
HUKUM TREND EDIBLE GOLD ( EMAS YANG DIOLAH SUPAYA BISA DIMAKAN)
Assalamu’alaikum wr wb.
Deskripsi masalah:
Diera globalisasi sekarang ini sudah banyak kemajuan dibidang ilmu dan teknologi, sehingga apapun bisa dibuat hanya saja manusia tidak bisa membuat nyawa , karena nyawa urusan Allah . Salah satu diantara perkembangan zaman sekarang ini adalah trend edible gold.” yaitu emas yang diolah agar bisa dimakan. Bentuknya edible gold ini bermacam” Ada yang bubuk / lembaran yang tipis. Lembaran edible gold memiliki kandungan 92% emas murni ada yang langsung memakan langsung dan ada yang dibuat variasi makanan agar terkesan mewah, emas tidak mngandung rasa dan teksturnya lebur shg cepat lebur. Harganya mncapai 7 sampai 20 juta
Pertanyaanya
- Apakah diperbolehkan memakan edible gold secara langsung / dibuat variasi?
- Bagaimna hukum menjual mengolah emas yang dijadikan sebagai toping makanan / campuran makanan yang bertujuan untuk menarik pelanggan?
Wa alaikumussalam.
Jawaban:1️⃣
Hukum makan serbuk emas ditafsil.
🅰️- Boleh dengan tujuan yang dibenarkan oleh syara’ seperti tujuan untuk obat dll.( hal tersebut agar tidak masuk pada kategori menyiakan harta ), dan Tidak membahayakan tubuh atau akal ( Hal ini sudah maklum, dalam bab makanan ulama mufakat bahwa apapun itu maka boleh dikonsumsi asalkan tidak berdampak buruk pada badan/akal baik mendatangkan manfaat atau tidak, Seperti batu/krikil).
🅱️. Tidak boleh jika tidak bertujuan untuk obat dan juga jika membahayakan memodloratkan pada badan akal dll..
Referensi:
Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khathiib I/362
فَرْعٌ : وَقَعَ السُّؤَالُ عَنْ دَقِّ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَأَكْلِهِمَا مُفْرَدَيْنِ أَوْ مَعَ انْضِمَامِهِمَا لِغَيْرِهِمَا مِنْ الْأَدْوِيَةِ هَلْ يَجُوزُ ذَلِكَ كَغَيْرِهِ مِنْ سَائِرِ الْأَدْوِيَةِ أَمْ لَا يَجُوزُ لِمَا فِيهِ مِنْ إضَاعَةِ الْمَالِ ؟ فَأَجَبْت عَنْهُ بِقَوْلِي : إنَّ الظَّاهِرَ أَنْ يُقَالَ فِيهِ إنَّ الْجَوَازَ لَا شَكَّ فِيهِ حَيْثُ تَرَتَّبَ عَلَيْهِ نَفْعٌ ، بَلْ وَكَذَا إنْ لَمْ يَحْصُلْ مِنْهُ ذَلِكَ لِتَصْرِيحِهِمْ فِي الْأَطْعِمَةِ بِأَنَّ الْحِجَارَةَ وَنَحْوَهَا لَا يَحْرُمُ مِنْهَا إلَّا مَا أَضَرَّ بِالْبَدَنِ أَوْ الْعَقْلِ .
وَأَمَّا تَعْلِيلُ الْحُرْمَةِ بِإِضَاعَةِ الْمَالِ فَمَمْنُوعٌ لِأَنَّ الْإِضَاعَةَ إنَّمَا تَحْرُمُ حَيْثُ لَمْ تَكُنْ لِغَرَضٍ وَمَا هُنَا لِقَصْدِ التَّدَاوِي وَصَرَّحُوا بِجَوَازِ التَّدَاوِي بِاللُّؤْلُؤِ فِي الِاكْتِحَالِ وَغَيْرِهِ ، وَرُبَّمَا زَادَتْ قِيمَتُهُ عَلَى الذَّهَبِ ع ش عَلَى م ر .
CABANG
Ada pertanyaan tentang melebur emas atau perak dan memakannya secara langsung atau dengan benda lainnya dari obat-obatan, bolehkah perbuatan semacam ini sebagaimana diperbolehkan bentuk-bentuk pengobatan lainnya, ataukah tidak boleh karena didalamnya mengandung unsur ‘menyia-nyiakan harta’ ?
Jawabanku:
“secara zhahir hal ini semestinya dikatakan boleh karena didalamnya terdapat kemanfaatan, bahkan sekalipun tidak terjadi manfaatpun karena penjelasan ulama dalam bab makanan bahwa memakan batu dan sejenisnya tidak haram kecuali bila berdampak buruk pada tubuh atau akal.
Sedangkan menghukumi haram dengan alasan ‘menyia-nyiakan harta’ dilarang, sesungguhnya hal itu apabila tanpa ada tujuan, sedang dalam masalah ini terdapat tujuan untuk pengobatan, para ulama menjelaskan bolehnya berobat memakai mutiara yang dipakai buat celak, sedangkan keberadaan mutiara harganya melebihi emas (Hasyiyah al-Bujairomi ala al-Khathiib I/362).
