logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

QODHO’ DAN FIDYAH PUASA YANG TELAT QODHO’HINGGA BERTAHUN-TAHUN

QODHO’ DAN FIDYAH PUASA YANG TELAT QODHO’ HINGGA BERTAHUN -TAHUN ( 33 KALI RAMADHAN /33TH)

Assalamualaikum.
Deskripsi masalah.
Ada seorang wanita hamil sampai melahirkan ketika bulan puasa dia tidak puasa karena hawatir terhadap kesehatan dirinya dana juga anaknya, dan dia lupa untuk mengqodlo’nya, dan baru ingat sekarang hingga mencapai hitungan 33 tahun sedang puasanya yang ditinggalkan 19 hari (artinya dia berpuasa 11 hari kemudian buka/ tidak puasa 19 hari ).

Pertanyaannya.
Wajibkah dia mengqodlo’ puasa atau hanya membayar fidyah dengan jumlah puasa/hari yang ditinggalkan..? Kalau wajib bagaimana cara..?

Waalaikum salam.
Jawaban.

Menurut mayoritas ulama’ selain Imam Abu Hanifah, jika orang yang hamil atau menyusui boleh tidak berpuasa dikarenakan hawatir terhadap anaknya, maka dia wajib qodlo’ dan membayar fiyah ,tetapi jika orang yang hamil atau menyusui hanya hawatir untuk dirinya maka dia hanya wajib qodlo’ saja, tidak usah bayar fidyah, begitu juga halnya orang yang hamil dan menyusui ya ng hawatir terhadap dirinya dan anaknya, maka ia wajib qodlo’ dan tidak wajib bayar fidyah. Karena puasa hanya diwajibkan bagi yang mampu, oleh karena menurut Abu Hanifah jika orang yang hamil atau menyusui hawatir terhadap anaknya maka disamakan dengan orang yang lanjut usia yang tidak mampu, untuk berpuasa maka ia hanya wajib membayar fidyah , tapi bagaimana jika seorang yang melahirkan tidak puasa dan tidak mengqodlo’nya hingga bertahun-tahun disebabkan lupa yang kemudian ingat setelah 33 th…?
Berikut penjelasan secara rinci bagi orang yang boleh tidak berpuasa dan boleh qodlo’ saja dan hanya bayar fidyah saja atau keduanya wajib qodlo’ dan bayar fidyah, Firman Allah dalam surat al-Baqarah (2): 184 dan juga beberapa hadits, juga keterangan dalam kitab fiqhul Islami Wa adillatuhu.

Allah berfirman Q.S.al-Baqarah (2): 184

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Artinya: “(yaitu) Dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditingggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. al-Baqarah (2): 184]

Dari ayat tersebut dapat diambil pelajaran bahwa ada beberapa golongan yang mendapat rukhsah (keringanan) untuk tidak melaksanakan puasa Ramadhan, tetapi dibebankan kepada mereka untuk mengganti puasa yang mereka tinggalkan. Adapun golongan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, orang yang sakit dan orang yang dalam perjalanan boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan tetapi orang tersebut wajib mengganti (qadla) pada hari lain. Adapun yang dimaksud hari yang lain adalah hari di luar bulan Ramadhan. Golongan ini sama dengan perempuan yang sedang haid dan tidak berpuasa Ramadhan, maka wajib mengganti puasa (qadla) di luar bulan Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كاَنَ يُصِيْبَنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَلاَةِ

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata: Kami kadang-kadang mengalami itu (haid), maka kami diperintahkan untuk mengganti puasa dan tidak diperintahkan untuk mengganti shalat.” [HR. Muslim]

Kedua, orang yang merasa berat untuk berpuasa maka ia wajib mengganti dengan membayar fidyah, tidak perlu mengganti dengan puasa (qadla). Adapun yang termasuk dalam golongan ini adalah orang yang sudah tua seperti hadis dari Ibnu Abbas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رُخِصَ لِلشَيْخِ الْكَبِيْرِ أَنْ يُفْطِرَ، وَيُطْعِمَ عَلىَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ. [رواه الحاكم، حديث صحيح على شرط البخاري]

