logo mubaa
Logo Ittihad

DEWAN PIMPINAN PUSAT
IKATAN ALUMNI BATA-BATA

HUKUMNYA SALAM DAN MENJAWAB SALAMNYA ORANG NON MUSLIM

Assalamualaikum ustadz dan ustadzah๐Ÿ™๐Ÿฝ
Izin untuk bertanya perihal wajibnya menjawab salam
RUMUSAN MASALAH.
Saya mempunyai kenalan orang kristen tapi dia sangat toleransi banget sampai dia ” ngontrak bareng, pada suatu hari dia mengucapkan salam sebelum masuk ke kontrakan.
pernyataannya:

  1. Bagaimana terkait salam tersebut apakah dijawab apakah tidak.?
  2. Dan apabila dijawab apakah saya ada dampak apa bagaimana.? Mohon bantuan jawan para Kiyai ustadz dan ustadzah๐Ÿ™๐Ÿฝ

Waalaikum salam

Inilah jawaban no.1 berasarkan QS. Surah an-Nisaa’Ayat 85 – 87 dan juga hadits serta pendapat para ulama’ secara rinci atau detail sebagaimana saya kutip dari Tafsir munir Az-Zuhailiy .Jili 3: halaman 183-190

SYAFAAT YANG BAIK, MEMBALAS SALAM DAN MENEGASKAN KEJADIAN HARI KEBANGKITAN DAN JUGA MEMPERTEGAS AJARAN TAUHID .

Surah an-Nisaa’Ayat 85 – 87

ู…ู† ูŠุดูุน ุดูุงุนุฉ ุญุณู†ุฉ ูŠูƒู† ู„ู‡ ู†ุตูŠุจ ู…ู†ู‡ุง ูˆู…ู† ูŠุดูุน ุดูุงุนุฉ ูŠูƒู† ู„ู‡ ูƒูู„ ู…ู†ู‡ุง ูˆูƒุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุดูŠุฆ ุญุณูŠุจุง (ูงูฅ) ูˆุฅุฐุง ุญูŠูŠุชู… ุจุชุญูŠุฉ ูุญูŠูˆุง ุจุฃุญุณู† ู…ู†ู‡ุง ุฃูˆ ุฑุฏูˆู‡ุง ุŒ ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูƒุงู† ุนู„ูŠ ูƒู„ ุดูŠุฆ ุญุณูŠุจุง (ูงูฆ) ุงู„ู„ู‡ ู„ุงุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ู‡ูˆ ู„ูŠุฌู…ุนู†ูƒู… ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ู„ุง ูŠุจุงุน ููŠู‡ุŒ ูˆู…ู† ุฃุญุฏุซ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุญุฏูŠุซุง (ูจูง)

Barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang baik niscaya dia akan memperoleh bagian dari (pahala)nya. Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)nya. Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Dan apabiln kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu. Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia pasti akan mengumpulkan kamu pada hari Kiamat yang tidak diragukan terjadinya. Siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah?” (an-Nisad: ayat :8 5- 87)
๐Ÿ”… Qiraa’aat
Kata ( ุฃุตุฏู‚) oleh Hamzah dan al-Kisa’i dibaca dengan cara meng-isymam-kan huruf shad kepada suara za. l’raab Huruf lam dalam kalimat { ู„ูŠุฌู…ุนู†ูƒู… } merupakan lam untuk membuka sumpah. Lafal { ุงู„ู„ู‡} berada pada posisi mubtada’.Sedangkan kalimat { ู„ุงุฅู„ู‡ ุฅู„ุงู‡ูˆ} menjadi khabar. Kalimat { ู„ูŠุฌู…ุนู†ูƒู… }merupakan sumpah. Setiap huruf laam yang disusul dengan nunnya yang di tasydiid maka ia merupakan laam qasam.
๐Ÿ”… MufradatuI Lughawiyyah
Maksud { ู…ู† ูŠุดูุน } adalah orang yang menjadi penolong. Arti dari { ู†ุตูŠุจ } adalah bagian dari pahala. Maksud dari ( ูƒูู„ ) adalah bagian dosa yang dibebankan. Arti { ู…ู‚ูŠุชุง } adalah mengawasi dan menilai, kemudian membalas sesuai dengan amal perbuatan. Arti { ุชุญูŠุฉ } pada asalnya adalah mendoakan supaya hidup. Kemudian menjadi ucapan selamat baik pada waktu pagi atau sore. Sementara itu, dalam syari’at Islam ucapan selamat yang di-masyru’kan adalah ‘assalaamu’alaikumi. Arti { ุญุณูŠุจุง } adalah mengawasi dan menghitung amal, lalu membalasnya. Maksud dari { ู„ุงุฑูŠุจ ููŠู‡ } adalah tidak ada keraguan di dalamnya. Maksud dari ( ูˆู…ู† ุฃุตุฏู‚ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุญุฏูŠุซุง ) adalah tidak ada seorang pun yang lebih benar ucapannya selain Allah.
๐Ÿ”… Keserasian Antar Ayat
Setelah Allah memerintahkan kaum Mukminin untuk berjihad, di sini Allah menerangkan bahwa jika kaum Mukminin benar-benar mau taat kepadamu [wahai Muhammad), mereka akan mendapatkan kebaikan yang besar, dan kamu juga akan mendapatkan bagian dari kebaikan itu, karena kamu telah bersungguhsungguh mendorong mereka untuk berjihad. Mujahid berkata, ‘Ayat ini turun berkenaan dengan pertolongan yang diberikan oleh satu orang ke yang lain.”
๐Ÿ”… Tafsir dan Penjelasan
Barangsiapa melakukan sesuatu, kemudian timbul konsekuensi- konsekuensi positif, orang tersebut akan mendapatkan pahala kebaikan dari konsekuensi-konsekuensi positif tersebut. Umpamanya orang yang berjuang menegakkan kebenaran dan membasmi kebatilan, dia akan mendapat pahala di dunia seperti kehormatan dan harta dan juga mendapat pahala di akhirat. Barangsiapa melakukan perbuatan jeleh dia akan mendapat dosa akibat perbuatan dan niatnya tersebut. Hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam hadits shahih,

ุฅุดูุนูˆุง- ุฃู‰ ูู‰ ุงู„ุฎูŠุฑ – ุชุคุฌุฑูˆุง ูˆูŠู‚ุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู„ุณุงู† ู†ุจูŠู‡ ู…ุงุดุงุก

“Berilah bantuan dalam kebaikan, maka kamu akan mendapat pahala, dan Allah akan menetapkan dengan lisan Nabi-Nya apa yang Dia kehendaki.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, an-Nasa’i, ad-Darimi dari Abu Musa)
Syafaat ada dua macam, yaitu syafaat yang baik dan syafaat yang buruk. Syafaat yang baik adalah satu bentuk pertolongan yang memerhatikan hak-hak seorang Muslim, yaitu dengan cara melindunginya dari mara bahaya atau mengusahakan kebaikan untuknya. Semua ini dilakukan dengan ikhlas karena Allah SWT. Pertolongan ini dilakukan bukan karena sogokan (risywah) dan harus berada dalam koridor yang dibenarkan oleh agama. Tidak boleh menolong orang untuk meringankan hukuman hadd atalu yang mengakibatkan hak orang lain dilanggar. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan syafa’at yang baik adalah berdoa untuk kebaikan saudaranya yang Muslim, karena yang demikian termasuk bentuk menolong seseorang karena Allah. Nabi Muhammad saw.bersabda,


ู…ู† ุฏุนุงู„ุฃุฎูŠู‡ ุงู„ู…ุณู„ู… ุจุธู‡ุฑ ุงู„ุบูŠุจ ุฃุณุชุฌูŠุจ ู„ู‡ ูˆู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงู„ู…ู„ูƒ ูˆู„ูƒ ู…ุซู„ ุฐู„ูƒ