Dalam hal makan serbuk dengan tujuan pengobatan hal ini diqiyaskan pada susuk sebagaimana keterangan dalam kitab dibawah ini:
Memasangkan susuk pada anggota tubuh itu dalam uruf tidak tergolong kategori memakai (اللبس), sehingga jauh sekali jika dikatakan ini adalah bab Pemakaian hiasan, dengan konsekwensi hukum dalam bab pemakaian, sebab susuk berada didalam daging atau dibawahnya kulit, Juga tidak tergolong kategori bertato, sebab dalam hal ini ( susuk) tidak ada unsur darah yang nampak sebagaimana dalam praktek bertato.
مسئلة : هل يحرم لبس ابرة الذهب أو الفضة المغروزة تحت الجلد لأن بعض الناس لبسه للتزن وبعضهم للقوة وبعضهم للتداوى وبعضهم لغير ذلك؟
الجواب لا يحرم لأنه لا يعد لبسا عرفا ولأنها مستورة.
وأما التعليل بأنه للتزين أو غيره فلا يمنع جوازه لأنه باعتبار القصد فإن قصد به المعصية حرم من جهة المعصية لا من جهة اللبس ألا ترى أن الأكل إذا قصد منه المعصية صار حراما من جهتها لا من جهته
الكردي فى الكبرى التى فى هامش الترمس ج ١ ص ٢٠٧
فإن قلتم اليس هذا من الوشم لأن البرة تنجست بالدم قلنا ليس منه لعدم ظهور الدم .
وفرق بين الشوكة الوشم بأن الدم فى الوشم ظهر واختلط بأجنبي بخلافه فى الشوكة انتهى
.
ولا يخفى أن الشوكة إذا استتر جميعهما صارت فى حكم الباطن انتهى والله أعلم.
Faktor external dalam menggunakan susuk juga diperhitungkan, Sebab terkadang ada sebagian bertujuan mahabbah, atau berkeyakinan akan memperkuat tubuh ada pula penglaris dagangan maka hal yang demikian bisa, boleh boleh saja Apabila Pemakai susuk beri’tiqod bahwa المؤثر adalah Allah SWT, sementara Susuk bagian dari asbab.
تحفة المريد ص : 58
فمن اعتقد أن الأسباب العادية كالنار والسكين والأكل والشرب تؤثر فى مسبباتها الحرق والقطع والشبع والرى بطبعها وذاتها فهو كافر بالإجماع أو بقوة خلقها الله فيها ففى كفره قولان والأصح أنه ليس بكافر بل فاسق مبتدع ومثل القائلين بذلك المعتزلة القائلون بأن العبد يخلق أفعال نفسه الإختيارية بقدرة خلقها الله فيه فالأصح عدم كفرهم ومن اعتقد المؤثر هو الله لكن جعل بين الأسباب ومسبباتها تلازما عقليا بحيث لا يصح تخلفها فهو جاهل وربما جره ذلك إلى الكفر فإنه قد ينكر معجزات الأنبياء لكونها على خلاف العادة ومن اعتقد أن المؤثر هو الله وجعل بين الأسباب والمسببات تلازما عادي بحيث يصح تخلفها فهو المؤمن الناجى إن شاء الله إهـ
“Barangsiapa berkeyakinan segala sesuatu terkait dan tergantung pada sebab dan akibat seperti api menyebabkan membakar, pisau menyebabkan memotong, makanan menyebabkan kenyang, minuman menyebabkan segar dan lain sebagainya dengan sendirinya (tanpa ikut campur tangan Allah) hukumnya kafir dengan kesepakatan para ulama,
atau berkeyakinan terjadi sebab kekuatan (kelebihan) yang diberikan Allah didalamnya menurut pendapat yang paling shahih tidak sampai kufur tapi fasiq dan ahli bidah seperti pendapat kaum mu’tazilah yang berkeyakinan bahwa seorang hamba adalah pelaku perbuatannya sendiri dengan sifat kemampuan yang diberikan Allah pada dirirnya,
atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara rasio maka dihukumi orang bodoh
atau berkeyakinan yang menjadikan hanya Allah hanya saja segala sesuatu terkait sebab akibatnya secara kebiasaan maka dihukumi orang mukmin yang selamat, Insya Allah”. [ Tuhfah alMuriid 58 ].
Wallaahu A’lamu Bis Showaab..
Jawaban 2️⃣
Hukum penjual ditafsil
🅰️ .Boleh selama tujuan untuk pengobatan dan tidak membahayakan.sebagaimana firman Allah.
وأحل الله البيع وحرم الربى
🅱️.Haram , jika bukan tujuan tersebut, yakni jika hanya tujuan menarik penjual, karena hal tersebut memotivasi pada perkara yang mubadzzir ( menghabur- hamburkan harta )dan mendorong pada kesombongan.
sebagaima firman Allah.