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: Telah diringankan bagi orang yang sudah tua untuk berbuka puasa (di bulan Ramadhan) dan memberi makan (fidyah) kepada orang miskin setiap hari (sesuai dengan hari yang ia tidak puasa) dan tidak wajib mengganti dengan puasa (qadla).” [HR. al-Hakim, hadis ini shahih menurut syarat al-Bukhari]

Juga termasuk di dalamnya adalah perempuan yang hamil dan perempuan yang sedang dalam masa menyusui, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada seorang ibu yang hamil:

أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الَّذِيْ لاَ يُطِيْقُ فَعَلَيْكِ اْلفِدَاءَ وَلاَ قَضَاءَ. [رواه البزار وصححه الدارقطني]

Artinya: “Engkau termasuk orang yang berat berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah dan tidak usah mengganti puasa (qadla).” [HR. al-Bazar dan dishahihkan ad-Daruquthni]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ لِلْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَشَطْرَ الصَّلاَةِ وَعَنْ الْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ. [رواه النسائي]

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membebaskan puasa dan separuh shalat bagi orang yang bepergian serta membebaskan puasa dari perempuan yang hamil dan menyusui.” [HR. an-Nasa’i] Kedua hadits ini ( tentang orang hamil dan menyusui) pembahasannya telah dirinci oleh ulama’ sebagaimana diawal jawaban diatas.

Adapun caranya menqodlo’ bagi orang yang sakit yaitu dengan puasa (qadla) di hari lain di luar bulan Ramadhan, tidak perlu membayar fidyah. Hal ini karena fidyah hanya diperuntukkan bagi orang tertentu yang dalam katagori “yutiqunahu” atau orang yang berat untuk berpuasa, tetapi jika yang sakit sembuh dan tidak mengqodlo’ hingga melewati Ramadhan lagi maka dia wajib qodlo’ dan bayar fidyah.

Lalu bagaimana jika telat mengodlo’ puasanya dikarenakan:

Keadaan pertama, adanya udzur sepanjang tahun, sebagai contoh misalkan tahun yang lalu ia tidak puasa karena sakit dan sakitnya tersebut menahun hingga Ramadhan berikutnya, maka ia hanya berkewajiban mengqadha puasanya sampai waktu ia mampu melaksanakannya. Hal ini telah dijelaskan oleh Syekh Khatib asy-Syirbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj:

فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُ الْقَضَاءُ لِاسْتِمْرَارِ عُذْرِهِ كَأَنْ اسْتَمَرَّ مُسَافِرًا أَوْ مَرِيضًا، أَوْ الْمَرْأَةُ حَامِلًا أَوْ مُرْضِعًا حَتَّى دَخَلَ رَمَضَانُ فَلَا فِدْيَةَ عَلَيْهِ

“Jika tidak memungkinkan untuk qadha’ karena masih ada udzur misalnya sepanjang tahun menjadi musafir, orang sakit, hamil atau menyusui hingga masuk Ramadhan berikutnya, maka tidak ada kewajiban membayar fidyah.”

الموسوعة .الفقهية الكويتية ج٣ ٢ص٦٨

١٣ – اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي مَسْأَلَةِ مَا إِذَا كَانَ يَجُوزُ لِلشَّيْخِ الْعَاجِزِ وَالْمَرِيضِ الَّذِي لاَ يُرْجَى بُرْؤُهُ تَعْجِيل الْفِدْيَةِ، فَأَجَازَ الْحَنَفِيَّةُ دَفْعَ الْفِدْيَةِ فِي أَوَّل الشَّهْرِ كَمَا يَجُوزُ دَفْعُهَا فِي آخِرِهِ. (١) وَقَال النَّوَوِيُّ: اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لِلشَّيْخِ الْعَاجِزِ وَالْمَرِيضِ الَّذِي لاَ يُرْجَى بُرْؤُهُ تَعْجِيل الْفِدْيَةِ قَبْل دُخُول رَمَضَانَ، وَيَجُوزُ بَعْدَ طُلُوعِ فَجْرِ كُل يَوْمٍ، وَهَل يَجُوزُ قَبْل الْفَجْرِ فِي رَمَضَانَ؟ قَطَعَ الدَّارِمِيُّ بِالْجَوَازِ وَهُوَ الصَّوَابُ. (٢)

