุญุงูู ูู ุงููุฑุขู ุงููุฑูู
ูู ุนุฏู
ุฅูู
ุงู ููู
ูุฑุนูู: {ููุฌูุญูุฏููุง ุจูููุง ููุงุณูุชูููููููุชูููุง ุฃูููููุณูููู
ู ุธูููู
ูุง ููุนููููููุง} [ุงููู
ู: 14].
ูุนููู ููู
ูู ุฃู ูุตุฏู ุงูุนูู ุจุงููู ุณุจุญุงููุ ูููู ุงููุณุงู ูููุฑูุ ููุนู
ู ุงูุฅูุณุงู ุฎูุงู ู
ุง ูุนูู
ุ ุฅููุง ุฃูู ุงูุฃู
ุฑ ุงูุฐู ูุง ูู
ูู ูู ุฃู ูุคู
ู ุงูููุจ ุจุงููู ุซู
ูููุฑ ุงููุณุงูุ ููุง ูู
ูู ุฃู ุชูุฌุฏ ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูููุจูุฉ ู
ู ุฏูู ุฃู ููุฌุฏ ุงูุงูุชุฒุงู
ุงูุนู
ููุ ููุฏ ุฃุดุงุฑ ุงูุฅู
ุงู
ุงูุจุงูุฑ ุนููู ุงูุณูุงู
ุฅูู ูุฐุง ุงูู
ุนูู ุจูููู: “ูุง ูููุจูู ุนู
ู ุฅูุง ุจู
ุนุฑูุฉ ููุง ู
ุนุฑูุฉ ุฅูุง ุจุนู
ู ูู
ู ุนุฑู ุฏููููุชูู ู
ุนุฑูุชู ุนูู ุงูุนู
ู ูู
ู ูู
ูุนุฑู ููุง ุนู
ู ูู” (3).
ูุฐู ุงูู
ุนุฑูุฉ ูู ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูููุจูุฉ ุงูุชู ูู ุชูุฃู
ุงูุงูุชุฒุงู
ูุงูุนู
ูุ ูุงูุชู ููุง ุงูุฏูุฑ ุงูุฃุณุงุณู ูู ุชูุงู
ู ุงูุฅูุณุงู ูุชุณุงู
ูู ุงูู
ุนููู ูุงูุฑูุญู.
ู
ุฎุงุทุฑ ูุตู ุงูู
ุนุฑูุฉ ุงูุนูููุฉ ุนู ุงูููุจูุฉ:
ูู
ู ุงูุฃู
ูุฑ ุงููุงู
ุฉ ุงูุชู ูุฌุจ ุงูุงูุชูุงุช ุฅูููุง ูู ุฃู ุจุนุถ ุงูุนุฑูุงุก ูุฏ ุฃูุฑุท ูู ูุฐุง ุงูู
ุฌุงู ูุงุนุชุจุฑ ุฃู ุงูุจุฑูุงู ูุงูุฏููู ูุง ุฃุซุฑ ููุ ูุฃู ุฃุฑุฌู ุงูุงุณุชุฏูุงูููู ุฎุดุจูุฉ:
ุฃุฑุฌู ุงูุงุณุชุฏูุงูููู ุฎุดุจูุฉ ูุงูุฃุฑุฌู ุงูุฎุดุจูุฉ ููุณุช ูููุฉ
ู ุงูุงูุนุงูุฑููู ู ูู ุงุฐุงู ุงูุดุงุฑู ูุฌุฏู ุงูุญูู ูู ุงูุฑูุจู ุงูููู ู ููู ุงูุดุงุฑูุชููู ุ ุจูู ุงูุนุงุฑูู ู ูู ูุงู ุงูุดุงุฑูุฉ ู ููู ูููููุงุกููู ูู ููุฌููุฏู ูุงูุทููุงูุกููู ูู ุดูููุฏูู ูุงููู ุฃุนูู ุจุงูุตูุงุจ
Perbedaan antara ma’rifat Akal dan Pengetahuan Hati:
Jelas bahwa terdapat perbedaan antara ma’rifat akal dan ma’rifat hati. Ini serupa dengan perbedaan antara perasaan dan ilmu, atau antara pengetahuan individual dan pengetahuan umum. Perbedaan antara kedua jenis pengetahuan ini dapat dijelaskan melalui poin-poin berikut:
Pertama:
Mengetahui Allah melalui hati adalah bentuk penyaksian langsung dan kehadiran dari yang diketahui di hadapan orang yang mengetahui.
Sedangkan mengetahui Allah melalui akal adalah proses memperoleh dan memahami pengetahuan melalui panca indera dan gambaran mental.
Seorang ilmuwan mengenal Allah, tetapi seorang arif (yang memiliki maโrifah) melihat Allah.
Sebagaimana disebutkan dalam doa yang diriwayatkan dari Imam Zainul Abidin:
“Ya Ilahi, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang pohon kerinduannya kepada-Mu tertanam kuat di taman dada mereka, dan bara cinta-Mu telah membakar hati mereka. Mereka berlindung di sarang pemikiran, menikmati taman kedekatan dan penyaksian, meminum dari telaga kasih sayang-Mu dengan cawan kelembutan, dan mendatangi sumber ketulusan. Tabir telah tersingkap dari mata mereka, kegelapan keraguan telah lenyap dari keyakinan mereka, kebimbangan telah sirna dari hati dan batin mereka, serta dada mereka telah terbuka dengan keyakinan yang hakikiโฆ”
Kedua:
Perbedaan lain antara mengenal Allah melalui akal dan melalui hati adalah bahwa pengetahuan hati bersifat perasaan dan sepenuhnya merupakan pengalaman individu, sehingga tidak bisa diajarkan atau ditransfer kepada orang lain.
Sebaliknya, pengetahuan Allah melalui akal bersifat umum, dapat diajarkan, dipelajari, dan ditransfer kepada orang lain.
Mengetahui Allah melalui hati tidak dapat diekspresikan dalam bentuk argumentasi, karena bukan sesuatu yang verbal, melainkan pengalaman batin yang tidak dapat disampaikan kepada orang lain.
Sebagaimana seorang yang bisa melihat tidak bisa menjelaskan warna kepada orang buta, dan sebagaimana rasa lapar serta haus tidak bisa ditransfer kepada orang lain, demikian pula seseorang yang merasakan Allah melalui hati tidak bisa menyampaikan perasaannya kepada mereka yang buta hati.
Ketiga:
Perbedaan lain antara mengenal Allah melalui hati dan melalui akal adalah bahwa pengetahuan hati selalu bersanding dengan amal, komitmen, dan ketakwaan.
Sedangkan pengetahuan akal bisa disertai ketakwaan, tetapi bisa juga tidak. Bahkan terkadang bisa beriringan dengan kekufuran, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah tentang kaum Firโaun:
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati mereka meyakininya.” (QS. An-Naml: 14)
Dengan demikian, akal bisa meyakini keberadaan Allah, tetapi lisan bisa mengingkarinya, dan seseorang bisa berbuat bertentangan dengan apa yang ia ketahui.
Namun, sesuatu yang mustahil adalah seseorang memiliki pengetahuan hati tentang Allah tetapi lisannya mengingkari.
Tidak mungkin ada pengetahuan hati tanpa diiringi dengan komitmen amal.
Sebagaimana Imam Al-Baqir berkata:
“Tidak diterima amal tanpa maโrifah (pengetahuan), dan tidak ada maโrifah tanpa amal. Barang siapa mengetahui, maka pengetahuannya akan membimbingnya kepada amal. Dan barang siapa tidak mengetahui, maka ia tidak memiliki amal.”
Pengetahuan hati ini selalu beriringan dengan amal dan komitmen, serta memiliki peran utama dalam menyempurnakan manusia dan meninggikannya secara spiritual dan moral.
Bahaya Memisahkan Pengetahuan Akal dari Pengetahuan Hati
Hal yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa sebagian sufi telah berlebihan dalam hal ini dengan menganggap bahwa argumentasi dan dalil tidak memiliki pengaruh.
Mereka mengatakan:
“Kaki para pemikir hanyalah kayu, dan kaki kayu tidaklah kuat.”
“Seorang arif bukanlah yang ketika ia menunjuk, ia menemukan kebenaran lebih dekat daripada isyaratnya. Tetapi seorang arif adalah yang tidak memiliki isyarat, karena ia telah fana dalam keberadaan-Nya dan tenggelam dalam penyaksian-Nya.”