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
[ الأعراف: 31]
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan,” (QS Al-A’raf:31)..
وَعَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ ) أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ, وَأَحْمَدُ, وَعَلَّقَهُ اَلْبُخَارِيُّ
Dari Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, radhiyallāhum ‘anhu bahwa Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sikap sombong.”
(Riwayat Ahmad dan Abu Dawud. Hadits mu’allaq menurut Bukhari)
Larangan menjual sesuatu yang membayakan:
مرقاة صعود التصديق فى شرح سلم التوفيق
ويحرم بيع الشيئ الحلال الطاهر على من تعلمه أنه يريد أن يعصي به وبيع الأشياء المسكرة .
Dan haram menjual sesuatu yang halal dan suci kepada orang yang diketahui hendak menggunakannya untuk maksiat.Begitu juga haram menjual barang yang memabukkan.
إسعاد الرفيق الجزء الأول .ص ١٣٦ .مكتبة” الهداية ” سورابيا
( ويحرم )
بل هو من الكبائر ( بيع الحلال الطاهر على من يعلم ) أى البائع ( أنه يريد أن يعصي ) الله ( به ) كبيع العنب أو الزبيت أو نحو هما ممن يعلم أنه يعصر خمرا والأمرد ممن يعلم أنه يفجر به والأمة ممن يحملها على البغاء إلى أن قال – والظن فى ذلك كالعلم لكن بالنسبة للتحريم وأما للكبير فيتردد النظر فيه وكذا يتردد فيما لوباع السلاح لبغاة ليستعينوا به على قالنا وفى بيع الديك لمن يهاوش به والثور لمن يناطح به وبعضها أقرب إلى الكبيرة من بعض فإن شككت أو توهمت أنه يفعل به المعصية كره ذلك.
Haram – bahkan termasuk dosa besar -menjual sesuatu yang halal dan suci kepada seseorang yang mana sipenjual mengetahui ( Yakin ) bahwa ia akan menggunakan untuk bermaksiat kepada Allah , seperti menjual anggur basah atau kering atau semacamnya kepada seseorang yang ia ketahui bahwa ia akan memerasnya menjadi arak, dan menjual budak kecil rupawan kepada seseorang yang ia ketahui akan berbuat asusila dengannya, dan menjual budak wanita kepada seseorang yang mendorongnya berbuat zina—– Dugaan semua itu sama dengan yakin namun dalam hal keharamannya.Adapun apakah termasuk dosa besar, maka dalam hal ini masih perlu dikaji. Begitu juga masih perlu dikaji tentang menjual senjata kepada para pemberontak yang akan mereka gunakan untuk membunuh /atau memerangi kita ( umat Islam ) dan tentang menjual ayam jago untuk dibuat adu, dan menjual banteng untuk diadu seruduk. Sebagian kasus diatas lebih mendekati pada dosa besar dibanding yang lain.Jika engkau ragu atau hanya mencurigai akan digunakan untuk bermaksiat, maka dimakruhkan untuk menjual kepadanya.
إعانة الطالبين ج ٣ص٢٣-٢٤
وحرم أيضا ( بيع نحو عنب ممن علم أو ظن أنه يتخذ ه مسكرا ) للشرب والأمرد ممن عرف بالفجور به والديك للمهارثة والكبش للمناطة والحرير لرجل يلبسه وكذا بيع المسك لكافر يشتري لتطييب الصنم والحيوان لكافر علم أنه يأكله بلاذبح لأن الأصح أن الكفار مخاطبون بفروع الشريعة كالمسلمين عندنا خلافا لأبي حنيفة رضي الله عنه فلايجوز الإعانة عليهما ونحو ذلك من كل تصرف يفضى إلى معصية يقينا أو ظنا ومع ذلك يصح البيع.
Diharamkan juga menjual semisal anggur pada orang yang meyakini atau diduga akan menjadikannya minuman keras, atau budak amrod ( anak kecil laki-laki ganteng ) yang terkenal berbuat lahir dengannya, begitu juga menjual ayam jago untuk disambung, kambing jantan untuk diadu ( dengan saling membentur kepalanya/tanduknya ) atau sutra yang akan dikenakan orang laki-laki. Demikian haram menjual minyak wangi kepada orang kafir yang akan digunakan untuk mengharumkan berhala, atau menjual binatang pada orang kafir yang diketahui ia akan memakannya dengan tanpa disembelih . Sebab menurut pendapat Al-Ashohih, orang-orang kafir itu dikenai hukum syariat seperti kaum muslimin. Berbeda dengan pendapat Abu Hanifah RA. Karena itu maka tidak boleh
membantu keduanya atau semisalnya dari setiap tashorruf yang bisa menjurus pada maksiat, secara meyakinkan atau dalam dugaan kuat. Meskipun begitu jual belinya tetap sah.
Wallaahu A’lamu bisshowab