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ فَاتَهُ بِعُذْرٍ:

١٤ – قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ فَاتَهُ بِمَرَضٍ أَوْ سَفَرٍ، أَوْ غَيْرِهِمَا مِنَ الأَْعْذَارِ وَلَمْ يَتَمَكَّنْ مِنْ قَضَائِهِ حَتَّى مَاتَ لاَ شَيْءَ عَلَيْهِ، وَلاَ يُصَامُ عَنْهُ وَلاَ يُطْعَمُ عَنْهُ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. (٣)

Mausu’ah Fiqhiyah Kuwaitiyah, Jilid 32, Halaman 68

13 – Perbedaan Pendapat Ulama tentang Membayar Fidyah Secara Dipercepat bagi Orang Tua Renta dan Orang Sakit yang Tidak Diharapkan Kesembuhannya

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai apakah orang tua renta yang tidak mampu berpuasa dan orang sakit yang tidak diharapkan sembuhnya boleh membayar fidyah lebih awal.

Mazhab Hanafi memperbolehkan membayar fidyah di awal bulan sebagaimana boleh membayarnya di akhir bulan. (1) Imam Nawawi menyebutkan bahwa para ulama mazhab Syafi’i sepakat bahwa orang tua renta dan orang sakit yang tidak diharapkan sembuhnya tidak boleh membayar fidyah sebelum masuk bulan Ramadan. Namun, fidyah boleh dibayarkan setelah fajar setiap harinya. Apakah boleh membayarnya sebelum fajar dalam bulan Ramadan? Ad-Darimi dengan tegas memperbolehkannya, dan ini adalah pendapat yang benar. (2)

PENGECUALIAN

14 – Hukum Orang yang Meninggal dan Masih Memiliki Tanggungan Puasa yang Terlewat karena Uzur

Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan masih memiliki utang puasa yang terlewat karena sakit, safar, atau uzur lainnya, dan tidak sempat mengqadhanya hingga meninggal, maka tidak ada kewajiban apa pun atasnya.

Tidak perlu ada orang lain yang berpuasa menggantikannya.

Tidak perlu membayar fidyah atas namanya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

“Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah sesuai dengan kemampuan kalian.” (3)

Keadaan kedua, jika menunda bahkan telat membayar qadha’ karena lalai atau tidak ada udzur padahal ada kesempatan untuk melaksanakannya hingga masuk Ramadhan berikutnya, maka ia berkewajiban menqadha’ puasa dan ditambah dengan membayar fidyah sebesar 1 mud (±7 Ons) beras per harinya. Sebagaimana penjelasan Syekh Khatib asy-Syirbini dalam kitabnya:

(وَمَنْ أَخَّرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ) أَوْ شَيْئًا مِنْهُ (مَعَ إمْكَانِهِ) بِأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ عُذْرٌ مِنْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ (حَتَّى دَخَلَ رَمَضَانُ آخَرَ لَزِمَهُ مَعَ الْقَضَاءِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ)

“Barang siapa yang menunda qadha’ puasa Ramadhan sementara ia mampu untuk melaksanakannya, yakni tidak ada uzur seperti berpergian atau semacamnya, hingga masuk Ramadhan berikutnya maka ia berkewajiban qadha’ serta membayar fidyah 1 mud per hari.” (Mughni al-Muhtaj)

Bahkan jika menunda qodlo’ puasa hingga beberapa tahun, maka menurut pendapat kuat sebagian ulama fidyahnya juga membengkak sesuai jumlah tahun yang ditinggalkannya ini menurut madzhab Syafi’iyah, Namun menurut pendapat kedua, fidyahnya tidak ikut membengkak ( Menurut Malikiyah dan Hanabilah ) Misalkan punya hutang puasa 10 hari dan belum diqodlo’ hingga 3 tahun maka wajib qodlo’ puasa serta membayar 30 Mud (21 kilogram) menurut pendapat pertama (kuat) atau membayar 10 Mud (7 kilogram) menurut pendapat kedua.