ูุชุงูู ุงููููู ุงูู ุณู ู ุงูู ุณุงุฆู ุงูู ูุซูุฑุฉ ุต ูขูจูฉ
ุญุฏูุซ ู ู ุนุฑู ููุณู ููุฏ ุนุฑู ุฑุจู..
ูฆ – (ู ุณุฃูุฉ) ูู ุงูุญุฏูุซ ุนู ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุขูู ูุณูู : ยซ ู ู ุนุฑู ููุณู ููุฏ ุนุฑู ุฑุจูุ ูู ู ุนุฑู ุฑุจู ูู ูุณุงูู ยป ูู ูุฐุง ุงูุญุฏูุซ ุซุงุจุช ุฃู ูุง ูู ุง ู ุนูุงู ุ .
( ุงูุฌูุงุจ )
ููุณ ูู ุจุซุงุจุช (ูฃ) ุ ููู ุซุจุช ูุงู ู ุนูุงู ู ู ุนุฑู ููุณู
. (ูฃ) ุณุฆู ุงุจู ุญุฌุฑ ุฑุถู ุงููู ุนูู ุนู ุญุฏูุซ: ู ู ุนุฑู ููุณู ุนุฑู ุฑุจูยป ู ู ุฑูุงู ุ ูุฃุฌุงุจ ุจูููู : ูุง ุฃุตู ูู ุ ูุฅูู ุง ููุญูู ู ู ููุงู ูุญูู ุจู ู ุนุงุฐ ุงูุฑุงุฒู ุงูุตููู. ูู ุนูุงู: ู ู ุนุฑู ููุณู ุจุงูุนุฌุฒ ูุงูุฅูุชูุงุฑ ูุงูุชูุตูุฑ ูุงูุฐูุฉ ูุงูุฅููุณุงุฑ ุนุฑู ุฑุจู ุจุตูุงุช ุงูุฌูุงูุฉ ูุงูุฌู ุงูุฉ ุนูู ู ุง ููุจุบู ููู ุง ุ ูุฃุฏุงู ู ุฑุงูุจุชู ุญุชู ููุชุญ ูู ุจุงุจยป ู ุดุงูุฏุชูุ ููููู ู ู ุฃุฎุตุงุฆู ุงูุฐูู ุฃูุฑุบ ุนูููู ุณุฌุงู ู ุนุฑูุชู ูุฃูุจุณูู ุตูุงูู ุฎูุงูุชู. ุฃูู. ู ู ูุชุงููู ุต ูขูจูฉ
Fatwa An-Nawawi yang Berjudul “Al-Masa’il Al-Manthurah” Halaman 289
Hadis: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”
6 – (Masalah)
Ada sebuah hadis yang dinisbatkan kepada Nabi ๏ทบ:
“Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya. Dan barang siapa mengenal Tuhannya, maka lisannya akan diam.”
Apakah hadis ini sahih atau tidak? Dan apa maknanya?
(Jawaban): Hadis ini tidaklah sahih (ยน). Jika pun hadis ini sahih, maka maknanya adalah: “Barang siapa mengenal dirinya…”
(ยน) Ibnu Hajar ra. pernah ditanya mengenai hadis: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.” Siapa yang meriwayatkannya?
Beliau menjawab: “Hadis ini tidak memiliki asal-usul.” Hadis ini hanya dinukil dari perkataan Yahya bin Mu’adz ar-Razi, seorang sufi.
Maknanya adalah: “Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, fakir, penuh kekurangan, hina, dan rendah hati, maka ia akan mengenal Tuhannya dengan sifat keagungan dan keindahan-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya. Lalu, ia akan terus menjaga muraqabah (kesadaran akan pengawasan Allah) hingga terbuka baginya pintu musyahadah (penyaksian terhadap kebesaran Allah). Dengan demikian, ia akan menjadi salah satu dari orang-orang khusus yang telah Allah limpahi pengetahuan makrifat dan memakaikan mereka pakaian khilafah-Nya yang suci.”
Selesai. (Dikutip dari fatwa Ibnu Hajar, halaman 289).
Dan Allah lebih mengetahui yang benar.