
Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Dengan kemajuan ilmu dan teknologi dimasa sekarang ini sedikit berbeda dengan masa-masa terdahulu .Di antara waqiiyah yang terjadi dimasyarakat pada masa lalu sudah terbiasa ketika seseorang meninggal di kuburkan atap kuburannya memakai kayu sedangkan sekarang hampir mayoritas masyarakat memakai atap kuburannya dengan memakai cor ( bata yang dicor dengan alat semin ) entah tujuan agar kuburan itu tidak mudah ambruk atau karena lebih praktis dan tahan lama.
Pertanyaan
Bagaimana hukumnya papan kuburan memakai cor tidak memakai kayu ?
Waalaukum salam
Setelah mayat selesai dimandikan dan dibungkus serta dishalati maka kewajiban yang harus dilakukan adalah menguburkan dan sebagaimana biasanya setelah mayat dimasukkan keliang Lahat lalu tali ikatannya dibuka juga sunnah dipinggir punggungnya diberi lubellu ( batu kecil) agar mayat tidak terbentang karena posisi mayat harus dimiringkan dan dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu dibuatkan papan sebagai penahan tanah di dalam kuburan agar tanah tidak langsung mengenai tubuh jenazah. Biasanya papan penahan itu terbuat dari kayu dan LABIN BUKAN LABAN , Labin adah batu bata, namun di sebagian daerah ada yang terbuat dari balok yang dicor dengan menggunakan semin dan ada sebagian dalam cor tersebut terdapat besi dan ada memakai bambu sebagai penguat atap buatan tersebut. Sebenarnya, bagaimana hukum membuat papan penahan tanah kuburan dengan balok yang dicor ini dengan semen dan besi atau bambu, apakah boleh sebagaimana yang telahbdilakun oleh masyarakat ?
Menurut para ulama fiqh, membuat lubang untuk mayat itu adalah sunnah dengan memakai bata ( artinya kuburan itu ditutup dengan bata sebelum diratakan dengan tanah ) sehingga didalam kubur ada ruang atau diistilahkan dibuat papan atau atap sebagai penahan tanah di kuburan dan sejenisnya yang berfungsi untuk menghalangi jenazah agar tidak tertimbun tanah secara langsung hukumnya sunnah , hal itu agar tidak seperti halnya kita mengubur binatang,
Papan yang dibuat bertujuan sebagai penyanggah tanah di kuburan ini dianjurkan agar menggunakan kayu ataupun lainnya yang tidak pernah tersentuh oleh api. Misalnya, batu bata yang tidak pernah dibakar api, kayu, bambu, dan lainnya. Adapun jika papan penahan terbuat dan tersentuh api, misalnya besi, semen dan lainnya, maka hukumnya makruh dijadikan papan penyanggah tanah di kuburan.
Oleh sebab itu, balok yang terbuat dari coran semen dan besi hukumnya makruh dijadikan papan penyanggah tanah di kuburan. Jika masih ada bahan lain yang tidak tersentuh api, maka sebaiknya balok yang dicor menggunakan semen dan besi tidak dijadikan papan penyanggah tanah di kuburan. Ini karena semen dan besi pernah dibakar oleh api.
Ini sebagaimana disebutkan dalam Darul Ifta’ Al-Mishriyah berikut;
وأما إذا كانت الأرض رخوة استحب أن يكون القبر شقاً، وهو أن يحفر شقاً في وسط القبر يوضع فيه الميت ثم ينصب عليه اللبن. والأولى عدم استعمال أي مادة مسّتها النار في مكونات القبر، كالإسمنت والحديد، واستعمال الحجارة والطين ونحوها من المواد.
Adapun jika tanah kuburan gembur, maka disunnahkan kuburan digali bagian tengahnya untuk dijadikan tempat mayit. Kemudian diletakkan batu bata di atasnya. Yang lebih utama tidak menggunakan bahan yang pernah tersentuh api di dalam kuburan, seperti semen, besi, dan juga batu dan tanah (yang sudah dibakar dengan api, Akan terapi jika tanahnya memang lembur atau mudah gusur maka tidak apa- memakai atap bahan dari cor .
المفتي
عبد اللطيف حمزة.
جمادى الأولى ١٤٠٥ هجرية – ٢٧ يناير ١٩٨٥ م
المبادئ
١ – الدفن فى اللحد أفضل من الشق إلا أن تكون الأرض رخوة.