“Barang siapa secara diam-diam mendoakan saudaranya Muslim, maka doanya akan dikabulkan oleh Allah. Dan Malaikat pun berkata,’kamu juga mendapatkan bagian seperti yang diberikan kepada orang yang kamu doakan.”‘(HR Muslim dan Abu Dawud dari Abu Darda).
Adapun mendoakan saudara Muslim supaya mendapat musibah atau kecelakaan tidak dibenarkan dan berdosa. Yang dimaksud dengan syafa’at yang buruk adalah kebalikan syafa’at yang baik Yang banyak berlaku sekarang adalah perantara, syafa’at atau saling menolong dalam masalah kejelekan seperti menyogok dengan harta kekayaan supaya dibantu dalam usaha merampas hak orang lain atau menguasai harta orang lain. Imam Masruq pernah membatu seseorang, kemudian orang tersebut memberi hadiah seorang budak perempuan kepadanya namun Imam Masruq marah dan mengembalikan hadiah tersebut, dia pun berkata, “Kalau kamu tahu apa yang ada di hatimu maka kamu tidak akan [ mampu ]mengatakan hajatmu, dan saya juga tidak (sanggup) mengungkapkan yang lebih dari itu.”ยณโธ
Maksud kata { ู…ู‚ูŠุชุง} pada ayat { ูˆูƒุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุดูŠุก ู…ู‚ูŠุชุง } adalah Yang Menjaga dan Yang Menjadi Saksi. Ada jugayangmengatakan bahwa artinya adalah Yang Berkuasa atau Yang Mengganjar. Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati orangorang yang memberi pertolongan. Dia akan memberi pahala kepada setiap orang sesuai dengan niatnya, berkuasa memberi pahala yang setimpal karena dalam sunnatullah pahala selalu dikaitkan dengan amal perbuatan. Kemudian Allah SWT mengajarkan cara memberi salam ltahiyyah) dan adab-adabnya. Fungsi memberi salam adalah sama dengan memberi pertolongan dalam kebaikan (syafaa’ah hasanah), yaitu dapat mempererat hubungan di antara manusia. Dan syafaa’ah hasanah juga dianggap sebagai tahiyyah [penghormatan]. Arti asal < ุงู„ุชุญูŠุฉ> adalah mendoakan semoga diberi kehidupan. Adapun arti { ุงู„ุชุญูŠุงุช ู„ู„ู‡ } adalah kata- kata yang menunjukkan kepada keagungan, kemuliaan dan kehebatan. Sedangkan yang dimaksud dengan { ุงู„ุชุญูŠุฉ } pada ayat ini adalah mengucapkan salam. Dalilnya adalah firman Allah SWT “Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), mereka mengucapkan salam dengan cara yang bukan seperti yang ditentukan Allah untukm u.” (al-Muiaadilah: 8)
Apabila ada seorang Muslim mengucapkan salam kepadamu,hendaklah kamu menjawabnya dengan jawaban yang lebih baik atau yang sepadan. Memberi jawaban yang sepadan adalah wajib, adapun menambah jawaban dengan yang lebih baik adalah sunah.” Apabila seseorang berkata kepadamu, ‘ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… “, hendaklah kamu menjawab, “ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ” atau “ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ “. Dan apabila ditambah lagi sehingga menjadi ” ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ “adalah lebih baik. Setiap satu kalimat dicatat sebagai sepuluh amal kebajikan. Yang terbaik adalah membalas salam dengan muka yang ceria, gembira, dan penuh suka cita. Ibnu farir meriwayatkan dari Salman alFarisi yang menceritakan bahwa ada seorang Iaki-laki datang menghadap Rasul. Orang itu berkata,’ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูŠุงุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ “.Nabi menjawab,” ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ .” Kemudian datang orang lain dan berkata,’ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูŠุงุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ “. Nabi menjawab,” ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡.” Kemudian datang lagi seorang yang lain dan dia berkata,’ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุงุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ ” Nabi menjawab, ‘ ูˆุนู„ูŠูƒ (dan kamu juga mendapatkan sama seperti yang kamu ucapkan. Kemudian orang yang datang terakhir itu bertanya kepada Nabi, ‘Wahai Nabi Allah. Sebelum ini datang dua orang yang mengucapkan salam kepadamu, dan kamu membalas salamnya dengan balasan yang lebih banyak dari apa yang mereka ucapkan,sedangkan kepadaku, kamu tidak menjawab lebih dari yang aku ucapkan.” Nabi menjawab, “Kamu tidak menyisakan lagi (kata-kata salam) untukku. Allah SWT berfirman, Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih bail<, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya.” (an-Nisaa’: 86)
Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu, sehingga Dia akan memberi pahala atas setiap ucapan salam dan perbuatan- perbuatan baik lainnya. Ini merupakan penegasan dan anjuran kuat untuk menyebarkan salam dan wajibnya menjawab salam. Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda,


ูˆุงู„ุฐูŠ ู†ูุณูŠ ุจูŠุฏู‡ ู„ุงุชุฏุฎู„ูˆุง ุงู„ุฌู†ุฉ ุญุชู‰ ุชุคู…ู†ูˆุงุŒ ูˆู„ุงุชุคู…ู†ูˆุง ุญุชู‰ ุชุญุงุจูˆุง ุฃูู„ุง ุฃุฏู„ูƒู… ุนู„ู‰ ุฃู…ุฑ ุฅุฐุง ูุนู„ุชู…ูˆุงู‡ ุชุญุงุจุจุชู… ุฃูุดูˆุง ุงู„ุณู„ุงู… ุจูŠู†ูƒู…


“Demi Zat yang diriku b erada dalam kekuasaan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian salingkasih mengasihi. Tidak inginkah kalian saya beritahu tentang perkara yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mengasihi: Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HRAbu Dawud).
Kemudian Allah menerangkan bahwa mereka akan mendapatkan pahala atas tahiyyah, jihad, amal-amal kebajikan dan pertolongan [syafa’at) yang mereka lakukan. Allah juga menegaskan bahwa manusia nantinya akan kembali kepada Allah SWT Ditegaskan pula bahwa hari kebangkitan dan pembalasan amal di akhirat adalah perkara yang pasti terjadi.
Ayat ini menegaskan dua dasar penting dalam agama yaitu pertama, menetapkan ajaran tauhid; keesaan Allah yang merupakan Tuhan semua makhluk di jagad raya, yaitu dalam firman-Nya,( ุงู„ู„ู‡ ู„ุงุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ู‡ูˆ). Kedua, menetapkan bahwa hari kebangkitan dan hari pembalasan di akhirat pasti terjadi, yaitu dalam firman Allah { ู„ูŠุฌู…ุนู†ูƒู… ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ู„ุงุฑูŠุจ ููŠู‡} , maksudnya ยณโน adalah Allah akan mengumpulkan orang- orang terdahulu dan orang-orang setelahnya yang telah mati, kemudian membangkitkan mereka semua di satu padang yang luas, kemudian Allah akan membalas semua amal yang mereka lakukan. Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang yang ragu tentang terjadinya hari kebangkitan.
Adapun maksud firman Allah SWT ; { ูˆู…ู† ุฃุตุฏู‚ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุญุฏูŠุซุง } adalah tidak ada pembicaraan,informasi, janji dan ancaman yang lebih benar selain pembicaraan, informasi, janji, dan ancaman Allah SWT. Tidak ada Tuhan selain Allah. Semua kalam Allah berdasarkan kepada ilmu-Nya yang Mahaluas melingkupi semua alam raya, sebagaimana ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an, “Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa.” (Thaahaa:52)
๐Ÿ”… Fiqih Kehidupan atau Hukum-hukum
Rangkaian ayat di atas mengandung beberapa ajaran tentang hukum dan akhlak.

1.Dibolehkannya menolong dalam masalah kebaikan dan kebenaran (as-Syafaa’ah al-hasanah), tidak dikotori dengan praktik risywah. Sedangkan menolong dalam masalah kejelekan, kebatilan, permusuhan, dosa atau menolong untuk membatalkan hukuman hadd atau yang menyebabkan hak-hak orang lain teraniaya, atau pertolongan yang dikotori dengan praktik risywah, yang semuanya itu diistilahkan dengan asy-syafaa’ah as-sayyi’ah adalah haram hukumnya. Yang dimaksud dengan kebaikan [al- hasanah) adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan diakui oleh syara’ seperti perilaku kebajikan dan ketaatan. Adapun waktu itu manusia bangkit (yaquumuuna) dari kuburnya, sebagaimana firman Allah, “(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat.” (al-Ma’aarii: 43) kejelekan (as-sayyi’ah) adalah semua perkara yang tidak disukai dan diharamkan oleh syara’ seperti kemaksiatan.

2.Mendorong dan menganjurkan supaya menghormati dan memberi salam kepada orang yang sudah dikenal maupun kepada yang belum dikenal. An-Nakha’i berkata, “Mengucapkan salam adalah sunah, sedangkan menjawabnya adalah wajib’ ) Jika bentuk jawaban salam lebih baik dari bentuk salam yang diucapkan, pahala jawaban itu akan lebih besar.Ucapan salam saja mendapatkan pahala sepuluh kebajikan. fika ditambah dengan permohonan rahmat dari Allah, menjadi dua puluh kebajikan, dan jika ditambah lagi dengan permohonan berkah kepada Allah, pahalanya berlipat menjadi tiga puluh kebajikan sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dari Imran bin Hushain. Ibnu Abbas juga berkata, “Menjawab salam adalah wajib. Apabila ada seseorang melewati sekumpulan kaum Muslimin, kemudian dia memberi salam kepada mereka, namun mereka tidak mau menjawabnya, maka ruh alquds (ruh yang suci) akan dicabut dari diri mereka, dan yang meniawab salam orang tersebut adalah malaikat. Ibnu farir menceritakan dari lbnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda,


ู…ู† ุฃุณู„ู… ุนู„ูŠูƒ ู…ู† ุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡ ูุงุฑุฏุฏ ุนู„ูŠู‡ ูˆุฅู† ูƒุงู† ู…ุฌูˆุณูŠุง ู„ู‚ูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆุฅุฐุง ุญูŠูŠุชู… ุจุชุญูŠุฉ ูุญูŠูˆุง ุจุฃุญุณู† ู…ู†ู‡ุง ุฃูˆ ุฑุฏูˆู‡ุง ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูƒุงู† ุนู„ูŠ ูƒู„ ุดูŠุฆ ุญุณูŠุจุง

“Barangsiapa saja makhluk Allah yang mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah salamnya, meskipun dia adalah orang majusi, karena Allah SWT berfirman,”Dan apabila kamu dihormati dengan suatu(salam)penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya.” (an-Nisaa’: 36) (HR Ibnu farir) .Barangsiapa mengucapkan salam kepada musuhnya, dia telah melindungi dirinya sendiri.Orang yang baru datang dan orang yang naik tunggangan disunahkan mengucapkan salam kepada orang yang berjalan. Orang yang berjalan disunahkan mengucapkan salam kepada orang yang duduk. Kumpulan yang sedikit disunahkan mengucapkan salam kepada kumpulan yang lebih banyak jumlahnya. Orang yang lebih muda disunahkan mengucapkan salam kepada orang yang lebih tua, karena orang tua harus dihormati. Seorang lakilaki tidak dibenarkan mengucapkan salam kepada perempuan yang bukan mahramnya. Seorang laki-laki dibenarkan mengucapkan salam kepada istrinya. Dalam kitab ash-Shahihqin disebutkan bahwa Rasul bersabda,


ูŠุณู„ู… ุงู„ุฑุงูƒุจ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุงุดู‰ ูˆุงู„ู…ุงุดู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ุฑุงูƒุจ ูˆุงู„ู‚ู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุซูŠุฑ


“Orang yang naik, kendaraan hendaklah memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki hendaklah memberi salam kepada orang yang duduk, kelompok yang sedikit hendaklah memberi salam kepada kelompok yang banyak.” (HR.Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan juga bahwa Nabi Muhammad saw pernah melewati anakanak kecil dan beliau mengucapkan salam kepada mereka. At-Tirmidzi menceritakan bahwa Rasulullah saw. melewati seorang perempuan dan beliau mengisyaratkan tangannya sebagai tanda salam. Dalam kitab ash-Shahihain disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,


ุฅู† ุฃูุถู„ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุฎูŠุฑู‡ ุฅุทุนุงู… ุงู„ุทุนุงู… ูˆุฃู† ุชู‚ุฑุก ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ู…ู† ุนุฑูุช ูˆู…ู† ู„ู… ุชุนุฑู.


“Islam yang paling utama dan paling baik adalah memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang tidak kamu kenal”. (HR Bukhari dan Muslim) Al-Hakim menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,


ุฃูุดูˆุง ุงู„ุณู„ุงู… ุชุณู„ู…ูˆุง


“Sebarkanlah salam maka kalian selamat.” (HR al-Hakim) akan tetapi Madzhab Maliki membolehkan mengucapkan salam kepada kaum perempuan kecuali kepada perempuan yang masih muda karena takut timbul godaan untuk berbincang dengannya dengan dorongan setan dan juga pandangan yang diikuti hawa nafsu. Madzhab hanafi tidak membolehkan mengucapkan salam kepada kaum perempuan jika memang mereka bukan mahram. Mereka berkata, “jika perempuan tidak diperintahkan azan, iqamah, membaca Al-Qur’an dengan suara keras sewaktu shalag maka mereka juga tidak wajib menjawab salam, dan mereka juga tidak boleh diberi salam.” Pendapat yang tepat adalah pendapat madzhab Maliki karena ada dalil yang kuat dalam kitab .Shahlh Bukhari yang menyatakan bahwa para sahabat mengucapkan salam kepada perempuan-perempuan tua semasa di Madinah.
As-Suyuthi menerangkan bahwa dalam sunnah disebutkan tidak wajib menjawab salam yang diucapkan oleh orang-orang kafir ahli bid’ah, orang fasik, orang yang sedang buang air, orang yang ada di dalam kamar mandi dan orang yang sedang makan. Hukum menjawab salam tersebut adalah makruh kecuali kepada orang yang sedang makan. Cara yang dibolehkan untuk menjawab salam orang kafir adalah dengan mengucapkan, “ูˆุนู„ูŠูƒู… .” Nabi Muhammad saw. bersabda,’ Apabila Ahlul Kitab memberi salam kepadamu maka jawablah,’ูˆุนู„ูŠูƒู… “‘ Maksudnya adalah ”dan semoga kamu juga mendapatkan sama seperti yang telah kamu ucapkan‘. Hal ini karena salam yang diucapkan Ahlul Kitab adalah “as-saamu ‘alaikum.” yang berarti semoga kematian menghampirimu. Dalam suatu riwayat disebutkan, ‘Janganlah kamu memulai memberi salam kepada orang Yahudi. Jika dia mulai memberi salam, maka jawablah, ูˆุนู„ูŠูƒ! Ini adalah pendapat Mayoritas ulama. Ucapan salam juga tidak wajib dibalas apabila diucapkan sewaktu khutbah, membaca Al-Qur’an dengan keras, meriwayatkan hadits, sedang belajaq, adzan dan iqamah. Begitu juga tidak boleh mengucapkan salam kepada orang yang sedang shalat. Apabila orang yang sedang shalat diberi ucapan salam, dia boleh memilih: membalas salam itu dengan isyarat jarinya atau menunggu hingga selesai shalat kemudian baru membalas ucapan salam tersebut.
Abu Yusuf berkata, “Tidak boleh mengucapkan salam kepda orang yang sedang main dadu dan catur begitu juga kepada penyanyi, orang yang sedang buang air, orang yang telanjang tanpa uzur baik di dalam kamar mandi atau di tempat lainnya.”โดโฐ
Ath-Thahawi berkata, “Disunahkan membalas salam dalam keadaan suci, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bertayamum dulu sebelum menjawab salam.” Abu Hanifah berkata, “Menjawab salam tidak boleh dengan suara yang sangat keras.” Hasan al-Bashri membolehkan seorang Mukmin mengucapkan salam kepada orang kafir dengan berkata, ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู….” Namun tidak boleh menambah, “ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡.” karena yang demikian berarti memintakan ampun kepada Allah untuk dosa-dosa mereka. Asy-Sya’bi pernah menjawab salam orang Nasrani dengan berkata, “ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ .” Kemudian dia ditanya mengenai penggunaan kata ” ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ “, dia menjawab, “Bukankah dengan rahmat Allah mereka bisa hidup?” Sebagian ulama membuat keringanan hukum dalam masalah salam, yaitu boleh memulai mengucapkan salam kepada ahli adz-Dzimmah jika memang keadaan menuntut sikap seperti itu. Diriwayatkan bahwa an-Nakha’i mempunyai pendapat yang seperti itu.

ุชูุณูŠุฑ ุงู„ู…ู†ูŠุฑ ุงู„ุฒุญูŠู„ูŠ ุต ูกูฅูคูค

ุซู… ุนู„ู‘ู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู†ุงุณ ุงู„ุชุญูŠุฉ ูˆุขุฏุงุจู‡ุงุŒ ูˆู‡ูŠ ูƒุงู„ุดูุงุนุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉ ู…ู† ุฃุณุจุงุจ ุงู„ุชูˆุงุตู„ ูˆุงู„ุชู‚ุงุฑุจ ุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณุŒ ูˆุนุฏุช ู…ู† ุงู„ุชุญูŠุฉ. ูˆุฃุตู„ ุงู„ุชุญูŠุฉ: ุงู„ุฏุนุงุก ุจุงู„ุญูŠุงุฉุŒ ูˆุงู„ุชุญูŠุงุช ู„ู„ู‡: ุฃูŠ ุงู„ุฃู„ูุงุธโ€ ุงู„ุชูŠ ุชุฏู„ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ู„ูƒุŒ ูˆูŠูƒู†ู‰ ุจู‡ุง ุนู†ู‡ ู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ุŒ ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ุฃู† ุงู„ุชุญูŠุฉ ู‡ุงู‡ู†ุง: ุงู„ุณู„ุงู…ุŒ ู„ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ูˆูŽุฅูุฐุง ุฌุงุคููƒูŽ ุญูŽูŠู‘ูŽูˆู’ูƒูŽ ุจูู…ุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูุญูŽูŠู‘ููƒูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู„ู‡ู} [ุงู„ู…ุฌุงุฏู„ุฉ ูจ/ ูฅูจ].
ูุฅุฐุง ุณู„ู… ุนู„ูŠูƒู… ุงู„ู…ุณู„ู… ูุงู„ูˆุงุฌุจ ุงู„ุฑุฏ ุนู„ูŠู‡ ุจุฃูุถู„ ู…ู…ุง ุณู„ู…ุŒ ุฃูˆ ุงู„ุฑุฏ ุนู„ูŠู‡ ุจู…ุซู„ ู…ุง ุณู„ู…ุŒ ูุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ู…ู†ุฏูˆุจุฉุŒ ูˆุงู„ู…ู…ุงุซู„ุฉ ู…ูุฑูˆุถุฉ. ูุฅุฐุง ู‚ุงู„ ุงู„ุดุฎุต: ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู…ุŒ ุฃุฌุงุจ ุงู„ู…ุณู„ู‘ู… ุนู„ูŠู‡ ุฅู…ุง ุจู‚ูˆู„ู‡: ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู…ุŒ ุฃูˆ ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูˆุฅุฐุง ุฒุงุฏ: ยซูˆุจุฑูƒุงุชู‡ยป ูƒุงู† ุฃูุถู„ุŒ ูˆููŠ ูƒู„ ูƒู„ู…ุฉ ุนุดุฑ ุญุณู†ุงุช. ูˆุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ุฑุฏ ุจุจุดุงุดุฉ ูˆุณุฑูˆุฑ ูˆุญุณู† ุงุณุชู‚ุจุงู„.
ุฑูˆู‰ ุงุจู† ุฌุฑูŠุฑ ุนู† ุณู„ู…ุงู† ุงู„ูุงุฑุณูŠ ู‚ุงู„: ุฌุงุก ุฑุฌู„ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู…ุŒ ูู‚ุงู„ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูู‚ุงู„: ยซูˆุนู„ูŠูƒ ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ยป ุซู… ุฌุงุก ุขุฎุฑ ูู‚ุงู„: ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ุŒ ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู…: ยซูˆุนู„ูŠูƒ
ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ยป ุซู… ุฌุงุก ุขุฎุฑ ูู‚ุงู„: ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ุŒ ูู‚ุงู„ ู„ู‡: ยซูˆุนู„ูŠูƒยป ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงู„ุฑุฌู„: ูŠุง ู†ุจูŠ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุจุฃุจูŠ ุฃู†ุช ูˆุฃู…ูŠุŒ ุฃุชุงูƒ ูู„ุงู† ูˆูู„ุงู†ุŒ ูุณู„ู…ุง ุนู„ูŠูƒุŒ ูุฑุฏุฏุช ุนู„ูŠู‡ู…ุง ุฃูƒุซุฑ ู…ู…ุง ุฑุฏุฏุช ุนู„ูŠุŒ ูู‚ุงู„: ยซุฅู†ูƒ ู„ู… ุชุฏุน ู„ู†ุง ุดูŠุฆุงยป ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ูˆูŽุฅูุฐุง ุญููŠู‘ููŠุชูู…ู’ ุจูุชูŽุญููŠู‘ูŽุฉูุŒ ููŽุญูŽูŠู‘ููˆุง ุจูุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ุง ุฃูŽูˆู’ ุฑูุฏู‘ููˆู‡ุง} ูุฑุฏุฏู†ุงู‡ุง ุนู„ูŠูƒยป.
{ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูƒุงู†ูŽ ุนูŽู„ู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ุญูŽุณููŠุจุงู‹} ุฃูŠ ูŠุญุงุณุจูƒู… ุนู„ู‰ ูƒู„ ุดูŠุก ู…ู† ุงู„ุชุญูŠุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ุงุŒ ูˆู‡ุฐุง ุชุฃูƒูŠุฏ ู„ุฅุดุงุนุฉ ุงู„ุณู„ุงู… ูˆูˆุฌูˆุจ ุฑุฏ ุงู„ุชุญูŠุฉ ุนู„ู‰ ู…ู† ุณู„ู‘ู….
ุฑูˆู‰ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ู‚ุงู„: ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู…: ยซูˆุงู„ุฐูŠ ู†ูุณูŠ ุจูŠุฏู‡ ู„ุง ุชุฏุฎู„ูˆุง ุงู„ุฌู†ุฉ ุญุชู‰ ุชุคู…ู†ูˆุงุŒ ูˆู„ุง ุชุคู…ู†ูˆุง ุญุชู‰ ุชุญุงุจูˆุงุŒ ุฃูู„ุง ุฃุฏู„ูƒู… ุนู„ู‰ ุฃู…ุฑ ุฅุฐุง ูุนู„ุชู…ูˆู‡ ุชุญุงุจุจุชู…: ุฃูุดูˆุง ุงู„ุณู„ุงู… ุจูŠู†ูƒู…ยป.
ุซู… ุจูŠู‘ู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃู†ู‡ู… ู…ุฌุฒูŠูˆู† ุนู„ู‰ ุงู„ุชุญูŠุฉ ูˆุงู„ุฌู‡ุงุฏ ูˆุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ุดูุงุนุฉุŒ ูู‚ุฑุฑ ุฃู† ุงู„ู…ุฑุฌุน ูˆุงู„ู…ุตูŠุฑ ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ูˆุงุญุฏ ุงู„ุฃุญุฏุŒ ูˆุฃู† ุงู„ุจุนุซ ูˆุงู„ุฌุฒุงุก ููŠ ุงู„ุฏุงุฑ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุซุงุจุช. ูˆู‡ุฐู‡ ุงู„ุขูŠุฉ ุชู‚ุฑุฑ ุฑูƒู†ูŠู† ุฃุณุงุณูŠูŠู† ู„ู„ุฏูŠู† ูˆู‡ู…ุง: ุฅุซุจุงุช ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ ูˆุฅุฎุจุงุฑู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจุชูุฑุฏู‡ ุจุงู„ุฃู„ูˆู‡ูŠุฉ ู„ุฌู…ูŠุน ุงู„ู…ุฎู„ูˆู‚ุงุช ุจู‚ูˆู„ู‡: {ุงู„ู„ู‡ู ู„ุง ุฅูู„ู‡ูŽ ุฅูู„ุงู‘ ู‡ููˆูŽ}.
ูˆุฅุซุจุงุช ุงู„ุจุนุซ ูˆุงู„ุฌุฒุงุก ููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุจุงู„ู‚ุณู… ุงู„ุฐูŠ ุฃู‚ุณู…ู‡: {ู„ูŽูŠูŽุฌู’ู…ูŽุนูŽู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุฅูู„ู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠุงู…ูŽุฉู ูก ู„ุง ุฑูŽูŠู’ุจูŽ ูููŠู‡ู} ุฃูŠ ุฃู†ู‡ ุณูŠุฌู…ุน ุงู„ุฃูˆู„ูŠู† ูˆุงู„ุขุฎุฑูŠู† ููŠ ุงู„ู…ูˆุช ูˆุชุญุช ุงู„ุฃุฑุถ ุซู… ูŠุจุนุซู‡ู… ููŠ ุตุนูŠุฏ ูˆุงุญุฏุŒ ููŠุฌุงุฒูŠ ูƒู„ ุนุงู…ู„ ุจุนู…ู„ู‡. ูˆู‚ุฏ ู†ุฒู„ุช ููŠ ุงู„ุฐูŠู† ุดูƒูˆุง ููŠ ุงู„ุจุนุซุŒ ูุฃู‚ุณู… ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจู†ูุณู‡.
ูˆู‚ูˆู„ู‡: {ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุตู’ุฏูŽู‚ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุญูŽุฏููŠุซุงู‹} ู…ุนู†ุงู‡: ู„ุง ุฃุญุฏ ุฃุตุฏู‚ ู…ู†ู‡ ุนุฒ


(ูก) ุณู…ูŠุช ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉุ› ู„ุฃู† ุงู„ู†ุงุณ ูŠู‚ูˆู…ูˆู† ููŠู‡ ู„ุฑุจ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู† ุฌู„ ูˆุนุฒุŒ ู‚ุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: ุฃูŽู„ุง ูŠูŽุธูู†ู‘ู ุฃููˆู„ุฆููƒูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูŽุจู’ุนููˆุซููˆู†ูŽ ู„ููŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุธููŠู…ูุŒ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽู‚ููˆู…ู ุงู„ู†ู‘ุงุณู ู„ูุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนุงู„ูŽู…ููŠู†ูŽ [ุงู„ู…ุทูููŠู† ูค/ ูจูฃ – ูฅ]. ูˆู‚ูŠู„: ู„ุฃู† ุงู„ู†ุงุณ ูŠู‚ูˆู…ูˆู† ู…ู† ู‚ุจูˆุฑู‡ู… ุฅู„ูŠู‡ุง: ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฌู’ุฏุงุซู ุณูุฑุงุนุงู‹ [ุงู„ู…ุนุงุฑุฌ ูคูฃ/ ูงู ].
ูˆุฌู„ ููŠ ุญุฏูŠุซู‡ ูˆุฎุจุฑู‡ุŒ ูˆูˆุนุฏู‡ ูˆูˆุนูŠุฏู‡ุŒ ูู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ู‡ูˆุŒ ูˆู„ุง ุฑุจ ุณูˆุงู‡ุ› ุฅุฐ ูƒู„ุงู…ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู† ุนู„ู… ู…ุญูŠุทโ€ ุจุณุงุฆุฑ ุงู„ูƒุงุฆู†ุงุชุŒ ูƒู…ุง ู‚ุงู„: {ู„ุง ูŠูŽุถูู„ู‘ู ุฑูŽุจู‘ููŠ ูˆูŽู„ุง ูŠูŽู†ู’ุณู‰} [ุทู‡ ูฅูข/ ูขู ].

ูู‚ู‡ ุงู„ุญูŠุงุฉ ุฃูˆ ุงู„ุฃุญูƒุงู…:
ุชุถู…ู†ุช ุงู„ุขูŠุงุช ุขุฏุงุจุง ูˆุฃุญูƒุงู…ุง ู…ู‡ู…ุฉ ู‡ูŠ:
ูก – ุฅุจุงุญุฉ ุงู„ุดูุงุนุฉ ุงู„ุญุณู†ุฉุŒ ุฃูŠ ุงู„ู…ูˆุตู„ุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุญู‚ุŒ ุบูŠุฑ ุงู„ู…ู‚ุชุฑู†ุฉ ุจุงู„ุฑุดูˆุฉุŒ ูˆุชุญุฑูŠู… ุงู„ุดูุงุนุฉ ุงู„ุณูŠุฆุฉุŒ ุฃูŠ ุงู„ุชูŠ ููŠู‡ุง ุงู„ุชุนุงูˆู† ุนู„ู‰ ุงู„ุจุงุทู„ ุฃูˆ ุงู„ุฅุซู… ูˆุงู„ุนุฏูˆุงู†ุŒ ุฃูˆ ุงู„ู…ุณู‚ุทุฉ ู„ุญุฏ ู…ู† ุญุฏูˆุฏ ุงู„ู„ู‡ุŒ ุฃูˆ ุงู„ู…ุถูŠุนุฉ ู„ุญู‚ ู…ู† ุงู„ุญู‚ูˆู‚ุŒ ุฃูˆ ุงู„ู…ุตุญูˆุจุฉ ุจุงู„ุฑุดูˆุฉ.
ูˆุงู„ุญุณู†ุฉ ููŠู…ุง ุงุณุชุญุณู†ู‡ ุงู„ุดุฑุน ูˆุฑุถูŠู‡ ุฃูŠ ููŠ ุงู„ุจุฑ ูˆุงู„ุทุงุนุฉุŒ ูˆุงู„ุณูŠุฆุฉ ููŠู…ุง ูƒุฑู‡ู‡ ุงู„ุดุฑุน ุฃูˆ ุญุฑู…ู‡ ุฃูŠ ููŠ ุงู„ู…ุนุงุตูŠ.
ูข – ุงู„ุชุฑุบูŠุจ ููŠ ุงู„ุชุญูŠุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ู…ู† ุนุฑูุช ูˆู…ู† ู„ู… ุชุนุฑูุŒ
ูˆุนู† ุงู„ู†ุฎุนูŠ: ยซุงู„ุณู„ุงู… ุณู†ุฉุŒ ูˆุงู„ุฑุฏ ูุฑูŠุถุฉยป ูˆูƒู„ู…ุง ูƒุงู† ุงู„ุฑุฏ ุฃูุถู„ ูƒุงู† ุงู„ุซูˆุงุจ ุฃูƒุซุฑุŒ
ูุงู„ุณู„ุงู… ูˆุญุฏู‡ ู…ู† ุงู„ู…ุณู„ู‘ู… ูˆุงู„ู…ุฌูŠุจ ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ุฃุฌุฑ ุนุดุฑ ุญุณู†ุงุชุŒ ูˆุถู… ุงู„ุฑุญู…ุฉ ุฅู„ูŠู‡: ู„ู‡ ุนุดุฑูˆู† ุญุณู†ุฉุŒ ูˆุถู…: ยซูˆุจุฑูƒุงุชู‡ยป ู„ู‡ ุซู„ุงุซูˆู† ุญุณู†ุฉ ูƒู…ุง ุฑูˆู‰ ุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ุนู† ุนู…ุฑุงู† ุจู† ุญุตูŠู†. ูˆุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ: ยซุงู„ุฑุฏ ูˆุงุฌุจุŒ ูˆู…ุง ู…ู† ุฑุฌู„ ูŠู…ุฑ ุนู„ู‰ ู‚ูˆู… ู…ุณู„ู…ูŠู†ุŒ ููŠุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ู… ูˆู„ุง ูŠุฑุฏูˆู† ุนู„ูŠู‡ุŒ ุฅู„ุง ู†ุฒุน ุนู†ู‡ู… ุฑูˆุญ ุงู„ู‚ุฏุณุŒ ูˆุฑุฏุช ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉยป
ูˆุฑูˆู‰ ุงุจู† ุฌุฑูŠุฑ ุนู† ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฃูŠุถุง ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ู‚ุงู„: ยซู…ู† ุณู„ู… ุนู„ูŠูƒ ู…ู† ุฎู„ู‚ ุงู„ู„ู‡ ูุงุฑุฏุฏ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ู…ุฌูˆุณูŠุงุŒ ูุฅู† ุงู„ู„ู‡ ูŠู‚ูˆู„: {ูˆูŽุฅูุฐุง ุญููŠู‘ููŠุชูู…ู’ ุจูุชูŽุญููŠู‘ูŽุฉู ููŽุญูŽูŠู‘ููˆุง ุจูุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ุง ุฃูŽูˆู’ ุฑูุฏู‘ููˆู‡ุง} [ุงู„ู†ุณุงุก ูจูฆ/ ูค].
ูˆู…ู† ู‚ุงู„ ู„ุฎุตู…ู‡: ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู…ุŒ ูู‚ุฏ ุฃู…ู†ู‡ ุนู„ู‰ ู†ูุณู‡.
ูˆุงู„ุณู†ุฉ ุฃู† ูŠุณู„ู… ุงู„ู‚ุงุฏู…ุŒ ูˆุงู„ุฑุงูƒุจ-ู„ุนู„ูˆ ู…ุฑุชุจุชู‡-ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุงุดูŠุŒ ูˆุงู„ู…ุงุดูŠ ุนู„ู‰
ุงู„ู‚ุงุนุฏ ู„ูˆู‚ุงุฑู‡ ูˆุณูƒูˆู†ู‡ุŒ ูˆุงู„ู‚ู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุซูŠุฑุŒ ูˆุงู„ุตุบูŠุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุจูŠุฑ ู…ุฑุงุนุงุฉ ู„ุดุฑู ุงู„ุฌู…ุน ูˆุฃูƒุซุฑูŠุชู‡ู…. ูˆู„ุง ูŠุณู„ู… ุงู„ุฑุฌู„ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ุงู„ุฃุฌู†ุจูŠุฉุŒ ูˆูŠุณู„ู… ุนู„ู‰ ุฒูˆุฌุชู‡.
ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู† ุฃู†ู‡ ยซูŠุณู„ู… ุงู„ุฑุงูƒุจ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุงุดูŠุŒ ูˆุงู„ู…ุงุดูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู‚ุงุนุฏุŒ ูˆุงู„ู‚ู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุซูŠุฑยป.
ูˆุฑูˆูŠ ยซุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ู…ุฑู‘ ุจุตุจูŠุงู† ูุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ู…ยป
ูˆุฑูˆู‰ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ:
ยซุฃู†ู‡ ู…ุฑ ุจู†ุณูˆุฉ ูุฃูˆู…ุฃ ุจูŠุฏู‡ ุจุงู„ุชุณู„ูŠู…ยป
ูˆููŠ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู†: ยซุฅู† ุฃูุถู„ ุงู„ุฅุณู„ุงู… ูˆุฎูŠุฑู‡: ุฅุทุนุงู… ุงู„ุทุนุงู…ุŒ ูˆุฃู† ุชู‚ุฑุฃ ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ู‰ ู…ู† ุนุฑูุช ูˆู…ู† ู„ู… ุชุนุฑูยป
ูˆุฑูˆู‰ ุงู„ุญุงูƒู… ู…ู† ู‚ูˆู„ู‡ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู…: ยซุฃูุดูˆุง ุงู„ุณู„ุงู… ุชุณู„ู…ูˆุงยป ูˆุฃุฌุงุฒ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ุงู„ุชุณู„ูŠู… ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุณุงุก ุฅู„ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุดุงุจุงุช ู…ู†ู‡ู† ุฎูˆู ุงู„ูุชู†ุฉ ู…ู† ู…ูƒุงู„ู…ุชู‡ู† ุจู†ุฒุนุฉ ุดูŠุทุงู† ุฃูˆ ุฎุงุฆู†ุฉ ุนูŠู†ุŒ ูˆู…ู†ุนู‡ ุงู„ุญู†ููŠุฉ ุฅุฐุง ู„ู… ูŠูƒู† ู…ู†ู‡ู† ุฐูˆุงุช ู…ุญุฑู…ุŒ ูˆู‚ุงู„ูˆุง: ู„ู…ุง ุณู‚ุทโ€ ุนู† ุงู„ู†ุณุงุก ุงู„ุฃุฐุงู† ูˆุงู„ุฅู‚ุงู…ุฉ ูˆุงู„ุฌู‡ุฑ ุจุงู„ู‚ุฑุงุกุฉ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุณู‚ุทโ€ ุนู†ู‡ู† ุฑุฏ ุงู„ุณู„ุงู…ุŒ ูู„ุง ูŠุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ู†.
ูˆุงู„ุตุญูŠุญ ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ู„ู…ุง ุซุจุช ููŠ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ู…ู† ุชุณู„ูŠู… ุงู„ุตุญุงุจุฉ ููŠ ุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ุนู„ู‰ ุนุฌูˆุฒ.
ูˆุฐูƒุฑ ุงู„ุณูŠูˆุทูŠ: ุฃู†ู‡ ุซุจุช ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌุจ ุงู„ุฑุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ูƒุงูุฑ ูˆุงู„ู…ุจุชุฏุน ูˆุงู„ูุงุณู‚ ูˆุนู„ู‰ ู‚ุงุถูŠ ุงู„ุญุงุฌุฉ ูˆู…ู† ููŠ ุงู„ุญู…ุงู… ูˆุงู„ุขูƒู„ุŒ ุจู„ ูŠูƒุฑู‡ ููŠ ุบูŠุฑ ุงู„ุฃุฎูŠุฑุŒ ูˆูŠู‚ุงู„ ู„ู„ูƒุงูุฑ: ูˆุนู„ูŠูƒ. ุซุจุช
ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู‘ู… ุฃู†ู‡ ู‚ุงู„: ยซุฅุฐุง ุณู„ู… ุฃู‡ู„ ุงู„ูƒุชุงุจ ูู‚ูˆู„ูˆุง: ูˆุนู„ูŠูƒู…ยป (ูก) ุฃูŠ ูˆุนู„ูŠูƒู… ู…ุง ู‚ู„ุชู…ุ› ู„ุฃู†ู‡ู… ูƒุงู†ูˆุง ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ุงู„ุณุงู… ุนู„ูŠูƒู….
ูˆุฑูˆูŠ: ยซู„ุง ุชุจุชุฏุฆ ุงู„ูŠู‡ูˆุฏูŠ ุจุงู„ุณู„ุงู…ุŒ ูˆุฅู† ุจุฏุฃ ูู‚ู„: ูˆุนู„ูŠูƒยป ูˆู‡ุฐุง ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ุฌู…ู‡ูˆุฑ.
ูˆู„ุง ูŠุฑุฏ ุงู„ุณู„ุงู… ููŠ ุงู„ุฎุทุจุฉุŒ ูˆู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุฌู‡ุฑุงุŒ ูˆุฑูˆุงูŠุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซุŒ ูˆุนู†ุฏ ู…ุฐุงูƒุฑุฉ ุงู„ุนู„ู…ุŒ ูˆุงู„ุฃุฐุงู† ูˆุงู„ุฅู‚ุงู…ุฉ. ูˆู„ุง ูŠุณู„ู‘ู… ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุตู„ูŠุŒ ูุฅู† ุณู„ู‘ู… ุนู„ูŠู‡ ูู‡ูˆ ุจุงู„ุฎูŠุงุฑ: ุฅู† ุดุงุก ุฑุฏู‘ ุจุงู„ุฅุดุงุฑุฉ ุจุฅุตุจุนู‡ุŒ ูˆุฅู† ุดุงุก ุฃู…ุณูƒ ุญุชู‰ ูŠูุฑุบ ู…ู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ุซู… ูŠุฑุฏ.


(ูก) ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆุงู„ุดูŠุฎุงู† ูˆุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูˆุงุจู† ู…ุงุฌู‡ ุนู† ุฃู†ุณ


๐Ÿ”… Kesimpulannya

Adalah sebagian ulama membolehkan mengucapkan salam kepada non-Muslim dan juga boleh mejawab salamnya. Ketika mengucapkan salam dan membalasnya disunahkan dengan suara yang keras, menurut asy-Syafi’i tidak cukup hanya dengan isyarat jari tangan atau telapak tangan, namun madzhab Maliki membolehkan cara seperti itu jika memang jaraknya jauh.

3.Allah Maha Mengetahui dan Mahakuasa atas segala sesuatu, Dia juga Maha Mengawasi, Maha Menjaga dan akan membalas semua amal yang dilakukan oleh makhlukNya. Tidak ada perkataan yang lebih tepat dan lebih benar daripada kalam Allah baik yang berupa informasi, janji, ancaman, atau lainnya.
Penetapan prinsip tauhid. Allah adalah satu-satunya ilaah dan rabb bagi seluruh makhluk. Ayat di atas juga menegaskan bahwa hari kebangkitan dan pembalasan amal adalah sesuatu yang pasti terjadi. Al-Qur’an adalah kalam Allah, karena AlQur’an adalah wahyu-Nya tidak ada yang lebih benar dari pada kalam Allah. Adapun ucapan-ucapan selain Allah dan selain Nabi, mungkin benar dan mungkin salah, baik kesalahannya itu karena sengaja, lupa, maupun tidak tahu. Wallahu Aโ€™lam bisshowab
ยณโธ Al-Kasysyaf, jil. 1, hal.413.
ยณโน. Hari akhir dinamakan dengan qiyaamah karena pada waktu itu semua manusia berdiri (yaquumuuna) dihadapan Allah. Allah berfirman, “Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,pada suatu hari yang besar” (al-Muthaffifiin: 4-S) Ada juga yang mengatakan bahwa alasannya adalah pada waktu itu manusia bangkit (yaquumuuna) dari kuburnya,sebagaimana firman Allah, “(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat.” (al-Ma’aarii: 43)
โดโฐ.Hadits riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas.

Tambahan referensi

Referensi:

{ุดุฑุญ ุงู„ู†ูˆูˆูŠ ุนู„ู‰ ู…ุณู„ู…ุŒ ุฌ ูกูค ุต ูกูคูฅ}
๏ปญุง๏บง๏บ˜๏ป ๏ป’ ุง๏ปŸ๏ปŒ๏ป ๏ปค๏บŽุก ๏ป“๏ปฒ ๏บญ๏บฉ ุง๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ุง๏ปŸ๏ปœ๏ป”๏บŽ๏บญ ๏ปญุง๏บ‘๏บ˜๏บชุง๏บ‹๏ปฌ๏ปข ๏บ‘๏ปช

Artinya : Para Ulama’ berbeda pendapat dalam hukum menjawab salam dari orang-orang kafir, dan hukum orang-orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita.

๏ป“๏ปค๏บฌ๏ปซ๏บ’๏ปจ๏บŽ ๏บ—๏บค๏บฎ๏ปณ๏ปข ุง๏บ‘๏บ˜๏บชุง๏บ‹๏ปฌ๏ปข ๏บ‘๏ปช ๏ปญ๏ปญ๏บŸ๏ปฎ๏บ ๏บญ๏บฉู‡ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปฌ๏ปข ๏บ‘๏บ„๏ปฅ ๏ปณ๏ป˜๏ปฎ๏ป ๏ปญ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปœ๏ปข ๏บƒ๏ปญ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปœ๏ปข ๏ป“๏ป˜๏ป‚ู  ๏ปญ๏บฉ๏ปŸ๏ปด๏ป ๏ปจ๏บŽ ๏ป“๏ปฒ ุง๏ปป๏บ‘๏บ˜๏บชุงุก ๏ป—๏ปฎ๏ปŸ๏ปช ๏บป๏ป ๏ปฐ ุง๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ปป๏บ—๏บ’๏บช๏บƒ๏ปญุง ุง๏ปŸ๏ปด๏ปฌ๏ปฎ๏บฉ ๏ปญ๏ปปุง๏ปŸ๏ปจ๏บผ๏บŽ๏บญ๏ปฏ ๏บ‘ุง๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปกู  ๏ปญ๏ป“๏ปฒ ุงู„ุฑุฏ ๏ป—๏ปฎ๏ปŸ๏ปช ๏บป๏ป ๏ปฐ ุง๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป“๏ป˜๏ปฎ๏ปŸ๏ปฎุง ๏ปญ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปœ๏ปข ๏ปญ๏บ‘๏ปฌ๏บฌุง ุง๏ปŸ๏บฌ๏ปฑ ๏บซ๏ป›๏บฎ๏ปง๏บŽ๏ปฉ ๏ป‹๏ปฆ ๏ปฃ๏บฌ๏ปซ๏บ’๏ปจ๏บŽ ๏ป—๏บŽ๏ป ๏บƒ๏ป›๏บœ๏บฎ ุง๏ปŸ๏ปŒ๏ป ๏ปค๏บŽุก ๏ปญ๏ป‹๏บŽ๏ปฃ๏บ” ุง๏ปŸ๏บด๏ป ๏ป’


Adapun madzhab kami (Syafi’iyah) berpendapat bahwa haram hukumnya orang-orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita, dan kita wajib menjawab salam orang-orang kafir dengan ucapan : “wa alaikum” atau “alaikum” saja. Adapun dalil kami dalam hal mengawali ucapan salam kepada orang-orang kafir adalah sabda Rosululloh : “Janganlah kalian mengawali mengucap salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani”.

Adapun dalil menjawab salam orang kafir adalah Sabda Rosululloh SAW: ” (jika orang-orang kafir mengucapkan salam kepada kalian) maka ucapkanlah wa alaikum”. Dan pendapat madzhab kami ini merupakan pendapat kebanyakan Ulama’ serta pendapat umum Ulama’ salaf.

๏ปญ๏บซ๏ปซ๏บ’๏บ– ๏ปƒ๏บŽ๏บ‹๏ป”๏บ” ๏บ‡๏ปŸ๏ปฐ ๏บŸ๏ปฎุง๏บฏ ุง๏บ‘๏บ˜๏บชุง๏บ‹๏ปจ๏บŽ ๏ปŸ๏ปฌ๏ปข ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก ๏บญ๏ปญ๏ปฑ ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏ป‹๏ปฆ ุง๏บ‘๏ปฆ ๏ป‹๏บ’๏บŽ๏บฑ ๏ปญ๏บƒ๏บ‘๏ปฒ ๏บƒ๏ปฃ๏บŽ๏ปฃ๏บ” ๏ปญ ุง๏บ‘๏ปฆ ๏บƒ๏บ‘๏ปฒ ๏ปฃ๏บค๏ปด๏บฎ๏ปณ๏บฐ ๏ปญ๏ปซ๏ปฎ ๏ปญ๏บŸ๏ปช ๏ปŸ๏บ’๏ปŒ๏บพ ๏บƒ๏บป๏บค๏บŽ๏บ‘๏ปจ๏บŽ ๏บฃ๏ปœ๏บŽ๏ปฉ ุง๏ปŸ๏ปค๏บŽ๏ปญ๏บญ๏บฉ๏ปฏ ๏ปŸ๏ปœ๏ปจ๏ปช ๏ป—๏บŽ๏ป ๏ปณ๏ป˜๏ปฎ๏ป ุง๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปš ๏ปญ๏ปป๏ปณ๏ป˜๏ปฎ๏ป ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปœ๏ปข ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บ ๏ปค๏ปŠ ๏ปญุง๏บฃ๏บ˜๏บž ๏ปซ๏บ†๏ปปุก ๏บ‘๏ปŒ๏ปค๏ปฎ๏ปก ุง๏ปท๏บฃ๏บŽ๏บฉ๏ปณ๏บš ๏ปญ๏บ‘๏บˆ๏ป“๏บธ๏บŽุก ุง๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก
๏ปญ๏ปซ๏ปฒ ๏บฃ๏บ ๏บ” ๏บ‘๏บŽ๏ปƒ๏ป ๏บ” ๏ปท๏ปง๏ปช ๏ป‹๏บŽ๏ปก ๏ปฃ๏บจ๏บผ๏ปฎ๏บน ๏บ‘๏บค๏บช๏ปณ๏บš ๏ปป๏บ—๏บ’๏บช๏บƒ๏ปญ ุง๏ปŸ๏ปด๏ปฌ๏ปฎ๏บฉ ๏ปญ๏ปปุง๏ปŸ๏ปจ๏บผ๏บŽ๏บญ๏ปฏ ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก


Segolongan Ulama’ berpendapat kita boleh mengawali salam kepada orang-orang kafir. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abu Umamah, Ibnu Abi Muhairiz, itu juga salah satu pendapat sebagian madzhab kami, hal ini diceritakan oleh Imam Mawardi, tetapi orang yang mengawali mengucapkan salam tersebut cukup mengucap “assalamualaika” dan tidak boleh mengucapkan “assalamualaikum” dengan sighot(bentuk lafal) jama’.

Berhujjah dengan dalil tersebut adalah salah, karena hadist tersebut bersifat umum yang kemudian ditakhshis(di khususkan) dengan hadist : “Janganlah kalian mengawali mengucap salam kepada orang Yahudi maupun Nasrani”.

๏ปญ๏ป—๏บŽ๏ป ๏บ‘๏ปŒ๏บพ ๏บƒ๏บป๏บค๏บŽ๏บ‘๏ปจ๏บŽ ๏ปณ๏ปœ๏บฎ๏ปฉ ุง๏บ‘๏บ˜๏บชุง๏บ…๏ปซ๏ปข ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก ๏ปญ๏ปป๏ปณ๏บค๏บฎ๏ปก ๏ปญ๏ปซ๏บฌุง ๏บฟ๏ปŒ๏ปด๏ป’ ๏บƒ๏ปณ๏ป€๏บŽ ๏ปท๏ปฅ ุง๏ปŸ๏ปจ๏ปฌ๏ปฒ ๏ปŸ๏ป ๏บ˜๏บค๏บฎ๏ปณ๏ปข ๏ป“๏บŽ๏ปŸ๏บผ๏ปฎุง๏บ ๏บ—๏บค๏บฎ๏ปณ๏ปข ุง๏บ‘๏บ˜๏บชุง๏บ‹๏ปฌ๏ปข
๏ปญ๏บฃ๏ปœ๏ปฐ ุง๏ปŸ๏ป˜๏บŽ๏บฟ๏ปฒ ๏ป‹๏ปฆ ๏บŸ๏ปค๏บŽ๏ป‹๏บ” ๏บƒ๏ปง๏ปช ๏ปณ๏บ ๏ปฎ๏บฏ ุง๏บ‘๏บ˜๏บชุง๏บ…๏ปซ๏ปข ๏บ‘๏ปช ๏ปŸ๏ป ๏ป€๏บฎ๏ปญ๏บญ๏บ“ ๏ปญุง๏ปŸ๏บค๏บŽ๏บŸ๏บ” ๏บƒ๏ปญ ๏บณ๏บ’๏บ ๏ปญ๏ปซ๏ปฎ ๏ป—๏ปฎ๏ป ๏ป‹๏ป ๏ป˜๏ปค๏บ” ๏ปญุง๏ปŸ๏ปจ๏บจ๏ปŒ๏ปฒ

Sebagian pengikut Madzhab Syafi’iyah berpendapat : “Orang-orang kafir mengawali mengucapkan salam kepada kita hukumnya makruh, tidak haram. Pendapat ini juga dloif karena fungsi nahi dalam hadist tersebut adalah untuk pengharaman, jadi yang benar adalah hukum orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita adalah haram.

Qodli Husain menceritakan pendapat dari segolongan Ulama’, bahwa boleh orang -orang kafir mengawali ucapan salam kepada kita karena dlorurot, adanya hajat (keperluan)atau karena satu sebab tertentu, ini merupakan pendapat Al-Qomah dan An-Nakho’i.

Jawaban. No.2

Tidak ada dampak negatif jika orang Islam menjawab salamnya Non Muslim, bahkan jika mengikuti ulama yang memperbolehkan mengucapkan salam kepada non-Muslim dan juga boleh mejawab salamnya. Ketika mengucapkan salam dan membalasnya disunahkan dengan suara yang keras, menurut asy-Syafi’i tidak cukup hanya dengan isyarat jari tangan atau telapak tangan, namun madzhab Maliki membolehkan cara seperti itu jika memang jaraknya jauh, berarti memperoleh pahala jika diniatkan mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw sebagaimana penjelasan tersebut.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#TERKINI

#WARTA

#HUKUM