Maka dari itu, wajib bagi kita yang telah mengetahui wajibnya membayar ‘hutang’ puasa untuk segera membayar secepatnya sebelum masuk Ramadhan berikutnya

Jadi jika seseorang meninggalka puasa ramadhan sampai melewati bulan puasa Ramadhan lagi maka ia wajib wajib qodho’ dan wajib bayar fidyah, begitu juga halnya orang yang tidak mengqodho’nya hingga bertahun-tahun sebagaimana deskripsi yaitu hingga 33 th maka ia wajib mengqodho’ puasanya sebanyak yang tinggalkan wajib dan juga wajib membayar fidyah sebanyak tahun yang telah bengkak artinya jika 33 tahun maka perhari dia harus membayar fidyah sebanyak 33 mud. Jika 19 hari yang ditinggal puasanya maka jumlah keseluruhan adalah 627 mud yaitu hasil dari perkalian 33 Th ×19 hari =627
Rinciannya 33.adalah tahun yang dilewati 19 adalah hari ( puasa yang ditinggalkan 19 hari ), alasannya karena orang yang meninggalkan puasa punya kesempatan untuk mengqodlo’ , ini adalah pendapat yang kuat atau rajih dikalangan madzhab Syafi’iyah , yang mewajibkan fidyah sesuai dengan tahun yang telah dilewati.Tetapi Menurut Malikiyah dan Hanabilah tidak perlu pengulangan fidyah.

الفقه الإسلامي و أدلته ١٦٨٠/١٦٧٩/٧٧٢٢

المطلب الثالث ـ الفدية:
أما الفدية: فالكلام في حكمها، وسببها، وتكررها بتكرر السنين (١):

فحكم الفدية: الوجوب، لقوله تعالى: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة:١٨٤/ ٢] أي على الذين يتحملون الصوم بمشقة شديدة الفدية. والفدية عند الحنفية: نصف صاع من بُرّ، أي قيمته، بشرط دوام عجز الفاني والفانية إلى الموت. ومد من الطعام من غالب قوت البلد عن كل يوم عند الجمهور، بقدر ما فاته من الأيام. ومصارف الفدية والنذور المطلقة والكفارات والصدقات الواجبة: هي مصارف الزكاة.
وسببها:
١ – العجز عن الصيام، فتجب باتفاق الفقهاء على من لا يقدر على الصوم بحال، وهو الشيخ الكبير والعجوز، إذا كان يجهدهما الصوم ويشق عليهما مشقة شديدة، فلهما أن يفطرا ويطعما لكل يوم مسكينا، للآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين} [البقرة:١٨٤/ ٢] وقول ابن عباس: «نزلت رخصة للشيخ الكبير» ولأن الأداء صوم واجب، فجاز أن يسقط إلى الكفارة كالقضاء. والشيخ الهم (١) له ذمة صحيحة، فإن كان عاجزا عن الإطعام أيضا فلا شيء عليه، و {لا يكلف الله نفسا إلا وسعها} [البقرة:٢٨٦/ ٢] وقال الحنفية: يستغفر الله سبحانه، ويستقبله أي يطلب منه العفو عن تقصيره في حقه.وأما المريض إذا مات فلا يجب الإطعام عنه؛ لأن ذلك يؤدي إلى أن يجب على الميت ابتداء، بخلاف ما إذا أمكنه الصوم فلم يفعل، حتى مات؛ لأن وجوب الإطعام يستند إلى حال الحياة.
٢ – وتجب الفدية أيضا بالاتفاق على المريض الذي لا يرجى برؤه، لعدم وجوب الصوم عليه، كما تقدم، لقوله عز وجل: {وما جعل عليكم في الدين من حرج} [الحج:٧٨/ ٢٢].
٣ – وتجب الفدية كذلك عند الجمهور (غير الحنفية) مع القضاء على الحامل والمرضع إذا خافتا على ولدهما، أما إن خافتا على أنفسهما، فلهما الفطر، وعليهما القضاء فقط، بالاتفاق. ودليله الآية السابقة: {وعلى الذين يطيقونه فدية .. } [البقرة:١٨٤/ ٢] وهما داخلتان في عموم الآية، قال ابن عباس: «كانت رخصة الشيخ الكبير والمرأة الكبيرة، وهما يطيقان الصيام أن يفطرا، ويطعما مكان كل يوم مسكينا، والحبلى والمرضع إذا خافتا على أولادهما أفطرتا وأطعمتا» (١)، ولأنه فطر بسبب نفس عاجزة من طريق الخلقة، فوجبت به الكفارة كالشيخ الهرم.
ولا تجب عليهما الفدية مطلقا عند الحنفية، لحديث أنس بن مالك الكعبي: «إن الله وضع عن المسافر شطر الصلاة، وعن الحامل والمرضع الصوم ـ أو الصيام ـ والله لقد قالها رسول الله صلى الله عليه وسلم، أحدهما أو كليهما» (٢) فلم يأمر بكفارة، ولأنه فطر أبيح لعذر، فلم يجب به كفارة كالفطر للمرضى.
ورأي الجمهور أقوى وأصح لدي؛ لأنه نص في المطلوب، وحديث أنس مطلق لم يتعرض للكفارة.
٤ – وتجب الفدية أيضا مع القضاء عند الجمهور (غير الحنفية) على من فرط في قضاء رمضان، فأخره حتى جاء رمضان آخر مثله بقدر ما فاته من الأيام، قياسا على من أفطر متعمدا؛ لأن كليهما مستهين بحرمة الصوم، ولا تجب على من اتصل عذره من مرض أو سفر أو جنون أو حيض أو نفاس.
تكرر الفدية: ولا تتكرر الفدية عند المالكية والحنابلة بتكرر الأعوام وإنماتتداخل كالحدود، والأصح في رأي الشافعية: أنها تتكرر بتكرر السنين؛ لأن الحقوق المالية لا تتداخل (١). وقال الحنفية: لا فدية بالتأخير إلى رمضان آخر، لإطلاق النص القرآني. {فمن كان منكم مريضاً أو على سفر فعدة من أيام أخر} [البقرة:١٨٤/ ٢ – ١٨٥] فكان وجوب القضاء على التراخي، حتى كان له أن يتطوع، فلا يلزمه بالتأخير شيء ولأنه القياس في الكفارات، غير أنه تارك للأولِى من المسارعة في القضاء.
والفدية والكفارة والنذر وقتها العمر كله، والأولى التعجيل بقدر الإمكان وأن تكون الفدية في رمضان، لأن الثواب فيه أكثر. ويرى الحنابلة أن النذر والكفارة واجبان على الفور؛ لأنه مقتضى الأمر.