٢ – يكره دفن الميت ولو صغيرا فى المنزل لأن هذا خاص بالأنبياء والأفضل دفن الأموات فى المقابر المعدة لذلك
السؤال
من السيد / سيد بطلبه المقيد برقم ٢٦١ لسنة ١٩٨٤ م المتضمن بيان الحكم الشرعى فيمن يدفنون موتاهم فى ساحتهم الملاصقة لدورهم التى يسكنون فيها من جميع النواحى ليتبارك الناس بموتاهم
الجواب
قال تعالى {قتل الإنسان ما أكفره.
من أى شىء خلقه. من نطفة خلقه فقدره.
ثم السبيل يسره. ثم أماته فأقبره} عبس ١٧ – ٢١، من مفهوم هذه الآيات الكريمة يتبين أن أقبر الانسان أى دفنه فى القبر من تكريم الله له ومن نعم الله عليه، وأقل القبر حفرة توارى الميت وتمنع بعد ردمها ظهور رائحة منه تؤذى الأحياء ولا يتمكن من نبشها سبع ونحوه وأكمل القبر اللحد وهو حفرة فى جانب القبر جهة القبلة يوضع فيها الميت وتجعل كالبيت المسقف ينصب اللبن عليه (البن هو الطوب النئ) والدفن فى اللحد مستحب بالاجماع لقول عائشة رضى الله علينها (لما مات النبى صلى الله عليه وسلم اختلفوا فى اللحد والق حتى تكلموا فى ذلك وارتفعت أصواتهم فقال عمر لا تصخبوا عند النبى صلى الله عليه وسلم حيا ولا ميتا فأرسلوا إلى الشقاق واللاحق جميعا فجاء اللاحد فلحد لرسول الله صلى الله عليه وسلم ثم دفن) أخرجه ابن ماجه بسند صحيح ورجاله ثقات وأحاديث أخرى دلت على أن الدفن فى اللحد أفضل من الشق إلا أن تكون الأرض رخوة لينة يخاف منها انهيار اللحد فيصار إلى الشق وهو حفرة مستطيلة فى وسط القبر وتبنى جوانبها باللبن أو غيره يوضع فيها الميت ويسقف عليه باللبن والخشب أو غيرهما ويرفع السقف قليلا بحيث لا يمس الميت، أما اذا كانت الأرض صلبة فالدفن فى الشق مكروه.
الموسوعة الفقهية – 3631/31949
إلحاد الميت:
– إلحاد الميت في القبر سنة عند الحنفية والحنابلة لقوله عليه الصلاةوالسلام: اللحد لنا والشق لغيرنا (1) ولما رواه مسلم من حديث سعد بن أبي وقاص رضي الله عنه أنه قال في مرضه الذي مات فيه: ” الحدوا لي لحدا، وانصبوا علي اللبن، كما صنع برسول الله ” صلى الله عليه وسلم (2) .وذهب المالكية والشافعية إلى أنه مستحب، لما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للحافر: أوسع من قبل رأسه، وأوسع من قبل رجله. (3) ولقول الرسول صلى الله عليه وسلم يوم أحد: احفروا، وأوسعوا، وعمقوا (4) ولما روى ابن ماجه عن أنس لما توفي النبي صلى الله عليه وسلم وكان بالمدينة رجل يلحد وآخر يضرح، فقالوا: نستخير ربنا ونبعث إليهما، فأيهما سبق تركناه، فأرسل إليهما، فسبق صاحب اللحد، فلحدوا النبي صلى الله عليه وسلم (5) وهذا عند الجميع إذا كانت الأرض صلبة، أما إذا كانت رخوة فإنه يصار إلى الشق بدون خلاف ويكون أفضل، ويكون اللحد إلى جهة القبلة بقدر الميت. (1) .
Kemudian bagaimana halnya tikar atau sejenisnya yang diletakkan diatasnnya papan tersebut . Dalam hal tikar atau senisnya jika tidak dibutuhkan diletakkan diatasnya papan jika tujuan agar kuburan tidak dijatuhi tanah yang halus maka boleh- boleh saja asalkan sudah layu berbeda dengan tikar atau karpet yang diletakkan dibawahnya mayat maka hukumnya makruh .Alasannya karena mayat /manusia harus menyentuh tanah dan harus tidak ada penghalang antara mayat dengan tanah , hal itu karena asalnya manusia dibuat dari tanah dan kembali kepada tanah. Sedang meletakkan tikar yang sudah layu diatasnya papan itu boleh, tetapi kalau tikar atau karpet itu masih baru dan masih dibutuhkan maka hukumnya melakukan hal yang sedemikian termasuk mubadzzir ( menghambur-hamburkan harta). Maka makhruh hukumnya membuat penghalang antara mayat dan tanah. DR. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan:
وَيُكْرَهُ اَنْ يُجْعَلَ تَحْتَهُ فُرْشٌ أَوْمِضْرَبَةٌ أَوْ مِخَدَّةٌ اَوْثَوْبٌ أَوْحَصِيْرٌلِمَارُوِيَ عَنْ عُمَرَرضي الله عنه اَنَّهُ قَالَ”اِذَا اَنْزَلْتُمُوْ نِي فِي اللَّحْدِ فَافْضُوْابِخَدِّي إِلَي الْاَرْضِ”. وَعَنْ أَبِي مُوْسَي ر ضي الله عنه” لاَ تَجْعَلُوْابَيْنِيْ وَبَيْنَ الْاَرْضِ شَيْأً. (الفقه الاسلامي
وادلته،ج٢ص٥٣٣)
”Dimakhruhkan hukumnya meletakkan dibawah mayit sebuah alas,selimut tebal, bantal, baju atau pembatas (antara mayit dan tanah). Karena ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Umar RA bahwa beliau berkata, “Jika kamu sekalian menurunkan aku ke liang lahat, maka sentuhkanlah pipiku ke tanah”. Dan juga ada hadist yang diriwayatkan dari Abi Musa RA “Janganlah kamu jadikan antara aku dan tanah sebuah penghalang.” (Al-Fiqh al_Islami wa Adillatuh, juz II hal 533)
Maka demikian juga dengan penggunaan peti mayat. Hal itu makhruh karena mayat tidak dapat disentuhkan secara langsung ke tanah.
Di samping itu, hal tersebut merupakan perbuatan mubadzir, membuang-buang harta untuk sesuatu yang tidak perlu. Imam Nawawi al-Bantani menyebutkan dalam kitabnya Nihayah al-Zain:
وَيُكْرَهُ أَنْ يُجْعَلَ لَهُ فُرْشٌ وَمِخَدَّةٌ وَصُنْدُوْقٌ لَمْ يُحْتَجْ إِلَيْهِ لِأَنْ فِيذَلِكَ إِضَاعَةَ مَالٍ،وَمَحَلُّ الْكَرَاهَةِ مَالَمْ يَكُنْ مِنْ مَالِ مَحْجُوْرٍعَلَيْهِ وَإِلاَّحَرُمَ. وَمِنْ حُصُوْصِ الْاَنْبِيَاءِ جَوَازُالْفُرْشِ لَهُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ بِلاَ كَرَاهَةٍ لِاَنَّهُمْ اَحْيَاءٌ فِي قُبُوْرِهِمْ. أَمَّاإِذَاا حْتِيْجَ إِلَى صُنْدُوْقٍ لِنَدَاوَةٍ أَوْنَحْوِهَا فَلاَيُكْرَهُ.( هايةالزين،١٥٤)
“Dimakhruhkan membuat alas, bantal, atau peti yang tidak dibutuhkan di dalam kuburan karena perbuatan itu termasuk membuang-buang harta secara percuma. Hukum makhruh ini berlaku jika barang-barang tersebut tidak dibelanjakan dari harta mahjur alayh (harta orang-orang yang ada dibawah pengawasan seseorang). Jika digunakan dari harta orang itu, hukumnya menjadi haram. Diantara keistimewaan para Nabi adalah, tidak dimakhruhkan untuk memberikan alas pada kubur mereka, karena mereka selalu hidup dalam kuburnya. Namun, jika peti sangat dibutuhkan untuk proses penguburan, misalnya karena tanahnya terlalu gembur atau semacamnya, maka tidak makhruh menggunakan peti mati.”(Nihayah al-Zain, 154).
Dari beberapa penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa menggunakan Papan yang terbuat dari balok cor dan juga lama’ atau tikar yang menyebabkan terhalangnya mayat tersentu dengan tanah hukumnya makruh , sedangkan meletakkan tikar diatasnya papan agar menjadi penghalangnya buburnya tanah agar tidak jatuh kepada mayyit hukumnya boleh dengan catatan tikarnya sudah tidak bisa digunakan lagi (dibutuhkan), tetapi jika masih dapat dipakai maka hukumnya tidak boleh karena termasuk mubadzzir .Demikian Wallahu A’lam