الفقه الإسلامي و أدلته – ١٦٧١/٧٧٢٢

ووقت قضاء رمضان: ما بعد انتهائه إلى مجيء رمضان المقبل، ويندب تعجيل القضاء إبراء للذمة ومسارعة إلى إسقاط الواجب، ويجب العزم على قضاء كل عبادة إذا لم يفعلها فورا، ويتعين القضاء فورا إذا بقي من الوقت لحلول رمضان الثاني بقدر ما فاته، ويرى الشافعية وجوب المبادرة بالقضاء أي القضاء فورا إذا كان الفطر في رمضان بغير عذر شرعي، ويكره لمن عليه قضاء رمضان أن يتطوع بصوم. وأما إذا أخر القضاء حتى دخل رمضان آخر، فقال الجمهور: يجب عليه بعد صيام رمضان الداخل القضاء والكفارة (الفدية). وقال الحنفية: لا فدية عليه سواء أكان التأخير بعذر أم بغير عذر. وتتكرر الفدية عند الشافعية بتكرر الأعوام.
ولكن لا يجزئ القضاء في الأيام المنهي عن صومها كأيام العيد، ولا في الوقت المنذور صومه كالأيام الأولى من ذي الحجة، ولا في أيام رمضان الحاضر؛ لأنه متعين للأداء، فلا يقبل صوما آخر سواه. ويجزئ القضاء في يوم الشك لصحة صومه تطوعا، كما تقدم .وتتداخل الكفارة فلا تجب إلا واحدة بتكرر الإفطار في أيام عند الحنفية، وتتعدد الكفارة بتعدد الإفطار في أيام مختلفة عند الشافعية والحنابلة والمالكية (الجمهور). والله أعلم بالصواب .

Komentar ditutup.

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM